2
2.1 Arahan Konsep Perencanaan Bidang Cipta Karya
Konsep perencanaan dan pelaksanaan bidang Cipta Karya merupakan suatu arahan dalam
pencapaian pembangunan permukimn yang layak huni dan berkelanjutan. Dalam konsep
perencanaan dan pelaksanaan bidang Cipta Karya memuat arahan kebijakan tentang amanat
penataan ruang, amanat pembangunan nasional, amanat pembangunan bidang PU/CK, serta
amanat internasional mengenai pembangunan berkelanjutan secara global.
Dalam arahan konsep ini perlu diperhatikan juga kondisi eksisting dari pembangunan bidang
Cipta Karya, isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan serta permasalahan-permasalahan
dan potensi-potensi yang dimiliki daerah. Keterkaitan dari kebijakan-kebijakan amanat
pembangunan berkelanjutan dengan kondisi eksisting dari pembangunan Bidang Cipta Karya,
isu-isu strategis, serta permasalahan dan potensi yang dimiliki daerah akan menghasilkan
rencana dan program bidang Cipta Karya dan pelaksanaan pembangunan bidang Cipta
Karya.
Dengan dukungan dari stakeholder, dalam hal ini pihak dari daerah (provinsi/kota/kabupaten),
dunia usaha dan masyarakat secara tepat, maka cita-cita untuk mewujudkan permukiman
yang layak huni dan berkelanjutan akan dapat terlaksana dan tercapai.
Gambar 2.1Konsep Perencanaan dan Pembangunan Bidang Cipta Karya
2.2 Amanat Peraturan Perundangan Terkait Pembangunan Bidang Cipta Karya
2.2.1 RPJP Nasional 2005 – 2025 (UU No.17 Tahun 2007) A. Umum
Berdasarkan pasal 4 Undang-Undang No. 25 tahun Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional disusun sebagai
penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bentuk
Pembangunan Nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan
yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, untuk melaksanakan
tugas mewujudkan tujuan nasional sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk itu dalam 20 tahun mendatang
sangat penting dan mendesak bagi Bangsa Indonesia untuk melakukan penataan kembali
berbagai langkah-langkah antara lain dibidang pengelolaan sumber daya alam, sumber daya
manusia, lingkungan hidup dan kelembagaannya sehingga bangsa Indonesia dapat mengejar
ketertinggalan dan mempunyai posisi yang sejajar, serta daya saing yang kuat didalam
pergaulan masyarakat internasional.
Dengan ditiadakannya Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai pedoman
penyusunan rencana pembangunan nasional dan diperkuatnya otonomi daerah dan
desentralisasi pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka untuk
menjaga pembangunan yang berkelanjutan, Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional sangat diperlukan. Sejalan dengan Undang-Undang No. 25 tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang memerintahkan penyusunan
RPJP Nasional yang menganut paradigma perencanaan yang visioner, maka RPJP Nasional
hanya memuat arahan secara garis besar.
Kurun waktu RPJP Nasional adalah 20 tahun. Pelaksanaan RPJP Nasional 2005 – 2025
terbagi dalam tahap-tahp perencanaan pembangunan dalam periodesasi perencanaan
pembangunan jangka menengah nasional 5 (lima) tahunanyang dituangkan dalam RPJM
Nasional I tahun 2005 – 2009, RPJM Nasional II tahun 2010 – 2014, RPJM Nasional III tahun
2015 – 2019, dan RPJM Nasional IV tahun 2020 – 2024.
B. Visi dan Misi Pembangunan Nasional Tahun 2005 – 2025
Berdasarkan kondisi Bangsa Indonesia saat ini, tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan
mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan
amanat pembangunan yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, visi pembangunan Nasional tahun 2005 – 2025 adalah,
INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR.
1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab
berdasarkan falsafah Pancasila
2. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing
3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum
4. Mewujudkan Indonesia aman, damai dan bersatu
5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan
6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari
7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan
berbasiskan kepentingan nasional
8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia
2.2.2 RPJM Nasional 2010 – 2014 (Perpres No. 05 Tahun 2010)
Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang No.25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dipandang perlu menetapkan Peraturan
Presiden tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014, yang selanjutnya
disebut RPJM Nasional, adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode
5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga tahun 2010 – 2014, yang
selanjutnya disebut Rencana Strategis Kementerian/Lembaga, adalah dokumen perencanaan
Kementerian/Lembaga untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2010 sampai
dengan tahun 2014.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disebut RPJM Daerah,
adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5 tahun sesuai periode
masing-masing pemerintah daerah. RPJM Nasional memuat strategipembangunan nasional,
kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta
kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh
termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan
kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RPJM Nasional berfungsi sebagai:
a. Pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis
b. Bahan penyusunan dan perbaikan RPJM Daerah dengan memperhatikan tugas
pemerintah daerah dalam mencapai sasaran nasional yang termuat dalam RPJM
Nasional
c. Pedoman pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah
2.2.3 MP3EI (Perpres No. 32 Tahun 2010)
Dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025
dan untuk melengkapi dokumen perencanaan guna meningkatkan daya saing perekonomian
nasional yang lebih solid, diperlukan adanya suatu masterplan percepatan dan perluasan
pembangunan ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas, strategi yang tepat, fokus
dan terukur. Berdasarkan pertimbangan, maka perlu ditetapkan Peraturan Presiden tentang
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.
