• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARAHAN PERERNCANAAN PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "ARAHAN PERERNCANAAN PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

2

2.1 Arahan Konsep Perencanaan Bidang Cipta Karya

Konsep perencanaan dan pelaksanaan bidang Cipta Karya merupakan suatu arahan dalam

pencapaian pembangunan permukimn yang layak huni dan berkelanjutan. Dalam konsep

perencanaan dan pelaksanaan bidang Cipta Karya memuat arahan kebijakan tentang amanat

penataan ruang, amanat pembangunan nasional, amanat pembangunan bidang PU/CK, serta

amanat internasional mengenai pembangunan berkelanjutan secara global.

Dalam arahan konsep ini perlu diperhatikan juga kondisi eksisting dari pembangunan bidang

Cipta Karya, isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan serta permasalahan-permasalahan

dan potensi-potensi yang dimiliki daerah. Keterkaitan dari kebijakan-kebijakan amanat

pembangunan berkelanjutan dengan kondisi eksisting dari pembangunan Bidang Cipta Karya,

isu-isu strategis, serta permasalahan dan potensi yang dimiliki daerah akan menghasilkan

rencana dan program bidang Cipta Karya dan pelaksanaan pembangunan bidang Cipta

Karya.

Dengan dukungan dari stakeholder, dalam hal ini pihak dari daerah (provinsi/kota/kabupaten),

dunia usaha dan masyarakat secara tepat, maka cita-cita untuk mewujudkan permukiman

yang layak huni dan berkelanjutan akan dapat terlaksana dan tercapai.

(2)

Gambar 2.1Konsep Perencanaan dan Pembangunan Bidang Cipta Karya

2.2 Amanat Peraturan Perundangan Terkait Pembangunan Bidang Cipta Karya

2.2.1 RPJP Nasional 2005 – 2025 (UU No.17 Tahun 2007) A. Umum

Berdasarkan pasal 4 Undang-Undang No. 25 tahun Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional disusun sebagai

penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bentuk

(3)

Pembangunan Nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan

yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, untuk melaksanakan

tugas mewujudkan tujuan nasional sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk itu dalam 20 tahun mendatang

sangat penting dan mendesak bagi Bangsa Indonesia untuk melakukan penataan kembali

berbagai langkah-langkah antara lain dibidang pengelolaan sumber daya alam, sumber daya

manusia, lingkungan hidup dan kelembagaannya sehingga bangsa Indonesia dapat mengejar

ketertinggalan dan mempunyai posisi yang sejajar, serta daya saing yang kuat didalam

pergaulan masyarakat internasional.

Dengan ditiadakannya Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai pedoman

penyusunan rencana pembangunan nasional dan diperkuatnya otonomi daerah dan

desentralisasi pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka untuk

menjaga pembangunan yang berkelanjutan, Rencana Pembangunan Jangka Panjang

Nasional sangat diperlukan. Sejalan dengan Undang-Undang No. 25 tahun 2004 tentang

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang memerintahkan penyusunan

RPJP Nasional yang menganut paradigma perencanaan yang visioner, maka RPJP Nasional

hanya memuat arahan secara garis besar.

Kurun waktu RPJP Nasional adalah 20 tahun. Pelaksanaan RPJP Nasional 2005 – 2025

terbagi dalam tahap-tahp perencanaan pembangunan dalam periodesasi perencanaan

pembangunan jangka menengah nasional 5 (lima) tahunanyang dituangkan dalam RPJM

Nasional I tahun 2005 – 2009, RPJM Nasional II tahun 2010 – 2014, RPJM Nasional III tahun

2015 – 2019, dan RPJM Nasional IV tahun 2020 – 2024.

B. Visi dan Misi Pembangunan Nasional Tahun 2005 – 2025

Berdasarkan kondisi Bangsa Indonesia saat ini, tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan

mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan

amanat pembangunan yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945, visi pembangunan Nasional tahun 2005 – 2025 adalah,

INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR.

(4)

1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab

berdasarkan falsafah Pancasila

2. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing

3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum

4. Mewujudkan Indonesia aman, damai dan bersatu

5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan

6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari

7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan

berbasiskan kepentingan nasional

8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia

2.2.2 RPJM Nasional 2010 – 2014 (Perpres No. 05 Tahun 2010)

Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang No.25 Tahun 2004 tentang

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dipandang perlu menetapkan Peraturan

Presiden tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014, yang selanjutnya

disebut RPJM Nasional, adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode

5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga tahun 2010 – 2014, yang

selanjutnya disebut Rencana Strategis Kementerian/Lembaga, adalah dokumen perencanaan

Kementerian/Lembaga untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2010 sampai

dengan tahun 2014.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disebut RPJM Daerah,

adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5 tahun sesuai periode

masing-masing pemerintah daerah. RPJM Nasional memuat strategipembangunan nasional,

kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta

kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh

termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan

kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RPJM Nasional berfungsi sebagai:

a. Pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis

(5)

b. Bahan penyusunan dan perbaikan RPJM Daerah dengan memperhatikan tugas

pemerintah daerah dalam mencapai sasaran nasional yang termuat dalam RPJM

Nasional

c. Pedoman pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah

2.2.3 MP3EI (Perpres No. 32 Tahun 2010)

Dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025

dan untuk melengkapi dokumen perencanaan guna meningkatkan daya saing perekonomian

nasional yang lebih solid, diperlukan adanya suatu masterplan percepatan dan perluasan

pembangunan ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas, strategi yang tepat, fokus

dan terukur. Berdasarkan pertimbangan, maka perlu ditetapkan Peraturan Presiden tentang

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.

