A. Pendahuluan
Islam adalah ajaran Allah swt. yang secara struktur adalah merupakan agama terakhir, dimana substansi ajarannya mencakup segala aktivitas manusia di atas permukaan bumi. Dalam formalitas kehidupan lahiriyah, Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya serta dengan lingkungan sekitarnya. Aturan hubungan manusia dengan Tuhannya serta hubungan manusia dengan sesamanya telah diatur dalam sebuah kaidah yang bernama syariat dan fiqh, yang kini populer disebut hukum Islam.
Hukum Islam dan dinamika masyarakat sering dipersepsikan sebagai dua hal yang sangat berbeda dan sering dikatakan saling bertentangan. Dalam satu sudut pandang, hukum Islam merupakan sesuatu yang tidak akan mungkin mengalami perubahan, karena berdasarkan wahyu Allah swt. yang bersifat qodim. Sesuatu yang qodim bersifat statis atau tidak berubah. Sebaliknya, kehidupan dalam masyarakat secara substansial mengalami perubahan yang cukup besar dan bersifat dinamis. Sesuatu yang dinamis tidak mungkin dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat statis dan stabil. Akan tetapi hukum Islam tidak statis, tetapi mempunyai daya lentur yang dapat sejalan dengan sesuatu yang berubah dan bergerak.1
Hukum selain berfungsi sebagai pengatur kehidupan dalam masyarakat atau social control, dapat juga berfungsi sebagai pembentuk masyarakat atau social engineering. Kedua fungsi hukum diatas juga terdapat dalam hukum Islam. Kedua fungsi tersebut diharapkan dapat mengarahkan kehidupan masyarakat, sehingga dapat sejalan dengan perkembangan masa kontemporer saat ini. Kedua fungsi ini tidak serta-merta mudah dipahami, karena akan berhadapan dengan cara pemahaman terhadap hukum Islam itu sendiri. Diperlukan
kesungguhan dan keluwesan dalam memahami dan menganalisis setiap ajaran hukum Islam, agar tidak mudah termakan oleh waktu serta mampu menjawab tantangan jaman.
Hukum Islam yang merupakan produk pemikiran ulama-ulama terdahulu bukanlah merupakan hal yang absolut atau tidak dapat diperbaharui. Sebaliknya, hasil pemikiran yang tidak sesuai dengan jaman kekinian perlu ditinjau ulang, dan hal ini menunjukkan bahwa pemikiran tersebut kurang mampu mempertahankan diri dalam perkembangan jaman. Tidak mengherankan jika terjadi berbagai pergumulan hukum Islam dengan dinamika masyarakat kontemporer, dimana selalu menimbulkan berbagai pertanyaan terhadap produk-produk pemikiran ulama terdahulu, terutama jika dikaitkan dengan spektrum masalah dewasa ini yang semakin luas dan kompleks. Salah satu masalah yang mendasar adalah apakah hukum Islam mampu mengantisipasi perkembangan dinamika masyarakat kontemporer atau tidak. Dalam konteks ini, tentu dibutuhkan terobosan-terobosan baru dalam perumusan hukum Islam. Salah satu terobosan baru tersebut adalah mengintegrasikan pemikiran hukum Islam dan dinamika masyarakat kontemporer yang terus berkembang.
B. Pembahasan 1. Hukum Islam
Hukum secara etimologis berakar pada kata atau huruf م,ك,ح yang berarti “menolak”. Dari sini terbentuk kata مكحلا , yang berarti “menolak kezaliman atau penganiayaan”.2 Sedangkan secara terminologis, ulama ushul
mendefinisikan hukum dengan titah Allah swt. yang berkenaan dengan perbuatan orang-orang mukallaf, baik berupa tuntutan, pilihan maupun larangan. Sedangkan ulama fiqh mengartikannya sebagai efek yang dikehendaki oleh perintah Allah swt. dari perbuatan manusia, seperti wajib, haram dan mubah.3
2 Umar Syihab, Hukum Islam dan Transformasi Pemikiran, (Cet. I; Semarang: Dina Utama, 1996), h. 8
Kata hukum mengandung pengertian yang begitu luas selain definisi-definisi yang dikemukakan di atas. Secara sederhana, hukum dapat diartikan sebagai seperangkat peraturan tentang tingkah laku manusia yang ditetapkan dan diakui oleh satu negara atau kelompok masyarakat, berlaku serta mengikat untuk seluruh anggotanya.4 Namun demikian dalam istilah hukum Islam dan literatur
berbahasa Arab, kata yang biasa digunakan adalah fiqh dan syariat atau hukum syara’. Pengertian syariat sendiri adalah kumpulan perintah dan hukum-hukum akidah serta muamalah yang diwajibkan oleh Islam, untuk diterapkan guna mewujudkan tujuannya yaitu kebaikan dalam masyarakat.5 Jadi ketentuan hukum
syara’ itu terbatas pada ketentuan yang telah dirumuskan dalam al-Qur’an dan hadis.
