• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Motif Bantuan Luar Negeri Estonia kepada Georgia dalam Deer Leap Programme pada Tahun 2005 – 2008.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis Motif Bantuan Luar Negeri Estonia kepada Georgia dalam Deer Leap Programme pada Tahun 2005 – 2008."

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)ANALISIS MOTIF BANTUAN LUAR NEGERI ESTONIA KEPADA GEORGIA DALAM DEER LEAP PROGRAMME PADA TAHUN 2005 – 2008. PROPOSAL SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Ilmu Hubungan Internasional pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik Universitas Brawijaya. Oleh: Muhammad Fais Fajari 135120400111021. PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2017.

(2)

(3)

(4) ABSTRAK Muhammad. Fais Fajari, Program Sarjana, Jurusan Ilmu Hubungan. Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, 2017. Analisis Motif Bantuan Luar Negeri Estonia kepada Georgia dalam Deer Leap Programme pada Tahun 2005 – 2008. Tim Pembimbing: Yustika Citra Mahendra, S.Sos, MA. dan Ni Komang Desy Setiawati Arya P., S.IP, M.Si. Abstrak: Skripsi ini merupakan penelitian yang menjelaskan mengenai motif atau tujuan utama Estonia dalam memberikan bantuan luar negeri kepada Georgia melalui bantuan Deer Leap Programme pada tahun 2005-2008. Bantuan ini dilihat memiliki motif politik yang cukup kuat karena pada tahun sebelumnya, yaitu tahun 2003 terjadi The Revolution of Roses dinegara Georgia. Dalam melakukan penelitian mengenai motif bantuan ini, penulis menggunakan konsep dari David Sogge, yaitu Aid Allocation Motives. Penulis menganalisis tiga motif yaitu Socio-Political Motives, Mercantile Motives, dan Humanitarian and Ethical Motives. Setelah menganalisis studi kasus dengan motif tersebut didapatkan bahwa Estonia memberikan bantuan dalam Deer Leap Programme kepada Georgia memiliki dua motif yaitu Socio-Political Motives dan Humanitarian and Ethical Motives. Kata Kunci: Estonia, Bantuan Luar Negeri, Deer Leap Programme, Aid Allocation Motives, Georgia.. ii.

(5) ABSTRACT Muhammad Fais Fajari, Bachelor Degree, Departement of International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Brawijaya University, 2017. Motive Analysis on Estonia Foreign Aid to Georgia in Deer Leap Programme in 2005-2008. Supervisors: Yustika Citra Mahendra, S.Sos., MA. dan Ni Komang Desy Setiawati Arya P., S.IP., M.Si. This thesis is a study explaining the motive or main purpose of Estonia in providing foreign assistance to Georgia through the aid of Deer Leap Programme in 2005-2008. This aid is seen to have a strong political motive because in the previous year, the year 2003 occurred The Revolution of Roses in Georgia. In conducting research on the motive of this aid, the author uses the concept of David Sogge, Aid Allocation Motives. The author analyzes three motives: Socio-Political Motives, Mercantile Motives, and Humanitarian and Ethical Motives. After analyzing the case study with the motives, it was found that Estonia provided assistance in the Deer Leap Programme to Georgia having two motives: Socio-Political Motives and Humanitarian and Ethical Motives. Keywords: Estonia, Aid Allocation, Deer Leap Programme, Aid Allocation Motives, Georgia.. iii.

(6) LEMBAR PERSEMBAHAN Melalui lembar persembahan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan mendedikasikan kepada berbagai pihak yang telah membantu serta memberikan dukungan kepada penulis dari hari pertama duduk di bangku perkuliahan sampai terselesaikannya tugas akhir skripsi ini, yang diantaranya adalah: 1. Kedua orang tua, yang tanpa lelah memberikan doa, dukungan, semangat, maupun berbagai kebutuhan yang sangat diperlukan penulis seperti bantuan uang bulanan dan uang kos serta semangat yang tak henti-hentinya diberikan dalam menjalani perkuliahan selama 4 tahun ini. Gelar Sarjana yang nantinya penulis dapatkan tentunya akan penulis persembahkan untuk mereka berdua. 2. Siti Amirah Khansa dan Siti Khairunnisa Najla yang merupakan adik saya, terimakasih telah memberikan semangat serta doa sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan ini tepat waktu. 3. Pak Mahe dan Bu Desy selaku Dosen Pembimbing I dan II terimakasih atas kebaikan serta kesabarannya dalam membimbing penulis sampai skripsi ini selesai. 4. Pak Joko dan Pak Riza selaku Majelis Penguji, terimakasih atas kritik dan saran yang membangun sehingga penulis dapat memperbaiki tulisan penulis agar lebih baik lagi. 5. Om Hani terimakasih atas bantuannya sehingga penulis dapat melakukan magang di PT. Chevron Pacific Indonesia pada semester 7 kemarin. Eyang Sari terimakasih atas semangat serta doanya sebelum saya melaksanakan sidang, sehingga sidang berjalan dengan lancer dan diberikan kelulusan. Om Suroyo dan Tante Rina terimakasih atas bincang-bincangnya dan semangat yang diberikan, Kak Alfi, Kak Iqbal, Kak Maulana dan sodara-sodara di Palembang terimakasih atas bincang-bincangnya serta ‘paksaan’ untuk segera lulus dari kampus dan sanak saudara yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas dukungan, semangat, serta doa yang diberikan kepada penulis.. iv.

(7) 6. Febri Ramadhan, Fadhilah Hamami, Faisal Reza, Bariq Al Adhim, Ahmad Eko Wicaksono, Dwi Indrayana, Khaerul Anam, Rhesa Viktor, Cindy Leona Armani, Qonita Rohmah, Nanetta Falinda Putri, Alisha Firdaus, Parisita Dewi, Nandeta Djapa yang merupakan sahabat penulis yang telah menemani baik suka maupun duka dalam bertahan hidup di Kota Perantauan. 7. Satrio Ridho Nugroho, Ardy Septian, Muslim Raden, Surya Jumantara, Heppy Silaen, Grace Stella, Zhillan Zhalilla, Safira Nur, Monika Permata, Emelia Yuniarti, Nabila Putri dan Jihaan Risviani yang tergabung dalam “Titik Kumpul”, Terima kasih sudah menemani dan mendukung penulis hingga hari ini, semoga kita semua sukses dengan jalan kita masing-masing pasca kuliah nantinya. 8. Krisnina Hardiana, sesosok kakak senior 2012 yang sangat baik sekali membantu saya pribadi sebagai penulis dan angkatan 2013 lainnya dalam memberikan informasi serta wejangan skripsi sehingga membuat penulis dapat menyelesaikan skripsinya dengan baik. Semoga kebaikannya dibalas dengan cepat dapat pekerjaan ya mba! 9. Raga Smara Esa, Mahalalitta, Royyan Hadela dan teman-teman penulis lain dalam angkatan 2013 Hubungan Internasional Universitas Brawijaya yang telah menemani penulis di bangku perkuliahan hingga hari ini. 10. Terimakasih HIMAHI UB atas pengalaman organisasinya 11. Terimakasih YOT Malang atas pengalaman berharganya, terimakasih telah dikenalkan dengan orang-orang super, Angga, Marco, Latif, Dini, Aca, dan Yoters lainnya. See You On Top! 12. Terimakasih juga IYOIN Malang, dan kenal dengan temen-temen yang asik, Tiwi Maryani, Mas Fudin, Nani, Irwinsyah, Ken Adi, Vania Olivia dan Tika Yanuar Budhi. Sukses untuk kalian semua. 13. Terimakasih kembali untuk PT. Chevron Pacific Indonesia atas pengalaman kerja yang sangat berharga. Terimakasih mentor saya, Bapak Dali Sadli Mulia, Pak Dony Indrawan dan Mba Indri atas bantuanya dalam proses magang lalu, saya akan belajar terus untuk balik lagi kesana, suatu saat nanti. Aminn. v.

(8) KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas akhir perkuliahan yakni skripsi yang berjudul Motif Bantuan Luar Negeri Estonia kepada Georgia dalam Deer Leap Programme Tahun 2005-2008 pada tanggal 24 Juli 2017. Penulis kemudian mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dari awal pengerjaan skripsi ini hingga terselesaikannya skripsi ini, diantaranya adalah: 1. Allah SWT. 2. Kedua orang tua dan seluruh anggota keluarga dari penulis yang tidak hentihentinya memberikan doa, dukungan, dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 3. Pak Yustika Citra Mahendra atau Pak Mahe selaku Pembimbing I penulis, yang memberikan bimbingan, bantuan dan pengarahan kepada penulis dalam pengerjaan tugas akhir skripsi ini, terimakasih Pak Mahe mengijinkan saya untuk sidang Kompre dalam kurun waktu yang cepat. 4. Bu Ni Komang Desy Setiawati A.P. atau Bu Desy sebagai Pembimbing II penulis yang telah banyak membantu, membimbing, dan mengarahkan penulis dalam mengerjakan tugas akhir penulis dengan berbagai saran dan kritiknya. 5. Pak Joko Purnomo dan Pak Riza Hanafi selaku Majelis Penguji yang telah memberikan berbagai kritik dan saran untuk skripsi penulis agar skripsi ini menjadi lebih baik lagi. 6. Bu Mely Noviryani selaku Dosen Pembimbing Akademik dari penulis yang telah memberikan berbagai saran dan waktunya untuk membantu penulis dalam segala hal yang berkaitan dengan akademik. 7. Pak Dadang dan segenap staf administrasi di ruang Prodi HI yang telah banyak membantu penulis dalam pemberian informasi atau pengurusan berkas-berkas yang berkaitan dengan skripsi.. vi.