Gambar 2.2Kedudukan MP3EI dalam Konteks Perencanaan

Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

(6)

Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, yang selanjutnya

disebut MP3EI.

MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi

Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan

tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional

2005 – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan.

MP3EI tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan

Presiden ini. MP3EI berfungsi sebagai :

a. Acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah non kementerian untuk

menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan percepatan dan perluasan

pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing, yang dituangkan

dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah

non kementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan.

b. Acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi

Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota terkait.

MP3EI dapat menjadi acuan bagi badan usaha dalam menanamkan modal di Indonesia

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Koordinasi pelaksanaan MP3EI

dilakukan oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia

2011-2025, yang selanjutnya disebut KP3EI. KP3EI mempunyai tugas:

a. Melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan MP3EI

b. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MP3EI

c. Menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian

permasalahan dan hambatan pelaksanaan MP3EI.

MP3EI digagas untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui

pengembangan 8 program utama, yang terdiri atas pertanian, pertambangan, energi, industri,

kelautan, pariwisata, dan telematika, serta pengembangan kawasan strategis. Kedelapan

(7)

Gambar 2.3Kegiatan Ekonomi Utama

Sedangkan strategi pengembangan 22 kegiatan ekonomi tersebut adalah mengintegrasikan

(8)

1. Pengembangan potensi ekonomi wilayah di 6 Koridor Ekonomi Indonesia, yaitu: Koridor

Ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor

Ekonomi Sulawesi, Koridor Ekonomi Bali–Nusa Tenggara, dan Koridor Ekonomi Papua–

Kepulauan Maluku;

2. Memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara

global (locally integrated, globally connected);

3. Memperkuat kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk mendukung pengembangan

program utama di setiap koridor ekonomi.

Dengan demikian pertumbuhan ekonomi akan makin terarah karena digenjot pada 8 program

utama berbasis potensi nasional (yang terdiri dari 22 kegiatan ekonomi) dan berlangsung

lintas wilayah di 6 koridor, terkoneksi, dan terintegrasi. Pada gilirannya strategi tersebut

diharapkan menunjang penguatan kapasitas SDM dan penguasaannya terhadap

pengembangan IPTEK.

(9)

2.2.4 MP3KI

Ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi menciptakan kesenjangan, ketidakstabilan dan

meluasnya ketidaksejahteraan.Sehingga, membuat pemerintah merasa perlu untuk

melengkapi master plan pertumbuhan ekonomi dengan master plan pengurangan kemiskinan

agar dunia seimbang (equilibrium).Master plan tersebut adalah Master Plan Percepatan dan

Perluasan Pengurangan Kemiskinan (MP3KI), yang bertujuan memeratakan pertumbuhan

ekonomi dalam mengurangi kesenjangan.

MP3KI adalah affirmative action, sehingga pembangunan ekonomi yang terwujud tidak

hanya Pro-growth, tetapi juga Pro-Poor, Pro-job dan Pro-environment; termasuk penyediaan

lapangan kerja bagi masyarakat miskin.

Substansi yang melatarbelakangi perluasan pengurangan kemiskinan melalui MP3KI

dapat dirangkum dalam 9 alasan, yaitu:

1. Pertumbuhan penduduk yang besar (bisa jadi potensi, bisa juga jadi tantangan)

2. Lahan usaha petani dan nelayan makin terbatas

3. Peluang dan pengembangan usaha si miskin amat terbatas

4. Urbanisasi memperparah kemiskinan perkotaan (slum and squatter)

5. Rendahnya kualitas SDM usia muda

6. Rendahnya penyerapan kerja sector industri

7. Masih banyak daerah terisolir dengan akses pelayanan dasar yang rendah

8. Belum tersedianya jaminan sosial yang komprehensif

(10)

Gambar 2.5Kerangka Desain MP3KI

Tahapan Pelaksanaan MP3KIPeriode 2013-2014:

• Percepatan pengurangan kemiskinan untuk mencapai target 8% - 10% pada tahun 2014;

• Perbaikan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan.

• Pada kantong-kantong kemiskinan, sinergi lokasi dan waktu, serta perbaikan sasaran (seperti : Program Gerbang Kampung di Menko Kesra);

• Sustainable livelihood penguatan kegiatan usaha masyarakat miskin, termasuk membangun keterkaitan dengan MP3EI;

• Terbentuknya BPJS kesehatan pada tahun 2014 .

Periode 2015 – 2019:

• Transformasi program-program pengurangan kemiskinan;

• Peningkatan cakupan, terutama untuk Sistem Jaminan Sosial menuju universal coverage;

(11)

Periode 2020-2025:

• Pemantapan sistem penanggulangan kemiskinan secara terpadu; • Sistem jaminan sosial mencapai universal coverage.

