Di Ds. Banjaran, Salem, Brebes)
SKRIPSI
Disusun untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S-1)
Dalam Ilmu Syari’ah
Disusun Oleh:
KUROH NIM. 082311058
JURUSAN MUAMALAH FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2012
ii Jl. Merdeka Utara 1/ B.9, Ngaliyan, Semarang
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Lam : 4 (empat) eks Hal : Naskah Skripsi
A.n. Sdri. KUROH
Kepada Yth.
Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini saya kirimkan naskah saudari:
Nama : KUROH
NIM : 082311058
Jurusan : Hukum Ekonomi Islam (Muamalah)
Judul Skripsi : PERSEPSI ULAMA BREBES TENTANG PEMANFAATAN SAWAH GADAI (Studi Kasus Terhadap Praktek Gadai Sawah Di Banjaran, Kec.
Salem, Brebes)
Dengan ini saya mohon kiranya skripsi saudari tersebut dapat segera dimunaqasyahkan.
Demikian atas perhatiannya, harap maklum adanya dan kami ucapkan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Semarang, Juni 2012
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Nur Khoirin M.Ag Nur Hidayati S, S.H., M.H.,
NIP.19630801 199203 1 001 NIP.19670320 199303 2 001
iii
PENGESAHAN
Nama : KUROH
NIM : 082311058
Jurusan : MUAMALAH
Judul Skripsi : ANALISIS HUKUM ISLAM SALEM TERHADAP PEMANFAATAN SAWAH GADAI (Persepsi Ulama Salem Terhadap Praktek Gadai Sawah Di Ds. Banjaran, Salem, Brebes)
Telah dimunaqasahkan oleh Dewan Penguji Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, dinyatakan lulus pada tanggal:
27 Juni 2012
Dan dapat diterima sebagai pelengkap ujian akhir guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) dalam Ilmu Syari’ah.
Semarang, 03 Juli 2012 Mengetahui
Ketua Sidang Sekretaris Sidang
Dr. H. Imam Yahya, M.Ag. Nur Hidayati Setyani, S.H., M.H.
NIP. 19700410 199503 1 001 NIP.19670320 199303 2 001
Penguji I Penguji II
H. Tolkah, M.A. Afif Noor, S.Ag., S.H., M.H., NIP. 19690507 199603 1 001 NIP. 19760615 200501 1 005
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Nur Khoirin, M.Ag Nur Hidayati Setyani, S.H., M.H.,
NIP.19630801 199203 1 001 NIP.19670320 199303 2 001
iv
Penulis menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang telah pernah ditulis oleh pihak lain atau telah diterbitkan.
Demikian juga skripsi ini tidak juga berisi tentang pemikiran- pemikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.
Semarang, Juni 2012 Deklarator,
KUROH
NIM: 082311058
v
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah;
dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya DIA akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Ath- Thagaabun/ 64: 11)
vi
yang didasari prinsip ta’aawun, karena dalam pelaksanaannya tidak mensyaratkan adanya imbalan jasa. Praktek gadai sudah sangat dikenal dan lazim dilaksanakan sebagai salah satu akad dalam aktivitas ekonomi. Akad gadai ini merupakan solusi yang biasanya diambil oleh masyarakat ketika mengalami kesulitan dalam pendanaan secara tidak terduga. Pelaksanaan akadnya ialah ketika seorang rahin (pemberi gadai) meminjam sejumlah dana dari murtahin (penerima gadai), kemudian rahin menyerahkan suatu jaminan yang berupa harta benda miliknya yang memiliki nilai. Jaminan dalam akad gadai digunakan sebagai bentuk kepercayaan antara rahin dan murtahin.
Adapun perumusan masalah dari skripsi ini ialah: (a). Bagaimanakah Praktek Gadai sawah di Banjaran, Kec. Salem, Brebes? (b). Bagaimanakah persepsi Ulama Brebes tentang pemanfaatan sawah gadai oleh Murtahin yang dilaksanakan di Banjaran, Kec. Salem, Brebes?
Tujuan dari penulisan skripsi ini ialah: untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan praktek gadai sawah yang dilaksanakan di Banjaran, Kec. Salem, Brebes. Serta Untuk mengetahui bagaimanakah persepsi ulama Brebes terhadap praktek pemanfaatan sawah gadai oleh murtahin yang dilaksanakan di Banjaran, Kec. Salem, Brebes.
Jenis penelitian ini dilihat dari objeknya termasuk penelitian lapangan atau field research yang dilakukan di ds. Banjaran, kec. Salem, kab. Brebes. Untuk mendapatkan data yang valid, penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data yaitu dokumentasi dan wawancara. Sumber data dalam penelitian ini ada dua yaitu sumber data primer (secara langsung) hasil dari wawancara (interview) dengan para ulama serta para rahin dan murtahin, sementara sumber data sekunder (tidak langsung) berupa dokumen-dokumen, buku, catatan dan sebagainya. Berkenaan dengan penganalisaan data-data yang telah terkumpul, dalam hal ini Penulis menggunakan metode deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
Dari hasil penelitian mengenai praktek gadai sawah tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan praktek gadai sawah yang dilaksanakan di ds. Banjaran, kec.
Salem, kab. Brebes tersebut sudah memenuhi rukun dan syarat akad gadai sesuai
yang dijelaskan dalam hukum Islam. Serta sesuai dengan dasar hukum yang
dijadikan sebagai dasar hukum akad gadai baik dari segi hukum Islam maupun
dari segi hukum normatif. Mengenai persepsi para ulama Brebes tentang
pemanfaatan sawah gadai tersebut terdapat dua kelompok, yakni kelompok yang
memiliki persepsi bahwa pemanfaatan sawah gadai oleh mrtahin yang
dilaksanakan di ds. Banjaran tersebut diperbolehkan dan tidak termasuk kedalam
kegiatan yang eksploratif. Kelompok lainnya ialah kelompok yang memiliki
persepsi bahwa pemanfaatan sawah gadai oleh murtahin di ds. Banjaran tersebut
tidak diperbolehkan meskipun hasil yang diperoleh hanya sedikit saja, namun
kegiatan pinjam-meminjam yang mensyaratkan adanya pengambilan manfaat
dapat dikategorikan sebagai riba.
vii
Ayah dan Bunda tercinta (Bpk Abidin dan Ibu Kesih).
“Yang selalu menjaga, mendoakan, dan mendukung serta selalu mencurahkan kasih sayang, perhatian dan memberikan motivasi kepada Penulis dalam
segala hal. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi Beliau”.
Sisters (Fenty Fumiaty, Ika Nur Handayani, & Lady Nahdiyatul. U) “Yang senantiasa memberikan dukungan, & doa, memberikan senyuman saat
Penulis sedih, membangunkan saat Penulis terjatuh dan memotivasi disaat Penulis rapuh.
Terima kasih Sist.”
“Sahabat-Sahabatku”
(Kos Anggur, ‘Akhi & Ukhti di MUB ’08, Sisters & Brothers di posko Indongarep 54) Makasih buat semangat yang senantiasa kalian berikan
padaku.
“Special For My ‘AMOR’ ”
“Terima Kasih untuk kasih dan cintamu, untuk perhatian dan semangat
darimu, untuk cahaya yang Kau nyalakan di perjalanan hidupku.”
viii
Alhamdulillah, segala puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah menurunkan syariat Islam sebagai tuntunan bagi hamba-Nya, agar kita dapat hidup sejahtera lahir dan batin, dunia dan akhirat. Sholawat dan salam mudah-mudahan tetap dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, pembawa risalah dan suri teladan dalam menjalankan syariat Islam.
Berkat limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya serta usaha yang sungguh-sungguh, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul
“Persepsi Ulama Brebes Terhadap Pemanfaatan Sawah Gadai (Studi Kasus Terhadap Praktek Gadai Sawah di Ds. Banjaran, kec. Salem, kab. Brebes)”.
