• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR QAWAID JENIS ISM DENGAN DISCOVERY LEARNING BERBANTUKAN VIDEO PEMBELAJARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR QAWAID JENIS ISM DENGAN DISCOVERY LEARNING BERBANTUKAN VIDEO PEMBELAJARAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1042 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

PENINGKATAN HASIL BELAJAR QAWAID JENIS ISM DENGAN DISCOVERY LEARNING BERBANTUKAN

VIDEO PEMBELAJARAN

Anjar Setyawan

Pendidikan Profesi Guru, IAIN Palangka Raya Email : [email protected]

ABSTRAK

Penerapan model discovery learning berbantu video pembelajaran merupakan salah satu alternatif guru dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Arab terutama materi qawaid jenis ism. Sebagaimana permasalahan yang dihadapi peserta didik kelas X MIPA 1 MAN 3 Banjar rendahnya nilai tugas dan kurangnya perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran terutama pelajaran qawaid. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar qawaid jenis ism dengan kombinasi model discovery learning berbantu video pembelajaran dalam penyampaian materi. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua tindakan. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X MIPA 1 MAN 3 Banjar yang berjumlah 22 orang. Sumber data yang digunakan berasal dari guru dan peserta didik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimana pretes di siklus I dengan rata-rata 63,18 kemudian posttest siklus I dengan rata-rata 68,63. Pada siklus II rata-rata nilai posttest 77,95. Peserta didik yang telah tuntas mencapai 17 orang (77,2 %) dari total 22 orang. Simpulan dari penelitian ini adalah penerapan model discovery learning berbantu video pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar qawaid peserta didik.

Kata Kunci : qawaid, discovery, video.

PENDAHULUAN

Bahasa Arab merupakan mata pelajaran wajib yang ada pada Madrasah.

Dalam belajar bahasa Arab diajarkan empat keterampilan (maharah). Maharah tersebut adalah maharah istima`, kalam, qiraah dan kitabah. Dalam proses berbahasa, terdapat istilah tata bahasa,yang walaupun orang bisa berbahasa tidak harus memahami tata bahasa, namun pada praktiknya seseorang yang

(2)

1043 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

berbahasa dan berpendidikan tentunya mempraktikkan tata bahasa tersebut, sehingga bahasa yang diucapkan baik dan benar sesuai dengan kaidah asal bahasa arab serta santun dalam berbahasa.

Proses pembelajaran merupakan interkasi yang melibatkan berbagai hal, seperti sumber belajar, media pembelajaran, serta lingkungan dimana peserta didik belajar untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang menghasilkan sikap, baik sikap spiritual maupun sikap sosial, yang mana keberhasilan dalam belajar memerlukan sumber dan lingkungan yang tepat agar hasil belajar dapat optimal. Kegiatan pembelajaran harus mendukungnya dengan cara (Sanjaya 2011: 102-103) 1) harus berpusat pada peserta didik bukan pada guru (student centered bukan teacher centered), 2) mengembangkan kreatifitas peserta didik, menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang, 3) mengintegrasikan nilai, etika, estetika, logika, kinestetika dan 4) menyediakan pengalaman belajar yang beragam tentunya dengan strategi yang beragam pula.

Namun pada kenyataan di dalam kelas, proses pembelajaran masih memerlukan strategi dari guru agar peserta didik dapat belajar dengan kondusif dan berjalan dengan menyenangkan. Metode pembelajaran yang monoton seperti pemberian tugas menjawab soal, tanpa pemahaman peserta didik terhadap tugas tersebut akan membuat mood peserta didik berkurang dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Dari segi peserta didik, masih ada peserta didik yang kurang perhatian dengan pelajaran ditandai dengan PR yang masih dikerjakan di kelas, terlambat mengumpulkan tugas, disamping itu latar belakang peserta didik yang lulusan SMP juga memerlukan perhatian lebih dibanding peserta didik lulusan Madrasah Tsanawiyah yang lebih dulu mengenal istilah-istilah dalam Bahasa Arab, sehinga peserta didik dari lulusan madrasah tsanawiyah diasumsikan akan lebih cepat dalam menerima materi. Hasil penilaian harian sementara, peserta didik diberikan soal tentang klasifikasi jenis ism yang terdiri dari ism mufrad, ism mutsanna dan ism jamak masih perlu untuk diulang kembali materi tersebut karena peserta didik masih belum begitu jeli dalam membedakan mana ism mufrad, ism mutsanna, jamak muzakkar,muannats dan taksir dalam sebuah teks bahasa Arab.

