• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rancangan Dan Uji Coba Modul Pelatihan Strain Based Conflict Arah Work Interference Family (SBC-WIF) Dalam Rangka Meningkatkan Dyadic Cohesion Pada Pasangan Suami Istri Bekerja.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Rancangan Dan Uji Coba Modul Pelatihan Strain Based Conflict Arah Work Interference Family (SBC-WIF) Dalam Rangka Meningkatkan Dyadic Cohesion Pada Pasangan Suami Istri Bekerja."

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

v

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK

Judul penelitian ini adalah Perancangan dan Uji Coba Modul Pelatihan Strain Based Conflict arah Work Interference Family (SBC-WIF) dalam Meningkatkan Dyadic Cohesion pada Pasangan Suami Istri yang Bekerja. Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk membuat rancangan modul pelatihan SBC-WIF dan melakukan uji coba modul pelatihan SBC-WIF dalam meningkatkan dyadic cohesion pada pasangan suami istri yang bekerja. Sedangkan tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran lebih lanjut mengenai hasil uji coba modul pelatihan SBC-WIF dalam meningkatan dyadic cohesion pada pasangan suami istri yang bekerja dan mengetahui apakah modul pelatihan tersebut dapat digunakan atau tidak.

Sampel pada penelitian ini adalah 8 orang responden yang terdiri dari 4 pasang suami-istri yang memiliki derajat dyadic cohesion yang berada dalam kategori rendah dan SBC-WIF yang berada dalam kategori tinggi. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dyadic cohesion dan SBC-WIF. Adapun validitas dari dyadic cohesion yaitu berkisar antara 0.569 - 0.746 dan SBC-WIF yaitu 0.750 - 0.795. Sedangkan untuk reliabilitas dari dyadic cohesion yaitu 0.630dan SBC-WIF yaitu 0.712.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pasangan suami istri yang mengikuti pelatihan SBC-WIF mengalami peningkatan dyadic cohesion dari rendah menjadi kategori tinggi, hal ini menandakan bahwa modul pelatihan SBC-WIF ini dapat digunakan untuk meningkatkan dyadic cohesion. Pasangan suami istri menghayati bahwa pelatihan SBC-WIF yang diselenggarakan ini bermanfaat, menarik dan menyadarkan mereka untuk mengelola strain kerja agar dapat melakukan kegiatan bersama pasangan seperti yang telah mereka dapatkan dari setiap sesi pelatihan. Oleh karena itu, pelatihan SBW-WIF dapat digunakan dalam meningkatkan dyadic cohesion pada pasangan suami istri yang bekerja.

(2)

vi

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT

The title of this research is the design and Try Out Training Modules Strain-Based Direct Interference Work Family Conflict direction (SBC-WIF) in dyadic Increasing Cohesion in the Working Couple. The purpose of this study was to draft SBC-WIF training module and try out module SBC-WIF training in increasing dyadic cohesion in couples work. While the purpose of this study was to describe more about the test results SBC-WIF training modules in dyadic cohesion increase on couples who work and find out if the training modules can be used or not.

The samples in this study were 8 respondents consisting of 4 pairs of husbands and wives who have a degree dyadic cohesion within the low category and SBC-WIF who are in the high category. Measuring devices used in this study is a questionnaire dyadic cohesion and SBC-WIF. The validity of dyadic cohesion ranged between 0569-0746 and SBC-WIF is 0750-0795. As for the reliability of dyadic cohesion that WIF is 0.630dan SBC-0712.

The results showed that all couples SBC-WIF training dyadic cohesion increased from low to high category, it indicates that the SBC-WIF training module can be used to improve dyadic cohesion. Couples appreciate that training SBC-held WIF helpful, interesting and awaken them to manage the strain of work to do activities with friends as they get from a training session. Therefore, the SBW-WIF training can be used to improve dyadic cohesion in couples work.

(3)

vii

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ...

ABSTRAK ...

DAFTAR ISI ...

DAFTAR TABEL ...

DAFTAR BAGAN ...

DAFTAR GAMBAR ...

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah …...

1.2. Identifikasi Masalah ...

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian ...

1.3.1.Maksud Penelitian ...

1.3.2.Tujuan Penelitian ...

1.4. Kegunaan Penelitian ...

1.4.1.Kegunaan Teoritis ...

1.4.2.Kegunaan Praktis ...

1.5. Metodologi Penelitian ...

ii v vi xi xii xiii 1 15 15 15 16 16 16 17 17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pernikahan

2.2. Marital satisfaction ...

2.2.1.Pengertian Marital satisfaction ...

18

18

(4)

viii

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha 2.2.2. Dyadic Cohesion ...

2.3. Pengertian Work family conflict ...

2.3.1.Salah Satu Bentuk Work Family Conflict : Strain Based

Conflict ...

2.3.2.Arah dari Work Family Conflict ...

2.3.3.Outcomes dari Work family conflict ...

2.3.3.1. Family Outcomes ...

2.3.3.2. Work Outcomes ...

2.4. Pelatihan ...

2.4.1.Pengertian Pelatihan ...

2.4.2.Pedoman Umum Merancang Program Pelatihan ...

2.4.3.Area Pembelajaran ...

2.4.3.1. Pembelajaran Area Kognitif ...

2.4.3.2. Pembelajran Area Afektif ...

2.4.4.Merancang Modul Pelatihan ...

2.4.5.Metode Pelaksanaan Pelatihan ...

2.4.5.1. Metode Ceramah (Leacturing)

2.4.5.2. Metode Experimental Learning

2.4.6.Evaluasi Pelatihan ...

2.4.6.1. Pengertian Evaluasi Perancangan Pelatihan ...

2.4.6.2. Proses Evaluasi Pelatihan ...

2.5. Kerangka Berpikir ...

2.6. Asumsi ...

(5)

ix

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha 2.7. Hipotesa Penelitian ... 62

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian ...

3.2. Variabel Penelitian, Definisi Konseptual & Definisi Operasional ..

3.2.1.Independen Variabel ...

3.2.1.1. Definisi Konseptual Pelatihan ...

3.2.1.2. Definisi Operasional Pelatihan ...

3.2.2.Dependen Variabel ...

