5
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian menyajikan data dan informasi yang meliputi kondisi umum lokasi penelitian, fasilitas, operasional dan manajemen PPN Palabuhanratu guna mendukung tujuan penelitian, hasil perhitungan yang berkaitan dengan tujuan penelitian yakni arah pengembangan, memformulasikan pola pengembangan dan prioritas pengembangan PPN Palabuhanratu.
5.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian
PPN Palabuhanratu terletak di kota Palabuhanratu yang merupakan ibu kota Kabupaten Sukabumi. Menurut Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Sukabumi (1999) bahwa Palabuhanratu dijadikan ibu kota Kabupaten Sukabumi yang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi, pusat perdagangan dan jasa, pusat pengembangan perikanan laut dan pusat pengembangan pariwisata. Dengan adanya perubahan fungsi kota, maka banyak hal yang belum dapat ditangani dan ditata oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi misalnya tata ruang wilayah pesisir dan laut belum dapat dibuat karena Pemerintah Daerah masih mengupayakan agar ada bantuan dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Provinsi. Selain itu dengan perubahan fungsi kota, maka kondisi ini membawa dampak terhadap kemajuan pembangunan kota Palabuhanratu terutama untuk mendukung pembangunan sektor perikanan dan kelautan.
Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu daerah dataran tinggi di Jawa Barat yang memiliki ketinggian berkisar 0 – 2960 m. Luas wilayah Kabupaten Sukabumi sekitar 412.799 ha dan merupakan daerah terluas di Jawa Barat. Secara geografis Kabupaten Sukabumi terletak antara 6o57’-7o25’ LS dan 106o
49’-107o00’ BT, dengan curah hujan rata-rata pada tahun 2000 sebanyak 130 hari hujan setiap tahun, sehingga bulan basah lebih banyak dibandingkan bulan kering dengan kelembaban 70-90%. Pada tahun 2000 tercatat jumlah penduduknya sebanyak 2.038.961 jiwa.
Kota Palabuhanratu berada di ketinggian 0 – 50 meter dari permukaan laut. Di belakang kota ini terbentang bukit-bukit sehingga sedikit sekali areal persawahan. Penduduk banyak bekerja di kebun-kebun dan sebagai nelayan. Pada
Kecamatan Palabuhanratu adalah 10.288 ha. Jumlah penduduk Kecamatan Palabuhanratu sebanyak 88.995 orang atau 4% dari jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi.
Kabupaten Sukabumi memiliki 35 desa pesisir dan 9 kecamatan pesisir, yakni Kecamatan Tegalbuleud, Cibitung, Surade, Ciracap, Ciomas, Simpenan, Palabuhanratu, Cikakak dan Cisolok. Luas seluruh kecamatan pesisir 141.133 ha (34,19% dari luas Kabupaten Sukabumi 412.799 ha). Bila dilihat dari luas wilayah pesisir, maka prioritas pembangunan sebaiknya di arahkan pada daerah pesisir dan laut. Batas administratif Kabupaten Sukabumi adalah sebelah: Utara berbatasan dengan Kabupaten Bogor, Selatan dengan Samudera Hindia, Timur dengan Kabupaten Cianjur, dan Barat dengan Kabupaten Lebak.
Panjang pantainya 117 km membentang dari Mina Jaya (Kecamatan Surade) sampai Cibangban (Kecamatan Cisolok) dan di sepanjang pantai tersebut terdapat 7 tempat pendaratan ikan dengan jumlah nelayan 11.736 orang atau 0,58% dari jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi pada tahun 2000, dengan rincian Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Mina Jaya-Kecamatan Surade sebanyak 118 orang, PPI Ujung Genteng-Kecamatan Ciracap 399 orang, PPI Ciwaru-Kecamatan Ciomas jumlah nelayan 146 orang, PPI Loji-Kecamatan Simpenan 515 orang, PPN Palabuhanratu-Kecamatan Palabuhanratu 7.400 orang, PPI Cisolok-Kecamatan Cisolok 2.748 orang dan PPI Cibangban-Cisolok-Kecamatan Cisolok 409 orang. Berdasarkan penyebaran nelayan di masing-masing kecamatan sepanjang pesisir, maka Palabuhanratu paling banyak jumlahnya, yakni sebanyak 7.400 orang atau 63% dari jumlah nelayan Kabupaten Sukabumi. Diantara ketujuh tempat pendaratan ikan, PPN Palabuhanratu memiliki fasilitas operasional yang paling baik. Hasil tangkapan ikan dari kapal yang berasal dari 6 PPI lain tersebut sebagian diangkut ke Palabuhanratu. Keenam PPI dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Semua PPI yang ada belum dibentuk unit pelaksana teknis (UPT)-nya dan belum ada petugas khusus yang menangani PPI tersebut. Gambar 6 memperlihatkan peta penyebaran lokasi pelabuhan perikanan di Kabupaten Sukabumi.
Semua urusan pembangunan dan operasional PPI ditangani langsung oleh kepala cabang Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sukabumi, sehingga
operasional PPI tersebut belum optimal. Pengumpulan data statistik dilaksanakan tidak sempurna dan tidak ada petugas khusus untuk pengumpulan data statistik. Data statistik dikumpulkan langsung oleh Kepala Cabang Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sukabumi.
Sumber: Lubis et al. 2005.
Berdasarkan data klimatologi stasiun Maranginan Palabuhanratu, bahwa musim hujan di Palabuhanratu berlangsung dari bulan November sampai April, dimana 71% curah hujan tahunan dalam periode tersebut mencapai 1662 mm, dan rata-rata curah hujan bulanan mencapai 192 mm. Curah hujan tahunannya termasuk besar yaitu sebesar 2565 mm dan rata-rata bulanan berkisar 84 – 376 mm. Hampir setiap bulan di Palabuhanratu terjadi hujan. Pada tahun 2006 terjadi kemarau panjang yakni sejak bulan April sampai dengan bulan Oktober 2006. Gambar 6 Peta penyebaran lokasi pelabuhan perikanan di Kabupaten Sukabumi.
U
106 0 49’ 1070 00’ - 70 25’ - 60 57’ I IKondisi kemarau panjang ini justru membawa dampak yang positif bagi nelayan karena hasil tangkapan ikannya lebih banyak dari biasanya. Penyebabnya adalah terjadi pertumbuhan chlorofil di perairan sehingga menumbuh suburkan perairan.
Temperatur rata-rata bulanan berkisar antara 25,80C sampai 28,80C. Kawasan Palabuhanratu mempunyai iklim monsoon dan pola angin di sekitar
Palabuhanratu dipengaruhi oleh musim tersebut, yaitu musim barat selama bulan November-Maret dan musim timur bulan Mei-September. Kecepatan angin berkisar antara 4,4-23,5 km per jam. Kecepatan angin cukup kencang (>20 km/ jam) bertiup pada bulan-bulan Agustus sampai dengan Desember. Secara keseluruhan angin dominan bertiup dari Tenggara (22,6%) dan Barat (13,6%). Bila dipilah menurut bulannya, angin dominan bertiup dari arah: Januari dari Barat dan Barat Laut, Februari dari Barat Laut, Maret dari Barat Laut, April sampai Oktober dari Tenggara, November dari Tenggara dan Barat, dan Desember dari Barat Laut.
Menurut penyelidikan PT. Tripatra Engineering (1989), Palabuhanratu terletak pada zone gempa 2 yaitu zone gempa dengan aktivitas tinggi, dengan koefisien gempanya 0,07 g. Oleh karena itu, disamping kerusakan langsung akibat guncangan gempa, bencana dapat pula timbul akibat gelombang tsunami
yang melanda daerah pantai.
Lahan lokasi PPN Palabuhanratu merupakan daratan yang terbentuk dari endapan yang dibawa Sungai Cipalabuhan dan Cipanyairan. Jenis sedimen terutama adalah lanau, pasir, dan kerikil. Lahan semacam ini sangat cocok untuk penempatan bangunan konstruksi beton pelabuhan.
Topografi lahan di lokasi pelabuhan perikanan dan sekitarnya sepanjang pantai dapat dikatakan datar, akan tetapi di belakang kota Palabuhanratu topografinya berbukit-bukit. Ketinggian tanah lahan lokasi pelabuhan perikanan berkisar +1,0 – 3,5 m LWS.
Gambaran kondisi batimetri di lokasi PPN Palabuhanratu adalah:
(1) Kedalaman -5,0 LWS dicapai dari garis pantai 50 - 80 m ke laut, dengan kemiringan pantai berkisar 6 -10%.
(2) Pada jarak 50 – 80 m dari garis pantai ke arah laut kemiringan dasar laut sangat curam yaitu berkisar 25 – 36%.
(3) Daerah dengan kemiringan dasar laut yang relatif landai terletak di bagian Selatan dan Barat Daya pelabuhan.
Gambar 7 menunjukkan gambaran kondisi batimetri di lokasi PPN Palabuhanratu.
Hasil analisis data pasang surut oleh Ditjen. Perikanan dan PT Perentjana Djaja (1999) adalah:
1) Highest Water Spring (HWS) = 165,2 cm.
2) Mean High Water Spring (MHWS) = 149,9 cm.
3) Mean High Water Level (MHWL) = 113,9 cm.
Pelabuhan saat ini 0 m 5 m U Skala 1 : 1.500
Gambar 7 Batimetri perairan dekat site PPN Palabuhanratu (Sumber : Ditjen. Perikanan dan PT. Perentjana Djaja, 1999).
Palung dengan kedalaman
5) Mean Low Water Level (MLWL) = 35,2 cm.
6) Mean Low Water Spring (MLWS) = 10,5 cm, dan
7) Lowest Water Spring (LWS) = 0 cm.
Gambar 8 menunjukkan korelasi antara rambu pengamatan pasang surut dan elevasi.
Secara umum gelombang besar terjadi selama musim barat, yaitu pada bulan November-Maret. Pada musim barat ini banyak nelayan takut melaut karena mengandung resiko tinggi, terutama untuk kapal-kapal ukuran kecil (<10 GT). Sebaliknya selama musim timur kondisi perairan Palabuhanratu relatif tenang. Pada musim ini gelombang didominasi oleh swell dengan arah rambatan menuju
selatan dan barat daya. Pada saat musim barat terjadi pengikisan pantai sehingga pada bagian-bagian pantai terjadi penggerusan/abrasi pantai ke arah darat, namun pada saat musim timur, terjadi hal sebaliknya, yakni terjadi penumpukan pasir dan bibir pantai melebar ke arah laut.
