ANALISIS KINERJA CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY (CSR) BERDASARKAN
PENGUNGKAPAN TOPIK MATERIAL DALAM
LAPORAN KEBERLANJUTAN
(Studi Kasus pada PT Unilever Indonesia Tbk Tahun 2013-2018) SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi
Program Studi Akuntansi
Oleh:
Agnes Bertha Arintya Devi NIM: 162114105
PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
i
ANALISIS KINERJA CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY (CSR) BERDASARKAN
PENGUNGKAPAN TOPIK MATERIAL DALAM
LAPORAN KEBERLANJUTAN
(Studi Kasus pada PT Unilever Indonesia Tbk Tahun 2013-2018) SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi
Program Studi Akuntansi
Oleh:
Agnes Bertha Arintya Devi NIM: 162114105
PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
LEMBAR PERSEMBAHAN
“Whatever you ask for in prayer, believe that you have received it, and it will be yours”
Mark 11:24
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan
dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”
Pengkhotbah 3:11
Kupersembahkan untuk:
Tuhan Yesus
Bunda Maria
Bapak Gabriel Sapto Setyo Nugroho dan Ibu Fransiska Hariningsih
Kakakku Ludovicus Bram Alvian Nugroho
Mbah Yasto dan Mbah Satariyah
Mbah Koto dan Mbah Win
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ………... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………... ii
HALAMAN PENGESAHAN ……… iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ……… iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS …. v HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vi
HALAMAN KATA PENGANTAR ……….….……… vii
HALAMAN DAFTAR ISI ……….……… ix
HALAMAN DAFTAR TABEL ….……… xi
HALAMAN DAFTAR GAMBAR………. xii
ABSTRAK …….………..……… xiii
ABSTRACT ……… xiv
BAB I PENDAHULUAN ………... 1
A. Latar Belakang Masalah ………... 1
B. Batasan Penelitian………..………..… 7
C. Rumusan Masalah... 7
D. Tujuan Penelitian... 8
E. Manfaat Penelitian... 8
F. Sistematika Penulisan... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……… 10
A. Stakeholder Theory….………. 10
B. Legitimacy Theory………..…..……… 11
C.Corporate Social Responsibility (CSR).……….. .... 11
D.Kinerja……….. 12
E. Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)……… 13
F. GRI (Global Reporting Initiative) ……… 13
G. Topik Material……… 19
H. Proses Pemilihan Topik Material berdasarkan Standar 20 BAB III METODE PENELITIAN……… 29
A. Jenis Penelitian ……….…… 29
B. Subjek dan Objek Penelitian……….…… 29
C. Jenis Data dan Sumber Data………..…… 30
D. Teknik Pengumpulan Data ………. 30
E. Pengukuran Data……… 30
F. Teknik Analisis Data………..…… 32
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN……… 37
A. Sejarah Singkat Perusahaan……… 37
B. Perkembangan PT.Unilever Indonesia………..… 37
C. Visi dan Misi PT. Unilever Indonesia……… 39
D. Brand Unilever Indonesia………. 40
E. Kehidupan Berkelanjutan……….. 40
F. Laporan Keberlanjutan Perusahaan……… 43
x
A. Data Hasil Penelitian dan Pembahasan……… 45
BAB VI PENUTUP……… 111
A. Kesimpulan……… 118
B. Keterbatasan……… 119
C. Saran……… 119
xi
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1 Matriks Keberadaan Topik Material………. 31
xii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 Presentasi visual Aspek yang diprioritaskan... 22
Gambar 2 Reprensentasi visual dari penentuan prioritas topik... 28
Gambar 3 Kriteria Bidang yang Relevan ……….. 48
Gambar 4 Matriks Materialitas tahun 2013/2014……… 48
Gambar 5 Topik dalam Kriteria Bidang yang Relevan………. 49
Gambar 6 Matriks Materialitas 2017/2018……….. 52
Gambar 7 Matriks Materialitas 2017/2018- Isu dan Topik
“Improving Health and Well-Being”……...
53
Gambar 8 Matriks Materialitas 2017/2018- Isu dan Topik
“Reducing Environmental Impact”………
53
Gambar 9 Matriks Materialitas 2017/2018- Isu dan Topik "Enchaing Livelihoods"……….
54
Gambar 10 Matriks Materialitas 2017/2018- Isu dan Topik
"Responsible Bisiness Practices"………
54
Gambar 11 Matriks Materialitas 2017/2018- Isu dan Topik "Wider Sustainability Topics"………
xiii ABSTRAK
ANALISIS KINERJA CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) BERDASARKAN PENGUNGKAPAN TOPIK MATERIAL DALAM
LAPORAN KEBERLANJUTAN
(Studi Kasus pada PT Unilever Indonesia Tbk. Tahun 2013-2018) Agnes Bertha Arintya Devi
NIM: 162114105
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penentuan topik material dan kinerja CSR PT. Unilever Indonesia Tbk. berdasarkan pengungkapan topik material dalam Laporan Keberlanjutan yang berpedoman pada Standar G4 dan Standar GRI 2016.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data yang digunakan untuk penelitian yaitu data proses penentuan topik material dan data pengungkapan Topik Material dalam empat Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia Tbk. Penelitian ini menggunakan matriks Topik Material untuk mengidentifikasi keberadaan Topik Material dan melakukan Content Analysis dalam melakukan analisis data untuk menarik kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penentuan topik material tidak sesuai dengan Standar G4/GRI 2016. Di sisi lain, kinerja CSR berdasarkan pengungkapan Topik Material menunjukkan sembilan di antaranya mengalami peningkatan kinerja CSR, dua di antaranya menunjukkan penurunan, sepuluh di antaranya menunjukkan kinerja CSR yang tetap, dan satu topik material menunjukkan kinerja CSR yang mengalami peningkatan dan penurunan.
xiv ABSTRACT
ANALYSIS OF CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PERFORMANCE BASED ON DISCLOSURE OF MATERIAL TOPIC IN
SUSTAINABILITY REPORT
(Case Study at PT Unilever Indonesia Tbk. 2013-2018)
Agnes Bertha Arintya Devi NIM: 162114105
This study aims to determine the process of determining the material topic and CSR performance of PT. Unilever Indonesia Tbk. based on material topic disclosures in the Sustainability Report which is guided by the G4 Standards and the 2016 GRI Standards.
Type of this research is a qualitative descriptive study. The data used for the research were data on the process of determining material topics and data on the disclosure of material topics in the four Sustainability Reports of PT. Unilever Indonesia Tbk. This study uses a material topic matrix to identify the existence of material topics and conducts content analysis in analyzing data to draw conclusions.
The result showed that the process of determining material topics was not in accordance with the 2016 G4 / GRI Standards. On the other hand, the CSR performance based on disclosure of material topics showed that nine of them was increased, two of them showed a decrease, ten of them showed a steady CSR performance, and one material topic showed an increase and decrease in CSR performance.
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Siapa yang tidak mengenal PT. Unilever Indonesia? PT. Unilever Indonesia adalah salah satu perusahaan besar di Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari Unilever. PT. Unilever Indonesia memproduksi makanan, minuman, pembersih, olesan makanan dan juga keperluan untuk perawatan tubuh. Nama PT. Unilever Indonesia sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia dikarenakan banyak sekali produk-produk dari perusahaan ini yang digunakan masyarakat sehari-hari. Produk-produk dari perusahaan ini sebagian besar dikemas menggunakan plastik, mulai dari produk yang dikemas menggunakan botol plastik hingga kemasan isi ulang dan produk sachet. Semua produk dari PT. Unilever Indonesia didistribusikan ke seluruh Indonesia dengan distributor lebih dari seribu. Dapat dibayangkan berapa banyak sampah plastik yang dapat merusak lingkungan. Hal ini juga dilihat dari fungsi produk yang hampir setiap hari digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Selain itu, beberapa produk mengandung bahan kimia yang dapat merusak lingkungan. Dalam Peraturan Pemerintah No.47 Tahun 2012, pemerintah menegaskan peraturan bahwa Perseroan Terbatas (PT) diwajibkan untuk bertanggungjawab terhadap lingkungan dan sosial. Supaya produk-produk
yang dihasilkan oleh perusahaan seperti PT. Unilever ini tetap dapat diterima oleh masyarakat dan operasi perusahaan tetap dapat berlanjut, maka suatu perusahaan harus menunjukkan kinerja pertanggungjawabannya terhadap sosial dan lingkungan. Menurut Astuti (2013), Kinerja (Performance) merupakan suatu pencapaian persyaratan pekerjaan tertentu yang akhirnya secara nyata dapat dilihat dari hasil yang keluar. Salah satu cara menunjukkan kinerja pertanggungjawaban terhadap sosial dan lingkungan adalah dengan membuat Corporate Social
Responsibility (CSR). Untung (2014:1) mengatakan CSR merupakan
bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungannya bagi kepedulian sosial maupun tanggung jawab lingkungan. Dapat disimpulkan bahwa kinerja CSR adalah suatu pencapaian perusahaan atas pertanggungjawabannya terhadap sosial dan lingkungan yang dapat dilihat dari hasil yang dikeluarkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan untuk menunjukkan kinerja CSR-nya yaitu dengan membuat dan mempublikasikan Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report).