(12)

Gambar 2.8Sinergi MP3EI dan MP3KI Dalam Pengembangan Lingkungan

2.2.5 KEK (UU No. 39 Tahun 2009)

Untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu dilaksanakan pembangunan

perekonomian nasional berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan,

efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan

menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

Sesuai dengan amanat Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia

Nomor XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka demokrasi ekonomi, diperlukan

keberpihakan politik ekonomi yang lebih memberikan kesempatan dan dukungan pada usaha

mikro, kecil, menengah (UMKM), dan koperasi dan sekaligus memberikan manfaat bagi

industri dalam negeri. Berkaitan dengan hal itu, dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)

disediakan lokasi bagi UMKM dan koperasi agar dapat mendorong terjadinya keterkaitan dan

sinergi hulu hilir dengan perusahaan besar, baik sebagai Pelaku Usaha maupun sebagai

(13)

Dalam rangka mempercepat pencapaian pembangunan ekonomi nasional, diperlukan

peningkatan penanaman modal melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan

geoekonomi dan geostrategis. Kawasan tersebut dipersiapkan untuk memaksimalkan

kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Pengembangan KEK bertujuan untuk mempercepat perkembangan daerah dan sebagai

model terobosan pengembangan kawasan untuk pertumbuhan ekonomi, antara lain industri,

pariwisata, dan perdagangan sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Pasal 31 ayat (3) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

mengatur bahwa ketentuan mengenai Kawasan Ekonomi Khusus diatur dengan

Undang-Undang.Ketentuan tersebut menjadi dasar hukum perlunya diatur kebijakan tersendiri

mengenai KEK dalam suatu Undang-Undang.

Ketentuan KEK dalam Undang-Undang ini mencakup pengaturan fungsi, bentuk, dan kriteria

KEK, pembentukan KEK, pendanaan infrastruktur, kelembagaan, lalu lintas barang, karantina,

dan devisa, serta fasilitas dan kemudahan.

KEK merupakan kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan

Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan

memperoleh fasilitas tertentu. Fungsi KEK adalah untuk melakukan dan mengembangkan

usaha di bidang perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan energi, transportasi, maritim

dan perikanan, pos dan telekomunikasi, pariwisata, dan bidang lain. Sesuai dengan hal

tersebut, KEK terdiri atas satu atau beberapa Zona, antara lain Zona pengolahan ekspor,

logistik, industri, pengembangan teknologi, pariwisata, dan energi yang kegiatannya dapat

ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri.

Kriteria yang harus dipenuhi agar suatu daerah dapat ditetapkan sebagai KEK adalah sesuai

dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung,

adanya dukungan dari pemerintah provinsi/kabupaten/kota dalam pengelolaan KEK, terletak

pada posisi yang strategis atau mempunyai potensi sumber daya unggulan di bidang kelautan

dan perikanan, perkebunan, pertambangan, dan pariwisata, serta mempunyai batas yang

jelas, baik batas alam maupun batas buatan.

(14)

membentuk Administrator KEK di setiap KEK untuk melaksanakan pelayanan, pengawasan,

dan pengendalian operasionalisasi KEK.Kegiatan usaha di KEK dilakukan oleh Badan Usaha

dan Pelaku Usaha.

Fasilitas yang diberikan pada KEK ditujukan untuk meningkatkan daya saing agar lebih

diminati oleh penanam modal. Fasilitas tersebut terdiri atas fasilitas fiskal, yang berupa

perpajakan, kepabeanan dan cukai, pajak daerah dan retribusi daerah, dan fasilitas nonfiskal,

yang berupa fasilitas pertanahan, perizinan, keimigrasian, investasi, dan ketenagakerjaan,

serta fasilitas dan kemudahan lain yang dapat diberikan pada Zona di dalam KEK, yang akan

diatur oleh instansi berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam hal pengawasan, ketentuan larangan tetap diberlakukan di KEK, seperti halnya daerah

lain di Indonesia. Namun, untuk ketentuan pembatasan, diberikan kemudahan dalam sistem

dan prosedur yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan tetap mengutamakan pengawasan

terhadap kemungkinan penyalahgunaan atau pemanfaatan KEK sebagai tempat melakukan

tindak pidana ekonomi.

Dengan berlakunya Undang-Undang ini, diharapkan terdapat satu kesatuan pengaturan

mengenai kawasan khusus di bidang ekonomi yang ada di Indonesia dengan memberi

kesempatan kepada Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang dibentuk

berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan

Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2000 Nomor 251, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4053)

sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2007 tentang

Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2007 tentang

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan

Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang-Undang Menjadi Undang-Undang (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4775) untuk diusulkan menjadi KEK, baik dalam jangka waktu maupun

setelah berakhirnya jangka waktu yang telah ditetapkan. Dengan berlakunya Undang-Undang

(15)

2.2.6 Direktif Presiden (Inpres No.3 Tahun 2010)

Untuk lebih memfokuskan pelaksanaan pembangunan yang berkeadilan, dan untuk

kesinambungan serta penajaman Prioritas Pembangunan Nasional sebagaimana termuat

dalam Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas

Pembangunan Nasional Tahun 2010, maka diinstruksikan kepada para menteri dan seluruh

pimpinan lembaga yang berwenang untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai

tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing, dalam rangka pelaksanaan program-program

pembangunan yang berkeadilan, yang meliputi program :

1. Program pro rakyat, memfokuskan pada :

 Program penanggulangan kemiskinan berbasis keluarga

 Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat

 Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha mikro dan kecil 2. Program keadilan untuk semua, memfokuskan pada :