3.2.2.1. Definisi Konseptual Dyadic Cohesion ...

3.2.2.2. Definisi Operational Dyadic Cohesion ...

3.3. Subjek Penelitian ...

3.3.1.Populasi Penelitian ...

3.3.2.Teknik Penarikan Sampel ...

3.3.3.Karakteristik Subjek Penelitian ...

3.4. Modul Pelatihan ...

3.5. Alat Ukur ...

3.5.1.Kuesioner untuk mengukur Dyadic Cohesion ...

3.5.2.Kuesioner untuk mengukur Strain Based Conflict arah

Work Interference Family ...

3.5.3.Sistem Penilaian ...

3.6. Uji Validitas & Reliabilitas ...

3.6.1.Uji Validitas ...

3.6.2.Uji Reliabilitas ...

(6)

x

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha 3.7. Teknik Analisis Data ...

3.7.1.Teknik Analisis Data Uji Coba Modul Pelatihan ...

3.7.1.1. Teknik Analisis Reaction ...

3.7.1.2. Teknik Analisis Learning ...

75

75

75

75

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Responden ...

4.2. Hasil Evaluasi Uji Coba Modul Pelatihan ...

4.2.1.Hasil Penelitian Berdasarkan Evaluasi Reaksi Responden ....

4.2.1.1. Evaluasi Reaksi Responden terhadap Keseluruhan

Pelatihan ...

4.2.1.2. Evaluasi Reaksi Responden terhadap Trainer dan

Pendamping ...

4.2.1.3. Evaluasi Reaksi Responden terhadap Setiap Sesi

Pelatihan ...

4.2.2.Hasil Penelitian Berdasarkan Evaluasi Learning Pelatihan ...

4.2.2.1. Gambaran Item Dyadic Cohesion Sebelum dan

Sesudah Pelatihan ...

4.3. Pembahasan Hasil Penelitian ...

4.3.1.Pembahasan Hasil Pebelitian Evaluasi Reaction ...

4.3.2.Pembahasan Hasil Penelitian Evaluasi Learning ...

77 78 79 79 82 84 88 89 92 92 100

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ...

5.2. Saran ...

111

(7)

xi

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha 5.2.1. Saran Teoritis ...

5.2.2. Saran Praktis...

111

112

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RUJUKAN

(8)

xii

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Level Evaluasi Pelatihan ...

Tabel 3.1.Kisi-Kisi Modul Pelatihan ...

Tabel 3.2.Penyebaran Jumlah Item Alat Ukur Dyadic Cohesion ...

Tabel 3.3.Penyebaran Jumlah Item Alat Ukur Strain Based Conflict arah

Work Interference Family ...

Tabel 3.4. Bobot Penilaian Item Strain Based Conflict arah Work

Interference Family ...

Tabel 3.5. Bobot Penilaian Item Dyadic Cohesion ...

Tabel 3.6. Kriteria Guilford ...

Tabel 4.1. Gambaran Umum Responden dalam kehidupan pekerjaan ...

Tabel 4.3. Evaluasi Reaksi Keseluruhan Pelatihan ...

Tabel 4.4. Evaluasi Reaksi Keseluruhan Pelatihan terhadap Pertanyaan

terbuka Mengenai Materi yang disampaikan ...

Tabel 4.5.Evaluasi Reaksi Keseluruhan terhadap Trainer dan

Pendamping ...

Tabel 4.6. Evaluasi Reaksi Responden terhadap Kegiatan Sesi ...

Tabel 4.7.Hasil Uji Wilcoxon Peningkatan Dyadic cohesion ...

Tabel 4.8.Gambaran Item Dyadic cohesion Sebelum dan Sesudah

Pelatihan ...

50

68

70

71

71

72

74

78

81

82

83

87

89

(9)

xiii

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR BAGAN

Halaman

Bagan 1.1. Rancangan Penelitian ...

Bagan 2.1. Kerangka Pikir... ...

Bagan 3.1. Model Rancangan Penelitian ...

17

61

(10)

xiv

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR GAMBAR

Halaman

(11)

1

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATARBELAKANG MASALAH

Pada saat ini pernikahan egaliter lebih banyak dianut oleh sebagian

pasangan yang ada di Indonesia. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan

ekonomi rumah tangga dan keinginan untuk aktualisasi diri di masyarakat sejalan

dengan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh di bangku pendidikan. Menurut

Lemme, Levant & Pollack (1995 dalam Desmayanti, 2009), pernikahan

egaliter adalah bentuk pernikahan dimana kedudukan antara suami dan istri

sejajar. Istri bersama-sama suami bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah.

Sehingga masa kini pasangan suami istri bekerja bukanlah suatu hal yang langka

lagi. Terlihat bahwa kini sekitar 80% pasangan menikah sama-sama bekerja

sehingga kedua-duanya sama-sama memberikan kontribusi ekonomi bagi

keluarga (www.tabloidnova.com, 4 september2009 diakses 5 juli 2012).

Keadaan ini terjadi karena adanya kondisi ekonomi yang mengalami krisis

sehingga suami dan istri sepakat untuk saling bahu membahu dalam hal ekonomi

Lemme, Levant & Pollack (1995 dalam Desmayanti, 2009).

Menurut Siganak dan Siganak (2005), semua pasangan suami istri

bekerja berusaha keras untuk membangun sebuah keluarga yang sehat, kuat dan

juga seimbang dalam hal mengatur tuntutan peran pekerjaan dan keluarga.

Pekerjaan dan keluarga adalah dua area dimana suami/istri menghabiskan

(12)

2

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha satu sama lain tetapi keduanya berkaitan guna pemenuhan hidupnya. Melalui

pekerjaan, suami/istri tidak hanya mengubah lingkungan namun juga dirinya,

memperkaya dan menumbuhkan hidup dan semangatnya. Keluarga dipandang

sebagai hal yang pertama dan paling penting, dikaitkan dengan kasih sayang

dimana suami/istri dapat mengembangkan diri dan memperoleh pemenuhan

dirinya, serta merupakan tempat yang penting bagi sebuah kebahagiaan dan

harapan. Sedangkan pekerjaan adalah kondisi dan upaya pemenuhan kebutuhan

dasar bagi kehidupan keluarga (Guitin ,2009).

