• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN GURU BK DALAM MEMBANTU PESERTA DIDIK MENENTUKAN JURUSAN KE PERGURUAN TINGGI DI KELAS XII SMAN 2 KOTA PADANG PANJANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAN GURU BK DALAM MEMBANTU PESERTA DIDIK MENENTUKAN JURUSAN KE PERGURUAN TINGGI DI KELAS XII SMAN 2 KOTA PADANG PANJANG"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN GURU BK DALAM MEMBANTU PESERTA DIDIK MENENTUKAN JURUSAN KE PERGURUAN TINGGI

DI KELAS XII SMAN 2 KOTA PADANG PANJANG

Refki Linaldi1, Fitria Kasih2, Yasrial Chandra2

1Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat

2Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]

ABSTRACT

This research is motivated by the students that confused about the procedure of choosing majors to the college. The purpose of this research was to describe: 1) the role of guidance and counseling teachers in helping the students determined majors to the college was seen from a classical service. 2) the role of guidance and counseling teacher in helping the students decided majors to the college was seen from the group service. 3) the role of guidance and counseling teacher in helping the students choosed majors to the college was seen from the individual service. This research was done by qualitative approach with descriptive types. The key informants in this research were 3 peoples i.e. guidance and counseling teachers, and 3 additional informants they were headmaster, one of subject teacher, and deputation of students from class XII. The research instrument used were interview guidance, the technique used was data reduction, data presentation, and conclusion. The researcher recomend to the guidance and counseling teacher ought to the role of the guidance and counseling teacher related to the counseling service can be optimally implemented.

Keywords: Classical Service, Group Service, Individual Service

PENDAHULUAN

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu peserta didik agar mampu mengembangkan potensinya baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual, dan emosional maupun sosial. Hal ini senada dengan UU No. 20 Tahun 2003 (2006: 72) Pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi pribadinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut Hastuti (2006: 54)

layanan klasikal adalah layanan atau

(2)

bimbingan yang diberikan kepada sejumlah peserta didik yang tergabung kedalam satu satuan kegiatan pengajaran serta mengatur berbagai bidang, baik dari segi pendidikan, pekerjaan, serta masa depan dari peserta didik. Layanan klasikal lebih bersifat preventif dan berorientasi pada pengembangan pribadi peserta didik yang meliputi bidang pembelajaran, bidang sosial, dan bidang karir atau pekerjaan.

Konseling kelompok, menurut Harrson, 2002 (Kurnanto, 2013: 7) adalah layanan konseling yang terdiri dari 4-8 konseli yang bertemu dengan 1-2 konselor. Dalam prosesnya, layanan konseling kelompok dapat membicarakan beberapa masalah, seperti tata cara memasuki perguruan tinggi, jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat, kampus yang diminati, dan masih banyak topik- topik lainnya.

Sedangkan menurut Gazda, 1994 (Kurnanto, 2013: 8) konseling kelompok merupakan suatu proses interpersonal yang dinamis yang memusatkan pada usaha dalam berfikir dan tingkah laku, serta melibatkan pada fungsi-fungsi terapi yang dimungkinkan, serta berorientasi

pada kenyataan, dan penerimaan bantuan.

Menurut Nurihsan (2009: 10) layanan konseling individual adalah suatu proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara seorang konselor dan seorang konseli (peserta didik).

Konseling adalah proses belajar yang bertujuan agar konseli (peserta didik) dapat mengenal diri sendiri, menerima diri sendiri, serta realistis dalam proses penyesuaian dengan lingkungannya khususnya didalam pemilihan suatu jurusan.

Pengurus besar IPBI (1998: 10) menyatakan “Jurusan merupakan upaya untuk membantu peserta didik dalam memilih jenis sekolah atau program studi yang akan diikuti oleh peserta didik dalam memperoleh pendidikan lanjutan.”

Sedangkan menurut Prayitno (1998: 2):

Jurusan adalah upaya untuk membantu

peserta didik dalam memilih jenis

sekolah atau program pengajaran

khusus atau program studi yang akan

diikuti oleh peserta didik dalam

pendidikan lanjutan. Dalam pelayanan

bimbingan dan konseling upaya

pemilihan jurusan merupakan salah

(3)

satu bentuk dari layanan penempatan dan penyaluran bagi para peserta didik.

