• Tidak ada hasil yang ditemukan

WACANA KESETARAAN GENDER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "WACANA KESETARAAN GENDER"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

WACANA KESETARAAN GENDER

DI KALANGAN MAHASISWA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Tim Penyusun:

Lumban Arofah, S.Sos, M.Sc 198011292005011002 Ketua Peneliti

Alfisyah, S.Ag, M.Hum 197408052006042002 Anggota

Sigit Ruswinarsih, S.Sos, M.Pd 197001262005012001 Anggota

Yuli Apriati, S.Sos, MA 198404162008122006 Anggota

Syahlan Mattiro, SH, M.Si 198003092009121002 Anggota

Nasrullah, S.Sos, I, MA 197905262009121001 Anggota

Tutung Nurdiyana, S.Sos, MA, M.Pd 197610212005012001 Anggota

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

(2)

1. Judul Penelitian :

WACANA KESETARAAN GENDER DI KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

2. Ketua Penelitian:

a. Nama Lengkap : Lumban Arofah, S.Sos, M.Sc b. Jenis Kelamin : Laki laki

c. NIP : 198011292005011002

d. Jabatan Struktural : -

e. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli f. Bidang Keahlian : Sosiologi

g. Fakultas/Jurusan : FKIP/Jurusan Pendidikan IPS

h. Perguruan Tinggi : Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin i. Tim Peneliti :

No. Nama NIP

1 Alfisyah, S.Ag, M.Hum 19740805 2006042002 2 Sigit Ruswinarsih, S.Sos, M.Pd 197001262005012001 3 Yuli Apriati, S.Sos, MA 198404162008122006 4 Syahlan Mattiro, SH, M.Si 198003092009121002 5 Nasrullah, S.Sos, I, MA 197905262009121001 6 Tutung Nurdiyana, S.Sos, MA, M.Pd 197610212005012001 3. Jangka Waktu Penilaian : 6 Bulan

4. Pembiayaan :

a. Jumlah biaya BNOPTN : Rp. 6.000.000,-

Mengetahui, Banjarmasin, November 2013

Dekan Ketua Tim Peneliti,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Drs. H. Ahmad Sofyan, MA Lumban Arofah, S.Sos, M.Sc

NIP. 1951110 197703 1 003 NIP. 198011292005011002

Menyetujui,

Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat

Dr. Ahmad Alim Bachri, SE, M.Si NIP. 196712311995121002

(3)

Dalam dekade terakhir ini, upaya pengarus utamaan gender menjadi diskursus di berbagai kalangan aktivis perempuan, keluarga-keluarga, wartawan, dunia pendidikan maupun kalangan politisi. Begitupun strategi-strategi telah ditawarkan dengan tujuan agar kesetaraan gender tercapai terutama dalam pendidikan yang dianggap dimensi kunci. Mengingat pentingnya kaitan antara gender dan pendidikan, penelitian ini akan berusaha untuk mendapatkan gambaran persepektif gender menurut Mahasiswa FKIP mengingat mereka disiapkan untuk menjadi guru pelajaran. Sehingga, perspektif mereka tentang gender nantinya akan diturunkan kepada anak-anak didik dimana mereka mengajar. Penelitian ini juga berusaha untuk menginvestigasi darimana wacana gender itu berasal dan bagaimana operasionalisasi konsep gender bagi mahasiswa.

Untuk menjawab masalah penelitian tersebut penelitian ini menggunakan metode penelitan kualitatif dengan mengedepankan penggunaan wawancara dan observasi sebagai alat untuk menggali data.

Berdasarkan hasil wawancara ditemukan bahwa terdapat tiga jenis wacana gender menurut perspektif mahasiswa;

Pertama, Pandangan mahasiswa berpendapat bahwa kesetaraan gender itu adalah kesamaan posisi, derajat, kedudukan, hak, dan kewajiban antara Laki-laki dan Perempuan. Implikasi dari pandangan tersebut terletak dari pernyataan bahwa tidak ada perbedaan antara Laki-laki dan perempuan dalam memperoleh dan mendapatkan posisi di masyarakat. Setiap individu berhak mendapatkan posisinya di masyarakat tanpa adanya pembatasan dari jenis kelamin lainnya. Oleh karena itu, perempuan dan Laki-laki berhak untuk memperjuangkan posisinya masing-masing.

Kedua, Pandangan mahasiswa yang percaya bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan antara Laki-laki dan Perempuan oleh karena itu maka perbedaan akan konstruksi sosial antara keduanya harus dihapuskan. Namun, ada perbedaan yang tidak dapat dipisahkan antara laki-Laki dan perempuan. Perbedaan tersebut terletak pada fisik antara jenis kelamin tersebut, atau dalam kata lain terdapat perbedaan biologis antara keduanya. Oleh karena itu, maka walaupun dimungkinkan tidak ada perbedaan dalam konstruksi sosial, namun perbedaan dalam hal biologis akan berpengaruh dalam hal kehidupan dan peran peran juga dimasyarakat.

Ketiga, Pandangan mahasiswa yang tidak menyetujui kesetaraan gender. pandangan tersebut berasal dari kenyataan bahwa Mahasiswa memandang tidak perlu ada kesetaraan gender, karena peran dan posisi masing-masing individu tidak lah sama. Oleh karena itu, mengingat peran dan posisi masing-masing telah ditentukan baik oleh faktor biologis maupun faktor sosial, maka tidak perlu ada kesetaraan gender.

Kata Kunci: Gender, Feminsime, Kesetaraan, Pengarusutamaan, Perspektif, Pandangan, Mahasiswa

(4)

Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas terselesaikannya Penulisan Laporan Penelitian dengan Judul “WACANA KESETARAAN GENDER DI KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT”. Penelitian ini bertujuan untuk menggali wacana gender bagi Mahasiswa dan bagaimana operasionalisasi konsep Kesetaraan dan Pengarusutamaan Gender bagi Mahasiswa. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan terciptanya sebuah karya ilmiah yang membahas dan berkontribusi untuk menjawab permasalahan tentang tantangan apa saja yang perlu diatas dalam upaya promosi kesetaraan gender terutama di dalam dunia pendidikan.

Banyak pihak yang terlibat dalam kegiatan ini, oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat. 2. Dekan FKIP Universitas Lambung Mangkurat.

3. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.

4. Ketua Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi FKIP Unlam

5. Juga diucapkan terima kasih kepada mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi FKIP Berbagai masukan dan diskusi yang dilakukan baik di dalam kelas maupun dalam pertemuan informal turun memperkaya khasanah penelitian ini.

Kami menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam penelitian kali ini. Namun demikian, semoga kegiatan ini dapat bermanfaat dan menjadi pendorong untuk kegiatan yang sejenis

Banjarmasin, November 2013

(5)

HALAMAN PENGESAHAN ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

BAB I.

PENDAHULUAN ... 1

I.1 Latar Belakang Masalah ... 1

I.2 Fokus Penelitian ... 2

I.3 Rumusan Permasalahan ... 3

I.4 Tujuan Penelitian ... 3

I.5 Manfaat Penelitian ... 3

I.5.1 Manfaat Praktis ... 3

I.5.2 Manfaat Teoritis ... 3

BAB II.

LANDASAN TEORI ... 4

II.1 Teori-teori Gender ... 4

II.1.1 Teori Struktural-Fungsional ... 4

II.1.2 Teori Sosial-Konflik ... 8

II.1.3 Teori Feminisme ... 12

II.1.3.1 Teori Feminisme Liberal ... 13

II.1.3.2 Feminisme Cultural ... 15

II.1.3.3 Teori Feminisme Marxis-Sosialis ... 16

II.1.3.4 Teori Feminisme Radikal ... 18

II.1.3.5 Feminisme Multicultural dan Global ... 20

II.1.3.6 Teori Ekofeminisme ... 21

II.1.4 Teori Psikoanalisa ... 23

BAB III.

METODE PENELITIAN ... 25

III.1 Lokasi Penelitian ... 25

III.2 Penentuan Informan ... 26

III.3 Jenis dan Sumber Data ... 26

(6)

III.4.2.1 Reduksi Data. ... 27

III.4.2.2 Penyajian Data... 27

III.4.2.3 Menarik Kesimpulan ... 27

BAB IV.

HASIL PENELITAN DAN ANALISA DATA ... 29

IV.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian. ... 29

IV.1.1 Keadaan Geografis Kota. ... 29

IV.1.2 Komposisi Masyarakat di Kota Banjarmasin ... 32

IV.1.3 Kondisi Perekonomian daerah ... 33

IV.1.4 Pendidikan Masyarakat... 34

IV.2 Hasil dan Pembahasan ... 35

IV.2.1 Pengarusutamaan Gender di Indonesia... 35

IV.2.2 Usaha Pengarusutamaan Gender di Bidang Pendidikan... 37

IV.2.3 Perspektif Gender Menurut Mahasiswa ... 42

IV.2.4 Pendapat Mahasiswa Tentang Kesetaraan dan Pengarusutamaan Gender. ... 46

IV.2.5 Diskusi Teori. ... 53

BAB V.

