ABSTRAK
Bandung yang merupakan salah satu ibu kota provinsi yang dikelilingi oleh pegunungan serta menjadi salah satu kota yang memiliki penggemar motor trail yang cukup banyak. Tujuan dari perancangan bengkel modifikasi motor trail di Bandung ini adalah dengan membuat elemen-elemen ruang Upside Down sehingga memberikan daya tarik bagi konsumen, dan agar menunjukan kepada publik sensasi Upside Down dari elemen ruang pada interior Bandung Convention Centre.
Bandung belum banyak terdapat sebuah bengkel modifikasi motor trail yang memberikan fasilitas utama maupun pendukung dengan memaksimalkan lahan yang terbatas namun sesuai dengan kebutuhan ruang. Dengan menerapkan elemen ruang Upside Down yang tepat untuk digunakan pada showroom dan bengkel modifikasi motor trail ini. Masalah yang dihadapi adalah dengan pengaplikasian elemen ruang Upside Down pada Bandung Convention Centre.
Membuat test drive area indoor untuk motor trail pada Bandung Convention Centre dengan terdapat café pada lobby area dari Bandung Convention Centre. Membuat interior café, showroom, dan display seolah memperlihatkan benda ringan berada di bagian bawah dan benda yang lebih berat berada di atasnya.
Perancangan dan perencanaan Bengkel modifikasi dan showroom motor trail dengan mengambil konsep oxymoron dalam desain interior terdapat beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi dalam menciptakan suasana agar sesuai dengan tujuan awal dari ide dan konsep. Dalam hal ini baik dari segi visual, kenyamanan, sirkulasi, hingga keamanan, beberapa faktor tersebut diperlukan dan sangat mempengaruhi ide dan konsep dalam perencanaan dan perancangan.
ABSTRACT
THE INTERIOR DESIGN OF A SHOWROOM AND GARAGE
SPECIALIZING IN MOTOCROSS MODIFICATION IN
BANDUNG WITH THE OXYMORON CONCEPTS
Teofilus Setiadi Yuki
Bandung is the capital of a province surrounded by mountains favored by motor trail bikers to venture, the concept of this design is to come up with elements of upside down rooms to attract consumers and to act as a sensation of upside down from the element s of room in Bandung convention center interiors.
There are still few numbers of garages in Bandung that specializes in motor trail modification with main and supporting facilities to maximize lands according to the needs. Upside down concept is very appropriate for this kind of situation. The problem is how to apply the concept in Bandung convention center.
Indoor test drive area for motor trails in Bandung convention centre together with cafe and lobby area in Bandung convention centre is essential. The cafe interior, showroom and display gives an essence of light areas below and hard ones above.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN PENELITIAN ... iii
PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
1.2 Identifikasi Masalah ... 4
1.3 Ide / Gagasan Perancangan ... 4
1.4 Perumusan Masalah ... 5
1.5 Tujuan Perancangan ... 5
1.6 Manfaat Perancangan ... 6
1.7 Ruang Lingkup Rancangan ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Bengkel ... 9
2.2 Sejarah Motor ... 12
2.2.1 Pengertian Umum Motor ... 16
2.3 Motor Trail ... 17
2.4 Teori Ruang Interior pada Bengkel Motor Trail ... 31
