Pemahaman mengenai relasi antar Perjanjian dapat memberikan pengaruh dalam pembentukan sebuah teologi Alkitabiah. Reventlow menyatakan bahwa hubungan relasional antara Perjanjian Lama dan Baru adalah urusan yang sangat penting dan menjadi salah satu kunci dari permasalahan teologis abad 20.38 Ridderbos juga menegaskan bahwa hubungan antar Perjanjian bukan hanya sekedar menyangkut keseluruhan cerita namun juga berisi keseluruhan teologi.39 Melihat pentingnya
pemahaman mengenai relasi Perjanjian dan kaitannya dengan teologi, maka penulis akan mencoba membahas dan membandingkan tiga pendekatan antar Perjanjian — yaitu tipologi, janji dan pemenuhan, serta kontinuitas dan diskontinuitas — guna memahami keunggulan dan kelemahan tiap pendekatan bagi pembentukan teologi.
Tipologi Definisi
Tipologi berasal dari kata Yunani typos ( π ) atau dalam bahasa Inggris disebut type.40 Menurut Greek Dictionary of the New Testament kata typos bisa berarti tanda,
38 Henning Graf Reventlow, Problems of Biblical Theology in the Twentieth Century (Minneapolis, Minnesota: Fortress, 1986), 11.
39 Reventlow, Problems of Biblical Theology in the Twentieth Century, 11.
40 Baker, Two Testaments, One Bible, 185.
bentuk, corak mode atau gaya bahasa, kemiripan, contoh juga model.41 Sedangkan Oxford Advanced Learning Encyclopedic Dictionary memahami type sebagai pribadi, benda, atau kejadian yang diperhitungkan sebagai sebuah representatif atau contoh dari kelas atau grup tertentu.42 Dalam hal ini pemaknaan typos( π ) didefinisikan sebagai prinsip kesamaan sedangkan type lebih merujuk pada sebuah penerapan akan prinsip kesamaan yang dapat dilihat dalam pribadi, benda, maupun kejadian. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika C. T. Fritsch mendefinisikan tipologi sebagai “an institution, historical event or person, ordained by God, which effectively prefigures some truth connected with Christianity”.43 Melengkapi bagian ini, penulis mengutip Dictionary of Theological Interpretation yang mendefinisikan tipologi sebagai sebuah korespondensi kesejarahan dari masa lalu ke masa sekarang, yang tak jarang mengalami penambahan makna di mana penggambaran yang terdahulu diambil sebagai pelengkap untuk memahami peristiwa selanjutnya yang lebih besar.44 Dalam definisi ini, relasi tipe dan antitipe dipahami bukan sebagai bentuk relasi identik, akan tetapi antitipe dilihat mengandung pemaknaan yang lebih luas atau lebih mendalam.
41Greek Dictionary of the New Testament, s. . τύπος .
42Oxford Advanced Learning Encyclopedic Dictionary, s. . Type .
43 Charles T. Fritsch, "Biblical Typology," Bibliotheca Sacra, vol. 104 (1947): 87-100. 44Dictionary of Theological Interpretation, s. . Typology .
Karakteristik Tipologi
Pemahaman mengenai tipologi sebagai sebuah pendekatan dalam memahami teks-teks Alkitab tampaknya sudah sangat umum dipakai sejak abad pertama kekristenan. Goppelt menyatakan bahwa,
Typology and the typological method have been part of the church’s exegesis and
hermeneutics from the very beginning. Obviously this is due to the influence of the NT and it is attested by the writings of the Apostolic Fathers.45
Meski umum digunakan namun pemahaman mengenai tipologi seringkali menjadi rancu dengan pendekatan alegoris maupun simbolisme. Baker menyatakan bahwa, “However the fact that the term ‘typology’ has been confused with allegorical and symbolic exegesis, and applied to trivial correspondence, does not invalidate it as a principle if properly used.”46 Dengan demikian, perlu adanya sebuah pemahaman yang tepat mengenai karakteristik dari tipologi agar tidak terjadi kerancuan dalam memahami dan menerapkan pendekatan ini terhadap teks. Dalam hal ini, karakteristik-karakteristik yang nampak dari pendekatan tipologi antara lain adalah:
Korespondensi Kesejarahan Baker menyatakan bahwa,
First, typology is historical. Its concern is not with words but with historical facts: events, people, institutions. It is not a method of philological or textual study, but a way of understanding history.47
45 Leonhard Goppelt, Typos: The Typological Interpretation of the Old Testament in the New (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1982), 4.