KESIMPULAN DAN SARAN ... 57

V.1 Kesimpulan ... 57

V.2 Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 59

LAMPIRAN ... 60

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 84 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG PENDIDIKAN ... 60

(7)

Tabel 1. Luas Banjarmasin Berdasarkan Kecamatan ... 30 Tabel 2. Jumlah Penduduk Kota Banjarmasin ... 33 Tabel 3. Distribusi Presentase Kegiatan Ekonomi ... 34

(8)

BAB I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Bagi suatu negara, pendidikan merupakan realisasi kebijaksanaan

untuk meningkatkan taraf kesejahteraan yang dicita-citakan oleh

pendirinya. Pendidikan merupakan komponen pokok dalam pembinaan

landasan pengembangan sosial budaya sekaligus pencipta manusia yang

memiliki peradaban tinggi. Pendidikan tidak bisa lepas dari kehidupan

sosial masyarakat sekitar sehingga perlu dibuat sebuah sistem yang

memperhatikan khasanah pendidikan dalam aras lokal

Karenanya, proses belajar mengajar merupakan kebutuhan penting

hidup manusia. Hal ini harus dirasakan bersama oleh setiap individu

laki-laki dan perempuan tanpa pandang bulu. Karena sama-sama memiliki

kemampuan untuk belajar. Semakin lama, setiap aspek kehidupan manusia

berkembang, kebutuhannya pun kian beragam. Oleh karena itu, baik

laki-laki maupun perempuan diharuskan memiliki tingkat pembelajaran yang

setara serta didukung oleh satuan pendidikan yang mendukung hal

tersebut.

Kesenjangan pada bidang pendidikan dianggap menjadi faktor utama yang

sangat berpengaruh terhadap bidang lain di Indonesia, hampir semua sektor, seperti

lapangan pekerjaan, jabatan, peran dimasyarakat sampai pada masalah menyuarakan

pendapat antara laki-laki dan perempuan yang menjadi faktor penyebab bias gender

(9)

klasik yang cenderung menjustifikasi ketidakadilan seperti intepretasi teks-teks

keagamaan yang tekstual dan kendala sosial budaya lainnya. Bahkan proses dan institusi

pendidikan dipandang berperan besar dalam mensosialisasikan dan melestarikan

nilai-nilai dan cara pandang yang mendasari munculnya berbagai ketimpangan gender dalam

masyarakat.

Dalam dekade terakhir ini, upaya pengarus utamaan gender

menjadi diskursus di berbagai kalangan aktivis perempuan,

keluarga-keluarga, wartawan, dunia pendidikan maupun kalangan politisi.

Begitupun strategi-strategi telah ditawarkan dengan tujuan agar kesetaraan

gender tercapai terutama dalam pendidikan yang dianggap dimensi kunci.

Mengingat pentingnya kaitan antara gender dan pendidikan, penelitian ini

akan berusaha untuk mendapatkan gambaran persepektif gender menurut

Mahasiswa FKIP mengingat mereka disiapkan untuk menjadi guru

pelajaran. Sehingga, perspektif mereka tentang gender nantinya akan

diturunkan kepada Anak didik dimana mereka mengajar. Penelitian ini

juga berusaha untuk menginvestigasi darimana wacana gender itu berasal

dan bagaimana operasionalisasi konsep gender bagi mahasiswa.

I.2 Fokus Penelitian

Penelitian ini akan difokuskan kepada;

1. Makna Gender bagi mahasiswa

(10)

I.3 Rumusan Permasalahan

Penelitian ini berupaya untuk menjawab:

1. Makna Gender bagi mahasiswa

2. Bagaimana kesetaraan gender menurut Mahasiswa.

I.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini berupaya untuk menjawab:

1. Makna gender bagi mahasiswa

2. Bagaimana kesetaraan gender menurut Mahasiswa.

I.5 Manfaat Penelitian

I.5.1 Manfaat Praktis

Pemangku kebijakan, sebagai sarana untuk mengevaluasi pendidikan

gender di perguruan tinggi.

I.5.2 Manfaat Teoritis

Dosen sebagai sarana evaluasi dan informasi tentang pendidikan gender

(11)

BAB II.

LANDASAN TEORI

II.1 Teori-teori Gender

Menurut Marzuki (2013: 1-15) secara khusus belum ditemukan teori yang

melihat dan membicarakan persoalan gender. Teori yang digunakan dalam

melihat permasalahan gender ini diadopsi dari teori-teori yang dikembangkan oleh

para ahli dalam bidang-bidang yang terkait dengan permasalahan gender, terutama

bidang sosial dan psikologis

Karena itu teori-teori yang digunakan untuk mendekati masalah gender ini

banyak diambil dari teori-teori sosiologi dan psikologi. Cukup banyak teori yang

dikembangkan oleh para ahli, terutama kaum feminis, untuk memperbincangkan

permasalahan gender, dalam kesempatan ini akan dikemukakan beberapa saja

yang dianggap penting dan cukup populer.

II.1.1 Teori Struktural-Fungsional

Teori atau pendekatan struktural-fungsional merupakan salah satu teori

yang dikembangkan dalam keilmuwan sosiologi yang digunakan dalam melihat

bagaimana bekerjanya pranata sosial yang lebih khusus disebut dengan pranata

keluarga. Pendekatan Struktural Fungsional melihat bagaimana masyarakat

tersebut terdiri dari sebuah sistem yag terdiri dari berbagai sub sistem – sub sistem

yang saling mempengaruhi satu sama lain. Berdasarkan pendapat diatas, dapat

dilihat bahwa masyarakat merupakan sebuah sistem yang didalamnnya terdiri dari

(12)

berusaha menginvetigasi sub sistem-sub sistem apa saja yang ada di dalam

masyarakat dan bagaimana sub sistem tersebut saling mempengaruhi satu sama

lain, dan bagaimana fungsi dari sub sistem tersebut dalam masyarakat. Beberapa

sosiolog yang termasuk ke dalam pendekatan Struktural Fungsional antara lain;

William F. Ogburn dan Talcott Parsons (Ratna Megawangi, 1999: 56).

Pendekatan struktural-fungsional mengakui adanya segala berbagai

keperbedaan dan keragaman di dalam kehidupan sosial. Adanya perbedaan

tersebut menimbulkan konsekwensi adanya perbedaan struktur, status, dan peran

dalam masyarakat sebagai sebuah sistem. Dalam sebuah organisasi sosial pasti

terdapat perbedaan posisi yang mengandung potensi status dan peran yang pada

tujuannya menciptakan tujuan organisasi yang akan menimbulkan keharmonisan,

keteraturan bagi keseluruhan sistem dalam masyarakat. Adanya perbedaan

struktur dan fungsi dalam masyarakat dipengaruhi oleh pranata, sistem sosial, dan

sistem norma yang berlaku secara ajeg dalam masyarakat. (Ratna Megawangi,

1999: 56).

Dalam hal pembagian jenis kelamin berdasarkan gender, perspektif

structural fungsional melihat aspek kesejarahan pada masyarakat pra-industri

terutama munculnya pembagian kerja berbasis jenis kelamin yang terjadi pada

masyarakat pra industri dimana peran laki-laki dan perempuan dibedakan

berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakukan. Laki-laki berperan dalam penyedia

makanan melalui kegiatan berburu sementara perempuan menjadi peramu di

dalam wilayah rumah. Implikasi dari pandangan tersebut adalah munculnya

(13)

publik sementara perempuan bekerja di dalam wilayah privat atau di dalam rumah

dan keluarga. Jika ditelisik lebih lanjut, peran laki=laki memiliki dimensi yang

lebih luas, karena peran di wilayah publik memiliki dimensi yang lebih luas,

dibandingkan wilayah privat. Bagi perempuan, tugas di wilayah privat atau di

dalam rumah memiliki dimensi yang lebih sempit, dimana perempuan terbatas

hanya berperan dari bidang reproduksi yaitu mengandung, memilihara anak,

memelihara rumah, memelihara pekarangan, dan lain sebagainya. Pembagian

kerja seperti ini telah berfungsi dengan baik dalam menciptakan masyarakat yang

stabil dan mengidamkan equilibrium atau keseimabangan. Dengan pembagian

kerja berbasis jenis kelamin, masyarakat akan mengalami keharmonisan sehingga

meminimalisir konflik, karena pembagian kerja tersebut dianggap dapat

meminimalisir konflik terutama dalam keluarga.

Pendekatan struktural-fungsional dianggap masih relevan jika diterapkan

dalam masyarakat modern. Pembagian peran secara jenis kelamin dianggap

sebagai suatu yang biasa dan wajar adanya(Nasaruddin Umar, 1999: 53). Dengan

pembagian kerja yang seimbang, hubungan suami-isteri bisa berjalan dengan baik

dan harmonis. Penyimpangan terjadi karena munculnya konflik antar fungsi

dalam keluarga. Oleh karena itu, maka sistem sosial berupa pembagian kerja

berdasarkan jenis kelamin harus dijamin keutuhannya.

Prinsip yang sama berlaku untuk keluarga di masyarakat modern.

