122 Abstract : In carrying out its duties, Densus 88 AT needs to be supervised by an independent institution that oversees the work of the anti-terror unit of Densus 88 because so far there are indications that there is no supervision or evaluation of the performance of Densus 88, so there is an impression of being out of control.Komnas HAM did not want to comment on the pros and cons of the disbandment of Densus 88 AT, because the agency agreed that terrorists should be dealt with, but arbitrary actions should not be taken.
According to Komnas HAM, shooting dead against suspected terrorists should be avoided unless it is absolutely necessary and must be proven transparently and legally accountable.
Keywords: Human Rights Violation, Densus 88 Anti-Terror, Suspected Terrorist
Abstrak : Dalam menjalankan tugasnya Densus 88 AT perlu diawasi oleh lembaga independen yang mengawasi kerja satuan anti teror Densus 88 karena selama ini ada indikasi tidak ada supervisi maupun evaluasi terhadap kinerja Densus 88, sehingga ada kesan tidak terkontrol. Komnas HAM tidak mau menanggapi soal pro dan kontra tentang pembubaran Densus 88 AT, karena, lembaganya setuju teroris harus ditindak, tetapi tindakan yang semena-mena tidak boleh dilakukan.Menurut Komnas HAM, tindakan menembak mati terhadap terduga teroris sebaiknya dihindari kecuali dalam kondisi benar-benar terpaksa dan harus bisa dibuktikan secara transparan dan dipertanggung jawabkan secara hukum.
Kata kunci : Pelanggaran HAM, Densus 88 Anti Teror, Terduga teroris
Pendahuluan
Terorisme akan terus muncul sebagai aksi atas fenomena yang muncul didalam percaturan global. Sebagaimana yang dikatakan Roberk K Merton, yang menyatakan bahwa terorisme merupakan kelompok tertindas yang akan terus melakukan perlawanan yang berkepanjangan sepanjang kelompok itu tidak mencapai tujuan. Hal ini terjadi karena terorisme sebagai bagian dari gerakan sosial (social movement) dimana ciri- ciri dari kegiatan sosial ini adalah gerakan oleh kelompok tertentu yang terorganisasi secara rapi, memiliki kesamaan ideologi dan tujuan, menggunakan cara-cara kepemimpinan dan komando yang bisa melegitimasi otoritas kekuasaan yang dilakukannya1.
Terorisme sebagai kejahatan yang tergolong ke dalam kejahatan Extra Ordinary Crime (kejahatan luar biasa), yaitu kejahatan yang dapat mengakibatkan korban jiwa yang sangat signifikan. Oleh karena sifat terorisme yang tergolong sebagai kejahatan Extra
1 Ardiwansyah. Tinjauan Hukum Pidana dan Kriminologi terhadap Penanggulangan Kejahatan Terorisme di Indonesia, Skripsi.
(Yogyakarta: FH UII, 2010), hlm. 12
Ordinary, hampir setiap Negara menggunakan undang-undang khusus dalam menanggulangi tindak pidana terorisme2.
Salah satu bentuk tegas pemerintah dalam memerangi terorisme adalah dengan mengeluarkan Peraturan Perundang- Undangan Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorisme, kemudian melalui Inpres Nomor 14 tahun 2002, Presiden menginstruksikan agar dibentuknya tim pemberantasan tindak pidana terorisme. Hal ini adalah cikal bakal terbentuknya Detasemen Khusus Anti Teror 88 (Densus 88 AT), yang bergerak dalam bidang pemberantasan jaringan terorisme di wilayah Indonesia.