2.4.1 Zoning / Sonasi ... 36
2.4.2 Organisasi dan Klasifikasi Ruang ... 38
2.5 Teori Perencanaan Konsep Upside Down pada Fasilitas- Fasilitas Bengkel Motor Trail di Bandung ... 41
2.6 Ergonomi dan Antropometri ... 45
2.6.1 Ergonomi ... 45
2.6.2 Antopometri ... 48
2.7 Studi Banding Bengkel Motor Trail ... 59
2.7.1 Pro Sirkuiti ... 59
BAB III DESKRIPSI OBJEK STUDI
3.4 Flow Activity, Kebutuhan Ruang, Zoning Bloking ... 78
3.4.1 Flow Activity ... 78
3.4.2 Kebutuhan Ruang ... 81
3.4.3 Zoning Bloking ... 86
3.5 Ide Implementasi Konsep pada Objek Studi ... 86
BAB IV PENERAPAN DESAIN 4.1 Tema dan Konsep ... 95
4.1.1 Pencapaian Tema dan Konsep ... 95
4.1.2 Penerapan Konsep Interior ... 95
4.2 Penerapan Desain ... 104
4.2.1 Layout ... 109
4.2.3 Perspektif ... 110
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ... 112 5.2 Saran ... 113
DAFTAR PUSTAKA ... 114
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.10 Motor Trail Enduro / Adventure ... 26
Gambar 2.11 Motor Trial ... 27
Gambar 2.12 Contoh Oxymoron ... 44
Gambar 2.13 Oxymoron dalam lalu lintas... 44
Gambar 2.14 Suspensi Upside Down dan Teleskopik ... 45
Gambar 2.15 Display Visual ... 52
Gambar 2.16 Workstation ... 53
Gambar 2.17 Secretarial Chair ... 54
Gambar 2.18 Reception Seating ... 56
Gambar 2.19 Banquette Seating ... 57
Gambar 2.20 Customer and Sales Area ... 58
Gambar 2.21 Showroom 1 ... 59
Gambar 2.22 Showroom II ... 60
Gambar 2.24 Display Area II ... 61
Gambar 2.25 Display Area III ... 62
Gambar 2.26 Owner Room I ... 62
Gambar 2.27 Owner Room II ... 63
Gambar 2.28 Inti Motor ... 64
Gambar 2.29 Bagian dalam Counter untuk Owner ... 64
Gambar 2.30 Jalur Sirkulasi bagi Konsumen I ... 65
Gambar 2.31 Jalur Sirkulasi bagi Konsumen II ... 65
Gambar 3.1 Site Letak Bandung Convention Centre ... 72
Gambar 3.2 General Layout Bandung Convention Centre ... 75
Gambar 3.3 Bubble Diagram Sirkulasi Aktivitas ... 81
Gambar 3.4 Zoning Bloking Area ... 86
Gambar 3.5 Test Drive Area ... 87
Gambar 4.1 Bentukan Berat sebagai Kolom dan Sekat Ruang ... 102
Gambar 4.2 Kolom pada Ruangan Terkesan Berat ... 103
Gambar 4.3 Ruangan yang Memberi Kesan Ringan ... 103
Gambar 4.4 Ceiling Berbentuk Lengkung Seolah Berat ... 104
Gambar 4.5 Ceiling dengan Balok Kayu ... 104
Gambar 4.6 Ceiling dengan Pola Melengkung ... 105
Gambar 4.7 Aplikasi Elemen Interior pada Dinding ... 106
Gambar 4.8 Aplikasi Elemen Interior Kesan Berat pada Studio ... 106
Gambar 4.9 Keramik dengan Warna Cerah ... 107
Gambar 4.10 Pencahayaan Terang ... 108
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Motor trail memiliki keunggulan sendiri. Motor trail merupakan hasil dari modifikasi sepeda motor untuk medan non-aspal atau off road. Pamor motor trail mulai ada peningkatan peminat dengan adanya komunitas pecinta motor trail. Penunggang trail sekarang tak hanya untuk crosser saja, orang awam pun mulai melirik motor trail. Mereka menggemari motor trail untuk kendaraan harian maupun untuk melampiaskan adrenalin di medan off road. Sekarang ini motor trail juga dianggap sebagai gaya hidup.
olahraga yang cukup banyak digemari oleh pria, namun sudah banyak pula wanita yang menggemari hobi ini.