Biasanya pasangan suami istri memiliki pembagian tugas dan tanggung

jawab terhadap perannya ditempat kerja dan keluarga yang telah mereka sepakati

terlebih dahulu. Pada kenyataannya tidak selalu peran ditempat kerja dan

keluarga ini dijalani dengan mulus oleh pasangan suami istri tersebut. Menurut

Prawitasari (2007), salah satu dampak yang harus dihadapi pasangan suami istri

jika mereka tidak mampu memperjuangkan keseimbangan antara pekerjaan dan

keluarga inilah akan muncul berbagai konflik. Semakin besar waktu, dan energi

yang dicurahkan pada peran keluarga dan pekerjaan, maka semakin besar pula

kemungkinan terjadinya konflik. Konflik pekerjaan dengan keluarga ini terjadi

ketika individu pasangan (suami/istri) dituntut untuk memenuhi harapan perannya

dalam keluarga dan dalam pekerjaan.

Konflik yang dapat muncul antara pekerjaan dan keluarga disebut juga

dengan work family conflict. Work family conflict adalah salah satu bentuk dari

interrole conflict yaitu tekanan atau ketidakseimbangan peran antara peran di

(13)

3

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

family conflict memiliki tiga bentuk work-family conflict, yaitu : Time-based

conflict, Strain-based conflict, dan Behavior-based conflict . Time-based conflict

yaitu waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan salah satu tuntutan keluarga

atau pekerjaan dapat mengurangi waktu untuk menjalankan tuntutan yang lainnya

(pekerjaan atau keluarga). Strain-based conflict yaitu terjadi pada saat tekanan

dari salah satu peran mempengaruhi kinerja peran yang lainnya. Behavior-based

conflict yaitu berhubungan dengan ketidaksesuaian antara pola perilaku dengan

yang diinginkan oleh kedua bagian (pekerjaan atau keluarga).

Dari masing-masing bentuk yang telah disebutkan diatas, work family

conflict juga memiliki dua arah (bidirectional), yang dapat dilihat dari

sumber-sumber konflik yang berasal dari pekerjaan dan sumber-sumber-sumber-sumber konflik yang

berasal dari keluarga. Dua arah dari work family conflict yaitu WIF (work

interference with family) dan FIW (Family interference with work) (Greenhaus

dan Beutell dalam Hammer et al, 2007). WIF (work interference with family)

yaitu tuntutan pekerjaan mengganggu urusan keluarga. Sedangkan FIW (Family

interference with work) yaitu urusan keluarga mengganggu kegiatan pekerjaan.

Berdasarkan perkembangan penelitian maka work family conflict sendiri telah

mengalami perkembangan melalui penelitian dari Carlson (2003) yang

mengkombinasikan tiga bentuk dan dua arah dari work family conflict menjadi

enam dimensi yaitu 1) time based WIF; (2) time based FIW; (3) strain based

WIF; (4) strain based FIW; (5) behavior based WIF; (6) behavior based FIW.

Dalam kehidupan pasangan suami istri yang bekerja, work family conflict

(14)

4

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha pekerjaan tetapi usaha tersebut dipengaruhi oleh kemampuan mereka untuk

memenuhi tuntutan keluarganya seperti urusan anak dan menangani

urusan-urusan rumah tangga, atau sebaliknya, dimana pemenuhan tuntutan peran dalam

keluarga dipengaruhi oleh kemampuan mereka dalam memenuhi tuntutan dengan

tekanan yang berasal dari pekerjaan seperti waktu kerja, beban kerja yang

berlebihan dan deadline kerja (Frone, 1992). Menurut Hassan (2004) bahwa

pasangan suami istri yang sibuk bekerja sering kali tanpa disadari, pasangan itu

menjadi jauh satu sama lainnya, karena masing-masing hidup dengan

kesibukannya sendiri. Kondisi ini sangat bisa mengurangi kualitas kebersamaan

yang akhirnya salah satu pihak merasa terabaikan sehingga akan dapat

menimbulkan kepuasan dalam kehidupan pernikahan yang rendah.

Kepuasan pernikahan merupakan salah satu konsekuensi dari work family

conflict dengan arah work interference with family (WIF). WIF dapat terjadi jika

tuntutan pekerjaan mengganggu urusan keluarga, sebagai contoh orang tua

mungkin merasa bahwa pekerjaan menghalangi waktunya untuk keluar dengan

anak-anaknya di rumah, tugas-tugas pekerjaan yang membuat pasutri tidak dapat

berkumpul dengan keluarga untuk melakukan diskusi, bermain dengan anak. Hal

inilah yang dapat menghasilkan konsekuensi negatif dari tuntutan keluarga yaitu

rendahnya kepuasan keluarga dan marital satisfaction. Hal ini didukung oleh

penemuan dari Frone et al (dalam Patricia, 2007) yang menyatakan bahwa work

interference with family dapat dihubungkan dengan marital satisfaction. Marital

satisfaction dapat diperoleh apabila pasangan merasakan adanya keseimbangan

(15)

5

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha Kepuasan dalam pernikahan (marital satisfaction) atau yang sering juga

diistilahkan dengan kebahagiaan (Hawkins dalam olson & DeFrain, 2006), yang

didefinisikan oleh Spanier & Cole (dalam Schumm et al. 1986) sebagai evaluasi

subjektif mengenai bagaimana perasaan individu dengan pasangan suami/istri,

pernikahannya dan hubungan pernikahaannya. Marital satisfaction akan menguji

persepsi dari suami maupun istri yang merujuk kepada hubungan mereka sebagai

pasangan suami istri yang dikategorikan dari sangat memuaskan sampai pada

tidak memuaskan. Hal ini di juga didukung Lemme, 1995 (dalam Desmayanti

2009) bahwa marital satisfaction itu mengandung evaluasi suami istri terhadap

hubungan pernikahannya yang cenderung berubah sepanjang perjalanan

pernikahan itu sendiri. Secara keseluruhannya, marital satisfaction itu sendiri

akan menguji persepsi interaksi yang ada didalamnya.