(9) 8. Berbagai pihak yang tidak bisa semua penulis sebutkan yang juga telah berkontribusi terhadap terselesaikannya tugas akhir skripsi dari penulis. Namun penulis menyadari jika skripsi yang telah disusun ini masih mempunyai banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis berharap kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Penulis juga berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat, sumbangan ilmu dan informasi bagi siapapun yang membaca skripsi dari penulis ini. Malang, September 2017. Muhammad Fais Fajari. vii.

(10) DAFTAR ISI. ABSTRAK .................................................................................................................... i LEMBAR PERSEMBAHAN .................................................................................... iv KATA PENGANTAR ................................................................................................ vi DAFTAR BAGAN ....................................................................................................... x DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xii DAFTAR SINGKATAN .......................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1 1.1. Latar Belakang ................................................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah .............................................................................................. 7 1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................................ 7 1.4. Manfaat Penelitian .............................................................................................. 7 1.4.1. Manfaat Akademis ....................................................................................... 7 1.4.2. Manfaat Praktis ............................................................................................ 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA ...................................................................................... 9 2.1. Studi Terdahulu .................................................................................................. 9 2.2. Kajian Konseptual ............................................................................................ 14 2.2.1. Konsep Motif Bantuan Luar Negeri .......................................................... 14 2.3. Operasionalisasi Konsep .................................................................................. 21 2.3.1. Strategic Socio-Political Motives .............................................................. 21 2.3.2. Mercantile Motives .................................................................................... 24 2.3.3. Humanitarian and Ethical Motives............................................................ 25 2.4. Alur Pemikiran ................................................................................................. 30 2.5. Argumen Utama ............................................................................................... 31 BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 32 3.1. Jenis Penelitian ................................................................................................. 32 3.2. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................................ 32 3.3. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................... 33. viii.

(11) 3.4. Teknik Analisa Data ......................................................................................... 33 3.5. Sistematika Penulisan ....................................................................................... 33 BAB IV GAMBARAN UMUM ................................................................................ 35 4.1. Kerjasama antara Estonia dan Georgia............................................................. 35 4.2. Deer Leap Programme Tahun 2005-2008 ....................................................... 48 4.2.1. Implementasi Deer Leap Programme tahun 2005-2008 ........................... 52 BAB V ANALISIS MOTIF BANTUAN LUAR NEGERI ESTONIA KEPADA GEORGIA DALAM DEER LEAP PROGRAMME TAHUN 2005-2008 ........... 58 5.1. Strategic Socio-Political Motives dalam Bantuan Deer Leap Programme Tahun 2005-2008 .................................................................................................... 61 5.1.1. Intervention ................................................................................................ 62 5.1.2. Cooperation ............................................................................................... 65 5.1.3. Access......................................................................................................... 68 5.2. Mercantile Motives ........................................................................................... 73 5.2.1. Export Import ............................................................................................. 73 5.2.2. Investment .................................................................................................. 76 5.3. Humanitarian dan Ethical Motives .................................................................. 77 5.3.1. Reducing Poverty ....................................................................................... 78 5.3.2. Showing Compassion ................................................................................. 82 BAB VI PENUTUP ................................................................................................... 84 6.1. Kesimpulan ....................................................................................................... 84 6.2. Saran ................................................................................................................. 87 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 89. ix.

(12) DAFTAR BAGAN Bagan 1. Alur Pemikiran Konsep Aid Allocation Motives pada Deer Leap Programme Tahun 2005-2008………………………………………………….............................30. x.

(13) DAFTAR TABEL Tabel 1. Tabel Operasionalisasi Konsep Aid Allocation Motives dalam Deer Leap Programme Tahun 2005-2008……………………………………………………….27. xi.

(14) DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Jumlah ODA Estonia berdasarkan GNI………………………………….3 Gambar 2. Penerima Bantuan Luar Negeri Estonia Tahun 2005-2008……………...39 Gambar 3. Neraca Ekspor Estonia ke Georgia………………………………………74 Gambar 4. Neraca Ekspor Georgia ke Estonia……………………………………....75 Gambar 5. GDP Georgia…………………………………………………………….80 Gambar 6. Georgia: Poverty Gap at National Poverty Lines………………………. 81. xii.

(15) DAFTAR SINGKATAN ICRC. : International Committee of the Red Cross. OECD. : Organization for Economic Cooperation and Development. DAC. : Development Assistance Committee. GNI. : Gross National Income. ODA. : Official Development Assistance. FDI. : Foreign Direct Investment. DLP. : Deer Leap Programme. ICT. : Information and Communication Technology. MDGs. : Millenium Development Goals. OSCE. : Organisation for Security and Cooperation in Europe. GVTR. : Georgia’s National Public Radio-TV Company. BCNG. : Business Consulting Network Georgia. EUR. : Euro (Mata Uang Negara-Negara Benua Eropa di Kawasan EuroZone). e-GA. : e-Governance Academy. NGO. : Non-Government Organisation. Kbps. : Kilobyte per Second. Wifi. : Wireless Fidelity. LAN. : Local Area Network. DCFTA. : Deep and Comprehensive Free Trade Agreement xiii.

(16) NATO. : North Atlantic Treaty Organisation. IPAP. : Individual Partnership Action Plan. MoU. : Memorandum of Understanding. VET. : Vocational Education and Training. HAM. : Hak Asasi Manusia. US$. : United States Dollar (Mata Uang Amerika Serikat). xiv.

(17) BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Benua Eropa terdiri atas berbagai macam negara, salah satunya Estonia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang sedikit, Estonia masih berperan dalam perekonomian dunia. Jumlah penduduk Estonia sendiri sejumlah 1,315 juta penduduk1 dan merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk paling sedikit di European Union, selain Liechtenstein (38 ribu), Islandia (331 ribu), Malta (432 ribu), Luxembourg (570 ribu), dan Cyprus (1,165 juta)2. Selain itu, dalam organisasi NATO, Estonia juga merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sedikit bersama dengan Islandia dan Luxembourg3. Namun dengan jumlah penduduk yang sedikit tersebut, Estonia termasuk dalam negara High Income Economy4 dan sebagai negara peringkat 8 dalam kebebasan ekonomi didunia5, membuat Estonia menjadi salah satu negara yang berperan dalam perekonomian global dan juga didukung oleh kebebasan internet, Estonia sendiri merupakan negara peringkat kedua dalam kebebasan internet menurut data FreedomHouse dari 65 negara6.. 1. Population 2015, http://databank.worldbank.org/data/download/POP.pdf (diakses pada 11 Mei 2017) 2 ibid 3 ibid 4 Estonia, http://data.worldbank.org/country/estonia (diakses pada 11 Mei 2017) 5 Estonia’s position in international rankings 2014-2015, http://www.vm.ee/en/estonias-positioninternational-rankings-2014-2015 (diakses pada 11 Mei 2017) 6 ibid. 1.

(18) Estonia sendiri baru memberikan bantuan luar negeri pertama kali yaitu kepada International Committee of the Red Cross (ICRC) pada tahun 1998 dan tahun tersebut merupakan momen dimana Estonia mulai berperan dalam bantuan humanitarian global sebagai negara pendonor bantuan luar negeri7. Estonia merupakan salah satu negara pendonor baru dalam kancah bantuan pembangunan internasional, dikenal dengan nonDevelopment Assistance Committee members (Non-DAC members). Dalam buku Smith, dijelaskan bahwa Estonia masuk pada non-DAC members yang termasuk emerging donors8. Estonia sendiri adalah negara terakhir yang baru ikut menjadi anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Estonia baru menjadi anggota OECD pada 9 Desember 20109. Selain itu, jika dibandingkan dengan negara anggota OECD lainnya, Estonia merupakan negara dengan pendapatan negara paling sedikit dibandingkan dengan negara lainnya, yaitu hanya 33 juta USD10. Namun, jumlah bantuan luar negeri Estonia sendiri dari tahun ketahun semakin meningkat dari 0.077% Gross National Income (GNI) hingga 0.102% Gross National Income (GNI) pada kurun waktu tahun 2005 sampai dengan tahun 200811.. 7. Estonia as A Provider of Humanitarian Aid, http://www.vm.ee/en/estonia-provider-humanitarianaid (diakses pada 27 Februari 2017) 8 Paulien Hagedoorn, Gijs Beets, New Donor Countries, (The Hague: Netherlands Interdisciplinary Demographic Institute), 2011, p.3 9 List of OECD Member countries - Ratification of the Convention on the OECD, http://www.oecd.org/about/membersandpartners/list-oecd-member-countries.htm (diakses pada 27 Februari 2017) 10 Income Distribution and Poverty, Measure: Capital Income, http://stats.oecd.org/Index.aspx?DataSetCode=IDD# (diakses pada 27 Februari 2017) 11 Net ODA, https://data.oecd.org/oda/net-oda.htm (diakses pada 27 Februari 2017). 2.

(19) Gambar 1. Jumlah ODA Estonia berdasarkan GNI. Bantuan luar negeri akan dispesifikan pada bantuan luar negeri dari Estonia sebagai negara pendonor kepada Georgia sebagai negara resipien yang notabenenya keduanya merupakan negara yang berasal di kawasan yang sama, yaitu kawasan Eropa. Alasan memilih Georgia sebagai negara resipien adalah Georgia dianggap sebagai partner utama dalam rencana kerjasama nasional negara Estonia dan Georgia merupakan top recipient dari bantuan luar negeri Estonia dengan jangka waktu yang lama. Hal ini berdasarkan “Estonia’s Strategy for Development Cooperation and Humanitarian Aid 2006–2010”, strategi tersebut diantaranya, 1) berkontribusi untuk mengurangi kemiskinan global dan untuk pembangunan manusia di negara berkembang, 2) mendukung perdamaian, stabilitas, dan HAM, membangun demokrasi seperti mempromosikan praktik good governance di negara-negara berkembang, 3) mendukung pengembangan ekonomi dan liberalisasi sistem perdagangan internasional, dan. 4). mendukung. pembangunan. berkelanjutan. dengan. lingkungan. serta. meningkatkan bantuan bilateral pada negara partner utama seperti Georgia, Moldova,. 3.

