• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V. Kesimpulan dan Saran V.1. Kesimpulan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab V. Kesimpulan dan Saran V.1. Kesimpulan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

V.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah :

1. pemberian HPL atas nama PT.PELINDO II Cabang Panjang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku yaitu PMDN Nomor 6 Tahun 1972 Jo. PMDN No. 5 Tahun 1973 dan PMNA/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1999 Jo PMNA/Kepala BPN Nomor 9 Tahun 1999, dengan konsekuensi hapusnya HPL tersebut.

2. dengan bantuan Citra Ikonos, dapat diperoleh informasi mengenai kondisi eksisting penguasaan dan penggunaan yang hasilnya menunjukkan bahwa tanah HPL PT. PELINDO II Cabang Panjang tidak semuanya dikuasai pemegang hak melainkan sebagian diantaranya dikuasai warga masyarakat untuk pemukiman. Dengan kondisi tersebut, PT. PELINDO II Cabang Panjang telah melanggar ketentuan pasal 15 dan 52 ayat 1 UUPA yaitu kewajiban bagi pemegang hak atas tanah untuk memelihara tanah dan pasal 27, 34 dan 40 UUPA yaitu kewajiban untuk tidak menelantarkan tanahnya, dengan konsekuensi dibatalkannya hak atas tanah tersebut.

3. konflik yang terjadi antara antara PT. PELINDO II Cabang Panjang dengan warga masyarakat bersumber dari adanya perbedaan kepentingan untuk memperoleh sumber daya yang sama yaitu tanah, berbentuk terbuka yang berakar dalam dan sangat nyata. Konflik mempunyai kompleksitas tinggi dengan melibatkan lebih dari dua pemangku kepentingan yaitu PT. PELINDO II Cabang Panjang, masyarakat, BPN dan Pemerintah Kota Bandar Lampung, memiliki dampak besar bagi lingkungan fisik dan lingkungan sosial, sulit untuk diselesaikan dan mempunyai frekuensi kejadian tinggi dengan lebih dari 40 surat pengaduan formal dan 5 kali negosiasi.

4. bentuk penyelesaian konflik antara PT. PELINDO II Cabang Panjang dengan warga masyarakat adalah melalui cara alternatif penyelesaian sengketa (alternative disputes resolution) dalam bentuk pengaduan formal ke berbagai instansi terkait dan negosiasi. Hasil negosiasi adalah berupa tawaran dari PT. PELINDO II Cabang Panjang kepada masyarakat untuk membuat perjanjian

(2)

penggunaan bagian tanah HPL dengan tarif sewa Rp. 0,-, tetapi tawaran tersebut ditolak masyarakat.

5. Rumusan penyelesaian konflik penguasaan dan pemilikan tanah antara PT.PELINDO II Cabang Panjang dengan warga masyarakat Kelurahan Pidada Kecamatan Panjang dan Kelurahan Way Lunik Kecamatan Telukbetung Selatan yaitu status hak atas tanah yang dikuasai warga masyarakat harus dikuatkan menjadi hak milik dengan alasan :

a. pemberian HPL atas nama PT.PELINDO II Cabang Panjang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku;

b. berdasarkan kondisi eksisting, sebagian tanah HPL PT.PELINDO II Cabang Panjang dikuasai masyarakat untuk perumahan;

c. penguasaan tanah oleh masyarakat telah dilakukan lebih dari 30 tahun; d. adanya legalisasi pemerintah terhadap eksistensi masyarakat beupa

fasilitas umum dan sosial serta dijaminnya hak dan kewajiban masyarakat e. RTRW pada lokasi konflik untuk pengembangan pemukiman, sehingga

berdasarkan Perpres Nomor 36 Tahun 2005 Jo. 64 Tahun 2006 serta Peraturan Kepala BPN Nomor 3 Tahun 2007 terhadap tanah tersebut tidak bisa dipergunakan untuk pengadaan tanah bagi kepentingan umum, khususnya pelabuhan.

f. Walikota Bandar Lampung melalui surat nomor 590/501/10/2002 tanggal 24 April 2002 yang ditujukan kepada PT. PELINDO II Jakarta merekomendasikan agar PT. PELINDO II melepaskan sebagian HPL yang dikuasai warga masyarakat dan untuk perluasan pelabuhan dapat dilakukan reklamasi pantai.

