• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memanfaatkan Facebook Group untuk mening

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Memanfaatkan Facebook Group untuk mening"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

i

MEMANFAATKAN FACEBOOK GROUP UNTUK

MENINGKATKAN KECAKAPAN MEMBACA SISWA PADA

LINGKUNGAN BELAJAR “BLENDED LEARNING”

(Penelitian Tindakan Kelas di SMP Negeri 8 Surakarta)

DAFTAR ISI

BAB II. KAJIAN PUSTAKA ... 5

A. Pengertian Membaca ... 5

B. Kecakapan Membaca ... 5

C. Tujuan Kecakapan Membaca ... 8

D. Blended Learning ... 9

E. Facebook Group untuk Pembelajaran Membaca ... 11

BAB III. PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN ... 13

A. Subjek Penelitian ... 13

1. Nama dan Lokasi Sekolah ... 13

2. Kelas ... 13

3. Mata Pelajaran... 13

4. Waktu ... 13

B. Deskripsi Siklus Penelitian ... 14

1. Rencana ... 14

a. Tindakan Perbaikan ... 14

b. Langkah-langkah Perencanaan Perbaikan ... 15

2. Pelaksanaan ... 16

a. Prosedur Pelaksanaan PTK ... 16

b. Teman Sejawat dan Supervisor ... 17

c. Prosedur Pembelajaran... 17

3. Instrumen Pengamatan/Pengumpulan Data ... 18

a. Instrumen ... 18

b. Data ... 20

4. Refleksi ... 21

a. Kekuatan dan Kelemahan Pra-perbaikan Pembelajaran ... 21

(2)

ii

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 22

A. Deskripsi ... 22

1. Pra-siklus ... 22

a. Perencanaan ... 22

b. Pelaksanaan ... 22

c. Pengamatan/ pengumpulan data ... 24

d. Refleksi ... 24

2. Siklus Pertama... 26

a. Perencanaan ... 26

b. Pelaksanaan ... 26

c. Pengamatan/ pengumpulan data ... 32

d. Refleksi ... 33

3. Siklus Kedua ... 36

a. Perencanaan ... 36

b. Pelaksanaan ... 36

c. Pengamatan/ pengumpulan data ... 40

d. Refleksi ... 40

B. Pembahasan ... 45

1. Metodologi pembelajaran ... 45

2. Kecakapan membaca siswa ... 46

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT ... 48

A. Kesimpulan ... 48

1. Metodologi penerapan facebook group pada lingkungan belajar blended learning... 48

2. Peningkatan kecakapan membaca siswa dengan penerapan facebook group pada lingkungan belajar blended learning ... 51

B. Saran Tindak Lanjut ... 52

1. Guru Bahasa Inggris ... 52

2. Pihak Sekolah ... 52

3. Peneliti lainnya ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... 54

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 56

I. Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) Siklus 1 ... 56

II. Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) Siklus 2 ... 69

(3)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam pembelajaran bahasa kedua atau bahasa tambahan, kecakapan membaca merupakan salah satu kecakapan reseptif, disamping kecakapan mendengar, yang akan mempengaruhi kecakapan produktif siswa. Secara khusus, kecakapan membaca menjadi input berharga bagi siswa yang akan sangat mempengaruhi kecakapan menulis mereka. Tali temali hubungan reseptif produktif tersebut telah menjadikan kecakapan membaca menjadi salah satu pondasi penting dalam pembelajaran bahasa kedua, dalam hal ini adalah pembelajaran bahasa Inggris.

Di Indonesia, kecakapan membaca bahkan memperoleh porsi terbesar dalam pembelajaran bahasa Inggris, baik yang dilakukan guru di dalam kelas maupun porsi dalam ujian akhir ataupun ujian nasional. Alokasi waktu 2 x 2 jam pertemuan per minggu untuk pembelajaran bahasa Inggris sejak dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) seharusnya sudah mampu memberikan banyak input bagi siswa sehingga mereka bisa memproduksi bahasa dengan cakap pula. Namun demikian, pada kenyataannya, pembelajaran bahasa Inggris khususnya dalam kecakapan membaca belum berjalan secara optimal sehingga berdampak pula pada kecakapan berbahasa lainnya.

(4)

2 tersedia di setiap ruang kelas di SMP Negeri 8 yang berupa proyektor LCD masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh guru bahasa Inggris. Meski kondisi LCD tersebut tergolong cukup prima, namun guru cenderung memanfaatkan media pembelajaran lainnya yaitu papan tulis.

Mengenai kecakapan membaca siswa kelas VII E yang diukur melalui pre-test, diketahui bahwa sejumlah 16 orang siswa atau lebih dari separuh peserta tes mendapatkan nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). KKM yang karenanya, segala upaya perbaikan pembelajaran perlu dilakukan untuk lebih mengangkat kemampuan siswa sehingga menjadi tuntas ataupun melebihi KKM.

Dari kacamata metodologis, kebanyakan guru bahasa Inggris di Indonesia cenderung untuk tidak berani melakukan inovasi-inovasi metodologi pembelajaran yang berarti yang sebenarnya akan sangat bermanfaat dalam pembelajaran bahasa Inggris. Mereka terpaku pada prosedur pembelajaran yang digariskan pada buku paket pelajaran bahasa Inggris dengan sedikit atau bahkan tanpa penyesuaian. Sementara banyak potensi-potensi inovasi yang bisa dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Inggris, dengan mengintegrasikan metode-metode yang sedang trend misalnya, ataupun memanfaatkan fasilitas teknologi yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

(5)

3 sebagai sosial media pada umumnya melainkan sebagai sosial media yang memiliki keunggulannya tersendiri untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran.

Pemanfaatan sosial media yang bersifat online dalam pembelajaran tersebut sudah sejak beberapa tahun terakhir menjadi trend untuk dikombinasikan dengan pembelajaran tradisional yang bersifat tatap muka. Model kombinasi tersebut dalam berbagai jenisnya kemudian dikenal sebagai blended learning. Pembelajaran model blended learning ini bervariasi mulai dari yang dominan (pekat) dengan unsur-unsur online learning sampai dengan yang minimal sekalipun. Penerapan blended learning tersebut tentunya mempertimbangkan beberapa hal seperti kebijakan, administrasi, fasilitas, kesiapan pendidik maupun peserta didik untuk terlibat dalam desain pembelajaran tersebut, dsb.

B. Rumusan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana seharusnya penerapan facebook group pada lingkungan belajar blended learning sehingga mampu meningkatkan pembelajaran membaca di

kelas bahasa Inggris?

2. Bagaimana pemanfaatan facebook group pada lingkungan belajar blended learning mampu meningkatkan kecakapan membaca siswa?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini diarahkan untuk memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Menentukan/menetapkan langkah-langkah penerapan facebook group pada lingkungan belajar blended learning sehingga mampu meningkatkan pembelajaran membaca di kelas bahasa Inggris.

(6)

4 D. Manfaat Penelitian

Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberikan kemanfaatan bagi pihak-pihak terkait khususnya siswa, guru, peneliti, peneliti lainnya dan pihak sekolah.

1. Kecakapan siswa dalam pemahaman membaca akan dapat ditingkatkan dengan menggunakan facebook group pada lingkungan blended learning tersebut. 2. Guru dapat terus memanfaatkan facebook group pada lingkungan blended

learning tersebut sebagai salah satu alternatif metodologi pembelajaran

membaca.

3. Peneliti dapat terus mengembangkan penelitiannya tentang metodologi pembelajaran dengan berpijak pada hasil dari penelitian ini.

4. Peneliti lain dapat menjadikan penelitian ini sebagai rujukan untuk lebih mengembangkan penelitian berdasarkan rekomendasi yang diberikan.

(7)

5 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Membaca

Membaca diartikan secara berbeda oleh beberapa ilmuwan. Anthony, Pearson, and Raphael (1993) mendefinisikan membaca sebagai proses membangun makna melalui interaksi dinamis antara pengetahuan yang dimiliki pembaca, informasi yang disarankan oleh bahasa tulis serta konteks situasi membaca. Sementara itu, pemahaman membaca didefinisikan sebagai proses menguraikan dan membangun makna secara bersamaan melalui interaksi dan keterlibatan dengan bahasa tulis yang meliputi tiga elemen (Snow, 2001: 1). Tiga elemen tersebut adalah pembaca, bacaan, dan tujuan kegiatan membaca.

Membaca sebagai sebuah proses tersebut kemudian diperjelas oleh Reinking dan Scheiner yang dikutip dalam Kustaryo (1988:5) yang mengatakan bahwa membaca adalah sebuah proses kognitif aktif dalam berinteraksi (dengan) dan memonitor pemahaman untuk menetapkan makna. Apabila Reinking dan Scheiner menyebutnya sebagai proses kognitif aktif, maka Carrel (1988: 12) cenderung mengistilahkannya sebagai proses psikolinguistik yang dimulai dengan representasi luaran linguistik yang diuraikan oleh penulis dan berakhir dengan makna yang dibangun oleh pembaca.

Berdasarkan definisi para pakar di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses membangun makna yang bersifat kognitif aktif atau psikolinguistik melalui interaksi dinamis antara pengetahuan yang dimiliki pembaca, informasi yang disarankan oleh bahasa tulis, dan konteks situasi membaca.