 Program keadilan bagi anak  Program keadilan bagi perempuan

 Program keadilan di bidang ketenagakerjaan  Program keadilan di bidang bantuan hukum

 Program keadilan di bidang reformasi hukum dan peradilan  Program keadilan bagi kelompok miskin dan terpinggirkan

3. Program pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), memfokuskan pada :  Program pemberantasan kemiskinan dan kelaparan

 Program pencapaian pendidikan dasar untuk semua

 Program pencapaian kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan  Program penurunan angka kematian anak

 Program kesehatan ibu

 Program pengendalian HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya  Program penjaminan kelestarian lingkungan hidup

 Program pendukung percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium

Dari ke tiga program pembangunan tersebut, program pembangunan di bidang Cipta Karya

(16)

program-Tabel 2.1Rencana Tindak Upaya Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium

*) keluaran dapat disesuaikan berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan secara berkala

2.3 Amanat Internasional

2.3.1 Agenda Habitat

Pemenuhan kebutuhan hunian yang layak bagi semua orang merupakan amanat dari

berbagai agenda internasional, diantarnya Agenda Habitat (The Habitat agenda, Istanbul

(17)

menandatangani deklarasi tersebut, Indonesia turut melaksanakan komitmen untuk

menyediakan rumah layak huni yang sehat, aman, terjamin, dapat mudah diakses dan

terjangkau yang mencakup sarana dan prasarana pendukungnya bagi masyarakat.

Pembangunan perumahan dan permukiman merupakan pembangunan multisektoral yang

penyelenggaraannya melibatkan berbagai pemangku kepentingan.Dalam rangka mewujudkan

hunian yang layak bagi semua orang (adequate shelter for all), pemerintah bertanggung jawab

untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat agar dapat menghuni rumah yang layak,

sehat, aman, terjamin, mudah diakses dan terjangkau yang mencakup sarana dan prasarana

pendukungnya.Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan program-program pembangunan

perumahan dan permukiman, baik berupa intervensi langsung (provider) maupun melalui

penciptaan iklim yang kondusif (enabler) sehingga pembangunan perumahan dan

permukiman dapat berjalan dengan efisien dan berkelanjutan.

Namun demikian hak dasar akan hunian yang layak dan terjangkau sampai saat ini masih

belum sepenuhnya terpenuhi. Salah satu penyebabnya adalah adanya kesenjangan

pemenuhan kuantitas dan kualitas kebutuhan perumahan yang masih sangat besar. Hal

tersbut terjadi antara lain karena masih kurangnya kemampuan sebagian masyarakat untuk

memenuhi kebutuhan perumahannya, diantaranya keterbatasan daya beli kelompok

Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Dalam Undang-Undang No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka

Panjang nasional (RPJPN) tahun 2005 – 2025, dinyatakan bahwa sasaran pembangunan

perumahan dan permukiman jangka panjang adalah terpenuhi kebutuhan hunian yang

dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukugnya bagi seluruh masyarakat yang

dilengkapi oleh sistem pembiayaan perumahan jangka panjang yang berkelanjutan, efisien

dan akuntabel, untuk mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh. Hal ini sejalan dengan

sasaran MDGs yang terkait dengan bidang perumahan (tujuan 7 target 11), yaitu mencapai

perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin dipermukiman kumuh pada tahun

2020.

2.3.2 Rio+20

(18)

dengan baik di sektor swasta dan publik mengakui modal alam sebagai unsur inti penting dari

pembangunan berkelanjutan dan, akhirnya, dari kesejahteraan manusia.

Banyak yang telah berubah sejak pertama "Rio" KTT Bumi 1992. Perubahan manusia

ekosistem laut, air tawar dan darat terus mempercepat pada kecepatan yang lebih intens

daripada di periode lain dalam sejarah. Sementara kami menggunakan ekosistem telah

menyebabkan keuntungan dalam modal fisik dan manusia, telah habis modal alam (stok

ekosistem yang menghasilkan arus barang dan jasa ekosistem).

Di Rio+20 , 193 negara memiliki kesempatan penting untuk memperbaharui komitmen mereka

untuk pembangunan berkelanjutan dan mengadopsi upaya-upaya baru untuk mengentaskan

kemiskinan dan bergerak ke arah ekonomi hijau global yang - yang dibangun pada

penggunaan berkelanjutan dan pengelolaan yang berharga namun rapuh barang alam dan

jasa.

Dua tema utama KTT yang telah dihasilkan yaitu :

1. Ekonomi Hijau

Ini elemen yang relatif baru dalam agenda internasional resmi telah memprovokasi

diskusi luas sekitar definisi.Sekelompok kecil negara-negara berkembang tetap skeptis

terhadap istilah "ekonomi hijau," yakin bahwa negara maju adalah mendorong konsep

ini dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi global mereka sendiri. CI percaya

bahwa perkembangan yang sehat, berkelanjutan, "hijau", ekonomi sangatlah penting

untuk masa depan kesejahteraan masyarakat, ekosistem dan seluruh bangsa.

2. Sebuah kerangka kelembagaan untuk pembangunan berkelanjutan

Ini telah berada di bawah diskusi politik selama lebih dari 10 tahun, dengan tidak ada

solusi yang jelas di cakrawala.Apakah fokusnya adalah tujuan pembangunan

berkelanjutan atau tindakan baru pertumbuhan, banyak pemerintah tampaknya tidak

mau melakukan perubahan mendasar terhadap kebijakan dan sistem PBB.

