Seni Islam di Antara Idealitas dan Realitas;
Tanggapan Terhadap Abdul Jabbar
Ol eh: Andika Saput ra, S. T. , M. Sc
Pandangan Muhammad Abdul Jabbar yang saya kut ip dan sarikan dal am t ul isan ini bersumberkan dari makal ah bel iau dal am sebuah buku ant ol ogi berj udul “ Fine Art in Isl amic Civil izat ion” yang dit erbit kan ol eh The Universit y of Mal aya Press Kual a Lumpur pada t ahun 1981. Buku t ersebut t elah dit erj emah ke dal am Bahasa Indonesia dengan j udul “ Seni Di Dal am Peradaban Isl am” yang dit erbit kan ol eh Penerbit Pust aka Bandung pada t ahun 1988. Dal am t ul isan ini saya menggunakan buku t erj emah Bahasa Indonesia di mana makal ah yang dit ul is ol eh Muhammad Abdul Jabbar merupakan makal ah pengant ar bagi sel uruh makal ah di dal am buku t ersebut dengan j udul “ Kedudukan Seni Dal am Kebudayaan Isl am” , karenanya memuat l ingkup bahasan yang pal ing l uas di ant ara makal ah l ainnya yang spesif ik membahas sal ah sat u j enis seni dal am Seni Isl am.
Sebel um masuk pada subst ansi bahasan t ul isan ini, sekil as akan saya sampaikan prof il int el ekt ual Abdul Jabbar. Muhammad Abdul Jabbar l ahir pada t ahun 1944 dan meraih gel ar Dokt or dari Fakul t as Pengkaj ian Timur Universit as Cambridge pada t ahun 1971 saat berusia 27 t ahun. Saat menul is buku yang saya j adikan pegangan dal am t ul isan ini, yakni pada usianya yang ke 37 t ahun, Abdul Jabbar menj abat sebagai Prof esor Madya di Fakul t as Pengkaj ian Isl am Universit as Kebangsaan Mal aysia. Buku t ersebut disusun dan diedit ori ol eh Abdul Jabbar dengan mel ibat kan beberapa nama besar di bidang pengkaj ian Seni Isl am sebagai kont ribut or, di ant aranya adal ah K. A. C Creswel l dan Ismail Raj i’ Faruqi, yang menunj ukkan kel uasan j ej aring keil muan yang dimil iki Abdul Jabbar.
menanggapai suat u pandangan dan pemikiran. Dan bagian ket iga merupakan bagian penut up yang memuat perenungan dan rel evansi pandangan Abdul Jabbar dan pandangan saya unt uk kebut uhan hidup umat Isl am pada masa kini.
A. Pandangan Abdul Jabbar
Abdul Jabbar membuka makal ahnya dengan pernyat aan mengenai kedudukan seni bagi umat Isl am,
“ Kaum Musl im dari beraneka kebangsaan t el ah mewuj udkan karya-karya bernil ai seni sebagai perant ara pengungkapan pandangan hidupnya yang khas” . (1988: 1) –miring dan t ebal dari saya
Pernyat aan di at as menj el askan bahwa dal am pandangan Abdul Jabbar, seni adal ah media bagi umat Isl am unt uk mengungkapkan pandangan hidupnya yang khas. Kedudukan seni bagi umat Isl am disampaikan kembal i ol eh Abdul Jabbar di t empat yang berbeda,
“ Suat u bent uk kesenian menj adi Isl ami j ika hasil seni it u mengungkapkan pandangan hidup kaum Muslim” . (1988: 2) –miring dan t ebal dari saya
Pandangan hidup umat Isl am yang dimaksud ol eh Abdul Jabbar dal am kedua pernyat aannya di at as dij el askannya pada kal imat yang l ain,
“ Mereka (umat Isl am –pen) membangun bent uk-bent uk seni yang kaya yang sesuai dengan perspekt if kesadaran nilai Islam dan secara perl ahan t api past i mengembangkan gaya mereka sendiri sert a menambah sumbangan yang asl i di l apangan kesenian” . (1988: 1) –miring dan t ebal dari saya
Menurut Abdul Jabbar, pandangan hidup umat Isl am ial ah kesadaran t erhadap nil ai-nil ai Isl am yang digunakannya dal am pencipt aan Seni Isl am. Kedudukan pandangan hidup Isl am menj adi sent ral dal am pandangan Abdul Jabbar karena ciri khas Seni Isl am dibent uk ol eh pandangan hidup manusia pencipt anya, yang menj adikan seni yang dicipt a umat Isl am bermuat an nil ai-nil ai Isl am. Pemahaman ini dapat diart ikan bahwa dal am proses pencipt aan seni t erj adi al iran nil ai Isl am dari diri seniman Musl im kepada seni yang dicipt anya.
hubungan erat ant ara pel aku seni yang merupakan syarat pert ama dengan produk seni yang merupakan syarat kedua. Hubungan erat ant ara kedua syarat menj adikan syarat Seni Isl am dal am pandangan Abdul Jabbar bersif at asosiat if at au berpasangan di mana kehadiran syarat pert ama akan diikut i ol eh kehadiran syarat kedua. Syarat pert ama menj adi pent ing karena berkait an dengan kehadiran syarat kedua. Kedudukan syarat pert ama ini dit egaskan ol eh Abdul Jabbar dal am pernyat aannya berikut ,
“ Seni Isl am dapat j uga diberi bat asan sebagai suat u seni yang dihasilkan oleh seniman at au desainer Muslim” . (1988: 2) –miring dan t ebal dari saya
Syarat pert ama merupakan bat asan sekal igus t imbangan bagi suat u seni dapat dinyat akan sebagai Seni Isl am. Konsekuensi l ogisnya, t anpa dipenuhinya syarat pert ama maka suat u seni berada di l uar bat as Seni Isl am yang menj adikannya t idak dapat dinyat akan sebagai Seni Isl am. Sedangkan t erpenuhinya syarat kedua hanya dimungkinkan j ika dipenuhinya syarat pert ama karena syarat kedua hanya dapat hadir di dal am bat as syarat pert ama.