Skripsi ini disusun guna memenuhi syarat untuk memperoleh gelar sarjana Strata 1 (S1) di Fakultas Syariah IAIN Walisongo. Dalam penulisan skripsi ini tentu Penulis tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, sehingga dalam hal ini Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada yang Terhormat:
1. Bapak Prof. DR. H. Muhibbin, MA., selaku pengemban Rektor IAIN Walisongo Semarang
2. Bapak DR. Imam Yahya, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.
3. Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan, atas didikan, dukungan serta bantuannya pada Penulis.
4. Bapak Drs. H. Nur Khoirin M.Ag, selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini secara sabar dan akomodatif.
5. Ibu Nur Hidayati S., SH.,MH selaku Dosen Pembimbing II, telah bersedia
meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya di sela-sel kesibukannya untuk
memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
ix
7. Segenap karyawan dan karyawati di lingkungan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo yang telah membantu dan mendukung dalam penyelesaian skripsi ini.
8. Bapak / Ibu pegawai Perpustakaan Fakultas Syari’ah dan Perpustakaan Institut IAIN Walisongo Semarang, yang telah memberikan izin dan layanan kepustakaan yang diperlukan dalam penyusunan skripsi
9. Para pegawai di kantor kelurahan, para alim Ulama dan masyarakat desa Banjaran, kec. Salem, kab. Brebes, atas kerjasamanya dan yang telah memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh Penulis.
10. Bapak dan Ibu tercinta, beserta segenap keluarga, atas segala do’a, dukungan, perhatian, arahan, dan kasih sayangnya, sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.
11. Sahabat-sahabatku semua yang selalu memberi do’a, dukungan, dan semangat sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. “Semoga Allah membalas semua amal kebaikan mereka dengan balasan yang lebih dari mereka berikan pada Penulis” amin.
Penulis juga menyadari dengan segala kerendahan hati bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, semua kritik dan saran yang membangun sangat Penulis harapkan. Penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
Amin Ya Rabbal A’lamin.
Semarang, Juni 2012 Penulis
KUROH
NIM.
082311058
x
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN ... iii
DEKLARASI ... iv
MOTTO ... v
ABSTRAK ... vi
PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
D. Telaah Pustaka ... 9
E. Metode Penelitian... 12
F. Sistematika Penulisan... 17
BAB II KETENTUAN UMUM MENGENAI GADAI (AR- RAHN) A. Definisi Gadai ... 19
B. Dasar Hukum Gadai (Ar- Rahn) ... 27
1. Dalil Al- Qur’an ... 27
2. Hadits ... 28
3. Pendapat Ulama ... 29
4. Fatwa Dewan Syari’ah- Majelis Ulama Indonesia (DSN- MUI) ... 30
C. Rukun Dan Syarat Gadai ... 32
1. Rukun Gadai ... 32
2. Syarat Gadai ... 33
xi
D. Ketentuan Khusus Akad Gadai ... 40
1. Tambahan Pada Barang Gadai (al- Marhun) ... 40
2. Pengambilan Manfaat Atas Barang Gadai (al- Marhun) ... 43
BAB III PERSEPSI ULAMA TERHADAP PRAKTEK PELAKSANAAN PENGAMBILAN MANFAAT ATAS MARHUN OLEH MURTAHIN DI DS. BANJARAN, SALEM. BREBES A. Profil Desa Banjaran ... 54
1. Kondisi Geografis ... 54
2. Kondisi Demografi ... 55
a. Kependudukan ... 55
b. Kondisi Sosial, Budaya, Keagamaan dan Ekonomi ... 56
B. Pelaksanaan Praktek Pemanfaatan Barang Gadai Sawah di desa Banjaran, Kec. Salem, Kab. Brebes ... 63
1. Praktek Gadai Sawah di Desa Banjaran, Kec. Salem, Kab. Brebes ... 63
2. Pendapat Para Pihak Terhadap Pemanfaatan Sawah Gadai. 68 C. Pendapat Ulama Terhadap Pemanfaatan Sawah Gadai ... 70
BAB IV ANALISIS PERSEPSI ULAMA TERHADAP PEMANFAATAN SAWAH GADAI YANG DILAKSANAKAN DI DS. BANJARAN, KEC. SALEM. BREBES A. Analisis Pelaksanaan Praktek Gadai Sawah di ds. Banjaran, Salem, Brebes Berdasarkan Syarat dan Rukun Gadai ... 76
B. Analisis Terhadap Persepsi Ulama Mengenai Praktek
Pemanfaatan Sawah Gadai oleh Murtahin yang dilaksanakan
di Ds. Banjaran. Salem. Brebes ... 81
xii
2. Analisis Terhadap Pesepsi Ulama yang Membolehkan Pemanfaatan Marhun oleh Murtahin dalam Pelaksanaan
Gadai Sawah di Ds. Banjaran, Salem, Brebes ... 84
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 88 B. Saran-Saran ... 90 C. Penutup ... 91
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1 A. Latar Belakang
Islam adalah suatu sistem dan jalan hidup yang utuh dan terpadu (a comprehensive way of life). Ia memberikan panduan yang dinamis dan lugas terhadap aspek kehidupan,
1yakni melalui al-Qur‟an dan as-Sunnah Rasulullah SAW. Al-Qur‟an dan as-Sunnah sebagai penuntunan, mempunyai daya jangkau dan daya atur yang universal, meliputi segenap aspek dalam persoalan kehidupan umat manusia, baik pada masa lampau (setelah al- Qur‟an diturunkan), masa kini, maupun masa yang akan datang. Hal itu dapat terlihat dari segi teksnya yang selalu tepat untuk diimplikasikan dalam kehidupan aktual, misalnya dalam bidang muamalah duniawiyah,
2yaitu bidang yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat mengenai kebendaan dan hak-hak serta penyelesaian persengketaan-persengketaan yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan muama
lah tersebut, dalam hal ini salah satunya yang berkaitan dengan pelaksanaan praktek gadai.
31 Muh. Syafi‟i Antonio, “Bank Syari‟ah „Dari Teori ke Praktek‟ ”, Jakarta: Gema Insani, Cet. 1, 2001, bag. Pengantar.
2 Chairuman Pasaribu dan Suhrawardi. K. Lubis, “Hukum Perjanjian Dalam Islam”, Jakarta: Sinar Grafika.
3 Gemala Dewi, dkk., “Hukum Perikatan Islam di Indonesia”, Jakarta: Kencana, Cet. 1, 2005, hlm. 5.
Pembahasan tentang gadai ini kembali muncul ke permukaan dalam beberapa tahun terakhir ini seiring dengan makin seringnya masyarakat melaksanakan praktek gadai tersebut dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Salah satu alasan yang melatar belakangi dilaksanakannya gadai oleh masyarakat ialah karena proses gadai yang tidak memakan waktu yang berlebihan. Selain itu, seseorang dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan segera dengan menggunakan barang berharga yang dimilikinya sebagai jaminan tanpa harus takut kehilangan barang tersebut, karena pada akhirnya saat ia mengembalikan pinjaman yang diambilnya, maka ia dapat langsung mengambil kembali barang yang dijaminkannya tersebut. Sehingga ia dapat memperoleh yang diinginkannya tanpa harus mengorbankan apa yang dimilikinya. Sehingga kemudian banyak literatur- literatur mengenai akad gadai tersebut.
Syafi‟i Antonio dalam karyanya menerangkan bahwa Gadai yang dalam fikih dikenal dengan akad ar-Rahn diartikan sebagai “suatu akad dimana menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya”.
4Maksudnya bahwa dalam hal ini si peminjam (rahin) harus menyediakan harta benda yang dimilikinya, yang benda tersebut kemudian akan dijadikan jaminan untuk piutang yang diambilnya dari si pemberi pinjaman (murtahin).