Segala tindakan manusia di dunia haruslah merujuk kepada aturan Allah swt. dan rasulNya dalam upaya mencapai kehidupan yang bahagia. Kehendak Allah swt. dan rasulNya itu sebagian telah terdapat secara tertulis dalam kitab-kitabNya yang disebut syariat, serta sebagian lainnya tersimpan di balik apa yang tertulis itu. Untuk mengetahui keseluruhan mengenai apa yang dikehendaki Allah swt. tentang tingkah laku manusia, maka harus ada pemahaman yang mendalam tentang syariat, sehingga secara amaliah dapat diterapkan dalam kondisi dan situasi apapun. Hasil pemahaman itu dituangkan dalam bentuk ketentuan yang terperinci. Ketentuan terperinci tentang tindakan-tindakan manusia yang diformulasikan dan diramu sebagai hasil pemahaman terhadap syariat itulah yang disebut fiqh. Jadi fiqh secara sederhana dapat diartikan sebagai hasil penalaran pakar hukum (mujtahid) atas hukum syara’, yang dirumuskan dalam bentuk aturan secara terperinci.6
4 Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid I, (Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 281
5 Mustafa Muhammad al-Zarqa, Al-Fiqh al-Islamiy fi Jaubih al-Jadidah Jilid I, (Beirut: Dar al-Fikr, 1968), h. 30
Dari uraian-uraian di atas, hukum Islam merupakan refleksi dari perkembangan kehidupan masyarakat yang sesuai dengan kondisi jamannya.7
Adapun pengertian hukum Islam secara terminologis adalah merupakan gabungan antara syariat dan fiqh, yaitu seperangkat peraturan berdasarkan wahyu Allah swt. dan sunnah rasul, tentang tingkah laku mukallaf yang diakui berlaku dan mengikat untuk semua orang yang beragama Islam.8 Kata “seperangkat peraturan”
menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hukum Islam adalah peraturan yang dirumuskan secara terperinci dan mempunyai kekuatan mengikat. Sedangkan kata “berdasarkan wahyu Allah swt. dan sunnah rasul” menjelaskan bahwa seperangkat peraturan itu digali dari dan berdasar kepada wahyu Allah swt. dan sunnah rasul. Kata “tentang tingkah laku mukallaf “ mengandung arti bahwa hukum Islam mengatur tindakan lahir dari manusia yang dikenai hukum. Peraturan tersebut berlaku dan mempunyai kekuatan terhadap orang-orang yang meyakini kebenaran wahyu dan hadis tersebut, dimana yang dimaksudkan disini adalah umat Islam.9
Ada juga yang mendefinisikan hukum Islam sebagai koleksi daya upaya para ahli hukum untuk menerapkan syariat atas kebutuhan masyarakat.10 Definisi
hukum Islam ini lebih dekat kepada arti fiqh, dan bukan kepada syariat. Dari kedua definisi hukum Islam diatas, dapat dikemukakan bahwa pada hakikatnya hukum Islam mempunyai muatan hukum syara’ dan hukum fiqh, karena bersumber dari syariat (al-Qur’an dan hadis). Tetapi hukum Islam juga merupakan hasil ijtihad para ulama (pengerahan seluruh potensi akal). Dengan kata lain, syariat Islam yang diterjemahkan sebagai hukum Islam (hukum in abstracto) didasarkan pada pengertian syariat dalam arti sempit, dimana makna yang terkandung dalam syariat secara luas adalah mencakup aspek akidah, akhlak dan hukum. Selain itu, jika hukum Islam diterjemahkan dari syariat Islam maka nilai
7 Faruq Abu Zaid, Al-Syari’ah Islamiyah Baina Muhafizin wa al-Mujadiddin, (Kairo: Dar al-Waqaf), h. 12
8 Amir Syarifuddin, Pengertian dan Sumber Hukum Islam, (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h. 17-18
9 Ibid., h. 18
hukum dalam kajian syariat bersifat qath’i (mutlak benar dan berlaku universal). Akan tetapi jika hukum Islam merupakan terjemahan dari fiqh, maka hukum Islam yang dimaksudkan adalah hasil ijtihad yang nilai kebenarannya bersifat zhanni atau tidak bersifat qath’i.11