B. Kecakapan Membaca

(8)

6 diklasifikasikan sesuai dengan (1) tujuan pembaca, dan (2) panjang serta sifat bacaan.

a. Kecakapan berdasarkan tujuan pembaca

1) Membaca untuk menemukan gagasan pokok 2) Membaca untuk memilih rincian penting 3) Membaca untuk mengikuti petunjuk 4) Membaca untuk menjawab pertanyaan

5) Membaca untuk membuat ringkasan dan menyusun bahan 6) Membaca untuk sampai pada generalisasi dan simpulan 7) Membaca untuk menebak hasil

8) Membaca untuk kritis mengevaluasi

9) Membaca untuk mengembangkan kecakapan dalam memperoleh makna kata

b. Kecakapan berdasarkan panjang dan sifat bacaan 1) Mendapatkan makna frasa

2) Memahami kalimat 3) Memahami paragraf

4) Membaca bacaan panjang dengan pemahaman

(9)

7 Kecakapan membaca mikro dan makro yang diambil dari Brown (2004: 187-188) adalah sebagaimana disajikan dalam daftar berikut:

a. Kecakapan membaca mikro

1) Membedakan antara graphemes dan pola orthography yang berbeda. 2) Menyimpan potongan bahasa dengan panjang berbeda di memori jangka

pendek.

3) Memproses tulisan dengan tingkat kecepatan yang efisien untuk menyesuaikan dengan tujuan.

4) Mengenali inti kata dan menerjemahkan pola urutan kata beserta maknanya.

5) Mengenali kelas kata gramatikal (nouns, verb, etc), sistem (tense, agreement, pluralisation, etc), pola, aturan, dan bentuk eliptikal.

6) Mengenali bahwa makna tertentu dapat diungkapkan dalam bentuk gramatikal yang berbeda.

7) Mengenali cohesive devices dalam wacana tertulis serta peranannya dalam memberi tanda hubungan antara klausa.

b. Kecakapan membaca makro

1) Mengenali bentuk retorika wacana tertulis dan maknanya untuk penafsiran.

2) Mengenali fungsi komunikatif teks tertulis sesuai dengan bentuk dan tujuannya.

3) Menyimpulkan konteks yang tidak tersurat dengan menggunakan pengetahuan yang dimiliki.

4) Menyimpulkan garis dan hubungan antar kejadian, menyimpulkan sebab akibat, dan mendeteksi hubungan tersebut sebagai gagasan pokok, gagasan pendukung, informasi baru, informasi yang diberikan, generalisasi, dan eksemplifikasi atau contoh.

5) Membedakan antara makna harfiah dengan makna tersirat.

(10)

8 7) Mengembangkan dan menggunakan deretan strategi membaca seperti membaca sekilas (skimming), membaca rinci (scanning), mendeteksi penanda wacana, menebak makna kata dari konteks, dan mengaktifkan skemata untuk penafsiran bacaan.

C. Tujuan Kecakapan Membaca

Tujuan kecakapan membaca mata pelajaran Bahasa Inggris Kelas VII diperoleh dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang menetapkan: Standar Isi, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tersebut kemudian menjadi dasar bagi peneliti untuk menetapkan tujuan khusus atau indikator pembelajaran, disamping juga mempertimbangkan kajian teori yang terkait sebelumnya.

a. Standar Kompetensi

Memahami makna dalam teks tulis fungsional pendek sangat sederhana yang berkaitan dengan lingkungan terdekat.

b. Kompetensi Dasar

1)Membaca nyaring bermakna kata, frasa, dan kalimat dengan ucapan, tekanan dan intonasi yang berterima yang berkaitan dengan lingkungan terdekat.

2)Merespon makna yang terdapat dalam teks tulis fungsional pendek sangat sederhana secara akurat, lancar dan berterima yang berkaitan dengan lingkungan terdekat.

c. Tujuan Khusus/ Indikator

Setelah menyelesaikan pelajaran membaca teks deskriptif singkat mengenai segala sesuatu di sekitar rumah dan sekolah ini, peserta didik diharapkan mampu:

1)Membaca nyaring

(11)

9 5)Menjelaskan makna kata yang dijumpai di lingkungan terdekat (rumah dan

sekolah)

D. Blended Learning

Blended learning diartikan oleh banyak pakar sebagai kombinasi dari dua pendekatan pedagogis yaitu tatap muka dan e-learning (Garrison and Vaughan, 2008; Arbaugh, Desai, Rau and Sridhar, 2010; Graham, 2006). Meski demikian, beberapa pakar cenderung mendefinisikannya lebih luas dimana blended learning adalah percampuran metode penyampaian yang melampaui e-learning maupun tatap muka dalam rangka mengakomodasi kebutuhan belajar yang beragam dari siswa yang beragam dalam mata pelajaran yang beragam pula (Mc. Sporran and King, 2005).

Graham (2006: 4) mengeksplorasi tiga definisi blended learning yang sering dikemukakan yaitu: (1) mengkombinasikan media penyampaian pengajaran; (2) mengkombinasikan metode pembelajaran; dan (3) mengkombinasikan pembelajaran tatap muka dan e-learning. Definisi pertama dan kedua menghasilkan debat mengenai pentingnya media dan metode dalam pembelajaran. Kedua definisi tersebut merupakan dampak dari pendefinisian blended learning yang terlampau luas sehingga mencakup semua sistem pembelajaran. Sementara susah untuk menemukan sistem pembelajaran yang tidak mencakup metode maupun media yang beragam. Sehingga definisi pertama dan kedua di atas tidak akan mendapatkan esensi dari blended learning itu sendiri. Di sisi lain, definisi ketiga secara lebih akurat mencerminkan kemunculan historis dari sistem blended learning.

(12)

10 Pada pelaksanaannya, blended learning dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dengan memanfaatkan media sosial (media online) yang tersedia. Dalam kelas bahasa Inggris misalnya, pemanfaatan e-mail, blog, messenger, youtube, dsb saat pembelajaran tatap muka dapat dikategorikan sebagai penerapan blended learning. Melalui penelitiannya, Banados sukses mengembangkan model pedagogis blended learning untuk pembelajaran bahasa Inggris. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dari kecakapan berbahasa siswa serta kepuasan yang tinggi. Model blended learning memberikan harapan baru bahwa guru dan siswa dapat berhasil mencapai tujuan pembelajaran bahasa Inggris secara lebih efektif (Banados, 2006: 544). Meski demikian, tanpa pencampuran yang sistematis, terukur serta hati-hati, tujuan penerapan blended learning tidak akan pernah bisa tercapai. Berdasarkan beberapa definisi di atas, blended learning dapat diartikan sebagai kombinasi antara pembelajaran tatap muka dengan e-learning dalam rangka untuk mengambil hal positif dari kedua macam model tersebut dengan memanfaatkan media pembelajaran online atau media sosial yang tersedia.

(13)

11 E. Facebook Group dalam Pembelajaran Membaca

Facebook merupakan website jejaring sosial paling populer di seluruh negara. Facebook dikembangkan pertama kali pada tahun 2004 oleh Mark Zuckerberg seorang mahasiswa dari universitas Harvard. Dalam memanfaatkan facebook, kita akan dihadapkan pada banyak pilihan fitur. Beberapa orang memilih untuk berhubungan dengan sedikit teman, sementara yang lainnya cenderung berhubungan dengan banyak orang dan berbagi dengan lebih terbuka. Secara sederhana, tidak ada cara tunggal dalam memanfaatkan facebook namun tergantung pada penemuan cara terbaik yang sesuai dengan penggunanya.

Dalam pemanfaatan yang mengutamakan interaksi dengan kelompok teman tertentu maka hadirlah fitur populer dari facebook yang bernama facebook group. Dengan demikian, facebook group sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai media belajar oleh kelompok siswa tertentu dan termasuk pula guru. Mereka dapat belajar dan berkolaborasi satu sama lain, mengerjakan dan mendiskusikan tugas maupun proyek, mempersiapkan ujian dan berbagi catatan secara online, dsb. Semua itu dapat terwujud hanya dengan melakukan tiga langkah dasar dan sederhana dalam membuat facebook group. Tiga langkah tersebut adalah membuat nama group, menambahkan teman untuk menjadi anggota dan kemudian memilih setting privasi. Setelah itu hanyalah berupa penyesuaian-penyesuaian seperti memilih ikon group, deskripsi group, menambah atau mengundang lebih banyak teman, dsb. Segera setelah membuat group, admin maupun anggota sudah bisa mulai berbagi status, komentar, mengundang kegiatan, mengunggah foto, mengirim pesan dan banyak lagi aktivitas online yang bisa dilakukan.

(14)

12 Learning and Performance Technologies (n.d.), kegiatan sebelum pembelajaran seperti: guru mengenalkan pelajaran seperti menjelaskan topik untuk didiskusikan di dalam kelas dan kemudian siswa menanyakan atau memberi masukan tentang diskusi tersebut. Pada saat pembelajaran, baik guru dan siswa atau antar siswa saling berbagi status dan komentar perihal topik yang dibahas. Kemudian setelah selesai pembelajaran, kegiatan yang bisa dilakukan adalah seperti memposting catatan, melanjutkan diskusi, menjawab pertanyaan, berbagi tautan tentang sumber terkait, berbagi pengalaman belajar serta mengirimkan pengingat ujian, pengumpulan tugas, berita-berita, dsb.

