PENETAPAN KADAR KLORIDA DALAM AIR DI SALAH SATU PERUSAHAAN AIR MINUM PROVINSI SUMATERA UTARA
TUGAS AKHIR
Oleh:
AJENG DWI NINGRUM NIM 142410006
PROGRAM STUDI DIPLOMA III ANALIS FARMASI DAN MAKANAN
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
Universitas Sumatera Utara
LEMBAR PENGESAHAN
PENETAPAN KADAR KLORIDA DALAM AIR DI SALAH SATU PERUSAHAAN AIR MINUM PROVINSI SUMATERA UTARA
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan
Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
Oleh:
AJENG DWI NINGRUM NIM 142410006
Medan, Oktober 2017 Disetujui Oleh:
Pembimbing,
Popi Patilaya, S.Si., M.Sc., Apt.
NIP 197812052010121004 Disahkan Oleh:
Dekan,
Prof. Dr. Masfria, M.S., Apt.
NIP 195707231986012001
iii
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Ajeng Dwi Ningrum
Nomor Induk Mahasiswa : 142410006
Program Studi : D III Analis Farmasi dan Makanan
Judul Tugas Akhir : Penetapan Kadar Klorida Dalam Air Di Salah Satu Perusahaan Air Minum Provinsi Sumatera Utara dengan ini menyatakan bahwa tugas akhir ini ditulis berdasarkan data dari hasil pekerjaan yang saya lakukan sendiri, dan belum pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar ahli madya di perguruan tinggi lain, dan bukan plagiat karena kutipan yang ditulis telah menyebutkan atau mencantumkan sumbernya di dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari ada pengaduan dari pihak lain karena di dalam tugas akhir ini ditemukan plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia menerima sanksi apapun oleh Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, dan bukan menjadi tanggung jawab pembimbing.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan jika diperlukan sebagaimana mestinya.
Medan, Oktober 2017 Yang Menyatakan,
Ajeng Dwi Ningrum NIM 142410006
Materai Rp 6.000
Universitas Sumatera Utara
iv
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir berjudul “Penetapan Kadar Klorida (Cl) Dalam Air di salah satu Perusahaan Air Minum Provinsi Sumatera Utara”. Tugas akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan Pendidikan Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan.
Salah satu parameter mutu air minum adalah kandungan klorida. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kadar klorida di dalam air minum yang diambil dari enam lokasi. Ternyata bahwa air minum di perusahaan tersebut memenuhi syarat dari kadar klorida.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini, yaitu kepada: Ibu Prof. Dr. Masfria, M.S., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Bapak Popi Patilaya, S.Si. M.Sc., Apt., selaku Ketua Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan Universitas Sumatera Utara serta selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu, dan memberikan bimbingan serta arahan dengan penuh kesabaran hingga selesainnya tugas akhir ini. Bapak Idham Khalid Siregar, ST., seluruh staf dan pegawai Laboratorium di salah satu perusahaan air minum Provinsi Sumatera Utara. Seluruh dosen dan pegawai Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Keluarga besar penulis, terutama kedua orangtua: Ayahanda Jarod Adri Handoko dan Ibunda Susilawati dan teman-
Universitas Sumatera Utara
v
teman seperjuangan di Program Studi D3 Analis Farmasi dan Makanan angkatan 2014 untuk kebersamaan dan kenangan selama 3 tahun masa perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa penulisan tugas akhir ini masih kurang dari sempurna untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca guna menyempurnakan tugas akhir ini. Semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi banyak orang, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Amin.
