Tim Penyusun
Hendri C Wijaya Suhardi Wahyu Pristiawan Buntoro
Endi Gunardi Yudistiro Dedy Firdaus
Editor teks: Adiseno Editor- Layout: Suhardi
Design Cover: Endi Gunardi
Setting: Font Tahoma 7.5 , dicetak diatas kertas ukuran A5 dengan HP LaserJet 1160.
Hak cipta dipegang oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia. Jika mengutip isi buku ini mohon disebutkan pemegang hak cipta.
Buku ini dapat diperbanyak tanpa ijin, kecuali untuk tujuan komersil harus mendapat ijin tertulis dari FPTI. File dalam bentuk pdf dapat diakses di website FPTI. Saran atau komentar mohon disampaikan melalui email ke [email protected].
DAFTAR ISI
ivKATA PENGANTAR
ixBAB 1 FEDERASI PANJAT TEBING INDONESIA
11.1 PENDAHULUAN 1
1.2 TUGAS FPTI 1
1.3 KOMPETISI/KEJUARAAN 1
1.4 OFISIAL KOMPETISI FPTI 2
BAB 2 PENYELENGGARA KOMPETISI, ATLIT , DAN
TIM OFISIAL
72.1 PENDAHULUAN 7
2.2 TANGGUNG JAWAB PENYELENGGARA KOMPETISI, ATLIT DAN OFISIAL 7
2.3 KUOTA TIM 8
2.4 PENDAFTARAN ATLIT 8
2.5 KARTU IDENTITAS ATLIT (KIAT) 8
BAB 3 PERATURAN UMUM 11
3.1 KATEGORI DAN NOMOR KOMPETISI 11
3.2 DINDING PANJAT 19
3.3 KESELAMATAN/SAFETY 20
3.4 DAFTAR URUTAN PEMANJATAN 22
3.5 ISOLASI 23
3.6 OBSERVASI 24
3.7 PERSIAPAN SEBELUM PEMANJATAN 24
3.8 SERAGAM TIM DAN PERALATAN PEMANJATAN 25
3.9 PERAWATAN DINDING DAN JALUR PEMANJATAN 26
3.10 INSIDEN TEKNIS 26
3.11 PENGHENTIAN PEMANJATAN 27
3.12 PENGGUNAAN REKAMAN VIDEO UNTUK PENJURIAN 27
3.13 PENGUMUMAN HASIL KOMPETISI 28
3.14 PERINGKAT 29
3.15 TES ANTI DOPING 30
3.16 UPACARA 30
3.18 PROSEDUR PENGUNDIAN DALAM KOMPETISI 31
3.19 PERTEMUAN TEKNIS (TECHNICAL MEETING) 32
BAB 4 LEAD 33
4.1 PENDAHULUAN 33
4.2 OBSERVASI JALUR 34
4.3 PERCOBAAN PEMANJATAN 34
4.4 BELAYING DAN KESELAMATAN 34
4.5 PROSEDUR PEMANJATAN 36
4.6 INSIDEN TEKNIS 37
4.7 PENILAIAN 38
4.8 PERINGKAT SETIAP BABAK KOMPETISI 39
4.9 KUOTA SETIAP BABAK KOMPETISI 39
4.10 PENGHENTIAN PEMANJATAN PADA SATU JALUR 40
4.11 PENGGUNAAN REKAMAN VIDEO 40
BAB 5 MULTIPITCH 41
5.1 UMUM 41
5.2 KESELAMATAN DAN BELAYING 41
5.3 PROSEDUR PEMANJATAN 42
5.4 JUMLAH ATLIT DAN BABAK KOMPETISI 43
5.5 PENILAIAN 43
5.6 PERINGKAT SETIAP BABAK KOMPETISI 43
5.7 PENGHENTIAN PEMANJATAN 44 5.8 ATURAN TAMBAHAN 44 BAB 6 BOULDER 45 6.1 UMUM 45 6.2 OBSERVASI 46 6.3 PROSEDUR PEMANJATAN 46 6.4 INSIDEN TEKNIS 47
6.5 PERINGKAT SETIAP BABAK 48
6.6 KUOTA MASING-MASING BABAK 49
6.7 PENGGUNAAN VIDEO REKAMAN 49
BAB 7 SPEED 51
7.1 UMUM 51
7.2 JALUR 51
7.4 PENGHITUNGAN WAKTU PEMANJATAN 53
7.5 PENYELESAIAN JALUR PEMANJATAN 53
7.6 PENGUMUMAN HASIL 53
7.7 URUTAN PEMANJATAN DAN PERINGKAT – FORMAT KLASIK 54 7.8 URUTAN PEMANJATAN DAN PERINGKAT – FORMAT WORLD RECORD 57
7.9 DEMONSTRASI DAN OBSERVASI 61
7.10 PROSEDUR PEMANJATAN 61
7.11 INSIDEN TEKNIS 62
7.12 SPEED REKOR 63
BAB 8 SPEED – ESTAFET 65
8.1 UMUM 65
8.2 DEMONSTRASI DAN OBSERVASI 65
8.3 PROSEDUR PEMANJATAN 65
8.4 INSIDEN TEKNIS 66
8.5 JUMLAH ATLIT DAN BABAK KOMPETISI 67
8.6 PENILAIAN SPEED ESTAFET 67
8.7 PENGGANTIAN ATLIT 68
BAB 9 SIRKUIT PANJAT TEBING INDONESIA 69
9.1 PENGERTIAN 69
9.2 UMUM 69
9.3 PENYELENGGARA SIRKUIT 70
9.4 KATEGORI DAN NOMOR KOMPETISI 70
9.5 KUOTA ATLIT DAN OFISIAL 70
9.6 BIAYA ADMINISTRASI PESERTA 71
9.7 PENGHARGAAN PADA SETIAP SIRKUIT 71
9.8 PERINGKAT SIRKUIT NASIONAL/DAERAH 71
9.9 LAIN-LAIN 72
BAB 10 KEJUARAAN NASIONAL/DAERAH
(KEJURNAS/KEJURDA) FPTI 73
10.1 PENDAHULUAN 73
10.2 OFISIAL KOMPETISI FPTI 73
10.3 KATEGORI DAN NOMOR KOMPETISI 73
10.4 KUOTA ATLIT DAN OFISIAL 74
10.5 PENGHARGAAN DALAM KEJURNAS/KEJURDA FPTI 74
BAB 11 KEJUARAAN NASIONAL/DAERAH (KEJURNAS/KEJURDA)
FPTI KELOMPOK UMUR 79
11.1 PENDAHULUAN 79
11.2 OFISIAL KOMPETISI FPTI 79
11.3 KATEGORI DAN NOMOR KOMPETISI 79
11.4 PENGELOMPOKAN UMUR 80
11.5 LEAD DAN SPEED 80
11.6 BOULDER 80
11.7 KUOTA ATLIT DAN OFISIAL 81
11.8 ALOKASI ATLIT PADA SETIAP KATEGORI 81
11.9 BIAYA ADMINISTRASI PESERTA 81
BAB 12. KEJUARAAN ANTAR PELAJAR 83
12.1 PENDAHULUAN 83
12.2 PEMBAGIAN KELOMPOK PELAJAR 83
12.3 OFISIAL KOMPETISI FPTI 84
12.4 KATEGORI DAN NOMOR KOMPETISI 84
12.5 KUOTA ATLIT DAN OFISIAL 85
12.6 ADMINISTRASI DAN PENDAFTARAN 85
BAB 13. KEDISIPLINAN DALAM KOMPETISI 87
13.1 PENGERTIAN 87
13.2 KEDISIPLINAN ATLIT 87
13.3 KEDISIPLINAN TIM OFISIAL 89
13.4 KEDISIPLINAN OFISIAL KOMPETISI 90
13.5 KEDISIPLINAN PIHAK LAIN 90
BAB 14. PROSEDUR PROTES DALAM KOMPETISI 91
14.1 UMUM 91
14.2 JURI PROTES 91
14.3 PROTES ATAS KEPUTUSAN JURI MENGENAI PEMANJATAN SUATU JALUR 91 14.4 PROTES SETELAH HASIL SUATU BABAK KOMPETISI DIUMUMKAN 92
14.5 PROTES KEPADA FPTI DELEGATE 92
14.6 KOMISI DISIPLIN FPTI 92
LAMPIRAN
95
Lampiran 1 Tata Ruang Kompetisi 97
Lampiran 2 Spesifikasi Dinding Panjat 98
Lampiran 3 Fasilitas Zona Isolasi 100
Lampiran 4 Lembar Hasil Pemanjatan 102
Lampiran 5 Lembar Hasil Pemanjatan Boulder 103
Lampiran 6 Lembar Hasil Tiap Babak Provisional 104
Lampiran 7 Lembar Hasil Tiap Babak 105
Lampiran 8 Lembar Hasil Tiap Babak Provisional 106
Lampiran 9 Lembar Hasil Akhir Kompetisi 107
Lampiran 10 Topo jalur Speed Rekor 108
KATA PENGANTAR
Pedoman Penyelenggaraan Kompetisi FPTI ini adalah pengembangan dari Pedoman Kompetisi FPTI versi sebelumnya. Sebagian besar isinya diambil murni dari IFSC Rules 2007 dan ICC Hand Book Organiser 2005, yang diterbitkan secara terpisah oleh bidang Kompetisi FPTI, serta dokumen-dokumen baru yang terfokus pada peraturan Sport Climbing, dan tata cara penyelenggaraan Kompetisi Panjat Tebing. Peraturanperaturan baru serta perubahan -perubahan yang telah ditambahkan pada pembaharuan tahunan komisi regulasi IFSC, ditambah sedikit penyesuaian-penyesuaian dari FPTI.