Disampaikan pula oleh Hasbi as-Shiddieqy sebagai berikut:
4 Muh. Syafi‟i Antonio, Bank Syari‟ah ‟Suatu Pengenalan Umum, Jakarta: Tazkia Institute, 1999, hlm. 182.
Artinya: “Menjadikan suatu benda berharga dalam pandangan syara‟ sebagai jaminan atas utang selama ada dua kemungkinan, untuk mengembalikan atau mengambil sebagian benda itu”.
5Penjelasan lain tentang gadai ini dikemukakan pula oleh Dr. H. Hendi Suhendi dalam bukunya, bahwa rahn merupakan:
Artinya: “Akad yang objeknya menahan harga terhadap sesuatu hak yang mungkin diperoleh bayaran yang sempurna darinya”.
6Berkenaan dengan akad gadai ini diberikan penjelasan dalam firman Allah SWT. Qs. Al- Baqarah: 283.
7Artinya: “Jika (hendak bermuamalah tidak secara tunai) engkau dalam perjalanan sedangkan engkau idak menemukan seorang Penulis, maka hendaklah ada barang jaminan. Jika kamu sekalian saling mempercayai, maka hendaklah orang yang dipercayai tersebut selalu menjaga kepercayaan tersebut. (Al- Baqarah: 283)”.
5 Hasbi as-Shiddieqy, “Pengantar Fiqh Muamalah”, Jakarta: Bulan Bintang, 1984, hlm.
86-87.
6 Hendi Suhendi, M “Fiqh Muamalah”, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008, hlm.
105.
7 Departemen Aganma RI, „Abdul „Aziz „Abdur Ra‟uf dan Al- Hafiz (edit), “Mushaf Al- Qur‟an Terjemah Edisi Tahun 2002”, Jakarta: Al- Huda, 2005.
Kemudian telah dicontohkan pula oleh Rasulullah SAW, yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Aisyah r.a.:
Artinya: “Dan dari Aisyah r.a, bahwasanya Nabi saw, mengambil makanan dari seorang Yahudi yang harganya akan dibayarkan dalam satu jangka waktu tertentu, sedang Nabi saw, Sebagai jaminan Nabi menggadaikan baju besi beliau.” (HR. Bukhary; Muslim; al- Muntafaqa II: 350).
8Seperti yang telah diketahui bahwasanya pada umumnya aspek hukum keperdataan Islam (fiqh mu‟amalah) dalam hal transaksi mempersyaratkan rukun dan syarat dan syarat syah, hal inipun berlaku dalam akad gadai.
Demikian yang termasuk ke dalam rukun gadai ialah:
1. Aqid (orang yang berakad)
Aqid ialah merupakan pihak yang melaksanakan akad tersebut
yang meliputi dua arah. Dalam akad gadai ini terdapat dua aqid yang saling berkaitan, yakni;
a. Rahin yang merupakan pihak menggadaikan barangnya (barang gadai) dan;
b. Murtahin yang merupakan pihak yang berpiutang dan menerima barang gadai.
2. Ma‟qud ‟alaih (Barang yang diakadkan).
8 T.M. Hasbi ash-Shiddieqy, “Koleksi Hadis-Hadis Hukum 7”, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putera, Cet. 3, Ed. 2, 2001, hlm. 130
Ma‟qud ‟alaih meliputi dua hal yakni;
a. Marhun merupakan barang yang digadaikan dan;
b. Marhun bihi merupakan utang yang karenanya diadakan akad rahn.
93. Shigat al-‟Aqd (Ijab dan kabul)
Merupakan ungkapan para pihak yang melakukan akad.
a. Ijab adalah pernyataan janji atau penawaran dari pihak pertama untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
b. Qabul merupakan pernyataan menerima dari pihak kedua atas penawaran yang dilakukan oleh pihak pertama.
10Berkenaan dengan barang gadai (marhun) bahwa dalam hal ini semua barang yang boleh diperjual-belikan, boleh digadai sebagai tanggungan hutang. Dan barang-barang yang tidak boleh diperjual-belikan tidak boleh digadaikan, sebab gadai (hakikatnya) menjual nilai dari barang itu.
11Sementara bekenaan dengan status marhun tersebut tetap menjadi hak dari pemberi gadai (Rahin), sehingga baik dalam hal yang berkaitan dengan keuntungan maupun kerugian atas barang gadai tersebut menjadi hak dan kewajiban pemberi gadai (rahin). Seperti dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Syafi‟i dan Daruquthni dari Abu Hurairah r.a.:
9 Zainuddin Ali, “Hukum Gadai Syari‟ah”, Jakarta: Sinar Grafika, Edi. 1, Cet. 1, 2008, hlm. 20.
10 Gemala Dewi, op. cit. hlm. 63.
11 Moh. Rifa‟i, Terjemah Kifayatul Ahyar, CV. Thoha Putra, Semarang, 1978, hlm. 196.
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW,: Gadaian itu tidak menutup akan yang punyanya dari manfaat barang itu, faidahnya kepunyaan dia dan dia wajib mempertanggungjawabkan segala resikonya”.
(HR. as- Syafi‟I dan ad- Daruquthni).
12Sebagaimana telah dijelaskan di muka, bahwa dalam masyarakat praktek gadai juga sudah sangat dikenal dan lazim dilaksanakan sebagai salah satu akad dalam aktivitas ekonomi atau yang dalam Islam dikenal dengan aktivitas bermuamalah. Akad gadai ini biasanya dilakukan ketika seseorang itu sangat membutuhkan sejumlah dana, sementara dirinya hanya memiliki suatu benda/ harta (bukan uang) yang jika menunggu dijual dahulu akan membutuhkan waktu lama. Atau karena orang tersebut memang menginginkan untuk tetap memiliki barang tersebut, dikarenakan itu adalah barang berharga yang sangat berarti untuk dirinya. Maka solusi yang diambil ialah dengan cara menggadaikan barang tersebut sehingga dia tetap memperoleh dana, juga barangnya tetap dapat dimilikinya kembali saat dia sudah dapat mengembalikan uang bayaran gadai tersebut.
Salah satu praktek gadai yang Penulis temukan ialah praktek gadai yang dilaksanakan oleh masyarakat di Banjaran, Kec. Salem, Brebes.
Masyarakat biasanya menggunakan sawah mereka sebagai barang jaminan (marhun) atas akad gadai yang mereka lakukan.
Proses gadai tersebut digambarkan dimana Rahin menggadaikan sawahnya dengan teknis Rahin menyerahkan sawahnya kepada Murtahin, kemudian Rahin akan memperoleh sejumlah uang yang telah disepakati
12 Chuzaimah T. Yanggo dan A. Hafiz Anshory, A.Z, “Problematika Hukum Islam Kontemporer III”, Jakarta: Pustaka Firdaus, Cet. 3, 2004, hlm. 94.
dalam akad tersebut, selain itu ditentukan pula berapa lama waktu akad gadai akan berlangsung. Selama akad gadai tersebut berlangsung, lahan sawah berada dalam penguasaan Murtahin serta ia pulalah yang yang berhak dalam hal penggunaan lahan sawah tersebut kaitannya dengan pengambilan manfaatnya, semua kebijakan/ keputusan (dalam hal perawatan, pengolahan dan pemanfaatan) atas lahan tersebut diserahkan kepadanya. Sementara Rahin tidak mempunyai hak untuk memanfaatkan sawah tersebut, bahkan ia tidak dapat sekedar mengambil sebagian kecil manfaat dari lahan sawah tersebut sampai ia dapat mengembalikan uang yang dipinjamnya dulu dari Murtahin.
Sehingga lahan sawah tersebut dikuasai oleh Murtahin, ditanami sesuai kehendaknya asal itu membawa keuntungan baginya.
Dalam peristiwa tersebut tentu menarik untuk dikaji ulang, mengingat hal tersebut berbeda dengan yang apa dijelaskan dalam literatur-literatur yang membahas tentang akad gadai. Hal ini seperti yang telah tersirat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Syafi‟i dan Daruquthni bahwa mengenai barang gadai tersebut menjadi hak dari pihak yang memberikan gadai tadi, sehingga baginya pula segala keuntungan dan kerugian yang mungkin akan ditanggung.