Densus 88 AT Polri didirikan sebagai bagian dari respon makin berkembangnya ancaman teror dari organisasi yang merupakan bagian dari jaringan Al-Qaeda, yaitu Jama’ah Islamiyah (JI)3.6
2 Martimus Amin, MK, Konstitusi dan Demokrasi dalam buku Terorisme, Perang Global dan Masa Depan Demokrasi, (Depok:
Matapena, 2014), hlm.12
3 Muradi, Penentian Panjang Reformasi
INDIKASI TERJADINYA PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA OLEH DENSUS 88 ANTI TEROR DALAM PENANGANAN TERDUGA TERORIS
Pujantini,1 Fakhlur2
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM
Jl. Kramat Raya No. 25, Senen-Jakarta Pusat Kota Provinsi D.K.I. Jakarta
123 Selanjutnya kebijakan penanggulangan
dan pemberantasan terorisme di Indonesia mencapai puncaknya pada saat pemerintah mendirikan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan lembaga “superpower”
Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri.
Secara yuridis densus dibentuk sebagai amanat dari Undang-Undang No.15 Tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, Densus 88 AT berdiri dibawah jajaran Polri dengan paying hukum berupa Keputusan Kapolri No.30/VI/2003 yang berisi tentang tugas serta kewenangan dalam pemberantasan terorisme, melalui Surat Keputusan Kapolri No.Pol:Skep/756/X/2005, 18 Oktober 2005 tentang Pengesahan Pemakaian Logo Densus 88 AT terbentuk4.
Densus 88 AT berada dibawah kendali Kepolisian Republik Indonesia dengan alasan sebagai berikut5:
1. Pemberian kewenangan utama pemberantasan tindak pidana terorisme merupakan strategi pemerintah untuk dapat berpartisipasi dalam perang global melawan terorisme;
2. Tindak pidana terorisme merupakan tindak pidana yang bersifat khas, lintas Negara (transnational crime) dan melibatkan banyak faktor yang terus berkembang, terorisme dalam konstek Indonesia merupakan domain hukum pidana, mengedepankan aksi terror yang mengganggu keamanan dan ketertiban, serta mengancam keselamatan jiwa masyarakat, karena itu terorisme masuk dalam kewenangan kepolisian;
3. Kesatuan anti teror didilih berada di kepolisian karena menitikberatkan pada penegakan hukum, pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.
Kewenangan Densus 88 AT diatur dalam Pasal 25 Undang-Undang No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Pperaturan Pengganti Undang-Undang No.1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme bahwa:
Polri, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2009) hlm.192
4 Ibid.
5 Mahrus Ali, Hukum Pidana Terorisme Teori dan Praktek, (Bekasi:Gramata Publishing, 2012) hlm. 70.
(1)
Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme, dilakukan berdasarkan hukum acara yang berlaku, kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.(2)
Untuk kepentingan penyidikan dan penuntutan, penyidik diberi wewenang untuk melakukan penahanan terhadap tersangka paling lama 6 (enam) bulan6.9Namun demikian menurut Komnas HAM, dalam menjalankan tugasnya Densus 88 AT perlu diawasi oleh lembaga independen yang mengawasi kerja satuan anti teror Densus 88 karena selama ini ada indikasi tidak ada supervisi maupun evaluasi terhadap kinerja Densus 88, sehingga ada kesan tidak terkontrol. Komnas HAM tidak mau menanggapi wacana soal pro dan kontra tentang pembubaran Densus 88 AT, karena, lembaganya setuju teroris harus ditindak, tetapi tindakan yang semena-mena tidak boleh dilakukan.
Menurut Komnas HAM, tindakan menembak mati terhadap terduga teroris sebaiknya dihindari kecuali dalam kondisi benar-benar terpaksa dan harus bisa dibuktikan secara transparan dan dipertanggung jawabkan secara hukum7.
