• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN MATEMATIKA AKTIF DAN INTERAKTIF DALAM PENGEMBANGAN SIKAP SOSIAL ANAK AUTIS DI SLB FREDOFIOS - UMBY repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PEMBELAJARAN MATEMATIKA AKTIF DAN INTERAKTIF DALAM PENGEMBANGAN SIKAP SOSIAL ANAK AUTIS DI SLB FREDOFIOS - UMBY repository"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pembelajaran Matematika

1. Belajar

Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit. Kegiatan atau tingkah laku belajar terdiri atas kegiatan psikis dan fisis yang saling bekerjasama secara terpadu dan komprehensif integral. Sejalan dengan itu Komara (2014:1) belajar dapat dipahami sebagai suatu aktivitas yang berusaha dan berlatih supaya mendapat suatu kepandaian.

Morgan (Thobroni dan Mustofa, 2013:20) belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Sedangkan Travers (Suprijono, 2009:2) berpendapat, belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku. Menurut Komara (2014:1), para ahli psikologi dan guru-guru pada umumnya memandang belajar sebagai kelakuan yang berubah, pandangan ini memisahkan pengertian tegas antara pengertian proses belajar dengan kegiatan hapalan.

(2)

11

Beberapa psikologi humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang, untuk lebih baik, dan juga belajar. Jadi sekolah harus berhati-hati supaya tidak membunuh insting ini dengan memaksakan anak belajar sebelum mereka siap. Bukan hal yang benar apabila anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara fisiologis dan juga punya keinginan.

Kedua, teori belajar behavioristik (Komara, 2014:7).

Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi anatara stimulus dan respons. Sedangkan apa yang terjadi diantara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons.

Zarkasyi (2017:29) menyatakan teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya memposisikan siswa yang belajar sebagai individu yang pasif, tidak kreatif, tidak produktif, serta cenderung mengarah siswa untuk berpikir linier dan konvergen. Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat, dan perasaan individu dalam suatu aktivitas belajar.

Ketiga, Teori Disiplin Mental (Komara, 2014:9).

(3)

12

Berdasar dari berbagai pandangan sejumlah ahli tersebut mengenai belajar, meskipun diantara para ahli tersebut ada perbedaan mengenai pengertian belajar, namun baik secara ekplisit maupun implisit terdapat kesamaan makna, yaitu dapat dimengerti bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu. Hal tersebut berarti belajar itu membawa perubahan tingkah laku karena pengalaman dan latihan, perubahan itu pada pokoknya hal yang disengaja.

2. Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Komara (2014:30), pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.

(4)

13

Pembelajaran sebagai suatu sistem yang komponen-komponennya terdiri dari: (1) siswa; (2) guru; (3) tujuan; (4) materi; (5) metode; (6) sarana/alat; (7) evaluasi; (8) lingkungan/konteks. Masing-masing komponen itu sebagai bagian yang berdiri sendiri, namun dalam berproses di kesatuan sistem mereka saling bergantung dan bersama-sama untuk mencapai tujuan. komponen-komponen pembelajaran dapat dijabarkan sebagai berikut (Komara, 2014:35-37).

a. Siswa adalah individu yang unik, mereka merupakan kesatuan psiko-fisis yang secara sosiologis berinteraksi berinterakai dengan teman sebaya, guru, pengelola sekolah, pegawai administrasi, dan masyarakat pada umumnya. Potensi dan kemampuan inilah yang harus dikembangkan oleh guru.

b. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Menurut Usman ada 4 peran guru dalam pembelajaran, yaitu (1) sebagai demonstrator, lecturer (pengajar), (2) sebagai pengelola kelas, (3) sebagai mediator dan fasilitator, dan (4) sebagai motivator.

(5)

14

d. Materi pembelajaran dalam arti luas tidak hanya yang tertuang dalam buku paket yang diwajibkan, akan tetapi mencakup keseluruhan materi pembelajaran. Semua materi pembelajaran harus diorganisasikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh anak. Materi disusun berdasarkan tujuan dan karakteristik siswa.

e. Metode mengajar merupakan cara atau teknik penyampaian materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru. Metode mengajar ditetapkan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran, serta karakteristik anak. Agar pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa, maka dalam proses belajar mengajar digunakan alat pembelajaran. Alat pembelajaran dapat berupa benda yang sesungguhnya, imitasi, gambar, bagan, grafik, tabulasi, dan sebagainya yang dituangkan dalam media.

f. Evaluasi dapat digunakan untuk menyusun graduasi kemampuan anak didik, sehingga ada penanda simbolik yang dilaporkan kepada semua pihak. Evaluasi dilaksanakan secara komprehansif, obyektif, kooperatif dan efektif. Evaluasi dilaksanakan berpedoman pada tujuan dan materi pembelajaran.

(6)

15

kepercayaan pada sebagai suatu sistem yang komponen-komponennya terdiri dari: siswa, guru, tujuan, materi, metode, sarana/alat, evaluasi, dan lingkungan/konteks. Masing-masing komponen itu sebagai bagian yang berdiri sendiri, namun dalam berproses di kesatuan sistem mereka saling bergantung dan bersama-sama untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

3. Matematika

Matematika berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani, matematike, yang berarti “relating to learning”. Perkataan ini mempunyai akar kata mathema yang berarti knowledge, science (pengetahuan, ilmu). Hudojo (2003:36) mengemukakan bahwa matematika itu berkenaan dengan gagasan berstruktur yang hubungan-hubungannya diatur secara logis. Ini berarti matematika bersifat sangat abstrak. Yaitu berkenaan dengan konsep-konsep abstrak dan penalaran deduktif.

(7)

16 Menurut Ruseffendi (Suherman, 2003:16):

Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Pada tahap awal matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, karena matematika sebagai aktivitas manusia kemudian pengalaman itu diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep matematika. Agar konsep-konsep matematika yang telah terbentuk itu dapat dipahami dan dapat dengan mudah dimanipulasi secara tepat, maka digunakan notasi dan istilah yang disepakati bersama secara global (universal) yang dikenal dengan istilah matematika.

Berdasarkan pendapat para ilmuwan tersebut, dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu pengetahuan yang terorganisasi secara sistematis dan mencakup penalaran atau logika, bilangan, aljabar, geometri, yang mana menggunakan metode deduktif dalam pembuktian kebenarannya, serta dapat membantu mempelajari ilmu bidang lain. konsep matematika menggunakan notasi dan istilah yang disepakati bersama secara global.

Pembelajaran merupakan proses interaksi kegiatan belajar atau proses perolehan ilmu dan pengetahuan ataupun pembentukan sikap dan kepercayaan. Dan matematika adalah ilmu pengetahuan yang terorganisasi secara sistematis dan mencakup penalaran atau logika. Maka pembelajaran matematika dapat diartikan proses interaksi kegiatan belajar atau proses perolehan ilmu dan pengetahuan yang terorganisasi secara sistematis dan mencakup penalaran atau logika.