Kami berharap Pedoman Penyelenggaran Kompetisi FPTI 2010 ini dapat berguna bagi kemajuan dunia kompetisi panjat tebing nasional dan tentu saja bagi seluruh yang terlibat didalamnya (Pengda FPTI diseluruh Indonesia, para atlit dan tim ofisial, para penyelenggara kompetisi dan semua pihak).
Jakarta, Februari 2010
FH.Mutter W. Pristiawan Buntoro Ketua Harian FPTI Wk.Ka.Biro Kompetisi
1 FEDERASI PANJAT TEBING INDONESIA
1.1 PENDAHULUAN
1.1.1 Federasi Panjat Tebing Indonesia ( selanjutnya disingkat FPTI ) bertanggung jawab terhadap administrasi serta pengembangan segala aspek yang berhubungan dengan olahraga dan kompetisi panjat tebing nasional.
1.1.2 FPTI mempunyai kewenangan terhadap semua kompetisi panjat tebing nasional, seperti diatur dalam pasal 1.2 dibawah. Adapun tanggung jawab FPTI adalah sebagai berikut:
a. Melakukan pengawasan pada semua aspek teknis dan aspek lain yang berhubungan dengan olahraga panjat tebing.
b. Menerima permohonan dari calon-calon penyelenggara untuk mengorganisir dan atau menyelenggarakan kompetisi /kejuaraan
.
c. Menyetujui permohonan tersebut berkenaan dengan kemajuan olah raga panjat tebing dan setelah melihat kemampuan pengorganisasian dan pendanaan.
d. Seluruh kompetisi yang telah diakui FPTI harus diselenggarakan dan dijalankan dengan benar berdasarkan pada peraturan dan aturan yang telah ditetapkan.
1.2 TUGAS FPTI
1.2.1 Untuk urusan-urusan mengenai organisasi kompetisi panjat tebing nasional, tugas tugas FPTI sesuai tingkatan kepengurusan (pusat/daerah) adalah:
a. Menerima semua permohonan untuk menyelenggarakan kompetisi yang disetujui atau disetujui dan diakui FPTI.
b. Mengurusi semua hal, baik yang berhubungan dengan masalah umum maupun yang berhubungan dengan kompetisi yang akan diselenggarakan. c. Menyebarkan semua informasi mengenai kompetisi yang diakui dan atau diselenggarakan oleh FPTI.
d. Menyebarkan aturan, peraturan dan informasi-informasi penting lainnya. e. Melakukan publikasi resmi mengenai semua hasil kompetisi, Peringkat Sirkuit
Nasional dan Peringkat Berjalan Nasional dan informasi resmi lainnya.
1.3 KOMPETISI/KEJUARAAN
1.3.1 Hanya anggota FPTI, atau organisasi-organisasi khusus yang telah dikenal oleh FPTI yang diperbolehkan untuk mengajukan permohonan menyelenggarakan sebuah kompetisi yang diakui oleh FPTI.
1.3.2 Kompetisi panjat tebing nasional yang memerlukan rekomendasi untuk disetujui dan diakui FPTI adalah sebagai berikut:
a. Jenis Kejuaraan, yang terdiri dari: 1. Terbuka.
2. Militer. 3. Kelompok Umur. 4. Pelajar. b. Tingkat Kejuaraan: 1. Nasional.
2. Regional (beberapa Provinsi yang berada dalam satu wilayah). 3. Provinsi/Daerah.
4. Kabupaten/Kota.
c. Kejuaraan yang direkomendasi FPTI, yaitu: 1. Sirkuit Nasional.
2. Kejuaraan Nasional FPTI.
3. Kejuaraan Nasional Kelompok Umur FPTI. 4. Kejuaraan Nasional Antar Pelajar. 5. Kompetisi Regional.
6. Kompetisi Regional Kelompok Umur. 7. Kejuaraan Daerah/Sirkuit Daerah. 8. Even Kompetisi Nasional dan Daerah.
1.3.3 Dalam suatu kejuaraan/kompetisi dapat terdiri dari lebih dari satu jenis atau tingkat kejuaraan/kompetisi.
1.3.4 Hanya atlit pemegang Kartu Identitas FPTI (A1 atau A0) yang masih berlaku yang berhak mengikuti kejuaraan/kompetisi yang disetujui dan atau disetujui dan diakui oleh FPTI yang menjadi dasar penghitungan Peringkat Nasional.
1.4 OFISIAL KOMPETISI FPTI
1.4.1 FPTI mempunyai hak untuk secara resmi menentukan Ofisial Kompetisi dalam setiap kejuaraan/kompetisi yang disetujui atau kompetisi yang disetjui dan diakui FPTI, sesuai ayat 1.4.2
1.4.2 Ofisial Kompetisi FPTI terdiri dari: a. FPTI Delegate dan,
b. Juri Kompetisi, yang terdiri dari: 1. Jury President,
2. Category Judge, 3. Chief Routesetter, 4. Route Judge.
1.4.3 Hak dan wewenang Ofisial Kompetisi. a FPTI Delegate:
i. Adalah pejabat FPTI yang ditunjuk untuk melakukan pengawasan aspek teknis dan nonteknis dalam suatu kejuaraan/kompetisi.
ii. Mempunyai kewenangan penuh untuk memastikan bahwa semua fasilitas dan pelayanan telah disediakan oleh penyelenggara kompetisi (seperti: pendaftaran atlit dan lainnya, pelayanan medis, media dan sebagainya) yang sesuai dengan peraturan FPTI.
iii. FPTI Delegate mempunyai hak untuk menghadiri setiap pertemuan dengan penyelenggara kompetisi.
iv. Pada setiap rapat terkait dengan kompetisi dan penjurian, FPTI Delegate mempunyai kapasitas sebagai penasehat.
v. Jika Jury President berhalangan atau belum tiba di area kompetisi, FPTI Delegate akan bertindak atas nama Jury President di dalam area kompetisi. vi. Mengkoordinir masalah teknis dan non- teknis kompetisi selama
berlangsungnya kejuaraan/kompetisi.
vii. FPTI Delegate harus membuat laporan kompetisi secara detil kepada FPTI. b Jury President:
i. Mempunyai kualifikasi yang sesuai sebagai juri dalam kompetisi. Kualifikasi yang bersangkutan sebagai juri ditetapkan tersendiri oleh FPTI.
ii. Jury President memiliki kewenangan penuh di dalam daerah kompetisi (lay out zona kompetisi lihat Lampiran 1), termasuk yang berkaitan dengan aktivitas media massa dan semua pihak lain yang telah ditunjuk oleh penyelenggara.
iii. Jury President mempunyai kewenangan mencakup semua aspek dari jalannya kompetisi dan memimpin semua rapat dan pertemuan resmi lainnya.
iv. Memimpin pertemuan teknis (technical meeting) atau pertemuan penyelenggaraan (organizational meeting) dengan penyelenggara kompetisi,ofisial tim, atlit dan pihak lain.
v. Jury President diwajibkan untuk membuat laporan lengkap mengenai teknis jalannya kompetisi kepada FPTI dengan format yang sudah ditetapkan oleh FPTI.
vi. Memberi penilaian terhadap Calon Juri Kompetisi yang sedang menjalani tahap akhir dari program pelatihan atau sertifikasi kualifikasi nasional. c Category Judge:
i. Mempunyai kualifikasi yang sesuai sebagai Juri Kompetisi. Kualifikasi yang bersangkutan sebagai juri ditetapkan tersendiri oleh FPTI.
ii. Category Judge adalah seorang Wasit Nasional yang ditunjuk oleh FPTI untuk membantu Jury President dalam menjalankan semua aspek penjurian dalam suatu kejuaraan/kompetisi.
iii. Category Judge dibantu oleh Wasit Jalur (Route Judge) dan atau Wasit Boulder (Boulder Judge) untuk kategori Boulder.
d Chief Routesetter:
i. Mempunyai kualifikasi yang sesuai sebagai pembuat jalur (routesetter) dalam kompetisi. Kualifikasi yang bersangkutan sebagai juri ditetapkan tersendiri oleh FPTI.
ii. Bertanggung jawab untuk memeriksa standar teknis dan keselamatan dari setiap jalur atau Boulder dalam suatu kompetisi.
iii. Chief Routesetter bertanggung jawab untuk merencanakan dan mengkoordinasikan semua aspek yang berhubungan dengan pembuatan dan pengaturan jalur yang akan digunakan dalam kompetisi, termasuk desain dari setiap jalur, pemasangan pegangan dan peralatan lain yang berhubungan dengan peraturan kompetisi.
iv. Chief Routesetter dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh beberapa pembuat jalur (tim routesetting).
v. Memberi masukan Jury President pada setiap permasalahan teknis dalam area kompetisi.
vi. Menyiapkan dan menyusun topo jalur Lead lengkap dengan nilai, memberi masukan penentuan posisi kamera serta menentukan alokasi waktu pemanjatan untuk setiap jalur.
vii. Memberi penilaian terhadap Calon Juri Kompetisi dan Calon Routesetter yang sedang menjalani tahap akhir dari program pelatihan atau sertifikasi kualifikasi nasional.
viii. Chief Routesetter diwajibkan untuk membuat laporan lengkap mengenai semua jalur yang dipergunakan dalam kompetisi kepada FPTI dengan format yang sudah ditetapkan oleh FPTI.
e Route Judge (Juri Jalur):
i. Route Judge bertugas membantu tugas penjurian dan bertanggung jawab pada Category Judge. FPTI Delegate, Jury President, Category Judge, Chief Routesetter dan Route Judge (Juri Jalur) bersama-sama tergabung dalam Juri Kompetisi FPTI (FPTI Judge)
1.4.4 Ofisial Kompetisi yang bertugas wajib mendapat surat mandat penugasan dari FPTI. 1.4.5 Penyelenggara wajib menyediakan personil untuk membantu Jury President dan
Chief Routesetter sesuai kebutuhan atas pembiayaan dan tanggung jawab penyelenggara. Struktur Organisasi Kompetisi lihat Lampiran 11.
