• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis pengaruh sikap dan norma subjek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis pengaruh sikap dan norma subjek"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis pengaruh sikap dan norma subjektif mahasiswa

terhadap perilaku ramah lingkungan

(Kajian Etika Bisnis

Islam di STAIN Salatiga)

Nafis Irkhami

Email: [email protected]

ABSTRAK

Lemahnya pertimbangan moral dan etika di kalangan pelaku bisnis dianggap sebagai salah satu faktor penting terjadinya eskalasi kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, internalisasi etika lingkungan ke dalam perilaku bisnis akan sangat tepat bila berawal dari para calon entrepreneur. Pertanyaannya adalah, sejauh mana keberhasilan upaya internalisasi etika bisnis Islam di perguruan tinggi? Dengan kata lain, persoalan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah mengenai pengaruh sikap dan norma subyektif mahasiswa terhadap perilaku ramah lingkungan. Obyek penelitian ini adalah perilaku etika lingkungan mahasiswa STAIN Salatiga Program D3 Perbankan Syariah yang telah mengikuti mata kuliah Etika Bisnis Islam.

Theory of reasoned action Fishbein diterapkan untuk menjelaskan sikap obyek. Sikap dibentuk dari keyakinan dan penilaian. Keyakinan dibentuk dari pengalaman dan dari informasi yang didapat dari sumber lain. Norma subjektif diukur dengan memperoleh perasaan konsumen terhadap keluarga, teman, dan atasan tentang apa yang mereka pikir tentang tindakan yang akan dilakukan. Norma subjektif dibentuk dari keyakinan dan motivasi. Pengujian sikap dan norma subjektif terhadap perilaku menggunakan formula Beh = a + b1S + b2NS + e. Berdasarkan hasil uji t, sikap ramah lingkungan menjadi tidak signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan, sedangkan norma subjektif menjadi signifikan berpengaruh terhadap perilaku ramah lingkungan.

(2)

Pendahuluan

Lingkungan hidup telah menjadi persoalan yang sangat komplek pada abad ini. Perubahan iklim dan pemanasan global tidak lagi sekedar menjadi

“peringatan” namun sudah mulai menunjukkan dampak-dampak serius yang

mengancam kehidupan manusia. Di berbagai wilayah Indonesia, dampak tersebut ditunjukkan dengan berbagai bencana, seperti banjir pasang, angin puting beliung, banjir karena hujan dan kemarau berkepanjangan. Kerusakan lingkungan yang menjadi pemicu sekaligus penyebab pemanasan global tidak bisa dilepaskan dari perilaku individu-individu yang tidak ramah terhadap lingkungan. Sebanyak 113 negara yang mendiskusikan pemanasan global dalam suatu forum Intergovernmental P anel on Climate Change di Paris, 2007 sepakat pada satu kesimpulan bahwa pemanasan global besar kemungkinan disebabkan oleh aktivitas manusia (Rosenthal dan Revkin, 2007).

(3)

Bisnis selama ini dipahami sebagai aktivitas yang mengarah pada peningkatan nilai tambah melalui proses penyediaan jasa, perdagangan atau pengolahan barang (to provide products or services for profit). Dalam konteks perusahaan atau entitas, bisnis dipahami sebagai suatu proses keseluruhan dari produksi yang mempunyai kedalaman logika, bahwa bisnis dirumuskan sebagai maksimasi keuntungan (profit maximization) perusahaan dengan meminimumkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, bisnis seringkali lebih menetapkan pilihan strategis daripada pendirian berdasarkan nilai (etik). Dalam hal ini pilihan-pilihan strategis biasanya didasarkan kepada logika subsistence, yakni menjalankan bisnis demi mempertahankan keberlangsungan hidup bisnis itu sendiri. Namun konsekuensi dari kesadaran seperti ini pada akhirnya menuntun kepada sikap bisnis yang benar-benar hanya mempertimbangkan keuntungan. Bahkan kesadaran seperti ini telah menjadi semacam jargon yang dikenal luas dalam masyarakat; "bisnis adalah bisnis," atau " the business of business is business." Fokus perhatian mereka adalah bagaimana memanfaatkan waktu seoptimal mungkin untuk mengumpulkan uang, sebagaimana tertuang dalam frase yang digulirkan Franklin, “Time is money” atau “Money is of the prolific, generating nature” (Prono, 2006).

(4)

masyhur setelah tulisannya dipublikasikan dalam New York Times Magazine, 13 September 1970 dengan judul The Social Responsibility of Business is to Increase P rofits. Menurutnya doktrin tanggung jawab sosial dari bisnis akan merusak sistem ekonomi perdagangan bebas (dalam Donaldson dan Werhane, 1983: 244)

Terkait dengan isu lingkungan, Friedman menyatakan bahwa perusahaan tidak wajib mengeluarkan lebih banyak biaya untuk mengurangi polusi daripada apa yang seperlunya demi kepentingan perusahaan dan apa yang dituntut oleh hukum demi terwujudnya tujuan sosial, yakni menjaga lingkungan hidup (Donaldson dan Werhane, 1983: 240). Pandangan ini menunjukkan bahwa pada era itu, seorang ilmuwan sekalipun (Friedman adalah pemenang Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1976), tidak mengakui pentingnya pertimbangan-pertimbangan moral dan etika lingkungan dalam kegiatan bisnis. Setidaknya pandangan Friedman merepresentasikan wacana yang bergulir saat itu.