Menurut Spanier (1989; dalam Dinna 2005) proses interaksi pernikahan

(marital interaction) adalah dinamika interpersonal atau interaksi antara pasangan

yang berkembang dalam suatu hubungan dan mempengaruhi marital satisfaction.

Dalam hal ini, Lewis dan Spanier (1979; dalam Dinna 2005) berfokus pada 3

proses interaksi pernikahan, yaitu (1) dyadic consensus yang meliputi kesepakatan

antara pasangan dalam menangani masalah-masalah penting seputar pernikahan

seperti mengatur keuangan, membuat keputusan penting, rekreasi, permasalahan

keagamaan, pertemanan, perilaku yang dianggap patut, pandangan hidup,

berhubungan dengan orang tua dan mertua, kesepakatan dalam tujuan dan

target-targt, pembagian tugas rumah tangga, waktu senggang dan keputusan dalam karir;

(16)

6

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha masing pasangan dalam hubungan perasaan terhadap pasangan

masing-masing; dan (3) dyadic satisfaction adalah derajat dalam hubungan. Peran yang

dijalankan masing-masing individu dalam kehidupan pernikahan akan

berpengaruh dalam kepuasan hubungan pernikahan. Ke-tiga proses interaksi yang

diidentifikasi oleh Spanier dan Lewis (1980; dalam Dinna 2005) ini membahas

hubungan marital satisfaction yang diukur dalam dyadic adjustment scale (DAS).

Menurut Matthews, Conger & Wickrame (dalam penelitian Sellin

Derya, 2008) menyatakan bahwa individu yang mengalami work family conflict

cenderung memiliki marital satisfaction yang rendah. Hal ini dikarenakan seorang

individu yang kelelahan dan stress karena kondisi kerja yang berat mungkin

merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi tuntutan pekerjaan dan tuntutan

keluarga. Hal ini juga dikemukakan oleh Walters dan McKamny (dalam Rini,

2002; dalam Daeng, 2010) yang menyatakan bahwa suami dan istri akan merasa

bahagia bila mereka dapat mengintegritaskan kehidupan pekerjaan dan keluarga

secara harmonis.

Keadaan ini mengambarkan bahwa individu yang mengalami work family

conflict cenderung memiliki marital satisfaction yang rendah. Hal ini dikarenakan

seorang individu yang kelelahan dan stress karena kondisi kerja yang berat

mungkin merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi tuntutan pekerjaan dan

tuntutan keluarga ( Matthews, Conger & Wickrame; dalam penelitian Sellin

Derya, 2008).

Adapun beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai work family

(17)

7

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha Serikat tahun 2010 terhadap 156 pasangan yang keduanya sama-sama bekerja.

Penelitian ini meneliti hubungan antara work family conflict dan marital

satisfaction. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan

negatif antara work family conflict dan marital satisfaction.

Penelitian di kota Isfahan tahun 2008 terhadap 240 perawat yang bekerja

shift. Penelitian ini meneliti hubungan work family conflict dan marital

satisfaction di rumah sakit kota Isfahan. Temuan dari penelitian ini terdapat

hubungan negatif antara work family conflict dan marital satisfaction pada

perawat yang bekerja shift sehingga dibutuhkan keterampilan manajemen work

family conflict untuk meningkatkan marital satisfaction pada perawat yang

bekerja shift.

Dari dua penelitian yang sudah dijelaskan diatas mengenai hubungan work

family conflict dan marital satisfaction, diperoleh gambaran bahwa work family

conflict memiliki hubungan negatif dengan marital satisfaction. Dengan kata lain,

terlihat bahwa jika work family conflict tinggi maka marital satisfaction pada

pasangan suami istri rendah dan sebaliknya, work family conflict rendah maka

marital satisfaction pada pasangan suami istri tinggi.

Berdasarkan temuan diatas bahwa individu pada masing-masing pasangan

dituntut harus mampu memainkan tuntutan perannya dalam pekerjaan dan

keluarga serta dapat melaksanakan tuntutan peran tersebut dengan baik agar dapat

meningkatkan marital satisfactionnya. Namun ternyata masih banyak individu

(18)

8

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha yang dijalaninya sehingga mereka cenderung akan merasa work family conflict

yang dapat mempengaruhi marital satisfactionnya.

Berdasarkan penelitian-penelitian diatas, peneliti melakukan korelasi

antara 3 proses interaksi dari marital satisfaction dan 6 dimensi work family

conflict pada 198 responden diperoleh hasil bahwa korelasi untuk time based

conflict menunjukkan tidak adanya korelasi antara time based conflict-work

interference family dan dyadic consensus dengan koefision korelasi sebesar 0.055,

korelasi pada time based conflict-family interference work dan dyadic consensus

menunjukkan keofisien korelasi sebesar -0.022 yang menunjukkan adanya

korelasi, korelasi pada time based conflict-work interference family dan dyadic

cohesion menunjukkan keofisien korelasi sebesar -0.091 yang menunjukkan

adanya korelasi, korelasi pada time based conflict-family interference work dan

dyadic cohesion menunjukkan keofisien korelasi sebesar -0.010 yang

menunjukkan adanya korelasi, korelasi pada time based conflict-work interference

family dan dyadic satisfaction menunjukkan keofisien korelasi sebesar -0.027

yang menunjukkan adanya korelasi dan korelasi pada time based conflict-family

interference work dan dyadic satisfaction menunjukkan keofisien korelasi sebesar

-0.095 yang menunjukkan adanya korelasi.

