• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Wisata Kawasan Candi Muaro Jambi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pengembangan Wisata Kawasan Candi Muaro Jambi"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENGEMBANGAN WISATA KAWASAN

CANDI MUARO JAMBI

Dr. Dahmiri, S.E., M.M.

Dr. Fitriaty, SE., MM.

Asyhadi Mufsi Sadzali, S.S., M.A.

Dr. Andang Fazri, S.T., M.M.

Dr. Musnaini, S.E., M.M.

(3)

Penulis: Dr. Dahmiri, S.E., M.M., Dr. Fitriaty, SE., MM., Asyhadi Mufsi Sadzali, S.S., M.A., Dr. Andang Fazri, S.T., M.M., dan Dr. Musnaini, S.E., M.M.

Editor: Nia Duniawati Desain Cover: Nurul Musyafak

Layouter: Fitri Diterbitkan oleh Penerbit Adab

CV. Adanu Abimata Anggota IKAPI: 354/JBA/2020

Jl. Kristal Blok H2 Pabean Udik Indramayu Jawa Barat Kode Pos 45219 Telp: 081221151025

Surel: [email protected] Web: https://Penerbitadab.id

Referensi | Non Fiksi | R/D x + 118 hlm.; 14,5 x 21 cm No ISBN: 978-623-497-238-2 Cetakan Pertama, Januari 2023

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, secara elektronis maupun mekanis termasuk fotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainya tanpa izin tertulis dari penerbit.

All right reserved

(4)

D

engan mengucapkan syukur Alhamdulilah atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah- Nya sehingga buku ini dapat diselesaikan dengan baik.

Buku Pengembagnan Wisata Kawasan Candi Muaro Jambi bertujuan untuk mengidentifikasi potensi wisata, kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada kawasan Candi Muaro Jambi dengan segala seluk beluknya, sehingga pada akhirnya kebangkitan dunia wisata khususnya di Provinsi Jambi menjadi kenyataan sebagaimana keinginan dan program yang dicanangkan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.

Penulis sangat menyadari bahwa buku ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis sangat berharap masukan dan kritik demi kesempurnaan buku ini.

Semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Aamiin.

Jambi, Januari 2023 Penulis

(5)
(6)

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I SELUK BELUK WISATA KAWASAN CANDI MUARO ... 1

1.1 Latar Belakang ... 2

1.2 Konsep Identifikasi Masalah ... 7

1.3 Metode Studi Kasus ... 9

BAB II KEBIJAKAN PARIWISATA KABUPATEN MUARO JAMBI 21 2.1 Kebijakan Pembangunan Wisata ... 22

2.2 Strategi dan Kebijakan Jangka menengah ... 32

BAB III KAWASAN CANDI MUARO JAMBI ... 37

3.1 Sejarah Candi Muaro Jambi ... 38

3.2 Letak Geografis Candi Muaro Jambi ... 40

3.3 Wisata Sejarah ... 41

3.4 Wisata Kuliner ... 45

(7)

BAB IV STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA

CANDI MUARO JAMBI ... 63

4.1 Karakteristik Responden ... 64

4.2 Gambaran Pariwisata Kabupaten Muaro Jambi 68 4.3 Analisis Data Dengan Analisis SWOT ... 88

BAB V PENUTUP ... 107

DAFTAR PUSTAKA ... 110

PROFIL PENULIS ... 113

(8)

Tabel 1.1. Sumber Daya Wisata Kreatif Berbasis Budaya ... 6

Tabel 2.1. Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2017-2022 ... 28

Tabel 2.2. Arah Kebijakan Pembangunan Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2022 ... 28

Tabel 2.3. Identifikasi Permasalahan di Kabupaten Muaro Jambi ... 29

Tabel 4.1. Kekuatan dan Kelemahan ... 91

Tabel 4.2. Peluang dan Ancaman ... 94

Tabel 4.3. Pengurangan Tabel Internal & Eksternal ... 97

(9)

Gambar 1.1. Jumlah Objek wisata di Propinsi Jambi ... 4

Gambar 1.2. Peta Sumber Daya Wisata Kreatif Berbasis Alam di Wilayah Jambi ... 5

Gambar 3.1. Candi Vando Astano ... 41

Gambar 3.2. Candi Gumpung ... 43

Gambar 3.3. Candi Gedong II ... 43

Gambar 3.4. Candi Mahligai ... 44

Gambar 3.5. Sambal Tempoyak ... 45

Gambar 3.6. Kue Padamaran ... 46

Gambar 3.7. Daging Masak Hitam... 48

Gambar 3.8. Nasi Gemuk ... 49

Gambar 3.9. Bolu Kojo ... 50

Gambar 3.10. Mie Celor ... 51

Gambar 3.11. Kue Gandus ... 52

Gambar 3.12. Kue Putri Kandis ... 53

Gambar 3.13. Kue Kubang Bayo ... 54

(10)

Gambar 3.14. Kue Muso... 55

Gambar 3.15. Rambutan Goreng ... 56

Gambar 3.16. Gulai Tepek Ikan ... 58

Gambar 3.17 Gulai Terjun ... 59

Gambar 3.18. Kerutup Ikan ... 60

Gambar 3.19. Sup Tulang ... 61

Gambar 4.1. Jenis Kelamin Responden ... 65

Gambar 4.2. Data Usia Responden ... 66

Gambar 4.3. Pekerjaan Responden ... 67

Gambar 4.4. Sumber Informasi Tentang Objek Wisata Candi Muaro Jambi ... 68

Gambar 4.5. Daya Tarik Wisata di Candi Muaro Jambi ... 69

Gambar 4.6. Kepuasan Responden Terhadap Pelayanan ... 71

Gambar 4.7. Daya Tarik Wisata pada Candi Muaro Jambi ... 72

Gambar 4.8. Candi Muaro Jambi Mengalami Perkembangan 73 Gambar 4.9. Frekuensi Kunjungan Ke Objek Wisata Candi Muaro Jambi ... 74

Gambar 4.10. Candi Muaro Jambi Sebagai Prioritas Wisata .... 75

Gambar 4.11. Jumlah Yang Ikut Berwisata ... 77

Gambar 4.12. Biaya Berwisata Ke Candi Muaro Jambi ... 78

Gambar 4.13. Rata-rata Lama Berwisata di Candi Muaro Jambi ... 79

Gambar 4.14. Jenis Kendaraan yang Digunakan ... 81

Gambar 4.15. Status Kepemilikan Kendaraan ... 82

(11)

Gambar 4.16. Alasan Memilih Berwisata Ke Candi

Muaro Jambi ... 83 Gambar 4.17. Kekurangan Objek Wisata Candi Muaro Jambi .. 84 Gambar 4.18. Tindakan Merekomendasikan Kepada

Orang Lain ... 86 Gambar 4.19. Minat Berkunjung Kembali ... 87 Gambar 4.20. Grafik Analisis SWOT ... 98

(12)

SELUK BELUK

WISATA KAWASAN

CANDI MUARO

(13)

1.1 Latar Belakang

Kawasan Candi Muaro Jambi Kaupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi merupakan salah satu dari Kawasan Strategis Pari wisata Nasional (KSPN). Kompleks percanidian Muaro Jambi adalah komplek terluas di Pulau Sumatera dimana luasnya mencapai 3.981 hektar dan merupakan peninggalan dari dua kerajaan besar yaitu kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu Kuno. Adapun jumlah situs berjumlah 126 situs peercandian dan pemukiman penduduk.

Peranan penting sektor pariwisata bagi suatu negara menurut Schubert et al. (2011) terlihat dengan adanya dam- pak positif pariwisata internasional terhadap peningkatan per tumbuhan ekonomi jangka panjang, sehingga banyak ne gara memilih sektor pariwisata sebagai sektor strategis dalam pembangunan. Peran penting ini diwujudkan melalui pening katan perolehan devisa negara, pajak serta pendapatan nasional, pembangunan sarana dan prasarana, peningkatan industri baru serta memperluas produk lokal untuk lebih dikenal dunia internasional. Sektor pariwisata juga berperan signifikan dalam penurunan kemiskinan (pro poor tourism) dimana peran ini dipenuhi melalui terciptanya peluang kerja baik langsung mau pun tidak langsung bagi tenaga terampil dan tidak terampil (sektor informal) dan terbukanya akses daerah terpencil hingga tumbuhnya kewirausahaan masyarakat (Ashley, et. al, 2001 dan Gunarekha et al. 2017).

Dewasa ini, terjadi pergeseran radikal orientasi kepari wi- sataan dari sekedar buying product menjadi buying experience, dari pariwisata massal (mass tourism) seperti sekedar

(14)

mengunjungi dan melihat (sun, sand, see) menjadi fokus pada quality tourism yang lebih mengutamakan serenity-spirituality- sustainability atau yang sering disebut sustainable tourism. Para wisatawan lebih menghargai dan memperhitungkan penuh dampak wilayah destinasi wisata yang dikunjungi baik dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan pada saat sekarang mau pun masa akan datang atau lebih dikenal dengan konsep pari wisata berkelanjutan (sustainable tourism).

