81
Minyak Testa Kelapa
Physicochemical Characteristics and Identification of Fatty Acid
Composition Coconut Testa Oil
ARDI K. MAKALALAG, ANTON MUIS, DAN NICOLAS TUMBEL
Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado
Jln. Diponegoro No. 21-23, Manado 95112
E-mail:
[email protected]
Diterima 04 Mei 2020 / Direvisi 14 Juni 2020 / Disetujui 21 Desember 2020
ABSTRAK
Testa adalah produk samping dari proses pengolahan industri tepung kelapa, dan belum dimanfaatkan secara optimal. Testa merupakan lapisan luar daging buah kelapa yang berwarna coklat. dikupas dengan ketebalan sekitar 2 mm, dikeringkan dan dikeluarkan minyaknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat potensi yang dapat diolah dari testa kelapa dengan cara mengidentifikasi sifat fisik dan kimia dari minyak testa dan untuk mengetahui komposisi kandungan asam lemaknya. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2019 dan dilakukan di Laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado. Hasil penelitian diperoleh nilai kadar air 0,2148%; asam lemak bebas 2,02%; bilangan peroksida sebesar 0,4107 Mek O2/kg; bilangan iod 14,452 g iod/100g; dan bilangan penyabunan 258,46 mg KOH/g.
Hasil pengujian komposisi asam lemak minyak testa menggunakan alat Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GCMS) diperoleh, delapan jenis asam lemak penyusun yang terdiri dari asam lemak rantai medium dan asam lemak rantai Panjang, dengan persentase yang paling dominan adalah Lauric acid methyl ester (C12 – Asam laurat) sebesar 41,59% yang merupakan golongan dari asam lemak rantai medium. Secara keseluruhan asam lemak yang diperoleh adalah,
Caprylic acid methyl ester (C8 – asam kaprilat) 5,43%, Capric acid methyl ester (C10 – asam kaprat) 4,68%, Lauric acid methyl
ester (C12 – asam laurat) 41,59%, Myristic acid methil ester (C14 – asam miristat) 18,87%, Palmitic acid methyl ester
(C16 – asam palmitat) 11,87%, Linoleic acid methyl ester (C18 – asam linoleat) 1,67%, Oleic acid methyl ester (C18 – asam oleat) 11,88%, Stearic acid methil ester (C20 – asam stearat) 4,01%. Hasil yang diperoleh menunjukkan minyak testa kelapa memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk pangan fungsional, kosmetik, maupun farmasi.
Kata kunci: Testa kelapa, minyak testa, asam lemak
ABSTRACT
Testa is a byproduct of the coconut flour industrial processing process and has not been used optimally. Testa is the outer layer of coconut flesh which is brown. peeled with a thickness of about 2mm, dried, and taken the oil. The purpose of this study was to see the potential that can be processed from coconut testa by identifying the physical and chemical properties of testa oil and to determine the composition of its fatty acid content. The research was carried out in 2019 and carried out at the Manado Industrial Research and Standardization Center Laboratory. The results showed a water content value of 0.2148%; free fatty acids 2.02%; the peroxide number is 0.4107 Mek O2/Kg; iodine number 14.452 g iodine/100g; and the saponin number 258.46 mg KOH/g. The results of testing the fatty acid composition of testa oil using a Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GCMS) tool were obtained, eight types of fatty acids consisting of medium-chain fatty acids and long-chain fatty acids, with the most dominant percentage being Lauric acid methyl ester (C12 - Lauric acid) of 41.59% which is a group of medium-chain fatty acids. Overall, the fatty acids obtained are Caprylic acid methyl ester (C8 - caprylic acid) 5.43%, Capric acid methyl ester (C10 - capric acid) 4.68%, Lauric acid methyl ester (C12 - lauric acid) 41.59%, Myristic acid methyl ester (C14 - myristic acid) 18.87%, Palmitic acid methyl ester (C16 - palmitic acid) 11.87%, Linoleic acid methyl ester (C18 - linoleic acid) 1.67%, Oleic acid methyl ester (C18 - oleic acid) 11.88%, Stearic acid methyl ester (C20 - stearic acid) 4.01%. The results obtained show that coconut testa oil has the potential to be developed into functional food, cosmetic and pharmaceuticals products .