(8)

17

pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek.

Menurut Cobb (Suherman, 2003:71) pembelajaran matematika sebagai proses pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika. Hakikat pembelajaran matematika adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seseorang (si pelajar) melaksanakan kegiatan belajar matematika dan pembelajaran matematika harus memberikan peluang kepada siswa untuk berusaha dan mencari pengalaman tentang matematika.

B. Pembelajaran Matematika Aktif

Aktif maksudnya melakukan aktifitas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aktif diartikan giat (bekerja, berusaha), mampu beraksi dan bereaksi. Kemudian pembelajaran aktif secara sederhana didefinisikan oleh Warsono (2016:12) sebagai metode pengajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran aktif mengkondisikan agar siswa selalu melakukan pengalaman belajar yang bermakna dan senantiasa berfikir tentang apa yang dapat dilakukannya selama proses pembelajaran.

Hornby (Syah dan Kariadinata, 2009:13) mengatakan secara harfiah pembelajaran aktif adalah “in the habit of doing things, energetic”, maksudnya :

(9)

18

Dapat dimengerti dari beberapa pendapat mengenai pembelajaran aktif, merupakan pembelajaran atau proses belajar siswa yang secara energik, melakukan aktifitas bermakna dan senantiasa berfikir untuk membangun pengetahuannya. Di sini siswa atau peserta didik adalah pusat dari pembelajaran tersebut, sedangkan guru atau pendidik hanya sebagai fasilitator, seorang pendamping yang memfasilitasi pembelajaran tersebut, mulai dari menciptakan suasana belajar hingga siswa mampu membangun gagasannya.

Menurut Charles C. Bonwell dan J.A Eison (Warsono, 2016:14) seluruh bentuk pengajaran yang berfokus kepada siswa sebagai penanggung jawab pembelajaran adalah pembelajaran aktif. Jadi, menurut kedua ahli tersebut, pembelajaran aktif mengacu kepada pembelajaran berbasis siswa (student-centered learning).

1. Konsep Pembelajaran Aktif

Membahas tentang definisi pembelajaran aktif, maka harus pula mengenal konsepnya. Konsep pembelajaran aktif berkembang setelah sejumlah institusi melakukan riset tentang lamanya ingatan siswa terhadap materi pembelajaran yang dipergunakan. Hasil riset dari National Training Laboratories tahun 1954 di Bethel, Maine, Amerika Serikat. Menunjukkan bahwa dalam kelompok belajar berbasis guru (teacher-centeral learning) mulai dari ceramah, tugas membaca, presentasi guru dengan audiovisual dan bahkan demonstrasi oleh guru, siswa hanya dapat mengingat materi pembelajaran maksimal sebesar 30%.

(10)

19

siswa dapat mengingat sebanyak 50%. Jika para siswa diberi kesempatan melakukan sesuatu (doing something) mereka dapat mengingat 75%. Edgar Dale (Warsono, 2016:13) dalam hubungan hal di atas memaparkan hasil temuan penelitiannya pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Ingatan Terhadap Pembelajaran Dikaitkan dengan Jenis Presentasi

Presentasi

Kemampuan Mengingat

Setelah

3 jam

Setelah

3 hari

Ceramah 25% 10-20%

Tertulis (membaca) 72% 10%

Visual dan verbal (pengajaran memakai

ilustrasi) 80% 65%

Partisipatori (bermain peran, studi kasus,

praktik) 90% 70%

Jika melihat hasil penelitian Dale tersebut, presentasi visual dan verbal, maupun Partisipator, siswa mampu mengingat lebih baik, terlihat dalam persentase hasil. Terkait dengan konsep melakukan (doing), Joyce Shower (Warsono, 2016:14) dalam Journal of Education menyatakan antara lain tertera dalam tabel yang telah diadaptasi berikut ini.

Tabel 2.2 Transfer Pembelajaran dari Instruktur kepada Siswa

Komponen Pelatihan Keterampilan yang Diperoleh

Transfer ke Dunia

Kerja

Teori + 10-20% 5-10%

Demonstrasi + 30-35% 5-10%

Praktik + 60-70% 5-10%

Umpan Balik + 70-80% 10-20%

(11)

20

Terlihat dari hasil temuan Joyce dan Showers tersebut betapa bermaknanya doing dengan pelatihan, baik dalam pembentukan keterampilan maupun

kebermaknaan dalam transfernya di dunia kerja. Dengan melakukan sesuatu dalam pelatihan, kemungkinan transfernya meningkat sekitar 4 (empat) kali lipat. 2. Metode Pembelajaran Aktif

Metode pembelajaran dapat diartikan cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai teknik dan sumber belajar. Maka metode pembelajaran aktif merupakan cara memanfaatkan teknik dan sumber belajar untuk membuat kegiatan belajar secara aktif.

Perlu dipahami kontinum pemikiran mulai dari pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode, model pembelajaran, serta teknik pembelajaran. Suyono dan Hariyanto (Warsono, 2016:34) mencoba menyampaikan urutan logis berbagai terminologi sebagai dinyatakannya dalam tebel berikut.

Tabel 2.3 Ikhtiar Terminologi Pembelajaran (Warsono, 2016:35-36)

No Terminologi Deskripsi Contoh Ket

(12)

21

No Terminologi Deskripsi Contoh Ket

2 Strategi pembelajaran Rangkaian kegiatan terkait dengan pengelolaan siswa, pengelolaan lingkungan belajar, pengelolaan sumber belajar, dan penilaian untuk mencapai tujuan pembelajaran Colin Marsh hanya menetapkan dua macam strategi, yakni teacher-centered dan student-centered

(13)

22

No Terminologi Deskripsi Contoh Ket

4 Model pembelajaran Model yang dipilih dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pem-belajaran dan dilaksanakan dengan suatu sintaks (langkah-langkah yang sistematis dan urut) tertentu* 5 Teknik

pembelajaran

Implementasi metode pem-belajaran yang secara nyata berlangsung di dalam kelas, merupakan kiat atau taktik untuk mencapai tujuan pembelajaran Teknik percobaan berujung terbuka pada metode eksperimen (open-ended experiment), teknik deduktif, teknik induktif* Merupakan penjabaran dari strategi pembelajaran

(14)

23

Variasi pokok metode pembelajaran aktif, menurut Michael Prince (Warsono, 2016:15-16) diwujudkan dalam pembelajaran kolaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah dan proyek (PBL dan PjBL). Dapat dilihat pada gambar 2.1. Dan terdapat kontinum mulai dari pendekatan, menuju strategi kemudian menuju ke metode, dapat dimodifikasi dapat dilihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.1 Klasifikasi Pembelajaran Aktif

Klasifikasi pembelajaran aktif pada gambar menunjukan terdapat dua jenis pembelajaran aktif. Pertama, non kolaboratif mencirikan pembelajaran individual. Siswa belajar aktif dengan secara individu. Sedangkan yang kedua, kolaboratif lebih menekan pada jenis pembelajaran bersama. Terdapat beberapa jenis dengan pembelajaran kolaboratif, diantaranya: metode kooperatif, PBL, dan PjBL.

