4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Hotel X Surabaya
Hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali adalah salah satu brand dari kelompok jaringan hotel terbesar di dunia saat ini. Hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali berdiri pada bulan Desember 2014 di Bali. Hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali adalah hotel bintang lima yang terletak di kawasan wisata dan kawasan resort di Bali yang berlokasi di Jalan Raya Nusa Dua Selatan Lot III Sawangan, Nusa Dua, Bali.
Nama Hotel: Hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali
Alamat: Jalan Raya Nusa Dua Selatan Lot III Sawangan, Nusa Dua, Bali Phone: +62 361 8498988
4.1.1 Fasilitas Hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali
Hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali didirikan pada bulan Desember 2014 dengan 313 kamar gabungan suite dan vila dengan pemandangan ke taman dan tepi laut dan resor, 3 restoran, 3 bar, The Ritz Carlton - Club, Ritz Kids, pernikahan yang dapat didakan di kapel di tepi pantai, fasilitas pertemuan Dengan 1 balroom, 4 ruang terpisah, dan 1 ruang rapat, dan yang terakhir adalah The Ritz - Carlton Spa yang memiliki 14 ruang perawatan termasuk 4 vila spa. Beberapa tipe kamar di hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali adalah sebagai berikut:
a) The Ritz-Carlton Ocean-front villa b) The Garden villa
c) The Cliff villa d) The Sky villa e) The Pool Pavilion f) The Ritz-Carlton Suite g) The Ritz-Carlton Cliff villa h) The Sawangan Junior Suite
Hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali juga memiliki hotel yang terkenal di Bali, yaitu: a) Beach Grill b) Bejana c) Raku d) Breezes
e) Lounge and Bar f) Senses
4.1.2 Visi & Misi Hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali
Visi dari Hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali adalah “inspires life’s most meaningful journeys” yang artinya adalah bahwa Hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali ingin menginspirasi tamunya untuk memiliki pengalaman yang sangat berarti di hotel mereka. Sedangkan misi hotel ini adalah “provide genuine care and exceptional products and services resulting in profit leadership”. Yang berarti hotel ini ingin menyediakan servis dan produk yang terbaik agar dapat menjadi pemimpin di area profit.
4.1.3 Struktur Organisasi Hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali
Gambar 4.1 Struktur organisasi hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali
General Manager Room Division Front Office Housekeepi ng F&B Division F&B Product F&B Service Banquet Sales and Marketing Revenue Finance Purchasing Receiving
HRD Engineering PreventionLost Hotel
Hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali memiliki karyawan F&B Department yang berjumlah 87 orang yang tersebar di 7 outlet termasuk banquet juga yang akan menjadi objek penelitian oleh penulis.
4.2 Deskripsi Profil Responden
Penulis menyebarkan 72 kuesioner online secara langsung di Hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali pada tanggal 16-18 Mei 2017. Kuesioner online disebarkan kepada karyawan pada semua departemen F&B Service termasuk Banquet, akan tetapi hanya 67 data yang valid dan dapat digunakan karena 5 kuisioner lainnya tidak diisi dengan lengkap oleh responden. Hal tersebut menunjukkan bahwa respon rate yang didapat oleh peneliti adalah 93%. Berikut ini adalah demografi hasil dari kuesioner penelitian.