Jadi, jurusan merupakan upaya untuk membantu peserta didik dalam memilih program studi yang akan diikuti dan disesuikan dengan karakter pribadi.

Peran guru bimbingan dan konseling dalam membantu peserta didik menentukan jurusan ke perguruan tinggi di kelas XII SMAN 2 Kota Padang Panjang, diantaranya:

1. Adanya peserta didik yang kurang mengetahui informasi berkaitan dengan jurusan yang akan di ambil menuju pada perguruan tinggi.

2. Adanya peserta didik yang tidak mengenal kemampuan atau minat yang ada pada diri mereka.

3. Adanya peserta didik yang takut dan cemas akan suatu keputusan yang akan mereka ambil berterkaitan dengan pemilihan jurusan menuju pada suatu perguruan tinggi.

4. Adanya peserta didik yang mengambil suatu jurusan yang tidak berdasarkan prospek kerja.

5. Adanya peserta didik yang ikut- ikutan dan dipengaruhi oleh teman sebaya di dalam pemilihan suatu

jurusan menuju kepada suatu perguruan tinggi.

6. Adanya peserta didik yang kurang mampu mengenal potensi diri, bakat, serta cenderung lebih mendengarkan orang lain dibandingkan dengan keinginan atau hati nurani mereka.

7. Adanya peserta didik yang dipaksa oleh orang tuanya untuk mengambil jurusan yang sama dengan orang tuanya.

8. Adanya peserta didik yang memilih suatu jurusan yang tidak sesuai dengan keinginannya dikarenakan permasalahan ekonomi keluarga.

9. Adanya peserta didik yang mengambil suatu jurusan karena dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar.

10. Adanya peserta didik yang mengambil suatu jurusan yang berseberangan dengan bidang studi yang pernah dipelajari oleh peserta didik selama menempuh pendidikan di sekolah khususnya di SMA sederajat.

Penelitian ini difokuskan pada

“Peran Guru Bimbingan dan

Konseling dalam Membantu Peserta

Didik Menentukan Jurusan ke

(4)

Perguruan Tinggi di Kelas XII SMAN 2 Kota Padang Panjang” yang mencakup:

1. Peran guru BK membantu peserta didik menentukan jurusan ke Perguruan Tinggi dilihat dari pelayanan klasikal.

2. Peran guru BK membantu peserta didik menentukan jurusan ke Perguruan Tinggi dilihat dari pelayanan kelompok.

3. Peran guru BK membantu peserta didik menentukan jurusan ke Perguruan Tinggi dilihat dari pelayanan individual.

Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan “Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Membantu Peserta Didik Menentukan Jurusan ke Perguruan Tinggi di Kelas XII SMAN 2 Kota Padang Panjang”

di tinjau dari:

1. Peran guru BK membantu peserta didik menentukan jurusan ke Perguruan Tinggi dilihat dari pelayanan klasikal.

2. Peran guru BK membantu peserta didik menentukan jurusan ke Perguruan Tinggi dilihat dari pelayanan kelompok.

3. Peran guru BK membantu peserta didik menentukan jurusan ke

Perguruan Tinggi dilihat dari pelayanan individual.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif.

Penelitian kualitatif menggunakan metode penelitian deskriptif agar individu dapat menggambarkan berbagai gejala dan fakta yang terdapat dalam pemilihan jurusan para peserta didik secara mendalam.

Menurut William, 1995 (Moleong, 2010: 5) penelitian kualitatif adalah penelitian data pada suatu latar ilmiah, dengan menggunakan metode ilmiah yang dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara ilmiah dan memberikan gambaran bahwa penelitian kualitatif mengutamakan latar ilmiah, metode ilmiah dan dilakukan oleh orang yang mempunyai perhatian ilmiah.

Sedangkan menurut Bogdan

dan Taylor, 1975 (Ahmadi, 2014: 15)

metode penelitian kualitatif

merupakan penelitian yang

menghasilkan data deskriptif baik itu

melalui ucapan atau tulisan dan

perilaku yang dapat diamati dari orang

itu sendiri.

