• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Cinta merupakan ekspresi emosi manusia yang paling hebat. Hidup bersama dengan pasangan yang dicintai untuk membentuk rumah tangga yang harmonis menjadi impian setiap orang. Jalan untuk mewujudkan hal tersebut ialah melalui pernikahan (Sandrina Fitrizia, 2019).

Menurut Sternberg (1988), pernikahan merupakan persatuan antara dua individu yang secara umum dilandasi oleh cinta kasih dan sering dianggap sebagai momen yang berharga. Pasangan yang menikah berarti menjalani suka duka ataupun senang susah bersama-sama dan menguatkan satu sama lain pada saat pasangannya mengalami kesulitan, sehingga individu dapat menghadapi berbagai hal bersama-sama. Salah satu landasan di dalam pernikahan adalah cinta, dalam menjalin hubungan pernikahan tersebut, individu tidak hanya merasakan perasaan positif seperti bahagia dan senang, ia juga merasakan perasaan negatif seperti kecemburuan (Sternberg, 1988)

Menurut Brehm dan Kassin (1993), cemburu adalah suatu reaksi yang muncul terhadap adanya ancaman yang dianggap akan merusak keberadaan hubungan yang sedang dijalani. Ancaman tersebut tidak selalu berupa suatu kenyataan atau tidak selalu dibatasi oleh realitas yang mana dapat berarti hanya dalam imaginasi individu. Dikarenakan cemburu diciptakan oleh persepsi bahwa

(2)

pasangannya telah tertarik kepada individu lain (Buunk & Bringle, 1987). Pendapat yang sama dikatakan oleh Bringle dan Buunk (dalam Groothof, Dijkstra, & Barelds, 2009) bahwa cemburu adalah reaksi negatif pada keterlibatan emosional atau seksual pasangan dengan orang lain, baik secara nyata ataupun hanya imajinasi.

Sedangkan menurut Strongman (2003) cemburu adalah reaksi terhadap ancaman ketika individu merasa akan kehilangan kasih sayang dari pasangannya dan ketika kasih sayang tersebut diberikan kepada orang lain. Kemungkinan akan kehilangan suatu hubungan yang ada adalah dasar dari cemburu.

La Rochefoucauld berpendapat bahwa cemburu lahir bersamaan dengan cinta (Deaux, Dane, & Wrightsman, 1993). Begitu juga, menurut (Buss, 2000) berpendapat bahwa cemburu itu mirip dengan cinta, dengan kata lain jika tidak cemburu maka tidak cinta, jika hilang cemburu maka hilang juga rasa cinta.

Cemburu dalam batas-batas tertentu dapat bermanfaat dalam hubungan, hal ini terjadi pada tingkat cemburu yang rendah yang dapat menimbulkan komunikasi yang membangun di antara pasangan sehingga meningkatkan komitmen keduanya (Knox, 1988). Akan tetapi tidak menafikkan pula bahwa cemburu dapat berbahaya dan mengancam sebuah hubungan (Baron & Byrne, 1997).

Beberapa hal positif yang ditimbulkan cemburu antara lain: sebagai alarm untuk menjaga pasangan agar tetap bersama (Buss,200), mempertahankan hubungan dekat (Sharpsteen & Kirkpatrick, 1977), membuat individu merasakan cinta yang lebih besar terhadap pasangan yang memutuskan untuk tetap melanjutkan hubungan yang ada (Oktarina, 1994). Namun hal negatif juga dapat dihasilkan dari rasa cemburu seperti reaksi emosional yang berupa takut, cemas,

(3)

sakit, kemarahan, kecurigaan dan putus asa (Brehm, 1992). Cemburu dikatakan melebihi batas normal ketika individu sudah tidak realistis terhadap ancaman yang ada, menjadi posesif, mengisolasi pasangan, memantau keberadaan dan komunikasi Anda, dan melakukan kekerasan bahkan berujung pada pembunuhan (Attridge M, 2013).

