Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634316
PERSEPSI GURU TERHADAP MATHISFUN.COM SEBAGAI SUMBER BELAJAR PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN
Mochamad Rofik
Program Studi Magister Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas 246 Malang, 65144
ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi guru terhadap penggunaan website matematika mathisfun.com sebagai sumber belajar materi persamaan dan pertidaksamaan di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian adalah dua guru matematika SMP di kota Malang. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara semi terstrukur kepada dua subjek yang telah dipilih berdasarkan pertimbangan perbedaan latar belakang. Guru pertama adalah guru yang telah mengajar selama lebih dari 20 tahun dan guru kedua adalah guru fresh garaduate yang lama mengajarnya masih di bawah dua tahun. Data mentah hasil wawancara kemudian dianalisis secara mendalam untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk deskripsi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum kedua guru yang menjadi subjek memberikan persepsi positif dan merekomendasikan mathisfun.com untuk dijadikan sebagai sumber belajar materi persamaan dan pertidasamaan.
Kata Kunci: persepsi guru, mathisfun.com, website matematika
Pendahuluan
Keberhasilan pembelajaran
matematika dipengaruhi oleh banyak faktor,
salah satu faktor utama yang menentukan
tingkat keberhasilan tersebut adalah
penggunaan sumber belajar (Naz, 2012).
Seiring berkembangnya teknologi,
perkembangan sumber belajar juga
mengalami perkembangan yang pesat
sehingga memunculkan banyak alternatif
sumber belajar baru berbasis teknologi
informasi. Beragamnya sumber belajar yang
dapat dipilih tentunya akan semakin
memudahkan guru dalam menyesuaikan
sumber belajar yang cocok dengan kebutuhan
siswa sehingga dapat menunjang proses
pembelajaran menjadi jauh lebih baik.
Perkembangan sumber belajar selain
dipengaruhi faktor teknologi informasi juga
dipengaruhi oleh kurikulum atau pendekatan
pembelajaran yang digunakan (Hanum, 2013;
Juwairiyah, 2013). Artinya tidak semua
sumber belajar yang menggunakan teknologi
terbaru sesuai dengan tuntutan kurikulum dan
kebutuhan siswa. Oleh karena itu, guru harus
benar-benar selektif dalam memilih sumber
belajar yang sesuai dengan kurikulum dan
kebutuhan siswa.
Perkembangan teknologi informasi
abad 21 khususnya melalui internet yang
sangat pesat benar-benar mengubah banyak
hal dalam kehidupan. Mulai dari gaya
berkomunikasi, berkirim pesan hingga cara
berinteraksi secara sosial, bahkan internet
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634317
2010). Hadirnya internet memungkinkan
akses terhadap sumber belajar jadi lebih
mudah dan merata bahkan lebih jauh
memungkinkan adanya kelas-kelas virtual
dimana siswa dan pengajar bisa saling
berinteraksi walau terpisah oleh jarak dan
ruang (Brändström, 2011). Akan tetapi selain
sisi positif, karena internet bersifat maya
maka tidak jarang sumber-sumber belajar
yang ada kurang memenuhi kriteria sehingga
beberapa praktisi mulai melakukan inovasi
dengan menyediakan konten-konten
pembelajaran berbasis web termasuk website
matematika.
Pembelajaran berbasis web juga
tidak semuanya baik, banyak website
pembelajaran yang hanya memindahkan
buku ke laman situs sehingga mereduksi
potensi internet sebagai sumber belajar yang
potensial. Padahal beberapa penelitian
menyebutkan jika pembelajaran berbasis web
benar-benar dilakukan secara maksimal akan
berbanding lurus dengan kualitas hasil
belajar siswa (Alonso, López, Manrique, &
Viñes, 2012). Oleh karena itu, ada beberapa
catatan penting; pertama, tidak semua situs
yang menyediakan konten matematika bisa
disebut sebagai website matematika; kedua,
guru harus selektif terhadap sumber belajar
berbasis web, kualitas konten dan kesesuaian
dengan kebutuhan harus menjadi dasar utama
penggunan sumber belajar berbasis website.
