Kriteria Desain Vessel
Mata Kuliah: Perancangan Alat dan Proses
2
Program Studi Teknologi Bioproses
Departemen Teknik Kimia
Fakultas Teknik – Universitas Indonesia
Depok 2014
Analisis Tegangan (Stress Analysis)
•
ANALISIS TEGANGAN
adalah penentuan hubungan
antara gaya eksternal yang diterapkan pada bejana dan
tegangannya
•
Seorang perancang harus benar-benar memperhatikan:
–
Jenis beban, dan
–
Bagaimana beban itu berhubungan dengan bejana secara
keseluruhan
•
Apakah efeknya lama atau singkat?
3 Faktor Penting
•
Bagaimana tegangan-tegangan ini dipahami dan
digabungkan:
–
Apakah berpengaruh secara signifikan terhadap keselamatan
bejana
–
Berapakah tegangan maksimum yang diijinkan
Ditentukan oleh:
1. Teori kekuatan/kegagalan yang digunakan
2. Jenis dan kategori beban
Membrane Stress Analysis
•
Ketebalan dinding bejana adalah kecil sehingga dianggap
sebagai “membrane”
•
Tegangan yang ada pada bejana juga disebut “membrane
stress”
•
Ada tiga tegangan:
1. Tegangan longitudinal/meridional (
x)
2. Tegangan circumferential/latidudinal (
)
Kegagalan
Kriteria desain vessel/ bejana berhubungan dengan beberapa peristiwa yang
menyebabkan kegagalan pada perancangan alat khususnya vessel/ bejana.
Adapun penyebab kegagalan suatu vessel/ bejana adalah sebagai berikut:
Excessive elastic deformation
Elastic instability
Plastic instability
Brittle rupture
Creep
Corrosion
1. Excessive Elastic Deformation
Deformasi elastis adalah perubahan yang terjadi ketika sebuah material diberikan beban, dimana
ketika beban itu dilepas, material itu akan kembali ke bentuk semula. Pada bejana, hal ini bisa disebabkan oleh beban si bejana itu sendiri,
tekanan fluida masuk, gaya angin, dll
Jenis beban yang diujicobakan untuk mendesain bejana : tensile, compressive, shear, bending
a
P
f
a
P
f
Modulus Elastisitas
Merupakan perbandingan antara beban dan regangan
yang terjadi pada suatu material
Modulus elastis ini
merupakan parameter yang bisa digunakan untuk melihat ketahanan material
terhadap deformasi elastis.
E
f
Berikut ini beberapa nilai stress dan strain
dari beberapa bahan:
Pembengkokan suatu material memiliki hubungan proporsional dengan modulus elastis & momen inersia suatu
material.
Dengan kata lain, besarnya gaya yang
menyebabkan bengkoknya material
bernilai sama/ proporsional terhadap nilai modulus elastisitas
dan momen inersianya
2. Elastic Instability
Merupakan fenomena yang terjadi pada struktur yang memiliki
kekerasan yang lemah ketika ia dikenai perlakuan kompresi, pembengkokan, torsi atau
gabungan kondisi pembebanan. Bentuk dari material pada
fenomena ini menjadi berubah dikarenakan kekakuan material yang tidak mencukupi
Contoh : pembengkokan tabung silinder di bawah tekanan luar sebagai hasil dari operasi vakum.
Elas
tic
Ins
tability
Column Instability
Tipe paling sederhana dari instablitas
yang terjadi pada kolom disebabkan oleh
tekanan aksial dan tekanan end loaded
3. Plastic Instability
Hubungan
Stress-strain
Kurva yang digunakan untuk menentukan tekanan maksimum peralatan agar masih dalam batas elastisitas
materialnya agar tidak terjadi perubahan bentuk yang terjadi karena melewati yield point
Biasanya tensile test dilakuan sabagai dasar menentukan tekanan yang diizinkan .
Plastic Instability
Plas
tic
Ins
tability
Allowable Stress
Ditentukan oleh beberapa faktor yaitu:
• Akurasi dimana load dapat dihitung • Besar takanan dari load
• Kehomogenan material • Bahaya jika terjadi kegagalan •Fatigue
• Korosi
Satu alasan mengapa ultimate strength
digunakan sebagai kriteria untuk nilai
allowable stress kurangnya area yang alastis untuk material yang rapuh
4. Brittle Rupture
Penggunaan dari bahan besi baja yang kuat tetapi memiliki kelenturan yang kurang memungkinkan yang disebabkan karena adanya kerusakan (patah).