Tabel 1. Model Pemanfaatan Facebook Group dalam Pembelajaran oleh Center for Learning and Performance Technologies (n.d.)

Pre-class

 The professor/lecturer/teacher/trainer introducing the lesson, i.e. explaining what’s going to be discussed/covered in the class

 The students/learners submitting questions for discussion in advance before class

During the class

 Posting comments on the subject being taught

Post-class and between classes

 Posting notes after the class, for those who missed the class

 Continuing the discussion, especially if out of time during class, as well as keeping the students/learners communicating with one another.

 Dealing with students’ individual questions accounts

 Sharing links to relevant resources and websites that pertain to the lesson.

 Students share their experiences of what they have done and are doing

 Sending out reminders about upcoming tests, project due dates, or any course/class-related news

(15)

Tabel 2. Model Pemanfaatan Facebook Group dalam Pembelajaran Membaca untuk Penelitian Tindakan Kelas

Pendahuluan

 Guru mengajukan beberapa pertanyaan pendahuluan terkait dengan topik bahasan dan siswa menjawab pertanyaan tersebut

 Guru menunjukkan media facebook group yang digunakan beserta file materi pelajaran yang tersedia dan siswa menyimak melalui proyeksi LCD

Kegiatan Inti

 Guru meminta siswa untuk mengerjakan satu persatu tugas yang tersedia di facebook group dan siswa mengerjakannya hingga selesai

 Guru memberi kesempatan siswa untuk menyajikan hasil pekerjaannya di depan kelas dengan menulis di papan tulis dan siswa secara sukarela mengajukan dirinya

 Guru menyalin pekerjaan siswa di media facebook dan siswa mereview kembali jawaban mereka

 Guru meminta tanggapan kelas atas pekerjaan yang telah disajikan di depan kelas tersebut dan siswa memberikan tanggapan dengan menulis di papan tulis

 Guru memberikan balikan atas jawaban beserta tanggapan siswa melalui media facebook group dan siswa menyimak balikan tersebut

 Guru meminta siswa untuk menanyakan hal-hal yang sekiranya belum

dipahami untuk ditulis di facebook group dan siswa menyampaikan pertanyaan tersebut secara lisan

Penutup

 Guru mereview secara umum atau menyeluruh atas kegiatan siswa dan menuliskannya di facebook group sementara siswa menyimak review tersebut

(16)

13 BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek Penelitian

1. Nama dan Lokasi Sekolah

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 8 Surakarta yang beralamat di Jl. HOS Cokroaminoto 51 Surakarta (57126), telephone 0271-632947, 657772. 2. Kelas

Penelitian tindakan ini dilaksanakan sebagai perbaikan pembelajaran di kelas VII SMP Negeri 8 Surakarta. Dari jumlah 6 (enam) kelas paralel, satu kelas yang dipilih untuk pelaksanaan penelitian ini adalah kelas VII E yang terdiri dari 32 orang siswa.

3. Mata Pelajaran

Mata pelajaran yang akan diperbaiki pelaksanaan pembelajarannya melalui penelitian tindakan kelas ini adalah mata pelajaran Bahasa Inggris.

4. Waktu

Penelitian ini dilaksanakan pada semester pertama tahun pelajaran 2013/2014, mulai dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2013 dengan jadwal kegiatan sebagaimana ditunjukkan pada tabel 3.

Tabel 3. Jadwal Kegiatan Penelitian

No Kegiatan Agus Sep Okt

1 Studi pendahuluan (pra-siklus)

dan penulisan proposal

2 Perencanaan Siklus Pertama

dan Kedua

3 Pelaksanaan Siklus Pertama

dan Kedua

4 Refleksi Siklus Pertama dan

Kedua

5 Perencanaan Siklus Ketiga

dan Keempat

(17)

14 Keempat

7 Refleksi Siklus Ketiga dan

Keempat

8 Menulis Laporan

B. Deskripsi Siklus Penelitian

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Pengertiannya sebagaimana diungkapkan oleh Burns (1999: 30) bahwa penelitian tindakan adalah penerapan dari temuan fakta untuk menyelesaikan masalah praktis dalam situasi sosial dengan pandangan untuk meningkatkan kualitas tindakan yang diambil tersebut. Pengertian lainnya dikutip dari Kemmis (1982: 11) yang menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah bentuk pertanyaan refleksi diri oleh para partisipan yang terdiri dari guru, siswa, pihak sekolah, dsb di dalam situasi sosial termasuk pendidikan dalam rangka meningkatkan kebangsaan dan keadilan praktik sosial ataupun pendidikan, pemahaman praktis, serta situasi dan institusi dimana praktik tersebut berlangsung.

1. Rencana

a. Tindakan Perbaikan

(18)

15 b. Langkah-langkah Perencanaan Perbaikan

Dalam mencapai tujuan perbaikan pembelajaran, penelitian tindakan kelas yang dikemas dalam program Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) ini mengikuti beberapa langkah-langkah perencanaan perbaikan sebagai berikut:

1) Melakukan refleksi awal berdasarkan observasi kelas, wawancara dsb untuk merumuskan sedikitnya 2 (dua) masalah pembelajaran Bahasa Inggris yang sedang terjadi dan memerlukan adanya perbaikan pembelajaran.

2) Menyusun rencana perbaikan pembelajaran (RPP) dengan tujuan untuk menyelesaikan salah satu dari dua masalah yang teridentifikasi tersebut.

3) Sebelum pelaksanan perbaikan pembelajaran, meninjau ulang serta memperbaiki rencana perbaikan pembelajaran (RPP) tersebut berdasarkan masukan atau hasil diskusi dengan teman sejawat serta supervisor penelitian.

4) Setelah selesai satu siklus pelaksanaan perbaikan pembelajaran, menyusun kembali rencana perbaikan pembelajaran (RPP) untuk siklus berikutnya berdasarkan hasil dari refleksi siklus tersebut (sebelumnya).

5) Begitu seterusnya hingga maksimal 3 (tiga) kali siklus untuk masalah pertama dan kemudian beranjak pada rencana perbaikan pembelajaran (RPP) untuk masalah kedua sebanyak maksimal 3 (tiga) siklus pula.

R-1

(19)

16 6) Perencanaan tidak dilanjutkan lagi setelah maksimal 3 (tiga) kali siklus untuk setiap masalah pembelajaran. Dengan demikian perbaikan pembelajaran dianggap berakhir pada siklus ketiga untuk tiap masalah dan diakhiri dengan refleksi atas keberhasilan atau tidaknya upaya perbaikan pembelajaran yang telah dilakukan tersebut. Perencanaan juga bisa dihentikan dan dianggap selesai apabila pada pelaksanaan siklus sebelumnya (sebelum siklus 3) sudah tergambar ataupun teridentifikasi secara nyata bentuk-bentuk perbaikan yang diharapkan.

2. Pelaksanaan

a. Prosedur Pelaksanaan PTK

Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan dengan beberapa prosedur sebagai berikut:

1) PTK dilaksanakan dalam beberapa siklus perbaikan pembelajaran untuk memperbaiki satu persatu masalah pembelajaran yang teridentifikasi.

2) Berangkat dari masalah pertama yang teridentifikasi, siklus pertama kemudian dilaksanakan dengan diikuti oleh siklus kedua serta siklus ketiga (bila perlu) untuk mencapai adanya perbaikan pembelajaran. 3) Siklus ketiga adalah siklus terakhir (maksimal) untuk perbaikan

pembelajaran dari masalah pertama dan diakhiri dengan refleksi atas berhasil tidaknya upaya perbaikan pembelajaran. Bila perbaikan pembelajaran sudah tercapai pada dua siklus sebelumnya maka upaya perbaikan dianggap sudah selesai dan tidak diperlukan untuk meneruskan siklus perbaikan pembelajaran selanjutnya.

(20)

17 b. Teman Sejawat dan Supervisor

Dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK) ini peneliti didampingi atau berkolaborasi secara erat dengan setidaknya 2 (dua) pihak yaitu teman sejawat dan supervisor. Teman sejawat adalah guru atau kepala sekolah dari rumpun bidang studi yang sama, dalam hal ini Bahasa Inggris, yang sudah memiliki pengalaman mengajar setidaknya tiga tahun. Teman sejawat diharapkan dapat secara objektif membantu melakukan observasi serta memberikan masukan mengenai rencana perbaikan pembelajaran (RPP), pelaksanaan perbaikan pembelajaran, dan bentuk perbantuan lainnya termasuk memberikan penilaian terhadap kemampuan profesional guru/peneliti dalam pelaksanaan penelitian ini dengan menggunakan alat penilaian yang telah ditentukan.