46 Baker, Two Testaments, One Bible, 9 . Bdk. Joh J. O Keefe da ‘. R. Reno, Sanctified Vision: An Introduction to Early Christian Interpretation of the Bible (Baltimore, Maryland: Johns Hopkins University Press, 2005 ), 90. Seringkali alegori dan tipologi dipandang serupa sebab sama-sama berfokus pada kode atau figur tertentu yang menyatukan Perjanjian Lama dengan Baru.
Fokus tipologi kepada fakta-fakta sejarah menjadi salah satu ciri penting yang berbeda dengan penafsiran alegoris maupun simbolis. Menurut τ’Keefe dan Reno,
Allegories are basically interpretations that claim that the plain or obvious sense of a given text is not the true meaning, or at least not the full meaning. The words, event, and characters, so the allegorist claims, stand for something else; they speak for another reality, another realm of meaning.48
Dalam hal ini, bagi penafsiran alegoris yang terpenting bukan fakta sejarah, kata atau tokoh dalam cerita, namun realitas dan makna lain yang tersembunyi dibalik teks. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penafsiran alegoris mengandung asumsi negatif terhadap sejarah teks maupun peristiwa, hal ini berbeda dengan pendekatan tipologi. Pendekatan tipologi justru berusaha mencari pola berulang yang terjadi dalam sejarah Alkitab, terkhusus dalam relasi Allah beserta umat-Nya.49
Pencarian pola berulang tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, melalui korespondensi atau analogi. Dalam poin ini, korespondensi dalam pendekatan tipologi dipahami dalam bentuk relasi antar ide dari peristiwa kesejarahan. Gopplet berpendapat bahwa korespondensi yang terjadi dalam pendekatan tipologi terjadi dalam tataran ide kesejarahan yang membentuk pola cyclical dari peristiwa-peristiwa kesejarahan.50 Lampe menambahkan, bahwa sebuah peristiwa seringkali hadir dengan ‘berbaju’ Perjanjian Lama sebagai penggambaran Alkitabiah yang menghadirkan kekayaan makna dan signifikansi terhadap kisah sejarah bangsa Ibrani, nubuatan bahkan liturgi keagamaan
48O Keefe da ‘e o, Sanctified Vision, 89.
49 G. W. H. Lampe dan K. J. Wo Ollcombe, Essays on Typology (London: SCM, 1917), 26. 50 Goppelt, Typos, 226-27. Pola cyclical adalah sebuah pola peristiwa yang terjadi lagi dan lagi dalam tatanan yang sama.
sebagai bagian proklamasi Injil.51 Oleh sebab itu, korespondensi yang ada dalam pendekatan tipologi hadir melalui kedekatan naratif sebagai bukti keterkaitan sejarah antara teks Perjanjian Baru dan Lama.
Aspek Literal
Selain korespondensi kesejarahan dalam bentuk ide dan narasi, McCarthy dan Prince juga melihat kemungkinan adanya korespondensi antar teks melalui kedekatan gramatikal.52 Hal serupa juga dinyatakan oleh Lampe, bahwa ada bentuk tipologi lain yang berdasarkan pada relasi makna literal, sebagai jembatan menuju realitas spiritual.53 Kedekatan gramatikal yang dimaksud dalam bagian ini lebih mengarah pada penggunaan kata tertentu atau terminologi tertentu yang menjadi pengait antar teks untuk memahami konsep yang hendak disampaikan secara lebih utuh.