Disebabkan tegangan yang berlebihan pada suhu biasa (ambient) atau suhu rendah (sub freezing temp).
Low alloy steel (2¼ % Cr, 1 % Mo) sangat sensitif terhadap temper embrittlement. Temper embrittlement adalah hilangnya keuletan/ ductility dan notch/ material, karena post weld heat treatment atau suhu kerja yang tinggi di atas 700 °F (370°C). Jika tidak terjadi korosi maka kerusakan biasanya disebabkan oleh 2 faktor, yaitu:
• kepatahan karena perubahan bentuk (ductile rupture) • kepatahan karena bahan yang rapuh (brittle rupture)
Brittle Rupture
•
Notch Brittleness
Besi baja yang lembut biasanya memiliki keuletan
yang tinggi, tetapi material seperti ini dapat patah
tanpa ada tanda-tanda
plastic strain
karena adanya
retakan atau
notch
. Ini yang disebut dengan
notch
brittlenes.
Brittle Rupture
•
Repeated Cycling Loading
–
Kerusakan yang terjadi karena
fatigue
yang disebabkan oleh
Brittle Rupture
• Difusi hidrogen ke dalam besi baja pada tekanan dan temperatur yang tinggi
akibat disosiasi atom hidrogen menjadi monoatomik hidrogen
• Hidrogen bereaksi dengan C menjadi metan menyebabkan keretakan
• Tidak bersifat permanen karena ketika alat tersebut dimatikan untuk beberapa waktu maka hidrogen akan berdifusi keluar
Adapun
faktor
lain
penyebab
brittle
rupture
5. Creep
Creep T
es
t
Dilakukan untuk mempelajari creep characteristics dari sebuah material Sebuah tensile-test dilakuan pada axial-loads yang konstan padatemperatur yang konstan dalam sebuah elektrik furnace
Laju pada saat sempel memanjang dicatat sebagai fungsi tehadap temperatur dan terhadap load
Lama waktu pengujian tergantung terhadap kondisi yang diberikan dan terhadap jenis material yang diuji, ada yang berlangsung hanya beberapa jam
Creep
•
Creep Rupture Test
–
Test yang digunakan hampir sama dengan creep
test tetapi load yang digunakan jauh lebih besar
maka menghasilkan creep rate yang lebih besar
pula
K
or
osi
Korosi pada alat tergantung kepada material yagdigunakan
Ketika material yang digunakan dapat
menghasilkan lapisan tipis sebagai hasil oksidasi yang dapat melindungi material dari proses korosi
yang berkelanjutan maka alat tersebut dapat bertahan untuk waktu yang lama
Dengan pertimbangan yang matang dalam memilih material dan meningkatkan kondisi operasi maka korosi dapat dikurangi bahkan
Korosi
•
Uniform Corrosion
–
Tipe dari korosi ini terjadi pada larutan asam
(biasanya yang mengandung oksigen), pada air
dangan kandungan oksigen dan karbon dioksida
yang tinggi, dan pada larutan yang memilki
pelarut dari lapisan pelindung hasil korosi itu
sendiri (misalnya amonium hidroksida yag dapat
melarutkan lapisan hasil korosi dari copper alloy)
Korosi
•
Impingement Attack
–
Pada kondisi operasi normal daerah tertentu mungkin terekspos pada
media yang bersirkulasi dan memiliki kecepatan alir yang besar,
Korosi
•
Concentration Cell Attack
– Korosi dapat terjadi karena perbedaan aerasi yang
disebabkan oleh konsentrasi sel pada permukaan metal, pada kondisi operasi tertentu.
– Retakan, lapisan yang tidak sempurna, dapat
memerangkap liquid yang
dapat menyebabkan perbedan konsentrasi dari garam, ion, atau gas pada media sirkulasi.
Korosi
•
Galvanic-cell Attack
– Ketika metal dan alloy yang tidak sama dikontakkan pada medium dengan konduktivitas tinggi maka terjadi proses galvanik.
– Dari galvanic series dapat
diperkirakan kecenderungan dari metal atau alloy untuk membentuk galvanic cell dan dapat diperkirakan arah dari galvanic action
Korosi
•
Stress Corrosion
–
Sebagai hasil dari tekanan dan korosi yang
terus-menerus maka suatu alat dapat menjadi rusak
karena patah.