Lebih lanjut lagi, Salovey (1991) menyebutkan 2 tipe kecemburuan: (a) Kecemburuan normal yaitu cemburu yang dirasakan ketika ancaman berupa nyata, jelas dan dapat merusak hubungan. (b) kecemburuan abnormal yaitu ketika ancaman tidak jelas atau hanya dicurigai, dapat dikatakan bahwa "cemburu mencurigakan", karena hanya reaksi dari ketakutan dan ketidakpastian yang dirasakan individu tersebut yang dapat berupa imaginasi atau khayalan.

Berdasarkan fenomena cemburu di dunia, diperoleh beberapa fakta. Di Singapura, seorang pria bernama Krishna Raju (53 Tahun) curiga berlebih bahwa istrinya, Rathena Rathena Samy (44 Tahun), berselingkuh sehingga menikamnya sampai tewas (Pristiandaru, 2020). Di China, seorang bernama Boh Soon Ho (51Tahun) diadili atas kasus pembunuhan dikarenakan cemburu gadis pujaan hatinya digandeng lelaki lain yang menewaskan Zhang Huaxiang (28 Tahun) (Hakim, 2021).

Hal ini juga terjadi di Indonesia. Seorang pria, warga Desa Paya Udang, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, tega membunuh tetangganya sendiri karena cemburu (Puji, 2020). Fakta selanjutnya mengungkapkan bahwa telah terjadi penganiayaan hingga tewas, Jakarta Pusat pada Sabtu (13/7/2019).

Seorang pria nekat menganiaya pria lain menggunakan pisau hingga meninggal

(4)

dunia. Menurut Kapolres Sawah Besar Kompol Mirzal Maulana, peristiwa pembunuhan berencana tersebut disebabkan perasaan cemburu karena istrinya diduga memiliki hubungan dengan pria tersebut (Suci,2019).

Untuk memperoleh gambaran mengenai romantic jealousy pada pasangan menikah, peneliti melakukan survey pada tanggal 10 Mei 2021 dan wawancara melalui telepon dan video call pada 5 individu yang telah menikah. melalui angket, 7 dari 10 individu yang telah menikah mengaku pernah cemburu pada pasangannya dan memiliki pikiran negatif, juga melakukan hal-hal yang tidak wajar seperti menyewa mata-mata, membuntuti pasangannya, menyadap akun sosmed, membanting Handphone, dan melakukan pengecekan intens pada handphone pasangan. Dari hasil wawancara yang diperoleh peneliti, 4 dari 5 subjek mengatakan bahwa pernah merasakan cemburu terhadap pasangannya dan individu tersebut memiliki tingkat kecemburuan dan cara menanggapi yang berbeda terhadap pasangannya. Hal ini terlihat dari beberapa hasil wawancara yaitu:

Subjek 1:

“Saya suka kesal ketika melihat pasangan saya asik sendiri dengan hanphonenya, suatu hari saya pernah diam-diam mengambil hp pasangan saya dan melihat isi chat WA dan ternyata ada chat dengan teman sekantornya, saling berkabar dan bercanda gurau. Saya takut hal itu membuat kebiasan pasangan saya dan saat itu perasaan saya tidak karuan, saya langsung banting Handphonenya” (wawancara, 10 Mei 2021)

Subjek 2:

“Saya selalu curiga setiap pasangan saya pulang kerja larut, takut mampir-mampir Mba. Ketika pasangan saya lewat sudah jam pulang

(5)

tapi belum tiba dirumah, biasanya sata Vidio call sampai diangkat dan terkadang saya telfon teman kantornya untuk memastikan keberadaan pasangan saya benar dikantor atau tidak. (Wawancara, 10 Mei 2021)

Subjek 3:

“Pernah cemburu awal-awal pernikahan bahkan sampe sekarang, hal yang paling membuat saya cemburu itu ketika pasaangan saya diminta teman kantornya untuk ngantarin pulang Mba, kesel banget rasanya sampe pengen tak lembar batu bata suami saya, kok mau-maunya gitu.