Keywords: Testa coconut, testa oil, fatty acids
PENDAHULUAN
Buah kelapa merupakan salah satu bagian
tanaman kelapa yang manfaat dan
penggunaannya sangat luas. Buah kelapa terdiri
dari beberapa komponen yaitu sabut kelapa, tempurung kelapa, daging buah kelapa dan air kelapa dengan persentase sabut kelapa sebanyak 35%, tempurung kelapa 12%, daging buah kelapa 28% dan air kelapa 25% (Ketaren, 1986). Buah
82
dikeluarkan dari tempurungnya memiliki lapisan selaput berwarna coklat yang disebut testa (Risnita, et al, 2012). Testa kelapa pada proses pengolahan tepung kelapa harus dikeluarkan karena akan mempengaruhi warna dan kualitas dari tepung kelapa yang dihasilkan. Centra IKM Pengolahan Kelapa Kota Bitung memproduksi VCO tanpa paring karena menyesuaikan dengan permintaan pembeli VCO yang menginginkan kualitas warna yang jernih dari VCO yang dihasilkan. Testa dikupas dengan ketebalan 2mm, dan masih memungkinkan sedikit dari daging buah kelapa ikut terkeluarkan. Berdasarkan data lapangan pengolahan minyak VCO dari centra IKM pengolahan kelapa kota Bitung, 10 butir buah kelapa akan menghasilkan 3 Kg daging buah kelapa. dengan mengasumsikan testa buah kelapa yang dikeluarkan adalah 2 mm dari ketebalan daging buah kelapa, maka dalam 3 kg daging buah kelapa akan menghasilkan testa kelapa sebanyak 600 gr.
Testa kelapa sejauh ini belum dimanfaatkan atau diolah secara optimal. Pada Sebagian industri pengolahan tepung kelapa dan minyak VCO, testa kelapa menjadi limbah industri karena belum bisa dimanfaatkan atau diolah menjadi suatu produk yang mempunyai nilai jual. Begitu juga pada lokasi pengolahan kelapa yang berada di pasar-pasar tradisional testa kelapa juga menjadi salah satu sumber limbah padat, padahal limbah tersebut masih mengandung bahan yang dapat dimanfaatkan atau diolah menjadi minyak nabati. (Karepu, et al, 2020) Pengolahan testa menjadi minyak merupakan salah satu alternatif dalam pemanfaatan testa kelapa sebagai salah satu bahan baku pembuatan minyak kelapa karena masih mengandung minyak sebesar 28% dalam 1 buah kelapa (Risnita, et al, 2012). Hampir semua jenis minyak nabati umumnya mengandung komponen minor seperti: tokoferol, karoten dan senyawa fenolik lainnya (Muis, 2014a). Berdasarkan hasil penelitian penentuan senyawa fenolik dalam minyak VCO yang dilakukan oleh (Raharjo, et al, 2008) diperoleh hasil bahwa kandungan senyawa fenolik padaVCO dari kelapa dengan kulit ari jauh lebih besar (lebih dari 3 kali lipat) apabila dibandingkan VCO dari kelapa tanpa kulit ari. VCO dari kelapa dengan kulit ari mengandung senyawa fenolik 75,92 mg/kg minyak (VCO fenolik tinggi) sedangkan VCO dari kelapa tanpa
kulit ari mengandung senyawa fenolik 23,87 mg/kg minyak (VCO fenolik rendah). Hal ini
perlu terlebih dahulu dilakukan kajian untuk mengidentifikasi karakteristik fisikokimia dan pengujian komposisi asam lemak minyak testa. Sehingga nanti berdasarkan hasil penelitian ini, dapat memberikan informasi, untuk kemudian dilakukan pengolahan minyak testa menjadi suatu produk yang mempunyai sifat fungsional sebagai minyak goreng atau bahan baku pada produk kosmetik maupun farmasi.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan di Laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado pada bulan Februari sampai Desember 2019. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu testa kelapa dari industri pengolahan tepung kelapa. Alat yang digunakan yaitu: Alat press, Vakum filter, oven, alat pengujian laboratorium, dan Gas
Chromatography Mass Spectrometry (GCMS).