Medan, Oktober 2017 Penulis
Ajeng Dwi Ningrum NIM. 142410006
Universitas Sumatera Utara
vi
PENETAPAN KADAR KLORIDA DALAM AIR DI SALAH SATU PERUSAHAAN AIR MINUM PROVINSI SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Latar Belakang: Air merupakan bahan alam yang diperlukan untuk kehidupan manusia, hewan dan tanaman yaitu sebagai media pengangkutan zat-zat makanan, juga merupakan sumber energi serta berbagai keperluan lainnya. Air memiliki tiga komponen yang membentuk bumi (zat padar, air dan atmosfer). Klorida tidak bersifat toksik pada makhluk hidup, bahkan berperan dalam pengaturan tekanan osmotik sel.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar klorida dalam sampel air di Perusahaan Air Minum Provinsi Sumatera Utara.
Metode: Metode yang digunakan untuk menganalisa klorida adalah dengan Metode Argentometri sesuai dengan prosedur yang digunakan di Perusahaan Air Minum Provinsi Sumatera Utara. Kadar klorida yang terkandung dalam sampel air dapat ditandai dengan terjadinya perubahan warna, dari warna kuning menjadi warna merah bata.
Hasil: Berdasarkan hasil penelitian kadar klorida dalam air dengan kode KI-01, AF-26, SB-36, SP-3, RS-11, dan AB-7, kadar masing masing sampel uji yaitu sebesar: 12.23 mg/l, 8.317 mg/l, 7.338 mg/l, 10.27 mg/l, 14.68 mg/l, dan 7.338 mg/l.
Kesimpulan: Kadar klorida dalam sampel air tersebut memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010.
Kata kunci: air, klorida, metode argentometri.
Universitas Sumatera Utara
vii DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 2
1.3. Manfaat ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Air. ... 3
2.1.1. Definisi Air ... 3
2.1.2. Sifat Fisika ... 3
2.1.3. Sumber Air ... 4
2.1.3.1. Air Laut ... 4
2.1.3.2. Air Hujan ... 6
2.1.3.3. Air Tanah ... 6
2.1.4. Kualitas Air ... 7
2.1.5. Pencemaran Air ... 7
2.1.6. Jenis Pencemaran Air ... 8
2.1.6.1. Pencemaran Mikroorganisme dalam Air ... 8
Universitas Sumatera Utara
viii
2.1.6.2. Jenis Penyakit Pencemaran Mikroorganisme dalam Air ... 8
2.2. Klorida (Cl) ... 9
2.2.1. Analisa Klorida Secara Kuantitatif ... 10
2.2..1.1. Titrasi Argentometri ... 11
2.2.1.2. Metode-metode dalam Titrasi Argentometri ... 11
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN ... 13
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan ... 13
3.2. Alat ... 13
3.3. Bahan ... 13
3.4. Penetapan Kadar Sampel Air Uji ... 13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 14
4.1. Hasil ... 14
4.2. Pembahasan ... 14
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 16
5.1. Kesimpulan ... 16
5.2. Saran ... 16
DAFTAR PUSTAKA ... 17
Universitas Sumatera Utara
ix
DAFTAR TABEL
Tabel
4.1. Hasil Kadar Klorida dalam Sampel Uji ... 14
Universitas Sumatera Utara
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Gambar Alat Pengujian Penetapan Kadar Klorida ... 18 2. Lampiran Permenkes No.492/Menkes/Per/IV/2010 ... 20
Universitas Sumatera Utara
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan bahan alam yang diperlukan untuk kehidupan manusia, hewan dan tanaman yaitu sebagai media pengangkutan zat-zat makanan, juga merupakan sumber energi serta berbagai keperluan lainnya (Efendy, 2003).
Menurut (Darmono, 2001), Air memiliki standar kualitas air yang harus terpenuhi, tetapi penentuan kualitas air agak sulit untuk dilakukan, karena erat hubungannya dengan partikel tersuspensi yang terlarut didalamnya. Ada beberapa sumber pencemar yang mempengaruhi kualitas air sungai terhadap mineral/logam, yaitu: erosi, batu karang, presipitasi, evaporasi dari dan ke udara, dan larutan air yang membawa mineral dari daratan ke air permukaan. Berkaitan dengan adanya standar kualitas air, maka kita juga harus mengetahui adanya dampak-dampak yang terjadi akibat pencemaran air, dimana terdapat berbagai macam pencemaran mikroorganisme yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, diantaranya yaitu: bakteri (tifoid, kolera, disentri), virus (hepatitis dan polio), protozoa (amuba dan giardia), cacing (schistosoma).
