• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI A."

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

A. Pustakawan

1. Pengertian Perpustakaan

Menurut Stueart dan Moran, pustakawan adalah orang yang terlatih secara profesional dan bertanggung jawab guna mengurus perpustakaan dan isinya meliputi pemilihan, pemrosesan dan pengorganisasian materi, penyampaian layanan informasi, pengajaran serta peminjaman guna memenuhi kebutuhan pemustakanya.1 Sedangkan menurut Undang-Undang 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi dalam hal kepustakaan, diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan kepustakawanan, serta memiliki tugas untuk mengelola dan melayani perpustakaan.2

Dari definisi di atas, maka dapat dikatakan, pustakawan adalah orang yang benar-benar mengerti ilmu perpustakaasn, setidaknya pernah mendapat pelatihan tentang kepustakawanan dan dilimpahkan tugas dan tanggung jawab oleh lembaga yang berwenang untuk bekerja di perpustakaan sesuai klasifikasi ilmu yang dimilikinya.

1 Anninda Puspa Rini Fasah and Laksmi, “Representasi Pustakawan Dalam Mengelola Perputakaan Pada Film Pendek Project: Library,” Lentera Pustaka 4 (2018), http://ejournal.undip.ac.id/index.php/Ipustaka/article/view/16023.

2 “Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan” (Pemerintah NKRI, 2007).

(2)

2. Persyaratan Pustakawan

Menurut Suhernik, ada dua aspek persyaratan untuk menjadi pustakawan, di antara lain3:

a. Aspek profesional

Aspek profesional merupakan berpendidikan formal ilmu pengetahuan, pustakawan dituntut gemar membaca, terampil, kreatif, cerdas, tanggap, berwawasan luas, berorientasi ke depan, mampu menyerap ilmu lain, objektif, menaati etika profesi pustakawan, memiliki motivasi tinggi, berkarya di bidang kepustakawanan dan mampu melaksanakan penelitian serta penyuluhannya.

b. Aspek keperibadiaan dan Perilaku

Aspek keperibadiaan dan perilaku ialah mempunyai tanggung jawab sosial dan kesetiakawanan, memiliki etos kerja tinggi, mandiri, loyal terhadap profesi, luwes, komunikatif, suka melayani, ramah dan simpatik, terbuka terhadap kritik dan saran, siaga dan tanggap kemajuan dan perkembangan ilmu teknologi, disiplin dan menjunjung tinggi pustakawan.

Selaras persyaratan, pustakawan memiliki beberapa kompetensi yang harus dimiliki, berikut rinciannya:

1. Pengetahuan atau Knowladge

Dalam hal ini ialah keampuan di bidang kognitif. Misalnya, kemampuan pustakawan mengetahui kebutuhan informasi pemustaka, kemampuan

3 Suhernik, “Superior Dan Layanan Sebagai Bentuk Layanan Berkualitas Bagi Pustakawan Profesional” (Sumaetera Barat: Buletin Media Informasi dan Komunikasi Kepustakawanan, 2006), h. 73.

(3)

pustakawan menyediakan literatur yang bermanfaat bagi pemenuhan informasi pemustaka, serta kemampuan pustakawan menentukan strategi pemberian layanan berkualitas atau prima sesuai dengan kebutuhan pemustaka.

2. Pemahaman atau Understanding

Artinya, seberapa dalam pengetahuan yang dipunyai setiap individu.

Misalnya, pustakawan bukan hanya sekadar mengetahui teknik mengidentifikasi kebutuhan pemustaka, tetapi juga perlu memahami langkah-langkah yang mesti dilaksanakan dalam proses mengidentifikasi tersebut.

3. Pengetahuan atau Skill

Kemampuan individu guna melaksanakn secara praktik tentang tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misal, kecakapan pustakawan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas atau prima, menerapkan teknologi pada semua aspek di perpustakaan, bekerja sama, memahami kebutuhan pemustaka, mengetahui dan memahami karakter pemustaka, dan lain-lain.