Kalau tidak ada pengawas maka potensi menjadi pelaku pelanggar HAM itu akan sangat besar. Jadi pengawasan dalam konteks untuk melakukan kontrol-kontrol8, pola kerja yang dilakukan dalam pemberantasan terorisme. Karena kalau kita lihat proses-proses kerja pihak kepolisian dalam memberantas terorisme, itu sangat tertutup sekali sehingga peristiwa-peristiwa yang terjadi semacam itu sangat mungkin terjadi kedepannya, sebenarnya itu yang tidak
6 Mahrus Ali, Hukum Pidana Terorisme Teori dan Praktek, (Bekasi:Gramata Publishing, 2012) hlm. 70
7 Pasal 25 Undang-Undang No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Pperaturan Pengganti Undang- Undang No.1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme
8 Pudjiarto, ST. Harum. “Hubungan antara Pengadilan Pidana Internasional (ICC) dengan Perlindungan HAM Nasional Terhadap Pelanggaran HAM yang Berat di Indonesia” jurnal Justitia et Pax. No. 1 Vol 24. 2019, hlm. 52-68
124 kita inginkan9.
Misalnya contoh kasus yang sempat penulis baca di media, bahwa Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menemukan adanya indikasi pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan anggota Densus 88 AT. Indikasi tersebut ditemukan setelah Kontras melakukan investigasi terhadap kasus yang menimpa Siyono, terduga teroris di Klaten, Jawa Tengah, yang tewas saat ditahan. Staf Divisi Hak Sipil dan Politik Kontras, Satrio Wiratari mengatakan, Siyono ditangkap di Klaten, pada 8 Maret 2016 oleh Densus 88. Penangkapan itu disaksikan sendiri oleh kedua orangtua Siyono.
Saat penangkapan, keluarga Siyono tidak diberi tahu alasan yang jelas. Anggota Densus hanya mengatakan bahwa terdapat persoalan piutang yang melibatkan Siyono. Kemudian, dua hari setelah penangkapan, Densus 88 melakukan penggeledahan di kediaman Siyono. Dari penggeledahan, anggota Densus 88 menyita 1 sepeda motor dan majalah anak.
"Tiba-tiba rumah digeledah oleh petugas yang menggunakan laras panjang. Penggeledahan dilakukan di hadapan anak-anak yang masih kecil," kata Wira dalam konferensi pers di Sekretariat Kontras, Jakarta, Sabtu (26/3/2016).
Beberapa hari kemudian, Siyono dikabarkan meninggal dunia saat berada di Jakarta.
Kepolisian meminta keluarga Siyono untuk datang dan menjemput jenazah Siyono.
Kontras menilai ada yang tidak wajar dalam kasus kematian Siyono. Apalagi, kondisi fisik jenazah Siyono penuh dengan luka dan lebam yang diduga akibat tindakan penyiksaan dan penganiayaan10. Berdasarkan uraian di atas maka penulis menetapkan judul artikel ini adalah : Indikasi Terjadinya Pelanggaran Hak Asasi Manusia Oleh Densus 88 Anti Teror Dalam Penanggangan Terduga Teroris
Rumusan Masalah
Bagaimana motif indikasi tindak pelanggaran terhadap hak asasi manusia oleh
9 Takasili, Novian. “Fungsi dan Kedudukan Densus 88 dalam Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme menurut Hukum Positif Indonesia”. Jurnal Lex Creime. No.8 Vol 4. 2015, hlm. 37.
10https://nasional.kompas.com/rea d/2016/03/26/15183741/Kontras.Duga.Densus .88.Lakukan.Pelanggaran.HAM.terhadap.Siy ono/diakses-25-Juni-2022
Densus 88 Anti Teror dalam penanganan terduga teroris ?.
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui dan
mendeskripsikan motif indikasi tindak pelanggaran terhadap hak asasi manusia oleh Densus 88 Anti Teror dalam penanganan terduga teroris.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang di gunakan dalam penulisan jurnal adalah yuridis normatif yaitu menganalisis kaitan antara peraturan perundang- undangan yang berlaku dengan teori-teori hukum dan praktek pelaksanaan hukum positif yang menyangkut permasalahan yang dibahas. Penelitian ini akan menganalisis masalah hukum,fakta, dan gejala hukum lainnya yang berkaitan dengan pendekatan hukum, kemudian di peroleh gambaran yang menyeluruh mengenai masalah yang akan di teliti. Penelitian yang berbentuk deskriftif analisis ini hanya akan menggambarkan keadaan objek atau persoalan dan tidak dimaksudkan mengambil atau menarik kesimpulan yang berlaku umum mengenai motif indikasi tindak pelanggaran terhadap hak asasi manusia oleh Densus 88 AT dalam penanganan terduga teroris11.