Gangguan diminimalkan, harmoni dimaksimalkan, dan dan keluarga bermanfaat

ketika pasangan saling membutuhkan satu sama lain. (Parsons dan Bales, 1955;

(14)

akan mempertahankan integritas fisik keluarga dengan menyediakan makanan

dan tempat tinggal dan menghubungkan keluarga ke dunia luar rumah. Ketika

istri/ ibu mengambil peran privat, ia diharapkan untuk mempererat hubungan dan

memberikan dukungan dan memelihara kegiatan emosional yang menjamin

berjalan rumah tangga lancar. Jika terlalu banyak penyimpangan dari peran-peran

ini terjadi , atau ketika ada terlalu banyak tumpang tindih, sistem keluarga

didorong ke dalam keadaan ketidakseimbangan yang dapat mengancam

kelangsungan hidup unit keluarga Lindsey LL and Christie S. (1997; 6).

Fungsionalisme cenderung mendukung kelas menengah. Model keluarga

yang menekankan kegiatan ekonomi kepala rumah tangga kepada laki-laki dan

kegiatan domestik kepada wanitanya. Wanita berfungsi di luar rumah hanya

sebagai tenaga kerja cadangan , seperti ketika tenaga mereka dibutuhkan di masa

perang.

Model ini tidak berlaku untuk perempuan miskin dan orang tua tunggal

yang oleh kebutuhan harus bekerja di luar rumah untuk menjaga rumah tangga .

Ini mungkin tidak berlaku untuk Negara Afrika

Wanita Amerika , yang cenderung dengan pilihan untuk keluarga dan

pekerjaan yang terpisah dan yang mendapatkan tingkat kepuasan yang tinggi dari

kedua peran tersebut. Penelitian juga menunjukkan bahwa spesialisasi tugas

rumah tangga berdasarkan gender di keluarga kontemporer lebih disfungsional

daripada fungsional. wanita terdegradasi peran keluarga yang mereka lihat

membatasi, misalnya, tidak bahagia dalam pernikahan dan lebih mungkin untuk

(15)

Pendekatan struktural-fungsional ini mendapat kritik dari para feminis.

Pendekatan ini dianggap menyetujui adanya peran dan status sosial yang

dihasilkan dari jenis kelamin.. Perempuan dan laki-laki dipisahkan oleh peran

mereka dalam urusan publik dan privat. Kondisi tersebut akan memberikan

implikasi berupa diteruskannya dominasi yang kental dari laki-laki kepada

perempuan (Nasaruddin Umar, 1999: 53).

Namun, meski pendekatan strultural fungsional telah mendapatkan

berbagai kritik tajam, namun masyarakat modern masih mempertahankan sistem

pembagian kerja berbasis jenis kelamin, karena masyarakat masih menekankan

aspek prinsip ekonomi dengan menekankan produktivitas. Jika faktor produksi

diutamakan, maka nilai manusia akan tampil tidak lebih dari sekedar alat

produksi. Nilai-nilai fundamental kemanusiaan cenderung diabaikan. Karena itu,

tidak heran dalam masyarakat kapitalis, “industri seks” dapat diterima secara wajar. Yang juga memerkuat pemberlakuan teori ini adalah karena masyarakat

modern-kapitalis, menurut Michel Foucault dan Heidi Hartman (Nasaruddin

Umar, 1999: 60), cenderung mengakomodasi sistem pembagian kerja berdasarkan

perbedaan jenis kelamin. Akibatnya, posisi perempuan akan tetap lebih rendah

dan dalam posisi marginal, sedang posisi laki-laki lebih tinggi dan menduduki

posisi sentral.

II.1.2 Teori Sosial-Konflik

Paradigma konflik sosial memandang bahwa masyarakat merupakan

(16)

disebabkan oleh karena pembagian sumber daya yang terbatas dan terkadang tidak

adil. Kompetisi sebagai salah satu hal asasi di masyarakat akan menyebabkan

diferensiasi kekuasaan dan menimbulkan pertentangan antara kelompok yang

menguasai dan kelompok yang dikuasai. Kondisi tersebut akan menimbulkan

perbedaan kepentingan dan pertentangan antar dua kelompok yang pada akhirnya

akan menimbulkan konflik dalam suatu organisasi atau masyarakat (Ratna

Megawangi, 1999: 76).

Dalam masalah gender, pendekatan sosial-konflik mendapatkan pengaruh

besar dari Teori Marx,dalam Das Kapital yang juga ditulis oleh Frederic Engels.

Kedua Tokoh tersebut mengemukakan suatu gagasan yang menyatakan bahwa

perbedaan dan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan tidak

disebabkan oleh perbedaan biologis, tetapi merupakan bagian dari konflik kelas

yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga.

Hubungan antara laki-laki dan perempuan (suami-isteri) diibaratkan dengan

hubungan an tara kaum ploretar dan kaum borjuis, hamba dan tuan, atau pemeras

dan yang diperas. Dengan kata lain, ketimpangan peran gender dalam masyarakat

bukan karena kodrat dari Tuhan, tetapi karena konstruksi masyarakat.

Teori ini selanjutnya dikembangkan oleh R. Dahrendorf, dan Randall

Collins. Asumsi yang dipakai dalam pengembangan pendekatan sosial-konflik

berasal dari teori diterminisme ekonomi Marx. Teori ini berpandangan bahwa

walaupun manusia telah memiliki pola hubungan sesuai dengan sistem sosial yang

ajeg, namun pola tersebut dibentuk atas kepentingan individu atau kelompok

(17)

ini menolak pendapat yang menyatakan bahwa konflik sosial merupakan sumber

perpecahan masyarakat, lebih lanjut, teori ini berpendapat bahwa konflik sosial

yang disebabkan karena pendistribusian daya yang terbatas terutama kekuasaan

justru menjadi dasar dari munculnya perubahan sosial di masyarakat (Ratna

Megawangi, 1999: 81).

Akumulasi harta, benda, serta kontrol laki-laki atas produksi menjadi

sebab insubordinasi perempuan baik di masyarakat maupun di keluarga. Negasi

teori ini sesuai dengan perkembangan masyarakat yang menunjukkan keunggulan

antara kaum kapitalis dan kaum pekerja. (Nasaruddin Umar, 1999: 62).

Sebagaimana sistem masyarakat yang kapitalistik, keluarga dipandang

bukan sebagai sebuah sistem sosial yang normatif dimana didalamnya

berlangsung hubungan yang harmonis dan seimbang. Keluarga, dipandang

sebagai sebuah sistem sosial yang penuh dengan konflik yang bersumber pada

perbedaan biologis. Lembaga dan pranata di masyarakat yang paling eksis dalam

menjunjung peran gender adalah keluarga dan agama, sehingga usaha untuk

menciptakan kesetaraan gender adalah dengan menghilangkan peran biologis

gender, yaitu dengan usaha radikal untuk mengubah pola pikir dan struktur

keluarga yang menciptakannya (Ratna Megawangi, 1999: 91).

Teori konflik berfokus pada penempatan sosial dari fungsi keluarga bahwa

sejak lahir orang akan diberikan kepada ke dalam keluarga yang memiliki

berbagai tingkat sumber daya ekonomi . Orang-orang cukup beruntung untuk

diberikan ke dalam keluarga kaya akan bekerja untuk melestarikan

(18)

karena mereka jelas memberikan manfaat dari keseluruhan ketidakseimbangan

kekuasaan. Kelas sosial endogami (menikah dalam kelas yang sama) dan pola

warisan memastikan bahwa properti dan kekayaan disimpan di tangan keluarga

yang kuat.

Keyakinan tentang ketimpangan dan ketidakseimbangan menjadi kekuatan yang

dilembagakan - mereka diterima dan bertahan dari waktu ke waktu sebagai

sesuatu yang sah oleh kedua pihak baik yang mendapatkan hak istimewa maupun

yang tertindas.

mereka yang lahir dalam keluarga miskin tetap miskin karena mereka tidak

memiliki bakat dan etos kerja yang dilanggengkan. Kondisi struktural yang

menopang kemiskinan diabaikan . Penempatan sosial beroperasi melalui sistem

patriarkal dan sistem patrilineal , kekayaan lebih terkonsentrasi di tangan laki-laki

dan lebih lanjut membuat sikap tunduk perempuan , penelantaran , dan

kemiskinan .

teori konflik sependapat dengan pandangan Engels dengan menyarankan bahwa

ketika wanita mendapatkan kekuatan ekonomi dengan juga menjadi penerima

upah , kekuasaan mereka di dalam rumah akan diperkuat dan dapat menyebabkan

pengaturan yang lebih egaliter Lindsey LL and Christie S. (1997; 8) .

Teori ini mendapatkan kritik karena terlalu menekankan pada faktor

ekonomi, padahal konflik juga terjadi karena disebabkan oleh ketegangan antara

orang tua dan anak, istri dan suami, laki – laki dan perempuan dan lain-lain

(19)

para feminis modern yang kemudian banyak memunculkan teori-teori baru

mengenai feminisme, seperti feminisme liberal, feminisme Marxis-sosialis, dan

feminisme radikal.