V.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, peneliti memberikan rekomendasi berupa saran-saran penyelesaian sebagai berikut :

1. Mengingat konflik antara PT.PELINDO II Cabang Panjang dengan warga masyarakat berbentuk konflik terbuka dengan intensitas dan kompleksitas yang tinggi, maka upaya penyelesaian konflik tersebut tidak cukup dengan

(3)

2. Mediasi untuk menyelesaikan konflik penguasaan dan pemilikan tanah antara PT. PELINDO II Cabang Panjang dengan warga masyarakat harus dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) dalam konflik tersebut yaitu Pemerintah Kota Bandar Lampung, Pemerintah Propinsi Lampung dan Badan Pertanahan Nasional.

3. Penyelesaian konflik melalui keterlibatan pemerintah sebagai mediator sangat diperlukan, sehingga konflik tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan memuaskan para pihak yang berkonflik (win-win solution), karena dengan cara tersebut diharapkan konflik dapat diatasi dan tidak berkembang menjadi kekuatan yang destruktif.

4. Apabila penyelesaian konflik melalui mediasi gagal dilakukan, agar penyelesaian konflik diselesaika melalui jalur hukum (pengadilan).

(4)

DAFTAR PUSTAKA

Bhumibhakti, 2006, Edisi X No. 10, Badan Pertanahan Nasional, Jakarta

Dale, PF. and Mc.Laughlin, JD, 1999, Land Administration, Oxford University, New York

______________________, 1988, Land Information Management, Oxford Clarendon Press, New York

Emirzon, Joni, 2001, Alternatif Penyelesaian Sengketa Diluar Pengadilan (Negosiasi, Mediasi, Konsoliasi dan Arbitrasi), Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Gautama, Sudargo,1996, Aneka Hukum Arbitrase (Ke Arah Hukum Arbitrase Indonesia Yang Baru), PT.Citra Aditya Bakti, Bandung

Hidayati, Deny, dkk, 2005, Manajemen Konflik Stakeholders Delta Mahakam, LIPI, Jakarta

Hidayat, Herman, 2006, Potensi Konflik Pemerintah Pusat dan Daerah dalam Pengelolaan Taman nasional Era Otonomi Daerah, LIPI, Jakarta

Hutagalung, Arie.S, 2005, Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, Penerbit Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia, Jakarta

Harsono, Boedi, 1997, Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Penerbit Djambatan, Jakarta

Jamil, Mukhsin, 2007, Mediasi dan Resolusi Konflik, Walisongo Mediation Centre IAIN Walisongo, Semarang

Murad, Rusmadi, 2007, Menyingkap Tabir Masalah Pertanahan, CV. Mandar Maju, Bandung

Novyanti, Atty, 2003, Pemulihan dan Perlindungan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagai Salah Satu Asset Negara yang Dikuasai oleh Pihak yang Tidak Berhak, Program Pasca Sarjana, Universitas Padjadjaran, Bandung Parlindungan, AP, 1994, Bunga Rampai Hukum Agraria Serta Land Reform Bagian

III, CV. Mandar Maju, Bandung

Parlindungan, AP, 1989, Hak Pengelolaan Menurut Sistem UUPA, CV. Mandar Maju, Bandung

Republik Indonesia. 1960. Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Lembaran Negara RI Tahun 1960 No. 104,

(5)

Republik Indonesia. 1985, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun, Jakarta

Republik Indonesia. 1965, Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965 tentang Pelaksanaan Konversi Hak Penguasaan Atas Tanah dan Ketentuan-Ketentuan Tentang Kebijaksanaan selanjutnya, Jakarta

