Berdasarkan hasil dari bab tiga, pemahaman perang dalam Perjanjian Lama dan Baru mengalami pergerakan pemahaman. Dalam pergerakan ini ada beberapa aspek dari pemahaman perang yang tetap bertahan (continue) dan juga berganti (discontinue). Pergerakan pemahaman tentang perang dalam beberapa teks yang diambil oleh penulis dapat diringkaskan sebagai berikut
Alamat Genre Waktu Bentuk Peran
Israel
Tema Utama Aspek-aspek lain
Keluaran 15:1-21 Puisi, Himne 1447-1407 sM
Fisik Pasif Pembebasan 1. Penghukuman bagi bangsa non-Israel (Mesir) 2. Bersifat mempertahankan diri (defensif) 3. Perang secara kosmik Ulangan 20 Hukum 1447-1407 sM
Fisik Sinergis Penggenapan janji Allah 1. Perebutan wilayah 2. Penghukuman 3. Iman dan ketaatan pada Allah 4. Kekudusan Allah 5. Nuansa pengorbanan (herem) Yosua 5:13-6:27
Narasi Akhir abad 15 sM –
awal abad 14 sM.
Fisik Sinergis Pemenuhan janji Allah dan penghukuman 1. Masalah perebutan wilayah 2. Israel sebagai Instrumen Penghukuman 3. Penyertaan Allah 4. Perang kosmik 5. Perang sebagai ibadah 6. Ketaatan
Hakim-Hakim 4-5
Narasi Akhir abad 13 sM –
awal abad 12 sM
Fisik Sinergis Penghukuman bagi Israel
1. Masalah
mempertahankan wilayah
2. Pola berkat dan kutuk 3. Pertobatan yang membawa pembebasan 4. Problem gender (Kepemimpinan wanita) 5. Perang memiliki nuans a kosmik 1 Samuel 4-6 Narasi Sekitar tahun 1050 sM Fisik Aktif-Inisiatif Independensi Allah dan penghukuman bagi Israel dan Filistin 1. Perang berhubungan dengan masalah politik 2. Allah sebagai pahlawan Perang 3. Perang spiritual
antara Allah dan Dagon 4. Pola “keluaran” dan “pembuangan”. Mazmur 46 Mazmur Keyakinan, Mazmur Kerajaan Abad 9 sM - 8 sM Kosmik, kemungkinan dilatar-belakangi perang fisik.
Pasif Allah sebagai pertolongan dan perlindungan 1. Yahweh Sebaoth (Allah yang berperang) 2. Pembebasan 3. Allah sebagai Raja 4. Kerajaan Damai hadir melalui perang Allah Yesaya 42:10-43: 7 Narasi Nubuat 745-680 sM (Kepenulisan tunggal Yesaya) Fisik dan Spiritual Pasif Penghakiman dan pembebasan 1. Perang berhubungan dengan masalah Perjanjian Allah 2. Israel berperan sebagai objek perang Allah 1 Raja-Raja 22:1-40
Narasi 555-539 sM Fisik
Aktif-Inisiatif Penghukuman Allah bagi Israel 1. Perang berhubungan dengan masalah politik
2. Peran nabi dalam perang
Yesaya 42:10-43: 7 Narasi Nubuatan 587-530 sM (Kepenulisan Deutero-Yesaya)
Spiritual Pasif Janji
keselamatan 1. Pembebasan 2. Pemerintahan Allah 3. Perjanjian Universal Ester 8-9 Narasi 486–465 sM Fisik Sinergis Perlindungan
Allah 1. Perang berhubungan dengan masalah dendam dan politik internal 2. Aspek misi Zakharia 14 Narasi Pengharapan Mesianik Abad 3 sM - akhir 1 sM Spiritual dan Eskatologis
Pasif Hari Tuhan 1. Hukuman Allah atas dunia 2. Aspek Misi 3. Hadirnya kerajaan Allah yang universal 4. Konsep umat Allah yang universal Matius 24:3-14
Narasi Injil 80-100 M Eskatologis Pasif Hari Tuhan 1. Berita penyesatan dan penderitaan 2. Bertahan dalam iman 3. Allah memegang kendali atas semua 4. Perang sebagai bagian dari misi Allah