Metode Penelitian
Pengolahan testa menjadi minyak dilakukan dengan metode kering, yaitu testa dari industri pengolahan tepung kelapa, dikeringkan pada suhu 50 – 55OC selama 8 jam, kemudian dilakukan
proses pengepresan. Testa kelapa dipress sebanyak 2 kali, presan pertama sekaligus menghancurkan testa kering menjadi lebih halus dan dilakukan press kembali untuk mengeluarkan minyak yang masih terkandung dalam testa kelapa yang sudah halus. Minyak testa kemudian
disaring dan diuji karakteristik sifat Fisik - Kimianya. Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan metode deskriptif.
Karakteristik Fisikokimia Minyak Testa
Identifikasi sifat fisik-kimia minyak testa dilakukan dengan melakukan pengujian kadar air, asam lemak bebas, bilangan iod, bilangan penyabunan dan bilangan peroksida untuk menilai mutu minyak testa (Taufik dan Seftiono 2018).
Komposisi Asam Lemak Minyak Testa
Identifikasi komposisi asam lemak sempel minyak testa dilakukan dengan terlebih dahulu membuat reaksi metilasi atau transesterifikasi menggunakan methanol dengan katalis KOH pada
83
Gambar 1. Flow chart proses pengolahan testa kelapa
Figure 1. Flowchart of coconut testa processing
suhu 95OC selama 1 jam untuk memutusan ikatan
trigliserida dan diperoleh senyawa asam-asam lemaknya, selanjutnya dilakukan proses ekstraksi menggunakan pelarut n-heksan. Pada tahap ini akan diperoleh dua lapisan, lapisan atas yaitu campuran metil ester dan gliserol berada pada bagian bawah. Selanjutnya ditambahkan NaCl pekat untuk memperjelas bidang pemisahan antara ekstrak dengan gliserol. Bagian Heksan yang ada diatas dipipet dan dimasukan dalam vial kemudian ditambakan dengan Na2SO4 anhidrat
untuk memerangkap air untuk mencegah adanya air dalam bahan uji (Makalalag, 2018). Selanjutnya
sampel dianalisis menggunakan Gas
Chromatography Mass Spectrometry (GCMS)
Shimadzu QP2010 Ultra dengan kolom stabil-wax 30 m, menggunakan detektor FID (Flame Ion
Detector) dengan kondisi operasi gas pembawa
Helium (He), suhu injektor 280OC, temperatur
awal kolom 100OC, dan temperatur detector 300OC
dan pembacaan komponen asam lemaknya menggunakan WILEY8 LIBRARY.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Fisikokimia Minyak
Hasil pengujian minyak testa dapat dilihat tabel 1. Data Table 1, menunjukkan bahwa minyak testa memenuhi syarat mutu dari SNI 2902:2011 yang merupakan syarat mutu dari minyak kelapa mentah, kecuali pada hasil pengujian dari bilangan iod. Penggunaan SNI 2902:2011 sebagai rujukan syarat mutu dari minyak testa yang diperoleh karena minyak testa kelapa merupakan minyak yang belum diolah atau dilakukan proses rafinasi/pemurnian. Pengujian parameter yang dilakukan merupakan indikator dari sifat fisik-kimia dari minyak yang paling mudah diuji dan yang paling mempengaruhi kualitas dari minyak itu sendiri, dari data pengujian yang diperoleh proses selanjutnya untuk pengolahan atau pemurnian minyak testa sebagai olahan minyak
yang mempunyai sifat fungsional dapat
dilakukan, dengan tetap memperhatikan faktor-Daging Kelapa