Konsep sustainable tourism semakin menguat seiring de- ngan munculnya berbagai kelemahan pariwisata seperti terja- dinya degradasi nilai-nilai sosial, budaya, nilai moral, komer- sialisasi tradisi serta destruksi terhadap sumber daya alam dan lingkungan. Konsep ini dipercaya dapat mengeliminir kele- mahan mass tourism dengan mengakomodir planet, people, dan prosperity secara simultan dan diadopsi banyak negara dalam pe ngembangan pariwisata. Aspek people diakomodir dengan mengajak wisatawan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, aspek planet merupakan kewajiban para wisatawan untuk turut serta merawat dan menjaga tempat-tempat wisata dan aspek prosperity diakomodir dengan memperhatikan nilai-nilai eko- nomis dari tempat wisata dan dampaknya terhadap komunitas.

Wisata kreatif (Creative Tourism) merupakan salah satu bentuk implementasi dari konsep sustainable tourism dimana para wisatawan berpeluang mendapatkan pengalaman wisata sehingga dapat mengembangkan potensi kreatifnya melalui par tisipasi aktif mereka dalam program dan pengalaman pem- belajaran yang sesuai dengan karakteristik destinasi wisata (Richard dan Raymond, 2000 dan Richard dan Wilson, 2007).

Wisatawan terlibat aktif dalam berbagai tipologi wisata kreatif

(15)

seperti 1) wisata berbasis budaya (kehidupan pedesaan, prosesi upacara adat); 2) wisata berbasis teknologi (budidaya pertanian, fotografi); 3) wisata berbasis pengetahuan (pengamatan flora dan fauna, napak tilas, geowisata dll); 4) wisata berbasis olahraga (menyelam, berselanjar, tur bersepeda, lomba dayung dll); 5) wisata maupun berbasis seni (belajar kesenian tari, alat music, pertunjukan dll). Pada saat wisatawan telah meninggalkan lokasi destinasi atau berpindah ke destinasi lainnya maka adopsi oleh komunitas lokal ini akan tetap hidup dan berkembang (Richard dan Wilson, 2007)

Perkembangan dan kontribusi sektor pariwisata dalam pem bangunan Provinsi Jambi relatif masih rendah. Wilayah yang terdiri dari 11 Kabupaten/Kota memiliki destinasi wisata yang cukup banyak dan tersebar seperti disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1.1. Jumlah Objek wisata di Propinsi Jambi

Sumber: Bappeda Propinsi Jambi, 2017.

(16)

Berdasarkan laporan Bappeda (2017), Provinsi Jambi cenderung mengalami kenaikan, tercatat total 193 wisata alam yang terdiri dari 133 wisata sejarah dan budaya serta 119 wisata buatan. Sumber-sumber daya wisata tersebut berlimpah, unik dan khas. Bahkan beberapa diantaranya merupakan satu satunya di dunia (Novra, 2012; Wibowo, Zahar, Syarifuddin, &

Ananda, 2019). Secara Umum Potensi wisata kreatif Provinsi Jambi dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.2. Peta Sumber Daya Wisata Kreatif Berbasis Alam di Wilayah Jambi

Berdasarkan Gambar 1.2. dapat dilihat bahwa Jambi sangat kaya dengan sumber daya wisata kreatif berbasis Alam yang tersebar di seluruh wilayah dataran rendah berupa sungai, danau, pantai, mangrove dan dataran tinggi berupa gugusan bukit karst, gunung dan perkebunan teh. Wisata kreatif berbasis budaya, dapat dijabarkan lebih rinci kedalam tabel berikut:

(17)

Tabel 1.1. Sumber Daya Wisata Kreatif Berbasis Budaya

No Sumber Daya Wisata Kabupaten/Kota

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 Ritus - - - 6 25 7 - 1 - -

2 Pengetahuan Tradisional - - - 4 55 7 - 5 - -

3 Teknologi Tradisional - - - 2 67 6 - 2 - -

4 Seni - - - 11 51 10 - 10 - -

5 Bahasa - - - 4 9 6 - 3 - -

6 Permainan Rakyat - - - 4 97 18 - 3 - -

7 Olahraga Tradisional - - - 2 13 5 2 1 - -

8 Cagar Budaya 32 82 14 12 25 5 14 31 36 4

9 Tradisi Lisan - - - 4 41 9 - 5 - -

10 Manuskrip 12 10 - 1 1 10 12 - - -

11 Kuliner 6 5 7 6 5 6 5 2 4 -

Sumber: diolah dari PPKD Prov. Jambi, 2018; BPS Prov Jambi, 2017; BPCB Jambi, 2015.

Keterangan: 1= Kota Jambi, 2=Kab Ma Jambi,3=Kab Batang Hari, 4=Kab Tanjung Jabung Timur, 5=Kab Tanjung Jabung Barat, 6=Kota Sungai Penuh, 7=Kab Kerinci,8=Kab Tebo, 9=Kab Sarolangun, 10= Kab.Merangin

Berdasarkan Tabel 1.1 dapat dilihat bahwa Jambi juga sangat kaya dengan wisata kreatif budaya berupa atraksi seni tradisional, cagar budaya, manuskrip dan kuliner. Selain itu masih terdapat enam Kabupaten Kota dimana data potensinya belum dieksplorasi namun memiliki potensi wisata berlimpah.

(18)

1.2 Konsep Identifikasi Masalah

Tinjauan yuridis perundang-undangan atau kajian terhadap suatu pengaturan menyangkut dua isu pokok yakni penor- ma an materi muatan dan prosedur pembentukan. Kajian ini fokus pada upaya penyusunan buku tentang strategi pengem­

bangan kawasan Candi Muaro Jambi, oleh karena itu ber ada pada isu penormaan materi muatan atau perumusan materi muatan sebagai suatu aturan yang mengandung norma hukum. Dikaitkan dengan isu pengembanga kawasan wisata di Kabupaten Muaro Jambi, maka dapat diidentifikasi perma­

salahannya sebagai berikut:

1. Destinasi:

a. Akses dan akomodasi yang tersedia sebagai pendukung keberadaan Candi Muaro Jambi

b. Pelanggaran tata ruang wilayah.

c. Pengelolaan limbah industri dsiekitar situ KCBN Candi Muaro Jambi yang belum mengikuti standar baku pengelolaan.

d. Terbatasnya sumber daya air permukaan dan peng- gunaan sumber daya tanah yang tidak terkendali.

e. Alih fungsi lahan pertanian dan perkebunan menjadi fasilitas penunjang pariwisata.

f. Kebersihan lingkungan daya tarik yang tidak terjaga.

g. Bangunan gedung usaha pariwisata mengabaikan langgam arsitektur tradisional Muaro Jambi.

h. Rendahnya pemahaman dan interpretasi daya tarik wisata (DTW).

i. Aksessibiltas menuju ke beberapa DTW masih minim.

(19)

j. Alternatif moda transportasi (angkutan sungai) untuk mengatasi kemacetan lalu lintas sekaligus sebagai atraksi wisata.

2. Industri Pariwisata

a. Minimnya akomodasi wisata yang tidak sesuai dengan kuantitas pengunjung terutama di wilayah KCBN Candi Muaro Jambi.

b. Peningkatan SDM pariwisata yang berbasis masyarakat masih sangat rendah.

c. Hygine sanitasi belum diterapkan secara optimal.

d. Kurang tertatanya lay-out.

e. Pengelolaan sampah di kawasan wisata dan desa wisata sekitar objek masih rendah.

3. Pemasaran

a. Belum optimalnya pemasaran pariwisata yang berbasis IT.

b. Citra pariwisata kurang baik.

c. Keterpaduan antara stackholders pariwisata dalam pemasaran belum optimal.

d. Pengembangan pasar untuk agrowisata, ekowisata dan desa wisata belum berjalan dengan terintegrasi.

e. Peningkatan kualitas pariwisata melalui peningkatan lama tinggal (length of stay) dan daya beli (spending power) wisatawan perlu dikembangkan dengan strategi khusus.

(20)

4. Kelembagaan

a. Pengolahan dan penataan DTW belum optimal.

b. Desa wisata yang telah ditetapkan belum berkembang secara optimal.

1.3 Metode Studi Kasus

a. Desain Stdi Kasus

Studi kasus ini menggunakan jenis kualitatif yang men- je laskan bagaimana pengelolaan pariwisata di Kawasan Candi Muaro Jambi dan bagaimana sumber daya yang di miliki tersebut dikelola, kemudian pada akhirnya menja- dikan kawasan Candi Muaro Jambi berkembang secara ekonomi.

Studi kasus kualitatif, yang digunakan dapat berguna untuk memahami fenomena sosial yang mendalam dan tersembunyi di masyarakat di antara fenomena yang dilihat.

Dengan metode kualitatif diharapkan dapat membongkar informasi dan menangkap sesuatu yang dimaknai dari sebuah fenomena sosial, sehingga fenomena tersebut dapat dipahami dengan lebih mudah dan sederhana.

Studi kasus ini menggunakan pendekatan studi kasus yang bersifat intrinsic case study yang bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam tentang proses pembentukan sumber daya pariwisata baru di masyarakat yang berbasis pada tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal. Beberapa alasan mengapa penulis menggunakan pendekatan studi kasus adalah karena terdapat kekhasan dalam pembentukan

(21)

sumber daya tersebut yang tidak dimiliki oleh masyarakat di wilayah pariwisata lainnya.