Pendekatan Strategi Metode

Gambar 2.2 Kontinum Pembelajaran Aktif

Jumlah siswa dalam pembelajaran aktif bebas, boleh perseorangan atau kelompok belajar, yang penting siswa harus aktif, sedangkan manifestasinya dalam pembelajaran berkelompok dapat diwujudkan dengan metode pembelajaran kolaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, dan

Pembelajaran aktif

Non

Kolaboratif

Kerjasama: kolaboratif, kooperatif, PBL, dan PjBL

(15)

24

pembelajaran berbasis proyek. Oleh sebab itu, tidak ada sintaks (urutan) khusus pembelajaran aktif, bergantung pada metode yang dipilih lebih lanjut.

3. Teknik Pembelajaran Aktif

Teknik pembelajaran aktif secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu aktif non kolaboratif dan aktif kolaboratif. Dalam hal ini, peneliti hanya akan membahas teknik pembelajaran aktif non kolaboratif. Teknik pembelajaran aktif individual (non kolaboratif) menurut Donald R. Paulson dan Jennifer L. Faust (Warsono, 2016:34) dapat diterapkan dengan mudah karena misalnya saja tidak memerlukan pengaturan kembali ruang kelas, atau pengaturan terhadap aliran proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Teknik-teknik ini jika diimplementasikan, pemahaman dan adaya ingat para siswa terhadap materi ajar akan lebih baik. Teknik-teknik pembelajaran aktif bergantung kepada skenario pembelajaran yang dirancang oleh guru.

Berbagai teknik ini merupakan teknik pembelajaran yang secara umum tidak memerlukan waktu yang lama, sampai menghabiskan satu jam tatap muka. Oleh sebab itu pada implementasinya, guru dapat saja menggabungkan berbagai teknik ini dalam suatu kesempatan pembelajaran. Berikut teknik-teknik pembelajaran aktif individu (Warsono, 2016:36-37):

(16)

25

melakukan tanggapan terhadap bahan ajar. Guru meminta siswa mengeluarkan kertas kosong, lalu memberikan pertanyaan yang akan dijawab oleh siswa dengan waktu satu menit.

b. Teknik pembelajaran butir terjelas (Clearest point). Teknik ini adalah variasi dari teknik one minute paper, teknik ini memberikan waktu yang lebih longgar (relatif lebih lama).

c. Teknik pembelajaran tanggapan aktif (Active response). Teknik ini mirip dengan kedua teknik di atas. Siswa akan diminta untuk memberi tanggapan mengenai pembelajaran yang telah berlangsung sebelumnya. 4. Langkah-langkah Pembelajaran Aktif

Terdapat lima macam langkah-langkah (steps) pembelajaran atau sintaks Direct Instruction (Warsono, 2016:27-29):

a. Siegfried Engelmann menyatakan 6 langkah pembelajaran sebagai berikut. 1) Introduksi atau mengulang kembali (Introduction or Review).

2) Pengembangan (Development). 3) Latihan terbimbing (Guided practice). 4) Simpulan (Closure).

5) Latihan mandiri (Independent practice). 6) Evaluasi (Evaluation).

b. Joyce, Weil dan Calhoun menyatakan langkah-langkah Direct Instruction sebagai berikut.

(17)

26 3) Latihan terstruktur (Structured practice). 4) Latihan terbimbing (Guided practice). 5) Latihan mandiri (Independent practice).

c. Eggen dan Kauchak menampilkan fase pembelajaran (keduanya tidak menyebutkan sintaks) Direct Instruction lebih sederhana, yaitu.

1) Introduksi (Introduction). 2) Presentasi (Presentation).

3) Latihan terbimbing (Guided practice). 4) Latihan mandiri (Independent practice).

d. Arens sepertinya yang banyak dijadikan referensi di Indonesia, berpendapat sintaks Direct Instruction adalah sebagai berikut.

1) Merumuskan tujuan pembelajaran dan menyiapkan siswa untuk siap belajar.

2) Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan. 3) Menyediakan latihan terbimbing.

4) Mengontrol pemahaman dan memberikan umpan balik.

5) Menyiapkan latihan yang diperluas dan transfer ke dalam situasi yang lebih kompleks dan kehidupan nyata.

e. Menurut Martin A. Kozloff et.al Direct Instruction sebagai berikut.

1) Melakukan telaah dan pemeriksaan kembali terhadap karya/ pembelajaran terdahulu.

(18)

27

3) Mempersiapkan panduan bagi praktik pembelajaran.

4) Memberikan umpan balik dan koreksi-koreksi yang relevan. 5) Melakukan supervisi secara bebas terhadap para siswa.

6) Melakukan telaah terhadap konsep-konsep pada setiap minggu atau setiap bulan.

Artikulasi wacana di atas adalah suatu sintaks untuk metode atau model pembelajaran yang sama dapat berbeda-beda bergantung kepada para ahli yang mengemukakannya. Dengan kata lain, perlu ditegaskan bahwa suatu sintaks yang diungkapakan oleh seorang pakar tidak harus diikuti karena bersifat subjektif. C. Pembelajaran Matematika Interaktif

Interaktif menurut KBBI adalah bersifat saling melakukan aksi, antar-hubungan, dan atau saling aktif. Komara (2014:42) mendefinisikan pembelajaran interaktif adalah suatu cara atau teknik pembelajaran yang digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pembelajaran dimana guru pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.

(19)

28

Pembelajaran matematika aktif merupakan pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran aktif. Serupa dengan hal tersebut, maka pembelajaran matematika interaktif yang dimaksud di sini adalah pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran interaktif.

1. Karakteristik Pembelajaran Interaktif

Pembelajaran interaktif mempunyai 2 (dua) karakteristik seperti dijelaskan oleh Sagala (Komara, 2014:67-68), yaitu: (1) dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya menuntut siswa sekedar mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas dalam proses berpikir; (2) dalam pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.

(20)

29 2. Syarat Pembelajaran Interaktif

Syarat model pembelajaran interaktif dikemukakan oleh Ahmad Sabri (2005:40), antara lain: (1) dapat membangkitkan motivasi, minat atau gairah belajar siswa, (2) dapat meransang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, (3) dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberikan tanggapannya terhadap materi yang disampaikan, (4) dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa, (5) dapat mendidik siswa dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi, (6) dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Balen (Komara, 2014:42), pengembangan keterampilan yang harus dimiliki siswa adalah keterampilan berpikir, keterampilan sosial dan keterampilan praktis. Ketiga keterampilan tersebut dapat dikembangkan dalam situasi belajar mengajar yang interaktif antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Komara (2014:42) menyebutkan peran guru merupakan hubungan erat dengan cara mengaktifkan siswa dalam hal belajar, terutama dalam proses pengembangan keterampilan tersebut.

