Perjanjian Kerjasama Bongkar Muat Kapal Antara Pemilik Barang Dengan Perusahaan Bongkar Muat (Studi Perjanjian PT Sentana Adidaya Pratama Dan PT Bhanda Ghara Persero Medan).

25  52  Download (2)

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perjanjian Kerjasama Bongkar Muat antara PT Sentana Adidaya Pratama

selanjutnya disebut PT SAP dengan PT Bhanda Ghara Reksa Persero selanjutnya

disebut sebagai PT BGR Persero menarik untuk diteliti karena perjanjian seperti ini

merupakan perjanjian yang paling sering dilakukan antara pemilik barang dengan

perusahan bongkar muat di Indonesia khususnya di PT SAP. Pekerjaan Bongkar

Muat tersebut adalah salah satu proses dari kegiatan impor bahan baku pupuk yang

merupakan bagian dari kegiatan mata rantai penting dalam suatu proses produksi

pupuk NPK di PT Sentana Adidaya Pratama. Tanpa ketersediaan bahan baku yang

cukup maka proses produksi tidak dapat terlaksana dengan tepat waktu sehingga akan

mempengaruhi pendistribusian pupuk NPK ke end-customer antara lain perkebuhan

atau pertanian lainnya.

Pentingnya perjanjian kerjasama bongkat muat ini adalah sebagai perikatan

tertulis bagi para pihak yang telah sepakat untuk mengikatkan diri memberikan

pekerjaan dan menerima pekerjaan bongkar muat bahan baku di Pelabuhan Belawan.

Mengingat banyaknya unsur-unsur dari pekerjaan yang akan disepakati sehingga

perlu adanya suatu bentuk kesepakatan yang tertulis yaitu perjanjian antara PT SAP

(2)

untuk menjamin para pihak agar dapat melaksanakan hal-hal yang disepakati dengan

baik termasuk hak dan tanggung jawabnya.

Meningkatnya volume impor bahan pupuk dari tahun ke tahun di PT SAP

mengakibatkan semakin tingginya intensitas pelaksanaan perjanjian kerjasama ini

sehingga perlu adanya suatu penelusuran lebih dalam mengenai isi dari perjanjian

tersebut apalagi dengan berkembangnya peraturan-peraturan dari pemerintah

mengenai importasi pupuk sehingga perjanjian kerjasama ini perlu untuk direvisi

sejalan dengan perkembangannya. Hubungan antara PT SAP selaku pemilik barang

dengan PT BGR Persero selaku perusahaan bongkar muat terwujud disebabkan oleh

karena adanya tujuan dan kepentingan yang sejalan serta dipertemukan dengan

kehendak dan keinginan bersama. Hal inilah yang menjadi dasar utama untuk

terjadinya suatu perjanjian kerjasama tersebut.

PT SAP yang berkedudukan di Indonesia, adalah sebagai salah satu anak

perusahaan dari Wilmar International yang bergerak dibidang industri pupuk. PT SAP

mulanya sebagai importir yang khusus melakukan pembelian pupuk dari luar negeri

untuk disalurkan ke perkebunan-perkebunan yang menjadi bagian dari grup Wilmar

Internasional. Akan tetapi kemudian seiring dengan pesatnya kemajuan dunia

perkebunan sawit menjadikan PT SAP sebagai salah satu perusahaan industri pupuk

yang cukup besar di Indonesia yang memiliki pabrik pupuk sendiri yang berada di

Dumai dan Gresik dengan daerah pemasaran meliputi seluruh wilayah Indonesia

bahkan sejak tahun 2010 area pemasaran perkembang sampai keluar negeri seperti

negara Malaysia, Pantai Gading, Ghana, Monrovia, Myanmar dan lain-lain.1

1 Wilmar International Ltd, Copyright © 2012, Fertilizer,

(3)

PT SAP, sebagai pabrikan pupuk yang memproduksi pupuk Nitrogen

Phosphate Kalium (NPK) sudah barang tentu memerlukan ketersediaan bahan baku

yang cukup untuk menunjang kontinuitas produksi dan pengadaan pupuk demi

memenuhi kebutuhan perkebunannya di Indonesia. Bahan baku pupuk tersebut

biasanya diperoleh dari luar negeri seperti China, Canada, Taiwan, Rusia, Jepang,

Korea dan lain-lain. Cara yang biasanya dilakukan dalam hal melakukan importasi

pupuk tersebut adalah melalui kapal laut dan pelabuhan sebagai tujuan bongkar di

pelabuhan besar Indonesia. Bahan baku tersebut antara lain Muriate of Potash

(MOP), Rock Phosphate (RP), Diammonium Phosphate (DAP), Zinc Sulphate, dan

lain-lain.

Pelabuhan Belawan sebagai salah satu tujuan pelabuhan bongkar bahan baku

pupuk merupakan pelabuhan yang sangat ramai dan padat dengan kegiatan bongkar

muat kapal. Sudah menjadi suatu kebiasaan bahwa dalam hal proses penyandaran

kapal baik lokal maupun impor, custom clearance, pembongkaran dari kapal dan

pengiriman ke gudang diperlukan peranan pihak lain yang sudah berpengalaman

untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Dalam hal ini perusahaan bongkar muat yang

ditunjuk mewakili PT SAP sebagai importir untuk melakukan pengurusan dan

pekerjaan yang berkaitan dengan pembongkaran bahan baku pupuk tersebut dari

kapal di pelabuhan Belawan sampai ke gudang penyimpanan adalah PT BGR

Persero.