Seni sebagai media pengungkapan pandangan hidup Isl am menj adikannya memil iki muat an mat eri yang khas Isl am. Bagi Abdul Jabbar muat an mat eri Seni Isl am adal ah sebagai berikut ,
“ Para t ukang dan seniman Musl im berusaha menampilkan cit a Keesaan T uhan (t auhid) dalam karya seninya” . (1988: 1) –miring dan t ebal dari saya
Di t empat yang l ain Abdul Jabbar menyat akan,
“ Seni Isl am adal ah seni yang mengungkapkan sikap pengabdian kepada Allah. ” (1988: 2) –miring dan t ebal dari saya
Isl am yang merupakan imbuhan dal am f rase Seni Isl am, menurut Abdul Jabbar berkedudukan sebagai pusat daya normat if dan sebagai penyedia bat as bagi umat Isl am dal am berkesenian (1988: 1). Sebagai pusat daya normat if , Isl am membent uk pandangan hidup umat Isl am, sikap berkesenian dan mat eri yang diungkapkan dal am media seni. Sedangkan Isl am sebagai penyedia bat as diungkapkan ol eh Abdul Jabbar,
“ Isl am t idakl ah menggariskan bent uk-bent uk seni t ert ent u, t et api sekedar
memberi pagar lapangan ekspresi. ” (1988: 1) –miring dan t ebal dari saya
Maksud Abdul Jabbar dal am pernyat aannya di at as ial ah segal a ekspresi berkesenian umat Isl am dibenarkan j ika berada di dal am bat as-bat as yang t el ah dit et apkan Isl am. Isl am sebagai penyedia bat as, bukan j ust ru sebagai pemberi at uran yang ket at , menj adi dorongan bagi umat Isl am unt uk mengekspresikan pandangan hidupnya yang khas ke dal am media seni yang beragam. Isl am didudukkan sebagai penyedia bat as j uga meniscayakan hadirnya keragaman dal am Seni Isl am, yakni keragaman yang berada di dal am bat as-bat as yang dit et apkan ol eh Isl am. Inil ah isyarat yang hendak disampaikan Abdul Jabbar unt uk mengant ar pembaca memahami gambaran besar makal ah l ain di dal am buku yang memuat keragaman j enis Seni Isl am dan bent ukan Seni Isl am.
Gambar 1: St rukt ur Seni Isl am dal am pandangan pert ama Abdul Jabbar Sumber: Anal isa, 2016
Pada bagian t ul isan sel anj ut nya Abdul Jabbar menyangsikan pandangannya sendiri, sebagaimana t el ah saya paparkan di at as, dengan menggugat syarat kedua Seni Isl am yang berkait an dengan muat an mat eri Seni Isl am,
Tidak hanya menyangsikan syarat kedua Seni Isl am yang t el ah dit et apkannya, Abdul Jabbar pada bagian sel anj ut nya j uga meral at syarat pert ama Seni Isl am yang memil iki kedudukan sent ral dal am pandangannya,
“ (Seni Isl am) dapat j uga berupa seni yang sesuai dengan apa yang dibayangkan ol eh seorang Musl im, sedangkan seniman yang membuat obj ek seninya t idak mest i seorang Muslim.” (1988: 2-3) –miring dan t ebal dari saya
Kesangsian yang menghinggapi Abdul Jabbar membawa dirinya pada kesimpul an l ain bahwa Seni Isl am t idak harus merupakan hasil kreasi umat Isl am dengan syarat muat an mat eri yang dit ampil kannya sesuai dengan pandangan hidup umat Isl am.
Abdul Jabbar membangun argument asi unt uk meneguhkan pandangannya dengan merangkai f ragmen kesej arahan umat Isl am. Menurut Abdul Jabbar, pada masa abad pert ama Peradaban Isl am, umat Isl am karena ket erbat asan yang dimil ikinya membut uhkan pekerj a-pekerj a asing unt uk menghasil kan Seni Isl am yang dibut uhkan umat Isl am. Karena perannya yang t idak sedikit , menurut nya, para seniman non Musl im yang berst at us sebagai
dzimmi memainkan peranan yang pent ing dal am pembent ukan Seni Isl am (1988: 4). Abdul Jabbar mengut ip sebuah cont oh unt uk menguat kan pendapat nya,
“ Bangunan masj id adal ah Isl ami bukan hanya karena bangunan it u t erut ama direncanakan sebagai t empat menyembah Al l ah ol eh kaum Musl im, t et api j uga karena kenyat aan bahwasanya bangunan suci it u mengungkapkan pandangan hidup Isl am. Asal-usul kebangsaan at au keyakinan dari sang t ukang at au sang seniman dengan sendirinya merupakan segi yang kurang pent ing
dalam ruang lingkup Seni Islam.” (1988: 3) –miring dan t ebal ol eh saya
Pada bagian yang l ain dari t ul isannya Abdul Jabbar memaparkan peran sent ral seniman non Musl im dal am pembent ukan ciri khas perwuj udan f isik Seni Isl am, sehingga Seni Isl am mudah dikenal i hingga hari ini, yang t idak l ain adal ah pol a geomet ri yang diperkenal kan ol eh seniman bangsa Syria yang berst at us non Musl im (1988: 5). Penj abaran peran seniman dan pekerj a non Musl im yang dirangkai ol eh Abdul Jabbar memberi kesan bahwa seniman non Musl im t idak sekedar berkedudukan sebagai ahl i yang dibayar ol eh umat Isl am at as hasil kerj anya, l ebih dari it u umat Isl am memil iki keberhut angan yang t idak sedikit kepada kal angan seniman non Musl im karena at as konst ribusinya umat Isl am di kemudian hari berhasil mencapai peradaban seni yang t inggi.
