• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Prokrastinasi - Anis Latifah Bab II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Prokrastinasi - Anis Latifah Bab II"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Prokrastinasi 1. Pengertian

Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa Latin procrastination dengan awalan pro yang berarti mendorong maju atau bergerak maju dan akhiran crastinus yang berarti keputusan hari esok atau jika digabungkan menjadi menangguhkan atau menunda sampai hari berikutnya

Pada kalangan ilmuwan istilah prokrastinasi untuk menunjukkan pada suatu kecenderungan menunda-nunda penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan, pertama kali digunakan oleh Brown dan Holzman (dalam Ghufron & Rini, 2010). Seseorang yang mempunyai kecenderungan untuk menunda, atau tidak segera memulai suatu kerja, ketika menghadapi suatu kerja, ketika menghadapi suatu tugas disebut sebagai seseorang yang melakukan prokrastinasi. Setiap penundaan dalam menghadapi suatu tugas disebut prokrastinasi.

(2)

yang telah menjadi respon tetap atau kebiasaan dapat dipandang sebagai suatu trait prokrastinasi.

Burka dan Yuen (2008) menegaskan kembali dengan menyebutkan adanya aspek irrasional yang dimiliki oleh seorang prokrastinator. Penundaan yang dikategorikan sebagai prokrastinasi adalah apabila penundaan tersebut sudah merupakan kebiasaan atau pola yang menetap yang selalu dilakukan seseorang ketika menghadapi suatu tugas, dan penundaan tersebut disebabkan oleh adanya keyakinan-keyakinan yang irrasional dalam memandang tugas.

Prokrastinator sebenarnya sadar bahwa dirinya menghadapi tugas-tugas yang penting dan bermanfaat bagi dirinya (sebagai tugas-tugas yang primer), akan tetapi dengan sengaja menunda-nunda secara berulang-ulang (komplusif), hingga muncul perasaan tidak nyaman, cemas dan merasa bersalah dalam dirinya. Suatu penundaan dikatakan sebagai prokrastinasi, apabila penundaan itu dilakukan pada tugas yang penting, dilakukan berulang-ulang secara sengaja dan menimbulkan perasaan tidak nyaman, secara subyektif dirasakan oleh seseorang procrastinator

Ferrari dkk, (1995) menyimpulkan bahwa pengertian prokrastinasi dapat dipandang dari berbagai batasan tertentu, yaitu:

(3)

2) prokrastinasi sebagai suatu kebiasaan atau pola perilaku yang dimiliki individu, yang mengarah kepada trait, penundaan yang dilakukan sudah merupakan respon tetap yang selalu dilakukan seseorang dalam menghadapi tugas, biasanya disertai oleh adanya keyakinan-keyakinan yang irrasional,

3) prokrastinasi sebagai suatu trait kepribadian, dalam pengertian ini prokrastinasi tidak hanya sebuah perilaku penundaan saja, akan tetapi prokrastinasi merupakan suatu trait yang melibatkan komponen-komponen perilaku maupun struktur mental lain yang saling terkait yang dapat diketahui secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan demikian, dari berbagai pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian prokrastinasi dapat didefinisikan sebagai suatu penundaan yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang, dengan melakukan aktivitas lain yang tidak diperlukan dalam pengerjaan tugas.

2. Jenis-jenis Prokrastinasi

(4)

Prokrastinasi akademik adalah jenis penundaan yang dilakukan pada jenis tugas formal yang berhubungan dengan tugas akdemik, misalnya tugas sekolah atau tugas kursus. Prokrastinasi non-akademik adalah penundaan yang dilakukan pada jenis tugas non-formal atau tugas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya tugas rumah tangga, tugas sosial, tugas kantor dan lain sebagainya, Ferrari, dkk (1995)

3. Prokrastinator

Prokrastinator merupakan orang yang melakukan perilaku penundaan. Sapadin dan Maguire (dalam Flensborg, 2004) mendefinisikan 6 jenis prokrastinator, yaitu:

a. Perfectionists atau perfeksionis

“Perfectionists don't start until everything is aligned perfectly.

obviously it would be great if we could all start all of our projects from

a perfect starting point, but life doesn't work this way. a perfectionist

will spend months compiling all the data they can on countless digital

camera models before they even begin to thing about which model to

choose. perfectionists won't start on anything unless they are

convinced that they cannot possibe fail, and that the outcome will be

perfec”

(5)

tidak bekerja dengan cara ini. perfeksionis akan menghabiskan bulan kompilasi semua data yang mereka dapat pada banyak model kamera digital sebelum mereka bahkan mulai hal tentang model mana yang akan memilih. perfeksionis tidak akan mulai pada apa pun kecuali mereka yakin bahwa mereka tidak dapat possibe gagal, dan bahwa hasilnya akan menjadi sempurna

b. Dreamers atau pemimpi

“Dreamers come up with all sorts of great ideas, but don't get

any further than dreaming. dreamers create idea avalanches, so they

end up buried under a pile of ideas unable to bring any them to life”