Tabel 4.1 Profil Demografis
No Atribut Demografis N %
1 Jenis Kelamin Laki-Laki 47 70%
Perempuan 20 30% 2 Umur <20 tahun 1 1.5% 20-29 tahun 42 62.7% 30-39 tahun 16 23.9% 40-49 tahun 7 10.4% 50-59 tahun 1 1.5% 3 Pendidikan SMA 6 9% Diploma 50 74.6% S1 11 16.4% 4 Penghasilan per Bulan <2.000.000 2 3% 2.000.000 7 10.4% 3.000.000 2 3% 4.000.000 17 25.4% 5.000.000 20 29.9% 6.000.000 12 17.9% >6.000.000 7 10.4%
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 67 responden yang ada, 47 responden berjenis kelamin laki-laki, dan 20 responden berjenis kelamin perempuan. Hal ini
menunjukkan bahwa lebih banyak karyawan laki-laki (70%) dibandingkan karyawan perempuan (30%) di seluruh departemen tersebut pada penelitian ini. Lalu dari 67 responden yang menjadi sampel dari penelitian kali ini, paling banyak berusia 20-29 tahun sebesar 62,7% dan yang paling sedikit berjumlah 1 dengan persentase 1,5% yaitu dibawah umur 20 tahun dan 50-59 tahun. Dari segi pendidikan diatas dapat dilihat bahwa dari 67 responden, 50 responden memiliki pendidikan terakhir diploma (74,6%), dan yang paling sedikit adalah sebanyak 6 responden yang berpendidikan terakhir SMA (9%). Dari tabel diatas dapat dilihat juga bahwa dari 67 responden paling banyak adalah yang berpendapatan 5.000.000 rupiah per bulan dengan jumlah 20 orang (29,9%), dan yang paling sedikit adalah yang berpendapatan dibawah 2.000.000 per bulan dan 3.000.000 per bulan (3%).
4.3 Analisa Statistik Deskriptif
Jawaban responden terhadap kuesioner yang diberikan akan dibahas pada bagian ini. Pengambilan asumsi dilakukan berdasarkan perhitungan nilai mean/rata-rata jawaban responden pada tiap indikator. Pengkategorian jawaban responden menggunakan interval kelas yang dicari dengan menggunakan rumus berikut: Interval kelas = Nilai tertinggi – Nilai terendah = 5 – 1 = 0,80 (4.1)
Jumlah Kelas 5
Dengan nilai interval sebesar 0.8, maka dapat disusun kategori tiap kelas pada tabel berikut.
Tabel 4.2 Kategori Penilaian Mean Jawaban Responden
Interval Kategori 1.00 – 1.81 Sangat Buruk 1.81 – 2.60 Buruk 2.61 – 3.40 Cukup 3.41 – 4.20 Baik 4.21 – 5.00 Sangat Baik
4.3.1 Motivasi
Tabel 4.3 Hasil Analisa Deskriptif Statistik Motivasi
Atribut Indikator Kuesioner Skor Total Mean Kategori
1 2 3 4 5
Motivasi X1.1 Karyawan F&B service department memiliki keinginan untuk menyelesaikan tugas dengan hasil yang lebih baik daripada orang lain.
0 0 0 39 28 67 4,42 Sangat Baik
X1.2 Karyawan F&B service department merasa puas apabila target yang diberikan dapat diselesaikan dengan hasil yang baik.
0 0 0 41 26 67 4,39 Sangat Baik
X1.3 Karyawan F&B service department merasa termotivasi apabila mendapatkan
pengakuan yang sesuai.
0 0 1 36 30 67 4,43 Sangat Baik
X1.4 Karyawan F&B service department bekerja lebih keras jika diberikan kebebasan untuk mengambil tanggung jawab.
0 0 5 39 23 67 4,27 Sangat Baik
X1.5 Karyawan F&B service department terdorong untuk memperoleh kenaikan jabatan. 0 0 9 37 21 67 4,18 Baik X1.6 Tantangan dalam pekerjaan membuat karyawan F&B service department
menunjukkan potensi yang dimiliki.