Meskipun keberhasilan lengkap pada negosiasi informal telah terbukti sulit dipahami, perlu

dicatat: Negosiasi jalan ke Rio telah memiliki dampak positif di seluruh dunia. Ini telah

membawa pembangunan berkelanjutan menjadi fokus yang lebih tajam, dan kelompok warga

(19)

Dengan perkiraan 50.000 peserta, pengamat, pemimpin, aktivis dan wartawan berkumpul di

Rio, KTT ini menawarkan kesempatan utama bagi pemerintah, bisnis dan organisasi seperti

CI untuk menghubungkan satu sama lain, bertukar pikiran dan memprioritaskan pendanaan

untuk proyek-proyek baru dan yang sudah ada. Lebih dari 30 anggota tim global CI, termasuk

banyak rekan-rekan dari Brasil CI-Brasil, akan ada, berbagi keahlian teknis dan advokasi

untuk nilai ekosistem yang akan dimasukkan ke dalam sistem akuntansi nasional dan

korporasi. Ini masih harus dilihat apakah semangat baru aktivisme akan tercermin dalam hasil

yang ambisius yang memberikan harapan bagi generasi mendatang. Peningkatan

pengetahuan yang diperoleh sejak tahun 1992 tentang bagaimana mendesain ulang

pertumbuhan dan mengurangi kemiskinan adalah alat terkuat. Urgensi untuk ekosistem

tegang bumi dan orang-orang yang kurang beruntung adalah reli menangis kita bersama.

Rio+20 bukanlah akhir dari sebuah proses. Ini adalah awal, Tim CI akan berada di Rio untuk

memastikan bahwa 20 tahun dari sekarang, pada 2032 kami telah membangun ekonomi yang

sehat dan berkelanjutan didasarkan pada kehati-hatian menggunakan karunia alam planet kita

untuk mendukung anak-anak kita dan anak-anak selama beberapa generasi mendatang.

2.3.3 Millenium Development Goals

Tujuan dari MDGs adalah untuk mendorong pembangunan dengan meningkatkan

kondisi sosial dan ekonomi di negara-negara termiskin di dunia. Tujuan ini berasal dari target

pembangunan internasional sebelumnya dan secara resmi dibentuk setelah KTT Milenium

tahun 2000, di mana semua pemimpin dunia yang hadir mengadopsi Deklarasi Milenium PBB.

Persiapan untuk KTT Milenium secara resmi diluncurkan dengan laporan Sekretaris Jenderal

berjudul, "Kami Rakyat:.Peran PBB di Twenty-First Century" Masukan tambahan disiapkan

oleh Forum Millenium, yang menghadirkan perwakilan dari lebih dari 1.000 organisasi

masyarakat non-pemerintah dan masyarakat sipil dari lebih dari 100 negara. Forum ini

bertemu pada Mei 2000 untuk menyimpulkan proses konsultasi dua tahun meliputi isu-isu

seperti pengentasan kemiskinan, perlindungan lingkungan, hak asasi manusia dan

perlindungan rentan. Persetujuan dari MDGs itu mungkin hasil utama dari KTT Milenium.Di

bidang perdamaian dan keamanan, adopsi dari Laporan Brahimi dipandang sebagai benar

melengkapi organisasi untuk melaksanakan mandat yang diberikan oleh Dewan Keamanan.

(20)

solidaritas. MDGs dibuat untuk mengoperasionalkan ide-ide ini dengan menetapkan target

dan indikator untuk pengentasan kemiskinan untuk mencapai hak-hak yang diatur dalam

Deklarasi pada set lima belas tahun.

Hasil dari The Millennium Deklarasi KTT itu hanya sebagian dari asal-usul MDGs. Ini muncul

bukan hanya dari PBB tetapi juga Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan

(OECD), Bank Dunia , dan Dana Moneter Internasional . Pengaturan terjadi melalui

serangkaian konferensi yang dipimpin PBB pada 1990-an yang berfokus pada isu-isu seperti

anak-anak, gizi, hak asasi manusia, perempuan dan lain-lain. OECD mengkritik donor utama

untuk mengurangi tingkat mereka Official Development Assistance (ODA).Dengan terjadinya

peringatan 50 PBB, maka Sekjen PBB Kofi Annan melihat perlunya untuk mengatasi berbagai

masalah pembangunan. Hal ini menyebabkan laporan berjudul, Kami Rakyat: Peran PBB di

Abad 21 yang menyebabkan Deklarasi Milenium. Pada saat ini, OECD telah membentuk

Tujuan Pembangunan Internasional nya (IDGs) dan itu dikombinasikan dengan upaya PBB

dalam pertemuan Bank Dunia 2001 untuk membentuk MDGs.