Menurut Adi (1995), perubahan musim di Palabuhanratu sangat berpengaruh terhadap kegiatan perikanan. Pada umumnya upaya penangkapan ikan terbesar terjadi pada musim Selatan, ditandai dengan angin yang lemah, laut
Palem rambu pasut HWS MHWS MHWL MSL MLWL MLWS LWS 257,0 cm 241,7 cm 205,7 cm 167,1 cm 127,0 cm 102,3 cm 91,8 cm Referensi HWS MHWS MHWL MSL MLWL MLWS LWS 165,2 cm 149,9 cm 113,9 cm 75,3 cm 35,2 cm 10,5 cm 0.0 cm 0.0 cm Chart Datum
Gambar 8 Pasang surut air laut di PPN Palabuhanratu (Sumber: Ditjen. Perikanan dan PT. Perentjana Djaja, 1999).
tenang serta curah hujan yang rendah. Musim Selatan merupakan musim terjadinya banyak ikan dan musim tersebut terjadi pada bulan Juni-Oktober. Sebaliknya pada musim Barat merupakan musim kurang ikan ditandai dengan angin yang bertiup kencang, gelombang besar dan sering terjadi hujan lebat. Periode musim barat berlangsung sekitar bulan November – Mei. Tabel 12 menunjukkan periode musim ikan di PPN Palabuhanratu.
Tabel 12 Musim ikan di PPN Palabuhanratu Bulan Musim
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Selatan/
banyak ikan √ √ √ √ √
Barat/ kurang ikan
Selanjutnya menurut Baskoro et al. (2004), bahwa pengetahuan mengenai
pola migrasi ikan bagi usaha pemanfaatan sumberdaya adalah dengan mengetahui pola migrasi ikan yang menjadi tujuan penangkapan, maka efisiensi dan efektivitas penangkapan ikan dapat dilakukan dengan baik. Selanjutnya dengan mengetahui pola migrasi ikan, maka kita dapat mengetahui keberadaan ikan disuatu perairan sekaligus dapat pengetahui swimming layer dari suatu jenis ikan.
Ikan pelagis besar yang merupakan high migration (migrasi jauh) seperti ikan tuna
disebabkan oleh beberapa hal seperti untuk keperluan memijah karena memang naluri sejak lahirnya memijah disuatu tempat, untuk mencari makan, dan untuk mencari lingkungan yang optimum. Selanjutnya dikatakan bahwa tuna mata besar (big eye tuna) menyebar di Samudera Pasifik melalui perairan diantara
pulau-pulau Indonesia ke Samudera Hindia. Pemijahan tuna ini terjadi di bagian Timur dan bagian Barat Samudera Hindia, di Indonesia ikan ini banyak ditangkap di laut-laut dalam antara lain di perairan sebelah Selatan Jawa, sebelah Barat Daya Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara, Laut Banda dan Laut Maluku. Untuk jenis ikan albacore, penangkapannya banyak dilakukan di Samudera Hindia.
Pencatatan di Benoa-Bali yang menjadi salah satu pusat pendaratan ikan tuna menunjukkan, jenis albacore hampir tertangkap sepanjang tahun, terutama bulan
Arus di Palabuhanratu sangat lemah, arus umumnya ditimbulkan oleh angin musim yang dipengaruhi oleh pasang surut dan besarnya kedua komponen arus ini sangat lemah. Selama musim timur, arus di sepanjang Pantai Selatan Jawa bergerak menuju barat dan pada musim barat arus berbalik arah.
Sedimentasi yang terjadi di sekitar mulut kolam pelabuhan disebabkan masuknya sebagian longshore sedimen terdiri dari pasir dengan diameter rata-rata
200 mm. Pada waktu musim hujan atau banjir, material longshore sedimen terdiri
dari campuran sedimen yang berasal dari sungai dan dasar pantai. Sungai Cipalabuhan yang bermuara di samping kolam pelabuhan adalah sungai yang aktif membawa endapan sampah kota, lumpur dan pasir. Dalam merencanakan Pelabuhan Perikanan Samudera Palabuhanratu (PPS Palabuhanratu), faktor adanya pengaruh sungai ini perlu diperhitungkan dengan matang sehingga dapat mengeliminir pengaruh masuknya sedimen ke dalam kolam pelabuhan yang akan dibangun tersebut. Terhindarnya mulut kedua kolam (kolam I dan II) dari masuknya endapan sedimen disebabkan karena posisi mulut berada pada palung dengan kedalaman 10-200 m (Gambar 7). Pengalaman meletakkan posisi mulut kolam ini hendaknya diaplikasikan juga pada kolam III yang akan dibangun pada PPS Palabuhanratu.
5.2 Kondisi PPN Palabuhanratu
Operasional PPN Palabuhanratu sangat tergantung kepada kondisi fisik pembangunannya dan sejauh mana hubungan PPN Palabuhanratu dengan wilayah produksi dan wilayah distribusi.
5.2.1 Fasilitas PPN Palabuhanratu
Fasilitas yang telah dibangun sejak operasionalnya pada tahun 1993 adalah: 1) Fasilitas pokok:
(a) Lahan seluas 12,2 ha. Sebagian lahan digunakan untuk pembangunan kolam seluas 5 ha dan untuk bangunan darat berupa gedung dan perkantoran. Pada saat ini, lahan pelabuhan sudah semuanya dimanfaatkan, sehingga tidak tersedia lagi untuk industri perikanan. Dalam upaya untuk mengembangkan PPN Palabuhanratu yang ada sekarang agar lebih optimal fungsinya dan pengembangannya menjadi
PPS Palabuhanratu, maka kapasitas beberapa fasilitas pelabuhan perikanan perlu di tingkatkan sehingga memerlukan tambahan perluasan areal terutama untuk mengembangkan fasilitas pokok seperti dermaga dan kolam pelabuhan serta penyediaan areal bagi industri perikanan. Ketersediaan lahan untuk perluasan areal akan disiapkan oleh pemerintah daerah di selatan areal pelabuhan perikanan yang ada sekarang. Lahan yang akan dibebaskan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat tersebut akan digunakan untuk pembangunan fasilitas pokok dan areal industri perikanan.
(b) Penahan gelombang pada pengembangan PPN Palabuhanratu dan pengembangan menjadi PPS Palabuhanratu sangat diperlukan karena adanya penambahan kapasitas kolam pelabuhan. Berdasarkan pengalaman pembangunan penahan gelombang dermaga I dan penahan gelombang dermaga II, maka konstruksi yang paling sesuai untuk pembangunan penahan gelombang baru adalah dengan batu buatan yang disebut dengan
a-jack. A-jack digunakan pertama kalinya di Indonesia pada pembangunan
dermaga PPN Palabuhanratu, namun a-jack juga perlu disempurnakan
dalam pembuatannya yakni dengan penambahan pemakaian tulang besi, sehingga lebih kokoh dan tidak mudah patah. A-jack telah digunakan
pada pembangunan penahan gelombang dermaga II sejak tahun 2000, sampai saat ini kondisinya masih baik. Penggunaan a-jack telah digunakan
pula oleh PPS Cilacap dan PPN Prigi. Penggunaan a-jack sebagai
pengganti batu alami sangat tepat, hal ini dikarenakan ketersediaan batu alami yang sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan sangat terbatas (misalnya dibutuhkan ukuran batu sampai dengan 7 ton). Keunggulan a-jack dibandingkan dengan batu alami adalah, a-jack mempunyai 11 kali
daya redam gelombangnya dibandingkan dengan daya redam batu alami (PT. Perentjana Djaja, 1999).
(c) Kolam pelabuhan dermaga I seluas 3 ha dengan kedalaman kolam 1,5 – 3,5 m. Pendangkalan kolam tetap akan terjadi karena adanya sampah-sampah yang berasal dari limbah padat dan limbah cair yang dibuang dari
adanya sampah-sampah yang berasal dari adanya arus pasang ke dalam kolam. Pihak pelabuhan harus memiliki petugas khusus untuk mengatasi sedimen ini dengan membersihkan kolam dari sampah-sampah padat dan cair secara rutin setiap minggu. Pihak pelabuhan dapat saja mengadakan kapal pemungut sampah di kolam. Untuk limbah padat yang terendap di dasar kolam, maka pihak pelabuhan harus dapat mengusahakan untuk melakukan pengerukan kolam secara periodik. Sebaiknya pihak pelabuhan memiliki back hoe jenis long arm guna mengeruk kolam. Selain itu untuk
pengaturan kapal di kolam, maka zonasi penempatan kapal di kolam dermga I perlu ditingkatkan kepatuhan pemanfaatannya sehingga tidak mengganggu aktivitas di kolam terutama pada saat proses bongkar muat ikan dan tambat kapal. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah perlunya peningkatkan keamanan dan ketertiban di kolam dermaga I oleh tim keamanan terpadu dan pengurus-pengurus kapal.