Untuk korelasi pada strain based conflict menunjukkan bahwa korelasi

antara strain based conflict-work interference family dan dyadic consensus

dengan koefision korelasi sebesar -0.117, korelasi pada strain based

conflict-family interference work dan dyadic consensus menunjukkan keofisien korelasi

(19)

9

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

conflict-work interference family dan dyadic cohesion menunjukkan keofisien

korelasi sebesar -0.252** yang menunjukkan adanya korelasi, korelasi pada strain

based conflict-family interference work dan dyadic cohesion menunjukkan

keofisien korelasi sebesar -0.238** yang menunjukkan adanya korelasi, korelasi

pada strain based conflict-work interference family dan dyadic satisfaction

menunjukkan keofisien korelasi sebesar -0.133 yang menunjukkan adanya

korelasi dan korelasi pada strain based conflict-family interference work dan

dyadic satisfaction menunjukkan keofisien korelasi sebesar -0.099 yang

menunjukkan adanya korelasi.

Yang terakhir, korelasi antara behavior based conflict-work interference

family dan dyadic consensus dengan koefision korelasi sebesar -0.051, korelasi

pada behavior based conflict-family interference work dan dyadic consensus

menunjukkan keofisien korelasi sebesar -0.066 yang menunjukkan adanya

korelasi, korelasi pada behavior based conflict-work interference family dan

dyadic cohesion menunjukkan keofisien korelasi sebesar -0.118 yang

menunjukkan adanya korelasi, korelasi pada behavior based conflict-family

interference work dan dyadic cohesion menunjukkan keofisien korelasi sebesar

-0.185 yang menunjukkan adanya korelasi, korelasi pada behavior based

conflict-work interference family dan dyadic satisfaction menunjukkan keofisien korelasi

sebesar 0.019 yang menunjukkan tidak ada korelasi dan korelasi pada behavior

based conflict-family interference work dan dyadic satisfaction menunjukkan

(20)

10

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha Berdasarkan hasil korelasi diatas, peneliti melihat bahwa hubungan yang

signifikan antara strain based conflict-work interference family dan dyadic

cohesion. Kondisi ini menjelaskan bahwa konflik yang dialami oleh pasangan

suami-istri bekerja ketika ketegangan yang dirasakan pada tuntutan peran saat

bekerja mempengaruhi dalam pelaksaan tuntutan peran keluarga khususnya pada

pasangan, yang bisa disingkat dengan SBC-WIF. Ketegangan-ketegangan pada

tuntutan peran pekerjaan yang dialami oleh pasangan suami istri dapat menggugah

emosi suami maupun istri yaitu adanya perasaan cemas, lelah, tegang saat bekerja.

Hal ini didukung oleh penelitian Bartolome dan Evans menunjukkan bahwa

beberapa peristiwa stres di tempat kerja (khususnya, mengatasi pekerjaan baru,

kurang sesuainya pekerjaan dengan kemampuan, dan kekecewaan karena harapan

yang tak terpenuhi) menghasilkan kelelahan, ketegangan, cemas, atau frustrasi

yang membuat sulit untuk mengejar kepuasan hidup di luar pekerjaan, yaitu

dyadic cohesion pada pasangan suami istri.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada 99 pasangan suami istri

bekerja mengenai hubungan antara SBC-WIF dan dyadic cohesion diperoleh hasil

bahwa sebanyak 48,48% istri dan 49.49% suami merasakan bahwa SBC-WIF

dikategorikan rendah tetapi dyadic cohesion yang dirasakannya dikategorikan

tinggi. Pada kondisi ini, suami dan istri merasakan adanya keseimbangan dalam

menjalan perannya dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan sehingga mereka

tidak merasakan adanya kelelahan maupun ketegangan yang dirasakan.

(21)

11

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha pada aktivitas bersama yang mampu meningkatkan kedekatan masing-masing

pandangan dan menikmati kebersamaan mereka.

Sebaliknya, sebanyak 8,08% istri dan 3,03% suami mengalami SBC-WIF

dengan kategori tinggi dan dyadic cohesion rendah. Istri dan suami ini merasakan

bahwa konflik yang mereka rasakan menimbulkan ketegangan atau kelelahan

pada satu peran mempengaruhi kinerja dalam peran yang lain, seperti stres di

tempat kerja menjadikan mereka sulit untuk menjadi pasangan yang penuh

perhatian terhadap pasangannya. Hal ini dapat menurunkan aktifitas bersama

pasangan dan menikmati kegiatan tersebut yang disebut dengan dyadic cohesion.

Para suami dan istri jarang untuk melakukan diskusi mengenai

permasalahan-permasalahan yang terjadi pada dirinya dan jarang untuk pergi berdua atau

melakukan kegiatan rekreatif yang dapat meningkatkan kepuasan dalam

pernikahan mereka.

Sebanyak 8,08% istri dan 1,01% suami mengalami SBC-WIF dengan

kategori tinggi dan dyadic cohesion tinggi. Istri dan suami ini merasakan bahwa

konflik yang mereka rasakan menimbulkan ketegangan atau kelelahan pada satu

peran mempengaruhi kinerja dalam peran yang lain. Walaupun peran lain dirasa

terganggu pelaksanaannya, pasangan suami istri bekerja ini merasa bahwa adanya

dyadic cohesion diantara mereka.

Sebanyak 35,35% istri dan 46,46% suami mengalami SBC-WIF dengan

kategori rendah dan dyadic cohesion rendah. Keadaan ini menyatakan bahwa

pasangan suami istri bekerja merasa dyadic cohesionnya rendah bukan karena

(22)

12

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha Berasarkan hasil survey diatas, terlihat bahwa sedikit suami maupun istri

yang merasakan adanya SBC-WIF tinggi dan dyadic cohesion rendah. Walaupun

hanya menjadi hasil yang minoritas, keadaan yang dialami suami-istri bekerja

dengan SBC-WIF tinggi dan dyadic cohesion rendah ini adalah adanya perasaan

kurang kurang puas terhadap pernikahannya itu banyak dialami oleh suami

maupun istri. Perasaan kurang puas yang dirasakan oleh pasangan suami istri yang

bekerja ini terlihat pada kurang adanya kegiatan bersama dan menikmati adanya

kebersamaan. Kurang adanya intensitas dyadic cohesion ini terlihat karena adanya

tuntutan dari pekerjaan mereka. Hal ini terlihat dari data penunjang yang

diperoleh peneliti.

