SEKOLAH TINGGI TEOLOGI REFORMED INDONESIA
KONSEP PERANG DALAM ALKITAB:
SEBUAH PENDEKATAN KONTINUITAS DAN DISKONTINUITAS
SKRIPSI INI DIAJUKAN KEPADA
SENAT STT REFORMED INDONESIA
UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN MENCAPAI GELAR
SARJANA TEOLOGI
OLEH
DOULA ALEP RUSTIANTO
JAKARTA
UCAPAN TERIMA KASIH
Sebuah karya tercipta bukan tanpa beban atau tujuan. Karya tangan manusia
terlahir dari perjuangan serta ketekunan. Dan syukur pada Allah Tritunggal yang telah
meletakkan beban serta mengaruniakan ketekunan pada penulis untuk dapat mengawali
pergumulan ini hingga paripurnanya. Dalam hari dan bulan yang dilalui, serta tiap jatuh
bangun proses yang dihadapi, Ia terus menyertai dan memberi ketertarikan serta
kerinduan untuk terus menggali dan mencari tahu misteri agung ini. Hingga akhirnya
karya ini menjadi sebagaimana adanya, semua hanya karena anugerah-Nya.
Ungkapan terimakasih juga tak lupa penulis sampaikan kepada beberapa figur
penting yang ada bagi penulis dalam melalui proses kepenulisan tugas akhir ini.
1. Terimakasih kepada kedua orangtua penulis yang tak pernah lelah memberi
kesempatan serta dukungan untuk penulis memulai kembali dari setiap kegagalan dan
terus memberikan semangat dalam doa dan perhatian yang tak mungkin tergantikan.
2. Terimakasih untuk Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D sebagai Rektor STTRI yang
memberikan penulis kepercayaan, teladan, dan juga didikan hingga penulis boleh
mendapat kesempatan untuk kembali menapaki jalan panggilan Tuhan.
3. Terimakasih untuk Ev. Inawaty Teddy, B.Com., M.Th dan Ev. Simeon Theojaya,
M.T.S, yang dengan penuh kasih, menolong, membimbing, mengoreksi, serta menjadi
rekan diskusi penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini.
4. Terimakasih untuk Ev. Ina Hidayat, Th.M. yang telah menjadi dosen penguji
sekaligus editor bagi penyelesaian tulisan ini hingga layak cetak dan menjadi bagian dari
5. Terimakasih untuk Bapak dan Ibu dosen STTRI: Esther Susabda, Ph.D., Yuzo
Adhinata, Ph.D., Emil Salim, S.E., M.Div., Ph.D., Lanny Pranata, B.A., M.Th., Ir.
Asriningrum, M.Th., Andreas H. Simeon, M.Th., Samuel B. Prasetya, M.Si., Ir. Siska A.
Tampenawas, M.Th., Pdt. Agus Santoso, Dr. Theol., Yason Budiprasetya, M.Div.,
Yuliwaty Rukiah, S.Th., M.Ed., dlsb., yang telah membimbing serta mengajarkan
berbagai hal yang penulis perlukan untuk memperlengkapi penulis, bukan hanya sebagai
hamba Tuhan namun juga sebagai manusia yang seutuhnya.
6. Terimakasih untuk Pdt. Joas Adiprasetya, D.Th., Nindyo Sasongko, S.Th., M.A.,
Hans Abdiel Harmakaputra, S.Th., M.A., Toar Banua Hutagalung, S.Th., M.A., Daniel
Sihombing, M.Th., dan Yohanes Krismantyo, M.Th., yang telah menjadi guru, kakak,
rekan diskusi, juga kawan yang dikagumi oleh penulis.
7. Terimakasih juga untuk kakak dan rekan seperjuangan di STTRI: Freddy
Gunawan, Fanny Puspita, Mesrawati Ziliwu, Septiana Iskandar, Nina Hutagalung, Dede
K. Sanjaya, Jessica Lin, dan Lisa Yulianti.
8. Terimakasih untuk kedua adik penulis, Evangelista Elfania dan Tri Agatha Iolana,
yang terus menjadi semangat dan sumber kegembiraan bagi penulis.
9. Terakhir, namun bukan yang paling akhir, penulis sampaikan terimakasih
untukmu, sang Cinta, yang menjadi alasan semua upaya penyelesaian skripsi ini.
Terimakasih bahwa engkau sudah dan aku harap akan kembali mewarnai kehidupanku.
Terimakasih telah mengajarkanku arti bertahan, setia, kehilangan, dan cinta.
Kiranya Tuhan sajalah yang membalas setiap kebaikan Bapak, Ibu, Saudara
DAFTAR ISI
Penggunaan Tipologi dalam Memahami Konsep Perang 24
Janji dan Pemenuhan 28
Kontinuitas dan Diskontinuitas 41
Definisi 41
Karakteristik Kontinuitas dan Diskontinuitas 42
Alasan Memilih Kontinuitas dan Diskontinuitas 50
III. PEMILIHAN DAN EKSPOSISI TEKS-TEKS PERANG 53
Eksposisi Hakim-Hakim 4-5 83
Kitab Sejarah Masa Kerajaan dan Pembuangan 89
Eksposisi 1 Samuel 4-6 92
Eksposisi 1 Raja-Raja 22:1-40 101
Eksposisi Ester 8-9 106
Kitab Nabi-Nabi 110
Eksposisi Yesaya 42:10-43:7 (Kepenulisan Tunggal) 115 Eksposisi Yesaya 42:10-43:7 (Versi Deutero-Yesaya) 118
Eksposisi Zakharia 14 127
Kitab Sastra 132
IV. KONTINUITAS DAN DISKONTINUITAS PEMAHAMAN PERANG 163
Kontinuitas Perang 167
Diskontinuitas Perang 168
Sintesis Biblikal-Teologis tentang Perang dalam Alkitab 171
Perang sebagai Bentuk Ibadah 172
Perang sebagai Jalan Pembebasan 175
Perang sebagai Bentuk Penghukuman 178
Perang sebagai Masalah Iman 181
Perang sebagai Bagian dari Misi Allah 183
Perang sebagai Penyataan Kehadiran Kerajaan Allah 187
V. PENUTUP 193
Kesimpulan dan Relevansi 193
Saran-Saran 199
ABSTRAK
KONSEP PERANG DALAM ALKITAB:
SUATU PENDEKATAN KONTINUITAS DAN DISKONTINUITAS
Realitas perang merupakan realita yang tak terhindarkan dalam sejarah kehidupan
manusia. Realitas ini muncul dengan berbagai alasan, mulai dari alasan politik hingga
religius. Perdebatan etis mengenai perang juga hadir secara ragam, mulai dari
pemahaman perang adil (just war) hingga pemahaman cinta damai (pacifism). Dalam
kenyataan ini, pemahaman teologis mengenai perang mengambil tempat penting dalam
pengambilan keputusan etis. Lebih lanjut, pembentukan pemahaman teologis mengenai
perang dipengaruhi oleh pendekatan yang digunakan terhadap teks Alkitab, mulai dari
pendekatan tipologi, janji dan pemenuhan, atau kontinuitas dan diskontinuitas. Dengan
mempertimbangkan hadirnya teks perang yang tersebar di berbagai masa yang berbeda
dalam Alkitab, maka dipilihlah pendekatan kontinuitas dan diskontinuitas sebagai metode
untuk membentuk pemahaman mengenai perang.
Uraian akan difokuskan pada beberapa teks perang dalam Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru, dengan mempertimbangkan waktu kesejarahan yang berbeda dari setiap
teks serta genre sastra yang digunakan. Dari uraian ini akan terlihat kontinuitas dan
diskontinuitas dalam pemahaman mengenai perang di Alkitab. Kontinuitas perang ini
akan menjadi sintesis biblikal-teologis tentang pemahaman perang dalam Alkitab,
sedangkan aspek diskontinuitas dari pemahaman perang akan menunjukkan perubahan
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perang Secara Umum
Perang adalah salah satu fenomena sosio-politik yang terjadi dalam sejarah
kehidupan manusia. The Cambridge Dictionary of Sociology mendefinisikan perang sebagai “a type of violent social conflict between two or more armed powerful
organizations, in which each aims to prevail by destroying the other’s power, primarily
through the deliberate use of armed force.”1 Kenyataan adanya konflik sosial antar dua kelompok atau lebih dapat dipicu oleh berbagai alasan. The Palgrave Macmillan
Dictionary of Political Thought menyatakan bahwa perang dapat dipicu oleh perebutan
daerah teritori, konflik politik bahkan perbedaan ideologi.2 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perang didefinisikan sebagai sebuah bentuk konflik sosial yang
mengandung kekerasan yang muncul dalam relasi dua atau lebih kelompok yang dapat
timbul akibat adanya kepentingan politik, teritorial, ataupun ideologi.