Kesangsian t erhadap pandangannya sendiri yang t el ah saya sarikan pada awal t ul isan ini, mendorong Abdul Jabbar unt uk merumuskan kembal i bat asan Seni Isl am sebagaimana dapat dit angkap dal am pernyat aannya berikut ,
“ Seni Isl am adal ah seni yang diangankan dan dibiayai oleh orang-orang Arab Muslim, t et api pengerj aan yang sesungguhnya dikerj akan oleh t enaga-t enaga bayaran non Arab dan sering mereka ienaga-t u enaga-t idak memiliki laenaga-t ar
belakang sebagai Muslim.” (1988: 4) –miring dan t ebal dari saya
Syarat Seni Isl am dal am pandangan kedua Abdul Jabbar adal ah (1) dari sisi pihak pembuat nya t idak hanya dibat asi dari kal angan umat Isl am; (2) dari sisi muat an mat eri seni berkesesuaian dengan angan umat Isl am; dan (3) sisi pendanaannya dibiayai ol eh umat Isl am. Dibandingkan dengan syarat Seni yang dinyat akan Abdul Jabbar sebel umnya t erj adi penambahan syarat , yakni syarat ket iga berkait an dengan pihak yang membiayai kegiat an berkesenian hingga dihasil kannya karya seni.
demikian karena pada bat asan yang t erakhir Abdul Jabbar t idak l agi menggunakan kal imat ‘ pandangan hidup kaum Musl im yang khas’ yang sej at inya bersumberkan dari Isl am.
Sebagai penut up bagian pert ama t ul isan ini, berdasar pandangannya yang t erakhir, Seni Isl am dal am pandangan Abdul Jabbar memuat t iga variabel , yakni pihak pemberi t ugas, pihak yang menanggung pembiayaan dan pihak seniman. Umat Isl am berkedudukan sebat as pihak pemberi t ugas, pengguna karya seni dan pihak yang membiayai kerj a seni, sement ara pihak seniman dapat diperankan ol eh umat Isl am maupun kal angan non Musl im. Dengan korel asi ant ar variabel t ersebut Abdul Jabbar berkeyakinan muat an mat eri seni yang hadir t et ap akan berkesesuaian dengan bayangan dan angan umat Isl am.
Gambar 2: St rukt ur Seni Isl am dal am pandangan kedua Abdul Jabbar Sumber: Anal isa, 2016
B. Tanggapan Terhadap Abdul Jabbar
kedudukan Isl am dal am kegiat an berkesenian yang dil akukan umat Isl am adal ah sebagai penyedia bat as bagi sikap dan ekspresi seni yang dit umpahkan. Ekspresi berkesenian ol eh umat Isl am yang berada di dal am bat as-bat as Isl am dinyat akan sebagai Seni Isl am, dan sebal iknya ekspresi yang berada di l uar bat as t idak dapat dinyat akan sebagai Seni Isl am wal aupun dicipt a ol eh seniman Musl im.
Sel ain t erdapat bagian yang saya set uj ui, t erdapat pul a bagian yang t idak saya set uj ui dari pandangan Abdul Jabbar, yakni dipert ent angkannya pendekat an ideal it as dan real it as dal am mengkonst ruk penget ahuan t ent ang Seni Isl am. Mel al ui t eks yang dihadirkannya, saya memahami bahwa bagi Abdul Jabbar ant ara pendekat an ideal it as dan real it as merupakan dua j al an yang t idak akan sal ing bert emu, berpot ongan dan berkesesuaian. Seni Isl am berdasar pendekat an real it as adal ah sebuah t anggapan yang dil akukan umat Isl am t erhadap t ant angan yang dihadapinya di bidang kesenian, karenanya t idak akan dicapai ideal it as disebabkan real it as it u sendiri di penuhi ket erbat asan-ket erbat asan yang t idak dapat diat asi dan dil ampaui umat Isl am. Sedangkan Seni Isl am berdasar pendekat an ideal it as merupakan sebuah konsep yang hanya hadir secara penuh di al am khayal i umat Isl am. Sel uruh ikht iar yang dil akukan umat Isl am t idak dapat mereal isasikan ideal it as Seni Isl am secara penuh ke dal am real it as f isikal sehari-hari, karenanya akan sel al u t erdapat j arak ant ara ideal it as dan real it as kesej arahan Seni Isl am. Berdasar hal ini Abdul Jabbar harus memil ih sat u di ant ara dua pendekat an t ersebut yang pada akhirnya bel iau memil ih pendekat an real it as kesej arahan.