Supervisor adalah seorang dosen pembimbing kegiatan pemantapan kemampuan professional (PKP) yang ditunjuk oleh pihak kampus untuk mendampingi peneliti mulai dari perencanaan hingga akhir penelitian termasuk pelaporan hasil penelitian. Dalam menjalankan fungsi pendampingannya, supervisor memfasilitasi berlangsungya tutorial pada tiap pekan dimana mahasiswa/peneliti mendapatkan bimbingan tahap demi tahap atas kendala perbaikan pembelajaran yang dihadapinya. Sebagaimana halnya teman sejawat, supervisor juga akan menilai kemampuan profesional guru/peneliti selama penelitian berlangsung dengan menggunakan alat penilaian yang telah ditentukan. c. Prosedur Pembelajaran

Prosedur pembelajaran terdiri dari 3 (tiga) tahapan mulai dari kegiatan pendahuluan atau pembuka, kemudian diikuti kegiatan inti dan diakhiri dengan kegiatan penutup, selengkapnya diuraikan sebagai berikut:

(21)

18 lama karena akan memakan porsi dari kegiatan inti yang lebih penting. Alokasi waktu untuk kegiatan awal adalah sekitar 5-10 menit.

2) Kegiatan inti merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang terkelompokkan dalam tahapan-tahapan dengan mengikuti metode pembelajaran yang digunakan dalam kurikulum atau oleh guru yang bersangkutan, dan bisa pula mengembangkan metodologi pembelajaran sendiri yang berdasarkan atas teori atau prinsip-prinsip yang dianut. Tahapan-tahapan dalam kegiatan inti ini adalah seperti: eksplorasi-elaborasi-konfirmasi (pembelajaran berbasis inkuiri), dan juga yang saat ini sedang tren seperti pembelajaran berbasis genre (genre-based) yang memiliki tahapan-tahapan: building knowledge of the field, modelling of the text, joint construction of the text, independent

construction of the text, dan banyak lagi tahapan-tahapan lainnya.

3) Kegiatan penutup merupakan kegiatan di penghujung akhir pembelajaran yang meliputi kegiatan-kegiatan seperti meringkas pelajaran, melakukan refleksi, menyiapkan pelajaran yang akan dating, dan yang terakhir adalah memberi salam penutup. Sebagaimana halnya kegiatan pendahuluan, kegiatan penutup dapat dilakukan secara singkat dengan alokasi waktu antara 5 sampai dengan 10 menit.

3. Instrumen Pengamatan/Pengumpulan Data a. Instrumen

Instrumen pengamatan atau pengumpulan data pada penelitian ini meliputi Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG) 1 dan 2 Plus, serta Lembar Analisis RPP dan Pengamatan (Observasi) Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran

(22)

19 2) Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG) 1 Plus digunakan untuk menilai Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang disusun oleh peneliti. APKG 1 Plus ini berupa formulir ceklis untuk diisi oleh teman sejawat dan supervisor/penguji pada siklus-siklus yang telah ditentukan. Teman sejawat ditentukan untuk menilai kemampuan guru pada siklus akhir masalah pertama dengan menggunakan APKG 1 Plus ini. Adapun waktu penilaian oleh supervisor/penguji menyesuaikan kesepakatan atau jadwal yang tersedia.

3) Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG) 2 Plus digunakan untuk menilai atau mengamati pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Sama halnya APKG 1 Plus, APKG 2 Plus ini diisi oleh teman sejawat untuk menilai pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus akhir masalah pertama. Adapun supervisor/penguji, waktu kunjungan ke lapangan tempat penelitian disepakati berdasarkan jadwal yang tersedia.

4) Lembar analisis RPP dan pengamatan (observasi) pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini bersifat terbuka melengkapi APKG 1 dan 2 Plus. Lembar ini memungkinkan teman sejawat untuk dapat membantu peneliti dan validitas penelitian dengan catatan-catatan lapangan yang bersifat kualitatif. Teman sejawat mengisi lembar ini pada setiap kali dilaksanakannya siklus perbaikan pembelajaran. Hal-hal yang dianalisis atau diobservasi menyesuaikan masalah perbaikan pembelajaran ataupun tujuan perbaikan pada siklus tersebut.

(23)

20 b. Data

Data pada penelitian tindakan kelas ini diperoleh dari berbagai sumber data diantaranya sebagai berikut:

1) Guru Bahasa Inggris

Guru Bahasa Inggris pada kelas penelitian ini dapat menjadi informan atau narasumber untuk penelitian ini dimana banyak hal yang bisa digali seperti karakteristik siswa, pelaksanaan pembelajaran sebelum penelitian dan hal-hal terkait lainnya.

2) Peristiwa atau aktivitas pembelajaran

Peristiwa atau aktivitas pembelajaran di dalam kelas Bahasa Inggris menjadi sumber data yang objektif untuk bisa ditarik banyak data melalui teknik observasi, terkait metodologi pembelajaran, suasana kelas, dan lain sebagainya.

3) Tempat atau lokasi kelas

Tempat atau lokasi kelas tempat penelitian merupakan sumber data yang bermanfaat bagi penelitian tindakan kelas ini untuk bisa ditarik hubungannya dengan variabel penelitian lainnya.

4) Dokumen RPP dan bahan pembelajaran

Dokumen RPP dan bahan pembelajaran yang biasanya digunakan oleh guru sebelum pelaksanaan penelitian tindakan kelas merupakan sumber data yang menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan melalui penelitian tindakan kelas ini.

5) Nilai pre-test dan post-test

(24)

21 4. Refleksi

a. Kekuatan dan Kelemahan Pra-perbaikan Pembelajaran

Analisis kekuatan dan kelemahan sebelum pelaksanaan perbaikan pembelajaran dalam sebuah penelitian tindakan kelas sangatlah penting untuk menjadi dasar pijakan dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran. Kekuatan-kekuatan yang ada sebelum dilaksanakannya penelitian harus terus dijaga dan dikembangkan selama pelaksanaan penelitian, sementara kelemahan-kelemahannya harus terus dikurangi sehingga mampu menciptakan kondisi perbaikan pembelajaran yang ideal.

b. Kekuatan dan Kelemahan Perbaikan Pembelajaran

(25)

22

Untuk kepentingan pembelajaran bahasa Inggris, Bapak Domas selaku pengajar bahasa Inggris di kelas VII E mengatakan telah menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebelumnya. RPP disusun berdasarkan format yang berlaku di SMP Negeri 8 Surakarta. Dokumen tersebut beberapa diantaranya disimpan di rumah dan ada juga yang disimpan di meja guru di kantor sekolah. Ditambahkan oleh Bapak Domas bahwa rencana pelaksanaan pembelajar tersebut tidaklah menjadi acuan pokok baginya dalam pelaksanaan pembelajaran. Sebagai gantinya, Bapak Domas cenderung memanfaatkan buku paket “English in Focus” maupun Lembar Kerja Siswa (LKS) “Galaxy”. Sebelum pembelajaran, biasanya Bapak Domas akan membuka kedua bahan pembelajaran tersebut dan merencanakan pembelajaran berdasarkan kedua bahan tersebut.

b. Pelaksanaan

Kelas VII E terletak di lantai 2 SMP Negeri 8 Surakarta atau tepat di atas ruang guru. Berukuran 8x8 meter persegi, di kelas itu terdapat 16 meja untuk dua orang siswa sehingga mampu menampung sekitar 32 siswa. Terdapat pula meja beserta kursi untuk guru yang berada di depan kelas.

Kegiatan belajar mengajar pada hari Senin tanggal 16 September 2013 itu dimulai tepat pukul 07.00 WIB dengan pelajaran pertama yaitu pembinaan dari guru wali kelas. Sementara itu, pembelajaran bahasa Inggris dimulai pada jam kedua atau pada pukul 07.40. Bapak Domas mulai masuk untuk memulai pelajaran pada pukul 07.50 atau terlambat 10 menit. Bapak Domas yang juga salah satu guru wali kelas IX memerlukan waktu sekitar 10 menit tersebut untuk berjalan dari lokasi perwaliannya di kelas 9 menuju ke kelas VII E.

(26)

23 memberi waktu pada peneliti untuk memperkenalkan diri. Setelah sekitar 15 menit, Bapak Domas kemudian melanjutkan pelajaran dengan mempersilakan satu persatu siswa untuk maju ke depan memperkenalkan diri. Pada saat maju di depan kelas untuk memperkenalkan diri, suara siswa yang bertugas tidak terlampau keras sehingga tidak bisa terdengar oleh seluruh kelas, sementara siswa yang lain juga tidak menyimak dengan baik teman yang sedang bertugas. Posisi dari siswa yang maju ke depan kelas umumnya memilih tempat dekat dengan guru dan terkesan hanya menujukan presentasinya untuk guru saja.

Beberapa siswa yang maju untuk memperkenalkan diri dan orang lain kebanyakan hanya membaca catatan yang telah mereka persiapkan. Meski demikian, ada beberapa siswa yang sudah berani berimprovisasi untuk tidak hanya membaca. Pada beberapa siswa tersebut Bapak Domas memberikan apresiasi dengan memberi nilai di atas KKM dan memotivasi siswa yang lain untuk melakukan improvisasi yang sama. Upaya Bapak Domas tersebut cukup berhasil untuk beberapa siswa untuk berani berbicara atau memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris dan tidak hanya sekadar membaca.