Meresponi adanya fenomena perang, beberapa kelompok memandang perang
dalam berbagai sisi yang cukup berbeda. Kalangan besar seperti Lutheran, Reformed, dan
Anglikan melihat perang sebagai sesuatu yang diperbolehkan, sebab melalui perang yang
adil (Just War) maka kejahatan di dalam dunia dapat ditahan kuasanya dan peperangan
1 The Cambridge Dictionary of Sociology, s. . War .
diperbolehkan hanya demi tujuan kemanusiaan dan iman.3 Di sisi lain, Duane Cody memahami perang sebagai tindakan arogan dimana penindasan didasarkan pada persepsi
bahwa sebagian kelompok merasa lebih layak secara moral dan lebih unggul sehingga
diperbolehkan menerima hak istimewa untuk berperang dan sebagian yang lain dianggap
lebih bodoh, pasif, dan bahkan kurang bermoral sehingga layak untuk menerima serangan
atau diperangi.4
Baik untuk sebuah alasan ideologis maupun kekuasaan, kenyataan adanya perang
sebagai sebuah konflik yang mengandung kekerasan memberikan sebuah dampak yang
nyata bagi masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya, bahkan bagi pihak lain yang ada di sekitarnya. δeo Tolstoy menggambarkan perang dengan ungkapan, “What a
terrible thing war is, what a terrible thing! Quel terrible chose que la guerre!”5 Perang
adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Kengerian dari perang tergambarkan melalui
kematian, kehilangan, rasa sakit, bahkan kebencian yang ditimbulkan akibat perang.
Steven Mintz dalam artikel online di The Gilder Lehrman Institute mengungkapkan data
bahwa selama masa perang dunia pertama ada sekitar sembilan juta tentara, pelaut, dan
penerbang, serta 5 juta penduduk sipil meninggal dunia. Selain itu secara ekonomi,
Perang Dunia Pertama juga membawa kerugian langsung sebesar 186 milliar dolar
3 Roland H. Bainton, Christian Attitudes toward War and Peace: A Historical Survey and Critical Re-evaluation (Nashville, Tennessee: Abingdon, 1990), 14-15.
4Dea e Curti , Berda ai de ga Bu i: Perta ia Pri u i da ‘e olusi Hijau , dalam Etika Terapan 1: Sebuah Pendekatan Multikultural, ed. Larry May (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2001), 299-300.
5 Leo Tolstoy, War and Peace, terj. Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky (London: Vintage
Amerika dan kerugian tak langsung 151 milliar dolar Amerika.6 Lebih lanjut, anggapan bahwa kemenangan dalam perang dapat menghasilkan kedamaian tidak selamanya
menjadi kenyataan. Immanuel Kant dalam Perpetual Peace menulis,
[F]or this would mean calling down on themselves all the miseries of war, such as doing the fighting themselves, supplying the costs of the war from their own resources,
painfully making good the ensuing devastation, and, as the crowning evil, having to take upon themselves a burden of debt which will embitter peace itself and which can never be paid off on account of the constant threat of new wars.7
Dengan demikian, ada kemungkinan munculnya perang yang baru akibat adanya dendam
dan luka yang ditimbulkan akibat perang sebelumnya.
Pemahaman yang Keliru tentang Perang dalam Alkitab
Fenomena perang bukan hanya hadir dalam sejarah dunia secara umum, tetapi
secara khusus, Alkitab juga mencatat tentang kisah-kisah peperangan yang pernah
maupun yang akan terjadi dalam sejarah kehidupan umat Allah. Kisah-kisah seperti
keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir, peperangan Israel melawan Yerikho,
peperangan Israel merebut Kanaan, perang antar Israel dan Yehuda, hingga peperangan
antara Anak Domba Allah dan si Ular Tua menjadi beberapa kisah peperangan yang
tercatat di Alkitab.
Sebagaimana adanya pandangan yang berbeda terhadap perang dunia, perang di
dalam Alkitab juga coba dipahami dari berbagai macam sisi. Salah satu pandangan yang
menjadi problem yang cukup serius dipermasalahkan adalah adanya pandangan bahwa
6 “te e Mi tz, The Glo al Effe t of World War I , The Gilder Lehrman Institute of American History, http://www.gilderlehrman.org/history-by-era/world-war-i/resources/global-effect-world-war-i
(diakses 20 Januari 2015).
kisah-kisah perang di dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam Ulangan 20 atau dalam
beberapa bagian di dalam kitab Yosua, memberikan gambaran bahwa Allah Perjanjian
Lama adalah Allah yang kejam dan diskriminatif.8 Pandangan bahwa Allah Perjanjian Lama adalah Allah yang kejam dianggap oleh beberapa orang sebagai sebuah
permasalahan akan konsistensi gambaran Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru.
Marcion salah seorang tokoh kekristenan abad mula-mula yang dianggap bidat
mempercayai bahwa perbedaan antara tindakan Allah dalam Perjanjian Lama terhadap
Israel dan penebusan yang Yesus kerjakan di dalam Perjanjian Baru dilakukan bukan
oleh satu agen yang sama.9 Dalam hal ini, Marcion membedakan antara Allah Perjanjian Lama dan Allah Perjanjian baru sebagai dua Allah yang berbeda. Selain Marcion, Tatian
salah seorang murid Justin Martyr, menolak Perjanjian Lama sebab Perjanjian Lama
menghadirkan Allah yang berbeda. Sebagaimana dikutip oleh Hunt, Clement dari
Aleksandria menyatakan tentang Tatian:
Tatian makes a distinction between the old humanity and the new, but it is not ours. We agree with him in that we too say that the old humanity is the Law, the new is the gospel. But we do not agree with his desire to abolish the Law as being the work of a different god.10
Sebagai konsekuensi bahwa Allah Perjanjian Lama dan Allah Perjanjian Baru
bukanlah satu agen yang sama, menurut John Barton perlu ada penghapusan atau
8“ta ley N. Gu dry, I trodu tio , dalam Show Them No Mercy, ed. Stanley N. Gundry (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003), 7.
9 Mark Edwards, Catholicity and Heresy in the Early Church (Hampshire, England: Ashgate, 2009),
29.
10 Emily J. Hunt, Christianity in the Second Century: The Case of Tatian (London: Routledge, 2003),
perubahan agar terjadi konsistensi dalam pemahaman iman Kristen mengenai Allah yang
Esa.11 Dalam hal ini, baik Marcion maupun Tatian, memilih untuk menghapuskan
anggapan bahwa Perjanjian Lama adalah bagian yang sama dan konsisten dengan Kanon
Kristen, sehingga mereka tidak kehilangan gambaran Allah yang dinyatakan melalui
Yesus.12 Dalam upaya ini, muncul problem lain yaitu penghapusan Perjanjian Lama sebagai satu bagian dari kanon Alkitab bertentangan dengan pemahaman tentang doktrin
Alkitab yang dipercaya oleh kekristenan.13 Meresponi hal ini, Tremper Longman berpendapat bahwa problem di atas muncul akibat dari adanya kesalahan memahami
teks-teks perang di dalam Alkitab.14 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya kesalahan memahami teks-teks perang dapat memberikan dampak yang serius bagi
pemahaman teologi Kristen.
Pemahaman Kristen tentang Perang dalam Alkitab
Dalam upaya untuk membahas permasalahan ini, para ahli menggunakan
beberapa pendekatan untuk mencoba menjelaskan mengenai teks-teks perang di dalam
Alkitab. Von Rad menyatakan bahwa,
Everything that follows is really intended simply to carry this familiar procedure a stage further by trying to understand that the way in which the Old Testament is absorbed in the
11 John Barton, The Old Testament: Canon, Literature, and Theology (Hampshire, England:
Ashgate, 2007), 55.
12 Barton, The Old Testament, 56. Bdk. Hunt, Christianity in the Second Century, . The truth
that Tatia dis o ers is o tai ed ithi so e ar aria riti gs , a d these ar aria riti gs are i
fact the Hebrew Scriptures.
13 Bdk. Westminster Confession of Faith, I. ii. Pengakuan iman Westminster menyatakan bahwa
U der the a e of Holy Scripture, or the Word of God written, are now contained all the books of the
Old a d Ne Testa e t.