1.4.6 Penerbitan Surat Tugas.
a. FPTI mempunyai kewenangan untuk menerbitkan Surat Tugas kepada Ofisial Kompetisi yang akan melaksanakan suatu kejuaraan/kompetisi.
b. Surat Tugas harus sudah diterbitkan paling lambat 15 (lima belas) hari kalender sebelum tanggal pelaksanaan kejuaraan/kompetisi, format surat tugas terdapat pada Pedoman Penyelenggaraan Kompetisi Panjat Tebing: Lampiran 13.
c. Surat Tugas dinyatakan sah jika ditanda tangani oleh salah seorang pejabat berikut:
• Ketua Umum.
• Ketua Harian/Wakil Ketua Umum. • Sekretaris Umum.
Mengacu pada ayat 1.4.6 di atas, mekanisme Penugasan Ofisial Kompetisi adalah sebagai berikut:
a. FPTI Delegate.
Adalah orang pribadi anggota pengurus FPTI yang mengerti dan memahami seluruh peraturan yang ada dalam Peraturan Kompetisi Panjat Tebing dan Pedoman Kompetisi Panjat Tebing termasuk Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga FPTI, tapi tidak perlu mempunyai kualifikasi sebagai Juri Kompetisi FPTI.
i. Untuk kejuaraan/kompetisi tingkat Kabupaten/Kota dan provinsi, penerbitan Surat Tugas FPTI Delegate, menjadi kewenangan Pengurus Daerah FPTI. ii. Untuk Kejuaraan/kompetisi tingkat Regional dan Nasional penerbitan Surat
Tugas FPTI Delegate menjadi kewenangan Pengurus Pusat FPTI.
iii. Surat Tugas untuk FPTI delegate dapat disatukan dengan Surat Tugas untuk Juri Kompetisi.
b. Juri Kompetisi.
i. Setelah menerima Surat Rekomendasi Kompetisi (lihat Pedoman Penyelenggaraan Kompetisi Panjat Tebing 2010, Pasal 2.1.), berkaitan dengan Juri Kompetisi (Jury President, Chief Routesetter), Penyelenggara melakukan koordinasi dengan Pengurus Daerah FPTI untuk menentukan nama Ofisial Kompetisi. Daftar nama dapat dilihat di website FPTI.
ii. Berdasarkan daftar nama tersebut diatas dan masukan dari Pengda FPTI, Penyelenggara menentukan Ofisial Kompetisi (selain FPTI Delegate) yang akan menangani kejuaraan/kompetisi yang akan diselenggarakan. Selanjutnya penyelenggara mengajukan secara resmi kepada FPTI.
iii. Selanjutnya FPTI akan menerbitkan Surat Tugas kepada Ofisial Kompetisi. iv. Untuk Kompetisi tingkat kabupaten/kota dan provinsi penerbitan Surat Tugas
menjadi kewenangan Pengda FPTI, sedangkan untuk kejuaraan/kompetisi tingkat regional dan nasional penerbitan Surat Tugas menjadi kewenangan Pengurus Pusat FPTI.
v. Semua biaya yang timbul dari penunjukkan dan penugasan Ofisial Kompetisi menjadi tanggung jawab penyelenggara kecuali Kejurnas FPTI akan diatur tersendiri.
1.4.8 Renumerasi Ofisial Kompetisi.
a. Semua biaya yang timbul berkaitan dengan penunjukkan dan penugasan Ofisial Kompetisi, terkecuali Kejurnas FPTI, Pra PON dan PON menjadi tanggungjawab Penyelenggara.
b. Biaya dimaksud diantaranya adalah transport menuju tempat kompetisi pergi pulang, honor selama kegiatan kompetisi, akomodasi dan konsumsi selama kejuaraan/kompetisi berlangsung.
c. Standar honor (renumerasi) Ofisial Kompetisi diatur dalam Pedoman Penyelenggaraan Kompetisi FPTI.
2. PENYELENGGARA KOMPETISI, ATLIT, TIM OFISIAL
2.1 PENDAHULUAN
2.1.1 Penyelenggara Kompetisi adalah perorangan, lembaga dan atau organisasi anggota FPTI yang telah memenuhi syarat dan mendapat rekomendasi untuk menyelenggarakan suatu kompetisi/kejuaraan panjat tebing.
2.1.2 Atlit adalah semua individu yang terdaftar dan telah memenuhi syarat sebagai peserta kompetisi panjat tebing, baik secara perseorangan maupun utusan organisasi anggota FPTI.
2.1.3 Tim Ofisial adalah personil yang bertanggung jawab terhadap atlit baik sebagai perorangan maupun sebagai sebuah tim yang merupakan utusan Pengurus Daerah yang telah memenuhi syarat.
2.1.4 FPTI menghormati semua yang berkaitan dengan aktifitas tiap penyelenggara kompetisi, atlit, tim ofisial.
2.2 TANGGUNG JAWAB PENYELENGGARA KOMPETISI, ATLIT, TIM OFISIAL
2.2.1 Menjadi kewajiban semua penyelenggara kompetisi, atlit, tim ofisial serta semua yang berhubungan dengan penyelenggaraan kompetisi yang disetujui atau, disetujui dan diakui FPTI, apakah bekerjasama langsung dengan FPTI atau dalam asosiasi dengan anggota federasi atau dengan penyelenggara kompetisi, untuk:
a. Secara sukarela menerima bahwa promosi, pengembangan dan administrasi yang berhubungan dengan olahraga dan kompetisi panjat tebing dikontrol sepenuhnya oleh FPTI.
b. Menjamin bahwa tidak ada bantuan keuangan atau perjanjian lain yang akan diterima organisasi penyelenggara (misal: televisi, sponsor kompetisi, dll), yang dikhawatirkan akan menimbulkan konflik dengan perjanjian yang telah dibuat dengan FPTI tanpa terlebih dahulu mengajukan permohonan tertulis kepada FPTI. c. Selalu meminta masukan dan persetujuan FPTI tentang berbagai hal yang mungkin
bertentangan dengan tujuan utama olahraga panjat tebing. 2.2.2 Menjadi tanggung jawab penyelenggara kompetisi untuk:
a. Menjalankan, mempromosikan dan mengembangkan secara aktif olahraga panjat tebing, dan sungguh-sungguh menegakkan prinsip-prinsip Piagam Olimpiade (Olympic Charter), peraturan-peraturan dari IOC Medical Code, dan juga peraturan FPTI serta aturan yang telah ditetapkan untuk kompetisi olah raga panjat tebing nasional.
b. Memahami dan mematuhi aturan dan peraturan dalam olah raga panjat tebing serta menjamin bahwa para atlit dan tim ofisial menjunjung tinggi sportivitas.
c. Bersama-sama dengan para atlit dan tim ofisial berusaha dengan terus menerus dan aktif melawan penggunaan obat-obatan dan bahan-bahan terlarang lainnya, serta berusaha mematuhi semua aturan dan pedoman yang ada untuk menjamin berlangsungnya test pemakaian doping setelah kompetisi ketika diperlukan. d. Melarang segala metode atau praktik yang dapat menyebabkan resiko yang tidak
e. Bersama-sama berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melawan setiap keinginan untuk memanipulasi aturan dan peraturan yang dapat menguntungkan atlit dan tim ofisial tertentu.
f. Menyakinkan bahwa para atlit dan tim ofisial akan memperlakukan atlit, ofisial dan pihak lainnya yang terlibat dalam olah raga panjat tebing dengan penuh hormat setiap saat baik selama kompetisi berlangsung atau pada kegiatan lainnya.
2.2.3 Menjadi tanggung jawab semua tim ofisial dan atlit untuk memastikan bahwa mereka dibekali informasi yang memadai berkaitan dengan kompetisi.
2.3 KUOTA TIM
2.3.1 Kuota Tim untuk para atlit ditetapkan hanya untuk Seri Sirkuit Nasional, Kejuaraan Nasional FPTI, Kejuaraan Nasional FPTI Kelompok Umur, Kejurnas Antar Pelajar, Pra PON dan PON.
2.3.2 Setiap tim diijinkan untuk mendaftarkan sampai maksimal lima (5) tim ofisial yang dijamin bebas bea masuk dalam area kompetisi (venues). Tim ofisial ini harus dicantumkan dalam formulir permohonan/pendaftaran dan secara khusus dijelaskan untuk masing-masing posisi dibawah ini:
a. Tim Manajer. b. Tim Pelatih. c. Tim Medis.
Tim ofisial ini diijinkan untuk memasuki dan meninggalkan zona isolasi dengan ketentuan yang sama seperti yang diberlakukan pada atlit.
2.4 PENDAFTARAN ATLIT
2.4.1 Batas waktu pendaftaran bagi atlit yang diberitahukan pada informasi kompetisi yang disebarkan FPTI harus dipatuhi.
2.4.2 Pendaftaran setelah batas waktu dikenakan biaya pendaftaran tambahan.
2.4.3 Berdasarkan kebijakan FPTI Delegate, perubahan nama-nama atlit dapat diterima. Perubahan ini harus diberitahukan kepada FPTI Delegate sebelum penutupan zona isolasi.
2.5 KARTU IDENTITAS ATLIT (KIAT)
2.5.1 Setiap atlit yang akan ikut atau diikutsertakan dalam kejuaraan/kompetisi yang disetujui atau kompetisi yang disetujui dan diakui yang diadakan oleh perorangan, lembaga atau federasi anggota FPTI harus mempunyai Kartu Identitas Atlit (selanjutnya disingkat KIAT) yang masih berlaku dari FPTI.