Habis itu saya marah-marah dan pulang ke rumah orang tua (Wawancara, 10 Mei 2021)

Subjek 4:

“Saya jarang cemburu tapi istri saya sering cemburu, setiap malam hari hp saya selalu dicek, laptop saya juga dicek. Temannya juga ada yang sekantor dengan saya, jadi saya berbuat apa-apa itu istri saya tau dan selalu mempertanyakan ketika dirumah (Wawancara, 10 Mei 2021)

Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti dapat menyimpulkan diperoleh data sebanyak 4 dari 5 individu yang telah menikah merasakan kecemburuan didalam hubungan romantisnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya aspek kognitif berupa kecurigaan terhadap pasanga, aspek afeksi berupa perasaan kesal &

marah, dan aspek behavior berupa aksi memata-matai pasangan ketika dikantor, aksi detektif yang melihat hp pasangan diam-diam.

Berdasarkan fenomena-fenomena mengenai kecemburuan yang ditemukan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kecemburuan melebihi batas wajar dapat berakibat fatal. Akibat dari kecemburuan tersebut ialah penganiayaan,

(6)

penikaman yang dapat berujung merenggut nyawa orang lain. Hal-hal berbahaya tersebut dilakukan seseorang dikarenakan tidak bisa mengontrol diri ketika emosi menguasai pikiran dan perasaan orang tersebut. Hal tersebut sesuai Sesuai dengan penjelasan (Gregory, 2003) seseorang yang merasa cemburu maka didalam pikirannya dipenuhi rasa curiga dan berdampak menjadi paranoid terhadap setiap orang yang dekat dengan pasangannya, depresi, dan sulit mengontrol kemarahannya sehingga mereka sulit mengontrol emosionalnya dan berujung melakukan kekerasan baik kepada pasangannya ataupun kepada dirinya sendiri atau self-destructive.

Cemburu memiliki beberapa macam yaitu, kecemburuan sosial, kecemburuan antar sahabat, dan kecemburuan romantis (romantic jealousy). Definisi dari kecemburuan sosial adalah ketidakmampuan untuk memahami atau menerima bentuk perbedaan sosial dalam masyarakat (Sujatmiko, 2014) seperti adanya kelas kelas sosial karena perbedaan ekonomi atau status sosial. Sedangkan definisi kecemburuan antar sahabat adalah reaksi terhadap ancaman yang muncul dalam suatu hubungan persahabatan (Hayyu, 2015). Sementara definisi dari kecemburuan romantis (romantic jealous) adalah "sebuah respon afektif, perilaku, dan kognitif yang terjadi ketika seseorang merasa hubunganya terancam oleh pihak ketiga, Seperti Hubungan suami dengan wanita lain (pihak ketiga) yang bisa berlanjut menjadi perselingkuhan, hubungan yang terjalin diluar pernikahan yang menimbulkan gangguan dalam hubungan suami-istri sah dan berdampak negatif pada keluarga (Patmonodewo dkk.,2001). Dalam penelitian ini, peneliti akan berfokus pada kecemburuan romantis (romantic jealous).

(7)

Menurut Miler (dalam Wisnuwardhani,2002) tinggi rendahnya kecemburuan individu terkait dengan beberapa hal yang berhubungan dengan ketergantungan (dependency) dalam berhubungan dengan pasangan. Salah satu bentuk ketergantungan tersebut adalah gaya kelekatan (attachment style) dimana individu yang membutuhkan perhatian akan lebih mudah merasa cemburu dibandingkan dengan individu yang mandiri.

Bowlby (dalam Wigman, Archer & Kevan, 2008) menyatakan bahwa attachment adalah ikatan kedekatan emosional yang terbentuk pada anak dengan

pengasuhnya di masa awal kehidupan. Dimana kelekatan tersebut akan berlanjut hingga individu memiliki hubungan dewasa dengan orang lain. Secara umum kualitas hubungan saat dewasa dipengaruhi oleh apa yang terjadi selama masa kanak-kanak, terutama dalam hubungan anak dengan pengasuh (Collins &

Read,1990). Sebagai pendukung, Hazan & Shaver (dalam Collins & Read,1990) juga menyatakan bahwa teori kelekatan bayi digunakan sebagai kerangka kerja untuk meneliti tentang bagaimana hubungan cinta dewasa terkait dengan interaksi orangtua-anak pada masa awal.