Pembahasan
Peranan HAM Dalam Penanganan Pelaku Tindak Pidana Terorisme
Menurut pendapat Hamid Awaluddin, terorisme dan kekerasan telah menjadi agenda kutukan global. Terorisme, apa pun bentuk dan motif yang melatarbelakanginya kini dipandang sebagai sebuah gerakan yang menghancurkan peradaban manusia.
Terorisme sekarang dipersepsikan sebagai sebuah gerakan yang memarjinalkan sendi- sendi kehidupan dan martabat manusia karena gerakan terorisme membunuh manusia secara massal tanpa memberi kesempatan untuk menyelamatkan diri. Terorisme dikutuk karena mereka membantai manusia tanpa mengenal batas usia, gender, kondisi kesehatan dan sebagainya. Diatas segalanya, terorisme tidak mengenal perikamanusiaan dan tidak memiliki tepian teritori dan batas waktu12.
11 Soerjono, Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 2010), hlm. 81.
12 Hamid Awaluddin, HAM Politik, Hukum,
& Kemunafikan Internasional, (Jakarta : Kompas
125 Jika dilihat dari asal usul lahirnya Perppu
Nomor 1 Tahun 2002 tersebut, maka tragedi bom Bali 12 Oktober 2002 menjadi fakta sosiologis dan yuridis bagi pemerintah untuk melakukan penegakan hukum terhadap terorisme. Meskipun demikian, lahirnya Perppu tersebut yang menjadi Undang- Undang Anti Terorisme telah menimbulkan pro dan kontra di antara berbagai pihak13. Beberapa alasan yang dikemukakan oleh kelompok yang kontra antara lain: 1) undang- undang terorisme melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena undang-undang tersebut diberlakukan surut (retroaktif) sedangkan pemberlakuan surutnya sampai kapan tidak dijelaskan secara tegas; 2) undang–undang terorisme dibuat dalam suasana ketergesaan, sehingga terkesan hanya sekedar menuruti kemauan pihak tertentu, bukan kebutuhan murni masyarakat; 3) undang- undang terorisme merupakan wujud
“reinkarnasi” dari Undang-Undang Nomor 11/Pnps/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi. Kekhawatiran didasarkan pada lamanya penahanan yang melebihi waktu penangkapan dan penahanan yang melebihi batas yang telah ditentukan dalam KUHAP serta adanya kewenangan yang luar bisasa kepada intelijen untuk memberikan laporan (sebagai bukti permulaan yang cukup);
keempat, aksi terorisme masih dapat ditanggulangi dengan menggunakan hukum pidana umum (KUHP)14.
Berbicara tentang hak dari tersangka tindak pidana terorisme, kita mencoba memahami dan mencari tahu munculnya gerakan radikal yang salah satunya berupa terorisme. Ketimpangan sosial terus saja terjadi setelah rezim represif tumbang.
Reformasi belum cukup mampu membuktikan diri mengatasi berbagai persoalan sosial.
Orang-orang yang tersingkirkan dan terus-
Media Nusantara, 2012) hlm.49-50.
13 Tryan, Muhammad Schinggyt. Dkk.
“Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan Asas Praduga Tak Bersalah dalam Proses Pengadilan Pidana”. Jurnal Diponegoro Law Journal, No. 4, Vol 5. 2016, hlm. 29
14 Ali Masyhar, Gaya Indonesia Menghadang Terorisme Sebuah Kritik Atas Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Terorisme di Indonesia, (Bandung : Mandar Maju, 2008) hlm. 69.
menerus dikecewakan oleh kehidupan akibat sistem yang tidak memihak, masih terus ada.