Sehubungan dengan adanya praktek gadai yang terjadi di Banjaran,
Kec. Salem, Brebes tersebut, Penulis tertarik untuk membahasnya mengenai
bagaimana kajian hukum Islam berkenaan dengan praktek gadai yang terjadi
di desa Banjaran, Kec. Salem, Kab. Brebes tersebut. Untuk membahas
permasalahan tersebut Penulis mengambil sebuah judul yaitu: “ANALISIS
HUKUM ISLAM TERHADAP PEMANFAATAN SAWAH GADAI (Persepsi Ulama Salem Terhadap Praktek Gadai Sawah Di Ds. Banjaran, Salem, Brebes).
B. Rumusan Masalah
Bertolak dari penjelasan di atas, ada beberapa permasalahan yang ingin penulis bahas dalam skripsi ini, yaitu:
1. Bagaimanakah praktek gadai sawah di Banjaran, Kec. Salem, Brebes?
2. Bagaimanakah persepsi ulama Salem tentang pemanfaatan sawah gadai oleh Murtahin yang dilaksanakan di Ds. Banjaran, Kec. Salem, Brebes?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan praktek gadai sawah yang dilaksanakan di Banjaran, Kec. Salem, Brebes.
2. Untuk mengetahui bagaimanakah persepsi ulama Salem terhadap praktek pemanfaatan sawah gadai oleh murtahin yang dilaksanakan di Banjaran, Kec. Salem, Brebes.
Manfaat Penelitian ini adalah:
1. Dapat mengetahui bagaimana praktek pemanfaatan sawah gadai oleh murtahin dalam pelaksanaan gadai sawah yang dilaksanakan di desa
Banjaran, Salem, Brebes.
2. Dapat mengetahui bagaimanakah persepsi Ulama Salem tentang
pemanfaatan sawah gadai yang dilaksanakan di Banjaran, Kec. Salem,
Brebes.
3. Dapat mengetahui bagaimana hukum Islam mengkaji proses pemanfaatan lahan sawah dalam akad gadai yang dilaksanakan di Banjaran, Kec. Salem, Brebes.
4. Bagi IAIN Walisongo, diharapkan skripsi ini dapat menjadi tambahan informasi dan referensi belajar khususnya bagi mahasiswa-mahasiswi fakultas Syari‟ah jurusan Hukum Ekonomi Islam atau Muamalah.
D. Telaah Pustaka
Terkait penelitian Penulis ini, Penulis menemukan beberapa sumber yang terkait dengan penelitian Penulis. Diantaranya:
1. Karya ilmiah berupa skripsi yang ditulis oleh Muhamad Jamroni (042311028) yang merupakan mahasiswa S1 IAIN Walisongo Semarang, Fakultas Syari‟ah. Dalam karyanya yang berjudul “Analisis Hukum Islam Terhadap Praktek Gadai Sawah (Studi Kasus gadai Di Desa Penyalahan Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal)”. Dalam skripsi tersebut mengkaji tentang permasalahan yang berkaitan dengan bagaimanakah praktek gadai sawah yang dilakukan oleh masyarakat Desa Penyalahan Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal, serta bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap praktek gadai tersebut. Dari skripsi tersebut kemudian diketahui bahwa praktek gadai yang dilaksanakan oleh masyarakat di desa Penyalahan, Kec. Jatinegara, Tegal tersebut sudah memenuhi syarat dan rukun gadai, hanya saja perlu dilakukan pembenahan terhadap hal yang berkaitan dengan pengelolaan dan pembagian hasil barang jaminan.
Sementara dari segi pandangan Hukum Islam, praktek gadai di desa
Penyalahan tersebut dipandang tidak sesuai dengan konsep ta‟awun. Hal ini dikarenakan segala keuntungan terhadap pengelolaan barang jaminan diambil sepenuhnya oleh Penerima Gadai.
2. Penelitian Nur Rif'ati (2103141) yang berjudul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Gadai Sepeda Motor (Studi Kasus Di Desa Karangmulyo Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal)”. Dalam penelitian tersebut bermaksud untuk membahas bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap praktek gadai sepeda motor, dimana barang tersebut berupa barang hutangan, adanya unsur tambahan serta pemanfaatan dengan cara menyewakan barang gadai tersebut. Kemudian dari penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa praktek gadai yang dilaksanakan di desa Karangmulyo, kec. Pegandon, Tegal tersebut tidak sesuai dengan Hukum Islam, ini dilihat dari segi ma‟qud alaih yang berupa hutang.
Padahal dalam syarat gadai dijelaskan bahwa ma‟qud alaih tidak boleh ada tanggungan dengan pihak lain, yakni harus berupa milik sempurna. Dari akad gadai yang tersebut ini juga diketahui bahwa akad gadai tersebut terkontaminasi oleh praktek riba, dimana murtahn selain mengambil manfaat dari ma‟qud alaih juga meminta bunga dari pokok pinjaman yan diambil oleh rahin. Selain itu dijelaskan juga bahwa dalam praktek gadai tersebut ditemukan adanya unsur gharar, ini digambarkan dengan kegiatan murtahin yang menyewakan ma‟qud alaih yang dalam hal ini merupakan
bentuk penipuan dan kecurangan terhadap rahin.
3. Penelitian oleh Nur Asiah (2101171) yang berjudul “Pemanfaatan Barang Gadai Oleh Pemberi Gadai (Rahin) Dalam Perspektif Hukum Islam Dan KUH-Perdata”. Dalam penelitian ini memfokuskan pada bagaimana pemanfaatan barang gadai oleh rahin ditinjau dari Hukum Islam serta Pasal 1150 KUH Perdata. Dari penelitian ini dijelaskan bahwa baik ditinjau dari Hukum Islam maupun KUH Perdata bahwa praktek pemanfaatan barang gadai tidak diperbolehkan. Namun, dalam Hukum Islam dijelaskan bahwa pemegang gadai diperbolehkan mengambil manfaat atas barang jaminan yang berupa binatang ternak yang memerlukan perawatan atasnya. Dalam hal ini pemegang gadai diperkenankan mengambil manfaat sebesar biaya perawatan dan pemeliharaan binatang tersebut.
4. Penelitian Siti Zainab (2103142), yang berjudul “Analisis Pendapat Imam Malik Tentang Penyelesaian Perselisihan Antara Yang Menggadaikan Dengan Penerima Gadai Terhadap Barang Yang Rusak”. Dalam penelitian tersebut memfokuskan pada beberapa permasalahan yakni: bagaimana pandangan Imam Malik tentang penyelesaian perselisihan antara yang menggadaikan dengan penerima gadai. Serta metode istinbat hukum yang bagaimana yang digunakan Imam Malik dalam rangka penyelesaian perselisihan antara yang menggadaikan dengan penerima gadai tersebut.
Kemudian dari penelitian tersebut dijelaskan bahwa langkah yang
dilaksanakan dalam rangka penyelesaian perselisihan antara yang
menggadaikan dengan pemegang gadai ialah dengan menerima pengakuan
dan keterangan dari pemegang gadai, hal ini seperti dijelaskan dalam kitabnya al-Muwatta‟.
E. Metode Penelitian
Dalam skripsi ini penulis menggunakan beberapa tipe metode penelitian agar didapat data-data yang akurat, yaitu:
1. Jenis Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian Lapangan (Field Research) yang juga disebut dengan penelitian kasus (Case Study) dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan dan posisi saat ini, serta interaksi lingkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given). Penelitian kasus ini merupakan studi mendalam mengenai unit sosial tertentu, yang hasil penelitian itu memberi gambaran luas dan mendalam mengenai unit sosial tertentu.