(5)

yang mengurusi masalah etika dan tanggung jawab sosial, menyediakan sarana hotline untuk mengantisipasi komplain masyarakat terhadap produk dan layanan perusahaan dan sebagainya. Walaupun, di sisi lain, resistensi terhadap konsep penerapan etika dalam bisnis masih tetap saja terjadi. Di antara mereka yang terkenal, di samping Milton Friedman, adalah Theodore Leavitt (Profesor bidang marketing dan editor The Harvard Business Review), tetap bersikukuh bahwa tanggung jawab perusahaan hanyalah menghasilkan profit. Bila perusahaan dituntut untuk berbuat lebih dari itu, maka dinilai berseberangan dengan prinsip-prinsip free enterprise (Sobirin, 1998).

Asumsi kedua, alam merupakan sumber daya yang tidak terbatas. Memang ada kesadaran secara teoritis bahwa sumber daya alam itu pada akhirnya mempunyai limit, namun batas itu dianggap masih terlalu jauh. Kualitas air dan udara diyakini tidak akan berubah begitu saja hanya karena emisi industri. Dengan mekanismenya sendiri, alam akan mengubah limbah-limbah dan polusi itu menjadi komponen yang bisa diterima oleh alam.

(6)

dalam perindustrian, memiliki kearifan lingkungan yang lebih tinggi, sehingga disebut eqilibrium society, sedangkan pada masyarakat maju (industrialized) sifat kontra ekologis akan lebih mudah terlihat (Abdillah, 2001: 2-3).

Demi menjalankan bisnis secara efisien, murah dan mendatangkan keuntungan besar, pelaku bisnis pada masyarakat maju tidak lagi melibatkan pertimbangan-pertimbangan etis dalam membuang limbah, merambah hutan, mengebor sumber daya alam, dan lain-lain. Dengan kata lain, selama aturan-aturan hukum dipenuhi, tanggung jawab moral pelaku bisnis hanyalah menyediakan barang dan jasa dalam rangka memperoleh keuntungan maksimal; di luar itu, mereka tidak memiliki tanggung jawab moral apapun (Fieser, 1996).

Tindakan homo economicus yang kurang ramah terhadap lingkungan tidak bisa lepas dari pandangan kosmologis tertentu yang menumbuhkan sikap eksploitatif terhadap alam. Karena itu, pengembangan etika ekonomi lingkungan

menghendaki adanya ”perubahan paradigma” secara fundamental dari paradigma

kosmologis yang menumbuhkan eksploitatif terhadap alam kepada paradigma yang menumbuhkan sikap lebih bersahabat dan ramah terhadap alam (Mulkan, 1995:1; Wuraji, 1995:2). Bahkan beberapa tahun lalu Bustanul Arifin memperkuat tesa Passmore. Ia mengatakan bahwa degradasi lingkungan lebih

banyak disebabkan oleh ”kelalaian” manusia dalam mengikuti dan menerapkan

kaidah-kaidah sains, serta ”keberanian” manusia dalam melawan etika atau nilai

moral yang dianutnya, dan ”ketidakmampuan” manusia berpraksis dalam

(7)

Pembenahan dan internalisasi etika lingkungan ke dalam perilaku bisnis, menurut peneliti, akan sangat tepat bila berawal dari dunia akademik, lebih khusus lagi dari mahasiswa ekonomi Islam yang memang sengaja dipersiapkan sebagai calon entrepreneur Muslim. Oleh karena itu, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pengaruh sikap dan norma subyektif mahasiswa terhadap perilaku ramah lingkungan.

Penelitian-Penelitian Sebelumnya

Teori keperilakuan dalam penelitian ekonomi lingkungan setelah tahun 1990-an lebih memfokuskan pada model struktural sikap tiga komponen, yaitu kognitif, afektif dan konatif (Kalafatis et. Al., 1999; Chan, 1999). Ketiga komponen tersebut merupakan konstruksi model dari ilmu psikologi yang mendasari terbentuknya dimensi sikap. Hubungan antar komponen sikap tersebut telah terbukti dapat menjelaskan dan memprediksi perilaku dengan baik (Azjen, 1988). Meskipun demikian, temuan empiris dengan kategori obyek penelitian, latar dan desain penelitian serta metode pengujian yang berbeda-beda mengungkap adanya hubungan yang tidak konsisten antara sikap dan perilaku pada lingkungan (Martin & Simintras, 1995).