Dalam aspek ini, unsur literal merupakan bagian yang penting karena didalamnya terkandung kaitan antara yang tertulis (gramatikal) dan yang terjadi dalam sejarah (Historikal) sebagai alat pengungkap fakta yang memuat dan merekam peristiwa, tokoh, maupun lembaga tertentu.54 Hal ini membedakan dengan pendekatan alegoris yang melihat teks sebagai lambang atau simbol yang menyimpan doktrin tertentu yang
51 Lampe dan Ollcombe, Essays on Typology, 19.
52 John. J. McCarthy dan Alan S. Prince, Faithfulness and Identity in Prosodic Morphology (Amherst, Massachusetts: Graduate Linguistic Student Association University of Massachusetts, 1995),
https://rucore.libraries.rutgers.edu/rutgers-lib/41852/PDF/1/ (diakses tanggal 8 Maret 2015). Kedekatan gramatikal yang dimaksud adalah kedekatan tata bahasa dan terminologi yang memberikan keterkaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain dalam pemaknaan yang lebih kaya.
53 Lampe dan Ollcombe, Essays on Typology, 30.
54“ta ley N. Gu dry, Typology as a Mea s of I terpretatio : Past a d Prese t, Journal of the Evangelical Theological Society 12, no. 4 (1969): 234-40.
tersembunyi di balik teks harafiah.55 Kaitan gramatikal dan kesejarahan dalam unsur literal inilah yang menjadi jembatan antara beberapa pemahaman dalam Perjanjian Lama dan Baru, contoh kata “sunat”.56
Keterpusatan pada Perjanjian Baru
Dalam sebuah relasi, hubungan dari dua pihak atau lebih tidak selalu berjalan dalam kondisi yang sejajar, demikian pula dalam pendekatan tipologi. Relasi antara Perjanjian Lama dan Baru dalam pendekatan ini cenderung dilihat lebih mengunggulkan Perjanjian Baru. Fakta ini didasarkan pada asumsi bahwa Perjanjian Lama bersifat
incomplete. Foulkes menyatakan bahwa kita harus menerima kenyataan bahwa Perjanjian Lama adalah satu bagian utuh yang berdiri sendiri dalam sejarahnya dan sistemnya, namun juga harus menerima bahwa Perjanjian Lama adalah satu bagian yang belum lengkap dan perlu dilihat melalui terang Kristus dalam Perjanjian Baru.57 Dalam hal ini, muncul sebuah pengindikasian bahwa ada sebuah kebergantungan tidak langsung antara Perjanjian Lama kepada Perjanjian Baru.
Dalam ketergantungan Perjanjian lama kepada Perjanjian Baru, maka Baker melihat relasi tipologis antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam sebuah bentuk retrospective. Ia menyatakan bahwa,
55 Baker, Two Testaments, One Bible, 190.
56 Penggunaan konsep sunat dalam Perjanjian Lama sebagai bentuk inisiasi menjadi umat Allah secara fisik diperluas dalam Perjanjian Baru dengan konsep sunat hati sebagai tanda spiritual.
57 Francis Foulkes, The Acts of God: A Study of the Basis of Typology in Old Testament (London: Tyndale, 1958), 39.
The Bible gives no exhaustive list of types and implies no developed method for their interpretation. On the contrary, there is a great freedom and variety in the outworking of the basic principle that the Old Testament is a model for the New.58
Dengan demikian, Baker melihat bahwa relasi tipologis antara Perjanjian Lama dan Baru tidak secara prospective dimana pemaknaan Perjanjian Lama harus ditarik menuju Perjanjian Baru, namun justru dilihat bahwa Perjanjian Baru sebagai lensa untuk membaca model-model atau tipe-tipe yang tersebar dalam Perjanjian Lama. Dalam hal ini, interpretasi terhadap teks justru bergerak dari Perjanjian Baru menuju Perjanjian Lama. Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa pendekatan tipologi menempatkan Perjanjian Baru sebagai pusat dari interpretasi, baik sebagai sesuatu yang dianggap lebih lengkap maupun sebagai lensa untuk membaca sejarah sebelumnya.