4. Nilai atau value

Norma-norma yang dianggap baik oleh setiap individual. Nilai ini yang akan menuntun tiap-tiap individu melaksanakan tugas-tugasnya.

Contohnya, nilai kejujuran, keterbukaan, keadilan, dan lain-lain.

(4)

5. Sikap atau Attitude

Pandangan individu terhadap sesuatu. Contoh, tidak senang atau senang, suka atau tidak suka, dan lain-lain.

6. Minat atau Interest

Kecenderungan individu guna melaksanakan suatu perbuatan. Minat ialah aspek yang dapat menentukan motivasi seseorang melakukan aktivitas tertentu.

7. Motivasi atau motivation

Keinginan dalam diri individu yang menyebabkan orang-orang tersebut berbuat. Contoh, diberi intensif, penghargaan, pujian, promosi kepada pustakawan yang memiliki kinerja yang tinggi, pustakawan yang berprestasi, pustakawan yang sanggup menjalankan tugas serta bertanggung jawab dengan tepat waktu sesuai ekspetasi, dan lain-lain.4 3. Tugas Pokok Pustakawan

Pustakawan memiliki tugas pokok yang mesti ditaati. Tugas pokok tersebut adalah:

a. Tugas pokok pustakawan tingkat terampil meliputi pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka atau sumber informasi, pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

b. Tugas pokok pustakawan tingkat ahli meliputi pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka atau sumber informasi,

4 Iskandar, Pelayanan Perpustakaan (Bandung: Refika Aditama, 2020), 18.

(5)

pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi, serta mengkaji pengembangan perpustakaan.5

4. Peran Pustakawan

Rachman Hermawan dan Zulfikar Zen mengemukakan bahwa pustakawan memiliki beberapa peran, yaitu:

a. Edukator

Sebagai pendidik, pustakawan harus melaksanakan fungsi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik, yakni mengembangkan kepribadian.

Mengajar, yaitu mengembangkan kemampuan berpikir. Melatih, yakni membina serta mengembangkan keterampilan.Oleh sebabnya, pustakawan mesti mempunyai keterampilan mengajar, melatih dan mengembakan pengetahuan pegawai maupun pemustaka yang dilayaninya.

b. Manajer

Pustakawan merupakan manajer informasi yang mengelola infornasi dengan baik agar layak digunakan para pemustaka.

c. Administator

Sebagai administrator, yakni pustakawan harus mampu menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi program perpustakaan untuk kemudian dianalisis hasil yang telah dicapai, serta melakukan upaya perbaikan agar mendapat hasil yang lebih baik.

5 “Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pustakawan Dan Angka Kreditnya”

(Perpustakaan Nasional, 2006), h. 5.

(6)

d. Supervisor

Sebagai supervisor, yakni pustakawan harus:

1) Dapat melaksanakan pembinaan profesional antar sesama pustakawan agar meningkatkan semangat kerja dan kebersamaan.

2) Dapat meningkatkan prestasi, pengetahuan, dan keterampilan antar sesama pustakawan maupun pemustaka yang akan dilayani.

3) Berwawasan luas, pandangan ke depan, paham beban kerja, rintangan-rintangan, bersikap sabar namun tegas, adil, objektif dalam melakukan tanggung jawabnya.

4) Kapabel berkoordinasi dengan rekan sejawat dan pembinanya dalam merampungkan serba-serbi persoalan dan kendala hingga sanggup meningkatkan kinerja unit organisasi.

B. Representasi dan Film Animasi i. Representasi

Menurut Stuart Hall, representasi adalah proses produksi makna melalui bahasa.6 Sedangkan Juliastuti berpendapat, bahwa representasi merupakan konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penanda yang tersedia, seperti dialog, teks, video, film, fotografi dan lain sebagainya.7

6 Muhammad Iksan Fauzi and Nina Mayesti, “Representasi Perpustakaan Dalam Serial Animasi Avatar,” EDULIB Jurnal UPI 9 (2019), http://ejournal.upi.edu/index.php/edulib/index.