(5)

Jadi, penelitian kualitatif dapat

dilakukan dengan cara

mendeskripsikan fenomena yang dialami subjek penelitian seperti memahami perilaku, persepsi, motivasi, dalam bentuk kata-kata dan bahasa dan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Dalam penelitan kualitatif, metode yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen. Metode kualitatif pendekatannya tidak memiliki aturan, prosedur tetap, lebih terbuka dan terus berkembang sesuai kondisi lapangan Peneliti sebagai instrumen penelitian dan analisis data harus mempunyai waktu yang leluasa untuk mengumpulkan data minimal 3-6 bulan.

Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 29 Juli sampai dengan tanggal 05 Agustus 2017. Tempat atau lokasi untuk melaksanakan penelitian ini adalah di SMAN 2 Kota Padang Panjang.

Alasan peneliti memilih tempat ini karena selain tempat penulis pernah melaksanakan kegiatan praktek pengalaman lapangan selama 6 bulan, juga ditemukan masalah yang berkaitan dengan peran guru

bimbingan dan konseling dalam menentukan jurusan para peserta didik untuk menuju kepada suatu perguruan tinggi.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa wawancara.

Menjamin keabsahan data dan kepercayaan data penelitian yang peneliti peroleh dapat dilakukan dengan cara, yaitu; 1) kepercayaan (credibility), 2) keteralihan (transferability), 3) dapat dipercaya (depenability). Data ini diuji dengan melakukan triangulasi dan mengadakan membercheck, setelah itu dianalisis dengan 3 tahap: 1) reduksi data, 2) penyajian data, dan 3) penarikan kesimpulan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil temuan

penelitian yang telah peneliti dapatkan

maka dapat disimpulkan bahwa untuk

waktu pelaksanaan konseling

individual biasanya peserta didik

diperbolehkan untuk melakukan

proses konseling baik pada saat jam

mata pelajaran, jam istirahat, ataupun

pada saat pulang sekolah. Untuk jam

mata pelajaran, sekolah memberikan

izin kepada peserta didiknya untuk

melaksanakan konseling dengan guru

(6)

BKnya baik permasalahan yang dihadapi atau mencari informasi berkaitan denganpendidikan selama diberikan izin oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan dan tidak mengganggu proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

Menurut Nurihsan (2009: 10) layanan konseling individual adalah suatu proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara seorang konselor dan seorang konseli (peserta didik).

Konseling adalah proses belajar yang bertujuan agar konseli (peserta didik) dapat mengenal diri sendiri, menerima diri sendiri, serta realistis dalam proses penyesuaian dengan lingkungannya khususnya didalam pemilihan suatu jurusan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa di dalam pelaksanaan pelayanan konseling individual temuan penelitian yang peneliti dapatkan adalah untuk waktu pelaksanaan konseling individual biasanya peserta didik diperbolehkan untuk melakukan proses konseling baik pada saat jam mata pelajaran, jam istirahat, ataupun pada saat pulang sekolah. Untuk jam mata pelajaran, sekolah memberikan izin kepada peserta didiknya untuk

melaksanakan konseling dengan guru BKnya.

Maka berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan klasikal merupakan suatu bentuk pemberian materi atau informasi yang dilakukan oleh guru BK kepada peserta didik melalui tatap muka guna untuk memberikan arahan terkait dengan pemilihan jurusan.

Untuk pelayanan kelompok merupakan suatu proses interpersonal yang dinamis yang memusatkan pada usaha dalam berfikir dan tingkah laku, serta melibatkan pada fungsi-fungsi terapi yang dimungkinkan, serta berorientasi pada kenyataan, dan penerimaan bantuan.

Sedangkan pelayanan individual merupakan suatu proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara seorang konselor dan seorang konseli (peserta didik).

1. Peran Guru BK Membantu Peserta Didik Menentukan Jurusan ke Perguruan Tinggi Dilihat dari Pelayanan Klasikal a) Materi Layanan

Berdasarkan hasil

temuan penelitian yang telah

didapatkan maka dapat

(7)

disimpulkan bahwa di dalam pemberian pelayanan secra klasikal untuk materi yang di berikan kepada peserta didik diberikan secara bertahap sesuai dengan aturan atau RPL yang telah terencana, sehingga pemberian materi layanan berupa informasi dapat diberikan secara merata di setiap kelasnya khusus di kelas XII.

