44
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian
Perumahan Senjoyo Indah adalah salah satu kompleks perumahan yang berada di Desa Bener Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah. Secara administratif Perumahan Senjoyo Indah terdiri dari 1 RW (Rukun Warga) dan 5 RT (Rukun Tetangga) dengan jumlah kepala keluarga adalah 190 keluarga. Kecamatan ini didukung oleh beberapa dinas terkait dan sarana pendidikan yaitu sekolah mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Sarana pendidikan di Perumahan Senjoyo Indah hanya terdiri dari 1 Pos PAUD dan Taman Pendidikan Al Qur’an. Karena sarana pendidikan di Perumahan Senjoyo Indah sangat minim, untuk meningkatkan pengetahuan dan pendidikan anak-anak bersekolah diluar Perumahan Senjoyo Indah seperti di Kecamatan Tengaran, di Kota Salatiga, atau untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya dapat di Kabupaten Semarang maupun di kota lain. Perumahan Senjoyo Indah memiliki 5 RT yaitu RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, dan RT 7. Untuk populasi penelitian, peneliti hanya mengambil sampel dari 3 RT yaitu RT 4, RT 5, dan RT 6 dengan orang tua yang mempunyai anak usia 5-6 tahun. Sampel dari
45
tiap-tiap RT berbeda, dari RT 4 Perumahan Senjoyo Indah ada 4 orang responden, RT 5 Perumahan Senjoyo Indah ada 19 orang responden, dan RT 6 Perumahan Senjoyo Indah ada 7 orang responden dari orang tua yang mempunyai anak usia 5-6 tahun.
Data yang dihimpun dari 30 responden sebagian besar bekerja sebagai pegawai swasta dan yang lain menjadi pegawai negeri, buruh, dan wiraswasta.
Jumlah jenis kelamin anak-anak yang berusia 5-6 tahun yaitu 13 laki-laki (43,3 %) dan 17 perempuan (56,7 %). Jumlah anak-anak yang berusia 5 tahun yaitu 13 anak (43,3 %) dan anak yang berusia 6 tahun yaitu 17 anak (56,7 %).
Tabel 4.1 jumlah anak usia 5-6 tahun berdasarkan jenis kelamin
Jumlah Jenis Kelamin Anak Usia 5-6 tahun
Jumlah Prosentase
Laki-laki 13 43,3 %
Perempuan 17 56,7 %
Tabel 4.2 jumlah anak usia 5-6 tahun berdasarkan usia
Jumlah Anak Usia 5-6 tahun
Jumlah Prosentase
5 Tahun 13 43,3 %
6 Tahun 17 56,7 %
46 4.2. Pelaksanaan Penelitian
4.2.1. Permohonan Ijin Penelitian
Pada bulan April 2015, penulis meminta ijin kepada ketua RT dan ketua RW di Perumahan Senjoyo Indah, Kabupaten Semarang untuk dapat diperkenankan melakukan penelitian yang akan dilaksanakan setelah mendapatkan ijin. Masa penelitian yang penulis lakukan adalah pada rentang pertengahan bulan April sampai dengan akhir bulan Mei 2015.
4.2.2. Pengumpulan Data
Penelitian dilakukan pada tanggal pertengahan bulan April sampai dengan akhir bulan Mei 2015. Jumlah sampel yang digunakan adalah orang tua yang memiliki anak usia 5-6 tahun dan yang berdomisili di Perumahan Senjoyo Indah, Kabupaten Semarang dengan jumlah keseluruhan adalah 30 orang.
Instrumen pola asuh orang tua dan kemandirian anak diberikan oleh penulis secara langsungn kepada subyek penelitian dengan cara mendatangi setiap rumah yang dimana dirumah tersebut orang tua yang menjadi subyek penelitian memiliki anak dengan rentang umur 5 sampai dengan 6 tahun. Instrumen ini tidak secara langsung dikerjakan oleh orang tua anak, tetapi ditinggal terlebih dahulu dikarenakan kesibukan orang tua anak dengan pekerjaan di rumah maupun di tempat mereka bekerja. Pada saat memberikan angket tersebut kepada orang tua terlebih dahulu penulis memberikan penjelasan tentang instrumen yang akan diisi oleh orang tua anak untuk menghindari kesalahan persepsi.
47 4.3 Analisis Dan Pembahasan
4.3.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif seperti yang dijabarkan dibawah ini adalah untuk menganalisis untuk frekuensi dari variabel pola asuh dan juga kemandirian.