II.1.3 Teori Feminisme

Teori feminis yang menawarkan kerangka terhadap organisasi perempuan

dalam upaya untuk mengubah posisi sosial perempuan yang rendah dari posisi

sosial, politik, dan diskriminasi ekonomi serta pola dan tindakan yang

mengabadikan hal tersebut. Banyak organisasi dibawah jaringan dan payung

feminisme, bertujuan auntuk mengakhiri persoalan seksisme dan penindasan

seksis dengan memberdayakan perempuan. Tiga puluh tahun

lalu gerakan perempuan tersendat karena tidak realistis menjelaskan bagaimana

kategori pendindasan yang saling berpotongna satu sama lain (Breines, 2006).

Melalui

upaya jaringan feminis di seluruh dunia dan di bawah kepemimpinan PBB dan

konferensi perempuan mereka terorganisir dan persoalan ini dijembatani.

Perubahan sosial global menyajikan tantangan baru dan berkelanjutan bagi

perempuan, sehingga agenda feminis dalam menangani kebutuhan semua

perempuan belum pernah dapat diselesaikan. Feminis menerima tujuan

mengakhiri seksisme dengan memberdayakan perempuan, tetapi ada banyak

ketidaksepakatan tentang bagaimana tujuan yang harus dicapai.

Karena gerakan feminis bersifat inklusif, tidak mungkin akan pernah ada

(20)

strategi untuk mengatasi masalah. Karena sangat inklusivitas dan beragam,

gerakan untuk menyatukan gerakan menjadi sangat mustahil. Karena tidak adanya

kesatuan pandangan yang lengkap dalam menyusun agenda tentang pengentasan

perempuan dari dominasi, hal tersebut memunculkan perdebatan di seluruh dunia

yang sering mengakibatkan muncul eklusivisme tentang siapa yang paling kreatif,

realistis, dan inovatif dalam menyusun strategi untuk pemberdayaan perempuan.

Karena kesulitan dalam mengadopsi satu agenda, gerakan feminism cenderung

untuk partisi dirinya menjadi beberapa cabang yang berbeda menurut perbedaan

filosofis umum.

Perempuan dan laki-laki mengidentifikasi dengan organisasi dan

prinsip-prinsip yang mungkin jatuh di bawah lebih dari satu cabang. Selain itu, cabang

adalah cairan, mereka terus menciptakan sendiri gelombang yang berbeda

feminisme mengalir melalui masyarakat. Cabang feminis, oleh karena itu, tidak

saling eksklusif atau lengkap. Feminis sebagai individu atau formal kelompok

mana mereka berasal, namun, umumnya berlangganan prinsip-prinsip satu atau

lain dari cabang-cabang berikut.

II.1.3.1 Teori Feminisme Liberal

Feminisme liberal , juga disebut " feminisme egaliter dan feminisme

mainstream " dianggap sebagai cabang yang paling moderat . Hal ini didasarkan

pada proposisi sederhana yang menyatakan bahwa semua orang diciptakan sama

dan oleh karenanya kesetaraan kesempatan tidak boleh ditolak karena gender.

(21)

penghapusan seksisme, pria diintegrasikan ke dalam feminism ini. Feminisme

liberal didasarkan pada pencerahan terhadap keyakinan rasionalitas , pendidikan ,

dan hak-hak alam yang berlaku untuk semua laki-laki dan perempuan . Hal ini

dituangkan dalam John Stuart Mill (1869/2002) The Subjection of

Women-Ketaatan Perempuan , dengan pernyataannya bahwa " apa yang sekarang disebut

sifat perempuan merupakan hal - yang nyata buatan hasil dari penindasan paksa di

beberapa arah, stimulasi tidak wajar pada orang lain . " Wanita bisa bekerja sama

dalam sistem pluralistik dan memobilisasi konstituen mereka untuk efek

perubahan sosial yang positif dan produktif. Tuntutan akan terpenuhi jika

dipegang ooleh mobilisasi efektif dan tekanan efisien (Deckard, 1983:463).

Feminis liberal percaya masyarakat tidak harus benar-benar direstrukturisasi

untuk mencapai pemberdayaan bagi perempuan dan memasukkan perempuan ke

dalam dan peran yang lebih adil .

Pandangan ini cenderung dianut oleh perempuan kelas menengah

professional yang menempatkan nilai tinggi pada pendidikan dan prestasi . Para

wanita ini cenderung memiliki sumber daya ekonomi untuk lebih bersaing dengan

laki-laki untuk diinginkan

Teori ini mendasarkan pandangannya pada tidak adanya perbedaan antara

laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, maka perempuan dan laki-laki memiliki

hak dan kewajiban yang sama baik didalam kehidupan publik maupun domestik,

di masyarakat maupun dalam kehidupan keluarga. Namun, pandangan teori ini

menolak pandangan tidak adanyana perbedaan menyeluruh antara laki-laki dan

(22)

laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut terletak dari unsur biologis yang dimiliki

antara perempuan dan laki-laki yang menimbulkan akibat dalam kehidupan di

masyarakat (Ratna Megawangi, 1999: 228).

Teori kelompok ini termasuk paling moderat di antara teori-teori

feminisme. Pengikut teori ini menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara

total dalam semua peran, termasuk bekerja di luar rumah. Dengan demikian, tidak

ada lagi suatu kelompok jenis kelamin yang lebih dominan. Organ reproduksi

bukan merupakan penghalang bagi perempuan untuk memasuki peran-peran di

sektor publik.

II.1.3.2 Feminisme Cultural

Feminis liberal juga dapat disebut dengan "feminisme budaya"dengan

menfokuskan pada pemberdayaan perempuan dengan menekankan kualitas positif

yang terkait dengan peran perempuan seperti pengasuhan, peduli, kerjasama, dan

keterhubungan kepada orang lain (Worell, 1996:360).

Masalah berapa banyak wanita sama dan berapa banyak mereka berbeda

disorot dalam penekanan ini, meskipun tidak merupakan cabang terpisah dari

feminisme keseluruhan, perdebatan sekitar "Tingkat perbedaan jenis kelamin atau

kesamaan" telah memungkinkan feminisme budaya menjadi tergabung dalam

semua cabang feminis pada tingkat tertentu. Feminis liberal, namun, lebih

(23)

II.1.3.3 Teori Feminisme Marxis-Sosialis

Feminisme ini disebut juga sebagai " feminisme Marxis , " feminisme

sosialis umumnya mengadopsi Model Marx- Engels yang dijelaskan sebelumnya

dimana menghubungkan posisi inferior perempuan pada sistem kapitalisme

berbasis kelas dan keselarasan dengan keluarga patriarkal di kapitalistik

masyarakat.

Feminisme sosialis berpendapat bahwa seksisme dan kapitalisme saling

mendukung.

Tenaga kerja perempuan yang tidak dibayar dalam rumah dan tenaga mereka

dibayar sebagai cadangan angkatan kerja secara simultan melayani kapitalisme

patriarki. Banyak sosialis feminis – baik pria maupun wanita - juga percaya

bahwa ketergantungan ekonomi dan emosional saling berkaitan. Takut kehilangan

keamanan ekonomi, kekuasaan suami atas Istri adalah mutlak.

Kapitalisme perlu dihilangkan dan prinsip-prinsip sosialis yang diadopsi

untuk kedua rumah dan tempat kerja. Seksisme dan penindasan ekonomi yang

saling memperkuat, sehingga agenda sosialis revolusioner diperlukan untuk

mengubah keduanya.

Feminisme sosialis terlihat pada perenpuan kelas pekerja dan mereka yang

kehilangan kesempatan ekonomi pada masyarakat kapitalis.

Feminisme ini membuat banyak kemajuan di Amerika Latin dan telah

menjadi contoh sebagai titik simpul yang kuat bagi perempuan di Negara

(24)

Namun sungguh ironis bahwa Negara yang kuat pengaruh Marx yaitu, Uni

Soviet , di mana perempuan terus membawa berat beban kerja rumah tangga yang

tidak dibayar sementara juga berfungsi dalam angkatan kerja yang dibayar.

Meskipun feminisme sosialis secara eksplisit terkait dengan teori Marxis,

ada perbedaan kunci antara keduanya. Jika teori Marxis berfokus pada properti

dan kondisi ekonomi untuk membangun sebuah ideologi, feminisme sosialis

berfokus pada seksualitas dan gender.

Pria dan wanita mempertahankan kepentingan dalam kelompok jenis

kelamin mereka sendiri, sehingga tidak jelas apakah sosialisme yang berjuang

untuk adalah sama bagi pria dan wanita(Hartmann, 1993).

Feminisme pada dasarnya menghendaki adanya kesetaraan antara

laki-laki dan perempuan. Menurut pandangan dari teori ini, ketimpangan dan dominasi

terhadap perempuan disebabkan karena sistem kapitalis yang berujung pada

pembagian kelas dan pembagian kerja yang terjadi di dalam keluarga.

Teorema dasar dari pandangan ini meniru pandangan yang dikembangkan

oleh Karl Marx yang melihat pendindasan kaum ploretar oleh kaum kapitalis.