Efesus 6:10-20
Narasi Sebelum tahun 95 M
Spiritual Sinergis Peperangan rohani 1. Perlengkapan rohani 2. Doa 3. Bertahan dalam iman Wahyu 16
Apokaliptik Sekitar tahun 90-95 M Spiritual dan Eskatologis Pasif Penghakiman dan pembebasan Wahyu 20
Apokaliptik Sekitar tahun 90-95 M Spiritual dan Eskatologis Pasif Kerajaan Seribu Tahun 1. Restorasi kerajaan 2. Penghakiman terakhir 3. Allah sebagai
hakim dan raja 4. Bersifat spiritual
Dari tabel di atas, penulis menemukan beberapa pola pergerakan yang terjadi, antara lain;
1. Perang dalam Alkitab, terkhusus dalam rentan masa abad 14 sM hingga abad 5 sM masih banyak bersifat fisik, sekalipun unsur spiritual juga muncul dalam 1 Samuel 4-6 begitu juga unsur kosmik dalam Keluaran 15 dan Hakim-Hakim 4-5, namun belum terlalu mendapatkan penekanan.
2. Penekanan perang secara spiritual dan eskatologis mulai nampak jelas dalam kitab Yesaya, terkhusus Yesaya versi Deutero-Yesaya. Selanjutnya, perang dari zaman Yesaya hingga wahyu dipenuhi dengan pemahaman perang secara spiritual dan eskatologis.
3. Hal lain yang menarik adalah setiap kali Israel berperan aktif-inisiatif dan dengan tujuan politik maka Israel selalu mengalami kekalahan dalam perang (1Samuel 4-6 dan 1 Raja-Raja 22:1-40), tetapi jika perang dimulai dari Allah dan Israel berpartisipasi di dalamnya maka Israel mendapatkan kemenangan. Hal ini menunjukkan bahwa persetujuan boleh tidaknya kita berperang bergantung pada inisiatif Allah dan bukan inisiatif kita. Dengan demikian, orang Kristen jika memperbolehkan sebuah perang terjadi harus memiliki dasar argumentasi dan bukti yang solid bahwa Allah yang berinisiatif dalam perang dan bukan manusia. 4. Dalam Perjanjian Baru, perang lebih banyak secara eskatologis dan spiritual.
Hanya satu bagian perang dalam Perjanjian Baru yang mana umat Allah dipanggil untuk aktif berperang dalamnya, yaitu perang secara spiritual dalam Efesus 6:10-20. Selain itu, Allah secara independen berperang dengan bala tentaraNya dan umat cenderung pasif dalam peperangan fisik maupun kosmik.
Berdasarkan hasil dari data yang dihimpun, maka ditemukan beberapa hal yang terus berlangsung (continue) dan beberapa hal yang tidak berlangsung (discontinue).
Kontinuitas Perang
Dari hasil analisa bab tiga, penulis menemukan bahwa tema perang dalam Alkitab tidak terlepas dari pemahaman Israel sebagai umat Perjanjian Allah. Dalam pemahamann Perjanjian ini, tema perang berkaitan erat dengan pembebasan dan penghukuman Allah. Dalam Keluaran hingga Yosua, Allah menggunakan perang bukan hanya untuk
membawa Israel keluar dari tanah Mesir menuju Kanaan namun juga memberikan penghukuman bagi bangsa-bangsa yang melawan Israel. Hal ini berkaitan dengan
perjanjian Allah dengan Abraham, “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau,” (Keluaran 12:3). Oleh sebab itu, peperangan Israel tidak terlepas dari tema pembebasan dan penghukuman.