Berarti pemimpi datang dengan segala macam ide-ide besar, tetapi tidak mendapatkan lebih jauh dari bermimpi. pemimpi menciptakan guguran ide, sehingga mereka akhirnya terkubur di bawah tumpukan ide-ide tidak bisa membawa mereka untuk hidup.

c. Worriers atau pencemas

“Worriers put off things out of fear of making them worse.

they will put off fixing the brakes on their car because they think they

might break them. a worrier will not try to fix a failing marriage

because they think they might make the situation worse if they try to

change their behavior”

(6)

pencemas tidak akan mencoba untuk memperbaiki pernikahan gagal karena mereka berpikir mereka mungkin membuat situasi lebih buruk jika mereka mencoba untuk mengubah perilaku mereka.

d. Defiers atau keras kepala

“Defiers are the stubborn types. She has asked me a thousand

times to fix the leaking pipe in the bathroom, but I will only do it after

she hasn't bugged me about it for some time - but they don't know how

long "some time" is, so they won't fix the pipe ever”

Berarti defiers adalah jenis keras kepala. Dia meminta saya seribu kali untuk memperbaiki pipa bocor di kamar mandi, tapi aku hanya akan melakukannya setelah dia tidak disadap saya tentang hal itu untuk beberapa waktu- tetapi mereka tidak tahu berapa lama waktunya, sehingga mereka tidak akan memperbaiki pipa yang pernah ada.

e. Crisis-makers atau pembuat krisis

“Crisis-makers turn everything into big and insurmountable

problem. it's important for a crisis-maker to fail reaching their goals

or postpone getting started on them "because it's such a huge task". a

crisis maker will refuse to start fixing a loose shelf if he can't find the

right screwdriver to do the job. he will rather spend hours going

through all his tools looking for this one single screwdriver than use

(7)

Berarti pembuat krisis mengubah segalanya menjadi masalah besar dan dapat diatasi. penting bagi pembuat krisis gagal mencapai tujuan mereka atau menunda memulai pada mereka "karena itu seperti tugas besar". pembuat krisis akan menolak untuk mulai memperbaiki rak longgar jika ia tidak dapat menemukan obeng yang tepat untuk melakukan pekerjaan. dia lebih akan menghabiskan berjam-jam melalui semua peralatannya mencari ini obeng satu pun dari menggunakan salah satu obeng lain di rumah.

f. Over-doers atau pelaku berlebihan

“Over doers keep piling on tasks, so they can postpone the

ones they dislike the most. an over doer will have a to do list several

pages long, neatly prioritized, but unfortunately with all the non

important things at the top of the list”.

Berarti pelaku berlebihan akan menyimpan dan menumpuk tugas-tugas sehingga mereka dapat menunda pada hal yang mereka sukai. Seseorang akan membuat daftar halaman panjang dengan rapi namun sayangnya dengan tidak menggunakan semua hal yang penting seperti dalam daftar.

4. Ciri-ciri Prokrastinasi Akademik

(8)

a. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi. Seseorang yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus segera diselesaikan dan berguna bagi dirinya, akan tetapi dia menunda-nunda untuk mulai mengerjakannya atau menunda-nunda untuk menyelesaikan sampai tuntas jika dia sudah mulai mengerjakan sebelumnya.

b. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas. Orang yang melakukan prokrastinasi memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan pada umumnya dalam mengerjakan suatu tugas. Seorang prokratinator menghabiskan waktu yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri secara berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang dimilikinya. Kadang-kadang tindakan tersebut mengakibatkan seseorang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya.

c. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual. Seorang prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Seorang prokrastinator sering mengalami keterlambatan dalam memenuhi deadline yang telah ditentukan, baik oleh orang lain maupun rencana-rencana yang telah dia tentukan sendiri.