1. Pola Asuh Orang Tua
Langkah pertama untuk dapat menyusun tabel distribusi frekuensi pola asuh demokratis adalah mencari nilai maksimal, minimal dan juga range terlebih dahulu. Berdasarkan jumlah responden ( n ) adalah 30 didapatkan nilai maksimum untuk pola asuh demokratis adalah 20 dan nilai minimum adalah 13, sedangkan range ( r ) dari pola asuh demokratis adalah 7. Langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah menentukan banyak kelas ( k ). Dalam penelitian ini penulis hanya membagi banyak kelas menjadi 3 kategori saja, mengingat menimnya responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Setelah banyak kelas ( k ) sudah ditentukan, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menentukan lebar kelas ( i ) dengan rumus
𝑖 =
𝑟𝑘 = 7
3
=
2,348
Berdasarkan perhitungan diatas maka dapat disusun tabel distribusi frekuensi berikut ini:
Tabel 4.3
Tabel Distribusi Pola Asuh Orang Tua
Kategori F Skor %
Kuat 27 17,8-20,1 90
Cukup 2 15,4-17,7 6,7
Lemah 1 13-15,3 3,3
Jumlah 30 - 100
Range 7.00
Minimum 13.00
Maximum 20.00
Berdasarkan Tabel 4.3 mayoritas distribusi frekuensi pola asuh orang tua berada dalam kategori kuat dengan memiliki prosentase sebesar 90 %.
Pada analisa deskriptif ini penulis hanya mencantumkan satu pola asuh saja yaitu pola asuh demokratis, karena pada tabulasi skor masing masing pola asuh ternyata didapatkan bahwa pola asuh yang dominan dipakai oleh orang tua yang memiliki anak pada usia dini umur 5 – 6 tahun adalah pola asuh demokratis.
2. Kemandirian
Dari hasil penjumlahan skor variabel kemandirian anak usia dini yang telah diisi oleh orang tua, kemudian dapat diolah untuk mencari frekuensi. Untuk menentukan atau menggolongkan variabel kemandirian anak termasuk dalam kategori tinggi, sedang, ataupun rendah yang pertama harus dtentukan adalah
49
interval . Penentuan nilai interval bisa ditentukan dengan cara jumlah item pada variabel kemandirian adalah 49 dengan 4 pilihan jawaban, sehingga skor maksimal yang bisa diperoleh adalah 4 x 49 = 196 dan skor minimal adalah 1 x 49 = 49. Berdasarkan perhitungan tersebut dapat diperoleh interval dengan rumusan sebagai berikut:
i = 196 – 49 = 49 3
Berdasarkan perhitungan interval diatas, maka dapat disusun distribusi kemandirian anak usia dini umur 5-6 tahun dalam tabel 4.4 seperti berikut ini:
Tabel 4.4
Tabel Distribusi Frekuensi Kemandirian Anak
Kategori F Skor %
Tinggi 24 147-196 80
Sedang 6 98-146 20
Rendah 0 49-97 0
Jumlah 30 - 100
Range 51.00
Minimum 131.00
Maximum 182.00
Berdasarkan tabel distribusi kemandirian anak tersebut di atas, dapat terlihat bahwa ada 6 anak (20%) dalam kategori sedang dan ada 24 anak (80%) anak berada dalam kategori tinggi dan dari tabel tersebut dicantumkan bahwa tidak ada anak yang berada dalam kategori rendah sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas kemandirian anak usia dini umur 5 -6 tahun yang bertempat
50
tinggal di lingkungan Senjoyo Indah, Kabupaten Semarang berada pada kategori tinggi.
4.4 Analisis Korelasi
Tabel 4.5
Tabel Hubungan Pola Asuh dengan Kemandirian Anak
POLA ASUH KEMANDIRIAN POLA ASUH Correlation Coefficient 1.000 .295*
Sig. (2-tailed) . .034
N 30 30
KEMANDIRIAN Correlation Coefficient .295* 1.000
Sig. (2-tailed) .034 .
N 30 30
*Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)
Berdasarkan uji korelasi variabel pola asuh dengan kemandirian anak usia dini dengan menggunakan Kendall’s tau_b, didapatkan hasil koefisien korelasi adalah positif ditunjukkan dengan oleh angka 0.295* . Kemudian korelasi antara pola asuh dengan kemandirian anak usia dini adalah signifikan dengan probabilitas 0,034 yang berada di bawah 0,05, yang artinya adalah Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak usia dini umur 5-6 tahun di Perumahan Senjoyo Indah, Kabupaten Semarang. Namun dari koefisien korelasi yaitu 0,295* tersebut jauh dari angka 1 yang menunjukkan lemahnya hubungan kedua variabel tersebut.