Perusahaan-perusahaan yang biasanya membuat laporan keberlanjutan adalah perusahaan tambang dan manufaktur, yang dalam kegiatan produksinya menghasilkan limbah berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, perusahaan sejenis manufaktur dan tambang biasanya menggunakan bahan baku yang berasal dari alam. Apabila penggunaannya tidak dibatasi dan tidak diawasi serta tidak adanya laporan atas kegiatan tersebut, maka hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada alam. Laporan
keberlanjutan juga berguna bagi citra perusahaan untuk menunjukkan transparansi kepada pemangku kepentingan perusahaan dan kepercayaan kepada masyarakat terutama konsumen. Kepercayaan para pemangku kepentingan dan calon investor menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan. Oleh sebab itu suatu perusahaan harus dapat melaporkan pertanggungjawabannya terhadap keberlanjutan lingkungan sosial dan lingkungan alam yang dapat memengaruhi keberlanjutan perusahaan.
Salah satu standar yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam membuat pelaporan pertanggungjawabannya terhadap sosial dan lingkungan yaitu Standar GRI (Global Reporting Initiative). Standar GRI dikeluarkan oleh Global Sustainability Standards Board (GSBB). Dalam Laporan Keberlanjutan yang berpedoman pada Standar GRI, terdapat topik-topik yang mencerminkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan dari organisasi atau perusahaan yang disebut sebagai topik material. Penting bagi perusahaan untuk menentukan topik materialnya karena topik material tersebut menunjukkan dampak yang signifikan dari organisasi. Perusahaan yang ingin membuat laporan keberlanjutan, dapat melihat Standar GRI untuk mengetahui langkah dalam menentukan topik materialnya.
PT. Unilever Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang membuat laporan keberlanjutan menggunakan Standar GRI. Hingga tahun 2018, PT. Unilever Indonesia sudah membuat tujuh laporan keberlanjutan berdasarkan Panduan Standar GRI. Menurut hasil pencarian pada website
PT. Unilever Indonesia, hanya terdapat empat Laporan Keberlanjutan yaitu Laporan Keberlanjutan periode 2013/2014, 2015/2016, 2017, dan Laporan Keberlanjutan periode 2018. Dilansir dari website resminya, PT. Unilever Indonesia mendapat beberapa penghargaan atas program CSR-nya di tahun 2016 yaitu tiga penghargaan dalam ajang CECT (Center for
Entrepreneurship, Change and Third Sector) CSR Awards antara lain
Special Achievement - Creating Sustainable Partnership: Community Enterprise; CSR Performance in Each Fundamental Aspect: Community
Development; dan CSR Performance Based on Overall Fundamental
Aspects. CECT (Center for Entrepreneurship, Change and Third Sector) merupakan pusat studi dibawah Universitas Trisakti. Selain itu, CECT berfungsi sebagai konsultan CSR di Jakarta. CECT CSR Awards memiliki tujuan utama yaitu mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang memiliki kinerja CSR yang baik berdasarkan ISO 26000, yaitu standar panduan CSR. Namun penghargaan atas penerapan laporan keberlanjutan berdasarkan GRI belum didapatkan oleh PT. Unilever.
Pada kenyataannya, kondisi alam tidak sesuai dengan banyaknya penghargaan yang didapat. Bulan Oktober 2018, Greenpeace muncul dengan berita yang menghebohkan masyarakat terutama bagi perusahaan besar di Indonesia yang terseret namanya. Greenpeace Indonesia mengeluarkan hasil survei mereka yang dilakukan pada 3 pantai di Indonesia yaitu Pantai Pandansari di Yogyakarta, Pantai Mertasari di Bali, dan Pantai Cituis di Tangerang. Dalam hasil surveinya, Greenpeace
menyatakan bahwa mereka menemukan lebih dari 700 merek sampah plastik, yang mana nama Unilever termasuk dalam nama perusahaan dengan sampah plastik terbanyak. Hal tersebut menjadi pukulan besar bagi PT. Unilever Indonesia, pasalnya pemberitaan tersebut membuat nama perusahaan menjadi buruk di mata masyarakat. Menariknya, setelah kejadian tersebut, PT. Unilever Indonesia langsung mengambil tindakan cepat dan mengeluarkan komitmen melalui website resmi mereka untuk memangkas penggunaan virgin plastic dalam kemasan produk mereka hingga separuhnya. Selain itu perusahaan juga berkomitmen akan mengumpulkan dan memproses lebih banyak kemasan plastik produk mereka dari pada yang mereka jual paling lambat tahun 2025. Selanjutnya, mereka menyatakan komitmen menguatkan inovasi mereka dengan membuat kemasan isi ulang. Tindakan dan keputusan dari pihak perusahaan atas pemberitaan yang negatif sangat penting dilakukan untuk tetap menjaga nama baik perusahaan dan tetap mendapat kepercayaan dari konsumen.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik dengan tindakan yang dilakukan oleh PT. Unilever Indonesia dalam menunjukkan pertanggungjawaban mereka. Dan menurut Standar G4/GRI 2016, stakeholder memerlukan suatu keterbandingan untuk mengevaluasi kinerja dengan membandingkan informasi kinerja ekonomi, lingkungan dan sosial organisasi saat ini terhadap organisasi masa lalu. Oleh sebab itu, penulis ingin mengetahui seperti apa kinerja CSR PT. Unilever Indonesia dilihat
dari Laporan Keberlanjutan dari PT. Unilever Indonesia tahun 2013 hingga 2018 berdasarkan Standar G4 dan Standar GRI. Penulis tertarik melakukan penelitian ini karena menurut penulis perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang besar dan selalu berinovasi untuk mengembangkan produknya, namun kegiatan operasi maupun produk perusahaan ini juga menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Penulis ingin mengetahui seperti apa pertanggungjawaban dari PT. Unilever Indonesia terhadap sosial dan lingkungan dilihat dari pengungkapan topik material sosial dan lingkungan yang ada di dalam Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia. Setelah mengetahui kinerja pertanggungjawaban sosial dan lingkungan (CSR) yang dilakukan PT. Unilever Indonesia berdasarkan pengungkapan Topik Material dalam Laporan Keberlanjutan, penulis dan pembaca maupun stakeholder dapat mengetahui kinerja CSR PT. Unilever dari tahun 2013 hingga tahun 2018 yang didalamnya memuat dampak yang ditimbulkan perusahaan dan penanganan yang dilakukan perusahaan dari tahun ke tahun. Selanjutnya apabila pembaca merasa kinerja CSR perusahaan tidak menunjukkan peningkatan atau cenderung merugikan, maka pembaca dapat mengajukan tuntutan pertanggungjawaban yang lebih kepada perusahaan atau dapat melaporkan hal tersebut kepada pemerintah. Dengan mengetahui kinerja CSR PT. Unilever, Pemangku kepentingan dapat menjadikannya sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk mendukung atau menolak perusahaan untuk beroperasi. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis
Kinerja Corporate Social Responsibility (CSR) Berdasarkan Pengungkapan Topik Material dalam Laporan Keberlanjutan (Studi Kasus pada PT Unilever Indonesia Tbk Tahun 2013-2018)”
B. Batasan Penelitian
Batasan penelitian ini yaitu melihat dan melakukan analisis terhadap pengungkapan Topik Material dengan lingkup topik sosial dan lingkungan yang berada di Laporan Keberlanjutan yang diterbitkan oleh PT. Unilever Indonesia tahun 2013 hingga 2018 dalam laporan yang berpedoman pada Standar G4 dan Standar GRI 2016. Topik dengan lingkup ekonomi tidak dibahas karena disesuaikan dengan CSR yang menunjukkan hanya pertanggungjawaban terhadap lingkungan dan sosial. Laporan Keberlanjutan yang menggunakan Standar G4 digunakan perusahaan untuk membuat dua Laporan Keberlanjutan, yaitu laporan periode tahun 2013-2014 dan 2015-2016, sedangkan Laporan Keberlanjutan yang menggunakan Standar GRI 2016 yaitu laporan periode tahun 2017 dan 2018.