3. Metode Pembelajaran Interaktif

(21)

30

Pembelajaran interaktif, guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis dan didaktis (mendidik) secara bersamaan. Caranya guru dengan menggunakan pendekatan pemberian pemahaman kepada siswa, pemberian informasi dan pendekatan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi oleh siswa (Komara, 2014:78).

4. Langkah-langkah Pembelajaran Interaktif

Berikut langkah-langkah pembelajaran interaktif berdasar beberapa jenis atau macam pembelajaran interaktif di atas (Komara, 2014:47-48):

a. Student Facilitator and Explaining

Adapun langkah-langkah yang harus dipersiapkan sebagai berikut. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai, guru mendemonstrasikan/ menyajikan materi, memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya misal melalui bagan/peta konsep, guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa, guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu, penutup.

b. Demonstration.

(22)

31

mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan, dan guru membuat kesimpulan.

c. Exlicit Instruction

Pembelajan langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan procedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. Langkah-langkah sebagai berikut. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. Mendemonstrasi-kan pengetahuan dan keterampilan, membimbing pelatihan, mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, memberikan kesempatan uantuk latihan lanjutan.

D. Pengembangan Sikap Sosial

Pengembangan sikap sosial merupakan upaya yang dilakukan guna proses menuju tingkat kematangan atau kedewasaan dalam hal perbuatan nyata untuk bertingkah laku dengan cara tertentu secara sadar, terhadap orang lain dan mementingkan tujuan-tujuan sosial daripada tujuan pribadi dalam kehidupan masyarakat. Secara terperinci dapat peneliti jelaskan sebagai beriku.

1. Pengembangan

(23)

32

merupakan suatu proses perubahan baik fisik maupun psikis menuju tingkat kematangan dan kedewasaan. Dapat dimengerti pengembangan adalah upaya yang dilakukan untuk proses perubahan menuju tingkat kematangan.

2. Sikap Sosial

Krech dan Crutchfield (Ardyanto, 2009:137) mendefinisikan sikap sebagai organisasi yang bersifat menetap dari proses motivasional, emosional, perseptual, dan kognitif mengenai beberapa aspek dunia individu. Kemudian Allport (Ardyanto, 2009:137) berpendapat bahwa, sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan, diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan. Sependapat dengan hal tersebut, Harvery dan Smith (Ahmadi, 2007:150) yang menyatakan, sikap merupakan kesiapan merespon secara konsisten dalam bentuk positif atau negatif terhadap objek atau situasi.

Atkinson dkk (Taufiq, 2008:371) mengemukakan “sikap meliputi rasa suka dan tidak suka; mendekati atau menghindari situasi, benda, orang, kelompok; dan aspek lingkungan yang dapat dikenal lainnya, termasuk gagasan abstrak, dan

kebijakan sosial”. Ahmadi (2007:151-152) mengemukakan bahwa Traves, Gagne,

dan Cronbach sependapat sikap melibatkan 3 aspek atau komponen yang saling berhubungan yaitu:

(24)

33

b. Aspek afektif yaitu menunjuk pada dimensi emosional dari sikap, emosi yang berhubungan dengan objek berwujud proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentu seperti senang, tidak senang, ketakutan, kedengkian, simpati, dan sebagainya.

c. Aspek konatif yaitu melibatkan salah satu predisposisi/kecenderungan untuk bertindak terhadap objek.

Dari beberapa definisi tentang sikap yang telah disebutkan para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah perbuatan nyata dan perbuatan-perbuatan yang mungkin akan terjadi dalam kegiatan-kegiatan dengan kesadaran individu tersebut, kaitannya dalam merespon dan memberikan respon ke lingkungan.

Chaplin (Kartono, 2006:469) mendefinisikan sikap sosial (social attitudes) yaitu (1) satu predisposisi atau kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu terhadap orang lain; (2) satu pendapat umum; dan (3) satu sikap yang terarah kepada tujuan-tujuan sosial, sebagai lawan dari sikap yang terarah pada tujuan-tujuan prive (pribadi). Sosial adalah lingkungan dan sikap adalah cara bertingkah laku, kegiatan yang secara sadar dilakukan oleh individu.

(25)

34

(banyak orang dalam kelompok) dan dinyatakan berulang-ulang. Misalnya sikap masyarakat terhadap bendera kebangsaan, mereka selalu menghormatinya dengan cara khidmat dan berulang-ulang pada hari-hari nasional di negara Indonesia. Contoh lainnya sikap berkabung seluruh anggota kelompok karena meninggalnya seorang pahlawannya.

Dari beberapa definisi yang telah disebutkan para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sikap sosial adalah perbuatan nyata untuk bertingkah laku dengan cara tertentu secara sadar, terhadap orang lain dan mementingkan tujuan-tujuan sosial daripada tujuan-tujuan pribadi dalam kehidupan masyarakat. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah menunjukkan sikap terbuka pada teman, membentuk pendapat secara jelas, melakukan sesuatu dengan kerjasama, menunjukkan sikap peduli kepada teman, merasakan apa yang dirasakan teman, membangun suasana yang komunikatif, melaksanakan tanggung jawab, mendengarkan pendapat teman, menghargai orang lain, dan menunjukkan sikap suka menolong teman.

Sikap tidak akan terbentuk tanpa interaksi manusia terhadap suatu objek tertentu. Seperti yang dikemukakan Baron dan Byrne (Djuwita, 2009:123-126)

yang menyebutkan “salah satu sumber penting yang dapat membentuk sikap yaitu

dengan mengadopsi sikap orang lain melalui proses pembelajaran sosial”.

(26)

35

a. Classical conditioning yaitu pembelajaran berdasarkan asosiasi, ketika sebuah stimulus muncul berulang-ulang diikuti stimulus yang lain, stimulus pertama akan dianggap sebagai tanda munculnya stimulus yang mengikutinya.

b. Instrumental conditioning yaitu belajar untuk mempertahankan pandangan

yang benar.

c. Observational learning yaitu pembelajaran melalui observasi/belajar dari contoh, proses ini terjadi ketika individu mempelajari bentuk tingkah laku atau pemikiran baru dengan mengobservasi tingkah laku orang lain.

d. Perbandingan sosial yaitu proses membandingkan diri dengan orang lain untuk menentukan pandangan kita terhadap kenyataan sosial benar atau salah.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan sikap sosial (Ahmadi, 2007:157-158), yaitu:

a. Faktor Intern

Yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh dari luar yang biasanya disesuaikan dengan motif dan sikap di dalam diri manusia, terutama yang menjadi minat perhatian. b. Faktor Ekstern

(27)

36 3. Skala Perkembangan Sosial

Vineland Social Maturity Scale (V-SMS) adalah instrumen untuk mengetahui

tingkat perkembangan (kematangan) sosial. Dikembangkan oleh Edgar Arnold Doll. Digunakan untuk usia 0-25 tahun. Aspek-aspek kematangan sosial anak yang diungkap dari instrumen VSMS antara lain:

a. Self help general (SHG), yaitu kemampuan menolong diri sendiri secara umum.

