• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEKUATAN HELMET SEPEDA MOTOR NON STANDAR AKIBAT BEBAN IMPAK JATUH BEBAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEKUATAN HELMET SEPEDA MOTOR NON STANDAR AKIBAT BEBAN IMPAK JATUH BEBAS"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KEKUATAN HELMET SEPEDA MOTOR NON STANDAR AKIBAT

BEBAN IMPAK JATUH BEBAS

Rahmat K. Simanjuntak

1)

, Bustami Syam

2)

, Zulfikar

3)

1), 2), & 3) Pusat Riset Impak & Keretak an (IFRC), Departemen Tek nik Mesin, FT USU

Abstraksi

Pengujian helmet non-standar SNI dibutuhkan untuk mengukur kekuatan helmet akibat beban yang diberikan. Pada umumnya kecelakaan lalu lintas tidak hanya disebabkan oleh kecepatan, tetapi dapat juga diakibatkan oleh grafitasi. Oleh karena itu kegiatan penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan efek pembebanan impak jatuh bebas pada helmet non-standar. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini akan menjelaskan efek beban impak jatuh bebas yang diberikan pada helmet non-standar kepada pemakai, industri, dan juga pemerintah. Tujuan penelitian ini terdiri dari pembangunan peralatan impak jatuh bebas untuk helmet non-standar, pengukuran beban impak maksimum, dan penyerapan energi pada helmet non-standar sebagai efek beban impak jatuh bebas. Peneliti bekerjasama dengan Pusat Riset Impak dan Keretakan (IFRC) telah membangun alat uji yang dilengkapi dengan sistim data akusisi yang baik. Helmet non-standar diletakkan pada test rig. Waktu impak diukur dengan menggunakan 8 buah sensor proximity jenis induktif. Helmet selanjutnya diluncurkan dan menumbuk anvil. Gaya yang dihasilkan diukur dengan menggunakan load cell. Terdapat empat jenis anvil yang digunakan yang menyesuaikan dengan kondisi pembebanan di lapangan, yaitu: anvil plat datar, plat miring, setengah bola, dan peluru. Data-data akan dipindahkan dari load cell ke sistim DAQ yang memiliki fungsi untuk mengubah data analog menjadi sinyal digital. Akhirnya data digital tersebut disimpan kedalam PC dalam bentuk gaya (N) dan waktu impak (ms). Peralatan uji impak jatuh bebas memperlihatkan performa terbaik pada pengukuran gaya dan sinyal waktu impak. Gaya impak maksimum pada anvil plat datar ialah 24,33 N, plat miring 37,88 N, setengah bola 41,43 N, dan peluru 16,22 N pada ketinggian yang sama, yaitu 0,75 m. Energi minimum yang menyebabkan kerusakan pada helmet non-standar ialah 3,24 J pada ketinggian jatuh 0,3 m.

Keywords: Non-standard helmet, free-fall impact loading, DAQ system, anvil.

1. Pendahuluan

Undang-undang Republik Indonesia No 14 Tahun 1992 pasal 23 mewajibkan semua pengendara dan penumpang sepeda motor serta kendaraan lain yang tidak memakai rumah-rumah wajib untuk memakai helmet. Namun masih banyak pengendara sepeda motor yang melanggar UU tersebut dan tidak memahami betapa pentingnya menggunakan alat pelindung kepala saat mengendarai sepeda motor.

Penyelidikan dan pengujian terhadap kehandalan dan kekuatan helmet telah dilakukan oleh beberapa peneliti dan balai pengujian dengan kajian dalam beberapa aspek yang berbeda, antara lain: uji standard keparahan rusak helmet yang memungkinkan merusak lapisan kulit kepala lewat penetrasi, oleh Sirim Berhad, Malaysia dan B4T Deperindag, Bandung Indonesia. Thomson, R.D., melakukan penyelidikan tentang

kekuatan dan ketahanan helm industri terhadap beban transversal, sedangkan Yu T., et al melakukan pengujian terhadap kekuatan dan ketahanan helm dengan pengimpakan terpusat dan pengimpakan penetrasi. Selanjutnya Syam, B., dan Mahadi, B., telah melakukan penelitian tentang teknik pengukuran tegangan insiden dengan aplikasi teknik dua gage untuk pengujian helm industri yang dikenai beban impak kecepatan tinggi. Penelitian helm industri secara simulasi komputer dengan menggunakan pendekatan elemen hingga oleh Nayan, dengan menyelidiki perilaku yang terjadi pada helm akibat benda jatuh dari ketinggian 40 meter. Berdasarkan serangkaian penelitian tersebut peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan menggunakan metode jatuh bebas. Dalam penelitian dibangun alat uji jatuh bebas helmet sepeda motor non standard yang dirangkaikan dengan komputer PC dan perangkat lain yang dibutuhkan sebagai sistim data akusisinya.