Hubungan Analogis
Dalam hubungan antara teks Perjanjian Lama dan Baru, baik secara prospektive maupun retrospektive, dipahami bahwa ada sebuah keterhubungan rahasia yang terletak di dalam setiap kisah yang ditulis oleh tiap penulis di setiap jamannya. Archbishop Trench pernah menyatakan,
The parable or other analogy to spiritual truth appropriated from the world of nature or man, is not merely ilustration, but also in some sort proof. It is not merely that these
analogies assist to make the truth intelligible… Their power lies deeper than this, in the
harmony unconciously felt by men, which all deeper minds have delighted to trace, between the natural and the spiritual worlds, so that analogies from the first are felt to be
more something more than illustrations, happily but yet arbitrarily chosen… They belong
to one another, the type and the thing typified, by an inward necessity; they were linked together long before by the law of a secret affinity.59
58 Baker, Two Testaments, One Bible, 191.
59 Baker, Two Testaments, One Bible, 187. Ada kemungkinan penggunaan frasa …yet ar itrarily hose i gi e u jukka ah a relasi tipologi ya g terjadi a tara tipe da ya g di-tipe-kan tak jarang masih mengandung unsur pemaksaan makna.
Sekalipun Trench tidak menyatakan bahwa perumpamaan dan sistim analogi dalam tipologi sebagai dua hal yang sama, namun ia melihat bahwa kedua hal ini dapat
menunjukkan adanya pertalian antara satu kisah dengan kisah lain sebagai tipe dan yang ditipekan.
Keterhubungan ini, baik disadari maupun tidak oleh penulis kitab, merupakan bagian dari sebuah karya Allah yang mengatur sejarah. Foulkes menyatakan bahwa karya Allah dalam mewahyukan diri-Nya melalui Alkitab dapat terlihat dalam tindakan Allah yang tidak terprediksi dan dapat berulang untuk menunjukkan konsistensi prinsip-prinsip-Nya.60 Keberulangan tindakan Allah ini dapat bersifat repetisi total, seperti kisah Israel menyeberang laut merah dengan kisah Israel menyeberang sungai Yordan. Atau sebuah keberulangan yang bersifat analogis, contoh kisah Abraham mempersembahkan Ishak dengan kematian Kristus. Dalam hal ini, hubungan analogis lebih menekankan kepada persamaan prinsip yang ada dari satu kisah sejarah dalam Perjanjian Lama yang
digunakan sebagai penggambaran atau kiasan bagi satu peristiwa dalam Perjanjian Baru.
Landasan Teologis
Dengan memahami keunikan dari karakteristik yang ada, tak bisa dihindarkan, perlu juga adanya pengakuan akan landasan teologis tertentu yang menjadi presuposisi awal yang membentuk pemahaman dan karakteristik dari tipologi. Dalam hal ini, minimal ada tiga landasan teologis yang membentuk pendekatan tipologis. Landasan teologis yang pertama adalah sejarah keselamatan. Oscar Cullmann menyatakan bahwa
“typology presupposes a wider salvation-historical framework and connects two points on this background.”61 Dalam hal ini, Cullmann mengakui bahwa dalam melihat korespondensi kesejarahan dari dua titik yang berbeda perlu dilandasi oleh satu bentuk pemahaman yang sama akan makna dari sejarah itu sendiri. Dan dalam hal ini pendekatan tipologi melihat bahwa sejarah yang tercatat di dalam Alkitab merupakan sebuah sejarah keselamatan yang Allah kerjakan.