Coconut meat Pengeluaran testa Testa shelled
Pengeringan, T 55 °C, t 8 jam, Ka 5-7%
Drying, T 55 ° C, t 8 hours, W.con 5-7%
Pengepresan dengan mesin press
Pressing with a press machine
Daging kelapa tanpa testa
Coconut meat without testa
Testa Kelapa
Coconut testa
Pengendapan dan peyaringan partikel kasar
Precipitation and screening of coarse particles
Minyak testa
84
(FFA) merupakan indikator penentu dan saling mempengaruhi kualitas dari minyak itu sendiri. Air akan menyebabkan proses hidrolisis terjadi dan akan meningkatkan kadar dari asam lemak bebasnya (FFA), kadar asam lemak bebas yang terbentuk dari reaksi hidrolisis oleh air yang teradsorpsi pada proses pengolahan minyak testa akan berpengaruh pada warna, aroma minyak dan bilangan peroksidanya. Bilangan peroksida didefinisikan sebagai miliequivalen (mEq) peroksida per gram sampel, yang ditentukan dengan titrasi redoks (iodometri), dengan asumsi bahwa senyawa yang bereaksi di bawah kondisi uji adalah peroksida atau produk sejenis dari oksidasi lipid (Suroso, 2013). Apabila nilai bilangan peroksida yang terlalu besar maka ada proses oksidasi lebih lanjut pada produk minyak testa yang akan berakibat timbulnya bau tengik.
Bilangan Iod didefinisikan sebagai jumlah gram Iod yang diserap oleh 100 gram minyak. Nilai bilangan iodium menunjukkan derajat ketidakjenuhan asam lemak penyusun minyak, yang ditentukan dengan melarutkan minyak dalam kloroform atau karbon tetraklorida dan ditambah iodium bromide berlebihan, kelebihan iodium tersebut kemudian dititrasi dengan larutan thiosulfat, sehingga jumlah iodium yang bereaksi dapat dihitung (Susanto, 2012). Iodium akan mengadisi ikatan rangkap asam lemak tidak jenuh maupun dalam bentuk ester, sehingga nilai bilangan tergantung pada jumlah asam lemak tidak jenuh dalam lemak. Hasil pengujian
identifikasi komposisi asam lemak pada minyak testa untuk mengetahui kandungan asam lemak tidak jenuh pada minyak testa. Bilangan penyabunan merupakan jumlah basa yang diperlukan untuk menyabunkan sejumlah lemak atau minyak, dinyatakan sebagai miligram KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 gram sampel.
Bilangan penyabunan merupakan indeks rata-rata berat molekul triasilgliserol dalam sampel, yang akan bergantung pada seberapa panjang rantai asam lemak dalam minyak, yaitu semakin kecil bilangan penyabunan, semakin panjang rata-rata rantai asam lemak (Pramitha dan Juliadi, 2019).
Minyak merupakan suatu bahan pangan yang mudah rusak, yang dapat disebabkan oleh faktor suhu, cahaya dan udara (Ngatemin, et al, 2013). Oleh sebab itu penanganan dan
pengolahannyapun harus benar-benar
diperhatikan, sehingga minyak testa dapat diolah menjadi suatu bahan baku yang mempunyai sifat dan fungsi yang sesuai dengan industry yang akan dituju.
Komposisi Asam Lemak
Sampel minyak testa dilakukan pengujian komposisi asam lemak untuk mengidentifikasi
kandungan asam lemaknya dan untuk
mengetahui presentase atau jumlah kelimpahan asam lemaknya. Komposisi asam lemak dari
minyak testa dapat dilihat pada
gambar kromatogram (Gambar 2).