Madrasah Aliyah Negeri 3 Banjar selanjutnya disingkat MAN 3 Banjar, merupakan salah satu Madrasah Aliyah Negeri yang ada di Kabupaten Banjar dengan jumlah kelas 15 kelas, dengan jurusan Matematika dan Ilmu Pengetauan Alam( MIPA), Sosial dan Keagamaan. Madrasah ini menggunakan kurikulum 2013 khususnya pembelajaran bahasa Arab mengacu pada KMA 183 pada kurikulum serta materi yang digunakan. Bahasa Arab merupakan bahasa

(3)

1044 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

yang sangat kompleks dengan berbagai kekayaannya,sehingga dalam mempelajari bahasa diperlukan keteampilan khusus dalam mengajarkannya, seperti pengucapan makharijul huruf terutama pada huruf yang mirip dalam pengucapan dan sebagainya. Selain itu faktor latar belakang pendidikan peserta didik khususnya siswa/i kelas X yang masih memerlukan adaptasi dalam pembelajaran di tingkat aliyah.

Berkaitan permasalahan tersebut, ternyata pembelajaran yang berpusat pada guru hanya mengaktifkan sebagian indra saja, mungkin indera pendengaran saja apabila tanpa ada media yang dapat dilihat yang mengandung pesan materi didalamnya. Tentunya diperlukan kreatifitas guru dalam memanfaatkan teknologi dan informasi dari berbagai sumber. Hal yang mendukung digunakannya media karena di kelas telah disediakan proyektor serta jaringan internet yang mendukung, sehingga penggunaan media seperti video pembelajaran bisa dengan mudah di akses. Namun penggunaan media saja belum cukup tanpa adanya strategi dan model pembelajaran yang membuat peserta didik aktif. Septian mengemukakan bahwa Discovery ialah proses mental dimana peserta didik mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolonggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini peserta didik dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri(Septian, 2016: 1). Model pembelajaran discovery learning merupakan model pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk berpengalaman dalam menemukan konsep dari suatu permasalahan yang dihadapi melalui penemuan informasi dengan serangkaian kegiatan yang difasilitasi oleh guru (Suphi & Yaratan, 2016).

Model discovery ini merupakan anak dari teori belajar konstruktivisme.

Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan orang lain, sehingga teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan, atau teknologi dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.( Sugrah, 2019: 121). Hosnan mengemukakan bagaimana karakteristik ciri utama belajar peserta didik.

Adapun ciri utama belajar menemukan, yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan,

(4)

1045 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

danmenggeneralisasikan pengetahuan; (2) berpusat pada peserta didik; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada (Hosnan, 2018: 184). Sedangkan langkah kerja (sintak) model discovery learning dalam pembelajaran penyingkapan/ penemuan adalah sebagai berikut:1) Pemberian rangsangan (stimulation); 2) Pernyataan/Identifikasi masalah (problem statement); 3) Pengumpulan data (data collection); 4) Pengolahan data (data processing);. 5) Pembuktian (verification); dan 6) Menarik simpulan/generalisasi (generalization).

Adapun video pembelajaran, telah diketahui bersama bahwa video terdapat gambar bergerak, suara dan terkandung alur dalam video tersebut. Ini akan lebih mengaktifkan visual dan audio peserta didik sehingga diasumsikan semakin banyak indera yang terlibat dalam pmbelajaran,akan lebih mempercepat peserta didik dalam proses menyerap pesan pembelajaran,ini sesuai dengan pendapat Zainal Aqib, 2014: 48 Manusia pada hakikatnya dapat belajar melalui enam tingkatan (Vernon A. Magnesen), yaitu:

1. 10% dari apa yang DIBACA, 2. 20% dari apa yang DIDENGAR, 3. 30% dari apa yang DILIHAT,

4. 50% dari apa yang DILIHAT dan DIDENGAR, 5. 70% dari apa yang DIKATAKAN,

6. 90% dari apa yang DIKATAKAN dan DILAKUKAN.