Hasil temuan

wawancara juga menunjukan kalau dalam pemberian materi, guru BK selalu menggunakan media seperti In Focus di setiap jam pembelajarannya, karena guru BK telah memiliki perlengkapan yang memadai yang disediakan oleh sekolah untuk melakukan aktifitas pembelajaran di setiap kelasnya. Hanya saja menurut guru BK kekurangan dari segi pemberian materi kepada para peserta didik khususnya di kelas XII adalah dari segi waktu yang terbatas sehingga pemberian layanan belum optimal.

Kendala yang sering

dikeluhkan oleh setiap guru BK yang mulai mengajar di kelas salah satunya adalah dari segi jam pembelajaran. Untuk masuk di satu kelas, jatah atau jam mengajar yang ada pada guru BK hanya 1 jam x 45 menit dibandingkan dengan mata pelajaran lain yang sampai ada 3 jam.

b) Waktu Pelaksanaan

Berdasarkan hasil temuan penelitian yang telah peneliti dapatkan maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa kendala yang sering di keluhkan oleh setiap guru BK yang mulai mengajar di kelas. Salah satunya adalah dari segi jam pembelajaran.

Untuk masuk di satu kelas, jatah atau jam mengajar yang ada pada guru BK hanya 1 jam x 45 menit dibandingkan dengan mata pelajaran lain yang sampai ada 3 jam.

Hasil penelitian

menunjukan bahwa di dalam

pemberian materi kepada

peserta didik guru BK dituntut

agar selalu enerjik ayau aktif

di dalam penyampaian materi.

(8)

Dengan kata lain, intonasi yang jelas, perkataan yang tidak terlalu panjang namun jelas, sehingga penyampaian yang disampaikan kepada peserta didik menjadi dapat tersalurkan. Harapan dari guru BK sebenarnya adalah agar jam BK kalau bisa di jadikan 2 jam, sebab kalau hanya 1 jam dirasa terlalu sedikit. Belum lagi pengambilan absen, menyanyikan salah satu lagu wajib, serta pergantian jam yang kadang terpakai oleh guru mata pelajaran lain yang membuat penyampaian materi kurang bisa berjalan secara maksimal. Hal itu jugalah yang menjadi salah satu faktor mengapa sebagian dari peserta didik kelas XII kurang bisa memahami berkaitan dengan materi pemilihan jurusan yang ada di perguruan tinggi, sehingga banyak dari mereka yang tidak tau atau tidak faham dengan jurusan yang akan mereka pilih untuk menuju pada suatu perguruan tinggi.

c) Tindak Lanjut

Berdasarkan hasil temuan penelitian yang telah peneliti dapatkan maka dapat disimpulkan bahwa guru BK telah melakukan kerja sama dengan guru mata pelajaran yang memiliki jam mengajar lebih untuk dipakai jam mengajarnya dan digantikan minggu depan sehingga jam BK bisa bertambah menjadi 2 jam, Namun karena jam guru mata pelajaran tersebut telah dipakai oleh guru BK minggu lalu, maka jam BK akan digantikan dengan jam mata pelajaran yang lain.

Selain itu, dari hasil

temuan wawancara baik

informan kunci maupun

tambahan, dengan adanya

keterbatasan waktu yang

dimiliki oleh guru BK, peserta

didik kelas XII diizinkan untuk

bertanya langsung kepada guru

BKnya di ruangan guru BK

terkait dengan materi

pembelajaran yang telah

disampaikan sebelumnya,

selama tidak menggaggu

proses pembelajaran lain yang

sedang berlangsung, tentunya

(9)

dengan seizing dari guru mata pelajaran yang bersangkutan.

Hasilnya minggu depannya BK memiliki waktu 2 jam.