Berdasarkan pemahaman di atas, hukum Islam berasal dari apa yang dikatakan Allah swt. dalam al-Qur’an serta yang disampaikan oleh Rasullah saw. dalam hadisnya. Bahkan para ahli ushul mengatakan bahwa perintah Allah swt. dan Rasulullah saw. itulah yang disebut hukum, sedangkan ulama fiqh mengatakan bahwa hukum syara’ adalah pengaruh atau efek titah Allah swt. dan Rasulullah saw. terhadap perbuatan manusia, bukan titah itu sendiri.12
Kemunculan istilah hukum Islam dapat dikatakan merupakan adopsi dari literatur Barat. Pada literatur Barat terdapat kata Islamic Law, dimana secara harfiah berarti hukum Islam. Dalam penjelasan terhadap kata Islamic Law sering ditemukan definisi yaitu keseluruhan kitab Allah swt. yang mengatur kehidupan setiap umat muslim dalam segala aspek. Kata hukum Islam sendiri dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan dari Islamic Law. Dalam hal ini, definisi hukum Islam (Islamic Law) tersebut mendekati arti syariat Islam.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum Islam pada dasarnya mencakup hukum syara’ dan hukum fiqh, karena bersumber dari wahyu (al-Qur’an dan hadis) serta merupakan hasil kreativitas akal manusia terhadap wahyu itu. Oleh karena itu, hukum Islam memiliki dimensi ilahiyah yang transenden serta dimensi insaniyah yang profan.
2. Pemikiran Hukum Islam
Masa kehidupan Rasulullah saw. sering juga disebut sebagai periode risalah, karena pada masa ini agama Islam baru didakwahkan. Permasalahan mengenai hukum Islam diserahkan sepenuhnya kepada Rasulullah saw. pada waktu itu. Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi petunjuk dan pedoman hidup
11 Suparman Usman, Hukum Islam: Asas-Asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, (Cet. I; Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), h. 20-21
manusia, dimana ayat demi ayat yang diterima akan diterangkan dan dijabarkan lebih jauh oleh Rasulullah saw., yang kemudian diamalkan oleh umat Islam saat itu. Akan tetapi sepeninggal Rasulullah saw., ayat-ayat al-Qur’an dan hadis terhenti sementara masalah-masalah baru terus berdatangan sesuai dengan perkembangan jaman.
Perubahan dan perkembangan jaman terkadang lebih cepat dari hukum yang mengatur, dimana hukum sering terlambat mengantisipasi masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Demikian pula dengan hukum Islam, sehingga hal ini membuat para ulama berusaha untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul belakangan dengan penemuan ijtihad sebagai perspektif hukum Islam. Perspektif hukum Islam itu dibangun dengan berbagai metode, yang di dalamnya tidak hanya mengatur hubungan bersifat horizontal tetapi juga bersifat vertikal.
Pemikiran hukum Islam dapat dilihat dengan dua aspek, yaitu aspek eksoteris dan aspek isoteris. Aspek eksoteris adalah aspek bebas tanpa dibarengi dogma serta dapat dikatakan murni, sedang aspek isoteris adalah aspek yang bersifat rahasia dan hanya untuk diketahui oleh orang-orang tertentu. Dalam dinamika intelektual Islam, perbedaan pandangan dengan menggunakan kedua aspek tersebut sering menyebabkan adanya perbedaan interpretasi terhadap pemikiran. Akibatnya banyak timbul keberagaman dalam pemikiran. Sejarah mencatat, dalam perjalanan pemikiran hukum Islam muncul berbagai mazhab, aliran, golongan, ormas dan kelompok-kelompok Islam, baik pada masa klasik, masa pertengahan hingga masa modern.