13Penelitian ini pada umumnya bertujuan untuk mempelajari secara mendalam terhadap suatu individu, kelompok, institusi, atau masyarakat tertentu, tentang latar belakang, keadaan/ kondisi, faktor-faktor, atau interaksi-interaksi (sosial) yang terjadi di dalamnya.
14Dalam hal ini penulis mencoba mengamati langsung mengenai praktek gadai yang dilakukan oleh rahin dan murtahin yang berada di Banjaran, Kec. Salem, Brebes. Diharapkan dengan dilakukannya penelitian lapangan ini penulis
13 Sudarwan Danim, “Menjadi Peneliti Kualitatif „Ancangan metodologi, presentasi dan publikasi hasil penelitian untuk mahasiswa dan peneliti pemula bidang ilmu-ilmu social, pendidikan, dan humaniora‟ ”, Bandung: CV. Pustaka Setia, Cet. I, 2002, hlm. 54.
14 Bambang Sunggono, “Metodologi Penelitian Hukum „Suatu Pengantar”, Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, Cet. 2, 1998, hlm. 36.
akan memperoleh data yang akurat mengenai proses dilakukannya akad gadai di Banjaran tersebut.
2. Sumber Data
Data yang Penulis gunakan dalam penelitian skripsi ini berasal dari dua sumber, yakni:
a. Sumber Primer
Yakni sumber yang langsung memberikan data kepada pengumpul.
15Data ini diperoleh secara langsung dari masyarakat baik yang melalui wawancara, observasi dan alat lainnya. Data ini masih mentah dan perlu adanya analisa lebih lanjut atasnya.
16Dalam hal ini sumber data primer penulis ialah berupa data langsung yang diperoleh dari hasil pengamatan dan penelitian penulis berkenaan dengan dengan praktek gadai sawah yang dilaksanakan oleh rahin dan murtahin di Banjaran, Kec. Salem, Brebes. Selain itu juga
berasal dari persepsi/ pendapat ulama yang berada di sekitar Ds.
Banjaran, Salem, Brebes.
b. Sumber Sekunder
Data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya melalui dokumen.
17Dalam hal ini menggunakan literatur-literatur berupa buku-buku khususnya yang membahas tentang penelitian ini.
15 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2009, hlm. 225
16 Joko Subagyo. “Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek”, Jakarta: PT. Rineka Cipta, Cet. I, 1991, hlm. 87.
17 Sugiyono. op. cit., hlm. 230
3. Metode Pengumpulan Data
Untuk mendukung penulisan skripsi ini, ada beberapa metode yang Penulis gunakan dalam mengumpulkan data, yakni:
a. Observasi
Ialah suatu pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan.
18Yakni cara pengumpulan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut.
19Dalam hal ini Penulis melakukan observasi dengan cara mengamati praktek akad gadai yang dilakukan oleh rahin dan murtahin di ds. Banjaran, Kec. Salem, Brebes. Observasi yang dimaksud ialah berkaitan dengan bagaimana masyarakat ds. Banjaran melaksanakan praktek gadai tersebut. Bagaimana murtahin memanfaatkan sawah yang dijadikan jaminan gadai oleh rahin, sehingga rahin tidak memiliki hak apapun atas sawahnya tersebut sampai ia mampu mengembalikan pinjaman yang ia ambil dari murtahin. Praktek gadai yang penulis amati dalam hal ini terdapat 2 praktek gadai, ini dimaksudkan untuk membandingkan di antara keduanya.
b. Interview/ Wawancara.
Wawancara merupakan sebuah percakapan antara dua orang atau lebih, yang pertanyaannya diajukan oleh peneliti kepada subjek atau
18 P. Joko Subagyo, op. cit. hlm. 63.
19 Moh. Nazir, “Metode Penelitian”, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988, hlm. 212
sekelompok subjek peneliti untuk dijawab.
20Yakni merupakan suatu metode pengumpul data yang untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan pada para responden. Wawancara sendiri bermakna berhadapan langsung antara interviewer(s) dengan responden, dan kegiatannya dilakukan secara lisan.
21Dalam hal ini Penulis melakukan interview langsung dengan pihak-pihak yang terkait dalam akad gadai sawah tersebut. Responden dalam penelitian ialah ulama,
22sebagai pihak yang berkompeten untuk menjelaskan tentang kajian hukum Islam berkenaan dengan akad gadai (baik secara teoritis, maupun berkaitan dengan pelaksanaan gadai sawah di ds. Banjaran). Penelitian ini melibatkan 6 orang yang mewakili ulama. Ulama yang dimaksud penulis diantaranya mewakili pihak pemilik tempat pendidikan agama (pondok pesantren), pihak yang mewakili penceramah/ guru yang biasanya menyampaikan pesan/
pengajaran agama, yang mewakili organisasi keagamaan (dalam hal ini penulis mengambil sampel dari organisasi NU dan Muhammadiyah).
20 Sudarwan Denim, op. cit., hlm. 130
21 Joko Subagyo, op. cit. hlm. 39.
22 Kata ulama merupakan bentuk jamak dari kata „alim. (Ibnu Mandhur, Lisan al-arab, Juz I, Beirut : Dar al-Lisan al-Arab, tth., hlm. 273). Namun dalam perkembangannya kata “ulama”
ini telah mengalami penyempitan makna yakni kata “ulama” tersebut dimaknai sebagai bentuk tunggal. Seorang alim digambarkan sebagai seorang yang berilmu, sementara seorang ulama ditujukan kepada seorang yang memiliki pengetahuan agama, terutama dalam bidang fikih atau hukum Islam. Meskipun sebenarnya untuk sebutan seorang ahli fikih itu sendiri lebih tepat disebut sebagai faqih atau jamaknya fuqaha. Sehingga dapat dikatakan bahwa ulama merupakan seorang yang ahli atau memiliki pengetahuan baik ilmu agama Islam maupun ilmu pengetahuan ke- alaman, yang dengan pengetahuannya tersebut menjadikannya memiliki rasa taqwa, takut dan tunduk kepada Allah SWT (Tim Penyusun Ensiklopedi Hukum Islam, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid VI, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, hlm. 1841).
Penelitian ini juga tentu saja melibatkan rahin dan murtahin sebagai pihak pelaksana praktek gadai sawah tersebut. Wawancara dengan pihak rahin dan murtahin disini berkaitan dengan perihal bagaimana proses pelaksanaan gadai sawah tersebut, kemudian bagaimana pendapat mereka terhadap praktek pelaksanaan gadai sawah di ds.
Banjaran, serta bagaimana pendapat mereka tentang pemanfaatan sawah gadai terseut. Penelitian ini melibatkan 7 orang responden yang berasal dari pihak rahin. serta dari pihak murtahin sebanyak 7 orang pula.
4. Metode Analisis Data
Proses analisis data secara keseluruhan melibatkan usaha memaknai data yang berupa teks atau gambar. Analisis data merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan refleksi terus-menerus terhadap data, mengajukan pertanyaan-pertanyaan analitis, dan menulis secara singkat sepanjang penelitian. Analisis data melibatkan pengumpulan data yang terbuka yang didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan umum, dan analisis informasi dari para partisifan.
23Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah deskriptif, yaitu metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian,
24Penelitian deskriptif disini bertujuan untuk membuat pencanderaan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah
23 John. W. Creswell, “Research Design „Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed”, diterjemahkan oleh Achmad Fawaid dari “Research Design, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approache”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I, 2002, hlm. 274-275.
24 Moh Nazir, hal. 64
tertentu.
25Dan atau bertujuan untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan, dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu.
26Situasi atau kejadian yang dimaksud dalam skripsi ini ialah praktek gadai yang dilakukan oleh masyarakat desa Banjaran.
F. Sistematika Penelitian
Untuk memberi kemudahan dalam memahami skripsi ini, maka Penulis menguraikan susunan penulisan secara sistematis, yakni sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN.
Dalam bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, metode peneltian, sistematika penelitian.