PT. BGR Persero selaku perusahaan bongkar muat yang cukup besar di

Belawan merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang

(4)

bisnis dan industri, khususnya jasa logistik dengan motto:Trusted logistics partner.2 Beberapa layanan dan fasilitas PT BGR Persero sebagai bagian dari jasa logistik

terpadu yang terdiri dari: distribusi dan pergudangan, transportasi, teknologi

informasi logistik.

Adanya kebutuhan jasa yang diberikan oleh PT BGR Persero selaku pelaku

usaha dibidang logistik terhadap barang yang diimpor oleh PT SAP menjadikan latar

belakang perlunya dilakukan kerjasama dalam bidang pembongkaran bahan baku

pupuk dari kapal di pelabuhan Belawan dimuat ke dalam truk dan untuk dikirim ke

kawasan pergudangan PT BGR Persero di daerah Paya Pasir Belawan dan selanjutnya

diproses bagging (pengarungan) di gudang dan disimpan (stock holder). Meskipun

demikian hubungan kerjasama tersebut masih mengalami kendala-kendala sebab

dalam hal perjanjian kerjasama yang dilakukan oleh para pihak tidak semata-mata

hanya pihak PT SAP dan PT BGR Persero saja yang terkait didalamnya tetapi juga

adanya pihak ketiga seperti Pelindo Belawan dalam hal pengurusan penyandaran

kapal, buruh di pelabuhan dan digudang dalam hal pekerjaan pembongkaran di kapal

dan gudang, armada pengangkutan untuk proses pengiriman pupuk dari pelabuhan

menuju ke gudang, Bea Cukai melalui proses kepabeanan, penggunaan timbangan,

pemakaian alat-alat berat, toleransi susut barang, hilangnya pupuk selama proses

pembongkaran dan lain-lain yang ikut mempengaruhi pekerjaan dalam perjanjian

kerjasama tersebut. Disamping itu terdapat beberapa peraturan yang sifatnya wajib

2Bhanda Ghara Reksa (Persero), Copyrights © 2012, Tentang BGR,

(5)

dan mengikat untuk dilaksanakan bagi setiap importir yang kapalnya akan sandar di

pelabuhan tertentu dimana dampaknya dapat merugikan importir akibat pengenaan

biaya yang cukup tinggi. Hal ini secara tidak langsung akan mengakibatkan

ketidak-seimbangan antar hak dan kewajiban yang berkaitan dengan perjanjian atau kontrak

kerjasama antara dari PT SAP selaku importir barang dan PT BGR Persero.

Hubungan antara kedua belah pihak yaitu PT SAP dengan PT BGR Persero

dapat dinamakan perikatan yang timbul dari perjanjian dimana perjanjian tersebut

berupa rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji kesanggupan terhadap hak

dan kewajiban yang dituangkan secara tertulis. Dalam kehidupan sehari-hari telah

tercipta suatu anggapan bahwa kontrak merupakan bentuk formal dari suatu

perjanjian yang berlaku untuk suatu jangka waktu tertentu yang dibuat dalam bentuk

tertulis. Pada umumnya perjanjian tidak terikat kepada suatu bentuk tertentu, dapat

dibuat secara lisan dan andaikata dibuat secara tertulis maka ini bersifat sebagai alat

bukti apabila terjadi perselisihan.3 Perjanjian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) tidak diatur secara baku dan kaku, bahkan bersifat terbuka.

Hal ini berarti bahwa dalam suatu perjanjian, para pihak dapat menyesuaikan apa

yang tersirat dan dipikirkan dalam hati masing-masing yang kemudian

dimusyawarahkan untuk diwujudkan secara nyata dengan cara merangkumnya ke

dalam klausula-klausula isi perjanjian oleh mereka yang mengadakan perjanjian.

3 Mariam Darus Badrulzaman, Sutan Remy Sjahdeini, Heru Soepraptomo, Faturrahman

(6)

Meskipun demikian, perjanjian tersebut harus memenuhi beberapa syarat pokok

berikut ini antara lain:4

a. Maksud mengadakan perjanjian, pihak-pihak yang berjanji harus bermaksud supaya pejanjian yang mereka buat itu mengikat secara sah yang menumbulkan hak dan kewajiban bagi pihak yang diakui oleh hukum.

b. Persetujuan yang tetap, pihak-pihak yang berjanji harus mencapai persetujuan yang tetap dengan penerimaan tanpa syarat atau tidak sedang berunding. Perundingan adalah tindakan yang mendahului tercapainya persetujuan yang tetap, setelah perundingan selesai tawaran pihak yang satu diterima oleh pihak yang lain artinya tercapai kesepakatan tentang pokok perjanjian, ketika itulah terjadi persetujuan yang tetap.

c. Prestasi, suatu perjanjian harus menjadi perbuatan kedua belah pihak, tiap-tiap pihak yang berjanji untuk mematuhi prestasi kepada pihak lain harus memperoleh pula pemenuhan prestasi yang telah dijanjikan oleh pihak lainnya (prestasi timbal balik).

d. Bentuk, bentuknya dapat berupa lisan atau tertulis, tetapi pada umumnya dilakukan secara tertulis.

e. Syarat-syarat tertentu, syarat-syarat tertentu ini harus memungkinkan pengadilan mengetahui dengan pasti apa yang telah disetujui oleh para pihak. f. Kausa yang halal, artinya bahwa perjanjian ini tidak bertentangan dengan

ketertiban umum.