Marx berpendapat bahwa kaum proletar harus disadarkan agar tidak mendapatkan

penindasan dari kaum borjuis. Penyadaran yang sama harus dilakukan kepada

kaum perempuan agar mereka sadar bahwa dalam sistem sosial keluarga

tradisional mereka adalah kaum yang tertindas. Dengan adanya penyadaran

tersebut, kaum perempuan akan bangkit dan merubahan keadaan dari sistem sosial

(25)

Jika teori sosial konflik memandang bahwa adanya akumulasi modal

berupa property pribadi sebagai kerangka utama, teori feminis Marxist sosialis

memandang seksualitas dan gender sebagai titik tolak acuan teori.

Teori ini mendapatkan kritik karena menolak pekerjaan domestik, padahal

pekerjaan domestik juga berpengaruh terhadap pekerjaan publik. Makanan layak

yang dihasilkan di sektor domestik, rumah yang baik untuk ditinggali, serta

suasana kekeluargaan secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap hasil yang

didapatkan laki-laki pada sektor pekerjaan publik. Kontribusi ekonomi yang

dihasilkan kaum perempuan melalui pekerjaan domistiknya telah banyak

diperhitungkan oleh kaum feminis sendiri. Kalau dinilai dengan uang, perempuan

sebenarnya dapat memiliki penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan

laki-laki dari sektor domistik yang dikerjakannya (Ratna Megawangi, 1999: 143).

II.1.3.4 Teori Feminisme Radikal

Secara umum, teori ini hampir serupa dengan teori feminism

marxis-sosialis. Namun teori ini banyak menganalisa sistem partiarkhi dan lembaga

keluarga. Lembaga sosial terutama keluarga merupakan tempat berkembangnya

dominasi laki-laki atas perempuan. Feminis tipe ini cenderung untuk mendorong

perempuan agar mandiri dan menafikkan keberadaan laki-laki. Lebih lanjut, teori

ini berpendapat bahwa menjadi lesbian merupakan jalan untuk terbebas dari

dominasi laki-laki. Dan oleh karena itu, lesbianism adalah salah satu sarana dan

cara yang perlu dijadikan oleh acuan bagi perempuan untuk mandiri. (Ratna

(26)

Feminis radikal kontemporer percaya bahwa seksisme merupakan inti dari

masyarakat patriarkal dan semua lembaga sosial mencerminkan seksisme tersebut.

Ketika feminisme liberal fokus pada kerja dan perubahan hukum, feminis radikal

fokus pada keluarga patriarkal sebagai situs utama dominasi dan penindasan

(Shelton dan Agger , 1993).

Mereka percaya bahwa karena semua lembaga sosial begitu terjalin,maka

hampir tidak mungkin untuk menyerang seksisme dalam berbagai cara.

Penindasan perempuan berasal dari dominasi laki-laki, jadi jika laki-laki adalah

masalah , tidak kapitalisme , sosialisme atau , maupun sistem yang didominasi

laki-laki lain akan memecahkan masalah . Oleh karena itu , perempuan harus

menciptakan lembaga terpisah yang menjadi perempuan sebagai pusat – atau

individu dan masyarakat yang harusnya bergantung pada perempuan daripada

laki-laki.

Feminis radikal akan setuju dengan feminisme budaya bahwa jalur

alternatif bagi perempuan adalah menjadi berbeda dibandingkan laki-laki . Sebuah

masyarakat akan muncul di mana kebajikan perempuan terdapat dalam

pengasuhan, keinginan berbagi, dan intuisi sosial akan mendominasi berdasarkan

kebajikan perempuan tersebut.

Karena ketidakmungkinan menghapus seksisme dari semua lembaga,

feminis radikal bekerja di tingkat lokal dan di lingkungan mereka untuk

mengembangkan keuntungan dan tidak - untuk lembaga nirlaba yang dioperasikan

(27)

fasilitas penitipan anak, pusat konseling, dan rumah aman bagi perempuan

melarikan diri kekerasan dalam rumah tangga.

Merefleksikan lebih beragam secara keseluruhan dari salah satu cabang

lain dalam jajarannya, terutama yang berkaitan dengan ras dan orientasi seksual ,

lembaga-lembaga ini sangat bervariasi dalam struktur , filosofi , dan strategi untuk

mencapai tujuan mereka. Cetak biru untuk masyarakat perempuan

mengidentifikasi mereka membayangkan tertera pada kegiatan mereka yang jauh

lebih individual di cabang feminis lainnya . Keyakinan bahwa supremasi laki-laki

dan penindasan perempuan adalah karakteristik masyarakat adalah apa yang

menyatukan elemen berbeda dari feminisme radikal .

Namun, justru karena sifatnya yang radikal, teori ini mendapatkan kritik

baik oleh kalangan ilmuwan sosial maupun pendapat dari kalangan feminism

sendiri. Hal tersebut tidak lepas dari sifat biologis perempuan itu sendiri, dengan

menafikkan laki-laki maka akan merugikan kaum perempuan itu sendiri karena

laki-laki akan bebas sementara perempuan harus menanggung kondisi biologis

mereka sendiri.

II.1.3.5 Feminisme Multicultural dan Global

Perhatian terhadap isu-isu keragaman di tingkat makro jelas antara feminis

yang mengatur sekitar isu-isu multikultural dan global. Cabang feminis ini

berfokus pada titik persimpangan gender dengan ras, kelas , dan isu-isu yang

berkaitan dengan penjajahan dan eksploitasi perempuan di negara berkembang .

Feminisme global adalah pergerakan orang yang bekerja untuk perubahan

(28)

Feminisme global berpendapat bahwa tidak ada wanita yang bebas dari

ketergantungan dan dominasi sampai kondisi yang menindas perempuan di

seluruh dunia dieliminasi ( Bunch , 1993:249 ) .

Feminisme multikultural berfokus pada unsur-unsur budaya tertentu dan

kondisi sejarah yang berfungsi untuk mempertahankan penindasan perempuan .

Di Amerika Latin, misalnya , rezim militer telah menyusun pola tertentu hukuman

dan perbudakan seksual bagi perempuan yang menentang rezim mereka ( Bunster

- Bunalto , 1993) .

Feminisme global bekerja untuk memberdayakan perempuan Timur Asia

Selatan dan Tengah yang dibatasi dari pendidikan , perawatan kesehatan , dan

pekerjaan yang dibayar hanya karena mereka adalah perempuan. Dalam upaya

untuk memberdayakan perempuan , mereka tidak mendukung gagasan relativisme

budaya ketika melanggar hak asasi manusia perempuan, seperti membatasi akses

seorang gadis untuk pendidikan atas dasar agama. Para wanita yang datang

bersama-sama untuk Amerika Pertemuan Bangsa tentang Perempuan mewakili

pandangan ini

II.1.3.6 Teori Ekofeminisme

Teori ekofeminisme merupakan wacana ketidakpuasan perempuan

terhadap kondisi ekologi dunia yang semakin kritis dan bertolak belakang dari

teori feminisme lainnya. Jika teori feminisme cenderung untuk melihat perempuan

sebagai makhluk otonom dan dapat menentukan hidupnya sendiri serta lepas dari

(29)

manusia lepas dari pengaruh alam. Pendekatan ekofeminisme percaya bahwa

individu baik laki-laki maupun perempuan adalah makhluk yang tidak akan

sepenuhnya lepas dari alam. Sebagai makhluk, manusia selalu bergantung dari

alam (Ratna Megawangi, 1999: 189).

Beberapa perempuan ditarik ke dalam feminisme oleh aktivis lingkungan.

wanita-wanita ini adalah katalis ecofeminism, cabang baru feminisme.

Ecofeminism menghubungkan degradasi dan penindasan terhadap perempuan

dengan degradasi ekosistem. Berbasis pada citra spiritual bumi, ecofeminism

menunjukkan bahwa dunia agama memiliki tanggung jawab etis untuk menantang

sistem patriarki perusahaan globalisasi yang memperdalam pemiskinan bumi dan

orang-orangnya (Lowdan Tremayne, 2001; Ruether, 2005). Planet ini dapat

disembuhkan dan ekologi harmoni dipulihkan melalui aksi politik menekankan

prinsip kesetaraan semua makhluk bumi(Bowerbank, 2001). Dengan sudut

pandang holistik dan menekankan pada saling ketergantungan dalam segala

bentuknya, ecofeminism sangat kompatibel dengan feminisme global.

Teori ini melihat kenyatakan bahwa ketika terjadi kesetaraan gender yang

ditunjukkan dengan masuknya perempuan dalam sektor publik, perempuan

kehilangan jatidirinya sebagai perempuan dan justru menjadi laki-laki dimana

sifat maskulinitasnya jauh berubah melampui sifat femininmnya. Masuknya

perempuan ke dunia maskulin (dunia publik umumnya) telah menyebabkan

peradaban modern semakin dominan diwarnai oleh kualitas maskulin. Akibatnya,

yang terlihat adalah kompetisi, self-centered, dominasi, dan eksploitasi. Contoh

(30)

pemeliharaan) dalam masyarakat adalah semakin rusaknya alam, meningkatnya

kriminalitas, menurunnya solidaritas sosial, dan semakin banyaknya perempuan

yang menelantarkan anak-anaknya (Ratna Megawangi, 1999: 183).