C. Rumusan Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana proses penentuan topik material yang dilaporkan dalam Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia tahun 2013-2018? 2. Bagaimana kinerja CSR PT. Unilever Indonesia berdasarkan
pengungkapan topik material dalam laporan keberlanjutan perusahaan dari tahun 2013-2018?
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui proses penentuan topik material yang dilaporkan dalam Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia tahun 2013-2018 2. Untuk mengetahui kinerja CSR PT. Unilever Indonesia berdasarkan pengungkapan topik material dalam Laporan Keberlanjutan perusahaan dari tahun 2013-2018
E. Manfaat Penelitian
1. Akademisi
Dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya yang terkait dengan laporan keberlanjutan
2. Perusahaan
Sebagai acuan untuk meningkatkan kinerja CSR untuk tahun selanjutnya yang berdasarkan pada Standar GRI.
3. Masyarakat
Sebagai tambahan pengetahuan masyarakat, bahwa sekarang ini kegiatan perusahaan diawasi oleh banyak pihak termasuk masyarakat yang dapat ikut andil didalamnya.
F. Sistematika Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi mengenai latar belakang, batasan penelitian, rumusan pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II TINJUAN PUSTAKA
Bab ini berisi mengenai teori-teori yang digunakan untuk mendukung penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini berisi penjelasan mengenai jenis penelitian, subjek dan objek penelitian, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data, pengukuran data, dan teknik analisis data. BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Isi pada bab ini mengenai gambaran umum dari subjek yang digunakan dalam penelitian.
BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi mengenai pembahasan analisis data sesuai dengan temuan pada Laporan Keberlanjutan
BAB VI PENUTUP
Bab ini berisi mengenai kesimpulan dari penelitian yang menjawab pertanyaan penelitian, keterbatasan penelitian, serta saran untuk perusahaan yang membuat Laporan Keberlanjutan, pemerintah dan penelitian selanjutnya.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Stakeholder Theory
Pemangku kepentingan (Stakeholder) adalah setiap kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan perusahaan (Freeman et al., 1984). Gagasan pemangku kepentingan dapat digunakan baik sebagai konsep untuk analisis organisasi dan sebagai prinsip manajemen untuk organisasi (Maria Bonnafous-Boucher, 2005). Stakeholder termasuk karyawan, pelanggan, pemasok, pemegang saham, bank, pencinta lingkungan, pemerintah dan kelompok lain yang dapat membantu atau merugikan korporasi (Freeman et al., 1984)
Teori ini mendukung implementasi CSR dalam perusahaan, yang mana perusahaan tidak hanya mementingkan laba tetapi juga hubungan serta tanggung jawab dengan pemegang kepentingan, terutama masyarakat yang berhubungan langsung dengan perusahaan atau yang terkena dampak dari aktivitas perusahaan. Teori ini dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa CSR suatu perusahaan harus bertanggungjawab kepada sosial dan lingkungan terutama yang berhubungan langsung dengan perusahaan atau yang terkena dampak kegiatan perusahaan.
B. Legitimacy Theory
Teori legitimasi lebih berfokus kepada hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Octaviana (2014) menyatakan “perusahaan dalam menjalankan kontrak sosial lingkungan perusahaan juga harus memperhatikan norma-norma yang ada di lingkungan masyarakat agar selaras dengan nilai-nilai sosial yang ada”.
Menurut teori ini, perusahaan dalam melakukan segala kegiatan operasinya harus sesuai dengan nilai sosial masyarakat. Legitimasi digunakan perusahaan untuk menunjukkan pertanggungjawabannya terhadap sosial dan lingkungan sesuai dengan norma yang berlaku pada masyarakat. Maka, CSR digunakan perusahaan untuk mendapat legitimasi dari masyarakat dengan program-program kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan.
C. Corporate Social Responsibility (CSR)
CSR seperti yang didefinisikan oleh Komisi Eropa (2001) dalam Mardikanto (2014) adalah sebuah konsep dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dan lingkungan dalam operasi bisnis dan dalam interaksi dengan para pemangku kepentingan secara sukarela, yang kemudian semakin menyadarkan bahwa perilaku bertanggungjawab mengarah pada keberhasilan yang berkelanjutan. Corporate Social Responsibility menurut Untung (2014:3) merupakan suatu komitmen berkelanjutan dari dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas. Dewasa ini, definisi Corporate Social Responsibility (CSR)
masih belum ada satu pun yang diakui secara global, karena definisi CSR dan komponen CSR dapat berbeda-beda di negara-negara atau daerah yang lain, namun umumnya CSR berbicara hubungan antara perusahaan dan stakeholder yang di dalamnya terdapat nilai-nilai pemenuhan ketentuan hukum, maupun penghargaan terhadap masyarakat dan lingkungan, serta komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan (Mardikanto, 2014).
Dari pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan usaha perusahaan dalam menunjukkan tindakan etisnya atas kepedulian perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan serta menunjukkan partisipasi perusahaan dalam pembangunan yang berkelanjutan.
D. Kinerja
Kinerja adalah hasil yang didapatkan oleh suatu organisasi tersebut bersifat profit oriented dan non profit oriented yang dihasilkan selama satu periode waktu (Fahmi,2010). Kinerja dapat diketahui hanya jika individu atau kelompok individu tersebut mempunyai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan (Mahsun,2006)
Dari pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil yang diperoleh atas pencapaian keberhasilan selama satu periode tertentu berdasarkan kriteria yang telah di tetapkan. Hal ini
mempunyai kesinambungan dengan CSR yang kinerjanya tentukan berdasarkan topik material dalam laporan keberlanjutan sebagai kriterianya.
E. Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)
Seperti yang dijelaskan pada website GRI, Sustainability Report atau Laporan Keberlanjutan adalah laporan yang diterbitkan oleh perusahaan atau organisasi tentang dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial yang disebabkan oleh kegiatan sehari-harinya. Laporan Keberlanjutan dibuat oleh perusahaan yang ingin melaporkan pertanggungjawabannya terhadap lingkungan dan sosial. Biasanya, perusahaan yang menerbitkan Laporan Keberlanjutan adalah perusahaan tambang dan manufaktur yang kegiatan utamanya mengolah bahan baku dari alam. Dalam membuat Laporan Keberlanjutan, perusahaan dapat meminta bantuan ahli ataupun membuat tim sendiri.