(20) Ukraina, dan Afghanistan12. Selain itu, pada rentang waktu tahun 2005 sampai dengan tahun 2008, Georgia merupakan negara penerima bantuan luar negeri terbesar dari Estonia dengan jumlah total $2,04 milliar13. Penulis mencoba mengambil contoh kasus Deer Leap Programme di Georgia dikarenakan program tersebut merupakan program yang terjadi pada waktu penelitian penulis. Deer Leap Programme ini sendiri merupakan program yang diadaptasi dari program nasional Estonia, yaitu Tiger Leap Programme yang telah mencapai kesuksesannya sejak dimulai program tersebut pada tahun 199614. Tiger Leap Programme sendiri merupakan program untuk melengkapi sekolah dengan komputer yang terhubung ke Internet, dan mengembangkan bahan e-learning bagi guru dan siswa. Masalah yang dialami oleh negara Georgia pada tahun 2004 diantaranya adalah banyak sekolah yang kekurangan pasokan listrik stabil, tidak adanya koneksi internet yang baik, sedikitnya jumlah komputer yang ada (bahkan komputer tersebut adalah komputer bekas atas pemberian organisasi luar negeri ataupun politisi), tidak adanya pelatihan guru, tidak adanya sumber daya digital, serta tidak ada software tentang pendidikan. Serta sedikitnya antusiasme terhadap teknologi informasi dan komunikasi, seperti keinginan untuk belajar, kompetisi programming, dan kursus Microsoft. 12. Ministry of Foreign Affairs of Estonia (2006), “Development Plan of Estonian Development Cooperation and Humanitarian Aid 2006–2010.”, http://www.vm.ee/sites/default/files/contenteditors/web-static/357/Development_coop.pdf (diakses pada 27 Februari 2017) 13 Aid Allocaton Distribution: Estonia, http://aiddata.org/dashboard#/advanced/analytic-dashboard (diakses pada 27 Februari 2017) 14 Hirvehüpe Gruusias, https://rakendused.vm.ee/akta/dokument_open.php?dokument_id=38 (diakses pada 27 Februari 2017). 4.

(21) Office)15. Karena hal tersebut kemudian membuat pemerintah negara Georgia berupaya untuk mengembangkan Deer Leap Programme untuk mengatasi hal tersebut dengan mendapatkan bantuan dari Estonia, sebagai negara yang telah mengembangkan Tiger Leap Programme yang sudah sukses dalam mengembangkan programnya untuk mengatasi permasalahan yang sama terjadi di Estonia pada waktu sebelumnya. Hasil Assesment atau penilaian awal dari pihak Estonia atas masalah tersebut adalah dengan menyediakan, 1) akses terhadap komputer dan internet tiap sekolah, 2) tersedianya software pendidikan dan fasilitas pendidikan, 3) tersedianya ahli teknis yang berkualitas, 4) kemampuan teknologi informasi dan komunikasi bagi pengajar dan pelajar, 5) memasukkan teknologi informasi dan komunikasi kedalam kurikulum, 6) mengintegrasikan sistem pendidikan managemen informasi disekolah, distrik, dan level nasional16. Bantuan yang diberikan Estonia kepada Georgia pada tahun 20052008 ini diberikan atas kerjasama antara E-Governance Academy dan kementerian pendidikan dan ilmu pengetahuan Georgia17. Bantuan tersebut diberikan pemerintah Estonia melalui Kementerian Luar Negeri Estonia (Valisministeerium) dengan alokasi yang terbagi dalam 2 periode, 2005/2006 senilai 15.722,3 EUR18 atau 17.256,95 US$. 15. Mart Laanpere, PowerPoint Deer Leap: the National Strategy for ICT in Georgian School, Tallin University 16 Deer Leap Programme, http://www.virtualschoolsandcolleges.eu/index.php/Deer_Leap_Programme, (diakses pada 27 Februari 2017) 17 Foreign Ministry with nearly 2,000,000 kroons supports Georgia’s Schools Computerization Program, http://www.vm.ee/et/node/23708 (diakses pada 27 Februari 2017) 18 Estonian Development Co-operation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=437 (diakses pada 27 Februari 2017). 5.

(22) dan 2007/2008 senilai 1.913.285 kroon Estonia19 atau 133.173,9 US$ dengan total nilai bantuan luar negeri sebesar 150.430,85 US$ atau sekitar 2 miliar rupiah apabila dikonversi dengan kurs rupiah saat ini. Deer Leap Programme ini diinisiasi oleh pemerintah Georgia dengan bantuan Estonia, dengan bantuan luar negeri yang diberikan Estonia kepada Georgia. Selain itu, pada tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2003 terjadi The Revolution of Roses, revolusi dengan tujuan untuk menggulingkan presiden Eduard Shevardnadze dan menandai berakhirnya kepemimpinan Uni Soviet di negara Georgia. Revolusi tersebut dipimpin oleh Mikheil Saakashvili yang kemudian setelah revolusi tersebut berhasil, dia diangkat menjadi Presiden Georgia pada tahun 2004. Masalah yang menyebabkan terjadinya Revolution of Roses adalah adanya korupsi yang terjadi pada tubuh pemerintahan Georgia, kecurangan pemilu, dan juga kemiskinan. Maka setelah revolusi tersebut berhasil, Georgia berupaya untuk mencapai integrasi dengan eropa dan mengharapkan terjadinya pemilihan umum. Negara-negara internasional pun melihat adanya transisi Georgia dari autokrasi menjadi demokrasi pada masa selanjutnya. Pada tahun 2005, Menteri Luar Negeri Estonia saat itu, Kristiina Ojuland, setelah mengunjungi Georgia mengatakan bahwa Estonia akan memberikan bantuan apapun ke Georgia dalam rangka pelaksanaan reformasi dan integrasi dengan struktur barat20.. 19. Foreign Ministry with nearly 2,000,000 kroons supports Georgia’s Schools Computerization Program, ibid 20 Estonian Review: January 31-February 6, 2005, http://vm.ee/et/node/35694 (diakses pada 27 Februari 2017). 6.

(23) 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan penjabaran latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah untuk penelitian ini, yaitu “Apa motif bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia dalam Deer Leap Programme pada tahun 2005-2008?” 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah dan pertanyaan penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan mengenai tujuan dari penulisan ini adalah: 1. Untuk mengetahui motif apa saja yang melatarbelakangi diberikannya bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia dalam Deer Leap Programme pada tahun 2005-2008. 2. Untuk mengetahui alokasi bantuan luar negeri yang diberikan kepada negara kecil seperti Estonia kepada Georgia pada tahun 2005-2008 1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Akademis 1. Dengan adanya penelitian ini maka akan memperluas kajian ilmu hubungan internasional, khususnya pada bantuan luar negeri dari negara kecil sebagai negara donor yaitu Estonia kepada Georgia pada tahun 2005-2008. 2. Diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi bagi penelitian selanjutnya yang memiliki kesamaan kajian, yaitu bantuan luar negeri.. 7.

(24) 1.4.2. Manfaat Praktis Peneliti mengharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sebuah gambaran bagi para pembaca, yakni bantuan luar negeri dapat dimanfaatkan sebagai peluang bagi negara-negara tertentu, khususnya negara-negara berkembang. Bantuan luar negeri pun tidak hanya berasal dari negara dengan ekonomi yang baik, tetapi juga negara-negara dengan keterbatasan sumberdaya. Hal ini tentunya dilandasi oleh motif-motif tertentu sehingga sebuah negara mau memberikan bantuan luar negeri. Sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terkait motif serta alasan Estonia memberikan bantuan luar negeri kepada Georgia.. 8.

(25) BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1.. Studi Terdahulu Terkait dengan topik yang diangkat penulis dalam penelitian ini dengan judul. “Analisis Motif Bantuan Luar Negeri Estonia kepada Georgia dalam program Deer Leap Programme pada tahun 2005-2008”, maka penulis menggunakan studi terdahulu yang berguna untuk memberikan masukan dan referensi terkait dengan penelitian ini. Penulis memilih dua studi terdahulu yang memiliki kaitan dengan pembahasan penulis baik dari sisi tema maupun konsep yang digunakan untuk mengkaji pembahasan. Tulisan pertama yang akan dijadikan studi terdahulu adalah master thesis dari Evelin Andrespok yang berjudul “Estonian e-Tiger Leaping to Georgia: Added Value of Estonian Development Cooperation”21. Penelitian ini secara umum membahas tentang mengapa dan bagaimana Estonia bercita-cita untuk menawarkan nilai tambah dengan kerjasama pembangunan melalui berbagi pengalaman transisi dan apa dampak dari bantuannya. Lebih tepatnya, master thesis ini melihat tingkat kualitatif pada nilai tambah dari kerjasama pembangunan Estonia dengan meneliti bagaimana Estonia berbagi pengalaman dari komputerisasi sekolah dengan Republik Georgia dengan reformasi pendidikan berjudul Deer Leap22.. 21. Evelin Andrespok, Estonian e-Tiger Leaping to Georgia: Added Value of Estonian Development Cooperation, 2004 22 Ibid, Hal.4. 9.

