PESER Di PROG UN RTA DID iajukan K Unive untuk Me gu GRAM ST FAKUL NIVERSIT
DIK DI S
SKR Kepada Fak ersitas Ne emenuhi S una Memp Sarjana P o Nafid NIM 112 TUDI PE LTAS BA TAS NEG JUN D NEGE RIPSI kultas Bah egeri Yogy Sebagian P peroleh G Pendidika oleh ah Sani 20624100 ENDIDIK AHASA D GERI YO NI 2015 ERI NOG
Skripsi yang berjudul Presentasi Hasil Melukis Alam sebagai Metode Peningkatan
Rasa Percaya Diri Peserta Didik di SD Negeri Nogopuro ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diujikan
Yogyakarta, 11 Mei 2015
Menyetujui, Pembimbing,
Dr. HajarPamadhi, M.A. (Hons) }\IIP 195407221981031003
ii
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
NIM
Program Studi Fakultas
:Nafidah Sani
: 112(t6211001
: Pendidikan Seni Rupa
: Bahasa dan Seni Universitas .:ren \ ' lvakarla
menyatakan bahwa karya ilmiah ini adalah hasil penelit rr ilarr ,rL-kerjaan saya sendiri. Karya
ihliah ini
tidak belisi materi yangclitulis
c1or.lr,L lain, kecuali bagian-bagian teftentu yang saya kutip sebagai acuan dengar r;ngrkrtr tata cara dan etika penulisan karya ihniah yang laznn.Apabila ternyata terbukti bahr.va pemyataan ini
tidak
rr ar. rn,:ka sepenuhnya menjadi tanggung jarvab saya.Yogyakarta, 11 Mei 2015 Penulis,
Nafidah Sani
v
vi
Alhamdulillah ya Rabbul’aalamiin…
Tulisan ini saya persembahkan sebagai
hadiah dan tanda terima kasih yang tak terhingga untuk
Bapak tercinta Drs. Aris Prasojo,
vii
Alhamdulillah, Puji syukur saya sampaikan ke hadirat Allah SWT yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang. Berkat rahmat, hidayah dan inayah-Nya akhirnya
saya dapat menyelesaikan skripsi untuk memenuhi sebagaian persyaratan guna
memperoleh gelar sarjana di Universitas Negeri Yogyakarta.
Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan karena bantuan dai berbagai pihak.
Untuk ini, saya menyampaikan terima kasih secara tulus kepada Rektor Universitas
Negeri Yogyakarta Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., Dekan Fakultas Bahasa
dan Seni Prof. Dr. Zamzani, M.Pd., dan Ketua Jurusan Pendidikan Seni Rupa, yaitu
Drs. Mardiyatmo, M.Pd., yang telah memberikan kesempatan dan berbagai
kemudahan kepada saya.
Rasa hormat, terima kasih, dan penghargaan yang setinggi-tingginya saya
sampaikan kepada pembimbing saya, yaitu Dr. Hajar Pamadhi, M.A. Hons, yang
penuh kebijaksanaan telah memberikan bimbingan, arahan, dan dorongan yang tidak
henti hentinya di sela kesibukkannya.
Ucapan terima kasih secara tulus kepada kedua orang tua saya, Drs. Aris
Prasojo atas pengorbanan, dorongan dan kasih sayang sehingga saya termotivasi
untuk menyelesaikan skripsi.
Akhirnya ucapan terima kasih saya sampaikan kepada teman sejawat dan
keluarga besar Demiens, yang tidak dapat saya sebutkan satu demi satu yang telah
memberikan dukungan moral dan dorongan kepada saya, sehingga saya dapat
menyelesaikan studi dengan baik.
Yogyakarta, 11 Mei 2015
Penulis,
viii
Halaman
JUDUL ... i
PERSETUJUAN ... ii
PENGESAHAN ... iii
PERNYATAAN ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR BAGAN ... x
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
ABSTRAK ... xiv
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang ... 1
B.Fokus Masalah ... 2
C.Tujuan Penelitian ... 2
D.Kegunaan Penelitian ... 3
BAB II. KAJIAN TEORI ... 4
A.Seni Lukis Anak ... 4
B.Melukis Alam ... 5
C.Percaya Diri ... 5
D.Metode Presentasi ... 7
E. Motivasi Belajar ... 11
ix
BAB III. METODE PENELITIAN ... 15
A. Desain Penelitian ... 15
B. Prosedur Pelaksanaan Tindakan ... 16
C. Implementasi Tindakan ... 19
D. Kriteria Keberhasilan Tindakan ... 24
E. Variabel Penelitian ... 25
F. Tempat dan Waktu Penelitian ... 25
G. Subjek dan Objek Penelitian ... 25
H. Instrumen Pengumpulan Data ... 26
I. Teknik Analisis Data ... 28
J. Validitas dan Triangulasi Data ... 29
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 31
A. Hasil Penelitian ... 31
1. Lembaga dan Proses Pra-Tindakan ... 31
2. Proses Pelaksanaan Siklus I ... 38
3. Proses Pelaksanaan Siklus II ... 49
4. Proses Pelaksanaan Siklus III ... 70
B. Pembahasan ... 93
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN ... 99
A. Simpulan ... 99
B. Saran ... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 100
x
Halaman
Bagan 1 : Siklus Penelitian Tindakan Kelas yang Digunakan Peneliti
Berdasarkan Model Spiral Kemmis & McTaggart dalam
buku Action Research (Yaumi, 2014: 24)……… 15
xi
Halaman
Tabel 1 : Skenario Pembelajaran pada Tindakan 1 Alokasi
Waktu 3x 35 Menit (105 Menit)……….. 20
Tabel 2 : Skenario Pembelajaran pada Tindakan 2 Alokasi
Waktu 3x 35 Menit (105 Menit)……….. 21
Tabel 3 : Skenario Pembelajaran pada Tindakan 3 Alokasi
Waktu 3x 35 Menit (105 Menit)……….. 23
Tabel 4 : Daftar Peserta Didik Kelas 1B yang Mempresentasikan
Hasil Melukis Alam pada Siklus 1……….. 44
Tabel 5 : Daftar Peserta Didik Kelas 1B yang Mempresentasikan
Hasil Melukis Alam pada Siklus 2……….. 56
Tabel 6 : Daftar Hasil Melukis Alam Peserta Didik Kelas 1B yang
Mempresentasikan Hasil Melukis Alam pada Siklus 1 & 2 63
Tabel 7: Daftar Peserta Didik Kelas 1B yang Mempresentasikan
Hasil Melukis Alam pada Siklus 3……….. 78
Tabel 8 : Daftar Hasil Melukis Alam Peserta Didik Kelas 1B yang
Mempresentasikan Hasil Melukis Alam pada Siklus 1, 2, & 3 86
xii
Halaman
Gambar 1 : Peneliti Menyampaikan Materi Melukis Alam……… 137
Gambar 2 : Peneliti Mengenalkan Metode Presentasi Hasil Lukis
Alam………... 137
Gambar 3 : Siswa Kelas 1B Melukis Alam Di Luar Kelas……… 138
Gambar 4 : Peneliti Melakukan Pendampingan Kepada Siswa
Saat Proses Berkarya……….. 138
Gambar 5 : Siswa Mempresentasikan Hasil Lukis Alamnya……. 139
Gambar 6 : Peneliti Menyelesaikan Siklus 1 Di Kelas 1B……… 139
Gambar 7 : Peneliti Mengulas Kembali Materi Tentang Melukis
Alam……….. 140
Gambar 8 : Siswa Mempresentasikan Hasil Karya Lukis Alam
Sekitar Rumahnya………. 140
Gambar 9. : Peneliti Mengajak Siswa Untuk Melukis Langsung
di Alam Sekitar……… 141
Gambar 10 : Siswa Melukis Langsung Di Alam Sekitar Sekolah 141
Gambar 11 : Peneliti dan Guru Melakukan Pendampingan Saat
Proses Berkarya……… 142
Gambar 12 : Peneliti dan Guru Melakukan Pendampingan Saat
xiii
Halaman
Lampiran 1 : Surat Ijin Penelitian & Observasi……… 103
Lampiran 2 : Instrumen Penelitian………..……….. 109
xiv
Oleh Nafidah Sani NIM 11206241004
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan cara penerapan metode presentasi hasil melukis alam sebagai metode pembelajaran untuk meningkatkan rasa percaya diri peserta didik di kelas IB SD Negeri Nogopuro.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action
Research). Subjek penelitian ini adalah 31 peserta didik kelas IB SD Negeri Nogopuro. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan pembelajaran di kelas yang berkaitan dengan rasa percaya diri peserta didik. Data diperoleh dengan teknik tes, pengamatan langsung, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif dan keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik.
Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode presentasi hasil melukis alam mampu meningkatkan rasa percaya diri peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah peserta didik yang mampu melaksanakan presentasi melukis alam dari siklus I sejumlah 9 peserta didik, siklus II sejumlah 25 peserta didik, dan siklus III sejumlah 31 peserta didik. Berdasarkan pembahasan dan analisis data yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa presentasi hasil melukis alam mampu meningkatkan rasa percaya diri peserta didik, yaitu dengan cara mengenalkan peserta didik terhadap presentasi melukis alam, menerapkan pembelajaran atau melukis di luar kelas, dan memotivasi peserta didik untuk mendorong peserta didik agar percaya diri terhadap hasil karyanya dan percaya diri melakukan presentasi hasil melukis alam.
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting
dalam kehidupan manusia. Orang yang percaya diri yakin atas kemampuan mereka
sendiri serta memiliki pengharapan yang realistis, bahkan ketika harapan mereka
tidak terwujud, mereka tetap berpikiran positif dan dapat menerimanya. Merasa
percaya diri, merupakan potensi untuk dapat berinteraksi secara positif dengan
lingkungan. Bandura (1977) (dalam Sugihartono, 2007: 82) mengembangkan konsep
tersebut berhubungan dengan keyakinan pribadi, bahwa dirinya memiliki
kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang menjadi syarat keberhasilan.
Kemampuan diri (Self efficacy) yang tinggi akan semakin mendorong dan
memotivasi peserta didik untuk belajar tekun dalam mencapai prestasi belajar
maksimal. Karakter percaya diri penting dibangun dalam diri peserta didik karena
percaya diri merupakan salah satu faktor internal yang sangat mempengaruhi
perkembangan belajar peserta didik. Rasa percaya diri yang tidak dimiliki peserta
didik terkadang menghambat proses pembelajaran mereka dalam memahami materi
pembelajaran maupun dalam proses berkarya.
Proses pembelajaraan seni lukis alam di Kelas 1B SD Negeri Nogopuro,
jarang menggunakan metode pembelajaran yang membuatpeserta didik lebih aktif
dan kreatif dalam pembelajaran. Sebagian besar peserta didik merasa malu bertanya,
peserta didik diminta untuk berkarya atau berkreasi. Sebagian besar peserta didik
merasa malu saat proses berkarya mereka dilihat bahkan hingga hasil karya mereka
selesai pun mereka masih merasa tidak percaya diri terhadap karya mereka sendiri.
Hal ini disebabkan karena sebagian besar peserta didik merasa karyanya kurang
bagus dan peserta didik beranggapan bahwa mereka tidak bisa melukis.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas peneliti bermaksud untuk
meningkatkan rasa percaya diri peserta didik kelas 1B melalui metode presentasi
hasil melukis alam di SD Negeri Nogopuro. Dalam presentasi hasil melukis alam,
diharapkan peserta didik mampu menjelaskan idea tau gagasan, warna dan bentuk
dihasil karyanya. Siswa pun dapat menceritakan hasil lukisannya, seperti
pengalaman maupun imajinasi peserta didik tentang alam. Dalam metode ini siswa
diberikan kesempatan melukis mengamati langsung alam sekitar atau pembelajaran
di luar kelas. Sehingga siswa dapat melihat bentuk, warna dan unsur-unsur rupa yang
ada di alam secara langsung.
B. Fokus Masalah
Penelitian ini memfokuskan pada peningkatan rasa percaya diri peserta didik
melalui metode presentasi hasil melukis alam di kelas 1B SD Negeri Nogopuro.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan cara meningkatkan rasa
percaya diri peserta didik kelas 1B melalui penerapan metode presentasi melukis
D. Kegunaan Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pada
pengembangan teori dalam meningkatkan hasil pembelajaran, khususnya dalam
bidang pembelajaran seni rupa sehingga pembelajaran berjalan lebih efektif.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak yang terkait:
a. Bagi peserta didik, akan sangat membantu dalam meningkatkan rasa percaya diri,
terutama rasa percaya diri terhadap hasil karya mereka.
b. Bagi guru, untuk memperkaya khasanah pengetahuan guru dalam
mengembangkan metode pembelajaran seni rupa atau seni lukis.
c. Bagi sekolah, metode pembelajaran ini dapat dijadikan sebagai metode untuk
lebih meningkatkan rasa percaya diri peserta didik khususnya di bidang seni rupa
atau seni lukis.
d. Bagi mahasiswa, penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan penelitian lebih
4
A. Seni Lukis Anak
Bahasa ungkap dari pengalaman artistik maupun ideologis yang
menggunakan garis dan warna, guna mengungkapkan perasaan, mengekspresikan
emosi, gerak, ilusi maupun ilustrasi dari kondisi subjektif seseorang merupakan
pengertian seni lukis (Susanto, 2011: 241). Ungkapan perasaan dan gagasan ini
sebenarnya merupakan mengutarakan pendapat, berkhayal-berimajinasi, bermain,
belajar, memahami bentuk yang ada di sekitar anak, seperti merasakan kegembiraan,
kesedihan serta rasa keagamaan. Affandi dan Dewobroto (2004: 15), menjelaskan
bahwa dalam proses melukis anak akan dapat mencipta berbagai karya seni lukis.
Seni lukis juga merupakan salah satu cara untuk membentuk pribadi anak yang
sensitif, kreatif, dan ekspresif adalah melalui kegiatan melukis. Lowenfeld dan
Brittain (1975 dalam Pamadhi, 2012) menjelaskan bahwa
… karya seni anak ini mempunyai cara menyimbolkan ide, gagasan serta perasaaan anak yang tidak dimengerti oleh orang dewasa tidak direspon secara positif, sehingga anak kendur dalam mengembangkan dirinya atau mempunyai jangkauan pikiran yang sangat komprehensif. Ketika anak tidak mampu mengucapkan dengan kata-kata maka dia melukis, karena berkarya seni merupakan kebutuhan anak dalam berkomunikasi, berujar serta berfikir yang sangat komprehensif.
Memberikan motivasi agar anak memiliki minat, perhatian dan gairah untuk
berkarya merupakan cara pembinaan pertama yang harus dilakukan kepada setiap
anak supaya mempunyai potensi dalam diri yang dapat dikembangkan oleh guru,
B. Melukis Alam
Melukis alam melatih pengamatan secara inderawi, yaitu mampu mencermati
lingkungan sekitar dengan mata, telinga, serta sentuhan secara langsung terhadap
alam (Pamadhi, 2012: 65). Melukis alam bagi anak diharapkan dapat mengajak anak
mengamati bentuk, proporsi, dan karakter objek secara nyata (realistik) yang
bermanfaat bagi perkembangan daya nalar anak. Hajar Pamadhi (2012: 157)
menjelaskan bahwa dengan belajar melukis anak dapat melakukan usaha memahami
lingkungan sekitar, yaitu memahami bentuk yang ada di lingkungan sekitar anak.
Teori Psychohomeostatic yang dikemukakan oleh Frank LK Hsiu dalam
Pamadhi (2008) dijelaskan bahwa “pengaruh alam sangat berpengaruh terhadap cara
berpikir orang yang hidup di lingkungannya, kekerasan alam dan kesulitan hidup
membuat kebiasaan bekerja keras, sehingga berpikir rasional lebih tinggi daripada
orang yang hidup di daerah subur.”
Alam berpengaruh terhadap pemilihan warna anak, seperti anak yang
bertempat tinggal di daerah pegunungan cenderung memilih warna yang mencolok,
berbeda dengan pemilihan warna anak yang tinggal di kota dan pantai warna yang
dipilih cenderung warna yang berlawanan dengan warna panas (Pamadhi, 2008: 9).
C. Percaya Diri
Thursan Hakim (2002: 6) menjelaskan bahwa pada diri seseorang
memerlukan proses tertentu didalam pribadinya sehingga terjadilah pembentukan
rasa percaya diri, karena rasa percaya diri tidak muncul begitu saja. Confidence
berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Albert Bandura ahli psikolog (1977:
75) dalam buku yang berjudul Psikologi Pendidikan, mengembangkan konsep
percaya diri berhubungan dengan keyakinan pribadi bahwa dirinya memiliki
kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang menjadi syarat keberhasilan.
Kemampuan diri (Self efficacy) tinggi akan semakin mendorong dan memotivasi
peserta didik untuk belajar tekun dalam mencapai prestasi belajar maksimal.
Keyakinan akan kemampuan diri (self efficacy) individu untuk dapat mengorganisasi
dan melaksanakan serangkaian tindakan yang dianggap perlu untuk mencapai suatu
hasil yang diinginkan. Perubahan kemampuan diri merupakan sistem perubahan
tingkah laku .Pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance
accomplishment), pengalaman vikarus (vicarious experience), persuasi sosial (sosial
persuation), dan pembangkitan emosi (emotional/physiological states) merupakan
empat kombinasi sumber sebagai efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat
diperoleh, diubah, ditingkatkan, atau diturunkan.