Berdasarkan fakta lapangan dan kondisi ideal yang dikemukakan di atas, artikel ini bertujuan untuk untuk mengetahui bagaimana penerapan model discovery learning dan pemanfaaan video pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar materi jenis-jenis ism mufrad, mutsanna dan jamak baik jamak muzakkar salim,muannats salim serta jamak taksir di kelas X MIPA MAN 3 Banjar.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian termasuk penelitian tindakan kelas atau PTK yang dilaksanakan di MAN 3 Banjar Provinsi Kalimantan Selatan yang berlangsung antara bulan November s.d. Desember 2022 / dua (2) bulan dengan kegiatan meliputi (1) persiapan-persiapan, (2) pelaksanaan tindakan dan (3) menyusun laporan. Dalam penelitian ini, yang menjadi subyek penelitian adalah peserta didik kelas X MIPA MAN 3 Banjar tahun pelajaran 2022/2023. Adapun jumlah peserta didik 22 orang yang terdiri dari laki-laki sejumlah 7 orang siswa dan perempuan sejumlah 15 orang siswi.

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini meliputi: 1) Tes; 2) Observasi,dan 3) Pengamatan. untuk teknik jenis tes yang

(5)

1046 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

digunakan adalah pretest dan posttest. Menurut Zainal Arifin (2016:118) tes merupakan suatu teknik yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran yang di dalamnya terdapat berbagai pertanyaan, atau serangkaiaan tugas yang harus dikerjakan atau dijawab peserta didik untuk mengukur aspek perilaku peserta didik. Tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan siswa terhadap materi qawaid tentang Jenis Ism. Tes yang digunakan adalah tes jenis tertulis bentuknya tes subjektif dan objektif. Pretest dilakukan pada saat pra siklus, untuk mengetahui kemampuan awal siswa seblum tindakan dilakukan. Posttest diberikan setelah rencana tindakan selesai dilaksanakan. Pada saat refleksi, peneliti akan membandingkan hasil pretest dan posttest sebagai data untuk menentukan langkah berikutnya. Dalam teknik ini, penulis mnggunakan alat tes soal pilihan ganda dengan 5 opsi pilihan. Materi yang dipilih adalah materi kelas X Bab ةسردملا dengan sub bab qaidah yang membahas tentang jenis ism mufrad,mutsanna dan jamak(muzakkar,muannats dan taksir). Adapun tingkat kesulitan soal di tingkat C2 (sedang) terdapat 80% soal dan C3(sulit) sekitar 20% soal.

Dalam teknik observasi/pengamatan, penulis meneliti data dari guru dengan menggunakan observer dari guru/teman sejawat dan data siswa.

Adapun indikator pengamatan guru adalah Melaksanakan prapembelajaran(Salam, Senyum, Sapa), absensi, pemberian motivasi, appersepsi, penyampaian tujuan, mengelompokkan siswa, membagikan LKPD, proses stimulasi, problem statement, data collection, data prosesing dan generalisasi.

Sedangkan indikator pengamatan peserta didik adalah kesiapan belajar, menyimak video dengan baik, Memperhatikan penjelasan guru dan kelompok lainnya, keaktifan bertanya, keaktifan dalam diskusi kelompok, keberanian dalam mendemonstrasikan hasil, menyimpulkan hasil pelajaran.

Untuk teknik dokumentasi, pengumpulan data penulis mengumpulkan hasil tes, hasil observasi dan dokumen lain yang berhubungan dengan penelitian. Untuk data terdapat dua(2) macam, 1) Data kualitatif, dan 2) data kuantitatif.

Dalam menganalisis data dan persentase ketuntasan belajar digunakan rumus berikut:

% Tuntas =Σ TB

𝑁

Persentase Ketuntasan Belajar Peserta didik Σ TB : Jumlah tuntas

N : Jumlah seluruh Peserta didik

(6)

1047 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

Indikator kinerja dalam penelitian adalah proses pembelajaran bahasa Arab materi qawaid tentang Ism Mufrad, Mutsanna dan Jama` pada peserta didik kelas X MIPA MAN 3 Banjar semester ganjil tahun pelajaran 2022/2023, lebih menarik, tidak membosankan, dan interaksi antara siswa dengan guru aktif.