Didalam pengujian air menggunakan klorida sebagai parameter. Klorida adalah salah satu anion anorganik utama yang ditemukan di perairan alami dalam jumlah lebih banyak daripada anion halogen lainnya. Klorida tidak bersifat toksik pada makhluk hidup, bahkan berperan dalam pengaturan tekanan osmotik sel. Ion klorida terdapat dalam bentuk senyawa. Banyak senyawa kimia dalam kehidupan
Universitas Sumatera Utara
2
sehari-hari yang mengandung klorida. Kadar klorida tiap senyawa berbeda-beda (Efendy, 2003).
Berdasarkan hal tersebut maka penulis berminat untuk menuliskan tentang
“Penetapan Kadar Klorida (Cl) Dalam Air di salah satu Perusahaan Air Minum Provinsi Sumatera Utara” untuk penulis dan seluruh masyarakat.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar klorida dalam sampel air di salah satu perusahaan air minum Provinsi Sumatera Utara.
1.3 Manfaat
Penetapan kadar klorida pada air bermanfaat sebagai sumber informasi bagi penulis agar dapat mengetahui kadar klorida yang terkandung di dalam air dan juga pengaruhnya terhadap kualitas dan pencemarannya. Manfaat bagi masyarakat adalah untuk lebih teliti dalam memilih air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Universitas Sumatera Utara
3 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air
2.1.1 Definisi Air
Air adalah bahan alam yang diperlukan untuk kehidupan manusia, hewan dan tanaman yaitu sebagai media pengangkutan zat-zat makanan, juga merupakan sumber energi serta berbagai keperluan lainnya. Air memiliki tiga komponen yang membentuk bumi (zat padar, air dan atmosfer). Bumi dilingkupi air sebanyak 70%, sedangkan sisanya 30% berupa daratan (dilihat dari permukaan bumi).
Udara mengandung zat cair (uap air) sebanyak 15% dari tekanan atmosfer (Gabriel, 2001).
Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia di bumi ini.
Sesuai dengan kegunaannya, air dipakai sebagai air minum, air untuk mandi dan mencuci, air untuk pengairan pertanian, air untuk kolam perairan, air untuk sanitasi dan air untuk transportasi, baik sungai maupun air laut. Kegunaan air seperti tersebut di muka bumi termasuk sebagai kegunaan air secara konvensional (Wardhana, 2004).
Manfaat air yaitu untuk memproduksi makanan atau minuman, untuk konservasi lingkungan, pengembangan industry, dan produksi kesehatan. Air juga dapat diartikan bagian dari kehidupan yang banyak memiliki pengaruh positif dan negatif (Achmad, 2004).
2.1.2 Sifat Fisika
Air memiliki beberapa sifat fisika yaitu: titik beku 0oC, masa jenis es (0oC) 0,92 g/cm3, masa jenis air (0oC) 1,00 gr/cm3, panas lebur 80 kal/gram, titik didih
Universitas Sumatera Utara
4
100oC, panas penguapan 540 kal/gram, temperatur kritis 347oC, tekanan kritis 217 Atm, konduktivitas listrik spesifik (25oC) 1 x 10-17/ohm-cm, konstanta dielektrikum (25oC) 78 (Gabriel,2001).
2.1.3 Sumber air
Air yang diperuntukkan untuk konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih dan aman. Batasan-batasan sumber air yang bersih yaitu a. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit
b. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun c. Tidak berasa dan tidak berbau
d. Dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan domestic dan rumah tangga e. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen
Kesehatan RI
Pengelolaan air dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif berarti memasukkan unsur kualitas air dalam pengelolaannya. Sedangkan secara kualitatif melibatkan sejauh mana potensi air bisa dikembangkan untuk berbagai kepentingan (Montarcih, 2011).