II.1.4 Teori Psikoanalisa

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1939) Menurut

Marzuki (2013: 1-15), Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku dan kepribadian

laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh perkembangan seksualitas.

Freud menjelaskan kepribadian seseorang tersusun di atas tiga struktur, yaitu id,

ego, dan superego. Tingkah laku seseorang menurut Freud ditentukan oleh interaksi ketiga struktur itu. Id sebagai pembawaan sifat-sifat fisik biologis sejak

lahir. Id bagaikan sumber energi yang memberikan kekuatan terhadap kedua

sumber lainnya. Ego bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan

keinginan agresif dari id. Ego berusaha mengatur hubungan antara keinginan

subjektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial. Superego berfungsi

sebagai aspek moral dalam kepribadian dan selalu mengingatkan ego agar

senantiasa menjalankan fungsinya mengontrol id (Nasaruddin Umar, 1999: 46).

Menurut Freud kondisi biologis seseorang adalah masalah takdir yang tidak dapat

dirubah. Pada tahap phallic stage, yaitu tahap seorang anak memeroleh

kesenangan pada saat mulai mengidentifikasi alat kelaminnya, seorang anak

memeroleh kesenangan erotis dari penis bagi anak laki-laki dan clitoris bagi anak

perempuan. Pada tahap ini (usia 3-6 tahun) perkembangan kepribadian anak

(31)

sosial berdasarkan identitas gender, yakni bersifat laki-laki dan perempuan

(Nasaruddin Umar, 1999: 41).

Pada tahap phallic seorang anak laki-laki berada dalam puncak kecintaan terhadap

ibunya dan sudah mulai mempunyai hasrat seksual. Ia semula melihat ayahnya

sebagai saingan dalam memeroleh kasih sayang ibu. Tetapi karena takut ancaman

dari ayahnya, seperti dikebiri, ia tidak lagi melawan ayahnya dan menjadikannya

sebagai idola (model). Sebaliknya, ketika anak perempuan melihat dirinya tidak

memiliki penis seperti anak laki-laki, tidak dapat menolak kenyataan dan merasa

sudah “terkebiri”. Ia menjadikan ayahnya sebagai objek cinta dan menjadikan ibunya sebagai objek irihati.

Pendapat Freud ini mendapat protes keras dari kaum feminis, terutama karena

Freud mengungkapkan kekurangan alat kelamin perempuan tanpa rasa malu.

Teori psikoanalisa Freud sudah banyak yang didramatisasi kalangan feminis.

Freud sendiri menganggap kalau pendapatnya masih tentatif dan masih terbuka

untuk dikritik. Freud tidak sama sekali menyudutkan kaum perempuan. Teorinya

lebih banyak didasarkan pada hasil penelitiannya secara ilmiah. Untuk itu teori

Freud ini justeru dapat dijadikan pijakan dalam mengembangkan gerakan

feminisme dalam rangka mencapai keadilan gender. Karena itu, penyempurnaan

(32)

BAB III.

METODE PENELITIAN

Penelitian yang akan dilakukan adalah bersifat kualitatif, sehingga data

yang dikumpul dan dianalisa bersifat deskriftif, naratif, argumentative yang

melalui paparan kalimat-kalimat.Alasan memilih metode penelitian kualitatif

ini karena data yang akan dikumpulkan berisi pandangan mendalam tentang

pengetahuan gender yang dimiliki para mahasiswa FKIP Unlam di

Banjarmaisn yang tidak dapat dicapai melalui ukuran penghitungan

angka-angka. Penggunaan metode penelitian kulitatif ini mempengaruhi pilihan

penentuan lokasi penelitian, penentuan informan, Jenis dan sumber data serta

teknik pengumpulan dan analisa data yang akan diteliti.

III.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Pemilihan lokasi

penelitian ini adalah:

1. Merupakan tempat yang memiliki mahasiswa dengan berbagai tingkat

keilmuwan yang beragam dari sudut keilmuwan;

2. Oleh karena itu dimungkinkan timbul perspektif yang berbeda tentang

gender.

3. Mahasiswa FKIP Unlam dididik untuk menjadi pengajar sehingga perspektif

yang diyakini oleh mereka saat ini, dimungkinkan akan diajarkan pula kepada

(33)

III.2 Penentuan Informan

Informan ditentukan dengan cara dipilih secara sengaja oleh peneliti

(purposive sampling) dengan dua pertimbangan utama. Pertama, sebagai

informan adalah mahasiswa FKIP Unlam. Kedua, diutamakan kepada

mahasiswa pada program studi PKn, Sejarah, dan Sosiologi dan Antropologi,

hal tersebut dikarenakan sebagian besar ilmu yang mereka ajarkan memiliki

prespektif gender.

III.3 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digali meliputi data primer dan data sekunder. Data

primer yang digali meliputi pandangan Mahasiswa FKIP Unlam di

Banjarmasin tentang Gender dan Pespektif mereka tentang gender. Sumber

data primer dari hasil wawancara dengan sejumlah informan. Sementara data

sekunder yang digali meliputi informasi tentang keadaan Mahasiwa FKIP

Unlam, jumlah Mahasiswa, dll.

III.4 Teknik Pengumpulan dan Analisa Data III.4.1 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yakni wawancara dan

dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada informan dengan cara

menyampaikan beberapa pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya, dan

mengembangkan pertanyaan dari jawaban informan tersebut. Dokumentasi

(34)

III.4.2 Analisa Data

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data

kualitatif yang digunakan oleh Miles dan Huberman. Aktivitas penelitian

kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus

sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dan analisis datanya

meliputi :

III.4.2.1 Reduksi Data.

Data yang telah didapatkan baik melalui observasi maupun wawancara akan

dirangkum untuk diperoleh hal-hal pokok serta isu-isu strategis apa yang

mengemuka. Dalam reduksi data, tim peneliti berusaha menemukan suatu

yang dianggap asing atau tidak umum untuk diperhatikan guna menemukan

pola.

III.4.2.2 Penyajian Data

Selanjutnya data akan dijasikan dan diorganisasikan secara sistematis

sehingga semakin mudah dipahami. Dalam penelitian kualitatif ini, penyajian

data dilakukan melalui uraian singkat.

III.4.2.3 Menarik Kesimpulan

Setelah data diorganisasikan, maka dilakukan penarikan kesimpulan dan

verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan

(35)

tahap pengumpulan data berikutnya. Jika data yang didapatkan sesuai dengan

maksud dan tujuan penelitian serta sesuai dengan kerangka teori yang

berguna sebagai point of departure, maka dapat dikatakan bahwa kesimpulan

(36)

BAB IV.

HASIL PENELITAN DAN ANALISA DATA

IV.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian. IV.1.1 Keadaan Geografis Kota.

Kota Banjarmasin merupakan salah satu kota di Propinsi Klaimantan Selatan,

secara geografis terletak antara 3o16 46 - 3o22 54 LS dan antara 114o31 40 -

114o39 55 BT. Daerah ini berbatasan dengan Barito Kuala di utara dan barat,

Kabupaten Banjar di timur dan selatan. Luas wilayah Kota Banjarmasin 72

Km2.

Secara administratif, daerah ini terbagi menjadi lima Kecamatan dan 51

Kelurahan. Daerah ini juga mempunyai potensi yang besar untuk

dikembangkan antara lain di sektor perkebunan dengan komoditi utamanya

berupa kelapa sawit, karet, dan kelapa dalam, dari hasil perkebunan ini

terdapat beberapa industri yang bahan bakunya berasal dari hasil perkebuanan

ini salah satunya PT. Sinar Mas Group yang mengolah kelapa sawit menjadi

minyak goreng.

Kota Banjarmasin yang letaknya strategis yaitu di sekitar muara Sungai

Barito, menyebabkan kampung kecil (Kampung Banjar) menjadi gerbang bagi

kapal-kapal yang hendak berlayar ke daerah pedalaman di Kalimantan Selatan

dan Kalimantan tengah. Dan cikal bakal Kota Banjarmasin ini berkembang

menjadi bandar perdagangan dan ramai dikunjungi kapal-kapal dagang dari

(37)

Tabel 1. Luas Banjarmasin Berdasarkan Kecamatan No Kecamatan Luas (Km)2 1. Banjarmasin Selatan 20,18 2. Banjarmasin Timur 11,54 3. Banjarmain Barat 13,37 4. Banjarmasin Tengah 11,66 5. Banjarmasin Utara 15,25 Total 72,00

Sumber : BPS Kota Banjarmasin,2011

Orientasi Wilayah

Wilayah Kota Banjarmasin memiliki luas wilayah 72 Km² dengan batas-batas

berikut :

 Batas Utara : Kabupaten Barito Utara  Batas Selatan : Kabupaten Banjar  Batas Timur : Kabupaten Banjar  Batas Barat : Kabupaten Barito Kuala

Kota Banjarmasin, dengan kondisi daerah yang berawa-rawa (perpaya-paya),

tergenang air dan pengaruh dengan musim hujan dan musim kemarau dan

memiliki Flora dan Fauna yang spesifik, juga cukup kaya akan sumber

nutfahnya.Wilayah rawanya ditumbuhi berbagai jenis tanaman diantaranya

jenis Rambai (soneritia Alba), Ranggas (Gluta Rengas), Bakau Panggang,

(38)

(Shorea belangiran) Jambu (Eugenia Sp), nipah, Pandan, Bakung piai dan

Jeruju. Adapun Fauna yang hidup seperti

mamalia Bekantan dan Kera. Jenis melata ; Biawak.Jenis Aves ; Ketilang.