(8)

berwawasan lingkungan. Temuan penelitian mengindikasikan adanya kecenderungan perilaku peduli lingkungan yang kuat di mana konsumen lebih memilih produk-produk yang ramah lingkungan (Ottman, 1995). Meningkatnya permintaan produk-produk ramah lingkungan ini ditanggapi oleh para pelaku ekonomi dengan baik, walaupun masih banyak perusahaan yang belum mempedulikan permasalahan pemasaran lingkungan. Revolusi pemasaran hijau mulai menguat setelah terjadi degradasi lingkungan dikarenakan oleh aktivitas perilaku ekonomi (konsumsi) rumah tangga (Chan, 1996).

Studi yang dilakukan Chan dan Lau (2000) mencoba meneliti pengaruh budaya, afeksi ekologikal, dan pengetahuan ekologis terhadap perilaku pembelian hijau konsumen Cina. Nilai budaya masyarakat Cina ternyata hanya berpengaruh pada afek ekologikal namun tidak berpengaruh pada pengetahuan ekologikal mereka. Dengan menggunakan model persamaan struktural untuk mengukur signifikansi afeksi ekologikal dan pengetahuan ekologikal pada niat beli hijau dan pembelian aktual hijau menunjukkan hubungan positif yang kuat. Hasilnya menyatakan bahwa tingkat pengetahuan konsumen Cina rendah dan perilaku pembelian hijau minimal.

(9)

diteliti oleh Follows dan Jobber (2000) dengan menggunakan produk popok bayi sekali pakai yang tidak ramah lingkungan dengan popok kain tradisional yang lebih ramah lingkungan. Penelitian mereka bertujuan untuk mengembangkan model yang dapat memprediksi pembelian dari suatu jenis produk ramah lingkungan yang spesifik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai suatu produk akan berpengaruh pada sikap konsumen pada produk tersebut dan pada akhirnya akan berpengaruh pada niat perilaku ekonomi.

Secara umum, penelitian-penilitian di atas secara empiris menguji nilai-nilai tipologi sebagai dasar untuk menjelaskan pembentukan perilaku ekonomi yang bertanggung jawab sosial. Penentuan faktor-faktor determinan yang mempengaruhi nilai perilaku ramah lingkungan telah dilakukan Kalafatis et al. (1999) dengan menggunakan theory of planned behaviour (TPB) sebagai dasar kerangka konseptual. Teori tersebut diujikan pada wilayah yang berbeda, yaitu Inggris dan Yunani. Temuan penelitian menunjukkan TPB dapat memprediksi dan menjelaskan niat membeli produk ramah lingkungan dengan baik. Selain itu, struktur hubungan antar-konstraks antara dua situasi yang berbeda mengindikasikan adanya stabilitas TPB sebagai teori yang sesuai digunakan dalam pemasaran lingkungan.

(10)

pada keterkaitan antara nilai-sikap-perilaku dalam penelitian Ling-Yee (1997) digunakan sebagai pemoderasi dalam konteks konsumsi makanan sehat yang ramah lingkungan. Variabel demografi yang memoderasi adalah status gender, domisili, keterlibatan produk, dan tingkat pendapatan dari hubungan interaksi antara sikap konsumen pada lingkungan terhadapkomitmen untuk berwawasan lingkungan (Ling-Yee, 1997).

Temuan penelitian yang dilakukan Jiuan et al. (2001) di Singapura menjelaskan bahwa sebagian masyarakat Singapura menyadari adanya permasalahan lingkungan. Kesadaran lingkungan masyarakat Singapura dibentuk karena pengaruh laporan surat kabar harian yang mereka baca daripada promosi yang dilakukan perusahaan. Sikap dan perilaku masyarakat Singapura ini dipengaruhi oeh berbagai variabel demografi seperti usia, gender, kelompok etnik dan tingkat pendidikan.

Penelitian perilaku ekonomi hijau di Indonesia yang dilakukan Adiwijaya (2009) juga mendeskripsikan bahwa sesungguhnya masyarakat telah menyadari adanya persoalan lingkungan.namun studi ini menggambarkan bahwa perilaku para pelaku ekonomi Indonesia masih sangat jauh dari idealitas. Secara spesifik peneliti memotret perilaku bisnis ritel dan konsumen yang lebih suka memproduksi dan menggunakan kantong plastik. Meskipun sebagian besar dari mereka telah mengetahui bahaya plastik terhadap lingkungan, namun kesadaran itu masih sebatas persepsi.

(11)

lingkungan perusahaan yang semakin baik akan diikuti oleh kinerja keuangan (ROA) yang semakin baik pula. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil yang ditemukan oleh Earnhart dan Lizal (2006) dan Al Tuwaijri et al (2003) serta penelitian yang dilakukan di Indonesia seperti Nurhasanah (2007). Hasil penelitian ini juga mendukung teori bahwa perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial akan mendapat tanggapan positif seperti pemberian kemudahan dari investor dan kreditor, loyalitas pekerja dan loyalitas konsumen. Hasil penelitian ini juga mendukung konsep eco-efficiency bahwa perusahaan dapat meningkatkan tambahan nilainya dengan melaksanakan aktivitas yang ramah lingkungan.