(26) Walaupun kasus yang diambil penulis sama dengan kasus studi terdahulu yang penulis ambil, yaitu dengan menggunakan kasus Deer Leap Program, namun terdapat perbedaan terhadap studi tersebut. Studi terdahulu tersebut berbeda karena menggunakan konsep yang berbeda, yaitu konsep Estonian Added-Value yang diadaptasi dari Finnish Added Value. Finnish Added Value ini merupakan konsep dengan memperhatikan 3 hal, yaitu 1) penyebaran keahlian teknis dan teknologi Finlandia secara historis berdasarkan kompetensi Finlandia, 2) mempromosikan nilai dan pola perilaku Finlandia, 3) bahwa Finlandia, selama keterlibatan dengan negaranegara mitra memberikan: cara kerja dan pelajaran selama kerjasama, termasuk praktek-praktek terbaik dan peran Finlandia dalam memberikan bantuan dalam konteks bantuan yang diberikan23. Sedangkan Estonian Added-Value ini mencoba menjelaskan demokratisasi lewat berbagi pengalaman antara Estonia dan Georgia dengan memperhatikan, 1) relevansi, 2) kepemilikan, dan 3) keberlanjutan24. Sedangkan konsep yang akan penulis gunakan adalah aid allocation motives dari Maria Anderson yang berbeda dengan konsep pada penelitian tersebut. Manfaat dari studi terdahulu ini adalah, master thesis dari Evelin Andrespok ini dapat memberikan data bagi penulis untuk menjawab rumusan masalah penulis, khususnya data tentang Deer Leap Programme dengan konsep yang penulis pilih. Sementara studi terdahulu kedua yang penulis ambil adalah research paper dari Andreas Fuchs dan Krishna Chaitanya Vadlamannati yang berjudul “The Needy. 23 24. Andrespok, Op.Cit, Hal. 16 Ibid, Hal. 37-43. 10.

(27) Donor: An Empirical Analysis of India’s Aid Motives”25. Penelitian ini secara umum membahas tentang India sebagai negara donor baru dalam dunia internasional, serta mengungkap motivasi dari negara donor baru dalam bantuan luar negeri dan implikasinya terhadap pola tradisional bantuan luar negeri. Dalam tulisan ini, India muncul sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat cepat, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan keadaan domestiknya dimana beberapa daerah di India masuk dalam kategori underdeveloped. Selain itu, India juga masih menerima banyak bantuan luar negeri untuk pembangunan. India tercatat sebagai penerima bantuan luar negeri terbesar dari Inggris (OECD 2012)26. Terlepas dari faktafakta tersebut, India juga merupakan negara pendonor bantuan luar negeri non-DAC, yang mana fokus bantuan luar negeri India adalah bantuan teknikal. India mengakui bahwa tujuan bantuan luar negerinya lebih memprioritaskan pada kebutuhan negara resipien, hal ini dikarenakan adanya kedekatan secara ekonomi dan politik dengan negara resipien. Bantuan luar negeri India dimulai pada tahun 195027. Target utama India pada masa itu adalah negara-negara tetangga seperti Bhutan, Myanmar, dan Nepal. Dalam research paper ini, penulis tersebut menganalisis alokasi bantuan luar negeri India berdasarkan pada negara donor (‘needy’ donor). Hipotesis yang ditemukan penulis tersebut pada penelitian ini diantaranya adalah 1a) alokasi bantuan India untuk kebutuhan ekonomi di negara berkembang, 1b) The “needy. 25. Andreas Fuchs, Krishna Chaitanya Vadlamannati. The Needy Donor: An Empirical Analysis of India’s Aid Motives diakses pada 27 Februari 2017 26 Ibid, Hal 2 27 Ibid. 11.

(28) donor” India mengalokasikan bantuan luar negeri yang lebih pada negara dengan level pembangunan yang sama, 2a) alokasi bantuan India berdasarkan kepentingan politik dan komersil India, dan 2b) ketika kebutuhan negara resipien lebih rendah dari negara donor, seperti “needy donor” India dibandingkan dengan “rich donor” asumsinya adalah untuk factor politik dan komersial dari alokasi bantuan mereka28. Analisis penelitian ini sendiri menggunakan literatur alokasi bantuan luar negeri oleh Nuemayer (2002), yaitu dengan menentukan negara-negara yang masuk dalam program bantuan luar negeri India, kemudian memperkirakan jumlah bantuan luar negeri yang diberikan kepada negara resipien. Hasil dari analisis pada penelitian ini adalah bahwa alokasi bantuan luar negeri India lebih didominasi oleh kepentingan India daripada kepentingan negara resipien. Hal ini dikarenakan ditemukannya factor politik yang melatarbelakangi kepentingan India dalam memberikan bantuan luar negeri, yaitu besarnya voting oleh negara resipien terhadap India dalam United Nation General Assembly (UNGA) dan kepentingan komersil yang ditemukan dalam besarnya nilai ekspor India ke negara resipiennya. Manfaat dari studi terdahulu ini terhadap penelitian penulis adalah studi terdahulu dari Andreas Fuchs dan Krishna Chaitanya Vadlamannati yang berjudul “The Needy Donor: An Empirical Analysis of India’s Aid Motives” dapat membantu penulis dalam melihat motif bantuan luar negeri dari negara donor yang merupakan. 28. Ibid, Hal 8-11. 12.

(29) negara baru yang memberikan bantuan luar negeri. Seperti yang diketahui negara Estonia juga merupakan negara baru dalam konteks bantuan luar negeri internasional. Studi terdahulu yang terakhir yang penulis ambil adalah penelitian master thesis yang dilakukan oleh Maria Anderson dengn judul Motives behind the Allocation of Aid- A Case Study Regarding Swedish Motives for Aid Allocation pada tahun 200929. Penelitian ini menjelaskan mengenai motif bantuan luar negeri yang diberikan oleh Swedia dengan menggunakan dokumen pemerintah Swedia. Pada tulisan Maria Anderson ini terdapat penjelasan mengenai aid allocation motives dari David Sogge yang digunakan dalam tulisannya untuk mendapatkan variabel tambahan dalam menganalisis motif bantuan luar negeri Swedia selain dengan menggunakan konsep dari penstudi lainnya. David Sogge dengan konsep aid allocation motives menjelaskan bahwa terdapat 3 variabel dalam menganalisis motif bantuan, yaitu strategic-socio political motives, mercantile motives, dan humanitarian and ethical motives dengan penjelasan dampak short dan long term dari masing-masing variabel30. Strategic-socio political motives memiliki dampak jangka pendek yaitu menjaga agar negara lain dapat tetap bekerjasama dalam kondisi krisis perang dan jangka panjangnya dapat meningkatkan akses ke negara yang bekerjasama31. Mercantile motives dampak jangka pendeknya adalah mengenali dan mendapatkan peluang pasar di negara kerjasama serta dampak panjangnya adalah meningkatkan dan memperluas kesempatan perdagangan. 29. Maria Anderson, Motives behind the Allocation of Aid - A Case Study Regarding Swedish Motives for Aid Allocation, 2009, Goteborgs Universitet 30 Ibid, Hal. 9 31 Ibid. 13.

(30) dan investasi32. Serta humanitarian and ethical motives, memiliki dampak pendek menunjukkan kepedulian terhadap korban perang dan dampak panjangnya menyebarkan konsern terhadap kemiskinan dan hak asasi manusia33.. 2.2.. Kajian Konseptual 2.2.1. Konsep Motif Bantuan Luar Negeri 2.2.1.1. Definisi Konseptual Konsep motif bantuan luar negeri ini sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama, namun hanya sedikit yang dapat dianggap sebagai single concept dan selebihnya merupakan konsep yang apabila ingin digunakan dalam menganalisa motif bantuan luar negeri, harus menggunakan konsep lainnya. Konsep motif bantuan luar negeri ini sendiri digunakan untuk menganalisa motif apa yang melatarbelakangi bantuan luar negeri diberikan oleh suatu negara kepada negara lainnya yang dikenal dengan istilah bantuan negara donor kepada negara resipien donor. Awal mula kemunculan konsep motif bantuan luar negeri diawali dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Maizels dan Nissanke pada tahun 1987 yang memunculkan ‘the donor interest and recipient need models’ untuk menganalisis motif bantuan luar negeri. Mereka menemukan bahwa bantuan yang disediakan oleh lembaga multilateral kepada penerima bantuan, dan juga bantuan bilateral dari donor. 32 33. ibid ibid. 14.

(31) yang berbeda dapat membantu mencapai kepentingan pemberi bantuan dalam aspek ekonomi, social, dan keamanan34. Selain itu terdapat pula penelitian Hook pada tahun 1995 dengan menganalisa perbandingan kebijakan bantuan luar negeri dari negara Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Swedia yang kemudian menemukan adanya hubungan antara kepentingan nasional dan bantuan luar negeri35. Penelitian ini menganalisis dengan menggunakan data dari OECD-DAC dengan melihat humanitarian objectives masing-masing negara36. Data dari OECD-DAC ini menurut penelitian Hook, dapat melihat kebijakan bantuan luar negeri yang dibuat didomestik negara mereka masing-masing dan penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan Carol Lancaster pada tahun berikutnya. Tahun 2000 terdapat seminar paper dari Alessia dan Dollar yang menganalisis efek motif donor bantuan dengan efektifitas bantuan37. Penelitian ini melihat bahwa bantuan luar negeri ini dapat meningkatkan ekonomi dan mengurangi kemiskinan38. Kemudian terdapat tulisan David Sogge pada tahun 2002 tentang bantuan luar negeri yang berjudul “Give and take, what is the matter with international aid” yang menjadi acuan. 34. Maizels dan Nissanke, Motivations for Aid to Developing Countries, Printed in Great Britain, World Development, 1984, Vol. 12, No. 9, pp. 819-900 35 Ward Warmerdam dan Arjan de Haan, The Roles of Aid in Politics: Put China in Perspective, International Institute of Social Science, p. 12 36 Ibid 37 Alessina dan Dollar, Who Gives Foreign Aid to Whom and Why?, Printed in the Netherlands, Journal of Economic Growth, 2000, p. 33–63 38 Ibid. 15.

