Mhp_materi 1 Proteolitik (Laptik)

20 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PRAKTIKUM PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI HASIL PERIKANAN MIKROBIOLOGI HASIL PERIKANAN

Materi 1 Materi 1

Identifikasi Bakteri Proteolitik Pada Produk Perikanan Identifikasi Bakteri Proteolitik Pada Produk Perikanan

TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG MALANG 2018 2018

(2)

1. PENDAHULUAN 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar

1.1 Latar BelakangBelakang

Produk perikanan memiliki peranan sangat penting, tidak hanya sebagai Produk perikanan memiliki peranan sangat penting, tidak hanya sebagai sumber protein hewani tetapi juga sebagai sumber enzim dan bioaktif yang sumber protein hewani tetapi juga sebagai sumber enzim dan bioaktif yang memiliki karakteristik dan spesifikasi tertentu yang dapat digunakan dalam memiliki karakteristik dan spesifikasi tertentu yang dapat digunakan dalam berbagai industri. Enzim yang berasal dari hasil perikanan telah banyak digunakan berbagai industri. Enzim yang berasal dari hasil perikanan telah banyak digunakan dalam industri, baik pangan maupun non pangan di Indonesia. Penggunaan enzim dalam industri, baik pangan maupun non pangan di Indonesia. Penggunaan enzim tersebut dalam industri pangan misalnya adalah dalam pembuatan keju, dekstrin, tersebut dalam industri pangan misalnya adalah dalam pembuatan keju, dekstrin, dan minyak. Enzim chymotrypsin yang diisolasi dari ikan kod atlantik (

dan minyak. Enzim chymotrypsin yang diisolasi dari ikan kod atlantik (GadusGadus morhua)

morhua)  dan pepsin dari ikan kod (  dan pepsin dari ikan kod ( Breogadus saidaBreogadus saida) misalnya telah digunakan) misalnya telah digunakan dalam produksi keju. Enzim trypsin yang diisolasi dari ikan kod (

dalam produksi keju. Enzim trypsin yang diisolasi dari ikan kod ( Gadus agar Gadus agar ) untuk) untuk menghasilkan asam amino yang berbeda (Hasan

menghasilkan asam amino yang berbeda (Hasan et al.,et al.,2015).2015).

Protease merupakan enzim proteolitik yang dapat menguraikan protein Protease merupakan enzim proteolitik yang dapat menguraikan protein menjadi bentuk asam amino. Semakin besar asam amino dihasilkan dari reaksi menjadi bentuk asam amino. Semakin besar asam amino dihasilkan dari reaksi pemecahan protein tersebut maka dapat dikatakan bahwa protease tersebut pemecahan protein tersebut maka dapat dikatakan bahwa protease tersebut memiliki aktivitas yang tinggi. Seperti halnya enzim

memiliki aktivitas yang tinggi. Seperti halnya enzim pada umumnya, maka aktivitaspada umumnya, maka aktivitas protease juga banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor.

protease juga banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Diantara faktor-faktor yangDiantara faktor-faktor yang dominan pengaruhnya adalah suhu, pH, jenis substrat, serta aktivator dan inhibitor dominan pengaruhnya adalah suhu, pH, jenis substrat, serta aktivator dan inhibitor enzim. Berbagai jenis bakteri dan kapang dilaporkan mampu menghasilkan enzim. Berbagai jenis bakteri dan kapang dilaporkan mampu menghasilkan protease dan beberapa diantaranya telah digunakan dalam skala industri. protease dan beberapa diantaranya telah digunakan dalam skala industri. Protease digunakan pada beberapa industri seperti detergen, farmasi, Protease digunakan pada beberapa industri seperti detergen, farmasi, produk-produk kulit, pengempukan daging, hidrolisat protein, produk-produk-produk-produk makanan, produk kulit, pengempukan daging, hidrolisat protein, produk-produk makanan, dan proses pengolahan limbah industri (Yusriah dan Kuswytasari, 2013).

dan proses pengolahan limbah industri (Yusriah dan Kuswytasari, 2013).