7 Nuraini Juliastuti, “Representasi.”

(7)

ii. Film Animasi

Film adalah rekaman yang muncul kemudian berkembang dalam masyarakan dan diproyeksikan ke layar.8 Menurut Sumarno, film ialah sebuah karya seni mutakhir dari abad 20 yang mampu menghibur, mendidik, melibatkan persaaan, merangsang pikiran, dan memberikan dorongan kepada penontonnya.9

Awalnya, produk film dimulai dengan fim bisu yang hanya berwarna hitam dan putih atau monokrom hingga menjadi pernuh warna seperti saat ini dengan bantuan kecanggihan teknologi menghadirkan film 2D (dua dimensi), film 3D (tiga dimensi), bahkan 4D (empat dimensi) yang bertujuan melimpahkan pengalaman menonton selayaknya sedang berada di tengah film. Berdasarkan sifatnya, film diurai menjadi story movie, news movie, documenter movie, dan animation film.

Animasi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yakni animo yang artinya hasrat, keinginan atau minat. Lebih intens lagi animo bermakna roh, jiwa atau hidup. Bagi masyarakat kuno, animisme adalah suatu kepercayaan kalau semua benda memiliki jiwa atau hidup.

Animasi sendiri pada dasarnya adalah suatu disiplin ilmu yang memadukan unsur seni dan teknologi. Singkatnya, animasi merupakan cabang sinematografis yang tidak lepas dari ilmu film.10 Film animasi adalah gabungan antara audio dan cerita visual dengan menceritakan cerita

8 Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), h. 127.

9 Sumarno, Dasar-Dasar Apresiasi Film, 2.

10 Partono Soenyonto, Animasi 2D, 1.

(8)

menggunakah langkah animasi atau kartun.11 Menurut Beaver, film animasi adalah film yang digambar secara satu persatu atau individual dan di foto frame demi frame. Masing-masing frame mempunyai perbedaan supaya dapat

menciptakan ilusi layaknya sedang bergerak ketika ditampilkan secara cepat.12

a. Unsur-unsur Naratif Film Animasi

Sebab merupakan karya naratif dan seni visual, film memiliki nsur naratif di mana elemennya tidak lain ialah alur, latar (tempat dan waktu, serta penokohan.13

1) Alur

Alur mengandung unsur jalan cerita yang menitik-beratkan relasi kausalitas, yakni hubungan antar peristiwa dari sebab-akibat yang diceritakan dalam karya naratif tersebut. Alur memiliki empat elemen pembangun, yaitu:

a) Pemaparan, tahap yang berisi visualilasi dan pengenalan situasi latar dan para tokoh cerita. Biasanya merupakan pembuka cerita guna memberi informasi landasan cerita yang diceritakan pada tahap berikutnya.

b) Gawatan, masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang memicu timbulnya konflik yang sudah dimunculkan kemudian semakin

11 Teguh Imanto, “Film Sebagai Proses Kreatif Dalam Bahasa Gambar.”

12 Prisca Budi Juvitasari, “Representasi Perpustakaan Dan Pustakawan Dalam Film Serial Animasi Upin Ipin "Aku Sebuah Buku: Analisis Semiotik Pada Serial Animasi Upin Ipin

‘Aku Sebuah Buku,’” PUSTAKA RAYA 8 (June 2020), http://jurnal.uin- antasari.acid/index.php/putakakarya/article/view/3710.