Bengkel modifikasi motor trail dibentuk karena sudah banyak orang-orang yang menggemari motor trail serta sebagai penyalur adrenalin mereka. Para penggemar motor trail kalangan menengah yg tidak memiliki motor trail built up biasanya memodifikasi motor mereka agar terlihat dan memiliki kemampuan hampir mirip seperti motor trail built up, di mana para penghobi motor trail akan memodifikasi tampilan, mesin, dan merubah suspensinya. Harga yang tinggi tidak berpengaruh bagi mereka panggemar motor cross kalangan menengah keatas. untuk kalangan ekonomi kebawah upaya yang bisa lakukan untuk tetap bisa menikmati olahraga ekstrem ini salah satunya dengan memodifikasi "motor biasa" menjadi motor trail.
Bandung yang merupakan ibu kota provinsi menjadi salah satu kota yang memiliki penggemar motor trail yang cukup banyak. Dengan demikian mulai bermunculan importir maupun bengkel atau tempat modifikasi bagi para peminat motor trail. Namun di Bandung belum banyak bengkel modifikasi yang memiliki fasilitas lengkap bagi para penggemar motor trail. Bengkel motor trail ini tidak terfokus hanya pada satu merek saja, namun juga berbagai merk motor trail keluaran pabrikan buatan Amerika, Eropa sampai Jepang. Karena belum banyak bengkel modifikasi motor trail yang memiliki fasilitas lengkap, maka dirancanglah sebuah bengkel modifikasi motor trail yang di buat senyaman dan efisien mungkin. Salah satunya untuk merubah atau membuat rangka motor, memodifikasi mesin dan juga part aksesoris untuk motor trail. Bengkel modifikasi motor trail ini juga akan menyediakan fasilitas pendukung seperti service area, sekaligus pengecatan dengan system powder coating. Di buat pula fasilitas keamanan dan kenyaman bagi seluruh pengguna bengkel ini, dengan merancang lobby, display area, storage, dan juga workshop yang meliputi area manufacturing, assembling, serta painting area. Para penggemar motor trail tidak
dibatasi oleh gender serta usia.
1.2 Identifikasi Masalah
dengan kebutuhan ruang. Dengan menerapkan elemen ruang Upside Down yang tepat untuk digunakan pada showroom dan bengkel modifikasi motor trail ini. Masalah yang dihadapi adalah dengan pengaplikasian elemen ruang Upside Down pada Bandung Convention Centre.
1.3 Ide / Gagasan Perancangan
Membuat test drive area indoor untuk motor trail pada Bandung
Convention Centre.
Membuat café pada lobby area dari Bandung Convention Centre.
Membuat interior café, showroom, dan display seolah memperlihatkan
benda ringan berada di bagian bawah dan benda yang lebih berat berada di atasnya.
1.4 Perumusan Masalah
1. Bagaimana cara merancang elemen ruang Upside Down pada showroom dan bengkel modifikasi motor trail namun tetap dapat digunakan secara fungsional?
2. Bagaimana cara pengaplikasian elemen ruang Upside Down pada Bandung Convention Centre?
1.5 Tujuan Perancangan
Membuat elemen-elemen ruang Upside Down sehingga memberikan
daya tarik bagi konsumen agar semenarik motor trail yang digemarinya.
Ingin menunjukan kepada publik sensasi Upside Down dari elemen
ruang pada interior Bandung Convention Centre.
1.6 Manfaat Perancangan
Manfaat dari perancangan interior bengkel modifikasi motor trail di Bandung ini adalah :
Memunculkan interior Upside Down bagi konsumen dengan mengolah
elemen ruangnya.
Menciptakan desain yang memberikan daya tarik bagi penggemar
motor trail dengan menerapkan konsep Upside Down pada elemen ruang.
1.7 Ruang Lingkup Rancangan
Ruang lingkup rancangan berupa bangunan yang dilengkapi dengan ruangan yang bersifat komersial yaitu display area, café, service area, dan storage. Denah perancangan dari Bengkel Modifikasi Motor
Lobby
Tempat yang cukup besar sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli.
Display Area
Suatu tempat yang memiliki luasan yang cukup besar yang berfungsi untuk memajangkan motor trail yang ada.