2.5.2 Setiap KIAT hanya berlaku untuk 1 tahun, misal: dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember. Setiap Pengda FPTI boleh, atas nama atlit, memperbaharui KIAT tersebut
setiap tahun dengan melengkapi formulir permohonan dan mengirimnya kepada PP FPTI.
3. PERATURAN UMUM KOMPETISI
3.1 KATEGORI DAN NOMER KOMPETISI
3.1.1 FPTI mempertandingkan kategori kompetisi sebagai berikut:
a. Lead: merupakan kompetisi dimana pemanjatan dilakukan dengan cara merintis (leading), atlit diamankan (di-belay) dari bawah, setiap titik pengaman (quickdraw) dikaitkan secara berurutan, sesuai dengan arah jalur (sumbu jalur) pemanjatan, dan ketinggian yang dicapai; atau dalam kasus gerakan pemanjatan menyamping (traverse) dan atau tebing menggantung (roof section): secara horisontal dari satu tempat ketempat lain. Jarak yang paling lebar/jauh/dan atau tinggi yang dapat ditempuh pada sumbu jalur, yang menentukan peringkat atlit pada satu babak.
b. Boulder: merupakan kompetisi yang terdiri dari sejumlah boulder. Setiap pemanjatan pada boulder dilakukan secara solo (solo climbing) dan diamankan dengan matras landasan jatuh. Jumlah keseluruhan total nilai yang diraih oleh atlit pada tiap-tiap boulder, yakni jumlah usaha yang digunakan untuk mencapai titik tertentu (tumpuan bonus atau tumpuan top) menentukan peringkat atlit. Boulder dapat dilaksanakan secara beregu.
c. Speed: merupakan kompetisi dimana pemanjatan dilakukan dengan top-rope, atlit dibelay dari bawah. Waktu yang ditempuh seorang atlit dalam menyelesaikan jalur menentukan peringkat atlit dalam suatu babak kompetisi. d. Speed Estafet: Kompetisi kategori speed yang terdiri dari 4 (empat) jalur speed untuk setiap regu dan dipertandingkan secara berantai dengan 4 (empat) orang atlit setiap regu berhadapan dengan regu yang lain. Waktu yang ditempuh oleh suatu regu akan menentukan peringkat masing-masing regu.
e. Multipitch: adalah kompetisi kategori Lead yang dilakukan oleh dua orang atlit yang bekerjasama dalam menyelesaikan suatu jalur pemanjatan. Jalur pemanjatan dibagi menjadi 2 (dua) pitch dan dalam melakukan pemanjatan kedua atlit saling mengamankan dan bergantian untuk menjadi leader (perintis) dan belayer (penambat).
3.1.2 Pada setiap kategori kompetisi harus dipertandingkan nomor putra dan putri, tidak direkomendasikan kejuaraan yang hanya ditujukan bagi putra saja atau putri saja. 3.1.3 Pada setiap Kompetisi/Kejuaraan Tingkat Nasional (kecuali Kejurnas, Pra PON dan
atau PON ) dapat terdiri dari minimal salah satu kategori: a. Lead.
b. Boulder. c. Speed.
Atau kombinasi dari ketiga kategori kompetisi tersebut. 3.1.4 Nomor Kompetisi.
Pada suatu kejuaraan dapat dipertandingkan nomor: a. Perorangan.
3.1.5 Nomor Kompetisi Perorangan
Tidak perlu diatur lebih lanjut karena sudah cukup jelas.
3.1.6 Nomor Kompetisi Non-Perorangan terdiri dari Nomor Beregu Kategori; Nomor Beregu Ganda Campuran; Nomor Beregu Estafet; Nomor Beregu Multi-pitch.
3.1.7 Nomor Beregu – Kategori
a. Kategori kompetisi yang dapat dilakukan untuk nomor beregu-kategori adalah: i. Lead.
ii. Speed format Klasik. iii. Boulder.
b Suatu Nomor kompetisi beregu hanya dapat dilaksanakan jika jumlah regu yang mendaftar paling sedikit 6 (enam) regu.
c. Jumlah atlit dan Babak Kompetisi
i. Nomor beregu hanya dipertandingkan dalam 2 babak untuk kategori Lead dan Boulder, yaitu babak semi final dan babak final. Untuk kategori Speed harus ada babak kualifikasi dan babak Putaran - Final.
ii. Jumlah atlit untuk setiap regu pada masing-masing nomor kompetisi adalah 2 (dua); 3 (tiga) atlit; 4 (empat) dan 5 (lima).
iii. Setiap regu dapat mendaftarkan 2 (dua) atlit cadangan.
iv. Daftar atlit dan atlit cadangan harus sudah diterima oleh Category Judge 60 (enam puluh) menit sebelum zona isolasi nomor beregu dibuka. d. Urutan pemanjatan:
i. Untuk kategori Speed, nomor urut pemanjatan untuk setiap regu disusun oleh manajer tim pada kertas tertutup.
ii. Susunan nomor urut pemanjatan untuk setiap regu harus sudah diterima oleh Category Judge paling lambat 15 (lima belas) menit sebelum babak Kualifikasi atau suatu babak pada putaran-Final dimulai.
e. Penilaian Nomor Kompetisi Beregu Kategori ditentukan sebagai berikut: i. Kategori Lead dan Boulder.
a) Penyusunan peringkat regu didasarkan pada nilai akumulasi yang diperoleh setiap regu pada setiap babak.
b) Regu dengan akumulasi nilai tertinggi menempati peringkat tertinggi. c) Jika terjadi akumulasi nilai sama pada beberapa regu, akan dilakukan
penentuan peringkat dengan cara melihat akumulasi nilai pada babak sebelumnya.
e). Jika metode (c) tetap tidak dapat digunakan memisahkan peringkat regu tersebut, maka regu yang mempunyai pemanjat dengan nilai pemanjatan tertinggi pada babak terakhir berhak menempati peringkat lebih baik dari regu lainnya.
f) Jika pemisahan peringkat tidak dapat dilakukan karena terjadi nilai sama menggunakan metode (c) atau (d), maka diadakan babak Super-Final yang hanya diwakili oleh salah satu anggota regu.
g) Jika peringkat sama terjadi pada 2 (dua) regu teratas, maka akan diadakan Super-Final untuk kedua regu.
h) Pada kategori Lead, jika pada babak Super - Final masih terjadi peringkat sama akan dilihat catatan waktu dari masing-masing regu.
i) Pada kategori Boulder, jika pada babak Super- Final masih terjadi peringkat sama pada satu jalur, akan dilakukan pada jalur berikutnya sampai peringkat dapat dipisahkan.
ii. Kategori Speed.
a) Pada babak Kualifikasi:
1 Penyusunan peringkat dilakukan berdasarkan total waktu tercepat yang diperoleh oleh setiap regu.
2 Jika salah satu anggota regu gagal menyelesaikan salah satu jalur pemanjatan, maka regu tersebut didiskualifikasi. Anggota regu yang belum melakukan pemanjatan tidak diperkenankan melakukan pemanjatan.
b) Pada babak Putaran-Final:
Pemanjatan pada babak putaran-Final dilakukan menggunakan skema Pasal 7.7.8 Peraturan Kompetisi ini.
1 Penentuan regu pemenang dalam setiap head pada putaran-Final dilakukan dengan sistem gugur (knock-out), yaitu berdasarkan total waktu yang ditempuh oleh masing-masing atlit anggota suatu regu pada kedua jalur pemanjatan.
2 Atlit ketiga dari masing-masing regu harus tetap melakukan pemanjatan walaupun regu pemenang telah dapat ditentukan dari pemanjatan yang telah dilakukan oleh dua atlit sebelumnya dari masing-masing regu. 3 Penentuan peringkat regu selain untuk peringkat 1, 2 dan 3 ditentukan
dengan melihat total waktu pada setiap babak, yaitu babak putaran-Final dan babak Kualifikasi.
4 Kegagalan menyelesaikan jalur pemanjatan:
a) Jika salah satu anggota regu gagal menyelesaikan salah satu jalur pemanjatan, maka anggota regu lawannya dinyatakan sebagai pemenang jika dapat menyelesaikan kedua jalur pemanjatan. b) Anggota regu yang gagal menyelesaikan jalur pemanjatan
pertamanya, tidak diperkenankan melakukan pemanjatan pada jalur kedua.
5 Penggantian atlit:
a) Atlit yang mengikuti putaran-Final dapat diganti oleh manajer tim dengan atlit cadangan yang telah didaftarkan.
b) Atlit yang tidak dapat melanjutkan pertandingan dikarenakan cedera atau sakit harus dinyatakan oleh dokter atau paramedis yang disediakan oleh penyelenggara.
c) Setiap regu hanya diijinkan melakukan paling banyak dua kali penggantian atlit.
d) Penggantian atlit dilakukan bersamaan dengan pemasukan urutan pemanjatan oleh manajer tim sebelum suatu babak putaran-Final dimulai.
e) Atlit yang telah digantikan oleh atlit cadangan tidak dapat menggantikan kembali atlit lainnya.