13 Joshep M. Boggs and Dennis W. Petrie, The Art of Watching Film’s, 7th ed. (New York: McGraw-Hill, 2008).

(9)

bertambah intensitasnya. Biasanya peristiwa tersebut sengaja di dramatisir guna membikin cerita semakin menegangkan dan mencekam.

c) Klimaks, ini adalah tahap di mana konflik dan segala pertentangan berada di titik puncak. Klimaks akan dialami hingga mengakibatkan protagonis suatu cerita menderita terhadap konflik utama.

d) Penyelesaian, ini adalah akhir dari sebuah cerita. Penyelesaian digolongkan menjadi dua kategori, penyelesaian tertutup di mana sebuah cerita mutlak berakhir, dan penyelesaian terbuka di mana masih terdapat bibit konflik yang tidak sepenuhnya tuntas.

2) Penokohan

Tokoh memegang peranan guna membuat suatu film menjadi semakin menarik dan membuat film tersebut pula makin utuh. Tokoh dalam sebuah cerita dapat di nilai dari berbagai sudut pandang, di mulai dari visual wajahnya, gaya bicara, cara berpakaian, serta gestur tubuhnya. Maka untuk memahami tokoh dapat dilakukan dengan beberapa cara, yakni:

a) Penokohan dari penampilan fisik, artinya tokoh tersebut dapat dipandang dari bentuk fisik, cara bergerak, tipikal wajah, cara berpakaian, serta perilakunya.

(10)

b) Penokohan dari dialog, artinya tokoh tersebut dapat dilihat lewat bagaimana emosinya, cara dia berpikir, serta sikap yang diungkapkan melalui caranya memainkan dinamika bicaranya.

c) Penokohan dari tindakan eksternal, maksudnya tindakan yang mempertegas karakter tokoh.

d) Penokohan dari tindakan internal, maksudnya tindakan yang terjadi dalam ruang lingkup pikiran dan emosi tokoh itu sendiri.

Biasanya berupa rahasia, monolog, lamunan, ingatan, fantasi dan ketakutan.

e) Penokohan dari kontras, maksudnya karakter yang bertolak belakan dengan protagonis. Cara paling efisen ketika menganalisis karakter tokoh adalah dengan pengontrasan perilaku, sikap, gaya hidup, bentuk fisik, pola pikir dan lain-lain dengan protagonis.

f) Penokohan dari pemilihan nama, dalam hal ini nama dapat menyokong karakterisasi suatu tokoh.

3) Latar

Latar adalah waktu dan ruang terjadi suatu cerita karena merupakan unsur dasar dalam keseluruhan cerita dan menyumbangkan kontribusi krusial pada tema, serta memberikan keseluruhan efek pada cerita.

Dalam cerita, latar mempuyai empat faktro, yaitu:

1) Faktor waktu, jangka waktu yang digunakan pada sebuah cerita.

(11)

2) Faktor geografis, lokasi nyata dan karakteristiknya termasuk iklim, lahan, kepadatan penduduk, dan faktor fisik lainnya.

3) Faktor ekonomi dan struktur sosial

4) Faktor adat istiadat, nilai moral serta aturan berperilaku.

C. Semiotika

1. Pengertian Semiotika

Kata semiotika, secara etimologi, berasal dari bahasa Yunani, yaitu semeion yang memiliki arti tanda. Maksud tanda di sini, adalah sesuatu

berdasar konvensi sosial yang sebelumnya telah terbangun, dan dianggap mewakili sesuatu yang lain. Sedangkan secara terminologi, semiotika adalah ilmu yang mempelajari lebih luas terkait objek-objek, peristiwa-peristiwa, dan kebudayaan sebagai tanda. Menurut Aart van Zoest, semiotika adalah cabang yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu tentang tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi pengunaan tanda.14

Menurut Charles Sanders Peirce, semiotika adalah studi tentang tanda dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, semacam cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda lain, pengiriman dan penerimaan terhadap mereka yang menggunakannya. John Fiske pun berpendapat, bila semiotika merupakan studi tentang petanda dan makna dari sistem tanda, yakni ilmu tentang tanda, bagaimana makna dibangun dalam teks media, atau studi

14 Jafar Lantowa, Nila Mega Marahayu, dan Muh. Khairussibyan, Semiotika: Teori, Metode, Dan Penerapannya Dalam Penelitian Sastra (Yogyakarta: Deepublish, 2017), h. 1.