Fokus MDG pada tiga bidang utama, yaitu dari valorising modal manusia, memperbaiki

infrastruktur, dan meningkatkan hak-hak sosial, ekonomi dan politik, dengan mayoritas fokus

akan menuju peningkatan standar dasar hidup. Tujuan dipilih dalam fokus modal manusia

termasuk perbaikan gizi, kesehatan (termasuk mengurangi tingkat kematian anak , HIV / AIDS

, tuberkulosis dan malaria , serta meningkatkan kesehatan reproduksi), dan pendidikan. Untuk

fokus infrastruktur, tujuan termasuk meningkatkan infrastruktur melalui peningkatan akses

terhadap air minum yang aman, energi dan informasi / komunikasi teknologi modern, output

pertanian penguatan melalui praktek-praktek berkelanjutan, meningkatkan infrastruktur

transportasi, dan melestarikan lingkungan. Terakhir, untuk sosial, ekonomi dan politik fokus

hak tujuan termasuk pemberdayaan perempuan, mengurangi kekerasan, meningkatkan suara

politik, menjamin akses yang sama ke pelayanan publik, dan meningkatkan keamanan hak

milik. Tujuan yang dipilih dimaksudkan untuk meningkatkan individu kemampuan manusia dan

"memajukan sarana untuk kehidupan yang produktif".MDGs menekankan bahwa kebijakan

individu yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini harus disesuaikan dengan kebutuhan

negara individu, sehingga sebagian saran kebijakan bersifat umum.

MDGs juga menekankan peran negara maju dalam membantu negara-negara berkembang,

(21)

untuk mencapai "kemitraan global untuk pembangunan" dengan mendukung perdagangan

yang adil , penghapusan utang untuk negara-negara berkembang, meningkatkan bantuan dan

akses ke obat-obatan penting dengan harga terjangkau, dan transfer teknologi maju. Dengan

demikian negara-negara berkembang tidak dilihat sebagai tersisa untuk mencapai MDGs

pada mereka sendiri, tetapi sebagai mitra dalam perkembangan bersama untuk mengurangi

tingkat kemiskinan di dunia.

Delapan Goal yang difokuskan dalam tujuan MDGs yaitu :

Tujuan 1: Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan

Target 1A : Menurunkan antara 1990 dan 2015, proporsi orang yang hidup dengan

pendapatan kurang dari $ 1.25 sehari

 Proporsi penduduk di bawah $ 1,25 per hari (PPP nilai)

 Rasio kesenjangan kemiskinan [kejadian x kedalaman kemiskinan]  Proporsi kuintil termiskin dalam konsumsi nasional

Target 1B : Mewujudkan Ketenagakerjaan yang Layak untuk Wanita, Pria, dan Kaum Muda

 Pertumbuhan PDB per Kerja Orang  Tingkat Pekerjaan

 Proporsi penduduk yang bekerja di bawah $ 1,25 per hari (PPP nilai)  Proporsi pekerja berbasis keluarga dalam populasi bekerja

Target 1C : Menurunkan antara 1990 dan 2015, proporsi penduduk yang menderita

kelaparan

 Prevalensi kekurangan gizi di bawah usia lima tahun

 Proporsi penduduk di bawah tingkat minimum konsumsi energi diet

Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar Universal

Target 2A : Pada tahun 2015, semua anak dapat menyelesaikan pendidikan dari sekolah

dasar, anak perempuan dan anak laki-laki

 Pendaftaran di pendidikan dasar  Penyempurnaan pendidikan dasar

Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

(22)

 Rasio perempuan terhadap laki-laki di pendidikan dasar, menengah dan tinggi  Kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor non-pertanian  Proporsi kursi yang diduduki perempuan di parlemen nasional

Tujuan 4: Mengurangi Tingkat Kematian Anak

Target 4A : Menurunkan oleh dua pertiga, antara 1990 dan 2015, angka kematian balita

 Kematian balita tingkat

 Bayi (di bawah 1) kematian tingkat

 Proporsi anak-anak 1 tahun diimunisasi campak

Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu

Target 5A : Mengurangi sampai tiga perempat, antara 1990 dan 2015 angka kematian ibu

rasio

 Rasio kematian ibu

 Proporsi kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih

Target 5B : Mencapai, pada tahun 2015, Akses Universal Untuk Kesehatan Reproduksi

 Tingkat prevalensi kontrasepsi  Angka kelahiran remaja  Cakupan pelayanan Antenatal

 Unmet need untuk keluarga berencana

Tujuan 6: Memerangi HIV / AIDS, Malaria, dan Penyakit Lainnya

Target 6A : Mengendalikan tahun 2015 dan mulai membalikkan penyebaran HIV / AIDS

 Prevalensi HIV di antara penduduk usia 15-24 tahun

 Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi terakhir

 Proporsi penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang

HIV / AIDS

Target 6B : pada tahun 2010, akses universal untuk pengobatan HIV / AIDS bagi semua

orang yang membutuhkannya

(23)

Target 6C : Mengendalikan pada tahun 2015 dan mulai membalikkan tingkat penyebaran

malaria dan penyakit utama lainnya

 Tingkat prevalensi dan kematian yang terkait dengan malaria  Proporsi anak di bawah 5 tidur di bawah kelambu berinsektisida

 Proporsi anak di bawah 5 dengan demam yang diobati dengan obat anti-malaria yang

tepat

 Tingkat insiden, prevalensi dan kematian yang terkait dengan TBC

 Proporsi kasus TBC yang terdeteksi dan sembuh di bawah DOTS (Directly Observed Treatment Short Course)

Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan

Target 7A : Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan

dan program nasional, kehilangan kebalikan dari sumber daya lingkungan

Target 7B : Mengurangi keanekaragaman hayati kerugian, mencapai, pada tahun 2010,

penurunan yang signifikan dalam tingkat kerugian

 Proporsi luas lahan yang tertutup oleh hutan

 Emisi CO 2 , total, per kapita dan per $ 1 GDP (PPP)  Konsumsi bahan perusak lapisan ozon