(d) Kolam dermaga II, seluas 2 ha dioperasionalkan sejak tahun 2002 dengan kedalaman kolam 4 m. Kolam dermaga II perlu dilakukan pemeliharaan, terutama menjaga kebersihan kolam dari buangan sampah, selain itu perlu dijaga ketertiban pemanfaatan kolam. Berdasarkan kondisi kolam dermaga I dan dermaga II yang sudah penuh (melebihi kapasitas tampung), maka untuk mengoptimalkan fungsi PPN Palabuhanratu saat ini dan pembangunan PPS Palabuhanratu diperlukan penambahan kapasitas kolam baik dari segi perluasannya maupun dari segi kedalaman kolam. (e) Dermaga (wharf) I sepanjang 500 m berkonstruksi beton dibangun tahun
1993 dan telah berfungsi secara baik. Sepanjang dermaga sudah disediakan fender agar kapal tidak bersentuhan langsung dengan badan
dermaga yang terbuat dari beton. Kemudian juga tersedia bolard untuk
digunakan sebagai tempat pengikat kapal. Kondisi fender dan bolard saat
ini dalam keadaan rusak, sehingga pihak pelabuhan diharapkan memperbaiki atau menggantinya dengan yang baru. Dermaga II sepanjang 410 m berkonstruksi beton dibangun tahun 2002 dan telah berfungsi secara baik. Sebagian fender dan bolard telah rusak sehingga perlu
diganti dengan yang baru. Dengan adanya pembangunan kolam baru sehingga memerlukan dermaga yang baru
(f) Tempat pendaratan di pantai (beach landing) seluas 6600 m2 berfungsi
untuk pendaratan kapal ukuran kecil (jenis kapal kincang) dan untuk tempat perbaikan kapal. Lokasi beach landing berada di pangkal kolam
dermaga I. Selain itu juga sudah tersedia fasilitas slipway yang dapat
mengakomodir kapal berukuran <30 GT. Kondisi slipway dalam keadaan
rusak namun masih dapat digunakan. PT. CKU sebagai pengelola diharapkan untuk memperbaikinya. Dengan adanya slipway di kolam
dermaga I , menyebabkan kondisi kolam menjadi kotor karena limbah hasil perbaikan kapal terbawa hanyut oleh arus pasang surut ke dalam kolam. Dalam rencana pengembangan PPS Palabuhanratu, maka perlu dirancang konstruksi dock dan slipway dan secara khusus ditempatkan
dalam satu kolam yang terpisah dengan kolam utama, sehingga tidak mengganggu aktivitas-aktivitas kapal di kolam dan kebersihan kolam dapat terjaga. Selain itu perlu dirubah fungsi tempat pendaratan di pantai ini kearah tempat perbaikan kapal dan diharapkan pemerintah daerah mampu menyiapkan tempat pendaratan di pantai ke arah selatan pelabuhan (diluar kolam pelabuhan), yakni di pantai Patuguran sehingga kapal-kapal kecil berukuran <5 GT dapat memanfaatkan tempat pendaratan di pantai tersebut, sedangkan untuk menarik kapal-kapal kecil dalam memanfaatkan tempat pendaratan di pantai patuguran yang akan dibangun oleh pemerintah daerah, maka perlu dilengkapi dengan fasilitas pemasaran dan pengolahan hasil perikanan di sekitar tempat pendaratn tersebut.
2) Fasilitas fungsional dan operasionalnya berupa:
(a) Tempat pelelangan ikan (TPI) seluas 900 m2 dalam keadaan baik dan terpelihara. TPI telah menyediakan fasilitas air bersih, tetapi terbatas penggunaannya untuk keperluan karyawan TPI. Nelayan cenderung menggunakan air laut untuk membersihkan ikannya karena mudah diperoleh di depan dermaga dan ketersediaan air tawar di TPI belum
cukup memadai. Pada tahun 2004 telah dilakukan penyediaan pompa air laut guna memperoleh air laut yang bersih, namun dalam operasionalnya mengalami kesulitan dalam pemeliharaan karena alat pemompanya mudah korosi akibat pengaruh air laut. Pada tahun 2005 telah disediakan pompa air laut bertekanan tinggi guna membersihkan lantai TPI. Setiap hari dilakukan pembersihan lantai oleh petugas kebersihan. Sampah cair langsung dibuang ke perairan laut sekitar dermaga. Kondisi ini menyebabkan kotornya air laut. Kegiatan tersebut dilakukan karena PPN Palabuhanratu belum mempunyai unit pengolah limbah cair dan limbah padat. Pembersihan sampah padat dilakukan oleh petugas, kemudian dikumpulkan dalam tempat sampah sementara yang telah disediakan di sekitar TPI. Setiap dua hari sampah-sampah yang ada dalam tempat sampah sementara diangkut oleh mobil sampah, kemudian dibuang ke tempat pembuangan akhir di daerah Cibadak. PPN Palabuhanratu sebaiknya memiliki tempat pembakaran limbah padat (incinerator),
sehingga tidak tergantung kepada tempat pembuangan sampah. Pada saatnya nanti PPN Palabuhanratu diharapkan memiliki instalasi pengolah limbah (IPAL). Limbah cair, sebaiknya diolah terlebih dahulu hingga menjadi bersih kemudian dapat dibuang ke laut. Selain itu tersedia pula fasilitas untuk pelelangan ikan seperti timbangan, trays (keranjang ikan),
gerobak dorong, sound system, kantor TPI. Semua fasilitas tersebut
dikelola oleh KUD dan sebagian alat tersebut disewakan kepada nelayan. Pengoptimalan fungsi TPI, akan diarahkan untuk menciptakan TPI yang benar-benar hygienis sesuai dengan persyaratan tempat pelelangan ikan. Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.01/MEN/2007 tanggal 5 Januari 2007 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan pada Proses Produksi, Pengolahan dan Distribusi, bahwa persyaratan tempat pelelangan ikan adalah :
a) Terlindung dan mempunyai dinding yang mudah untuk dibersihkan. b) Mempunyai lantai yang kedap air yang mudah dibersihkan dan
disanitasi, dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan mempunyai sistem pembuangan limbah cair yang hygiene.
c) Dilengkapi dengan fasilitas sanitasi seperti tempat cuci tangan dan toilet dalam jumlah yang mencukupi. Tempat cuci tangan harus dilengkapi dengan bahan pencuci tangan dan pengering sekali pakai. d) Mempunyai penerangan yang cukup untuk memudahkan dalam
pengawasan hasil perikanan,
e) Kendaraan yang mengeluarkan asap dan binatang yang dapat mempengaruhi mutu hasil perikanan tidak diperbolehkan berada dalam TPI.
f) Dibersihkan secara teratur minimal setiap selesai penjualan, wadah harus dibersihkan dan dibilas dengan air bersih atau air laut bersih. g) Dilengkapi dengan tanda peringatan dilarang merokok, meludah,
makan dan minum, dan diletakkan ditempat yang mudah dilihat dengan jelas.
h) Mempunyai pasokan air bersih dan atau air laut bersih yang cukup. i) Mempunyai wadah khusus yang tahan karat dan kedap air untuk
menampung hasil perikanan yang tidak layak untuk dimakan.
Sebagai akibat adanya penambahan produksi ikan, maka diperlukan lagi tambahan gedung pelelangan ikan. Dalam operasionalnya berbeda dengan penataan TPI awal, yakni menampung ikan komoditi ekspor sehingga fasilitas TPI dan operasionalnya harus mengikuti standar penanganan ikan untuk ekspor.
(b) Pasar ikan 352 m2 digunakan untuk tempat penjualan ikan secara grosir. Biasanya jenis-jenis ikan yang dijual disini adalah jenis-jenis ikan untuk konsumsi lokal dan restoran atau pembeli yang datang dari luar Palabuhanratu. Jenis-jenis ikan segar yang terjual antara lain adalah kakap, udang, tongkol, kuwe, cumi-cumi. Selain gedung pasar ikan, pihak pelabuhan telah membangun lapak-lapak sebanyak 60 lapak yang telah diisi oleh penjual ikan eceran dan ikan olahan kering. Dengan adanya lapak-lapak ini, maka kebersihan, ketertiban dan keindahan di sekitar TPI lebih terjaga. Pihak pelabuhan juga menanam tanaman hias di sekitar TPI dan menyediakan tempat-tempat sampah. Permasalahan yang dihadapi
karena kondisi ikan pada saat paceklik sangat kurang. Selain itu adanya keengganan pemilik lapak menggunakan lapaknya karena lokasi lapak berada jauh kedalam. Untuk pengembangan PPN Palabuhanratu, maka pasar ikan ini perlu ditata kembali terutama mengenai tata ruangnya, sistem drainase, sistem instalasi air bersih, instalasi BBM dan pengaturan pemanfaatannya oleh pedagang-pedagang serta menjaga kebersihan, ketertiban dan keindahan pasar agar tidak terlihat kumuh
(c) Kantor pelabuhan 528 m2 digunakan untuk keperluan administrasi
pelabuhan. Kantor utama digunakan untuk keperluan kepala pelabuhan dan kepala seksi serta untuk perpustakaan, gudang arsip, pusat informasi pelabuhan perikanan. Kondisi kantor saat ini sudah terisi penuh dan kondisi fisik bangunannya perlu diperbaharui sehingga untuk pengadaan kantor pada PPN Palabuhanratu yang akan dikembangkan secara optimal sebaiknya dibangun gedung baru dengan konstruksi bertingkat empat dan khusus lantai pertama dibuat tidak memakai ruangan (bebas partisi) guna mengantisipasi adanya kejadian tsunami.
(d) Pos pelayanan terpadu yang terdiri dari petugas syahbandar, PPN Palabuhanratu, TNI AL, Polisi Air dan petugas pengawas SDI. Kondisi fisik gedung saat ini perlu direhab atau dibangun baru, karena sebagian bangunannya sudah mengalami pelapukan dan belum disiapkan fasilitas pendingin ruangan (AC). Selain itu petugas kurang disiplin menempati pos
sehingga memperlemah kinerja pelayanan, untuk itu perlu dibuat kesepakatan bersama tentang operasional pos pelayanan terpadu guna meningkatkan kinerja pelayanan.
(e) Kantor syahbandar (petugas dari PPN Palabuhanratu). Saat ini syahbandar di pelabuhan perikanan ada dua yakni syahbandar umum dari Departemen Perhubungan dan syahbandar perikanan dari Departemen Kelautan dan Perikanan. Syahbandar perikanan yang telah ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2006 belum dapat menjalankan tugasnya karena menurut kesepakatan antara Dirjen. Perikanan Tangkap dan Dirjen. Perhubungan Laut bahwa syahbandar umum di PPN Palabuhanratu akan
ditarik kemudian syahbandar perikanan sudah mulai berfungsi. Kantor yang digunakan untuk petugas syahbandar sementara berada di pos pelayanan terpadu, namun pada tahun 2007 akan dibangun kantor khusus syahbandar di pelabuhan perikanan. Petugas syahbandar perikanan yang telah dilatih ada dua orang dibantu oleh satu orang staf PPN Palabuhanratu. Tugas syahbandar adalah untuk mengeluarkan surat ijin berlayar (SIB). Sebelum syahbandar beroperasional, maka pihak manajemen PPN Palabuhanratu harus sudah mempersiapkan personil yang bertugas sebagai syahbandar, administrasi yang diperlukan seperti form SIB, standard operational procedure (SOP) syahbandar, koordinasi
dengan instansi terkait khususnya mengenai ruang lingkup tugas dan mempersiapkan kantor operasional sementara syahbandar.