(32) para peneliti hubungan internasional dalam meneliti motif bantuan luar negeri. David Sogge menjelaskan bahwa dalam memberikan bantuan luar negeri, negara pemberi bantuan selalu memiliki kepentingan nasional yang berubah-ubah tergantung waktu bantuan luar negeri tersebut diberikan dan hal ini berhubungan langsung dengan motif yang diberikan negara pemberi bantuan. Hal ini menurut Sogge kepentingan nasional merupakan motif utama dalam memberikan bantuan yang kemudian Sogge menjelaskan dalam konsep bantuan luar negeri ada berbagai macam motif yang dapat menganalisis alasan negara pendonor memberikan bantuan kepada negara penerima yang dikenal dengan aid allocaton motives, yaitu39 1. Strategic Socio-Political Motives 2. Mercantile Motives 3. Humanitarian and Ethical Motives David Sogge dalam bukunya memberikan contoh motif bantuan luar negeri yang diberikan Swedia yang dilihat memiliki tujuan untuk membangun ekonomi dan keadilan social dinegara-negara sekitar Afrika Selatan yang tertinggal jauh dengan Afrika Selatan. Beberapa tahun kemudian setelah Swedia memberikan bantuan tersebut, ada implikasi yang baik terhadap kedua pihak terutama Swedia sebagai negara pemberi bantuan. Swedia mendapatkan keuntungan ekonomi denan meningkatnya. 39. David Sogge, Give and Take: What is The Matter with Foreign Aid?, London: Zed Books,2002, Hal.45. 16.

(33) neraca perdagangan dengan negara-negara disekitar Afrika Selatan40. Melihat pada variable dan indikator dari konsep aid allocation motives yang dibuat sendiri oleh David Sogge serta penjelasan yang cukup dalam menjelaskan variable dan indikator dalam menjelaskan kasus motif bantuan luar negeri Swedia, penulis kemudian akan menggunakan konsep aid allocation motives dari David Sogge dalam menganalisis motif bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia dalam Deer Leap Programme tahun 20052008. 2.2.1.2. Aid Allocation Motives Menurut David Sogge dalam aid allocation motives, motif bantuan luar negeri dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu, antara lain41: a. Strategic Socio-Political Motives Sogge melihat motif jangka pendek untuk tetap menjaga keberpihakan saat negosiasi politik, perang atau krisis lainnya dalam pengambilan keputusan di dunia internasional selain itu untuk menjaga kesetiaan etnis ataupun konstitusi politik di negara penerima. Sedangkan jangka panjangnya untuk mendapat akses dan kesetiaan dari pemimpin, memperdalam doktrin atau model pembangunan, meningkatkan sistem ekonomi politik dan militer di negara penerima. Dengan begitu motif politik dapat dilihat dari indikator intervensi, kooperasi dan akses.. 40. ibid David Sogge, Give & Take: What’s Matter with Foreign Aid? (London & New York: Zed Books), 2000, Hal. 41-42 41. 17.

(34) -. Intervention. Dalam indikator ini melihat bagaimana negara donor melaksanakan atau memberikan intervensi kepada negara penerima, contohnya mempengaruhi kebijakan negara penerima. Intervensi ini dilakukan oleh negara pendonor untuk mencapai tujuannya dengan mempengaruhi arah kebijakan negara penerima bantuan. -. Cooperation. Indikator ini menjelaskan bahwa dengan adanya bantuan luar negeri, dapat menciptakan kerjasama antara negara pendonor dan negara penerima. Kerjasama inilah yang nantinya akan menjadi penentu bagaimana pola hubungan dua belah pihak. Kerjasama juga erat kaitannya dengan keuntungan bersama karena dengan kerjasama kepentingan kedua belah pihak dapat dimaksimalkan. -. Access. Indikator ini menjelaskan bahwa bantuan luar negeri yang diberikan dari negara pendonor kepada negara penerima kemudian dapat menjalankan program-program lainnya baik program bantuan luar negeri tersebut berkelanjutan atau program baru yang dilahirnkan atas bantuan luar negeri tersebut. Selain itu, indikator ini menjelaskan bagaimana bantuan luar negeri dapat menciptakan akses bagi negara pendonor kepada pemimpin pemerintahan negara penerima bantuan luar negeri.. 18.

(35) b. Mercantile Motives Motif ini dapat dilihat sebagai hasil ekonomi yang akan didapatkan oleh individu, kelompok bahkan negara tertentu. Pemberian bantuan luar negeri dapat berpengaruh pada ekonomi negara. Dengan masuknya negara pendonor ke negara penerima yang memiliki sumber daya yang tidak dimiliki oleh negara pendonor akan memaksimalkan kekuatan ekonomi negara donor. Bantuan luar negeri juga yang dapat membuka kerjasama menjadi dasar kerjasama ekonomi antar negara yang jauh lebih komprehensif. Dengan begitu akan menguntungkan kedua belah pihak. Jangka pendeknya, Sogge melihat dengan pemberian bantuan dapat mengembangkan pangsa pasar, memberikan lapangan pekerjaan dan mempromosikan kepentungan sektos bisnis. Sedangkan untuk jangka panjangnya, untuk memperluas kesepatan perdagangan dan inevestasi, termasuk akses ke sumber daya mentah dan buruh yang murah. Ini menunjukan adanya ekspor dan impor begitupula investasi sebagai ukuran dari motif ekonomi. Motif ini memiliki indikator antara lain: -. Export Import. Indikator ini dapat menunjukkan seberapa banyak keberhasilan ekonomi yang dicapai melalui bantuan luar negeri dengan melihat neraca perdagangan antara negara donor bantuan dengan negara resipien bantuan. Indikator ini juga menjelaskan bagaimana bantuan luar negeri dapat membuka kesempatan negara pendonor untuk memperluas pasar di negara penerima bantuan luar negeri. 19.

(36) -. Investment. Indikator investment ini menjelaskan bagaimana bantuan luar negeri diberikan agar investor negara pendonor mendapatkan kesempatan berinvestasi di negara resipien bantuan dengan investasi dibidang yang sesuai dengan bantuan luar negeri tersebut. Investasi ini kemudian dapat menguntungkan. negara. pendonor. bantuan. luar. negeri. dengan. memanfaatkan potensi sumberdaya negara penerima bantuan luar negeri.. c. Humanitarian and Ethical Motives Masalah kemanusiaan yang seringkali dilihat sebagai masalah bersama tentu memberikan beban bersama pula. Tidak jarang negara menggunakan alasan kemanuisaan ataupun solidaritas untuk memberikan bantuan ke negara penerima. Masalah seperti kemiskinan, HAM, kesehatan dan bencana alam dilihat sebagai masalah yang harus diselesaikan bersama atau paling tidak adanya rasa kewajiban untuk membantu pihak yang sedang mengalami kesusahan. Jangka pendeknya untuk menunjukkan fokus dan perhatian kepada korban perang dan bencana alam sedangkan jangka panjangnya untuk mengurangi kemiskinan, pelanggaran hak asasi manusia termasuk perempuan. Dan juga untuk menjaga solidaritas dengan negara penerima dengan justifikasi moral. Motif kemanusiaan ini tidak memiliki kepentingan lain dan juga bertujuan mendapatkan positif image. Indikatornya yaitu:. 20.

(37) -. Reducing Poverty. Indikator ini menjelaskan bantuan yang ditujukan untuk mengurangi kemiskinan menunjukkan kurangnya faktor politik dan lebih ke arah alturism (mementingkan orang lain) dari negara donor. Ini tercermin dari program bantuan luar negeri yang diberikan lebih mengarah pada pengentasan kemiskinan. Bantuan luar negeri ini kemudian apabila mengurangi tingkat kemiskinan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat negara resipien bantuan luar negeri. -. Showing Compassion. Indikator showing compassion menjelaskan bagaimana bantuan luar negeri diberikan negara donor kepada negara resipien dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian negara resipien melalui pernyataan resmi dari pemerintah negara penerima bantuan. Hal ini dilakukan oleh negara pendonor bantuan untuk mendapatkan citra positif di dunia internasional.. 2.3. Operasionalisasi Konsep 2.3.1. Strategic Socio-Political Motives a. Intervention Menurut David Sogge, indikator intervention ini melihat bagaimana negara donor melakukan intervensi melalui bantuannya dengan tujuan untuk mempengaruhi kebijakan negara penerima bantuan, dalam hal ini yang akan dilihat adalah bagaimana bantuan luar negeri Estonia mempengaruhi. 21.