Republik Indonesia. 1966, Peraturan Menteri Agraria No. 1 Tahun 1966 tentang Pendaftaran Hak Pakai dan Hak Pengelolaan, Jakarta

Republik Indonesia. 1972, Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 Tahun 1972 tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Hak Atas Tanah

Republik Indonesia. 1973, Peraturan Menteri Dalam Negeri No.5 Tahun 1973 tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pemberian Hak Atas Tanah, Jakarta

Republik Indonesia. 1977, Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1977 tentang Tata Cara Permohonan dan Penyelesaian Pemberian Hak Atas Bagian-Bagian Tanah Hak Pengelolaan, Jakarta

Republik Indonesia. 1996, Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah, Jakarta Republik Indonesia. 1997, Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang

Pendaftaran Tanah, Jakarta

Republik Indonesia. 1999, Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian dan Pembatalalan Keputusan Hak Atas Negara, Jakarta

Republik Indonesia. 1999, Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan, Yakarta Republik Indonesia, 2007, Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 34

Tahun 2007, Petunjuk Teknis Penanganan dan Penyelesaian Masalah Pertanahan Jakarta

Saleh, Luluk, 2004, Dinamika Sosial dari Pengendalian Hukum terhadap Konflik di Bidang Pertanahan, Widya Yuridika, Malang

(6)

Siregar, M.Abduh Rizali, 2002, Penyelesaian Konflik Pertanahan antara PTPN II dengan Masyarakat di Kabupaten Deli Serdang, Program Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran, Bandung

Sumardji, 2000, Eksistensi, Pendaftaran dan Pembebanan Hak Pengelolaan, Yuridika, Volume 15 Nomor 1, Januari.

Sumardjono, Maria. SW, 2006, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi dan Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta

Sumardjono, Maria. SW, 2008, Tanah dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial dan Budaya, Penerbit Buku Kompas, Jakarta

Soemartono, Gatot, 2006, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Samudji, Ach, 2007, Konflik atas Tanah Mbaon Desa Senggreng, Sumber Pucung, Malang Selatan Dilihat dari Perspektif Hukum, Jurnal Hukum YARSI, Vol.4, Jakarta

Sekarmadji, Agus, dkk., 2001, Kebijaksanaan Pemerintah Mengenai Pemberian Hak Atas Bagian Tanah Hak Pengelolaan, Lembaga Penelitian Universitas Airlangga, Surabaya

Supriadi, 2006, Hukum Agraria, Sinar Grafika, Jakarta

Usman, Rachmadi, 2003, Pilihan Penyelesaian Sengketa Diluar Pengadilan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung

(7)

Referensi

Dokumen terkait

dilakukan oleh anak-anak. Aktivitas bermain adalah kebutuhan penting bagi anak-anak untuk proses tumbuh kembang, dan dunia anak adalah identik dengan dunia

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian jus kombinasi jahe ( Zingiber officinale rosc. ), bawang bombai ( Allium cepa L.), jeruk mandarin (Citrus reticulata

Pasal 5 ayat (1) Peraturan Walikota Bandung Nomor 354 Tahun 2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 13 Tahun 2012 tentang

Tsongkhapa, dikenal dengan Musik Menyenangkan Samudera Pelindung, sebuah penjelasan atas pujian dari Penguasa Mandala Ratusan Keluarga, Refuge Utama Mulia dan Sempurna, pekerjaan

Dari hasil identifikasi terhadap 88 Gapoktan di Kabupaten Kulon Progo yang mempunyai potensi SDM, sarana dan prasarana serta potensi produksi terdapat 17 Gapoktan

Vektor satuan adalah vector yang besarnya atau panjangnya satu satuan.vektor satuan dapat ditentukan dengan cara membagi vector tersebut dengan panjang vector semula.Misalnya e

Keputusan konsumen untuk menginap tergolong tinggi, walaupun indikator tingkat prioritas Serrata Hotel sebagai pilihan menginap dan keinginan responden

Siswa dengan gaya belajar kinestetik mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibanding siswa dengan gaya belajar auditorial, (3) Pada model