(f) Kantor pengawasan perikanan dan kelautan digunakan untuk aktivitas pengawasan perikanan dan kelautan. Kondisi kantornya cukup
representatif karena selain baru, setiap ruangan dilengkapi pendingin
ruangan (AC). Jumlah personil pengawasan sebanyak lima orang, yang
telah memiliki kewenangan untuk menyidik sebanyak empat orang karena telah berstatus sebagai penyidik pegawai negeri sipil (PPNS). Dalam pelaksanaan tugasnya untuk melakukan penyelidikan, penyidikan dan pelimpahan berkas perkara kepada Kejaksaan dibantu oleh petugas Angkatan Laut, Polisi Air, Dinas Perikanan dan Kelautan. Selama tahun 2006 telah dilakukan dua kali gelar operasi ke laut dan berhasil menangkap 15 kapal ukuran <30 GT karena tidak memiliki surat ijin penangkapan. Dari hasil penyelidikan ini telah dilimpahkan perkaranya kepada PPNS Kabupaten Sukabumi karena menyangkut kapal-kapal berukuran <30 GT. Menurut petugas pengawasan bahwa lembaga pengawasan ini akan ditingkatkan menjadi unit pelaksana teknis (UPT) Ditjen. Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan sehingga tidak tergantung pada pelabuhan perikanan. Permasalahan yang dihadapi adalah sangat sedikitnya petugas pengawas (lima orang) sehingga banyak tugas-tugas yang tidak tertangani dengan baik, sebagai contoh masih banyaknya kapal-kapal yang tidak berijin yang
memerlukan pembinaan lebih lanjut. Selain gelar operasi, kegiatan-kegiatan yang sudah terlaksanan adalah pembentukan dan penumbuhan kelompok masyarakat pengawas (POKMASWAS) perikanan dan kelautan. Terhadap permasalahan sedikitnya jumlah petugas dan luasnya wilayah pengawasan, maka disepanjang 117 km pantai Sukabumi ada sebanyak 7 tempat pendaratan ikan, pada masing-masing tempat tersebut telah dibentuk POKMASWAS yang beranggotakan masing-masing 20 orang terdiri dari tokoh nelayan, pengusaha, tokoh masyarakat, petugas desa, nelayan. Mulai pada tahun 2003, secara resmi POKMASWAS di 7 titik tersebut telah dikukuhkan dengan surat keputusan Bupati. Sebanyak 140 orang telah dilakukan pemusatan latihan di PPN Palabuhanratu guna menyerap pengetahuan mengenai perikanan dan kelautan serta peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pengawasan. Dalam operasionalnya POKMASWAS telah dilengkapi radio SSB (single side band) yang dapat
dihubungkan dan didengar nelayan dilaut yang sedang melakukan operasi penangkapan ikan. Setiap hari petugas POKMASWAS ini diminta untuk melaporkan kejadian perikanan di wilayahnya kepada pusat POKMASWAS di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan laporan dari POKMASWAS tersebut, maka PPN Palabuhanratu akan melakukan koordinasi dengan stakeholder yang terkait dengan permasalahan tersebut.
Jaringan radio SSB ini juga telah dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah, Angkatan Laut dan Polisi Air. POKMASWAS telah membentuk forum POKMASWAS yang bertugas untuk mengkoordinasikan masalah-masalah yang berkaitan dengan tugas pengawasan. Hasil kerja dari POKMASWAS telah melaporkan tentang kejadian penggunaan alat, bahan terlarang dalam melakukan penangkapan ikan hias di karang. Terhadap laporan ini pemerintah daerah telah mengupayakan penyelesaiannya dengan cara musyawarah. Permasalahannya adalah, petugas POKMASWAS menghendaki agar pemerintah dapat memberikan insentif kepada mereka setiap bulan.
(g) Laboratorium Bina Mutu Hasil Perikanan seluas 170 m2 digunakan untuk pemeriksaan hasil tangkapan nelayan, selama ini pengujian yang dilaksanakan antara lain pengujian organoleptik dan pengujian formalin. (h) Balai pertemuan nelayan 150 m2 secara aktif digunakan sebagai tempat
pelatihan-pelatihan nelayan, rapat HNSI, pengajian, sunatan. Balai ini perlu dilengkapi dengan sound system, AC dan penambahan kursi serta
fasilitas audio visual.
(i) Puskesmas nelayan yang beroperasi setiap hari Selasa dan Kamis dengan jumlah pasien 55 orang setiap hari. Pelayanan dilakukan oleh dokter umum dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi. Biaya pengobatan relatif murah sebesar Rp 3.000,- setiap kali berobat. Direncanakan Puskesmas Nelayan ini akan ditingkatkan menjadi RS Pelabuhan Perikanan yang berfungsi memberi pelayanan kesehatan nelayan dan kesehatan lingkungan pelabuhan.
(j) Kantor penjualan BBM 96 m2 dilengkapi dengan tangki BBM berkapasitas 320 m3 dan 208 m3. Usaha BBM yang bernama SPDN ini dikelola oleh KUD Mina Sinar Laut bekerjasama dengan Perum Prasarana Samudera Jakarta. KUD Mina memperoleh aliran minyak sebanyak 160 Kl sebulan untuk keperluan BBM solar bagi kapal-kapal ukuran <30 GT. Harga jual BBM Solar untuk nelayan sama dengan harga BBM di SPBU. Kebutuhan solar untuk 628 buah kapal yang ada pada tahun 2005 adalah sebanyak 1.820 kl/bulan, namun yang tersedia di SPDN sebanyak 160 kl/bulan ditambah 500 kl/bulan di SPBB sehingga kekurangannya diperoleh dari SPBU. Menurunnya frekuensi jumlah kapal melaut setiap bulan dari sejumlah 60 kapal per bulan menjadi 5 kapal per bulan sebagai akibat kenaikan biaya operasional melaut terutama harga solar BBM. Dengan adanya pengembangan PPN Palabuhanratu, maka SPDN dan SPBB yang ada perlu ditambah persediaan solarnya sehingga memenuhi kebutuhan kapal untuk operasi ke laut. Hampir semua nelayan menghendaki agar harga BBM untuk nelayan diturunkan menjadi
Rp 2.500/liter guna menutupi biaya operasional melaut yang terus membengkak.
(k) Tangki air 400 m3 dan rumah pompa 27 m2 dikelola oleh PT. Eko Mulyo
Sukabumi. Air bersih dialirkan oleh PDAM ke reservoir kemudian baru
dialirkan ke kapal-kapal nelayan yang ada di pinggir dermaga. Apabila PDAM tidak beroperasi, maka pihak pelabuhan telah menyediakan mobil tanki air bersih dimana air bersih diambil di sumber mata air milik perorangan, sehingga penyediaan air bersih untuk kapal-kapal nelayan tidak mengalami masalah. Untuk jangka menengah dan panjang, penambahan kapasitas air bersih ini perlu ditingkatkan dengan cara membuat reservoir baru yang diisi oleh sumber air tanah dan untuk
keperluan lainnya maka perlu dilakukan pemanfaatan air Sungai Cimandiri untuk dialirkan ke pelabuhan perikanan.
(l) Tempat perbaikan jaring 500 m2 saat ini sudah tidak berfungsi lagi dan dialih fungsikan menjadi areal industri. Saat ini telah ditempati oleh perusahaan cold storage.
(m) Gudang box 74 m2 digunakan untuk menyimpan box-box dan trays.
(n) Gardu jaga 52 m2 digunakan untuk pos keamanan pelabuhan.
(o) Toilet umum 45 m2 sudah berfungsi yang dikelola oleh koperasi
karyawan.
3) Fasilitas penunjang berupa rumah operator seluas 131 m2 dan guest house
seluas 150 m2 serta mushola nelayan. 5.2.2 Kondisi operasional PPN Palabuhanratu
Operasional pelabuhan dijalankan oleh satu manajemen yang dibentuk oleh pemerintah pusat. Berdasarkan tugas pokok dan fungsinya, maka manajemen pelabuhan saat ini menjalankan fungsi dalam rangka membantu aktivitas perikanan agar lebih efisien dan efektif, dan ikut membina dan mengembangkan perekonomian masyarakat nelayan. Pada umumnya nelayan-nelayan tangkap di Palabuhanratu yang mengoperasikan alat payang, gill net dan pancing kekurangan
modal serta mengalami kesulitan dalam memperoleh faktor produksi seperti alat tangkap, mesin, bahan bakar dengan harga yang murah, kebutuhan-kebutuhan
tersebut harus dibeli dari pedagang perantara dengan harga yang tinggi. Selain itu biaya operasional melaut diperoleh dari pinjaman uang melalui rentenir/tengkulak dengan cara yang mudah, dan sebagai imbalannya nelayan harus menjual hasil tangkapan ikannya kepada rentenir dengan harga yang tidak wajar, akibatnya pendapatan nelayan semakin berkurang.
Menyadari hal tersebut, maka sejak tahun 2003 Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap telah mencoba meluncurkan program revitalisasi pelabuhan perikanan dan menumbuhkan unit-unit bisnis perikanan terpadu (UBPT) di pelabuhan perikanan, dengan tujuan untuk meningkatkan fungsi pelabuhan perikanan, yang semula hanya melayani aktivitas perikanan di pelabuhan, kemudian diperluas untuk ikut membina pengembangan ekonomi perikanan.
Dengan demikian tugas dan fungsi pelabuhan perikanan yang dijalankan merupakan ujung tombak pelaksanaan program DKP di daerah, termasuk juga menjalankan program-program lain di luar DKP, seperti fungsi kesehatan pelabuhan, keamanan dan ketertiban pelabuhan, imigrasi dan kesyahbandaran.
Pelaksanaan fungsi PPN Palabuhanratu selama program revitalisasi pelabuhan perikanan dijalankan sejak periode tahun 2003-2005 adalah:
(1) Sebagai tempat tambat labuh kapal:
1) Menyelenggarakan pemeliharaan vender dan bolard yang ada di dermaga,
lampu suar pintu masuk kolam pelabuhan, penerangan dermaga, instalasi air di dermaga.
2) Menyelenggarakan fungsi kesyahbandaran, yakni mempersiapkan tenaga syahbandar.