Menurut Hastuti (2006:

54) layanan klasikal adalah layanan atau bimbingan yang diberikan kepada sejumlah peserta didik yang tergabung kedalam satu satuan kegiatan pengajaran serta mengatur berbagai bidang, baik dari segi pendidikan, pekerjaan, serta masa depan dari peserta didik.

Layanan klasikal lebih bersifat preventif dan berorientasi pada pengembangan pribadi peserta didik yang meliputi bidang pembelajaran, bidang sosial, dan bidang karir atau pekerjaan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa di dalam pelaksanaan pelayanan konseling secara klasikal temuan penelitian yang peneliti dapatkan adalah guru BK kekurangan waktu atau jam pembelajaran sehingga penyampaian materi yang dilakukan tidak berjalan secara optimal.

2. Peran Guru BK Membantu Peserta Didik Menentukan Jurusan ke Perguruan Tinggi Dilihat dari Pelayanan Kelompok

a) Materi Layanan

Berdasarkan hasil temuan penelitian yang telah peneliti dapatkan maka dapat disimpulkan bahwa untuk pelayanan kelompok tata cara pelaksanaannya sama pada saat beliau kuliah dulu. Hanya saja menurut beliau tata caranya mungkin tidak sepanjang penerapan pelaksanaan pelayanan kelompok sewaktu kuliah dulu. Alasannya menurut beliau adalah karena aktifitas dari para peserta didik yang padat yang membuat tingkat kejenuhan peserta didik menjadi tinggi sehingga apabila dipaksakan takutnya peserta didik akan merasa bosan. Itu hanya dapat dilakukan sebagai selingan saja.

b) Waktu Pelaksanaan

Berdasarkan hasil

temuan penelitian yang telah

peneliti dapatkan maka dapat

(10)

disimpulkan bahwa untuk pelayanan kelompok bisa dikatakan kurang berjalan di sekolah, atau dengan kata lain jarang. Pada tahun 2014-2015, pelayanan kelompok sudah pernah diteterapkan di sekolah, namun kendala utama dari pelaksanaan pelayanan kelompok adalah dari segi waktu. Karena dengan padatnya jadwal pembelajaran yang dilaksanakan oleh para peserta didik baik dari kelas X, XI, dan XII memaksa guru BK tidak dapat melaksanakan kegiatan pelaksanaan pelayanan kelompok.

Kalaupun bisa dilaksanakan pelayanan kelompok, itu tergantung pada situasi dan kondisi dari pembelajaran para peserta didik dengan guru mata pelajaran. Karena sistem kurikulum 2013 yang sekarang menuntut para peserta didik untuk belajar di sekolah maksimal 8 jam dalam sehari, dengan materi pembelajaran yang telah direncanakan dan di atur berdasarkan aturan

pendidikan dan perundang- undangan.

c) Tindak Lanjut

Berdasarkan hasil temuan penelitian yang telah peneliti dapatkan maka dapat disimpulkan bahwa untuk pelaksanaan pelayanan kelompok menurut guru BK sebenarnya bisa dilaksanakan,

namun tata cara

pelaksanaannya hanya dapat dilakukan pada saat sekolah sedang tidak melaksanakan proses pembelajaran seperti klasmeting. Biasanya pembahasan materi yang diberikan oleh guru BK adalah topic bebas yang diinginkan oleh peserta didik, sehingga pelaksanaannya pun tidak akan mengganggu aktifitas peserta didik di sekolah. Walaupun demikian tetap saja pelaksanaannya tergantung kepada situasi dan kondisi dari pembelajaran di sekolah SMAN 2 Padang Panjang.

Konseling kelompok,

menurut Harrson, 2002

(Kurnanto, 2013: 7) adalah

layanan konseling yang terdiri

(11)

dari 4-8 konseli yang bertemu dengan 1-2 konselor. Dalam prosesnya, layanan konseling

kelompok dapat

membicarakan beberapa masalah, seperti tata cara memasuki perguruan tinggi, jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat, kampus yang diminati, dan masih banyak topik-topik lainnya.

