• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI EFEKTIFITAS METODA SAMPLING DAN KEPADATAN FAUNA TANAH DI LAHAN PERTANIAN ORGANIK SAYURAN DATARAN TINGGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI EFEKTIFITAS METODA SAMPLING DAN KEPADATAN FAUNA TANAH DI LAHAN PERTANIAN ORGANIK SAYURAN DATARAN TINGGI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

FAUNA TANAH DI LAHAN PERTANIAN ORGANIK SAYURAN

DATARAN TINGGI

EK. Anwar dan E. Santosa

ABSTRAK

Tingkat populasi dan sebaran fauna tanah secara langsung berpengaruh terhadap tingkat kesuburan dan produktifitas tanah. Telah dilakukan penelitian Uji Efektifitas Metoda Sampling Fauna Tanah dan Kepadatan Fauna Tanah di Lahan Pertanian Organik sayuran dataran tinggi di Cisarua pada tahun anggaran 2008. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat efektifitas metoda sampling dan kepadatan fauna tanah dalam upaya mempelajari tingkat populasi dan sebaran fauna tanah di lahan pertanian organik sayuran. Uji efektivitas metode sampling fauna tanah dilaksanakan saat sebelum tanam, menggunakan metoda Sampling TBSF (tropical biological standard for soil fauna), Metoda Dinamis, dan Metoda Formalin, dan kepadatan fauna tanah dilakukan saat setelah panen pada lahan pertanian organik sayuran dataran tinggi. Hasil identifikasi dilahan pertanian organik memperlihatkan metoda TBSF lebih efektif dibanding metoda Dinamis dan metoda Formalin, dan metoda Dinamis lebif efektif dibanding metoda Formalin. Sebaran tiap jenis fauna mempunyai pola yang spesifik. Cacing besar(Pheretima Javanica), cacing kecil (Pontoscolex corethrurus) dan kelabang (Polidesmid milipede) tersebar merata ke arah horizontal dan ke arah fertikal dengan kedalaman sampai lapisan kedua (20 cm), penempatan kokon sebagian berada di lapisan 3 (20 - 30 cm). Cacing tanah mempunyai kepadatan jenis dan kepadatan relatif paling tingggi dibanding fauna tanah lainnya dengan pola sebaran random.

PENDAHULUAN

Fauna tanah sebagai salah satu komponen organisme tanah ikut berperan penting dalam proses dekomposisi bahan organik. Bersama organisme tanah lainnya fauna tanah menguraikan bahan organic menjadi C organic tanah dan melepaskan hara-hara dalam ikatan komplek menjadi hara tanah tersedia bagi tanaman. Dengan demikian tingkat populasi dan sebaran fauna tanah secara langsung berpengaruh terhadap tingkat kesuburan dan produktivitas tanah. . Dalam hubungan timbal balik dengan mikroba, peranan utama fauna tanah adalah mengoyak, memasukkan, dan melakukan pertukaran secara kimia hasil proses dekomposisi serasah tanaman. Melalui proses mineralisasi materi yang telah mati akan menghasilkan garam-garam mineral yang akan digunakan oleh tumbuh-tumbuhan (Thomas & Mitchell 1951). Secara umum fauna tanah dapat

(2)

dipandang sebagai pengatur terjadinya proses biogeokimia dalam tanah. Dengan perkataan lain fauna tanah berperan dalam menentukan kesuburan tanah bahkan beberapa jenis fauna tanah dapat digunakan sebagai indikator tingkat kesehatan tanah di suatu daerah pertanian (Adianto 1983).