Jenis Ikan ; Gabus, Papuyu, Patin. Bekantan adalah kera spesial yang hanya

ditemukan di sini, penampilan fisik dari Bekantan sangat lucu. Dengan bulu

yang berwarna coklat kemerahan dan hidung yang panjang. Binatang ini

dipercaya oleh sebagian warga bisa mendatangkan kebaikan dan

keberuntungan.

Sesuai dengan kedudukannya maka pemerintahan Kota Banjarmasin berperan

sebagai motivator, dinamisator dan fasilitator kegiatan pembangunan disegala

bidang ditingkat kota. Dalam pelaksanaan tugasnya berusaha menjembatani

penyampaian aspirasi masyarakat. Termasuk menciptakan hubungan yang

harmonis seluruh elemen dan sumber daya yang ada antara pemerintah,

masyarakat dan sektor swasta agar menjadi satu kesatuan yang kuat dan

bermartabat. Disinilah peran pemerintah untuk menumbuhkan rasa memiliki

dan gotong-royong terhadap lingkungannya.

Dalam pelaksanaan pembangunan di Kota Banjarmasin, yang sangat

membanggakan dan mendapat perhatian adalah peran aktif dan swadaya

masyarakat yang tinggi. Masyarakat di lingkungan Kota Banjarmasin sangat

menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga yang baik dan taat sehingga

(39)

Hal ini dapat terlihat dari tingginya partisipasi dan swadaya masyarakat, mulia

dari ketaatan dalam pembayaran PBB, pembangunan/rehab rumah ibadah,

pembangunan fasilitas umum seperti posyandu, poskamling dan lain-lain.

Meningkatnya kegiatan organisasi, perempuan dan dan kepemudaan.

Disamping itru meningkatnya permintaan pelayanan menunjukkan kesadaran

masyarakat akan taat dan patuh akan aturan yang berlaku, tingginya kesadaran

masyarakat dalam menjaga keamanan dan bergotong-royong, serta menjaga

kebersihan lingkungan.

IV.1.2 Komposisi Masyarakat di Kota Banjarmasin

Berdasarkan hasil catatan komposisi penduduk di Kota Banjarmasin

berjumlah 527.415 jiwa, dengan kepadatan rata-rata 7.325 jiwa/km2. Wilayah

dengan kepadatan penduduk tertinggi berada di kecamatan Banjarmasin Barat,

yaitu 9.418 jiwa/km2. Sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk

terendah yaitu kecamatan Banjarmasin utara (5.205 jiwa/km2). Untuk lebih

(40)

Tabel 2. Jumlah Penduduk Kota Banjarmasin

No Kecamatan Jumlah Penduduk Kepadatan

1. Banjarmasin Selatan 126,313 6.259 2. Banjarmasin Timur 99,453 8.618 3. Banjarmain Barat 125,916 9.418 4. Banjarmasin Tengah 96,348 8.263 5. Banjarmasin Utara 79.383 5.205 Total 527.415

Sumber : BPS Kota Banjarmasin

IV.1.3 Kondisi Perekonomian daerah

Kontribusi yang cukup signifikan membangun perekonomian Kota

Banjarmasin yaitu sektor industri pengolahan (30,37%), kemudian diikuti oleh

sektor pengangkutan dan komunikasi (22,58%), perdagangan, hotel dan

restoran (15,69%), sektor keuangan (10,67%), jasa-jasa (10,51%), sedangkan

sektor lainnya (10,18%) meliputi sektor bangunan, listrik, dan gas, serta

(41)

Tabel 3. Distribusi Presentase Kegiatan Ekonomi

No Bidang Jumlah (%)

1. Perdagangan,Hotel dan Restoran 15,69

2. Bangunan 6,54

3. Listrik, Gas dan Air Bersih 2,75

4. Pengangkutan dan Komunikasi 22,58

5. Keuangan 10,67

6. Jasa-jasa 10,51

7. Pertanian 0,89

8. Industri Pengolahan 30,37

Sumber : BPS Kota Banjarmasin

IV.1.4 Pendidikan Masyarakat

Berdasarkan tingkat pendidikan, di Kota Banjarmasin pada umumnya relatif

merata dan tidak terlalu tinggi. Hampir rata-rata berpendidikan sekolah Dasar

sampai Pendidikan menengah, namun ada sebagian masyarakat yang

berpendidikan tinggi tetapi relative sangat kecil.

Jumlah lembaga pendidikan yang terdapat di Kota Banjarmasin kota

Banjarmasin yaitu tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) 236 unit, Sekolah

Menengah Pertama (SMP) 34 unit, Sekolah Menengah Atas (SMA) 13 unit,

(sumber data Kota Banjarmasin).

Jumlah guru yang ada di kota Banjarmasin berdasarkan jenjang pendidikan

mulai dari taman kanak-kanak (TK) guru negeri 55 orang, guru swasta 1.164,

tingkat sekolah dasar (SD) guru negeri 2.539 orang, guru swasta 539 orang,

(42)

negeri 1000 orang, guru swasta 685 orang, tingkat SMK guru negeri 348

orang, dan guru swasta 333 orang.

IV.2 Hasil dan Pembahasan

IV.2.1 Pengarusutamaan Gender di Indonesia

Pengarusutaman gender merupakan tema yang selalu belum mendapat

tempat yang layak terutama di Negara-negara berkembang (Pitts, 2011: 11-14).

Selain itu di dalam Lembaga-lembaga Intenational pun, hal serupa juga terjadi.

Indonesia dipandang sebagai Negara yang masih dalam tahap yang dini dalam

menginisiasi munculnya pengarus utamaan Gender.

Hal tersebut tidak lepas dari masih dicarinya strategi yang memunkinkan

munculnya pekerjaan yang masih dicari formatnya, karena ideology Negara yang

sebelumnya berbeda ketika era reformasi. Aparatur Negara masih dianggap belum

menemukan format yang jelas tentang bagaimana pengarusutamaan gender akan

dilakukan. Hal tersebut dapat terlihat dalam ketidaksanggupan aparatur dalam

menunjukkan perwakilan gender yang memadai dan memiliki kapabilitas yang

luas ketika mengambil keputusan, bagaimana mengejawantahkan kebijakan

pengarusutamaan gender di Indonesia

Trend tentang pengarusutamaan gender di Indonesia dimulai ketika

pergantian rejim dari rejim orde baru ke rejim reformasi. Hal tersebut diinisasi

dengan dibuatnya Undang-undang yang berkaitan dengan pengarusutamaan

gender. Namun disisi lain, terdapat kelompok-kelompok lain yang tidak setuju

(43)

masyarakat. Lebih lanjut, kronologis pengarusutamaan gender di Indonesia akan

ditampilkan dalam lampiran.

Agenda pengarus utamaan gender mengalami titik kulminasinya ketika

adanya peristiwa 11 September 2001 yang dibarengi oleh invasi Amerika ke

Afganistan dan Irak. Pengarusutamaan gender sebagai salah satu program

Pemerintah dan berbagai Organisasi perempuan dikhawatirkan akan dianggap

merupakan agenda dan kebijakan dari Negara-negara barat yang dipaksakan ke

Negara-negara berkembang.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mendukung

pengarusutamaan gender di Indonesia. Salah satunya dengan membuat

Undang-undang dan Peraturan yang mendukung kearah pengarusutamaan gender, antara

lain;

 Peraturan Pemerintah nomor IV-1999 perihal Pedoman luas Kebijakan Negara 1999-2004 menetapkan kesetaraan gender sebagai salah satu amanat bagi pembangunan nasional.

 Selanjutnya, Undang-undang nomor 22/2000 tentang Program Pembangunan Nasional menegaskan kesetaraan dan keadilan gender sebagai isu pembangunan dalam segala bidang.

 Keputusan Presiden nomor 163/1999, kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak diberi amanat untuk melaksanakan pengarusutamaan gender.

(44)

 Inpres nomor 9/2000 yang berisi pedoman mengenai cara mengikutsertakan isu gender dalam program dan kebijakan pembangunan dalam semua lapisan pemerintahan Indonesia.  Pembangunan Nasional jangka menengah tahun 2004-2009

(Peraturan Pemerintah No. 7/2005) didesain untuk mempromosikan kualitas kehidupan perempuan, kesetaraan dan keadilan gender.