New is the logical end of a process initiated by the Old Testament itself, and that its
“laws” are to come extent repeated in this final reinterpretation. Initially therefore our
method does not begin from the New Testament and its manifold references to the Old Testament. This is a method which has often been adopted, and it is a right and proper one . It has also, of course led all too often to contrasting the one with the other with a sharpness which does not do justice to the great hermeneutic flexibility of the relationship between the two testaments. The method will be an attempt to show one characteristic way in which the Old Testament leads forward to the New.15
Melalui pendekatan ini, Gerhard Von Rad kemudian mengasumsikan perang dalam relasi
antara iman dan status sebagai umat Allah yang secara historis bergerak dari Perjanjian
Lama hingga Perjanjian Baru dalam sebuah kontinuitas sejarah.16 Sedangkan bagi Eichrodt, relasi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dipahami sebagai berikut:
That which binds together indivisibly the two realms of the Old and New Testaments – different in externals though they may be – is the irruption of the Kingship of God into his world and its establishment here. This is the unitive fact because it rests on the action of one and the same God in each case. In addition to this historical movement from the Old Testament to the New, there is a current of life flowing in the reverse direction from the New Testament to the Old.17
Eichrodt berargumen bahwa pergerakan sejarah memang terjadi dari Perjanjian Lama
menuju Perjanjian Baru, namun untuk memahami makna teologis maka diperlukan juga
pembalikan arah dari Perjanjian Baru kepada Perjanjian Lama. Dalam hal ini, Eichrodt
berpendapat bahwa perang harus dilihat dalam sebuah kerangka perang Kudus Allah
dimana konsep kekudusan dan pengorbanan dalam konteks Perjanjian Allah yang kekal
dan penuh kasih karunia menjadi bingkai dalam memahami kenyataan perang dalam
Perjanjian Lama, serta sebagai gambaran figuratif dari peperangan Kristus terhadap dosa
di atas kayu Salib.18
15 Gerhard Von Rad, Old Testament Theology, jilid 2 (New York: Harper and Row, 1965), 321-22.
16 James L. Crenshaw, Gerhard Von Rad (Waco, Texas: Word Books, 1978), 46.
17 Walter Eichrodt, Theology of the Old Testament, jilid 1 (London: SCM, 1961), 26.
Di pihak yang lain, Brevard Childs yang mencoba melihat Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru dalam sebuah pendekatan kanonikal, mencoba membaca Perjanjian Lama
dan Baru dalam keunikan masing-masing tanpa mengunggulkan salah satunya. Childs
berargumen bahwa Perjanjian Lama bukan hanya memiliki dimensi horisontal, namun
juga dimensi vertikal, di mana Perjanjian Lama juga membawa kesaksian yang unik bagi
iman Kristen untuk melihat Perjanjian Lama sebagai janji dan Perjanjian Baru sebagai
penggenapan atas janji tersebut. Oleh karena itu, keunikan tiap Perjanjian tidak bisa
hanya dilihat dari satu sisi ataupun dihilangkan, namun harus terjadi timbal-balik
pemaknaan untuk memahami keterkaitan dan keunikan masing-masing pesan.19 Dalam hal ini, Child berargumen bahwa perang dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam Yosua
harus dilihat sebagai bagian dari penggenapan janji Allah kepada Israel untuk
memberikan tanah Perjanjian menjadi hak milik pusaka Israel.20
Ragam Pendekatan
Selain bentuk-bentuk pendekatan di atas, harus diakui masih banyak sekali
pendekatan-pendekatan lain yang digunakan oleh para penafsir untuk memahami perang
dalam konsep kesatuan Perjanjian Lama dan Baru. Dalam upaya ini, secara umum ada
tiga pendekatan utama dalam memahami permasalahan perang dalam keseluruhan kanon
Alkitab:21
19 Brevard Childs, Biblical Theology of Old and New Testamants (Minneapolis, Minnesota:
Fortress, 1993), 77-78.
20 Childs, Biblical Theology, 146.
21 David L. Baker, Two Testaments, One Bible (Downers Grove, Illinois: InterVarsity, 1991),
a. Pendekatan Tipologi
b. Pendekatan Janji dan Penggenapan
c. Pendekatan Kontinuitas dan Diskontinuitas
Pendekatan tipologi dapat dipahami sebagai relates “the past to the present in
terms of a historical correspondence and escalation in which the divinely ordered
prefigurement finds a complement in the subsequent and greater event”22 Dimana sebuah
kejadian, tempat, bahkan tokoh di masa lalu memiliki berkorespondensi dan menjadi
gambaran bagi sesuatu yang akan datang. Sebagai contoh, Peter Craigie melihat bahwa
bahasa perang yang terdapat dalam Perjanjian Baru lebih sering memberikan nuansa
figuratif dibandingkan dalam Perjanjian Lama yang cenderung bersifat faktual. Meskipun
demikian, Craigie berpendapat bahwa perang dalam Perjanjian Lama tidak hanya
dipahami hanya sebagai gambaran perlawanan terhadap musuh yang bersifat duniawi
namun dapat menjadi tipologi bagi perang dalam Perjanjian Baru yang menggambarkan
perlawanan pada musuh yang bersifat spiritual.23
Pendekatan kedua adalah pendekatan Janji dan Penggenapan. Pendekatan ini
memiliki berasumsi bahwa Perjanjian Lama bukanlah sesuatu yang bersifat akhir, ia
merupakan sebuah proses, bukan sesuatu yang sudah bersifat genap dan selalu diresapi
dengan perasaan belum lengkap.24 Oleh karena itu, pendekatan Janji dan Penggenapan adalah suatu rumusan alkitabiah yang mengungkapkan rencana Allah bagi umat-Nya
sebagaimana terwujud dalam sejarah melalui sebuah proses historis hingga mencapai
22 Dictionary of Theological Interpretation, s. . Typology .
23 Peter C. Craigie, The Book of Deuteronomy (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1976), 274.
penggenapannya.25 Sebagai contoh, Tigay dalam The JPS Torah Commentary
menjelaskan bahwa hukum perang dalam Perjanjian Lama harus dilihat dalam konteks
perang Israel. Dalam hal ini, perang berhubungan dengan penaklukan tanah sebagai
bagian dari Perjanjian Allah dan Israel, dimana janji ini telah digenapi ketika Israel
memasuki Kanaan dan akan dipenuhi ketika Mesias hadir untuk menegakan Kerajaan
Daud dan membawa damai (shalom) bagi dunia.26
Pendekatan ketiga adalah pendekatan Kontinuitas dan Diskontinuitas. Pendekatan
ini adalah sebuah pendekatan yang memahami bahwa keseluruhan isi Alkitab adalah
sejarah penebusan yang Allah kerjakan bagi manusia, dimana ada sebuah kesinambungan
antara Perjanjian Lama dan Baru sebagai satu tindakan Allah yang tunggal dalam sejarah
penebusan, namun juga mengakui adanya ketidaksinambungan, perkembangan, bahkan
penghilangan beberapa aspek tertentu sebagai konsekuensi dari adanya progressive
revelation yang Allah kerjakan dalam penyataan dirinya kepada setiap penulis Alkitab
dalam tiap zaman dan kondisi yang berbeda.27 Dalam hal ini, pendekatan kontinuitas dan diskontinuitas akan mencoba melihat perang dan menganalisa perang sebagai satu bagian
dari progressive revelation untuk melihat adanya perkembangan pemahaman mengenai
Perang dalam Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.
Adanya keragaman pendekatan relasi antar Perjanjian memberikan dampak pada
perbedaan pemahaman mengenai perang. Oleh karena itu, muncul beberapa pandangan
25 Baker, Two Testaments, One Bible, 233.
26 Jeffrey H. Tigay, Deuteronomy (Philadelphia, Pennsylvania: The Jewish Publication Society,
1996), 185.
mengenai perang yang coba diusulkan oleh beberapa ahli, antara lain pandangan dari
Richard Hess yang menyatakan bahwa perang dalam Perjanjian Lama memiliki dua
makna yaitu untuk mempertahankan diri (defensive) serta sebagai sebuah bentuk
demonstrasi ketaatan kepada Allah.28 Bentuk demonstrasi ketaatan kepada Allah juga ditunjukkan sebagai klimaks dari kehidupan Kristus sendiri. Dalam Filipi 2:8 dikatakan “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai
mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Dengan demikian, korelasi kematian Kristus
dan perang adalah satu bagian yang sama dari ketaatan kepada Allah yang satu.
Jika Hess melihat bahwa perang adalah sebuah bentuk mempertahankan diri,
Miller mengakui bahwa ada aspek perang di dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam
perang terhadap Kanaan, sebagai bentuk perang yang menyerang (offensive).29 Pandangan yang lain juga dinyatakan oleh Susan Nidicth yang menekankan bahwa
perang merupakan bentuk penyelamatan yang Allah kerjakan bagi umat-Nya, sehingga
tidak ada partisipasi aktif manusia di dalam perang.30 Sedangkan bagi Longman, perang di dalam Alkitab adalah bagian dari ibadah kepada Allah.31 Meski ada beragam
pandangan mengenai perang di dalam Alkitab, namun baik Hess, Niditch, maupun
Longman dan Reid memahami Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
28‘i hard “. Hess, War i the He re Bi le: A O er ie , dalam War in the Bible and Terrorism in the Twenty-First Century, ed. Richard S. Hess dan Elmer A. Martens (Warsaw, Indiana: Eisenbrauns, 2008), 30.
29 Patrick D. Miller, The Divine Warrior in Early Israel (Atlanta, Georgia: Society of Biblical
Literature, 2006), 157.
30 Susan Niditch, War in the Hebrew Bible: A Study in the Ethics of Violence (Oxford: Oxford
University Press, 1993), 154.
bukanlah Allah yang berbeda.32 Dengan memahami banyaknya pandangan serta pendekatan terhadap konsep perang di dalam Alkitab, maka penulis memilih untuk
membatasi penelitian ini pada pembahasan mengenai teks-teks perang di dalam Alkitab
melalui pendekatan kontinuitas dan diskontinuitas.