Tabel 1. Hasil uji minyak testa kelapa
Table 1. Test result for coconut testa oil
Pengujian
Testing Satuan Unit Results Hasil SNI 2902:2011 SNI 2902:2011
Kadar Air
(Water content) % (b/b) 0,2148 Maks. 0,5
Asam lemak bebas
(Free fatty acids)
% 2,02 Maks. 5
Bilangan Peroksida
(The peroxide Number)
Mek O2/Kg 0,4107 -
Bilangan Iod
(Iodine Numbers)
g iod/100g 14,452 7 – 11 Bilangan penyabunan
85
Gambar 2. Kromatogram asam lemak minyak testa
Figure 2. Testa oil fatty acid chromatogram
Tabel 2. Profil asam lemak minyak testa
Table 2. Profile fatty acid testa oil
Asam Lemak
Fatty acid Rumus Molekul The molecular formula Persentase (%) Percentage (%)
Caprylic acid methyl ester (Asam Kaprilat) C8H16O2 5,43
Capric acid methyl ester (Asam Kaprat) C10H22O2 4,68
Lauric acid methyl ester (Asam Laurat) C12H24O2 41,59
Myristic acid methyl ester (Asam Miristat) C14H28O2 18,87
Palmitic acid methyl ester (Asam Palmitat) C16H32O2 11,87
Linoleic acid methyl ester (Asam Linoleat) C18H34O2 1,67
Oleic acid methyl ester (Asam Oleat) C18H36O2 11,88
Stearic acid methyl ester (Asam Stearat) C20H38O2 4,01
hasil pengujian komposisi asam lemak minyak testa berdasarkan kromatogram yang diperoleh adalah seperti yang tersaji dalam Tabel 2. Berdasarkan data kromatogram peak pertama muncul pada retensi time 4,58 kemudian secara berturut-turut peak muncul pada retensi time 9,20; 14,10; 18,53; 22,53; 26,17; 26,51; dan 27,31. Hal ini menunjukan berat molekul yang rendah dari asam lemak sehingga mudah untuk menguap dan dapat dengan cepat dikenali oleh detector. Selain kolom, detektor FID juga berperan dalam pemisahan senyawa dalam analisis dengan GC. Semakin panjang rantai
karbon maka semakin sulit untuk menguap. Hal ini sejalan pada proses deteksi GC dengan detector FID. FID mengionkan senyawa yang dianalisis sehingga terinterpretasi pada recorder dan muncul dengan resolusi dan waktu retensi tertentu (Malbar et al., 2016). Berdasarkan spektrum massa library MS, senyawa pada retensi time tersebut secara berurutan adalah, Caprylic
acid methyl ester (asam kaprilat), Capric acid methyl ester (asam kaprat), Lauric acid methyl ester (asam
laurat), Myristic acid methil ester (asam miristat),
Palmitic acid methyl ester (asam palmitat), Linoleic acid methyl ester (asam linoleat), Oleic acid methyl
86
Komposisi asam lemak penyusun minyak tergantung dari sumbernya (Hutami dan Ayu, 2015). Pada penelitian ini minyak yang dilihat komposisi asam lemaknya bersumber dari daging buah kelapa, sehingga secara komposisi akan memiliki komponen asam lemak penyusun yang sama dengan komponen asam lemak dari minyak kelapa. Jika dibandingkan dengan hasil pengujian komposisi asam lemak pada minyak kelapa yang telah dilakukan oleh (Karouw dan Santosa 2013) di Balai Penelitian Palma, secara komposisi, asam lemak penyusunnya memiliki jumlah dan jenis asam lemak yang sama, yang membedakan adalah persentase dari masing-masing asam lemak. Secara persentase komposisi total asam lemak dengan kategori asam lemak rantai medium adalah 61,93%. Asam lemak rantai medium adalah kelompok asam lemak yang memiliki 6 – 12 atom karbon (Muis, 2014b). Sedangkan pada hasil penelitian ini jumlah total kelompok asam lemak rantai medium di peroleh persentasi sebesar 51,7%. Perbedaan ini dipengaruhi oleh bebrapa factor yaitu dari segi bahan baku itu sendiri (jenis dan usia kelapa), dari metode preparasi sampel hingga metode pembacaan menggunakan instrument GCMS dengan jenis colom yang digunakan. Profil asam