Gambar 2.2Kedudukan MP3EI dalam Konteks Perencanaan
Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, yang selanjutnya
disebut MP3EI.
MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi
Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan
tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
2005 – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan.
MP3EI tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Presiden ini. MP3EI berfungsi sebagai :
a. Acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah non kementerian untuk
menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan percepatan dan perluasan
pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing, yang dituangkan
dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah
non kementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan.
b. Acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi
Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota terkait.
MP3EI dapat menjadi acuan bagi badan usaha dalam menanamkan modal di Indonesia
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Koordinasi pelaksanaan MP3EI
dilakukan oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
2011-2025, yang selanjutnya disebut KP3EI. KP3EI mempunyai tugas:
a. Melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan MP3EI
b. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MP3EI
c. Menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian
permasalahan dan hambatan pelaksanaan MP3EI.
MP3EI digagas untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui
pengembangan 8 program utama, yang terdiri atas pertanian, pertambangan, energi, industri,
kelautan, pariwisata, dan telematika, serta pengembangan kawasan strategis. Kedelapan
Gambar 2.3Kegiatan Ekonomi Utama
Sedangkan strategi pengembangan 22 kegiatan ekonomi tersebut adalah mengintegrasikan
1. Pengembangan potensi ekonomi wilayah di 6 Koridor Ekonomi Indonesia, yaitu: Koridor
Ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor
Ekonomi Sulawesi, Koridor Ekonomi Bali–Nusa Tenggara, dan Koridor Ekonomi Papua–
Kepulauan Maluku;
2. Memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara
global (locally integrated, globally connected);
3. Memperkuat kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk mendukung pengembangan
program utama di setiap koridor ekonomi.
Dengan demikian pertumbuhan ekonomi akan makin terarah karena digenjot pada 8 program
utama berbasis potensi nasional (yang terdiri dari 22 kegiatan ekonomi) dan berlangsung
lintas wilayah di 6 koridor, terkoneksi, dan terintegrasi. Pada gilirannya strategi tersebut
diharapkan menunjang penguatan kapasitas SDM dan penguasaannya terhadap
pengembangan IPTEK.
2.2.4 MP3KI
Ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi menciptakan kesenjangan, ketidakstabilan dan
meluasnya ketidaksejahteraan.Sehingga, membuat pemerintah merasa perlu untuk
melengkapi master plan pertumbuhan ekonomi dengan master plan pengurangan kemiskinan
agar dunia seimbang (equilibrium).Master plan tersebut adalah Master Plan Percepatan dan
Perluasan Pengurangan Kemiskinan (MP3KI), yang bertujuan memeratakan pertumbuhan
ekonomi dalam mengurangi kesenjangan.
MP3KI adalah affirmative action, sehingga pembangunan ekonomi yang terwujud tidak
hanya Pro-growth, tetapi juga Pro-Poor, Pro-job dan Pro-environment; termasuk penyediaan
lapangan kerja bagi masyarakat miskin.
Substansi yang melatarbelakangi perluasan pengurangan kemiskinan melalui MP3KI
dapat dirangkum dalam 9 alasan, yaitu:
1. Pertumbuhan penduduk yang besar (bisa jadi potensi, bisa juga jadi tantangan)
2. Lahan usaha petani dan nelayan makin terbatas
3. Peluang dan pengembangan usaha si miskin amat terbatas
4. Urbanisasi memperparah kemiskinan perkotaan (slum and squatter)
5. Rendahnya kualitas SDM usia muda
6. Rendahnya penyerapan kerja sector industri
7. Masih banyak daerah terisolir dengan akses pelayanan dasar yang rendah
8. Belum tersedianya jaminan sosial yang komprehensif
Gambar 2.5Kerangka Desain MP3KI
Tahapan Pelaksanaan MP3KIPeriode 2013-2014:
• Percepatan pengurangan kemiskinan untuk mencapai target 8% - 10% pada tahun 2014;
• Perbaikan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan.
• Pada kantong-kantong kemiskinan, sinergi lokasi dan waktu, serta perbaikan sasaran (seperti : Program Gerbang Kampung di Menko Kesra);
• Sustainable livelihood penguatan kegiatan usaha masyarakat miskin, termasuk membangun keterkaitan dengan MP3EI;
• Terbentuknya BPJS kesehatan pada tahun 2014 .
Periode 2015 – 2019:
• Transformasi program-program pengurangan kemiskinan;
• Peningkatan cakupan, terutama untuk Sistem Jaminan Sosial menuju universal coverage;
Periode 2020-2025:
• Pemantapan sistem penanggulangan kemiskinan secara terpadu; • Sistem jaminan sosial mencapai universal coverage.