(2)

Kejadian yang sering terjadi pada kecelakaan lalu lintas ialah dimana pengendara jatuh dari kendaraan dan mengalami benturan yang mengenai kepala meskipun telah memakai helmet sepeda motor, namun dari jenis helmet non standard. Dari peristiwa ini perlu diketahui seberapa besar tegangan yang diterima pada lokasi pengimpakan, distribusi tegangan yang terjadi dipermukaan kepala, besar impak yang menyebabkan terjadinya keretakan pada helmet.

Tujuan penelitian ini ialah untuk membuktikan bahwa metode impak jatuh bebas ini dapat digunakan sebagai dasar pengukuran respon helmet sepeda motor non standar, untuk mengetahui beban impak maksimum yang dapat diterima helmet, dan untuk mengetahui besarnya beban dan energi potensial yang mampu diserap helmet pada berbagai jenis anvil.

2. Eksperime ntal

Penelitian ini dilaksanakan di Pusat Riset Impak dan Keretakan (IFRC), Magister Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Medan. Penelitian ini mengacu standar pengujian helmet sepeda motor yang dibuat di bengkel Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Medan. Analisa data eksperimental dengan alat ini menggunakan software DAQ For Helmet Impact Testing untuk mengolah data akusisi yang diperoleh dari Load cell.

Penelitian ini menggunakan helmet sepeda motor non standar yang masih banyak digunakan pengendara sepeda motor di Sumatera Utara khususnya di kota Medan. Peneliti mengasumsikan bahwa helm jenis ini belum memenuhi kategori standar, karena tidak terdapat label maupun sticker uji standard SNI yang tertera pada helmet. Bentuk helmet yang akan diuji diperlihatkan pada gambar 1.

Alat uji yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah alat uji impak jatuh bebas dengan konstruksi dan alat pengukur gaya impak jatuh bebas berturut-turut diperlihatkan pada gambar 2 dan 3.

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 1. Helmet sepeda motor non-standard ; (a) tampak depan, (b) samping, (c)

belakang, dan (d) atas.

Keterangan gambar:

1. Frame base 6. Ball end penetrator

2. Support table 7. Anvil support

3. Load cell 8. Anvil

4. Teflon base 9. Helmet

5. Bottom base 10. Te st rig

11. Pipa peluncur Gambar 2. Alat uji impak jatuh bebas Alat pengukur beban impak (load cell) adalah sebuah sensor gaya yang bekerja menggunakan strain gage full bridge dengan tahanan 350 ohm. Kemampuan alat ini dapat menerima beban dan mengukur gaya impak hingga 30.000 kg, dan untuk penggunaannya alat ini sudah mendapatkan sertifikat kalibrasi dari Komite Akreditasi Nasional untuk 20.000 kg.

(3)

Gambar 3. Alat pengukur beban impak (load cell)

Anvil adalah landasan sebagai sasaran impak jatuh bebas yang menggambarkan berbagai kondisi jatuhnya helmet di lapangan. Pada penelitian ini terdapat 4 (empat) buah jenis anvil, yaitu jenis plat datar, plat miring, peluru, dan setengah bola. Bentuk-bentuk anvil tersebut diperlihatkan pada gambar 4.

Dalam penelitian ini variabel yang diamati adalah sebagai berikut: (1) jarak pengimpakan helmet sepeda motor terhadap anvil ( 0,5m, 1m, 1,5m, 2m, 2,5 m, 3m, 3,5m, 4m, ), (2) distribusi tegangan yang terjadi pada permukaan helmet sepeda motor setelah dikenai beban impak, dan (3) besar kekuatan material helmet terhadap beban impak jatuh bebas yang diberikan.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 4. Anvil pengujian; (a) plat datar, (b) plat miring, (c) peluru, dan (d) setengah bola. Akibat tumbukan benda jatuh bebas pada alat sensor, maka timbul gelombang tegangan tekan (compressive stress wave).