lemak minyak testa, juga menunjukan
kelimpahan yang cukup besar pada ketegori asam lemak tidak jenuh dengan nilai persentase sebesar 13,55%. Hal ini tentunya menjelaskan mengapa nilai dari bilangan iod diperoleh nilai sebesar 14,452, secara teori bilangan iod dapat menyatakan derajat ketidakjenuhan dari minyak atau lemak (Susanto, 2012). Asam lemak tak jenuh tunggal yang teridentifikasi yaitu asam lemak oleat yang mempunyai satu ikatan rangkap pada ikatan hidrokarbonnya degan persentase sebesar 11,88 % dan asam lemak tak jenuh ganda yaitu asam lemak linoleate yang mempunyai lebih dari satu ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya dengan persentase 1,67%. hal ini berbeda dengan hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh (Karouw dan Santosa 2013) bahwa asam lemak tidak jenuh tunggal diperoleh persentase sebesar 5,83% dan asam lemak tidak jenuh ganda diperoleh hasil persentase sebesar 1,26%.
Penelitian yang dilakukan oleh Wood et al. (1993), menyatakan bahwa Asam lemak tak jenuh tunggal (Mono Unsaturated Fatty Acid - MUFA) dapat menurunkan LDL dan meningkatkan K-HDL secara lebih besar daripada Omega-3 dan Omega-6. Salah satu jenis Asam lemak tak jenuh
daripada asam lemak tak jenuh jamak (Poly
Unsaturated Fatty Acid - PUFA), sehingga asam
oleat lebih populer dimanfaatkan untuk formulasi makanan olahan.
Berdasarkan hasil pnegujian diperoleh komposisi asam lemak yang paling dominan adalah asam laurat (C12) dengan persentase sebesar 41,59%. Asam Laurat adalah golongan asam lemak rantai medium yang mempunyai manfaat yang sangat besar dalam industry pangan diantaranya digunakan sebagai sumber asam lemak pada susu formula dan juga sebagai bahan formulasi makanan untuk pasien yang mengalami gangguan penyerapan, pasien pasca operasi dan orang lanjut usia (Aditiya et al, 2014).
KESIMPULAN
Testa kelapa memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi minyak goreng, dengan memperhatikan metode pengolahan dari minyak agar tidak merusak kandungan fisikokimia dari minyak testa
Hasil pengujian komposisi asam lemak minyak testa menunjukan minyak testa memiliki kandungan asam lemak rantai medium (C8 sampai 12) yang cukup banyak dengan total persentase sebesar 51,7% dengan kandungan asam lemak yang paling dominan adalah C12
(asam laurat) sebesar 41,59%.
Berdasarkan kandungan komposisi asam lemak dari minyak testa, testa kelapa dapat dimanfaatkan kandungan minyaknya untuk diproses lebih lanjut menjadi produk pangan fungsional, kosmetik maupun farmasi.
DAFTAR PUSTAKA
Aditiya, R., H. Rusmatilin dan L.N. Limbong. 2014. Optimasi pembuatan Virgin
Coconut Oil (VCO) dengan penambahan
ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) dan
lama fermentasi dengan VCO
pancingan. Program Studi Ilmu Dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian USU. Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian. Vol.2 No.2.