F. GRI (Global Reporting Initiative)
Berdasarkan website GRI, Global Reporting Initiative (GRI) merupakan organisasi independen internasional yang membantu bisnis dan organisasi lain bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan, dengan menyediakan Bahasa umum global untuk melaporkan dampak tersebut. Standar GRI dikeluarkan oleh Global Sustainability Standard Board (GSBB). Pelaporan keberlanjutan menurut Standar GRI 2016 adalah praktik pelaporan organisasi secara transparan mengenai dampak ekonomi, lingkungan, dan/atau sosialnya, dan karena itu juga termasuk kontribusinya (positif atau negatif) terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Menurut National
Center for Sustainability Reporting (NCSR), laporan keberlanjutan berdasarkan Standar GRI dapat digunakan untuk mengukur kinerja organisasi sehubungan dengan undang-undang, norma, kode, standar kinerja dan inisiatif sukarela; menunjukkan komitmen organisasi terhadap pembangunan berkelanjutan dan membandingkan kinerja organisasi dari waktu ke waktu. Berdasarkan sejarah yang dimuat dalam website GRI, versi pertama dari Standar GRI yang diterbitkan yaitu Pedoman GRI (G1) pada tahun 2002, kemudian terjadi pembaharuan menjadi Pedoman (G2). Dikarenakan permintaan untuk pelaporan GRI terus tumbuh, pedoman diperluas dan ditingkatkan mengarah ke G3 (2006) dan kemudian ke G4 hingga pada tahun 2016 mengeluarkan standar dengan nama Standar GRI atau GRI 2016. Berikut pengungkapan Standar G4 dan GRI 2016:
1. Pengungkapan Standar G4
a. Pengungkapan Standar Umum 1) Strategis dan Analisis 2) Profil Organisasi
3) Aspek Material dan Boundary Teridentifikasi 4) Keterlibatan Pemangku Kepentingan
5) Profil Laporan 6) Tata Kelola
7) Etika dan Integritas b. Pengungkapan Standar Khusus
Dalam standar khusus ini perusahaan harus mengungkapkan pendekatan manajemen dan indikator-indikator aspek material. Pengungkapan pendekatan manajemen berisi penjelasan organisasi terhadap pengelolaan dampak ekonomi, lingkungan dan sosial yang berkaitan dengan Aspek Material, sedangkan indikator memberikan informasi tentang kinerja atau dampak di bidang ekonomi, lingkungan dan sosial dari suatu organisasi terkait dengan Aspek Material. Berikut indikator-indikator dalam pengungkapan Standar Khusus:
1) Kategori: Ekonomi a) Kinerja Ekonomi b) Keberadaan di Pasar
c) Dampak Ekonomi Tidak Langsung d) Praktik Pengadaan 2) Kategori: Lingkungan a) Bahan b) Energi c) Air d) Keanekaragaman hayati e) Emisi
f) Efluen dan Limbah g) Produk dan Jasa h) Kepatuhan
i) Transportasi j) Lain-lain
k) Asesmen Pemasok atas Lingkungan
l) Mekanisme Pengaduan Masalah Lingkungan
3) Kategori: Sosial
a) Sub-Kategori: Praktik Tenaga Kerja dan Pekerjaan yang Layak
Terdapat beberapa topik dalam Sub-Kategori ini, yaitu Kepegawaian, Hubungan Industrial, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Pelatihan dan Pendidikan, Keberagamaan dan Kesetaraan Peluang, Kesetaraan Remunerasi Perempuan dan Laki-laki, Asesmen Pemasok atas Praktik Ketenagakerjaan, Mekanisme Pengaduan Masalah Ketenagakerjaan
b) Sub-Kategori: Hak Asasi Manusia
Sub-Kategori ini memuat topik, antara lain; Investasi, Non-diskriminasi, Kebebasan Berserikat dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), Pekerja Anak, Pekerja Paksa atau Wajib Kerja, Praktik Pengamanan, Hak Adat, Asesmen, Asesmen Pemasok atas Hak Asasi Manusia, Mekanisme Pengaduan Masalah Hak Asasi Manusia
Sub-Kategori ini memuat topik, antara lain; Masyarakat Lokal, Anti-korupsi, Kebijakan Publik, Anti-persaingan, Kepatuhan, Asesmen Pemasok atas Dampak terhadap Masyarakat, Mekanisme Pengaduan Dampak terhadap Masyarakat
d) Sub-kategori: Tanggung Jawab Produk
Sub-Kategori ini memuat topik, antara lain; Kesehatan dan Keselamatan Pelanggan, Pelabelan Produk dan Jasa, Komunikasi Pemasaran, Privasi Pelanggan, Kepatuhan
2. Pengungkapan Standar GRI
Terdapat 2 pengungkapan dalam Standar GRI, yaitu Standar Universal dan Standar Topik Spesifik. Berikut isi untuk setiap pengungkapan:
a. Standar Universal 1) GRI 101: Landasan
2) GRI 102: Pengungkapan Umum 3) GRI 103: Pendekatan Manajemen b. Standar topik spesifik
1) GRI 200: Ekonomi a) 200: Ekonomi
b) 201: Kinerja Ekonomi c) 202: Keberadaan Pasar
d) 203: Dampak Ekonomi Tidak Langsung e) 204: Praktik Pengadaan f) 205: Anti-korupsi g) 206: Perilaku Anti-persaingan 2) GRI 300: Lingkungan a) 301: Material b) 302: Energi c) 303: Air d) 304: Keanekaragaman Hayati e) 305: Emisi
f) 306: Air Limbah (efluen) dan Limbah g) 307: Kepatuhan Lingkungan
h) 308: Penilaian Lingkungan Pemasok 3) GRI 400: Sosial
a) 401: Kepegawaian
b) 402: Hubungan Tenaga Kerja/Manajemen c) 403: Kesehatan dan Keselamatan Kerja d) 404: Pelatihan dan Pendidikan
e) 405: Keanekaragaman dan Kesempatan Setara f) 406: Non-diskriminasi
g) 407: Kebebasan Berserikat dan Perundingan Kolektif h) 408: Pekerja Anak
j) 410: Praktik Keamanan
k) 411: Hak-Hak Masyarakat Adat l) 412: Penilaian Hak Asasi Manusia m) 413: Masyarakat Lokal
n) 414: Penilaian Sosial Pemasok o) 415: Kebijakan Publik
p) 416: Kesehatan dan Keselamatan Pelanggan q) 417: Pemasaran dan Pelabelan
r) 418: Privasi Pelanggan
s) 419: Kepatuhan Sosial Ekonomi
G. Topik Material
Menurut Standar GRI 2016, topik material adalah topik yang menunjukkan dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial yang signifikan dari organisasi. sedangkan di dalam GRI G4 topik material disebut sebagai aspek materi, yang artinya adalah aspek-aspek yang mencerminkan dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial yang signifikan dari organisasi; atau dapat memengaruhi secara substantif asesmen dan keputusan pemangku kepentingan. Meskipun berbeda dalam pendefinisiannya, namun topik material dan aspek material mempunyai arti yang sama.
Membahas topik material dalam Laporan Keberlanjutan berturut-turut tiap tahun sangat baik dilakukan untuk melihat konsistensi suatu perusahaan dalam melaporkan dampak positif maupun negatif dari kegiatan operasi
perusahaannya. Dengan melihat topik material berturut-turut setiap tahunnya, para pemangku kepentingan dapat menilai kinerja perusahaan dan bisa menjadikan hal tersebut sebagai salah satu dasar keputusan yang akan diambil oleh pemangku kepentingan untuk mendukung atau tidak mendukung perusahaan dalam melanjutkan kegiatan operasinya. Selain itu, topik material yang diungkapkan berturut-turut dapat menunjukkan keseriusan perusahaan dalam kepeduliannya terhadap keadaan sosial, lingkungan, dan ekonomi.
H. Proses Pemilihan Topik Material berdasarkan Standar G4 dan Standar
GRI 2016
Dalam menentukan topik material yang akan digunakan perusahaan dalam laporan keberlanjutannya, perusahaan harus menentukan topik material sesuai dengan standar. Berikut proses pemilihan topik material berdasarkan Standar G4 dan Standar GRI 2016:
1) Proses Pemilihan Topik Material Berdasar Standar G4
Menurut Panduan Penerapan Standar G4, terdapat empat langkah untuk menentukan topik material berdasarkan Standar G4 yang dapat dilakukan oleh perusahaan yang ingin membuat laporan keberlanjutan. Berikut empat langkah tersebut:
a) Langkah 1: Identifikasi
Dalam langkah ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu mengidentifikasi topik yang relevan, dan menentukan Boundary (lokasi terjadinya topik material) untuk topik yang relevan.
Bagian pertama yaitu mengidentifikasi topik yang relevan. Menurut Standar G4, topik yang relevan adalah topik yang sewajarnya dianggap penting yang mencerminkan dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial organisasi; atau memengaruhi asesmen dan keputusan pemangku kepentingan. pelaksanaan identifikasi topik uang relevan dilakukan dengan mempertimbangkan dampak yang terkait dengan semua kegiatan, produk, layangan, dan hubungan organisasi, terlepas dari terjadinya dampak tersebut diluar atau didalam organisasi.
Bagian kedua yaitu menentukan Boundary (lokasi terjadinya topik material) untuk topik yang relevan. Boundary merujuk pada penjelasan mengenai di mana suatu dampak terjadi pada setiap Apek Material. Dalam menentukan Boundary, organisasi harus mempertimbangkan dampak di dalam dan di luar organisasi.