b. Self help dressing (SHD), yaitu kemampuan menolong diri sendiri dalam hal berpakaian.

c. Self help eating (SHE), yaitu kemampuan menolong diri sendiri dalam hal makan.

d. Self Direction (SD), yaitu kemampuan memerintah atau memimpin diri sendiri.

e. Occupation (O), yaitu kemampuan dalam mengerjakan sesuatu yang

menghasilkan karya.

f. Communication (C), yaitu kemampuan berkomunikasi.

g. Locomotion (L), yaitu kemampuan dan keberanian untuk bergerak atau pergi ke suatu tempat.

h. Self Socialization (S), yaitu kemampuan untuk bersosialisasi. E. Anak Autis

(28)

37

sosial dan prilaku yang berulang-ulang. Kemudian autistik menurut Hasdianah (2013:93) merupakan:

Gangguan perkembangan yang mempengaruhi beberapa aspek bagaimana anak melihat dunia dan belajar dari pengalamannya. Biasanya anak-anak ini kurang minta untuk melakukan kontak sosial dan tidak ada kontak mata. Selain itu, anak-anak autistik memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dan terlambat dalam perkembangan bicaranya. Ciri lainya Nampak pada perilaku yang stereotype seperti mengepakkan tangan secara berulang-ulang, modar-mandir tidak bertujuan, menyusun benda berderet, dan terpukau terhadap benda yang berputar dan masih banyak lagi ciri anak autistik yang tidak dapat disebutkan di sini karena setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang perkembangan: perkembangan interaksi dua arah, perkembangan interaksi timbal balik, dan perkembangan perilaku. Hingga saat ini kepastian mengenai autisme belum juga terpecahkan. Padahal, perkembangan jumlah anak autis sekarang ini kian mengkhawatirkan. Di Amerika Serikat, perbandingan anak autis dengan yang normal 1:150, sementara di Inggris 1:100, sedangkan di Indonesia belum punya data akurat mengenai itu (Hasdianah, 2013:71).

Para ilmuan (Hasdianah, 2013:71) menyebutkan autisme terjadi karena kombinasi berbagai faktor, termasuk faktor genetik yang dipicu faktor lingkungan. Penyandang autisme menderita gangguan prilaku atau pun otak. Meskipun mereka tidak mampu bersosialisasi, tapi anak autis tidak bodoh.

Ada pemahaman dari sebagian masyarakat yang kurang lengkap tentang anak

autis. Sepertinya ada “sindrome latah” (hyperstartle syndrome (hyperekplexia)

(29)

38

dilabel autistik, anak yang aktif/tidak bisa diam di kelas dilabel autistik dan sebagainya. Sedikit-dikit autis! (Hasdianah, 2013:93).

1. Mengenal Gejala Autis

Autisme harus diketahui sejak dini agar bisa ditangani secepatnya. Diagnonis autisme yang tepat sejak dini sangat membantu mengurangi gejala autisme agar tidak berkembang lebih buruk. Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, dapat digunakan standar internasional tentang autisme. ICD-19 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autisme Infantil

yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah (Meranti, 2013:5-9):

Harus ada sedikitnya 6 gejala dari a, b, dan c, dengan minimal 2 gejala dari a dan masing-masing 1 gejala dari b dan c.

a. Gangguan Kualitatif dalam Interaksi Sosial yang Timbal Balik Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini:

1) Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memandai: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju. 2) Cenderung hidup dalam dunianya sendiri dan tidak bisa bermain dengan

teman sebaya.

3) Tak ada empati dan simpati sehingga tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.

(30)

39

b. Gangguan Kualitatif dalam Bidang Komunikasi

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak autis mengalami gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, salah satunya karena adanya gangguan atau kerusakan pada susunan syaraf pusat. Kelainan yang paling konsisten adalah kelainan pada otak kecil. Bauman (Meranti, 2013:6) menerangkan bahwa bagian tertentu dari otak anak autistic tidak berkembang (underdeveloped) dan tidak matang (immature). Area yang berkembang tidak matang adalah otak kecil (cerebellum), sistem limbic (limbic system) dan brain sistem. Gangguan ini ditunjukkan dengan minimal harus ada 1 dari

gejala di bawah ini:

1) Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang, anak tidak berusaha untuk berkomunikai secara non-verbal.

2) Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi. Ucapan yang keluar dari mulut anak autis lebih pada menyampaikan apa yang ada di otak mereka.

3) Seiring menggunakan bahasa aneh, sukar dimengerti, dan tidak lazim digunakan oleh orang normal. Selain itu, bahasa cenderung disampaikan secara diulang-ulang.

(31)

40

c. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam jangka waktu yang lama. Hal ini biasanya terjadi dalam perilaku, minat, dan kegiatan. Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :

1) Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, seperti gemar memainkan mainan yang sama terus-menerus dalam gerakan berulang-ulang.

2) Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya.

3) Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang, seperti mengepak-ngepakkan tangan, berputar-putar, melompat-lompat dan lain-lain.

4) Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

Sementara itu, gangguan yang terjadi di luar faktor sindroma rett atau gangguan disintegrati masa kanak ini bisa dilihat dari beberapa prilaku, diantaranya:

a. Terjadi perilaku khas dan tidak lazim dilakukan seperti orang lain.

b. Lebih menyukai kehidupan ruang sepi dan kurang menyukai pergaulan dengan orang lain.

c. Dibandingkan dengan mereka yang normal, penderita autis ini cenderung lebih sedikit menghabiskan waktu untuk bermain.

(32)

41

e. Anak autis dapat melakukan aktivitas yang bersifat berpura-pura atau meniru kegiatan yang dilakukan oleh orang lain.

Untuk mengetes anak menderita autisme atau tidak, para orang tua dapat memperlihatkan beberapa foto kepadanya. Dan bila ketika diberikan lagi foto yang sama, dia merasa asing atau tidak mengenalnya, hal itu menunjukkan anak tersebut sudah menyandang autisme. Inilah salah satu sebab mengapa setiap anak autis tidak bisa berkomunikasi dan bersosialisasi. Pasalnya, mengingat wajah saja sudah tidak bisa.

2. Penyebab Autis

Autisme pada anak tidak muncul secara tiba-tiba. Ada banyak faktor yang menyebabkan anak autis, meski belum diketahui secara pasti faktor dominan yang menyebabkan autisme. Meskipun belum ditemukan secara pasti penyebab autisme pada anak, namun ada beberapa teori yang menyatakan penyebab autisme. Teori tersebut akan dijelaskan sebagai berikut (Meranti, 2013:15).

a. Menurut Teori Biologis

1) Faktor genetik, yaitu keluarga yang terdapat anak autistik memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga normal.