Kemudian dari segi nilai mata pelajaran bahasa Arab kemampuan materi qawaid tentang Ism Mufrad, Mutsanna dan Jama` siswa kelas X MIPA MAN 3 Banjar semester ganjil tahun pelajaran 2022/2023 dari 22 siswa 75% mencapai nilai 75, dan rata-rata kelas mencapai 75%.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti diketahui bahwa peserta didik Kelas X MIPA 1 MAN 3 Banjar mengalami problem dalam pelajaran materi qawaid ism mufrad, mutsanna dan jamak. Hanya 7 siswa yang mendapatkan nilai di atas (KKM) 75. Hasil belajar rendah tersebut disebabkan karena kurang tepatnya metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran. Saat guru menjelaskan materi pelajaran, tak sedikit siswa yang kurang memperhatikan bahkan ada juga yang berbicara sendiri dengan siswa lainnya. Dari tabel perolehan nilai hasil belajar siswa pada materi ism mufrad,mutsanna dan jamak pada waktu pra siklus nilai rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai (7 siswa dari 22 orang) atau 31 % yang memenuhi nilai KKM. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa pada ism mufrad,mutsanna dan jamak masih rendah.

Tabel 1. Prosentase Ketuntasan Hasil Pretest No Ketuntasan Frekuensi Prosentase

1 Tuntas 7 31,8%

2 Belum Tuntas 15 68,2%

Pada tahap perencanaan ini, peneliti merencanakan melakukan 2 kali pertemuan untuk siklus 1, peneliti menyiapkan 2 RPP terkait pembelajaran qawaid. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari senin, tanggal 30 Nopember 2022, pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2022. Pada siklus 1, diberikan penjelasan mengenai jalannya proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning berbantu video. Pelaksanaan pembelajaran ditunjang dengan RPP dan LKPD yang telah disesuaikan dengan model pembelajaran. Pada awal pembelajaran, disampaikan tujuan pembelajaran, menampilkan video tentang jenis ism mufrad,mutsanna dan jamak, (Stimulasi) dan mengungkapkan permasalahan(problem statement), lalu meminta peserta didik berkelompok sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan dan mengumpulkan data(data collection) melalui media video, internet dan buku terkait. selanjutnya memverifikasi data dengan presentasi ke depan kelas, kemudian diberikan soal

(7)

1048 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

melalui google form dikerjakan secara teliti, sehingga diperoleh jawaban yang benar. Setelah selesai proses presentasi dilanjutkan dengan generalisasi dan menutup pelajaran.

Setelah posttest diberikan, dilakukan penilaian oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata 68,63. Berikut ini tabel rekapan ketuntasan hasil belajar:

Tabel 2. Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Peserta didik Siklus 1 No Ketuntasan Frekuensi Prosentase

1 Tuntas 10 45,45 %

2 Tidak Tuntas 12 54,54 %

Dari Tabel 4.2 di atas dapat disimpulkan dengan menerapkan pembelajaran discovery Learning berbantu video pada siklus 1 masih menunjukkan hasil yang belum signifikan berhasil. Peserta didik yang tuntas hanya mencapai 45 % dan belum tuntas 54 %. Dari siklus pertama, diketahui bahwa Peserta didik yang tuntas pada pretest hanya 31 % dan yang tuntas pada posttest 45 %. Kenaikan peserta didik yang mengalami ketuntasan hanya 3 orang yang asalnya 7 orang menjadi 10 orang yang tuntas. Dilihat dari aktivitas peserta didik dan aktivitas guru, kategori keduanya sudah pada posisi baik, namun masih perlu perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran discovery learning berbantu video agar betul-betul maksimal. Karena nilai ketuntasan peserta didik pada materi mufrad mutsanna dengan menggunakan pembelajaran discovery learning berbantu video ini belum mencapai 75%, maka pembelajaran dilanjutkan ke siklus II.

Pra siklus II Berdasarkan hasil dari refleksi siklus I diketahui bahwa peserta didik yang nilainya tuntas hanya 45%. Maka selanjutnya dilakukan persiapan untuk siklus II dengan memperbaiki skenario pembelajaran. peneliti merencanakan melakukan 2 kali pertemuan untuk siklus II peneliti menyiapkan 2 RPP terkait pembelajaran jama’ muzakkar salim, jamak muannats salim dan jamak taksir. Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2022 dan pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 14 Desember 2022. Pelaksanaan dilakukan dengan pembelajaran tatap muka. Dimulai dengan pemberian materi dengan video pada saat pembelajaran serta diskusi.