Perdana (2010) menyatakan bahwa sikap menyederhanakan gaya hidup secara suka rela memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sikap terhadap peraturan pemerintah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku bertanggungjawab terhadap lingkungan. Menurut Perdana hasil penelitian yang diperolehnya dipengaruhi oleh konsistensi, konseptualisasi dan pengukuran perilaku serta kekhususan pengukuran sikap yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan.

(12)

konteks studi ini adalah calon entrepreneur Muslim. Instrumen pengukuran variabel-variabel lingkungan dalam studi ini dioperasionalisasikan sebagai sikap pada perilaku yang spesifik Islam-Indonesia. Posisi studi perilaku ekonomi berwawasan lingkungan ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya adalah pada objek dan jenis perilakunya.

Hubungan antara Sikap dan Perilaku

Berdasarkan teori Multi Attribute Model, sikap seseorang terhadap obyek adalah hasil akumulasi dari penilaian-penilaiannya terhadap obyek tersebut. Menurut Fishbein ada tiga model dalam penilaian sikap tersebut, yaitu the attitude-toward-object model, the attitude-toward-behaviour model dan theory-of-reasoned-action model. The attitude-toward-object model sesuai untuk pengukuran sikap terhadap kategori produk atau jasa atau brand tertentu. Menurut model ini, biasanya konsumen memiliki sikap yang menguntungkan terhadap brand yang mereka percayai memiliki level atribut yang cukup yang mereka evaluasi sebagai positif, dan sikap yang tidak menguntungkan terhadap brand yang mereka merasa tidak memiliki atribut yang cukup atau memiliki terlalu banyak atribut negatif.

(13)

Keinginan berperilaku tercipta melalui proses pilihan keputusan di mana kepercayaan tentang dua jenis konsekuensi Act dan Norma Subjektif (SN) dipertimbangkan serta diintegrasikan untuk mengevalusi perilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya. Kekuatan dan evaluasi kepercayaan utama konsumen tentang konsekuensi fungsional aksi dikombinasikan untuk membentuk sikap terhadap perilaku. Teori ini menyatakan bahwa sikap konsumen terhadap perilaku dan norma subjektif akan mempengaruhi keinginan berperilaku dan bahwa pengaruh relatif mereka beragam dari satu situasi ke situasi yang lain.

Menurut teori yang dikemukakan oleh Fishbein dalam theory of reasoned action model, perilaku merupakan kombinasi dari sikap dengan norma subjektif konsumen.

Hubungan Antara Sikap dan Perilaku

Kepercayaan terhadap Etika

Evaluasi Atribut Etika

Norma Sosial :

Kepercayaan Normatif

Motivasi untuk Patuh dan Taat

Evaluasi Keseluruhan atas Suatu Tindakan

Maksud Untuk Berperilaku Etika

(14)

Model ini memiliki dua komponen yaitu komponen sikap dan komponen norma subjektif. Komponen sikap bersifat internal dan berkaitan langsung dengan atribut yang memiliki peranan penting dalam pengukuran perilaku, karena akan menentukan tindakan apa yang akan dilakukan, tanpa dipengaruhi faktor eksternal. Sedangkan komponen norma subjektif bersifat eksternal dan memiliki pengaruh pada perilaku individu. Komponen ini dibentuk oleh pertama, keyakinan normatif individu bahwa kelompok atau seseorang yang menjadi referensi menginginkan individu tersebut melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan. Kedua, motivasi individu untuk menuruti keyakinan normatif tersebut.

Pengembangan Hipotesis

(15)

Berdasarkan pembahasan di atas, hipotesa yang hendak diuji dalam penelitian ini adalah;

Hipotesa 1: Sikap berpengaruh positif terhadap perilaku ramah lingkungan Hipotesa 2: Norma subjektif berpengaruh positif terhadap perilaku ramah lingkungan

Kerangka pemikiran dalam penelitian ini digambarkan dalam bagan berikut:

Gambar 2.5 Kerangka Pemikiran

METODE PENELITIAN

Populasi dan Objek

Menurut Sekaran (2003) populasi adalah keseluruhan obyek yang karakteristiknya hendak diduga. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Keyakinan bahwa

sikap akan

mendorong pada hasil tertentu

Motivasi untuk Menuruti Referen Tertentu

Tanggapan Responden

Nilai Sikap Nilai Norma Subjektif

Nilai Perilaku Evaluasi

(16)

Program DIII Perbankan Syariah yang telah mengikuti mata kuliah Etika Bisnis Islam. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 38 responden. Responden dalam penelitian ini sedang berada pada semester 4.

Obyek penelitian ini adalah perilaku etika lingkungan mahasiswa STAIN Salatiga Program D3 Perbankan Syariah yang telah mengikuti mata kuliah Etika Bisnis Islam. Penelitian ini menggunakan dua tipe data yaitu data primer; data yang didapat dari sumber pertama kali dari individu atau perseorangan seperti hasil wawancara atau pengisian kuesioner. Kedua, data sekunder, data primer yang telah diolah lebih lanjut.