Sumber air secara garis besar terbagi atas tiga bagian, yaitu: Laut: air laut, Darat: air tanah, Udara: air hujan.
2.1.3.1 Air Laut
Air yang dijumpain didalam alam berupa air laut sebanyak 80%, sedangkan sisanya berupa air tanah/daratan, es, salju dan hujan. Air laut menentukan iklim dan kehidupan bumi .
Universitas Sumatera Utara
5 a. Fungsi air laut
Fungsi air laut yaitu: sebagai suatu unsur keseimbangan darat, laut dan udara, sebagai tempat hidupnya binatang dan tumbuh-tumbuhan laut, sebagai sumber air hujan, sebagai alat transportasi, dipakai sebagai sarana olah raga, dipakai sebagai sarana pariwisata, sebagai sumber mata pencaharian nelayan, sebagai sumber devisa negara, misalnya melakukan budi daya mutiara, udang, ikan, teripang dan lain lain, sebagai bahan desinfektan, sebagai bahan pengobatan (Gabriel, 2001).
b. Pencemaran air laut
Air laut mendapat pencemaran dari 3 tempat, yaitu dari darat, udara dan laut. Dari daratan hampir 90% bahan pencemar berasal dari darat, melalui sungai.
Air rembesan yang belum tersaring dengan baik, melalui pipa WC. Dari udara;
bahan pencemar dibuang dari pesawat terbang. Dari laut; bahan pencemar dibuang dari kapal laut dan perahu nelayan (Gabriel, 2001).
c. Bahan cemaran/ pencemaran
Bahan cemaran berupa sampah keluarga ,bahan kimia dari industri (organik maupun anorganik), yang paling celaka adalah bahan susa radioaktip.
Oleh karena suatu kecelakaan, misalnya tenggelamnya kapal tanker pembawa minyak bumi sehingga laut dicemari bahan tambang berupa minyak bumi. Hal ini sangat tidak diharapkan oleh karena sulit mengatasi cemaran tersebut (Gabriel, 2001).
d. Pengolahan air laut sebagai air minum
Di negara-negara di Timur tengah bongkahan es sebagai air minum, selain itu mengolah air laut menjadi air minum melalui teknologi modern, perlu
Universitas Sumatera Utara
6
diketahui bahwa derajat kegaraman yang tinggi pada air laut meningkatkan tekanan osmosis. Oleh sebab itu dengan cara menurunkan tekanan osmosis, maka derajat kegaraman pada air laut akan turun. Cara ini disebut revers osmosis (Gabriel, 2001).
2.1.3.2 Air Hujan
Air hujan merupakan jenis air yang paling murni. Namun, dalam perjalanannya menuju bumi, air hujan akan melarutkan partikel-partikel debu dan gas yang terdapat dalam udara. Dengan demikian, air hujan yang sampai di permukaan bumi sudah tidak murni dan dapat membentuk hujan asam (Chandra, 2006).
2.1.3.3 Air Tanah
Selain air laut dan air hujan, air tanah merupakan salah satu dari sumber air yang terdapat di bumi ini. Air tanah disebut juga sebagai air tawar karena tidak terasa asin. Berdasarkan lokasi air tanah dibagi dalam 2 bagian, yaitu:
a. Air permukaan tanah
Air permukaan tanah memiliki beberapa macam, yaitu: sungai, rawa-rawa, danau, waduk (buatan). Air permukaan tanah sering dicemari oleh sampah keluarga, kotoran hewan, dan limbah industri, sehingga dalam mengkonsumsi air ini perlu ekstra hati-hati (Efendy, 2003).
b. Air jauh dari permukaan tanah/ air tertekan
Air tertekan yaitu air yang tersimpan didalam lapisan tanah, termasuk air tanah adalah sumur gali dan sumur bor yang memilik perbedaan. Sumur gali memiliki diameter yang lazim yaitu antara 0,8-1 meter. Sedangkan sumur bor
Universitas Sumatera Utara
7
biasanya memiliki lubang yang berkedalaman 4 dim atau 5 dim yang tergantung pada struktur lapisan tanah (Gabriel, 2001).