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat efektifitas metoda sampling fauna tanah dalam upaya mempelajari tingkat jenis, kepadatan relatif dan sebaran fauna tanah di lahan pertanian organik sayuran

BAHAN DAN METOADA

Penelitian Uji Efektifitas Metoda Sampling dan Kepadatan Fauna Tanah dilaksanakan di Lahan Pertanian Organik sayuran dataran tinggi di Cisarua-Jawa Barat pada tahun anggaran 2008. Uji Efektifitas Metoda Sampling Fauna Tanah dilakukan pada hamparan lahan sebelum ditanami sayuran menggunakan metoda Sampling TBSF ( tropical biological standar for soil fauna), (Anderson, J.M. et al. 1993), metoda dinamis, dan metoda formalin pada lahan pertanian organik sayuran dataran tinggi. Pengamatan metoda TBSF diulang 3 kali, metoda dinamis 4 kali dan metoda formalin 12 kali disesuaikan dengan kondisi lapang,(Anwar E.K, 2007) dan hasil yang ditampilkan merupakan rata-rata hasil pengamatan. Setelah tanaman sayuran panen dilakukan pengambilan sampel untuk mengetahui kepadatan fauna tanah pada tiap-tiap perlakuan teknik pertanian organik, menggunakan metoda TBSF pada plot-plot mengikuti perlakuan penelitian pertanian organik sayuran dataran tinggi diulang 3 kali yaitu menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan percobaan sebagai berikut :

1. Teknik pertanian organik (TPO) setempat

2. Perbaikan (TPO 1) 3. Perbaikan (TPO 2) 4. TPO 1 + Vermikompos 5. TPO 2 + Cacing 6. TPO 2 + CMA 7. TPO3 Keterangan

TPO : Praktek petani setempat, campuran kotoran kambing, kotoran ayam, dan gedebok pisang yang dicacah dengan perbandingan = 1 : 1 : (0,05-0,1) dikomposkan selama + 4 minggu. Pada petak-petak perlakuan-1, sebelum tanam dipupuk dengan kompos tersebut 2 genggam/lubang tanam atau setara 20 kg/petak atau 20 t/ha.

(3)

TPO 1: Pada petak-petak perlakuan-2 dan perlakuan-4, sebelum tanam brokoli,

lahan ditanami tanaman penutup tanah Mucuna sp. yang diinokulasi dengan Nodulin. Setelah tanaman Mucuna sp. berumur 2 bulan dipanen, ditimbang, dibenamkan sedalam 20 cm.

TPO 2: Campuran serasah tanaman dan kotoran hewan (4:1) dikomposkan

dengan inokulan organisme dekomposer selama + 4 minggu. Kompos yang telah matang diperkaya dengan pupuk P-alam 0,2% dan pupuk hayati (KBDE-1A, KBDE-2A, dan KBDE-3A) 0,2%. KBDE-A merupakan hasil seleksi dari isolat-isolat bakteri diazotrof endofitik yang berasal dari tanaman pangan. Pada petak-petak perlakuan-3, perlakuan-5, dan perlakuan-6, sebelum tanam dipupuk dengan kompos tesebut dengan dosis 10 kg/petak atau setara 10 ton/ha dengan cara kompos ditabur dalam larikan sedalam 20 cm dan campur merata dengan tanah.

TPO 3: Campuran serasah tanaman dan kotoran hewan (4:1) dikomposkan

dengan inokulan organisme dekomposer selama + 4 minggu. Kompos yang telah matang diperkaya dengan pupuk P-alam 0,2% dan pupuk hayati (KBDE-1B, KBDE-2B, dan KBDE-3B) 0,2%. KBDE-B merupakan hasil seleksi dari isolat-isolat bakteri diazotrof endofitik yang berasal dari tanaman sayuran. Pada petak-petak perlakuan-7, sebelum tanam dipupuk dengan kompos tersebut dengan dosis 10 kg/petak atau setara 10 ton/ha dengan cara kompos ditabur di dalam larikan sedalam 20 cm dan campur merata dengan tanah kemudian tanam.

Vermikompos : kompos atau kascing yang berasal dari hasil perombakan bahan organik oleh aktivitas cacing tanah. Pada petak-petak perlakuan-4, sebelum tanam dipupuk dengan kompos tesebut dengan dosis 10 kg/petak atau setara 10 ton/ha dengan cara kompos ditabur di dalam larikan sedalam 20 cm dan campur merata dengan tanah.