–
Ketika tekanan dikenakan dari luar maka
patahannya sering disebut dengan stress
corrosion crack
Kategori dan Jenis Beban
•
Kategori beban
–
Beban umum (
general loads
)
–
Beban local (
local loads
)
•
Jenis beban
–
Beban tunak/statik (steady loads)
Kategori Beban
General Loads
• Applied more or less continuously across a vessel section
1. Pressure loads-Internal or external pressure (design, operating, hydrotest and hydrostatic head of liquid).
2. Moment loads-Due to wind, seismic, erection, transportation.
3. Compressive/tensile loads-Due to dead weight, installed equipment, ladders, platforms, piping, and vessel contents.
4. Thermal loads-Hot box design of skirthead attachment
Local Loads
• Due to reactions from supports, internals, attached piping, attached equipment, i.e., platforms, mixers, etc. 1. Radial load-Inward or outward.
2. Shear load-Longitudinal or circumferential. 3. Torsional load. 4. Tangential load. 5. Moment load-Longitudinal or circumferential. 6. Thermal load
Jenis Beban
Steady load
•
Long-term duration, continuous.
1. Internal/external pressure.
2. Dead weight.
3. Vessel contents.
4. Loadings due to attached piping and
equipment.
5. Loadings to and from vessel supports.
6. Thermal loads.
7. Wind loads
Non-steady load
•
Short-term duration; variable
1. Shop and field hydrotests.
2. Earthquake.
3. Erection.
4. Transportation.
5. Upset, emergency.
6. Thermal loads.
Jenis Tegangan secara Umum
1. Tensile
2. Compressive
3. Shear
4. Bending
5. Bearing
6. Axial
7. Discontinuity
8. Membrane
9. Principal
10. Thermal
11. Tangential
12. Load induced
13. Strain induced
14. Circumferential
15. Longitudinal
16. Radial
17. Normal
Klasifikasi Tegangan
•
Primary stress
–
General:
•
Primary general membrane stress, P
m•
Primary general bending stress, P
b–
Primary local stress, P
L•
Secondary stress
–
Secondary membrane stress, Q
m–
Secondary bending stress, Q
bDISAIN BEJANA BERTEKANAN DIDASARKAN
PADA TEKANAN EKSTERNAL
Cylindrical Shells:
Open-ended Cylinder
Cylindrical Shells:
Cylindrical Shells:
With Stiffening Rings
Minimum Thickness
Design of vessels using equation 13.59 is not in accordance with the
ASME BPV Code, and hence can be used only for initial estimates
DESIGN OF VESSELS SUBJECT TO COMBINED
LOADING
1. Pressure;
2. Dead weight of vessel and contents;
3. Wind;
4. Earthquake (seismic);
Stresses in a cylindrical
shell under combined
loading
Allowable Stress Intensity
•
The maximum intensity of stress allowed will depend on the particular theory of
failure adopted in the design method (see Section 13.3.2). The maximum
shear-stress theory is normally used for pressure vessel design.
•
Using this criterion, the maximum stress intensity at any point is taken for design
purposes as the numerically greatest value of the following:
Compressive Stresses and Elastic Stability
•
A column design must be checked toensure that the maximum value of the resultant
axial stress does not exceed the critical value at which buckling will occur.
•
For a curved plate subjected to an axial compressive load, the critical buckling stress
cis given by (see Timoshenko, 1936)
For steels at ambient temperature EY = 200,000 N/mm2 , and equation 13.71 with
Weight Loads
1. The vessel shell;
2. The vessel fittings: manways, nozzles;
3. Internal fittings: plates (plus the fluid on the plates); heating and cooling
coils;
4. External fittings: ladders, platforms, piping;
5. Auxiliary equipment that is not self-supported; condensers, agitators;
6. Insulation;
7. The weight of liquid to fill the vessel. The vessel will be filled with water
for the hydraulic pressure test and may fill with process liquid due to
Wind Loads (Tall Vessels)
Where x is the distance
measured from the free end and W is the load per unit
Wind Loads (Tall Vessels)
Earthquake Loading
•
The movement of the earth’s surface during an earthquake produces horizontal
shear forces on tall, self-supported vessels, the magnitude of which increases from
the base upward.
•
The total shear force on the vessel will be given by
The term (ae/g) is called the seismic constant, Ce, and is a functionof thenatural period of vibration of the vessel and the severity of the earthquake