Dalam hal ini, perlu dipahami bahwa pengertian sejarah keselamatan berbeda dengan pemahaman sejarah secara umum. Sejarah secara umum dipahami sebagai “systematic description of past events,”62atau sebagai “a chronological record of
significant events often including an explanation of their cause.”63 Dalam pemahaman di atas sejarah hanya dilihat sebagai bagian dari objective events yang terjadi di masa
lampau, yang sering disebut dengan historie, atau sebagai catatan dari peristiwa-peristiwa penting semata, yang sering disebut dengan geschichte. Namun berbeda dari dua
pandangan umum di atas, sejarah keselamatan di dalam Alkitab dipahami sebagai, A term used by some biblical scholars to mark the history of Israel and the subsequent Christian church as God's "salvation history" being worked out as God's plan in the midst of human history as a whole.64
Dalam hal ini muncul sebuah asumsi teologis bahwa sejarah tidak lepas dari campur tangan dan kinerja Allah yang menjalankan rencana dan kehendak-Nya di dalam sejarah hidup manusia. Oleh karena itu, pendekatan tipologi melihat bahwa setiap peristiwa yang
61 Oscar Cullmann, Salvation in History (New York: Harper and Row, 1967), 132. 62O ford Adva ed Lear er’s E lopedi Di tio ar , s. . History .
63Merriam-We ster’s Collegiate Di tio ar , Ed. ke-10, s. . History .
terjadi di dalam Alkitab adalah bagian dari rencana, kehendak, dan cara Allah
mengejawantahkan diriNya untuk dikenali oleh manusia. Landasan teologis mengenai sejarah keselamatan ini berhubungan erat dengan pemahaman yang lain bahwa Allah adalah penulis Alkitab yang sesungguhnya.
Allah sebagai penulis Alkitab yang sesungguhnya juga menyatakan konsistensi rencana keselamatan-Nya melalui bentuk-bentuk yang unik dalam Alkitab, yang dikenali di dalam tipologi melalui korespondensi sejarah. Melalui korespondesi sejarah yang terjadi dari satu peristiwa kepada peristiwa lain menjadi sebuah tanda dari adanya sebuah pola dari tindakan Allah yang konsisten dalam sejarah hidup manusia. Baker menyatakan bahwa “the basis of typology is God’s consistent activity in the history of his chosen people.”65 Aktivitas Allah yang konsisten dalam sejarah hidup umat pilihan-Nya menjadi sebuah pemahaman yang berlawanan dengan konsep deisme. Dalam deisme, allah sang pencipta adalah allah yang membuat dunia dan kemudian meninggalkannya untuk bergerak sendiri namun teologi Kristen memahami bahwa Allah sang Pencipta atau Theos justru masuk dan aktif dalam sejarah manusia untuk membawa manusia pada jalan dan rencana-σya. Roma κμ2κ menyatakan “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Dalam konsep seperti inilah tipologi bergerak dan memahami korespondensi kesejarahan yang terjadi antara Perjanjian Lama dan Baru.
Penggunaan Tipologi dalam Memahami Konsep Perang
Dengan memahami penekanan teologis dan karakteristik dari pendekatan ini, Peter C. Craigie, salah seorang penafsir Perjanjian Lama mencoba menggunakan
pendekatan tipologi untuk menyelesaikan problem perang di Perjanjian Lama. Meskipun tidak secara langsung menyatakan bahwa ia menggunakan pendekatan tipologi, namun dalam salah satu komentari yang ditulisnya kita dapat menemukan bagaimana Craigie menggunakan pemahaman perang dalam Perjanjian Lama sebagai gambaran figuratif tentang Yesus dan penebusan-Nya di Perjanjian Baru.
Mengawali argumennya, Carigie menyatakan bahwa
The essence of the covenant, it must be stressed, lies in the relationship between God and man, and though God is the first and free mover in establishing that relationship,
nevertheless a relationship requires response from man. The operative principle within the relationship is that of love; God moved first toward his people in love and they must respond to him in love. The law of the covenant expresses the love of God and indicates the means by which a man must live to reflect love for God.66
Dengan menekankan konsep Perjanjian, ia memahami perang di Alkitab, terkhusus dalam nuansa Perjanjian Lama sebagai bagian dari sejarah keagamaan Timur Dekat Kuno. Dalam konteks sejarah Timur Dekat Kuno pemahaman bahwa tiap negara memiliki dewa yang disembah dan melindungi serta berperang bagi negara tersebut menjadi sesuatu yang umum dipahami. Oleh karena itu, Craigie menyatakan
Thus the Song of the Sea marks the inception of the idea of the Lord as the Warrior, and of an ideology of war on an international level, which was dominant in early Israelite religious thought. Closely related to the conception of God as Warrior is the expression of the kingship of Yahweh.67
66 Peter C. Craigie, The Book of Deuteronomy (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1976), 37. 67 Craigie, The Book of Deuteronomy, 64.