BAB II : Ketentuan Umum Mengenai Gadai (Ar-Rahn)
Pembahasan umum mengenai pandangan Islam mengenai praktek akad gadai (ar-Rahn). Yakni berkaitan dengan definisi gadai (ar- Rahn), dasar hukum, rukun dan syarat, serta ketentuan khusus
gadai berkaitan dengan tambahan pada barang gadai serta pengambilan manfaat atas barang gadai.
25 Sumadi Suryabrata, “Metodologi Penelitian”, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Cet.
9, 1995, hlm. 18.
26 Consuelo. G. Sevilla, dkk. , “Pengantar Metode Penelitian”, diterjemahkan oleh Alimuddin Tuwu dari “An Introduction to Research Methods”, Jakarta: UI-Press, Cet. 1, 1993, hlm. 71.
BAB III : Persepsi Ulama Salem Terhadap Praktek Pelaksanaan Pengambilan Manfaat atas Marhun oleh Murtahin di Ds.
Banjaran, Salem. Brebes
Berisi tentang deskripsi profil ds. Banjaran dan kondisi sosial kemasyarakatan di Ds. Banjaran, kec. Salem, kab. Brebes.
Dilanjutkan tentang penjelasan berkaitan dengan pelaksanaan praktek gadai sawah yang dilaksanakan di desa tersebut serta penjelasan dalam kaitannya dengan pendapat para ulama Salem dan para pihak yang terkait dengan pelaksanaan praktek gadai tersebut, terutama dalam kaitannya dengan pemanfaatan sawah gadai oleh murtahin.
BAB IV : Analisis Terhadap Persepsi Ulama Terhadap Pemanfaatan Sawah Gadai yang dilaksanakan di Ds. Banjaran, Kec. Salem, Brebes.
Analisis penulis terhadap pelaksanaan praktek gadai yang dilakukan oleh masyarakat di desa Banjaran, Kec. Salem, Kab.
Brebes. Serta analisis berkaitan dengan persepsi Ulama Salem terhadap pelaksanaan pemanfaatan sawah gadai dalam praktek gadai tersebut.
BAB V : PENUTUP
Berisi kesimpulan, saran dan juga kritik penulis.
BAB II
KETENTUAN UMUM MENGENAI GADAI (AR- RAHN)
A. Definisi Gadai
Gadai merupakan suatu sarana saling tolong-menolong bagi umat muslim, tanpa adanya imbalan jasa.
27Sehingga kemudian akad gadai ini dikategorikan kedalam akad yang bersifat derma (tabarru), hal ini disebabkan karena apa yang diberikan rahin kepada murtahin tidak ditukar dengan sesuatu. Sementara yang diberikan oleh murtahin kepada rahin adalah utang, bukan penukar dari barang yang digadaikan (marhun). Selain itu, rahn juga digolongkan kepada akad yang bersifat ainiyah, yakni akad yang sempurna setelah menyerahkan barang yang diakadkan. Sehingga kemudian dijelaskan bahwa semua akad yang bersifat derma dikatakan sempura setelah memegang (al-qabdu), sempurna tabarru‟, kecuali setelah pemegangan).
28Selain itu, gadai ini juga termasuk ke dalam jenis akad musamma.
2927 Nasrun Haroen, “Fiqh Muamalah”, Jakarta: Gaya Media Pratama, Cet. 2, 2007, hlm.
251.
28 Rahmat Syafe‟i, “Fiqh Muamalah”, Bandung: CV. Pustaka Setia, Cet. 10, 2001. hlm.
160
29Akad (al „aqd – al „uqud) secara bahasa diartikan sebagai al- rabath yakni menghimpun atau mengumpulkan dua ujung tali dan mengikatkan salah satu pada yang lainnya hingga keduanya bersambung dan menjadi seutas tali yang satu. [Hukum Perikatan Islam di Indonesia oleh Gemala Dewi et al, op. cit., hlm. 45].
Dalam terminologi hukum Islam, akad diartikan sebagai pertalian antara ijab dan qabul yang dibenarkan oleh syara‟ (bahwasanya setiap akad tidak boleh bertentangan dengan ketentuan syari‟at Islam) yang menimbulkan akibat hukum bagi objeknya. Pengertian akad yang tersebut merupakan satu perbuatan atau tindakan hukum, maksudnya ialah bahwa dengan dilakukannya akad tersebut maka akan menimbulkan hak dan kewajiban yang mengikat pihak-pihak yang terkait baik secara langsung maupun secara tidak langsung dengan akad tersebut. Akad ini kemudian mengalami pengelompokkan berdasarkan kategori tertentu. Salah satu pengelompokan yang dimaksudkan adalah berdasarkan segi penamaan yang dinyatakan oleh syara‟, yang dibedakan menjadi akad musamma dan ghoiru musamma. Akad musamma merupakan sejumlah akad yang disebutkan oleh syara‟ dengan terminologi tertentu beserta akibat hukumnya, diantara jenis akad
19
Secara etimologi gadai atau yang dalam bahasa arab disebut dengan rahn berasal dari kata rahana-rahnan.
30Yang dalam hal ini rahn berarti ( / tetap dan lama), yakni tetap atau berarti ( / pengekangan dan keharusan)
31Akar kata rahn itu sendiri berasal dari al-Qur‟an surat al- Mudatstsir:
38, sebagai berikut:
Artinya: “tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”.
32Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap pribadi tergadai di sisi Allah SWT. Ia pun harus menebusnya dengan amal-amal perbuatan yang baik.
Setiap pribadi tersebut seakan-akan berhutang pada Allah SWT, maka ia harus membayar utang tersebut sebagai cara pembebasan diri atas utang tersebut kepada Allah SWT.
33Sementara itu, gadai menurut istilah merupakan akad utang di mana terdapat suatu barang yang dijadikan peneguhan atau penguat kepercayaan dalam utang piutang, barang itu boleh dijual apabila utang tak dapat dibayar,
musamma ialah akad gadai (rahn). Akad ghoiru musamma adalah akad yang mana syara‟ tidak menyebutkan dengan terminologi tertentu dan tidak pula menerangkan akibat hukum yang ditimbulkannya, berkembang berdasarkan kebutuhan manusia dan perkembangan kemaslahatan, diantara akad ghoiru musamma ialah akad „istishna‟.(Tentang akad baca lebih lanjut dalam bukunya Ghufron. A, Mas‟adi, “Fiqh Muamalah Kontekstual”, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, Ed. 1, Cet. 1, 2002, hlm. 75-77, dan 106.
30 Ahmad Wardi Muslich, “Fiqh Muamalat”, Jakarta: AMZAH, Cet. I, 2010, hlm 286
31 Rahmat Syafe‟i, op. cit. hlm. 159
32 Departemen Negara RI, “Al- Qur‟an dan Terjemahnya al- Jumánstul „Alí”, Bandung:
CV. Penerbit Jumanatul „Ali-Art, 2005, hlm. 577.
33 M. Quraish Shihab, “Tafsir al- Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al- Qur‟an”, Jakarta: Lentera Hati, vol. 14, cet. 4, 2006, hlm. 606
hanya saja penjualan itu hendaknya dilaksanakan dengan keadilan (dengan harga yang berlaku di waktu itu).
34Para Imam Madzhab mengartikan kata gadai (rahn) sebagai berikut:
Hanafiah sebagaimana dikutip oleh Sayid Syabiq mendefinisikan gadai (rahn) sebagai:
Artinya: “Sesungguhnya rahn (gadai) adalah menjadikan benda yang memiliki nilai harta dalam pandangan syara‟ sebagai jaminan untuk utang, dengan ketentuan dimungkinkan untuk mengambil semua utang, atau mengambil sebagiannya dari benda (jaminan) tersebut”.
Syafi‟iyah sebagaimana dikutip oleh Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwasanya gadai (rahn) merupakan:
35Artinya: “gadai adalah menjadikan suatu benda sebagai jaminan untuk utang, dimana utang tersebut bisa dilunasi (dibayar) dari benda (jaminan) tersebut ketika pelunasannya mengalami kesulitan”.