(9)

tidak segera melakukan tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu yang dia miliki untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan hiburan, seperti membaca (koran, majalah, atau buku cerita lainnya), nonton, ngobrol, jalan, mendengarkan musik, dan sebagainya, sehingga menyita waktu yang dia miliki untuk mengerjakan tugas yang harus diselesaikannya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri prokrastinasi akademik adalah penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi, keterlambatan dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prokrastinasi

Factor-faktor terjadinya prokrastinasi menurut Bernard (dalam Lidya, 2008) yaitu:

a. Anxiety atau kecemasan

Kecemasan memberikan kekuatan pada seseorang untuk berlawanan dari sikap yang diharapkan. Seseorang yang memilki kecemasan yang tinggi akan cenderung menunda tugas yang harus diselesaikan.

b. Self depreciation atau pencelaan terhadap diri sendiri

(10)

c. Low discomfort tolerance atau rendahnya toleransi terhadap ketidaknyamanan

Adanya kesulitan pada tugas yang dikerjakan membuat seseorang mengalami kesulitan untuk menoleransi rasa frustasi dan kecemasan, sehingga mereka mengalihka diri sendiri kepada tugas-tugas yang mengurangi ketidaknyamanan dalam diri mereka.

d. Pleasure-seeking atau pencari kesenangan

Seseorang yang mencari kenyamanan cenderung tidak mau melepaskan situasi yang membuat nyaman tersebut. Jika seseorang memiliki kecenderungan tinggi dalam situasi yang nyaman, maka orang tersebut akan memiliki hasrat yang kuat untuk bersenang-senang dan memiliki kontrol implus yang rendah

e. Time Disorganization atau ketidakteraturan waktu

Mengatur waktu berarti bisa memperkirakan dengan baik berapa lama seseorang membutuhkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Aspek lain dari lemahnya pengaturan waktu adalah sulitnya seseorang memutuskan pekerjaan apa yang penting dan kurang penting untuk dikerjakan. Semua pekerjaan terlihat sangat penting sehingga muncul kesulitan untuk menentukan apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu.

f. Environmental disorganization atau tidak teraturnya lingkungan

(11)

individu tersebut. Tidak teraturnya lingkungan bisa dalam bentuk interupsi orang lain, kurangnya privasi, kertas yang bertebaran dimana-mana, dan alat-alat yang dibutuhkan dalam pekerjaan tersebut tidak tersedia. Adanya begitu banyak gangguan pada area wilayah pekerjaan menyulitkan seseorang untuk berkonsentrasi sehingga pekerjaan tersebut tidak bisa selesai tepat pada waktunya.

g. Poor task approach atau pendekatan yang lemah terhadap tugas

Jika akhirnya seseorang merasa siap untuk bekerja, kemungkinan dia akan meletakkan kembali pekerjaan tersebut karena tidak tahu dari mana harus memulai sehingga cenderung menjadi tertahan oleh ketidaktahuan tentang bagaimana harus memulai dan menyelesaikan pekerjaan tersebut.

h. Lack of Assertion atau kurangnya memberikan pernyataan yang tegas Seseorang yang mengalami kesulitan untuk berkata tidak terhadap permintaan yang ditujukan kepadanya sedangkan banyak hal yang harus dikerjakan karena dijadwalkan terlebih dulu. Hal ini bisa terjadi karena mereka kurang memberikan kehormatan atas semua komitmen dan tanggung jawab yang dimiliki.

i. Hostility with other atau permusuhan terhadap orang lain

(12)

j. Stress and fatigue atau tertekan dan kelelahan

Stres adalah hasil dari sejumlah intensitas tuntutan negatif dalam hidup yang digabung dengan gaya hidup dan kemampuan mengatasi masalah pada diri individu. Semakin banyak tuntutan dan semakin lemah sikap seseorang dalam memecahkan masalah dan gaya hidup yang kurang baik maka semakin tinggilah stres seseorang.

6. Aspek-aspek yang mempengaruhi Prokrastinasi

Aspek-aspek prokrastinasi akademik dalam penyelesaian skripsi yang didasarkan pada pendapat Millgram (dalam Irmawati, 2009) yang menyatakan bahwa dalam prokrastinasi meliputi empat aspek, antara lain:

a. Melibatkan unsur penundaan, baik untuk memulai maupun menyelesaikan tugas

b. Menghasilkan akibat-akibat lain yang lebih jauh, misalnya keterlambatan menyelesaikan tugas maupun kegagalan dalam menjalankan tugas

c. Melibatkan suatu tugas yang dipersepsikan oleh pelaku prokrastinasi sebagai tugas yang penting untuk dikerjakan

d. Menghasilkan keadaan emosional yang tidak menyenangkan, misalnya perasaan cemas, perasaan bersalah, marah dan panik.

Schowenburg (dalam Irmawati, 2009) juga telah mengupas mengenai aspek-aspek dalam prokrastinasi akademik yang meliputi:

(13)

b. Keterlambatan/ kelambanan dalam menyelesaikan tugas c. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja actual

d. Melakukan aktifitas lain yang lebih menyenangkan dari pada mengerjakan tugas

7. Tanda-tanda prokrastinasi

Menurut Lively (1999) gejala umum yang bisa dilihat sebagai tanda-tanda tejadinya prokrastinasi jika seseorang melakukan beberapa hal berikut ini: a. “Hate the throught of making someone unhappy” berarti tidak

menyukai pikiran yang bisa membuat seseorang tidak senang

b. “Dread the falk you are going to get” berarti ketakutan akan kritik yang bisa saja didapatkan

c. “Never get around to doing what you want to do because of that great big “should” looming over you” berarti tidak pernah membuat lingkungan sekitar melakukan apa yang diinginkan karena hal yang besar tersebut akan selalu membayanginya

B. Dinamika Psikologis

(14)

dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999) adalah berkenaan dengan psikologi, bersifat kejiwaan.