Nyanyian kemenangan Israel setelah melewati laut Teberau dipahami sebagai titik permulaan akan kesadaran Israel memahami Allah sebagai pahlawan Perang Israel, sekaligus sebagai bagian dari ekspresi Perjanjian dan kepemimpinan Yahweh atas Israel. Lebih lanjut, Craigie menyatakan bahwa bentuk perlindungan Allah dan peperangan yang Allah lakukan untuk Israel merupakan penggambaran akan cinta Allah, sebuah tipologi atas kasih perlindungan dari Bapa Surgawi.68 Menambahkan hal ini, Craigie berpendapat bahwa
To call God a warrior, then, is to use human terms to describe a transcendent being. It is the language of immanence. It is anthropomorphic language, and like all human language
it is limited, but from a theological perspective it “points to a truth about God which is greater than the language itself.”69
Dalam hal ini pembahasaan Allah sebagai pahlawan perang merupakan gaya bahasa yang bersifat antropomorfis. Oleh karenanya, memahami perintah Allah untuk berperang menjadi sesuatu yang perlu dikaji. Tidak hanya secara literal bahwa Allah setuju akan perang namun harus dilihat dalam prinsip teologis yang hendak disampaikan melalui pesan perang ini. Hal senada juga dinyatakan oleh Holbert dalam reviewnya terhadap Craigie, ia menyimpulkan bahwa “The language of God as warrior is metaphor only, and from that language we learn two truths: God participates in history, and He participates in war for both judgment and redemption.”70
68 Craigie, The Book of Deuteronomy, 103.
69 Peter C. Craigie, The Problem of War in the Old Testament (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1978), 39–40.
70 Tinjauan John C. Holbert terhadap Peter C. Craigie, The Problem of War in the Old Testament,
Dalam konsep penghakiman dan penebusan, Craigie melihat bahwa perang dalam Perjanjian Lama merupakan bentuk figurative dari pengejawantahan konsep kerajaan Allah. Craigie berargumen bahwa, “The Kingship of Yahweh finds its fullest expression in the nature of God the Warrior: As a victorious Warrior, God rules over his people, and his conquering power is exerted against their enemies.”71 Oleh karena itu dapat dilihat bahwa perang di dalam sejarah Israel adalah bagian dari penggambaran tipologis akan kekuasaan Allah untuk menebus umat pilihannya dan menghukum para musuh. Lebih lanjut, Craigie melihat bahwa konsep perang dalam Perjanjian lama yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan Israel bersama Allah sebagai pahlawan perang yang menolong dan membebaskan mereka dari bangsa-bangsa lain merupakan bahasa tipologis bagi pesan Perjanjian Baru dimana pengalaman Kristus dalam karyanya di kayu salib berperang melawan musuh-musuh spiritual dan membebaskan umat-Nya dari belenggu dosa. Penggambaran ini menjadikan Kristus sebagai God of Warrior bagi umat Perjanjian Baru.72
Kekuatan dari pendekatan tipologi yang digunakan Craigie untuk menjelaskan mengenai perang dalam Perjanjian Lama membawa kepada penemuan makna spiritual dari perang dalam Perjanjian Baru sebagai gambaran dari salib Kristus dan realitas peperangan rohani. Meskipun demikian, John Willis mengkritik bahwa pendekatan tipologis dari Craigie tak dapat menjawab tentang realita perang dalam diri Perjanjian