Menurut Kesuma (2012: 14) bahwa nilai-nilai karakter yang perlu
ditanamkan menurut Indonesia Heritage Foundation (IHF) disebutkan bahwa salah
satu nilai karakter yang penting ditanamkan peserta didik adalah rasa percaya diri
(Confidence). Percaya diri berhubungan dengan keyakinan pribadi, bahwa dirinya
memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang menjadi syarat
keberhasilan pembelajaran peserta didik, maka percaya diri dianggap penting.
Pembentukan karakter yang humanistic adalah salah satunya dengan pembentukan
“memanusiakan manusia”. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya
daripada hasil belajar.
Menurut Lauster (2002: 4) terdapat beberapa karakteristik untuk menilai
kepercayaan diri individu, diantaranya yaitu (1) Memiliki konsep diri yang positif,
adalah adanya penilaian yang baik dalam diri sendiri, baik dari pandangan maupun
tindakan yang dilakukan menimbulkan rasa positif terhadap diri sendiri. (2) Berani
mengungkapkan pendapat, adanya suatu sikap untuk mampu mengutarakan sesuatu
dalam diri yang ingin diungkapkan kepada orang lain. (3) Percaya kepada
kemampuan sendiri, merupakan suatu keyakinan atas diri sendiri terhadap segala
fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan kemampuan individu untuk
mengevaluasi serta mengatasi fenomena yang terjadi tersebut. (4) Bertindak mandiri
dalam mengambil keputusan, dapat bertindak dalam mengambil keputusan terhadap
apa yang dilakukan secara mandiri tanpa adanya keterlibatan orang lain. Selain itu,
mempunyai kemampuan untuk meyakini tindakan yang diambilnya tersebut.
D. Metode Presentasi
Metode pengungkapan ide, gagasan, perasaan di depan umum oleh satu atau
lebih presenter dengan menyertakan naskah makalah atau tidak Metode presentasi
adalah metode. Bagi kebanyakan orang metode presentasi menuntut adanya
pembuatan ringkasan dari sekian masalah yang akan dipaparkannya. Tujuannya
adalah melatih peserta didik mengembangkan keaktifan dan kemampuan berfikir
Menurut (Effiaty: 2011) adapun tujuan dari presentasi dalam proses
pembelajaran yaitu.
1. Menyampaikan Informasi
Informasi/pesan yang disampaikan bisa bersifat biasa, penting atau bahkan
rahasia. Melalui informasi maka diharapkan tujuan dari proses pembelajaran dapat
tercapai. Banyak pendidik dan peserta didik yang melakukan presentasi hanya
bertujuan menyampaikan informasi saja. Oleh karena itu seorang baik secara
individu maupun mewakili kelompoknya harus memiliki keahlian sesuai dengan
tujuan presentasi. Dalam proses pembelajaran, informasi dari seorang presentasi
sangat penting bagi warga kelas.
2. Meyakinkan Pendengar
Semula yang asalnya memiliki unsur ketidakjelasan dan ketidakpastian
sehingga ketika diadakan presentasi oleh pembicara, seseorang atau kelompok orang
tersebut menjadi yakin atas informasi yang diberikan. Presentasi yang dilakukan
berisikan informasi-informasi, data-data dan bukti-bukti yang disusun secara logis
sehingga informasi yang disampaikan dapat membuat seseorang atau kelompok
orang merasa yakin.
3. Menghibur Pendengar
Prensenter dituntut untuk melakukan pembicaraan yang sifatnya menghibur
tersebut. Selain acara televisi, acara hiburan yang lainnya dapat kita temukan pada
pesta perayaan-perayaan. Presenter ditugaskan untuk berbicara dan menyelipkan
kata-kata yang dapat menghibur para tamu yang hadir pada pesta perayaan tersebut.
Sedikit berbeda dengan presentasi yang dilakukan di dalam kelas, seorang presenter
tidak harus menggunakan kata-kata yang bersifat menghibur aka tetapi bisa cukup
dengan kata-kata yang komunikatif.
4. Memotivasi dan Menginspirasi Pendengar untuk Melakukan Suatu Tindakan
Kegiatan memotivasi dapat dilakukan dengan mengadakan suatu forum.
Forum tersebut terdiri dari para peserta didik yang bertindak sebagai pendengar,
sedangkan yang bertindak sebagai pembicara yaitu pihak guru atau peserta didik
maupun sekelompok peserta didik yag sudah diberi arahan oleh guru. Demi
tercapainya suatu tujuan pembelajaran, seorang guru dituntut untuk mengarahkan
dan membimbing para peserta didiknya agar dapat belajar secara maksimal dan tidak
lupa untuk memperhatikan kualitas belajarnya. Selain diberi arahan dan bimbingan,
seorang guru juga dapat melakukan motivasi agar para peserta didik dapat belajar
dengan semangat yang tinggi.
5. Menyampaikan Pesan
Menyampaikan pesan dalam hal ini dilakukan karena proses pembelajaran
bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan dari seorang guru atau sekelompok peserta
Guru atau peserta didik yang melakukan presentasi dibantu dengan alat bantu peraga
ataupun media seperti LCD atau papan tulis untuk memudahkan penyampaian pesan.
6. Membuat Suatu Ide atau Gagasan
Tipe tujuan ini biasanya diterapkan pada materi pelajaran yang memerlukan
pemecahan atau solusi dari orang lain. Forum yang dilakukan dalam pembelajaran
sering dikenal dengan istilah diskusi. Presentasi yang dilakukan bertujuan untuk
memunculkan suatu ide/gagasan dari para peserta pendengar.
7. Menyentuh Emosi Pendengar
Menyentuh emosi para peserta didik dalam hal ini pembicara atau presenter
bertugas untuk melakukan pembicaraannya yang dapat menyentuh perasaan/emosi
seseorang. Presentasi yang dilakukan pembicara membuat pendengar merasa
tersentuh untuk membantu para korban bencana dengan cara menyumbangkan
sebagian hartanya. Sebagai contoh pembicara melakukan presentasi kepada para
pendengar mengenai korban bencana, demonstrasi, kelaparan, gelndangan, tuna
pendidikan dan lain-lain.
8. Memperkenalkan Diri
Presentasi juga dapat ditujukan hanya sekedar untuk memperkenalkan jati diri
bagi yang melakukan presentasi, baik secara individual maupun kelompok.
E. Motivasi Belajar
Motivasi adalah dorongan internal (dalam) dan eksternal (luar) dalam pribadi
anak, motivasi internal adalah dorongan kepada anak dengan menyentuh alam
pikiran dan perasaan anak. Dorongan internal untuk menumbuhkan alam pikiran
yang imajinatif serta memberikan dorongan untuk menyeimbangkan pikiran dan
perasaan. Kepentingan memberi motivasi ini sesuai dengan teori motivasi; kata
motivasi sendiri terdapat 3 bentuk dasar, yaitu artistic motivation, intellectual
motivation, imaginative motivation (Earl W. Linderman & Donald W. Herbetholz,
1979, p. 205 dalam Pamadhi 2012). Motivasi artistik adalah dorongan menggambar
atau melukis karena melihat sesuatu obyek yang indah. Motivasi penalaran,
merupakan dorongan berkarya seni dari pandangan obyek yang mempunyai struktur
menarik pada anak. Sedangkan, motivasi imajinasi adalah dorongan menggambar
atau melukis yang berasal dari imajinasi peserta didik.
Menurut Hamzah (2006: 23), menjelaskan bahwa motivasi dan belajar
merupakan dua hal yang saling memengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku
secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau
penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan
tertentu. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan
keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita.
Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang
kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Kedua faktor tersebut disebabkan oleh
rangsangan tertentu seperti motivasi dari luar, sehingga seseorang berkeinginan
Dorongan internal dan eksternal pada peserta didik yang sedang belajar untuk
mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau
unsur yang mendukung dan semua itu merupakan hakikat motivasi belajar. Motivasi
belajar mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar.
Motivasi belajar memungkinkan seseorang peserta didik dapat belajar dengan baik.
Indikator motivasi belajar yaitu adanya hasrat dan keinginan berhasil, dorongan dan
kebutuhan dalam belajar, harapan dan cita-cita masa depan, penghargaan dalam
belajar, kegiatan yang mmenarik dalam belajar, dan adanya lingkungan belajar yang
kondusif (Hamzah, 2006: 23).
F. Karakteristik Anak Sekolah Dasar
Pada masa kanak-kanak akhir disebut sebagai masa usia sekolah atau masa
sekolah dasar. Menurut Rita Eka (2008: 116) bahwa periodisasi perkembangan masa
kanak-kanak akhir dibagi menjadi 2 fase:
1. Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, yang berlangsung antara usia 6 atau 7
tahun-9 atau 10 tahun, biasanya mereka duduk di kelas 1, 2, dan 3 sekolah dasar.
2. Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar, yang berlangsung antara usia 9 atau 10
tahun-12 atau 13 tahun, biasanya mereka duduk di kelas 4, 5, dan 6 sekolah
dasar.
Adapun ciri-ciri anak masa kelas-kelas rendah sekolah dasar adalah:
1. Ada hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
3. Kalau tidak dapat menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, tugas atau pekerjaan
itu dianggapnya tidak penting
4. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain, jika hal itu menguntungkan
dirinya
5. Terjadi kematangan berfikir general pada anak. Pengenalan perspektif semakin
tampak, dimana bentuk tiga dimensi sudah menjadi dasar pandangannya.
Beberapa sifat yang muncul ialah: stressing point, karena pada usia ini sifat
egosentris anak.
Ciri-ciri khas masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar adalah:
1. Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari- hari
2. Ingin tahu, ingin belajar dan realistis
3. Timbul minat kepada pelajaran- pelajaran khusus
4. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya
di sekolah
5. Anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain
bersama, mereka membuat peratuan sendiri dalam kelompoknya.
G. Tujuan Pengembangan Peserta Didik
1. Tujuan Umum
Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan
mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan
perkembangan anak didik dengan memperhatikan kondisi sekolah merupakan tujuan
mengutarakan pendapat berdasarkan imajinasi sehingga mampu memperoleh
pengalaman batin yang sulit ditemui oleh mata pelajaran yang lain. Rugg (dalam
Palmer, 2003: 21) menjelaskan bahwa
… peserta didik sangat mungkin diberikan kebebasan mengutarakan pendapat dengan bertanggung jawab dari ide dan gagasan. Usaha membuahkan kemampuan imajinatif membangun ini menjadi dasar pengembangan pengembangan ilmu dan pengetahuan yang pada suatu saat dapat divisualkan dalam bentuk tulisan (grafis), maupun suara (musik) serta gambar atau lukisan yang imajinatif.
Esensi seni adalah mengutarakan lewat bahasa bentuk, bahasa gerak dan
bahasa suara. Ketiganya merupakan unsur dasar dari sebuah ekspresi ketika manusia
hidup. Ungkapan ini mempengaruhi kecerdasan (intelegensi) visual dan auditorial.
2. Tujuan Khusus
Pengembangan diri bertujuan khusus pada rasa percaya diri peserta didik
terhadap hasil karyanya maupun dalam proses berkarya seni rupa atau seni lukis.
Rasa percaya diri yang dimiliki peserta didik dapat memperlancar proses
pembelajaran mereka dalam proses berkarya seni rupa atau seni lukis maupun dalam
pembelajaran mata pelajaran lainnya dan tidak menjadi suatu penghambat peserta
didik dalam memahami materi pembelajaran di kelas (Sugihartono, 2007: 82).
H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan deskripsi teori di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam
penelitan ini yaitu terdapat peningkatan rasa percaya diri peserta didik kelas 1B
15
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action
Research) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian
tindakan memiliki ciri, prinsip, pedoman, prosedur yang harus memenuhi kriteria
tertentu. Penelitian tindakan harus jelas membedakan perbedaan ciri tindakan dan
penelitian, harus terlibat langsung dan bukan hanya sekedar sebagai penonton
(Semiawan, 2007, p. 3 dalam Yaumi 2014). Penelitian ini menggunakan penelitian
tindakan model Kemmis dan McTaggart, adapun siklus-siklus model ini dapat
digambarkan dalam bentuk spiral seperti di bawah ini:
Bagan 1: Siklus Penelitian Tindakan Kelas yang Digunakan Peneliti
Berdasarkan Model Spiral Kemmis & McTaggart dalam buku
Action Research (Yaumi, 2014: 24)
Mengobservasi Perencanaan
Tindakan 1
Merefleksi Tindakan 1
Meninjau Kembali/ Perencanaan
Tindakan 2
Tindakan 2 Merefleksi
Tindakan 2 Meninjau Kembali/
Perencanaan Tindakan 2
Tindakan 3 Merefleksi
Tindakan 3
Meninjau Kembali/ Perencanaan
Berdasarkan gambar diatas, model spiral penelitian tindakan yang diusulkan
oleh Kemmis dan McTaggart tersebut bersifat reflektif diri (self reflective) dan dapat
digunakan dalam penelitian tindakan partisipatori, meskipun bagi orang lain dapat
menggunakannya bukan dengan struktur yang kaku. Artinya, penggunaan model
tersebut dapat dimodifikasi dan diadaptasi sesuai dengan kebutuhan yang ada. Siklus
tersebut mencakup perencanaan, tindakan, dan refleksi. Menurut Yaumi (2014: 24)
model spiral seperti ini menarik karena menawarkan kesempatan untuk mengkaji
fenomena yang terdapat pada beberapa tingkat yang dilakukan beberapa kali
tergantung dari kebutuhan yang diinginkan. Pelaksanaan tindakan seperti ini dapat
memberi pemahaman yang mendalam untuk membawa perbaikan yang berarti.
B. Prosedur Pelaksanaan Tindakan
Alur atau siklus dari PTK ini menggunakan model spiral Kemmis &
McTaggart, yang setiap siklusnya terdiri dari tiga langkah yaitu: perencanaan,
tindakan atau observasi, dan refleksi. Penelitian ini dimulai dari perencanaan siklus
1yang diimplementasikan dalam pelaksanaan tindakan ke-1. Pelaksanaan tindakan
tersebut diobservasi. Setelah diobservasi, hasil observasi direfleksi dan
diintrepetasikan. Jika pada siklus ke-1 tersebut telah mencapai indikator
keberhasilan, maka penelitian dapat dikatakan berhasil. Jika hasil penelitian dalam
siklus 1 belum menunjukkan adanya indicator keberhasilan, atau bahkan gagal sama
sekali, maka kemudian disusunlah rencana tindakan siklus ke-2, kemudian
kurang berhasil, maka direncanakan lagi perencanaan siklus ke-3 dan begitu
seterusnya.
1. Perencanaan
Tahap perencanaan dilakukan sebelum tindakan diberikan kepada peserta
didik. Pada tahap ini peneliti menetapkan alternatif tindakan dan upaya
mengembangkan rasa percaya diri peserta didik melalui metode presentasi karya
lukis alam. Peneliti mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam pembelajaran
melukis. Setelah ditemukan solusi untuk mengatasi kendala rasa percaya diri peserta
didik terhadap karya lukisnya, peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan.
Pembelajaran sesuai pada identifikasi masalah. Selanjutnya, peneliti
menyiapkan metode dan materi pendukung dalam proses pembelajaran. Peneliti
menyiapkan instrumen berupa lembar pengamatan, lembar penilaian dan catatan
lapangan untuk mengamati jalannya pembelajaran melukis alam. Pada tahap
perencanaan ini dilakukan tes praktik melukis alam dengan metode presentasi hasil
karya melukis alam untuk mengetahui kompetensi awal melukis alam setelah
diterapkan metode presentasi lukis alam yang pertama.
2. Perencanaan Tindakan
Tindakan dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran dengan presentasi
hasil lukis alam. Tindakan kelas ini dilakukan melalui tiga siklus. Satu siklus dalam
penelitian ini dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Tahap-tahap yang dilakukan
a. Peneliti memberikan materi tentang melukis alam, seperti bentuk dasar dari
benda- benda alam, warna, suasana alam dan lain-lain
b. Peserta didik menyanyikan lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung” sebagai contoh
bentuk alam dalam nyanyian.
c. Peneliti memberikan contoh teknik menggambar alam dengan menggunakan
media pastel.
d. Peneliti memperkenalkan metode presentasi hasil lukis alam kepada peserta
didik.
e. Peneliti memberikan intruksi kepada peserta didik untuk melukis alam di luar
kelas dengan media pastel dan kertas A4.
f. Peserta didik melukis alam berdasarkan objek yang dilihat atau diamati langsung.
g. Tiap peserta didik mempresentasikan atau menceritakan dengan menujukkan
hasil karya lukis alam di depan kelas.
h. Peserta didik diberikan kesempatan untuk merefleksikan dirinya, mengingat
kembali apa yang telah dipelajarinya. Peserta didik diajak menafsirkan
pengalamannya melukis alam di luar kelas sehingga peserta didik dapat
menyimpulkan apa yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, hasil
pembelajaran diharapkan dapat lebih bermakna bagi peserta didik.
3. Observasi
Observasi dilakukan selama tindakan berlangsung. Peneliti menggunakan
instrumen pengamatan proses pembelajaran, yang dilengkapi dengan catatan
pengaruh-pengaruh yang diakibatkan oleh tindakan kelas. Rekaman berupa video peserta didik
saat presentasi, foto dan hasil karya lukis alam peserta didik menjadi data yang akan
dianalisis sebagai hasil observasi pada tindakan siklus 1.