Data penunjang yang diperoleh berupa jumlah waktu kerja dan jarak antara

kantor dan rumah yang mempengaruhi SBC-WIF terlihat berpengaruh terhadap

istri. Terlihat disini bahwa seluruh istri yang mengalami SBC-WIF tinggi

merasakan bahwa jadwal waktu kerja membuat mereka merasa lelah saat bekerja

sehingga membuat mereka kurang memiliki kesempatan untuk menghabiskan

kegiatan bersama pasangannya karena energinya yang sudah terkurang oleh

pekerjaan. Selain itu juga sebanyak 83,87% istri merasakan jarak kantor dan

rumah selama 1 jam mempengaruhi pasangan suami istri bekerja dalam

merasakan adanya SBC-WIF. Dalam hal ini pasangan suami istri bekerja

merasaka jarak tempuh yang begitu lama membuat mereka lelah sampai di rumah

sehingga membuat mereka sulit untuk melaksanakan kegiatan rumah tangga.

Menurut Walters dan McKamny (dalam Rini, 2002; dalam Daeng, 2010)

(23)

13

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha menimbulkan konflik peran dalam diri pasangan. Konflik peran yang dirasakan

masing-masing pasangan suami istri dapat menghasilkan stress yang akan

berdampak pada kepuasan pernikahan. Konflik peran yang terjadi pada pasangan

suami-istri bekerja ini yaitu SBC-WIF yang dirasakan merupakan salah satu

kondisi kritis dalam kehidupan pernikahan. Untuk mengatasi kondisi tersebut,

maka dibutuhkan adanya proses interaksi diantara pasangan suami-istri melalui

diskusi dan melakukan aktifitas bersama sehingga dapat meningkatkan adanya

dyadic cohesion. Menurut Anderson menyatakan bahwa pasangan yang

merespon peristiwa-peristiwa krisis dengan baik mempunyai derajat kedekatan

(cohesion), ikatan emosi dan kemampuan untuk beradaptasi yang tinggi (dalam

Miranda, 1995; Fajriyani, 2007). Pasangan suami istri yang dapat melakukan

penyesuaian, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari akan

memperbesar kemungkinan memperoleh kepuasan dalam hidup. Olson &

Fowers (1989 ) menyatakan bahwa kepuasan pernikahan merupakan hal yang

paling menonjol dalam menggambarkan kepuasan hidup individu. Oleh karena

pentingnya interaksi dyadic cohesion pada pasangan suami istri bekerja dalam

memperoleh kepuasan pernikahan maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu

kegiatan yang memfasilitasi pasangan suami istri bekerja yang merasa memiliki

SBC-WIF dengan kategori tinggi yang mengakibatkan dyadic cohesion-nya

rendah.

Ada beberapa macam kegiatan yang bisa digunakan dalam memfasilitasi

pasangan suami istri untuk meningkatkan dyadic cohesion namun peneliti dalam

(24)

14

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha mempertimbangkan efisiensi waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran di

level learning. Metode intervensi berupa pelatihan yang digunakan lebih

memberikan pengembangan secara sistematis mengenai pengetahuan yang

dibutuhkan pasangan suami istri bekerja. Hal ini seperti yang didefinisikan oleh

Lucas (1994), pelatihan atau training didefinisikan sebagai suatu aktifitas formal

maupun non formal yang berkontribusi untuk meningkatkan pengetahuan,

keterampilan dan tingkat kemampuan seseorang.

Adapun pelatihan yang dilaksanakan yaitu pelatihan untuk memberikan

pengetahuan dan keterampilan mengenai SBC-WIF pada pasangan suami istri

bekerja agar mereka dapat meningkatkan dyadic cohesion sehingga mereka

memperoleh kepuasan dalam pernikahannya. Pelatihan SBC-WIF dilakukan

dengan cara mengajarkan kepada responden mengenai pengelolaan stress

(manajemen stress) sehingga dapat meningkatkan dyadic cohesion.

Pengelolaan stress adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan

dirinya ketika situasi dan kejadian yang ada memberikan tuntutan yang

berlebihan. Ketika individu pasangan suami istri merasakan adanya tuntutan yang

berlebihan, yang datang dari pekerjaan (seperti tugas-tugas yang banyak dan

tuntutan produktifitas) maka pasangan tersebut akan merasakan stress seperti

munculnya ketegangan, kecemasan. Jika tuntutan peran yang ada tidak dapat

di-managemen dengan baik, hal ini dapat meningkatkan SBC-WIF. Oleh karena itu,

pengelolaan stress itu penting dilakukan untuk mengelola pikiran, emosi,

(25)

15

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha Salah satu cara yang dapat dilakukan seperti melalui relaksasi

(http://helpguide.org/mental/stress_management_relief_coping.htm). Tujuan

utamanya adalah untuk mencapai kehidupan yang seimbang pada tiap-tiap

perannya baik untuk urusan keluarga dan bekerja maka konflik yang dirasakan

akan menurun sehingga dapat meningkatkan dyadic cohesion.

Dari kegiatan pelatihan SBC-WIF tersebut dapat diharapkan pasangan

suami istri yang bekerja dalam menjalankan tuntan perannya yang terkait dengan

dyadic cohesion. Dengan demikian, penelitian ini akan membuat rancangan

modul pelatihan SBC-WIF dalam rangka meningkatkan dyadic cohesion pada

pasangan suami istri yang bekerja.

1.2. IDENTIFIKASI MASALAH

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini dapat dirumuskan

sebagai berikut: Bagaimana rancangan modul dan uji coba modul pelatihan

SBC-WIF dapat meningkatkan dyadic cohesion pada pasangan suami istri yang

bekerja?

1.3. MAKSUD DAN TUJUAN

1.3.1. Maksud Penelitian

Maksud penelitian ini adalah:

a) Membuat rancangan modul pelatihan SBC-WIF dalam

meningkatkan dyadic cohesion pada pasangan suami istri yang

(26)

16

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha b) Melakukan uji coba modul pelatihan SBC-WIF dalam

meningkatkan dyadic cohesion pada pasangan suami istri yang

bekerja.