Sambutan siswa berkembang menyesuaikan presentasi siswa, apabila siswa yang maju ke depan dirasa menarik dan lucu, maka seluruh kelas atau siswa yang lain juga menunjukkan antusiasmenya dalam mengikuti presentasi. Sebaliknya, apabila presentasi yang dibawakan kurang menarik, maka siswa cenderung sibuk dan ramai dengan aktivitasnya sendiri. Perimbangan siswa dengan presentasi yang menarik dan kurang menarik belumlah seimbang sehingga mempengaruhi pula jalannya pembelajaran secara keseluruhan. Siswa yang sudah mendapat giliran maju tidak memiliki aktivitas lain sehingga cenderung membuang waktu secara percuma dan tidak memperhatikan teman lain yang sedang membawakan presentasi.

(27)

24 “Please describe this picture”. Pak Domas memberi kesempatan kepada siswa untuk menebak gambar dimaksud dan menuliskannya di papan tulis.

c. Pengamatan/ pengumpulan data

Peneliti melakukan pengamatan pada hari Senin, 16 September 2013 itu dengan hadir di kelas sebagai partisipan pasif. Dengan menggunakan lembar pengamatan (observasi), peneliti mengamati kegiatan belajar mengajar untuk mendapatkan data yang berupa bahan pembelajaran yang digunakan, tempat atau lokasi kelas beserta peristiwa atau aktivitas pembelajaran, kegiatan guru dan siswa selama berlangsungnya pembelajaran, media yang digunakan, dsb.

d. Refleksi

1) Metodologi Pembelajaran

Dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris tersebut, Bapak Domas telah berhasil melibatkan banyak siswa untuk berpartisipasi dengan cara penunjukan dan bergiliran maju mempresentasikan hasil pekerjaannya. Melalui cara seperti ini, mau tidak mau, siap ataupun tidak siswa harus secara bergiliran mempresentasikan tugas yang diberikan di depan kelas. Ketidaksiapan siswa juga menjadi penyegaran tersendiri bagi kelas VII E dimana hal ini membuat siswa yang lain menjadi tertawa. Bapak Domas juga memberikan apresiasi pada beberapa siswa yang dianggap bagus penampilannya serta menjadikannya sebagai standar bagi siswa yang lain pada penampilan selanjutnya. Hal ini mampu memotivasi beberapa siswa untuk menyuguhkan penampilan yang lebih baik. Kesempatan juga diberikan oleh Bapak Domas pada siswa yang ingin melakukan remidi untuk menemuinya kapanpun dan dimanapun di lingkungan sekolah.

(28)

25 Terlepas dari kegiatan “kejar tayang” yang cukup berhasil melibatkan banyak siswa tersebut, namun tidak ada kegiatan tambahan bagi siswa yang sudah menunaikan tugasnya maju ke depan. Untuk mengatasinya, kiranya Bapak Domas bisa memberikan beberapa tugas tambahan kepada siswa sehingga tidak ada kegaduhan atau keacuhan yang muncul dari siswa yang sedang atau sudah selesai bertugas. Di samping itu, akan lebih baik apabila sembari melakukan penilaian, Bapak Domas tidak hanya sekedar duduk di kursi guru tapi berpindah-pindah posisi untuk sekaligus mengawasi siswa lainnya di sudut lain di ruangan kelas.

Terkait dengan penggunaan media, Bapak Domas belum mampu memanfaatkan secara maksimal media pembelajaran yang tersedia di ruang kelas yang berupa proyektor LCD. Dalam pembelajaran yang difasilitasinya, Bapak Domas hanya mengandalkan keberadaan buku paket dan LKS dan tidak mencoba membuatnya lebih menarik dengan memanfaatkan proyektor LCD. Dari pengecekan peneliti, LCD yang terpasang permanen di langit-langit kelas tersebut dalam kondisi yang baik dan bisa digunakan setiap saat. Dengan memanfaatkan proyektor, diharapkan hal ini bisa lebih menarik minat dan fokus siswa meskipun bahan yang ditampilkan masih berasal dari buku paket ataupun LKS.

2) Kecakapan Membaca Siswa

(29)

26 2. Siklus Pertama

a. Perencanaan

Pada siklus pertama penelitian tindakan kelas ini, penulis merencanakan untuk masuk ke dalam kelas penelitian dan menyampaikan pembelajaran bahasa Inggris atau bertindak sebagai partisipan aktif. Sebagai acuan dasar, sebelum pelaksanaan pembelajaran peneliti terlebih dahulu menyusun rencana perbaikan pembelajaran (RPP) dan menyampaikannya kepada teman sejawat untuk mendapatkan masukan-masukan. Di dalam format RPP yang digunakan, penulis menjabarkan tentang topik pembelajaran, tujuan pembelajaran, prosedur pembelajaran, media pembelajaran, bahan pembelajaran, penilaian, dsb. Topik pembelajaran direncanakan menyesuaikan topik pembelajaran yang sedang berjalan yaitu “things in house and school”.

Prosedur pembelajaran direncanakan berlangsung dalam tiga tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi yang dirincikan menjadi kegiatan guru dan siswa. Penggunaan media pembelajaran memanfaatkan facebook group sebagaimana menjadi ide utama dari penelitian ini. Untuk menunjang pemanfaatan media facebook group, peneliti mempersiapkan group yang diberi nama “SMP 8 SOLO 7E 2013” dan mengunggah beberapa status serta file pembelajaran. Disamping itu, peneliti juga mempersiapkan akun khusus siswa yang bernama “Smpdelapansolo Tujuhetigabelas” sebagai identitas siswa dalam berinteraksi di dalam facebook group. Kemudian penilaian yang direncanakan adalah penilaian pre-test dalam bentuk pilihan ganda serta formatif berupa observasi serta unjuk kerja. Siklus pertama penelitian tindakan kelas ini direncakan untuk dilaksanakan pada hari Senin tanggal 23 September 2013 pukul 07.40-09.00 atau selama dua jam pelajaran.

b. Pelaksanaan

(30)

27 karenanya penelitian baru bisa dilaksanakan pada sekitar pukul 09.00 dan hanya berlangsung sekitar 40 menit atau satu jam pelajaran saja. Secara umum kondisi siswa juga memerlukan penyesuaian setelah sebelumnya berdiri di lapangan upacara selama dua jam pelajaran atau sekitar 80 menit.

Pada saat sebelum memulai penelitian, Bapak Domas memberikan sedikit pengantar dan penekanan tambahan bagi para siswa tentang muatan yang diberikan oleh kepala sekolah pada saat upacara dimana siswa harus secara sepenuh hati menaati peraturan sekolah serta dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Pengantar tersebut sedikit banyak mampu memotivasi siswa untuk segera menyesuaikan diri mengikuti kegiatan pembelajaran. Disamping bahwa pada apel upacara, kepala sekolah juga menyebutkan beberapa nama siswa di kelas lain yang memiliki poin pelanggaran yang mendapatkan peringatan lampu kuning dan merah. Hal inilah yang coba ditekankan oleh Bapak Domas sehingga diharapkan mampu memacu siswa untuk lebih serius dalam belajar. Segera setelah pengantar diberikan, siswa mempersiapkan buku pelajarannya dan peneliti bersiap diri di depan kelas untuk memulai pembelajaran.

Setelah membuka kelas dan melakukan rutinitas awal pembelajaran, peneliti melaksanakan pre-test dengan memberikan lembar soal kepada seluruh siswa dan meminta mereka untuk mengerjakan di lembar itu juga. Terdapat 10 item soal dimana 5 soal tertulis dan 5 soal lainnya dibacakan secara lisan oleh peneliti. Item soal tersebut adalah seputar tema “things in house and school” yang menjadi tema berjalan pelajaran membaca pada saat itu. Pre-test berlangsung selama sekitar 5 menit dan kemudian peneliti mengumpulkan kembali lembar soal dari tangan siswa dan bersiap untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya.

(31)

28 selanjutnya yaitu facebook group kelas VII E serta membuka pula akun khusus siswa. Proses pengoperasian laptop mulai dari koneksi awal hingga menuju ke media sosial facebook bisa disimak oleh seluruh siswa karena sudah sebelumnya terhubung dengan proyektor kelas. Siswa tampak antusias menyimak kegiatan guru tersebut dan sesekali tersenyum karena media facebook yang digunakan oleh peneliti tidaklah jauh-jauh dari keseharian mereka.

Setelah masuk di dalam facebook group, peneliti menunjukkan beberapa status yang telah diposting dimulai dari “Peraturan Sederhana Fb Group for Learning” dan kemudian “Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) Pertemuan Pertama” (lihat gambar 2). Pada beberapa status tersebut, peneliti meminta siswa untuk membaca secara umum poin-poin di dalamnya. Peneliti juga secara acak menunjuk beberapa siswa untuk membacanya secara lantang.

(32)

29 Demikian pula dengan file mengenai prosedur pembelajaran yang di dalamnya terdapat tiga kolom yaitu fase eksplorasi-elaborasi-konfirmasi, kegiatan guru serta kegiatan siswa. Dengan menunjukkan file tersebut, peneliti mengatakan kepada siswa bahwa untuk mencapai pembelajaran yang efektif diperlukan peran serta siswa dalam aktif berkegiatan sebagaimana dirumuskan dalam kolom kegiatan siswa.