3) Melakukan fungsi pengawasan terhadap pemanfaatan sumberdaya ikan, pemberian ijin kapal keluar masuk pelabuhan.
4) Melakukan pemantauan dan pengaturan terhadap kapal yang berlabuh dan bongkar muat.
5) Menerima dan mengelola jasa tambat.
6) Memberikan kemudahan dalam hal kebutuhan sarana dan jasa komunikasi dan telekomunikasi.
2) Menyediakan tenaga dan sarana pendaratan.
3) Pelayanan untuk mempertahankan mutu hasil tangkapan.
4) Alat bantu bongkar dan alat angkut ikan hasil tangkapan lainnya. 5) Pelayanan terhadap kebutuhan tenaga dan petugas bongkar muat ikan. (3) Tempat untuk memperlancar kegiatan kapal-kapal perikanan.
1) Memberikan pelayanan teknis untuk memudahkan kapal-kapal melakukan kegiatan di pelabuhan (merapat, berlabuh, bongkar muat, keluar pelabuhan).
2) Melayani kebutuhan kapal (BBM, es, garam dan perbekalan lain).
3) Memberikan dokumen perijinan surat tanda bukti lapor kedatangan /keberangkatan kapal (STBLKK).
4) Membantu pemeriksaan kesehatan kapal.
5) Membantu melaksanakan pemeriksaan dokumen keimigrasian ABK warga negara asing.
6) Membantu pelaksanaan pemeriksaan muatan sehubungan dengan peraturan bea dan cukai.
7) Memberikan pelayanan dalam hal kebutuhan perbekalan ABK, jasa perbengkelan dan perawatan kapal serta jasa lainnya.
(4) Tempat pemasaran dan distribusi hasil tangkapan. 1) Menyediakan dan merawat tempat pelelangan ikan. 2) Menyediakan pasar ikan dan lapak pengecer ikan segar. 3) Menyediakan gedung perkantoran dan toko BAP. (5) Tempat pelaksanaan pembinaan mutu hasil perikanan.
1) Mengadakan dan mengembangkan berbagai sarana yang mendukung penanganan pasca penangkapan ikan (tempat/ruangan penanganan, pengolahan dan pengepakan ikan, ruangan pendingin, pabrik es dll.).
2) Membantu Dinas Perikanan dalam pembinaan kegiatan penanganan, pengolahan, pengepakan dan pengangkutan hasil perikanan serta penyuluhannya sebagai upaya untuk menjamin mutu hasil perikanan.
3) Mengkoordinasikan upaya pembinaan mutu hasil perikanan bersama Dinas Perikanan.
4) Membantu kelancaran sertifikasi mutu ikan dari Dinas Perikanan.
5) Melakukan uji tes formalin pada ikan dan bekerja sama dengan Polres setempat dalam pemberantasan penggunaan formalin.
(6) Tempat pelaksanaan penyuluhan dan pengumpulan data.
1) Mengkoordinasikan pengumpulan data statistik perikanan di pelabuhan bersama dengan Dinas Perikanan.
2) Mewajibkan kepada unit usaha yang beroperasi di lingkungan pelabuhan untuk memberikan data yang diperlukan.
3) Melakukan tindakan pemeriksaan teknis kapal perikanan.
4) Melakukan pemantauan tugas dan kegiatan pemeriksaan kapal perikanan oleh petugas pengawasan penangkapan ikan.
5) Penyuluhan dan sosialisasi hasil riset serta mengadakan pelatihan berkaitan dengan peningkatan usaha perikanan.
(7) Tempat pelaksanaan pengawasan (MCS) sumberdaya ikan.
1) Penyebaran dan pengumpulan log book.
2) Melakukan pendataan dan evaluasi terhadap log book.
3) Melakukan pendugaan stock.
4) Melakukan perhitungan terhadap CPUE.
5) Memberikan informasi tentang kondisi fishing ground.
Hasil dari program revitalisasi pelabuhan perikanan dari Ditjen. Perikanan Tangkap yang dijalankan adalah tumbuhnya pelaku-pelaku unit bisnis di pelabuhan, seperti :
(1) KUD Mina Sinar Laut bergerak dibidang pelayanan SPDN (station package
dealer nelayan) untuk menyediaan solar kapal perikanan ukuran <30 GT,
penyelenggaraan pelelangan ikan.
(2) Yayasan Anak Nelayan bergerak dibidang pengolahan ikan dalam bentuk filet ikan dan usaha rumpon serta mengasuransikan sebagian nelayan binaannya. (3) Program pengembangan perikanan tangkap skala kecil dari Ditjen. Perikanan
Tangkap yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh nelayan skala kecil dalam melakukan aktivitas perikanannnya sehingga pendapatannya semakin meningkat. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
adalah berupa optimalisasi kapal dan alat penangkapan ikan (OPTIKAPI), optimalisasi pelelangan ikan (OPTILANPI), optimalisasi pengolahan ikan (OPTIHANKAN) dan optimalisasi pemasaran ikan (OPTISARKAN) yakni berupa pembentukan kelompok usaha bersama (KUB), pelatihan terhadap nelayan dan memberi bantuan permodalan berupa unit alat tangkap, pengolahan dan tempat pemasaran ikan.Tabel 14 menunjukkan perkembangan KUB binaan PPN Palabuhanratu. Berdasarkan Tabel 13, dari 9 KUB yang ada semuanya telah beroperasional, ditandai oleh jumlah anggota yang terlibat sebanyak 200 orang. Pada tahun 2005, KUB tersebut telah berhasil melakukan usaha penangkapan ikan atas bantuan kapal yang diberikan oleh pemerintah sebanyak 278.870 kg senilai Rp 760.879.200 dan dapat disimpan sebanyak Rp 46.896.791 untuk dana bergulir bagi anggotanya.
Tabel 13 Kondisi kelompok usaha bersama (KUB) binaan PPN Palabuhanratu tahun 2005 Nama KUB Jumlah anggota Jumlah prod (kg) Nilai Prod (Rp) Dana bergulir (Rp) Majelis Nusantara 1 26 3.814 22.110.200 6.339.000 Putra Bahari Nusantara 33 9.655 48.889.250 500.000 CempakaPutihNusantara 33 22.623 102.817.000 14.000
GumelarNusantara 16 5.382 48.701.600 100.000
Bungsu Nusantara 20 - -
-Majelis Nusantara 2 22 12.814 87.006.800 14.000.000 Lembayung Nusantara 27 213.544 161.708.750 13.243.791
Sumber Bahari 19 29.558 289.645.600 12.600.000
Bina Usaha Nusantara 14 - - 100.000
J U M L A H 200 278.870 760.879.200 46.896.791
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
(4) PT. Citra Karya Utama bergerak dibidang docking kapal.
(5) PT. AGB bergerak dibidang cold storage dengan membeli semua produk
hasil tangkapan ikan nelayan. Hasil ikan olahan diekspor ke negara Korea. (6) CV Burhan bergerak penjualan suku cadang alat bahan perikanan.
(7) PT. Sari Sagara bergerak di bidang penangkapan ikan dengan alat tangkap
(8) PT. Paridi mengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar di Bunker (SPBB) bergerak dibidang penyediaan solar untuk kapal ukuran >30 GT. Menerima pasokan solar dari Pertamina sebanyak 1.500 kl setiap bulan.
(9) Bank Danamon dalam penyediaan kredit untuk nelayan. Sampai bulan Agustus 2006 sudah tersalurkan kredit sekitar Rp 4.000.000.000,-.
(10) PT. Ratu Prima bergerak dibidang coldstorage dan pabrik es.
(11) Tumbuh dan berkembangnya 8 kelompok masyarakat pengawas perikanan (POKMASWAS) yang berada di setiap titik pendaratan ikan. Tugasnya adalah mengawasi kegiatan perikanan di daerahnya dan melaporkan kepada PPN Palabuhanratu tentang kejadian tersebut melalui radio SSB.
(12) Digunakannya peta prakiraan daerah penangkapan ikan oleh kapal nelayan sebanyak 52 kapal setiap bulannya, sehingga nelayan memiliki alternatif petunjuk tentang daerah penangkapan ikan.
(13) Terbangunnya PUSKESMAS nelayan pada tahun 2005 yang melayani rata-rata sebanyak 15 orang nelayan setiap bulan.
(14) Berfungsinya Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan (PIPP) yang memiliki jaringan langsung internet ke Ditjen. Perikanan Tangkap, sehingga data pelabuhan on line ke DKP.
(15) Beroperasionalnya kios IPTEK yang menyampaikan hasil-hasil penelitian dan kegiatan perikanan dan kelautan kepada masyarakat perikanan.
(16) Program statistik perikanan yakni pelaksanaan pengumpulan data secara benar dan akurat menurut petunjuk yang telah ditetapkan oleh Ditjen. Perikanan Tangkap. Pelaksanaan program ini telah menghasilkan tersedianya data statistik perikanan tentang produksi ikan tuna berikut ukuran dan beratnya, statistik ikan lainnya, statistik distribusi ikan dan pengolahan ikan. Walaupun di PPN Palabuhanratu sangat baik pendataan statistiknya, namun sangat disayangkan pendataan kabupaten belum sempurna terutama pengumpulan data karena keterbatasan petugas.
Pelayanan PPN Palabuhanratu terhadap aktivitas-aktivitas perikanan antara lain adalah:
(1) Kapal perikanan
Kapal-kapal perikanan yang mendarat di PPN Palabuhanratu dan melakukan operasi penangkapan ikan di WPP 9 sejak periode tahun 1993–2005 dapat dilihat pada Tabel 14.
Berdasarkan Tabel 14, bahwa komposisi kapal-kapal berukuran kecil (<5 GT) jumlahnya semakin meningkat yakni pada tahun 1993 sebanyak 342 unit meningkat menjadi 428 unit pada tahun 2005. Kapal motor berukuran 5-30 GT juga mengalami kenaikan yakni dari 65 unit pada tahun 1993 meningkat menjadi 180 unit pada tahun 2005. Begitu juga untuk kapal motor ukuran 30-150 GT naik dari 13 unit pada tahun 1993 menjadi 68 unit pada tahun 2005. Tabel 15 menunjukkan jumlah kapal yang mendarat di PPN Palabuhanratu berdasarkan daerah asalnya.