Salah satu website matematika yang cukup
lengkap dari segi konten adalah
mathisfun.com. Situs ini menyediakan konten
pembelajaran hampir di semua topik
matematika mulai dari sekolah dasar hingga
sekolah menengah. Namun jika digunakan
sebagai sumber belajar maka perlu
diperhitungkan dengan seksama relevansi
sumber belajar yang digunakan terutama dari
segi konten, kebutuhan dan kemudahan
dalam penggunaan (Maloy, Edwards, &
Anderson, 2010).
Persamaan dan pertidaksamaan
merupakan materi yang sangat penting untuk
dipahami siswa dengan baik, hal ini
dikarenakan persamaan dan pertidaksamaan
merupakan fondasi dalam mempelajari
aljabar ke tingkat yang lebih lanjut
(Ratnawati & Hasannudin, 2012). Melihat
pentingnya materi persamaan dan
pertidaksamaan maka perlu desain
pembelajaran dan juga sumber belajar yang
tepat. Sumber belajar yang baik dimaksudkan
untuk membantu siswa memahami konsep
persamaan dan pertidaksamaan secara
kontekstual dan esensial. Oleh siebab itu
sumber belajar setidaknya memiliki kriteria:
1) sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai;
2) tepat untuk mendukung isi pelajaran; 3)
praktis, luwes, dan tahan; 4) guru terampil
menggunakannya; 5) pengelompokan
sasaran; dan 6) mutu teknis (Moore,
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634318
Guru adalah seorang pendidik yang
juga merupakan pembimbing. Dalam bidang
kemanusiaan di sekolah, guru harus bisa
menjadi dirinya sebagai orangtua kedua bagi
siswa. Seorang guru harus bisa menarik
simpati agar menjadi idola para siswa dan
disukai sehingga siswa senang belajar dengan
guru. Para ahli menyebutkan bahwa tanggung
jawab guru harus bisa menuntut murid untuk
belajar dan yang terpenting dapat membuat
rencana dan mendampingi siswa untuk
melaksanakan kegiatan belajar agar mencapai
perkembangan seperti yang diharapkan. Guru
sesungguhnya adalah seorang kunci yang
paling tahu mengenai keperluan kurikulum
yang sesuai dengan tingkat perkembangan
siswa (Farisi, 2011). Sebab hal tersebut, guru
merupakan orang yang paling tahu mengenai
pembelajaran siswanya termasuk dalam
memilih sumber belajar yang tepat sehingga
persepsi guru terhadap suatu sumber belajar
dapat dijadikan pertimbangan dalam
pembuatan, pengembangan dan juga
penggunaan sumber belajar.
Persepsi merupakan proses dimana
individu mengorganisasikan dan
menginterpretasikan impresi sensorinya
supaya dapat memberikan arti kepada
lingkungan sekitarnya (Kampylis, Berki, &
Saariluoma, 2009). Guru dengan
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki
termasuk pengetahuan tentang potensi
siswanya akan menjadi modal yang sangat
baik dalam mendesain pembelajaran
termasuk dalam memilih sumber belajar
pembelajaran. Artikel ini akan menggali
persepsi guru terhadap penggunaan website
matematika mathisfun.com pada
pembelajaran persamaan dan
pertidaksamaan. Persepsi yang diberikan oleh
guru diharapkan dapat memberikan
gambaran mengenai kesesuaian konten,
tingkat kemungkinan diterapkannya
mathisfun.com sebagai sumber belajar, dan
tingkat kesesuaian mathisfun.com dengan
kurikulum 2013.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan peneltian
dengan pendekatan kualitatif deskriptif
dengan menggunakan dua subjek guru di
sekolah menengah pertama (SMP) di Kota
Malang. Guru pertama merupakan guru
senior dan telah mengajar lebih dari 20 tahun
dan guru kedua merupakan guru fresh
graduate dan baru mengajar kurang dari dua
tahun. Pengambilan data akan dilakukan
dengan beberapa tahapan, tahap pertama
setiap guru akan dikenalkan dengan
mathisfun.com dan guru didampingi untuk
melakukan eksplorasi konten. Berikutnya
setiap guru diminta untuk menyampaikan
persepsinya terhadap tiga hal pokok, yaitu;
mengenai kualitas konten, kesesuaian dengan
pembelajaran Kurikulum 2013 (K13) dan
kemungkinannya untuk diterapkan di kelas.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634319
Hasil dalam penelitian ini akan
memaparkan persepsi hasil wawancara
dengan dua guru, guru pertama kita sebut
dengan guru A dan guru ke dua kita sebut
dengan guru B. Secara rinci, antara guru A
dan guru B memiliki latar belakang yang
cukup kontras. Guru A merupakan pengajar
senior yang telah mengajar lebih dari 20
tahun dan guru A mengajar di sekolah yeng
terletak di pinggiran kota sedangkan guru B
merupakan guru fresh graduate yang
mengajar kurang dari 2 tahun dan tempatya
mengajar merupakan salah satu sekolah yang
berada dipusat Kota Malang, Jawa Timur.