Ada luka dan kemarahan dalam diri mereka yang menunggu suatu momentum untuk melampiaskannya. Kondisi seperti itu membuat penetrasi doktrin agama15.
Penanganan kasus kejahatan terorisme secara cepat, tepat dan benar merupakan harapan segenap rakyat Indonesia, pemerintah, serta khususnya aparat penegak hukum. Mengingat dikhawatirkan tersangka yang diduga selaku pelaku terorisme nantinya justru menjadi korban pelanggaran HAM oleh aparat penegak hukum (penyidik) mungkin karena pengaruh tekanan asing sudah menjatuhkan stigma kalau tersangka itu otomatis sebagai pelakunya. Seperti, penyidik melakukan tindakan berbentuk “teror” terhadap tersangka kasus terorisme agar bersedia memberikan keterangan dan mengakui perbuatannya. Apabila hal itu terjadi, maka apa yang dilakukan oleh penyidik sama dengan pembangkangan dan pelecehan terhadap tugasnya sebagai pelindung dan penegak HAM. mKitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) telah merumuskan sejumlah hak bagi tersangka/terdakwa yang melindunginya dari berbagai kemungkinan pelanggaran HAM, sebagaimana diatur dalam Pasal 50-68 KUHAP. Namun secara normatif, kepedulian pada tersangka yang sudah diatur dalam KUHAP terkait kasus terorisme dan aturan- aturan normatif yang ada itu sering tak dihiraukan oleh aparat penegak hukum16. Indikasi Dugaan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Oleh Densus 88 AT Dalam Menangani Terduga Terorisme
Densus 88 AT selama ini bekerja dengan memantau pergerakan jaringan terorisme. Penangkapan baru dapat dilakukan jika ada indikasi kuat seseorang terlibat aksi teror. Negara tidak boleh kalah melawan terorisme. Langkah-langkah pemerintah dalam penanggulangan
15 Jawahir Thontowi, “HAM di Negara- Negara Muslim dan Realitas Perang Melawan Teroris di Indonesia”, Jurnal Pandecta, Volume 8. Nomor 2, (Juli 2018), hlm. 26-39
16 Agustina, Lena. “Perlindungan Hukum Terhadap Korban Salah Tangkap (Studi Kasus Penangkapan Teroris oleh Densus 88)”. Jurnal JOM Fakultas Hukum, No. 1 Vol 1. 2014, hlm. 59
126 terorisme mendapat pujian di dunia
internasional. Cara-cara penanggulangan terorisme di Indonesia masih menjunjung tinggi supremasi hukum, meskipun seringkali dianggap keji. Bandingkan dengan Yaman yang menggunakan rudal atau Pakistan yang menggunakan pesawat tempur untuk membasmi teroris17.19
Menurut M. Nasser, Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), melihat eskalasi teroris yang semakin rajin berbaur dengan masyarakat sudah selayaknya pola organisasi dan cara bertindak Densus 88 AT menyesuaikan diri. M. Nasser menyarankan, ke depan Densus 88 AT bukan saja perlu menyempurnakan organisasi sebagai satuan serbu elit Polri, tetapi juga perlu melengkapi diri dengan kemampuan berdialog dan dakwah untuk kemuliaan tauhid dan aqidah yang murni Islamiyyah, untuk menahan laju ajaran berbahaya18.
Kompolnas juga melakukan pencermatan detail terhadap Densus 88 AT dan berkeisimpulan agar Densus 88 AT memiliki Standard Operating Procedure (SOP) yang sangat kredibel dan akuntabel. Dalam hal ini seorang anggota Densus 88 AT baru akan menembak bila terpenuhi SOP. Untuk diketahui ada perintah jelas, semua target Densus 88 AT seharusnya ditangkap hidup- hidup, apabila harus ada yang ditembak itu dipastikan karena ada bahaya yang berpotensi menimbulkan korban.