Suryabrata (1993) menyatakan, dalam psikologi, ada tiga aliran yang menjelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika psikologis individu yaitu :

1. Aliran nativisme, dengan tokoh utama Schopenhauer. Berpendapat bahwa dinamika psiklogis individu ditentukan oleh sifat-sifat yang sudah dibawa sejak lahir.

2. Aliran empirisme, dengan toko utama John Locke. Berpendapat bahwa dinamika psikologis individu hanya tergantung faktor lingkungan dan sifat-sifat bawaan tidak berperan sama sekali.

3. Aliran konvergensi, dengan tokoh utama W. Stern. Berpendapat bahwa dinamika psikologis individu merupakan perpaduan dari sifat-sifat bawaan individu dan juga pengaruh tempaan dari lingkungan yang dialaminya

Dinamika psikologis yang merupakan harmonisasi dari psikologis seseorang tidak hanya dipengaruhi dari satu aspek tetapi juga dari berbagai macam aspek yang bersinggungan dengan individu disetiap harinya.

C. Kerangka Berfikir

(15)

Fakultas psikologi didirikan dengan visi yang berorientasi pada pemberdayaan individu dan masyarakat dengan kompetensi lulusan salah satunya adalah menunjukkan kecakapan dalam interpersonal skill, social skill, dan vocational skill. Apabila mahasiswa Fakultas Psikologi belum lulus dalam kurun masa studi melebihi 14 semester atau 7 tahun, maka dapat dikatakan mengalami hambatan dalam memenuhi salah satu kompetensi lulusan.

Pada saat mahasiswa telah menempuh paket kurikulum delapan semester, lingkungan memberikan tuntutan baru seperti penyusunan skripsi yang tertunda dan lamanya masa studi. Melalui proses penilaian kognitif, mereka akan melakukan penilaian mengenai makna tuntutan tersebut baginya dan mengenai bagaimana kemampuannya untuk menghadapi tugas tersebut. Jika tuntutan tersebut terlalu besar sementara sumberdaya yang dimiliki tidak mencukupi untuk menghadapinya, maka akan terjadi kesenjangan antara tuntutan dan sumber daya yang dimiliki. Respon yang dipilih pada mahasiswa merupakan bentuk koping seperti penghindaran dengan melakukan prokrastinasi akademik atau dengan pengalihan dengan menyibukkan diri pada kegiatan competitor (Maria, 2009)

(16)

penyelesaian tugas, kecenderungan untuk melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan misalnya dengan jalan-jalan, menonton televisi, bermain dengan teman-temannya sampai melupakan tugas perkuliahan. Perilaku seperti inilah yang membuat mahasiswa cenderung melupakan tugas-tugas akademik sehingga menunda sampai batas waktunya dan mengerjakannya sampai deadline tiba

(17)

Gambar 1. Skema Kerangka Berfikir

Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto Tahun Angkatan 2001-2005

Masa studi melebihi 14 semester atau 7 tahun

Dinamika psikologis prokrastinasi akademik Aspek Prokrastinasi:

a. Penundaan memulai ataupun menyelesaikan tugas b. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas

c. Kesenjangan waktu antara rencana dengan kinerja aktual terhadap tugas

Gambar

Gambar 1. Skema Kerangka Berfikir

Referensi

Dokumen terkait

Siswa yang cenderung melakukan prokrastinasi umumnya ditandai dengan adanya penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan pekerjaan pada tugas yang dihadapi, keterlambatan

Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi akademik adalah penundaan yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang memulai maupun menyelesaikan

Prokrastinasi akademik dapat didefinisikan sebagai perilaku penundaan memulai mengerjakan atau menyelesaikan tugas dalam konteks akademik yang telah menjadi kebiasaan yang

1) Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi. Seseorang yang melakukan prokrastinasi akademik tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus

1. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi. Seseorang yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus

Menurut Jannah dan Muis (2014:4) prokrastinasi akademik adalah penundaan dalam memulai maupun menyelesaikan tugas yang telah dihadapi pada saat itu, serta penundaan dalam

1) Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi. Seseorang yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus segera

Menurut Scouwenberg (dalam Fibrianti, 2009) aspek – aspek prokrastinasi dibagi menjadi empat aspek yaitu: a penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan skripsi,