Pada alat sensor, gelombang akan ditangkap oleh pengolah sinyal (signal conditioner) berupa perubahan tahanan listrik ΔR/R yang sebanding regangan yang diterima strain gage

dengan bridge box. Selanjutnya dengan menggunakan alat pengolah sinyal tersebut dikonversikan dalam bentuk tegangan listrik. Sinyal-sinyal tersebut diteruskan dalam bentuk gelombang, kemudian ditampilkan pada penampil sinyal dalam bentuk digital sehingga dapat terbaca langsung. Akhirnya sinyal tersebut diteruskan ke perangkat komputer yang telah dilengkapi dengan software

pengukuran DAQ For Helmet Impact Testing Software. Software yang dimaksud diperlihatkan pada gambar 5.

Gambar 5. DAQFor Helmet Impact Testing Software

3. Hasil dan Pe mbahasan

Gaya maksimum yang terkandung dalam setiap pengujian diperoleh dengan menggunakan persamaan F = m.a. Karena percepatan yang mempengaruhi pengujian ini hanya berasal dari percepatan grafitasi bumi, maka variabel a pada persamaan tersebut dapat digantikan dengan konstanta grafitasi bumi, yang diasumsikan sebesar 9,81 ms-2. Oleh karena massa benda jatuh yang telah didesain adalah 5 kg, maka gaya maksimumnya ialah 49,05 N. Sementara energi yang diserap helm bergantung kepada posisi ketinggian jatuh helm ke anvil.

Pada pengujian dengan menggunakan anvil jenis plat datar diberikan dalam dua perlakuan, yaitu dengan memberikan peredam

spring dan tanpa peredam spring. Pemberian spring bertujuan untuk melindungi load cell

dari pengaruh beban impak yang langsung beraksi padanya. Hasilnya diperlihatkan pada gambar 6 dan 7.

(4)

Gambar 6. Hasil uji impak Anvil Datar dengan peredam spring, h = 0,75m

Gambar 7. Hasil uji impak Anvil Datar tanpa peredam spring, h = 0,75m.

Perbandingan gaya maksimum yang dihasilkan pada pengujian dengan anvil plat datar yang dilengkapi peredam spring

diperlihatkan pada gambar 8 dengan variasi terhadap tinggi jatuh.

Gambar 8. Gaya maksimum pada uji dengan anvil plat datar dilengkapi peredam spring.

Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa alat uji telah menunjukkan pembacaan yang cukup baik terhadap gaya yang

dihasilkan, dimana terlihat bahwa semakin jauh jarak objek terhadap anvil akan menghasilkan gaya dan energi yang semakin besar juga.

Energi yang mampu diserap helmet pada anvil jenis ini tidak lebih dari 50% dari keseluruhan energi tersedia (Emaks = 36,78 J). Selanjutnya untuk hasil pengujian dengan ketinggian 0,5 m, energi yang mampu diserap hanya sekitar 20% dari keseluruhan energi yang diberikan (Emaks = 24,52 J), sebelum akhirnya mengalami kerusakan.

Perbandingan gaya maksimum pada kedua jenis pengujian untuk anvil datar diperlihatkan pada gambar 9.

Gambar 9. Perbandingan hasil pengujian antara Anvil datar menggunakan peredam

spring (PS) dan tanpa peredam spring (TPS) pada ketinggian 0,75m.

Pada pengujian pertama gaya yang diberikan pada helm hampir sama dengan perbedaan sebesar 4%. Demikian juga pada pengujian kedua, gaya yang diberikan hanya memiliki perbedaan sebesar 2%. Tetapi pada pengujian ketiga, terdapat perbedaan yang signifikan yaitu sebesar 22%. Pada pengujian dengan menggunakan peredam spring beban yang diserap dalam helm sebesar 43% sedangkan dengan tidak menggunakan spring

sebesar 33%. Dengan demikian terlihat bahwa pengaruh peredam spring menyebabkan ketidakakuratan pembacaan sebesar 10%. Oleh karena itu pengujian selanjutnya dilakukan dengan tanpa peredam spring.

Gaya maksimum pada pengujian impak jatuh bebas dengan anvil bentuk plat miring diperlihatkan pada gambar 10.