2.1.4 Kualitas Air
Untuk menentukan kualitas air terhadap konsentrasi logam dalam air, agak sulit untuk dilakukan, karena erat hubungannya dengan partikel tersuspensi yang terlarut didalamnya. Ada beberapa sumber pencemar yang mempengaruhi kualitas sungai terhadap mineral/logam, yaitu: erosi, batu karang, presipitasi, evaporasi dari dan ke udara, dan larutan air yang membawa mineral dari daratan ke air permukaan (Darmono, 2001).
2.1.5 Pencemaran Air
Pencemaran air merupakan masalah regional maupun masalah lingkungan global, dan sangat berhubungan dengan pencemaran udara serta penggunaan lahan tanah atau daratan. Pada saat tanah yang tercemar jatuh ke bumi bersama air hujan, maka air tersebut sudah tercemar. Beberapa jenis bahan kimia untuk pupuk dan pestisida pada lahan pertanian akan terbawa air ke daerah sekitarnya sehinnga mencemari air pada permukaan lokasi yang bersangkutan. Pengelolaan tanah yang kurang baik akan dapat menyebabkan erosi sehingga air permukaan tercemar dengan tanah endapan. Dengan demikian banyak sekali penyebab terjadinya pencemaran air ini, yang akhirnya akan bermuara ke lautan, menyebabkan pencemaran dan air laut sekitarnya (Darmono, 2001).
Air dikatakan tercemar apabila, mengandung bibit penyakit, parasit, bahan-bahan kimia yang berbahaya dan sampah atau limbah industri (Chandra, 2006).
Universitas Sumatera Utara
8
Pencemaran juga dapat terjadi pada sisa sumber kontaminan kimia dalam air minum yaitu pada jaringan distribusi. Dalam proses perawatan dan pendistribusian air masuk kedalam tangki penyimpanan. Sebagai konsekuensinya, jumlah bahan adventif bisa ada di air, asbes, logam, dan bahan organik (Rice, 1985).
2.1.6 Jenis Pencemaran Air
Pengelolaan air terdiri dari bermacam – macam jenis, dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Jenis pencemaran air yang paling banyak dan ditemukan berturut – turut sebagai berikut, yaitu:
2.1.6.1 Pencemaran Mikroorganisme dalam Air
Berbagai kuman penyebab penyakit dalam makhluk hidup seperti bakteri, virus, protozoa dan parasit sering mencemari air. Kuman yang masuk ke dalam air tersebut berasal dari buangan limbah rumah tannga maupun buangan dari limbah industri, peternakan, rumah sakit, tanah perairan dan sebagainya. Pencemaran dari kuman penyakit ini merupakan penyebab utama terjadinya penyakit pada orang yang terinfeksi. Penyakit yang disebabkan oleh pencemaran air ini disebut Water- borne disease dan sering ditemukan dalam penyakit tifus dan disentri
(Darmono,2001).
2.1.6.2 Jenis Penyakit Pencemaran Mikroorganisme dalam Air
Menurut (Darmono, 2001), adapun jenis penyakit yang sering dijumpai akibat pencemaran mikroorganisme melalui air (Water-Borne Disease) dan pengaruhnya dalam kesehatan, yaitu:
Universitas Sumatera Utara
9 a. Bakteri
Bakteri yang terdapat didalam air dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, diantaranya: tifoid (diare, muntah, pembesaran limpa, radang usus, dan kematian), kolera (diare, muntah, dehidrasi, dan fatal), disentri (diare dan banyak menjadi kematian pada bayi), enteristis (sakit perut yang hebat, mual, dan muntah).