Penulis menyadari bahwa upaya memahami perang dalam pendekatan kontinuitas
dan diskontinuitas sudah banyak dikerjakan oleh beberapa ahli sebelumnya. Dalam
penelitian yang terdahulu, Longman meneliti perang melalui pendekatan kontinuitas dan
diskontinuitas dengan lebih banyak memfokuskan penelitian teks pada kitab Yosua dan
Wahyu, serta melewatkan pembahasan dalam kitab Ulangan maupun kitab-kitab
sejarah.33 Dalam disertasinya, Bethancourt juga menggunakan pendekatan kontinuitas dan diskontinuitas dalam membaca teks-teks perang. Akan tetapi, ia lebih banyak
membahas mengenai tema Kristus sebagai prajurit perang, sedangkan pembahasan
tentang teks-teks perang hanya menjadi jembatan untuk memahami gambaran tentang
Kristus dan bukan mengarah kepada perang itu sendiri.34 Selain itu ada pula nama-nama seperti Gregory A. Boyd dan Susan Niditch yang juga mencoba menjelaskan mengenai
perang di dalam Alkitab melalui pendekatan yang sama. Dimana Boyd lebih banyak
32 Dalam God is Warrior, Longman dan Reid menjelaskan bahwa Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru digambarkan sebagai Pahlawan Perang Ilahi yang membawa keselamatan bagi Israel maupun bagi umat Allah dalam Perjanjian Baru. Gambaran Allah sebagai prajurit perang merupakan penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tremper Longman III dan Daniel G. Reid, God Is a Warrior (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2010), 16- . Bdk. Hess, War i the Hebrew Bible: An
O er ie , 24.
33 C. “. Co les, A ‘espo se to Tre per Lo g a III , dala Show Them No Mercy, (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003), 191-9 . Bdk. Lo g a , The Case for “piritual Co ti uity , 163-87.
menekankan perang secara spiritual35, sedangkan Niditch lebih melihat perang dalam hubungannya dengan keadilan dan etika non-partisipasi.36 Sekalipun telah banyak tokoh mencoba memaparkan perihal perang, namun belum ada pembahasan mengenai teks-teks
perang di dalam Alkitab melalui pendekatan kontinuitas dan diskontinuitas yang
memberikan penjelasan mengenai pergerakan konsep perang dari Perjanjian Lama
menuju Perjanjian Baru secara lebih terinci, dengan mengambil teks-teks perang yang
cukup beragam dari beberapa genre dan rentang kesejarahan yang berbeda.
Oleh karena itu studi ini disasarkan untuk memaparkan pergerakan konsep perang
di dalam Alkitab dengan menggunakan pendekatan kontinuitas dan diskontinuitas.
Mengapa teks-teks perang? Sebab teks-teks perang dalam Alkitab, terkhusus dalam
Perjanjian Lama, merupakan salah satu bagian yang sering kali disalahtafsirkan sebagai
pengajaran tentang kekerasan yang tidak konsisten dengan pengajaran tentang kasih yang
kental di bahas dalam Alkitab. Oleh karena itu, skripsi ini akan berusaha untuk
memahami apa yang menjadi konsep teologis dari teks-teks perang di dalam Alkitab dan
melihat apakah ada pengembangan pemahaman mengenai perang yang terjadi sepanjang
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dengan pemahaman ini diharapkan agar kesalahan
konsep mengenai makna perang di dalam Alkitab serta konsep-konsep lain yang terkait
dengan hal ini dapat diperkecil.37
35 Lih. Gregory A. Boyd, God at War: the Bible and Spiritual Conflict (Downers Grove, Illinois:
InterVarsity, 1997).
36 Lih. Niditch, War in the Hebrew Bible, 151-55.
37 Kesalahan dalam memahami konsep perang di dalam Alkitab dapat mempengaruhi
Pernyataan Tesis
Konsep perang di dalam Alkitab mengalami pergerakan pemahaman, baik secara
teologis maupun praktis, dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, di mana ada
aspek-aspek yang tetap berlanjut (kontinu) dan ada aspek-aspek tertentu yang berhenti
(diskontinu).
Pembatasan Masalah
Penelitian dibatasi pada teks-teks perang dalam Alkitab dari beberapa genre dan
waktu kesejarahan yang berbeda dan tidak akan membahas perdebatan mengenai
perbedaan pemahaman tentang Allah dalam Perjanjian Lama dan Baru serta masalah
kanonisasi Alkitab.
Metode Penelitian
Penulis akan melakukan penelitian literatur dengan membandingkan terlebih
dahulu pendekatan kontinuitas dan diskontinuitas dengan dua pendekatan yang lain, yaitu
pendekatan tipologi dan pendekatan janji dan penggenapan, untuk melihat keunikan yang
ditekankan masing-masing pendekatan dan menunjukkan alasan atau keunggulan dari
pendekatan kontinuitas dan diskontinuitas. Setelah itu, penulis akan menggunakan
pendekatan kontinuitas dan diskontinuitas untuk memberikan analisis biblikal-teologis
guna memahami makna perang serta pergerakan pemahaman mengenai perang dalam
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan serta
menelusuri pergerakan pemahaman mengenai perang dalam Perjanjian Lama hingga
Perjanjian Baru dengan memperhatikan perubahan yang terjadi dari sisi politik, sosial,
fisikal, hingga perang secara spiritual yang ditemukan dalam keunikan masing-masing
teks perang yang telah dipilih.
Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan tiga manfaat:
Pertama, secara akademis penelitian ini akan memberikan sumbangsih dalam
pemahaman mengenai perang dalam Alkitab melalui perspektif yang lebih rinci dan
perbandingan terhadao studi mengenai perang yang telah dikerjakan oleh para ahli
terdahulu.
Kedua, secara praktis melalui penelitian ini dapat menjadi salah satu sarana untuk
menyaring pandangan-pandangan yang keliru mengenai gambaran Allah yang berbeda
dari masing-masing Perjanjian sebagai akibat dari kesalahan memahami teks-teks perang
dalam Alkitab dan pola pergerakan konsep perang dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru.
Ketiga, dengan memahami adanya kontinuitas maupun diskontinuitas konsep
perang dalam Alkitab, pembaca dapat menyaksikan bahwa konsep perang merupakan
bagian dari progressive revelation yang Allah berikan sesuai dengan konteks
BAB II
TEORI RELASI ANTAR PERJANJIAN
Pemahaman mengenai relasi antar Perjanjian dapat memberikan pengaruh dalam
pembentukan sebuah teologi Alkitabiah. Reventlow menyatakan bahwa hubungan
relasional antara Perjanjian Lama dan Baru adalah urusan yang sangat penting dan
menjadi salah satu kunci dari permasalahan teologis abad 20.38 Ridderbos juga menegaskan bahwa hubungan antar Perjanjian bukan hanya sekedar menyangkut
keseluruhan cerita namun juga berisi keseluruhan teologi.39 Melihat pentingnya
pemahaman mengenai relasi Perjanjian dan kaitannya dengan teologi, maka penulis akan
mencoba membahas dan membandingkan tiga pendekatan antar Perjanjian — yaitu
tipologi, janji dan pemenuhan, serta kontinuitas dan diskontinuitas — guna memahami
keunggulan dan kelemahan tiap pendekatan bagi pembentukan teologi.
Tipologi
Definisi
Tipologi berasal dari kata Yunani typos ( π ) atau dalam bahasa Inggris disebut
type.40 Menurut Greek Dictionary of the New Testament kata typos bisa berarti tanda,
38 Henning Graf Reventlow, Problems of Biblical Theology in the Twentieth Century (Minneapolis,
Minnesota: Fortress, 1986), 11.
39 Reventlow, Problems of Biblical Theology in the Twentieth Century, 11.
40 Baker, Two Testaments, One Bible, 185.
bentuk, corak mode atau gaya bahasa, kemiripan, contoh juga model.41 Sedangkan Oxford Advanced Learning Encyclopedic Dictionary memahami type sebagai pribadi,
benda, atau kejadian yang diperhitungkan sebagai sebuah representatif atau contoh dari
kelas atau grup tertentu.42 Dalam hal ini pemaknaan typos( π ) didefinisikan sebagai prinsip kesamaan sedangkan type lebih merujuk pada sebuah penerapan akan prinsip
kesamaan yang dapat dilihat dalam pribadi, benda, maupun kejadian. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika C. T. Fritsch mendefinisikan tipologi sebagai “an institution,
historical event or person, ordained by God, which effectively prefigures some truth connected with Christianity”.43 Melengkapi bagian ini, penulis mengutip Dictionary of
Theological Interpretation yang mendefinisikan tipologi sebagai sebuah korespondensi
kesejarahan dari masa lalu ke masa sekarang, yang tak jarang mengalami penambahan
makna di mana penggambaran yang terdahulu diambil sebagai pelengkap untuk
memahami peristiwa selanjutnya yang lebih besar.44 Dalam definisi ini, relasi tipe dan antitipe dipahami bukan sebagai bentuk relasi identik, akan tetapi antitipe dilihat
mengandung pemaknaan yang lebih luas atau lebih mendalam.
41 Greek Dictionary of the New Testament, s. . τύπος .
42 Oxford Advanced Learning Encyclopedic Dictionary, s. . Type .
43 Charles T. Fritsch, "Biblical Typology," Bibliotheca Sacra, vol. 104 (1947): 87-100.
Karakteristik Tipologi
Pemahaman mengenai tipologi sebagai sebuah pendekatan dalam memahami
teks-teks Alkitab tampaknya sudah sangat umum dipakai sejak abad pertama kekristenan.