Perihal perjanjian diatur dalam Buku III KUH Perdata berjudul “Tentang

Perikatan.” Menurut Subekti, perkataan “perikatan” (verbintenis) mempunyai arti

lebih luas dari perkataan “perjanjian,” sebab dalam Buku III KUH Perdata diatur juga

perihal hubungan hukum yang sama sekali tidak bersumber dari pesetujuan atau

perjanjian, yaitu perihal perikatan yang timbul dari perbuatan melawan hukum

(onrechtmatige daad) dan perikatan yang timbul dari pengurusan kepentingan orang

lain yang tidak berdasarkan persetujuan (zaakwaarneming).5

4 S.B March dan J. Soulsby alih Bahasa oleh Abdulkadir Muhammad, Hukum Perjanjian,

(Bandung, Alumni, 2006), hal 94.

(7)

Ketentuan umum dari suatu perjanjian terdapat dalam KUHPerdata pada Buku

III Bab II yang berjudul “Tentang perikatan yang dilahirkan dari kontrak atau

perjanjian.” Dalam KUH Perdata Buku III titel Kedua tentang “Perikatan-Perikatan

yang Lahir dari Kontrak atau Perjanjian” menggunakan istilah overeenkomst dan

contract untuk pengertian yang sama. Hal ini didukung oleh pendapat para sarjana

antara lain J. Satrio6, Soetojo Prawirohamidjojo dan Marthalena Pohan7, Mariam

Daruz Badrulzaman8, Hofmaan, yang menggunakan istilah kontrak dan perjanjian dalam pengertian yang sama.9 Dalam sejarah perkembangan hukum yang mengatur mengenai perjanjian atau kontrak di Indonesia sampai saat ini masih menggunakan

hukum kolonial Belanda yang terdapat dalam Buku III KUH Perdata yang menganut

system terbuka (open system), artinya para pihak bebas untuk mengadakan kontrak

dengan siapapun, menentukan syarat-syaratnya, pelaksanaannya, dan bentuk kontrak,

baik berbentuk lisan maupun tertulis.10 Dunia bisnis saat ini yang selalu hidup dan berkembang diperlukan adanya suatu aturan hukum yang berkaitan dengan

pelaksanaan kontak atau perjanjian yang disebut hukum kontrak. Salim HS dalam

bukunya menyebutkan bahwa defenisi hukum kontrak adalah keseluruhan dari

khaidah-khaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara dua pihak atau lebih

6J. Satrio,Hukum Perjanjian, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1992), hal 19. 7Soetojo Prawirohamidjojo Dan Marthalena Pohan,

Hukum Perikatan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1978), hal 84.

8

Mariam Darus Badrulzaman, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Buku III Tentang Perikatan Dengan Penjelasan, (Bandung: Alumni, 1996), hal 89.

9Agus Yudha Hernoko,Hukum Perjanjian Azas Proporsionalitas Dalam Kontrak Komersial,

(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hal 13.

10Salim HS,Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, (Jakarta: Sinar Grafika,

(8)

berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.11Sementara itu Ahmadi Miru dalam buku yang ditulisnya “Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak” tidak

membedakan antara hukum kontrak dengan hukum perjanjian. Kontrak atau

perjanjian merupakan suatu peristiwa hukum di mana seorang berjanji kepada orang

lain atau dua orang saling berjanji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.12 Pentingnya peranan perjanjian kerjasama antara para pihak yaitu PT SAP

selaku pemberi pekerjaan dan PT. BGR Persero selaku penerima pekerjaan yang telah

sepakat untuk mengikatkan diri secara sadar dan sukarela dalam melaksanakan

pekerjaan bongkar muat kapal untuk menjamin adanya keadilan bagi para pihak dan

untuk memberikan batasan yang menjadi aturan dasar pelaksaan pekerjaan tersebut

sehingga pekerjaan tersebut dapat terlaksana dengan baik dan prestasi serta hasil

pekerjaan yang diterima oleh masing-masing pihak adalah benar-benar adil dan

memuaskan.

Berdasarkan uraian diatas Penulis tertarik untuk meneliti dan membahas serta

mengangkatnya menjadi sebuah sebuah tesis yang berjudul: Perjanjian Kerjasama

Bongkar Muat Kapal Antara Pemilik Barang Dengan Perusahaan Bongkar Muat

(Studi Di PT Sentana Adidaya Pratama Dan PT Bhanda Ghara Persero Medan).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat ditarik pokok permasalahan yang

akan menjadi dasar dalam penyusunan tesis ini. Perumusan masalah dalam suatu

11Ibid, hal 4.