24.33 -20 0 20 40 0 10 20 30 For ce (N ) time (µs)

Anvil Datar c/w spring;

h=0.75m; Uji-1a; TR

23.43 22.52 16.22 -10 0 10 20 30 0 10 20 30 For ce (N ) time (µs) Uji ke-1 Uji ke-2 Uji ke-3 24.33; TR 22.00; R 21.00; R20.00; TR 13.47; R 18.55; TR 17.97; TR 15.00; TR 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 0 1 2 3 4 For ce (N ) Pengujian Uji 1 Uji 2 Uji 3 Uji 4 24.33 22 21 23.4322.52 16.22 14 16 18 20 22 24 26 0 1 2 3 4 Fo rc e (N ) No. Pengujian PS TPS

(5)

Gambar 10. Hasil pengujian impak jatuh bebas helm non-standar dengan anvil plat miring. Pada pengujian pertama dengan ketinggian jatuh 1 m, helm langsung mengalami kerusakan. Pada kondisi ini energi yang diserap helm mencapai 77% dari keseluruhan energi yang diberikan. Selanjutnya pada pengujian kedua dengan ketinggian jatuh 0,75 m dilakukan hingga dua kali percobaan. Pada percobaan pertama uji kedua, energi yang diserap helm sekitar 72% dan helm tidak mengalami kerusakan. Tetapi pada percobaan kedua helm mengalami kerusakan dan energi yang terserap adalah sebesar 64%. Selanjutnya pada pengujian ketiga denga ketinggian jatuh 0,5 m dilakukan hingga tiga kali percobaan. Energi yang terserap pada masing-masing percobaan mulai percobaan pertama, kedua dan ketiga berturut-turut ialah 64%, 62%, dan 55%.

Apabila dibandingkan dengan jenis anvil plat datar terlihat bahwa kemampuan helm lebih baik pada jenis anvil plat miring. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil serangkaian pengujian yang telah dilakukan, dimana energi yang diserap pada plat datar relatif cukup kecil untuk menyebabkan kerusakan pada helm non-standar dibandingkan pada jenis anvil plat miring. Perbedaan energi yang diserap tersebut adalah 62%.

Gaya maksimum pada pengujian impak jatuh bebas dengan anvil bentuk peluru diperlihatkan pada gambar 11. Akibat bentuk anvil pada jenis ini relatif tajam, maka pada pengujian pertama dengan ketinggian 0,5 m dan gaya yang diberikan relatif cukup kecil, maka helm telah mengalami kerusakan. Energi yang diserap hanya sekitar 18% dari keseluruhan energi yang tersedia (24,53 J). Selanjutnya pada pengujian impak dengan

ketinggian 0,35 m, hasilnya helm mengalami kerusakan hanya dengan sekali percobaan. Energi yang diserap juga relatif kecil yaitu 33% dari keseluruhan energi yang tersedia. Pada pengujian ketiga dengan ketinggian jatuh 0,3 m, dilakukan sebanyak tiga kali percobaan. Energi rata-rata yang diserap helm pada pengujian ini ialah sebesar 3,82 J atau sebesar 25% dari keseluruhan energi yang tersedia (14,72 J). Jika dibandingkan dengan dua jenis anvil sebelumnya maka kekuatan helm non-standar pada jenis anvil ini relatif sangat rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan konsentrasi beban sepenuhnya terjadi pada ujung peluru.

Gambar 11. Data hasil pengujian impak jatuh bebas pada helm non-standar dengan anvil

jenis peluru

Gaya maksimum pada pengujian impak jatuh bebas dengan anvil bentuk setengah bola diperlihatkan pada gambar 12. Pada jenis anvil ini dilakukan 4 (empat) kali pengujian. Pada pengujian pertama dengan ketinggian jatuh 1,5 m, helm mengalami kerusakan dalam satu kali pengujian. Energi yang diserap pada pengujian ini ialah sebesar 85% dari energi keseluruhan yang dapat terjadi pada posisi tersebut (Emaks = 73,6 J). Pada pengujian kedua dilakukan 2 (dua) kali percobaan dengan gaya dan energi rata-rata sebesar 30,15 N dan 37.68 J. Jumlah energi rata-rata yang mampu diserap helm pada posisi ini adalah 61.5% dari energi keseluruhan yang dapat terjadi pada posisi tersebut (Emaks = 61,31 J). Pada pengujian ketiga dilakukan dalam 2 (dua) kali percobaan juga, dengan gaya dan energi rata-rata sebesar 19,98 N dan 14,98 J. Jumlah energi rata-rata yang mampu diserap helm pada posisi ini ialah 40,7% dari energi keseluruhan yang dapat terjadi pada posisi tersebut (Emaks = 36,79 J). Pada pengujian keempat dilakukan 3 (tiga) 37.83 35.14 31.53 31.53 30.63 27.02 25.00 27.00 29.00 31.00 33.00 35.00 37.00 39.00 0 1 2 3 4 For ce (N ) No. Pengujian Uji1; h=1m Uji2; h=0,75m Uji3; h=0,5m 9.01 16.22 14.42 13.00 10.81 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 0 2 4 Fo rc e (N ) No. Pengujian Uji1; h=0,5m Uji2; h=0,35m Uji3; h=0,3m