Tidak lupa peneliti juga kembali memperkenalkan dirinya sedikit lebih rinci dari sebatas nama yang telah diperkenalkan oleh Bapak Domas. Perkenalan dilakukan oleh peneliti dalam bingkai status facebook. Pada status tersebut peneliti menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, tempat tinggal, status, dsb (lihat gambar 3). Salah satu siswa juga diminta secara sukarela membaca status tersebut dengan lantang. Siswa bernama Elang mengangkat tangannya dan mulai membaca setelah dipersilakan. Disini peneliti juga memotivasi siswa yang lain untuk berani mengajukan dirinya sebagai sukarelawan dalam setiap kegiatan pembelajaran. Sebagai bentuk apresiasi, peneliti mencatatkan nama Elang beserta nomor urutnya: 22 di dalam komentar atas status tersebut.

(33)

30 Masuk ke pembelajaran inti, peneliti menunjukkan daftar file yang telah diunggah di fb group untuk pertemuan pertama kepada seluruh siswa (lihat gambar 4). File tersebut diberi nama “Meeting 1” dan disertai dengan “Task” berserta nomor urutnya untuk memudahkan siswa dalam belajar di lingkungan blended learning baik di sekolah maupun di rumah. Terdapat 5 nomor task yang diunggah dan 1 file bernama “additional material” sebagai bahan pembelajaran tambahan berupa vocabs dan cara pembacaannya.

Gambar 4. Daftar File yang Diunggah di Fb Group untuk Pertemuan Pertama

(34)

31 Peneliti tidak lupa menyalin hasil pekerjaan mereka di komentar facebook group beserta nama dan nomor urut siswa yang berpartisipasi (lihat gambar 5).

Gambar 5. File Task 1 di Fb Group Beserta Kegiatan Pembelajaran

(35)

32 Gambar 6. File Task 2 di Fb Group Beserta Kegiatan Pembelajaran

Tidak lama berselang ketika peneliti akan melanjutkan kegiatan membaca tersebut bel tanda pelajaran berakhir pelajaran berbunyi. Peneliti bergegas memberikan review dan meminta siswa untuk masuk menjadi member dari facebook group kelas VII E sehingga semua yang telah dipelajari pada hari itu bisa direview sendiri di rumah. Siswa kemudian keluar dari ruang kelas untuk beristirahat setelah peneliti menyampaikan salam penutup yang mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran bahasa Inggris hari itu.

c. Pengamatan/ pengumpulan data

(36)

33 d. Refleksi

1) Metodologi Pembelajaran

Pada pertemuan atau siklus pertamanya, perbaikan pembelajaran dengan memanfaatkan facebook group pada lingkungan belajar blended learning dirasa cukup berhasil dalam beberapa faktor pembelajaran tanpa adanya kendala teknis yang berarti. Dalam hal prosedur pembelajaran, siswa cukup antusias mengikuti satu persatu setiap kegiatan pembelajaran sebagaimana diharapkan untuk mencapai pembelajaran yang efektif. Hal ini ditunjang dengan ditampilkannya perencanaan guru beserta prosedur pembelajaran yang berisi kegiatan guru dan siswa di awal pembelajaran. Keduanya diunggah pada facebook group kelas VII E dan ditampilkan ke seluruh kelas melalui proyektor LCD.

Motivasi siswa juga dibangun dan sedikit demi sedikit ditingkatkan dengan jalan membuka peluang kepada siswa untuk berpartisipasi secara sukarela dalam pembelajaran. Disamping itu, apresiasi yang diwujudkan dalam pencatatan nama dan nomor urut siswa yang berpartisipasi pada komentar facebook group dianggap mampu meningkatkan motivasi siswa untuk selalu aktif berpartisipasi di setiap kegiatan pembelajaran. Pada beberapa kali kesempatan, peneliti bahkan harus memilih diantara siswa yang mengangkat tangannya untuk turut berpartisipasi. Siswa merasa puas setelah berpartisipasi dan dengan bangga menyebutkan nama dan nomor urutnya ketika ditanya oleh peneliti.

(37)

34 kaitannya dengan pelaksanaan siklus perbaikan berikutnya, peneliti akan berupaya untuk mencari informasi terlebih dahulu tentang pelaksanaan upacara beserta perkiraan alokasi waktu yang dibutuhkan agar tidak terulang kembali kendala yang sama.

Masukan dari Bapak Domas setelah selesai pembelajaran adalah untuk memanfaatkan pula power point yang dirasakan akan lebih menarik minat dan konsentrasi siswa dalam belajar bahasa Inggris. Atas usulan tersebut peneliti meyakinkan fungsi facebook group yang bisa diarahkan pula untuk mengunggah file-file berupa powerpoint. Meski demikian, fokus dari penelitian ini belum diarahkan sampai kesana sehingga peneliti hanya bisa menjadikannya sebagai rekomendasi untuk penelitian-penelitian yang dilakukan selanjutnya. Secara garis besar, peneliti dan juga Bapak Domas sudah merasakan adanya perbaikan pada siklus perbaikan pembelajaran pertama ini dan mesti dijaga serta lebih ditingkatkan atau dikembangkan lagi pada siklus perbaikan berikutnya.

2) Kecakapan Membaca Siswa

(38)

35 Tabel 4. Nilai dan Frekuensi Pre-test

Dari hasil penghitungan nilai rata-rata (mean), median, dan modus diketahui bahwa nilai rata-ratanya adalah 73, nilai mediannya 77 sementara nilai modus adalah 88. Dengan demikian, kurva yang terbentuk dari hasil tersebut adalah kurva negatif atau condong ke kanan. Hal ini disebabkan oleh nilai rata-ratanya yang masih lebih kecil dari median dan juga modus dan bahkan di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Oleh karenanya segala upaya perbaikan pembelajaran perlu dilakukan untuk lebih mengangkat kemampuan siswa sehingga menjadi tuntas. Selengkapnya mengenai hubungan mean, median, dan modus sebagaimana digambarkan pada tabel 5.

Tabel 5. Hubungan Mean-Median-Modus dari Nilai Pre-test 0

10-24 25-39 40-54 55-69 70-84 85-100

(39)

36 3. Siklus Kedua

a. Perencanaan

Siklus perbaikan pembelajaran kedua ini merupakan tindak lanjut dari siklus pertama. Kelebihan yang ada pada siklus pertama tetap dipertahankan dan lebih ditingkatkan atau dikembangkan lagi sementara kelemahannya ditutupi sedemikian rupa sehingga menghasilkan pembelajaran yang lebih efektif. Perencanaan selengkapnya dituangkan di dalam RPP dengan komponen yang sama sebagaimana RPP pada siklus pertama. Sebelum pelaksanaan pembelajaran, peneliti tidak lupa mencari informasi tentang pelaksanaan upacara bendera yang diganti dengan pembinaan wali kelas sehingga tidak terjadi penundaan pembelajaran bahasa Inggris sebagaimana siklus pertama. Pada kesempatan sebelum pelaksanaan siklus kedua itu peneliti juga menghubungi teman sejawat yaitu Ibu Enny untuk memastikan kehadirannya sekaligus memberikan instrumen pengamatan atau observasi.

Terkait dengan penyusunan RPP, terdapat beberapa penyesuaian diantaranya pelaksanaan tes penilaian dimana pada siklus kedua ini post-test direncanakan berlangsung di akhir pembelajaran. Tes tersebut dilaksanakan dalam bentuk pilihan ganda berjumlah 10 item soal pengembangan dari indikator membaca. Di samping tes penilaian, peneliti juga mempersiapkan tambahan bahan pembelajaran untuk dilampirkan pada RPP dan sekaligus diunggah di facebook group kelas VII E. Bahan pembelajaran yang dipersiapkan masih seputaran tema berjalan “things in house and school”. Bahan pembelajaran yang diunggah di facebook group tersebut dalam bentuk file image atau jpeg sebanyak 3 file. b. Pelaksanaan

(40)

37 mengatasi kendala teknis tersebut. Sebelum memasuki kelas peneliti sudah terlebih dahulu membuka laman facebook group kelas VII E beserta akun khusus siswa sehingga tidak memakan banyak waktu ketika di dalam kelas. Ibu Enny selaku teman sejawat yang membantu melakukan observasi juga sudah hadir di ruangan kelas dan menanti dimulainya pembelajaran.

Dengan tidak membuang-buang waktu, peneliti memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam dan menanyakan kondisi siswa. Sebelum melakukan review pembelajaran, peneliti menyampaikan kepada seluruh siswa catatan-catatan penting yang telah direfleksikan dari perbaikan pembelajaran pertama sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbaiki. Disamping itu peneliti juga menyampaikan sedikit perbedaan prosedur pembelajaran dimana sebelumnya tes penilaian dilakukan di awal pembelajaran, maka pada kesempatan itu akan diberikan di akhir pembelajaran dalam post-test.

Pada review pembelajaran, peneliti langsung menunjukkan pembelajaran yang telah lalu kepada siswa dengan jalan memperlihatkan beberapa catatan pada laman facebook group. Review tersebut dapat disimak dengan mudah oleh seluruh siswa melalui media proyektor LCD di depan kelas. Bagian pertama yang ditunjukkan adalah bagian Rencana Perbaikan Pembelajaran dimana salah satu siswa ditunjuk untuk membaca indikator pembelajaran dengan lantang. Bagian selanjutnya atau kedua adalah prosedur pembelajaran. Bagian ketiga adalah self introduction atau perkenalan diri yang dibaca ulang oleh salah satu siswa. Peneliti juga tidak lupa mengkonfirmasi pemahaman siswa tentang bagian-bagian yang direview tersebut.