0 0 7 38 22 67 4,22 Sangat Baik
Tabel 4.3 Hasil Analisa Deskriptif Statistik Motivasi (sambungan)
Atribut Indikator Kuesioner Skor Total Mean Kategori
1 2 3 4 5
Motivasi X1.7 Kesempatan untuk berkembang dalam suatu perusahaan memotivasi karyawan F&B service department. 0 0 3 34 30 67 4,40 Sangat Baik Total rata-rata mean motivasi 4,33 Sangat Baik
Tabel 4.3 Hasil Analisa Deskriptif Statistik Motivasi menggambarkan rata-rata nilai yang dihasilkan oleh seluruh karyawan Hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali. Tabel menunjukkan bahwa “kesempatan untuk berkembang dalam suatu perusahaan memotivasi karyawan F&B service department” (X1.7) memiliki nilai mean tertinggi yaitu 4,40 yang tergolong sangat baik. Sedangkan indikator (X1.5) “karyawan F&B service department terdorong untuk memperoleh kenaikan jabatan” memilliki nilai mean terendah, yaitu 4,18 yang tergolong baik. Untuk nilai total rata-rata mean motivasi adalah sebesar 4,33 yang tergolong sangat baik.
Tabel 4.4 Hasil Analisa Deskriptif Statistik Kompensasi
Atribut Indikator Kuesioner Skor Total Mean Kategori
1 2 3 4 5
Kompensasi X2.1 Karyawan F&B service department merasa gaji yang diberikan sudah sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan.
Tabel 4.4 Hasil Analisa Deskriptif Statistik Kompensasi (sambungan)
Atribut Indikator Kuesioner Skor Total Mean Kategori
1 2 3 4 5
X2.2 Karyawan F&B service department merasa insentif yang diberikan sudah sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan.
0 5 22 31 9 67 3,66 Baik
X2.3 Karyawan F&B service department merasa bonus yang diberikan sudah sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan.
1 6 12 30 18 67 3,87 Baik
X2.4 Karyawan F&B service department mendapatkan pelatihan yang diperlukan untuk bekerja. 0 0 6 36 25 67 4,28 Sangat Baik X2.5 Karyawan F&B service department mendapatkan pujian dari atasan atas pekerjaan yang telah dilakukannya.
0 4 9 43 11 67 3,91 Baik
X2.6 Karyawan F&B service department mendapatkan cuti sesuai kebijakan yang telah diberlakukan. 0 2 17 29 18 67 3,90 Baik Total rata-rata mean kompensasi 3,94 Baik
Tabel 4.4 menunjukan bahwa indikator dengan nilai mean terbesar adalah (X2.4) “Karyawan F&B service department mendapatkan pelatihan yang diperlukan untuk bekerja” yaitu 4,28 yang tergolong sangat baik. Dengan nilai terendah yaitu 3,66 adalah (X2.2) “Karyawan F&B service department merasa insentif yang diberikan sudah sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan” yang tergolong baik. Untuk nilai total rata-rata mean kompensasi adalah sebesar 3,94 yang tergolong baik.
Tabel 4.5 Hasil Analisa Deskriptif Statistik Kinerja
Atribut Indikator Kuesioner Skor Total Mean Kategori
1 2 3 4 5
Kinerja Y1.1 Karyawan F&B service department menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. 0 0 2 30 35 67 4,49 Sangat Baik
Y1.2 Karyawan F&B service department bekerja sesuai dengan jam kerja yang telah diberikan oleh atasannya.
1 3 5 35 23 67 4,13 Baik
Y1.3 Karyawan F&B service department menyelesaikan tugasnya degan akurat dan tanpa kesalahan.
0 1 17 34 15 67 3,94 Baik
Y1.4 Karyawan F&B service department bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh atasannya. 0 0 3 35 29 67 4,39 Sangat Baik Total rata-rata mean kinerja 4,24 Sangat Baik
Tabel 4.5 menunjukan bahwa nilai mean indikator (Y1.1) “Karyawan F&B service department menyelesaikan pekerjaannya dengan baik” adalah yang terbesar dengan nilai 4,49 yang tergolong sangat baik. Nilai mean indikator (Y1.3) “Karyawan F&B service department menyelesaikan tugasnya degan akurat dan tanpa kesalahan” adalah yang terendah dengan nilai 3,94 yang tergolong baik. Nilai total rata-rata mean kinerja adalah sebesar 4,24 yang tergolong sangat baik.