Wawancara dengan guru A
mengungkapkan jika ia baru mendengar
istilah website matematika termasuk
mathisfun.com sehingga sebelum guru A
diminta untuk memberikan persepsinya, guru
A didampingi untuk mengeksplorasi konten
yang ada di website. Kesan pertama yang
diberikan setelah mengeksplorasi website
sangatlah positif bahkan ia tidak menyangka
jika ada website yang menyediakan konten
seperti mathisfun.com. Ia mengungkapkan
konsep yang ditampilkan di website sangat
baik dan menarik khususnya konten animasi
interaktif yang sangat memungkinkan untuk
menarik minat siswa. Lebih lanjut, konten
animasi interaktif yang disediakan akan
membuat siswa berperan aktif dalam
mengkonstruksi pengetahuannya sehingga
akan mampu melatih kemampuan berpikir
tingkat tinggi.
Materi sudah bagus terutama penyajian materinya, saya yakin siswa akan senang dan tertarik untuk mempelajarinya. …soal kesesuaian dengan kurikulum seharusnya ya konten-konten seperti ini yang diperbanyak, karena akan membuat siswa belajar dengan cara mengkonstruksi.
Mengaitkan materi persamaan dan
pertidaksamaan yang ada di mathisfun.com
dengan desain K 13, guru A mengungkapkan
jika konten sudah sesuai standar, ditambah
dengan tuntutan K 13 yang mengharapkan
siswa terlibat aktif dalam pembelajaran maka
konten yang ada di website sangatlah sesuai
untuk diterapkan. Menurutnya sumber belajar
seperti ini sangatlah dibutuhkan karena selain
dapat meningkatkan ketertarikan,
pembelajaran juga esensial, sehingga siswa
belajar secara menyeluruh mulai dari konsep
dasar. Selain itu, yang terbantu juga bukan
hanya siswa melainkan juga guru. Ia
memberikan contoh animasi timbangan untuk
menggambarkan konsep persamaan yang ada
di website sangatlah membantu guru, karena
guru tidak perlu memaksakan membawa
timbangan ke kelas.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634320
Mengenai kemungkinan
mathisfun.com diterapkan dalam
pembelajaran di kelas, Guru A
menyampaikan jika hal ini memungkinkan
akan tetapi karena sumber belajarnya bersifat
online maka ia akan mencoba memindahkan
kelasnya menuju Lab Komputer. Ia beralasan
tidak mengajarkannya di kelas karena tidak
semua siswa kebagian untuk mengoperasikan
animasi interaktif yang ada di website,
sehingga ditakutkan hasilnya kurang
maksimal. Akan tetapi guru A memberikan
saran walaupun konten yang disediakan
sudah baik peran guru untuk mendampingi
dan memberikan kesimpulan di akhir
pembelajaran sangatlah penting. Hal ini
menurutnya untuk menghindari miskonsepsi
yang sering terjadi pada siswanya.