Sedangkan menurut Gazda, 1994 (Kurnanto, 2013:

8) konseling kelompok merupakan suatu proses interpersonal yang dinamis yang memusatkan pada usaha dalam berfikir dan tingkah laku, serta melibatkan pada fungsi-fungsi terapi yang dimungkinkan, serta berorientasi pada kenyataan, dan penerimaan bantuan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa di dalam pelaksanaan pelayanan konseling kelompok temuan penelitian yang peneliti dapatkan adalah pelayanan kelompok dapat dilaksanakan apabila jadwal pembelajaran dari peerta didik tidak terlalu padat. Selain itu,

pelaksanaan kelompok biasanya dilaksanakan setelah peserta didik melaksanakan ujian semester atau kelas meting.

3. Peran Guru BK Membantu Peserta Didik Menentukan Jurusan ke Perguruan Tinggi Dilihat dari Pelayanan Individual a) Materi Layanan

Berdasarkan hasil temuan penelitian yang telah peneliti dapatkan maka dapat disimpulkan bahwa untuk pelaksanaan konseling individual memang telah berjalan dengan baik, serta biasanya sebagian dari peserta didik telah memiliki inisiatif sendiri untuk berkonsultasi dengan guru BK apabila terdapat suatu persoalan atau masalah yang tidak dapat diselesaikan secara sendiri khususnya untuk masalah pemilihan jurusan.

Sebagian lain masih

ada diantara peserta didik

kelas XII yang malu, ragu-

ragu, tidak berani, dan bahkan

ada dari peserta didik yang

tidak mengetahui apa yang

(12)

ingin dia konsultasikan kepada guru BK. Untuk pemberian materi, tergantung kepada bentuk masalah yang dihadapi oleh peserta didik itu sendiri. Kalau si peserta didik mengalami permasalahan susah belajar, maka topik tentang belajarlah yang akan di bahas guna menyelesaikan masalah peserta didik. Kalau peserta didik mengalami masalah keluarga, maka hal yang perlu dilakukan adalah mengungkap seperti apa masalah keluarga yang sedang dihadapi yang membuatnya tidak fokus di dalam pembelajaran di kelas.

Dalam melaksanakan konseling individual dengan peserta didik akan sedikit berbeda tata cara penerapan dan penanganan pada saat kuliah, Peserta didik akan tertarik melaksanakan konseling pada saat tingkat keingin tahuannya terhadap sesuatu hal yang dapat memotifasi dirinya menjadi tinggi.

b) Waktu Pelaksanaan

Berdasarkan hasil temuan penelitian yang telah peneliti dapatkan maka dapat disimpulkan bahwa untuk waktu pelaksanaan konseling individual biasanya peserta didik diperbolehkan untuk melakukan proses konseling baik pada saat jam mata pelajaran, jam istirahat, ataupun pada saat pulang sekolah. Untuk jam mata pelajaran, sekolah memberikan izin kepada peserta didiknya untuk melaksanakan konseling dengan guru BKnya baik permasalahan yang dihadapi atau mencari informasi berkaitan denganpendidikan selama diberikan izin oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan dan tidak

mengganggu proses

pembelajaran yang sedang berlangsung.

Menurut Nurihsan

(2009: 10) layanan konseling

individual adalah suatu proses

belajar melalui hubungan

khusus secara pribadi dalam

wawancara antara seorang

(13)

konselor dan seorang konseli (peserta didik). Konseling adalah proses belajar yang bertujuan agar konseli (peserta didik) dapat mengenal diri sendiri, menerima diri sendiri, serta realistis dalam proses penyesuaian dengan lingkungannya khususnya didalam pemilihan suatu jurusan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa di dalam pelaksanaan pelayanan konseling individual temuan penelitian yang peneliti dapatkan adalah untuk waktu pelaksanaan konseling individual biasanya peserta didik diperbolehkan untuk melakukan proses konseling baik pada saat jam mata pelajaran, jam istirahat, ataupun pada saat pulang sekolah. Untuk jam mata pelajaran, sekolah memberikan izin kepada peserta didiknya untuk melaksanakan konseling dengan guru BKnya.

Maka berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan klasikal merupakan suatu

bentuk pemberian materi atau informasi yang dilakukan oleh guru BK kepada peserta didik melalui tatap muka guna untuk memberikan arahan terkait dengan pemilihan jurusan.