Kegiatan pembelajaran dihadiri 22 orang siswa dan 1 observer.

Pada siklus 2, pembelajaran sesuai dengan rencana. Peserta didik mulai familiar dengan discovery learning yang diterapkan, sehingga pada siklus 2 pembelajaran dapat lebih kosndusif dari siklus 1. Peserta didik lebih aktif dalam melaksanakan kegiatan belajarnya dan diskusi walau masih perlu bimbingan.

(8)

1049 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

Setelah posttest diberikan, dilakukan penilaian oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata 77,57. Berikut ini table rekapan ketuntasan hasil belajar:

Tabel 3. Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Peserta didik Siklus 2 No Ketuntasan Frekuensi Prosentase

1 Tuntas 17 77,2

2 Tidak Tuntas 5 22,72

Dari tabel 3 di atas dapat disimpulkan dengan menerapkan pembelajaran discovery learning berbantu video pembelajaran pada siklus II telah menunjukkan hasil yang signifikan berhasil. Peserta didik yang tuntas mencapai 77 % dan belum tuntas 22,72 %. Dari siklus kedua, diketahui bahwa peserta didik yang tuntas sebanyak 17 orang pada tes hasil belajar dan yang belum tuntas hanya 5 orang. Dilihat dari aktivitas Peserta didik dan aktivitas guru, kategori keduanya sudah pada posisi baik sekali, Pembelajaran discovery learning ini telah dilaksanakan sesesuai prosedur. Karena nilai ketuntasan Peserta didik pada materi qawaid dengan menggunakan pembelajaran discovery learning ini telah melewati 75%, maka pembelajaran telah berhasil.

Pembelajaran discovery learning berbantukan video dapat menjadi solusi dalam permasalahan pembelajaran terkait materi mufrad,mutsanna dan jamak (muzakkar,muannats dan taksir).

Aktivitas belajar dengan pembelajaran discovery learning berbantu video pembelajaran memungkinkan Peserta didik belajar lebih bebas, disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, dan keterlibatan belajar.

Pembelajaran dengan model discovery berbantu video pembelajaran terdiri dari 6 langkah tahapan yaitu tahapan Pemberian rangsangan (Stimulation), Merumuskan masalah (Problem statement), Mengumpulkan data (data collection), Memproses data (Data processing), Verifikasi data (Verification) dan Menyimpulkan (Generalization). Model tersebut dipilih sebagai salah satu alternatif dalam kegiatan pembelajaran di kelas agar peserta didik dapat belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan orang lain, sehingga teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan, atau teknologi dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri( Sugrah, 2019: 121). Melalui pembelajaran discovery learning berbantu video ini, para peserta didik dapat meningkatkan kompetensinya terutama kompetensi pengetahuan sebagaimana diungkapkan Zainal Aqib, 2014: 48 Manusia pada hakikatnya dapat belajar melalui enam tingkatan (Vernon A. Magnesen), yaitu:

1. 10% dari apa yang DIBACA,

(9)

1050 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

2. 20% dari apa yang DIDENGAR, 3. 30% dari apa yang DILIHAT,

4. 50% dari apa yang DILIHAT dan DIDENGAR, 5. 70% dari apa yang DIKATAKAN,

6. 90% dari apa yang DIKATAKAN dan DILAKUKAN.