Sutrisno Hadi (1981) mengatakan bilamana dua variabel mempunyai koefisien korelasi sebesar 1,000 atau -1,000, maka kedua variabel tersebut dikatakan mempunyai korelasi yang Sempurna. Yang pertama disebut korelasi sempurna
51
yang positif dan yang kedua dikatakan korelasi sempurna negative. Sugiyono (2007), memberikan pedoman untuk menginterpretasikan koefisien korelasi adalah sebagai berikut:
0,00 – 0,199 = sangat rendah / sangat lemah 0,20 – 0,399 = rendah / lemah
0,40 – 0,599 = sedang 0,60 – 0,799 = Kuat
0,80 – 1,000 = sangat kuat
4.5 Uji Hipotesis
Dari hasil analisis yang diuji maka hipotesis yang dapat diuji adalah sebagai berikut :
4.5.1 Hipotesis
Ada hubungan yang signifikan antara pola asuh dengan kemandirian anak di wilayah Perumahan Senjoyo Indah Kabupaten Semarang
4.5.2 Hasil Analisis
1. Orang tua yang memiliki anak usia dini umur 5 - 6 tahun di Perumahan Senjoyo Indah, Kabupaten Semarang dominan menggunakan pola asuh demokratis dalam mengasuh anak mereka.
52
2. Kemandirian anak usia dini umur 5 - 6 tahun di Perumahan Senjoyo Indah, Kabupaten Semarang berada dalam kategori tinggi ( 80%) sedangkan 20% yang lain berada dalam kategori sedang.
3. Berdasarkan uji korelasi antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak usia dini dinyatakan ada hubungan yang positif antara keduanya, hal ini ditandai dengan rxy = 0.295*. Kemudian korelasi antara pola asuh dengan kemandirian anak usia dini adalah signifikan dengan probabilitas 0,034 yang berada di bawah 0,05, yang artinya adalah hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak usia dini umur 5-6 tahun di Perumahan Senjoyo Indah, Kabupaten Semarang. Namun dari koefisien korelasi yaitu 0,295* tersebut jauh dari angka 1 yang menunjukkan lemahnya hubungan kedua variabel tersebut. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang postif dan signifikan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak usia dini umur 5-6 tahun di Perumahan Senjoyo Indah, Kabupaten Semarang. Dengan didapatkannya hasil korelasi tersebut maka hipotesis dalam penelitian ini yaitu ada hubungan yang signifikan antara pola asuh dengan kemandirian anak di wilayah Perumahan Senjoyo Indah Kabupaten Semarang dapat diterima.
4.6 Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak usia dini umur 5 – 6 tahun di Perumahan Senjoyo Indah Kabupaten Semarang. Korelasi adalah positif ditandai dengan rxy = 0.295*.
53
Namun angka korelasi (0,295) yang jauh dari 1 menunjukkan lemahnya hubungan kedua variabel. Korelasi antara pola asuh dengan kemandirian anak usia dini adalah signifikan dengan probabilitas 0,034 yang berada di bawah 0,05.
Korelasi pola asuh dengan kemandirian lemah karena menurut peneliti faktor pembentuk kemandirian mulai anak usia dini tidak hanya terbentuk karena faktor pola asuh orang tua. Faktor lingkungan luar, sekolah, guru, dan diri mereka sendiri merupakan beberapa faktor penentu kemandirian anak sehingga bila hanya salah satu faktor pembentuk kemandirian anak usia dini, dapat dikatakan hubungan antar kedua variabel tersebut lemah.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak usia dini umur 5-6 tahun di Perumahan Senjoyo Indah, Kabupaten Semarang. Jadi dapat disimpulkan bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orang tua mempengaruhi tingkat kemandirian anak pada masa usia dini. Dengan hasil ini maka penelitian yang telah penulis lakukan sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Febri Yunanda Putra (2012) dan Ummi Nurul Hikmah (2012) yang hasilnya adalah adalah ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan tingkat kemandirian anak usia dini.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa dalam mengajarkan anak menjadi pribadi yang mandiri memerlukan pola asuh yang baik dari orang tua. Penerapan pola asuh otoriter secara kaku membuat anak menjadi pribadi kurang mandiri. Beberapa sifat kurang mandiri pada anak
54
adalah anak mempunyai sifat submisif, membuat anak tidak mempunyai inisiatif, kepercayaan diri dan tidak memiliki tanggung jawab.
Penerapan pola asuh permisif secara masif pun membuat anak menjadi kurang mandiri, karena anak menjadi akan tidak terkontrol. Anak akan berbuat sekehendak hatinya dan mempunyai kecenderungan anak tidak akan mengerti apa yang sebaiknya dikerjakan dan sebaiknya ditinggalkan. Anak akan kurang mempunyai tanggung jawab dan akan sulit dikendalikan dan sering melanggar norma – norma masyarakat. sehingga anak akan terbentuk sikap penolakan dari lingkungan dan goyahnya kepercayaan diri dan kurangnya penghargaan terhadap diri sendiri.
Pemilihan dan kolaborasi tipe pola asuh orang tua pun menjadi sarana untuk membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri. Karena penerapan satu tipe pola asuh terkhusus pola asuh otoriter dan permisif secara pasif akan banyak memberikan efek kurang menguntungkan bagi pembentukan sikap kemandirian bagi anak usia dini.