Pola pembebasan dan penghukuman juga menjadi pola yang selaras dengan berkat dan kutuk. Dalam akhir Ulangan 11:26-29, pemahaman berkat dan kutuk dikaitkan dengan kesetiaan Israel pada perjanjian dengan Allah. Sehingga dalam kitab Hakim-hakim kita dapat melihat bagaimana ketidaksetiaan Israel pada Allah menghadirkan perang sebagai hukuman, dan pertobatan Israel juga menghadirkan perang sebagai pembebasan. Tema perang sebagai penghukuman dan pembebasan dari Allah juga terus berlanjut dalam kitab-kitab sejarah hingga nabi-nabi. Dalam 1Raja-Raja 22:1-40 Allah menggunakan perang sebagai hukuman bagi Ahab, sedangkan dalam Ester Allah menggunakan perang untuk melindungi dan membebaskan Israel dari ancaman pemusnahan oleh Haman.
Pemahaman perang sebagai pembebasan juga nampak dalam kitab Yesaya dimana perang disatu sisi menjadi hukuman bagi ketidaksetiaan Israel, namun juga disisi lain perang menjadi pengharapan akan pembebasan Israel dari pembuangan. Pemahaman perang sebagai pembebasan bukan sekedar terjadi secara fisik, namun juga secara
spiritual dan eskatologis. Dalam Zakharia 14 diperlihatkan bagaimana Allah
menggunakan perang untuk menghukum dunia dan menghadirkan kerajaan Allah di dunia. Lebih lanjut, dalam kitab Wahyu tema perang sebagai penghukuman dan pembebasan juga terus disampaikan. Secara eskatologis, perang digambarkan sebagai cara Allah untuk menjatuhkan hukuman, memusnahkan kuasa jahat, dan menghadirkan pembebasan bagi orang-orang yang percaya kepada Allah.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa pemahaman perang dalam Alkitab secara berlanjut memperlihatkan tema penghukuman dan pembebasan. Bagi umat Allah yang beriman pada Allah dan taat pada perjanjian Allah, perang akan menjadi sebuah bentuk pembebasan, baik secara politik maupun secara spiritual. Sedangkan bagi orang tidak percaya, perang menjadi bagian dari cara Allah menghukum mereka dan
menyatakan kerajaan dan kuasa-Nya. Selain itu, dalam tema penghakiman dan penghukuman inilah pemahaman mengenai Iman, ibadah, dan Kerajaan Allah saling terkait satu dengan yang lain.429
429 Sekalipun pemahaman mengenai tema kerajaan Allah yang dikaitkan dengan perang lebih sering muncul dalam literatur masa pembuangan, namun konsep bahwa kerajaan Israel adalah kerajaan milik Allah sudah muncul bersama dengan kesadaran bahwa Israel adalah umat pilihan Allah.
Diskontinuitas Perang
Perang dalam Alkitab bukan hanya memberikan keberlangsungan tema dari Perjanjian Baru menuju Perjanjian Lama, namun juga menunjukkan beberapa aspek yang tidak berlanjut. Aspek yang pertama adalah Aspek perebutan wilayah dan
mempertahankan wilayah. Tema perebutan wilayah dalam perang hanya muncul dalam situasi dimana Israel mau masuk menuju tanah Kanaan, sedangkan setelah masuk ke tanah Kanaan aspek perebutan wilayah tidak nampak lagi. Lebih banyak tema
mempertahankan wilayah muncul setelah Israel masuk ke tanah Kanaan, terutama dalam kitab Hakim-hakim. Hal ini berhubungan dengan kondisi sosial dan politik Israel, dimana terjadi perubahan status dari bangsa yang baru bebas menuju bangsa yang menetap. Perubahan status ini mempengaruhi perubahan aspek perang dari tema perebutan wilayah menuju tema mempertahankan wilayah.