 Proporsi persediaan ikan dalam batas biologis yang aman  Proporsi total sumber daya air yang digunakan

 Proporsi wilayah darat dan laut yang dilindungi  Proporsi spesies terancam punah

Target 7C : 2015, proporsi penduduk tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum yang

aman dan dasar sanitasi (Untuk informasi lebih lanjut lihat entri pada pasokan air)

 Proporsi penduduk dengan akses berkelanjutan terhadap sumber air yang diperbaiki ,

perkotaan dan pedesaan

 Proporsi penduduk perkotaan dengan akses ke sanitasi yang

Target 7D : 2020, telah mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan setidaknya

100 juta penghuni permukiman kumuh

(24)

Target 8A : Mengembangkan terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi, perdagangan

non-diskriminatif dan sistem keuangan

 Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik , pembangunan, dan

pengurangan kemiskinan - baik secara nasional dan internasional

Target 8B : Kebutuhan Khusus Negara-negara Least Developed (LDCs)

 Termasuk: tarif dan kuota akses bebas untuk ekspor LDC, disempurnakan program penghapusan utang untuk HIPC dan pembatalan utang bilateral resmi, dan lebih

murah hati ODA (Official Development Assistance) untuk negara-negara berkomitmen

untuk pengentasan kemiskinan

Target 8C : Menangani kebutuhan khusus negara-negara berkembang daratan dan pulau

kecil negara berkembang

 Melalui Program Aksi untuk Pembangunan Berkelanjutan Kecil Negara Berkembang Pulau dan hasil dari sesi khusus dua puluh dua Majelis Umum

Target 8D : Menangani utang negara berkembang melalui upaya nasional maupun

internasional agar pengelolaan hutang berkesinambungan dalam jangka panjang

 Beberapa indikator yang tercantum di bawah dimonitor secara terpisah untuk setidaknya negara-negara maju (LDCs), Afrika, negara-negara berkembang daratan

dan pulau kecil negara berkembang.  Bantuan pembangunan resmi (ODA):

- Net ODA, total dan untuk LDC, sebagai persentase OECD / DAC donor GNI

- Proporsi total ODA sektor dialokasikan dari OECD / DAC donor terhadap pelayanan sosial dasar (pendidikan dasar, perawatan kesehatan dasar, gizi, air bersih dan

sanitasi)

- Proporsi ODA bilateral OECD / DAC donor yang mengikat

- ODA yang diterima di negara-negara yang terkurung daratan sebagai proporsi GNIS mereka

- ODA yang diterima kecil negara berkembang pulau itu sebagai proporsi GNIS mereka

 Akses pasar:

(25)

- Tarif rata-rata yang dikenakan oleh negara-negara maju pada produk pertanian dan tekstil dan pakaian dari negara-negara berkembang

- Dukungan estimasi pertanian untuk negara-negara OECD sebagai persentase dari PDB mereka

- Proporsi ODA yang disediakan untuk membantu membangun kapasitas perdagangan

 Keberlanjutan hutang:

- Total jumlah negara yang telah mencapai mereka poin keputusan HIPC dan jumlah yang telah mencapai titik penyelesaian HIPC mereka (kumulatif)

- Penghapusan utang dilakukan di bawah HIPC inisiatif, US $

- Layanan utang sebagai persentase dari ekspor barang dan jasa

Target 8E : Dalam kerjasama dengan perusahaan farmasi, menyediakan akses yang

terjangkau, obat esensial di negara berkembang

 Proporsi penduduk dengan akses ke obat-obatan penting dengan harga terjangkau secara berkelanjutan

Target 8F : Dalam kerjasama dengan sektor swasta, dalam memanfaatkan teknologi baru,

terutama teknologi informasi dan komunikasi

 Sambungan telepon dan pelanggan telepon seluler per 100 penduduk  Komputer pribadi yang digunakan per 100 penduduk

 Pengguna Internet per 100 Populasi

2.3.4 Sustainable Development Goals

Berbeda halnya dengan MDGs yang ditujukan hanya pada negara-negara

berkembang, SDGs memiliki sasaran yang lebih universal.Perumusan yang jelas mengenai

esensi dari SDGs telah disampaikan dalam KTT Rio+20 pada bulan Juni 2012. Isu-isu yang

diangkat sebagai indikator dalam SDGs adalah:

1. Combating poverty

2. Changing consumption patterns

3. Promoting sustainable human settlement development

(26)

7. Advancing food securities

8. Energy, including from renewable sources

Untuk itu, pembahasan terkait SDGs pada KTT Rio+20 ini diharapkan dapat memperoleh

momentum politis tertinggi sehingga dapat satu suara mengenai pentingnya SDGs sebagai

bagian dan pelengkap proses review implementasi MDGs. SDGs juga diharapkan dapat

disepakati sebagai bagian dari agenda pembangunan global pasca 2015 dan dapat pula

mengidentifikasi berbagai kesenjangan (gap) implementasi berbagai perangkat global untuk

pembangunan berkelanjutan, seperti Rio Principles, Agenda21 dan Johannesburg Plan of

Implementation (JPoI).