Goppelt menyatakan bahwa,
Typology and the typological method have been part of the church’s exegesis and
hermeneutics from the very beginning. Obviously this is due to the influence of the NT and it is attested by the writings of the Apostolic Fathers.45
Meski umum digunakan namun pemahaman mengenai tipologi seringkali menjadi rancu dengan pendekatan alegoris maupun simbolisme. Baker menyatakan bahwa, “However
the fact that the term ‘typology’ has been confused with allegorical and symbolic
exegesis, and applied to trivial correspondence, does not invalidate it as a principle if properly used.”46 Dengan demikian, perlu adanya sebuah pemahaman yang tepat
mengenai karakteristik dari tipologi agar tidak terjadi kerancuan dalam memahami dan
menerapkan pendekatan ini terhadap teks. Dalam hal ini, karakteristik-karakteristik yang
nampak dari pendekatan tipologi antara lain adalah:
Korespondensi Kesejarahan
Baker menyatakan bahwa,
First, typology is historical. Its concern is not with words but with historical facts: events, people, institutions. It is not a method of philological or textual study, but a way of understanding history.47
45 Leonhard Goppelt, Typos: The Typological Interpretation of the Old Testament in the New (Grand
Rapids, Michigan: Eerdmans, 1982), 4.
46 Baker, Two Testaments, One Bible, 9 . Bdk. Joh J. O Keefe da ‘. R. Reno, Sanctified Vision: An Introduction to Early Christian Interpretation of the Bible (Baltimore, Maryland: Johns Hopkins University Press, 2005 ), 90. Seringkali alegori dan tipologi dipandang serupa sebab sama-sama berfokus pada kode atau figur tertentu yang menyatukan Perjanjian Lama dengan Baru.
Fokus tipologi kepada fakta-fakta sejarah menjadi salah satu ciri penting yang berbeda
dengan penafsiran alegoris maupun simbolis. Menurut τ’Keefe dan Reno,
Allegories are basically interpretations that claim that the plain or obvious sense of a given text is not the true meaning, or at least not the full meaning. The words, event, and characters, so the allegorist claims, stand for something else; they speak for another reality, another realm of meaning.48
Dalam hal ini, bagi penafsiran alegoris yang terpenting bukan fakta sejarah, kata atau
tokoh dalam cerita, namun realitas dan makna lain yang tersembunyi dibalik teks. Oleh
karena itu, dapat dikatakan bahwa penafsiran alegoris mengandung asumsi negatif
terhadap sejarah teks maupun peristiwa, hal ini berbeda dengan pendekatan tipologi.
Pendekatan tipologi justru berusaha mencari pola berulang yang terjadi dalam sejarah
Alkitab, terkhusus dalam relasi Allah beserta umat-Nya.49
Pencarian pola berulang tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, melalui
korespondensi atau analogi. Dalam poin ini, korespondensi dalam pendekatan tipologi
dipahami dalam bentuk relasi antar ide dari peristiwa kesejarahan. Gopplet berpendapat
bahwa korespondensi yang terjadi dalam pendekatan tipologi terjadi dalam tataran ide
kesejarahan yang membentuk pola cyclical dari peristiwa-peristiwa kesejarahan.50 Lampe menambahkan, bahwa sebuah peristiwa seringkali hadir dengan ‘berbaju’ Perjanjian
Lama sebagai penggambaran Alkitabiah yang menghadirkan kekayaan makna dan
signifikansi terhadap kisah sejarah bangsa Ibrani, nubuatan bahkan liturgi keagamaan
48O Keefe da ‘e o, Sanctified Vision, 89.
49 G. W. H. Lampe dan K. J. Wo Ollcombe, Essays on Typology (London: SCM, 1917), 26.
50 Goppelt, Typos, 226-27. Pola cyclical adalah sebuah pola peristiwa yang terjadi lagi dan lagi
sebagai bagian proklamasi Injil.51 Oleh sebab itu, korespondensi yang ada dalam
pendekatan tipologi hadir melalui kedekatan naratif sebagai bukti keterkaitan sejarah
antara teks Perjanjian Baru dan Lama.
Aspek Literal
Selain korespondensi kesejarahan dalam bentuk ide dan narasi, McCarthy dan
Prince juga melihat kemungkinan adanya korespondensi antar teks melalui kedekatan
gramatikal.52 Hal serupa juga dinyatakan oleh Lampe, bahwa ada bentuk tipologi lain yang berdasarkan pada relasi makna literal, sebagai jembatan menuju realitas spiritual.53 Kedekatan gramatikal yang dimaksud dalam bagian ini lebih mengarah pada penggunaan
kata tertentu atau terminologi tertentu yang menjadi pengait antar teks untuk memahami
konsep yang hendak disampaikan secara lebih utuh.
Dalam aspek ini, unsur literal merupakan bagian yang penting karena didalamnya
terkandung kaitan antara yang tertulis (gramatikal) dan yang terjadi dalam sejarah
(Historikal) sebagai alat pengungkap fakta yang memuat dan merekam peristiwa, tokoh,
maupun lembaga tertentu.54 Hal ini membedakan dengan pendekatan alegoris yang melihat teks sebagai lambang atau simbol yang menyimpan doktrin tertentu yang
51 Lampe dan Ollcombe, Essays on Typology, 19.
52 John. J. McCarthy dan Alan S. Prince, Faithfulness and Identity in Prosodic Morphology (Amherst, Massachusetts: Graduate Linguistic Student Association University of Massachusetts, 1995),
https://rucore.libraries.rutgers.edu/rutgers-lib/41852/PDF/1/ (diakses tanggal 8 Maret 2015). Kedekatan gramatikal yang dimaksud adalah kedekatan tata bahasa dan terminologi yang memberikan keterkaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain dalam pemaknaan yang lebih kaya.
53 Lampe dan Ollcombe, Essays on Typology, 30.
tersembunyi di balik teks harafiah.55 Kaitan gramatikal dan kesejarahan dalam unsur literal inilah yang menjadi jembatan antara beberapa pemahaman dalam Perjanjian Lama
dan Baru, contoh kata “sunat”.56
Keterpusatan pada Perjanjian Baru
Dalam sebuah relasi, hubungan dari dua pihak atau lebih tidak selalu berjalan
dalam kondisi yang sejajar, demikian pula dalam pendekatan tipologi. Relasi antara
Perjanjian Lama dan Baru dalam pendekatan ini cenderung dilihat lebih mengunggulkan
Perjanjian Baru. Fakta ini didasarkan pada asumsi bahwa Perjanjian Lama bersifat
incomplete. Foulkes menyatakan bahwa kita harus menerima kenyataan bahwa Perjanjian
Lama adalah satu bagian utuh yang berdiri sendiri dalam sejarahnya dan sistemnya,
namun juga harus menerima bahwa Perjanjian Lama adalah satu bagian yang belum
lengkap dan perlu dilihat melalui terang Kristus dalam Perjanjian Baru.57 Dalam hal ini, muncul sebuah pengindikasian bahwa ada sebuah kebergantungan tidak langsung antara
Perjanjian Lama kepada Perjanjian Baru.
Dalam ketergantungan Perjanjian lama kepada Perjanjian Baru, maka Baker
melihat relasi tipologis antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam sebuah bentuk
retrospective. Ia menyatakan bahwa,
55 Baker, Two Testaments, One Bible, 190.
56 Penggunaan konsep sunat dalam Perjanjian Lama sebagai bentuk inisiasi menjadi umat Allah secara fisik diperluas dalam Perjanjian Baru dengan konsep sunat hati sebagai tanda spiritual.
57 Francis Foulkes, The Acts of God: A Study of the Basis of Typology in Old Testament (London:
The Bible gives no exhaustive list of types and implies no developed method for their interpretation. On the contrary, there is a great freedom and variety in the outworking of the basic principle that the Old Testament is a model for the New.58
Dengan demikian, Baker melihat bahwa relasi tipologis antara Perjanjian Lama dan Baru
tidak secara prospective dimana pemaknaan Perjanjian Lama harus ditarik menuju
Perjanjian Baru, namun justru dilihat bahwa Perjanjian Baru sebagai lensa untuk
membaca model-model atau tipe-tipe yang tersebar dalam Perjanjian Lama. Dalam hal
ini, interpretasi terhadap teks justru bergerak dari Perjanjian Baru menuju Perjanjian
Lama. Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa pendekatan tipologi menempatkan Perjanjian
Baru sebagai pusat dari interpretasi, baik sebagai sesuatu yang dianggap lebih lengkap
maupun sebagai lensa untuk membaca sejarah sebelumnya.