Aspek kedua yang tidak berlanjut adalah aspek politik. Dalam peperangan Israel, aspek politik lebih banyak muncul dalam masa kerajaan dimana relasi Israel dan bangsa-bangsa lain memungkinkan muncul perang-perang dengan alasan politik, seperti yang dilakukan oleh Ahab dalam 1Raja-Raja 22. Sekalipun demikian, kehancuran kerajaan Israel pada masa pembuangan dan munculnya perubahan dari umat Allah secara nasional menuju umat Allah secara spiritual, menjadikan tema politik berhentim dari relasi dengan perang. Sekalipun pengharapan Mesianik orang-orang masa intertestamental bahkan hingga Perjanjian Baru memberikan gambaran tentang pengharapan Mesianik secara politik, namun Alkitab dengan pasti menunjukkan bagaimana Mesias hadir untuk
politik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa aspek politik dalam perang mengalami ketidakberlanjutan (discontinuity).
Aspek ketiga adalah aspek fisik. Dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam masa Musa hingga masa kerajaan, peperangan terjadi secara fisik. Peperangan Israel melawan Moab, Filistin, Amalek, dan bangsa-bangsa Kanaan terjadi dengan pertumpahan darah. Meskipun dalam peperangan fisik beberapa bangsa memahami adanya unsur spiritual, yaitu peperangan antara Allah Israel melawan ilah bangsa lain, namun unsur spiritual ini tidak menjadi bagian yang dominan. Akan tetapi, peperangan Israel secara fisik mulai berganti di masa pembuangan, dimana Israel tidak lagi memiliki raja dan pasukan. Kehancuran kerajaan Israel dan munculnya kembali pemahaman mengenai kerajaan Allah yang universal dan spiritual membuat pemahaman perang juga berganti dari perang antara Israel dan bangsa-bangsa lain secara fisik, menuju perang Allah yang sifatnya spiritual. Hal ini nampak dalam nubuatan nabi-nabi masa pasca pembuangan, seperti Yesaya dan Zakharia yang melihat bahwa dalam peperangan eskatologis, Allah tidak berperang sekedar melawan bangsa-bangsa yang berdosa, namun melawan kekuatan jahat. Oleh karena itu, peperangan ini tidak bisa dikatakan sebagai perang fisik, namun lebih mengarah pada perang spiritual dan eskatologikal.
Selain itu, pemahaman mengenai umat Allah juga mengalami perubahan di masa pembuangan. Kehancuran kerajaan Israel mengakibatkan konsep umat Allah lebih bersifat spiritual. Dimana umat Allah atau kaum remnant tidak lagi sekedar dilihat berdasarkan asal usul bangsa, namun lebih dilihat berdasar kesetiaan pada Allah. Hal ini makin jelas dengan dalam Perjanjian Baru, terutama melalui pelayanan Paulus. Dimana umat Allah, keturunan Abraham bukan lagi berbicara masalah genetik, namun lebih pada
masalah spiritual. Oleh karena itu, Paulus mengatakan mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham (Galatia 3:7). Dengan berubahnya pemahaman umat Allah secara nasionalis menuju spiritual, maka pemahaman mengenai perang fisik juga berhenti. Sebab tidak ada satupun bangsa yang dapat membenarkan perang dengan landasan bahwa mereka umat pilihan Allah, sebab umat pilihan bukan masalah politik atau nasionalisme tertentu, namun masalah iman dan relasi spiritual dengan Allah yang hidup. Dengan demikian, landasan untuk berperang secara fisik dalam Alkitab
mengalami diskontinuitas, sekalipun peperangan seca4ra spiritual tetap berlangsung hingga akhir zaman.
Sintesis Biblikal-Teologis tentang Perang dalam Alkitab
Dengan melihat adanya sisi-sisi yang berlanjut dan adanya bagian-bagian yang tidak berlanjut dalam perang. Ditambah dengan adanya data-data mengenai perang yang didapat dari penelusuran dalam bab tiga. Maka perlu adanyan sebuah sintesa Biblikal-Teologis mengenai perang dalam Alkitab. Dalam bagian ini, penulis akan
membandingkan hasil yang diperoleh dengan pemahaman dari dua tokoh yang terlebih dahulu membahas mengenai perang, yaitu Susan Niditch dan Tramper Longman.