3.1.8 Nomor Beregu- Ganda Campuran. a. Umum.
i. Nomor Beregu Ganda Campuran dapat dipertandingkan dalam suatu kejuaraan/kompetisi.
b. Kategori kompetisi yang dapat dilakukan pertandingan nomor beregu ganda campuran adalah:
i. Lead. ii. Boulder. iii. Speed Format A. iv. Multipitch.
c Suatu nomor kompetisi beregu ganda campuran hanya dapat dilaksanakan jika jumlah regu yang mendaftar paling sedikit 6 (enam) regu.
d Jalur dan Urutan Pemanjatan
i. Jalur yang digunakan untuk nomor beregu ganda campuran adalah selalu sama untuk putra dan putri.
ii. Chief Route harus dapat merancang suatu jalur yang memungkinkan untuk atlit putra dan putri.
iii. Urutan Pemanjatan untuk ganda campuran adalah pada suatu babak, atlit putra melakukan pemanjatan terlebih dahulu baru selanjutnya atlit putri. f Jumlah Atlit dan Babak Kompetisi:
i. Jumlah atlit untuk setiap regu pada setiap kategori adalah 2 (dua) atlit dan harus terdiri dari 1 (satu) atlit putra dan 1 (satu) atlit putri. ii. Setiap regu dapat mendaftarkan masing-masing 1 (satu) atlit cadangan
putra dan 1 (satu) atlit cadangan putri. Daftar atlit dan atlit cadangan harus sudah diterima oleh Category Judge 60 (enam puluh) menit sebelum zona isolasi untuk nomor beregu ganda campuran di buka. iii. Nomor beregu hanya dipertandingkan dalam 2 babak untuk katagori Lead
dan Boulder. Untuk kategori Speed harus ada babak Kualifikasi dan putaran-Final.
iv. Untuk kategori Speed harus ada babak Kualifikasi dan putaran - Final, tanpa memandang jumlah regu yang terdaftar.
g Penilaian Nomor Kompetisi Beregu Ganda Campuran ditentukan sebagai berikut:
i. Kategori Lead dan Boulders.
a) Penyusunan peringkat regu didasarkan pada nilai akumulasi yang diperoleh setiap regu pada setiap babak.
b) Regu dengan akumulasi nilai tertinggi menempati peringkat tertinggi. c) Jika terjadi akumulasi nilai sama pada lebih dari satu regu, maka regu
yang mempunyai pemanjat dengan nilai pemanjatan tertinggi berhak menempati peringkat lebih baik dari regu lainnya.
d) Jika nilai sama pada babak Final terjadi pada lebih dari satu regu, akan dilakukan Penentuan peringkat dengan:
1 Melihat hasil pada babak sebelumnya.
2 Jika penentuan peringkat tidak dapat dilakukan setelah melihat babak sebelumnya, maka regu yang mempunyai pemanjat dengan nilai pemanjatan lebih tinggi berhak menempati peringkat lebih baik dari regu lainnya.
e) Jika pemisahan peringkat tidak dapat dilakukan karena terjadi nilai sama menggunakan metode (c) atau (d), maka peringkat dibiarkan tetap sama. Jika peringkat sama terjadi pada 3 (tiga) regu teratas, maka penentuan peringkat akhir dilakukan dengan melihat hasil pemanjatan terbaik dari masing-masing anggota regu, jika cara ini tetap tidak dapat memisahkan peringkat, maka dilakukan babak super-final, dengan hanya melibatkan satu atlit dari tiap regu dengan prosedur yang sama untuk babak Super-Final kategori Lead (Pasal 4.8.5) dan Boulder (Pasal 5.6.5).
f) Proses penghitungan waktu pada babak Super Final akan dilakukan point to point, yaitu pada saat atlit memegang tumpuan (hold), sampai atlit menyelesaikan pemanjatannya atau terjatuh (penghitungan waktu menggunakan stopwatch dengan minimal 50 memory).
ii. Kategori Speed
a) Babak Kualifikasi:
1. Penyusunan peringkat dilakukan berdasarkan total waktu yang diperoleh oleh setiap regu. Jika salah satu regu gagal menyelesaikan jalur pemanjatan, maka regu tersebut didiskualifikasi dan anggota regu yang belum melakukan pemanjatan tidak diperkenankan melakukan pemanjatan. 2. Jika terjadi peringkat sama, urutan pemanjatan heat pemanjatan
ditentukan dengan melihat catatan waktu terbaik dari masing-masing regu, regu yang memiliki waktu terbaik akan menempati peringkat yang lebih baik.
b). Babak Putaran-Final:
1. Pemanjatan pada babak ini dilakukan menggunakan skema sesuai ayat 7.8.13.
2. Penentuan pemenang pada setiap putaran dilakukan dengan sistem gugur, yaitu:
a). Berdasarkan total waktu yang ditempuh kedua pemanjat dari masing masing regu pada kedua jalur pemanjatan. b). Jika terjadi total waktu sama, maka pemanjatan untuk kedua
regu diulang lagi. Jika setelah dilakukan sekali pemanjatan ulang tetap diperoleh total waktu sama, pemanjatan diulang lagi sampai maksimal 3 (tiga) kali, jika masih sama sampai dengan pemanjatan ulang ketiga, maka penentuan pemenang dilakukan dengan melihat waktu terbaik dari tiap regu, regu yang memiliki pemanjat dengan waktu terbaik akan menempati peringkat yang lebih baik.
c). Kegagalan menyelesaikan jalur pemanjatan:
1. Jika salah satu anggota regu gagal menyelesaikan jalur pemanjatan, maka regu tersebut dinyatakan kalah, apabila semua anggota regu lawannya dapat menyelesaikan jalur pemanjatan.
2. Jika satu anggota regu dari masing-masing regu gagal menyelesaikan pemanjatan, maka pemanjatan untuk kedua regu diulang sekali lagi. Jika setelah diulang kegagalan serupa tetap terjadi, maka kedua regu didiskualifikasi dan calon lawan pada putaran berikutnya mendapat bye.
3. Anggota regu yang gagal menyelesaikan jalur pemanjatan pertamanya, tidak diperkenankan melakukan pemanjatan pada jalur kedua.
d) Penggantian Atlit:
1. Atlit yang mengikuti putaran-final dapat diganti oleh manajer tim dengan atlit cadangan yang telah didaftarkan.
2. Atlit yang tidak dapat melanjutkan pertandingan dikarenakan cedera atau sakit harus dinyatakan oleh dokter atau paramedis yang disediakan oleh Penyelenggara.
3. Selama putaran - Final, setiap regu hanya diijinkan melakukan penggantian satu kali untuk atlit putra dan satu kali untuk atlit putri.
4. Penggantian atlit dilakukan segera setelah suatu babak dalam putaran- Final berakhir.
3.1.9 Nomor Beregu-Estafet a. Umum
i. Kategori kompetisi yang dapat dipertandingkan untuk nomor beregu estafet hanya Speed Estafet.
ii. Untuk setiap regu disediakan 4 (empat) jalur pemanjatan.
iii. Suatu nomor kompetisi beregu estafet hanya dapat dilaksanakan, jika jumlah regu yang mendaftar minimal 6 (enam) regu.
iv. Beregu–estafet terdiri dari estafet putra, estafet putri dan beregu-estafet campuran.
v. Pada setiap jalur lintasan akan diawasi oleh satu orang juri lintasan. b. Prosedur pemanjatan nomor Beregu Estafet:
i. Beregu-estafet dilakukan pada 4 (empat) jalur untuk masing-masing regu:
a) Semua atlit dari masing-masing regu bersiap di jalur masing sesuai dengan urutan pemanjatan yang dibuat oleh manajer tim.
b) Atlit pertama dari masing-masing regu bersiap di jalur pertama, dan segera melakukan pemanjatan setalah aba-aba start disampaikan. Jika terjadi kesalahan start pada atlit pertama maka atlit yang bersangkutan akan diberikan peringatan dan pemanjatan diulang diantara keduanya.
Jika terjadi dua kali kesalahan start maka akan didiskualifikasi. c) Segera setelah atlit pertama menyentuh tanda selesai jalur
pemanjatan, ditandai dengan indikator 2 buah lampu menyala di finish berwarna merah dan di start pada jalur ke 2 dengan 2 buah lampu berwarna hijau dan signal suara (bel), atlit kedua mulai melakukan pemanjatan di jalur kedua.
d) Segera setelah atlit kedua menyentuh tanda selesai jalur pemanjatan, ditandai dengan indikator 2 bh lampu menyala di finish berwarna merah dan di start pada jalur ke 2 dengan 2 buah lampu berwarna hijau dan signal suara (bel), atlit ketiga mulai melakukan pemanjatan di jalur ketiga.
e) Segera setelah atlit ketiga menyentuh tanda selesai jalur pemanjatan, ditandai dengan indikator 2 buah lampu menyala di finish berwarna merah dan di start pada jalur ke 2 dengan 2 buah lampu berwarna hijau dan signal suara (bel), atlit keempat mulai melakukan pemanjatan di jalur keempat.
f) Atlit keempat adalah atlit yang harus menyentuh tombol pencatat waktu sebagai tanda akhir dari pemanjatan beregu-estafet.
ii. Suatu regu dinyatakan gugur apabila:
a) Jika Juri menyatakan ada atlit dari regu tersebut yang melakukan pemanjatan sementara atlit pada jalur pemanjatan sebelumnya, belum
menyelesaikan pemanjatan (mencuri start pada jalur berikutnya). Jika terjadi hal tersebut juri akan memberikan isyarat dengan mengangkat tangan.
b) Jika salah satu dari anggota regu gagal menyelesaikan pemanjatan. iii. Jika terjadi kesalahan teknis pada salah satu regu,maka pemanjatan regu
c Jumlah Atlit Babak Kompetisi.
i. Jumlah atlit untuk setiap regu pada setiap nomor adalah 4 (empat) atlit. ii Jumlah atlit untuk nomor beregu-estafet campuran untuk setiap regu terdiri dari 2 (dua) atlit putra dan 2 (dua) atlit putri.
iii. Setiap regu dapat mendaftarkan masing-masing 2 (dua) atlit cadangan, untuk estafet-campuran atlit cadangan terdiri 1(satu) orang putra dan 1 (satu) orang putri.
iv. Daftar nama atlit dan atlit cadangan harus sudah diterima oleh Category Judge 60 (enam puluh) menit sebelum ruang isolasi nomor beregu-estafet dibuka.
v. Jika jumlah regu yang mengikuti kompetisi kategori beregu- estafet terdiri dari 8 (delapan) regu atau lebih, maka kompetisi akan dilakukan dalam 2 (dua) babak, yaitu Kualifikasi dan putaran -Final.
d Penggantian Atlit:
i. Atlit yang mengikuti putaran final dapat diganti oleh manajer tim dengan atlit cadangan yang telah didaftarkan.
ii. Atlit yang tidak dapat melanjutkan pertandingan dikarenakan cedera atau sakit harus dinyatakan oleh dokter atau paramedis yang disediakan oleh penyelenggara.
iii. Selama putaran - Final, setiap regu hanya diijinkan melakukan penggantian satu kali untuk atlit putra dan satu kali untuk atlit putri.
iv. Atlit yang telah digantikan tidak dapat menggantikan atlit lainnya lagi.