Tabel 14 Jumlah kapal yang mendarat di PPN Palabuhanratu periode tahun 1993-2005
satuan: unit
Sumber: Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
Berdasarkan Tabel 15, dari 676 unit kapal pada tahun 2005, terdapat sebanyak 465 unit kapal atau 69% berasal dari Palabuhanratu sedangkan sisanya berasal dari daerah lain.
Tahun < 5 GT PMT Kapal Motor 5-30 GT >30 – 150 GT Kapal Motor Jumlah
1993 342 65 13 420 1994 344 85 16 445 1995 352 94 15 461 1996 365 111 12 488 1997 290 104 12 406 1998 275 137 9 421 1999 278 170 11 459 2000 235 170 11 416 2001 243 188 13 444 2002 317 132 13 462 2003 253 130 11 394 2004 266 125 139 530 2005 428 180 68 676
Tabel 15 Jumlah kapal perikanan yang mendarat di PPN Palabuhanratu berdasarkan daerah asal tahun 2005
satuan: unit
No Daerah asal Perahu Motor Tempel Kapal Motor Jumlah
1 Palabuhanratu 310 155 465 2 Ujung Genteng 10 - 10 3 Ciwaru 5 - 5 4 Loji 5 - 5 5 Cisolok 87 - 87 6 Cibangban 9 - 9 7 Cisaar - 4 4 8 Binuangeun 2 8 10 9 Cilacap - 44 44 10 Pekalongan - 2 2 11 Jakarta - 16 16 12 Benoa Bali - 9 9 13 Sibolga - 1 1 14 NTT - 1 1 15 NTB - 3 3 16 Jawa Timur - 5 5 Jumlah 428 248 676
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
(2) Produksi ikan
Produksi ikan PPN Palabuhanratu sejak tahun 1993-2005 berfluktuasi setiap tahunnya, Tabel 16 menunjukkan produksi ikan di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan Tabel 16, jumlah produksi semakin meningkat yakni dari 3.118.782 kg pada tahun 1993 menjadi 12.473.099 kg pada tahun 2005. Produksi ikan pada tahun 2005 sebesar 6.600.530 kg atau 53% berasal dari pendaratan langsung di dermaga PPN Palabuhanratu, sedangkan sisanya sebesar 5.872.569 kg atau 47% berasal dari ikan yang masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalan darat.
Pada tahun 1993, tercatat ikan segar yang didistribusikan sebesar 93.240 kg dan naik menjadi 3.397.443 kg pada tahun 2005, atau rata-rata kenaikan sebesar 30,77%. Jumlah ikan yang didistribusikan tertinggi adalah sebanyak 3.397.443 kg pada tahun 2005 dan terendah sebanyak 52.192 kg pada tahun 1995 Sedangkan distribusi ikan segar dari PPN Palabuhanratu sejak tahun 1993 sampai 2005 ditunjukkan seperti pada Tabel 17.
Tabel 16 Produksi ikan di PPN Palabuhanratu periode tahun 1993-2005
Satuan : kg Tahun Produksi ikan
didaratkan Produksi ikan masuk pelabuhan lewat darat Jumlah produksi pelabuhan 1993 3.118.782 - 3.118.782 1994 3.424.725 - 3.424.725 1995 3.521.745 - 3.521.745 1996 3.386.376 - 3.386.376 1997 4.134.871 - 4.134.871 1998 2.381.967 806.223 3.188.190 1999 2.765.495 1.036.144 3.801.639 2000 2.505.091 1.010.060 3.515.151 2001 1.766.963 1.737.487 3.504.450 2002 2.890.118 985.350 3.875.468 2003 4.105.260 520.503 4.625.763 2004 3.367.517 3.036.662 6.404.179 2005 6.600.530 5.872.569 12.473.099 Jumlah 43.969.440 15.004.998 58.974.438 Rata-rata 3.382.265 1.875.625 5.257.890
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
Tabel 17 Produksi ikan segar dari PPN Palabuhanratu periode tahun 1993 -2005 Satuan : kg
Tahun Produksi ikan segar
1993 93.240 1994 104.565 1995 52.192 1996 101.198 1997 191.444 1998 633.056 1999 1.187633 2000 1.100.360 2001 579.569 2002 1.384.923 2003 1.985.877 2004 1.605.468 2005 3.397.443 Rata-rata 955.158
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
Distribusi ikan pindang dari PPN Palabuhanratu pada periode tahun 1993-2005 ditunjukkan seperti pada Tabel 18.
Tabel 18 Produksi ikan pindang dari PPN Palabuhanratu periode tahun 1993 – 2005
Satuan : kg Tahun Ikan pindang
1993 59.942 1994 205.710 1995 25.783 1996 46.990 1997 270.672 1998 930.251 1999 844.678 2000 870.348 2001 777.062 2002 771.770 2003 1.222.139 2004 1.053.441 2005 1.747.187 Rata-rata 678.921
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
Rata-rata pendistribusian ikan pindang sejak tahun 1993 sampai dengan tahun 2005 adalah 678.921 kg. Volume distribusi ikan pindang mengalami perkembangan, yakni dari 59.942 kg pada tahun 1993, naik menjadi 1.747.187 kg pada tahun 2005 atau rata-rata kenaikan sebesar 89,51%.
Distribusi ikan asin dari PPN Palabuhanratu pada periode tahun 1993-2005 ditunjukkan seperti pada Tabel 19.
Ikan-ikan asin dibuat oleh pengolah ikan asin yang berada di sepanjang pantai Sukabumi. Bahan-bahan ikan asin umumnya berasal dari PPN Palabuhanratu yang merupakan hasil tangkapan bagan dan sebagian kecil dari ikan-ikan hasil tangkapan pancingan. Rata-rata distribusi ikan asin dari Palabuhanratu sebesar 326.399 kg/tahun. Kota tujuan distribusi ikan asin adalah ke Palabuhanratu, Sukabumi, Cibadak, Cicurug, Bogor, Cianjur dan Bandung.
Tabel 19 Produksi ikan asin dari PPN Palabuhanratu periode tahun 1993-2005
Satuan: kg
Tahun Ikan asin
1993 15.445 1994 6.285 1995 8.600 1996 5.575 1997 10.256 1998 94.326 1999 175.866 2000 156.064 2001 364.193 2002 352.550 2003 894.054 2004 707.385 2005 1.452.585 Rata-rata 326.399
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
(2)Pelayanan logistik
Terdapat tiga kebutuhan kapal yang sangat penting untuk disediakan yaitu BBM solar, air bersih dan es.
1) Solar
Volume pemakaian solar sejak tahun 1993 sampai dengan tahun 2005 terus meningkat, peningkatan sangat besar terjadi pada tahun 2002 yakni meningkat dari 1.045.000 liter tahun 2001 menjadi 4.041.110 liter pada tahun 2002 atau naik 286,71%. Pada tahun 2004, solar meningkat dari 4.821.870 liter pada tahun 2003 menjadi 10.380.781 liter, kemudian pada tahun 2005 jumlah solar yang digunakan nelayan menurun menjadi sebesar 5.528.785 atau turun sebesar 46,74%. Pada tahun 2005, nelayan dikejutkan terhadap adanya kenaikan harga BBM untuk kapal ikan berukuran >30 GT dengan harga Rp 5.300 per liter (Oktober 2005), akibatnya walaupun Pertamina telah membangun SPBB untuk melayani BBM solar bagi kapal berukuran >30 GT, namun saat ini tetap saja nelayan mencari harga solar yang lebih murah yakni di SPDN dan SPBU dengan harga Rp 4.300
per liter (Oktober 2005). Hal yang salah ini tidak akan berlangsung lama, sehingga pemerintah harus membantu kapal-kapal ikan yang berukuran >30 GT untuk memperoleh solar dengan harga yang sama dengan harga di SPBU.
2.669 1.662 1.745 1.847 1.747 1.619 1.917 4.041 4.821 10.380 5.528 1.153 1.045 0.000 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun Ton
Gambar 9 Kebutuhan logistik solar (BBM) di PPN Palabuhanratu periode tahun 1993 – 2004.
Pada tahun 2004 permintaan solar naik 115,29%. Kenaikan permintaan solar tersebut sebagai akibat beroperasinya dermaga II (Gambar 9). Permasalahan yang ada dalam menyalurkan solar untuk keperluan operasional kapal ikan sampai dengan tahun 2002 adalah bahwa selama ini kapal-kapal ikan sudah terbiasa membeli solar dari dua SPBU yang ada di Palabuhanratu. Kegiatan penyaluran BBM untuk kapal ikan yang diperoleh dari SPBU melanggar peraturan yang ada karena SPBU hanya diperuntukkan penyediaan solarnya bagi kendaraan bermotor di darat.
Kebutuhan BBM solar untuk nelayan yang memiliki kapal berukuran <30 GT dipasok dari SPDN (Station Package Dealer untuk Nelayan). Bahan bakar
solar untuk kapal berukuran >30 GT, sebelumnya dipasok dari 2 unit SPBU yang ada di Palabuhanratu ditambah satu buah SPBU lagi yang baru beroperasi pada tahun 2004, namun sejak bulan Oktober 2005, kebutuhan solar untuk kapal berukuran >30 GT juga telah dipasok dari SPBB (stasiun pengisian bahan bakar di
bunker) PPN Palabuhanratu yang dikelola oleh PT Paridi. SPBB tersebut
berlokasi di dalam pelabuhan dan dikhususkan untuk menyalurkan solar ke kapal-kapal yang berukuran <30 GT dengan harga bersubsidi, yakni Rp 4.300/liter (bulan Oktober 2005) atau lebih murah Rp 200,- dibandingkan dengan harga di
SPBU. Selama ini SPDN memperoleh DO (delivery order) solar dari Pertamina
sebanyak 160 kiloliter/bulan. Solar sebanyak itu cukup untuk kebutuhan kapal berukuran <30 GT yang berjumlah 608 buah dengan rincian ukuran kapal 5-30 GT sebanyak 180 buah dan kapal ukuran <5 GT sebanyak 428 buah. Kebutuhan solar setiap hari untuk kapal berukuran 30–150 GT, selama ini rata-rata 60 ton diperoleh dari tiga buah SPBU yang ada di Palabuhanratu.