4. Refleksi
Setelah dilakukan implementasi tindakan, peneliti melakukan refleksi atau
identifikasi masalah pada siklus 1. Refleksi dalam hal ini yaitu memperbaiki
terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan, yang akan dipergunakan untuk
penelitian pada tindakan selanjutnya.
C. Implementasi Tindakan
Implementasi tindakan pada penelitian ini adalah berupa penerapan metode
presentasi karya lukis alam. Adapun skenario pembelajaran tindakan penelitian ini
sebagai berikut:
1. Siklus 1
Implementasi tindakan pada siklus 1 direncanakan akan dilaksanakan dalam
satu pertemuan. Rencana tindakan pada pertemuan pada siklus 1 adalah sebagai
Tabel 1. Skenario Pembelajaran pada Tindakan 1 Alokasi Waktu 3x 35 Menit (105 Menit)
No. Kegiatan Pengorganisasian Alokasi
Waktu
1. KEGIATAN AWAL :
Apresepsi/ Motivasi :
Mengisi daftar kelas, berdoa,
mempersiapkan materi ajar, model, dan alat peraga.
Memperingatkan cara duduk yang baik
ketika melukis di dalam atau di luar kelas.
Klasikal 5 menit
2. KEGIATAN INTI :
EKSPLORASI
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
Menjelaskan unsur-unsur rupa yang ada
di alam sekitar, contohnya : warna, bidang, garis, ruang.
ELABORASI
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
Mengajak siswa keluar kelas dan
memberi kesempatan siswa mengamati alam sekitar
Melalui pengamatan secara langsung
siswa megekspresikan dengan melukis menggunakan teknik pastel.
KONFIRMASI
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mempresentasikan hasil karya lukis alam
Guru bersama siswa bertanya jawab,
memberikan apresiasi terhadap hasil
Klasikal
Individu
Individu
15 menit
60 menit
karya siswa dan memberikan penyimpulan.
3. KEGIATAN AKHIR
Dalam kegiatan akhir, guru:
Membuat kesimpulan dari materi yang
disampaikan dan memotivasi siswa untuk lebih percaya diri.
Memberikan tugas melukis alam di
sekitar rumah untuk dipresentasikan dipertemuan berikutnya.
Klasikal 5 menit
Total waktu 105
menit
2. Siklus II
Implementasi tindakan pada siklus II direncanakan akan dilaksanakan dalam
satu pertemuan. Rencana tindakan pada pertemuan pada siklus II adalah sebagai
[image:35.612.115.530.112.316.2]berikut:
Tabel 2. Skenario Pembelajaran pada Tindakan II Alokasi Waktu 3x 35 Menit
(105 Menit)
No. Kegiatan Pengorganisasian Alokasi
Waktu
1. KEGIATAN AWAL :
Apresepsi/ Motivasi :
Mengisi daftar kelas, berdoa,
mempersiapkan materi ajar, model, dan alat peraga.
Memotivasi untuk berani berekspresi
dan percaya diri dalam mempresentasikan hasil melukis alam di rumah.
2. EKSPLORASI
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
Melalui pengamatan dan pengalaman
siswa dirumah masing-masing menjelaskan unsur-unsur rupa yang ada di alam sekitar rumah
ELABORASI
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
Mengajak siswa untuk menunjukkan
tugas rumah melukis alam sekitar rumah.
Guru memberikan motivasi kepada siswa
agar siswa memiliki motivasi untuk percaya diri mempresentasikan hasil karya lukis alam.
KONFIRMASI
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mempresentasikan hasil karya lukis alam sekitar rumah
Guru bersama siswa bertanya jawab,
memberikan apresiasi terhadap hasil karya siswa dan memberikan kesimpulan.
Klasikal
Individu
Individu
15 menit
20 menit
55 menit
3. KEGIATAN AKHIR
Dalam kegiatan akhir, guru:
Membuat kesimpulan dari materi yang
disampaikan dan memotivasi siswa untuk lebih percaya diri.
Memberikan tugas melukis alam di
sekitar rumah untuk dipresentasikan dipertemuan berikutnya.
Klasikal 5 menit
Total waktu 105
3. Siklus III
Implementasi tindakan pada siklus III direncanakan akan dilaksanakan dalam
satu pertemuan. Rencana tindakan pada pertemuan pada siklus III adalah sebagai
[image:37.612.115.531.304.729.2]berikut:
Tabel 3. Skenario Pembelajaran pada Tindakan III Alokasi Waktu 3x 35 Menit
(105 Menit)
No. Kegiatan Pengorganisasian Alokasi
Waktu
1. KEGIATAN AWAL :
Apresepsi/ Motivasi :
Mengisi daftar kelas, berdoa,
mempersiapkan materi ajar, model, alat peraga.
Memperingatkan cara duduk yang baik
ketika melukis/ menggambar.
Memotivasi untuk berani berekspresi,
percaya diri dalam melukis, dan berpenampilan baik saat
mempresentasikan hasil karyanya.
Klasikal 5 menit
2. EKSPLORASI
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
Guru mengajak siswa keluar sekolah
untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati langsung alam sekitar sekolah.
ELABORASI
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
Guru mengajak siswa untuk mengingat
materi tentang unsur-unsur rupa yang terdapat di alam sekitar.
Klasikal
Individu
10 menit
Guru memberikan kesempatan peserta sisik untuk mengekspresikan diri melukis alam sekitar sekolah.
KONFIRMASI
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mempresentasikan hasil melukis langsung di alam sekitar sekolah.
Guru bersama siswa bertanya jawab,
memberikan apresiasi terhadap hasil karya siswa dan memberikan penyimpulan.
Individu 35 menit
3. KEGIATAN AKHIR
Dalam kegiatan akhir, guru:
Membuat kesimpulan dari materi yang
disampaikan dan memotivasi siswa untuk lebih percaya diri.
Memberikan tugas melukis alam di
sekitar rumah untuk dipresentasikan dipertemuan berikutnya.
Klasikal 5 menit
Total waktu 105
menit
D. Kriteria Keberhasilan Tindakan
Keberhasilan dari kinerja dalam penelitian tindakan ini yaitu, apabila terjadi
peningkatan rasa percaya diri peserta didik terhadap hasil karyanya dan seluruh siswa
kelas 1B mampu mempresentasikan hasil melukis alam di hadapan teman sejawat
melakukan presentasi lukis alam dengan percaya diri, maka metode presentasi hasil
melukis alam dianggap berhasil dan tindakan dihentikan.
E. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah rasa percaya diri yang merupakan
variabel dependen atau variabel yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
Selanjutnya metode presentasi lukis alam merupakan variabel independen atau
merupakan variabel bebas yang mempengaruhi menjadi sebab perubahan. Metode
presentasi dalam hal ini akan menjadi sebab perubahan atau berkembangnya rasa
percaya diri peserta didik.
F. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas IB SD Negeri Nogopuro. Waktu penelitian
diadakan pada bulan Desember sampai bulan Maret 2015. Kegiatan yang dilakukan
selama penelitian di SD Negeri Nogopuro tidak dilakukan setiap hari, tetapi
disesuaikan dengan keperluan pencarian data dan sesuai jadwal pembelajaran seni
lukis. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain: melakukan pembelajaran langsung
dengan metode presentasi hasil karya lukis alam pada kelas 1B, dalam tiga kali
pertemuan, yaitu pada tanggal 3 Februari 2015, 4 Februari 2015 dan 17 Maret 2015.
G. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik
didik dan 12 peserta didik perempuan. Penentuan subjek penelitiannya diambil dari
masalah yang terjadi pada pembelajaran seni rupa khususnya seni lukis, yaitu metode
pembelajaran yang monoton dan kondisi kelas yang sering kurang kondusif pada saat
pembelajaran berlangsung. Sebagian peserta didik cenderung pasif dan kurang
percaya diri dalam berkreatifitas. Akibatnya peserta didik kurang kreatif dalam
berkarya seni. Adapun objek dari penelitian ini yaitu percaya diri peserta didik dan
metode presentasi karya lukis alam. Peneliti membatasi penelitian pada kedua objek
tersebut agar penelitian lebih fokus dan tidak melebar.
H. Instrumen Pengumpulan Data
1. Lembar Observasi
Lembar observasi adalah pengumpulan data melalui pengamatan langsung,
peneliti terlibat langsung dalam situasi yang digunakan sebagai sumber data
penelitian. Observasi pada penelitian ini dilakukan sebelum dilakukannya penelitian,
peneliti mengamati langsung berjalannya pembelajaran seni rupa di kelas IB SD
Negeri Nogopuro.
2. Pedoman Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data melalui pertanyaan-
pertanyaan tertulis yang berstruktur dan mencatat jawaban dari responden yang
dalam hal ini sebagai sumber data. Sumber data dalam penelitian ini adalah Ibu
keterampilan. Peneliti melakukan wawancara pada Ny. Suparmi setelah peneliti
selesai dalam melakukan penelitiannya pada hari Selasa tanggal 17 Maret 2015.