Pergeseran pendekat an yang digunakan Abdul Jabbar dal am memahami Seni Isl am; dari pendekat an ideal it as bergant i menj adi pendekat am real it as, berdasar anal isa saya t erhadap t eks yang dihadirkannya, disebabkan dua hal . Pert ama, seni menunt ut hadirnya pel aku seni dan obj ek seni dal am ruang dan wakt u, sehingga pembicaraan t ent ang seni t idak dapat hanya berkut at pada ranah konsept ual -ideal -khayal i. Jarak yang t idak dapat dij embat ani ant ara ideal it as dan real it as kesej arahan menj adikan Abdul Jabbar berpihak pada pendekat an real it as kesej arahan di mana subj ek dan obj ek seni t el ah dan masih hadir secara f isik. Dengan pendekat an real it as, Abdul Jabbar merumuskan konsep Seni Isl am secara indukt if berdasar f ragmen sej arah sebagai bukt i t el ah mewuj udnya Seni Isl am dal am l int asan ruang dan wakt u yang dil al ui umat Isl am.
seni, sedangkan perwuj udan f isik seni t idak dibicarakannya karena menempat i posisi pinggiran yang berkedudukan sebat as pemberi wuj ud f isik at au sel ubung t erhadap pandangan hidup Isl am yang hendak dit ayangkan ol eh subj ek seni. Inil ah dua syarat Seni Isl am dal am pandangan pert ama Abdul Jabbar yang dirumuskannya berdasar pendekat an ideal it as.
Pembal ikan st rukt ur Seni Isl am t erj adi pada pandangan kedua Abdul Jabbar dengan menggeser unsur subj ek dan muat an mat eri seni ke daerah pinggiran dan memasukkan unsur perwuj udan f isik seni ke daerah int i. Pergeseran f okus diikut i dengan pergeseran pendekat an yang mendasari pandangan Abdul Jabbar disebabkan unsur perwuj udan f isik merupakan unsur seni yang menyej arah yang sel al u hadir dal am ruang dan wakt u. Unsur perwuj udan f isik seni yang menempat i daerah int i dal am st rukt ur Seni Isl am dit et apkan ol eh Abdul Jabbar memil iki kual it as seni-t inggi (high-art) at au yang l ebih dikenal dengan ist il ah seni-hal us yang menj adi bat asan sekal igus syarat bagi set iap wuj ud f isik seni yang dihadirkan ol eh umat Isl am maupun at as permint aan umat Isl am.
Saya mencoba menangkap maksud baik Abdul Jabbar yang menet apkan seni-t inggi ( high-art) sebagai kual it as perwuj udan f isik Seni Isl am yang seakan hendak menyampaikan pesan bahwa dengan kual it as wuj ud f isiknya yang t i nggi, Seni Isl am t idak perl u diragukan l agi kehadirannya secara f isikal konkret yang menyej arah dan secara t eorit ik sebagai bagian dari khazanah il mu penget ahuan seni dunia. Dengan begit u, t idak diragukan l agi kont ribusi Seni Isl am t erhadap pencapaian peradaban manusia secara kesel uruhan dan pengaruhnya bagi peradaban set el ahnya. Pal ing t idak inil ah maksud baik yang saya dapat i dari remah dan isyarat t eks yang dihadirkan Abdul Jabbar.
Kedua, ket ersediaan sumber daya manusia yang memil iki keahl ian di bidang seni-t inggi. Kondisi ini t erpenuhi saat umat Isl am hidup di t engah l ingkungan masyarakat yang beragam dari berbagai agama dan l at ar bel akang peradaban di mana dal am st rukt ur sosial nya t erdapat kel ompok seniman. Kondisi ini yang menj adi argument asi bagi Abdul Jabbar unt uk menet apkan bahwasanya Seni Isl am dapat dicipt a ol eh seniman non Musl im unt uk menghadirkan Seni Isl am berkual it as seni-t inggi karena pada masanya hanya kal angan seniman non Musl im yang memil iki keahl ian demikian. Ket iga, ket ersediaan hart a unt uk menghadirkan Seni Isl am berkual it as seni-t inggi. Dengan kepemil ikan hart a, umat Isl am memposisikan dirinya sebagai pat ron bagi perkembangan dan produksi seni yang menyediakan dana sekal igus pemberi t ugas kepada pihak seniman non Musl im yang memil iki keahl ian di bidang seni-t inggi.
Dimul ainya kehadiran dan kesej arahan Seni Isl am dari masa Umayyah hingga set erusnya membawa konsekuensi yang t idak t erhindarkan bahwa Seni Isl am merupakan f enomena peradaban yang baru bagi umat Isl am yang t idak dit emui dan t idak memil iki akarnya dari masa gerak hidup Rasul Muhammad Shal al l ahu Al aihi Wasal l am. Tidak berart i sepanj ang masa hidup Rasul Muhammad, khususnya di t engah umat Isl am pada f ase Madinah, kosong dari unsur seni. Seni yang hadir pada masa t ersebut merupakan seni-rakyat yang kual it asnya dipert ent angkan dengan seni-t inggi, sehingga t idak memenuhi kual if ikasi Seni Isl am yang dit et apkan Abdul Jabbar, t ermasuk Masj id Quba dan Masj id Madinah yang dihadirkan l angsung ol eh Rasul Muhammad besert a para sahabat nya. Seni-rakyat adal ah suat u t anda bel um t umbuhnya sebuah peradaban yang pat ut diapresiasi dan dibanggakan karena bel um mampu memberikan kont ribusi bagi peradaban l ainnya, sement ara seni-t inggi ial ah suaseni-t u seni-t anda bagi peradaban yang seni-t engah seni-t umbuh pesaseni-t hingga mencapai puncaknya, dan inil ah yang diinginkan ol eh Abdul Jabbar dal am memandang Seni Isl am.
set el ah masa generasi pert ama (as-saabiquuna al -awwal uuna) hingga t ibanya kiamat nant i merupakan perj uangan kembal i mencapai dan mereal isasikan ideal it as Isl am.