Menangkap target hidup adalah sebuah keutamaan terbesar bagi Densus 88 AT karena berkesempatan untuk mendapat banyak informasi penting dalam pengungkapan jaringan. Penangkapan target Densus 88 AT selalu disertai persiapan yang panjang dan terencana dan sesuai audit yang pernah dilakukan Kompolnas, penyergapan teroris hampir tidak pernah dilakukan secara mendadak apalagi kebetulan19.
17 Harris Y.P. Sibuea, “Keberadaan Detasemen Khusus (Densus) 88
DalamPemberantasan Tindak Pidana Terorisme”, Loc. Cit
18 Dehoop, Enrille C. A. “Perlindungan Hak Tersangka/Terdakwa Terorisme dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia”. Jurnal Hukum Universitas Sam Ratulangi. 2018, hlm. 64
19 Baital, Bachtiar. “Asas Praduga tidak
Brigjen Pol Syafrizal Ahiar, Waket Bid Akademik STIK-PTIK, dalam seminar Interdisciplinary Sharing Progam di Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta mengatakan, kerja intelijen ada empat metode yakni metode observasi, interview, survail dan undercover. Metode kerja tersebut digunakan Densus 88 AT dalam menjalankan tugasnya. Bila metode observasi belum cukup, perlu dilakukan interview atau menggali informasi dengan yang bersangkutan, bila data belum cukup, dilakukan survey yakni mengikuti gerak-gerik tanpa diketahui objeknya dan metode terakhir adalah undercover yang lebih ekstrim dengan cara menyusup20.
Para pihak yang kontra atas keberadaan dan kinerja Densus 88 AT antara lain Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, bersama dengan sejumlah ormas Islam seperti NU, MUI, Al-Irsyadh, Dewan Dakwah dan Persis meminta Kapolri segera membubarkan Densus 88 AT. Hal ini dikarenakan Densus 88 AT sudah keterlaluan dalam memperlakukan para terduga teroris. Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat selalu menyertai aksi Densus 88 AT dalam menangani terorisme.
Para terduga teroris diinterogasi oleh Densus 88 AT di sebuah ruangan, disiksa dengan cara diikat, diinjak-injak hingga akhirnya ditembak mati21.
Ketidakakuratan data juga terjadi dalam penanganan terorisme oleh Densus 88 AT seperti terjadi di Bima, Dompu yang berakibat terbunuhnya seorang warga lokal Bima, Bahtiar Abdullah, yang dituduh secara serampangan oleh Densus 88 AT sebagai pelarian dari Poso. Hasil investigasi bersama antara Tim Pencari Fakta dan Rehabilitasi dengan Komnas HAM yakni:
1. Tentang data pelarian Poso yang sebelumnya diklaim Densus 88 AT ada 7 orang, ternyata pada akhirnya hanya
Bersalah dalam Dimrnsi Pembuktian”. Jurnal Sosial dan Budaya Syar’i, No. 2 Vol 2. 2019, hlm. 49-61
20
http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info
%20Singkat-V-10-II-P3DI-Mei-2013-46pdf/diakses-25- Juni-2022
21 https://www.voa-
islam.com/read/indonesiana/2013/01/26/22892/hmi- cabang-bima-tuntut- pembubaran-densus- 88/diakses-25-Juni-2022.