Sementara itu Hanabilah mendefinisikan gadai (rahn) sebagai:
Artinya: “Gadai adalah harta yang dijadikan sebagai jaminan untuk utang yang bisa dilunasi dari harganya, apabila terjadi kesulitan dalam pengembaliannya dari orang yang berutang”.
34 Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Bandung: PT.Sinar Baru Algensindo, 1994, hlm. 309
35 Ahmad Wardi Muslich, op. cit. hlm. 286-287.
Madzhab Malikiyah mendefinisikan gadai (rahn) sebagai;
Artinya: “rahn adalah sesuatu yang bernilai harta yang diambil dari pemiliknya sebagai jaminan untuk utang yang tetap (mengikat) atau menjadi tetap”.
Berdasarkan pada pengertian gadai (rahn) menurut Imam madzhab tersebut Dr. H. Ahmad Wardi Muslich menarik suatu intisari bahwasanya gadai (rahn) adalah menjadikan suatu barang sebagai jaminan atas utang, dengan ketentuan bahwa apabila terjadi kesulitan dalam pembayarannya maka utang tersebut dapat dibayar dari hasil penjualan barang yang dijadikan jaminan tersebut.
36Disampaikan pula oleh Hasbi as-Shiddieqy sebagai berikut:
37Artinya:“Menjadikan suatu benda berharga dalam pandangan syara‟ sebagai jaminan atas utang selama ada dua kemungkinan, untuk mengembalikan atau mengambil sebagian benda itu”.
Syafi‟i Antonio dalam karyanya menjelaskan bahwa Gadai merupakan
“suatu akad dimana menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya”.
38Sementara itu, Sayid Sabiq dalam kitabnya menjelaskan bahwasanya yang dimaksud dengan gadai ialah menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut syara‟ sebagai
36 Ibid. hlm. 287-288
37 Hasbi as-Shiddieqy, op. cit.,, hlm. 86-87.
38 Muh. Syafi‟i Antonio, op. cit., hlm.182.
jaminan utang, sehingga orang yang bersangkutan boleh mengambil utang atau bisa mengambil sebagian (manfaat) barang itu.
39Pendapat lain dikemukakan oleh Al-Imam Abu Zakaria Al-Anshari, menurut beliau bahwasanya ta‟rif (definisi) ar-rahn ialah menjadikan benda yang bersifat harta (harta benda) sebagai kepercayaan dari suatu utang yang dapat dibayarkan dari (harga) benda itu bila utang tidak dibayar.
40Syekh Zainuddin Bin Abdul Azis Al-Malibari menjelaskan bahwasanya gadai merupakan suatu kegiatan menjaminkan barang yang dapat dijual sebagai jaminan utang, jika penanggung tidak mampu membayar utangnya karena kesulitan. Oleh karena itu tidak boleh menggadaikan barang wakaf atau ummu al-walad (budak perempuan yang punya anak di tuannya).
41Ditinjau dari segi perikatan, perjanjian gadai ini merupakan perjanjian dua pihak (bersegi dua; pemberi dan penerima/ pemegang gadai), namun demikian dalam praktiknya perjanjian ini sering juga melibatkan tiga pihak yakni debitur, pemberi gadai serta pemegang gadai/ kreditur.
42Susilo dalam bukunya Pegadaian Syari‟ah, menjelaskan bahwa gadai ialah suatu hak yang diperoleh oleh seorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. Barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang
39 Sayid Sabiq, Fiqih Sunnah 12, Jakarta: Pustaka Percetakan Offset, 1998, hlm.139
40 Chuzaimah T. Yanggo dan A. Hafiz Anshory, A.Z, op. cit., hlm. 445
41 Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani, Terjemah Fathul Mu‟in, Jilid I,Bandung: Sinar Baru Algesindo, Cet I, 1994, hlm. 838.
42 Penerima/ pemegang gadai (kreditur) merupakan orang yang berpiutang, Pemberi gadai merupakan orang yang menyerahkan benda yang dijadikan obyek perjanjian gadai, debitur merupakan orang yang berutang (Lihat Chairuman Pasaribu dan Suhrawardi. K. Lubis, “Hukum Perjanjian Dalam Islam”, Jakarta: Sinar Grafika, Cet. 2, 1996, hlm. 139
yang berpiutang oleh seorang yang mempunyai utang atau oleh orang lain atas nama orang yang mempunyai utang.
43Sementara itu pengertian gadai menurut KUH Perdata (Burgerlijk Wetbook) yang diuraikan dalam Pasal 1150 disebutkan sebagai:
“Suatu hak yang diperoleh kreditur atas suatu barang bergerak yang di serahkan oleh seorang berpiutangatas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang yang berutang atau oleh seorang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainnya; dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan”.
44Dengan demikian bahwa menurut KUH Perdata, Gadai merupakan hak kebendaan yang bersifat sebagai jaminan atas suatu hutang, dengan obyeknya berupa benda bergerak.
45Berkenaan dengan hutang yang menggunakan jaminan tersebut, dalam KUH Perdata selain gadai dibahas pula jenis lainnya, yakni hipotek, yang selanjutnya tentang hipotek ini dijelaskan dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah yang disahkan pada tanggal 9 april 1996. Demikian berdasarkan KUH Perdata dijelaskan bahwa:
43 Muhamad Sholihul Hadi, Pegadaian Syari‟ah, Jakarta: Salemba Diniyah, 2003, hlm.16.
44 R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, “Kitab Undang-Undang Hukum Perdata‟ Dengan Tambahan Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Perkawinan”, Jakarta: PT.
Pradnya Paramita, Cet. 27, 1995, hlm. 297.
45 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, “Hukum Perdata; Hukum Benda”, Yogyakarta:
Liberty, 1974, hlm. 96
“Hipotek adalah suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak, untuk mengambil penggantian daripadanya bagi pelunasan suatu perikatan.”
46Persamaan antara hipotik dan gadai tersebut merupakan hak kebendaan maka juga mempunyai sifat-sifat dari hak kebendaan yaitu: selalu mengikuti bendanya (droit de suite) yang terjadi lebih dahulu didahulukan dalam pemenuhannya (droit de preference asas prioriteit) dapat dipindahkan dan lain-lain. Selain itu baik hipotik maupun gadai mempunyai kedudukan preferensi yaitu didahulukan dalam pemenuhannya melebihi kreditur-kreditur lainnya (pasal 1133 KUH Perdata).
47Persamaan lainnya dijelaskan ialah bahwa baik hipotik maupun pand bersifat accessoir, yakni diadakan sebagai akibat dari suatu perjanjian pokok, yakni perjanjian pinjam uang (utang- piutang).
48Namun, dalam bahasannya selain keduanya memiliki persamaan, terdapat pula perbedaannya. Perbedaan yang terdapat antara gadai (pandrecht) dan hipotek (hypotheek) diantaranya sebagai berikut:
1. Dalam pandrecht harus disertai dengan penyerahan kekuasaan atas barang yang dijadikan jaminan, sementara dalam hypotheek tidak.
2. Pandrecht hapus, jika barang yang dijadikan jaminan berpindah ke tangan orang lain, tetapi dalam hypotheek tetap terletak sebagai beban di atas benda yang dijadikan jaminanan meskipun benda ini dipindahkan kepada orang lain.
46 R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, op. cit, hlm. 300
47 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, loc. Cit.
48 Subekti, op. cit, hlm. 83
3. Bahwa meskipun undang-undang tidak melarangnya, dalam kehidupan sehari-hari hampir tidak pernah terjadi adanya lebih dari satu pandrecht atas satu barang jaminan. Sementara dalam hypotheek merupakan suatu hal yang biasa terdapat beberapa hypotheek yang bersama-sama yang dibebankan di atas satu barang jaminan, misalnya hypotheek atas rumah.