(41)

kata-38 kata baru tersebut serta mencari artinya di dalam kamus untuk disalin di buku atau di selembar kertas. Setelah selesai kemudian peneliti mengecek pemahaman siswa pada setiap kata dari bacaan tersebut, seperti misalnya kata “pot” yang berarti panci dan lain sebagainya. Siswa yang belum menemukan arti dalam daftar kata-kata barunya bisa tetap mencari sembari menyimak penelusuran guru dan teman-teman yang lain atas kata tersebut. Kegiatan tersebut tercatat di dalam facebook group sebagaimana dapat dilihat pada gambar 6.

Memasuki pembelajaran inti, peneliti menunjukkan daftar file yang diunggah di fb group untuk pertemuan kedua sebagaimana dicuplikkan pada gambar 7. Meski demikian peneliti terlebih dahulu menyisir file satu demi satu untuk melacak task mana yang belum pernah dikerjakan ataupun dibahas. Dari konfirmasi dengan siswa, beberapa file yang ditinggalkan pada pembelajaran lalu karena keterbatasan waktu telah disampaikan oleh Bapak Domas sehingga peneliti langsung menuju ke file-file baru tersebut. Terdapat tiga file yang ditunjukkan kepada siswa yaitu file task 6, task 7, dan juga task 8.

Gambar 7. Daftar File yang Diunggah di Fb Group untuk Pertemuan Kedua

(42)

39 Sebagaimana bisa dicermati pada gambar 8 yang berupa catatan di facebook group, terdapat 5 nama siswa yang mendapat kesempatan untuk maju yaitu Toni, Fernando, Zahwa, Selvi, dan Erma. Setelah itu peneliti juga mengajak siswa lainnya untuk mendiskusikan jawaban yang telah ditulis di papan tulis dan juga facebook group tersebut.

Gambar 8. File Task 6 di Fb Group Beserta Kegiatan Pembelajaran

(43)

40 ditampilkan melalui proyektor LCD maupun maknanya dalam bahasa Indonesia dicatat oleh siswa di dalam buku tulisnya masing-masing. Task 8 tersebut belum selesai dilaksanakan seluruhnya namun peneliti kemudian mengakhiri kegiatan untuk beralih pada penilaian post-test. Kegiatan pada task 8 yang diunggah pada facebook group sebagaimana ditunjukkan pada gambar 9.

Gambar 9. File Task 8 di Fb Group

c. Pengamatan/ pengumpulan data

Kegiatan pengamatan atau pengumpulan data dilakukan oleh peneliti yang berperan sebagai partisipan aktif dengan dibantu oleh guru bahasa Inggris kelas VIII yaitu Ibu Enny yang berperan sebagai teman sejawat. Ibu Enny melakukan pencatatan pada saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran dan menyampaikannya kepada peneliti setelah pembelajaran berakhir. Sebagai partisipan pasif, Ibu Enny mengambil tempat di bangku ruangan kelas paling belakang dan menjalankan funsi pengamatannya dari awal pembelajaran sampai dengan menjelang akhir pembelajaran. Di sisi lain, peneliti merekam terlebih dahulu seluruh kegiatan pembelajaran dan segera mencatatnya setelah pembelajaran berakhir. Instrumen yang digunakan untuk melakukan pengamatan atau pengumpulan data adalah lembar analisis RPP dan pengamatan serta alat penilaian kemampuan guru (APKG 1 dan 2 plus).

d. Refleksi

1) Metodologi Pembelajaran

(44)

41 ditangani dan tidak mengganggu jalannya pembelajaran. Dalam hal tujuan serta prosedur pembelajaran, siswa menjadi semakin memahami pembelajaran yang akan dialaminya dengan review yang diberikan oleh peneliti sebelum kegiatan pembelajaran inti. Review ini terhubung secara online dengan facebook group dan terproyeksikan di depan kelas melalui LCD. Disamping itu, pemanfaatan media facebook group untuk pembelajaran pada dasarnya telah memudahkan siswa untuk bisa melakukan review mandiri kapanpun dan dimanapun.

Motivasi siswa pada siklus kedua ini menjadi semakin terbangun karena siswa juga semakin mengetahui pentingnya untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran bahasa Inggris yang dibawakan oleh peneliti. Sebagaimana diketahui siswa kelas VII hanyalah berjarak 1 level dari Sekolah Dasar (SD). Oleh karenanya tidaklah mudah untuk bisa melibatkan mereka sehingga menjadi aktif dan sukarela dalam setiap kegiatan pembelajaran. Hal ini memerlukan perlakuan khusus dan yang lebih penting lagi adalah adanya kepercayaan dari para murid kepada guru yang mengajar. Perlakuan khusus yang coba diulang pada siklus kedua ini adalah dengan pencatatan nama dan nomor urut siswa yang telah berpartisipasi pada komentar di facebook group. Adapun kepercayaan yang coba kembali dibangun oleh peneliti adalah menyangkut cara penyampaian feedback yang diupayakan sedemikian rupa sehingga tidak menghakimi siswa dan betul-betul membelajarkan mereka. Tidak lupa peneliti juga terus menyisipkan kata-kata motivasi di setiap kegiatan pembelajaran. Sebagai dampaknya, pada siklus kedua ini siswa sudah tidak canggung lagi untuk berkomentar serta berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran sehingga peneliti perlu untuk mengatur distribusinya sehingga merata.

(45)

42 pula pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Oleh karenanya peneliti berupaya untuk menjadwal ulang pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus berikutnya atau siklus ketiga dengan memanfaatkan jam pelajaran di luar hari senin. Sebagaimana diketahui, pelajaran bahasa Inggris di level SMP mendapatkan alokasi 4 jam pelajaran setiap minggunya dan direalisasikan atau dikemas dalam 2 kali pertemuan.

Setelah upaya perbaikan pembelajaran pada siklus dua berakhir, Ibu Enny selaku teman sejawat memberikan masukannya seputar pembelajaran bahasa Inggris kepada peneliti. Secara umum pelaksanaan perbaikan sudah berjalan dengan baik dan Ibu Enny hanya menyarankan kepada peneliti untuk lebih melibatkan siswa khususnya yang duduk di bangku paling belakang. Pada saat menjalankan fungsi pengamatannya, Ibu Enny sempat memeriksa siswa di bangku paling belakang dan mendapati mereka kurang fokus dalam pembelajaran. Oleh karenanya, peneliti dirasa perlu untuk lebih meluaskan jangkauannya sehingga perbaikan pembelajaran akan dapat dicapai oleh seluruh siswa di kelas VII E. Hal ini bisa dilakukan peneliti dengan jalan mendekati mereka dan kemudian menciptakan interaksi, dsb.

2) Kecakapan Membaca Siswa

(46)

43 Tabel 6. Nilai dan Frekuensi Post-test

Dari hasil penghitungan nilai rata-rata (mean), median, dan modus diketahui bahwa nilai rata-ratanya adalah 75 nilai mediannya 79 sementara nilai modus adalah 83. Dengan demikian, kurva yang terbentuk dari hasil tersebut adalah kurva negatif atau condong ke kanan. Hal ini disebabkan oleh nilai rata-ratanya yang masih lebih kecil dari median dan juga modus. Meski demikian nilai rata-rata tersebut sudah menunjukkan adanya perbaikan dengan keberhasilannya menyentuh batas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan yaitu 75. Oleh karenanya, upaya perbaikan pembelajaran pada siklus kedua ini sudah dianggap berhasil meningkatkan kecakapan membaca siswa sebagaimana menjadi salah satu tujuan dari penelitian tindakan kelas ini. Meski demikian, peneliti masih merasa perlu untuk melanjutkan upaya perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya atau siklus ketiga yaitu dalam rangka mengkonfirmasi keberhasilan yang telah dicapai. Selengkapnya mengenai hubungan mean, median, dan modus sebagaimana digambarkan pada tabel 7.

0 2 4 6 8 10 12 14

10-24 25-39 40-54 55-69 70-84 85-100

(47)

44 Tabel 7. Hubungan Mean-Median-Modus dari Nilai Post-Test

70 72 74 76 78 80 82 84 86

M ean M edian M odus

(48)

45 B. Pembahasan

1. Metodologi pembelajaran

Sebelum pelaksanaan siklus pertama, peneliti terlebih dahulu mempersiapkan facebook group kelas VII E sebagai media untuk pembelajaran membaca pada lingkungan “blended learning”. Akun yang digunakan untuk berinteraksi di facebook group tersebut adalah akun pribadi guru dan juga akun khusus siswa yang dipersiapkan oleh guru untuk kepentingan perekaman kegiatan siswa di dalam kelas. Hal ini mengingat tidak tersedianya fasilitas bagi siswa untuk bisa terkoneksi secara online. Disamping itu, peneliti juga mengunggah beberapa bahan pembelajaran di facebook group tersebut. Bahan tersebut meliputi: (a) kerangka umum pembelajaran yang merupakan cuplikan-cuplikan rencana perbaikan pembelajaran (RPP) yang berupa tujuan pembelajaran, prosedur pembelajaran, kegiatan guru siswa, penilaian, dsb; serta (b) serangkaian tugas-tugas atau task. Dengan diunggahnya bahan pembelajaran tersebut, siswa tidak hanya bisa mengaksesnya di dalam kelas namun juga berkesempatan untuk melakukan review secara mandiri pada lingkungan belajar “blended learning”.