Gambar 2.8Sinergi MP3EI dan MP3KI Dalam Pengembangan Lingkungan
2.2.5 KEK (UU No. 39 Tahun 2009)
Untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu dilaksanakan pembangunan
perekonomian nasional berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan,
efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan
menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Sesuai dengan amanat Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Nomor XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka demokrasi ekonomi, diperlukan
keberpihakan politik ekonomi yang lebih memberikan kesempatan dan dukungan pada usaha
mikro, kecil, menengah (UMKM), dan koperasi dan sekaligus memberikan manfaat bagi
industri dalam negeri. Berkaitan dengan hal itu, dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
disediakan lokasi bagi UMKM dan koperasi agar dapat mendorong terjadinya keterkaitan dan
sinergi hulu hilir dengan perusahaan besar, baik sebagai Pelaku Usaha maupun sebagai
Dalam rangka mempercepat pencapaian pembangunan ekonomi nasional, diperlukan
peningkatan penanaman modal melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan
geoekonomi dan geostrategis. Kawasan tersebut dipersiapkan untuk memaksimalkan
kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Pengembangan KEK bertujuan untuk mempercepat perkembangan daerah dan sebagai
model terobosan pengembangan kawasan untuk pertumbuhan ekonomi, antara lain industri,
pariwisata, dan perdagangan sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
Pasal 31 ayat (3) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
mengatur bahwa ketentuan mengenai Kawasan Ekonomi Khusus diatur dengan
Undang-Undang.Ketentuan tersebut menjadi dasar hukum perlunya diatur kebijakan tersendiri
mengenai KEK dalam suatu Undang-Undang.
Ketentuan KEK dalam Undang-Undang ini mencakup pengaturan fungsi, bentuk, dan kriteria
KEK, pembentukan KEK, pendanaan infrastruktur, kelembagaan, lalu lintas barang, karantina,
dan devisa, serta fasilitas dan kemudahan.
KEK merupakan kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan
memperoleh fasilitas tertentu. Fungsi KEK adalah untuk melakukan dan mengembangkan
usaha di bidang perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan energi, transportasi, maritim
dan perikanan, pos dan telekomunikasi, pariwisata, dan bidang lain. Sesuai dengan hal
tersebut, KEK terdiri atas satu atau beberapa Zona, antara lain Zona pengolahan ekspor,
logistik, industri, pengembangan teknologi, pariwisata, dan energi yang kegiatannya dapat
ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri.
Kriteria yang harus dipenuhi agar suatu daerah dapat ditetapkan sebagai KEK adalah sesuai
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung,
adanya dukungan dari pemerintah provinsi/kabupaten/kota dalam pengelolaan KEK, terletak
pada posisi yang strategis atau mempunyai potensi sumber daya unggulan di bidang kelautan
dan perikanan, perkebunan, pertambangan, dan pariwisata, serta mempunyai batas yang
jelas, baik batas alam maupun batas buatan.
membentuk Administrator KEK di setiap KEK untuk melaksanakan pelayanan, pengawasan,
dan pengendalian operasionalisasi KEK.Kegiatan usaha di KEK dilakukan oleh Badan Usaha
dan Pelaku Usaha.
Fasilitas yang diberikan pada KEK ditujukan untuk meningkatkan daya saing agar lebih
diminati oleh penanam modal. Fasilitas tersebut terdiri atas fasilitas fiskal, yang berupa
perpajakan, kepabeanan dan cukai, pajak daerah dan retribusi daerah, dan fasilitas nonfiskal,
yang berupa fasilitas pertanahan, perizinan, keimigrasian, investasi, dan ketenagakerjaan,
serta fasilitas dan kemudahan lain yang dapat diberikan pada Zona di dalam KEK, yang akan
diatur oleh instansi berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam hal pengawasan, ketentuan larangan tetap diberlakukan di KEK, seperti halnya daerah
lain di Indonesia. Namun, untuk ketentuan pembatasan, diberikan kemudahan dalam sistem
dan prosedur yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan tetap mengutamakan pengawasan
terhadap kemungkinan penyalahgunaan atau pemanfaatan KEK sebagai tempat melakukan
tindak pidana ekonomi.