Pendekatan intrinsic case study akan menekan pada ekplorasi dari suatu sistem yang terbatas pada suatu kasus atau secara mendetail, disertai dengan penggunaan data secara mendalam, beragam dan kaya akan konteks. Studi kasus bersifat komprehensif, intens dan mendalam, serta dile takkan pada fenomena yang bersifat kontemporer.

b. Lokasi

Studi ini menggunakan metode studi kasus dimana akan dilakukan studi kasus terhadap strategi pengembangan wi­

sata di Kawasan Candi Muaro Jambi Kecamatan Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi Propinsi Jambi.

c. Teknik Pengumpulan Data

Studi kasus ini akan membutuhkan banyak data dari ber macam narasumber yang ada. Selain menekankan pada feno mena dan data­data yang sifatnya kontemporer, studi ini juga bergantung pada fakta­fakta historis.

Dalam rangka pengumpulan data, akan dilakukan pengamatan dengan cara melakukan interaksi langsung de ngan masyarakat di sekitar Kawsan Candi Muaro Jambi (observasi partisipan) dengan demikian penulis dapat mencermati bagaimana pola relasi budaya yang terjadi dalam pembentukan sumber daya pariwisata dan bagai- mana masyarakat menggunakan arena budaya sebagai

(22)

wadah pariwisata baru. Berikut ini merupakan beberapa lang kah pengumpulan data yang dilakukan:

1. Desk study

Langkah ini diambil untuk membantu menemukan, meru muskan, dan memetakan relasi-relasi yang ter jadi pada masyarakat selama proses pembentukan sumber daya pariwisata dan dapat membantu penulis dalam mengkerangkai realitas yang terjadi dengan meng- gunakan data-data pendukung yang ada. Data dari desk study merupakan data sekunder mengenai pola relasi budaya, tradisi masyarakat, kebijakan pariwisata dan pengelolaan masyarakat yang diperoleh melalui buku, media massa, laporan penelitian, jurnal, majalah, dan sebagainya.

2. Field study

Langkah selanjutnya dalam pencarian data adalah field study untuk menemukan data primer yang dibutuh- kan. Melalui field study, penulis berinteraksi langsung dengan masyarakat yang sedang ditinjau sehingga diharapkan dapat melihat realitas yang terjadi dengan lebih jelas, terutama mengenai bagaimana interaksi atau pola hubungan antar-komunitas yaitu masyarakat se kitar kawasan Candi Muaro Jambi dan masyarakat umum dapat berlangsung di tengah perbedaan yang ada dan membantu dalam menjelaskan bagaimana are na budaya dapat digunakan oleh masyarakat untuk saling menegosiasikan tradisi atau bahkan menjadikan tradi sinya sebagai model pariwisata baru di Kabupaten

(23)

Muaro Jambi. Proses tersebut tentu hanya dapat dike- tahui setelah penulis melakukan pengamatan atau observasi langsung bersama informan ataupun dengan cara melakukan wawancara dengan beberapa informan yang penulis anggap akan memberikan informasi yang mendukung buku ini.

a. Pengamatan Terlibat (Observasi Partisipasi) Partisipan observation merupakan jenis peng- amatan yang melibatkan penulis dalam kegiatan orang yang menjadi sasaran studi kasus tanpa meng akibatkan perubahan pada kegiatan atau akti vitas orang atau informan yang bersangkutan.

Dengan kata lain, penulis mengikuti kegiatan infor- man dalam waktu tertentu, mendengarkan apa yang dikatakan, mempertanyakan informasi yang menarik, dan mempelajari dokumen yang dimiliki (Idrus M., 2017). Dalam rangka pengumpulan data di buku ini, penulis akan melakukan pengamatan terlibat dengan cara melakukan interaksi lang sung dengan masyarakat dengan harapan dapat mem- peroleh data yang dapat membantu menjelaskan bagaimana relasi antar-komunitas dan relasi antar-tradisi berlangsung. Dalam pengamatan seperti ini, penulis dituntut untuk merekam atau mencatat dengan cara terstruktur atau semistruktur (Creswell, 2012).

Tujuan dari pengamatan terlibat ini adalah dapat mencermati bagaimana tradisi dan kearifan

(24)

lokal dapat dibentuk dan dikembangkan melalui berbagai interaksi atau relasi hubungan dalam pari wisata antara masyarakat setempat dan masya- rakat umum serta bagaimana pola hubungan yang terbentuk antara dua budaya yang berbeda itu terjadi sehingga menghasilkan sumber daya pari wisata berbasis kearifan lokal yang settle atau mapan dalam kemandirian ekonomi

b. Wawancara Mendalam (Indept Interview) Indept Interview merupakan metode pengum- pulan data yang sering digunakan dalam studi kasus kualitatif. Wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan dengan cara tanya jawab sambil ber- tatap muka antara pewawancara dengan in forman atau orang yang diwawancarai, de ngan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, pe- wawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama dan kekhasan wawancara jenis ini adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan. Hal ini sangat penting dilakukan meng- ingat ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana relasi budaya dalam pembentukan sumber daya pariwisata baru. Sehingga diperlukan wawan- cara mendalam dengan tokoh-tokoh penting di lingkungan masyarakat sekitar Kawasan Candi Muaro Jambi.

(25)

Adapun informan yang akan diwawancarai dalam adalah tokoh-tokoh penting yakni meliputi:

1. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muaro Jambi. Sebagai pihak yang memiliki kewe- nangan membuat kebijakan dalam pengelolan pari wisata di Kabupaten Muaro Jambi.

2. Kepala Balai Perlindungan Cagar Budaya (BPCB) Jambi.

3. Camat Kecamatan Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi.

4. Kepala Desa yang berada di sekitaran Kawasan Candi Muaro Jambi. Kepala Desa dianggap lebih mengetahui kondisi dan situasi sosial ke- masyarakatan yang terjadi antara masyarakat desa.

5. Komunitas yang ada di sekitar Kawasan Candi Muaro Jambi.

6. Pemandu Wisata.

7. Pakar pariwisata budaya 8. Akademisi Universitas Jambi d. Metode Analisis Data

Dalam analisis data ini menggunakan Analisa deskriptif, bertujuan untuk menggambarkan ten- tang sebuah fenomena sosial yang didapat dari data yang telah dikumpulkan, kemudian dijelaskan dan disusun dengan lebih sistematis.

Langkah-langkah dalam analisis data yang digunakan ini mengikuti Creswell (2007) adalah

(26)

Pertama, mengorganisir informasi yang ditemukan di lapangan, dalam hal ini penelis bertindak seba- gai pengumpul informasi melalui pembacaan terhadap berbagai literatur dan wawancara dengan infor man serta observasi mendalam yang dilakukan di kawasan Candi Muaro Jambi yang menjadi lokasi nya. Setelah data yang dibutuhkan terkumpul maka langkah Kedua adalah membaca keseluruhan informasi yang telah diperoleh dan memberi kode pada setiap hasil amatan untuk memudahkan ketika dilakukan analisis. Dan tahapan Ketiga adalah membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus yang terjadi beserta konteks terjadinya suatu peristiwa. Keempat, penulis menetapkan pola relasi yang terjadi antara masyarakat setempat dan masyarakat umum melalui pembacaan terha- dap aktor-aktor yang saling berinteraksi di lokasi tersebut terutama dalam arena budaya dan men- cari hubungan antara beberapa kategori yang me mu dahkan dalam penulisan nantinya. Kelima, me la kukan interpretasi terhadap fenomena yang terjadi dan selanjutnya menyajikan hasil intrepetasi atas data yang diperoleh secara naratif di dalam bentuk tulisan.

Formulasi Wisata Budaya Terintegrasi

Perumusan Formulasi wisata yang berkelanjutan pada Kawasan Candi Muaro Jambi dilakukan dengan menggunakan metode analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan sebuah alat

(27)

yang dapat digunakan dalam menyusun faktor­faktor strategis suatu organisasi (Witarto, 2004). Analisis SWOT ini meng- identifikasi peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal. Peluang dan ancaman eksternal merujuk pada peristiwa dan tren ekonomi, sosial, budaya, demografi, lingkungan, politik, hukum, pemerintahan, teknologi, dan persaingan yang dapat menguntungkan atau merugikan suatu organisasi secara berarti di masa depan. Peluang dan ancaman sebagian besar di luar kendali suatu organisasi (David, 2004).

Analisis SWOT dalam buku ini bertujuan untuk memak- si malkan kekuatan dan peluang, dan secara bersamaan me minimalisir kelemahan dan ancaman dalam pariwisata budaya pada masyarakat yang berada di Kawasan Candi Muaro Jambi. Terdapat beberapa tahapan yang dilakukan pada bagian penyusunan strategi dalam buku ini di antaranya adalah pengumpulan data mengenai faktor internal dan faktor eksternal, analisis IFAS EFAS, penentuan tema strategi berda sar­

kan diagram cartesius SWOT, dan penyusunan matriks SWOT.