(38) kebijakan Georgia dalam bidang yang berkaitan dengan bantuan Deer Leap Programme, yaitu intervensi dalam proses demokratisasi negara Georgia dan intervensi kebijakan Information and Communication Technology (ICT) negara Georgia. Intervensi awal yang terlihat pada bantuan ini adalah adanya upaya Estonia untuk membantu proses demokratisasi negara Georgia. Hal ini disampaikan oleh Perdana Menteri Estonia, Urmas Paet dalam kunjungannya selama 2 hari di Georgia pada tahun 201042. Menurut Kementerian Luar Negeri Estonia pada tahun 2006, proses demokratisasi ini terkait dengan peningkatan ketersediaan dan penerapan Information and Communication Technology yang dianggap dapat membantu mempercepat proses demokrasi saat ini43. Intervensi yang terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi adalah ketika pada tahun 2008, server negara Estonia membantu menjadi hosting situs Kementerian Luar Negeri Georgia44. b. Cooperation Pada indikator cooperation, indikator ini menjelaskan bagaimana bantuan luar negeri dapat menciptakan kerjasama antara negara pendonor dan negara penerima, dalam hal ini yang akan dilihat adalah bagaimana bantuan luar negeri Estonia dapat menciptakan kerjasama yang lebih lanjut antara. 42. Foreign Minister to Visit Georgia, http://news.err.ee/97758/foreign-minister-to-visit-georgia (diakses pada 12 April 2017) 43 Evelin Andrespok. Estonian e-Tiger Leaping to Georgia:Added Value of Estonian Development Cooperation. Helsinki. 2014. p.9 44 Estonia Helps Georgia in Cyber War, http://www.baltictimes.com/news/articles/21124/ diterbitkan pada 16 September 2008 (diakses pada 12 April 2017). 22.

(39) Estonia sebagai negara donor dengan Georgia sebagai negara penerima bantuan. Bantuan luar negeri Deer Leap Programme dapat memberikan peluang bagi Estonia sebagai negara pendonor untuk melakukan kerjasama terkait dengan teknologi informasi di Georgia, seperti dengan kerjasama egovernment dan e-services di pemerintahan Georgia45. c. Access Indikator access menjelaskan bagaimana negara donor bantuan luar negeri dapat menjalankan program bantuan lainnya di negera penerima bantuan akibat bantuan luar negeri tersebut, dalam hal ini melihat bagaimana bantuan luar negeri Estonia dapat menciptakan program bantuan lainnya di Georgia. Selain itu, indikator access akan melihat apakah akibat bantuan luar negeri tersebut, Estonia sebagai negara pendonor mendapatkan akses kepada pemerintahan Georgia. Program bantuan Deer Leap Programme yang bergerak dalam bidang pengembangan teknologi informasi dan komunikasi, kemudian dapat memberikan kesempatan untuk membuka bantuan-bantuan yang terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi di Georgia, baik Deer Leap Programme ini berjalan lebih lanjut ditahun berikutnya atau terdapat program lainnya dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi.. 45. e-Governance Academy advises on development of e-Georgia, http://www.ega.ee/news/egovernance-academy-advises-on-development-of-e-georgia/ (diakses pada 12 April 2017). 23.

(40) 2.3.2. Mercantile Motives a. Export-Import Indikator export-import ini menjelaskan bagaimana bantuan luar negeri dapat meningkatkan ekonomi negara pendonor dan negara penerima bantuan yang dapat dilihat dengan neraca perdagangan antar kedua negara, dalam hal ini melihat bagaimana bantuan luar negeri yang diberikan Estonia kepada Georgia dapat neningkatkan nilai ekspor dan impor kedua negara. Kegiatan ekspor-impor antara Estonia dan Georgia terlihat fluktuatif pada rentang waktu 2006 sampai dengan 2009. Menurut data Knoema (situs data ekonomi global), tercatat nilai ekspor Estonia atau impor Georgia pada tahun 2006 yaitu 993 ribu US$ dan sempat meningkat pada tahun 2008 sebesar 3 juta US$, namun menurun pada tahun 2009 diangka 1,6 juta US$46. Sedangkan impor Estonia atau ekspor Georgia yang justru terlihat menguntungkan Georgia dan bukan menguntungkan Estonia sebagai negara pendonor bantuan luar negeri. Pada tahun 2006, tercatat 3,9 juta US$ yang kemudian terus menurun, tahun 2008 senilai 3,1 juta US$ dan tahun 2009 senilai 2,3 juta US$47. b. Investment Indikator investment ini menjelaskan bagaimana bantuan luar negeri diberikan agar investor negara pendonor mendapatkan kesempatan. 46. https://knoema.com/UNCOMTRADETMTC2012/un-comtrade-total-merchandise-trade-by-country2012?reporter=1000790-estonia (diakses pada 12 April 2017) 47 Ibid. 24.

(41) berinvestasi di negara resipien bantuan dengan investasi dibidang yang sesuai dengan bantuan luar negeri tersebut. Pada penelitian ini melihat bagaimana bantuan luar negeri dapat meningkatkan investasi negara Estonia sebagai negara pendonor di negara Georgia terutama investasi yang terkait dengan bantuan luar negeri yang diberikan. Jumlah aliran dana investasi luar negeri atau Foreign Direct Investment (FDI) yang diterima Georgia dari Estonia pada kurun waktu bantuan luar negeri ini hanya terjadi pada tahun 2007, yaitu senilai 4 juta US$48. 2.3.3. Humanitarian and Ethical Motives a. Reducing Poverty Indikator ini menjelaskan bahwa bantuan luar negeri yang diberikan oleh negara pendonor dapat mengurangi tingkat kemiskinan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat negara penerima bantuan, dalam hal ini melihat bagaimana bantuan luar negeri Deer Leap Programme yang diberikan oleh Estonia apakah dapat mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat negara Georgia. Bantuan Deer Leap Programme yang diberikan Estonia kepada Georgia berusaha memberikan dampak yang kemudian dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat negara Georgia melalui pendidikan. Melalui program ini, masyarakat Georgia dapat meningkatkan kemampuannya dalam bidang. 48. Estonia: Table 1. FDI Flows in The Host Economy, by Geographical Origin, http://unctad.org/Sections/dite_fdistat/docs/webdiaeia2014d3_EST.pdf (diakses pada 12 April 2017). 25.

(42) teknologi informasi yang pada akhirnya dapat meningkatnya jumlah masyarakat yang menggunakan internet. b. Showing Compassion Indikator ini menjelaskan bahwa bantuan luar negeri diberikan dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian negara resipien melalui pernyataan resmi dari pemerintah negara penerima bantuan, dalam hal ini melihat bagaimana bantuan luar negeri yang diberikan Estonia akan mendapatkan citra positif dari pemerintah negara Georgia. Nilai bantuan luar negeri Estonia dalam Deer Leap Programme yaitu sebesar 150.430,85 US$ atau sekitar 2 miliar rupiah (kurs rupiah saat ini), Estonia berharap mendapatkan kepercayaan lebih dari pemerintah negara Georgia untuk membangun citra positif Estonia sebagai negara pendonor bantuan.. 26.

(43) Tabel Operasionalisasi Konsep Konsep. Variabel. Indikator. Operasionaisasi Upaya intervensi kebijakan Estonia di Georgia melalui. Intervention. mekanisme bantuan luar negeri Deer Leap Programme (DLP). Aid. Allocation Strategic-Socio. Motives. Perjanjian kerjasama. Political. antara Estonia. Motives. dengan Georgia dalam bidang Cooperation. Information and Communication Technology (ICT) pasca bantuan diterima Akses yang diberikan Georgia kepada Estonia untuk dapat menjalankan. 27.

(44) Access. program bantuan dalam bidang Information and Communication Technology (ICT) dimasa mendatang Peningkatan neraca. Export-Import. perdagangan antara Estonia dan Georgia Investasi yang dilakukan. Mercantile Motives. perusahaan Estonia Investment. dalam bidang Information and Communication Technology (ICT) di Georgia Peningkatan kualitas hidup masyarakat. Reducing. Georgia melalui. Poverty. teknologi informasi, yaitu internet. 28.

(45) Image positif yang didapat Estonia Humanitarian Motives. melalui bantuan Showing. Deer Leap. Compassion. Programme, dengan melihat respon pemerintah Georgia terhadap bantuan Deer Leap Programme. 29.

(46) 2.4.. Alur Pemikiran. Motif Bantuan Luar Negeri Estonia ke Georgia tahun 2005-2008. Apa motif bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia pada tahun 2005-2008. Aid Allocation Motives (David Sogge). Strategic-Socio Political Motives. Mercantile Motives. Humanitarian and Ehical Motives. Intervention. Cooperation. Access. ExportImport. Investment. Reducing Poverty. Showing Compassion. Bantuan luar negeri yang diberikan Estonia kepada Georgia pada tahun 2005-2008 dilihat dengan adanya 3 motif yaitu, strategic-socio political motives, mercantile motives, dan humanitarian motives. Namun, kecenderungan motif yang terlihat adalah strategic-socio political motives dan Humanitarian and Ethical Motives.. 30.

(47) 2.5.. Argumen Utama Terdapat tiga motif bantuan luar negeri yang telah dijabarkan oleh David Sogge, antara lain strategic-socio political motives, mercantile motives, dan humanitarian and ethical motives. Ketiga variable ini kemudian digunakan untuk menganalisis bantuan luar negeri Estonia ke Georgia pada tahun 2005-2008. Dari ketiga motif tersebut, motif yang memiliki kecenderungan diantara motif lainnya adalah strategic-socio political motives, pada indikator intervention dan access. Strategic-socio political motives ditemukan atas dasar bahwa adanya The Revolution of Roses yang dialami oleh Georgia pada tahun 2003 pasca konflik dengan Uni Soviet membuat adanya kepentingan politik strategis dari Estonia. Selain itu terdapat pula humanitarian and ethical motives pada indikator reducing poverty karena ada indikasi bantuan Deer Leap Programme dapat meningkatkan kemampuan masyarakat yang kemudian mempengaruhi ekonomi masyarakat Georgia.. 31.