127 mampu menunjukkan 6 orang yang
terindikasi dari Poso. Secara lugas pihak kepolisian bahkan mengatakan “data kami kan bisa saja salah.” Jika kesalahan ini menyangkut hitungan angka biasa tidak masalah. Sayangnya, ini menyangkut nyawa manusia yang akibatnya bias sangat fatal;
2. Semakin terbukti berbagai bentuk intimidasi secara langsung maupun tidak langsung kepada lembaga-lembaga Islam dan masyarakat di wilayah Bima, Dompu yang diduga dilakukan oknum Densus 88 dan aparat lainnya;
3. Adanya indikasi kuat kekejaman dan rekayasa luar biasa yang dilakukan oleh Densus 88 AT pada saat pembunuhan Bahtiar Abdullah di Manggenae Dompu22. Tindakan Densus 88 AT yang langsung melakukan tembak mati ditempat orang yang diduga teroris sangat bertentangan dengan UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang Pasal 18 ayat 1 menyatakan, “setiap orang yang ditangkap, ditahan dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan” serta Pasal 34 yang menyatakan bahwa “setiap orang tidak boleh ditangkap, ditahan, disiksa, dikucilkan, diasingkan, atau dibuang secara sewenang-wenang.” Berdasarkan kedua pasal tersebut, apabila terbukti tindakan Densus 88 AT menembak mati tersangka teroris yang sudah tidak berdaya maka Densus 88 AT telah melanggar HAM23.
Untuk mengakomodir semua pandangan masyarakat baik pro maupun kontra terkait kinerja dan keberadaan Densus 88 AT maka DPR merencanakan pembentukan Panitia Kerja (Panja) Densus 88. Menurut Almuzzammil Yusuf, Wakil
22 SETARA Institute, “Menyoal Akuntabilitas Kinerja Penanggulangan Terorisme Di Indonesia”, Thematic Review, Jakarta, Tanggal 6 Juni 2017, hlm. 42.
23 Agustina, Lena. “Perlindungan Hukum Terhadap Korban Salah Tangkap (Studi Kasus Penangkapan Teroris oleh Densus 88)”. Loc. Cit
Ketua Komisi III DPR-RI, Panja ini bertujuan agar aspirasi dan kritik masyarakat terkait penanganan terorisme dapat ditangani oleh DPR dan direspons oleh Kapolri dan BNPT.
Panja juga akan meminta agar kinerja penanggulangan terorisme dilakukan secara
transparan dan akuntabel.
Penanggulangan terorisme harus menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah dan tidak boleh melanggar konstitusi dan Hak Asasi Manusia (HAM)24.
Agar keberadaan Densus 88 AT ini tidak melanggar HAM maka sesuai dengan UU No. 2 Tahun 2002 tentang Polri dan Perpres No. 46 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Penanggulangan Teroris, seharusnya kedua lembaga ini melakukan audit kinerja dan pengendalian terhadap kinerja Densus 88 AT di lapangan yang sudah di luar batas kemanusiaan. Publik tidak melihat adanya sanksi dan audit kinerja yang dilakukan kedua lembaga tersebut25.
Kesimpulan
Keberadaan Densus 88 AT masih sangat penting untuk menangani aksi jaringan terorisme yang telah menciptakan rasa tidak aman dan tidak nyaman bagi masyarakat. Pilihan kebijakan yang membiarkan kinerja Densus 88 AT tanpa evaluasi atau membubarkannya semua memiliki konsekuensi. Oleh karenanya mempertahankan keberadaan Densus 88 AT dengan evaluasi, pengawasan, serta penguatan koordinasi dengan instansi intelijen yang lain dapat menjadi salah satu solusi kebijakan.
Agar keberadaan Densus 88 AT ini tidak melanggar HAM maka sesuai dengan UU No. 2 Tahun 2002 tentang Polri dan Perpres No. 46 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Penanggulangan Teroris, seharusnya kedua lembaga ini melakukan audit kinerja dan pengendalian terhadap kinerja Densus 88 AT di lapangan yang sudah di luar batas kemanusiaan.
Daftar Pustaka
Ali Masyhar, Gaya Indonesia Menghadang
24 Takasili, Novian. “Fungsi dan Kedudukan Densus 88 dalam Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme menurut Hukum Positif Indonesia”. Jurnal Lex Creime. No.8 Vol 4. 2015, Loc.