Tabel 20 Pemakaian BBM solar untuk kapal di PPN Palabuhanratu periode tahun 1993 - 2005 Satuan : liter Tahun Kebutuhan BBM 1993 1.153.640 1994 2.669.300 1995 1.662.085 1996 1.745.859 1997 1.847.490 1998 1.747.497 1999 1.619.586 2000 1.917.155 2001 1.045.000 2002 4.041.110 2003 4.821.870 2004 10.380.781 2005 5.528.785
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
2) Air
Kebutuhan air bersih untuk nelayan dipasok dari PDAM kemudian dikelola oleh pihak PPN Palabuhanratu. Gambar 10 menunjukkan gambaran perkembangan kebutuhan air bersih sejak tahun 1993-2005 di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan Gambar 10, pemakaian air meningkat tajam sampai dengan tahun 2005, yakni sebesar 6.034.700 liter atau rata-rata/hari sebanyak 16.533,42 liter. Peningkatan penggunaan air bersih ini sebagai akibat semakin banyaknya kapal perikanan dari luar masuk ke PPN Palabuhanratu. Permasalahan yang ada dalam menyalurkan air bersih untuk kapal ikan adalah tidak setiap hari PDAM dapat menyalurkan air bersih untuk keperluan kapal ikan.
0.70 2.084 0.99 4.749 6.035 1.591 1.48 2.443 0.38 1.11 1.212 1.63 1.469 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun Ton
Gambar 10 Perkembangan kebutuhan air di PPN Palabuhanratu periode tahun 1993-2005.
Setiap hari Senin dan Kamis, PDAM memutuskan tidak menyalurkan air ke PPN Palabuhanratu dengan alasan belum mampu menyalurkan air bersih untuk kebutuhan maksimal, sehingga pihak manajemen pelabuhan pada tahun 2005 telah mengadakan mobil tangki air guna menyediakan air bersih apabila PDAM tidak menyalurkan air bersih ke PPN Palabuhanratu. Permasalahan penyediaan air bersih sudah dapat diatasi oleh manajemen pelabuhan. Selama ini kebutuhan air bersih di PPN Palabuhanratu digunakan untuk keperluan melaut, aktivitas kantor, kapal, TPI dan WC umum.
Tabel 21 Kebutuhan air bersih di PPN Palabuhanratu periode tahun 1993-2005 Satuan : liter
Tahun Kebutuhan air
1993 697.090 1994 1.211.890 1995 1.629.500 1996 1.469.195 1997 1.110.240 1998 2.084.000 1999 988.000 2000 2.443.000 2001 380.000 2002 1.479.900 2003 1.591.300 2004 4.749.000 2005 6.034.700
3) Es
Pemerintah seharusnya mendorong penggunaan es sebagai bahan pengawet untuk menciptakan cold chain system dalam mempertahankan mutu ikan yang
didaratkan di pelabuhan perikanan dan untuk mencegah penggunaan formalin sebagai bahan pengawet ikan, untuk itu perlu dilakukan sosialisasi terhadap bahaya penggunaan formalin pada ikan dan perlu dilakukan penegakan hukum bagi pengguna formalin. Selain itu pemerintah juga harus mengatur tentang tata perdagangan formalin di pasar.
Penggunaan es sebagai pengawet oleh nelayan Palabuhanratu dari tahun ke tahun semakin berkembang karena konsumen juga menghendaki ikan yang lebih segar dan bermutu. Sejak periode tahun 1993-2004 penggunaan es meningkat yakni dari 152.698 balok pada tahun 1993 meningkat menjadi 285.470 balok pada tahun 2004. Peningkatan ini disebabkan penggunaan es balok oleh kapal
longline. Es disuplai oleh satu pabrik es di Palabuhanratu yang berkapasitas 1000
balok per hari, padahal kebutuhan es setiap harinya sebasar 1500 balok, sehingga kapal-kapal yang membutuhkan es harus antri selama 3 hari di pelabuhan. Banyak investor ingin membangun pabrik es, namun mereka masih mempertimbangkan keberlangsungan usahanya mengingat kondisi operasional kapal-kapal sedang mengalami penurunan akibat kenaikan harga BBM. Gambar 11 menunjukkan perkembangan pemakaian es di PPN Palabuhanratu.
152.698 136.807 143.560 90.300 11.490 285.470 112.450 112.335 219.595 277.704 74.632 132.740 122.246 0.000 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun J u m lah ( b al o k)
Gambar 11 Perkembangan kebutuhan es di PPN Palabuhanratu periode tahun 1993-2005.
Tabel 22 Kebutuhan logistik es di PPN Palabuhanratu periode tahun 1993-2005 Satuan : balok Tahun Kebutuhan es 1993 152.698 1994 136.807 1995 112.335 1996 122.246 1997 132.740 1998 143.560 1999 90.300 2000 74.632 2001 11.490 2002 277.704 2003 219.595 2004 285.470 2005 112.450
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
5.2.3 Manajemen pelabuhan perikanan
Pengelolaan pelabuhan perikanan tergantung antara lain kepada aspek legalitas, organisasi, tata hubungan kerja, kondisi sumberdaya manusia, standard
operational procedure (SOP) dan pelayanan.
(1) Legalitas pelabuhan perikanan
Sejak tahun 1974, yakni permulaan adanya pelabuhan perikanan di Indonesia sampai dengan tahun 2004, peraturan yang mengatur mengenai pelabuhan perikanan belum ada, walaupun UU No.9 tahun 1985 tentang Perikanan menyebutkan antara lain bahwa pelabuhan perikanan dibina oleh pemerintah, namun sampai tahun 2004 peraturan pemerintah tentang pelabuhan perikanan belum diterbitkan sehingga pembangunan dan operasional pelabuhan sangat tergantung kepada aturan yang dikeluarkan oleh menteri perhubungan. Sejak tahun 2004 telah ada pengaturan tentang pelabuhan perikanan yakni pada UU No.31 tahun 2004 tentang Perikanan serta telah dikeluarkannya peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.16/MEN/2006 tanggal 23 Juni 2006. Selain itu terdapat pula peraturan lain yakni :
1) Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2006 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah No.62 tahun 2002 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
2) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.46/MEN/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelabuhan Perikanan.
3) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.Per.17/MEN/2006 tentang Usaha Perikanan Tangkap.
(2) Organisasi pelabuhan perikanan
Didalam Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. KEP.26.I/MEN/2001 tanggal 1 Mei 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelabuhan Perikanan, telah ditetapkan bahwa susunan organisasi PPN Palabuhanratu adalah sebagai berikut :
1) Kepala pelabuhan perikanan, yang mempunyai wewenang melaksanakan tugas pokok dan fungsi pelabuhan perikanan dan bertanggung jawab terhadap pembangunan dan operasional pelabuhan.
2) Sub Bagian Tata Usaha, yang mempunyai wewenang melakukan administrasi keuangan, kepegawaian, persuratan, kearsipan, perlengkapan dan rumah tangga, pelaporan dan pengembangan serta pengelolaan informasi dan publikasi perikanan.
3) Seksi Tata Pengusahaan, yang bertugas untuk melakukan pembangunan, pemeliharaan, pengembangan dan pendayagunaan sarana dan prasarana, pelayanan jasa, fasilitasi usaha dan wisata bahari, pemberdayaan masyarakat perikanan, koordinasi peningkatan produksi hasil perikanan, pengendalian lingkungan, koordinasi urusan keamanan dan ketertiban serta pelaksanaan kebersihan kawasan pelabuhan perikanan.
4) Seksi Tata Pelayanan, yang bertugas melakukan pelayanan teknis kapal perikanan dan kesyahbandaran perikanan, memfasilitasi pemasaran dan distribusi hasil perikanan, pengumpulan, pengolahan dan penyajian data dan statistik perikanan serta pengembangan dan pengelolaan sistem informasi perikanan.
5) Kelompok jabatan fungsional, yang terdiri dari jabatan fungsional pengawas penangkapan yang mempunyai tugas melakukan kegiatan pengawasan
penangkapan ikan serta jabatan fungsional kehumasan yang mempunyai tugas untuk menyampaikan informasi berkaitan dengan fungsi-fungsi kepelabuhanan.
Struktur organisasi PPN Palabuhanratu dapat dilihat pada Lampiran 4. (3) Tata hubungan kerja
Di wilayah PPN Palabuhanratu terdapat beberapa lembaga yang terkait dengan pengelolaan wilayah pelabuhan yang masing-masing mempunyai kewenangan yang berbeda. PPN Palabuhanratu berkewajiban mengkoordinasikan segenap kegiatan yang dilakukan oleh instansi terkait agar lebih bersinergi untuk mencapai tujuan. Instansi tersebut antara lain adalah :
1) UPT Pelabuhan Perikanan
UPT pelabuhan perikanan mempunyai wewenang
(a) Menyelenggarakan pembangunan, pengembangan, pemeliharaan dan pengelolaan sarana pokok dan penunjang yang menjadi aset pemerintah. (b) Menyelenggarakan pelayanan teknis terhadap kapal perikanan.
(c) Menyelenggarakan keamanan, ketertiban dan kebersihan di pelabuhan perikanan.
(d) Menyelenggarakan fungsi kesyahbandaran.
(e) Mengkoordinasikan kegiatan instansi terkait di pelabuhan. 2) Dinas Perikanan
Dinas perikanan mempunyai wewenang dan tanggung jawab melaksanakan pembinaan teknis perikanan sesuai dengan kewenangan pemerintah daerah dibidang perikanan
3) Kesehatan Pelabuhan
Kesehatan pelabuhan mempunyai wewenang dan tanggung jawab melakukan penanganan dan pengawasan kesehatan di pelabuhan.
4) POLISI AIR
Polisi air mempunyai wewenang dan tanggung jawab melaksanakan penangkapan, penyidikan dan penanggulangan kasus-kasus kejahatan umum/kriminal.
5) TNI Angkatan Laut
TNI AL mempunyai wewenang menjaga pertahanan dan keamanan laut termasuk melakukan upaya hukum terhadap pelanggaran perikanan di laut. (4) Sumberdaya manusia
Jumlah pegawai PPN Palabuhanratu saat ini sebanyak 69 orang yang terdiri dari 57 orang PNS dan 12 orang pegawai honorer. Secara terperinci komposisi pegawai PPN Palabuhanratu disajikan pada Tabel 23.