(48) BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini penulis akan membahas mengenai metode penelitian yang akan digunakan oleh penulis dalam melakukan penelitian. Bab 3 ini berisi penjabaran mengenai metode penelitian yang akan digunakan beserta dengan aspek-aspek yang ada didalamnya seperti jenis penelitian, ruang lingkup penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan juga sistematika penulisan. 3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian dalam penelitian “Motif Bantuan Luar Negeri Estonia kepada Georgia pada Tahun 2005-2008” ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini bersifat deskriptif karena penulis berusaha mendeskripsikan motif dari pemberian bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia pada tahun 2005-2008 dengan menggunakan konsep aid allocation motives dari David Sogge. 3.2. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada tahun 2005-2008, ketika Estonia memberikan bantuan luar negeri kepada Georgia dengan Deer Leap Programme. Tahun 2005-2008 dipilih oleh penulis karena pada tahun tersebut Georgia merupakan penerima bantuan terbesar dari Estonia. Pemilihan Deer Leap Programme sebagai batasan program bantuan luar negeri didasari karena program tersebut merupakan program yang berlangsung pada tahun 2005-2008.. 32.

(49) 3.3. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang penulis lakukan adalah teknik pengumpulan data dalam bentuk telaah pustaka (Library Research). Data yang diperoleh dari studi pustaka merupakan data sekunder, yaitu data yang diperoleh dan bersumber dari buku, jurnal, koran, dan internet serta dokumen lain. Data yang penulis ambil adalah data yang berkaitan dengan motif bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia dalam Deer Leap Programme pada tahun 2005-2008. 3.4. Teknik Analisa Data Proses analisis data menggunakan metode yang bersifat kualitatif. Proses ini memiliki tahapan yaitu memilih data yang akan digunakan dan berikutnya disusun secara sistematis agar memudahkan penulis dalam menjelaskan analisis data tersebut. Dalam skripsi ini, level of analysis yang digunakan oleh penulis yaitu level negara atau state level. 3.5. Sistematika Penulisan BAB 1 berisi pendahuluan, meliputi latar belakang melakukan penelitian, rumusan masalah atau permasalah yang akan diteliti, serta manfaat dan tujuan dari penelitian yang dilakukan. BAB 2 berisi tentang studi terdahulu, yakni studi atau penelitian yang sudah pernah dilakukan dalam topik yang sama. Dalam bab ini, juga berisi terkait kajian teori dan konsep, yaitu teori atau konsep yang digunakan sebagai alat analisis dalam pengkajian dan analisa masalah. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep motif bantuan luar negeri dari David Sogge yang didalamnya terdapat 33.

(50) tiga variabel yang menjelaskan tentang motif bantuan luar negeri, yang juga dioperasionalisasikan dengan indikator untuk dapat mengetahui dasar atau rasionalisasi motif bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia tahun 2005-2008. Dan dalam akhir bab ini, penulis menuliskan argumen utama, yaitu kajian mengenai motif bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia tahun 2005-2008. BAB 3 berisikan tentang metode-metode yang dilakukan peneliti dalam melakukan penelitian dan pengkajian masalah, diantaranya adalah jenis penelitian, ruang lingkup penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data, serta sistematika penulisan. BAB 4 berisikan pembahasan dari hasil penelitian mengenai motif bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia tahun 2005-2008, menggunakan teori dan konsep yang sudah dijelaskan di BAB 2. BAB 5 menjelaskan tentang analisis data terkait data-data yang telah didapatkan oleh penulis, baik data primer melalui wawancara, maupun data sekunder yang berasal dari studi pustaka, untuk kemudian dielaborasikan dan dikorelasikan dengan kajian yang saat ini sedang penulis teliti. BAB 6 berisi tentang kesimpulan terkait hasil temuan yang dilakukan selama penelitian dan proses analisi, serta saran bagi pihak-pihak terkait berdasarkan kajian yang telah dilakukan.. 34.

(51) BAB IV GAMBARAN UMUM. 4.1. Kerjasama antara Estonia dan Georgia Secara sistematis, Estonia mulai melakukan bantuan luar negeri pada tahun 199849. Bantuan luar negeri Estonia ini tidak terlepas juga development cooperation atau kerjasama pembangunan, karena development cooperation sendiri tidak dapat dipisahkan oleh development and humanitarian aid50. Kebijakan development cooperation ini juga tercantum pada Approval of the Principles of Estonian Development Cooperation yang disahkan pada tanggal 15 Januari 200351, yang dimana terdapat poin 1 yaitu definisi dari development cooperation sendiri adalah kerjasama yang termasuk development assistance dan humanitarian aid52. Pada tahun 1999, dilevel Internasional, Estonia disebut sebagai negara donor dalam OECD Development Assistance Committee’s (DAC) 1999 Report53. Sejak saat itu, Estonia mulai ikut serta dalam proses pembangunan global, diantaranya seperti Doha Development Agenda, memobilisasi pendanaan pembangunan, dan mempromosikan pembangunan secara berkelanjutan54.. 49. Overview of Estonian Development Cooperation, http://www.vm.ee/en/overview-estoniandevelopment-cooperation (diakses pada 29 Mei 2017) 50 ibid 51 ibid 52 Principles of Estonian development cooperation, http://www.vm.ee/en/principles-estoniandevelopment-cooperation (diakses pada 29 Mei 2017) 53 Overview of Estonian Development Cooperation, http://www.vm.ee/en/overview-estoniandevelopment-cooperation (diakses pada 29 Mei 2017) 54 ibid. 35.

(52) Sebagai suatu kesatuan dengan kebijakan luar negeri Estonia, development cooperation diberikan untuk menyebarkan perdamaian, demokrasi, kebebasan hak asasi manusia, ekonomi dan stabilitas social, serta mengurangi kemiskinan didunia berdasarkan prinsip internasional pembangunan yang berkelanjutan. Ada 4 prinsip dari Estonia cooperation development yang diberikan kepada penerima bantuan, yaitu55 1. Aspek moral: sebelumnya Estonia merupakan negara yang berkembang dengan cepat melalui bantuan dari donor internasional dan karena tanggungjawab moral, seperti setiap negara yang berhasil, untuk menyediakan bantuan yang serupa untuk negara yang belum berkembang daripada Estonia sendiri 2. Aspek politik: development cooperation membantu untuk meningkatkan hubungan antara negara donor dengan negara penerima bantuan serta dapat mencapai tujuan kebijakan luarnegeri 3. Aspek ekonomi: menguatkan ekonomi negara penerima bantuan sebagai partner potensial dalam perdagangan dengan Estonia dan menguatkan pembangunan ekonomi internasional 4. Aspek budaya: development cooperation membantu Estonia sendiri dalam upaya dalam penyebaran budaya Estonia untuk berperan dalam proses pembangunan. 55. Principles of Estonian development cooperation, http://www.vm.ee/en/principles-estoniandevelopment-cooperation (diakses pada 29 Mei 2017). 36.

(53) Sedangkan strategi dari Estonian development cooperation adalah56 1.. Untuk. berkontribusi. dalam. mengurangi. kemiskinan. global. dan. pembangunan manusia dinegara berkembang 2. Untuk mendukung perdamaian dan stabilitas, terjaminnya hak asasi manusia, pengembangan demokrasi seperti mempraktikan good governance di negara berkembang 3. Untuk mempromosikan pengembangan ekonomi, termasuk membantu pembentukan ekonomi, intergrasi menuju perdagangan dan pertanian global, menjaga lingkungan yang bersahabat dan pembangunan yang berkelanjutan 4. Untuk memastikan kerjasama pembangunan untuk masyarakat Estonia, mulai dari sektor public, privat, dan pihak ketiga untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam development cooperation dan mengenalkan edukasi global. Pengembangan sektor Information Communication Technology (ICT) dan e-governance akan dilakukan secara horizontal. Dalam implementasi dari bantuan luar negeri Estonia ini diatur oleh pemerintah kementerian luar negeri Estonia57 atau Valisministeerium. Bantuan luar negeri Estonia dapat dilakukan dengan bilateral development cooperation project, international organisations, dan development cooperation partners58. Organisasi masyarakat sipil. 56. Overview of Estonian development cooperation, http://www.vm.ee/en/overview-estoniandevelopment-cooperation (diakses pada 29 Mei 2017) 57 Principles of Estonian development cooperation, http://www.vm.ee/en/principles-estoniandevelopment-cooperation (diakses pada 29 Mei 2017) 58 ibid. 37.

(54) berperan aktif dalam membantu Estonia development cooperation dengan berpartisipasi dalam formulasi kebijakan, menyiapkan dan mengimplementasikan program dan menjelaskannya kepada masyarakat Estonia59. Bantuan luar negeri Estonia yang pertama diberikan pada Georgia adalah pada tahun 2000. Pada tahun 2000, setidaknya terdapat 2 bantuan luar negeri yang diberikan pemerintah Estonia melalui kementerian luar negeri Estonai kepada Georgia. Pada tahun tersebut, Estonia memberikan bantuan kepada Estonia Red Cross dalam upaya membantu mengatasi peristiwa kelaparan di Georgia60. Selain itu bantuan luar negeri lainnya adalah bantuan luar negeri Estonia yang diberikan kepada Georgia dalam bentuk program, yaitu First Stage of the Project of Civil Society in Georgia. Tujuan program yang dilaksanakan oleh Estonia Council of Civic Organisations atau Dewan Organisasi Sipil Estonia adalah untuk mengundang asosiasi masyarakat Georgia dalam membuat kebijakan publik61. Selama tahap pertama, materi informasi yang diperlukan disiapkan bersama dengan mitra Georgia, dan adanya konferensi yang akan diselenggarakan untuk perwakilan asosiasi warga Georgia62. Analisis dilakukan, di mana pertanyaan yang paling bermasalah akan dipetakan, untuk menunjukkan skema. 59. ibid Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=27 (diakses pada 29 Mei 2017) 61 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=26 (diakses pada 29 Mei 2017) 62 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=26, ibid 60. 38.