Sampel dalam penelitian ini sama dengan populasi dalam penelitian ini yaitu mahasiswa Program DIII Perbankan Syariah yang telah mengikuti mata kuliah Etika Bisnis Islam. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 38 responden. Responden dalam penelitian ini saat penelitian ini dilakukan sedang menempuh semester 4. Karena jumlah populasinya sangat sedikit, maka semua digunakan sebagai sampel karena menurut Sekaran untuk penelitian kuantitatif setidaknya jumlah responden adalah 30 orang. Namun setelah kuesioner dikumpulkan kembali dari responden, hanya 36 responden yang mengembalikan dan mengisi kuesioner dengan benar.

Metode Pengumpulan Data

(17)

likert, yaitu 5 : sangat yakin, 4 : yakin, 3 : ragu-ragu, 2 : tidak yakin dan 1 : sangat tidak yakin.

Analisa Fishbein

Theory of reasoned action yang dikembangkan oleh Fishbein menunjukkan integrasi komprehensif komponen sikap ke dalam struktur yang didesain untuk mendorong penjelasan dan prediksi yang lebih baik dari perilaku. Teori ini menggunakan komponen kognitif, afektif dan konatif. Model ini menyatakan bahwa prediktor perilaku yang terbaik adalah intention to act. Jika ingin mengetahui apa dibalik intention adalah sikap dan norma subjektif. Sikap dibentuk dari keyakinan (persepsi dan pengetahuan) dan penilaian. Keyakinan dibentuk dari pengalaman dan dari informasi yang didapat dari sumber lain. Norma subjektif diukur dengan memperoleh perasaan konsumen terhadap keluarga, teman, dan atasan tentang apa yang mereka fikir tentang tindakan yang akan dilakukan. Norma subjektif dibentuk dari keyakinan dan motivasi.

Pengujian Sikap dan Norma Subjektif terhadap Perilaku Beh = a + b1S + b2NS + e

Di mana :

Beh : Perilaku ramah lingkungan S : Sikap

NS : Norma subjektif e : error term

ANALISA DATA

(18)

dan sama atau lebih besar dari r tabel dengan taraf signifikansi 5% maka dapat disimpulkan signifikan. Dengan df 34 alpha 0.05 maka r tabelnya adalah 0.279. Berdasarkan hasil pengujian validitas, dapat dikatakan bahwa semua butir kepercayaan sikap adalah valid kecuali butir satu.

Hasil Validitas Kepercayaan Sikap

Berdasarkan uji validitas, ternyata butir pertama dan kedua dalam evaluasi sikap tidak valid karena r hitung lebih kecil dari r tabel. Langkah yang dilakukan peneliti adalah menghapus butir yang tidak valid tersebut.

Hasil Validitas Keyakinan Norma Subjektif

No Butir r hitung r tabel Keterangan

1 0.548 0.279 Valid

2 0.724 0.279 Valid

3 0.423 0.279 Valid

(19)

Berdasarkan uji validitas, ternyata butir pertama dalam butir keyakinan norma subjektif tidak valid karena r hitung lebih kecil dari r tabel. Langkah yang dilakukan peneliti adalah menghapus butir yang tidak valid tersebut.

Hasil Validitas Evaluasi Norma Subjektif

No Butir r hitung r tabel Keterangan

1 0.531 0.279 Valid

2 0.273 0.279 TidakValid

3 0.517 0.279 Valid

4 0.686 0.279 Valid

Berdasarkan uji validitas, ternyata butir kedua dalam evaluasi norma subjektif tidak valid karena r hitung lebih kecil dari r tabel. Langkah yang dilakukan peneliti adalah menghapus butir yang tidak valid tersebut.

Hasil Validitas Perilaku

No Butir r hitung r tabel Keterangan

1 0.199 0.279 Tidak Valid

2 0.505 0.279 Valid

3 0.549 0.279 Valid

Berdasarkan uji validitas, ternyata butir perilaku pertama tidak valid karena r hitung lebih kecil dari r tabel.

Analisa Reliabilitas

(20)

pertanyaan memiliki reliabilitas yang cukup baik (menurut klasifikasi Sekaran, 2000).

Hasil Pengujian Reliabilitas

No Faktor Nilai Alpha Status

1 Keyakinan 0.737 Dapat Diterima

2 Evaluasi 0.645 Dapat Diterima

3 Keyakinan 0.790 Dapat Diterima

4 Evaluasi 0.822 Baik

5 Perilaku 0.612 Dapat Diterima

Analisa Model Fishbein

Berdasarkan hasil analisa ini dapat dikatakan bahwa sikap positif atau negatif seseorang dibentuk oleh komponen keyakinan dan penilaian.