b. Virus
Virus yang terdapat didalam air dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, diantaranya: hepatitis (demam, sakit kepala, anoreksia, sakit perut, dan hati bengkak), polio (demam, sakit kepala, tanggorokkan sakit, nyeri otot, lemah, tremor, kelumpuhan kaki tangan dan tubuh, dan berakibat fatal).
c. Protozoa
Protozoa yang terdapat didalam air dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, diantaranya: disentri amuba (diare, sakit kepala, sakit perut, dan demam), giardia (diare, kejang perut, dan lemah).
d. Cacing
Cacing yang terdapat didalam air hanya dapat menyebabkan satu macam penyakit saja, yaitu: penyakit schistosoma (sakit perut, kulit kasar, anemia, dan gangguan kesehatan kronis).
2.2 Klorida (Cl)
Menurut (Efendy, 2001), ion klorida adalah salah satu anion anorganik utama yang ditemukan di perairan alami dalam jumlah lebih banyak daripada anion halogen lainnya. Klorida biasanya terdapat dalam bentuk senyawa natrium klorida (NaCl), kalium klorida (KCl) dan kalsium klorida (CaCl2). Klorida tidak
Universitas Sumatera Utara
10
bersifat toksik pada makhluk hidup, bahkan berperan dalam pengaturan tekanan osmotik sel. Ion klorida terdapat dalam bentuk senyawa. Banyak senyawa kimia dalam kehidupan sehari-hari yang mengandung klorida. Kadar klorida tiap senyawa berbeda-beda.
Semua sumber air yang ada termasuk air hujan, mengandung zat klorida.
Kadar klorida bervariasi antar tempat sementara di daerah dekat laut, kadar klorida cenderung tinggi. Zat klorida dapat digunakan sebagai indikator adanya pencemaran, yaitu dengan mengukur terlebih dahulu kadar klorida pada sumber air yang diperkirakan tidak mengalami pencemaran disekitar lokasi sumber air yang akan diperiksa. Jika hasil pemeriksaan menunjukan kadar klorida yang lebih tinggi dibandingkan kadar klorida pada sumber air yang terdapat disekitarnya, dapat dipastikan bahwa sumber tersebut telah mengalami pencemaran.
2.2.1 Analisa Klorida Secara Kuantitatif
Analisa klorida dapat dilakukan dengen beberapa cara, umumnya cara yang digunakan dalam analisa ini yaitu dengan metode titrasi pengendapan (Khopkar, 1990).
Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi dimana hasil reaksi titrasinya merupakan endapan atau garam yang sukar larut. Prinsip dasarnya adalah reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran, tidak ada pengotor yang mengganggu dan diperlukan indikator untuk melihat titik akhir titrasi. Hanya reaksi pengendapan yang dapat digunakan pada titrasi. Akan tetapi metode tua seperti penentuan Cl-, Br-, I- dengan Ag(I) (disebut juga metode argentometri) (Khopkar, 1990).
Universitas Sumatera Utara
11 2.2.1.1 Titrasi Argentometri
Menurut (Rohman, 2007), argentometri merupakan metode umum untuk menetapkan kadar halogenida dan senyawa-senyawa lain yang membentuk endapan dengan perak nitrat (AgNO3) pada suasana tertentu. Metode titrasi argentometri disebut juga titrasi pengendapan karena pada argentometri memerlukan pembentukkan senyawa yang relatif tidak larut atau endapan. Dalam metode argentometri digunakan pereaksi kalium kromat sebagai indikator yang menghasilkan warna merah dengan adanya kelebihan Ag+ .
Metode argentometri yang lebih luas lagi digunakan adalah metode titrasi kembali. Perak nitrat (AgNO3) berlebihan ditambahkan ke sampel yang mengandung ion klorida atau bromida. Sisa AgNO3 selanjutnya dititrasi kembali dengan amonium tiosianat menggunakan indikator besi (III) amonium sulfat.