Cacing tanah : Pada petak-petak perlakuan-5, 1-2 hari sebelum tanam

diberi cacing endogaesis sebanyak 8 ekor/m2 atau setara 80 ekor/petak. Cacing dilletakkan di tempat pemberian kompos.

CMA : Pada petak perlakuan-5, sebelum tanam diinokulasi dengan

cendawan mikorisa arbuskula sebesar 2 g/lubang pada saat tanam.

Analisis data:

Efektifitas metoda sampling dicirikan dengan jumlah fauna yang tertangkap dihitung dengan kepadatan jenis dan kepadatan relatif : (Suin, 2003)

(4)

K jenis A = jumlah individu jenis A

Jumlah unit contoh/luas

K R jenis A = K jenis A x 100 % Jumlah K semua jenis

Di mana : K = Kepadatan populasi KR = Kepadatan relatif

Analisis Sebaran menggunakan Koefisien Dispersi : (Suin, 2003) Kd = X2/(N-1) Dimana X2 = s2 (N-1) : X Kd = koefisien dispersi s2 = varian N = jumlah contoh X = rata rata

Bila Kd = mendekati 1 berarti distribusinya random Kd = 0, berarti distribusinya beraturan Kd > 1, berarti distribusinya kelompok

Kepadatan jenis cacing tanah pada pengamatan setelah tanam dilanjutkan dengan analisis data statistik dengan uji beda nyata terkecil (BNT) (Gomez K.A et al, 1976)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Efektifitas metoda sampling dicirikan dengan hasil identifikasi fauna tanah yang diperoleh. Hasil identifikasi sebelum penelitian dimulai/sebelum ditanami pada Tabel 1, menunjukkan metoda TBSF lebih efektif dibanding metoda Dinamis dan metoda Formalin, dan metoda Dinamis lebif efektif dibanding metoda Formalin. Sebaran tiap jenis fauna mempunyai pola yang spesifik. Cacing besar (Pheretima Javanica), cacing kecil (Pontoscolex corethrurus) dan kelabang (Polidesmid milipede) tersebar merata ke arah horizontal dan ke arah fertikal dengan kedalaman sampai lapisan tanah kedua (20 cm), penempatan kokon sebagian berada di lapisan 3 (20 - 30 cm)

(5)

Tabel 1. Kepadatan jenis fauna tanah (ekor.0,25m-2) dengan metoda TBSF, dinamis dan formalin pada saat sebelum ada tanaman

Metoda TBSF Jenis

fauna

tanah Lapisan1 Lapisan2 Lapisan3 Jumlah

Metoda dinamis/umpan Metoda formalin Cacing besar Cacing kecil Kokon Larva Kuuk Pupa Kelabang 4 4 2 1 2 - 1 5 3 5 2 - - 1 1 - 7 - - - 1 10 7 14 3 2 - 3 - 11 - 3 2 2 - 1 1 - - - 1 - Jumlah 14 16 9 39 18 3

Hasil identifikasi fauna tanah pada lahan penelitian teknik pertanian organik setelah tanaman sayuran dipanen tercantum pada Tabel 2, memperlihatkan kepadatan jenis maupun kepadatan relatif cacing tanah dominan dibanding fauna tanah lainnya. Kokon (telur cacing tanah) juga memperlihatkan kepadatan jenis maupun kepadatan relatif lebih tinggi dibanding fauna tanah lainnya. Hal ini membuktikan bahwa sebaran cacing tanah lebih dominan dan eksis dibanding fauna tanah lainnya pada tanah pertanian organik sayuran dataran tinggi ini berarti cacing tanah memegang peranan utama pada proses dekomposisi di lahan ini.

Tabel 2. Kepadatan jenis dan kepadatan relatif fauna tanah saat setelah panen

Kepadatan Cacing Kokon Jangkrik Kasir Kuuk Gaang

K jenis(ekor.0,25m-2) 6.88 1.57 0.05 0.33 1.38 0.24

K relatif (%) 59.28 13.55 0.41 2.87 11.90 2.05

Larva Rayap Kunang2 Kecoa Semut Tonggeret

K jenis(ekor.0,25m-2) 0.76 0.10 0.05 0.05 0.05 0.10

K relatif (%) 6.57 0.82 0.41 0.41 0.41 0.82

Pada Tabel 3 menunjukkan populasi cacing tanah (dicirikan dengan kepadatan jenis) tertinggi di peroleh pada perlakuan 7 (TPO 2 + CMA) kemudian disusul perlakuan 5 (TPO 2 + Cacing), hal ini diduga inokulasi cendawan Mikorisa arbuskula meningkatkan ketersediaan makanan bagi cacing tanah, karena cacing tanah selain memakan bahan organik juga memakan cendawan dan bakteri tanah (Hendriksen, N.B. 1990), sedangkan perlakuan 5 menunjukkan populasi cacing tanah yang lebih tinggi disebabkan selain cacing tanah insitu juga ada penambahan inokulasi cacing tanah sebagai perlakuan. Perlakuan 1 sebagai kontrol menunjukkan populasi cacing tanah terendah hal ini disebabkan

(6)

ketersediaan makanan bagi cacing tanah yang paling rendah pula karena tidak mendapatkan asupan sebagai perlakuan.

Tabel 3. Kepadatan jenis cacing tanah pada pertanian organik Sayuran Dataran Tinggi di Cisarua (ekor.0,25m-2) setelah panen.

Perlakuan Kepadatan jenis cacing tanah

(ekor.0,25m-2)

1 Teknik pertanian organik (TPO) setempat 3.3 d

2. Perbaikan (TPO 1) 5.3 c 3. Perbaikan (TPO 2) 4.3 cd 4. TPO 1 + Vermikompos 5.3 c 5. TPO 2 + Cacing 9.0 b 6. TPO 2 + CMA 5.7 c 7. TPO 3 15.3 a K.K (%) 13,1

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata padataraf 5% Uji BNT.

Tabel 4. Komponen sebaran fauna tanah saat setelah panen pada pertanian organik sayuran dataran tinggi di Cisarua

Organisme Χ (rata-rata) S2 N-1 X2 Kd Cacing 10.31 9 4 3.49 0.87 Kokon 3.67 9 4 9.82 2.45 Engkuk 2.9 9 4 12.41 3.10 Larva 2 9 4 18.00 4.50 Kasir 1.4 9 4 25.71 6.43 Gaang 1.25 9 4 28.80 7.20 Jengkrik 1 9 4 36.00 9.00 Rayap 1 9 4 36.00 9.00 Kunang2 1 9 4 36.00 9.00

Pada Tabel 4 menunjukkan nilai koefisien dispersi (Kd) cacing tanah mendekati 1, sedangkan fauna tanah lainnya lebih dari 1. Hal ini menunjukkan bahwa model distribusi cacing tanah adalah random artinya hidup dimana saja, yang membuktikan cacing tanah merupakan makrofauna yang hidup kosmopolit (menyebar) dan toleran terhadap berbagai kondisi lingkungan, sedangkan model distribusi fauna tanah lainnya berkelompok artinya tergantung kondisi lingkungan. Menurut Mc Credie, T.A et al. 1992 bahwa fauna tanah tertentu hidup dipengaruhi kondisi lingkungan seperti cuaca, ketersediaan makanan dan musuh alami. Fauna tanah ini dicirikan dengan model sebaran yang berkelompok dan kadang-kadang booming pada saat kondisi lingkungan mendukung.

(7)

KESIMPULAN

• Pada lahan pertanian organik sayuran dataran tinggi di Cisarua Jawa Barat, metoda Tropical Biological Standard for soil Fauna (TBSF) merupakan metoda sampling fauna tanah yang paling efektif dibanding metoda Dinamis dan Metoda Formalin dan metoda Dinamis lebih efektif dibanding metoda Formalin

• Cacing tanah menunjukkan kepadatan jenis dan kepadatan relatif tertinggi dibanding jenis fauna tanah lainnya dan mempunyai model sebaran Random yang menunjukkan cacing tanah merupakan makrofauna yang hidup kosmopolit (menyebar) dan toleran terhadap berbagai kondisi lingkungan,

• Cacing Besar (Pheretima Javanica), Cacing Kecil (Pontoscolex corethrurus) dan Kelabang(Polidesmid milipede) tersebar merata ke arah horizontal dan ke arah fertikal dengan kedalaman sampai lapisan tanah kedua (20cm), dan kokon berada pada lapisan 3 (20 – 30 cm).