Untuk itu, berikut instrumen kekuatan dalam analisis IFAS yang dimiliki masyarakat di penulisan ini yakni; Pertama, partisipasi dan keguyuban masyarakat. Kedua, pengetahuan masyarakat pada nilai-nilai budaya yang dimiliki sebagai aset yang perlu dilestarikan dan dilindungi. Ketiga, daya tarik pariwisata budaya yang beragam. Keempat, fasilitas pen- dukung pariwisata. Kelima, kegiatan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat. Keenam, inovasi dan kreativitas dalam pengembangan produk lokal.

Adapun, instrumen kelemahannya yakni; Pertama, pema­

haman masyarkat terhadap nilai sejarah dan tradisi. Kedua,

(28)

pendampingan dalam pengembangan perekonomian lokal oleh pihak luar, Ketiga, jumlah keuntungan dari aktivitas pariwisata dalam sisi ekonomi. Keempat, komunikasi dalam interaksi dengan masyarakat di luar komunitas mereka.

Sementara itu, instrumen peluang dalam analisis EFAS yang dimiliki masyarakat di buku ini yakni; Pertama, tingkat kepuasan wisatawan, Persepsi/Pandangan wisatawan terhadap daya tarik pada budaya dan tradisi masyarakat. Kedua, kerjasama dengan pihak swasta dalam pengembangan pariwisata di Kawasan Candi Muaro Jambi. Ketiga, dukungan pemerintah terhadap pengembangan pariwisata berbasis budaya masyarakat. Ke- empat, terintegrasinya masyarakat dengan objek wisata di Kawasan Candi Muaro Jambi.

Adapun, instrumen ancamannya yakni: Pertama, daya beli wisatawan terhadap produk dan kuliner local. Kedua, kunjungan wisatawan. Ketiga, ancaman konflik antara masyarakat dan wisatawan.

Simulasi Dan Uji Coba Formulasi Konsep

Salah satu model dari riset aksi partisipatif yang dapat meng gambarkan proses berjalannya Program Pemberdayaan masyarakat Wisata Budaya Terintegrasi Di Kawasan Candi Muaro Jambi Kabupaten Muaro Jambi. Model yang dimaksud adalah model menurut Mertler, C. A. (2009). Secara garis besar terdapat 5 tahapan besar, yaitu: (1) Developing an Improved System (2) Current Situation Analysis (3) Improvement Implemented (4) Review Changes (5) Report and Recommendations. Lima tahapan besar tersebut merupakan suatu tahapan dalam melakukan riset aksi partisipatif, dimana tahap pertama adalah Developing

(29)

an Improved System. Dalam tahap ini, penulis akan melakukan pengembangan terhadap suatu sistem yang akan dijadikan lokasi lapangan tersebut. Tahap awal dari riset aksi partisipatif ini sangat menentukan keberlanjutan dari proses, karena dari tahap awal ini, diharapkan mendapatkan gambaran yang utuh tentang situasi lapangan yang ada.

Tahapan berikutnya adalah Current Situation Analysis, dalam tahapan ini yang nantinya akan dilakukan adalah melakukan pemahaman mengenai bagaimana karakteristik dari masyarakat yang akan dijadikan target sasaran dari riset Pemberdayaan masyarakat Berbasis Wisata Budaya Terintegrasi di Kawasan Candi Muaro Jambi Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi.

Pemahaman mengenai karakteristik masyarakat sasaran tersebut dilakukan secara komprehensif, sehingga diharapkan penulis yang melakukan riset aksi partisipatif tidak salah dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat sasaran, serta masyarakat juga dapat mengenal dan memahami penulis.

Setelah melakukan tahapan Current Situation Analysis, tahapan yang dilakukan adalah melakukan Improvement Implemented.

Dalam tahap ini, penulis melakukan eksekusi terhadap hasil analisis yang dilakukan pada tahap Current Situation Analysis.

Eksekusi tersebut berupa suatu tindakan intervensi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat sasaran. Dalam konteks ini, keterlibatan masyarakat secara langsung sangat penting dan tinggi, terutama dalam tahap ini. Keterlibatan masyarakat yang tinggi dapat berfungsi selain menyelesaikan permasalahan yang ada di komunitas mereka, juga dapat meningkatkan kapasitasnya.

(30)

Tahapan berikutnya adalah review changes. Dalam tahap ini, yang dilakukan adalah mengidentifikasi kegiatan yang ada di tahap sebelumnya yang perlu dilakukan penyesuaian sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang dari adanya proses intervensi yang dilakukan. Penyesuaian situasi dan kon disi tersebut juga dapat membantu masyarakat sasaran untuk mendapatkan skill dan kemampuan beradaptasi, serta melaku kan penyesuaian yang sejalan dengan situasi dan kondisi yang ada.

Tahap terakhir dari prosesnya adalah melakukan Report and Recommendations. Secara umum, fokus pada tahap ini adalah untuk mendokumentasikan proses yang sudah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. Dokumentasi penting untuk proses pembelajaran (lesson learnt) bagi yang lain untuk melakukan proses yang sama. Selain itu, dalam dokumentasi tersebut dicantumkan rekomendasi yang bisa dilakukan oleh beberapa pihak terkait pada masyarakat sasaran. Hal ini dilakukan supaya proses pelaksanaan riset aksi partisipatif di lapangan berjalan sesuai dengan koridor yang ada.

(31)
(32)

BAB II

KEBIJAKAN PARIWISATA

KABUPATEN

MUARO JAMBI

(33)

2.1 Kebijakan Pembangunan Wisata

Beberapa kebijakan yang memuat kepariwisataan Kabupa ten Muaro Jambi adalah RTRW 2014-2034, RPJMD Kabupaten Muaro Jambi 2017­2022 dan Renstra Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Muaro Jambi 2017-2022.

a. RTRWK 2014-2034

Menurut arahan pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Muaro Jambi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) 2014-2034 dinyatakan bahwa bebe rapa arahan pengembangan kawasan wisata sebagai berikut:

Kawasan Peruntukan Pariwisata di Kabupaten Muaro jambi meliputi:

a. kawasan wisata alam;

b. kawasan wisata budaya; dan c. kawasan wisata buatan.

Kawasan wisata alam meliputi:

a. taman hutan raya di kecamatan Kumpeh;

b. penangkaran buaya terdapat di kecamatan Sungai Gelam;

c. danau Arang-Arang terdapat di kecamatan Kumpeh Ulu;

d. bumi perkemahan pemuda terdapat di kecamatan Sungai Gelam; dan

e. bumi perkemahan terdapat di Tempino kecamatan Mestong.

(34)

Kawasan wisata budaya meliputi:

a. Kawasan Wisata Candi Muaro Jambi di kecamatan Maro Sebo dan kecamatan Taman Rajo;

b. Makam kuno Selaras Pinang Masak di desa Pemunduran Kecamatan Kumpeh Ulu dan makam kuno Orang Kayo Hitam di desa Jebus Kecamatan Kumpeh;

c. Permukiman Suku Anak Dalam yang terdapat di desa Nyogan dan desa Pelempang Kecamatan Mestong, Dusun Tenggalong (Desa Pinang Tinggi), desa Sungai Dayo, desa Markanding dan desa Talang Datar Kecamatan Bahar Utara, desa Tanjung Lebar dan desa Talang Datar, Kecamatan Bahar Selatan;

d. Peninggalan sejarah Candi Pematang Jering di kecamatan Jambi Luar Kota; dan

e. Makam Orang Kayo Gemuk dan Orang Kayo Pedataran di kecamatan Kumpeh Ulu.

Kawasan wisata buatan meliputi:

a. Sarana wisata dan rekreasi terdapat di seluruh wilayah Kabupaten;

b. Agrowisata di kecamatan Sekernan, kecamatan Maro Sebo, kecamatan Mestong, kecamatan Jambi Luar Kota, kecamatan Kumpeh Ulu, kecamatan Kumpeh dan kecamatan Sungai Bahar; dan

c. Wisata sungai di desa Kedotan dan desa Keranggan kecamatan Sekernan.

Perwujudan kawasan peruntukan pariwisata meliputi:

a. Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA);

(35)

b. Peningkatan daya tarik obyek wisata;

c. Pengembangan dan peningkatan sarana dan prasarana penunjang wisata;

d. Diversifikasi pengembangan objek wisata;

e. Pengembangan keterkaitan antar objek wisata, jalur wisata, dan kalender wisata;

f. Peningkatan sistem informasi wisata, pemasaran dan promosi kawasan wisata dalam rangka memperluas pangsa pasar wisata; dan

g. Pengembangan infrastruktur yang mendukung ter­

hadap pengembangan pariwisata.

b. RPJMD Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2017-2022 Menurut UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwi­

sataan, pembangunan kepariwisataan dilakukan melalui pe- ngembangan industri pariwisata, destinasi pariwisata, pema­

saran dan kelembagaan pariwisata. Upaya pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Muaro Jambi ini juga tetap dikaitkan dengan daerah tujuan wisata (destinasi) Kabu­

paten Muaro Jambi yang dapat sebagai satu kesatuan destinasi wisata nasional sekaligus untuk menarik minat pengunjung, ditujukan terhadap wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang ber­

ada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.

(36)

Kawasan wisata yang cukup potensial dan menjadi andalan Kabupaten Muaro Jambi adalah kawasan wisata Candi Muaro Jambi di Kecamatan Maro Sebo, kawasan wisata agro industri perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Sungai Bahar, kawasan agro wisata di kecamatan Kumpeh Ulu, Sungai Gelam dan Komunitas Suku Anak Dalam di Keca- matan Mestong.