3. Dokumentasi
Dalam penelitian ini selain pengumpulan dokumentasi foto dan video,
peneliti juga melakukan dokumenatasi tugas peserta didik. Tugas tersebut berupa
melukis alam sekitar dari pertemuan pertama hingga ketiga dengan menggunakan
media pastel dan kertas ukuran A4.
4. Lembar Pengamatan
Pada lembar pengamatan, merupakan pengumpulan data melalui pengamatan
langsung oleh peneliti. Pengamatan seperti pengukuran antusias peserta didik dalam
pembelajaran dan respon peserta didik terhadap materi pembelajaran. Lembar
pengamatan bertujuan untuk mengukur keaktifan dan respon peserta didik selama
pembelaran dengan penerapan metode presentasi karya lukis alam.
5. Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan pengumpulan data yang berupa catatan tertulis
peneliti ketika melakukan penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan
catatan penelitian dari siklus ke-1 sampai siklus ke-3. Catatan yang menceritakan
proses berlangsungnya penelitian, kendala selama penelitian maupun hasil dari
I. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, analisis ini
mendeskripsikan pengembangan rasa percaya diri melalui metode presentasi hasil
karya lukis pada peserta didik di SD Negeri Nogopuro. Data ini diperoleh berupa
dokumentasi berupa foto, video dan tulisan yang merupakan interpretasi dari
jawaban data yang diperoleh. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan
teknik analisis data model Miles and Huberman (1984 dalam Sugiyono, 2011)
dengan tahap data reduction, data display, dan conclusion drawing/ verification.
1. Reduksi Data
Mengorganisasikan data-data yang telah dikumpulkan, data yang masuk
dipilih dan diurutkan kedalam pola sesuai dengan topik penelitian. Data yang
direduksi adalah data yang dianggap penting atau relevan dengan pembelajaran seni
lukis.
2. Penyajian Data
Penyajian data dilakukan dalam bentuk sekumpulan informasi, baik berupa
tabel maupun deskriptif naratif, sehingga data yang tersaji relatif jelas dan
informatif. Tindakan lanjutan, penyajian data digunakan dalam kerangka menarik
kesimpulan dari akhir sebuah tindakan.
3. Kesimpulan
Kegiatan penarikan kesimpulan merupakan kegiatan tahap akhir dari proses
analisis data. Penarikan kesimpulan disusun dengan mempertimbangkan secara
evaluatif berdasarkan kegiatan-kegiatan yang ditempuh dalam tahap-tahap
J. Keabsahan Data
Sebuah penelitian agar memperoleh kepercayaan terhadap hasil penelitian
yang diperoleh, harus memenuhi beberapa kriteria seperti yang dijelaskan oleh
Moeloeng (2006 dalam Sugiyono, 2013) yaitu: kredibilitas/ kepercayaan (validitas
internal), transferabilitas/ keteralihan (validitas eksternal), dependabilitas/
kebergantungan (reliabilitas), dan konfirmabilitas/ kepastian (objektivitas)
Penelitian ini dilakukan hingga peneliti mendapatkan hasil yang diinginkan
yaitu siswa mampu mempresentasikan/menunjukan dan menjelaskan hasil karya
lukis alam di hadapan teman sejawat. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk
menunjukkan tingkat reliabilitas data dengan cara menyajikan data aslinya. Data asli
yang terlampir seperti catatan lapangan, transkrip wawancara, hasil nilai anak, format
observasi proses pelaksanaan pembelajaran dan dokumentasi berupa foto dan
rekaman video. Reliabilitas data adalah melalui penggunaan alat dan penilaian
terhadap subjek yang sama dan dilakukan pada waktu yang berbeda, namun butirnya
sama (Sugiyono, 2013: 124). Pencapaian pengambilan data ganda yang dilakukan
waktu yang berbeda.
1. Triangulasi
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik
pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan
data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data
dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus
sumb kebe pene meny deng yang waw selam diana Baga ber data enaran ten eliti terhad Pada p yatakan b gan menge g berbeda wancara ya ma prose
alisis oleh
an 2: Tria
(Sugiyono ntang beb dap apa ya
penelitian bahwa tri ecek data a. Peneliti ang dilaku es penelit h peneliti angulasi T W o, 2013: berapa fen ang telah n ini meng
iangulasi kepada s ian ini di ukan deng tian. Dari sehingga Teknik Wawancar 241). Tuj nomena, t ditemukan ggunakan
teknik u sumber ya
iperoleh d gan Ny. Su i tiga tek menghasi O ra juan dari tetapi leb n.
n triangula untuk me ang sama data deng uparmi se knik peng ilkan suatu Observasi triangula bih pada p
asi teknik enguji kre dengan w gan obser ebagai Gur gujian kr u kesimpu Do asi bukan peningkat k. Sugiyo edibilitas wawancara rvasi, lalu ru SBK d redibilitas
ulan.
okumenta
untuk m tan pemah
31
A. Hasil Penelitian
1. Lokasi Penelitian dan Proses Pra-tindakan
a. Deskripsi Lokasi Penelitian
SD Negeri Nogopuro terletak di jalan Nogopuro Nomor 3, kecamatan Depok,
kabupaten Sleman, Yogyakarta. SD ini terdiri dari 12 kelas dengan didukung oleh
tenaga pengajar yang terdiri dari 12 Guru wali kelas, dua Guru agama Islam, satu
Guru agama Katolik, satu Guru agama Kristen, satu Guru agama Hindu, satu Guru
olahraga, dan dua Guru komputer, dan lima petugas TU. Sehingga totalnya ada 25
Guru dan satu kepala sekolah yang ada di SD Negeri Nogopuro. Fasilitas-fasilitas
yang dimiliki SD Negeri Nogopuro antara lain UKS, koperasi peserta didik,
perpustakaan, mushola dan laboraturium komputer. SD Nogopuro juga
menyelenggarakan kegiatan yang bersifat ekstrakulikuler, yaitu ekstrakulikuler seni
tari, karawitan, olahraga dan komputer. Tidak jarang kegiatan ekstrakulikuler ini
mendapatkan penghargaan dari berbagai macam lomba dan meningkatkan prestasi
peserta didik maupun sekolah. Sehingga SD Negeri Nogopuro ini berakreditasi A
sebagai sekolah percontohan untuk sekolah dasar disekitarnya.
b. Identifikasi Masalah Lapangan
Sebelum penelitian tindakan kelas ini dilakukan, terlebih dahulu dilakukan
observasi awal. Pada tahapan ini diperoleh data melalui wawancara dengan Guru
kelas. Pengamatan atau observasi langsung di kelas, yaitu mengamati langsung
keadaan peserta didik kelas 1B dalam mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas.
Wawancara model terbuka dan terpimpin ini dilakukan untuk menggali informasi
yang terkait dengan pelaksanaan KBM secara rinci serta mendata permasalahan dari
pandangan pribadi Guru. Dari hasil observasi, dan wawancara diperoleh berbagai
data sebagai berikut.
c. Data Hasil Wawancara dengan Guru Mata Pelajaran
Peneliti melakukan proses wawancara denga Guru mata pelajaran Ibu
Suparmi dan yang merupakan wali kelas 1B pada hari Selasa, 17 Maret 2015.
Peneliti melakukan wawancara setelah melakukan proses pengamatan atau obervasi
pembelajaran seni rupa di kelas 1B. Hal ini bertujuan untuk mengumpulkan data
yang diperlukan peneliti dalam merumuskan masalah yang ada dalam pembelajaran
seni rupa khususnya dalam pembelajaran melukis. Peneliti menyiapkan sebanyak 16
pertanyaan kepada Guru yang berkaitan tentang proses pembelajaran seni budaya
khususnya materi pembelajaran melukis. Wawancara dilakukan secara tersusun,
sehingga memudahkan peneliti dan Guru sebagai sumber informan. Dan hasil
wawancara yang didapat yaitu peserta didik sangat berminat dalam mata pelajaran
melukis alam. Guru selalu meyiapkan perangkat pembelajaran seperti RPP dan
silabus sebelum memulai proses KBM. Saat proses pembelajaran Guru sesekali
memberikan contoh atau demontrasi kepada peserta didik, dan melakukan
Guru menggunakan media kertas, cat air, kuas dan pastel dalam proses
pembelajaran. Walau terkadang peserta didik ada yang tidak membawa media
tersebut, Guru selalu menyiapkan media tersebut untuk dipinjami kepada peserta
didik sebagai cara menghadapi kendala dalam pembelajaran. Kendala yang terjadi
dalam pembelajaran, yaitu ada bebarapa peserta didik yang terkadang tidak tepat
waktu dalam menyelesaikan tugas melukisnya. Cara yang digunakan Guru untuk
menghadapi kendala tersebut adalah dengan memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk memilih tempat dalam proses berkarya.