Receptionist
Suatu ruangan atau tempat khusus yang menyediakan minuman dan makanan ringan bagi konsumen serta tempat untuk berkumpul saling bertukar pikiran antar sesama penggemar motor trail.
1.8 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang dari objek perancangan, rumusan masalah, tujuan dan manfaat perancangan, batasan perancangan, kerangka perancangan, metodologi perancangan yang digunakan serta sistematika penulisan yang akan digunakan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini memaparkan mengenai landasan teori dalam mendesain sebuah tempat khusus modifikasi motor trail, definisi mengenai objek perancangan, standar-standar kebutuhan ruang, dan ergonomi ruang.
BAB III DESKRIPSI OBJEK STUDI
Bab ini mendepskripsikan mengenai proyek perancangan yang akan dikerjakan, site bangunan yang dipakai, analisis daerah sekitar site, studi banding fungsi sejenis, programming serta implementasi konsep yang akan digunakan dalam perancangan.
BAB IV PENERAPAN DESAIN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi simpulan dari kesulurahan makalah dan berisi saran kearah yang lebih baik untuk dijadikan perbaikan bagi penulis.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 SIMPULAN
5.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Chiara, Joseph de & Callend John. 1990. Timesaver Standards for Buliding Types. 3th edition. Jakarta : Gramedia Pustaka.
Halim, Deddy. 2005. Psikologi Arsitektur : Pengantar Kajian Lintas Disiplin. Jakarta : Grasindo.
Hidayat, Tedy Supriadi. 2009. 20 Inspirasi Memadukan Rumah & Kantor. Jakarta : Niagaswadaya.
Karlen, Mark & James Benya. 2004. Dasar-dasar Desain Pencahayaan. Jakarta : Erlangga.
Karlen, Mark. 2007. Dasar-Dasar Perencanaan Ruang. Edisi ke-2. Jakarta : Erlangga.
Lawson, Fred. 1997. Public Space Planning and Design. London : Van Nostrand Reinhold Company.
Panero, Julius & Zelnik Martin. Human Dimension & Interior Space. 1979. (United States by Whitney Library of Design, 1979).
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi keempat. Jakarta : Balai Pustaka.
Yuswandi, Urip & Soekardi Yuliadi. 2005. Kamus Istilah Otomotif : Inggris – Indonesia. Bandung : M2S.
Neuferst, Ernst. Alih Bahasa : Tjahjadi Sunarto. 1996. Data Arsitek. Edisi tiga puluh tiga. Jakarta : Erlangga.
Golden, Lawrence, W. Zimmerman, Donald A., “Effective Retailing”, Second
Edition, Houghton Miflin Company, Boston, 1986.
Messineo, Ramonita. 2014. A Beginners Guide to Motocross (Volume 1). Google eBook. MicJames.
(Online). (http://e-journal.uajy.ac.id/616/, diakses tanggal 5 Desember 2013)
(Online). (http://www.robertstein.com.au/, diakses tanggal 6 Desember 2013)
(Online). (http://www.google.com, diakses tanggal 7 Desember 2013)
(Online). (http://mattstonecars.com/, diakses tanggal 6 Desember 2013)
(Online). (http://www.anneahira.com/motor-trail.htm, diakses tanggal 10 Maret 2014)
(Online). (http://download.portalgaruda.org/article.php?article=90735&val=5001)
(Online).
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26560/5/Chapter%20l.pdf)
(Online). (http://www.anneahira.com/motor-cross.htm, diakses tanggal 10 Maret 2014)
(Online). (http://trialmotoindonesia.blogspot.com/, diakses tanggal 5 September 2014)
(Online).
(http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_MESIN/1965111019 92031-TATANG_PERMANA/BAB_I_BENGKEL_OTOMOTIF.pdf,
(Online).
(http://repo.isi-dps.ac.id/133/1/Dasar_Dasar_Desain_Interior_Pelayanan_Umum_III.pdf, diakses tanggal 20 September 2014)