3.1.10 Nomor Beregu-Multipitch.
a Umum.
i. Multipitch adalah kategori kompetisi yang merupakan bagian dari kategori lead dan mengadopsi sistem climbing procedure dengan membagi suatu jalur pemanjatan menjadi 2 (dua) pitch, yang dilakukan oleh dua orang atlit yang bekerjasama untuk menyelesaikan jalur pemanjatan dengan waktu dan prosedur yang telah ditentukan.
ii. Nomor kompetisi ini hanya dapat dilakukan jika panjang jalur pemanjatan minimal 20 (dua puluh) meter dan menurut FPTI Delegate konstruksi dinding panjat memenuhi standar untuk digunakan nomor kompetisi ini.
iii. Suatu nomor kompetisi beregu-multipitch hanya dapat dilaksanakan jika jumlah regu yang mendaftar paling sedikit 6 (enam) regu.
iv. Beregu-multipitch terdiri dari 2 (dua) babak: a) Babak Semi Final.
b) Babak Final, dan jika diperlukan kan diadakan babak Super-Final.
i. Titik pengamanan (protection point) pada P1 disediakan 3 buah hanger dan pada P2 disediakan 4 buah hanger.
a) Posisi protection point (hanger) harus sejajar. b) Setiap hanger dihubungkan dengan karabiner autolock.
c) Pada masing-masing pitch sudah ditentukan posisi dari cowtail, simpul clove hitch (pangkal) dan figure of eight knot (simpul 8).
d) Atlit harus menempatkan semua pengaman sesuai dengan urutan yang telah ditentukan.
ii. Semua quickdraw (runners) sudah dalam posisi terpasang sesuai dengan sumbu jalur pemanjatan.
iii. Quickdraw (runner set) harus terhubung dengan hanger dengan Mailon Rapide (MR) 10mm.
iv. Semua atlit dibekali dengan cowtail dan belay device yang telah ditentukan. v. Semua belay device yang digunakan pada nomor beregu-multipitch adalah
Stitch Plate atau ATC . c Jumlah Atlit dan Babak Kompetisi.
i. Jumlah atlit untuk setiap regu pada setiap kategori adalah 2 (dua) atlit. ii. Jika jumlah regu yang mengikuti kompetisi kategori ini lebih dari atau sama
dengan 8 (delapan) regu, maka kompetisi kategori ini dilaksanakan dalam 2 (dua) babak, yaitu Semi-Final dan Final.
d Peringkat setiap babak Kompetisi.
i. Penyusunan peringkat regu didasarkan pada akumulasi nilai tertinggi yang diperoleh kedua atlit pada setiap babak.
ii. Regu dengan akumulasi nilai tertingi menempati peringkat tertinggi.
iii. Jika terjadi nilai sama yang melibatkan lebih dari satu regu, maka semua regu yang mempunyai nilai pemanjatan sama berhak menempati peringkat sama. iv. Jika nilai sama terjadi pada babak Final terdapat lebih dari satu regu, maka
penentuan peringkat ditentukan dengan melihat hasil babak sebelumnya. v. Jika penentuan peringkat tidak dapat ditentukan dengan melihat babak
sebelumnya, maka penentuan peringkat dilakukan babak Super Final.Dan jika pada babak Super Final masih mempunyai nilai yang sama maka penentuan pemenang akan ditentukan dengan melihat catatan waktu terbaik.
3.2 DINDING PANJAT
3.2.1 Semua kompetisi yang direkomendasikan oleh FPTI harus dilakukan pada dinding buatan yang dirancang khusus untuk itu. Dimensi dan standar material diatur pada Pedoman Penyelenggaraan Kompetisi Panjat Tebing 2010 Pasal 2.5.
3.2.2 Seluruh permukaan dinding panjat dapat digunakan untuk pemanjatan dengan perkecualian sebagai berikut:
a. Lubang-lubang yang dibuat pada dinding panjat untuk penempatan tumpuan tidak boleh digunakan sebagai pegangan tangan atlit waktu memanjat. b. Sisi atau tepi kiri atau kanan serta bagian atas dinding panjat tidak boleh
digunakan untuk memanjat.
3.2.3 Jika diperlukan untuk membatasi area pemanjatan, garis, tumpuan atau features (bentang permukaan) pada bidang dinding panjat yang bukan merupakan bagian dari jalur pemanjatan, maka harus dibuat pembatas dengan menggunakan tanda yang jelas dan tidak terputus-putus dengan tanda warna hitam.
a. Pembatas area, pegangan/pijakan, features (bentang permukaan) yang tidak boleh dipegang harus diberi tanda warna merah.
b. Pembatas area, tumpuan/pijakan, features (bentang permukaan ) yang tidak boleh digunakan untuk pemanjatan, tapi ada kemungkinan tersentuh harus diberi tanda warna hitam. Jika terdapat pembatasan area tumpuan atau bidang selain yang dijelaskan diatas, maka harus diinformasikan kepada semua atlit.
3.3 KESELAMATAN/SAFETY
3.3.1 Penyelenggara kompetisi mempunyai kewenangan dan bertanggung jawab penuh untuk menjaga dan menjamin keselamatan (safety) didalam zona isolasi, zona transit, zona kompetisi, area publik dan pada semua aktivitas lain yang terkait dengan jalannya kompetisi.
3.3.2 Jury President, setelah berkonsultasi dengan Chief Routesetter, mempunyai wewenang penuh dalam mengambil keputusan atas setiap hal terkait dengan keselamatan diseluruh area kompetisi, termasuk menolak untuk memberi ijin untuk memulai atau melanjutkan suatu babak dalam kompetisi. Ofisial Kompetisi atau personil panitia yang dianggap oleh Jury President melanggar prosedur keselamatan, atau dianggap dapat membahayakan keselamatan, maka orang tersebut dapat dibebastugaskan dalam kompetisi dan atau dikeluarkan dari arena kompetisi. 3.3.3 Belayer yang ditunjuk penyelenggara harus sudah terlatih untuk melakukan belaying
(penambatan) sesuai dalam aturan kompetisi. Category Judge mempunyai wewenang untuk memerintahkan mengganti belayer setiap saat selama kompetisi berlangsung. Jika seorang belayer telah diganti, yang bersangkutan tidak diijinkan lagi untuk menjadi belay bagi atlit lain pada kompetisi tersebut.
3.3.4 Sebelum kejuaraan dimulai, Jury President harus memastikan bahwa seluruh pra-sarana dan pra-sarana kompetisi telah memenuhi standar keselamatan (safety) dan layak digunakan dalam kompetisi.
3.3.5 Semua tindakan pencegahan harus diambil untuk menjamin keselamatan. Setiap jalur pemanjatan atau boulder harus dirancang untuk menghindari kemungkinan jatuhnya atlit:
a. Dapat mencederai atlit.
b. Dapat mencederai atau menganggu atlit lain.
3.3.6 Jury President, Category Judge dan Chief Routesetter harus memeriksa setiap jalur atau boulder sebelum memulai suatu babak kompetisi, untuk memastikan bahwa
standar keselamatan telah terpenuhi. Secara khusus, Jury President, Category Judge dan Chief Routesetter harus memastikan bahwa semua perlengkapan dan prosedur keselamatan sesuai dengan standar UIAA dan per aturan FPTI.
3.3.7 Semua perlengkapan yang digunakan dalam kompetisi harus sesuai dengan standar UIAA atau peraturan FPTI, kecuali ada kebijakan lain yang ditentukan oleh FPTI, atau terdapat keadaan luar biasa, berdasarkan wewenang yang diberikan Jury President oleh FPTI. Atlit yang berkompetisi pada kategori Lead dan Speed harus menggunakan tali tunggal (single rope) yang memenuhi standar UIAA yang disediakan penyelenggara. Frekuensi pergantian tali pengaman harus diputuskan oleh Category Judge.
3.3.8 Beberapa tindakan pencegahan yang harus diperhatikan dalam mengamankan jalur pemanjatan:
a. Setiap titik pengamanan yang digunakan selama kompetisi harus dilengkapi dengan quickdraw yang dapat disambung dengan karabiner sehingga seorang atlit dapat mengaitkan talinya. Hubungan sambungan antara quickdraw dan titik pengamanan (protection point) harus sesuai standar UIAA yaitu Maillon Rapide (MR) 10 mm, dimana kunci pengamannya dapat ditutup dan dikencangkan sesuai dengan spesifikasi.
b. Jika diperlukan penambahan quickdraw yang tidak normal harus menggunakan satu quickdraw panjang dengan kekuatan yang sama dengan quickdraw yang lebih pendek.
• Tidak diperkenankan menyambung dua quickdraw atau lebih menggunakan screw-gate karabiner atau non screw-gate karabiner untuk memperoleh satu quickdraw yang lebih panjang.
• Tidak diperkenankan memperpendek quickdraw yang panjang dengan cara mengikatnya untuk mendapatkan satu quickdraw yang diinginkan.
3.3.9 Sebelum memulai setiap babak kompetisi, Category Judge harus memastikan bahwa tenaga medis dan paramedis yang berkualifikasi selalu hadir untuk memastikan respon yang cepat jika terjadi kecelakaan atau cideranya atlit maupun Ofisial Kompetisi yang bertugas didalam zona kompetisi.