Kemudian pada saat pelaksanaan siklus pertama, bahan pembelajaran yang telah disiapkan dan diunggah tersebut kemudian ditampilkan melalui media proyektor LCD yang tersedia di depan kelas sehingga dapat disimak oleh seluruh siswa. Siswa yang diajak mencermati satu persatu bahan tersebut menunjukkan antusiasmenya dan berinteraksi aktif ketika diminta membacanya dengan lantang. Hal ini terjadi karena siswa merasa perlu untuk mengetahui apa yang akan mereka pelajari pada pertemuan tersebut, mengenai tujuannya, prosedurnya, kegiatannya, penilaiannya, serta aktivitas dan tugas-tugas yang menyertainya. Meskipun memiliki nilai kemanfaatan yang besar dalam memberikan gambaran awal ataupun umum kepada siswa tentang pembelajaran yang akan berlangsung, namun kegiatan tersebut tidak ditemui oleh siswa pada pembelajaran bahasa Inggris sebelumnya. Kegiatan tersebut dikategorikan oleh peneliti sebagai kegiatan pendahuluan.

(49)

46 bentuk kegiatan guru dan siswa di facebook group. Kegiatan guru yang berupa instruksi-instruksi dan juga feedback direkam dengan menggunakan akun pribadi guru. Sementara itu, kegiatan siswa yang berupa jawaban siswa, pertanyaan, pendapat dan sebagainya juga direkam oleh guru dengan menggunakan akun khusus siswa. Tidak lupa pada setiap kegiatan atau feedback siswa tersebut, guru juga mencantumkan nama dan nomor urut siswa untuk lebih memotivasi mereka agar tetap terlibat pada kegiatan selanjutnya. Dengan menggunakan cara tersebut, peneliti dirasa berhasil dalam menjaring keaktifan dari beberapa siswa. Mereka dengan tidak sungkan-sungkan mengangkat tangannya untuk turut berpartisipasi sehingga peneliti harus menentukan pilihannya. Di akhir pembelajaran, peneliti juga mengingatkan siswa bahwa kegiatan pembelajaran pada lingkungan blended learning pada dasarnya bisa dilakukan pula di rumah selama terkoneksi online. Oleh karenanya, siswa diminta untuk bergabung dalam facebook group menggunakan akun pribadinya serta aktif berkegiatan di dalamnya.

Pada pelaksanaan siklus perbaikan selanjutnya yaitu siklus kedua dan ketiga, peneliti hanya menambahkan beberapa file tugas untuk diunggah di facebook group. Sebelum pembelajaran inti dimulai atau pada pendahuluan, peneliti terlebih dahulu mereview pembelajaran sebelumnya dengan menunjukkan file-file terdahulu. Dengan cara seperti ini pembelajaran dapat menjadi lebih efektif dan efisien karena bahan untuk mereview sudah tersedia dan terekam di facebook group sehingga bisa disimak bersama. Disamping itu, motivasi siswa untuk terus berpartisipasi aktif juga kembali dibangun mengingat kegiatan-kegiatan terdahulu yang turut direview oleh peneliti. Bentuk review ataupun reflective teaching semacam inilah yang dirasakan oleh peneliti telah menjadi kunci keberhasilan dalam pelaksanaan beberapa siklus perbaikan pembelajaran.

2. Kecakapan membaca siswa

(50)

47 Disamping itu, rata-rata nilai siswa setelah perhitungan adalah 73, nilai mediannya 77, dan nilai modus adalah 88. Penilaian serupa kemudian dilaksanakan pula di akhir pembelajaran siklus kedua dalam bentuk post-test. Hasilnya, 12 orang siswa mendapatkan nilai di bawah KKM. Dengan demikian, jumlah siswa yang memiliki nilai di bawah KKM menjadi berkurang sebanyak 4 orang siswa, dari sebelumnya 16 orang menjadi 12 orang. Pengolahan nilai lebih lanjut menunjukkan bahwa nilai rata-ratanya 75, nilai median 79, sementara nilai modus 83.

(51)

48 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A. Kesimpulan

1. Metodologi penerapan facebook group pada lingkungan belajar blended

learning

Dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini, peneliti memperoleh pengalaman berharga serta kesimpulan tentang bagaimana seharusnya menerapkan facebook group pada lingkungan belajar blended learning sehingga mampu meningkatkan pembelajaran membaca. Langkah-langkah penerapan facebook group pada lingkungan belajar blended learning tersebut sejatinya merupakan pengelolaan terhadap media facebook group itu sendiri untuk dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Secara lebih teknis, pengelolaan tersebut menyangkut bahan pembelajaran apa saja untuk diunggah serta kegiatan apa saja yang kemungkinan akan menyertainya. Kedua hal itulah yang nantinya akan diproyeksikan melalui proyektor LCD di dalam kelas sehingga menjadi pusat perhatian bersama baik oleh guru maupun siswa. Selengkapnya mengenai pengelolaan media facebook group adalah sbb:

a. Pengelolaan Bahan Pembelajaran di Facebook Group

Pengelolaan bahan pembelajaran untuk diunggah di facebook group biasanya dilakukan pada tahap perencanaan ataupun sebelum pelaksanaan pembelajaran yang meliputi:

(52)

49 Disamping itu, dengan ketersediaannya yang bersifat online di facebook group, maka hal ini memampukan siswa untuk bisa melakukan review secara mandiri dimanapun dan kapanpun.

2) File facebook group mengenai tugas-tugas (task)

Tugas-tugas ataupun task yang telah direncanakan untuk pembelajaran satu pertemuan juga diunggah sebelumnya di facebook group. Tugas-tugas tersebut pada umumnya adalah file-file yang berformat word, jpeg, ppt maupun pdf. Jumlah file yang diunggah setidaknya mencukupi untuk pembelajaran dalam satu pertemuan dan akan lebih baik lagi jika menyiapkan pula file untuk kegiatan tambahan. Tugas-tugas tersebut bisa diambil dari buka paket siswa, buku panduan mengajar guru, serta sumber-sumber lain yang relevan. Sumber dari buku paket siswa misalnya, bisa dikompilasikan dari buku sekolah elektronik yang disediakan oleh kementerian. Dengan demikian, bahan pembelajaran yang diberikan kepada siswa menjadi beragam dengan tidak menjadi keharusan bagi siswa untuk memiliki semua sumber tersebut. Mereka juga akan bisa dengan mudah mengakses kembali bahan tersebut melalui facebook group dimanapun dan kapanpun sebagai bagian dari bentuk pembelajaran “blended learning”.

b. Pengelolaan Kegiatan Pembelajaran di Facebook Group

Pengelolaan kegiatan pembelajaran di facebook group dilakukan bersamaan dengan berlangsungnya pembelajaran di dalam kelas yang meliputi: 1) Status dan komentar facebook group dari guru

(53)

50 saat memberikan feedback yang akan direkamnya pula pada komentar di facebook group. Dalam memberikan status dan komentar tersebut, guru menggunakan akun facebooknya pribadinya sehingga akan dengan mudah dikenali oleh seluruh siswa dalam group tersebut.

2) Status dan komentar facebook group dari siswa

Gambar

Tabel 1. Model Pemanfaatan Facebook Group dalam Pembelajaran oleh Center for Learning and Performance Technologies (n.d.) Pre-class
Tabel 2. Model Pemanfaatan Facebook Group dalam Pembelajaran Membaca untuk Penelitian Tindakan Kelas
Tabel 3. Jadwal Kegiatan Penelitian
Gambar 1. Siklus Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 1 memperoleh rata-rata skor 18,5 dan persentase 57,8 % dengan kriteria cukup (C). Peningkatan ini terjadi karena

 Bagaimana anda sebagai admin mengelola dan memantau kegiatan aktif jurnalistik warga pada Group Facebook Kabar Salatiga?.

Aktivitas siswa pada siklus I pertemuan pertama memperoleh persentase 67,85% dengan kategori cukup, pada pertemuan kedua mengalami peningkatan dengan persentase

In this case, the proposed product was a new teachers‟ guide to use Facebook Group in a blended Writing Course.. Afterward, this research was continued with the

Dari hasil belajar siswa pada siklus II, maka pembelajaran menulis surat pembaca tentang lingkungan sekolah dengan menggunakan media sosial facebook dapat

Berdasarkan hasil observasi dan analisis data serta data pendukung pada siklus I pertemuan 1 dan pertemuan 2 maka refleksi pada siklus I adalah sebagai berikut: (1) langkah-langkah

Sehingga penelitian ini akan melakukan suatu proses data mining untuk klasifikasi keluhan mengenai permasalahan iRaise pada akun Facebook Group iRaise Helpdesk dengan

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II telah dapat dinyatakan berhasil dan sesuai dengan tujuan.Penelitian hanya sampai pada siklus II karena sudah meningkat signifikan 73,13