Dil andasi pandangan di at as, saya hendak menawarkan garis kesej arahan Seni Isl am yang berbeda dengan Abdul Jabbar. Jika gerak kesej arahan Seni Isl am menurut Abdul Jabbar didasarkan at as kual it as perwuj udan f isik seni, maka saya menggunakan gerak kesej arahan umat Isl am sebagai dasar bagi garis kesej arahan Seni Isl am. Unt uk membandingkannya l ebih j el as l agi, Abdul Jabbar berf okus pada obj ek seni yang merupakan produk dari kegiat an berkesenian, sedangkan saya berf okus pada seniman Musl im sebagai subj ek seni yang mel akukan kegiat an berkesenian.
Berdasarkan gerak kesej arahan umat Isl am, saya membagi garis kesej arahan Seni Isl am ke dal am t iga f ase, yakni (1) Fase Pembent ukan Sist em nil ai dan Modal Sosial ; (2) Fase Kont ak Peradaban; dan (3) Fase Tarikan. Fase pert ama Seni Isl am mel ingkupi masa hidup Rasul ul l ah Muhammad Shal al l ahu Al aihi Wasal l am hingga masa Khul af a Rasyidin yang merupakan f ase ideal dal am kesej arahan umat Isl am. Pada f ase ini t erj adi dua hal yang sal ing t erkait , yakni (1) t erbent uknya sist em nil ai Seni Isl am seiring t urunnya Wahyu Il ahi kepada Rasul Muhammad secara bert ahap yang disampaikan dan diprakt ikkan l angsung ol eh bel iau Shal al l ahu Al aihi Wasal l am agar dapat di pahami dan dicont oh ol eh umat nya; dan (2) kel uarnya manusia dari kegel apan sist em nil ai yang bersumberkan dari aqidah bat hil menuj u cahaya sist em nil ai Isl am yang t erang benderang, sehingga muncul kal angan seniman Musl im dal am sej arah umat Isl am yang meyakini kebenaran si st em nil ai Isl am dan menggunakannya dal am kegiat an berkesenian.
Pada f ase pert ama, perwuj udan f isik Seni Isl am masih sederhana dengan j enis seni yang masih t erbat as karena t idak t erpenuhinya kondisi yang dibut uhkan unt uk hadirnya seni-t inggi sebagaimana seni-t el ah saya sampaikan di aseni-t as, sel ain karena beberapa j enis seni diharamkan pada masa awal umat Isl am karena t erkait dengan kesyirikan yang l ekat dal am al am budaya Jahil iyah. Karenanya perwuj udan f isik dan j enis seni t idak dapat dij adikan t imbangan bagi Seni Isl am pada f ase ini. Perwuj udan f isik Masj id Quba dan Masj id Madinah yang hadir pada f ase pert ama Seni Isl am dengan demikian t idak dapat dinil ai dari perwuj udan f isiknya, t et api dari sist em nil ai yang mendasarinya dal am kont eks pada f ase ini t engah t erj adi pembal ikan sist em nil ai di kal angan masyarakat Arab, sehingga dapat diket ahui perubahan seni yang t erj adi dan pencapaian seni yang diraih umat Isl am pada zamannya.
Fase kedua mel ingkupi masa Dinast i Umayyah. Di sinil ah saya mencoba mendudukkan pandangan Abdul Jabbar berkait an dengan hadirnya Seni Isl am berkual it as seni-t inggi dan peran seniman non Musl im dal am pembent ukan Seni Isl am. Pada f ase ini t erj adi t iga hal berikut , (1) proses meningkat kan kual it as seniman Musl im dengan menyerap keahl ian seni-t inggi dari kal angan seniman non Musl im; (2) meningkaseni-t kan kual iseni-t as pref erensi seni dengan menyerap unsur seni-t inggi dari peradaban masa l al u yang t el ah mencapai puncak kej ayaannya; dan (3) menyerap il mu penget ahuan dari peradaban l ain, t ermasuk il mu penget ahuan seni yang di ant aranya berasal dari Peradaban Yunani Kuno dan Mesir Kuno mel al ui penerj emahan karya t ul is ke dal am Bahasa Arab. Singkat nya, f ase ini merupakan f ase t ransmisi di mana t erj adi perpindahan keahl ian seni dari masyarakat non Musl im ke masyarakat Musl im, perpindahan unsur perwuj udan f isik seni-t inggi dari peradaban masa l al u yang t el ah mencapai puncaknya dan perpindahan khazanah il mu penget ahuan seni dari peradaban sebel umnya ke Dunia Isl am.
Abdul Aziz sel aku Gubernur Madinah unt uk merenovasi Masj id Nabi, t et api saya t idak mengkat egorikan hasil cipt a seniman non Musl im sebagai Seni Isl am wal aupun memenuhi syarat yang diaj ukan ol eh Abdul Jabbar.