Hazan & Shaver (1987) menjelaskan bahwa hubungan interpersonal pada masa remaja dan dewasa dapat menggambarkan proses kelekatan yang terbentuk pada masa kanak sesuai dengan teori kelekatan Bowlby. Teori ini terbentuk atas dasar pemahaman sejak masa remaja, figur lekat seseorang mulai ditransfer kepada teman maupun pasangannya. pada masa yang disebut “transfer” ini perilaku akan muncul sesuai dengan kelekatan yang dimilikinya, yaitu aman atau tidak aman.

(8)

Gaya kelekatan adalah derajat keamanan yang dimiliki individu dalam hubungan interpersonal.

Menurut Bartolomew & Horowitz (1991) yang didukung oleh Obegi &

Berant (2009) menyebutkan terdapat 4 gaya kelekatan, salah satunya adalah Gaya Kelekatan Aman (Secure Attachment Style). Tipe gaya kelekatan ini memandang self secara positif yaitu orang yang layak dikasihi dan model representasi terhadap orang lain secara umum menerima dan bersikap responsif.

Individu dengan gaya kelekatan aman dalam menjalin hubungan dengan orang lain dideskripsikan mudah dekat secara emosional, nyaman, bergantung dan tidak keberatan jika orang lain bergantung padanya, tidak khawatir akan kesendirian atau penolakan. Individu dengan tipe ini dapat menjaga komitmen, memiliki passion, memiliki kepercayaan diri tinggi, dan sikap penghindaran yang rendah pada orang lain. Individu dengan secure attachment (yaitu, kecemasan rendah dan penghindaran rendah) juga memiliki kepercayaan lebih tinggi terhadap pasangan (Brennan, Clark, & Shaver, 1998). Individu dengan secure attachment memiliki kemampuan untuk mentoleransi dan berdamai dengan emosi negatif seperti kecemburuan dan memiliki perasaan nyaman dengan pasangan (Marazziti dkk.,2010)

Sedangkan seseorang dengan tipe kelekatan tidak aman, baik avoidant attachment maupun anxious/ambivalent attachment dalam menjalin hubungan,

individu tersebut merasa tidak nyaman. Individu dengan tipe avoidant attachment akan merasa tidak nyaman untuk bergantung dengan orang lain, sulit mempercayai, dan sulit menerima pasangan. Selanjutnya, individu dengan tipe

(9)

anxious/ambivalent attachment memiliki obsesi dan kecemburuan yang lebih pada

pasangan dan merasa takut ketika pasangan meninggalkannya (Feeney & Noller, 1996).

Berdasarkan uraian pernyataan mengenai romantic jealous dan gaya kelekatan, maka peneliti tertarik untuk meneliti adakah Hubungan antara gaya kelekatan aman (Secure attachment) dengan Romantic Jealous pada Pasangan Menikah?

.

B. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara secure attachment dengan romantic jealous pada pasangan menikah di Yogyakarta.

2. Manfaat Penelitian

a) Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu di bidang psikologi, khususnya bidang psikologi perkembangan, psikologi sosial dan klinis.

b) Secara praktis, penelitian ini dapat memberi manfaat dan informasi tentang hubungan gaya kelekatan dengan romantic jealous pada pasangan menikah.

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) nilai rata-rata postes keterampilan komu- nikasi siswa pada kelas yang diterap- kan model pembelajaran berbasis

informasi tentang jenis dan berbagai motif batik store nusantara, dapat melakukan pemesanan batik secara online dengan mendaftarkan data diri pelanggan dan mengisi form

Bedasarkan faktor-faktor tersebut, maka ketiadaan hubungan paparan debu terhirup dengan kapasitas vital paru pada pekerja penyapu pasar Johar kota Semarang, tidak

Pada akhir tahun 2011, perdagangan saham Perusahaan di BEI ditutup pada harga Rp 21.700 per saham.Setelah berada dalam operasi selama 31 tahun, PT Astra Agro Lestari

Sehubungan dengan pelaksanaan tugas tersebut adalah amanah, maka merupakan totalitas, sehingga sebagai Wakil Walikota harus bisa mengabdikan diri dalam pelaksanaan

Dalam penelitian yang dilakukan Julianna H Simorangkir dengan judul Sistem Informasi Akuntansi Penggajian Pada Universitas HKBP Nommensen dimana yang menjadi objek

Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan

Salah satu struktur organisasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) yaitu Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen yang