2) Prental-post natal yaitu pendarahan pada kehamilan awal, obat-obatan, tangis bayi yang terlambat, gangguan pernapasan, dan anemia.

(33)

42

4) Struktur dan biokimiawi yaitu kelaianan pada cerebellum dengan sel-sel purkinje mempunyai kandungan serotonin yang tinggi, demikian juga kemungkinan tingginya kandungan dapomin atau upioid dalam darah. b. Menurut Teori Psikososial

Kanner dan Bruno Bettelhem (Meranti, 2013:15) menganggap autisme sebagai akibat hubungan yang dingin/tidak akrab antara orang tua ibu dan anak. Demikian juga orang yang mengasuh dengan emosional, kaku, obsesif tidak hangat bahkan dingin dapat menyebabkan anak asuhnya menjadi autistik.

c. Faktor Keracunan Logam

Anak yang tinggal di daerah yang dekat dengan tambang emas maupun batu bara lebih mudah terindikasi terkena autisme. Selain itu, daerah yang memiliki polusi kendaraan bermotor seperti di daerah perkotaan juga lebih banyak orang yang mengidap autisme.

d. Faktor gangguan pencernaan, pendengaran, dan penglihatan

Menurut data yang ada 60% anak autistik mempunyai sistem pencernaan kurang sempurna dan kemungkinan timbulnya autistik karena adanya gangguan dalam pendengaran dan penglihatan.

3. Jenis-jenis Autis

(34)

43 a. Autisme Masa Kanak

Autisme biasanya terjangkit pada anak-anak. Autis ini terjadi pada masa perkembangan. Autis yang demikian disebut autis masa kanak atau childhood

autism. Childhood autism merupakan ragam autisme yang mengganggu

perkembangan anak yang bisa dideteksi pada usia tiga tahun.

Adapun gejala yang bisa dilihat antara lain gangguan komunikasi. Kualitas kemampuan komunikasi anak autis jenis ini biasanya ditunjukkan dengan kemampuan berbicara yang terlambat, tidak ada kemauan anak untuk belajar berbicara, serta tidak dapat berbicara dua arah dengan baik. Selain itu, penggunaan berbahasanya selalu diulang-ulang dan tidak mampu memilih permainan yang variatif.

Ciri lainnya adalah anak tidak mampu menunjukkan kemampuan berinteraksi sosial. Penyandang autisme biasanya tidak dapat menunjukkan ekspresi wajah muka yang menunjukkan tanda tertentu ketika bertatap muka dengan orang lain. Gerak tubuhnya pun tidak mengandung arti sama sekali. Hal ini mengakibatkan hubungan sosial dengan orang lainterutama teman sebayanya tidak berjalan dengan baik karena dia tidak menunjukkan emosi maupun melakukan kegiatan bersama-sama ketika bermain.

(35)

44 b. Jenis Autisme Lainnya

Ada ragam jenis autisme yang diderita anak autis. Beragamnya jenis autis ini mempengaruhi penanganan dan terapi yang harus dilakukan. Jenis autism lainnya tersebut diantaranya:

1) Ganguan pada Kemajuan Pervasif YTT atau PDD-NOS

Jenis autism ini biasanya muncul gejala pada gangguan perkembangan perilaku, komunikasi, dan interaksi namun tidak begitu parah dari pada autisme masa kanak. Anak masih bisa melakukan tatapan muka, menunjukkan ekspresi melalui roman muka, dan masih bisa berinteraksi dengan memberi respons ketika diajak berbicara.

2) Sindroma Rett

Autisme jenis ini merupakan autis yang bisa diketahui ketika anak menginjak usia enam bulan. Gejala yang ditunjukkan autis jenis ini adalah perkembangan ukuran kepala yang tidak normal, tangan sering melakukan tindakan yang tidak terkendali dan kontrol yang hilang. Anak juga lebih sering menyendiri. Selain itu, gejala yang dapat terlihat dari autis ini adalah dia suka melakukan gerakan mencuci pakaian atau memasukkan tangannya ke dalam mulut. Penderita autis sindroma rett juga sering mengalami gangguan pernapasan dan tubuhnya menjadi kaku. Setelah itu, anak bisa kejang dan mengalami pertumbuhan yang tidak normal.

3) Disintegrasi Masa Kanak

(36)

45

lancar. Akan tetapi, anak mengalami kemunduran yang cepat dan dramatis. Hal ini dikarenakan oleh anak tiba-tiba kehilangan kemampuan berbicaranya dan menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

4) Sindrom Aspeger

Tidak seperti anak autis pada umumnya, penyandang autis ini baru dapat terdeteksi pada usia 6-11 tahun. Penderita autis jenis ini dapat berbicara dengan lancar namun tidak dapat komunikasi timbal balik dengan baik. Dia hanya mampu berbicara satu arah saja. Dia mampu mengutarakan pendapatnya, namun tidak dapat mencerna apa yang dibicarakan oleh temannya. Anak harus belajar bagaimana mengetahui makna dari ekspresi orang lain.

Keadaan fisik anak autis ini tidak berbeda dengan anak normal, terkadang orang melihat dia sama seperti anak normal tanpa adanya kekurangan. Sebaliknya orang tua memberikan perhatian dan menanamkan rasa percaya diri terhadap anak sehingga anak tidak merasa memiliki kekurangan dibandingkan orang lain.

Ciri utama dari anak penderita autis ini adalah sering menjalankan aturan orang lain dengan kaku. Misalnya saja, ketika dia diajarkan untuk menengok kanan kiri sebelum menyebrang jalan. Hal ini akan dia terapkan di mana saja, tidak peduli kondisi apakah jalan itu sepi atau hanya jalan kecil saja.

Tidak seperti kebanyakan anak autis, anak Asperger memang tidak menunjukkan keterlambatan bicara, punya kosa kata yang sangat baik,

(37)

46

kebanyakan mempunyai itelegensi yang cukup baik bahkan di atas rata-rata. Oleh karena itu, biasanya secara akademik mereka tidak bermasalah, dan mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum dengan baik.