1.3.2. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

a) Mengetahui gambaran lebih lanjut mengenai hasil uji coba

modul pelatihan SBC-WIF dalam meningkatkan dyadic

cohesion pada pasangan suami istri yang bekerja.

b) Mengetahui apakah modul pelatihan SBC-WIF dalam

meningkatkan dyadic cohesion pada pasangan suami istri yang

bekerja dapat digunakan atau tidak.

1.4. KEGUNAAN PENELITIAN

1.4.1. Kegunaan Teoritis

a) Memberi sumbangan pengetahuan bagi mahasiswa yang

berminat pada penelitian bidang psikologi keluarga maupun

psikologi industri dan organisasi, khususnya dengan hal yang

berkaitan dengan SBC-WIF dengan dyadic cohesion yang

dirasakan oleh pasangan suami istri bekerja.

b) Memberikan tambahan bahan acuan untuk penelitian

(27)

17

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

conflict dan marital satisfaction khususnya pada SBC-WIF

dan dyadic cohesion pada pasangan suami istri yang bekerja.

1.4.2. Kegunaan Praktis

a) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi

trainer dalam menangani pasangan suami-istri bekerja yang

mengalami SBC-WIF untuk meningkatkan dyadic cohesion..

b) Diharapkan modul pelatihan yang disusun juga dapat berguna

sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya untuk

melihat efektivitas pelatihan SBC-WIF dalam meningkatkan

dyadic cohesion pada pasangan suami istri yang bekerja. .

1.5. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini untuk menghasilkan modul pelatihan SBC-WIF dalam

meningkatkan dyadic cohesion pada pasangan suami istri yang bekerja.

Adapun rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Bagan 1.1 Rancangan Penelitian

Dyadic cohesion ↓ & SBC-WIF ↑

Pelatihan SBC-WIF Pasangan

suami istri yang bekerja

(28)

111

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh, maka

peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

1) Rancangan modul pelatihan SBC-WIF secara umum mendapatkan reaksi

positif dari pasangan suami-istri yang bekerja yang menjadi responden

dalam pelatihan.

2) Pelatihan yang digunakan untuk meningkatkan dyadic cohesion ini juga

memberikan manfaat mengenai pengetahuan dan penyadaran diri

mengenai SBC-WIF.

3) Terdapat adanya perbedaan dyadic cohesion pada pasangan suami istri

sebelum dan sesudah pelatihan sehingga pelatihan SBC-WIF dapat

digunakan untuk meningkatkan dyadic cohesion pada pasangan suami istri

yang bekerja.

5.2. SARAN

5.2.1. SARAN TEORITIS

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab

(29)

112

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha 1. Mengadakan penelitian dengan menggunakan jumlah sampel yang

banyak agar modul pelatihan yang digunakan dapat digeneralisasikan

untuk sampel lain.

2. Mengadakan penelitian dengan menggunakan sampel berbeda dengan

metode penelitian yang sama. Hal ini dimaksudkan agar dapat melihat

keefektifan pelatihan SBC-WIF dalam meningkatkan dyadic cohesion

pada pasangan suami istri bekerja.

5.2.2. SARAN PRAKTIS

Pelatihan SBC-WIF masih membutuhkan adanya revisi sebelum

digunakan oleh trainer ataupun peliti selanjutnya dalam meningkatkan dyadiac

cohesion pada pasangan suami istri agar dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai

yaitu:

1) Pada sesi “Pahami Lelahmu” dalam penanyangan film perlu diberikan

adanya pengantar. Hal ini diharapkan agar responden pelatihan dapat

mengikuti alur pemikiran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai

2) Pada sesi “Fun Time” yang berkaitan dengan penyusunan rencana

kegiatan perlu diberikan jangka waktu lebih setelah untuk

memperoleh feedback mengenai perencanaan yang dibuat dapat

dilaksanakan atau tidak. Hal ini diharapkan agar responden pelatihan

benar mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya setelah

(30)

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Barling, J.,Kelloway, F. Kelvin, & Frone, Michael R.1999. “Handbook of Work Stress”. California: Sage Publications Inc.

DeGenova, Maty Kay. 2009. ”Intimate, Rletaionship, Marriage & Families”.

Seventh Edition.New York : McGraw Hill. Companies.

Gulo W. 2002. Metodologi Penelitian. PT.Gramedia Widiasarana. Jakarta.

Hendrick, S. & Hendrick, C. 1992. “Liking, Loving, and Relation (second edition)”. California: Brooks/Cole Pub.Co.

Hurlock, E. B.2002. “Psikologi Perkembangan”.5th edition . Jakarta : Erlangga.

Kirkpatrick, Donald L. 1998. “Evaluating Training Programs, The Four Levels, Second Ed”. San Fransisco : Berrett-Koehler Pub.Inc.

Khan, R.L, Wolfe, D.M, Quin, R,Snoek, J,D dan Rosenthal, R.A.1964.”Organizational stress: Studies in role confict and ambiguitas”. New York: Wiley.

Myers.2001. “Social psychology (fifth edition)”. New York : McGrawHillCompanies, Inc.

Olson, D.H & Defrain, J. 2006. “Marriages, diversity and strengths (5ed)”. New York. Mc Graw Hill Company.

Papalia, D.E., Olds. S.W., & Feldman R. D. 2007. “Human Development 10th ed”. New York : McGraw Hill. Companies.

Perrewe, Pamela L., Ganster, Daniel C. 2007. “Exploring The Work And

Non-work Interface” (first edition). USA: Elsevier.

Santrock, John. W. 1998. “Adolecence 7th ed”. New York : McGraw Hill. Companies.

Sarbin, T.R. & Allen, V.L. 1968. “Role theory, handbook of social psychology “:

Vol 1. Massachusetts. Addison Wesley publisher co.

Shaevitz. 2000. “Wanita Super”. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Supranto. 1998. “Teknik Sampling Untuk Survei dan Eksperimen”. Jakarta: Rineka Cipta.

(31)

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR RUJUKAN

Bernett., Del Campo., Del Campo., Stainer. 2003. “Work and Family Balance among dual earner working-class Mexican-American”. Implacation for Therapists. Contemporary Family Therapy, 25 (4), 353-366.