Pada dasarnya bakteri proteolitik mampu menguraikann protein menjadi Pada dasarnya bakteri proteolitik mampu menguraikann protein menjadi monomer-monomer asam amino atau peptide. Kemampuannya dalam monomer-monomer asam amino atau peptide. Kemampuannya dalam

(3)

menguraikan protein berkaitan enzim yang dihasilkannya. Protease dari sumber mikroba lebih disukai di sektor industri dari pada enzim dari sumber tanaman dan hewan karena enzim dari mikroba memiliki hampir semua karakteristik yang diinginkan untuk aplikasi bioteknologi. Kebanyakan protease komersial diproduksi dari bakteri, terutama yang bersifat netral dan basa (Arfarita, 2015).

Bakteri proteolitik yang menguraikan protein dapat dideteksi keberadaannya dengan terbentuknya zona bening. Isolat bakteri proteolitik yang menghasilkan zona bening dimurnikan hingga diperoleh koloni tunggal dan ditumbuhkan pada media agar miring sebagai stok. Isolat bakteri proteolitik dikarakterisasi secara makroskopis yaitu pengamatan karakter morfologi secara langsung tanpa menggunakan alat mikroskop (Badriyah dan Tri, 2013).

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari praktikum Mikrobiologi Hasil Perikanan pada materi Identifikasi Bakteri Proteolitik Pada Produk Perikanan adalah untuk mengetahui adanya bakteri proteolitik yang terdapat dalam produk perikanan.

Tujuan dari praktikum Mikrobiologi Hasil Perikanan pada materi Identifikasi Bakteri Proteolitik Pada Produk Perikanan agar praktikan dapat mengetahui secara visual tentang ciri-ciri bakteri proteolitik dari koloni yang terbentuk.

1.3 Waktu dan Tempat

Pada praktikum Mikrobiologi Hasil Perikanan materi Perhitunngan Total Bakteri Gram Positif dan Negatif dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB - selesai pada hari Selasa, 10 April 2018; Jumat, 13 April 2018; Selasa, 17 April 2018; Jumat, 20 April 2018 di Laboratorium Keamanan Hasil Perikanan, Gedung A, Lantai 1, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

(4)

2. PROSEDUR KERJA

Materi 6. Identifikasi Bakteri Proteolitik Pada Produk Perikanan

Kelompok Shift Sampel Perlakuan

1 1 Tempura SMA

2 1 Bakso ikan SMA

3 1 Bakso udang SMA

4 1 Otak –otak ikan SMA

Kelompok Shift Sampel Perlakuan

5 2 Tempura SMA

6 2 Bakso ikan SMA

7 2 Bakso udang SMA

8 2 Otak –otak ikan SMA

Kelompok Shift Sampel Perlakuan

9 3 Tempura SMA

10 3 Bakso ikan SMA

11 3 Bakso udang SMA

12 3 Otak –otak ikan SMA

Kelompok Shift Sampel Perlakuan

13 4 Tempura SMA

14 4 Bakso ikan SMA

15 4 Bakso udang SMA

(5)

3. METODOLOGI

3.1 Alat Praktikum

 Alat praktikum yang digunakan pada materi Identifikasi Bakteri Proteolitik Pada Produk Perikanan adalah :

- Erlenmeyer 250 ml : sebagai wadah pembuatan media NA, margarin dan pengenceran 10-1

- Spatula : untuk menghomogenkan larutan secara manual - Tabung Reaksi : sebagai tempat pengenceran bertingkat

- Inkubator/etalase : untuk menginkubasi bakteri pada suhu 31 oC

- Bunsen : untuk pengkondisian aseptis

- Beaker glass 1000 ml : untuk wadah pembuatan larutan NaFis 0,9%

- Timbangan digital : untuk menimbang sampel dengan ketelitian 0,01 gram

- Crushable tank : untuk mengambil alat dalam kondisi panas

- Autoklaf : untuk mensterilkan media yang digunakan pada suhu 121 oC selama 15-20 menit dengan tekanan 1

atm

- Baskom : untuk wadah cawan petri yang dicuci - Cawan petri : sebagai tempat penanaman bakteri - Rak tabung reaksi : sebagai tempat tabung reaksi

- Panci : untuk merebus media dan cawan petri setelah pengamatan

- Pipet serologis 1 ml : untuk mengambil larutan sebanyak 1 ml saat pengenceran bertingkat dan penanaman

(6)

- Colony counter : untuk menghitung jumlah koloni bakteri pada cawan petri

- Mortar dan alu : untuk menghaluskan sampel

- Pisau : untuk memotong sampel

- Gelas ukur 100 ml : untuk mengukur aquades yang dibutuhkan - Talenan : sebagai alas untuk memotong sampel - Kompor gas : sebagai sumber panas