12

(9)

penelitian sangat penting keberadaannya karena akan diteliti lebih jauh lagi. Adapun

pokok permasalahan yang akan diteliti lebih lanjut dalam tesis ini adalah:

1. Apakah kontrak perjanjian kerjasama antara PT SAP dengan PT BGR Persero

telah memberikan keseimbangan hak dan kewajiban yang setara bagi para pihak

dalam menjalankan perjanjian tersebut.

2. Hambatan-hambatan apakah yang dihadapi dalam pelaksanaan perjanjian

kerjasama antara PT SAP dan PT BGR Persero dalam hal pekerjaan bongkar

muat.

3. Bagaimana upaya penyelesaian yang ditempuh oleh PT SAP dengan PT BGR

Persero apabila terjadi sengketa.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas maka tujuan yang

hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah kontrak perjanjian kerjasama antara PT SAP dengan

PT BGR Persero telah memenuhi prinsip keseimbangan hak dan kewajiban yang

setara bagi para pihak.

2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan

perjanjian kerjasama antara PT SAP dan PT BGR Persero dalam hal pekerjaan

bongkar muat.

3. Untuk mengetahui bagaimana upaya penyelesaian yang ditempuh PT SAP

(10)

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian merupakan merupakan suatu penentu apakah penelitian itu

berguna atau tidak. Bertitik tolak dari hal tersebut maka Penulis menghendaki supaya

penelitian yang dilakukan dapat bermanfaat antara lain sebagai berikut:

1. Manfaat secara teoritis:

a. Diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan yang sedang

diteliti.

b. Diharapkan dapat digunakan sebagai sumbangan pemikiran dan

pengembangan ilmu hukum pada umumkan dan hukum perdata pada

khususnya dan penelitian ini dapat menambah bahan teritama mengenai

perjanjian.

c. Diharapkan dapat menambah referensi/literatur sebagai bahan acuan bagi

penelitian yang akan datang apabila melakukan penelitian dibidang yang sama

dengan yang penyusun teliti.

2. Manfaat secara praktis:

a. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak

berkepentingan dalam penelitian ini.

b. Diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat umum atau pelaku

bisnis lainnya agar dapat lebih mengetahui dan memahami perjanjian

kerjasama antara PT SAP dengan perusahaan bongkar muat PT BGR Persero

sehingga dapat menjadi referensi bagi semua pihak baik importir atau pemilik

(11)

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan informasi yang ada dan sepanjang penelusuran kepustakaan yang

ada di lingkungan Universitas Sumatera Utara, khususnya di lingkungan Magister

Kenotariatan belum ada penelitian sebelumnya yang berjudul “Perjanjian Kerjasama

Bongkar Muat Kapal Antara Pemilik Barang Dengan Perusahaan Bongkar Muat

(Studi Perjanjian PT Sentana Adidaya Pratama Dan PT Bhanda Ghara Persero

Medan) belum ada yang membahasnya.

Dengan demikian penelitian ini adalah asli adanya dan secara akademis dapat

dipertanggungjawabkan. Meskipun ada peneliti-peneliti terdahulu yang pernah

melakukan penelitian mengenai masalah Perjanjian Kerjasama Bongkar Muat Kapal

namun menyangkut judul dan substansi pokok permasalahan adalah berbeda dengan

penelitian ini.

Adapun penelitian yang berkaitan dengan perjanjian kerjasama antara lain:

1. Tesis atas nama : Nova Dame Ria, NIM : 08711163 dengan judul : Tinjauan

Yuridis Tentang Hak dan Kewajiban Pengangkutan Dalam Perjanjian

Pengangkutan BBM (Studi Kasus Perjanjian Pengangkutan BBM Antara PT.

Yunita Permai Budiman dengan PT. Toba Pulp Lestari), di Program Studi

Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

2. Tesis atas nama : Yulianti, NIM : 087011153, dengan judul : Tinjauan Yuridis

Atas Kontrak Perjanjian Pekerjaan Perbaikan Kapal di PT. Sinbat Precast

Teknindo Indonesia di Pulau Batam di Program Studi Magister Kenotariatan

(12)

3. Tesis atas nama : Sudiharto, NIM : 087011149, dengan judul : Penerapan Azas

Keseimbangan dan Keadilan Dalam Kontrak Polis Asuransi Avrist Prime invest

Study di PT. Asuransi AIA Indonesia Medan di Program Studi Magister

Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Tesis atas nama : Marjan Iskariman Lubis, NIM : 09711011, Judul : Aspek

Hukum Perjanjian Kerjasama Antara PT. Rimba Mujur Mahkota Dengan CV AS

(Aslamiah) Studi Mengenai Pengkutan Crude Palm Oil Di Kabupaten

Mandailing Natal di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara;

Jika dibandingkan dengan penelitian tersebut diatas baik permasalahan dan

pembahasannya adalah berbeda sehingga dengan demikian maka penelitian ini adalah

asli serta dapat dipertanggungjawabkan keasliannya secara akademis.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online, teori merupakan pendapat

yang didasarkan pada penelitian dan penemuan didukung oleh data-data dan

argumentasi.13 Secara umum teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan diantara konsep-konsep tersebut yang membantu

kita memahami sebuah fenomena. Teori menunjukkan hubungan antara fakta-fakta

13Ebta Setiawan,Copyright© 2012-2014 versi 1.3,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

(13)

dan menyusun fakta-fakta dalam bentuk yang sistematis sehingga dapat dipahami.14 Secara khusus, teori adalah seperangkat konsep/konstruksi, defenisi dan proposisi

yang berusaha menjelaskan hubungan sistimatis suatu fenomena, dengan cara

memerinci hubungan sebab-akibat yang terjadi.15

Menurut Burhan Ashshofa bahwa teori sebagai serangkaian asumsi, konsep,

defenisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis

dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.16Teori sebagai perangkat reposisi yang terintegrasi secara sintaksis (yang mengikuti aturan tertentu yang dapat

dihubungkan secara logis satu dengan lainnya dengan tata dasar yang dapat diamati)

dan berfungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena.17 Kerangka teori adalah kerangka pikiran atau butir-butir pendapat, teori tesis

mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan atau

pegangan teoritis dalam penelitian.18 Kerangka teori yang dimaksud adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau

tidak disetujui. Kerangka teori ini bertujuan untuk menyajikan berbagai cara

mengorganisasikan dan mengimplementasikan hasil-hasil penelitian dan

menghubungkannya dengan hasil-hasil penelitian terdahulu.19 Penetapan suatu kerangka teori merupakan suatu keharusan dalam penelitian ini sehingga kerangka

14S. Nasution,Metode Research, Penelitian Ilmiah,(Bandung: Jemmars, 1991), hal 4.

15

Sardar Ziauddin,Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif,(Bandung: Mizan. 1996), hal 43. 16Burhan Ashshofa,Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), hal 19.

17 Snelbecker dan Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja

Rosdakarya, 1993), hal 34-35.

18 M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Bandung, Cetakan Pertama, Mandar Maju,

1994), hal 80.

(14)

teori tersebut dapat digunakan sebagai landasan berpikir untuk menganalis

permasalahan yang dibahas dalam tesis ini, yaitu mengenai perjanjian kerjasama

antara PT SAP dengan PT BGR Persero.

Teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini adalah teori

keadilan. Teori keadilan bertujuan untuk menyajikan konsep keadilan yang

menggeneralisasikan dan mengangkat teori kontrak sosial yang diungkapkan oleh

para ahli ke tingkat abstraksi yang lebih tinggi.20 Lebih lanjut Rawls menjelaskan bahwa kontrak bukanlah satu-satunya cara untuk memahami masyarakat tertentu atau

untuk membangun bentuk pemerintahan tertentu namun gagasan-gagasan yang

menandainya adalah bahwa prinsip-prinsip keadilan bagi struktur dasar masyarakat

merupakan tujuan dari kesepakatan. Prinsip-prinsip ini akan mengatur semua

persetujuan lebih lanjut, menentukan jenis kerjasama dan bentuk-bentuk pemerintah

yang bisa didirikan. John Rawls menyebutnya keadilan sebagaifairnessdimana para

pihak yang terlibat dalam kerjasama sosial memilih bersama prinsip-prinsip yang

akan memberikan hak dan kewajiban dasar serta meentukan pembagian keuntungan

sosial, mengatur bagaimana claim-claim dalam suatu kontrak, tujuan yang rasional

dari suatu kontrak serta menentukan apa yang adil dan tidak adil sehingga dalam

pilihan-pilihan tersebut dicapai bebebasan yang setara untuk mencapai prinsip

keadilan.21

20

John Rawls,A Theory of Justice (Teori Keadilan), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hal 12.

(15)

Pembahasan mengenai hubungan kontraktual para pihak pada hakikatnya

tidak dapat dilepaskan dalam hubungannya dengan masalah keadilan. Kontrak

(perjanjian kerjasama) sebagai wadah yang mempertemukan kepentingan satu pihak

dengan pihak lain menuntut bentuk pertukaran kepentingan yang adil. Pengertian adil

menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: sama berat; tidak berat sebelah;

tidak memihak; berpihak kepada yang benar; berpegang pd kebenaran; sepatutnya;

tidak sewenang-wenang.22Sedangkan keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang.23

Prinsip keadilan berasumsi bahwa untuk hal-hal yang sama diperlakukan

secara sama, dan yang tidak sama juga diperlakukan tidak sama secara proporsional.24 Keadilan dalam berkontrak harus disertai adanya hak dan kewajiban yang

ditimbulkan dari kontrak tersebut. Pengertian hak dan kewajiban dapat yang dijadikan

sebagai acuan antara lain dari KBBI, hak adalah kekuasaan untuk berbuat sesuatu

(karena telah ditentukan oleh undang-undang, aturan, dsb); kekuasaan yg benar atas

sesuatu atau untuk menuntut sesuatu; wewenang menurut hukum25 sedangkan kewajiban adalah (sesuatu) yg diwajibkan; sesuatu yg harus dilaksanakan; keharusan,

22Ebta Setiawan,

Copyright© 2012-2014 versi 1.3,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, Adil,http://kbbi.web.id/adil, (diakses tanggal 14 Juni 2014).

23Wikipedia Ensiklopedia Bebas, 4 Juni 2014,Keadilan,

http://id.wikipedia.org/wiki/Keadilan, (diakses tanggal 15 Juni 2014).

24Agus Yudha Hernoko,Hukum Perjanjian Azas Proporsionalitas dalam Kontrak Komersil,

Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2011, hal 48.

25Ebta Setiawan,Copyright© 2012-2014 versi 1.3,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

(16)

pekerjaan; tugas, tugas menurut hukum.26Hak menurut Morris Ginsberg adalah suatu tuntutan atau dapat juga dibuat oleh atau atas nama seorang individu atau kelompok

pada beberapa kondisi atau kekuasaan, hak dan kewajiban terletak pada dasar etika

yang sama dimana hak seseorang berisi tuntutannya pada kondisi baik dan kewajiban

yang diharapkan untuk menyumbang yang baik juga.27

Kontrak menjamin bahwa masing-masing pihak akan memenuhi janjinya

sehingga memungkinkan terjadinya terjadinya transaksi diantara para pihak. Analisis

keadilan dalam kontrak komersil seperti ini harus memadukan konsep kesamaan hak

dan kewajiban yang seimbang berdasarkan kesepakatan para pihak. Sehingga dengan

demikian kontrak adalah ekspresi persetujuan keinginan dan “keinginan yang

disesuaikan sehingga berguna dan dihormati”.28 Dengan prinsip keadilan ini diharapkan dapat menjadikan perjanjian kerjasama ini seimbang antara para pihak PT

SAP selaku pemberi pekerjaan dan PT BGR Persero selaku penerima pekerjaan

dalam hal prestasi dan pemenuhan pelaksanaan pekerjaan yang diharapkan.

Perjanjian adalah merupakan suatu perbuatan hukum yang diatur oleh

undang-undang. Undang-undang di dalam Pasal 1313 KUH Perdata menyebutkan bahwa

perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan

dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Di dalam bukunya P.N.H Simanjuntak

26Ebta Setiawan,Copyright© 2012-2014 versi 1.3,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Online, Wajib,http://kbbi.web.id/wajib, (diakses tanggal 14 Juni 2014).

27Morris Ginsberg,Keadilan Dalam Masyarakat, (Bantul: Pondok Edukasi, 2003), hal 61.

(17)

merangkum beberapa defenisi perjanjian menurut sarjana yang berbeda-beda, antara

lain:29

a. Subekti menyatakan bahwa perjanjian adalah suatu peritiwa dimana seorang berjanji kepada orang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.

b. Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa perjanjian adalah suatu perhubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak, dimana satu pihak berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau untuk tidak melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak untuk menuntut pelaksanaan janji itu. c. Menurut R. Setiawan, persetujuan adalah suatu perbuatan hukum, dimana satu

orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.

d. Menurut Abdulkadir Muhammad, perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaaan.

Perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi diantara 2 (dua) orang atau

lebih yang terletak didalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak

atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.30 PNH Simanjuntak dalam bukunya merangkum beberapa istilah-istilah perikatan (verbintenis).31 Para

sarjana menterjemahkan secara berbeda-beda, KUH Perdata menggunakan istilah

“perikatan” untuk “verbintenis”, Utrecht memakai istilah perutangan untuk

verbintenis”, Subekti mempergunakan istilah “verbintenis” untuk “perikatan”,

Soediman Kartohadiprodjo memakai istilah “hukum pengikatan” sebagai terjemahan

dari “verbintenissenrecht” sedangkan Wirjono Prodjodikoro memakai istilah “het

verbintenissenrecht” sebagai hukum perjanjian bukan hukum perikatan.

29PNH Simanjuntak, Pokok Pokok Hukum Perdata Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 2009),

hal 331.

30Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, (Bandung: Citra Aditya Bakti,

2001), hal 1.

(18)

Pengertian perikatan dan perjanjian ini juga dapat dilihat dari beberapa

pendapat sarjana antara lain:

a. Subekti mengatakan bahwa “perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Sementara perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada orang lain atau dimana 2 (dua) orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.”32Menurutnya bahwa perikatan mempunyai pengertian yang lebih luas dari perjanjian sebab perikatan merupakan suatu pengertian yang abstrak dan tidak dapat diamati karena perikatan itu hanya merupakan akibat dari adanya perjanjian tersebut sedangkan suatu perjanjian adalah suatu peristiwa hukum yang konkrit dan dapat diamati.

b. Menurut R. Setiawan perikatan adalah suatu hubungan hukum, yng artinya hubungan yang diatur dan diakui oleh hukum.33

c. Menurut Abdulkadir Muhammad, perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi antara debitur dan kreditur, yang terletak dalam bidang harta kekayaan.34

d. Menurut Pitlo, perikatan adalah suatu hubungan yang bersifat harta kekayaan antara dua orang atau lebih, atas dasar mana pihak yng satu berhak (kreditur) dan pihak lain berkewajiban (debitur) atas sesuatu prestasi.35

Menurut M. Yahya Harahap bahwa "perikatan atau verbintenis adalah suatu

hubungan hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih yang memberikan

kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan

pada pihak lain untuk menunaikan prestasi.”36Terhadap perjanjian yang terjadi antara PT SAP dengan PT BGR Persero (Persero), dalam hal salah satu pihak tidak dapat

memenuhi kesepakatan yang telah ditentukan dalam perjanjian ini (wanprestasi)

maka akan dikenakan sanksi-sanksi tertentu yang telah pula disepakati bersama.

32R. Subekti,Hukum Perjanjian, (Jakarta: Pembimbing Masa, 1980), hal 1.

33R.Setiawan,Pokok-Pokok Hukum Perikatan, (Bandung: Bina Cipta, 1987), hal 1.

34Abdulkadir Muhammad,Hukum Perikatan, (Bandung, Citra Aditya Bakti, 1990), hal 9.

35A.Pitlo,Het Verbintenissen naar het Nederlands Burgelijk Wetboek, (N.V. Harlem, 1952),

hal 2.

(19)

Pengertian wanprestasi menurut Kamus Hukum adalah berarti kelalaian, kealpaan,

cidera janji, tidak menepati kewajibannya dalam perjanjian.37 Dengan demikian bahwa wanprestasi dapat timbul karena kesengajaan dan karena adanya keadaan

memaksa (overmacht).

Disamping itu kondisi keadaan force majeure tidak dapat dihindarkan dalam

setiap perjanjian kerjasama. Sebab ketentuan mengenai force majeur ini merupakan

suatu peristiwa yang tidak dapat diduga. Peristiwa-peristiwa ini bukanlah kesalahan

kedua belah pihak melainkan suatu peristiwa yang tidak dapat ditentukan apa, kapan

dan bagaimana terjadinya. Segala sesuatu yang terjadi akibat keadaanforce majeure

ini adalah merupakan suatu kekecualian dimana kedua belah pihak tidak dapat

dituntut karenanya. Meskipun demikian, keadaan force majeur inipun harus

dibuktikan terlebih dahulu kebenarannya oleh masing-masing pihak sehingga pihak

tersebut dapat dibebaskan karenanya. Menurut Subekti dalam bukunya Pokok-Pokok

Hukum Perdata bahwa untuk dapat dikatakan suatu “keadaan memaksa” (overmacht

atau force majeur) bahwa selain karena keadaan itu “diluar kekuasaannya” dan

bersifat “memaksa”, keadaan yang timbul itu juga harus berupa keadaan yang tidak

dapat diketahui resikonya oleh para pihak.38Perihalforce majeureini kemudian akan dibahas lebih lanjut pada bab berikutnya.

2. Kerangka Konsepsi

Agar manusia dapat berkomunikasi dengan manusia yang lain maka

diperlukan bahasa yang merupakan system komunikasi yang terdiri dari berbagai

symbol sehingga dapat dipahami. Dalam dunia ilmu pengetahuan bahasa yang

37

(20)

dipakai untuk berkomunikasi adalah konsep.39 Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori, peranan konsepsi dalam penelitian ini adalah untuk

menghubungkan teori dengan observasi, antara abstrak dan kenyataan. Konsep

diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal

yang khusus yang disebut defenisi operasional. Menurut Burhan Ashshofa, suatu

konsep merupakan abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar

generalisasi dari jumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok, atau individu

tertentu.40 Konsepsi merupakan bagian terpenting dari suau teori dimana peranannya adalah untuk menghubungkan teori dengan observasi dan antar abstraksi dengan

realita. Hal ini yang akan digunakan oleh penulis untuk menjelaskan hal-hal yang

berkaitan dengan perjanjian kerjasama tersebut. Konsep tersebut merupakan sesuatu

yang dihasilkan oleh suatu proses yang berjalan dalam pemikiran peneliti untuk

keperluan analitis.

Kerangka konsepsi adalah merupakan alat yang dipakai oleh hukum

disamping yang lain-lainnya, seperti azas dan standar, untuk mengungkapkan

beberapa konsepsi atau pengertian yang akan digunakan sebagai dasar penelitian

hukum. Dalam suatu penelitian, konsepsi dapat diartikan sebagai usaha membawa

sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang disebut defenisi operasional

(operational definition). Defenisi operasional ini memberikan rujukan-rujukan yang

dapat ditemukan untuk menggambarkan secara tepat konsep yang dimaksud sehingga

39Erwin Agus Purwanto dan Dyah Ratih Sulistyastuti, Metode Penelitian Kuantitatif Untuk

(21)

konsep tersebut dapat diukur dan diamati. Pentingnya defenisi operasional ini untuk

menghindari perbedaan pengertian atau penafsiran dari suatu istilah yang dipakai.

Oleh karena itu dalam penelitian ini dirumuskan kerangka konsepsi sebagai berikut:

a. Perjanjian Kerjasama adalah Perjanjian Kerjasama (Kontrak Handling) untuk

melakukan bongkar muat dari kapal atas barang (pupuk dan bahan baku lain)

yang diimpor oleh PT SAP ke armada pegangkutan (truk) kemudian dikirim

gudang dan melalui proses bagging (pengarungan) terlebih dahulu kemudian

disimpan (stock holder) di gudang yang telah disediakan oleh PT BGR

Persero.

b. Perusahaan Bongkar Muat adalah Perusahaan baik swasta maupun milik

pemerintah atau BUMN yang bergerak dibidang bongkar muat kapal.

c. Keseimbangan hak dan kewajiban adalah keseimbangan antara hak dari para

pihak dan kewajiban dari para pihak tersebut dalam hal perjanjian kerjasama

yang telah disepakati oleh PT SAP dan PT BGR Persero.

d. Wanprestasi adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaian atau kesalahan

salah satu pihak sehingga pihak tersebut tidak dapat memenuhi prestasi yang

telah ditentukan dalam perjanjian kerjasama tersebut.

e. Force Majeure adalah suatu keadaan dimana salah satu pihak terhalang untuk

melaksanakan prestasinya karena peristiwa yang tidak terduga pada saat

(22)

G. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif karena karakter khas

ilmu hukum terletak pada metode penelitiannya yang bersifat normatif hukum, yaitu

dengan meneliti bahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi buku-buku serta

norma-norma hukum yang terdapat pada peraturan perundang-undangan, azas-azas

hukum, khaedah hukum dan sistematika hukum serta mengkaji ketentuan

undang-undang dan bahan hukum lainnya untuk menganalisis permasalahan yang dibahas

serta menjawab pertanyaan sesuai dengan permasalahan-permasalahan yang dibahas

dalam tesis ini.

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian penulisan ini yaitu deskriptif analitis. Bersifat deskriptif

maksudnya bahwa dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh gambaran secara

rinci dan sistematis tentang permasalahan yang diteliti. Analitis dimaksudkan bahwa

berdasarkan gambaran-gambaran fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara

cermat bagaimana menjawab permasalahan tersebut.41

3. Sumber Data Penelitian

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan data

sekunder. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan melalui studi dokumen

41 Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia pada Akhir Abad ke 20, (Bandung:

(23)

terhadap bahan kepustakaan. Berdasarkan kekuatan mengikatnya, bahan hukum

untuk memperoleh data terbagi 3 (tiga) yaitu:

a. Bahan hukum primer, yaitu hukum yang mengikat dari sudut norma dasar,

peraturan dasar dan peraturan perundang-undangan.42 Dalam penelitian ini bahan hukum primernya adalah KUH Perdata dan perjanjian para pihak.

b. Bahan hukum sekunder, adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum primer43 yang berupa buku-buku, hasil-hasil penelitian dan atau karya ilmiah, hasil seminar atau pertemuan ilmiah lainnya,

pendapat pakar hukum yang erat kaitannya dengan objek penelitian.

c. Bahan hukum tersier, adalah bahan hukum yang bersifat penunjang untuk

memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan

sekunder seperti jurnal hukum, kamus umum, kamus hukum, suratkabar,

internet dan makalah-makalah yang berkaitan dengan objek penelitian.

Disamping itu juga data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan responden

yang berhubungan dengan materi penelitian ini.

4. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian

kepustakaan (library research) yang menghimpun data-data dengan melakukan

penelaahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer,

42Soerjono Soekanto dan Sri Mulyadi,Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat,

(24)

sekunder dan tersier44berupa buku, majalah, dan lain-lain. Disamping itu penulis juga menggunakan studi dokumentasi yaitu cara memperoleh data melalui penelaahan

terhadap catatan-catatan tertulis maupun dokumen-dokumen yang berkaitan dengan

masalah yang diteliti.

Tehnik pengumpulan data yang dipakai untuk penelitian ini adalah:

a. Studi dokumen, yaitu dengan cara mempelajari peraturan-peraturan,

teori-teori, buku-buku, hasil penelitian dan dokumen lainnya yang berhubungan

dengan permasalahan.

b. Wawancara dengan responden, yang dilakukan secara langsung atau tidak

langsung dan mendalam, terarah dan sistematis kepada narasumber yaitu dari

PT SAP dan PT BGR Persero.

5. Analisis Data

Dalam suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna

untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data yang

dimaksud adalah merupkan proses menguraikan data ke dalam pola, kategori dan

satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesa

kerja seperti yang disarankan data.45 Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu penelitian dilakukan dengan menganalisis data berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang terkait degan objek kajian.

44Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, (Jakarta: Sinar Grafika, 1996, hal 14. 45 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya,

(25)

Data yang terkumpul akan diidentifikasikan kemudian dilakukan peganalisaan

secara kualitatif berupa pembahasan antara berbagai data sekunder yang terkait

dengan berbagai peraturan perundang-undangan dan bahan hukum yang telah

dikumpulkan dan diidentifikasikan sehingga pada tahap akhir akan ditemukan

kesimpulan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika berpikir

deduktif yang menganalisa peraturan perundang-undangan yang berlaku secara

umum yang terkait dengan tesis ini dan kemudian dihubungkan dengan Perjanjian

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...