• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUT AND TIE MODEL PADA PERHITUNGAN TUL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRUT AND TIE MODEL PADA PERHITUNGAN TUL"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perancangan struktur beton berdasarakan analisa batas (limit analysis) telah

banyak diselidiki melalui berbagai penelitian selama hampir empat dasawarsa

belakangan ini. Berbagai manfaat telah diperoleh melalui penyelidikan dan

penelitian tersebut, terutama pada kekuatan struktur balok yang dibebani geser, torsi

dan beban kombinasi. Berbagai penelitian terus berlangsung dan berkembang serta

berbagai model yang rasional yang dianggap cukup sederhana dan cukup akurat

dalam aplikasinya sudah banyak diusulkan. Sampai saat ini model yang dianggap

konsisten dan rasional adalah pendekatan melalui strut and tie model.

Strut and tie model merupakan hasil pengembangan dari metode Truss

Analogi yang pertama kali diperkenalkan oleh Mörch (Stuttgart) dan Ritter

(Zurrich) pada tahun 1920. Selanjutnya atas inisiatif Schlaich dan Schafer

(Stuttgart), Truss Analogi dikembangkan ke dalam suatu bentuk/model yang lebih

umum dan konsisten, dan kemudian dikenal sebagai Strut and Tie Model (Model

Penunjang dan Pengikat). Untuk pertama kalinya Schlaich dan Schafer secara sistematik mengembangkan langkah perancangan struktur beton bertulang dengan

strut and tie model , yaitu dengan membagi struktur dalam dua daerah yakni, daerah

D dan B. Dimana, daerah yang tidak lagi datar dan tegak lurus garis netral sebelum

dan sesudah ada tambahan lentur yang dirincikan oleh regangan nonlinear, disebut

daerah D (Distrubed atau Discontinuity) dan daerah dimana berlaku hukum

Bernoulli disebut daerah B (Bending atau Bernoulli). Kedua daerah tersebut

menggambarkan alur gaya (Load Path) sebagai transfer gaya yang terjadi pada

struktur beton bertulang pada kondisi retak dari sumber pembebanannya sampai

tumpuan. (sumber : Hardjasaputra, H dan Tumilar, S, Model Penunjang dan

Pengikat Pada Perancangan Struktur Beton)

Kini strut and tie model sudah menjadi bagian dalam berbagai standart

peraturan dibanyak negara , antara lain : Euro Code 2 (EC2), Appendix A-ACI 318

(2)

2

1.2 Identifikasi Masalah

Dalam perencanaan struktur beton bertulang, diperlukan suatu kepastian

tentang keamanan struktur terhadap keruntuhan yang mungkin terjadi selama umur

bangunan. Salah satu keruntuhan yang cukup fatal dalam konstruksi balok beton

bertulang adalah keruntuhan geser yang diakibatkan oleh kombinasi beban lentur,

beban aksial, dan beban geser. Beban geser yang melebihi kapasitas penampang

balok beton bertulang akan mengakibatkan retakan-retakan diagonal disepanjang

balok beton tersebut. Jika balok tersebut tidak mempunyai jumlah tulangan

transversal dan tulangan longitudinal yang cukup serta didetail dengan benar,

retakan-retakan tersebut dapat terjadi lebih awal dan pada akhirnya akan berakibat

terjadi keruntuhan yang tiba-tiba pada balok. Jadi salah satu hal yang sangat perlu

untuk diperhatikan dalam merencanakan maupun menganalisa suatu struktur beton

betulang adalah kegagalan geser pada unit-unit struktur, karena kegagalan geser

adalah keruntuhan getas yang berakibat fatal.

Pada analisa struktur, biasanya digunakan asumsi Bernoulli yang menyatakan

bahwa penampang tetap datar selama deformasi. Dalam kenyataanya, pada daerah

kerja beban terpusat, pada daerah tumpuan atau dimana terdapat konsentrasi

tegangan yang besar, asumsi tersebut tidak berlaku sehingga diperlukan perhitungan

yang lebih teliti. Prof. M.P Collins menyatakan bahwa pola retak akibat keruntuhan

tarik tidak selamanya dengan kemiringan 45°, tetapi pola retak dapat dimodelkan

dalam bentuk sebuah rangkaian retakan sejajar yang terbentuk pada sudut θ. Teori

dari Prof. M.P Collins ini dikenal dengan teori medan tekan (compression field

theory/ CFT) dan modified compression field theory (MCFT) pada tahun

1986.(sumber : Mardianto H.P, Suprobo P, Faimun, Penggunaan Compression

Field Theory dalam Struktur Beton Bertulang, Tugas Akhir, 2001). Sementara ACI

318 (2002) mensyaratkan sudut antara komponen strut dan komponen Tie tidak

boleh diambil kurang dari 25°. (sumber : Appendix A-ACI 318 2002 A.2.5 pp. 378).