3.3.10 Jika ada keyakinan, bahwa seorang atlit tidak sehat untuk mengikuti kompetisi, karena berbagai sebab, seperti cedera atau sakit, maka Jury President memiliki kewenangan untuk meminta pemeriksaan terhadap yang bersangkutan oleh dokter yang akan melakukan tes fisik yang diakui, sebagai berikut:
• Tubuh bagian bawah: atlit mampu melakukan 10 (sepuluh) kali scot-trush berturut-turut.
• Tubuh bagian atas: atlit mampu melakukan 10 (sepuluh) push-up berturut-turut. Jika berdasar hasil tes,dokter menganggap atlit yang bersangkutan tidak layak untuk mengikuti kompetisi, maka Jury President dapat melarang atlit tersebut untuk mengikuti kompetisi. Namun jika pada babak berikutnya terbukti atlit bersangkutan telah pulih, maka ia bisa meminta kembali untuk menjalani tes-tes fisik yang telah diakui tersebut.
3.3.11 Tidak dapat dibenarkan melakukan sesuatu atas permintaan dari atlit, misal pada kompetisi Boulder turun kedasar/lantai dari atas (top) pada boulder dengan melalui sebuah tangga.
3.4 DAFTAR URUTAN PEMANJATAN
3.4.1 Daftar urutan pemanjatan babak awal harus disusun dan diumumkan pada pertemuan teknis pada hari yang telah ditentukan sebelum pembukaan kompetisi. Daftar urutan pemanjatan harus diumumkan di papan pengumuman kompetisi dan di zona isolasi dan dikeluarkan untuk Juri Kompetisi, Manajer Tim, MC dan pers. 3.4.2 Daftar urutan pemanjatan untuk setiap babak berikutnya harus disusun dalam waktu
tidak lebih dari 30 menit setelah berakhir babak sebelumnya. Urutan pemanjatan, harus diumumkan di papan pengumuman yang tepat, misal di hotel penginapan dimana Manajer Tim dan atlit menginap.
3.4.3 Daftar urutan pemanjatan akan berisi juga informasi tentang kompetisi babak berikutnya,termasuk:
a. Nama, No. ID FPTI (KIAT), dan asal (Nama Provinsi untuk tingkat nasional, nama Kabupaten/Kota untuk tingkat Provinsi, atau nama klub untuk tingkat Kabupaten/Kota).
b. Waktu pembukaan dan penutupan zona isolasi untuk babak berikutnya. c. Waktu Pemanjatan suatu babak akan dimulai.
d. Informasi lainnya yang sesuai standar pelaporan yang disetujui FPTI atau Jury President. Semua daftar urutan pemanjatan harus dibuat dalam format yang telah ditetapkan FPTI.
3.4.4 Metode penyusunan urutan pemanjatan:
a. Jika babak kualifikasi dilakukan pada jalur pemanjatan tunggal, urutan pemanjatan pada babak ini ditentukan berdasarkan undian (random), kecuali untuk atlit yang menempati peringkat FPTI disusun dengan urutan terbalik berdasarkan peringkatnya.
b. Jika babak Kualifikasi dilakukan pada dua jalur pemanjatan atau lebih yang identik, atlit akan dialokasikan untuk setiap jalur pemanjatan pada babak tersebut berdasarkan pada:
i. Posisi masing-masing atlit pada Peringkat Nasional terakhir, yaitu mereka yang menempati Peringkat Sirkuit Nasional akan dialokasikan dengan urutan terbalik untuk setiap jalur pemanjatan, dengan ketentuan peringkat ganjil dijalur pertama, dan peringkat genap dijalur kedua. ii. Atlit yang tidak masuk dalam Peringkat Nasional akan dialokasikan
disetiap jalur berdasarkan undian hingga berjumlah sebanding pada setiap jalur pemanjatan.
iii. Selanjutnya urutan pemanjatan pada masing-masing jalur pemanjatan ditentukan berdasarkan undian (random). Kecuali untuk atlit yang menempati Peringkat Nasional FPTI disusun berurut terbalik.
Daerah/Provinsi.
v. Posisi Atlit pada Peringkat Nasional lebih tinggi dari Peringkat Daerah/Provinsi.
c. Urutan pemanjatan pada babak berikutnya, kecuali untuk babak Super-Final, urutan pemanjatan ditentukan oleh urutan terbalik dari peringkat pada babak sebelumnya. Jika terdapat dua atau lebih atlit yang mempunyai peringkat yang sama pada babak sebelumnya maka urutan pemanjatan untuk mereka ditentukan berdasarkan Peringkat FPTI.
d. Pada babak Super - Final: urutan pemanjatan pada babak ini harus sama seperti pada babak Final.
e. Daftar peringkat babak Kualifikasi dan putaran-final kategori Speed ditentukan berdasarkan aturan pada pasal 7.7
3.5 ISOLASI
3.5.1 Semua atlit yang hendak melakukan pemanjatan dalam satu babak disuatu kompetisi harus didaftar dan pada saat memasuki zona isolasi tidak melewati batas waktu yang telah ditentukan oleh Jury President yang diumumkan oleh penyelenggara. Adalah merupakan tanggung jawab dari tim ofisial/atlit untuk memastikan bahwa ia telah mendapatkan informasi lengkap mengenai detail suatu babak dalam suatu kompetisi.
3.5.2 Hanya orang-orang tersebut di bawah yang diijinkan masuk zona isolasi: a. Ofisial Kompetisi FPTI.
b. Panitia Penyelenggara yang mendapat ijin dari Jury President. c. Atlit yang ambil bagian pada babak kompetisi yang akan berlangsung. d. Tim Ofisial yang resmi yang mendapat ijin Jury President.
e. Personil lain yang secara khusus diberi ijin oleh Jury President. Orang-orang ini selama berada didalam zona isolasi harus dikawal dan diawasi guna menjamin keamanan zona isolasi dan mencegah terjadinya gangguan-gangguan atau campur tangan pihak lain terhadap para atlit.
f. Semua jenis binatang tidak diijinkan berada dalam zona isolasi.
3.5.3 Merokok diperbolehkan hanya di area yang telah disediakan, biasanya area ini berada di dekat pintu masuk zona isolasi. Saat di area ini, atlit atau orang lain masih tetap berlaku aturan dalam area zona isolasi.
3.5.4 Selama berada dalam zona isolasi di area kompetisi atlit tidak diijinkan untuk berkomunikasi dengan cara apapun dengan orang yang berada di luar area kompetisi, kecuali secara khusus diberi wewenang/ijin untuk melakukan hal tersebut oleh Jury President. Pelanggaran terhadap peraturan ini dapat mengakibatkan atlit terkena sanksi diskualifikasi.
3.5.5 Atlit atau Tim Ofisial tidak diijinkan membawa atau menggunakan telepon selular atau perlengkapan komunikasi elektronik yang sejenis, kamera, video kamera atau peralatan perekam sejenis saat di area isolasi, tanpa ijin Jury President.
3.5.6 Atlit tidak diperbolehkan untuk membawa atau menggunakan alat pemutar suara (audio listening equipment), selama observasi dan saat pemanjatan.
3.6 OBSERVASI
3.6.1 Sebelum kompetisi dimulai, atlit yang ambil bagian khususnya dalam babak kompetisi yang akan berlangsung diijinkan melakukan observasi dimana mereka diijinkan untuk mempelajari jalur atau boulder tersebut. Aturan lebih lanjut mengenai observasi tersebut diatur pada sub-bab tersendiri untuk masing-masing kategori kompetisi Lead, Multipitch, Boulder, Speed dan Speed Estafet.
3.6.2 Selama berada di area observasi, semua atlit tetap terikat aturan yang berlaku di isolasi. Ofisial Tim tidak diijinkan untuk menemani atlit selama masa observasi. Atlit harus berada di area observasi selama waktu observasi jalur. Atlit tidak diijinkan memanjat di papan panjat atau berdiri menggunakan alat penambah ketinggian. Atlit tidak diijinkan berkomunikasi dengan cara apapun dengan orang lain yang berada di luar area observasi. Mereka hanya diijinkan meminta penjelasan dari wasit/Category Judge.
3.6.3 Selama waktu observasi, atlit dapat menggunakan binokuler untuk mengobservasi, dan membuat sketsa kasar dan catatan. Tidak diperkenankan menggunakan alat observasi lain atau alat perekam elektronik.
3.6.4 Atlit tidak boleh mendapat pengetahuan atau informasi jalur atau boulder selain dari apa yang didapatnya pada waktu observasi atau informasi yang disampaikan oleh Jury President atau Wasit.
3.6.5 Merupakan tanggung jawab pribadi tiap atlit untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai jalur atau boulder.
3.7 PERSIAPAN SEBELUM PEMANJATAN
3.7.1 Setelah menerima instruksi resmi untuk meninggalkan zona isolasi untuk menuju zona transit, atlit tidak boleh ditemani oleh siapapun selain petugas resmi.
3.7.2 Di dalam zona transit, setiap atlit dapat melakukan persiapan akhir, seperti memakai sepatu panjat, memasang tali dengan simpul yang telah ditetapkan, dan sebagainya, sesuai dengan yang biasa terjadi saat kompetisi .
3.7.3 Semua perlengkapan memanjatan yang digunakan termasuk simpul yang digunakan harus diperiksa terlebih dahulu dan disetujui oleh petugas resmi, baik menyangkut keselamatan dan maupun kesesuaian dengan peraturan FPTI, sebelum atlit diijinkan melakukan pemanjatan pada jalur pemanjatan atau boulder. Setiap atlit diperlakukan sama dan mempunyai tanggung jawab pribadi tentang perlengkapan/peralatan dan pakaian yang seharusnya digunakan selama per tandingan/kompetisi.