Hal ini terbukti dari peningkatan hasil belajar peserta didik dari proses pretest 31 % tuntas atau 7 orang, kemudian pada siklus 1 setelah diberikan materi melalui video dengan discovery learning naik menjadi 45,45 % atau menjadi 10 orang yang tuntas dan kemudia dilanjutkan dengan siklus 2 dengan dua kali pertemuan, dilaksanakan dengan pembelajaran tatap muka dan didapatkan hasil 77,2 % atau 17 peserta didik tuntas mengerjakan soal post test yang diberikan. Hal ini sejalan dengan teori Vernon bahwa peserta didik mampu menyerap pengetahuan yang dilihat dan didengar sebanyak 50% dan ini tentunya dengan video kemudian peserta didik mengatakan/mempresentasikan hasil kerja dalam proses verification meningkatkan lagi hingga 20% pemahaman peserta didik. Ini sesuai dengan pernyataan Yudhi, bahwa dengan video materi dapat diulangi, kemudian pesan yang disampaikan mudah di ingat serta mengembangkan pikiran, pendapat dan imajinasi, memperjelas hal yang abstrak, prosess perubahan dapat dengan jelas digambarkan dan realistic, selain itu menumbuhkan minat dan motivasi belajar (Yudhi Munadhi,2013: 127).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran discovery learning pada materi jenis ism mufrad, mutsanna dan jamak dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hal ini terlihat dari hasil belajar peserta didik, dimana pretes di siklus I dengan rata-rata 63,18 kemudian posttest siklus I dengan rata-rata 68,63. Meskipun ketuntasan peserta didik mengalami kenaikan namun belum mencapai 75%, maka dilanjutkan ke siklus II. Pada siklus II rata-rata nilai posttest 77,95. Peserta didik yang telah tuntas mencapai 17 orang (77,2 %). Berdasarkan hasil penelitiannya maka penerapan model pembelajaran discovery learning dengan perbantuan video pembelajaran pada materi ism mufrad, mutsanna dan jamak dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

(10)

1051 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

Abuddin Nata, 1997, Filsafat Pendidikan Islam I, Ciputat; Logos Wacana Ilmu.

Anas Sudijono, 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Perada.

Arief S. Sadiman, 2007. Media Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Arifin, 1991,Ilmu Pendidikan Islam, Suatu Tinjauan Teorotis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta; Bumi Aksara.

Azhar Arsyad, 2007. Media Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Hasan, Iqbal. 2002. Pokok-Pokok Materi Statistik 2 (Statistik Inferensial).Jakarta:

Bumi Aksara.

M. Hosnan, 2016, Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21;

Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013, Bogor: Ghalia Idonesia, 2016.

Munadhi,Yudhi,2013. Media Pembelajaran, Sebuah Pendekatan Baru, Cet.1 ,Jakarta.

Gp.Press Grup.

Nurfatimah Sugrah, 2019, Humanika, Kajian IlMIPAh Mata Kuliah Umum, Volume. 19. Nomor 2. September 2019.

Purwanto, 2011. Evaluasi Hasil Belajar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Septian Wahyu Tumurun,2016 Model Pembelajaran Discovery Learning, Jurnal Pena IlMIPAh: Vol. 1, No. 1 Maet-Agustus 2016.

Singh. S & Yaduvanshi. S. 2015. International Journal of Scientific and Research Publications, Volume 5, Issue 3, March 2015 ISSN 22503153.

Suherman, dkk. 2001, Common TexBook Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung, 2001.

Suphi, N., & Yaratan, H. 2016. Effects of Discovery Learning and Student Assessment on Academic Success. TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology.

Thoha, M Chotib. 2008. Teknik Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Referensi

Dokumen terkait

Jumlah responden yang berpendidikan rendah untuk petani yang suda melakukan sambung samping memiliki propesi sebanyak 2 orang atau sebesar 12,50%, jenjang

Tegangan masukan dari pemodelan motor induksi tiga fasa adalah tegangan tiga fasa, untuk dapat mempermudah analisa kinerja motor maka diperlukan pemodelan dinamis

Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat memperkaya wawasan berpikir dan khzanah keilmuan, temtama dalam memperdalam dan memperluas kajian pendayagunaan Sistem Angka Kredit

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan

Interaksi antara gugus nonpolar dari adsorben dengan karotenoida yang nonpolar dan interaksi antara gugus polar dari adsorben yaitu logam Ca dengan ikatan rangkap dari

Ini akan menghasilkan perubahan tegangan yang merupakan masukan analog bagi mikrokontroler Arduino yang selanjutnya diolah untuk ditampilkan berupa ketinggian air

Sesuai dengan masalah yang dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara panjang tungkai dan power tungkai dengan

Tujuan dalam penelitian ini yaitu suhu, pH dan berbagai variasi jarak dengan kadar Pb pada badan air Sungai Rompang dan air sumur gali disekitar industri