Pada prinsipnya pembangunan berkelanjutan bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah

proses (journey) yang terus berjalan. Diperlukan kerjasama dan koordinasi yang lebih

terintegrasi antar instansi-instansi dengan melibatkan sektor swasta dan masyarakat

madani dalam proses pembuatan kebijakan dan penerapan pembangunan berkelanjutan.

Konsep pembangunan berkelanjutan telah diterapkan terlebih dahulu dalam dokumen resmi,

"Our Common Future ', yang ditulis pada tahun 1987 oleh sebuah komisi yang dibuat oleh

PBB. Dokumen ini memberikan definisi berikut untuk pembangunan berkelanjutan: “pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”.

Ide ini melibatkan hidup dalam daya dukung ekosistem, sehingga untuk menghindari sumber

daya pemanfaatan ritme yang lebih tinggi dari generasi sumber daya satu, dan jumlah polusi

yang unggul kuantitas bahwa sistem alami mampu menyerap atau menetralisir.

Pada tahun 1992, konsep pembangunan berkelanjutan secara luas menyebar dalam KTT

Bumi, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan yang diadakan di Rio de

Janeiro. Di antara dokumen yang ditandatangani, 'Agenda 21: Aliansi Global untuk

Lingkungan dan Pembangunan' adalah salah satu yang luar biasa. Ini adalah rencana aksi

untuk bagian pertama dari abad ke-21 dan merupakan dasar untuk aliansi global baru untuk

pembangunan berkelanjutan dan perlindungan lingkungan.

Agenda 21, adalah sebuah program aksi yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan

di tiga bidang mendasar: sosial, ekonomi dan lingkungan. Oleh karena itu, tindakan prioritas,

(27)

kemiskinan, kompatibilitas dinamika demografi dan keberlanjutan, efisiensi pemanfaatan

sumber daya, manajemen produk kimia dan limbah, dan partisipasi sosial dan tanggung

jawab.

Dalam bab ke-28, lembaga lokal didesak untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan untuk

memulai dialog terbuka dan partisipatif dengan warga, organisasi dan entitas untuk

mengadopsi rencana aksi lingkungan dan pembangunan terutama dihitung untuk

masalah-masalah lokal, peluang dan nilai-nilai, dan dimaksudkan untuk membuat kota lebih

berkelanjutan, layak huni dan adil.

Ide ini secara praktis diimplementasikan ketika Piagam Aalborg disetujui dan ditandatangani

oleh kota peserta pada Konferensi Eropa pertama di Kota Berkelanjutan dan Kota, yang

berlangsung di Aalborg (Denmark) pada 27 Mei 1994. Menurut piagam, kotamadya

melibatkan diri dalam mengadopsi strategi lokal dan membuat keberlanjutan salah satu pilar

utama aksi mereka. Komitmen penandatangan Piagam Aalborg (di antara mereka, ada lebih

dari 150 kota Catalan) terdiri dari pelaksanaan Agenda 21 di skala lokal, dan mengikuti semua

prinsip-prinsipnya.

Meskipun sebagian besar dokumen hukum berkonsultasi pada lingkungan tidak

mempertimbangkan variabel demografi sebagai faktor penting ketika kebijakan lingkungan

dilaksanakan, kami telah menemukan dokumen menarik yang berisi beberapa refleksi di

atasnya, meskipun berhubungan dengan Amerika Serikat. Ini adalah studi singkat tapi lengkap

tentang variabel demografi yang harus dipertimbangkan ketika membuat kebijakan, yaitu:

volume dan penyebaran penduduk, struktur umur (dengan minat khusus pada penuaan),

komposisi etnis masyarakat, ekonomi status, migrasi dan komposisi rumah.

Tepatnya, gagasan utama dari kebijakan lingkungan dengan perspektif demografis harus

dimaksudkan, pertama, pada mempelajari apakah evolusi temporal beberapa variabel yang

signifikan dari perspektif lingkungan, seperti konsumsi energi, emisi kontaminan dan gas

rumah kaca, atau daur ulang, juga merespon perubahan volume, distribusi dan komposisi

penduduk, perilaku diferensial individu sesuai dengan status sosial ekonomi mereka, dll, dan,

kedua, pada analisis apakah perbedaan teritorial (antar daerah maupun antar negara)

(28)

Gambar

Gambar 2.1Konsep Perencanaan dan Pembangunan Bidang Cipta Karya
Gambar 2.2Kedudukan MP3EI dalam Konteks Perencanaan
Gambar 2.3Kegiatan Ekonomi Utama
Gambar 2.4Tema Pembangunan Masing Masing Koridor Ekonomi
+5

Referensi

Dokumen terkait

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, Tahun 2010-2014 yang selanjutnya disebut RPJMN 2010-2014 adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, sebagaimana dimaksud

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 yang selanjutnya disebut RPJM Nasional, adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5

Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan

Waktu Penerimaan Dokumen oleh Tender Admin/ Pihak yang Dapat Dihubungi selama Proses Prakualifikasi /Time for Document Received by Tender Admin/ Contact Person during

Hasil penelitian meyimpulkan bahwa kenyataan dilapangan, peroses dalam penangganan perlindungan terhadap pelaku tindak pidana anak di bawah umur yang di tangani

Bahwa dengan berlakunyaUndang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2010-2015 yang selanjutnya disebut RPJM Daerah adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk

 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk