• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN RESPON PSIKO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN RESPON PSIKO"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN RESPON PSIKOLOGIS KEHILANGAN PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA GAU MABAJI KABUPATEN GOWA

Riskawati1, Muh. Yusuf2, Fatimah3

1Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2

Bagian Keperawatan Anak Poltekes Kemenkes Makassar

3Dosen tetap Program Studi S1 Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar (Alamat Respondensi : Riska [email protected]; Hp : 0823 4604 5415)

ABSTRAK

Kehilangan adalah satu kata yang paling menyimpulkan tentang masalah usia tua, dan kehilangan itu sendiri tidak dapat dihindari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan konsep diri dengan respon psikologis kehilangan pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa. Jenis penelilian ini adalah Survey Analitik dengan jumlah sampel sebanyak 38 orang lansia yang didapatkan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling yang sesuai dengan kriteria sampel yang telah ditetapkan. Pengujian hipotesis menggunakan analisis uji Chi Square berdasarkan koreksi Pearson Chi Square dengan tolerasi kesalahan sebesar 5% (α 0.05). Hasil penelitian memperlihatkan sebanyak 73.7% lansia dalam kategori konsep diri yang positif, dan sebanyak 76.3% lansia dalam kategori respon psikologis kehilangan yang positif. Analisis uji memperlihatkan terdapat hubungan antara konsep diri dengan respon psikologis kehilangan pada lansia dengan p value sebesar 0.002. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan antara konsep diri dengan respon psikologis kehilangan pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa. Disarankan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi untuk tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia khususnya di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa.

Kata Kunci : Konsep Diri, Respon Psikologis Kehilangan.

Pendahuluan

Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronoligis tertentu. Lansia merupakan suatu proses alami yang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Di masa ini, seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial secara bertahap (Azizah Ma’rifatul L, 2011. Hal : 1).

Konsep kehilangan masuk ke dalam proses penuaan, sejalan dengan penurunan komulatif dalam hal mental, fisik dan sosial. Kehilangan adalah satu kata yang paling menyimpulkan tentang masalah usia tua yang meliputi kehilangan pekerjaan, waktu, harga diri, martabat pribadi, kesehatan fisik, kontak sosial, pendapatan dan lain-lain. Dan kehilangan itu sendiri tidak dapat dihindari.

Kehilangan dinyatakan dengan deprivasi yang berkaitan dengan status masa lalu. Sekalipun intensitas kehilangan tersebut bergantung pada sistem nilai seseorang. Jika

frekuensi dan intensitas kehilangan semakin cepat, maka orang tersebut kurang mampu beradaptasi dan berintegrasi yang oleh karena itu membahayakan kesehatan mental dan fisiknya. Efek komulatif dari kehilangan seumur hidup, terutama setelah usia 75 tahun dialami berbagai ketidakberhargaan dan pengabaian. Burnside menganjurkan penggunaan strategi dan dukungan “loss -facing” untuk meningkatkan kesejahteraan.

(2)

Lahir, kehilangan, kematian, dan berduka merupakan suatu fase dalam perjalanan kehidupan manusia yang harus dilalui, integral dengan kehidupan dan bersifat unik bagi setiap individu yang dapat menjadi stressor yang membutuhkan dukungan dalam menghadapinya. Hidup merupakan suatu rangkaian kehadiran dan kepergian. Ada dan tiada akan selalu berlangsung bergantian. Pada saat akhir kehidupannya lansia akan mengalami loss (kehilangan), grieving (berduka), dying (sekarat/menjelang ajal) dan terakhir death (kematian) (Azizah Ma’rifatul L, 2011. Hal : 132).

Kehilangan merupakan tema dominan yang dicirikan dengan bergai aspek kehidupan bagi lansia. Kehilangan dapat dialami melalui berbagai tahap kehidupan, tetapi efek komulatifnya dirasakan secara akut oleh lansia. Beberapa lansia menghadapi tersebut secara lebih baik dibandingkan lain. Sedangkan bagi yang lainnya, setiap kehilangan biologis, psikologis, pribadi, sosial, identitas, fungsional dan filosofi dapat menimbulkan kehampaan pada kehidupan seseorang (Azizah Ma’rifatul L, 2011. Hal : 134).

Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurun fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan. Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia sehingga dapat dimasukkan ke dalam kategori kehilangan. Hal ini perlu diantisipasi dengan mekanisme pertahanan diri (coping mecanism) baik atau pun dengan pembentukan konsep diri yang lebih positif (Padila, 2013. Hal : 82).

Penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti R (2011) tentang hubungan dukungan keluarga dengan respon kehilangan pada lansia menyatakan bahwa lansia membutuhkan dukungan keluarga khususnya interaksi sosial guna menghadapi perubahan (kehilangan) sebagai akibat dari proses menua. Penelitian yang dilakukan Zulfitri R (2011) tentang konsep diri dan gaya hidup lansia yang mengalami penyakit kronis, kehilangan dan berduka, menyatakan bahwa status konsep diri lansia mempengaruhi pembentukan gaya

hidup sehat khususnya pada lansia dengan penyakit kronis, kehilangan dan berduka.

Saat ini, diseluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Di negara maju seperti Amerika Serikat, pertambahan orang lanjut usia diperkirakan 1.000 orang perhari pada tahun 1985 dan diperkirakan 50% dari penduduk berusia di atas 50 tahun sehingga istilah Baby Boom pada masa lalu berganti menjadi “Ledakan Penduduk Lanjut Usia” (Lansia) (Padila, 2013. Hal : 1).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI Tahun 2013 maka diketahui bahwa persentase penduduk lansia tahun 2012 adalah 7,56% yang berarti termasuk negara berstruktur tua. Penduduk lansia berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2012 yang paling banyak adalah perempuan (Perempuan = 8,2%; Laki-laki = 6,9%). Penduduk lansia berdasarkan wilayah tahun 2012 lebih banyak tinggal di perdesaan (7,63%) daripada di perkotaan (7,49%). Penduduk lansia paling tinggi pada tahun 2012 adalah di provinsi D.I. Yogyakarta (13,04%), Jawa Timur (10,40%), Jawa Tengah (10,34%). Jumlah lansia di Sulawesi Selatan sendiri sebesar 8,34% (Pusdatin Kemenkes RI, 2013. Hal : 17).

Jumlah penduduk lanjut usia menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014 yang berusia ≥ 60 tahun sebesar 19,1 juta jiwa dimana laki-laki sebanyak 8,79 juta dan perempuan sebanyak 10,34 juta jiwa. Sedangkan penduduk berusia ≥ 70 tahun (penduduk usia lanjut risiko tinggi) sebanyak 7,73 juta jiwa dimana laki-laki sebanyak 3,32 juta jiwa dan perempuan sebanyak 4,40 juta jiwa (Kemenkes RI, 2014. Hal : 6).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa Maret 2016, maka diketahui bahwa jumlah lansia berdasarkan daftar nominatif klien reguler tahun anggaran 2016 sebanyak 95 orang lansia. Dari data tersebut, diketahui bahwa klien laki-laki sebanyak 30 orang lansia dan klien perampuan sebanyak 65 orang lansia. (Data Awal dari PSTW Gau Mabaji Kabupaten Gowa, Maret 2016)

(3)

BAHAN DAN METODE

Jenis Penelitian, Waktu & Tempat, Populasi & Sampel

Jenis dan metode penelitian ini adalah Survey Analitik. menggunakan desain penelitian Cross Sectional Study. Penelitian ini dilaksanakan di Panti Unit Pelayanan Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa pada bulan Juli 2016. Populasi sebanyak 95 orang lansia. Teknik penerikan sampel adalah Purposive Sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 38 orang yang sesuai dengan kriteria sampel antara lain :

1. Kriteria Inklusi

a. Responden yang bersedia untuk diteliti hingga penelitian ini selesai

b. Responden yang dapat berkomunikasi dengan baik

c. Responden yang tidak mendapat kunjungan keluarga minimal 1 bulan lamanya

d. Responden yang masih mempunyai keluarga dengan status hubungan minimal anak

e. Responden yang memiliki keluarga yang berdomisili di daerah Kabupaten Gowa, Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Takalar.

2. Kriteria Eksklusi

a. Responden yang pada saat penelitian berlangsung tidak berada di lokasi penelitian

b. Responden yang pada saat penelitian berlangsung tiba-tiba sakit.

Pengumpulan Data 1. Instrumen Penelitian

Untuk mendapatkan informasi dan data yang diinginkan, peneliti menggunakan kuesioner yang mengkaji tentang Respon Psikologis Kehilangan dengan bobot 5 pertanyaan dari tiap respon psikologis. Kriteria penilaian dari tiap pilihan jawaban adalah skor 1 untuk pilihan jawab Selalu, 2 Sering, 3 Kadang dan 4 Tidak Pernah berlaku untuk jawaban positif, dan penilaian terbalik untuk jawaban negatif. Sedangkan untuk mengukur konsep diri, peneliti menggunakan alat ukur dari William H. Fitts dengan penilaian dari pilihan jawaban adalah Setuju 4, Cukup Setuju 3, Cenderung Tidak Setuju 2 dan Tidak Setuju 1 untuk pilihan jawaban positif dan penilaian sebaliknya untuk pilihan jawaban negatif.

2. Jenis Data a. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan

langsung dari objeknya (Sunyoto D, 2013. Hal : 4).

Data primer dalam penelitian ini adalah data yang didapatkan secara langsung dari responden sebagai sampel penelitian.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk jadi dan telah diolah oleh pihak lain yang biasanya dalam bentuk publikasi (Sunyoto D, 2013. Hal : 5).

Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang didapatkan oleh peneliti melalui pengelola Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji.

Pengolahan dan Analisa Data 1. Pengolahan Data

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan program komputerisasi untuk tabulasi dan pengelompokan data berdasarkan karakteristik umum responden dan variabel yang diteliti.

2. Analisa Data a. Analisa Univariat

Analisa dilakukan terhadap tiap-tiap variabel penelitian terutama untuk melihat tampilan distribusi frekuensi dan presentasi dari tiap-tiap variabel.

b. Analisa Bivariat

Analisa bivariat berfungsi untuk mengetahui hubungan antar variabel dengan menggunakan korelasi Chi Square Test (Chi Kuadrat) berdasarkan Correction Pearson Chi Square dengan ketentuan Interval Level (taraf keyakinan) 95%, Probability (toleransi kesalahan) 5% (α 0.05).

HASIL PENELITIAN

(4)

1. Analisa Univariat kelompok umur lansia paling sedikit adalah 75 s/d 90 tahun dengan jumlah responden 8 orang (21.1%).

Tabel 5.2

Distribusi Lansia Berdasarkan Jenis Kelamin di PSTW Gau Mabaji Kabupaten

Gowa dengan jumlah responden 7 orang (18.4%).

Tabel 5.3

Distribusi Lansia Berdasarkan Pendidikan Terakhir di PSTW Gau Mabaji Kabupaten

Gowa sedangkan kelompok pendidikan SMP merupakan kelompok pendidikan yang paling sedikit dengan jumlah responden 1 orang (2.6%)

Tabel 5.4

Distribusi Konsep Diri Pada Lansia di PSTW Gau Mabaji Kabupaten Gowa Pada Lansia di PSTW Gau Mabaji

Kabupaten Gowa lansia dengan kategori positif sebanyak 29 orang responden (76.3%), sedangkan respon psikologis kehilangan dengan kategori negatif sebanyak 9 orang Gowa, maka digunakan Descriptive Statistics Crosstabs menggunakan uji Chi Square Test berdasarkan Correction Pearson Chi Square dengan toleransi kesalahan sebesar 5% (α 0.05) dan Confidence Interval sebesar 95% (X2 tabel

= 3.84, degree of freedom (df) = 1). Tabel 5.6

Hubungan antara Konsep Diri dengan Respon Psikologis Kehilangan pada Lansia

di PSTW Gau Mabaji Kabupaten Gowa

(5)

(26.3%) dengan konsep diri yang negatif, didapatkan 4 orang lansia (10.5%) dengan respon psikologis kehilangan yang positif dan 6 orang lansia lainnya (15.8%) dengan respon psikologis kehilangan yang negatif.

Setelah dilakukan analisis Descriptive Statistics Crosstabs menggunakan uji Chi Square Test, maka berdasarkan Correction Pearson Chi Square dengan toleransi kesalahan sebesar 5% (α 0.05) dan Confidence Interval sebesar 95% didapatkan nilai p value sebesar 0.002, yang berarti p value 0.002 < α 0.05. Dengan demikian maka Ha dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa ada hubungan konsep diri dengan respon psikologis kehilangan pada lansia di Panti Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa diterima dan Ho ditolak.

PEMBAHASAN

Diketahui bahwa dari total 28 orang lansia (73.7%) dengan konsep diri yang positif, didapatkan 25 orang lansia (65.8%) dengan respon psikologis kehilangan yang positif, dan 3 orang lainnya (7.9%) dengan respon psikologis kehilangan yang negatif. Menurut peneliti, didapatkan lansia yang dalam kategori konsep diri yang positif namun menilai respon kehilangan secara negatif karena lansia tersebut masih belum lama atau tergolong sebagai lansia baru di panti tersebut sehingga lansia tersebut masih merasa kehilangan atau memori bersama keluarga mereka masih terbayang-bayang. Menurut hasil wawancara, mereka yang menilai respon kehilangannya dengan sudut pandang yang negatif masih belum percaya bahwa mereka telah berpisah atau kehilangan keluarga/ orang-orang terdekat mereka yang sebelumnya ada respon psikologis kehilangan yang positif dan 6 orang lansia lainnya (15.8%) dengan respon psikologis kehilangan yang negatif. Menurut peneliti, didapatkan lansia dalam kategori konsep diri yang negatif namun menilai respon kehilangan secara positif karena lansia tersebut kurang mampu bersosialisasi dengan lansia lainnya, sebagian dari mereka hanya bersosialisasi pada asrama mereka sendiri yang berdampak pada penilaian konsep diri khususnya pada dimensi harga diri dan peran diri yang kurang baik atau dalam kategori yang

negatif. Sedangkan pada respon berangsur-angsur menghilang dari ingatan mereka. Oleh sebab itu, hasil penelitian memperlihatkan beberapa lansia dalam kategori konsep diri negatif namun menilai respon kehilangan secara positif.

Konsep diri merupakan pandangan atau persepsi individu terhadap diri sendiri. Konsep diri diperoleh melalui pengalaman dan interaksi dengan orang lain, terutama dengan orang yang berarti dalam kehidupan seseorang, seperti orang tua dan teman-teman sebaya. Konsep diri mempunyai lima komponen dasar, yaitu ideal diri, identitas diri, citra tubuh, harga diri dan peran diri.

Berdasarkan hasil penelitian, maka diketahui bahwa sebagian besar lansia dalam kategori konsep diri yang positif, yaitu sebesar 73.7%. Dan hanya sebagian kecil lansia dalam kategori konsep diri yang negatif, yaitu sebesar 26.3%. Didapatkan sebanyak 10 orang lansia dalam kategori konsep diri yang negatif karena sebagian besar dari lansia tersebut kurang memperhatikan kerapihan dan kebersihan tubuhnya yang dinilai berdasarkan dimensi citra tubuhnya. Hal ini juga ditunjukkan dengan didapatinya sebagian besar lansia mengabaikan dirinya, mudah menyerah terhadap beberapa keadaan tertentu, kurang dapat memecahkan masalah, serta kurang mampu mengurus dirinya sendiri dalam beberapa situasi yang dinilai berdasarkan dimensi ideal diri. Selain itu, penilaian dari dimensi identitas diri didapatkan sebagian besar dari lansia tersebut adalah mereka yang berusaha lari dari masalah-masalah mereka, keluarga mereka kurang membantu dalam menghadapi kesulitan dimasa tua mereka, serta tidak mendapat

(6)

tanda kematangan dan pertumbuhan. Peristiwa kehilangan pada seseorang dapat terjadi secara bertahap maupun secara tiba-tiba.

Berdasarkan hasil penelitian, maka diketahui bahwa sebagian besar lansia dalam kategori respon psikologis kehilangan yang positif yaitu sebesar 76.3%, dan hanya sebagian kecil lansia dalam kategori respon psikologis kehilangan yang negatif, yaitu sebesar 23.7%. Didapatkan 9 orang lansia dalam kategori respon psikologis kehilangan yang negatif karena berdasarkan wawancara dari kuesioner, diketahui bahwa mereka adalah orang yang belum lama tinggal di panti tersebut. Rata-rata mereka menetap di panti kurang dari 1 tahun, sehingga mereka terkadang masih memikirkan sanak keluarga yang masih ada yang kurang memberikan perhatian kepada mereka sebagaimana mestinya. Berdasarkan kuesioner, diketahui juga bahwa sebagian besar dari mereka yang dalam respon psikologis kehilangan negatif yang dulu, sehingga berdampak pada respon psikologis kehilangan yang dalam kategori negatif.

Setelah dilakukan analisis Descriptive Statistics Crosstabs menggunakan uji Chi Square Test, maka berdasarkan Correction Pearson Chi Square didapatkan nilai p value sebesar 0.002, yang berarti p value 0.002 < α 0.05. Hal ini memperlihatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan respon psikologis kehilangan pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa, sehingga hipotesis alternatif dinyatakan diterima dan hipotesis nol ditolak. lansia menghadapi tersebut secara lebih baik dibandingkan lain. Sedangkan bagi yang lainnya, setiap kehilangan biologis, psikologis, pribadi, sosial, identitas, fungsional dan filosofi dapat menimbulkan kehampaan pada kehidupan seseorang.

Menurut Azizah (2011), kehilangan tidak dapat dihindari. Konsep kehilangan masuk ke dalam proses penuaan, sejalan dengan

penurunan komulatif dalam hal mental, fisik dan sosial. Kehilangan adalah satu kata yang paling menyimpulkan tentang masalah usia tua yang meliputi kehilangan pekerjaan, waktu, harga diri, martabat pribadi, kesehatan fisik, kontak sosial, pendapatan dan lain-lain.

Kehilangan dinyatakan dengan deprivasi yang berkaitan dengan status masa lalu, sekalipun intensitas kehilangan tersebut bergantung pada sistem nilai seseorang. Jika frekuensi dan intensitas kehilangan semakin cepat, maka orang tersebut kurang mampu beradaptasi dan berintegrasi yang oleh karena itu membahayakan kesehatan mental dan fisiknya. Efek komulatif dari kehilangan seumur hidup, terutama setelah usia 75 tahun adalah dialaminya berbagai ketidakberhargaan dan pengabaian (Azizah Ma’rifatul L, 2011).

Hidup merupakan suatu rangkaian kehadiran dan kepergian. Ada dan tiada akan selalu berlangsung bergantian. Pada saat akhir kehidupannya lansia akan mengalami loss (kehilangan), grieving (berduka), dying (sekarat/menjelang ajal) dan terakhir death (kematian) (Azizah Ma’rifatul L, 2011).

(7)

oleh lanjut usia. Lanjut usia akan banyak mengalami perubahan fisik kemampuan dan fungsi tubuh yang akan mengkibatkan tidak stabilnya konsep diri.

Penelitian yang dilakukan oleh Setiowati (2012) tentang identifikasi konsep diri (ideal diri, peran diri dan identitas diri) terhadap respon kehilangan pada lansia di Panti Sosial Theodora Makassar menyatakan bahwa ada hubungan antara ideal diri (p 0.000), peran diri (p 0.014) dan identitas diri (p 0.001) dengan respon kehilangan pada lansia.

Berdasarkan beberapa konsep terkait dan penelitian yang sejalan, maka peneliti berasumsi bahwa konsep diri yaitu ideal diri, peran diri, harga diri, citra tubuh dan identitas diri mempunyai hubungan yang signifikan dengan respon psikologis kehilangan pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa. Semakin positif konsep diri pada lansia, maka semakin positif mereka merespon kehilangan yang dialaminya. Demikian juga dengan konsep diri yang negaif, lansia akan merespon kehilangan yang dialamunya dengan respon yang negatif.

KESIMPULAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan tujuan penelitian tentang hubungan konsep diri dengan respon psikologis kehilangan pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut :

1. Sebagian besar konsep diri pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa dalam kategori yang positif (73.7%), dan hanya sebagian kecil konsep diri pada lansia dalam kategori yang negatif (26.3%).

2. Sebagian besar respon psikologis kehilangan pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa dalam kategori yang positif (76.3%), dan hanya sebagian kecil respon psikologis kehilangan pada lansia dalam kategori yang negatif (23.7%).

3. Ada hubungan antara konsep diri dengan respon psikologis kehilangan pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa dimana p value 0.002. Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian dan manfaat penelitian, maka peneliti memberikan beberapa saran antara lain sebagai berikut : 1. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan

sebagai pedoman dan acuan dalam memberikan asuhan keperawatan bagi lansia yang mengalami respon kehilangan

guna meningkatkan derajat kesehatan lansia sehingga masalah atau penyakit yang berhubungan dengan masalah tersebut sedini mungkin dapat dihindari. 2. Diharapakan hasil penelitian ini dapat

dijadikan sebagai bahan informasi untuk tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia khususnya di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Azizah Ma’rifatul L, 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Graha Ilmu : Yogyakarta

Damaiyanti M & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Refika Aditama : Bandung.

Faradilla, 2015. Hubungan Konsep Diri dengan Kehilangan dan Berduka pada Usia Lanjut di Panti Werdha Dharma Bhakti Surakarta. Naskah Publikasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kementrian Kesehatan RI 2015. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. (Online) ( http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2014.pdf, di akses tanggal 25 Maret 2016).

Nugroho, 2014. Keperawatan Gerontik & Geriatrik Edisi 3. EGC : Jakarta.

Nursalam, 2015. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan : Pendekatan Praktis Edisi 4. Salemba Medika : Jakarta.

Padila, 2013. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Nuha Medika : Yogyakarta.

Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa, Maret 2016. Data Awal Jumlah Lansia Januari – Maret 2016.

Prabowo E, 2014. Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Nuha Medika : Yogyakarta.

Purwaningsih W & Karlina I, 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Nuha Medika : Yogyakarta.

Pusat Data dan Informasi Kementrian Keseharan RI, Semester I tahun 2013. Topik Utama Gambaran Kesehatan

Lanjut Usia di Indonesia. (Online) (www.depkes.go.id/download.php?

file=download/pusdatin/...lansia.pdf, di akses tanggal 25 Maret 2016).

Riyanto A, 2011. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan : Dilengkapi Contoh Kuesioner dan Laporan Penelitian. Nuha Medika : Yogyakarta.

Saam Z & Wahyuni S, 2014. Psikologi Keperawatan. Rajawali Pers : Jakarta.

Setiowati, 2012. Identifikasi Konsep Diri (Ideal Diri, Peran Diri dan Identitas Diri) terhadap Respon Kehilangan Pada Lansia di Panti Sosial Theodora Makassar. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 2. No. 2 2012. STIKES Mega Rezky Makassar.

Start W Gail. 2012. Buku Saku Keperawatan Jiwa. EGC : Jakarta.

Sugiyono. 2011. Statistika Untuk Penelitian. AlfaBeta : Yogyakarta.

Sujarweni V. Wiratna. 2014. Metodologi Penelitian Keperawatan. Penerbit Gava Media : Yogyakarta

Suliswati, dkk. 2012. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC : Jakarta.

Sunaryo, 2015. Sosiologi Untuk Keperawatan. Bumi Medika : Jakarta.

Sunyoto D. 2012. Statistik Untuk Paramedis. AlfaBeta : Yogyakarta.

Wijayanti R, 2011. Hubungan antara dukungan keluarga dengan respons kehilangan pada lansia di Desa Pekaja, Kalibagor kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Universitas Indonesia : Jakarta (Online) (http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=97375&lokasi=lokal, di akses tanggal 25 Maret 2016).

William H. Fittz. 1971. Self Concenpt. (Buku Terjemahan).

Yosep, I. 2011. Keperawatan Jiwa. Refika Aditama : Bandung.

Yosep I & Sutini T, 2014. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Refika Aditama : Bandung.

Yusuf, dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Salemba Medika : Jakarta.

Gambar

Tabel 5.1bahwa  konsep  diri  pada  lansia  dengan

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu asas penting yang wajib diperhatikan adalah bahwa hakim wajib mengadili semua bagian tuntutan dan dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut

Bila dibandingkan dengan efektivitas menurut skor PANSS-EC, keduanya tidak terdapat perbedaan yang bermakna (Octaviany, 2016), efektivitasnya sama sehingga jika dilakukan

Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman ini merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan

Menutup kegiatan pembelajaran dengan berdo’a bersama V Alat/Bahan/Sumber Belajar:.. A Kerja logam,

Semasa pemain daripada pasukan lawan yang dibenarkan berada dalam kawasan itu membuat hantaran percuma, bola tidak boleh dibaling melebihi kawasan gelanggang

Peningkatan kompetensi peserta PEDAMBA: Kelas Pemanfaatan Software Tracker dalam pelajaran Fisika Tahap ke-I” dapat dilihat dari hasil evaluasi pelaksanaan

Suatu foto udara diambil dari ketinggian 6000 ft di atas permukaan rata-rata dengan fokus kamera 6 in (152.4 mm) dan format ukuran 9 in (23 cm).. INTERPRETASI FOTO UDARA.  Definisi

z “ “ Suatu Suatu Organisasi Organisasi yang yang memiliki memiliki ketrampilan ketrampilan menciptakan menciptakan , , menguasai?. menguasai dan dan membelajarkan