Dengan berlakunya Undang-Undang ini, diharapkan terdapat satu kesatuan pengaturan
mengenai kawasan khusus di bidang ekonomi yang ada di Indonesia dengan memberi
kesempatan kepada Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang dibentuk
berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan
Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2000 Nomor 251, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4053)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2007 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2007 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan
Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang-Undang Menjadi Undang-Undang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4775) untuk diusulkan menjadi KEK, baik dalam jangka waktu maupun
setelah berakhirnya jangka waktu yang telah ditetapkan. Dengan berlakunya Undang-Undang
2.2.6 Direktif Presiden (Inpres No.3 Tahun 2010)
Untuk lebih memfokuskan pelaksanaan pembangunan yang berkeadilan, dan untuk
kesinambungan serta penajaman Prioritas Pembangunan Nasional sebagaimana termuat
dalam Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas
Pembangunan Nasional Tahun 2010, maka diinstruksikan kepada para menteri dan seluruh
pimpinan lembaga yang berwenang untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai
tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing, dalam rangka pelaksanaan program-program
pembangunan yang berkeadilan, yang meliputi program :
1. Program pro rakyat, memfokuskan pada :
Program penanggulangan kemiskinan berbasis keluarga
Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat
Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha mikro dan kecil 2. Program keadilan untuk semua, memfokuskan pada :
Program keadilan bagi anak Program keadilan bagi perempuan
Program keadilan di bidang ketenagakerjaan Program keadilan di bidang bantuan hukum
Program keadilan di bidang reformasi hukum dan peradilan Program keadilan bagi kelompok miskin dan terpinggirkan
3. Program pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), memfokuskan pada : Program pemberantasan kemiskinan dan kelaparan
Program pencapaian pendidikan dasar untuk semua
Program pencapaian kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan Program penurunan angka kematian anak
Program kesehatan ibu
Program pengendalian HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya Program penjaminan kelestarian lingkungan hidup
Program pendukung percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium
Dari ke tiga program pembangunan tersebut, program pembangunan di bidang Cipta Karya
program-Tabel 2.1Rencana Tindak Upaya Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium
*) keluaran dapat disesuaikan berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan secara berkala
2.3 Amanat Internasional
2.3.1 Agenda Habitat
Pemenuhan kebutuhan hunian yang layak bagi semua orang merupakan amanat dari
berbagai agenda internasional, diantarnya Agenda Habitat (The Habitat agenda, Istanbul
menandatangani deklarasi tersebut, Indonesia turut melaksanakan komitmen untuk
menyediakan rumah layak huni yang sehat, aman, terjamin, dapat mudah diakses dan
terjangkau yang mencakup sarana dan prasarana pendukungnya bagi masyarakat.
Pembangunan perumahan dan permukiman merupakan pembangunan multisektoral yang
penyelenggaraannya melibatkan berbagai pemangku kepentingan.Dalam rangka mewujudkan
hunian yang layak bagi semua orang (adequate shelter for all), pemerintah bertanggung jawab
untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat agar dapat menghuni rumah yang layak,
sehat, aman, terjamin, mudah diakses dan terjangkau yang mencakup sarana dan prasarana
pendukungnya.Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan program-program pembangunan
perumahan dan permukiman, baik berupa intervensi langsung (provider) maupun melalui
penciptaan iklim yang kondusif (enabler) sehingga pembangunan perumahan dan
permukiman dapat berjalan dengan efisien dan berkelanjutan.
Namun demikian hak dasar akan hunian yang layak dan terjangkau sampai saat ini masih
belum sepenuhnya terpenuhi. Salah satu penyebabnya adalah adanya kesenjangan
pemenuhan kuantitas dan kualitas kebutuhan perumahan yang masih sangat besar. Hal
tersbut terjadi antara lain karena masih kurangnya kemampuan sebagian masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan perumahannya, diantaranya keterbatasan daya beli kelompok
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Dalam Undang-Undang No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang nasional (RPJPN) tahun 2005 – 2025, dinyatakan bahwa sasaran pembangunan
perumahan dan permukiman jangka panjang adalah terpenuhi kebutuhan hunian yang
dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukugnya bagi seluruh masyarakat yang
dilengkapi oleh sistem pembiayaan perumahan jangka panjang yang berkelanjutan, efisien
dan akuntabel, untuk mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh. Hal ini sejalan dengan
sasaran MDGs yang terkait dengan bidang perumahan (tujuan 7 target 11), yaitu mencapai
perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin dipermukiman kumuh pada tahun
2020.
2.3.2 Rio+20
dengan baik di sektor swasta dan publik mengakui modal alam sebagai unsur inti penting dari
pembangunan berkelanjutan dan, akhirnya, dari kesejahteraan manusia.
Banyak yang telah berubah sejak pertama "Rio" KTT Bumi 1992. Perubahan manusia
ekosistem laut, air tawar dan darat terus mempercepat pada kecepatan yang lebih intens
daripada di periode lain dalam sejarah. Sementara kami menggunakan ekosistem telah
menyebabkan keuntungan dalam modal fisik dan manusia, telah habis modal alam (stok
ekosistem yang menghasilkan arus barang dan jasa ekosistem).
Di Rio+20 , 193 negara memiliki kesempatan penting untuk memperbaharui komitmen mereka
untuk pembangunan berkelanjutan dan mengadopsi upaya-upaya baru untuk mengentaskan
kemiskinan dan bergerak ke arah ekonomi hijau global yang - yang dibangun pada
penggunaan berkelanjutan dan pengelolaan yang berharga namun rapuh barang alam dan
jasa.
Dua tema utama KTT yang telah dihasilkan yaitu :
1. Ekonomi Hijau
Ini elemen yang relatif baru dalam agenda internasional resmi telah memprovokasi
diskusi luas sekitar definisi.Sekelompok kecil negara-negara berkembang tetap skeptis
terhadap istilah "ekonomi hijau," yakin bahwa negara maju adalah mendorong konsep
ini dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi global mereka sendiri. CI percaya
bahwa perkembangan yang sehat, berkelanjutan, "hijau", ekonomi sangatlah penting
untuk masa depan kesejahteraan masyarakat, ekosistem dan seluruh bangsa.