49Prof. Subekti, SH di dalam bukunya “Pokok-pokok Hukum Perdata”
mengatakan, di dalam hukum Romawi semacam hak gadai itu disebut
“Fiducia” yaitu suatu pemindahan hak milik sebagai suatu perjanjian bahwa benda tersebut akan dikembalikan apabila si berutang sudah membayar utang atau pinjamannya.
50Jadi dalam hal ini jaminan berupa surat-surat berharga yang saat ini banyak berkembang dalam masyarakat.
Berdasarkan beberapa definisi tentang gadai (rahn) tersebut dapat disimpulkan bahwa gadai merupakan kegiatan menjaminkan suatu barang/
benda yang memiliki nilai (harta benda) atas pinjaman yang diambil (oleh rahin), yang hak penguasaannya berpindah kepada pihak yang memberikan
pinjaman (murtahin) sampai pinjaman yang diambil tersebut dikembalikan, dan seandainya sampai masa yang ditentukan si peminjam (rahin) tidak mampu untuk mengembalikan pinjaman yang diambilnya maka si pemberi pinjaman (murtahin) berhak melakukan penjualan atas barang jaminan (tentunya dengan kesepakatan bersama rahin), hasil penjualan tersebut digunakan untuk mengganti pinjaman, seandainya masih terdapat kelebihan maka diserahkan kepada si Peminjam (rahin), namun seandainya hasil
49 Ibid, hlm. 83
50 Ibid, hlm. 78
penjualan tersebut kurang dari jumlah pinjaman maka kekurangan tersebut ditanggungkan kepada si Peminjam (rahin).
Berkaitan dengan bahasan gadai dalam KUH Perdata dengan rahn dalam Hukum Islam tersebut terdapat satu perbedaan yang signifikan, yakni bahwa dalam hal objek gadai dalam KUH Perdata hanya meliputi benda bergerak saja
51. Sementara objek rahn selain meliputi benda bergerak, mencakup pula benda tidak bergerak.
B. Dasar Hukum Gadai (Ar-Rahn) 1. Dalil al-Qur‟an
Berkenaan dengan pinjam-meminjam dengan menyertakan jaminan ini didasarkan pada firman Allah SWT, Qs. Al-Baqarah: 283:
Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang
51 Mengenai benda bergerak tersebut dibedakan menjadi:
a. Benda bergerak yang berwujud.
b. Benda bergerak yang tak berwujud, yaitu yang berupa pelbagai hak untuk mendapatkan pembayaran uang, yaitu yang berwujud surat-surat piutang aan toonder (kepada si pembawa), aan order (atas tunjuk), op naam (atas nama). (Baca dalam bukunya Sri Soedewi Masjchoen Sofwam, op. cit, hlm. 98.
berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Al-Baqarah: 283)
52Ayat tersebut menjelaskan tentang kebolehan memberikan barang tanggungan (marhun) sebagai jaminan atas pinjaman (menggadai).
Jaminan yang dimaksudkan bukan berupa tulisan atau saksi, melainkan amanah dan kepercayaan timbal balik. Hutang diterima oleh pengutang, dan jaminan diterima oleh pemberi hutang. Mengenai amanah tersebut dimaksudkan sebagai bentuk kepercayaan dari si Pemberi kepada si Penerima (pihak yang dititipi), bahwa apa yang dititipkannya tersebut akan dipelihara dengan baik, serta pada saat waktunya untuk dikembalikan dapat kembali secara utuh tanpa ada keberatan dari pihak yang dititipi.
Demikian pula si penitip tidak akan meminta melebihi dengan apa yang telah disepakati kedua belah pihak.
532. Hadits
Berkenaan dengan akad gadai ini dijelaskan pula dalam hadits dari Aisyah r.a.:
Artinya: “Dan dari Aisyah r.a, bahwa sesungguhnya Nabi saw, pernah membeli makanan dari seorang Yahudi secara bertempo,sedang Nabi saw, menggadaikan sebuah baju besi kepada Yahudi itu.”
52 Departemen Aganma RI, „Abdul „Aziz „Abdur Ra‟uf dan Al- Hafiz (edit), “Mushaf Al- Qur‟an Terjemah Edisi Tahun 2002”, Jakarta: Al- Huda, 2005, hlm. 110
53 M. Quraish Shihab, “Tafsir al- Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al- Qur‟an”, Jakarta: Lentera Hati, vol. 2, cet. 5, 2005, hlm. 610-611.
Artinya: “Dari Anas, ia berkata, Nabi saw, pernah sebuah menggadaikan sebuah baju besi kepada seorang Yahudi di Madinah dan Nabi mengambil gandum dari si Yahudi itu untuk keluarganya.” (HR.
Bukhori, Nasai, dan Ibnu Majah).
Artinya: “Dan dalam satu lafal (dikatakan): Nabi saw, wafat sedang baju besinya masih tergadai pada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha‟ gandum”. (HR. Bukhari dan Muslim).
54Dari riwayat tersebut diketahui bahwa Nabi SAW membeli makanan sebanyak 30 gantang dari seorang Yahudi yang bernama Abu Syahmi, sedang pembayarannya diangguhkan, akan dibayar kemudian, dan sebagai agunan Nabi menyerahkan baju besinya.
55Dan secara jelas dapat kita ketahui bahwasanya kita dibolehkan melakukan perjanjian (muamalah) meski dengan seorang kafir (non-muslim) sekalipun.
563. Pendapat Ulama
Para ulama fiqh mengemukakan bahwa akad ar-Rahn dibolehkan dalam syariat Islam dengan berdasarkan pada ketentuan al-Qur‟an dan sunnah Rasul. Para ulama fiqh menyepakati bahwasanya rahn boleh
54 Mu‟ammal Hamidy, Terjemah Nailul Authar Jilid IV, Surabaya: Bina Ilmu, hlm. 1785- 1786.
55 T. M. Hasbi as-Shiddieqy, “Mutiara Hadits 5”, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, Cet. 1, Ed. 2, 2003, hlm. 82. Serupa dalam bukunya M. Ali Hasan, hlm. 255.
56 T. M. Hasbi as-Shiddieqy, “Koleksi Hadis-Hadis Hukum 7”, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, Cet. 3, Ed. 2, 2001, hlm. 131.
dilakukan dalam perjalanan dan dalam keadaan hadir di tempat, asal barang yang dijaminkan tersebut dapat dipegang/ dikuasai (al-qabdh) secara hukum oleh pemberi piutang (murtahin). Dalam hal ini, karena seperti yang kita ketahui bahwasanya tidak semua barang dapat dipegang/
dikuasai secara langsung, dalam keadaan tersebut maka paling tidak ada semacam pegangan yang dapat menjamin bahwa barang dalam status al- marhun (menjadi agunan hutang). Misalnya, untuk barang jaminan
berupa sebidang tanah maka yang dikuasai surat jaminan atas tanah (al- qabdh) tersebut.
57Pendapat berbeda disampaikan oleh kelompok yang berpegang pada makna zahir dari surat al-Baqarah ayat 283, kelompok tersebut ialah Imam Mujahid, Dhahhak, dan Zahiriyah, menurutnya gadai (rahn) hanya dibolehkan bagi orang yang sedang dalam perjalanan.
584. Fatwa Dewan Syari‟ah-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)
Yang menjadi rujukan akad rahn ialah fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syari‟ah MUI yakni fatwa Nomor: 25/DSN-MUI/III/2002 Tentang RAHN yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 15 Rabi‟ul Akhir 1423 H/
26 Juni 2002 M. Bahwasanya:
59a. Bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam bentuk Rahn dibolehkan.
57 Nasroen Harun, op. cit. Hlm. 253
58 Ahmad Wardich Muslich, op. cit. hlm. 289
59DSN-MUI, “Himpunan Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional”, Ciputat: CV. Gaung Persada, cet. 4, Ed. 4, 2006, hlm. 153-154