b) Langkah 2: Prioritasi
Langkah selanjutnya dalam menentukan konten laporan adalah Prioritasi Aspek dan topik relevan lainnya, dimulai dari mengidentifikasi hal-hal yang material dan akan dilaporkan. Prioritas harus berdasarkan pada Prinsip Materialitas dan Pelibatan Pemangku Kepentingan. Perusahaan harus mempertimbangkan tingkat signifikansi aspek dan topik relevan terhadap dampak ekonomi, lingkungan dan sosial atau pengaruh substantifnya terhadap asesmen dan keputusan para pemangku kepentingan. Dalam definisi Prinsip
Materialitas, laporan harus mencangkup aspek yang mencerminkan dampak ekonomi, lingkungan dan sosial yang signifikan dari organisasi, atau secara substansial memengaruhi asesmen dan keputusan pemangku kepentingan. kemudian, perusahaan harus menganalisis mengenai „pengaruh pada asesmen dan keputusan pemangku kepentingan‟ dan „signifikansi dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial organisasi‟. Sifat dari dampak dan aspek
Boundary organisasi dipertimbangkan saat menentukan fokus
geografis suatu keterlibatan. Setelah melakukan analisis tersebut, perusahaan bisa mengidentifikasi aspek berdasarkan kedua sudut pandang tersebut. Perusahaan selanjutnya menetapkan nilai ambang (kriteria) yang membuat suatu aspek material menjadi penting. Penetapan tersebut dilakukan dengan diskusi, analisis kualitatif, dan asesmen kuantitatif untuk memahami seberapa signifikansi sebuah aspek. Dalam menentukan nilai ambang, perusahaan harus menetapkan bagaimana menjelaskan aspek yang lebih penting daripada aspek lain pada sebuah sudut pandang. Berikut gambaran visual proses identifikasi ini:
Gambar I: Presentasi visual aspek yang diprioritaskan Sumber: Standar G4
Area diantara dua sumbu menyertakan aspek yang diidentifikasi selama langkah identifikasi. Dalam grafik tersebut, aspek ditempatkan sehubungan dengan „Pengaruh pada asisten dan keputusan pemangku kepentingan‟ dan „Signifikansi dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial organisasi‟. Semua aspek dalam grafik tersebut harus dipertimbangkan dalam langkah prioritas. Perusahaan juga harus mempertimbangkan tingkat cakupan. Tingkat cakupan ini merujuk pada seberapa bagus, seberapa banyak jumlah data, dan penjelasan naratif yang diungkapkan oleh organisasi pada aspek material. Pada akhir langkah prioritas,
perusahaan memiliki daftar semua aspek material yang akan disertakan dalam laporan, bersama dengan Boundary dan tingkat cakupannya.
c) Langkah 3: Validasi-Ikhtisar
Pada langkah ini dilakukan asesmen pada semua Aspek Material yang teridentifikasi terhadap Prinsip Kelengkapan sebelum mengumpulkan informasi yang akan dilaporkan. Langkah Validasi ini meliputi asesmen Aspek Material terhadap; Cakupan, apek Boundary, dan waktu. Validasi dilakukan dengan tujuan untuk memastikan laporan memberikan representatif yang wajar dan seimbang mengenai kinerja keberlanjutan organisasi, termasuk dampak positif dan negatifnya. Prinsip Kelengkapan dan Pelibatan Pemangku Kepentingan diterapkan pada langkah ini untuk memfinalisasi proses identifikasi konten laporan. Penting untuk daftar Aspek Material teridentifikasi disetujui terlebih dahulu oleh pembuat keputusan senior internal yang relevan di organisasi. Setelah daftar Aspek Material yang teridentifikasi disetujui, Aspek Material yang teridentifikasi harus diterjemahkan menjadi Pengungkapan Standar untuk dilaporkan. Setelah langkah Validasi, perusahaan mengumpulkan semua informasi yang akan dilaporkan atas setiap Apek Material, dan menyusun laporan akhir.
Terakhir, setelah laporan diterbitkan, organisasi harus melakukan reviu terhadap laporannya. Reviu ini dilakukan saat organisasi sedang menyiapkan siklus pelaporan berikutnya. Reviu berfokus tidak hanya pada Aspek Material dalam periode pelaporan sebelumnya tetapi juga mempertimbangkan kembali Prinsip Pelibatan Pemangku Kepentingan dan Konteks Keberlanjutan. Temuan-temuan dari kegiatan ini akan memberikan informasi dan masukan bagi Langkah Identifikasi pada siklus pelaporan berikutnya.
2) Proses Pemilihan Topik Material Berdasarkan Standar GRI
2016
Berdasarkan pada Standar GRI 2016 bagian „Mengidentifikasi topik material dan Batasannya‟, organisasi atau perusahaan yang ingin melaporkan Laporan Keberlanjutan harus mengidentifikasi topik materialnya menggunakan Prinsip-prinsip pelaporan untuk menentukan isi laporan, yaitu Prinsip Inklusifitas Pemangku Kepentingan, Konteks Keberlanjutan, Materialitas, dan Prinsip Kelengkapan. Topik material adalah topik yang telah diprioritaskan organisasi. Penetapan prioritas menurut standar ini dilakukan menggunakan prinsip-prinsip Inklusifitas Pemangku Kepentingan dan Materialitas. Prinsip Materialitas menentukan topik material berdasarkan dua dimensi yaitu pentingnya dampak ekonomi, lingkungan sosial organisasi dan pengaruh substansial
dampak-dampak itu terhadap penilaian dan keputusan para pemangku kepentingan. Menurut standar ini, langkah pertama dalam menentukan topik material yaitu perusahaan pelapor disarankan untuk berkonsultasi dengan Pengungkapan Sektor yang relevan, jika tersedia, untuk membantu dalam mengidentifikasi topik materialnya dengan tidak menggantikan pengaplikasian Prinsip-prinsip Pelaporan untuk menentukan isi laporan. Langkah selanjutnya yaitu menghubungkan topik material yang diidentifikasi dengan Standar GRI mengacu pada subjek ekonomi, lingkungan dan sosial yang lebih luas seperti Dampak Ekonomi Tak Langsung, Air, atau Pekerjaan. Apabila identifikasi topik material suatu perusahaan tidak sesuai dengan Standar topik spesifik yang ada, dan jika topik materialnya mirip dengan salah satu Standar topik yang ada atau dapat dianggap berkaitan, maka organisasi diharapkan untuk menggunakan standar itu untuk melaporkan topik tersebut. Langkah terakhir yaitu melaporkan Batasan (Boundary) untuk setiap topik material. Batasan topik dideskripsikan sebagai lokasi terjadinya dampak untuk topik material, dan keterlibatan organisasi dengan dampak-dampak tersebut. Suatu organisasi atau perusahaan yang ingin mempersiapkan Laporan Keberlanjutan menggunakan Standar GRI ini diharapkan tidak hanya melaporkan dampak yang disebabkan saja, tetapi juga dampak yang muncul karena kontribusi organisasi,
serta dampak yang terhubung langsung dengan aktivitas, produk, atau jasa/layanannya melalui hubungan bisnis. Dalam konteks Standar GRI ini, hubungan bisnis suatu organisasi atau perusahaan dapat mencangkup hubungan dengan mitra bisnis, entitas dalam rantai nilainya, dan semua badan Negara atau bukan Negara yang terhubung langsung dengan operasi bisnis, produk atau jasa/layanannya.
Menurut Standar GRI 2016 pada bagian pengujian Materialitas, organisasi pelapor harus memperhitungkan beberapa faktor dalam menentukan topik material. Berikut faktor-faktor yang diperhitungkan dalam menentukan topik material; dampak ekonomi, lingkungan, dan/atau sosial yang penting (seperti perubahan iklim, HIV-AIDS, atau kemiskinan) yang sudah diidentifikasi melalui penyelidikan yang kukuh oleh orang-orang dengan keahlian yang diakui, atau oleh badan-badan ahli mandat yang diakui; kepentingan dan harapan para pemangku kepentingan yang secara khusus diinvestasikan dalam organisasi, seperti karyawan dan pemegang saham; kepentingan ekonomi, sosial, dan/atau lingkungan yang lebih luas, serta topik-topik yang dikemukakan oleh para pemangku kepentingan seperti pekerja yang bukan karyawan, pemasok, masyarakat setempat, kelompok rentan, dan masyarakat sipil; topik utama dan tantangan masa depan untuk sektor, seperti yang diidentifikasi oleh rekan-rekan
dan pesaing; hukum, peraturan, perjanjian internasional, atau perjanjian sukarela tentang signifikansi strategis untuk organisasi dan pemangku kepentingan; nilai, kebijakan, strategi, sistem manajemen operasional, tujuan , dan sasaran organisasi yang utama; kompetensi inti dari organisasi dan cara mereka dapat berkontribusi untuk pembangunan berkelanjutan; konsekuensi bagi organisasi yang terkait dengan dampaknya terhadap ekonomi, lingkungan, dan/atau masyarakat (misalnya, risiko untuk model bisnis atau reputasinya); topik material secara tepat diprioritaskan dalam laporan
Gambar II: Representasi visual dari penentuan prioritas topik Sumber: Standar GRI 2016
29
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Penelitian ini adalah penelitian studi kasus dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data kualitatif dalam penelitian ini berupa data Topik Material mengenai proses penentuan dan pengungkapannya yang terdapat dalam Laporan Keberlanjutan PT. Unilever. Data tersebut digunakan untuk mengetahui proses penentuan Topik Material dan pengungkapan Topik Material untuk mengetahui bagaimana kinerja CSR PT. Unilever berdasarkan Topik Material dalam Laporan Keberlanjutan.
B. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini yaitu PT. Unilever Indonesia Tbk. Objek penelitian yang diteliti yaitu Topik Material yang berada dalam Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) dengan lingkup aspek lingkungan dan sosial yang diterbitkan oleh PT Unilever tahun 2013-2018. Yang mana dalam lingkup tahun tersebut, perusahaan mempunyai 4 (empat) laporan keberlanjutan berdasarkan standar GRI G4 dan GRI Standards. Laporan pertama yaitu Laporan Keberlanjutan periode tahun 2013/2014 dengan berpedoman pada Standar GRI G4, Laporan Keberlanjutan kedua yaitu laporan periode tahun 2015/2016 yang berpedoman pada Standar GRI G4, Laporan Keberlanjutan ketiga yaitu
laporan periode tahun 2017 dengan berpedoman pada Standar GRI 2016, dan yang terakhir yaitu Laporan Keberlanjutan periode tahun 2018 yang berpedoman pada Standar GRI 2016.
C. Jenis Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kualitatif (data berupa kalimat). Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu dari Laporan Keberlanjutan PT Unilever yang disajikan pada website perusahaan yaitu https://www.unilever.co.id/ .
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik dokumentasi. Teknik ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekunder yang akan digunakan peneliti dan diambil dari website resmi perusahaan. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa data mengenai proses penentuan topik material dan pengungkapan topik material yang terdapat dalam Laporan Keberlanjutan PT. Unilever. Data tersebut digunakan untuk mengetahui proses penentuan Topik Material dan pengungkapan Topik Material untuk mengetahui bagaimana kinerja CSR PT. Unilever berdasarkan Topik Material dalam Laporan Keberlanjutan.
E. Pengukuran Data
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengidentifikasi pengungkapan topik material. Untuk mengukur pengungkapan topik material dalam
laporan keberlanjutan perusahaan dari tahun 2013-2018, peneliti melihat dari setiap topik material yang diungkapkan oleh perusahaan setiap tahunnya mengalami perubahan atau tidak. Apabila suatu topik tidak dilanjutkan ke tahun berikutnya, peneliti akan mendalami alasannya dan melihat topik material lainnya apakah mengalami kemajuan pencapaian. Agar mudah dalam melihat perbedaan topik material setiap tahunnya, peneliti menggunakan bantuan matriks. Berikut (Tabel 1) matriks untuk membantu dalam pengukuran:
Tabel 1. Matriks Keberadaan Topik Material
No Topik Material Periode Tahun Laporan Keberlanjutan 2013 -2014 2015 -2016 2017 2018 A Topik Sosial 1 2 3 dst. B Topik Lingkungan 1 2 3 dst.
Sumber: Diolah sendiri
Dalam Matriks tersebut penulis akan mengidentifikasi keberadaan topik material perusahaan untuk empat tahun periode laporan yang diteliti dengan
memasukkan topik material dari keempat Laporan Keberlanjutan ke dalam kolom Topik Material sesuai klasifikasi Topik Lingkungan atau Topik Sosial. Dalam kolom Periode Laporan Keberlanjutan dengan Empat periode laporan tersebut akan berisi centang berdasarkan analisis data yang mengindikasikan keberadaan Topik Material disesuaikan pada tahun berapa suatu topik diterapkan. Empat tahun periode laporan yang dimaksud yaitu periode tahun 2013-2014 dan 2015-2016 untuk laporan yang menggunakan Standar G4, kemudian tahun 2017 dan tahun 2018 untuk laporan yang menggunakan Standar GRI. Dengan begitu penulis akan lebih mudah melihat pada tahun berapa saja topik material diungkapkan, dan dapat mudah melihat topik yang konsisten diterapkan ataupun tidak. Sehingga dapat memudahkan penulis dalam analisis lebih lanjut.
F. Teknik Analisis Data
1. Untuk menjawab rumusan pertanyaan penelitian yang pertama:
a) Melakukan analisis isi (Content Analysis) untuk mengetahui mengenai proses penentuan/identifikasi Topik Material dalam Laporan Keberlanjutan perusahaan sesuai atau tidak sesuai dengan proses penentuan/identifikasi Topik material dalam Standar G4/GRI 2016. Analisis ini dilakukan dengan cara melihat satu per satu proses penentuan/identifikasi Topik Material yang ada dalam Laporan Keberlanjutan perusahaan apakah sama dengan setiap proses penentuan Topik Material yang ada dalam Standar G4/GRI 2016.
b) Menarik kesimpulan atas analisis yang sudah dilakukan. Kesimpulan berisi mengenai pernyataan sesuai atau tidak sesuai proses penentuan/identifikasi Topik Material yang dilakukan perusahaan dalam Laporan Keberlanjutannya dengan proses/identifikasi Topik Material berdasarkan standar G4/GRI 2106. Apabila proses/identifikasi Topik Material yang diungkapkan perusahaan tidak sesuai dengan Standar G4/GRI 2016, maka peneliti akan mencari penjelasan dari perusahaan mengapa proses yang dilakukan berbeda dengan Standar G4/GRI dan jika perusahaan tidak memberikan penjelasan atas ketidaksesuaian tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam menentukan Topik Material Laporan Keberlanjutan perusahaan tidak sesuai dengan standar.
2. Untuk menjawab rumusan pertanyaan penelitian yang kedua:
a) Mengidentifikasi keberadaan Topik Material yang diungkapkan PT. Unilever dalam Laporan Keberlanjutan. Analisis ini dilakukan dengan cara melihat terlebih dahulu Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia Tbk periode tahun 2013/2014 sebagai tahun dasar identifikasi, kemudian melihat daftar topik material yang diterapkan perusahaan pada periode tersebut dan memasukkan Topik Material yang diterapkan ke dalam Matriks Topik Material pada kolom Topik Material dan memberi tanda centang pada kolom tahun 2013/2014. Untuk
identifikasi topik material periode selanjutnya, peneliti melihat daftar topik material yang diterapkan perusahaan dan apabila daftar topik material yang diterapkan perusahaan masih sama dengan daftar topik material pada periode 2013/2014, peneliti tidak menuliskan kembali topik material pada Matriks Topik Material tetapi hanya memberi tanda centang pada kolom tahun. Jika pada tahun 2017 dan 2018 ditemukan Topik Material yang belum ada pada periode 2013/2014, maka peneliti akan melihat terlebih dahulu apakah indeks topik tersebut sama dengan indeks topik material periode 2013/2014, apabila berbeda maka dapat disimpulkan bahwa topik tersebut adalah topik baru yang selanjutnya dimasukkan ke dalam Matriks Topik Material dan memberikan centang sesuai pada tahun berapa topik diterapkan. Kemudian melakukan checklist dalam matriks keberadaan Topik Material untuk mengetahui pada tahun berapa keberadaan setiap Topik Material diungkapkan.
b) Melakukan analisis isi (Content Analysis) satu per satu pengungkapan Topik Material dari Laporan periode 2013/2014 sebagai tahun dasar hingga periode 2018 untuk mengetahui peningkatan ataupun penurunan kinerja CSR perusahaan berdasarkan pada setiap Topik Material yang diungkapkan perusahaan. Analisis ini dilakukan hingga mengetahui makna dari setiap topik untuk melihat kinerja CSR perusahaan dari tahun ke
tahun. Untuk mengetahui kinerja CSR perusahaan mengalami peningkatan, penurunan ataupun tetap dilihat dari hasil dari setiap program CSR yang dilakukan dan dari Standar G4/GRI 2016. Hasil analisis ini dikelompokkan dalam sub-sub bab berdasarkan pada tahun keberadaan.
c) Menarik kesimpulan atas analisis yang sudah dilakukan pada setiap Topik Material yang diungkapkan dalam empat periode laporan yang diteliti. Kesimpulan berisi mengenai apakah kinerja CSR perusahaan berdasarkan isi pengungkapan Topik Material terkait mengalami peningkatan, penurunan, atau tetap, selama empat periode laporan yang diteliti. Kinerja CSR perusahaan dikatakan meningkat apabila dari tahun ke tahun program dalam Topik Material yang diungkapkan semakin banyak, dan membuahkan hasil yang positif (contoh: Topik Material Anti Korupsi mengalami peningkatan karena dari tahun ke tahun program anti korupsi semakin banyak dan dikembangkan dan membuahkan hasil kasus korupsi dan laporan atas korupsi berkurang). Kinerja CSR perusahaan dikatakan menurun apabila dari tahun ke tahun hasil dari Topik Material mengalami penurunan dan membuahkan hasil negatif (contoh: Topik Material Efluen dan Limbah mengalami penurunan karena dari tahun ke tahun program yang dijalannya tidak mengalami perkembangan bahkan cenderung sama setiap tahunnya,
sedangkan dari tahun ke tahun limbah semakin banyak dan mencemari lingkungan sekitar operasi perusahaan. Kinerja CSR perusahaan dikatakan tetap/stabil apabila Topik Material yang terkait berisi mengenai data dan/atau bukan program (contoh: Topik Material yang berisi mengenai jumlah tenaga kerja berdasarkan gender), selain itu juga dikatakan tetap/stabil apabila Topik Material program dan hasilnya dari tahun ke tahun tidak mengalami peningkatan maupun penurunan.