Hubungan Analogis
Dalam hubungan antara teks Perjanjian Lama dan Baru, baik secara prospektive
maupun retrospektive, dipahami bahwa ada sebuah keterhubungan rahasia yang terletak
di dalam setiap kisah yang ditulis oleh tiap penulis di setiap jamannya. Archbishop
Trench pernah menyatakan,
The parable or other analogy to spiritual truth appropriated from the world of nature or man, is not merely ilustration, but also in some sort proof. It is not merely that these
analogies assist to make the truth intelligible… Their power lies deeper than this, in the
harmony unconciously felt by men, which all deeper minds have delighted to trace, between the natural and the spiritual worlds, so that analogies from the first are felt to be
more something more than illustrations, happily but yet arbitrarily chosen… They belong
to one another, the type and the thing typified, by an inward necessity; they were linked together long before by the law of a secret affinity.59
58 Baker, Two Testaments, One Bible, 191.
59 Baker, Two Testaments, One Bible, 187. Ada kemungkinan penggunaan frasa …yet ar itrarily
Sekalipun Trench tidak menyatakan bahwa perumpamaan dan sistim analogi dalam
tipologi sebagai dua hal yang sama, namun ia melihat bahwa kedua hal ini dapat
menunjukkan adanya pertalian antara satu kisah dengan kisah lain sebagai tipe dan yang
ditipekan.
Keterhubungan ini, baik disadari maupun tidak oleh penulis kitab, merupakan
bagian dari sebuah karya Allah yang mengatur sejarah. Foulkes menyatakan bahwa karya
Allah dalam mewahyukan diri-Nya melalui Alkitab dapat terlihat dalam tindakan Allah
yang tidak terprediksi dan dapat berulang untuk menunjukkan konsistensi
prinsip-prinsip-Nya.60 Keberulangan tindakan Allah ini dapat bersifat repetisi total, seperti kisah Israel menyeberang laut merah dengan kisah Israel menyeberang sungai Yordan. Atau sebuah
keberulangan yang bersifat analogis, contoh kisah Abraham mempersembahkan Ishak
dengan kematian Kristus. Dalam hal ini, hubungan analogis lebih menekankan kepada
persamaan prinsip yang ada dari satu kisah sejarah dalam Perjanjian Lama yang
digunakan sebagai penggambaran atau kiasan bagi satu peristiwa dalam Perjanjian Baru.
Landasan Teologis
Dengan memahami keunikan dari karakteristik yang ada, tak bisa dihindarkan,
perlu juga adanya pengakuan akan landasan teologis tertentu yang menjadi presuposisi
awal yang membentuk pemahaman dan karakteristik dari tipologi. Dalam hal ini,
minimal ada tiga landasan teologis yang membentuk pendekatan tipologis. Landasan
teologis yang pertama adalah sejarah keselamatan. Oscar Cullmann menyatakan bahwa
“typology presupposes a wider salvation-historical framework and connects two points
on this background.”61 Dalam hal ini, Cullmann mengakui bahwa dalam melihat
korespondensi kesejarahan dari dua titik yang berbeda perlu dilandasi oleh satu bentuk
pemahaman yang sama akan makna dari sejarah itu sendiri. Dan dalam hal ini pendekatan
tipologi melihat bahwa sejarah yang tercatat di dalam Alkitab merupakan sebuah sejarah
keselamatan yang Allah kerjakan.
Dalam hal ini, perlu dipahami bahwa pengertian sejarah keselamatan berbeda
dengan pemahaman sejarah secara umum. Sejarah secara umum dipahami sebagai “systematic description of past events,”62atau sebagai “a chronological record of
significant events often including an explanation of their cause.”63 Dalam pemahaman di atas sejarah hanya dilihat sebagai bagian dari objective events yang terjadi di masa
lampau, yang sering disebut dengan historie, atau sebagai catatan dari peristiwa-peristiwa
penting semata, yang sering disebut dengan geschichte. Namun berbeda dari dua
pandangan umum di atas, sejarah keselamatan di dalam Alkitab dipahami sebagai,
A term used by some biblical scholars to mark the history of Israel and the subsequent Christian church as God's "salvation history" being worked out as God's plan in the midst of human history as a whole.64
Dalam hal ini muncul sebuah asumsi teologis bahwa sejarah tidak lepas dari campur
tangan dan kinerja Allah yang menjalankan rencana dan kehendak-Nya di dalam sejarah
hidup manusia. Oleh karena itu, pendekatan tipologi melihat bahwa setiap peristiwa yang
61 Oscar Cullmann, Salvation in History (New York: Harper and Row, 1967), 132.
terjadi di dalam Alkitab adalah bagian dari rencana, kehendak, dan cara Allah
mengejawantahkan diriNya untuk dikenali oleh manusia. Landasan teologis mengenai
sejarah keselamatan ini berhubungan erat dengan pemahaman yang lain bahwa Allah
adalah penulis Alkitab yang sesungguhnya.
Allah sebagai penulis Alkitab yang sesungguhnya juga menyatakan konsistensi
rencana keselamatan-Nya melalui bentuk-bentuk yang unik dalam Alkitab, yang dikenali
di dalam tipologi melalui korespondensi sejarah. Melalui korespondesi sejarah yang
terjadi dari satu peristiwa kepada peristiwa lain menjadi sebuah tanda dari adanya sebuah
pola dari tindakan Allah yang konsisten dalam sejarah hidup manusia. Baker menyatakan bahwa “the basis of typology is God’s consistent activity in the history of his chosen
people.”65 Aktivitas Allah yang konsisten dalam sejarah hidup umat pilihan-Nya menjadi
sebuah pemahaman yang berlawanan dengan konsep deisme. Dalam deisme, allah sang
pencipta adalah allah yang membuat dunia dan kemudian meninggalkannya untuk
bergerak sendiri namun teologi Kristen memahami bahwa Allah sang Pencipta atau
Theos justru masuk dan aktif dalam sejarah manusia untuk membawa manusia pada jalan
dan rencana-σya. Roma κμ2κ menyatakan “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja
dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Dalam konsep seperti
inilah tipologi bergerak dan memahami korespondensi kesejarahan yang terjadi antara
Perjanjian Lama dan Baru.
Penggunaan Tipologi dalam Memahami Konsep Perang
Dengan memahami penekanan teologis dan karakteristik dari pendekatan ini,
Peter C. Craigie, salah seorang penafsir Perjanjian Lama mencoba menggunakan
pendekatan tipologi untuk menyelesaikan problem perang di Perjanjian Lama. Meskipun
tidak secara langsung menyatakan bahwa ia menggunakan pendekatan tipologi, namun
dalam salah satu komentari yang ditulisnya kita dapat menemukan bagaimana Craigie
menggunakan pemahaman perang dalam Perjanjian Lama sebagai gambaran figuratif
tentang Yesus dan penebusan-Nya di Perjanjian Baru.
Mengawali argumennya, Carigie menyatakan bahwa
The essence of the covenant, it must be stressed, lies in the relationship between God and man, and though God is the first and free mover in establishing that relationship,
nevertheless a relationship requires response from man. The operative principle within the relationship is that of love; God moved first toward his people in love and they must respond to him in love. The law of the covenant expresses the love of God and indicates the means by which a man must live to reflect love for God.66
Dengan menekankan konsep Perjanjian, ia memahami perang di Alkitab, terkhusus dalam
nuansa Perjanjian Lama sebagai bagian dari sejarah keagamaan Timur Dekat Kuno.
Dalam konteks sejarah Timur Dekat Kuno pemahaman bahwa tiap negara memiliki dewa
yang disembah dan melindungi serta berperang bagi negara tersebut menjadi sesuatu
yang umum dipahami. Oleh karena itu, Craigie menyatakan
Thus the Song of the Sea marks the inception of the idea of the Lord as the Warrior, and of an ideology of war on an international level, which was dominant in early Israelite religious thought. Closely related to the conception of God as Warrior is the expression of the kingship of Yahweh.67
66 Peter C. Craigie, The Book of Deuteronomy (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1976), 37.
Nyanyian kemenangan Israel setelah melewati laut Teberau dipahami sebagai titik
permulaan akan kesadaran Israel memahami Allah sebagai pahlawan Perang Israel,
sekaligus sebagai bagian dari ekspresi Perjanjian dan kepemimpinan Yahweh atas Israel.
Lebih lanjut, Craigie menyatakan bahwa bentuk perlindungan Allah dan peperangan yang
Allah lakukan untuk Israel merupakan penggambaran akan cinta Allah, sebuah tipologi
atas kasih perlindungan dari Bapa Surgawi.68 Menambahkan hal ini, Craigie berpendapat bahwa
To call God a warrior, then, is to use human terms to describe a transcendent being. It is the language of immanence. It is anthropomorphic language, and like all human language
it is limited, but from a theological perspective it “points to a truth about God which is greater than the language itself.”69
Dalam hal ini pembahasaan Allah sebagai pahlawan perang merupakan gaya bahasa yang
bersifat antropomorfis. Oleh karenanya, memahami perintah Allah untuk berperang
menjadi sesuatu yang perlu dikaji. Tidak hanya secara literal bahwa Allah setuju akan
perang namun harus dilihat dalam prinsip teologis yang hendak disampaikan melalui
pesan perang ini. Hal senada juga dinyatakan oleh Holbert dalam reviewnya terhadap Craigie, ia menyimpulkan bahwa “The language of God as warrior is metaphor only, and
from that language we learn two truths: God participates in history, and He participates in
war for both judgment and redemption.”70
68 Craigie, The Book of Deuteronomy, 103.
69 Peter C. Craigie, The Problem of War in the Old Testament (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1978), 39–40.