Khusus mengenai Kawasan Wisata Candi Muaro Jambi yang terletak di Kecamatan Maro Sebo, pada tahun 2011 Bapak Presiden RI telah menetapkan Kawasan Candi Muaro Jambi sebagai salah satu Kawasan Wisata Sejarah Terpadu di Indonesia. Dengan ditetapkannya Kawasan Candi Muaro Jambi sebagai kawasan Wisata Sejarah Terpadu ini, diharapkan berbagai program guna mendukungan pe- ngem bangan Kawasan Wisata Sejarah Terpadu ini dapat terus ditingkatkan, baik melalui pendanaan APBD Kabu- paten, APBD Provinsi maupun APBN.

Potensi wisata yang menjadi andalan di Kabupaten Muaro Jambi adalah Situs Candi Muaro Jambi yang terletak di Desa Muaro Jambi Kecamatan Maro Sebo.

Situs Candi Muaro Jambi merupakan salah satu asset daerah dan nasional.Disamping Objek Pariwisata Candi Muaro Jambi, masih banyak objek pariwisata lain, salah satunya objek pariwisata budaya Komoditas Adat Terpencil (Suku Anak Dalam) di Desa Nyogan Kecamatan Mestong, Objek pariwisata lainnya yang tidak kalah menarik adalah pariwisata agro yang meliputi objek pariwisata perkebunan Kelapa Sawit, perkebunan nenas dan pengolahan dodol nenas, serta hortikultura seperti duku, jeruk dan durian.

(37)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah mempedomani Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah. Dalam RPJPD Kabupaten Muaro Jambi 2017-2022, visi yang telah ditetapkan adalah “Tertib, Unggul, Nyaman, Tentram, Adil Dan Sejahtera” (Muaro Jambi Tuntas 2022”

yang dituangkan dalam 6 (enam) Misi yang saling terkait satu sama lainnya sebagaimana cita-cita nasional bangsa Indonesia sesuai UUD 1945 yaitu mewujudkan “Masyarakat Adil dan Makmur”. Misi tersebut adalah:

1. Terwujudnya Tata Kelola Pemerintahan Daerah yang Bersih, Transparan, berkualitas, Akuntabel, dan Partisipatif yang Berorientasi Pada Pelayanan Publik.

2. Terwujudnya Sumber Daya Manusia yang Unggul dengan Meningkatkan Akses dan Kualitas Pendidikan, Kesehatan serta Kebutuhan Dasar Lainnya.

3. Terwujudnya Kehidupan Masyarakat yang Harmonis, Rukun, Aman dan Demokratis.

4. Terwujudnya Pengembangan Infrastruktur Wilayah Dan Utilitas Lainnya Serta Perwujudan Penataan Ruang Yang Memiliki Daya Dukung Lingkungan.

5. Optimalisasi Sumberdaya Daerah Melalui Pemberdayaan masyarakat dalam rangka Peningkatkan daya saing daerah.

6. Terciptanya Kesejahteraan Masyarakat Berbasis Ekonomi Kerakyatan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

(38)

Potensi Pengembangan Wilayah

Menurut UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwi­

sa taan, pembangunan kepariwisataan dilakukan melalui pengembangan industri pariwisata, destinasi pariwisata, pe masaran dan kelembagaan pariwisata. Upaya pengem­

bang an kepariwisataan di Kabupaten Muaro Jambi ini juga tetap dikaitkan dengan daerah tujuan wisata (destinasi) Kabupaten Muaro Jambi yang dapat sebagai satu kesatuan destinasi wisata nasional sekaligus untuk menarik minat pe ngunjung, ditujukan terhadap wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang ber­

ada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.

Kawasan wisata yang cukup potensial dan menjadi andalan Kabupaten Muaro Jambi adalah kawasan wisata Candi Muaro Jambi di Kecamatan Maro Sebo, kawasan wisata agro industri perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Sungai Bahar, kawasan agro wisata di kecamatan Kumpeh Ulu, Sungai Gelam dan Komunitas Suku Anak Dalam di Kecamatan Mestong.

Khusus mengenai Kawasan Wisata Candi Muaro Jambi yang terletak di Kecamatan Maro Sebo, pada tahun 2011

(39)

Bapak Presiden RI telah menetapkan Kawasan Candi Muaro Jambi sebagai salah satu Kawasan Wisata Sejarah Terpadu di Indonesia. Dengan ditetapkannya Kawasan Candi Muaro Jambi sebagai kawasan Wisata Sejarah Terpadu ini, diharapkan berbagai program guna mendukungan pengembangan Kawasan Wisata Sejarah Terpadu ini dapat terus ditingkatkan, baik melalui pendanaan APBD Kabupaten, APBD Provinsi maupun APBN.

Tabel 2. 1. Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2017-2022

VISI: Tertib, Unggul, Nyaman, Tentram, Adil Dan Sejahtera”

(Muaro Jambi Tuntas 2022)

MISI TUJUAN SASARAN

Misi 6:

Terciptanya kesejahteraan masyarakat berbasis ekonomi kerakyatan, ilmu pengetahuan dan teknologi

Meningkatkan Tarap Hidup Masyarakat berbasis Ekonomi Kerakyatan

1. Meningkatnya Pertumbuhan ekonomi Daerah

2. Menurunya Angka Kemiskinan 3. Menurunnya Tingkat

Pengangguran

4. Menurunnya Kesenjangan antar wilayah

5. Meningkatnya Nilai Investasi (PMA/PMDN) Daerah

Tabel 2.2. Arah Kebijakan Pembangunan Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2022

Tema Arah Kebijakan Pembangunan Percepatan Pembangunan

Infrastuktur Kepariwisataan dan keciptakaryaan

Pengurangan Kesenjangan Antar Wilayah Melallui Meningkatkan Infrastruktur Kewilayahan Dan Utilitas Lainnya Yang Berkualitas

(40)

Tabel 2.3. Identifikasi Permasalahan di Kabupaten Muaro Jambi

Masalah Pokok Masalah Akar Masalah Permasalahan Eknomi

dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di bidang Pariwisata

Pembangunan bidang pariwisata belum optimal

Kurangnya kesadaran masyarakat dalam mendukung upaya pembangunan bidang pariwisata

Promosi dan pengembangan potensi pariwisata belum optimal.

Pengembangan Pariwisata dan Promosi Daerah Program dan kegiatan yang menjadi prioritas pem- bangunan daerah terkait dengan kepariwisataan adalah Pengembangan Pariwisata dan Promosi Daerah. Apabila melihat tren dan menganalisis berbagai sektor ekonomi, maka sektor pariwisata menjadi sektor yang paling memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai andalan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Setiap tahun performa pariwisata Indonesia terus me nanjak, sektor ini terus tumbuh dan bergerak lincah dalam peningkatan ekonomi Indonesia.

Potensi pengembangan pariwisata di Kabupaten Muaro Jambi juga telah dilakukan dengan memanfaatkan kearifan lokal. Berbagai pembangunan fisik maupun non fisik dilakukan dalam rangka pengembangan pariwisata di Kabupaten Muaro Jambi seperti pengembangan Candi Muaro Jambi sebagai kawasan wisata terpadu, perbaikan infrastruktur publik, pembangunan berbagai fasilitas umum dan juga perbaikan sistem pelayanan publik yang pada

(41)

akhirnya akan mengakselarasi aktivitas ekonomi masyarakat.

Konsep pengembangan pariwisata di Kabupaten Muaro Jambi kedepannya adalah pengembangan pariwisata ber basis penataan kawasan, diantaranya adalah penataan ka wasan Kabupaten Muaro Jambi, pembangunan kawasan wi sata budaya, wisata alam, juga wisata budaya dan wisata religi.

Kabupaten Muaro Jambi dengan wilayah yang menge- lilingi Kota Jambi memiliki posisi yang strategis sebagai pintu masuk dan perlintasan ke daerah lainnya, baik per lintasan antar kabupaten/kota dalam Provinsi Jambi mau pun perlintasan antar provinsi. Hal ini tentu juga akan memberi banyak manfaat bagi pengembangan pariwisata di Kabupaen Muaro Jambi.

Keberadaan promosi dan akomodasi transportasi yang berjalan seirama, tentu diperlukan perhatian yang cukup intensif terhadap kualitas objek wisata dan kera- mahan tuan rumah itu sendiri. Inovasi paket wisata dan ber bagai kreativitas lainnya juga harus digerak kan ber- ke sinambungan. Selain itu, juga dibutuhkan sinergitas semua stakholder terkait dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Muaro Jambi. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah peran masyarakat pengguna teknologi untuk memaksimalkan promosi sektor pariwisata di Kabu- paten Muaro Jambi. Kombinasi apik antara perkembangan teknologi, pariwisata, serta keramahan budaya akan men jadi nilai tambah bagi pengengembangan aktivitas kepariwisataan.