Guru A secara umum memberikan
persepsi positif terhadat mathisfun.com,
namun guru A cukup menyayangkan
mengenai bahasa yang digunakan dalam
website. Ia berharap bahasa yang digunakan
tidak hanya bahasa inggris melainkan juga
ada opsi custom dengan bahasa Indonesia. Ia
cukup mengkhawatirkan siswa akan kesulitan
dan akan mengurangi minatnya untuk belajar
dengan mathisfun.com dikarenakan tidak
memahami bahasa yang digunakan.
Kekhawatiran ini muncul dikarenakan
mayoritas siswanya masih mempunyai
kemampuan bahasa inggris yang rendah.
Namun guru A tetap meyakini jika kendala
bahasa bisa disiasati dengan pendampingan
dari guru.
… seharusnya kan, website seperti ini juga dikembangkan di Indonesia sehingga kita gak selalu ambil dari mereka (luar negeri) dan disana kita bisa memasukkan unsur-unsur lokal ke dalam animasi interaktifnya.
Ia juga berharap website matematika
seperti mathisfun.com tidak hanya
dikembangkan di luar negeri tetapi juga
dikembangkan oleh developer lokal,
sehingga selain bahasanya juga bisa
menggunakan bahasa Indonesia. Guru A
berpandangan hal ini sangatlah penting
dikarenakan ketika konten pembelajaran
selalu diambil dari luar ada kemungkinan
konten tersebut tidak sesuai dengan budaya
dan nilai-nilai yang ada di Indonesia. Lebih
lanjut guru A menjelaskan jika ini adalah
tantangan bagi para akademisi dan juga
mahasiswa pendidikan matematika untuk
terus berperan aktif dalam mengembangkan
konten-konten kualitas internasional dengan
cita rasa lokal.
Guru B yang merupakan guru fresh
graduate mengungkapkan jika sebelumnya
belum terlalu paham dengan istilah website
matematika termasuk mathisfun.com. Namun
setelah mencoba menggunakannya ia
mengungkapkan jika konsep yang diusung
sangatlah menarik karena siswa dapat terlibat
aktif seolah sedang bermain game. Selain itu,
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634321
melalui handphone menjadi nilai tambah
tersendiri. Mathisfun.com bisa diakses siswa
dimanapun dan kapanpun melalui
smartphone sehingga belajar akan semakin
menyenangkan. Guru B juga menyoroti
penggunaan bahasa yang ada di website,
website yang keseluruhannya menggunakan
bahasa inggris menurutnya merupakan
potensi yang baik sehingga selain siswa
belajar matematika juga menambah kosa kata
bahasa asingnya.
…untuk isi, dan dikarenakan materi ini untuk anak SMP maka syarat pertama harus benar (sesuai dengan konsep) dan kedua harus mudah dipahami anak usia SMP, website ini telah memenuhi dua syarat tersebut.
Berbicara kualitas konten, guru B
berpendapat konten yang disajikan
mathisfun.com sangatlah baik dan dikerjakan
dengan serius. Menurutnya konten yang baik
adalah konten yang tidak menimbulkan
ambiguitas dan ia tidak menemukannya di
mathisfun.com. Penggunaan kontras warna
khusunya pada materi pertidaksaman juga
memudahkan siswa dalam memahami konsep
yang disajikan, namun ia menyarankan jika
lebih baik animasi interaktif juga diberikan
pada materi pertidaksamaan. Berkenaan
dengan K 13 guru B mengungkapn bahwa
jangankan sumber belajar interaktif, buku
konvensional juga akan sesuai ketika
pembelajaran didesain sedemikian rupa
sesuai dengan pendekatan kurikulum yang
berlaku, sehingga ia menyimpulkan sangat
memungkinkan konten yang ada di website
untuk diajarkan secara saintifik.