1. Keyakinan Sikap Responden

Keseluruhan skor keyakinan (bi) sikap responden

No Penilaian terhadap atribut (bi) Skor

1 Perilaku ramah lingkungan dapat dimulai dari

lingkungan sekitar 165

2 Perilaku ramah lingkungan harus didukung

banyak pihak 156

3 Perilaku ramah lingkungan harus dipromosikan

di kota maupun di desa 147

4 Perilaku ramah lingkungan harus dilakukan

sejak dini 176

Dari tabel di atas, skor yang paling tinggi (setelah atribut satu dan dua dihapus karena tidak valid) adalah pada atribut bahwa perilaku ramah lingkungan harus dilakukan sejak dini dan skor yang paling rendah adalah pada atribut bahwa perilaku ramah lingkungan harus dipromosikan di kota maupun di desa.

2. Penilaian sikap responden (Evaluasi)

Keseluruhan skor evaluasi (ei) sikap responden

(21)

1 Perilaku ramah lingkungan dapat dimulai dari lingkungan sekitar

166 2 Perilaku ramah lingkungan harus didukung

banyak pihak

157 3 Perilaku ramah lingkungan harus dipromosikan

di kota maupun di desa

150 4 Perilaku ramah lingkungan harus dilakukan

sejak dini

170

Dari tabel di atas, skor yang paling tinggi (setelah atribut satu dan dua dihapus karena tidak valid) adalah pada atribut bahwa perilaku ramah lingkungan harus dilakukan sejak dini dan skor yang paling rendah adalah pada atribut bahwa perilaku ramah lingkungan harus dipromosikan di kota maupun di desa.

3. Penilaian Keyakinan Norma Subjektif Responden

Keseluruhan Skor Keyakinan Norma Subjektif

No Penilaian terhadap atribut (ni) Skor

1 Orang tua saya menyarankan saya sebaiknya berperilaku ramah lingkungan

151 2 Guru saya menyarankan saya sebaiknya berperilaku ramah

lingkungan

146 3 Teman saya menyarankan saya sebaiknya berperilaku ramah

lingkungan

106 4 Saudara saya menyarankan saya sebaiknya berperilaku

ramah lingkungan

4. Penilaian Evaluasi Norma Subjektif Responden

Keseluruhan Skor Evaluasi Norma Subjektif

(22)

1 Orang tua saya menyarankan saya sebaiknya berperilaku ramah lingkungan

142 2 Guru saya menyarankan saya sebaiknya berperilaku ramah lingkungan 128 3 Teman saya menyarankan saya sebaiknya berperilaku ramah

lingkungan

114 4 Saudara saya menyarankan saya sebaiknya berperilaku ramah

lingkungan

127

Tabel di atas menunjukkan skor yang paling tinggi adalah pada atribut bahwa orang tua saya menyarankan saya sebaiknya berperilaku ramah lingkungan dan skor yang paling rendah adalah pada atribut bahwa teman saya menyarankan saya sebaiknya berperilaku ramah lingkungan.

5. Penilaian Perilaku Ramah Lingkungan Responden

Keseluruhan Skor Perilaku Ramah Lingkungan Responden

No Penilaian terhadap atribut perilaku (beh) Skor

1 Saya mungkin akan berperilaku ramah lingkungan 144 2 Saya pasti berperilaku ramah lingkungan 136

Dari tabel di atas, skor yang paling tinggi (setelah butir pertama dihapus karena tidak valid) adalah pada atribut bahwa saya mungkin akan berperilaku ramah lingkungan daripada saya pasti berperilaku ramah lingkungan.

6. Pengelompokan Skor Sikap Responden

Pengelompokan skor sikap responden dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Skor sikap maksimum adalah maksimum skala bi x maksimum skala ei x jumlah atribut

(23)

2. Skor sikap minimum adalah minimal skala bi x minimal skala ei x jumlah atribut

Skor sikap minimum adalah = 1 x 1 x 4 = 4

Dengan mengetahui skor maksimal dan skor minimal maka kita dapat menentukan rentang untuk klasifikasi skor sikap yang terdiri dari lima kategori yaitu sangat positif, positif, netral, negatif dan sangat negatif. Dari skor maksimal sebesar 100 dan skor minimal sebesar 42, maka klasifikasi rentang tiap kategori adalah :

(skor maksimal – skor minimal)/5 = (100-42)/5 = 58/5 = 11.6 = 12

Klasifikasi Skor Sikap Secara Keseluruhan

No Kategori Rentang

1 Sangat positif 90 – 100

2 Positif 78 – 89

3 Netral 66 – 77

4 Negatif 54 – 65

5 Sangat negatif 42 – 53

Sikap ramah lingkungan responden adalah netral karena rerata skor sebesar 77.3 dibulatkan menjadi 77 terletak diantara 66-77.