Sebelum dilakukan titrasi kembali, endapan AgCl harus disaring terlebih dahulu atau dilapisi dengan penambahan dietilftalat untuk mencegah disosiasi AgCl oleh ion tiosianat. Halogen yang terikat dengan cincin aromatis tidak dapat dibebaskan dengan hidrolisis sehingga harus dibakar dengan labu oksigen untuk melepaskan halogen sebelum dititrasi.
2.2.1.2 Metode-metode dalam Titrasi Argentometri
Didalam metode titrasi argentometri terdapat beberapa macam metode, yaitu:
a. Metode Mohr
Metode ini dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral dengan larutan baku perak nitrat dengan penambahan larutan kalium kromat sebagai indikator. Pada permulaan titrasi akan terjadi endapan
Universitas Sumatera Utara
12
perak klorida dan setelah tercapai titik ekivalen, maka penambahan sedikit perak kromat yang berwarna merah.
b. Metode Volhard
Perak dapat ditetapkan secara teliti dalam suasana asam dengan larutan baku kalium atau amonium tiosianat. Titasi ini harus dilakukan dengan suasana asam, sebab ion besi (III) akan diendapkan menjadi Fe(OH)3 jika suasananya basa sehingga titik akhir tidak dapat ditunjukkan. Metode Volhard dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida, bromida, dan iodida dalam suasana asam.
Caranya dengan menambahkan larutan baku perak nitrat berlebihan, kemudian berlebihan larutan baku perak nitrat dititrasi kembali dengan larutan baku tiosianat.
c. Metode K. Fajans
Pada metode ini digunakan indikator absorbsi, yang mana pada titik ekivalen, indikator terabsorbsi oleh endapan. Indikator ini tidak memberikan perubahan warna kepada larutan, tetapi pada permukaan endapan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada metode ini adalah, endapan harus dijaga sedapat munhkin dalam bentuk koloid. Indikator tidak boleh teradsorbsi sangat kuat, seperti misalnya pada titrasi klorida dengan indikator eosin, yang mena indikator teradsorbsi lebih dulu sebelum titik ekivalen tercapai.
d. Metode Leibig
Pada metode ini, titik akhir titrasinya tidak ditentukan dengan indikator, akan tetapi ditunjukkan dengan terjadinya kekeruhan. Ketika larutan perak nitrat ditambahkan kepada larutan alkali sianida akan terbentuk endapan putih. Hal ini dapat diatasi dengan menambahkan sedikit larutan kalium iodida.
Universitas Sumatera Utara
13 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penetapan kadar klorida dalam air dilakukan pada tanggal 26 Januari – 28 Februari 2017 yang terdapat di salah satu Perusahaan Air Minum
Provinsi Sumatera Utara.
3.2 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah bola hisap, buret (dilihat pada lampiran halaman 18), erlenmeyer, gelas ukur, klem dan statis, dan pipet volume.
3.3 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah kalium kromat 5%, perak nitrat 0,014 N (dilihat pada lampiran halaman 19) dan 100 ml sampel air uji yang digunakan, yaitu: KI-01,AF-26, SB-36, SP-3, RS-11, dan AB-7.
3.4 Penetapan Kadar Sampel Air Uji
Sampel air uji diukur sebanyak 100 ml dengan menggunakan gelas ukur, lalu dituangkan kedalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan 1 ml pereaksi kalium kromat 5% akan terbentuk warna kuning. Lalu dititrasi dengan larutan perak nitrat 0,014 N, dimana pada awal titrasi akan terbentuk warna putih, lalu ketika perak nitrat berlebih sedikit maka akan terjadi perubahan warna merah bata.
Universitas Sumatera Utara
14 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil pemeriksaan kadar klorida dalam sampel air minum di salah satu Perusahaan Air Minum Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1: Hasil kadar klorida pada sampel uji:
No Kode Sampel* Kadar Sampel Uji
1 KI-01 12,23 mg/l
2 AF-26 8,317 mg/l
3 SB-36 7,338 mg/l
4 SP-3 10,27 mg/l
5 RS-11 14,68 mg/l
6 AB-7 7,338 mg/l
Keterangan* berdasarkan etika penelitian kode diatas dirahasiakan.