…diterapkan di kelas juga
memungkinkan tapi sepertinya saya cukup meminta mereka untuk membukanya di rumah, hal ini memungkinkan karena latar belakang siswa saya yang semuanya mempunyai akses ke internet dengan sangat baik
Mengenai kemungkinan diterapkan
dalam pembelajaran, guru B mengutarakan
jika mathisfun.com sangat memungkinkan
untuk diimplementasikan tidak hanya di
kelas tapi juga di luar kelas. Artinya
tergantung dari kondisi sosial dan psikologis
siswa dimasing-masing sekolah. Ia
mencontohkan di sekolah yang dia ajar
rasanya tidak perlu diajarkan dikelas secara
penuh, ia hanya akan memberikan tugas
kepada siswa untuk membuka mathisfun.com
lalu meminta siswa untuk mengeksplorasinya
dan mendiskusikannya pada pertemau
berikutnya. Kemungkinan lain, bisa saja
konten animasi interaktif yang ada di
mathisfun.com digunakan sebagai apersepsi
di awal pembelajaran.
Hasil yang telah dideskripsikan
sebelumnya memperlihatkan jika dua guru
yang menjadi subjek menyatakan konten
yang disajikan oleh matisfun.com sudah baik.
Konten animasi interaktif yang ada pada
materi persamaan membuat website mampu
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634322
pembelajaran. Oleh sebab itu, mathisfun.com
sangat direkomendasikan oleh kedua guru.
Walaupun ada sedikit kekhawatiran dari guru
A mengenai kendala bahasa, namun guru A
juga menyakini mathisfun.com tetap dapat
diterapkan di sekolahnya.
Secara umum tidak ada perbedaan
ekstrim antara persepsi guru A dengan guru
B, namun yang patut menjadi catatan adalah
gagasan dari guru A mengenai
pengembangan konten website matematika
oleh developer lokal sehingga bisa
menanamkan nilai-nilai budaya dan kearifan
lokal. Ia juga berharap akademisi dan
mahasiswa pendidikan matematika juga bisa
lebih berperan dalam pengembangan
konten-konten interaktif berbasis website
matematika seperti matisfun.com. Hal ini
cukup beralasan karena kedua guru juga
sepakat website matematika seperti
mathisfun.com mempunyai potensi yang
sangat baik untuk dijadikan sumber belajar
alternatif.
Temuan lain yang patut diberikan
perhatian adalah mengenai wawasan kedua
guru mengenai website matematika, secara
umum kedua guru belum memhami apa itu
website matematika dan apa yang disajikan
dalam website. Hal ini seharusnya
mendapatkan perhatian dikarenakan
bagaimana guru akan mengeksplorasi sumber
belajar atau bahkan menciptakan sumber
belajar yang inovatif jika wawasan guru
mengenai jenis-jenis sumber belajar yang
sedang berkembangan juga sangat minim.
Hasil wawancara juga
mengindikasikan bahwa salah satu kriteria
utama sumber belajar yang baik adalah
sumber belajar yang mengusung konsep
interaktif. Hal ini cukup beralasan selain
desain Kurikulum 2013 yang mengusung
pendekatan saintifik beberapa penelitian juga
menunjukkan bahwa sumber belajar
interaktif mampu membuat pembelajaran
lebih bermakna (Nusir, Alsmadi, Al-Kabi, &
Sharadgah, 2013; Wongkia & Naruedomkul,
2013). Berikutnya jika ditinjau dari segi usia,
siswa SMP masih dalam fase peralihan dari
fase konkrit menuju abstrak sehingga masih
membutuhkan alat bantu dalam
membelajarkan konsep-konsep abstrak
(Rofik, 2016). Oleh karena itu penggunaan
sumber belajar yang tepat akan sangat
membantu siswa dala Wawancara dengan
dua guru yang mempunyai latar belakang
berbeda memberikan gambaran jika
mathisfun.com khususnya pada materi
persamaan dan pertidaksamaan mendapatkan
persepsi yang baik. Persepsi positif tersebut
hampir didapatkan untuk semua aspek mulai
dari konten, penyajian dan kemenarikan serta
kemudahan pengunaan.