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah Singkat Perusahaan
PT. Unilever Indonesia didirikan di daerah Angke, Jakarta Utara berdasarkan akta No. 23 dari Mr. A.H. Van Ophuijsen sebagai notaris di Batavia pada 5 Desember 1933 dengan nama “Lever‟s Zeepfabrieken N.V.”. Nama perusahaan resmi berganti menjadi PT. Unilever Indonesia pada 22 Juli 1980 dengan akta no. 171 dari Notaris Ny. Kartini Muljadi SH. Pada 30 Juni 1997 perusahaan resmi berganti nama PT. Unilever Indonesia Tbk dengan notaris publik Bp. Mudofir Hadi SH. dengan akta no. 92 yang disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan surat keputusan No.C2-1.049HT.01.04 TH.98 tanggal 23 Februari 1998 dan diumumkan dalam Berita Negara NO. 2620 tanggal 15 Mei 1998, Tambahan N0.39.
B. Perkembangan PT. Unilever Indonesia
Pada tanggal 22 November tahun 2000 Unilever Indonesia mengadakan perjanjian dengan PT. Anugrah Indah Pelangi, dengan tujuan mendirikan perusahaan baru dengan nama PT. Anugrah Lever (PT AL) yang bergerak di bidang manufaktur, perkembangan, pemasaran dan penjualan produk kecap, saus cabai dan saus lainnya di bawah Bango dan merek lainnya di bawah lisensi perusahaan untuk PT AL.
Dua tahun kemudian, tanggal 3 Juli 2002, Unilever Indonesia mengadakan perjanjian dengan TExchem Resources Berhada untuk mendirikan perusahaan baru dengan nama PT Technopia Lever yang bergerak di bidang distribusi, ekspor dan impor barang-barang dengan merek dagang Domestos Nomos. Pada tanggal 7 November 2003, Texchem Resouces Berhada setuju menandatangani perjanjian untuk menjual semua sahamnya kepada PT Technopia Singapore Pte.Ltd.
Pada tanggal 21 Januari 2004 Unilever Indonesia resmi mengakuisisi saham PT Knorr Indonesia (PT KI) dari Unilever Overseas Holdings Limited (pihak Terkait). Tanggal 30 Juli 2004, Unilever bergabung dengan PT KI. Merger dicatat dengan menggunakan metode yang mirip dengan metode penyatuan kepemilikan. Penggabungan ini sesuai dengan persetujuan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam surat No/ 740 / III / PMA / 2003 tanggal 9 Juli 2004. Tahun 2007 perusahaan menandatangani perjanjian bersyarat untuk membeli merek “Buavita” dan “Gogo” minuman Vitality berbasis buah dari Ultra. Transaksi selesai pada Januari 2008. Pada tahun 2008 Unilever Indonesia juga membangun pabrik perawatan kulit (skin care) terbesar se-Asia di Cikarang. Pada tahun 2014 Unilever Indonesia meluncurkan program “Bitobe untuk Indonesia” sebagai wujud komitmen jangka panjang Lifeboy untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat. Tahun 2015 Unilever kembali membuka pabrik ke-9 seluas enam hektar di Cikarang, yang memiliki kapasitas produksi sebanyak tujuh juta unit bumbu masak
dan kecap setiap tahunnya. Tahun 2016 Unilever memindahkan kantor pusat ke gedung baru seluas tiga hektar di BSD City Tangerang. Kantor baru ini ditempati oleh 1.200 karyawan dan diresmikan tahun 2017. Pada tahun 2018 Unilever meluncurkan kategori baru yaitu saus sambal dengan mengeluarkan produk saus sambal Jawara dan meluncurkan brand perawatan tubuh baru Korea Glow.
C. Visi dan Misi PT. Unilever Indonesia
1. Visi
Untuk meraih rasa cina dan penghargaan dari Indonesia dengan menyentuh kehidupan setiap orang Indonesia setiap harinya.
2. Misi
a) Kami bekerja untuk menciptakan masa depan yang lebih baik setiap hari.
b) Kami membantu konsumen merasa nyaman, berpenampilan baik dan lebih menikmati hidup melalui brand dan layanan yang baik bagi mereka dan orang lain.
c) Kami menginspirasi masyarakat untuk melakukan langkah kecil setiap harinya yang bila digabungkan bisa mewujudkan perubahan besar bagi dunia.
d) Kami senantiasa mengembangkan cara baru dalam berbisnis yang memungkinkan kami tumbuh dua kali lipat sambal
mengurangi dampak terhadap lingkungan, dan meningkatkan dampak sosial.
D. Brand Unilever Indonesia
1. Foods & Refreshment
Produk-produk dalam kategori ini yaitu Bango, Buavita, Cornetto, Feast, Jawara, Lipton, Magnum, Paddlepop, Populaire, Royco, Seru, Sariwangi, Wall‟s Taste Joy, Helmans.
2. Home Care
Produk-produk dalam kategori ini meliputi Cif, Domestos, Rinso, Sunlight, Super Pell, Vixal, Wipol.
3. Personal Care
Produk-Produk dalam kategori ini meliputi Axe, Citra, Clear, Closeup, Dove, Fair and lovely, Hijab Fresh, Koreaglow, Lakmé, Lifeboy, Lux, Nameera, Pepsodent, Pond‟s, Rexona. Sunsilk, Tresemmé, Vaseline, Zwitsal, Love Beauty and Planet.
E. Kehidupan Berkelanjutan
1. Prinsip Bisnis Berkelanjutan
Pada tahun 2010, Unilever meluncurkan program dengan nama „Unilever Sustainable Living Plan’. Program ini menciptakan pertumbuhan berkelanjutan melalui beberapa hal: brand yang memiliki tujuan mulia, memangkas biaya bisnis, mengurai risiko, dan
membantu membangun kepercayaan. Unilever Sustainable Living Plan ditetapkan untuk meningkatkan pertumbuhan, mengurangi jejak lingkungan, serta meningkatkan manfaat sosial yang positif bagi masyarakat. Program ini memiliki tiga sasaran besar untuk dicapai, didasari oleh sembilan komitmen, dan target yang mencangkup kinerja sosial, lingkungan dan ekonomi di seluruh rantai nilai. Tiga sasaran besar tersebut meliputi:
1. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan untuk lebih dari 1 miliar orang
2. Mengurangi dampak terhadap lingkungan hingga separuhnya 3. Meningkatkan penghidupan untuk jutaan orang
2. Prakarsa Keberlanjutan
Dalam upaya Unilever menerapkan strategi Unilever Sustainable Living Plan, maka Unilever menjalankan berbagai macam prakarsa keberlanjutan yang dituangkan ke dalam program-program. Prakarsa dan program-program tersebut meliputi;
a. Prakarsa di Bidang Kesehatan
Unilever menciptakan dampak yang besar untuk kesehatan dan kebersihan dengan cara mempromosikan mencuci tangan, sanitasi yang baik, merawat gigi, dan kepercayaan diri. Selain itu juga program untuk mengurangi dampak bencana dan keadaan darurat. Beberapa programnya dalam prakarsa ini yaitu:
1) Program Sekolah Sehat
2) Dove Self-Esteem Project
3) Hari Cuci Tangan Sedunia 4) Program Institusi Profesional
a) Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) b) Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia
c) Pepsodent Dental Expert Center (PDEC)
5) Program Komunitas
a) Program Kesehatan Ibu dan Anak (Mothers Programe) b) Gerakan Bersih-Bersih Masjid
c) Vaseline Healing Project
6) Meningkatkan Nutrisi
a) Pentingnya makanan bagi kehidupan
b) Mendorong pola makan sehat melalui resep masakan c) Mengurangi gula pada portofolio produk makanan d) Menggunakan asam lemak tak jenuh ganda
(polyunsaturated fat) dari minyak nabati e) Kandungan garam (natrium) yang disesuaikan f) Memberikan informasi mengenai gizi dalam produk g) Membantu jutaan masyarakat untuk mendapatkan
bahan-bahan nabati b. Prakarsa di bidang Lingkungan
2) Penggunaan Air
3) Emisi Gas Rumah Kaca
4) Perolehan Bahan Baku yang Berkelanjutan
c. Prakarsa di Bidang Peningkatan Penghidupan 1) Bisnis Inklusif
2) Keadilan di tempat kerja 3) Peluang bagi perempuan
F. Laporan Keberlanjutan Perusahaan
Dalam website perusahaan, disajikan empat Laporan Keberlanjutan dalam dua Bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Laporan Keberlanjutan yang disajikan yaitu periode 2013-2014, 2015-2016, 2017, dan 2018. Menurut laporan keberlanjutan perusahaan periode 2013-2014, laporan periode 2013-2014 merupakan laporan keempat yang dibuat oleh perusahaan dengan Panduan GRI-opsi inti. Namun, tiga laporan sebelum periode ini tidak disajikan pada web perusahaan. PT. Unilever Indonesia mempunyai tim yang merancang Laporan Keberlanjutan yang diberi nama Tim Pelaporan Keberlanjutan Unilever Indonesia, yang terdiri dari para perwakilan berbagai departemen dan fungsi dalam perusahaan. Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia periode tahun 2013-2014, 2015-2016, dan 2018 sudah di Assure oleh M&R Assurance (Moores Rowland).