Penol akan saya di at as didasarkan dua pert imbangan. Pert imbangan pert ama t erkait al iran nil ai dari pihak seniman non Musl im kepada obj ek seni yang dicipt anya. Pihak seniman non Musl im mengimani sumber kebenaran yang berbeda dengan umat Isl am, sehingga berpij ak pada sist em nil ai yang khas keyakinannya dal am berkegiat an kesenian. Wal aupun pihak seniman non Musl im menerima permint aan dari kal angan umat Isl am unt uk mencipt a suat u obj ek seni yang berkesesuaian dengan pandangan hidup umat Isl am, t et ap saj a pihak seniman non Musl im t idak dapat mel epaskan sist em nil ai yang dianut nya dal am proses pencipt aan obj ek seni unt uk menggant inya dengan sist em nil ai yang dianut umat Isl am. Kal aupun t erwuj ud obj ek seni yang berkesesuaian dengan pandangan hidup umat Isl am, t erdapat perbedaan dal am memandang dan memahami obj ek seni t ersebut ant ara pihak seniman non Musl im dengan pihak pengamat Musl im. Dengan cara pandang ini, pada hakikat nya yang dil akukan umat Isl am bukanl ah mencipt a obj ek seni, t et api menaf sir obj ek seni yang dihadirkan seniman non Musl im agar berkesesuaian dengan pandangan hidupnya.
Seni Isl am berbeda dari seni sel ainnya sebab secara asasi memil iki perbedaan dal am aspek sumber nil ai, yakni Al -Qur’ an dan Sunnah Rasul Muhammad. Kesamaan perwuj udan f isik Seni Isl am dengan sel ainnya, sepert i unsur kubah sebagai penut up at ap, ornamen f l ora, unsur pel engkung dan sebagainya hanya berada pada ranah f isik-permukaan saj a, sedangkan pada ranah f isik-dal aman memil iki perbedaan yang asasi disebabkan perbedaan sumber nil ai yang mendasari. Sebagai cont oh, ornamen f l ora t el ah banyak diwuj udkan ol eh berbagai peradaban sepert i Yunani Kuno dan India, begit u j uga Peradaban Isl am. Ornamen f l ora yang dicipt a seniman Musl im yang berpandangan hidup Isl am, sedari awal proses pencipt aannya t el ah didasari sist em nil ai Isl am yang menj adikannya memuat nil ai Isl am dan karenanya mencerminkan Isl am. Sampai di sini inil ah yang saya maksud dengan Seni Isl am, yakni seni yang didasari sumber nil ai Isl am sej ak awal proses pencipt aannya ol eh seniman Musl im yang berpandangan hidup Isl am.
akt ivit as mel uapkan dan mengekspresikan rasa keindahan mel al ui pencipt aan gagasan, peril aku dan wuj ud f isik yang est et is sert a akt ivit as menyerap rasa keindahan dari wuj ud seni, maka hubungan pert ukaran sej uml ah harga t idak memadai bagi umat Isl am unt uk memil iki obj ek seni yang dicipt a seniman Non Musl im. Wal aupun obj ek seni t el ah berpindah t angan, t et api secara psikol ogis-eksist ensial t et ap menj adi mil ik pihak seniman karena obj ek seni t erikat kuat dengan pihak pencipt a yang menghadirkannya bagaikan hubungan seorang ibu dengan anak yang dil ahirkannya. Ini berart i upaya umat Isl am menaf sir obj ek seni yang dihadirkan seniman non Musl im agar berkesesuaian dengan pandangan hidupnya bagaikan mel akukan adopsi t erhadap seorang anak yang dil ahirkan ol eh ibu yang t idak berasal dari kal angannya sendiri, sehingga bet apa pun kerasnya upaya yang dil akukan t et ap saj a secara psikol ogis t idak akan dapat menj adikan obj ek seni t ersebut sebagai mil iknya secara penuh.
Berdasar pert imbangan di at as, dal am pandangan saya f ase kedua garis kesej arahan Seni Isl am bukanl ah merupakan f ase pembent ukan wuj ud f isik obj ek seni, t et api f ase pembent ukan dan peningkat an keahl ian umat Isl am di bidang seni, baik secara prakt is maupun t eorit ik, sehingga produk akhir dari f ase ini ial ah kual it as seniman Musl im yang memil iki keahl ian di bidang pencipt aan seni-t inggi dan kepemil ikan sumber il mu penget ahuan seni dari peradaban l ain yang akan digunakannya unt uk merumuskan il mu penget ahuan Seni Isl am pada f ase sel anj ut nya. Unt uk mengisi kekosongan obj ek seni berkual it as seni-t inggi yang dicipt a seniman Musl im, kehadiran obj ek seni ol eh seniman non Musl im di t engah masyarakat Musl im memang t idak t erhindarkan dan j ust ru merupakan sebuah keniscayaan dari t erj al innya komunikasi yang int ens dengan masyarakat Musl im sebab seni sebagai unsur peradaban sel al u dibut uhkan kehadirannya di t engah masyarakat , t idak t erkecual i bagi masyakat Musl im. Dal am kont eks inil ah saya mendudukkan persoal an pencipt aan seni ol eh non Musl im at as permint aan dan biaya dari umat Isl am, t idak l ebih dan t idak kurang, sehingga apresiasi saya t erhadap peran seniman non Musl im pun dal am kont eks ini, yakni mengisi kekosongan kehadi ran obj ek seni berkual it as seni-t inggi di t engah umat Isl am.
kepemil ikan sumber il mu penget ahuan dari peradaban sebel umnya menj adikan umat Isl am dapat merumuskan il mu penget ahuan Seni Isl am di at as l andasan sist em nil ai Isl am yang t el ah sel esai t erbent uk pada f ase pert ama. Penguasaan ranah prakt ik berkesenian dan ranah t eorit ik il mu penget ahuan Seni Isl am menj adikan umat Isl am mandiri t anpa kert egant ungan dengan pihak l ain karena pencipt aan Seni Isl am berkual it as seni-t inggi dapat dil akukannya sendiri dengan kepemil ikan il mu penget ahuannya sendiri.