3.7.4 Penggunaan peralatan, simpul atau pakaian, atau modifikasi rompi pemanjatan yang tidak diijinkan, atau bentuk promosi yang tidak sesuai dengan peraturan, atau pelanggaran lain atas peraturan FPTI, maka atlit akan mendapatkan sanksi diskualifikasi. Atlit tidak diijinkan kembali ke zona isolasi setelah keluar menuju zona transit.
3.7.5 Setiap atlit harus siap meninggalkan zona transit dan masuk dalam zona kompetisi ketika diinstruksikan. Setiap keterlambatan untuk melaksanakan hal tersebut berakibat atlit akan mendapatkan kartu kuning, kelambatan selanjutnya akan membuat atlit didiskualifikasi (ditandai dengan pemberian Kartu Merah) sesuai prosedur Kedisiplinan Dalam Kompetisi.(seperti dijelaskan dalam Bab 13).
3.8 SERAGAM TIM DAN PERALATAN PEMANJATAN
3.8.1 Semua peralatan yang digunakan oleh atlit didalam suatu kejuaraan/kompetisi harus memenuhi standard UIAA, IFSC atau FPTI, kecuali jika ditetapkan lain oleh FPTI atau berdasarkan pertimbangan Jury President yang telah mendapat kewenangan dari FPTI. Penggunaan peralatan dan pakaian atau simpul yang tidak disetujui atau modifikasi yang tidak disetujui atau tidak memenuhi standard atau bertentangan dengan aturan dari pihak pemasang iklan atau setiap pelanggaran terhadap ketentuan peraturan FPTI terkait dengan pakaian dan peralatan pemanjatan, akan mengakibatkan atlit mendapat sanksi disiplin sesuai prosedur Kedisiplinan dalam Kompetisi.(seperti dijelaskan dalam Bab 13).
3.8.2 Seragam tim dapat digunakan kapan saja, dan terutama sekali pada Upacara Penghormatan Pemenang (UPP), ofisial dan atlit dapat memakai suatu seragam tim yang berbeda.
3.8.3 Setiap atlit harus menggunakan seat-harness yang sesuai standar UIAA (penggunaan seat-harness wajib pada kompetisi Lead dan Speed), dan sepatu panjat. Setiap atlit bebas menggunakan kantong kapur (chalkbag), dan pakaian (tambahan untuk team top) yang mereka inginkan. Semua peralatan dan pakaian tersebut harus sesuai dengan aturan pemasangan iklan sebagai berikut:
a. Headwear: Hanya mencantumkan nama dan atau logo perusahaan.
b. T-shirt: Jika disediakan oleh panitia kompetisi, maka setiap atlit wajib memakai, tidak diijinkan memotong atau melakukan modifikasi.
c. Nomor urut atlit harus dipasang dengan jelas dibagian belakang t- shirt. d. Team Top: Mencantumkan label sponsor, totalnya tidak lebih dari 300 m2. e. Harness: Mencantumkan nama atau logo perusahaan dan label sponsor,
totalnya tidak lebih dari 200 cm2.
f. Chalk Bag: mencantumkan nama atau logo perusahaan dan label sponsor, totalnya tidak lebih dari 100 cm2.
g. Penggunaan bahan kimia selain magnesium karbonat untuk menyerap keringat selama melakukan pemanjatan pada suatu jalur pemanjatan atau boulder harus mendapat ijin dari Jury President.
3.8.4 Pelanggaran dalam mematuhi peraturan tersebut akan menyebabkan atlit mendapat sanksi disiplin sesuai prosedur Kedisiplinan dalam Kompetisi.(seperti dijelaskan dalam Bab 13).
3.9 PERAWATAN DINDING DAN JALUR PEMANJATAN
3.9.1 Chief Routesetter harus menjamin bahwa tim yang terlatih dan berpengalaman selalu ada pada setiap babak kompetisi untuk melakukan perawatan dan perbaikan yang diminta oleh Category Judge dengan cara yang aman dan efisien. Prosedur keselamatan harus secara tegas dilaksanakan.
3.9.2 Sesuai dengan instruksi Category Judge, Chief Routesetter akan segera menyiapkan perbaikan. Chief Routesetter yang akan memberi masukan kepada Jury President apakah hasil perbaikan tersebut terdapat keuntungan atau kerugian untuk atlit berikutnya. Keputusan Jury President apakah kompetisi dilanjutkan, dihentikan atau mengulang babak pertandingan berkaitan dengan hal tersebut adalah final yang tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada protes yang dapat merubah keputusan tersebut.
3.10 INSIDEN TEKNIS
3.10.1 Insiden teknis didefinisikan sebagai kejadian yang menimbulkan keuntungan atau kerugian yang tidak adil bagi atlit yang bukan merupakan hasil dari suatu tindakan yang dilakukan atlit. Jenis dari insiden teknis, dan prosedur yang dapat dilakukan saat hal tersebut terjadi akan dijelaskan secara lebih rinci dalam Bab yang membahas kategori kompetisi Lead, Boulder dan Speed.
3.10.2 Belayer harus membiarkan tali agak kendor setiap saat. Setiap tegangan pada tali bisa dianggap merupakan bantuan tambahan atau panduan bagi atlit, dapat dinyatakan oleh Category Judge sebagai insiden teknis.
3.10.3 Secara umum insiden teknis dapat diuraikan sebagai berikut: a. Jika insiden teknis dinyatakan oleh Category Judge:
i. Jika atlit masih dalam posisi yang baik setelah terjadi insiden teknis, atlit dapat memilih melanjutkan pemanjatan atau menerima insiden teknis. Jika atlit memilih untuk melanjutkan pemanjatan maka tidak ada protes berkaitan dengan insiden teknis yang telah terjadi.
ii. Jika atlit dalam posisi yang tidak baik karena terjadinya insiden teknis, Category Judge akan segera membuat keputusan apakah akan dinyatakan telah terjadi insiden teknis dan selanjutnya menghentikan pemanjatan pada jalur pemanjatan atau boulder, dan mengijinkan atlit melakukan pemanjatan ulang sesuai dengan peraturan mengenai insiden teknis. b. Jika insiden teknis dinyatakan oleh atlit:
i. Jika atlit masih dalam posisi yang baik setelah terjadi insiden teknis, atlit harus menjelaskan kejadian yang terkait dengan insiden teknis, dan dengan persetujuan Category Judge dapat melanjutkan atau menghentikan pemanjatan. Jika atlit memilih melanjutkan pemanjatan, maka tidak ada protes berkaitan dengan insiden teknis yang dialaminya. ii. Jika atlit dalam posisi yang tidak baik karena terjadi insiden teknis,
Category Judge akan segera membuat keputusan apakah akan dinyatakan telah terjadi insiden teknis atau tidak. Keputusan tersebut adalah final.
c. Konfirmasi tentang suatu insiden teknis adalah keputusan Jury President, Jika diperlukan akan melakukan konsultasi dengan Chief Routesetter. Keputusan yang diambil oleh Jury President bersifat final.
3.11 PENGHENTIAN PEMANJATAN PADA SUATU JALUR
3.11.1 Pemanjatan yang dilakukan atlit akan dihentikan sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk masing-masing kategori kompetisi.
3.11.2 Atlit diperbolehkan memanjat turun (climb down) selama melakukan pemanjatan asalkan tidak melanggar peraturan berkaitan dengan penghentian pemanjatan pada suatu jalur pemanjatan.
3.12 PENGGUNAAN REKAMAN VIDEO UNTUK PENJURIAN
3.12.1 Perekaman Video resmi harus dilakukan pada setiap pemanjatan yang dilakukan oleh seorang atlit pada kategori Lead, Speed dan Boulder.
3.12.2 Untuk setiap kompetisi Lead dan Speed dapat menggunakan setidaknya satu video kamera atau dua video kamera.
Untuk kompetisi kategori Boulder minimal 2 (dua) kamera video yang akan ditempatkan untuk mengliput seluruh boulder yang digunakan dalam suatu babak kompetisi Boulder. Sebaiknya orang yang mengoperasikan kamera, yaitu orang yang berpengalaman dalam merekam kompetisi panjat tebing.
3.12.3 Sebelum kompetisi dimulai Category Judge atau Jury President akan memberi pengarahan kepada operator tentang teknik dan prosedur perekaman video yang tepat. Posisi kamera harus ditentukan oleh Jury President dengan berkonsultasi dengan Category Judge dan Chief Routesetter. Perhatian khusus harus diberikan untuk menjamin bahwa operator kamera tidak terganggu selama mereka melakukan pekerjaan mereka dan tidak seorangpun yang diijinkan menghalangi pandangan kamera.
3.12.4 Suatu monitor televisi yang dihubungkan pada sistem pemutar ulang video (video playback sistem) harus disediakan untuk melihat kembali dan mengamati setiap kejadian untuk tujuan penjurian. Playback Monitor harus ditempatkan dengan tepat sehingga para juri dapat mengamati semua materi rekaman video yang diputar ulang dan mendiskusikan setiap kejadian tanpa dilihat orang lain, dan tidak terganggu selama melakukan diskusi, tetapi harus cukup dekat dengan meja penjurian.
3.12.5 Hanya hasil rekaman video resmi dan yang dapat digunakan untuk tujuan penjurian, dan untuk melihat hasil rekaman tersebut hanya terbatas untuk Jury President, Category Judge, Chief Routesetter, dan FPTI Delegate.
3.12.6 Pada akhir tiap babak kompetisi, kaset video harus diberikan kepada FPTI Delegate.Tidak boleh dilakukan pengandaan rekaman kaset video tersebut tanpa adanya ijin dari FPTI. Kaset video kompetisi hanya digunakan untuk tujuan penjurian kompetisi dan kursus. Dengan alasan apapun pita rekaman tersebut tidak boleh digunakan kecuali atas ijin dari FPTI.