Secara umum, perang dalam Alkitab dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu perang secara fisik atau spiritual. Perang secara fisik dalam Alkitab terjadi lebih banyak dalam relasi antara Israel dengan bangsa-bangsa lain, sebagai contoh perang antara Israel dan Mesir (Keluaran 15), Israel dan Yerikho (Yosua 5:13-6:27), Israel dan Kanaan (Hakim-Hakim 4-5), dan lain sebagainya. Sedangkan, perang spiritual lebih banyak muncul dalam Perjanjian Baru, dimana perang spiritual berkaitan erat dengan
kekuatan dewa-dewa, penguasa-penguasa di udara, dan musuh-musuh supranatural. Dari dua bentuk perang yang terjadi dalam Alkitab, muncul beberapa pemahaman mengenai perang, antara lain;
Perang sebagai Bentuk Ibadah
Kehidupan Israel kuno tidak pernah lepas dari kehidupan ibadah. Longman dan Reid menyatakan bahwa “In ancient Israel, all of life was religious, all of life was related to God.”430 Hal ini juga termasuk permasalahan mengenai perang. Dalam pemahaman Israel kuno, perang dipahami sebagai bagian dari ibadah. Hal ini ditunjukkan melalui penggunaan kata herem dalam beberapa teks perang, salah satunya dalam Ulangan 20:17.
Penggunaan kata herem dalam Alkitab menunjukkan dua makna, yaitu makna dikhususkan atau ditentukan untuk dihancurkan. Dalam Imamat 27:28 kata herem digunakan dalam konteks persembahan nazar memiliki makna dikhususkan. Hal ini seperti yang terjadi dalam kisah Hana yang mempersembahkan Samuel atau kisah Simson yang dikhususkan bagi Allah. Penggunaan kata herem ini berbeda dengan pemahaman dalam Ulangan 20, dimana dalam konteks perang, kata herem digunakan dalam makna ditentukan untuk dihancurkan, hal ini merujuk pada Ulangan 7:26. Pemahaman ini nampaknya sejalan dengan konsep Timur Dekat Kuno yang tercatat dalam inskripsi Mesha yang berisi;
So I went by night and fought against it from the break of dawn until noon, taking it and slaying all, seven thousand men, boys, women, girls, and maid-servants for I had devoted them to destruction for (the god) Ashtar-Chemosh, (ANET, 321, trans. W.F. Albright).431
430 Tremper Longman III dan Daniel G. Reid, God is a Warrior (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1995), 32.
431 Susan Niditch, War in Hebrew Bible: A Study in the Ethic of Violence (Oxford: Oxford University Press, 1993), 31.
Pemahaman herem yang merujuk kepada tindakan penghancuran ini nampaknya memiliki kemiripan dengan pemahaman herem mengenai makna dikhususkan untuk dihancurkan. Sekalipun demikian, Niditch melihat ada perbedaan besar antara
pemahaman Israel dengan kebudayaan Timur Dekat Kuno dimana penghancuran yang dilakukan oleh Israel bukan semata-mata untuk kehancuran namun lebih dilihat sebagai tindakan ketaatan dan pengabdian (devotion).432
Tindakan pengabdian merupakan bagian dari ibadah kepada Allah. Hal ini juga ditemukan oleh Longman dalam penelitiannya mengenai perang dalam Ul. 7, 23, Yos. 5, dan 1 Sam 13 yang menunjukkan bagaimana Israel harus melakukan beberapa hal dalam persiapan sebelum perang. Longman dan Reid menyatakan,
Many of the acts that preceded a war in the Hebrew Bible indicate the religious nature of the conflict. Sacrifice, circumcision, vows, oracular inquiries, ritual cleanness-each of
these elements announced Israel’s understanding that God was present with them in
battle.433
Tindakan pengorbanan, penyunatan, hingga ritual pembersihan adalah bagian dari ibadah Israel yang secara umum juga dilakukan di luar konteks perang. Tindakan ibadah ini dilakukan dalam perang sebagai bagian dari pemahaman Israel akan kesadaran kehadiran Allah dalam pertempuran. Kehadiran Allah yang Kudus, yang kepadanya Israel diundang untuk menjadi bagian dari tentara Allah yang Kudus, menjadikan Israel wajib juga menguduskan diri mereka dalam ibadah-ibadah sebelum mereka maju dalam perang.