Selama proses pembelajaran seni rupa, Guru memberikan pernyataan bahwa
sebelumnya peserta didik belum pernah belajar melukis di luar sekolah. Namun,
dalam mata pelajaran yang lain peserta didik sangat tertarik dalam proses
pembelajaran ketika di luar kelas. Ny. Suparmi dalam hal ini tidak hanya sebagai
Guru seni budaya tetapi juga wali kelas 1B. Materi melukis di setiap kompetensi
dasarnya peserta didik melukis sebanyak satu kali. Hasil lukisan peserta didik sejauh
ini menurut Guru cukup baik, dan apresiasi peserta didik terhadap karya yaitu dengan
saling memberi motivasi atau semangat kepada teman sejawat ketika proses
berkarya.
d. Observasi Kelas
Saat pelaksanaan observasi, peneliti berusaha mengamati segala yang terjadi
dalam proses pembelajaran. Pengamatan mengacu pada instrument observasi yang
telah dibuat agar sistematis. Berikut adalah hasil observasi di dalam kelas pada
a. Guru membuka pelajaran dengan salam, mengajak peserta didik untuk berdoa
bersama sebelum memulai proses pembelajaran.
b. Guru melakukan presentasi yang diikuti dengan ulasan materi yang telah
diberikan sebelumnya dan memberikan intruksi kepada peserta didik untuk
membuka buku pelajaran.
c. Guru menjelaskan materi dengan media powerpoint yang ditayangkan melalui
layar LCD.
d. Peserta didik memperhatikan materi yang diberikan oleh Guru dengan respon
yang cukup baik walaupun keaktifan dalam bertanya maupun berpendapat masih
kurang.
e. Guru memberikan intruksi kepada peserta didik untuk menyanyikan lagu untuk
memberikan daya tarik kepada peserta didik.
f. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melukis.
g. Sesekali Guru berkeliling dari peserta didik satu ke peserta didik yang lain
sebagai proses pendampingan.
h. Dalam proses berkarya tidak jarang peserta didik masih bermain sendiri dan malu
ketika karyanya dilihat oleh teman maupun Guru.
i. Guru menutup proses pembelajaran dengan salam dan mengumpulkan hasil
e. Identifikasi dan Fokus Masalah
Berdasarkan data tersebut di atas, maka dapat diidentifikasi masalah- masalah
yang terkait dengan proses di kelas 1B. Terdapat beberapa masalah dalam proses
pembelajaran yaitu:
1. Media dalam penyampaian materi yang digunakan oleh Guru kurang menarik
perhatian peserta didik. Seperti aplikasi powerpoint yang digunakan masih dalam
bentuk sederhana. Sehingga peserta didik terkadang kurang memperhatikan Guru
saat menjelaskan materi pembelajaran.
2. Peserta didik masih sering tidak membawa media melukis saat proses
pembelajaran, yang menjadikan salah satu kendala dalam proses pembelajaran
3. Keaktifan peserta didik dalam bertanya maupun berpendapat dalam pembelajaran
masih kurang. Seperti peserta didik masih merasa malu bertanya kepada Guru
ketika ada hal yang belum dimengerti saat proses KBM.
4. Peserta didik belum mengetahui cara mengapresiasi dengan baik sebuah karya.
Jadi kurangnya apresiasi peserta didik terhadap hasil karya sendiri maupun teman
5. Walaupun Guru sudah melakukan proses pendampingan saat proses
pembelajaran. Namun tidak jarang peserta didik masih malu-malu atau kurang
percaya diri dalam proses berkarya maupun ketika dilihat hasil karyanya oleh
Guru. Sehingga menjadi penghambat dalam proses pembelajaran peserta didik.
6. Guru tidak menyimpulkan hasil pembelajaran diakhir proses KBM. Dan dalam
proses pembelajaran Guru kurang mendorong peserta didik sehingga peserta
f. Perencanaan Penyelesaian Masalah Pembelajaran di Kelas
Bedasarkan fokus masalah, maka peneliti menyusun perencanaan
penyelesaian masalah pembelajaran di dalam kelas. Dengan langsung menerapkan
metode presentasi hasil karya lukis alam kepada peserta didik, diharapkan peserta
didik dapat meningkatkan rasa percaya dirinya dalam meningkatkan rasa percaya
dirinya dalam proses berkarya seni maupun terhadap hasil karya yang telah
diciptakan. Rasa percaya diri ini dapat berkembang ketika peserta didik dalam proses
pembelajaran mata pelajaran yang lain. Misalnya rasa percaya diri untuk bertanya
tentang materi yang kurang diketahui, percaya diri untuk menjawab pertanyaan yang
diberikan oleh Guru, maupun percaya diri dalam mengungkapkan pendapat ketika
berdiskusi dengan teman sejawat.
Melukis alam dipilih oleh peneliti karena pada dasarnya anak usia 6-7 tahun
masih dekat dengan alam atau lingkungannya. Dengan melukis di luar ruang kelas
atau di alam secara langsung, peserta didik bisa belajar percaya diri ketika proses
berkaryanya dilihat teman sejawat atau orang lain dan peserta didik lebih berani
dalam mengekspresikan idenya dengan pengamatan secara langsung. Guru mata
pelajaran seni budaya menyerahkan kepada peneliti mengenai hal- hal yang perlu
direncanakan, karena menurut Guru sebelumnya metode presentasi belum pernah
diterapkan dalam pembelajaran di kelas 1B.
Setelah mengidentifikasi masalah, peneliti membuat rencana penyelesaian
untuk masalah tersebut. Rencana penyelesaian masalah tersebut adalah sebagai
1. Peneliti berupaya meningkatkan rasa percaya diri dalam berkarya dengan cara
melukis alam di luar kelas maupun melukis langsung di alam sekitar. Peneliti
harus mendorong peserta didik agar termotivasi untuk percaya diri dalam
berkarya seni.
2. Peneliti berusaha meningkatkan rasa percaya diri peserta didik terhadap hasil
karya yang telah diciptakan dengan menunjukkan hasil karyanya kepada teman
sejawat maupun Guru di depan kelas. Peserta didik diupayakan untuk percaya
diri menunjukkan ide atau hasil pemikirannya. Metode presentasi hasil karya
alam ini dilakukan untuk memacu kecakapan verbal atau lisan peserta didik, dan
rasa percaya diri peserta didik.
3. Peneliti berupaya meningkatkan keterampilan dalam melukis alam. Memberikan
materi tentang berbagai macam dasar bentuk-bentuk benda yang ada di alam.
Bentuk dan warna merupakan hal yang harus dikenalkan kepada peserta didik
untuk memacu pemahaman visual mereka mengenai berbagai macam bentuk dan
warna. Oleh karenanya peneliti memperbanyak refrensi contoh gambar tentang
bentuk, warna maupun gambar alam.
4. Peneliti berupaya untuk meningkatkan rasa apresiasi peserta didik terhadap karya
maupun ide, dengan mengapresiasi hasil karya peserta didik yang tampil di depan
kelas dengan bentuk pujian maupun tepuk tangan. Peneliti harus memberikan
2. Proses Pelaksanaan Siklus 1
Berdasarkan rencana penyelesaian masalah yang telah ada, maka
dilaksanakan tindakan 1. Dalam pelaksanaannya peneliti bertindak langsung dalam
proses pembelajaran dan didampingi Ny. Suparmi sebagai Guru SBK kelas 1B.
Terkait dengan tindakan ini disepakati bahwa peneliti menekankan proses belajar
untuk mengenalkan materi tentang melukis alam dengan menggunakan media pastel
dan metode presentasi hasil melukis alam. Tahap-tahap tindakan 1 adalah sebagai
berikut:
a. Tahap Perencanaan 1
Berdasarkan analisis hasil observasi dan diskusi bersama Guru, peneliti
merangkum segala permasalahan yang ada. Laporan rangkuman identifikasi tersebut
dibuat berdasarkan hasil observasi. Permasalahan inilah yang kemudian
direncanakan penyelesaiannya.
b. Rencana Jenis Tindakan 1
1) Pembuatan Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran pada tindakan I ini, peneliti menentukan kompetensi
dasar yang akan dicapai peserta didik yaitu dalam rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP): mengidentifikasi unsur rupa pada alam sekitar, menunjukkan sikap apresiatif
terhadap unsur rupa pada alam sekitar, mengekspresikan diri melalui melukis alam
secara langsung, dan menunjukkan sikap percaya diri terhadap karya sendiri.
melihat kemajuan peserta didik dalam pengenalan metode presentasi maupun
kemajuan dalam peningkatan rasa percaya diri peserta didik.