(12)

tentang bagaimana tanda dari segala karya apa pun di masyarakat yang memperbincangkan makna.15

2. Semiotika Roland Barthes

Roland Barthes merupakan intelektual dan kritikus ternama sastra Prancis. Barthes berpendapat kalau bahasa merupakan sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.16

Semiotika atau semiologi dalam versi Barthes pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana manusia (humanity) memaknai hal-hal (things).

Memaknai (go signify) di sini tidak bisa dicampur dengan mengomunikasikannya (to communicate). Memaknai berarti objek-objek itu ingin berkomunikasi namun juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda.

Sebagai penerima (reciever), pembaca semiotik (semiotic reader) memainkan peran penting dalam mengintepretasikan arti yang disampaikan oleh media atau perantaranya.17

Sehubungan dengan penelitian, film animasi merupakan salah satu media atau karya naratif yang dapat dilihat representasinya dengan menggunakan konsep yang dikembangkan Roland Barthes, yakni hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Hubungan sintagmatik ialah hubungan antar komponen dalam

15 John Fiske, Cultural and Communivation Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif (Yogyakarta: Jalasutra, 2007), h. 282.

16 Roland Barthes, Element-Elemen Semiologi (Yogyakarta: BasaBasi, 2013), h. 135.

17 Sobur, Semiotika Komunikasi, h. 46.

(13)

struktur yang sama, sedangkan hubungan paradigmatik adalah hubungan antar komponen dalam suatu struktur dan komponen lain di luar struktur itu.18

Hubungan sintagmatik terbagi menjadi dua kategori:

a. Fungsi utama, ialah hubungan antar-peristiwa yang mempunyai hubungan logis sebab dan akibat berupa dasar cerita.

b. Katalisator, adalah kejadian yang hanya berfungsi sebagai pendukung serta pelengkap fungsi utama.

Di samping itu pula, hubungan paradigmatik pun mempunyai dua unsur:

a. Indeks, yakni keterangan perihal identitas tokoh, sifat, perasaan, keadaan dan pendapatnya.

b. Informan, ialah keterangan tentang latar ruang dan waktu.

18 Benny H. Hoed, Semiotik Dan Dinamika Sosial Budaya (Depok: Komunitas Bambu, 2011), h, 30.

Referensi

Dokumen terkait

Taka Turbomachinery Indonesia tidak terlepas dari faktor bahaya yang ada di lingkungan kerja di Central Gas Turbine Area Duri seperti adanya bahaya fisik yaitu adanya

Terdapat banyak manfaat yang didapat oleh siswa dengan menerapkan pembelajar menggunakan metode mind mapping karena dapat membantu siswa dalam mengingat, mendapat

Meskipun interaksi sosial Subjek I, IV dan V cenderung rendah, serta cenderung menyerang orang yang berbeda dengan dirinya, Subjek I dan V memiliki hubungan baik

Gambar 1 memperlihatkan atribut aspek ekologi yang sensitif terhadap kinerja pengelolaan waduk berkelanjutan yaitu frekuensi kejadian up well- ing , tingkat kematian ikan,

Melihat masalah yang demikian, maka masalah trauma sangat efektif bila menggunakan terapi rasional emotif menggunakan beberapa teknik yang sesuai dengan apa yang dialami

Anak Ayu Sri Saraswati, M.Kes, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan untuk mengikuti dan menyelesaikan PPDS I dan Program Magister Program Studi Ilmu Biomedik

Isi rumen kerbau dalam proses fermentasi bertujuan untuk menurunkan kadar serat kasar pakan menggunakan enzim selulase yang dihasilkan oleh mikrobia rumen, dengan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara citra merek dengan intensi membeli pakaian bermerek pada dosen wanita di Universitas Diponegoro Semarang yang berada pada