(42)

Apabila aktivitas kepariwisataan mampu dikelola de ngan baik dan diorganisasi dengan manajemen yang se hat, maka hal ini tentu akan meningkatkan promosi dae rah Kabupaten Muaro Jambi di level nasional maupun inter nasional. Dengan demikian, peningkatan investasi di Ka bupaten Muaro Jambi pun juga akan tumbuh, dan se lanjutnya akan berdampak pada peninkatan lapangan usaha dan pengurangan pengagguran. Muaranya tentu adalah perbaikan struktur dan peningkatan pertumbuhan eko nomi Kabupaten Muaro Jambi.

c. Kebijakan Renstra Disparpora 2017-2022

Dalam Rencana strategi Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2017-2022 telah dinyatakan visi kepariwisataan Muaro Jambi yaitu

“Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Tuntas 2017-2022”.

Untuk dapat mewujudkan visi terebut, Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Muaro Jambi ter- sebut perlu dilaksanakan misi yang terarah dan terpadu, yaitu:

1. Mewujudkan Pesona Muaro Jambi (Wonderful Muaro Jambi)

2. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Pemuda di Kabu- paten Muaro Jambi

3. Ayo Olahraga Muaro Jambi

Adapun tujuan jangka menengah daerah yang perlu men dapatkan dukungan dari Dinas Pariwisata, Kepe- mu daan dan Olahraga yaitu menigkatkan Peran Sektor

(43)

Pariwisata sebagai Pendukung perekonomian Daerah dan meningkatkan Organisasi Kepemudaan dan Olahraga

Sedangkan sasaran jangka menengah daerah yang perlu men dapatkan dukungan dari Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga yaitu menigkatkan adalah meningkatkan jum lah kunjungan wisatawan dan meningkatkan peran ser ta pemuda dan olahragawan pada event pemuda dan olahraga.

2.2 Strategi dan Kebijakan Jangka menengah

Strategi

­ Pengembangan dan Pengelolaan Destinasi Pariwisata - Pengembangan Wawasan dan Kewirausahaan Pemuda - Pengembangan semangat ayo olah raga Muaro Jambi Kebijakan:

­ Pengembangan Destinasi Wisata Budaya, Alam dan Buatan serta Kemitraan industri pariwisata

- Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata - Peningkatan Wawasan Kebangsaan bagi Pemuda - Pengembangan Kewirausahaan Pemuda

- Pembudayaan Olahraga

- Kemitraan dan Penghargaan Bagi Pelaku Olahraga

VISI: Pariwisata Pemuda dan Olah raga Tuntas 2017-2022 MISI I Mewujudkan Pesona Muaro Jambi (Wonderful Muaro Jambi)

(44)

Strategi dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi terkait dengan sasaran Meningkatnya Jumlah Kunjungan Wisatawan dan meningkatnya fasilitas dan pembinaan olah- raga adalah pengembangan dan Pengelolaan Destinasi dan Peamsaran Pariwisata, Peningkatan dan Pengembangan Orga- nisasi Kepemudaan dan Peningkatan Fasilitas dan Pembinaan Olahraga.

Kinerja Pariwisata

Program pembangunan Bidang Pariwisata Tahun 2011-2016 di Kabupaten Muaro Jambi tidak terlepas dari Arah Kebijakan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi yaitu Pengembangan Pariwisata, Seni dan Budaya berdasarkan kondisi dan potensi daerah. Sebagai implementasi dari kebijakan tersebut maka ditetapkan program pembangunan di Bidang Kepariwisataan ini yang meliputi:

1. Pengembangan pemasaran pariwisata 2. Pengembangan destinasi pariwisata 3. Pengembangan Kemitraan pariwisata

(45)

Sasaran yang hendak dicapai dari pembangunan bidang kepariwisataan ini antara lain, menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak roda ekonomi kerakyatan, terwujudnya objek dan daya tarik wisata serta seni budaya daerah dan mengembangkan kawasan wisata daerah. Potensi wisata yang menjadi andalan di Kabupaten Muaro Jambi adalah Situs Candi Muaro Jambi yang terletak di Desa Muaro Jambi Kecamatan Maro Sebo dengan luas areal 12 Km². Sebagai salah satu objek wisata unggulan di Kabupaten Muaro Jambi memilki nilai historis yang sangat tinggi. Situs Candi Muaro Jambi sehingga merupakan salah satu asset daerah dan nasional.

Dalam pengembangan kawasan Candi Muaro Jambi ini Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi terus berupaya melakukan terobosan-terobosan dalam upaya memasyarakatkan kawasan situs tersebut baik melalui sosialisasi/promosi dan peningkatan sarana prasarana penunjang Candi Muaro Jambi.

Pemerintah Kabupaten terus berupaya untuk membangun Bidang Pariwisata di KabupatenMuaro Jambi, terutama melalui kegiatan promosi guna menarik wisatawan maupun menarik minat investor untuk mengembangan kepariwisataan di Kabupaten Muaro Jambi. Disamping itu juga Pemerintah Kabu paten Muaro Jambi berupaya meningkatkan sarana dan prasrana penunjang bagi pengembangan objek-objek wisat adaerah seperti pembangunan jalan, air bersih, listrik dan teleko munikasi, baik melalui dana APBD Kabupaten, APBD Provinsi maupun APBN.

(46)

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi juga melakukan Promosi wisata melalui even-even Provinsi maupun luar Daerah seperti Promosi pada Hari Ulang Tahun Propinsi Jambi, Festival Batang Hari, HUT Bungo, Gebyar Sarolangun, Festival Danau Kerinci dan Mataram Expo di Nusa Tenggara Barat (Lombok), Bulan Promosi Kabupaten Muaro Jambi di Taman Mini Indonesia Jakarta dan Pekan Raya Jakarta.

(47)
(48)

BAB III

KAWASAN

CANDI MUARO

JAMBI

(49)

3.1 Sejarah Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian agama Hindu­Buddha terluas di asia tenggara, dengan luas 3981 hektar. yang kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Kompleks percandian ini terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, tepatnya di tepi Sungai Batang Hari, sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi. Koordinat Selatan 01*

28’3” Timur 103* 40’04”. Candi tersebut diperkirakakn berasal dari abad ke-7-12 M. Candi Muara Jambi merupakan kompleks candi yang terbesar dan yang paling terawat di pulau Sumatra.

Dan sejak tahun 2009 Kompleks Candi Muaro Jambi telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia.

Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan dari Inggris yang bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-7-12 Masehi. Di situs ini baru Sembilan bangunan yang telah dipugar,dan kesemuanya adalah bercorak Buddhisme.

Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano (Karmelia, Y., Mursalin, A., &

Huda, I. A. I. S. (2022).

(50)

Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus Satrio Atmodjo menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, China dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan “wajra” pada beberapa candi yang membentuk mandala. Berdasarkan cerita masyarakat dulu bahwasannya asal-usul Candi Muaro Jambi memiliki cerita yang hampir sama seperti cerita Candi Pram- banan (Pamungkas, S., & Agustiningsih, N., 2018).

Kompleks percandian Muaro Jambi terletak pada tanggul alam kuno Sungai Batanghari. Situs ini mempunyai luas 12 km persegi, panjang lebih dari 7 kilometer serta luas sebesar 260 hektar yang membentang searah dengan jalur sungai. Situs ini berisi 110 candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum dikupas (diokupasi). Dalam kom- pleks percandian ini terdapat pula beberapa bangunan ber- pengaruh agama Hindu (Ignatius Suharno, 2016)..

Di dalam kompleks tersebut tidak hanya terdapat candi tetapi juga ditemukan parit atau kanal kuno buatan manusia, kolam tempat penammpungan air serta gundukan tanah yang di dalamnya terdapat struktur bata kuno. Dalam kompleks tersebut minimal terdapat 85 buah menapo yang saat ini masih dimiliki oleh penduduk setempat. Selain tinggalan yang berupa bangunan, dalam kompleks tersebut juga ditemukan arca prajnaparamita, dwarapala, gajahsimha, umpak batu, lumpung atau lesung batu. Gong perunggu dengan tulisan Cina, mantra Buddhis yang ditulis pada kertas emas, keramik asing, tembikar, belanga besar dari perunggu, mata uang Cina, manik-manik,

(51)

bata-bata bertulis, bergambar dan bertanda, fragmen pecahan arca batu, batu mulia serta fragmen besi dan perunggu. Selain candi pada kompleks tersebut juga ditemukan gundukan tanah (gunung kecil) yang juga buatan manusia. Oleh masyarakat setempat gunung kecil tersebut disebut sebagai Bukit Sengalo atau Candi Bukit Perak. (https://id.wikipedia.org, 2022)

3.2 Letak Geografis Candi Muaro Jambi

Kawasan Wisata Candi Muaro Jambi terletak di Kecamatan Taman Rajo Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi. Secara astronomis, situs ini terletak sekitar titik koordinat 103 Ú22 ‘ BT hingga 103 Ú45 ‘BT dan 1Ú24’ LS dan 1Ú33’ LS. Lokasi ini tepat berada di atas tanggul alam purba yang membujur sepanjang 8 kilometer dengan ketinggian rata-rata antara 8-12 meter di atas permukaan laut. Dilihat dari lokasinya berada pada posisi yang strategis sehingga dapat diandalkan sebagai kawasan wisata potensial. Kawasan Wisata Candi Muaro Jambi berada tepat di pertengahan Kabupaten Muaro Jambi dan dikelilingi oleh 6 (enam) kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Muaro Jambi.