(6)

kali percobaan, dengan gaya dan energi rata-rata sebesar 12,67 N dan 3,8 J. Jumlah energi rata-rata yang mampu diserap helm pada posisi ini ialah 25,8% dari energi keseluruhan yang dapat terjadi pada posisi tersebut (Emaks = 14,72 J).

Gambar 12. Data hasil pengujian impak jatuh bebas helm non-standar dengan anvil jenis

setengah bola.

Berdasarkan hasil pengujian tersebut kekuatan helm non-standar tidak begitu baik jika dikenai beban dengan struktur setengah bola ini. Hal ini terbukti dengan jumlah energi yang diberikan relatif cukup kecil, maka helm sudah mengalami kerusakan. Kasus ini mirip dengan kasus impak jatuh bebas yang menggunakan anvil jenis peluru, dimana konsentrasi beban yang masuk kedalam helm terkonsentrasi pada suatu titik.

Kesimpulan

Berdasarkan data hasil pengujian diperoleh informasi bahwa semakin tinggi jarak jatuh helmet terhadap anvil maka gaya impak yang dihasilkan akan semakin besar.Dengan demikian alat uji ini dapat dipergunakan sebagai alat pengukuran yang dikenai beban impak dengan menggunakan metode jatuh bebas pada helmet sepeda motor.

Beban impak maksimum yang diserap helmet sepeda motor pada pengujian dengan jenis anvil plat datar dengan menggunakan peredam spring sebesar 24,33 N pada ketinggian jatuh 0,75 m dan tanpa peredam

spring sebesar 23,43 N pada ketinggian yang sama. Untuk anvil jenis plat miring gaya maksimum yang terjadi pada variasi ketinggian jatuh 1 m, 0,75 m, dan 0,5 m berturut-turut adalah 37,83 N, 35,14 N, dan

31,53 N. Untuk anvil jenis peluru gaya maksimum yang terjadi pada variasi ketinggian jatuh 0,5 m, 0,35 m, dan 0,3 m berturut-turut 9.01 N, 16,22 N, dan 14,42 N. Untuk anvil jenis setengah bola gaya maksimum yang terjadi pada variasi ketinggian jatuh 1,5 m, 1,25 m, 0,75 m, dan 0,3 m berturut-turut 41,44 N, 34,17 N, 21,62 N, dan 15,30 N.

Berdasarkan hasil pengujian terhadap beberapa jenis anvil diperoleh bahwa energi terkecil yang menyebabkan helmet rusak terdapat pada jenis anvil peluru, yaitu sebesar 3,24 J pada ketinggian 0,3 m. Artinya dengan hanya menggunakan energi yang sangat kecil, maka helmet sepeda motor tersebut akan mengalami kegagalan. Sedangkan pada jenis anvil plat datar energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan kegagalan pada helmet sepeda motor adalah 16,50 J pada ketinggian 0,75 m.

Referensi

[1]. Kolsky, H., An Investigation of The Mechanical Properties of Materials at Very High Rate of Loading, Proc. Phys. Soc. (London), B62, 676-700 (1949). [2]. Johnson, W., Impact Strength of

Materials, Edward Arnold, London, 1972.

[3]. Syam, B., A Measuring Method for Impact Tensile Strength and Impact Fracture Behaviors of Brittle Materials,

A Doctoral Dissertation, Muroran Institute of Technology, Muroran, Japan, March 1996, pp. 29-98.

[4]. Yanagihara, N., Theory of One-Dimensional Elastic Wave for the Measurement of the Impact Force, Bulletin of JSME, vol. 43, 1977, pp. 40-48.