Untuk pelayanan kelompok merupakan suatu proses interpersonal yang dinamis yang memusatkan pada usaha dalam berfikir dan tingkah laku, serta melibatkan pada fungsi-fungsi terapi yang dimungkinkan, serta berorientasi pada kenyataan, dan penerimaan bantuan.

Sedangkan pelayanan individual merupakan suatu proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara seorang konselor dan seorang konseli (peserta didik).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian

yang peneliti lakukan tentang peran

guru bimbingan dan konseling dalam

membantu peserta didik menentukan

jurusan ke perguruan tinggi di kelas

XII SMAN 2 Kota Padang Panjang,

dapat disimpulkan sebagai berikut:

(14)

1. Peran guru bimbingan dan konseling dilihat dari segi pelayanan klasikal, masih terdapat para peserta didik yang masih belum memahami apa itu jurusan serta masih adanya peserta didik yang ragu-ragu dan cemas di dalam pemilihan jurusan. Selain itu, faktor kurangnya jam guru BK menjadi salah satu faktor penyebab peserta didik kurang memahami materi tentang pemilihan jurusan khususnya di kelas XII.

2. Peran guru bimbingan dan konseling dilihat dari pelayanan kelompok, kurang berjalan atau jarangnya pelayanan kelompok di sekolah SMAN 2 Padang Panjang.

3. Peran guru bimbingan dan konseling dilihat dari pelayanan individual, masih ada diantara peserta didik kelas XII yang malu, ragu-ragu, tidak berani, dan bahkan ada dari peserta didik yang tidak mengetahui apa yang ingin dia konsultasikan kepada guru BK.

Untuk pemberian materi, tergantung kepada bentuk masalah yang dihadapi oleh peserta didik itu sendiri. Kalau si peserta didik mengalami permasalahan susah

belajar, maka topik tentang belajarlah yang akan di bahas guna menyelesaikan masalah peserta didik. Kalau peserta didik mengalami masalah keluarga, maka hal yang perlu dilakukan adalah mengungkap seperti apa masalah keluarga yang sedang dihadapi yang membuatnya tidak fokus di dalam pembelajaran di kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib. Z. (2012). Bimbingan &

Konseling di Sekolah. Bandung : Yrama Widya.

Bungin. H. M. B. (2011). Penelitian Kualitatif. Jakarta:

Prenada Media Group.

Bungin. H. M. B. (2010). Analisis Data Penelitian Kualitatif.

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Crow & Crow (Yani. P. 2009) Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jurusan oleh Peserta Didik di SMA Negeri 1 Solok. Skripsi: STKIP PGRI Sumatra Barat.

Dalyono. (2007). Psikologi

Pendidikan. Jakarta: Rineka

Cipta

Referensi

Dokumen terkait

Saran pada penelitian ini ialah: (1) media job sheet trainer otomasi instalasi tenaga listrik menggunakan PLC OMRON CP1E E20SDRA dapat diterapkan sebagai

Sertifikat Akreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) Nomor : LPPHPL-013-IDN tanggal 1 September 2009 yang diberikan kepada PT EQUALITY Indonesia sebagai Lembaga

Dengan di tandatangani surat persetujuan ini, maka saya menyatakan bersedia / tidak bersedia untuk berperan serta menjadi responden dalam penelitian dengan judul “Gambaran

 Dalam welfare state, hak kepemilikan diserahkan kepada swasta sepanjang hal tersebut memberikan insentif ekonomi bagi pelakunya dan tidak merugikan secara sosial,

Dengan menerapkan metode pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi komputer (seperti SPC) akan memberikan suatu model yang berbasis unjuk kerja, hal ini

Inkubasi tabung mikrosentrifus kedua selama 10 menit pada temperatur ruang (bolak-balikkan tabung 2-3 kali selama masa inkubasi) untuk melisis sel-sel darah

Dapat menjadi sumber ilmu tambahan untuk berbagai pihak misalnya Aparatur penegak hukum seperti Polisi, Hakim, dan Jaksa yang mengawal jalannya penyelesaian kasus-kasus

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa hasil identifikasi isolat ekstrak daun Jamblang (Syzygium cumini) menunjukan adanya