Sebagai dampak dari berj al annya beriringan ant ara pencipt aan Seni Isl am dan perumusan il mu penget ahuan Seni Isl am, pada f ase ket iga t erj adi t arikan ant ara l andasan f il osof is Seni Isl am yang merupakan ranah t eorit ik dengan perwuj udan Seni Isl am yang merupakan ranah prakt ik. Ada kal anya keduanya berkesesuaian di mana kehadiran wuj ud f isik Seni Isl am dibidani ol eh il mu penget ahuan Seni Isl am yang dil andasi ol eh sist em nil ai Isl am. Ada kal anya pul a keduanya t idak berkesesuaian di mana kehadiran wuj ud f isik seni ol eh seniman Musl im dibidani il mu penget ahuan seni yang bersumberkan dari sist em nil ai sel ain Isl am at au pencipt aan seni yang bersandarkan pada l andasan f il osof is Seni Isl am t et api menggunakan unsur f isik seni dari peradaban l ain t anpa proses penyesuaian dan penyerapan ke dal am sist em nil ai Isl am yang menyebabkan ant ara l andasan f il osof is dan perwuj udan f isiknya t idak t erhubung.
sepert i keharaman wuj ud f isik seni menyerupai makhl uk hidup, sement ara kal angan t eol og berupaya menj abarkan konsep Tauhid secara rasional sebagai asas bagi sel uruh aspek kehidupan umat Isl am, t ermasuk kegiat an berkesenian unt uk mewuj udkan Seni Isl am yang mencerminkan cit a Tauhid. Dengan pendekat an rasional pul a kal angan f il osof berf okus pada perumusan prinsip est et ika yang sif at nya preskript if . Berbeda dengan kal angan l ainnya, kal angan suf i berf okus pada subst ansi seni yang memuat pesan-pesan Isl am secara esot eris-met af orik unt uk mencapai pengal aman spirit ual -est et ik secara eksist ensial .
Tarikan yang t erj adi ant ara aspek f il osof is dan perwuj udan f isik seni menj adikan t idak set iap seni yang dicipt a umat Isl am dapat dinyat akan sebagai Seni Isl am. Sampai di sini, unt uk mel engkapi t akrif Seni Isl am pada f ase kedua, Seni Isl am merupakan hasil cipt a seniman Musl im di mana perwuj udan f isiknya berl andaskan pada asas f il osof is yang bersumberkan dari Isl am. Kebal ikannya, seni yang dicipt a umat Isl am di mana perwuj udan f isiknya t idak sel aras dengan asas f il osof is Seni Isl am at au asas f il osof is it u sendiri t idak bersumberkan dari Isl am, maka seni yang demikian t idak dapat dinyat akan sebagai Seni Isl am. St at usnya sebat as sebagai Seni Musl im yang meruj uk pada ident it as pencipt anya. Dengan cara pandang demikian, pada f ase ket iga garis kesej arahan Seni Isl am t erdapat seni yang berkesesuaian dengan ideal it as Isl am dan seni hasil cipt a seniman Musl im yang berj arak dari ideal it as Isl am. Keduanya merupakan khazanah seni yang dimil iki umat Isl am sepanj ang gerak kesej arahannya. Demikianl ah sej arah pat ut nya dipahami sebagai gerak yang dinamis, sebab dal am gerak kesej arahannya t idak sel al u ideal it as Isl am mampu dicapai ol eh umat Isl am, t ermasuk di bidang pencipt aan seni.
Demikian t anggapan saya t erhadap pandangan kedua Abdul Jabbar dal am aspek ont ol ogi t erkait dengan t akrif dan syarat Seni Isl am dan aspek epist emol ogi t erkait dengan sumber kebenaran dan pencipt aan Seni Isl am. Pada beberapa hal saya bersepakat dengan Abdul Jabbar dan pada hal l ainnya saya memil iki pendapat yang berbeda sebagaimana saya t el ah j abarkan di at as. Pandangan Abdul Jabbar menurut saya pent ing unt uk diul as dan dit anggapi karena saya pribadi beberapa kal i bert emu dan berdiskusi l angsung dengan pengaj ar, penel it i dan mahasiswa penggiat Arsit ekt ur Isl am yang memil iki pandangan serupa dengan pandangan kedua Abdul Jabbar. Ol eh karenanya t anggapan saya t erhadap pandangan Abdul Jabbar yang t ert uang dal am t ul isan ini sekal igus merupakan t anggapan saya t erhadap pandangan serupa di bidang Arsit ekt ur Isl am.
Sat u hal yang l uput dari t anggapan saya t erhadap Abdul Jabbar ial ah aspek aksiol ogi Seni Isl am. Pada pandangannya yang pert ama Abdul Jabbar t el ah j el as menyat akan t uj uan dari pencipt aan Seni Isl am adal ah merupakan sikap penghambaan seorang Musl im kepada Al l ah. Saya bersepakat dengan Abdul Jabbar bahwa pencipt aan dan penyerapan Seni Isl am ol eh umat Isl am harus dil akukan dal am koridor penghambaan diri kepada Al l ah yang didasari niat ikhl as dan il mu yang benar. Dari sini dapat dipahami j ika pada pandangannya yang kedua Abdul Jabbar meminggirkan aspek aksiol ogi Seni Isl am sebagai konsekuensi mendudukkan seniman non Musl im sebagai pihak pencipt a Seni Isl am yang t ent u saj a t idak didasari penghambaan diri kepada Al l ah dal am pencipt aan obj ek seni yang dihadirkannya.