Dengan letaknya yang strategis dan dekat dengan pusat kota merupakan salah satu aspek pendukung dalam upaya pengembangan Kawasan Wisata Candi Muaro Jambi ini. Jarak antara Kawasan Wisata Candi Muaro Jambi dengan pusat kota Jambi dapat ditempuh selama kurang lebih 30 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.30

Secara administratif daerah­darah yang termasuk dalam Ka wasan Wisata Candi Muaro Jambi meliputi tujuh wilayah desa yaitu: Desa Dusun Baru, Desa Danau Lamo, Desa Muaro Jambi, Desa Kemingking Luar, Desa Kemingking Dalam, Desa

(52)

Teluk Jambu dan Desa Dusun Mudo yang merupakan wilayah kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

3.3 Wisata Sejarah

Kompleks Percandian Muaro Jambi

Kompleks Percandian Muaro Jambi yang di dalamnya tersimpan lebih dari 80 reruntuhan candi dan sisa-sisa permu- kiman kuno dalam rentang abad IX-XV Masehi. Meskipun belum sepopuler candi lain di Pulau Jawa, situs purbakala yang diyakini juga sebagai salah satu pusat pengembangan agama Buddha di masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya ini merupakan aset yang dapat dimanfaatkan di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, pariwisata, sosial, agama, dan ekonomi.

Gambar 3.1. Candi Vando Astano

(53)

Situs purbakala ini membentang dari barat ke timur di tepian Sungai Batanghari sepanjang 7,5kilometer.Kompleks percandian ini dapat ditempuh melalui darat dan sungai dengan jarak dari Kota Jambi sejauh 30 Km. Dari sekitar 80 reruntuhan candi yang sudah diketahui, yang oleh masyarakat setempat disebut menapo, baru sebagian kecil yang sudah dipugar.

Berdasarkan sisa-sisa reruntuhan yang ada, sebuah bangunan menggunakan batu merah.

Candi-candi yang sudah dibangun dan bisa dikunjungi wisatawan adalah Candi Vando Astano, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Gedong 1, Candi Gedong 2, dan kolam Talaga Rajo. Juga terdapat Kanal-Kanal Tua yang mengelilingi komplek Percandian ini. Lokasinya tersebar di Desa Muaro Jambi, Kemingking Dalam, dan Danau Lamo.

Situs Purbakala Candi Muaro Jambi Komplek Percandian Muaro Jambi, Situs Kepurbakalaan Muaro Jambi merupakan tempat peninggalan purbakala terluas di Indonesia, membentang dari barat ke timur 7,5 kilometer ditepian Sungai Batanghari, dengan luas lebih kurang 12 kilometer persegi.

Sebagian kecil berada di barat sungai batanghari dan disisi timur sungai batanghari masuk wilayah administratif Desa Muaro Jambi dan Desa Danau Lamo, sedangkan dibagian barat sungai berada di Desa Kemingking Dalam, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.

(54)

Gambar 3.2 . Candi Gumpung

Candi Gumpung adalah salah satu candi yang terletak di kawasan cagar budaya Muara Jambi. Berdasarkan datanya, candi Gumpung dibangun pada abad 9 sampai abad 10. Hal ini berdasarkan dari temuan keramik China dari Dinasti Sung.

Lokasi terletak di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.

Gambar 3.3. Candi Gedong II

(55)

Candi Gedong II ini berada di Komplek Percandian Muaro Jambi, yang berjarak sekitar 30 km dari pusat kota. Berdasarkan informasi, Candi Gedong II merupakan candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya ketika masih berkuasa di sana. Candi Gedong II berbeda dengan beberapa candi yang ada di Pulau Jawa, di mana candi ini dibangun dengan menggunakan batu bata, mengingat lokasinya yang jauh dari gunung berapi. Tak jauh dari sana, kamu juga akan menemukan Candi Gedong I, yang bangunannya tak semegah seperti Candi Gedong II.

Gambar 3.4. Candi Mahligai

Masih dengan wisata sejarah, kali ini kamu bisa berkunjung ke Candi Mahligai, yang juga merupakan candi peninggalan Kera jaan Sriwijaya dan masih satu komplek dengan Candi Muara Takus. Candi ini memiliki bangunan seperti stupa yang terbagi ke dalam tiga bagian, yakni kaki, badan, dan atap.

Bangunan candi yang terlihat megah menjadikannya sebagai spot foto yang menarik bagi para generasi milenial.

(56)

3.4 Wisata Kuliner

Selain memiliki kekayaan berupa wisata sejarah, kawasan Candi Muaro Jambi memiliki kekayaan wisata kuliner baik makanan, kue dan minuman. Ada banyak kekayaan kuliner khas di Kawasan Candi Muaro Jambi. Berikut ini akan beberapa kuliner khas Muaro Jambi beserta penjelasannya (https://www.

sman1muarojambi.sch.id).

a. Tempoyak

Gambar 3.5. Sambal Tempoyak

Jika kamu pernah mendatangi Pekanbaru, kamu akan menemukan makanan khas Pekanbaru yang dibuat dari fermentasi udang untuk dijadikan bumbu campuran.

Di Jambi kususnya Kabupaten Muaro Jambi ada makanan serupa yang bernama tempoyak. Tempoyak adalah makanan khas Jambi yang menggunakan bahan utama

(57)

berupa durian yang difermentasi. Setelah difermentasi, durian akan mengeluarkan aroma yang menyengat dengan cita rasa yang khas.Tempoyak adalah bumbu yang biasa disajikan sebagai aluk dan dimakan bersama nasi. Orang Jambi juga tak jarang menggunakan tempoyak sebagai bahan campuran dalam membuat sambal.

Tempoyak mempunyai cita rasa asam yang khas de- ngan tekstur daging buah yang lembek. Di tanah Sumatera, tempoyak tak hanya terkenal di Jambi, tetapi juga di Palembang dan Lampung. Bahkan, di luar pulau seperti Kali mantan, tempoyak juga banyak dijual terutama saat musim durian tiba.

b. Kue Padamaran

Gambar 3.6. Kue Padamaran

(58)

Kue padamaran adalah panganan ringan yang mem- punyai nilai tradisional yang terkenal di Jambi. Kue pada- maran sendiri adalah kue khas Jambi yang terbuat dari bahan baku tepung beras dan santan. Kue padamaran mem punyai cita rasa yang gurih dengan tekstur lembut menye rupai bubur sumsum. Perbedaan antara kue pada- maran dengan bubur sumsum terletak pada penggunaan kinca gula merahnya.

Kalau bubur sumsum kinca gula merahnya disiram pada bagian atas, sedangkan pada kue padamaran kinca gula merah tak hanya digunakan untuk bagian atas kue, tetapi juga bagian dasarnya. Untuk kamu yang tidak tahu, kue padamaran memiliki warna hijau. Warna hijau yang dimiliki oleh kue padamaran merupakan hasil penggunaan air suji.

Jika kamu belum pernah menyantap kue padamaran, jangan sampai melewatkan makanan tradisional khas Jambi ini selagi ada di Jambi.

c. Daging Masak Hitam

Di Jakarta, ada makanan yang mirip dengan daging masak hitam, yakni semur di mana terdapat kesamaan pada kuah hitam yang pekat dengan cita rasa manis gurih yang bisa bikin para penikmatnya ketagihan. Daging masak hitam sendiri merupakan makanan khas Jambi yang menyajikan bahan utama berupa daging sapi.

(59)

Gambar 3.7. Daging Masak Hitam

Bumbu yang digunakan untuk membuat daging ma- sak hitam antara lain jintan, adas manis, ketumbar, kayu manis, pala bubuk, lada putih bubuk, garam, kecap manis, dan santan.Selain bumbu-bumbu tersebut, ada juga bumbu halus yang harus digoreng terlebih dahulu seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, batang serai, dan lengkuas. Untuk membuatnya, bumbu halus yang sudah tersedia harus dicampur bersama kelapa sangrai, ketumbar, kayu manis, lada putih bubuk, garam, adas manis, dan jintan.

Bumbu yang sudah tercampur dibalurkan pada daging lalu didiamkan selama 20 menit. Setelah diabaikan, daging bisa langsung dimasak dalam panci. Saat dimasak, tuang kecap dan santan sedikit demi sedikit hingga daging empuk dan matang serta kuahnya mengental.

(60)

d. Nasi Gemuk

Gambar 3.8. Nasi Gemuk

Nasi gemuk adalah makanan khas kota Jambi yang mirip dengan nasi uduk khas Betawi atau nasi yang disaji- kan bersama campuran lauk pelengkap di daerah-daerah lain. Perbedaan antara nasi gemuk dengan nasi jambi ter- letak pada lauk pendampingnya. Kalau nasi uduk biasanya disajikan bersama emping melinjo, sementara nasi gemuk tidak pakai emping dan justru menggunakan kerupuk.

Di provinsi Jambi, nasi gemuk biasanya dihidangkan sebagai menu pembuka hari. Nasi gemuk dibuat dari bahan baku beserta proses pengolahan yang nyari sama dengan nasi uduk. Jadi jika membicarakan bagaimana cita rasa dari nasi gemuk, maka tidak ada perbedaan yang terasa dengan cita rasa yang dimiliki oleh nasi uduk. Bedanya mungkin kalau nasi gemuk berasal dari Jambi, sedangkan nasi uduk berasal dari Jakarta.