a) Pemikiran Hukum Islam Masa Klasik
Hampir semua masalah pada masa itu dapat terjawab dengan al-Qur’an atau hadis, serta fatwa para sahabat Rasulullah saw. Namun ketika Islam mulai menyebar ke seluruh penjuru dunia, masalah-masalah baru pun mulai bermunculan. Hal ini tentu tidak dapat lagi sekedar mengandalkan nash secara teks bahasa, baik dalam al-Qur’an ataupun hadis. Adapun bahasa yang digunakan dalam al-Qur’an dan hadis adalah bahasa Arab, sehingga metode terpenting dalam menggali hukum Islam adalah aspek bahasa. Implikasinya, dalam kajian pemikiran hukum Islam didominasi oleh kaidah kebahasaan (qawaid lughawiyah) atau logika bahasa yang deduktif, serta sulit menerima perubahan. Sedangkan hukum dari realitas empiris (al-’Adat, syar’u man qablana, ilmu pengetahuan) serta nalar rasio (istihsan) menjadi langka dan sulit diterima. Hal inilah yang mengakibatkan hukum yang dikeluarkan tidak jauh berbeda dengan teks al-Qur’an maupun hadis.
Para ulama dan ilmuwan mulai berpikir memecahkan permasalahan-permasalahan baru yang dihadapi tersebut, dan hal ini yang menjadi penyebab lahirnya metode ijtihad. Jejak ijtihad ini sebenarnya telah ada pada jaman para sahabat, terutama masa khalifah Umar bin Khattab. Salah satu contoh ijtihad yang dilakukan Umar bin Khattab adalah melarang sahabat Nabi menikah dengan perempuan Yahudi dan Nasrani, padahal al-Qur’an membolehkannya.
ممههلل لللحح ممكهمهاعلطلول ممكهلل لللحح بلاتلكحلما اوتهوأه نليذحلللا مهاعلطلول تهابليلحطلللا مهكهلل لللححأه ملوميللما
نللههرلوجهأه نللههومهتهيمتلآ اذلإح ممكهلحبمقل نممح بلاتلكحلما اوتهوأه نليذحلللا نلمح تهانلصلحممهلماول تحانلمحؤممهلما نلمح تهانلصلحممهلماول
Umar bin Khattab tidak berpegang pada makna lahiriyah teks al-Qur’an, akan tetapi melihat dari perspektif sosio-politik umat Islam, dimana menurutnya jika perkawinan antar agama diijinkan maka akan terjadi kasus-kasus penelantaran kaum muslimah. Melihat hal ini, sebagian ulama memandang bahwa apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab adalah sejenis ijtihad politik (tasharruf siyasi) yang timbul karena pertimbangan kemanfaatan menurut tuntutan jaman dan tempat. Meskipun ijtihad Umar bin Khattab menimbulkan kontroversi dan penilaian negatif di kalangan para sahabat, tetapi itu merupakan langkah ijtihad pada masa awal Islam serta sebagai upaya dalam melakukan kontekstualisasi ajaran Islam dalam sejarah.
Umar bin Khattab tidak meninggalkan nash al-Qur’an maupun hadis, tetapi menggali semangat yang ada pada nash itu untuk diaktualisasikan kembali dalam konteks masalah kekinian yang dihadapi umat Islam pada masa itu. Dapat dikatakan bahwa Umar bin Khattab adalah mujaddid pemikir Islam pertama dalam sejarah hukum Islam. Setelah itu bermunculanlah ulama dan pemikir-pemikir Islam yang melakukan ijtihad, sehingga menjadikan Islam mencapai puncak keemasannya di bidang ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah.
b) Pemikiran Hukum Islam Masa Pertengahan
Banyaknya kitab dan buku-buku yang ditulis oleh para ulama mazhab dan ilmuwan-ilmuwan lainnya pada masa keemasan Islam membuat umat Islam seperti terlena dan dimanja. Apalagi ada pemahaman bahwa pintu ijtihad telah tertutup pasca iman mazhab, dimana hal ini menimbulkan kemunduran perkembangan hukum Islam. Kemauan dan kemampuan nalar kritis yang menjadi tradisi ijtihad mulai memudar, bahkan tenggelam.
ini mulai terlihat adanya konflik antara umat Islam, dan hal tersebut dimanfaatkan oleh bangsa Eropa. Konflik tersebut berpuncak pada saat jatuhnya kekhilafahan bani Abbasiyah, yang pada waktu itu merupakan mercusuar peradaban dunia, akibat serangan Hulagu yang meluluhlantakkan bangunan peradaban Islam.