7. Pengelompokan Skor Norma Subjektif Responden

Dengan mengetahui skor maksimal dan skor minimal maka kita dapat menentukan rentang untuk klasifikasi skor norma subjektif yang terdiri dari lima kategori yaitu sangat positif, positif, netral, negatif dan sangat negatif. Dari skor maksimal sebesar 80 dan skor minimal sebesar 24, maka klasifikasi rentang tiap kategori adalah :

(24)

Klasifikasi skor norma subjektif secara keseluruhan

No Kategori Rentang

1 Sangat positif 68 – 80

2 Positif 57 – 67

3 Netral 46 – 56

4 Negatif 35 – 45

5 Sangat negatif 24 – 34

Skor norma subjektif responden adalah netral karena rerata skor sebesar 50.9 dibulatkan menjadi 51 terletak diantara 46-56.

8. Pengelompokan Skor Perilaku Responden

Dengan mengetahui skor maksimal dan skor minimal maka kita dapat menentukan rentang untuk klasifikasi skor norma subjektif yang terdiri dari lima kategori yaitu sangat positif, positif, netral, negatif dan sangat negatif. Dari skor maksimal sebesar 80 dan skor minimal sebesar 24, maka klasifikasi rentang tiap kategori adalah :

(skor maksimal – skor minimal)/5 = (10-5)/5 = 1

Klasifikasi Skor Perilaku Secara Keseluruhan

No Kategori Rentang

1. Sangat positif 9 – 10

2. Positif 8 – 9

3. Netral 7 – 8

4. Negatif 6 – 7

5. Sangat negatif 5 – 6

Skor perilaku responden adalah netral karena rerata skor sebesar 7.57 dibulatkan menjadi 7.6 terletak diantara 7 - 8.

(25)

Regression

(26)

Berdasarkan hasil uji F, peneliti mendapatkan nilai F hitung sebesar 7,120 dengan tingkat probabilitas 0.003. Karena probabilita jauh lebih kecil dari 0,05 maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi perilaku ramah lingkungan atau dapat dikatakan bahwa sikap ramah lingkungan dan norma subjektif secara bersama-sama berpengaruh terhadap perilaku ramah lingkungan. Berdasarkan hasil uji t, peneliti mendapatkan nilai t hitung 1,383 untuk sikap dengan probabilitas 0,176, di mana nilai probabilitas ini jauh diatas 0,05 sehingga sikap ramah lingkungan menjadi tidak signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan. Norma subjektif dengan nilai t hitung 3,615 dengan probabilitas 0,001, di mana nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka norma subjektif menjadi signifikan berpengaruh terhadap perilaku ramah lingkungan. Dengan demikian, maka hipotesa 1 ditolak dan hipotesa 2 diterima.

Perilaku = -5,386 + 1,13 S + 2,084 NS + e

Konstanta sebesar -5,386 maka jika variabel sikap dan norma subjektif dianggap konstan, maka perilaku ramah lingkungan sebesar -5,386. Koefisien regresi sikap sebesar 1,13 menyatakan bahwa setiap penambahan sikap sebesar satu satuan akan meningkatkan perilaku sebesar 1,13. Koefisien regresi norma subjektif sebesar 2,084 menyatakan bahwa setiap penambahan norma subjektif sebesar satu satuan akan meningkatkan perilaku 2,084.

PENUTUP

(27)

1. Skor sikap yang paling tinggi (setelah atribut satu dan dua dihapus karena tidak valid) adalah pada atribut bahwa perilaku ramah lingkungan harus dilakukan sejak dini dan skor yang paling rendah adalah pada atribut bahwa perilaku ramah lingkungan harus dipromosikan di kota maupun di desa.

2. Skor norma subjektif yang paling tinggi adalah pada atribut bahwa orang tua saya menyarankan untuk berperilaku ramah lingkungan dan skor yang paling rendah adalah pada atribut bahwa teman saya menyarankan untuk berperilaku ramah lingkungan

3. Skor perilaku yang paling tinggi (setelah butir pertama dihapus karena tidak valid) adalah pada atribut bahwa saya mungkin akan berperilaku ramah lingkungan daripada saya pasti berperilaku ramah lingkungan.

4. Berdasarkan output SPSS, besarnya Adjusted R squared adalah 0.254 yang berarti 25,4% variasi perilaku ramah lingkungan dapat dijelaskan oleh variasi dari sikap dan norma subjektif. Sedangkan sisanya 74,6% dijelaskan oleh faktor lainnya di luar model.

5. Berdasarkan hasil uji F, peneliti mendapatkan nilai F hitung sebesar 7,120 dengan tingkat probabilitas 0.003. Karena probabilita jauh lebih kecil dari 0,05 maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi perilaku ramah lingkungan atau dapat dikatakan bahwa sikap ramah lingkungan dan norma subjektif secara bersama-sama berpengaruh terhadap perilaku ramah lingkungan.

(28)

sehingga sikap ramah lingkungan menjadi tidak signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan. Norma subjektif dengan nilai t hitung 3,615 dengan probabilitas 0,001, di mana nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka norma subjektif menjadi signifikan berpengaruh terhadap perilaku ramah lingkungan. Dengan demikian, maka hipotesa 1 ditolak dan hipotesa 2 diterima.