4.4 Uji Validitas
Sehubungan dengan validitas data, uji validitas dilakukan pertama kali untuk mengetahui apakah butir-butir pernyataan dalam kuesioner dianggap valid. Dalam penelitian ini, setiap pernyataan baru bisa dikatakan valid apabila r hitung > r tabel dengan tingkat signifikansi 5% (Ghozali, 2009). Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menyebar 67 kuesioner yang disebarkan, dan hasilnya adalah:
Tabel 4.6 Hasil Uji Validitas Motivasi, Kompensasi, dan Kinerja
No Pernyataan r Hitung r Tabel Keterangan
Motivasi 1 Karyawan F&B service department memiliki keinginan untuk menyelesaikan tugas dengan hasil yang lebih baik daripada orang lain.
0,674 0,240 Valid
2 Karyawan F&B service department merasa puas apabila target yang diberikan dapat diselesaikan dengan hasil yang baik.
0,654 0,240 Valid
3 Karyawan F&B service department merasa termotivasi apabila mendapatkan pengakuan yang sesuai.
0,675 0,240 Valid
4 Karyawan F&B service department bekerja lebih keras jika diberikan kebebasan untuk mengambil tanggung jawab.
0547 0,240 Valid
5 Karyawan F&B service department terdorong untuk memperoleh kenaikan jabatan.
0,635 0,240 Valid
6 Tantangan dalam pekerjaan membuat karyawan F&B service department menunjukkan potensi yang dimiliki.
0,624 0,240 Valid
7 Kesempatan untuk berkembang dalam suatu perusahaan memotivasi karyawan F&B service department.
Tabel 4.6 Hasil Uji Validitas Motivasi, Kompensasi, dan Kinerja (sambungan)
Melalui uji validitas yang telah dilakukan, dapat dikatakan bahwa keseluruhan indikator untuk motivasi, kompensasi, dan kinerja dapat dinyatakan valid karena memenuhi persyaratan koefisien korelasi data (r hitung) lebih besar jika dibandingkan oleh koefisien korelasi tabel (r tabel) sebesar 0,237. Keseluruhan indikator dinyatakan valid, sehingga tidak ada indikator yang dibuang untuk proses pengolahan data selanjutnya.
No Pernyataan r Hitung r Tabel Keterangan
Kompensasi 1 Karyawan F&B service department merasa gaji
yang diberikan sudah sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan.
0,759 0,240 Valid
2 Karyawan F&B service department merasa insentif yang diberikan sudah sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan.
0,674 0,240 Valid
3 Karyawan F&B service department merasa bonus yang diberikan sudah sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan.