Park and Paulay dalam sub bab The Truss Mechanism masih membedakan antara

sudut yang dibentuk antara komponen strut (α) dan komponen Tie (β) terhadap

(3)

3

dan sudut β dimbil kurang dari 90° (sumber : Park and Paulay ,Reinforced Concrete

Structures section 7.4.2)

Untuk saat ini penggunaan Strut and tie model dalam perencanaan struktur

beton bertulang khususnya perencanaan Tulangan Geser belum sepopuler

perencanaan dengan metode ACI yang dianut oleh peraturan Indonesia dalam SNI

03-2847-2002. Terutama dalam menentukan berapa sudut pergeseran (θ) elemen

serat beton (strut) yang mana hal ini masih dilakukan dengan cara coba-coba (free to

choose). Untuk itu perlu kajian yang lebih mendalam untuk dapat mengetahui

tingkat efektifitas metode Strut and Tie ini dalam merencanakan tulangan geser pada

balok beton bertulang dibandingkan dengan metode ACI.

1.3 Rumusan Masalah

Beberapa permasalahan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana hubungan tegangan yang terjadi didalam penampang balok

terutama fungsi kerja tulangan geser apabila dianalisa dengan strut and tie

method.

2. Bagaimana pengaruh sudut (θ) antara elemen strut dan elemen tie pada

penampang balok yang dimodelkan dalam strut and tie method pada

perencanaan tulangan geser balok beton bertulang bila tidak sesuai batasan

ACI.

3. Bagaimana perumusan dan penggunaan strut and tie model dalam

perencanaan tulangan pada balok tinggi beton bertulang.

4. Jika dibandingkan dengan ketentuan SNI 03 2847-2002 lebih ekonomis mana

dengan stut and tie method dan bagaimana jaminan keamanannya.

1.4 Batasan Masalah

Dalam penyususan proposal ini, terbatas pada pembahasan :

1. Perumusan dan perhitungan terbatas pada elemen struktur yang sederhana

dengan data-data yang logis

2. Tulangan yang dianalisa adalah tulangan lentur dan tulangan geser.

3. Model strut and tie direncanakan sesuai dengan aliran beban atau penyebaran

(4)

4

4. Beban yang bekerja adalah beban vertikan statis ekivalen yang bekerja pada

balok dengan perletakan sederhana (sendi-roll)

5. Gaya horisontal tidak diperhitungkan

6. Penelitian ini tidak mengadakan verifikasi bedasarkan eksperimen namun

akan dibadingkan dengan hasil eksperimen-eksperimen peneliti pendahulu.

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelian ini adalah :

1. Untuk mendapatkan informasi yang lengkap tentang strut and tie method

baik prosedur perhitungan dan juga fungsi kerja tulangan yang dianalisa

dengan strut and tie method

2. Untuk melakukan komparasi dan evaluasi terhadap penganalisa sebelumnya

yang bersesuaian dengan strut and tie method dalam perencanaan beton

bertulang

3. Untuk mendapatkan pertimbangan dan kapasitas pembatasan sudut θ dalam

perhitungan tulangan geser balok beton bertulang dengan strut and tie

method.

4. Untuk mempopulerkan metode strut and tie method (dalam bentuk beberapa

contoh perhitungan) dengan mengenalkan prosedur dan teknik penggunaan

dilapangan untuk peritungan tulangan geser.

5. Untuk mengetahui berapa besar efektifitas metode strut and tie method

dibandingkan dengan hasil-hasil eksperimen peneliti sebelumnya dan metode

Referensi

Dokumen terkait

dalam perancangan struktur beton diawali dengan penentuan daerah D dan B.. Daniel Pasaribu : Analisa Gaya Dalam Pada Rigid Zone Pertemuan Balok Dan Kolom Portal Beton Bertulang

Salah satu alternatif pendekatan untuk mengatasi elemen struktur seperti balok tinggi adalah menggunakan pendekatan Strut and Tie Model , yaitu dengan membagi struktur dalam daerah

Namun pada perancangan pile cap 6 tiang pancang menggunakan metode strut and tie model menghasilkan jumlah yang relatif lebih sedikit daripada menggunakan metode

Diperlukan pemahaman yang baik untuk menggunakan metode Strut and Tie dalam perhitungan sehingga metode ini memberikan hasil yang efisien dan efektif dikarenakan

Metode strut and tie menghasilkan jumlah tulangan yang digunakan 5D10, sedangkan metode analisis elastis linier menggunakan tulangan sebanyak 4D10.. Hal ini membuktikan bahwa

Slaich (1982-1983) telah membangun suatu dasar filosofi perancangan yang konsisten pada struktur yang berada di daerah B dan D yaitu perancangan dengan Strut and Tie model.

Perhitungan strut and tie pada mutu fc' 29,05 MPa Berdasarkan nilai gaya yang didapat pada CAST didapat tegangan yang terjadi pada pilar tampak samping model 1 dengan mutu fc' 29,05

Balok tinggi beton bertulang merupakan salah satu contoh daerah terganggu (Disturb Region) pada elemen struktur. Pada D-region, teori balok (beam teori) tidak tepat diterapkan oleh karena itu diperlukan suatu metode yang rasional untuk diterapkan pada daerah-daerah tersebut. Strut and Tie Model (STM) merupakan pengembangan dari analogi rangka, telah diakui cukup baik diterapkan pada daerahdaerah tersebut. Pada tulisan ini diuraikan keakuratan dari metode STM dalam memprediksi kuat geser dari balok tinggi beton