Beberapa peneliian sebelumnya juga
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634323
pembelajaran berbasis internet secara umum
mendapatkan respon yang positif dari
pengajar maupun siswa. Misal penelitian
yang dilakukan di Kota Magelang, penelitian
ini mengungkapan lebih dari 70% guru di
Kota Magelang menyatakan penggunaan
internat sangat membantu dalam proses
belajar mengajar, begitupun dengan persepsi
siswa, sekitar 63% siswa menyatakan sangat
terbantu dengan belajar menggunakan
internet (Tiya Arfiyanti, 2013). Penelitian
lain yang dilakukan di Cyprus juga
mengungkapan bahwa mayoritas siswa
menggunakan internet tidak hanya untuk
keperluan sosial media dan hiburan melainka
untuk menyelesaikan tugas-tugas
akademiknya, bahkan mereka sangat terbantu
dengan adanya internet (Dogruer, Eyyam, &
Menevis, 2011).
Menurut laporan pada tahun 2014
setidaknya 79,5% remaja di Indonesia adalah
pengguna internet sehingga potensi
penggunaan internet untuk pembelajaran juga
sangat besar (UNICEF, 2014). Namun
kurangnya pengetahuan dan keterampilan
dalam teknologi informasi dan komunikasi
terkadang membuat penggunaan internet
dalam pembelajaran menjadi kurang
maksimal. Hal ini tentunya harus dilihat oleh
akademisi dan praktisi pendidikan sebagai
peluang emas untuk memaksimalkan
penggunaan internet sebagai sumber belajar.
Analogi sederhananya lahan sudah siap
tinggal kemampuan pengelolanya dalam hal
ini kemampuan guru untuk memaksimalkan
potensi yang ada.
Wawancara dengan dua guru yang
mempunyai latar belakang berbeda
memberikan gambaran jika mathisfun.com
khususnya pada materi persamaan dan
pertidaksamaan mendapatkan persepsi yang
baik. Persepsi positif tersebut hampir
didapatkan untuk semua aspek mulai dari
konten, penyajian dan kemenarikan serta
kemudahan pengunaan. Beberapa peneliian
sebelumnya juga menggambarkan bahwa
penggunaan pembelajaran berbasis internet
secara umum mendapatkan respon yang
positif dari pengajar maupun siswa. Misal
penelitian yang dilakukan di Kota Magelang,
penelitian ini mengungkapan lebih dari 70%
guru di Kota Magelang menyatakan
penggunaan internat sangat membantu dalam
proses belajar mengajar, begitupun dengan
persepsi siswa, sekitar 63% siswa
menyatakan sangat terbantu dengan belajar
menggunakan internet (Tiya Arfiyanti, 2013).
Penelitian lain yang dilakukan di Cyprus juga
mengungkapan bahwa mayoritas siswa
menggunakan internet tidak hanya untuk
keperluan sosial media dan hiburan melainka
untuk menyelesaikan tugas-tugas
akademiknya, bahkan mereka sangat terbantu
dengan adanya internet (Dogruer, Eyyam, &
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634324
Menurut laporan pada tahun 2014
setidaknya 79,5% remaja di Indonesia adalah
pengguna internet sehingga potensi
penggunaan internet untuk pembelajaran juga
sangat besar (UNICEF, 2014). Namun
kurangnya pengetahuan dan keterampilan
dalam teknologi informasi dan komunikasi
terkadang membuat penggunaan internet
dalam pembelajaran menjadi kurang
maksimal. Hal ini tentunya harus dilihat oleh
akademisi dan praktisi pendidikan sebagai
peluang emas untuk memaksimalkan
penggunaan internet sebagai sumber belajar.
Analogi sederhananya lahan sudah siap
tinggal kemampuan pengelolanya dalam hal
ini kemampuan guru untuk memaksimalkan
potensi yang ada.m mengkonstruksi
pengetahuannya.