0,834 0,240 Valid
4 Karyawan F&B service department mendapatkan pelatihan yang diperlukan untuk bekerja.
0,634 0,240 Valid
5 Karyawan F&B service department mendapatkan pujian dari atasan atas pekerjaan yang telah dilakukannya.
0,724 0,240 Valid
6 Karyawan F&B service department mendapatkan cuti sesuai kebijakan yang telah diberlakukan.
0,664 0,240 Valid
Kinerja
1 Karyawan F&B service department menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
0,710 0,240 Valid
2 Karyawan F&B service department bekerja sesuai dengan jam kerja yang telah diberikan oleh atasannya.
0,734 0,240 Valid
3 Karyawan F&B service department menyelesaikan tugasnya degan akurat dan tanpa kesalahan.
0,676 0,240 Valid
4 Karyawan F&B service department bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh atasannya.
4.5 Uji Reliabilitas
Ukuran keandalan data dalam penelitian dengan koefisien cronbach’s alpha, menurut Ghozali (2009) yang menyatakan bahwa butir-butir pernyataan pada kuesioner dapat dinyatakan reliabel jika nilai cronbach’s alpha >0,6. Hasil uji reliabilitas yang dilakukan pada 67 kuesioner dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7 Hasil Uji Realibilitas
Indikator Nilai Cronbach’s Alpha Hasil
Motivasi 0,758 Reliabel
Kompensasi 0,809 Reliabel
Kinerja 0,629 Reliabel
Melalui uji reliabilitas yang telah dilakukan terhadap 67 responden diatas, dapat diketahui bahwa alat ukur penelitian berupa kuesioner ini adalah reliabel karena nilai Cronbach’s Alpha-nya lebih besar dari 0,6. Dengan uji reliabilitas terkait variabel dan indikator di atas, maka data dapat dianalisa lebih lanjut.
4.6 Uji Regresi Linier Berganda
Analisis regresi berganda digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas yaitu motivasi dan kompensasi terhadap variabel terikat yaitu kinerja karyawan.
Tabel 4.8 Koefisien Regresi Linier Berganda
Model Unstandardized Coefficients
B Std. Error
(Constant) 8,037 2,251
X1 0,073 0,081
X2 0,285 0,061
Dari tabel di atas dapat dihasilkan rumus regresi sebagai berikut:
Y= α + β1X1 + β2X2
Y= 8,037 + 0,073X1 + 0,285X2 (4.2)
Keterangan:
Y = Kinerja karyawan
X1= Motivasi
X2= Kompensasi
Berikut adalah penjelasan untuk rumus 4.2:
a. Koefisien regresi motivasi (X1) sebesar 0,073, menunjukan bahwa jika variabel bebas motivasi yang terdiri dari 7 indikator disediakan, maka variabel kinerja (Y) akan mengalami peningkatan.
b. Koefisien regresi kompensasi (X2) sebesar 0,285, menunjukan bahwa jika variabel bebas motivasi yang terdiri dari 6 indikator disediakan, maka variabel kinerja (Y) akan mengalami peningkatan. Dari hasil analisis regresi linier berganda ini dapat disimpulkan bahwa kedua variabel bebas, yaitu variabel motivasi dan kompensasi memberikan pengaruh positif terhadap kinerja.
4.7 Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi pada dasarnya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel-variabel terikat. Nilai R2 berada di antara 0 dan 1 yang berarti semakin nilai R2 mendekati 1, semakin baik model yang digunakan.
Tabel 4.9 Hasil Uji Koefisien Determinasi
R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
0,582a 0,338 0,318 1,508
Berdasarkan tabel 4.9 nilai koefisien determinasi dilihat dari nilai adjusted R2 sebesar 0,318. Hal ini menunjukkan kemampuan model menerangkan hubungan variabel motivasi (X1) dan kompensasi (X2) terhadap variabel kinerja karyawan (Y1) sebesar 31,8%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa model motivasi dan kompensasi dapat menjelaskan kinerja karyawan dengan cukup baik walau tidak terlalu tinggi. Hal ini disebabkan karena tingkat motivasi kerja dan kompensasi bukanlah satu-satunya faktor penentu baik tidaknya kinerja seorang
karyawan. Faktor lain yang mempengaruhi kinerja yaitu ialah lingkungan kerja (Kamif et al., 2016), gaya kepemimpinan (Bakara & Sukiswo, 2015).
4.8 Uji Hipotesis 4.8.1 Uji T
Uji T pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas secara individual dalam menerangkan variabel-variabel terikat (Kuncoro, 2007). Untuk menguji apakah variabel motivasi (X1) dan kompensasi (X2) berpengaruh terhadap kinerja (Y), maka digunakan hipotesis sebagai berikut:
H0: Variabel motivasi (X1) dan kompensasi (X2) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap variabel kinerja (Y).
H1: Variabel motivasi (X1) dan kompensasi (X2) memiliki hubungan yang signifikan terhadap variabel kinerja (Y).
Kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut: Dengan tingkat signifikansi 0.05, maka:
H0 ditolak dan H1 diterima jika t hitung <0.05. H0 diterima dan H1 ditolak jika t hitung > 0.05.