Hutami, R., dan D.F. Ayu. 2015. Pembuatan dan karakterisasi metil ester dari minyak goreng kelapa sawit komersial. Jurnal Agroindustri Halal 1(2): 131-138.
87
Karepu, M.G., E. Suryanto, dan L.I. Momuat. 2020. Komposisi kimia dan aktifitas antioksidan dari paring kelapa (Cocos
nucifera). Chem. Prog. 13(1): 39-47.
Karouw, S dan B. Santosa. 2013. Minyak kelapa sebagai sumber asam lemak rantai medium. Prosiding Konferensi Nasional Kelapa VIII. Balai Penelitian Tanaman Palma Manado.
Ketaren, S. 1986. Pengantar teknologi minyak dan lemak pangan. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Makalalag, A. 2018. Pembuatan metil ester dari minyak kelapa. Jurnal Penelitian Teknologi Industri 10(2): 67-74.
Malbar, M. Z., M. Tananty, J. Pontoh dan F. Fatimah. 2016. Optimasi instrumen GC Shimadzu – 2014 terhadap beberapa senyawa metil ester asam lemak (FAME). Jurnal MIPA Unsrat Online 5(1): 6-9.
Muis, A. 2014a. Ekstrak virgin coconut oil sebagai sumber pangan fungsional. Jurnal Penelitian Teknologi Industri 6(1): 11-18. Muis, A. 2014b. Pengembangan Ekstrak Minor
Virgin Coconut Oil sebagai Pangan
Fungsionall. Komunikasi Baristand
Industri Manado.
Nafi'ah, W.A., dan Mitrayana. 2015. Deteksi frekuensi akustik pada buah kelapa magelang (Cocos nucifera) menggunakan software spectra PLUS-DT. Jurnal Fisika Indonesia 19(57): 51-54.
Ngatemin, Nurrahman, J. T. Isworo. 2013.
Pengaruh lama fermentasi pada
produksi minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil) terhadap sifat fisik, kimia, dan organoleptik. Jurnal Pangan dan Gizi 4(8): 9-17.
Pramitha, D.A.I., dan D. Juliadi. 2019. Pengaruh suhu terhadap bilangan peroksida dan asam lemak bebas pada VCO (Virgin Coconut oil) hasil fermentasi alami. Jurnal Cakra Kimia 7(2): 149-154.
Raharjo, T. J., A.S. Widhiyati, E.M. Asih, Sumiaty, R. Tambunan dan A. Setyopratiwi. 2008. Studi in vivo peranan senyawa fenolik dalam aktivitas antihiperkolesterol Virgin Coconut Oil. Indo. J. Chem 8(1): 119-123.
Risnita, N.E; Muryoto, Herawati. 2012.
Fermentasi yuyu (Paratelphusa) sebagai penghasil minyak dari limbah kulit ari kelapa. Jurnal Teknologi Kesehatan 8(4):217-221
Standar Minyak Kelapa Kasar SNI 2902:2011. Suroso, A.S. 2013. Kualitas minyak goreng habis
pakai ditinjau dari bilangan peroksida, bilangan asam, dan kadar air. Jurnal Kefarmasian Indonesia 3(2): 77-88. Susanto, T. 2012. Perbandingan mutu minyak
kelapa yang di proses melalui
pengasaman dan pemanasan sesuai SNI 2902-2011. Jurnal Hasil Penelitian industry 26(1): 1-10.
Taufik, M., Seftiono, H. 2018. Karakteristik Fisik dan Kimia Minyak Goreng Sawit Hasil Proses Penggorengan Dengan Metode
Deep – FAT Frying. Jurnal Teknologi,
10(2): 123-129
Wood R, K. Kubena, B. O’Brien, S. Tseng, and G. Martin. 1993. Effect of butter, mono-and polysaturated fatty acid-enriched butter, trans fatty acid margarine, and zero trans fatty acid margarine on serum lipids and lipoproteins in healty men. Journal Lipid Research 34(1): 1-11.