Cit
25 Ibid.
128 Terorisme Sebuah Kritik Atas Kebijakan
Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Terorisme di Indonesia, (Bandung : Mandar Maju, 2008)
Ardiwansyah. Tinjauan Hukum Pidana dan Kriminologi terhadap Penanggulangan Kejahatan Terorisme di Indonesia, Skripsi. (Yogyakarta: FH UII, 2010) Hamid Awaluddin, HAM Politik, Hukum, &
Kemunafikan Internasional, (Jakarta : Kompas Media Nusantara, 2012) Hendropriyono, A. M. Terorisme
Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam.
(Jakarta: Kompas, 2009)
Mahrus Ali, Hukum Pidana Terorisme Teori dan Praktek, (Bekasi:Gramata Publishing, 2012)
Martimus Amin, MK, Konstitusi dan Demokrasi dalam buku Terorisme, Perang Global dan Masa Depan Demokrasi, (Depok:
Matapena, 2014)
Muradi, Penentian Panjang Reformasi Polri, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2009) Soerjono, Soekanto, Pengantar Penelitian
Hukum, (Jakarta : UI Press, 2010) Thontowi, Jawahir. Terorisme Negara :
kerjasama Konspiratif Menjinakkan Islam Fundamentalis. (Yogyakarta: UII Press, 2013)
Wahid et. al., Abdul. Kejahatan Terorisme – Perspektif Agama, HAM, dan Hukum.
(Bandung: PT Refika Aditama, 2011) Waluyo, Bambang. Pidana dan Pemidanaan.
(Jakarta: Sinar Grafika, 2008)
Wibowo, Ari. Hukum Pidana Terorisme Kebijakan Formulatif Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme di Indonesia. (Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2012).
Wiyono, R. Pembahasan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. (Jakarta: Sinar Grafika, 2014)
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan Dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme
Agustina, Lena. “Perlindungan Hukum Terhadap Korban Salah Tangkap (Studi Kasus Penangkapan Teroris oleh Densus 88)”. Jurnal JOM Fakultas Hukum, No.
1 Vol 1. 2014.
Baital, Bachtiar. “Asas Praduga tidak Bersalah dalam Dimrnsi Pembuktian”. Jurnal Sosial dan Budaya Syar’i, No. 2 Vol 2.
2019
Dehoop, Enrille C. A. “Perlindungan Hak Tersangka/Terdakwa Terorisme dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia”.
Jurnal Hukum Universitas Sam Ratulangi. 2018.
Harris Y.P. Sibuea, “Keberadaan Detasemen
Khusus (Densus) 88
DalamPemberantasan Tindak Pidana Terorisme”, Artikel Info Singkat Hukum, Volume V, Nomor 10/II/P3DI/Mei/2018.
Jawahir Thontowi, “HAM di Negara-Negara Muslim dan Realitas Perang Melawan Teroris di Indonesia”, Jurnal Pandecta, Volume 8. Nomor 2, (Juli 2018)
Pudjiarto, ST. Harum. “Hubungan antara Pengadilan Pidana Internasional (ICC) dengan Perlindungan HAM Nasional Terhadap Pelanggaran HAM yang Berat di Indonesia” jurnal Justitia et Pax. No.
1 Vol 24. 2019.
SETARA Institute, “Menyoal Akuntabilitas Kinerja Penanggulangan Terorisme Di Indonesia”, Thematic Review, Jakarta, Tanggal 6 Juni 2017
Takasili, Novian. “Fungsi dan Kedudukan Densus 88 dalam Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme menurut Hukum Positif Indonesia”. Jurnal Lex Creime. No.8 Vol 4. 2015.
Tauhid, Ahmad Zainut. “Hukuman Mati terhadap Pelaku Tindak Pidana Terorisme Perspektif Fikih Jinayah”.
Jurnal Agama dan Hak Asasi Manusia, No, 2 Vol 1. 2018.
Tryan, Muhammad Schinggyt. Dkk. “Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan Asas Praduga Tak Bersalah dalam Proses Pengadilan Pidana”. Jurnal Diponegoro Law Journal, No. 4, Vol 5. 2016.