Kesimpulan
Secara umum persepsi kedua guru
meyatakan mathisfun.com dapat dijadikan
sebagai sumber belajar untuk materi
persamaan dan pertidaksamaan. Persepsi
positif berdasarkan wawancara terlihat sangat
dipengaruhi oleh animasi interaktif yang
disajikan di website. Selain itu, ada beberapa
kendala yang menjadi perhatian kedua guru
yang menjadi subjek penelitian, seperti
kendala bahasa dikarenakan konten
menggunakan bahasa inggris dan konten
animasi interaktif yang hanya ada pada
materi persamaan. Akan tetapi kedua guru
sepakat bahwa hal tersebut tidak mereduksi
validitas konten secara ekstrim sehingga
koten tetap layak untuk digunakan sebagai
sumber belajar.
Melihat penggunaan internet yang
sangat besar dikalangan anak usia sekolah
maka penggunaan sumber belajar berbasis
internet khususnya website matematika
seperti mathisfun.com seharusnya bisa
didayagunakan secara maksimal.
Pendayagunaan ini tentunya dapat dimulai
dengan beberapa langkah: 1) guru harus terus
belajar dan mengikuti perkembangan
teknologi informasi sehingga membuka
wawasan mengenai perkembangan sumber
belajar berbasis internet; 2) mencari sumber
belajar potensial berbasis internet, 3)
mengetahui potensi siswa dan lingkungan
sekolah; dan 4) melakukan eloborasi sumber
belajar yang memungkinkan untuk
diterapkan di kelas.
Rujukan
Alonso, F., López, G., Manrique, D., & Viñes, J. M. (2012). An instructional model for web-based e-learning education with a blended learning process approach. British Journal of Education Technology, 36(2), 217– 235.
Bakia, M. (2010). Internet-based education. In International Encyclopedia of Education (pp. 102–108). https://doi.org/10.1016/B978-0-08-044894-7.00755-7.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634325
Academin for Utbuildning och Ekonomi. Hogskolan.
Dogruer, N., Eyyam, R., & Menevis, I. (2011). The use of the internet for educational purposes. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 28, 606–611.
https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2011 .11.115.
Farisi, M. I. (2011). Guru sebagai pengembang kurikulum pendidikan multikultur: Tinjauan dari Perspektif Epistemologis. Temu Ilmiah Nasional Guru III, (November), 1– 13.
Hanum, N. S. (2013). Keefektifan e-learning sebagai media pembelajaran (studi evaluasi model pembelajaran e-learning SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto). Jurnal Pendidikan Vokasi, 3(1), 90–102. https://doi.org/10.21831/JPV.V3I1.1 584
Juwairiyah, J. (2013). Alat Peraga dan Media Pembelajaran Kimia. Visipena, 4(1), 1–13.
Kampylis, P., Berki, E., & Saariluoma, P. (2009). In-service and prospective teachers’ conceptions of creativity. Thinking Skills and Creativity, 4(1), learning, and distance learning
environments: Are they the same? Internet and Higher Education, 14(2), 129–135.
https://doi.org/10.1016/j.iheduc.2010 .10.001
Naz, A. A. (2012). Use of Media for Effective Instruction its Importance : Some Consideration. Journal of Elementary Education, 18(1–2), 35– 40.
Nusir, S., Alsmadi, I., Al-Kabi, M., & Sharadgah, F. (2013). Studying the impact of using multimedia interactive programs on children’s ability to learn basic math skills. E-Pengaruh Penguasaan Sistem Persamaan Linear terhadap Kemampuan Siswa dalam Matriks. Eduma, 1(1), 107–116.
Rofik, M. (2016). Model Konstruktivistik pada Pembelajaran Luas Bangun Datar Berbantuan Media Tangram. In Penguatan Peran Pendidikan Matematika dalam Meningkatkan Kualitas Bangsa (Vol. I, p. 226). Malang: Magister Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang.
Tiya Arfiyanti. (2013). Persepsi Guru dan Siswa Mengenai Pemanfaatan Internet dalam Pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri se-Kota Magelang. Universitas Negeri Yogyakarta.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika
|
Volume 2, Tahun 2017, p-ISSN 2528 - 4460 Volume 1, Tahun 2017, e-ISSN 2581 - 0634326
Retrieved from
https://www.unicef.org/indonesia/id/ media_22169.html