[5]. Syam B, Nayan A, Penyelidikan Perilaku Mekanik Helm Industri Akibat Beban Impak Kecepatan Tinggi,

Prosiding Seminar Material dan Struktur (MASTRUCT), Medan, Januari, 2004.

[6]. Japan International Standard for Safety Helmet, T-8131, Japan, 1977.

[7]. Standar Nasional Indonesia, Helm Pengendara Kendaraan Bermotor Roda Duauntuk Umum, SNI 19-1911-1990. 62.16 42.71 32.65 16.2213.75 4.593.513.30 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 0 1 2 3 4 Ene rg i ( J) No. Pengujian Uji 1 1m Uji 2 1,25m Uji 3 0,75m Uji 4 0,3m

(7)

Abstract

The non-standard helmet testing is required for measure the helmet strength as effect of the load is given. In generally, traffic accident doesn’t involved by the velocity but also gravitational. Therefore, the research activity is done by researcher obtains the effect of free -fall impact loading on the nonstandard helmet. The information which is obtained from this research will explain the effect of free -fall impact loading that is subjected on the non-standard helmet to user, industry, and also government. The objective of this research involves the testing apparatus construction of free -fall impact loading on the non-standard helmet, measuring the maximum impact loading, and the energy absorbing by helmet as effect of impact loading. The researcher collaborates with the Impact and Fracture Reaseach Center (IRFC) has bulit the testing apparatus which is equipped with good aquisition data system. The non-standar helmet is put on the adjustable testing rig. The impact time can be measured by eight inductive proximity sensors. The helmet will slide down and collides the anvil. The force will be measured with the load cell which is put down the anvil. There are four anvil forms which is adapted to the real condition, that is: flat plat, aligned plat, bullet, and a half -spherical anvil. The data will be transfered from the load cell into the DAQ system which has function to change the analog into digital signal. Finally, the data will be saved into PC as the force (N) and the impact time (ms). The free-fall impact testing equipment has shown the best performance on the force and impact time signal reading as long as the research activity. The maximum force on the flat anvil is 24.33 N; the aligned flat anvil is 37.88 N; the bullet anvil is 16.22 N; and a half-spherical anvil is 41.43 N at the elevation of 0.75 m. The minimum energy which causes the fracture on the helmet is 3.24 J at the elevation of 0.3 m.

Gambar

Gambar 1. Helmet sepeda motor non- non-standard ; (a) tampak depan, (b) samping, (c)
Gambar 3. Alat pengukur beban impak (load  cell)
Gambar 9. Perbandingan hasil pengujian  antara Anvil datar menggunakan peredam  spring (PS) dan tanpa peredam spring (TPS)
Gambar 10. Hasil pengujian impak jatuh bebas  helm non-standar dengan anvil plat miring
+2

Referensi

Dokumen terkait

Akhirnya data akan disimpan dalam PC sebagai gaya (N) dan waktu (ms).Hasil pengujian dengan cara eksperimental untuk helmet bahan polimer busa komposit diperkuat serat TKKS

Tegangan maksimum yang diserap oleh helm sepeda motor SNI melalui pengujian secara eksperimental dengan menggunakan anvil peluru pada sisi atas adalah 8,267 MPa dan pengujian

Tegangan maksimum yang diterima helm dengan menggunakan anvil jenis setengah lingkaran diperoleh tegangan sebesar 4,078 MPa dan 3,331 MPa untuk sisi atas dan sisi samping helm

Tegangan maksimum yang diterima helm dengan menggunakan anvil jenis setengah lingkaran diperoleh tegangan sebesar 4,078 MPa dan 3,331 MPa untuk sisi atas dan sisi samping helm

Syam B, Nayan A, Penyelidikan Perilaku Mekanik Helm Industri Akibat Beban Impak Kecepatan Tinggi, Prosiding Seminar Material dan Struktur. (MASTRUCT), Medan,

Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil serangkaian pengujian yang telah dilakukan, dimana energi yang diserap pada plat datar relatif cukup kecil untuk menyebabkan

Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil serangkaian pengujian yang telah dilakukan, dimana energi yang diserap pada plat datar relatif cukup kecil untuk menyebabkan

Dari hasil pengujian impak jatuh bebas pada ketinggian 1,5 m didapatkan data bahwa besar gaya impak rata-rata pada produk tipe 1 adalah 453,6144 N, dan besar tegangan 0,2267