(61)

e. Bolu Kojo

Gambar 3.9. Bolu Kojo

Nama bolu kojo mungkin belum seakrab jenis kue bolu lainnya di daerah-daerah lain di Indonesia. Tapi di Sumatera Selatan, nama makanan ini sangat populer, terutama di daerah Riau, Palembang, Bengkulu, dan Jambi. Bolu kojo atau bolu kemojo adalah kue bolu yang mempunyai bentuk seperti bunga kamboja. Bentuk tersebut merupakan hasil dari cetakan loyang yang sengaja dibuat menyerupai bunga kamboja.

Biasanya, masyarakat Jambi menjadikan bolu kojo sebagai menu buka puasa. Kue bolu kojo di Sumatera Selatan menjadi makanan khas sekaligus ikon kulinernya.

Makanan khas Jambi ini biasanya dihidangkan dalam acara- acara atau pesta­pesta adat. Bolu kojo sangat nikmat jika dimakan bersama dengan teh manis hangat. Jika kamu sedang berpelesir ke tanah Sumatera, terutama Jambi,

(62)

jangan lupa untuk membeli kue ini sebagai buah tangan untuk diberikan pada tetangga-tetangga dan keluarga di rumah.

f. Mie Celor

Gambar 3.10. Mie Celor

Berkunjung ke Jambi belum lengkap tanpa mencicip salah satu kuliner terkenalnya yakni mie celor. Makanan khas Jambi ini terbuat dari adonan tepung terigu yang kemudian diolah bersama sayuran sehat seperti tauge dan daun sop. Mie celor adalah panganan yang mudah ditemui di sudut-sudut kota Jambi. Banyak penjual yang menjajakan makanan sederhana ini untuk mereka yang diserang rasa lapar seusai bekerja seharian.

Mie celor dianggap sebagai makanan yang tak hanya membuat perut kenyang, tetapi juga mengembalikan semangat tubuh karena kuahnya yang hangat dan

(63)

menyegarkan. Kuah mie celor mempunyai aroma rempah yang menyeruak. Kuah santan yang diguyur pada mie ditam bah menu pelengkap seperti irisan daging ayam atau sapi dan telur membuat lidah seakan tak mau berhenti untuk mengunyahnya.

Mie celor ini bukan hanya terkenal di Jambi, tetapi juga di Palembang dan Padang. Bedanya, mie celor khas Jambi mempunyai kuah yang tidak terlalu kental seperti mie celor dari Palembang atau Padang.

7. Kue Gandus

Gambar 3.11. Kue Gandus

Jambi mempunyai banyak kue khas. Selain kue pada- maran, Jambi masih mempunyai kue yang tak kalah enak lainnya. Kue tersebut adalah kue gandus. Kue gandus adalah salah satu kue yang terkenal di provinsi Jambi. Kue gandus mempunyai tampilan yang serupa dengan talam

(64)

ebi. Warnanya putih cerah seperti susu. Kue gandus terbuat dari campuran tepung beras, tepung sagu, garam, dan santan. Untuk memperkaya rasa, adonan kue dicampur dengan bumbu halus seperti bawang putih, bawang merah, dan cabai.

Kue gandus mempunyai bentuk seperti mangkuk atau kotak persegi, tergantung loyang cetakan yang digunakan.

Penyajian kue gandus biasanya dilakukan setelah menyiram topping khusus yang terbuat dari ebi sangrai, daun seledri, bawang goreng, irisan cabai, daging gilin, dan abon ikan. Rasa dari kue khas Jambi ini pedas nikmat.

g. Kue Putri Kandis

Gambar 3.12. Kue Putri Kandis

Selain kue padamaran dan gandus, ada kue basah lain yang tak kalah enak dengan dua kue sebelumnya, yakni kue putri kandis. Kue dengan nama cantik ini adalah jajanan tradisional dari Jambi yang mempunyai bentuk kotak

(65)

persegi. Tampilan dari kue putri kandis ini menarik untuk dilihat di mana terdapat tumpukan warna hijau, kuning, dan cokelat. Warna hijau biasanya terletak di bagian tengah kue yang dihasilkan dari air daun suji.

h. Kue Kubang Boyo

Gambar 3.13. Kue Kubang Bayo

Lagi-lagi untuk makanan khas Jambi berikutnya adalah kue basah tradisional yang mempunyai nama kue kubang boyo. Selain dikenal dengan sebutan kubang boyo, kue ini juga tak jarang dipanggil dengan kue pak ipuk, kue anak buaya, kue buaya berenang, atau kue kubang buaya. Selalu terselip buaya dalam penamaan kue ini. Mengapa? Sebab kue ini mempunyai tampilan yang mirip dengan punggung buaya yang muncul sedikit di permukaan air.

(66)

Kue dengan nama unik ini terbuat dari campuran tepung ketan yang diberi pasta pandan. Adonan kue digu­

nakan untuk membungkus isian berupa gula merah dan kela pa parut. Setelah adonan matang dan siap disajikan, kue sebelumnya diletakkan dalam wadah yang kemudian digu yur dengan santan atau fla. Kue kubang boyo mem­

punyai cita rasa yang manis dengan tekstur kue yang legit dan kenyal.

i. Kue Muso

Gambar 3.14. Kue Muso

Kue muso juga tergolon ke dalam makanan khas Jambi berjenis kue yang sangat digemari masyarakat kota Jambi.

Dari bentuknya, kue muso sangat mirip dengan kue pie.

Dari tampilannya, kue muso setali tiga uang dengan kue lumpang berselimutkan cokelat dan kue lumpur lapindo..

(67)

Jadi, bagiamana sebenarnya kue muso ini? Kue muso sebenarnya adalah kue tradisional yang memiliki bentuk seperti mangkok di mana bagian pinggirnya merupakan cokelat padat. Kue muso terbuat dari campuran tepung ketan, tepung terigu, cokelat bubuk, minyak sayur, air pandan ditambah suji, santan, garam halus, air suam-suam, telur, tepung terigu, gula pasir, dan vanili.

Keberadaan kue ini biasanya paling sering di bulan Ramadhan. Orang-orang menyantap kue muso sebagai menu berbuka. Dengan cita rasa yang manis, kue muso memang cocok jika dijadikan takjil.

j. Rambutan Goreng

Gambar 3.15. Rambutan Goreng

Jika pisang, apel, dan nangka sudah biasa diolah dengan teknik digoreng, maka orang Jambi berkreasi meng gunakan buah-buahan yang tak biasa. Buah yang

(68)

dipilih untuk digoreng adalah rambutan. Unik, bukan? Ram­

butan goreng adalah olahan buah rambutan yang menjadi camilan khas dari Jambi.

Untuk membuat rambutan goreng, dilakukan serang­

kaian proses yang hampir sama dengan pembuatan nanas goreng. Tentu saja, yang digoreng adalah bagian daging nya saja. Daging rambutan yang hendak digoreng harus dibiar- kan beberapa saat agar keadaannya benar-benar kering sehingga hasilnya bagus ketika digoreng. Setelah kering, daging rambutan tadi dibaluri bumbu yang terbuat dari garam, tepung terigu, dan vanili untuk digoreng kemudian.

Setelah matang, rambutan goreng harus ditirksn terlebih dahulu sebelum disantap. Jika kamu belum pernah menjajal camilan khas Jambi ini, rambutan goreng mempunyai rasa seperti kurma. Makanan khas Jambi satu ini bisa bertahan hingga enam bulan meskipun tanpa memakai bahan pengawet.

k. Gulai Tepek Ikan

Pada pesta pernikahan dengan mengadopsi adat Jambi, biasanya ada kuliner khas Jambi yang tersaji, yakni gulai tepek ikan. Gulai tepek ikan adalah makanan berkuah santan yang menggunakan bahan baku irisan ikan tenggiri, gabus, atau belida yang diolah mirip pempek.

Gulai tepek ikan dibuat dari ikan air tawar yang dibalur- kan bersama adonan tempung sagu dan bawang putih, kemudian dibentuk seperti pempek lenjer dan dimasak hingga matang. Adonan yang sudah matang berikutnya

(69)

dicampur ke dalam kuah santan gulai yang rasanya asam gurih.

Gambar 3.16. Gulai Tepek Ikan

Untuk diketahui, selipan kata tepek pada nama ma­

kanan ini merujuk pada proses pembuatan adonan ikan yang dipadatkan atau dipipihkan sebelum direbus hingga matang. Tepek ikan yang sudah matang akan disajikan dalam bentuk potong-potongan kecil berbentuk jajar genjang bersama kuahnya yang asam, gurih, dan segar.

l. Gulai Terjun

Gulai terjun adalah kuliner bernama unik yang biasa disajikan lauk sehari-hari oleh orang Jambi. Gulai terjun adalah makanan khas yang dibuat dari bahan dasar daging.

Daging yang digunakan biasanya daging sapi, kerbau, atau kambing. Daging yang diolah menjadi nantinya akan

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dilakukan penulis untuk melihat secara langsung guna mendapat informasi secara jelas mengenai macam- macam budaya sekolah unggul dalam membina pendidikan karakter