5) Jenis lain Berdasar Respon

Sementara itu jenis lainnya berdasarkan respon yang ditunjukkan oleh anak autisme dibedakan menjadi tiga, yaitu:

a) Autisme Ringan

Penderita autisme ringan masih dapat memberikan respons pada ransang ringan yang ada dalam lingkungan sekitarnya. Jika dia dipanggil, dia akan menoleh atau menatap ke arah si pemanggil meskipun sebentar. Akan tetapi dia akan kembali asyik dengan dunianya sendiri.

b) Autisme Sedang

Gejala yang ditimbulkan oleh autisme tipe ini adalah penderita akan memberikan respons pada ransangan atau stimulus yang kuat. Misalnya, jika ada orang yang memaksanya untuk mengarahkan kepala untuk menatap matanya, dia akan melakukannya.

c) Autisme Berat

(38)

47 4. Pembelajaran untuk Anak Autis

Pembelajaran untuk anak autis haruslah berbeda dengan anak biasa pada umumnya. Anak autis memiliki jenis yang berbeda-beda, akan tetapi memiliki ciri yang sama. Wing dan Gould (Dodd, 2007:1) mencirikan anak autis pada tiga karakteristik utama (a triad of impairment) yaitu: gangguan komunikasi, gangguan hubungan sosial dan gangguan perilaku, minat yang terbatas dan perilaku berulang.

a. Hambatan komunikasi (communication impairment), termasuk semua aspek komunikasi: pemahaman dan menggunakan komunikasi verbal dan non verbal untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Anak dengan gangguan autistik kebanyakan tidak bisa bicara, dan mereka tidak bisa mengkompensasikan ketidakmampuan bicaranya dengan bahasa lain seperti bahasa isyarat. Kalaupun ada anak dengan gangguan autistik bisa bicara, mereka hanya membeo, atau mereka berbicara tetapi kurang dapat memiliki pemaknaan tentang apa yang mereka ucapkan, sehingga kesannya hanya menghafal.

(39)

48

dengan orang lain, dan mereka nampak lebih suka menyendiri. Banyak anak dengan gangguan autistic spectrum disorders nampak memiliki kesulitan besar untuk belajar memberi dan mengambil (take and give) dalam interaksi sehari-hari. Tidak suka dipeluk dan dipangku.

c. Minat yang terbatas dan perilaku berulang (repetitive), ini diperlihatkan dengan kurang dapat berimajinasi, penalaran abstrak yang kurang, keterampilan bermain terbatas, pemikiran konkret (ini lebih disebabkan anak kurang mampu dalam penalaran secara abstrak) dan keinginan kuat dalam keteraturan (consistency).

Selain tiga ciri utama di atas saat ini sejumlah ciri-ciri yang berhubungan dengan pemahaman dan perhatian autisme juga ditambahkan, ini termasuk: sensitivitas sensori, aspek-aspek kognisi termasuk: gaya belajar visual, masalah perhatian, dan karakteristik pemrosesan informasi; dan hambatan dalam empati yang meliputi: masalah emosional, joint attention, theory of mind; dan kesulitan penerjemahan mood dan perilaku orang lain (Dodd, 2007:3-5).

Memahami anak autis ini sangat penting untuk menentukan hambatan dan kebutuhan mereka dan melihat tipe belajar mereka. Anak-anak autis memiliki hambatan dalam eye gaze, meniru (attending), pemahaman makna, membuat generalisasi (generalization), pemrosesan auditori, pemrosesan sensori, mengurut-kan dan kemampuan kognitif dalam urutan yang lebih tinggi (Dodd, 2007:148-149).

(40)

49

spatial; kemampuan compartmentalised chunk learning; kecenderungan untuk melakukan rutinitas dan aturan yang terstruktur (Dodd, 2007:148-149).

Model pembelajaran diartikan sebagai suatu prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran dapat juga bermakna cara yang digunakan guru untuk membelajar-kan anak supaya tujuan pembelajaran yang sudah direncanamembelajar-kan tercapai. Di dalam model pembelajaran terkandung pendekatan, strategi, metode dan teknik yang digunakan untuk membelajarkan siswa. Model pembelajaran yang baik adalah model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa (kemampuan, kebutuhan dan hambatan, dan lain sebagainya). Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah:

a. Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.

b. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.

c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil.

d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

(41)

50

anak. Belajar adalah perubahan perilaku sebagai akibat dari interaksi anak dengan lingkungannya. Ada beberapa cara untuk membantu anak autis mempelajari keterampilan dan perilaku baru, diantaranya: isyarat visual/verbal, modelling, visual support, prompting, fading, shaping dan chaining (Dodd, 2007:150).

a. Isyarat Visual/Verbal

Isyarat visual/verbal adalah pengajaran yang diberikan pada anak autis untuk membantu mereka melengkapi tugas-tugas yang diinginkan. Ini mungkin dilakukan dengan cara non verbal atau verbal, dengan menggunakan tanda manual atau startegi visual. Strategi visual merupakan strategi pembelajaran dengan menggunakan benda-benda konkrit atau semi konkret atau simbol-simbol dalam menyampaikan pembelajaran.

b. Pemodelan (Modelling)

Pemodelan merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan orang tua atau teman sebaya untuk menjadi model, terutama ketika mengajarkan keterampilan-keterampilan baru.

c. Visual Support

Visual support digunakan untuk meningkatkan komunikasi, mentransfer

informasi, perilaku dan mengembangkan kemandirian. Ini termasuk daftar visual (jadwal), urutan suatu pekerjaan, ekspresi wajah, gestures dan bahasa tubuh.

d. Prompting

Prompting merupakan isyarat tambahan untuk membantu memfasilitasi

(42)

51

mengerjakan tugas. Memberikan dorongan secara fisik sering menjamin keberhasilan individu. Reinforcment harus segera diberikan apabila anak selesai mengerjakan tugas mandirinya.

e. Fading

Fading merupakan pengurangan bantuan secara sistematis. Pengurangan

bantuan fisik secara bertahap. Teknik ini berhasil dalam mengajarkan keterampilan baru. Pengurangan ini sangat penting supaya anak tidak tergantung pada bantuan dan isyarat.

f. Shaping

Perilaku terkadang dapat dibentuk sesuai dengan tujuan yang diharapkan atau yang ingin dicapai. Shaping merupakan prosedur yang digunakan untuk mengembangkan keterampilan atau perilaku yang tidak ada pada diri seseorang. Shaping biasanya digunakan untuk mengjarkan keterampilan-keterampilan yang sulit seperti memakai baju, makan dan bersosialisasi dengan orang lain.

g. Chainning

Chainning adalah menciptakan perilaku yang rumit dengan

(43)

52 F. Penelitian yang Relevan

Beberapa penelitian yang telah dilakukan, berkaitan dengan pembelajaran aktif dan pembelajaran interaktif, baik dalam pelajaran matematika dan bukan dalam pelajaran matematika untuk perkembangan sikap sosial anak, baik untuk anak autis maupun bukan autis.

(44)

53

2. Pelaksanaan Pembelajaran Matematika oleh Guru Kelas Terhadap Siswa Autisme oleh Nova Sandewita ditahun 2015. Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan pembelajaran matematika oleh guru kelas terhadap siswa Autisme di kelas V SD N 06 Padang Pasir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan pembelajaran matematika oleh guru kelas terhadap siswa Autisme di kelas V SD N 06 Padang Pasir. Proses pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi, dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini, guru belum memberikan layanan khusus diantaranya dalam memodifikasi kurikulum, sarana dan prasarana yang belum memadai sebagai penunjang dalam pembelajaran, serta pemberian materi pembelajaran cenderung secara klasikal, masih belum sesuai dengan yang diharapkan.

(45)

54

memotivasi agar siswa mampu secara mandiri menemukan materi pembelajaran yang dibahas.