2. Sebuah kerangka kelembagaan untuk pembangunan berkelanjutan
Ini telah berada di bawah diskusi politik selama lebih dari 10 tahun, dengan tidak ada
solusi yang jelas di cakrawala.Apakah fokusnya adalah tujuan pembangunan
berkelanjutan atau tindakan baru pertumbuhan, banyak pemerintah tampaknya tidak
mau melakukan perubahan mendasar terhadap kebijakan dan sistem PBB.
Meskipun keberhasilan lengkap pada negosiasi informal telah terbukti sulit dipahami, perlu
dicatat: Negosiasi jalan ke Rio telah memiliki dampak positif di seluruh dunia. Ini telah
membawa pembangunan berkelanjutan menjadi fokus yang lebih tajam, dan kelompok warga
Dengan perkiraan 50.000 peserta, pengamat, pemimpin, aktivis dan wartawan berkumpul di
Rio, KTT ini menawarkan kesempatan utama bagi pemerintah, bisnis dan organisasi seperti
CI untuk menghubungkan satu sama lain, bertukar pikiran dan memprioritaskan pendanaan
untuk proyek-proyek baru dan yang sudah ada. Lebih dari 30 anggota tim global CI, termasuk
banyak rekan-rekan dari Brasil CI-Brasil, akan ada, berbagi keahlian teknis dan advokasi
untuk nilai ekosistem yang akan dimasukkan ke dalam sistem akuntansi nasional dan
korporasi. Ini masih harus dilihat apakah semangat baru aktivisme akan tercermin dalam hasil
yang ambisius yang memberikan harapan bagi generasi mendatang. Peningkatan
pengetahuan yang diperoleh sejak tahun 1992 tentang bagaimana mendesain ulang
pertumbuhan dan mengurangi kemiskinan adalah alat terkuat. Urgensi untuk ekosistem
tegang bumi dan orang-orang yang kurang beruntung adalah reli menangis kita bersama.
Rio+20 bukanlah akhir dari sebuah proses. Ini adalah awal, Tim CI akan berada di Rio untuk
memastikan bahwa 20 tahun dari sekarang, pada 2032 kami telah membangun ekonomi yang
sehat dan berkelanjutan didasarkan pada kehati-hatian menggunakan karunia alam planet kita
untuk mendukung anak-anak kita dan anak-anak selama beberapa generasi mendatang.
2.3.3 Millenium Development Goals
Tujuan dari MDGs adalah untuk mendorong pembangunan dengan meningkatkan
kondisi sosial dan ekonomi di negara-negara termiskin di dunia. Tujuan ini berasal dari target
pembangunan internasional sebelumnya dan secara resmi dibentuk setelah KTT Milenium
tahun 2000, di mana semua pemimpin dunia yang hadir mengadopsi Deklarasi Milenium PBB.
Persiapan untuk KTT Milenium secara resmi diluncurkan dengan laporan Sekretaris Jenderal
berjudul, "Kami Rakyat:.Peran PBB di Twenty-First Century" Masukan tambahan disiapkan
oleh Forum Millenium, yang menghadirkan perwakilan dari lebih dari 1.000 organisasi
masyarakat non-pemerintah dan masyarakat sipil dari lebih dari 100 negara. Forum ini
bertemu pada Mei 2000 untuk menyimpulkan proses konsultasi dua tahun meliputi isu-isu
seperti pengentasan kemiskinan, perlindungan lingkungan, hak asasi manusia dan
perlindungan rentan. Persetujuan dari MDGs itu mungkin hasil utama dari KTT Milenium.Di
bidang perdamaian dan keamanan, adopsi dari Laporan Brahimi dipandang sebagai benar
melengkapi organisasi untuk melaksanakan mandat yang diberikan oleh Dewan Keamanan.
solidaritas. MDGs dibuat untuk mengoperasionalkan ide-ide ini dengan menetapkan target
dan indikator untuk pengentasan kemiskinan untuk mencapai hak-hak yang diatur dalam
Deklarasi pada set lima belas tahun.
Hasil dari The Millennium Deklarasi KTT itu hanya sebagian dari asal-usul MDGs. Ini muncul
bukan hanya dari PBB tetapi juga Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan
(OECD), Bank Dunia , dan Dana Moneter Internasional . Pengaturan terjadi melalui
serangkaian konferensi yang dipimpin PBB pada 1990-an yang berfokus pada isu-isu seperti
anak-anak, gizi, hak asasi manusia, perempuan dan lain-lain. OECD mengkritik donor utama
untuk mengurangi tingkat mereka Official Development Assistance (ODA).Dengan terjadinya
peringatan 50 PBB, maka Sekjen PBB Kofi Annan melihat perlunya untuk mengatasi berbagai
masalah pembangunan. Hal ini menyebabkan laporan berjudul, Kami Rakyat: Peran PBB di
Abad 21 yang menyebabkan Deklarasi Milenium. Pada saat ini, OECD telah membentuk
Tujuan Pembangunan Internasional nya (IDGs) dan itu dikombinasikan dengan upaya PBB
dalam pertemuan Bank Dunia 2001 untuk membentuk MDGs.
Fokus MDG pada tiga bidang utama, yaitu dari valorising modal manusia, memperbaiki
infrastruktur, dan meningkatkan hak-hak sosial, ekonomi dan politik, dengan mayoritas fokus
akan menuju peningkatan standar dasar hidup. Tujuan dipilih dalam fokus modal manusia
termasuk perbaikan gizi, kesehatan (termasuk mengurangi tingkat kematian anak , HIV / AIDS
, tuberkulosis dan malaria , serta meningkatkan kesehatan reproduksi), dan pendidikan. Untuk
fokus infrastruktur, tujuan termasuk meningkatkan infrastruktur melalui peningkatan akses
terhadap air minum yang aman, energi dan informasi / komunikasi teknologi modern, output
pertanian penguatan melalui praktek-praktek berkelanjutan, meningkatkan infrastruktur
transportasi, dan melestarikan lingkungan. Terakhir, untuk sosial, ekonomi dan politik fokus
hak tujuan termasuk pemberdayaan perempuan, mengurangi kekerasan, meningkatkan suara
politik, menjamin akses yang sama ke pelayanan publik, dan meningkatkan keamanan hak
milik. Tujuan yang dipilih dimaksudkan untuk meningkatkan individu kemampuan manusia dan
"memajukan sarana untuk kehidupan yang produktif".MDGs menekankan bahwa kebijakan
individu yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini harus disesuaikan dengan kebutuhan
negara individu, sehingga sebagian saran kebijakan bersifat umum.
MDGs juga menekankan peran negara maju dalam membantu negara-negara berkembang,
untuk mencapai "kemitraan global untuk pembangunan" dengan mendukung perdagangan
yang adil , penghapusan utang untuk negara-negara berkembang, meningkatkan bantuan dan
akses ke obat-obatan penting dengan harga terjangkau, dan transfer teknologi maju. Dengan
demikian negara-negara berkembang tidak dilihat sebagai tersisa untuk mencapai MDGs
pada mereka sendiri, tetapi sebagai mitra dalam perkembangan bersama untuk mengurangi
tingkat kemiskinan di dunia.
Delapan Goal yang difokuskan dalam tujuan MDGs yaitu :
Tujuan 1: Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan
Target 1A : Menurunkan antara 1990 dan 2015, proporsi orang yang hidup dengan
pendapatan kurang dari $ 1.25 sehari
Proporsi penduduk di bawah $ 1,25 per hari (PPP nilai)
Rasio kesenjangan kemiskinan [kejadian x kedalaman kemiskinan] Proporsi kuintil termiskin dalam konsumsi nasional
Target 1B : Mewujudkan Ketenagakerjaan yang Layak untuk Wanita, Pria, dan Kaum Muda
Pertumbuhan PDB per Kerja Orang Tingkat Pekerjaan
Proporsi penduduk yang bekerja di bawah $ 1,25 per hari (PPP nilai) Proporsi pekerja berbasis keluarga dalam populasi bekerja
Target 1C : Menurunkan antara 1990 dan 2015, proporsi penduduk yang menderita
kelaparan
Prevalensi kekurangan gizi di bawah usia lima tahun
Proporsi penduduk di bawah tingkat minimum konsumsi energi diet
Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar Universal
Target 2A : Pada tahun 2015, semua anak dapat menyelesaikan pendidikan dari sekolah
dasar, anak perempuan dan anak laki-laki
Pendaftaran di pendidikan dasar Penyempurnaan pendidikan dasar
Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan
Rasio perempuan terhadap laki-laki di pendidikan dasar, menengah dan tinggi Kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor non-pertanian Proporsi kursi yang diduduki perempuan di parlemen nasional
Tujuan 4: Mengurangi Tingkat Kematian Anak
Target 4A : Menurunkan oleh dua pertiga, antara 1990 dan 2015, angka kematian balita
Kematian balita tingkat
Bayi (di bawah 1) kematian tingkat
Proporsi anak-anak 1 tahun diimunisasi campak
Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu
Target 5A : Mengurangi sampai tiga perempat, antara 1990 dan 2015 angka kematian ibu
rasio
Rasio kematian ibu
Proporsi kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih
Target 5B : Mencapai, pada tahun 2015, Akses Universal Untuk Kesehatan Reproduksi
Tingkat prevalensi kontrasepsi Angka kelahiran remaja Cakupan pelayanan Antenatal
Unmet need untuk keluarga berencana
Tujuan 6: Memerangi HIV / AIDS, Malaria, dan Penyakit Lainnya
Target 6A : Mengendalikan tahun 2015 dan mulai membalikkan penyebaran HIV / AIDS
Prevalensi HIV di antara penduduk usia 15-24 tahun
Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi terakhir
Proporsi penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang
HIV / AIDS
Target 6B : pada tahun 2010, akses universal untuk pengobatan HIV / AIDS bagi semua
orang yang membutuhkannya
Target 6C : Mengendalikan pada tahun 2015 dan mulai membalikkan tingkat penyebaran
malaria dan penyakit utama lainnya
Tingkat prevalensi dan kematian yang terkait dengan malaria Proporsi anak di bawah 5 tidur di bawah kelambu berinsektisida
Proporsi anak di bawah 5 dengan demam yang diobati dengan obat anti-malaria yang
tepat
Tingkat insiden, prevalensi dan kematian yang terkait dengan TBC
Proporsi kasus TBC yang terdeteksi dan sembuh di bawah DOTS (Directly Observed Treatment Short Course)
Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan
Target 7A : Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan
dan program nasional, kehilangan kebalikan dari sumber daya lingkungan
Target 7B : Mengurangi keanekaragaman hayati kerugian, mencapai, pada tahun 2010,
penurunan yang signifikan dalam tingkat kerugian
Proporsi luas lahan yang tertutup oleh hutan
Emisi CO 2 , total, per kapita dan per $ 1 GDP (PPP) Konsumsi bahan perusak lapisan ozon
Proporsi persediaan ikan dalam batas biologis yang aman Proporsi total sumber daya air yang digunakan
Proporsi wilayah darat dan laut yang dilindungi Proporsi spesies terancam punah
Target 7C : 2015, proporsi penduduk tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum yang
aman dan dasar sanitasi (Untuk informasi lebih lanjut lihat entri pada pasokan air)
Proporsi penduduk dengan akses berkelanjutan terhadap sumber air yang diperbaiki ,
perkotaan dan pedesaan
Proporsi penduduk perkotaan dengan akses ke sanitasi yang
Target 7D : 2020, telah mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan setidaknya
100 juta penghuni permukiman kumuh
Target 8A : Mengembangkan terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi, perdagangan
non-diskriminatif dan sistem keuangan
Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik , pembangunan, dan
pengurangan kemiskinan - baik secara nasional dan internasional
Target 8B : Kebutuhan Khusus Negara-negara Least Developed (LDCs)
Termasuk: tarif dan kuota akses bebas untuk ekspor LDC, disempurnakan program penghapusan utang untuk HIPC dan pembatalan utang bilateral resmi, dan lebih
murah hati ODA (Official Development Assistance) untuk negara-negara berkomitmen
untuk pengentasan kemiskinan
Target 8C : Menangani kebutuhan khusus negara-negara berkembang daratan dan pulau
kecil negara berkembang
Melalui Program Aksi untuk Pembangunan Berkelanjutan Kecil Negara Berkembang Pulau dan hasil dari sesi khusus dua puluh dua Majelis Umum
Target 8D : Menangani utang negara berkembang melalui upaya nasional maupun
internasional agar pengelolaan hutang berkesinambungan dalam jangka panjang
Beberapa indikator yang tercantum di bawah dimonitor secara terpisah untuk setidaknya negara-negara maju (LDCs), Afrika, negara-negara berkembang daratan
dan pulau kecil negara berkembang. Bantuan pembangunan resmi (ODA):
- Net ODA, total dan untuk LDC, sebagai persentase OECD / DAC donor GNI
- Proporsi total ODA sektor dialokasikan dari OECD / DAC donor terhadap pelayanan sosial dasar (pendidikan dasar, perawatan kesehatan dasar, gizi, air bersih dan
sanitasi)
- Proporsi ODA bilateral OECD / DAC donor yang mengikat
- ODA yang diterima di negara-negara yang terkurung daratan sebagai proporsi GNIS mereka
- ODA yang diterima kecil negara berkembang pulau itu sebagai proporsi GNIS mereka
Akses pasar:
- Tarif rata-rata yang dikenakan oleh negara-negara maju pada produk pertanian dan tekstil dan pakaian dari negara-negara berkembang
- Dukungan estimasi pertanian untuk negara-negara OECD sebagai persentase dari PDB mereka
- Proporsi ODA yang disediakan untuk membantu membangun kapasitas perdagangan
Keberlanjutan hutang:
- Total jumlah negara yang telah mencapai mereka poin keputusan HIPC dan jumlah yang telah mencapai titik penyelesaian HIPC mereka (kumulatif)
- Penghapusan utang dilakukan di bawah HIPC inisiatif, US $
- Layanan utang sebagai persentase dari ekspor barang dan jasa
Target 8E : Dalam kerjasama dengan perusahaan farmasi, menyediakan akses yang
terjangkau, obat esensial di negara berkembang
Proporsi penduduk dengan akses ke obat-obatan penting dengan harga terjangkau secara berkelanjutan
Target 8F : Dalam kerjasama dengan sektor swasta, dalam memanfaatkan teknologi baru,
terutama teknologi informasi dan komunikasi
Sambungan telepon dan pelanggan telepon seluler per 100 penduduk Komputer pribadi yang digunakan per 100 penduduk
Pengguna Internet per 100 Populasi
2.3.4 Sustainable Development Goals
Berbeda halnya dengan MDGs yang ditujukan hanya pada negara-negara
berkembang, SDGs memiliki sasaran yang lebih universal.Perumusan yang jelas mengenai
esensi dari SDGs telah disampaikan dalam KTT Rio+20 pada bulan Juni 2012. Isu-isu yang
diangkat sebagai indikator dalam SDGs adalah:
1. Combating poverty
2. Changing consumption patterns
3. Promoting sustainable human settlement development
7. Advancing food securities
8. Energy, including from renewable sources
Untuk itu, pembahasan terkait SDGs pada KTT Rio+20 ini diharapkan dapat memperoleh
momentum politis tertinggi sehingga dapat satu suara mengenai pentingnya SDGs sebagai
bagian dan pelengkap proses review implementasi MDGs. SDGs juga diharapkan dapat
disepakati sebagai bagian dari agenda pembangunan global pasca 2015 dan dapat pula
mengidentifikasi berbagai kesenjangan (gap) implementasi berbagai perangkat global untuk
pembangunan berkelanjutan, seperti Rio Principles, Agenda21 dan Johannesburg Plan of
Implementation (JPoI).