Tabel 4.10 Uji t
Variabel t Signifikansi
Motivasi (X1) 0,905 0,369
Kompensasi (X2) 4,689 0.000
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa dengan tingkat signifikansi 0.05 maka dapat dilihat bahwa hanya variabel kompensasi (X2) yang memenuhi syarat yaitu memiliki tingkat signifikansi 0,000 yang lebih kecil daripada 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Untuk variabel motivasi (X1) tidak memenuhi syarat karena memiliki nilai signifikansi sebesar 0.369, maka H0 diterima dan H1 ditolak sehingga kesimpulan yang dapat ditarik adalah motivasi tidak berkorelasi signifikan secara parsial dengan kinerja. Sedangkan untuk variabel kompensasi (X2) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 dapat dikatakan berkorelasi signifikan secara parsial dengan kinerja karyawan.
4.8.2Uji F
Untuk menguji kelayakan model penelitian digunakan Uji F. Model dikatakan layak, jika hasil pengolahan dari SPSS pada nilai signifikansi Uji F lebih kecil dari 0,05 (Ferdinand, 2006). Adapun prosedur pengujian yang digunakan, sebagai berikut:
a. Ditentukan taraf nyata 0,05 b. Kriteria pengujian
- Jika niliai signifikansi F > 0,05, menunjukkan bahwa model persamaan yang dihasilkan dikatakan tidak layak.
- Jika nilai signifikansi F < 0,05, menunjukkan bahwa model persamaan yang dihasilkan dikatakan layak.
Tabel 4.11 Uji F
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Regression Residual Total 74,421 145,579 220,000 2 64 66 37,210 2,275 16,359 0,000
Tabel 4.11 manunjukkan model dalam penelitian ini dinyatakan layak karena nilai signifikansi dari motivasi (X1) dan kompensasi (X2) terhadap variabel terikat yaitu kinerja (Y) lebih kecil dari 0,05.
Dengan demikian dapat disimpulkan beberapa uji hipotesis yaitu:
1. Motivasi (X1) berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) Hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali. Dengan demikian maka H1 ditolak.
2. Kompensasi (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) Hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali. Dengan demikian maka H2 diterima.
3. Kompensasi memiliki pengaruh yang lebih dominan daripada motivasi terhadap kinerja karyawan Hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali. Dengan demikian maka H3 ditolak.
4.9 Uji Asumsi Klasik 4.9.1 Uji Multikolinieritas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antar variabel independen dalam suatu model regresi. Jika nilai VIF lebih kecil dari 10 dan nilai toleransi lebih tinggi dari 0.1 maka tidak terjadi multikolinearitas.
Tabel 4.12 Uji Multikolinearitas
Variabel Collinearity Statistics
Tolerance VIF
Motivasi (X1) 0,810 1,234
Kompensasi (X2) 0.810 1,234
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa nilai VIF variabel X1 dan X2 kurang dari 10 yaitu sebesar 1,234, dan nilai toleransi kedua variabel 0,810 yang mana lebih tinggi daripada 0,1. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa antara variabel motivasi dan kompensasi tidak terjadi multikolinearitas.
4.9.2 Uji Heteroskedastisitas
Gambar 4.13 Uji Heteroskedastisitas
Untuk menentukan ada atau tidaknya masalah heteroskedastisitas pada variabel yang digunakan dalam penelitian ini, dilakukan uji heteroskedastisitas dengan melihat pola titik pada scatterplot. Dari gambar di atas tampak bahwa titik-titik tersebut tidak membentuk pola yang jelas, dan titik-titik tersebut juga menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas dalam model regresi dalam penelitian ini.
4.9.3 Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah data penelitian berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah model yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Pengujian normalitas dengan menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov. Pada uji tersebut, data dikatakan berdistribusi normal jika signifikansinya > 0.05 (α = 5%).