Tabel 23 Komposisi pegawai PPN Palabuhanratu berdasarkan pendidikan
Satuan : orang PENDIDIKAN
Unit kerja S2 S1 D4 D3 SLTA SLTP SD TSD Jumlah
Kepala pelabuhan 1 - - - - 1
Subbag. Tata Usaha 1 1 - - 7 1 1 - 11
Seksi Tata Pelayanan - 4 1 2 12 - - - 19
Seksi Tata Pengusahaan 1 1 2 - 19 - 3 - 26
Honorer - - 1 - 2 1 1 7 12
Jumlah 3 6 4 2 40 2 5 7 69
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2005 Keterangan : TSD = Tidak Tamat SD
(5) Standard operational procedure (SOP)
Beberapa SOP yang telah dipersiapkan oleh PPN Palabuhanratu antara lain adalah: operasional pelelangan ikan, operasional bengkel, operasional alat berat, operasional tambat labuh, operasional K3 (kebersihan, keindahan dan ketertiban), operasional sewa tanah, gedung bangunan, operasional instalasi air bersih, instalasi BBM, aliran dari barang (flow of goods), aliran orang (flow of person)
dan tata tertib lainnya seperti keluar masuk kapal. 5.3Arah Pengembangan PPN Palabuhanratu
5.3.1 Potensi sumberdaya ikan dan daerah penangkapan kapal-kapal dari Palabuhanratu
(1) Sumberdaya ikan
Menurut Pusat Riset Perikanan Tangkap dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi (2005), bahwa kelompok ikan pelagis besar di perairan Samudera Hindia (WPP 9) masih besar peluang untuk dimanfaatkan,
karena baru dimanfaatkan sebesar 188.280 ton atau 51,41% dari potensi sebesar 366.260 ton/tahun. Begitu juga untuk kelompok ikan pelagis kecil baru dimanfaatkan sebesar 264.560 ton atau 50,44% dari potensi sebesar 526.570 ton/tahun. Jenis-jenis ikan pelagis besar yang dominan didaratkan di PPN Palabuhanratu adalah tuna, cakalang, tenggiri, layaran, tongkol, jangilus, namun jenis ikan yang merupakan komoditas ekspor adalah ikan tuna dan cakalang, serta ikan layur yaitu jenis ikan demersal.
Dalam kaitan pengembangan PPN Palabuhanratu, maka pemanfaatan sumberdaya ikan diarahkan untuk memanfaatkan kelompok SDI pelagis besar, pelagis kecil dan demersal.
Pendaratan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2005 tercatat sebanyak 67% terdiri dari jenis ikan pelagis besar, 8% jenis ikan pelagis kecil, 21% jenis ikan demersal dan 4% jenis ikan lainnya dari produksi sebesar 6.601 ton. Sehingga arah ke depan dalam pemanfaatan SDI untuk jenis-jenis ikan, sama dengan kondisi saat ini, yakni lebih mengutamakan untuk memanfaatkan jenis ikan pelagis besar. Jenis-jenis ikan utama yang akan dimanfaatkan adalah tuna albacora, tuna big eye, tuna yellowfin, cakalang, tongkol, layur.
Unit penangkapan ikan yang prospek untuk dikembangkan adalah unit penangkapan ikan tuna longline, hal ini sesuai dengan hasil kajian PPN
Palabuhanratu (2006) bahwa longline adalah unit alat penangkapan ikan yang
paling produktif. Unit penangkapan ikan tuna longline sejak tahun 2003 telah
dimulai penggunaannya di PPN Palabuhanratu bersamaan dengan adanya kolam II yang dapat mengakomodir kapal-kapal tuna longline berukuran 30-150 GT.
Adapun produksi ikan tuna hasil tangkapan longline dan frekuensi kapal tuna
longline yang mendaratkan ikan tuna periode tahun 2003 – 2006 seperti Tabel 24.
Berdasarkan Tabel 24, bahwa dalam kurun waktu tahun 2003-2005, jumlah produksi tuna tertinggi terjadi pada tahun 2005 sebesar 1.472.457 kg dan produksi terendah terjadi pada tahun 2003 yang disebabkan oleh pertama kalinya kapal tuna
longline mendarat di PPN Palabuhanratu. Ikan tuna yang paling banyak
didaratkan di PPN Palabuhanratu berdasarkan jenis pada tahun 2006 adalah tuna
fishing ground tuna untuk bigeye, yellowfin, albacore, swordfish, dan sedikit jenis sailfish dan southern bluefin berada di Samudera Hindia.
Tabel 24 Produksi, frekuensi kapal dan CPUE unit penangkapan tunalongline di
PPN Palabuhanratu periode tahun 2003-2006
Tahun Frekuensi kapal yang mendaratkan ikan (kali) tuna longline Produksi (kg) CPUE
2003 164 449.378 2.740,11
2004 281 710.131 2.527,16
2005 579 1.472.457 2.543,10
2006 223 1.244.068 5.578,78
Rata-rata 311.75 969.008,5 3.347,29
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
Adapun perkembangan upaya penangkapan (CPUE) tunalongliner seperti
pada Gambar 12. Berdasarkan Gambar 12 terlihat bahwa sejak tahun 2003 sampai dengan 2006, secara umum grafik CPUE menunjukkan kenaikan, walaupun pada tahun 2004 terjadi penurunan yang disebabkan oleh berkurangnya musim ikan tuna di Samudera Hindia. Kenaikan CPUE terbesar terjadi pada tahun 2006 disebabkan oleh musim ikan tuna di Samudera Hindia.
5578.78 2543.10 2527.16 2740.11 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 2003 2004 2005 2006 Tahun N ila i C P U E
Gambar 12 CPUE unit tuna longline di PPN Palabuhanratu periode tahun
Adanya kenaikan nilai CPUE untuk unit tuna longline mengindikasikan
bahwa unit alat tangkap tuna longline masih berpeluang untuk dikembangkan
guna mendukung arah pengembangan PPN Palabuhanratu. (2) Daerah penangkapan ikan nelayan Palabuhanratu
Kapal-kapal nelayan dari Palabuhanratu menangkap ikan di WPP 9 (Samudera Hindia), namun demikian tidak semua WPP 9 dijadikan daerah penangkapan ikan karena perairan WPP 9 sangat luas yang membentang dari perairan laut di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sampai ke perairan laut Nusa Tenggara Timur. Jauhnya daerah penangkapan ikan yang ditempuh tergantung antara lain pada ukuran kapal dan kapasitas mesin kapal yang dimiliki nelayan (Tabel 25).
Daerah penangkapan ikan untuk kapal perahu motor tempel (< 5 GT) yang menggunakan jenis alat tangkap payang, pancing ulur, rampus, jaring klitik dan
trammel net, berada di Teluk Palabuhanratu (jalur penangkapan ikan I sepanjang
0-3 mil laut) yang jarak operasinya sekitar 2 jam. Kapal-kapal ini dalam operasi umumnya tidak membawa es karena lamanya operasi penangkapan hanya satu hari (one day fishing). Hasil tangkapan ikan ditempatkan di dalam box styrofoam.
Jenis-jenis ikan yang tertangkap khususnya oleh kapal yang menggunakan alat tangkap payang adalah ikan cakalang, pepetek dan ikan pelagis kecil lainnya. Pancing ulur biasanya bergabung dengan alat tangkap jaring. Jenis ikan yang tertangkap lebih dominan adalah ikan layur. Kapal dengan alat tangkap trammel net memiliki daerah penangkapan di muara sungai untuk menangkap udang.
Daerah penangkapan ikan untuk kapal motor <10 GT yang menggunakan jaring purse seine, bagan, gillnet, pancing ulur dan rawai memiliki daerah
penangkapan di Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng, Cidaun dan Ujung Kulon yang berjarak sekitar 2-4 jam (jalur penangkapan ikan I sepanjang 3-6 mil laut dan jalur penangkapan ikan II, sepanjang >6 mil laut). Jenis-jenis ikan yang tertangkap, khusus untuk purse seine adalah ikan cakalang dan ikan pelagis kecil
lainnya. Bagan apung tersebar di dalam teluk, jenis ikan yang tertangkap oleh bagan adalah jenis ikan-ikan pelagis kecil. Bagan saat ini menjadi alat yang sangat tidak ramah lingkungan karena menggunakan jaring dengan mata jaring
yang sangat kecil (< 2 inci) yang mengakibatkan tertangkapnya semua ukuran ikan.
Tabel 25 Daerah penangkapan ikan dari kapal yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPN Palabuhanratu tahun 2004
No Jenis/ukuran kapal Jenis alat tangkap
Daerah penangkapan ikan
Payang Teluk Palabuhanratu
Pancing ulur Teluk Palabuhanratu
Rampus Teluk Palabuhanratu Jaring klitik Teluk Palabuhanratu
1 Perahu Motor Tempel ( PMT)
Trammel net Teluk Palabuhanratu
Purse seine Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng
Bagan Teluk Palabuhanratu
Gillnet Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon
(Perairan Selatan Jawa)
Pancing ulur Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng 2 Kapal Motor
(KM) < 10 GT
Rawai Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng
Gillnet Sumatera, Jawa Tengah
3 Kapal Motor (KM) 11 - 20 GT
Rawai Sumatera
Gillnet Sumatera, Jawa Tengah
4 Kapal Motor (KM)
21 - 30 GT Rawai Sumatera
Gillnet Sumatera, Jawa Tengah
Rawai Sumatera, Jawa Tengah 5 Kapal Motor
(KM)
> 30 GT Tuna long
line
Samudra Hindia
Sumber : Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 2006.
Kapal motor yang berukuran 11 - >30 GT (jalur penangkapan ikan II sepanjang >6-12 mil laut dan jalur penangkapan ikan III sepanjang >12-200 mil laut) dengan alat tangkap gillnet dan rawai memiliki daerah penangkapan sampai
ke daerah Sumatera, Samudera Hindia dan Jawa Tengah, bahkan kadang-kadang menangkap ikan sampai ke perairan Pulau Christmas (Australia). Jarak tempuh ke
daerah penangkapan sekitar 2-4 hari perjalanan. Jenis-jenis ikan yang tertangkap di daerah tersebut adalah ikan cakalang, tuna, marlin, pari, cucut dan layaran. Kapal motor berukuran 11- >30 GT umumnya telah memiliki dokumen kapal yang cukup lengkap, namun banyak kapal-kapal ini tidak memiliki kompas dan