70 Tinjauan John C. Holbert terhadap Peter C. Craigie, The Problem of War in the Old Testament,
Dalam konsep penghakiman dan penebusan, Craigie melihat bahwa perang dalam
Perjanjian Lama merupakan bentuk figurative dari pengejawantahan konsep kerajaan Allah. Craigie berargumen bahwa, “The Kingship of Yahweh finds its fullest expression
in the nature of God the Warrior: As a victorious Warrior, God rules over his people, and his conquering power is exerted against their enemies.”71 Oleh karena itu dapat dilihat
bahwa perang di dalam sejarah Israel adalah bagian dari penggambaran tipologis akan
kekuasaan Allah untuk menebus umat pilihannya dan menghukum para musuh. Lebih
lanjut, Craigie melihat bahwa konsep perang dalam Perjanjian lama yang berhubungan
dengan pengalaman kehidupan Israel bersama Allah sebagai pahlawan perang yang
menolong dan membebaskan mereka dari bangsa-bangsa lain merupakan bahasa tipologis
bagi pesan Perjanjian Baru dimana pengalaman Kristus dalam karyanya di kayu salib
berperang melawan musuh-musuh spiritual dan membebaskan umat-Nya dari belenggu
dosa. Penggambaran ini menjadikan Kristus sebagai God of Warrior bagi umat Perjanjian
Baru.72
Kekuatan dari pendekatan tipologi yang digunakan Craigie untuk menjelaskan
mengenai perang dalam Perjanjian Lama membawa kepada penemuan makna spiritual
dari perang dalam Perjanjian Baru sebagai gambaran dari salib Kristus dan realitas
peperangan rohani. Meskipun demikian, John Willis mengkritik bahwa pendekatan
tipologis dari Craigie tak dapat menjawab tentang realita perang dalam diri Perjanjian
71 Craigie, The Book of Deuteronomy, 64-65.
Lama namun lebih banyak menekankan makna spiritual dari Perjanjian Baru.73 Leo Perdue juga mengkritik pendekatan Craigie yang mencoba menghindari permasalahan
teodisi tentang perang dan cenderung men-transenden-kan kekerasan sebagai bagian dari
permasalahan kejahatan yang tersistem yang hanya bisa direkonstruksi ulang oleh
tindakan yang Ilahi dan bukan upaya manusia.74 Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pendekatan tipologi akan lebih menolong untuk memahami makna spiritual dari perang,
namun sengaja menutup mata akan kontribusi kemanusiaan dan alasan egois manusiawi
dalam terjadinya perang.
Janji dan Pemenuhan
Definisi
Pendekatan kedua disebut pendekatan janji dan pemenuhan (Promise and
Fulfillment). Di dalam Alkitab, konsep janji dan pemenuhan dapat dikatakan memenuhi
dan menjalin tiap bagiannya. εcComiskey menyatakan bahwa, “The theme of promise is interwoven throughout the τld and σew Testament.”75 Tema ini merupakan pengikat
yang menjalin dua bagian Alkitab menjadi satu kesatuan.
Definisi janji sendiri cukup menarik untuk dipahami. Secara umum janji dipahami
sebagai:
73 Tinjauan John T. Willis terhadap tulisan Peter C. Craigie, The Problem of War in the Old
Testament, Restoration Quarterly 24, no. 2 (1981), 111-12.
74 Tinjauan Leo G. Perdue terhadap tulisan Peter C. Craigie, The Problem of War in the Old Testament, Journal of Biblical Literature 99, no. 3 (1980), 446-48.
75 Thomas Edward McComiskey, The Covenants of Promise (Grand Rapids, Michigan: Baker Books,
a. A declaration that one will do or refrain from doing something specified.
b. A legally binding declaration that gives the person to whom it is made a right to
except or to claim the performance or forbearance of a specified act.
c. Reason to except something or ground for expectation of success improvement or
excellence.76
d. Indication that something may be expected to come or occur; likelihood or hope
of something.
e. Indication of future success or good result.77
Pemahaman ini begitu ragam, namun dapat kita simpulkan secara umum bahwa janji
berhubungan dengan beberapa hal: tindakan, waktu, dan pengharapan. Dalam hal
tindakan, janji dapat merupakan sebuah ikatan yang mengharuskan seseorang untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu. Dalam hal waktu, janji
berhubungan dengan sesuatu yang dibuat di masa lalu atau masa kini, yang mengikat kita
untuk melakukan sesuatu hingga mencapai hasil tertentu di masa depan. Dan dengan
sebuah tujuan untuk sebuah hasil tertentu di masa depan, maka janji bisa dikatakan
sebagai landasan dari pengharapan itu sendiri.
Konsep janji memiliki perbedaan dengan konsep prediksi ataupun nubuatan.
Menurut James Barr, prediksi berbicara mengenai sesuatu yang akan terjadi di masa
depan secara spesifik.78 Sedangkan menurut Baker, nubuat bersifat lebih luas daripada
76 Merriam-We ster’s Collegiate Di tio ar , ed. ke-10, s. . Pro ise . 77 Oxford Adva ed Lear er’s E lopedi Di tio ar , s. . Pro ise .
78 James Barr, Old and New in Interpretation: A Study of the Two Testaments (London: SCM, 1966),
prediksi. Nubuat merupakan suatu pesan yang diterima dari Allah dan disampaikan
kepada komunitas atau bangsa untuk mengingatkan mereka akan masa lalu dan
menantang mereka akan masa kini serta mempersiapkan mereka untuk masa akan
datang.79
Lebih spesifik, Hasan Sutanto melihat nubuat sebagai sesuatu yang bersifat
progresif dimana ada bagian yang mungkin berulang, bertambah, dan bersifat
melanjutkan nubuatan sebelumnya dengan tetap menyimpan sisi misteri tertentu dimana
nubuatan dapat terjadi secara literal namun juga dapat dipahami secara simbolik untuk
menggambarkan realita yang akan datang.80 Sedangkan konsep janji di dalam Alkitab, menurut Moltmann, adalah sebuah deklarasi tentang sesuatu yang realita yang belum
terjadi, bersifat mengikat, dan menciptakan jarak antara realitas janji dan realisasi atau
pemenuhan dari janji tersebut, serta bergantung penuh kepada Allah sebagai pihak yang
menginisiasi janji tersebut.81 Dalam hal ini, janji dapat dilihat sebagai sesuatu yang bersifat lebih luas daripada prediksi maupun nubuatan, sebab janji memiliki ikatan antar
dua pihak, dalam hal ini Allah dan manusia, dimana memungkinkan prediksi dan
nubuatan menjadi satu bagian untuk menjelaskan mengenai penggenapan yang akan
terjadi atas janji yang ada.
79 Baker, Two Testaments, One Bible, 212.
80 Hasan Sutanto, Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang: Literatur SAAT, 2007), 399-407.
81 Jürgen Moltmann, Theology of Hope: On the Ground and the Implications of a Christian
Selain itu, dalam konsep janji dan penggenapan ditemukan sifat conditional dan
unconditional. Baker menjelaskan bahwa dasar dari pendekatan ini adalah Perjanjian
Allah dengan Israel, Ia menetapkan hukum dan ketentuan yang harus ditaati supaya janji
Allah dipenuhi bagi Israel.82 Dalam kondisi taat inilah pemenuhan akan janji Allah dinyatakan, sebaliknya dalam pemberontakan Israel, janji Allah tidak terpenuhi.
Pemahaman ini menunjukkan bahwa adanya kondisi-kondisi tertentu yang menjadi syarat
terpenuhinya janji, conditional promise, contoh konsep berkat kutuk dalam Perjanjian
Lama. Sekalipun demikian, ada juga janji Allah yang tidak terpengaruh oleh hadirnya
kondisi tertentu, seperti janji keselamatan. Dalam janji keselamatan, Allah bekerja secara
total untuk menghadirkan keselamatan melalui Yesus tanpa mengharapkan terlebih
dahulu adanya kondisi ketaatan Israel. Oleh karena itu, sifatnya lebih unconditional.
Karakteristik Janji dan Pemenuhan
Pendekatan janji dan pemenuhan, sebagai bagian dari cara memahami relasi
Perjanjian Lama dan Baru, memiliki karakteristik dan penekanan yang unik dalam
melihat keterkaitan antar Perjanjian. Tiga karakteristik penting dalam pendekatan janji
dan pemenuhan adalah pemahaman kesejarahan yang dilihat dalam frame janji Allah dan
pemenuhannya, progresifitas dari janji Allah yang terus berkembang dan ketentuan serta
jaminan dari janji dan pemenuhan yang terjadi.