4.2 Pembahasan
Air adalah bahan alam yang diperlukan untuk kehidupan manusia, hewan dan tanaman yaitu sebagai media pengangkutan zat-zat makanan, juga merupakan sumber energi serta berbagai keperluan lainnya. Air memiliki tiga komponen yang membentuk bumi (zat padar, air dan atmosfer). Bumi dilingkupi air sebanyak 70%, sedangkan sisanya 30% berupa daratan (dilihat dari permukaan bumi).
Udara mengandung zat cair (uap air) sebanyak 15% dari tekanan atmosfer (Gabriel, 2001).
Ion klorida adalah salah satu anion anorganik utama yang ditemukan di perairan alami dalam jumlah lebih banyak daripada anion halogen lainnya.
Klorida biasanya terdapat dalam bentuk senyawa natrium klorida (NaCl), kalium klorida (KCl) dan kalsium klorida (CaCl2). Klorida tidak bersifat toksik pada
15
makhluk hidup, bahkan berperan dalam pengaturan tekanan osmotik sel. Ion klorida terdapat dalam bentuk senyawa. Banyak senyawa kimia dalam kehidupan sehari-hari yang mengandung klorida. Kadar klorida tiap senyawa berbeda-beda (Efendy, 2003).
Kadar yang diperoleh dari sampel uji dengan masing-masing kode KI-01 sebesar 12,23, AF-26 sebesar 8,317, SB-36 sebesar 7,338, SP-3, sebesar 10,27, RS-11 sebesar 14,68, dan AB-7 sebesar 7,338. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010 kadar maksimum kandungan klorida dalam air adalah sebesar 250 mg/l.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa sampel uji tidak mengandung kadar klorida berlebih dan membuktikan bahwa air dengan kode tersebut memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010.
Universitas Sumatera Utara
16 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian kadar klorida dalam air dengan kode KI-01, AF-26, SB-36, SP-3, RS-11, dan AB-7, kadar masing masing sampel uji yaitu sebesar: 12.23 mg/l, 8.317 mg/l, 7.338 mg/l, 10.27 mg/l, 14.68 mg/l, dan 7.338 mg/l. Kadar klorida dalam sampel air tersebut memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010.
5.2 Saran
Pihak Perusahaan Air Minum disarankan agar tetap mempertahankan mutu dan kualitas air bersih didaerah Provinsi Sumatera Utara, sehingga masyarakat mendapatkan air yang bermutu.
Universitas Sumatera Utara
17
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, R. (2004). Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi. Hlm. 33-34.
Chandra, B. (2006). Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Hlm: 42, 68.
Darmono. (2001). Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Jakarta: UI-Press.
Hlm: 29, 84.
Day, R.A. (1958). Quantitative Analysis. USA: Prentice Hall. Hlm. 425.
Effendy, H. (2003). Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.
Hlm. 11, 152-156.
Gabriel, J.F. (2001). Fisika Lingkungan. Jakarta: Hipokrates. Hlm: 79, 82-85, 87- 91.
Khopkar, S.M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press.
Hlm. 146.
Montarcih, Lily. (2011). Manajemen Sumber Daya Air. Bandung: Lubuk Agung.
Hlm. 2.
Rice, Rip G. (1985). Safe Drinking Water. USA: Lewis Publisher, INC. Hlm:14.
Rohman, Abdul. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hlm: 150, 252-254.
Sutrisno, C.T. (2004). Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Hlm 1.
Wardhana, W. (2004). Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi. Hlm. 70-74, 133-137.
Universitas Sumatera Utara
18
LAMPIRAN GAMBAR Lampiran gambar buret untuk penetapan kadar klorida Buret
19
Lampiran bahan pereaksi untuk penetapan kadar klorida
Pereaksi Perak Nitrat0,014 N
PereaksiKaliumKromat 5%
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara