Melatih
Asertivitas
PadaAnak
UsiaDini
Mrrhlaarqtqtl
muthmainn ah@uny . ac.rdPGPAUD Universitas Negeri Yogyakarta
Abstrak
Sikap asertif ditunjukkan
dengan
berani
mengungkapkanpikiran
dan
perasaan, mempertahankanhak
atau
kepentingannya, tanpamenyakiti
atau merugikan orang lain'
Aserlif tidak
hanya berlaku
ketika
seseorang menyatakan ketidaksukaan atau perbedaan pendapat,tapi
juga
mengungkapkan pendapat yang sama atauyang
menjadi kesukaannya.Meskipun
pada umumnya masalahyang muncul
terkait
dengan asertivitas adalah tentangkemampuan
seseorang
untuk
menyatakan ketidaksukaan
atau
perbedaan
pendapat. Asertivitas tidak hanya perludimiliki
orang dewasa, tapijuga
perludimiliki
anak-anak. Agaranak mampu
memiliki
sikap asertif, maka anak
perlu
dibekali
dengan
kemampuan berkomunikasi yangbaik.
Anak-anak usia prasekolahperlu
dikenalkan dengan sikap asertif seiring dengan kemampuan bahasanyayang sudah berkembang denganbaik
dan agar anak-anak mampu bersikap tegas, mampu memilah saat yang tepat untuk bersikap aserlif dan non asertif,tidak
menjadi orang yang tertekan,dirugikan
serta menjadi anak yangmandiri
dan percayadiri.
Kata kunci:
latihan, asertivitas, anak usiadini
Abstract
Indicated
assertivenessare
express thoughts andfeelings,
to
defend therights
or
interests,without hurting
or
harming
others. Assertive doesnot only
apply when aperson
expresses displeasureor
dissent,but
also
expressedthe
sameopinion
or
that
became hisfavorite.
Although in general issues that arise related to assertiveness is about one'sability
to express displeasureor
dissent. Assertivenessnot only
need as adults,but
it
also
needsto
have the kids. Sothat children are
ableto
have the assertiveness,the children
needto
be equipped with good communication skills. Preschool children need to be introducedwith
qssertiveness alongwith
her languageskills
are alreadywell
developed and so the children are able to beossertive,
able to
soytout
theright
time
to
be assertive and non-assertive,not
a
depressed person, and achild
injured independent and confident.a
Keywords: exercise, assertiveness, early chilhood
Pendahuluan
Anak usia
dini
berkembang melaluipengalaman
yang
diperoleh
dalam kehidupan nyata, termasukketika
bergauldengan
teman
sebaya.
Dalam
menjalin pertemanan,tak jarang
anak
mengalami peristiwa dan kejadian yang membuat anakperlu
berpikir
tentang
bagaimana
catamenyikapinya.
Anak
merasa
kecewaketika
mainannya
direbut, anak
merasasedih
ketika
mainannya
dirusakkantemannya,
anak
merasa
takut
ketikatemannya
mencubit
atau
memukulnya, anak menangis ketika teman mengejeknya, dan anaktidak
berani mengatakan sesuatuuntuk
mengutarakan keinginannya. Anak cenderungmemilih untuk
diam, menangisatau
mengadukan
pada
orang
tua
dangurunya. Kejadian
tersebut menunjukkan bahwa anakbelum
memiliki
sikap
asertifJurnal Pendidikan Anak. Volume
II.
Edisi
1. Juni 2013dalam
menyikapi
masalah.Akibatnya
ada perasaan kecewayang
dipendam, merasaditekan,
tidak
berdaya
dan
dirugikan.Apabila
anak-anak mengalami
terlalu
banyak emosi
yang tidak
menyenangkandan terlalu sedikit emosi
yangmenyenangkan,
maka dapat
berdampakpada
kehidupan
yang
menyimpang
dandikhawatirkan selanjutnya
anak
akanmengembangkan
"watak yang
tidak
menyenangkan"
(Hurlock,
1978:
23I).
Oleh
karena
itu,
anak
perlu
dibekali denganketerampilan
sosial (social
skill)
agar mampu
menempatkan
diri
sesuaikondisi,
mampu
membedakansaat
yang tepatuntuk
bersikapasertif
dan saat yangbijak untuk
bersikap
non
asertif (rnengalah).Sikap
mengalah
tak
sepenuhnyabernilai
negatil-.Ada
sisipositif
yang bisadimaknai
dari
sikap
mengalah,tapi
tidak
sepenuhnya seseorang
harus
"selalu"
mengalah.
Asertivitas
diperlukan
agaranak mampu bersikap tegas
dan
tidak
menjadi
pribadi
yangdirugikan.
Tentunyasikap asertif
ini
perlu
dilatih
pada
anak agar anak dapat menempatkan sikapasertif
dengan
tepat.
Artinya tepat
dalampemilihan kata-kata
agar
tidak
menyinggung perasaan
orang
lain.
Sikapasertif
tidak
muncul
secara
tiba-tiba, memerlukan proses dan pembiasaan. Perluarahan, bimbingan
dan
dukungan
dari orang dewasadi
sekitar
anak.Dalam
halini,
orang
tua perlu menjadi
role
model dalam penanaman sikap asertif pada anak.Apabila
orang
tua
mamptr
menunjukkandan
memberikan
contoh
aara
bersikapasertif, maka akan
berdampakpula
pada sikap anak yang mampu bersikap aserlif.Asertivitas
Asertif
adalah
kemampuan untuk menyampaikan pendapatdan
menyatakanperasaan
terhadap
suatu
hal
tanpamenyinggung
orang
lain.
Pendapatlain
menyatakan
bahwa
asertif
adalahkemampuan
untuk
mengkomunikasikankeinginan,
perasaan,dan pikiran
kepadaorang
lain
dengan
tetap
menjaga
dan2so
menghargai hak-hak sefta perasaan orang
lain. Ketika
anak bersikap
asertif,
makaanak
dituntut untuk mampujujur
terhadapdiri
dalam
menyatakan
keinginan, perasaan, danpikiran
secara proporsional, dengan kata-kata yang sopan dan tanpa adamaksud
untuk
memanfaatkan
atau merugikan oranglain.
Asertif
tidak
hanyaberlaku
ketika
seseorang
menyatakanketidaksukaan
atau
perbedaan pendapat,tapi
juga
mengungkapkan pendapat yang sama atau yang menjadi kesukaannya.Hamzah
B
Uno
(2006:
77)
juga
berpendapat
bahwa
sikap
aserlif
merupakan kemampuan
menyampaikanpikilan
dan perasaan secara jelas, metnbeladiri,
dan rnempertahankan pendapat. Sikapaserlif
(ketegasan,
keberanian mengungkapkanpendapat)
meliputi
tigakomponen, yaitu
kemampuanmengungkapkan perasaan (menerima dan mengungkapkan rasa marah); kemampuan mengungkapkan keyakinan dan pemikiran
secara
terbuka (mampu
menyuarakanpendapat,
menyatakan
ketidaksetujuan); kemampuanuntuk
mempertahankanhak-hak pribadi (tidak
membiarkan orang lain mengganggu dan memanf-aatkan dirinya).Orang
aserlif
bukanlah orang
yang
sukaterlalu
menahan
diri
dan
juga
bukanpemalu,
merekamampu
mengungkapkan perasaan secara langsung tanpa bertindak agresif atau melecehkan orang lain.Sikap asertif mengajak anak untuk
bersikap tegas
ketika
dihadapkan
pada situasi yangtidak
diinginkan
dengan carayang diterima
secarasosial. Sikap
asertif terletakdi
antara duasisi, yaitu pasif
danagresif. Pasif
arlinya
anaklebih
memilih
untuk
diam dan
membiarkan
apa
yangterjadi
pada
dirinya.
Anak
merasa tidakberani
melawan
saat
orang
lainmemperdayatnya.
Sedangkan
agresifartinya anak
ingin
melawan orang
lainyang
memperdayainya.
Sikap
asertifterletak
di
tengah-tengah keduasikap
ini. Sebaiknya anaktidak
hanya berdiamdiri
saat
ditekan
atau
dirugikan,
tapimenyatakan sesuatu
kepada orang
lain dengan carayangbaik, yaitu
denganJurnal Pendidikan Anak, Volume
II
,
Edisi
1. Juni 2013kata dan
sikapyang
tidak
menyakiti
dan menyinggung perasaanorang
lain.
Sikapasertif
memiliki
dampak
positif,
yaituadanya
perasaanbebas,
tidak
tertekan,memiliki
power
dalam
hubungan,sehingga
tidak
dipandang
remeh
olehorang
lain
(bisa diperdayai) dan
menjadipribadi yang
percaya
diri
dan
mandiri.Dampak
tersebut tentunya
akanbermanfaat dalam proses pendewasaan
diri
anak kelak.
Asertivitas
merupakanketerampilan sosial
(social
skill)
yangdapat mendorong
perkembangan
sosialanak.
Perkembangan
sosial
merupakanperolehan kemampuan berperilaku
yangsesuai dengan
tuntutan sosial
(Hurlock,1978:
250). Anak yang
mampumenyesuaikan
diri
diharapkan
mampu menjadi pribadi yang bahagia.Faktor-Faktor
yangMempengaruhi
Sikap asertif
yang
dimiliki
oleh anaktidak
terlepasdari
faktor_faktor yangberasal
dari
lingkungan
sekitar
anak. Adapunfaktor-faktor
yang mempengaruhi sikap aserti f,
antar alain:
a.
BudayaNilai-nilai
budaya
yang
dianutsuatu
daerahmisalnya
bud,ayalawa,
memiliki
pandangan
bahwa
sikapmengalah
dan
lebih
mementingkankepentingan
orang
lain
adalah
slkapyang
mulia. Hal
ini
diperkuat denganfalsafah
"wong
ngalah
dhuwurwekasene"
yang
artinya
orang
yang mengalahtinggi
kemuliaannya.Nilai
dan pandanganini
tampaknya berlolak belakang dengan sikap asertif. pepatahyang
mengatakan
bahwa ,.diam itu
emas" tampaknya
juga
berseberangan dengan sikap asertif. Dalam pemyataan tersebut,diam
dapat dimaknai
,,lebihbaik
mengalah
agartidak
meniimbahrumit
masalah".b.
KeluargaKeluarga khususnya
orang
tuamemberikan
banyak
kontribusiterhadap sikap asertif anak. Asertivitas
tidak
tumbuh dengan baikkarena
gaya pengasuhanyang
bisa
jadi jauh
darisikap asertif. pada
saat anak
sedangasyik
bermain
dengan
teman_temannya,
tiba-tiba
anak
mendatangiorang
tua
dan
mengadu
kalau
ada temannya yang mengganggu. Sebagianorang
tua
merespon
kejadian
ini
dengan mengatakan
,.ya
sudah,di
sinisaja, bermain
dengan
ibu,,.
Bahkanbeberapa
orang
tua
berpesan
padaanaknya
apabila
di
sekolah
anakdiganggu
oleh
temannya,
maka
anakdiminta untuk
mengaduke
guru
dan meminta guru berperan sebagai hakim.Kejadian
lainnya
adalah
anakmelihat
kejadian yangkontradiktif.
Di
satu sisi anak melihat bahwa ayah atauibunya
dengan
tersenyum
danmengatakan
,.tidak
apa_apa,, ketikadimintai tolong
tetangga,tetapi
di
sisilain
anak
mendengar
keluhan
ataugrundelon
orang tua
yangmengisyaratkan
bahwa
ia
seben arnyakeberatan
jika
dimintai
tolong.Fenomena
yang dilihat
anakmenunjukkan
adanya
ketidakkonsistenan
antata
perkataan
danperbuatan.
Hal ini juga
bisamenggambarkan betapa lemahnya dak
mudahnya
seseoranguntuk
memiliki
sikap asertif.Mengapa Sulit
Untuk
Bersikap
Asertif
?_
Sebagian orang berpendapat bahwadengan bersikap
asertif
justiu
dapatmemunculkan
perasaanbersalah
(guitt),takut
mengecewakan oranglain,
membuatorang
lain
sakit hati, dan
merasa sedihapabila temannya
tak lagi
menerima atau menyukainya. Pendapatini
diperkuat olehfalsafah budaya, khusunya budaya
Jawayang
lebih memilih
untuk
menyenangkanorang
lain,
sehingga jarung
menyikapisuatu
hal
dengan
sikap asertif.
Namunperlu
dipertimbangkan
tentang
dampaknon asertif, yaitu ketika seorang anak lebih
memilih
diam ataupasif
makajustru
dapat merugikan hubungan yalah, makang
adakarena
salah satu anak
-.ruru
dimanfaatkan
oleh
anak
lain.
Selain
itu, sikap non asertif yangtidak
dikelola dapatJurnal Pendidikan Anak, Volume
II,
Edisi
1, Juni 2013memunculkan
Perasaan
tefiekan, merugikandiri
dan menyalahkandiri'
Oleh karenaitu,
perlu
adanya pemahaman padaanak tentang pemilahan
saatyang
tepatuntuk
bersikapasertif
dan saat yang tepat untuk mempeftahankandiri.
Asertivitas,
Bagian
Dari
Bentuk
Komunikasi
Komunikasi
meruPakan jembatan atau isyaratyang
mewakili
pendapat atauperasaan
seseorang.
Secara
teoritis,terdapat
tiga
bentuk
komunikasi
yangdiimplementasikan
dalam
kehidupannyata,
yaitu
agresif,
pasif atau
submisif dan asertif.a.
Agresil
Sikap aglesif ditandai dengan sikap
yang
lebih
suka
menyalahkan
ataumencari
kesalahan,
menuntut,
tidak mempertimbankan perasaan oranglain'
berkata peclas,membuat
alasan yanganeh
cenderung
sembarangan
asalbeda,
dan
sikaPnYa
cenderungmemancing
emosi orang
lain
(membuat orang sebal).
b.
Pasif atau submisif.Sikap
pasif
atau submisif
ditandai dengan sikap yang lebihmemilih
diam,lebih
suka
memendam
Perasaan?cenderung
menjadi pengikut,
seringmerasa
dirugikan
atau
tidak
berdaya, dan tidak berani melawan.c.
Asertif
Sikap asertif ditandai dengan sikap
tegas dalam
menYatakan keinginan,p.iuruurr,
Pikiran darr
Pandangan,disertai alasan yang kuat, disampaikan
dengan sopan, dan
tetaPmempertimbangkan
Perasaan
oranglain.
Sikap asertif tumbuh dan berjalan melalui Proses.Permasalahan yang muncul diharapkan
dapat
diselesaikan dengan
baik
melaluikomunikasi
positif,
baik
secara
lisanmaupun
non
lisan.
Komunikasi positif
,""uiu
lisan
dapat
diungkapkan
melalui kata-kata, sedangkan komunikasi non lisan dapat diungkapkanmelalui
ekspresi wajahseperti
tersenYum,
acungan
jemPol,252
gelengan
kepala, gerakan tangan Iang
mengisyaratkan
"tidak"
dan
sebagainya'Asertif
merupakan salah satu bagian darikomunikasi yang
perlu
ditanamkan sejakdini.
Penanamansikap
asertif
sejak dini
dapat
melatih
keberanian berkomunikasipotiUf.
Seringkali
terjadi
anak.
hanyamemilih
diam,
atau mengadu pada orangtua
dan
gurunya atau
menangis
ketikadisakiti
timan.
Dampak
yang
terjadiadalah anak akan terus menjadi objek atau
sasaran
empuk
untuk disakiti'
Tidak
adanyakomunikasi
positif
seperti aserlif
menyebabkan
Pelaku (teman
Yangmenyakiti)
berani
untuk
mengulangiperbuatamrya
kalena objek atau
sasaranyurrg
disakiti
tidak
melawan
meskipun denganlisan
atau kata-kata.Oleh
karenaitu,
orang
dewasa(orang
tua,
pendidik)perlu
membiasakananak
memiliki
sikap asertif.Asertif,
Solusi
Alternatif
Dalam
MenghadaPi
Tantangan Sosial
PadaAnak
UsiaDini
Dalam
kehiduPan
sosial,
anakbelajar
berinteraksi,
berkomunikasi
danmenyelesaikan
masalah.
Pada
umumnya orangtua
akankhawatir
apabila anaknyamenghadapi tantangan
sosial'
Namun, orungtua
dan pendidik
perlu
memahamibahwa pengalaman sosial
yang
diperolehanak
dapat mempengaruhi
self
esteem(harga
diri).
Dalam
Santrock
(2007:
68)dijeLskan
bahwa
sef
esrcem
akanmlningkat
ketika anak mengalami masalahdan
mencoba
mengatasinya
ketimbang menghindarinya (Compas, 2004; Folkman&
Moskowitz,
2004).
Saat
anakmempunyai masalah dengan
temannyar.p..ti
berselisih
pendapat,
bertengkar,tidak
mempunyai teman,menjadi
korbanbully
dan masalah
lainnya, maka
anakakan merasa tefiantang dan memacu agar
belajar
menyesuaikandiri,
belajar
untukmenyelesaikan
masalah
agff
daPat mengatasi perselisihandan akhirnya
bisaditerima
secara
sosial.
Apabila
anakJurnal Pendidikan Anak, Volume
II
,Edisi
1, Juni 2013dan
dapat
meningkatkan
self
esteem.Sebaliknya,
apabila
anak
hanya
diam,tidak
berani
melawan
dan
akhirnyatertekan ketika
disakiti
dapat menyebabkananak
merasa
rendah
diri
atau
minder, merasa bersalah, merasatidak
berguna dantidak
berdaya. Pada
dasarnya
masalahyang
dihadapi anak dapat
menjembatanianak
mencapai
kematanganpribadi
dan sosial. Salah satu keterampilan yang perludilatih
pada
anak
untuk
menunjanghubungan personalnya adalah keterampilan asertif.
Asertif
danKemandirian
Sikap asertif berkaitan erat dengan kemandirian.
Anak
yang asertif akan lebih mandiri untuk mengambil keputusan tanpa harus bergantung dengan oranglain,
baikorang tuanya maupun
temannya.
Anak mampu menentukan sesuatu yang menjadipilihannya tanpa
tergantung
orang
lain.Ketika
anak ditanya "mau pake baju angrybird
atau
batman?,
maka anak
yangmemiliki
sikap
asertif akan
bisamenentukan
pilihan
sesuaikeinginan
dan kesukaannya. Gambaranlain
dapat diamatipada
sebuah lembaga
PAUD
yangmenanamkan
sikap asertif
pada
anakdidiknya
dengan membuat suatu
aturan"tidak
akan membantu apabila anak tidak menyatakan mintatolong".
Dengan asumsibahwa selama anak
mencobamelakukannya
sendiri dan
belummenyatakan
minta tolong,
maka
orangdewasa
(guru
di
PAUD
tersebut)menganggap bahwa anak tersebut
mampu.
,Yang Perlu
Diperhatikan
Dalam
memberikan
pemahaman
c.dan
pembiasaan
agar anak
mampubersikap
asertif, ada
beberapahal
yang. perlu diperhatikan, yaitu:a.
Karakteristik anakKetika anak
sudah
siap,
bisabersabar
dan tidak
menjadikan"mengalah"
sebagai masalah,
makaanak tersebut
dinilai
telah
mampu mengelolapikiran
dan
perasaan sertamemiliki
kematangan sikap. Anak maumengalah
bahkan
adakalanya mengorbankandiri,
tetapi
anak
tidak merasa terbebani.Maka hal
ini
tidakmenyebabkan
suatu
masalah, justru
anak
sejak
dini
anak
telah
memiliki
altruisme. Sikap
ini
terbentuk
karcnabeberapa
faktor,
diantaranya
model dan pembiasaan orangtua.
Selain itu,pada
dasarnya,
seorang
anak
akandapat
mengontrol
rangsangan emosi (emotional arousal) selnng kedewasaannya(Santrock,
2007:
9).Oleh
karena
itu,
orang
dewasa perlumengamati dengan
cermat
tentangragam
karakteristik
anak
yangmemiliki
keunikan masing-masing.Menanamkan kepercayaan
diri
GeA
confidence)Salah
satu
alasan
anak
lebihmemilih
untuk
selalu
mengalahterhadap
anak
lain
karena anaktidak
memiliki
keberanian
menampilkandirinya
sendiri, apalagi
'melawan'orang lain.
Anak-anak
perluditunjukkan dan
diberikan
keyakinanbahwa dirinya
memiliki
kemampuan(sef
fficacy),
sehingga
tidak
perlu merasakurang dari
teman-temannya.Keyakinan bahwa
dirinya
memiliki
kemampuan
dapat
mendorongmunculnya kepercayaan
diri
(sel./confidence),
sehinggatidak
ada
rasaminder
dan takut ketika
berhadapandengan orang
lain,
termasuk
orangyang
memperdayai atau menindasnya.Anak
diyakinkan
bahwaia
juga
kuat,berani,
bisa
berteman
baik,
pandai,punya
hak yang
sama dengan teman lainnya dan sebagainya.Memperluas j alinan peft emanan
Mengajak
anakuntuk
memperluasjaringan
sosialnya dengan
semakin banyak mengenal teman dapat menjadi salah satualternatif
agar anak semakinterasah perkembangan
sosial.
Anaktidak
hanyasekedarmemiliki
teman-teman
yang
"baik", tapi juga
perludihadapkan
pada
teman-teman yang"kurang
baik",
sehingga
anak
dpat melajar menyikapib.
Jurnal Pendidikan Anak, Volume
II,
Edisi
i'
Juni 2013d.
Memberikan PemahamanOrang tua
juga
Perlu mengenalkananak
agff
mampu memilah
danmemilih
saat Yang tePat anak
harusmengalah
(non
asertif) dan
saat yangtepat" untuk
bersikaP
asertif(memPefiahankan
diri)'
Anak
Yangmerasa tertekan ketika harus mengalah
terus dan
dimanfaatkan
temannYa'akan
berdamPak
negatif
bagi perkembangurrrYu,maka
anak
.Perluiltutit
untuk
bersikap
asertif'
Anak-anak yang mengatakandirinya
sebagaikorban
ttittying
mengakulebih
seringmerasa kesePian
dan
mengalamikesulitan dalam befieman'
Sedanghananak-anak
yang
rnelakukan
hillying
(pelaku)
lebih
cenderung
menriliki
nilai
rendah. Peneliti telah menernttkan bahwa anak-akan yang cemas, menarikdiri
secara sosial dan agresif seringkalimenjadi korban
bt'llying
(Flanish
&
Gueia,
2OO4dalam Santrock'
2001: 213)e.
Menghindari
pengasuhan yang- saratdengan
ancaman,
kriitik
berlebihan' sikaP mendikte, dan tertutuPAgar
anakberani
mengungkaPkanpikiran
dan
perasaannya,maka
orangiua
perlu
menghindari
ancaman atauintimidasi terhadap
anak'
Ancamanatau intimidasi
dapat
menyebabkananak menjadi takut
untuk menyampaikan PendaPat,dan
bahkan dapat memicu agresivitas anak'Untuk
mengembangkan
keterampilan
sikapasert]f pada anak, orang tua
juga
perlu menciplakankomunikasi yang
hangatdan terbuka.
Anak
akan
memahamidan
mampu
mengaPlikasikan
sikaPasertif apabila
memperoleh dukunganpositif
dari
orang
tua'
Melalui
tomunikasi
yang
hangat dan terbuka' anak akanmemiliki
kemampuan untuk menyatakan apa yangdiinginkan
padaorang
lain,
namun tetaP menjaga dan*"rr[hu.gui
Perasaan
orang.
lain'
SebJiknYa,
bentuk
komunikasi
Yangtidak
hangat
(mendominasi'
sukamengkritik, tanPa
komPromi'754
menyalahkan)
daPat
menumbuhkanrasa takut, cemas, ragu, dan akan selalu
menuruti
kemauan
orang
lain
tanPaberani
menYatakan
PendaPatnYa'Berbuat
kesalahan
adalah
hal
Yangwajar
terjadi
pada anak'Apabila
orangdewasa
tidak
memberikan
toleransi pada kesalahan anak, maka anak akanlebih
memilih
bersikaP
tertutuPdaripada
terbuka
misalnYa
denganbercerita atau
menYuarakanpendaPatnYa.
1.
Role model dari orang tuaOrangtua Perlu menj adi
role
modelbagi
unuk,rYu dengan
memberikan.oitoh. Orang tua
daPatmen-vampaikan
pendapatnya
dengan carayang
baik,
sehinggaanak
secaraticlak
langsung
belajar
tentangbagaimana bersikap
asertif
dengantepat. Olang
tua
daPat
berkata"Pendapatmu bagus,
tapi
bagaimatrakalau besok liburannya dr ternpat yang dekat saja
dulu,
karenabulan
ini
kita
harus
berhemat" atau
"Nak, ibu
tahukamu masih
ingin
bermain,
taPi sepertinyakita
hasrus segera pulang'Bagaimana menurutmu?"
atau "Gambarmu sudah bagus,tapi
bisakahdibuat
lebih
raPi
mewarnainYa?"'Berkaitan dengan Peran orang
tua'Santrock
(2007: 214),
berPendaPatbahwa orang
tua
Perlu
mendoronganak
untuk
menguatkan
Perilakupositif dan
meneladankan
interaksi interPersonal Yang semestinYa'Mengenalkan Asertivitas
PadaAnak
Ada
beberaPaalternatif
cara Yangdapat
dilakukan untuk
mengenalkan sikap asertif pada anak, Yaitu:a.
Mengenalkan makna asertifAnak
Perlu diberikan
Pemahaman tentang ,rruknu asertivitas atau bersikapasertif,
sehingga
anak
daPatmengetahui
saat
Yang
tePat- untuk
bersikap asertif
atau mempertahankandiri
dan saat yang tepat untuk bersikapnon
asertif
atau
mengalah
dalamJurnal Pendidikan Anak, Volume
Orang
dewasa
(orang
tua,
pendidik,pengasuh) memberikan
pemahamanpada
anak
bahwa
sikap
asertifdilakukan
tanpa harusmenyakiti
ataumenyinggung perasaan
orang
lain.Misalnya pada saat anak
menerima pemberian atau hadiahdari
orang lain,tapi
ternyata
anak kurang
menyukai,maka anak
diajarkan
untuk
tetaPmenghargai pemberian
orang
lain.Kata-kata seperti,
"Aku tidak
suka hadiahini"
sebaiknyatidak
diucapkananak.
Kata-kata
asertif
sebaiknyadisampaikan
dengan kata-kata
yangsopan,
dan
tidak
memperlihatkan
b.kekecewaan atau ketidaksukaan anak.
Kata-kata
yang kasar
daPatmenyebabkan
pemberi hadiah
merasa kecewa karena ternyata pemberiannyatidak
disukai'anak.Anak
dilatih
untukdiam (non asertif)
dariPadamengucapkan
kata-kata
Yangmenyakiti
atau menyinggung perasaanorang
lain.
Apabila anak
menerima sesuatudari
orangttanya
dan ternyataanak
kurang
menyukai
Pemberiantersebut,
maka
latih
anak
untukmengatakan "Terimakasih
bajunya, warnakuning
itu
bagus,tapi
bolehkahlain waktu
akuminta
warana merah?".Dengan kata-kata
yang
sopan, orang yang memberikantidak
begitu kecewa dan merasa bersalah dan akhirnya bisa mengetahui selera atau kesukaan anak.Nilai-nilai
dan
pandangan dalam masyarakatkhususnya
budaYa Jawa, menganggapbahwa sikap
rnengalahdan lebih
mementingkan kepentinganorang
lain
adalah
sikap
mulia
danutama.
Nilai
dan
pandangan
ini
tentunya sangat
tidak
mendukungmunculnya sikap asertif pada
anak.Nilai-nilai
tersebut
memiliki
sisipositif,
namun
juga
negatif.
Sisipositifnya adalah suatu
kemuliaanketika anak bisa berpikir agar
lebihbanyak
memberi
daripada menerima. Bisajadi
orangtua
menanamkannilai
padaanak
agar
anakbisa
mengassihidan
memberikan manfaat Pada orangII
, Edisi 1, Juni 2013lain
yang
berdampak pada kepuasaandiri.
Sedangkansisi
negatifnya adalahanak akan
merasatertekan dan
tidak berdaya karena merasa dirugikan. Sukamengalah
dan lebih
mementingkanorang
lain
bukanlah
masalah apabiladihadapi
oleh
anak-nak
yang
telahmencapai
kematangan
pribadi
dansosial.
Sebagai
orang
tua
sebaiknyacetmat
dalam
mendamPingi
anak-anaknya, sehingga anak-anaknya
dapatmemilah
dan
memilih sikaP
danmenyesuaikan
dengan
budaYa
Yangada.
Membiasakan berkomunikasi
Saat orang dewasa mengajak anak
berkomunikasi,
maka
secara
tidaklangsung
anak
diarahkan
untukmenyampaikan pendapatnya,
memberikan
respon tentang
ketidaksetujuan
atau
kesamaan
PendaPat dengan cata yang memperlimbangkan perasaan orang lain dan diterima secarasosial.
Anak usia
dini
umunnya
bersikap
polos
dan
spontan
dalammenyatakan
pendapat.
Hal
ini
dilakukan
karena anakbelum
mampumempertimbangkan
tentang
damPakperilakunya.
Oleh karena
itu,
orang dewasa dapat memberikan pengarahan agar sikap asertif yang dilakukan tidak menyinggung perasaan orang lain.Salah satu Yang
Perlu dipertimbangkan adalahperlu
adanyakesepakatan
bahwa orang
dewasamemperbolehkan
anak
untukmenyatakan ketidaksetujuan
atauketidaksukaan asalkan
dengan
kata-kata dan sikap yang
sopan.
Contoh anak yang menyatakan pendapat pada ibunya,"Ibu
jangan masak kayak gini,nggak
enak,aku nggak suka."
Orangtua
bisa
menanggapi kejadian ini
dengan menanyakan
alasannYa Pada anak," Memangnya kenapa, terlalu asinatau
kurang
apa?.Dengan
jawaban anak, maka orang tua bisa mengetahuialasan
anak
dan
berterimaksih
atasmasukan
yang diberikan. Orang
tuasebaiknya
tetap harus
mengajarkanJurnal Pendidikan Anak, Volume
II,
Edisi
1, Juni 2013c.
anak-anak
untuk
menunjukkan
sikapasertif,
tapi
dengan kata-kata
yang sopan.Misalnya
denganberbisik
dan tersenyum, anak mengatakan pada ibu,"Ibu,
aku suka sayurannya,tapi
terlaluasin,
besokjangan
kebaYakan garamya".
Pemilihan
kata
daPatmempengaruhi
nilai
rasa
kata
danmeminimalisir
perasaan
tersinggungorang
lain. Melalui
percakapan antara orangtua
dan anak, sebenarnya dapat menstimulasi dan mengajak anak untuk berpendapat, mengungkapkanperasaan,
menyatakan
PikirannYa, sehingga anak tidak diam saja.Latih
anakuntuk
mengatakan"tidak"
dengan kalimat yang tePatPada saat
anak melihat
temannYamelakukan tindakan
negatif,
makadoronglah
anak untuk
beranimemberikan teguran
ataurnengingatkan
teman.
Ketika
anakmendengar temannya
mengucaPkankata-kata
kasar
atau
jorok,
maka doronglah anak untuk mengatakan"Itu
perkataanyang
tidak baik,
sebaiknya kalau bicara yang sopan", atau"Kalau
kamu mau pinjam, bilang dong, jangan
asal
ngrebut".
Dengan
melatih
anak bersikap asertif, diharapkan anak tidakterpengaruh dengan
hal-hal
negatif
sekaligus
sebagai
kontrol
dalampeftemanannya.
Memberikan penguatan
Meminta
anak untuk
bersikaPasertif
denganbaik
bukanlah
perkara mudah. Pada anak-anak tertentu, orangdewasa merasa
kesulitan
ketikameminta anak
untuk
bercerita
ataubahkan
menyatakan
PendaPatDibutuhkan
pemahaman
danpembiasaan
dari
orang
dewasa
disekitarnya.
Ketika
anak
mampu menunjukkan sikap asertif, maka orangdewasa
(orang
tua,
guru,
Pengasuh)perlu
memberikan
penguatan, palingtidak
secara
verbal
misalnya "Ibu
senang
kamu
mau
mengingatkan temanmuyang
merusak tanamanibu"
atau"Ayah
bangga karena kamu beranimenegur teman yang mengganggumu"
atau "Ibu
senang
kamu
bisamenyatakan ketidaksukaan
kePada temanmu yang merebut mainanmu".Adakalanya
pada
anak-anaktertentu
sulit
untuk
menYatakan pendapat atau jarang bercerita. Apabila orangtua meminta anak bercerita, atauberpendapat
dan anak
maumelakukannya,
maka
orangtua
bisamemberikan penguatan.
ContohnYa:ketika
ibu membelikan kue. Selamaini
anak hanya diam,
tapi
suatu
waktu anak mengatakan padaibu, "Ibu,
akn bosan dengan kue sepertiini,
aku maukue
yang
lain".
Dengan
keberaniannaknya
menyatakan
PendaPat,
ibtl dapat memberikan penguatan. Contoh."Ibu
senangkalau kamu
terus terang.Nah,
begitu dong.Kalau
kakak bilang. ibujadi
tahu maunya kakak. Besok ibu belika kue yang lain Ya".Meminta anak untuk
memilih
Memilih
dan mengambil keputr"rsanberkaitan
dengan
kemandirian.Mintalah
anak
untuk memilih
sendirisesuai keinginan
dan
kesukaannya-tidak
harus bergantung pada orang tuaatau
temannya. Denganmelatih
anakuntuk
tidak
terus
menerus
menjadi"pengikut",
maka
orang
tua
telahmelakukan
suatu
upaya
untuk menumbuhkan sikap asertif pada anak'Minta
pendapat
anak
dalam
setiaPkesempatan.
Ketika
orangtua
ingin
membelikan sesuatu
untuk
anak-misalnya
membelikanbaju,
sebaiknyaminta
anak
untuk memilih. Cara
ini
dapat
digunakanuntuk melatih
sikapasertif
anak.
Alangkah
bijak
apabilakita
menanyakan
dan
memintapendapat anak.
Anak
akan
merasasenang
ketika
diikutserlakan
dalam memutuskan sesuatu.Mendorong anak
untuk
menYatakan pendapatOrang
tua
daPat
melatih
asefiif
anak untuk
menyatakan
PendaPat.Contohnya
ketika
ibua membeli
baju.ibu
dapat menanyakan pendapat anak d.f.
Jurnal Pendidikan Anak, Volume
II
,Edisi
1, .Iuni 2013o E'
tentang
baju yang dipakai.
Selain itu,anak
jrrga bisa
diminta
untukmenyatakan
pendapatnya
melaluicerita atau
dongeng.
Orang
dewasa dapat bercerita dan meminta pendapat anak dari cerita tersebut,"Kalau
kamulihat
kejadian seperti
itu,
apa
yangakan kamu
lakukan?',
ataumenanyakan
"Menurut
pendapatmu bagaimana?".Apapun
jawaban
yangdiberikan
oleh
anak tetap
harus dihargai.Mengajarkan pada anak untuk
memilih
bertahan daripada menyerangPertengkaran
dan
perselisihanbukanlah
hal
asing
bagi
anak-anak.Apabila
anak-anak
mer:rgalamiperselisihan
atau pertengkaran, maka latihlah anak untuklebih
baik bertahan daripada menyerang.Contoh perselisihan verbal :
A
:"E...bajunyajelek".
B
: "Daripada nggak pake baju".A
:"Kayak
oranggila".
B
: "Yang penting nggak gila".Apabila anak
mengalamipertengkaran
fisik,
maka
orang
tuaperlu
menghindari kata-kata
"balassaja"
sebagai
jurus
ampuh
yangpertama.
Latlh
anakuntuk
melawannyadengan kata-kata
(verbal),
contohnya"Kakiku
sakit kalau kauinjak".
Apabilatidak
mempan,
maka mintalah
anakuntuk
memberikan
peringatan, contohnya"Kalau kau ulang lagi
kankubalas
lo".
Ketika
peringatan
anaktidak
direspon
oleh
temannya
dantemannya
tetap
mengganggu,
makaanak
diminta
untuk
mengalihkankegiatan
di
tempat yanglain. al
pelakubully,
namtn
hal
ini
perlu
diwaspadai.Anak perlu
diberikan
pemahamanbahwa
membalas
atau
menyerangbukanlah
untuk
ajang balas
dendam,tapi
pembelaandiri
setelah perlawanandengan kata-kata
(asertif)
tidak mendapat respon.Penutup
Sikap asertif
merupakan
bagian
dari keterampilanhidup yang diperlukan
anakdalam
rangka
mencapai
kematangansosial.
Asertivitas
berkaitan
erat
denganbudaya
dan
kemandirian.
Anak
akanbelajar asertif
melalui
suatu proses yangmelibatkan
peran orang
dewasa
disekitarnya.
Apabila anak
mampumenunjukkan
sikap
mengalah
tanpamerasa bermasalah (merasa
tertekan),maka anak
tersebut dianggap
telahmemiliki
kematangansikap. Orang
tuaperlu
mengenalkan
anak agar
dapat memilah danmemilih
saat yang tepat anak harus mengalah (non asertit) dan saat yangtepat untuk bersikap
asertif(mempertahankan
diri).
Apabila
anakmemilih
bersikap
asrtif, maka
sebaiknya dilakukan dengan kata-kata dan cara yangsopan.
Daftar Rujukan
Hamzah
B
Uno. (2006).
Orientasi
BaruDallm
Psikologi
Pembelajaran. Jakarta: Bumi AksaraHurlock,
E.
B.
(1978).
PerkembangctnAnak
Jilid
1.
Jakarta:
Gelora Aksara Pratamahttp :i/www. ayahbunda. co.
idlArtikel/keluar
galTips/6. kiat.tumbuhkan. sikap. as
ertif .anaV 00 1 I 00 5 I 7 09 I 1 I I . diakses tanggal
i0
Juni 2013http:i/www.tabloid-nakita. c oml r e ad I I 2 42 I 3
-langkah-bersikap-asertif. diakses tanggal 10 Juni 2013
http://salsabilaS3.blogspot.comock . diakses tanggal 10 Juni 2013
Santrock, John W. (2007). Perkembangan Anak
Jilid
2.
Jakarta: Erlangga