IV.2.2 Usaha Pengarusutamaan Gender di Bidang Pendidikan

Pendidikan adalah salah satu aspek yang penting dalam usahanya

mengembangkan sebuah kebijakan sosial yang memberikan kesempatan yang

sama dalam hal hak dan kewajiban kepada berbagai individu (Piits, 2011: 8-14)

Pengarusutamaan Gender dituangkan ke dalam Beijing Action Platform

yang memberikan tujuan agar perempuan dapat mengidentifikasi dan mengetahui

keunggulan apa saja yang ada dalam dirinya sendiri, kemudian dengan

mengetahui keunggulan mereka, hal tersebut dapat disalurkan dan memberikan

dampak positif kepada orang lain.

Beberapa tujuan strategis yang ingin dicapai dalam platform tersebut antara

lain;

1. Memberikan akses yang seimbang antara Laki-laki dan perempuan

(45)

2. Diminimalisirnya buta huruf dan ketidakberaksaraan terutama di

kalangan perempuan.

3. Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada perempuan

untuk mengikuti pelatihan, vokasi, dan iptek serta berbagai

pendidikan lanjutan.

4. Mengembangkan Pendidikan dan Pelatihan yang tidak diskriminatif.

5. Memberikan sumberdaya yang cukup.

6. Memperkenalkan long-live education bagi perempuan.

Disamping memberikan penyadaran dan promosi akan pentingnya

pendidikan bagi perempuan, platform ini juga menyadarkan kepada khalayak

ramai akan adanya tindakan-tindakan yang dianggap memberikan kontribusi

terhadap mundurnya tindakan pengarusutamaan gender. Tindakan tersebut antara

lain;

1. Sikap dari beberapa adat dan kebudayaan yang menempatkan

perempuan dibawah Laki-laki. Kondisi tersebut melanggengkan

sikap dominasi Laki-laki terhadap perempuan. Sikap tersebut

dikhawatirkan akan menimbulkan pelecehan seksual yang terjadi

terhadap perempuan

2. Adanya pernikahan dini yang berujung pada kehamilan dini. Kedua

hal tersebut saling kait-mengkait satu sama lain, pernikahan dan

kehamilan dini berkaitan dengan bagaimana sikap dan kondisi

(46)

pada saat usia yang belum matang, dikhawatirkan akan berpengaruh

terhadap kondisi pernikahan dan janin yang dikandungnya.

3. Belum dipahaminya pengetahuan tentang Gender oleh Pendidik di

berbagai jenjang pendidikan.

4. Terlalu beratnya beban bagi perempuan dalam pekerjaannya di

sektor domestik.

Lebih lanjut Platfrom tersebut juga menjelaskan bagaimana cara mengenali

dan mengetahui bagaimana diskriminasi yang terjadi di dunia pendidikan dapat

terjadi melalui beberapa hal berikut:

1. Terdapat Sumber belajar dan Pendidikan yang terdiri dari materi, buku, kurikulum, dan perangkat pembelajaran yang tidak menunjang pengarusutamaan gender namun justru menyimpan

2. Kurangnya fasilitas penunjang pendidikan, terutama untuk keperluan khusus.

3. Adanya gambar-gambar visual yang justru menunjukkan pandangan tradisional tentang perempuan sehingga mengakibatkan menebalnya gambaran stereotip dominasi Laki-laki atas perempuan. Kondisi tersebut akan menebalkan dominasi tersebut bahkan diajarkan dalam buku-buku pelajaran untuk anak usia dini.

(47)

Hasil penelitian dari tim Universitas Pendidikan Indonesia menemukan data bahwa pada tahun 2001 Index Pembangunan Gender di Indonesia menempati urutan 91 dari 144 negara. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesetaraan gender masih merupakan tema yang harus diperjuangkan di Indonesia. Di bidang pendidikan, walaupun UU menjamin tidak adanya diskriminasi terhadap perempuan, namun dalam kenyataannya perempuan masih tertinggal dalam menikmati kesempatan untuk belajar. Sebagai cintih, tahun 1980 hanya 63% perempuan yang tidak buta aksara, sementara angka bagi Laki-laki telah mendekati 80%. Namun, pada saat ini kesenjangan yang ada masih saja terjadi.

Fenomena ketimpangan Gender di bidang pendidikan nampaknya masih sangat kuat. Anak perempuan bukanlah merupakan prioritas untuk melanjutkan pendidikan. Sebagai contoh, munculnya anggapan bahwa perempuan tidak cocok untuk sekolah di jenjang kejuruan, jikalau boleh, hanya untuk jenjang kejuruan tertentu, seperti SMK Tata Boga, SMK Tata Busana, SMK Perhotelan. Sementara itu, sekolah Kejuruan berbasis teknik, mesin, dan otomotif rata-rata dipersepsikan sebagai sekolah khusus laki-laki. Di jenjang Perguruan Tinggi, hal tersebut juga terjadi. Dimana mayoritas

(48)

Perguruan Tinggi dengan Program Studi Teknik kebanyakan siswanya berasal dari jenis kelamin Laki-laki.

Permasalahan gender di Indonesia terlihat dari beberapa aspek antara lain, aspek pemerataan pendidikan, pengelolaan pendidikan, dan sumber daya manusia, kurikulum, bahan ajar, proses pembalajaran, dan lain-lain. Salah satu factor yang menyebabkan kesenjangan gender tersebut terlihat dari faktor sosial budaya berupa adat-istiadat setempat yang tidak sesuai dengan usaha pengarusutamaan gender. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan, antara lain:

Pengarusutamaan Gender terutama dalam bidang pendidikan dapat ditemukan dalam Pasal 31 Ayat 1 UUD 1945 bahwa “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan” dan Pasal 20 yang memperinci bahwa pemerintah menyediakan suatu sistem pendidikan nasional yang didukung oleh hukum. Oleh karena itu, maka Pemerintah Indonesia kemudian membentuk berbagai Program Pendidikan Wajib Nasional 1994 yang mewajibkan pendidikan selama 9 tahun atau sampai jenjang Sekolah Menengah Pertama.

Lebih lanjut, Pemerintah kemudian membentuk Undang-undang Nomor 20/2003 (UU) mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Semangat dari Undang-undang ini adalah bahwa setiap warga Negara berhak untuk memperoleh hak dan kewajiban yang sama untuk memperoleh pendidikan

(49)

yang berkualitas dan Pemerintah harus memberikan kesempatan ini kepada setiap warga Negara, terlepas dari asal, jenis kelamin, status ekonomi sosial dan agama, sehingga setiap orang dapat memiliki akses ke semua bentuk dan tingkat pendidikan yang sama (Widodo, Hariyati and Sugiarti dalam Pitts: 2011, 3).

Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) mengembangkan kebijakan untuk mengatasi adanya kesenjangan pengetahuan gender dalam pendidikan (Sardjunani: 2008, 3). Kementerian telah mulai memperbaiki kurikulum dan mencoba membuat bahan pengajaran dan pembelajaran yang lebih berwawasan gender, baik dari segi kualitas maupun relevansi di bidang Pendidikan. Mereka juga berusaha untuk meningkatkan kualitas para guru dan dosen dengan terus mengadakan pelatihan pendidikan yang menyangkut pemahaman isu-isu gender, pentingnya sikap berwawasan gender, dan penerapan sensitivitas gender dalam proses belajar mengajar.

IV.2.3 Perspektif Gender Menurut Mahasiswa

Sub bab berikut akan menggali tentang bagaimana perspektif Mahasiswa

tentang Pengarusutamaan Gender. Sub bab ini akan berusaha untuk menggali

tentang bagaimana perspektif mahasiswa dan bagaimana perspektif tersebut

Gambar

Tabel 1. Luas Banjarmasin Berdasarkan Kecamatan  No  Kecamatan  Luas (Km)2  1.  Banjarmasin Selatan  20,18  2
Tabel 2. Jumlah Penduduk Kota Banjarmasin
Tabel 3. Distribusi Presentase Kegiatan Ekonomi

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan pada formasi sosial pedagang dan petani ladang, budaya gender melahirkan nilai-nilai egaliter bagi laki-laki dan perempuan, dimana dalam kedua sektor tersebut terjadi

Namun dalam pandangan konstruksi gender di masyarakat kita yang sebagian masih menganut patriarki, Henny sebagai seorang perempuan yang bekerja bisa dianggap

Eagly dan Wendy Wood mengumpulkan hasil-hasil penelitian yang menunjuk- kan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, antara lain: perempu- an memiliki kemampuan yang lebih tinggi

Pada dasarnya semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki-laki berbeda.Namun, gender bukanlah jenis kelamin laki-laki dan perempuan sebagai pemberian Tuhan.Gender

Dari konteks tersebut dapat dielaborasi bahwa konsep relasi laki-laki dan perempuan muncul dan berkembang mulai dari hasil pemahaman terhadap teks dan

Pada dasarnya semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki-laki berbeda.Namun, gender bukanlah jenis kelamin laki-laki dan perempuan sebagai pemberian Tuhan.Gender

Peran-peran sosial-budaya tersebut diciptakan oleh kesepakatan sosial yang menjadi semacama norma yang harus diikuti oleh baik laki-laki maupun perempuan sehingga praktis

3. Pemikiran Asghar Ali Engineer, Fatima Mernissi dan Amina Wadud Muhshin tentang Perempuan dalam Islam bertitik tolak dari pandangan mereka bahwa laki-laki