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, Mujiono Agama Ramah Lingkungan P erspektif Al-Qur’an (Jakarta: Paramadina, 2001),

Agustina, Neneng, 2004, Analisa Sikap Konsumen Terhadap Tipe Sepeda Motor Merek Yamaha, Skripsi, UGM Yogyakarta

Assael, Henry, 1992, Consumer Behaviour and Marketing Action, PWS-Kent Publishing Company, Boston

Bertens, K., P engantar Etika Bisnis (Yogyakarta: Kanisius, 2000).

Calne, Donald B. Within Reason: Rationality and Human Behavior (Canada: Pantheon, 1999).

Dharmmesta, Basu S dan Handoko, Hani, 1998, Manajemen P emasaran : Analisa P erilaku Konsumen, BPFE, Yogyakarta

Donaldson, Thomas dan P. Werhane (ed.), Ethical Issues in Business. A P hilosophical Approach, (New Jersey: Prentice Hall, 1983).

Fishbein, 1975, Belief, Attitude, Intentionand Behaviour : An Introduction to Theory and Research, Addison Wesley Publishing Company, Sidney Kottler, Philip, Armstrong, Gary, 1997, P rinciple of Marketing, Prentice Hall,

New Jersey

Lestari., Arkhemi Suci, 2008, Analisa F aktor-F aktor yang Mempengaruhi Minat Beli P roduk Ramah Lingkungan, Skripsi, Akuntansi, UGM

Loudon dan Bitta, 1998, Consumer Behaviour : Concept and Application, Mc Graw Hill, Singapore

Nugraha., Yanu Artha, 2004, Analisis P engaruh Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan P erusahaan di Indonesia, Skripsi, Akuntansi, UGM, Yogyakarta

Perdana., Aulia, 2010, P engaruh Sikap Menyederhanakan Gaya Hidup Suka rela dan Sikap terhadap P eraturan Lingkungan pada P erilaku Bertanggungjawab pada Lingkungan, Thesis, Manajemen, UGM

Perusahaan ke dalam Corporate Behavior," dalam SINERGI, VOL. 1, No. 1, 1998.

Prono, Luca, “Protestant Ethics,” dalam Mehmet Odekon (ed.), Encyclopedia of World P overty, (London: SAGE Publication, 2006),hal. 879.

Rahadjo, Dawam, "Etika Bisnis Menghadapi Globalisasi dalam PJP II," dalam P RISMA, No. 2 (Jakarta: LP3ES, 1995)

Rangkuti, Freddy, 2002, Measuring Consumer Satisfaction, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Roby C D, 2007, Analisis Sikap terhadap Merek dan Niat P embelian pada Iklan Komparatif Tidak Langsung dan Iklan Non Komparatif, Skripsi, UGM Yogyakarta

Rosenthal, Elisabeth dan Andrew C. Revkin, “Science Panel Says Global Warming is „Unequivocal‟,” New York Times, 3 Feb. 2007.

Said, Mad Aini, “Environmental Concerns, Knowledge and Practices Gap Among Malaysian Teachers International Journal Of Sustainability in Higher

(30)

Santosa., Singgih, 2004, Mengelola Data Statistik secara P rofesional, Elex Media Komputindo, Jakarta

Schiffman, Leon G, Kanuk, Leslie L, 2004, Consumer Behaviour, Prentice Hall, New Jersey

Sekaran., Uma, 2000, Research Methods for Business : A Skill Building Approach, John Willey & Sons

Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Quran (Bandung: Mizan, 1996), hal.4. Sobirin, Achmad, "Internalisasi Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial

Gambar

Gambar 2.5 Kerangka Pemikiran
Tabel di atas menunjukkan skor yang paling tinggi adalah pada atribut

Referensi

Dokumen terkait

Data asupan zat gizi di luar asupan sup jamur tiram putih yang meliputi asupan energi total, asam lemak jenuh, karbohidrat sederhana, dan serat diperoleh dari konsumsi makanan

Penelitian ini ditargetkan menghasilkan manfaat berupa luaran yaitu: (a) memberikan bukti empiris mengenai pengaruh kemampuan perencana pembangunan melalui dimensi pendidikan,

Abstrak: Tujuan penelitian yang ingin dicapai yaitu untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi subtema pentingnya kesehatan diri dan lingkungan

Kemudian hasil penelitian Maharani Tejasari berjudul, Peranan Sektor Usaha Kecil Dan Menengah Dalam Penyerapan Tenaga Kerja Dan Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia, skripsi

Kesimpulan komentar terhadap bahan ajar berupa LKPD Menulis Teks Eksplanasi berbasis Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD oleh tiga guru dari masing-masing sekolah

Pupuk pelengkap cair dengan konsentrasi 4 ml/l air merupakan perlakuan terbaik untuk mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman sawi pada parameter tinggi

The results using the original data (solid line), imputed data (dashed line), and augmented data (dotted line) are all shown using data with onset date no later than the value in the

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah dapat memperoleh suatu hasil atau ketentuan yang meliputi; (1) mengevaluasi sejauhrnana kondisi angkutan penumpang yang