Pemahaman Kesejarahan
Memahami konsep janji dan pemenuhan tidak terlepas dari bagaimana pembaca
Alkitab melihat sejarah yang tercatat di dalam Alkitab. Bagi pandangan ini, sejarah
Alkitab hendaknya dipahami dalam keunikannya masing-masing. Berbeda dengan
tipologi yang memahami sebuah peristiwa dimasa lampau sebagai bayang-bayang akan
sebuah realitas yang baru, pendekatan janji dan pemenuhan melihat dua realitas dari masa lampau dan masa kini sebagai sesuatu yang berdiri sendiri pada dirinya. “The old
revelation had a reality and a validity in its own right. The new, too, had a validity and a reality in its own right.”83 Dalam hal ini tidak ada sebuah keberulangan sejarah yang
bersifat sama, yang ada hanyalah sebuah realitas baru yang berada satu level lebih tinggi
dibandingkan yang lama.
Dalam tampilnya realitas-realitas sejarah yang ada dalam Alkitab, realitas ini
tidak tampil dalam kehampaan namun ada sebuah ruang sejarah yang menjadi wadah
pembingkai. Dalam hal ini realitas sejarah coba dibingkai dalam ruang janji atau
pemenuhan. Realitas janji dan pemenuhan ini juga tidak bersifat total, namun tampil secara bertahap dan progresif. Baker menyatakan “What God promises he fulfils, and,
because the fulfilment is only partial, it contains within it an unfulfilled promise that points forward to a new fulfilment.”84 Dalam bentuk yang bertahap inilah maka
keterkaitan antar satu peristiwa dengan peristiwa lain, dalam bingkai janji dan
pemenuhan, bersifat progresif. Satu janji dalam bagian tertentu dapat dipenuhi lebih dari
83 H. H. Rowley, The Unity of the Bible (London, England: Lutterworth, 1968), 94.
dua peristiwa di masa yang akan datang dan dalam level yang berbeda. Hal ini selaras
dengan pendapat Zimmerli bahwa
Even though it is precisely in these important passages that the ceremonious formula of promise appears, nevertheless the formula does not remain fixed, but evinces a turbulent history of extension and re-interpretation on a deeper level.85
Tidak ada sebuah formula yang pasti dari sebuah janji dan pemenuhan, yang ada
hanyalah sebuah pergolakan sejarah yang semakin luas dan terus ditafsirkan kembali ke
level yang lebih dalam. Dengan demikian, ada sebuah kemungkinan untuk menafsirkan
sebuah janji di masa yang lalu dari lebih dari satu peristiwa pemenuhan di masa
selanjutnya dengan melihat korelasi-korelasi tertentu dari masing-masing sisi yang
berbeda. Sebagai contoh, janji Allah memberikan Abraham keturunan dipenuhi ketika
Ishak lahir, namun lebih luas lagi janji itu dipenuhi kembali oleh Israel, dan kemudian
Paulus menunjukkan bahwa janji Allah pada Abraham kembali tergenapi di dalam
Kristus (Galatia 3:16). Dalam hal ini keterkaitan Ishak, Israel, dan Yesus tidak bisa
dipandang secara tipologis, akan tetapi, baik Ishak, Israel, dan Yesus berdiri sendiri
dalam keunikan peristiwa mereka dan menjadi bingkai untuk menafsirkan janji Allah
pada Abraham mengenai keturunan, sehingga kemungkinan adanya dua bahkan tiga lapis
pemenuhan dari sebuah janji bergantung pada cara menafsirkan kembali peristiwa sejarah
yang terjadi di Alkitab. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemahaman sejarah
dalam konteks janji dan pemenuhan dapat dilihat sebagai sesuatu yang bersifat progresif,
unik dalam setiap peristiwa, dan memungkinkan untuk memiliki beberapa lapisan
pemenuhan dari janji tersebut dalam sejarah Alkitab.
Progresivitas Janji dan Pemenuhan
Progresivitas janji dan pemenuhan bukan hanya bekerja secara kronologis namun
juga hadir dalam isi dari janji dan pemenuhan tersebut. Progresivitas ini ditunjukkan
dengan adanya beberapa pengulangan, penambahan, pengurangan, bahkan pemenuhan yang terjadi berkaitan dengan isi dari janji tersebut. Baker menyatakan bahwa “the basic
divine promise to the patriarchs is given, repeated, almost retracted, renewed, and partially fulfilled.”86 Dalam hal ini, pengulangan yang terjadi tidak bersifat sirkular
namun spiral, dimana ada sebuah perkembangan pemikiran dan makna dalam relasi janji
dan pemenuhan. Menambahkan hal ini B.F. Westcott menyatakan bahwa setiap janji
yang dipenuhi membawa pengertian kepada sebuah janji yang lebih besar.87
Perkembangan pemikiran dan makna yang terjadi berhubungan dengan konsep
partikularitas dari pemenuhan itu sendiri. Reuther menyatakan bahwa
On the other hand, the New Testament witness to fulfillment is rooted precisely in the eschatological vision and in the belief that the future of the Lord, albeit in a hidden and fragmentary way, is present in our midst in the form of signs, first fruits, foretaste and so on.88
Kenyataan tentang pemenuhan akan janji Allah berakar pada sebuah keyakinan
eskatologis dimana janji itu dipenuhi melalui cara yang tidak sepenuhnya komplit dan
hadir dalam bentuk tanda-tanda sebagai sebuah kecapan awal akan konsumasi janji Allah.
Dalam hal ini, kecapan awal dari janji Allah tetap dipandang sebagai sebuah pemenuhan
dari janji itu sendiri. Dengan demikian, pemahaman ini memberikan ruang besar bagi
86 Baker, Two Testaments, One Bible, 218.
87 B.F. Westcott, The Epistle to the Hebrew (Eugene, Oregon: Wipf and Stock, 1889), 482.
pemahaman eskatologi dalam menanggapi realitas dunia saat ini dan akan datang. Di sisi
yang lain, partikularitas dari pemenuhan janji Allah membawa pada sebuah pengukuhan
akan pemahaman already butnot yet sebagai bingkai dari Kerajaan Allah.89 Dengan memahami perkembangan yang ada dari janji dan pemenuhan sebagai satu kesatuan dari
kisah yang Allah berikan, maka tidak berlebihan jika ada ungkapan yang menyatakan “There is only one God, and the key to God’s revelation is the story of promise and
fulfillment.”90
Ketentuan dan Jaminan dari Janji dan Pemenuhan
Karakteristik yang ketiga dari pendekatan ini berbicara mengenai ketentuan dan
jaminan dari janji dan pemenuhan. Sebagai sebuah cara untuk melihat kesatuan
Perjanjian Lama dan Baru, pendekatan ini memberikan kesadaran tentang adanya
ketentuan dan jaminan yang berlaku diantaranya. Ini merupakan sebuah realitas yang tak
terhindarkan dari konsep janji itu sendiri. Westermann memahami janji sebagai jaminan
dari keselamatan (Assurance of salvation), maklumat keselamatan (Announcement of
salvation), dan sebagai gambaran dari keselamatan (Portrayal of Salvation).91
Sebagai jaminan, konsep janji dihubungkan secara erat dengan kesetiaan Allah. “Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAσ, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang
setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih
89 Bdk. Johannes Weiss, Jesus’ Pro la atio of the Ki gdo of God (San Fransisco, California: Scholars, 1985), 67-74.
Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan”
(Ulangan 7:9). Dalam kesetiaan-Nya inilah janji itu dikerjakan Allah di dalam dan
melalui sejarah hidup manusia untuk menghadirkan kehendak-Nya. Bahkan lebih lagi, Zimmerli menyatakan bahwa “the category promise/fulfillment serves to secure the
irrevocable validity of the gift bestowed by God.”92 Dalam jaminan akan kesetiaan Allah,
anugerah itu dinyatakan oleh-Nya secara pribadi melalui penggenapan yang Ia kerjakan
dalam sejarah hidup manusia. Hal ini nampak dari peran Tuhan mengarahkan dan terus
menuntut umat manusia untuk mengenal Dia dan masuk dalam rencana Allah lewat
sejarah, baik lewat kondisi damai maupun perang. Hingga puncaknya, janji Allah itu
digenapi secara nyata di dalam dan melalui Kristus Yesus.
Sebagai pemberitahuan, janji juga mengandung peraturan dan ketentuan yang
perlu ditaati. Oleh sebab itu, janji Allah bukan sekedar berbicara masalah anugerah
namun juga menuntut respon kesetiaan dari umat-Nya (Keluaran 19:5-6). Hal ini tentu
berbeda dengan konsep prediksi atau nubuatan yang seringkali hadir tanpa sebuah
peraturan ataupun tuntutan akan respon manusia.93
Salah satu contoh akan pentingnya respon ketaatan pada janji Allah nampak pada
kisah Yosua. Dalam Yosua 6, Allah memerintahkan Yosua untuk melakukan segala hal
yang difirmankan-Nya agar janji akan tanah Perjanjian menjadi nyata bagi Israel. Dan
menarik sekali, bagaimana Allah dalam bagian ini menunjukkan penggenapan janji-Nya
untuk memberikan Israel tanah Perjanjian dengan merobohkan tembok Yerikho. Akan
92 Zimmerli, The Pro ise a d Fulfill e t : 315.
93 Samuel H. Kellogg, The Jews or Prediction and Fulfillment: An Argument for the Times (Scottdale,