2) Penerapan Metode Presentasi Hasil Melukis Alam
Realisasi metode pembelajaran ini melibatkan peserta didik secara aktif untuk
dapat mengenal unsur-unsur rupa yang ada di alam sekitar. Peneliti berusaha
meningkatkan pengetahuan dan pengetahuan peserta didik dalam melukis dengan
media powerpoint atau LCD. Peneliti memberikan contoh-contoh gambar yang
menarik agar peserta didik tertarik untuk mendengarkan materi dari peneliti. Seperti
bentuk-bentuk dasar pada benda alam, warna, dan garis. Peneliti lalu memberikan
intruksi untuk menyanyikan lagu yang berhubungan dengan alam. Dengan metode
ini, peserta didik diharapkan lebih antusias dalam proses KBM.
Peserta didik tidak hanya diberi materi oleh peneliti, tetapi peserta didik juga
diminta untuk mengekspresikan diri melalui melukis alam di luar kelas setelah
penyampaian materi selesai. Peserta didik diminta untuk melukis alam sekitar yang
pernah dilihat, sedang dilihat atau yang ada di alam fikiran mereka. Seperti gunung,
sawah, hutan, danau dan lain sebagainya. Melukis di luar kelas peserta didik dilatih
untuk percaya diri dalam mengekspresikan diri mereka. Setelah peserta didik selesai
melukis alam, peneliti memberikan intruksi kepada peserta didik untuk
mempresentasikan hasil karyanya dengan menunjukkan hasil karyanya sambil
bercerita terntang hasil karya lukis alamnya secara lisan di depan kelas. Tidak hanya
untuk meningkatkan rasa percaya diri peserta didik, tetapi juga melatih kecerdasan
diharapkan ada pada peserta didik dalam mengapresiasi karya teman dengan cara
yang baik. Seperti memuji atau memberikan “applause” kepada peserta didik yang
telah melakukan presentasi di depan kelas. Dengan demikian, tindakan pertama dan
seterusnya benar-benar relevan dengan situasi pembelajaran di kelas.
c. Penentuan Kriteria Keberhasilan Tindakan
Indikator pencapaian kriteria keberhasilan dalam penelitian tindakan ini
adalah:
1) Pengenalan peserta didik terhadap presentasi hasil lukis alam sebagai metode
untuk meningkatkan rasa percaya diri peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari
peserta didik dapat mempresentasikan hasil karyanya dengan menunjukkan hasil
karyanya sambil menceritakan secara lisan hasil karyanya dengan baik.
Keberhasilan tindakan dapat dilihat dari antusias peserta didik untuk
berpenampilan baik saat presentasi.
2) Peserta didik mampu mengapresiasi hasil karyanya maupun hasil karya orang
lain. Hal ini dapat dilihat dengan respon peserta didik ketika melihat teman
sejawat lainnya melakukan presentasi.
d. Tahap Pelaksanaan 1
Tindakan pertama dilaksanakan oleh peneliti dalam satu kali pertemuan.
Untuk pengenalan metode presentasi, cukup bila dilakukan hanya dengan satu kali
pertemuan. Karena dalam satu pertemuan, peneliti diberikan waktu 3 jam mata
memakan banyak waktu. Peserta didik dalam melukis menggunakan media pastel
sehingga saat pewarnaan tidak memerlukan waktu yang lama. Sehingga waktu
diberikan dirasa cukup untuk tindakan satu dilakukan hanya dengan satu kali
pertemuan.
1) Pelaksanaan
Petemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 2015 jam ke 1
(07.15- 08.20 WIB). Tema pelajaran hari ini adalah lingkunganku. Peneliti memulai
pelajaran dengan salam yang kemudian dilanjutkan dengan presensi terhadap peserta
didik. Peneliti memperkenalkan diri kepada peserta didik, bahwa peneliti akan
menggantikan Ny. Suparmi pada mata pelajaran seni budaya untuk beberapa hari.
Peneliti memberikan materi tentang melukis alam dengan memberikan contoh-
contoh gambar tentang unsur rupa pada alam sekitar maupun macam-macam bentuk
alam. Peserta didik terlihat antusias melihat gambar-gambar yang ada di layar LCD.
Peneliti berusaha membuat penyampaian materi menarik untuk peserta didik.
Kemudian peneliti memberikan demonstrasi sekilas tentang melukis dengan
media pastel. Peserta didik kemudian diberi waktu untuk melukis di luar kelas.
Peserta didik diberikan kebebasan untuk melukis alam sesuai dengan bentuk alam
yang peserta didik fikirkan, pernah dilihat maupun sedang dilihat. Setelah selesai
melukis, peserta didik diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil karyanya
dengan menunjukkan hasil karya melukis dan bercerita tentang hasil gambarnya.
Namun, sebelumnya peneliti berusaha memberikan dorongan agar peserta didik
mempresentasikan hasil karyanya dari 26 peserta didik yang hadir. Ada beberapa
faktor yang menyebabkan peserta didik belum percaya diri maju di depan kelas
untuk melakukan presentasi. Kemudian peneliti berusaha memberikan motivasi lagi
kepada peserta didik sebelum menutup pertemuan pertama. Peneliti memberikan
penutup dengan salam. Dan identifikasi pada tindakan I yaitu sebagai berikut.
a) Cara Peneliti Menyampaikan Materi dan Teknik Pengelolaan Kelas
Peneliti lebih menyukai menyampaikan materi dengan hal-hal yang dapat
menarik perhatian peserta didik. Seperti memberikan animasi bergerak pada
powerpoint yang diberisikan materi dan memberikan contoh gambar yang menarik
tentang alam dan unsur-unsur rupa yang ada didalamnya. Media visual lebih menarik
perhatian peserta didik, saat peneliti memberikan materi dengan metode ceramah.
Saat pertengahan penyampaian materi, peneliti memberikan intruksi untuk
menyanyikan lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung”. Hal ini dilakukan agar peserta
didik tidak jenuh dan lebih bersemangat dalam proses KBM. Peneliti menggunakan
metode mengajar dengan demostrasi, yaitu mendemonstrasikan melukis dengan
media pastel untuk memberikan contoh teknik dalam teknik melukis kepada peserta
didik.
Sedangkan untuk teknik pengelolaan kelas, peneliti memberikan peserta didik
kesempatan untuk lebih aktif betanya, maupun berpendapat. Seperti saat melukis di
luar kelas, peneliti mendampingi peserta didik ketika berkarya. Sehingga peserta
didik dapat bertanya secara langsung kepada peneliti tentang lukisannya. Peneliti
bermain sendiri. Peneliti seringkali berkeliling melihat hasil melukis peserta didik
dari satu sisi ke sisi lain. Tidak jarang peneliti mendorong peserta didik untuk lebih
termotivasi dalam melukis maupun untuk percaya diri terhadap hasil lukisannya.
Peneliti juga mengingatkan kepada peserta didik boleh bermain asal tidak lupa untuk
menyelesaikan lukisannya.
b) Respon, Keaktifan dan Antusiasme Peserta didik
Respon peserta didik terhadap metode presentasi hasil lukis alam yang
dilakukan oleh peneliti masih kurang. Hal tersebut terlihat saat peneliti memberikan
intruksi kepada peserta didik untuk mempresentasikan hasil karyanya. Hanya
sembilan peserta didik yang mampu mempresentasikan hasil lukis alam. Namun
antusiasme peserta didik untuk melukis di luar kelas sangat baik. Peserta didik sangat
senang karena menurut peserta didik seperti suasana baru bagi mereka.
Keaktifan mereka bertanya maupun berpendapat saat proses berkarya pun
cukup baik. Sama halnya ketika peneliti memberikan materi, respon dan keaktifan
peserta didik cukup baik. Terlihat ketika peserta didik tertarik dan semangat melihat
contoh gambar, menyebutkan bentuk-bentuk dasar dan menyebutkan bentuk alam
yang pernah dilihat maupun dikunjungi peserta didik. Secara keseluruhan respon atau
antusiasme peserta didik terhadap proses pembelajaran cukup baik. Terhadap metode
presentasi dan apresiasi pada hasil karya sendiri maupun orang lain masih kurang.
2) H karen tinda prese a) P b p b) K c) P m Tabe No. 1. Hasil Tin Penera na masih akan pert entasi has Peserta di belum mer peserta did Kurangny Peserta di melukis m
el 4: Daft Alam Nama D Dimas Widarto dakan 1 apan meto
kurang m tama. Ad sil lukis al idik baru reka dapa dik yang m
a motivas idik kuran mereka kur
tar Pesert m pada S
a Peserta idik
Saputro ono
ode presen mampu m da bebera
lam belum u mengena atkan di m
mampu m si pada pe ng percay rang maks ta Didik iklus 1 o ntasi hasil membangk apa faktor m berhasil al metode mata pelaja mempresen serta didik ya diri ter
simal.
Kelas 1B
Hasil M
l lukis ala kitkan ras r yang m
, yaitu: e tersebu aran seni ntasikan h k untuk m rhadap ha
B yan