4. Wiwik Widajati dan Blitsivictoria Alfinina ditahun 2013 melakukan penelitian dengan judul Penggunaan Media Visual dalam Pembelajaran Anak Autis. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran anak autis di kelas V SDLB Kerabat Mulia Kepung Kediri, mendeskripsikan dan menganalisis penggunaan media visual pembelajaran anak autis, dan media visual yang digunakan dalam pembelajaran bagi anak autis. Hasil penelitian ini mendeskripsikan: pelaksanaan pembelajaran anak autis di SDLB Kerabat Mulia mengacu pada KTSP yang dimodifikasi. Kurikulum tidak murni digunakan karena mengingat hambatan, karakteristik, dan kebutuhan pada anak autis berbeda-berbeda. Penggunaan media visual sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan belajar, terutama dalam pemahaman materi pembelajaran di kelas, selain itu penggunaan media ini menarik minat dan motivasi anak autis dalam mengikuti pembelajaran. Media visual yang digunakan diantaranya peta, buku, modul dan papan tulis dan benda tiruan ataupun miniatur.

(46)

55

orang tua siswa autis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: kebijakan yang diberikan sekolah dalam hal penanganan kemampuan interaksi sosial anak autis; operasionalisasi pembelajaran; kendala-kendala yang dihadapi pihak sekolah dan solusi yang diberikan; dan dukungan sistem pada penanganan kemampuan interaksi sosial anak autis di Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus Harapan Bunda Surabaya. Hasil dari penelitian ini memberikan kesimpulan mengenai: kebijakan sekolah untuk menangani kemampuan interaksi sosial anak autis. Kepala sekolah membuat rancangan kurikulum yang tidak hanya diperuntukkan belajar materi saja, namun juga untuk menangani kemampuan interaksi sosial anak autis dengan belajar one on one menggunakan alat peraga; operasionalisasi pembelajaran yang menangani kemampuan interaksi sosial anak yaitu berdoa bersama, bermain bersama serta belajar bersama; kemudian kendala yang dialami sekolah yakni beragamnya kelainan pada anak autis. Solusi yang diberikan sekolah adalah dengan pemberian prilaku terlebih dahulu; dukungan sistem pada penanganan kemampuan anak yaitu dengan memberikan kegiatan keterampilan seperti menari bersama, terapi musik, terapi wicara dan terapi prilaku. Kegiatan pembelajaran tidak hanya materi saja yang diberikan, namun juga proses yang lebih diperhatikan.

G. Kerangka Berfikir

(47)

56

dianggap sebagai objek (benda) bukan sebagai subjek yang dapat berinteraksi dan berkomunikasi. Berbagai definisi tentang autis, dimana ini dapat dipahami autis sebagai gangguan perkembangan neurobiologis yang berat sehingga gangguan tersebut mempengaruhi bagaimana anak belajar, berkomunikasi, keberadaan anak dalam lingkungan dan hubungan dengan orang lain.

Tiga gangguan utama pada anak autis, yaitu komunikasi, interaksi sosial, dan prilaku berulang. Dalam tujuan pembelajaran untuk anak autis haruslah disusun berdasar ciri karakteristik yang ingin dicapai anak autis, seperti pengembangan sikap sosial. Karena hal yang paling dibutuhkan anak-anak dengan gangguan autisme sulit berinteraksi sosial ataupun yang lain berhubungan dengan komunikasi sosial, seperti yang telah disampaikan di atas.

Pembelajaran aktif merupakan proses belajar siswa yang secara energik, melakukan aktifitas bermakna dan senantiasa berfikir untuk membangun pengetahuannya. Tujuan utama dari pembelajaran ini adalah tercipta pembelajaran yang aktif. Sedangkan pembelajaran Interaktif adalah suatu cara atau teknik pembelajaran yang digunakan guru pada saat menyajikan bahan pelajaran dimana guru pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif atau saling aktif, yang edukatif, dengan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.

(48)

57

Gambar 2.3 Bagan Kerangka Berpikir H. Pertanyaan Penelitian

Berdasar kajian di atas, maka peneliti beberapa pertanyaan penelitian, sebagai berikut.

1. Bagaimana pembelajaran matematika aktif untuk pengembangan sikap sosial anak autis di SLB Fredofios?

2. Bagaimana pembelajaran matematika interaktif untuk pengembangan sikap sosial anak autis di SLB Fredofios?

Anak Autis

Wing and Gould (Dodd, 2007:1) mencirikan

anak autis pada tiga karakteristik utama:

gangguan komunikasi, gangguan hubungan

sosial dan gangguan perilaku, minat yang

terbatas dan perilaku berulang.

Pembelajaran Matematika

Pembelajaran Aktif

Warsono (2016:12) Pembelajaran

aktif, merupakan proses belajar siswa

yang secara energik, melakukan

aktifitas bermakna dan senantiasa

berfikir untuk membangun

pengetahuannya

Pembelajaran Interaktif

Menurut Dimyati dan Mudjiono

(Komara, 2014:67) adalah kegiatan

guru secara terprogram dalam desain

instruksional, untuk membuat siswa

belajar secara aktif, yang menekan

pada penyediaan sumber belajar

Gambar

Tabel 2.1 Ingatan Terhadap Pembelajaran Dikaitkan dengan Jenis Presentasi
Tabel 2.3 Ikhtiar Terminologi Pembelajaran (Warsono, 2016:35-36)
gambar 2.2.
Gambar 2.3 Bagan Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

2.1 Evaluasi Pelaksaanaan Renja SKPD Tahun Lalu dan Capaian Renstra SKPD Dalam Rencana Kerja (Renja) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Mojokerto Tahun 2020

Abstrak: Penelitian tindakan kelas ini dilatarbelakangi oleh perlunya dilakukan penerapan metode pembelajaran yang menyenangkan dan lebih bermakna dalam menyampaikan suatu

Sedangkan manfaat secara praktis temuan dari penelitian ini, yaitu membantu pembaca untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik dalam novel dan perjuangan hidup tokoh

Terlaksananya sosialisasi peningkatan toleransi dan kerukunan dalam kehidupan beragama dan lintas organisasi Bakesbangpol 50 org 23.500.000 DAU 100% 25.000.000 3

Fungsi yang dimiliki perpustakaan SDN 54 Banda Aceh diantaranya: mengadakan jam wajib kunjung perpustakaan setiap satu minggu satu kali pada waktu jam pelajaran

Melalui fokus biaya dalam kegiatan sumber daya manusia maka perlu dilakukan peningkatan sistem kerja dengan menambah staf karyawan agar lingkup pekerjaannya semakin

Mengacu pada Renstra Direktorat Jenderal Cipta Karya, RPJMD Provinsi, dan RPIJM Kab/Kota Mengacu pada RPJMN dan Nawa Cipta Pemerintah serta Visi Misi Gubernur

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rendemen, komposisi proksimat, protein larut air, protein larut garam dan kandungan asam amino serta analisis struktur jaringan