Perang sebagai tindakan ibadah juga dilihat oleh Niditch dalam penelitiannya mengenai teks-teks perang dalam kitab-kitab Ulangan dan Yosua. Berbeda dengan
432 Niditch, War in Hebrew Bible, 32.
Longman, Niditch lebih menekankan pemahaman herem sebagai bentuk ibadah pengorbanan. Niditch menyatakan bahwa
The ban-as-sacrifice is the ideology behind many of the brief comments on the conquest of cities in Joshua 8 and 10. Humans but not animals or inanimate booty are always devoted under the ban in this context for they are the most valuable offerings.434
Dalam pemahaman ini, kehancuran total dari bangsa Kanaan dilihat sebagai bentuk ibadah pengorbanan. Ibadah pengorbanan ini memungkinan merujuk pada korban
penebusan dosa dalam Keluaran 30:10. Hal ini dikuatkan dengan fakta bahwa objek yang ditentukan untuk dihancurkan (herem) adalah objek yang berdosa dimana mereka pantas dan layak membayar hasil dari tindakan mereka, yaitu kematian. Hal ini selaras dengan penyataan Paulus dalam Roma θμ23a “Sebab upah dosa ialah maut”. σiditch juga
menambahkan bahwa kematian dan perang sebagai bentuk pengorbanan merupakan salah satu cara memuaskan murka Allah atas dosa.435 Hal ini bukan hanya terjadi bagi umat non-Israel, namun juga terjadi bagi umat Israel yang melakukan dosa, seperti dalam kisah Akhan (Yosua 7).
Pemahaman mengenai korban penghapusan dosa dan pendamaian yang dikenakan pada konsep herem nampak dalam Perjanjian Baru melalui kematian Kristus di kayu salib untuk menggenapi nubuatan Yesaya 53. Dalam Yesaya 53 digambarkan bagaimana hamba yang menderita harus dihina, menderita, dan mati untuk menanggung dosa manusia. Hal ini sejalan dengan penyataan Rasul Yohanes, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” (1Yohanes 2:2) Dalam bagian ini, kematian Kristus di kayu salib untuk
434 Niditch, War in Hebrew Bible, 37. 435 Niditch, War in Hebrew Bible, 40.
menanggung dosa manusia menggenapkan konsep herem sebagai pemuasan murka Allah atas dosa.
δebih lanjut, penggunaan kata “rampasan” pada Yesaya η3μ12 memberikan indikasi adanya nuansa perang dalam bagian ini. Selain itu, penggunaan kata “rampasan” menunjukkan bahwa kematian Hamba yang menderita dalam Yesaya 53 bukanlah bentuk kekalahan namun justru adalah kemenangan. Oleh sebab itu, kematian Kristus di kayu salib juga merujuk kepada kemenangan total atas dosa. Paulus dalam 1Korintus 15:54c menyatakan “εaut telah ditelan dalam kemenangan.” Hal menggambarkan kematian dan kebangkitan Kristus sebagai kemenangan atas kuasa dosa. Dengan demikian, tidak berlebihan jika dalam konsep penebusan dosa yang Kristus lakukan, umat Kristiani abad pertama menggambarkan kemenangan Kristus dengan gambaran penyambutan seorang pahlawan Perang yang pulang dengan membawa kemenangan (Filipi 2:8-11).