DAFTAR PUSTAKA

Adianto 1983. Biologi Pertanian Penerbit ALUMNI Bandung.

Anderson, J.M. & J.S.I Ingram 1993. Tropical soil niology and fertility: A Handbook of Methods, 2nd ed. CAB International. Wallingtoford. UK

Anwar E.K. 2007. Pengambilan Contoh Tanah Untuk Penelitian Fauna Tanah dalam Rasti et.al, (eds) Metode Analisis Biologi Tanah. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2007.

Gomez K.A and A.A Gomez. 1976. Statistical procedures for agricultural research. The International Rice Researc Institute. Los Banos, Laguna, Philippines.

Hendriksen, N.B. 1990. Leaf Litter Selection by Detritivor Geophagous Earthworms. Biol. Fertil. Soils 10 : 17 - 21.

Listyawan B., Aprianto, Didi Adji Siddik, Zamzam Badruzzaman, Sudrajat.. 1998. Teknologi VAP-BL. PT Vermi Alam Prima Lestari. Jl. Babakan Jeruk II No. 11 Bandung Indonesia

Mc Credie, T.A, C.A.Parker, and I. Abbott. 1992. Population Dynamic of The Earthworm Aporrectodea tropezoides (Annelida : Lumbricidae) in Western Australia Pasture Soil. Biol. Fertil. Soils 12 : 285 - 289.

(8)

Suin, N.M 2003. Ekologi Hewan Tanah. Penerbit Bumi Aksara dan Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati ITB

Thomas, C.A.,& G.H. Mitchell. 1951. Eelworms. Nemathodes as pest of mushrooms. M.G.A Bull. 22:61-71

Gambar

Tabel 2.  Kepadatan jenis dan kepadatan relatif fauna tanah saat setelah panen   Kepadatan Cacing  Kokon  Jangkrik  Kasir  Kuuk  Gaang  K jenis(ekor.0,25m -2 ) 6.88  1.57  0.05  0.33 1.38 0.24  K relatif (%)  59.28  13.55 0.41  2.87  11.90  2.05
Tabel 4.  Komponen sebaran fauna tanah saat setelah panen pada pertanian  organik sayuran dataran tinggi di Cisarua

Referensi

Dokumen terkait

Perusahaan Mycompany akan menggunakan LDAP direktori untuk mengikat semua aplikasi dan servis yang ada menjadi satu, menjadi data manajemen yang lebih sederhana, memotong

Alasan utama dipakai beton ready mix adalah mutu beton yang dihasilkan lebih sesuai dengan mutu beton yang telah direncanakan, sehingga lebih mendekati dari hasil hitungan,

Wujud konflik dalam naskah drama dibagi dalam dua kategori yaitu konflik eksternal dan konflik internal. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara

Para pihak perlu diberikan pemahaman yang sama tentang landasan hukum, fungsi dan konservasi taman nasional agar diperoleh persepsi yang sama dalam pengelolaan

3) Membahas bersama Kasubbagian Hukum dan Organisasi dan pelaksanaan mengenai penyusunan konsep pedoman analisis jabatan dan evaluasi jabatan di lingkungan BKIPM; 4)

Sistem operasi jasa (service operation system) dan sistem penyampaian jasa (service delivery system) terdiri dari bagian yang terlihat oleh pengguna jasa (technical core) dan yang

Telah dilakukan juga ekperimen terhadap alat RFB yang menggunakan sudu-sudu pada distributornya.Untuk pelaksanaan eksperimen ini pertama kali motor diesel akan di uji

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan Karya Tulis Ilmiah