Sesungguhnya masyarakat di Eropa berutang budi pada umat Islam, karena banyak peradaban Islam yang mempengaruhi Eropa, seperti yang terdapat di Spanyol (Andalusia), perang Salib dan Sisilia (Italia). Spanyol adalah merupakan tempat paling utama bagi Eropa dalam menyerap ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, baik dalam bentuk politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.
c) Pemikiran Hukum Islam Masa Modern
Pemikiran modern dalam hukum Islam muncul di kalangan para ulama Islam sejak abad ke-19 M, yang menaruh perhatian pada kebangkitan Islam setelah mengalami masa kemunduran sejak jatuhnya Daulah Abbasiyah di Baghdad (1258 M). Umat Islam terkurung dalam koloni taqlid dalam waktu yang lama dan mengakibatkan perkembangan hukum Islam menjadi stagnan. Inilah yang menimbulkan keinginan para ulama Islam untuk mendobrak dan melawan taqlid, dengan kembali membuka pintu ijtihad seluas-luasnya.
3. Dinamika Masyarakat Periode Kontemporer
Pengertian kontemporer adalah pada waktu yang sama, semasa, atau pada masa kini.13 Secara etimologis, kontemporer berasal dari dua kata, yaitu co yang
berarti “bersama” serta tempo yang berarti “waktu”. Jadi kontemporer berarti bersifat kekinian atau merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Dapat dikatakan bahwa kontemporer merupakan masa dimana manusia berada dalam suatu jaman. Karena kontemporer menggambarkan sebuah keadaan waktu yang sedang berjalan, maka sesuatu yang bersifat kontemporer tidak bersifat tetap dan cenderung terus-menerus mengalami perubahan. Akan tetapi, kontemporer itu sendiri tidak dapat lepas dari apa yang sudah berlalu, karena yang ada pada saat ini juga dipengaruhi oleh sesuatu yang sudah berlalu.
Masyarakat memang tidak berkembang seperti yang digambarkan oleh August Comte, melalui teori La loi des trois etat yang diciptakannya. Menurut teori ini, masyarakat berkembang secara linear dari tahap teologis, metafisik sampai pada tahap terakhir yaitu positivistik. Pada dua tahap pertama dalam teori tersebut, agama masih dianggap mempunyai pengaruh dominan dalam struktur masyarakat. Jika terjadi peristiwa apa saja, semuanya akan dikembalikan dan direkonsiliasikan kepada agama. Pola pemikiran masyarakat masih sangat sederhana dalam tahap ini.
Agama kemudian dianggap kehilangan peran sosialnya setelah masyarakat mengalami kemajuan di bidang pemikiran sebagai buah dari paham rasionalisme, dimana ditandai dengan kemajuan di bidang keilmuan dan tekhnologi. Dilihat dari perspektif filsafat sejarah kontemplatif, konsep Effat al-Sharqawi dalam kitab Falsafah al-Hadharah al-Islamiyah, proses perkembangan masyarakat merupakan proses gerak maju ke depan (seperti yang digambarkan August Comte).14
Dalam hubungannya dengan periode kontemporer, konsekuensi logis dinamika masyarakat telah memunculkan istilah era globalisasi. Era globalisasi
13 Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), h. 522
diartikan sebagai satu titik perhatian (meskipun terdiri dari beberapa negara yang terpisah dan dihuni oleh kelompok manusia yang berbeda bangsa, bahasa dan agama). Menyatunya titik pandang ini disebabkan karena begitu lancarnya aspek transportasi, sehingga jarak menjadi tidak berarti lagi. Selain itu juga karena derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga sekat wilayah dan budaya menjadi kabur. Era globalisasi inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan dan pergolakan yang besar dalam seluruh sendi kehidupan.