44
BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Data hasil penelitian ini diperoleh dari data sekunder berupa Topik Material yang terdapat dalam Laporan Keberlanjutan yang didapat dari website PT. Unilever Indonesia. Laporan Keberlanjutan yang diteliti yaitu 4 periode laporan, berikut judul Laporan Keberlanjutan setiap tahunnya;
1. Laporan Keberlanjutan Tahun 2013-2014 “Bersama Untuk Masa Depan Yang Lebih Cerah”
2. Laporan Keberlanjutan Tahun 2015-2016 “MAKING SUSTAINABLE LIVING COMMONPLACE (MEMASYARAKATKAN KEHIDUPAN YANG BERKELANJUTAN)”
3. Laporan Keberlanjutan Tahun 2017 “Building a Sustainable Future Every Day (Menciptakan Masa Depan Berkelanjutan Setiap Hari”
4. Laporan Keberlanjutan Tahun 2018 “Transformasi Untuk Masa Depan Berkelanjutan”
Data yang diperoleh dari website PT. Unilever Indonesia tersebut menggunakan dua dasar pedoman standar yang berbeda. Laporan periode tahun 2013/2014 dan 2015/2016 menggunakan Standar G4, sedangkan laporan periode tahun 2017 dan 2018 menggunakan pedoman Standar GRI, namun dalam laporan periode 2018 khusus pada indeks GRI 403 mengenai kesehatan dan keselamatan kerja dan GRI 303 mengenai Air dan Efluen menggunakan standar terbaru yaitu Standar GRI 2018.
A.
Data Hasil Penelitian dan PembahasanHasil penelitian berupa deskripsi/narasi yang bersumber dari pengungkapan Topik Material dalam Laporan Keberlanjutan PT. Unilever yang berpedoman pada Standar G4 dan Standar GRI 2016.Berikut adalah hasil penelitian yang peneliti dapatkan dan pembahasannya:
1. Menjawab rumusan masalah pertama yaitu “Bagaimana proses penentuan topik material yang dilaporkan dalam Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia tahun 2013-2018?”
a. Proses penentuan Topik Material yang dilaporkan dalam Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia tahun 2013-2018 ditinjau berdasarkan proses penentuan Topik Material dalam Standar G4 dan Standar GRI 2016. Standar G4 digunakan untuk Laporan Keberlanjutan periode tahun 2013/2014 dan tahun 2015/2016, sedangkan Standar GRI 2016 digunakan untuk Laporan Keberlanjutan periode tahun 2017 dan 2018. Berikut data proses identifikasi Topik Material dan analisisnya:
1) Proses Identifikasi Topik Material Laporan Keberlanjutan
PT. Unilever periode tahun 2013-2014
Dalam menentukan Topik Material pada Laporan Keberlanjutan periode tahun 2013/2014, Proses yang pertama
yang diterapkan sesuai dengan Standar G4 yaitu mengidentifikasi aspek-aspek keberlanjutan yang relevan dan batasan dari setiap aspek. Dalam tahapan ini PT. Unilever Indonesia menerapkan kerangka kerja Unilever Sustainable Living Plan (USLP) global yang disesuaikan dengan kebutuhan dan ekspektasi pemangku kepentingan di Indonesia. Perusahaan juga melibatkan pemangku kepentingan dalam merancang program. Dengan wawasan yang didapat dari pemangku kepentingan tersebut, perusahaan dapat menjawab tantangan lingkungan dan sosial yang utama. Teori Stakeholders dalam penelitian ini melandasi bahwa keterlibatan pemangku kepentingan memengaruhi Topik Material yang diterapkan perusahaan. Laporan pada periode tahun ini berfokus pada kegiatan perusahaan, termasuk di kantor pusat, kantor perwakilan, pabrik-pabrik, dan pusat distribusi di seluruh Indonesia. Batasan dalam laporan ini yaitu tidak mencangkup kegiatan-kegiatan yang dialihdayakan maupun kegiatan para pemasok, namun aspek material yang dapat dikendalikan seperti HAM, praktik tenaga kerja, kepatuhan terhadap hukum dan undang-undang, serta kinerja lingkungan dari pemasok dan mitra usaha di dalam rantai pasokan tetap disertakan dalam laporan ini.
Tahapan kedua yang diterapkan dan sesuai dengan Standar G4 yaitu dilakukan PT.Unilever untuk menentukan topik material sudah sesuai dengan proses yang ada dalam Standar G4,
yaitu memprioritaskan aspek-aspek dan isu-isu keberlanjutan dalam menentukan setiap aspek. Dalam tahapan ini, perusahaan melibatkan pemangku kepentingan untuk menganalisis mengenai “pengaruh pada asesmen dan keputusan pemangku kepentingan‟ dengan melakukan survei dalam rangka membantu perusahaan mendefinisikan isu-isu yang penting bagi pemangku kepentingan sekaligus bagi pendekatan keberlanjutan perusahaan. Survei ini juga digunakan untuk mengidentifikasi topik-topik dalam Laporan Keberlanjutan periode 2013/2014 ini. Dalam tahap ini perusahaan menggunakan matriks materialitas untuk melakukan pemetakan terhadap isu-isu yang sudah diidentifikasi dengan fokus di setiap bidang yang telah ditetapkan berdasarkan tiga kriteria. Berikut matriks materialitas dan kriteria bidang yang relevan:
Gambar III: Matriks Materialitas tahun 2013/2014 Sumber: Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia Tbk
Gambar IV: Matriks Materialitas tahun 2013/2014 Sumber: Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia Tbk
Dalam matriks tersebut, perusahaan menyatakan bahwa para pemangku kepentingan mendapat perhatian lebih tinggi dalam bagaimana perusahaan menjamin kualitas produk-produknya. Aspek material lain yang lebih diperhatikan oleh pemangku kepentingan yaitu kinerja lingkungan, sumber daya manusia, dan kontribusi sosial.
Berikut gambar yang menunjukkan topik yang masuk dalam tiga kriteria bidang yang relevan yang sudah dibuat oleh PT. Unilever Indonesia:
Gambar V: Matriks Materialitas tahun 2013/2014 Sumber: Laporan Keberlanjutan PT. Unilever Indonesia Tbk
Tidak ditemukan adanya penerapan langkah ketiga dan keempat dalam menentukan/mengidentifikasi Topik Material dalam Laporan Keberlanjutan pada periode 2013/2014, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam menentukan Topik Material
Laporan Keberlanjutan pada periode tahun 2013/2014 belum sesuai dengan proses/identifikasi Topik Material dalam Standar G4.
2) Proses Identifikasi Topik Material Laporan Keberlanjutan
PT. Unilever periode tahun 2015/2016
Dalam Laporan Keberlanjutan periode ini, perusahaan tidak menjelaskan proses yang dilakukan dalam mengidentifikasi topik material. Perusahaan hanya memberikan pernyataan bahwa topik-topik yang disajikan dalam laporan ini mencangkup aspek-aspek dalam Unilever Sustainable Living Plan (USLP) dan prinsip-prinsip dalam United Nations Global Compact (UNCG) serta analisis materialitas yang dilakukan sebelumnya. dalam laporan periode ini tidak ditemukan hal mengenai analisis materialitas. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksudkan „analisis materialitas yang dilakukan sebelumnya‟ adalah analisis materialitas yang dilakukan pada periode tahun 2013/2014. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada Laporan Keberlanjutan periode 2015/2016 ini, PT. Unilever tidak melakukan identifikasi topik material sesuai dengan Standar G4.
3) Proses Identifikasi Topik Material Laporan Keberlanjutan