Perang sebagai Jalan Pembebasan
Perang bukan hanya dipahami oleh bangsa Israel sebagai bagian dari ibadah pada Allah, namun juga sebagai sebuah pembebasan. Dalam sejarah kehidupan Israel, Allah berulang kali menggunakan perang untuk membawa Israel terbebas dari ancaman musuh. Dimulai dengan perang Allah melawan Mesir hingga pada perang melawan Filistin, Amalek, dan bangsa-bangsa di sekitar Kanaan. Konsep perang sebagai jalan Pembebasan tidak terlalu nampak dalam pembahasan Niditch, sebab penekanan utama dari
pembahasan Niditch lebih pada keadilan Allah dan penghukuman Allah. Sedangkan dalam Longman, perang sebagai jalan pembebasan dibahas secara singkat dalam pemahaman Allah sebagai pahlawan perang yang berperang bagi umatNya yang setia.
Pemahaman perang sebagai jalan pembebasan digambarkan secara jelas dalam kisah keluarnya Israel dari Mesir (Keluaran 14-15). Peristiwa Keluaran menjadi pola bagaimana Allah menggunakan perang untuk membebaskan umatNya dari penindasan. Peristiwa Allah yang menyelamatkan umat yang tak berpengharapan dari perbudakan tirani menjadi berita yang tertanam kuat dalam hati Israel.436 Keyakinan Israel atas Allah yang membebaskan juga terus muncul dalam masa-masa sulit Israel, terkhusus dalam berita pengharapan dan nubuatan masa pembuangan. Oleh karena itu, tidak
mengherankan jika gambaran Mesias sebagai pahlawan yang membawa pembebasan bagi umat-Nya sangat kental dalam literatur masa pembuangan, seperti pada Yesaya 42:10-43:7, bahkan hingga abad pertama Masehi (1 Henokh 52, Barukh 4-5, Mazmur Salomo 17-18).
Gambaran Mesias yang membawa pembebasan bagi umat-Nya, merupakan perkembangan dari pemahaman mengenai Mesias sebagai anak Daud. Loren T. Stuckenbruck menyatakan bahwa figur Mesias yang berkembang dalam masa
pembuangan hingga abad pertama masehi dalam pemikiran umat Yahudi berakar kuat pada figur Daud dan Allah sebagai Pahlawan Perang.437 Gambaran ini muncul berkaitan dengan kondisi sosial-politik masa pembuangan dan pasca pembuangan, sebagaimana yang ditemukan juga dalam kitab Yesaya dan Zakharia.
436 Niditch, War in Hebrew Bible, 143.
437 Loren T. Stuckenbruck, “εessianic Ideas in the Apocalyptic and Related δiterature of Early Judaism”, dalam The Messiah in the Old and New Testaments, ed. Stanley E. Porter (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2007), 112.
Selain itu, S. Talmon menyatakan bahwa penekanan antara pengalaman historis dan utopianisme mistis juga mewarnai pemahaman dari konsep Mesias dalam masa pembuangan dan pasca pembuangan.438 Dalam pemahaman inilah nuansa spiritual dalam konsep Mesias berkembang dan mempengaruhi munculnya pemahaman mesianik dalam Perjanjian Baru. Tema-tema seperti hari Tuhan, Kerajaan Allah, dosa, dan penebusan dalam Perjanjian Baru banyak mengandung nuansa spiritual, seperti yang terdapat dalam Matius 24;3-14, Efesus 6:10-20, Wahyu 16, 20. Dalam nuansa spiritual dan eskatologis, pembebasan dikaitkan dengan dosa. Paulus dalam Roma 6:15-23 menjelaskan kuatnya ikatan dosa dengan gambaran perbudakan, dimana orang berdosa diikat dan diperbudak oleh dosa. Dalam perbudakan dosa inilah, Allah menghadirkan Kristus sebagai
pembebas. Longman menyatakan bahwa Paulus menggambarkan penebusan Kristus sebagai tipologi dari Keluaran yang baru dimana umat Allah dibebaskan dari ikatan