Tabel 4.13 Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov
Unstandardized Residual N
Normal Parametersa Mean Std. Deviation
Most Extreme Differences Absolute Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)
67 0,0000000 1,48517424 0,129 0,052 -0,129 1,060 0,211
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa ketiga variabel yaitu motivasi (X1), kompensasi (X2), dan kinerja karyawan (Y) memiliki nilai signifikansi lebih tinggi dari 0.05 yaitu senilai 0,211. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa data berdistribusi normal.
4.10 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa motivasi kerja berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap kinerja karyawan F&B Service hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali, sehingga hipotesa H1: Motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, ditolak. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelititan yang dilakukan oleh Wijaya dan Andreani (2015) dengan penelititan yang berjudul “ Pengaruh Motivasi dan Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Sinar Jaya Abadi Bersama” yang menyatakan bahwa motivasi dan kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, tetapi penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dhermawan, Sudibya, dan Utama dalam jurnalnya yang berjudul ”Pengaruh Motivasi, Lingkungan Kerja, Kompetensi, dan Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Pegawai di Lingkungan Kantor Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali” yang menyatakan bahwa motivasi berpengaruh positif tetapi tidak signifikan, dikarenakan hal itu dapat terjadi karena karyawan yang merasa puas karena telah
dipenuhi kebutuhannya oleh manajemen dapat bekerja secara optimal. Belum optimalnya kerja seorang karyawan disebabkan oleh kebijakan perusahaan yang tidak memperkenankan lembur atau yang tidak memberikan gaji lembur untuk karyawannya. Hal tersebut yang menyebabkan motivasi kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Dari observasi lapangan sendiri yang dilakukan penulis saat melakukan internship adalah bahwa hotel X, Sawangan, Nusa Dua, Bali tidak memberikan gaji untuk lembur, padahal karyawan F&B Service hotel tersebut sering mendapatkan waktu kerja lembur.
Kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan F&B Service Department hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali. Penelitian ini sesuai dengan hipotesa H2: Kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, yang berarti H2 diterima. Hasil penelitian tersebut sejalan degan hasil penelitian yang dilakukan oleh Febriani & Indrawati (2013) dalam jurnal yang berjudul “Pengaruh Motivasi, Kompensasi, Serta Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Kinerja Kerja Karyawan Hotel The Niche Bali” yang menyatakan bahwa kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Kompensasi yang baik akan membuat karyawan meningkatkan kinerjanya. Hasil penelitian tersebut juga mendukung teori Kadarisman (2016, p. 48) yang menyatakan bahwa suatu kompensasi jelas akan dapat meningkatkan atau menurunkan prestasi kerja, kepuasan kerja, maupun motivasi kerja. Penelitian ini juga sejalan dengan kondisi dilapangan dan teori hierarki Maslow (2013) dimana mayoritas responden masih berusia muda dan memerlukan rasa aman dalam bentuk finansial untuk keperluannya sendiri dan juga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, baik melalui kompensasi langsung (gaji, bonus, dan insentif) maupun kompensasi tidak langsung (asuransi dan dana pensiun).
Kompensasi memiliki pengaruh yang lebih dominan daripada motivasi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Febriani dan Indrawati(2013) dalam penelititan yang berjudul “Pengaruh Motivasi, Kompensasi, Serta Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Kinerja Kerja Karyawan Hotel The Niche Bali” yang juga mengatakan bahwa kompensasi lebih dominan dibanding motivasi. Penelitian ini juga sejalan dengan kondisi dilapangan karena karyawan di Hotel X Sawangan, Nusa Dua, Bali merasa kompensasi yang diberikan tidak sesuai dengan
jam kerja yang diberikan. Sebagai contohnya adalah department banquet dan Senses (restoran khusus untuk breakfast) yang sangat sering mendapat jam lembur yang banyak, tetapi tidak pernah mendapatkan gaji lembur.