Gambar 4: St rukt ur Seni Isl am menurut pandangan penul is Sumber: Anal isa, 2016
t erpisah, sehingga t erj adi j arak ant ara ideal it as Seni Isl am yang berada di al am khayal i dengan real it as berkesenian yang dial ami umat Isl am. Dal am kondisi ini umat Isl am sebagai pihak pencipt a dan penikmat Seni Isl am dengan kepemil ikan Isl am di dal am dirinya senant iasa mel akukan ikht iar unt uk mempersempit j arak ant ara ideal it as dan real it as bahkan menj adikan keduanya mel ebur dal am kesat uan. Pandangan yang saya pil ih mengambil arah j al an yang berbeda dengan Abdul Jabbar yang meyakini bahwasanya ant ara ideal it as dan real it as Seni Isl am t idak dapat dij embat ani. Sekal i l agi, saya t idak bersepakat dengan pandangan t ersebut !
C. Penutup
Tiga f ase pembent ukan Seni Isl am bukanl ah sekedar gerak kesej arahan yang t el ah berl al u, t et api merupakan t ahapan-t ahapan yang pada dasarnya merupakan st rat egi peradaban unt uk mencapai puncak pencapaian Seni Isl am. Pandangan bahwa peradaban akan berul ang bukanl ah dimaksudkan akan berul ang dengan sendirinya ol eh daya peradaban it u sendiri, t et api dengan daya upaya dari manusia pengusungnya. Di sinil ah t ahapan-t ahapan Seni Isl am yang t el ah t erj adi pada masa l al u mendapat kan rel evansinya unt uk sekal i l agi digunakan umat Isl am sebagai st rat egi peradaban unt uk kembal i mencapai puncak pencapaian Seni Isl am.
Tiga t ahap pembent ukan Seni Isl am hanya dapat dipahami sal ing ket erkait annya sebagai sat u kesat uan st rat egi peradaban j ika dil et akkan dal am kerangka pendidikan. Fase pert ama merupakan pendidikan waj ib ain bagi set iap Musl im yang mel ingkupi perkar a keimanan, kewaj ibannya sel aku umat Isl am dan persoal an hal al haram. Fase kedua, seorang Musl im yang t el ah menyesaikan j enj ang f ase pert ama diizinkan memasuki ranah pendidikan waj ib kif ayah, sal ah sat unya ial ah berkecimpung di bidang kesenian, yang merupakan. Set el ah dinil ai memil iki ot orit as, pembel aj ar Musl im di bidang kesenian dit et apkan sebagai seniman yang mengemban t ugas sebagai wakil Al l ah di muka bumi dengan beramal di ranah prakt ik berkesenian maupun ranah t eorit ik kesenian. Dengan t ahapan sepert i ini, Seni Isl am dihadirkan ol eh pribadi Musl im yang berserah dir i sepenuhnya sebagai seorang hamba sekal igus memil iki ot orit as di bidang Seni Isl am, sehingga Seni Isl am yang dicipt a maupun il mu penget ahuan Seni Isl am yang dirumuskan merupakan cahaya Isl am yang dit ebar unt uk mengusir kegel apan.
Gambar 5: St rat egi peradaban unt uk kebut uhan masa kini berdasar garis perkembangan Seni Isl am menurut pandangan penul is
Sumber: Anal isa, 2016
Al ih-al ih t erbent uk st rukt ur biner dal am hubungan pemberi-penerima t ugas di mana yang pert ama memil iki kedudukan yang l ebih t inggi daripada yang kedua sehingga dapat mendikt e dan mempengaruhi yang kedua, yang t erj adi j ust ru sebal iknya di mana pihak penerima t ugas mendikt e pihak pemberi t ugas dikarenakan ket iadaan kepemil ikan il mu di bidang kesenian, sehingga dengan perl ahan obj ek seni yang dihadirkan mempengaruhi cara pandang umat Isl am t erhadap seni pada khususnya dan t erhadap real it as secara kesel uruhan. Fenomena demikian t engah t erj adi di banyak negara Musl im di berbagai bel ahan dunia, sebut saj a sal ah sat unya ial ah Dubai yang cel akanya menj adi model bagi t idak sedikit negara Musl im l ainnya sepert i Indonesia.
Demikianl ah sat u pert imbangan l agi yang memberat kan saya unt uk bersepakat dengan Abdul Jabbar t erkait kedudukan umat Isl am dan seniman non Musl im yang t ermuat dal am pandangan keduanya. Dan t ampaknya pandangan kedua Abdul Jabbar t el ah diprakt ikkan pada hari ini, baik secara sadar maupun t anpa sadar, yang secara perwuj udan f isik t el ah memukau banyak mat a t et api t urut menghadi rkan masal ah yang t idak sedikit pul a, di ant aranya peminggiran kal angan ekonomi bawah, perendahan seni rakyat , ekspl oit asi al am dan t erut ama kerusakan int ernal bat in umat Isl am. Jika ini konsekuensi yang harus dit erima dan harga yang harus dibayar unt uk perkembangan perwuj udan seni yang dikat akan Isl am, t ent u saj a saya t idak bersepakat !
Al l ahu a’ l am bishawab.