Pengaruh paling besar yang dirasakan dalam era globalisasi adalah bidang ekonomi, meski juga berpengaruh pada bidang kehidupan yang lainnya. Pengaruh ini bisa dalam bentuk positif atau bermanfaat, dimana menguntungkan kehidupan manusia, serta dapat pula dalam bentuk negatif atau merugikan (mudharat). Akan tetapi, umat Islam tidak mungkin lari dari arus globalisasi walau takut terkena mudharat yang ditimbulkannya. Sikap yang harus dimiliki oleh umat Islam dalam menyikapi era globalisasi adalah meraih sebanyak mungkin manfaatnya, dan dalam jangka waktu bersamaan harus mampu menghindari segala kemungkinan mudharatnya.15
Umat Islam mempunyai dua kemungkinan untuk menghadapi arus globalisasi ini, yaitu memiliki kemampuan, sisi kekuatan serta keterampilan untuk memanfaatkan sisi positif globalisasi. Dan yang kedua adalah terdapat titik lemah yang menyebabkan umat Islam tidak mampu menghadapi sisi negatifnya, sehingga era globalisasi menjadi sumber malapetaka. Tindakan ynag perlu dilakukan dalam mengikis sisi negatif ini adalah memaksimalkan kemampuan yang ada dan peluang yang terbuka, sehingga dapat memperoleh unsur positif dalam era globalisasi. Selain itu, umat Islam harus berusaha menghilangkan titik lemah yang ada pada dirinya, sehingga dapat meminimalisir sekecil mungkin dampak negatif pada era globalisasi.16
15 Amir Syarifuddin, Meretas Ijtihad: Isu-isu Penting Hukum Islam Kontemporer di Indonesia, h. 7
4. Pemikiran Hukum Islam dan Dinamika Masyarakat Periode Kontemporer
Pemikiran hukum Islam adalah koleksi daya upaya para ahli hukum untuk menerapkan syariat atas kebutuhan masyarakat, dimana hal ini bersumber dari pemahaman atas aturan Allah swt. yang mungkin mengalami pengembangan dan perubahan. Dalam hubungannya dengan dinamika masyarakat, dapat dikatakan bahwa dalam hukum Islam mempunyai wilayah tertutup yang tidak menerima perubahan dan dinamika, yaitu berupa hukum-hukum yang telah pasti (qath’i). Hal inilah yang menyebabkan terpeliharanya kesatuan pemikiran dan perilaku umat Islam. Akan tetapi, hukum Islam juga mempunyai wilayah yang terbuka dan meliputi hukum-hukum yang tidak pasti (zhanni), dimana bisa dari segi sumbernya (qath’i ats-Tsubut) maupun penunjukannya (qath’i al-Dalalah). Wilayah inilah yang menjadi tempat ijtihad dan merupakan bagian terbesar dari hukum-hukum fiqh, yang mengarahkan fiqh atau pemikiran hukum Islam ke dalam dinamika, perkembangan dan pembaruan.
Ada beberapa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya elastisitas pada hukum Islam. Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Allah swt. sebagai pembuat hukum tidak menetapkan secara taken for granted (segenap hal), tetapi membiarkan adanya suatu wilayah yang luas tanpa terikat dengan nash. Hal ini bertujuan untuk memberikan keleluasaan, kemudahan dan rahmat bagi makhlukNya.
2. Sebagian besar nash datang dengan prinsip-prinsip umum dan hukum-hukum yang universal, dimana tidak mengemukakan berbagai rincian dan bagian-bagiannya, kecuali dalam perkara yang tidak berubah karena perubahan tempat dan waktu (perkara-perkara ibadah, pernikahan, talak, warisan). Selain perkara-perkara tersebut, syariat Islam cukup menetapkannya secara global
di kalangan para ulama, dalam penentuan makna-maknanya serta dalam menggali hukum-hukum dari teks-teks tersebut. Semua ini dikembalikan pada watak bahasa dan berbagai fungsinya.
4. Dalam penetapan atau penghapusan hukum Islam terdapat kemungkinan untuk memanfaatkan berbagai wilayah-wilayah terbuka dan sarana yang beraneka ragam, sehingga dapat menyebabkan para mujtahid berbeda pendapat dalam penerimaan dan penentuan batas penggunaaanya. Disinilah muncul peranan qiyas, istihsan, ‘urf, istishhab dan lain-lain, sebagai dalil bagi sesuatu yang tidak ditemukan nashnya.