(55) ditahap kedua yang akan dilakukan63. Bantuan luar negeri Estonia ini diberikan kepada Georgia sejumlah 260.000 kroons Estonia64. Setelah tahun 2000, jumlah bantuan luar negeri yang diberikan Estonia kepada Georgia semakin banyak jumlahnya dan juga beragam tidak hanya bantuan humanitarian saja. Pada tahun 2005 sampai dengan 2008, Georgia merupakan penerima bantuan luar negeri terbesar dari Estonia karena Georgia merupakan salah satu penerima donor paling utama, selain dengan Moldova, Ukraina, dan Afghanistan65. Georgia merupakan negara penerima bantuan luar negeri terbesar dari Estonia dengan jumlah total $2,04 milliar66.. Gambar 2. Penerima Bantuan Luar Negeri Estonia Tahun 2005-2008. 63. ibid ibid 65 Ministry of Foreign Affairs of Estonia (2006), “Development Plan of Estonian Development Cooperation and Humanitarian Aid 2006–2010.”, http://www.vm.ee/sites/default/files/contenteditors/web-static/357/Development_coop.pdf (diakses pada 29 Mei 2017) 66 Aid Allocaton Distribution: Estonia, http://aiddata.org/dashboard#/advanced/analytic-dashboard (diakses pada 29 Mei 2017) 64. 39.

(56) Bantuan luar negeri yang diberikan Estonia kepada Georgia beragam, seperti bantuan aspek pendidikan, pemerintahan, kesehatan dan lingkungan, dan juga pembangunan ekonomi. Berikut ini adalah beberapa bantuan luar negeri Estonia yang diberikan kepada Georgia: 1. Aspek Pendidikan Bantuan pendidikan diberikan oleh Estonia kepada Georgia dimulai pada tahun 2001 dengan nama bantuan program yaitu Supporting Schools in Georgia67. Bantuan yang diberikan Estonia ini bernilai 9.586 euro atau 150.000 kroons Estonia68. Program bantuan ini bertujuan untuk membantu pengembangan sekolah-sekolah di Georgia. Selain itu, terdapat bantuan terkait dengan pendidikan yaitu Training of Georgian Police Officers dengan nilai bantuan 26.470 euro69 dan Scholarship Program for Young Moldovan and Georgian Diplomats dengan nilai bantuan 144.000 kroons Estonia70, keduanya merupakan bantuan ditahun 2005. Kemudian terdapat bantuan pendidikan dengan nama Deer Leap Programme, bantuan terkait dengan pengembangan Information and Commucation Technology (ICT) dengan mengembangkan. 67. Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=56 (diakses pada 29 Mei 2017) 68 ibid 69 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=419 (diakses pada 29 Mei 2017) 70 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=441 (diakses pada 29 Mei 2017). 40.

(57) komputer menggunakan koneksi internet. Bantuan ini diberikan secara 2 tahap, tahun 2005-200671 dan tahun 2007-200872. Kemudian pada tahun 2007, bantuan pendidikan yang diberikan Estonia kepada Georgia adalah Contribution of Estonian Vocational Schools to the Project of Promoting Georgian Vocational Education "Lets help Georgian with the Development of Vocational Education73. Tujuan dari bantuan ini secara umum adalah mengentaskan kemiskinan global dan mencapai Millenium Development Goals (MDGs) dengan mendukung pembangunan manusia, dengan cara meningkatkan akses pendidikan dinegara berkembang dan meningkatkan kualitas pendidikan termasuk vocational education berdasarkan pengalaman negara Estonia74. Durasi dari program bantuan ini adalah 12 bulan atau 1 tahun dengan nilai bantuan sejumlah 11.600 euro75. 2. Aspek Pemerintahan Bantuan terkait dengan pemerintahan diberikan oleh Estonia kepada Georgia sejak tahun 2002. Bantuan terkait pemerintahan yang pertama diberikan Estonia kepada Georgia adalah Projects by the Ministry of Defence for Developing Defence Policy of Georgia dengan nilai bantuan sejumlah. 71. Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=437 (diakses pada 29 Mei 2017) 72 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=628 (diakses pada 29 Mei 2017) 73 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=950 (diakses pada 29 Mei 2017) 74 ibid 75 ibid. 41.

(58) 20.305,9 euro76. Kemudian bantuan lainnya terkait dengan pemerintahan adalah Support of the Georgian Election Assistance Programme, created by The Organization for Security and Co-operation in Europe (OSCE) as a Source of International Technical and Financial Support for the Georgian Electoral Process pada tahun 200377. Bantuan ini diberikan karena adanya situasi politik Georgia yang terancam akibat adanya keruntuhan ekonomi di Georgia. Situasi internal Georgia saat itu yang rawan juga dapat menimbulkan perpecahan negara Georgia yang dapat terbagi-bagi wilayah negara Georgia. Bantuan ini dibantu juga oleh Organisation for Security and Cooperation in Europe (OSCE) dengan nilai total bantuan sejumlah 125.000 kroons dan program kedua senilai 50.000 kroons78. Pada program kedua Estonia mengirimkan 2 tenaga ahli yang untuk melihat keadaan Georgia sehingga memungkinkan terciptanya kerjasama dimasa mendatang79. Kemudian pada tahun 2004, bantuan dengan program Presidential Election Observation Mission diberikan Estonia kepada Georgia dengan nilai bantuan senilai 14.042,9 euro80. Bantuan lainnya adalah Educating Georgian. 76. Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=100 (diakses pada 29 Mei 2017) 77 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=165 (diakses pada 29 Mei 2017) 78 Dokumen ARENGUKOOSTÖÖPROJEKT 79 ibid 80 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=292 (diakses pada 29 Mei 2017). 42.

(59) High Officials in the Matter of Information Politics pada tahun 2004 dengan nilai bantuan senilai 19.093,6 euro81. 3. Aspek Kesehatan dan Lingkungan Bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia terkait dengan kesehatan diawali pada tahun 2000 dan merupakan bantuan luar negeri pertama yang diberikan Estonia kepada Georgia seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Estonia memberikan bantuan kepada Estonia Red Cross dalam upaya membantu mengatasi peristiwa kelaparan di Georgia. Bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia ini diberikan dalam kurun waktu selama 10 bulan untuk mengatasi masalah kelaparan di musim panas tersebut. Bantuan Estonia yang diberikan kepada Georgia pada masa tersebut adalah sebesar 1,5 juta kroons Estonia. Sedangkan bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia terkait dengan lingkungan diawali pada tahun 2006, dengan program Environmental Protection Project82. Bantuan yang diberikan Estonia kepada Georgia ini sejumlah 6.477,96 euro83. Tujuan dari program bantuan ini adalah menghilangkan kontaminasi hasil dari tentara UniSoviet di Georgia84. Selain itu terdapat pula bantuan kemanusiaan yang terjadi pada tahun 2008, yang. 81. Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=282 (diakses pada 29 Mei 2017) 82 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=707 (diakses pada 29 Mei 2017) 83 ibid 84 ibid. 43.

(60) diberikan ketika terjadi konflik antara Russia dengan Ossetia Selatan (wilayah Georgia). Bantuan ini diberikan secara 3 tahap, Humanitarian Aid to Georgia (I), Humanitarian Aid to Georgia (II), dan Humanitarian Aid to Georgia (III). Bantuan ini diberikan oleh Ministry of Foreign Affairs dari Estonia dan implementor programnya adalah Välisministeerium atau Kementerian Luar Negeri juga. Nilai bantuan yang diberikan adalah untuk Humanitarian Aid to Georgia (I) senilai 151.345 euro85, Humanitarian Aid to Georgia (II) senilai 166.479 euro86, dan Humanitarian Aid to Georgia (III) senilai 23.400,4 euro87. 4. Aspek Pembangunan Ekonomi Bantuan luar negeri Estonia kepada Georgia pada bidang ekonomi bisa dilihat ketika pada tahun 2006, Estonia memberikan bantuan dengan nama Promoting. Socioeconomic. Rehabilitation. of. South-Ossetia. and. Its. Neighbourhood through OSCE88. Dalam program bantuan ini, Estonia memberikan bantuan kepada Georgia senilai 50.000 euro dengan durasi bantuan dari Juli 2006 sampai dengan Desember 200889. Bantuan ini diberikan atas dasar konflik berkepanjangan antara Georgia dengan UniSoviet sehingga. 85. Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=1248 (diakses pada 29 Mei 2017) 86 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=1249 (diakses pada 29 Mei 2017) 87 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=1250 (diakses pada 29 Mei 2017) 88 Estonia Development Cooperation Database, https://rakendused.vm.ee/akta/andmed_vaata.php?id=587 (diakses pada 29 Mei 2017) 89 ibid. 44.

Gambar

Tabel 1. Tabel Operasionalisasi Konsep Aid Allocation Motives dalam Deer Leap  Programme Tahun 2005-2008……………………………………………………….27
Gambar 3. Neraca Ekspor Estonia ke Georgia
Gambar 4. Neraca Ekspor Georgia ke Estonia
Gambar 6. Georgia: Poverty Gap at National Poverty Lines

Referensi

Dokumen terkait