Bhowon, Umo. 2005. “Work and Family: Conflict, Role Salience and Satisfaction”. [on-line]. Tanggal akses : 17 Agustus 2011. Available FTP : http://vcampus.uom.ac.mu/researchweek/rw08/posters/eg2/abstract72.doc.

Busby, Dean M., Christensen, Clark., Crane, D. Russell., Larson, Jeffry H. 1995. “A Revison Of The Dyadic Adjustment Scale For Use The Distressed And Nondistressed Couples: Construct Hierarchy And Multidimentional Scales”. Journal Of Marital and Family Therapy Vol. 12, No. 3, 299-308.

Carlson., Kacmar., Williams. 2000. “Construction and Initial Validation Of A Multidimentional Measure Of Work Family Conflict”. Journal of Vocational Behavior, vol. 56, pg. 249-276.

Christine, Megawati Oktorina, dan Indah Mulia. 2010. “Pengaruh Konflik Pekerjaan dan Konflik Keluarga Terhadap Kinerja dengan Konflik Pekerjaan Keluarga Sebagai Intervening Variabel (Studi pada Dual Career Couple di Jabodetabek)”. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, Vol. 12, No. 2, September 2010.

Damayanti, Natalia. 2011. “Tesis: Perancangan dan Uji Coba Modul Pelatihan Self Regulation Fase Forethought bidang akademik pada siswa kelas VIII di SMP “X” Bandung”. Bandung : Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

Derya, Selin. 2008. “Thesis : Crossover Of Work Family Conflict : Antecedent and Consequences Of Crossover Process In Dual Earner Couples”. Turkey : Psychology of Koc University.

Desmayanti, Shintya. 2009. “Skripsi : Hubungan Resolusi Konflik dan Kepuasan Pernikahan pada Pasangan Suami Istri Bekerja Pada Masa Awal Pernikahan”. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Dinna, Manisha. 2005. “Marital Satisfaction in Autonomous and Arranged

Marrieges: South African Indian Sample.” South African: University of Pretoria.

(32)

Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha Frone., Russel., and Cooper. 1992. “Antecedents and outcomes of work-family

conflict: Testing a model of the work-family interface”. Journal of Applied

Psychology, 77 (1):65–78.

Greenhaus., and Beutell. 1985. “Sources of Conflict between Work and Family Conflict Roles”. The Academy of Management Review, Vol. 10, No. 1 (Jan., 1985), pp. 76-88.

Guitian, Gregorio. 2009. “ Conciliating Work and Family: a Catholic Social

Teaching Perspective”. Journal of Business Ethic, 88: 513-524.

Higgins, Christhoper A., and Duxbury, Linda E. 1992. “Work Family Conflict : A Comparison of Dual Career and Traditional Career Men.” Journal Of

Organizational Behavior. 13 :389 – 411.

Hassan, R. (2004, 19 Juni). Usia Lima Tahun Perkawinan Rawan. Diakses 28 juni 2012 dari http://www.republika. co.id.

Malekiha., Baghban., Fatehizade. 2008. “Study Of Effect Shiftwork On Work Family Conflict And Marital Satisfaction In Female Nurse Of Educational Hospital”. Journal Of Behavioral Sciences vol. 2, no. 3, pg 253-262.

Minnote, Krista L., Minnotte, Michael C., Pedersen, Daphne E., Mannon, Susan E., Kiger, Gary. 2010. “His and Her Perspectives : Gender Ideology, Work to Family Conflict, and Marital Satisfaction”. [online]. diakses 8 Agustus 2011. http://www.mendeley.com/research/perspectives-gender-ideology-worktofamily-conflict-marital-satisfaction/#page-1.

Mufida, Alia. 2008. “Skripsi : Hubungan Work Family Conflict dengan Psychological Well Being Ibu yang Bekerja”. Jakarta : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Olson, D. H., Fowers, B. J. (1989). Enrich Marital Inventory : A discriminant Validity and CrossValidity Assesment. [online]. Tanggal Akses : 16 Febuari 2012. Available FTP : www.prepareenrichcanada.com/studies/study3.html.

Prawitasari, A. K ; Purwanto, Y ; Yuwono, S. 2007. “Indigenous Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi. Hubungan Work-Family Conflict Dengan Kepuasan Kerja Pada Karyawati Berperan Jenis Kelamin Androgini di PT. Tiga Putra Abadi Perkasa Cabang Purbalingga”. Jurnal Manajemen Vol 9, no. 2.

Schumm., Paff-Bergen., Hatch., Obiorah., Copeland., Meens., et al. 1986. “Concurrent and Discriminant Validity of The Kansas Marital Satisfaction Scale”. Journal Of Marriage and the Family, 48, 381-387.

Wismanto, B. Kepuasan Perkawinan Diperoleh Dari Komitmen Perkawinan. Diakses 28 Juni 2012 dari http://www.unika.ac.id/warta/22082005.htm.

Referensi

Dokumen terkait

Sekali cewek tahu bahwa kamu ingin memanjakannya atau berusaha membeli perhatiannya dengan hadiah, jika si cewek juga berniat menipu, maka dia akan tega

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan taufik hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul

Bersama ini kami mangundang saudara untuk melakukan pembuktian kualifikasi pekerjaan Pengawasan Teknis Pembangunan Jalan Soribo yang akan dilaksanakan pada :. Hari :

Penelitian yang dilakukan oleh Melati Azizka Fajria tentang pengukuran zat besi dalam bayam merah dan suplemen penambah darah serta pengaruhnya terhadap hemoglobin dan

7: Multimedia Networking 7-17 Protocols for real-time interactive applications.  R eal- T ime P rotocol : A real-time interactive protocol that can be used for transporting

Karsinoma Nasofaring Dalam :Buku Ajar Telinga Hidung, Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi 6,

39 Pemberian GCSF pada manusia dapat meningkatkan jumlah sel yang mengekspresikan molekul penanda CD133 dan VEGFR-2 (molekul penanda untuk EPC yang juga merupakan reseptor dari

Untuk mengungkap persoalan tersebut secara menyeluruh dan mendalam, dalam penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif, data diperoleh melalui metode observasi,