5. Adanya prinsip pengantisipasian berbagai keadaan darurat, berbagai kendala dan berbagai kondisi yang dikecualikan, dengan cara menggugurkan hukum atau meringankannya. Hal ini bermaksud untuk memudahkan atau membantu manusia, karena kelemahan manusia adalah ketika dihadapkan pada keadaan darurat yang memaksa serta kondisi-kondisi menekan.17
Dari berbagai faktor-faktor yang dijelaskan di atas, maka dapat dipahami dengan mudah mengapa hukum Islam dapat mengakomodir segala bentuk dinamika masyarakat.
Dalam hukum Islam, para ulama mengenal adanya kaidah Mulazamah. Kaidah ini mengatakan bahwa setiap hukum Islam menurut para ulama (wajib, mustahab, haram dan makruh), pastilah disebabkan pertimbangan atas suatu maslahat atau untuk menolak suatu bahaya tertentu. Oleh karena itu, hukum-hukum Islam mempunyai karakteristik yang sangat bijaksana. Hukum Islam tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak ada artinya. Ada hubungan yang sangat erat antara hukum Islam dan akal, suatu hubungan yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain.18 Selain itu, para ulama juga mengenal kaidah taqdim al-Ahamm ‘ala
al-Muhimm (mendahulukan yang lebih penting dari yang penting). Hal ini dapat berarti bahwa jika seseorang menghadapi dua hukum agama dan tidak mampu mengamalkan kedua hukum itu secara bersamaan, maka wajib memikirkan mana
17 A. Zarkasyi Chumaidy, Fiqh Statis dan Dinamis, (Cet. I; Bandung: Pustaka al-Hidayah, 1998), h. 211
yang lebih penting dari kedua hukum itu lalu mengorbankan hukum yang lebih sedikit nilai pentingnya, demi hukum yang lebih banyak nilai pentingnya. Salah satu contoh kaidah al-Ahamm ‘ala al-Muhimm adalah “lakukanlah shalat qashar dan janganlah engkau berpuasa ketika kamu dalam perjalanan”.
Al-Qur’an dalam salah satu ayatnya mengatakan :
ممكمننمم ددهمشد ننمدفد نماقدرنفملناود ىددهملنا ندمم تتاندييمبدود سمانيدللم ىددهم نمآرنقملنا هميفم لدزمننأم يذمليدا نداضدمدردرمهنشد
.…
ةدديدعملنا اولمممكنتملمود ىلدعد ونأد اضديرممد نداكد ننمدود هممنصميدلنفد ردهنشيدلا
“…Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain….”
(Q.S. Al-Baqarah: 185)
Jika ditanyakan hal ihwal mengapa demikian, maka ayat tersebut juga berbicara tentang penyebabnya.
….ردسنعملنا ممكمبم دميرميم الدود ردسنيملنا ممكمبم همليدلا دميرميم … “…Allah menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menginginkan kesulitan bagimu….”
(Q.S. Al-Baqarah: 185)
Demikianlah hukum Islam menyesuaikan diri dengan berbagai macam keadaan. Hukum Islam mampu mengakomodasi perubahan jaman dan dinamika masyarakat dikarenakan daya lentur yang terdapat padanya.
C. Penutup
Setelah membaca uraian-uraian di atas, maka ada beberapa inti pokok yang dapat dijadikan kesimpulan mengenai pemikiran hukum Islam dan dinamika masyarakat periode kontemporer, yaitu :
2. Konsekuensi dinamika masyarakat pada periode kontemporer adalah timbulnya era globalisasi yang mempengaruhi kehidupan. Pengaruh ini bisa dalam bentuk positif, yang berarti menguntungkan kehidupan manusia, serta dapat pula dalam bentuk negatif, yang berarti merugikan manusia.
3. Faktor-faktor keluwesan hukum Islam sehingga mampu menghadapi dinamika masyarakat adalah :
- Allah swt. sebagai pembuat hukum tidak menetapkan hukum secara taken for granted,
- Sebagian besar nash datang dengan prinsip-prinsip umum dan hukum-hukum yang universal,
- Nash yang berkaitan dengan hukum-hukum parsial mampu memperluas berbagai pemahaman dan penafsiran, serta