Pada prinsipnya pembangunan berkelanjutan bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah
proses (journey) yang terus berjalan. Diperlukan kerjasama dan koordinasi yang lebih
terintegrasi antar instansi-instansi dengan melibatkan sektor swasta dan masyarakat
madani dalam proses pembuatan kebijakan dan penerapan pembangunan berkelanjutan.
Konsep pembangunan berkelanjutan telah diterapkan terlebih dahulu dalam dokumen resmi,
"Our Common Future ', yang ditulis pada tahun 1987 oleh sebuah komisi yang dibuat oleh
PBB. Dokumen ini memberikan definisi berikut untuk pembangunan berkelanjutan: “pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”.
Ide ini melibatkan hidup dalam daya dukung ekosistem, sehingga untuk menghindari sumber
daya pemanfaatan ritme yang lebih tinggi dari generasi sumber daya satu, dan jumlah polusi
yang unggul kuantitas bahwa sistem alami mampu menyerap atau menetralisir.
Pada tahun 1992, konsep pembangunan berkelanjutan secara luas menyebar dalam KTT
Bumi, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan yang diadakan di Rio de
Janeiro. Di antara dokumen yang ditandatangani, 'Agenda 21: Aliansi Global untuk
Lingkungan dan Pembangunan' adalah salah satu yang luar biasa. Ini adalah rencana aksi
untuk bagian pertama dari abad ke-21 dan merupakan dasar untuk aliansi global baru untuk
pembangunan berkelanjutan dan perlindungan lingkungan.
Agenda 21, adalah sebuah program aksi yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan
di tiga bidang mendasar: sosial, ekonomi dan lingkungan. Oleh karena itu, tindakan prioritas,
kemiskinan, kompatibilitas dinamika demografi dan keberlanjutan, efisiensi pemanfaatan
sumber daya, manajemen produk kimia dan limbah, dan partisipasi sosial dan tanggung
jawab.
Dalam bab ke-28, lembaga lokal didesak untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan untuk
memulai dialog terbuka dan partisipatif dengan warga, organisasi dan entitas untuk
mengadopsi rencana aksi lingkungan dan pembangunan terutama dihitung untuk
masalah-masalah lokal, peluang dan nilai-nilai, dan dimaksudkan untuk membuat kota lebih
berkelanjutan, layak huni dan adil.
Ide ini secara praktis diimplementasikan ketika Piagam Aalborg disetujui dan ditandatangani
oleh kota peserta pada Konferensi Eropa pertama di Kota Berkelanjutan dan Kota, yang
berlangsung di Aalborg (Denmark) pada 27 Mei 1994. Menurut piagam, kotamadya
melibatkan diri dalam mengadopsi strategi lokal dan membuat keberlanjutan salah satu pilar
utama aksi mereka. Komitmen penandatangan Piagam Aalborg (di antara mereka, ada lebih
dari 150 kota Catalan) terdiri dari pelaksanaan Agenda 21 di skala lokal, dan mengikuti semua
prinsip-prinsipnya.
Meskipun sebagian besar dokumen hukum berkonsultasi pada lingkungan tidak
mempertimbangkan variabel demografi sebagai faktor penting ketika kebijakan lingkungan
dilaksanakan, kami telah menemukan dokumen menarik yang berisi beberapa refleksi di
atasnya, meskipun berhubungan dengan Amerika Serikat. Ini adalah studi singkat tapi lengkap
tentang variabel demografi yang harus dipertimbangkan ketika membuat kebijakan, yaitu:
volume dan penyebaran penduduk, struktur umur (dengan minat khusus pada penuaan),
komposisi etnis masyarakat, ekonomi status, migrasi dan komposisi rumah.
Tepatnya, gagasan utama dari kebijakan lingkungan dengan perspektif demografis harus
dimaksudkan, pertama, pada mempelajari apakah evolusi temporal beberapa variabel yang
signifikan dari perspektif lingkungan, seperti konsumsi energi, emisi kontaminan dan gas
rumah kaca, atau daur ulang, juga merespon perubahan volume, distribusi dan komposisi
penduduk, perilaku diferensial individu sesuai dengan status sosial ekonomi mereka, dll, dan,
kedua, pada analisis apakah perbedaan teritorial (antar daerah maupun antar negara)