- Nampan : sebagai wadah alat dan bahan - Sprayer : sebagai wadah alcohol 70 %

- Pipet Volume : untuk memindahkan NaFis 0,9 % dari beaker glass 1000 ml ke tabung reaksi

- Bola hisap : untuk membantu kerja pipet volume dan pipet serologis

- Incase : untuk meletakkan alat yang telah disterilisasi - Washing Bottle : sebagai wadah aquades

3.2 Bahan Praktikum

Bahan praktikum yang digunakan pada materi Identifikasi Bakteri Proteolitik Pada Produk Perikanan adalah :

- Tempura : sebagai sampel - Bakso ikan : sebagai sampel - Bakso udang : sebagai sampel - Otak –otak ikan : sebagai sampel - SMA (Skin Milk

 Agar)

: sebagai media non selektif untuk penanaman bakteri

(7)

- Alkohol 70% : untuk pengkondisian aseptis - Kertas label : untuk menandai sampel

- Kertas koran : untuk membungkus cawan petri, pipet serologis, dan tabung reaksi saat disterilisasi

- Kapas : untuk menutup mulut tabung reaksi, erlenmeyer, dan pengkal pipet serologis saat disterilisasi

- Tissue : untuk mengeringkan alat setelah dicuci - Air  : untuk mencuci alat setelah digunakan - Spirtus : untuk bahan bakar bunsen

- Aquades : untuk melarutkan NA, MG, dan NaCl - NaCl : sebagai bahan pembuatan NaFis 0,9%

(8)

3.3 Skema Kerja

Sampel

Dihaluskan

Diambil 25 gram

Di masukkan ke dalam erlenmeyer berisi 225 ml Nafis 0,9% (10-1)

Diambil 1 ml dengan pipet serologis

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi 9 ml NaFis sebagai pengenceran 10-2 dilakukan sampai 10-3

Dilakukan penanaman 10-3 sebanyak 1 ml pada media NA atau media

Mc. Conkey Agar  secara duplo (Metode pour plate)

Diinkubasi pada selam 48 jam dalam etalase bakteri pada suhu 370C

Diamati

Identifikasi koloni yang terbentuk dan dihitung

(9)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan

Kelompok Sampel Jumlah Koloni Bakteri Identifikasi Koloni Bakteri

A B A B 1 Tempura 2 sp Terbentuk zona bening 1 mm

-2 Bakso ikan - Sp - spreader

3 Bakso udang 5 7 Terbentuk zona bening 3,65 mm Terbentuk zona bening 13,35 mm 4 Otak –otak ikan 3 3 Terbentuk zona bening 10,45 mm Terbentuk zona bening 4,75 mm 5 Tempura Sp 64 -Terbentuk zona bening 8,5 mm 6 Bakso ikan 148 14 Diameter koloni bakteri tida terjangkau micrometer Terbentuk zona bening 5 mm 7 Bakso udang 7 2 Terbentuk zona bening 17,3 mm Terbentuk zona bening 9,25 mm 8 Otak –otak ikan 6 6 Terbentuk diameter zona bening 1,3 mm Terbentuk zona bening <4,3 mm 9 Tempura 20 32 Diameter > 1mm berupa koloni putih bening Diameter > 1mm berupa koloni putih bening 10 Bakso ikan 14 4 Diameter > 1mm berupa koloni putih bening Diameter > 1mm berupa koloni putih bening 11 Bakso udang 14 16 Diameter > 1mm berupa Diameter > 1mm berupa

(10)

koloni putih bening koloni putih bening 12 Otak –otak ikan 8 12 Diameter > 1mm berupa koloni putih bening Diameter > 1mm berupa koloni putih bening 13 Tempura 52 35 Diameter > 1mm berupa koloni putih bening Diameter > 1mm berupa koloni putih bening 14 Bakso ikan 38 28 Terbentuk zona bening 13,8 mm Terbentuk zona bening 3,35 mm 15 Bakso udang 18 5 Terbentuk zona bening 11,6 mm Terbentuk zona bening 2,7 mm `16 Otak –otak ikan 15 15 Terbentuk zona bening 5,35 mm Terbentuk zona bening 1,2 mm

(11)

4.2 Analisa Prosedur

Pada praktikum Mikrobiologi Hasil Perikanan materi Identifikasi Bakteri Proteolitik Pada Produk ehal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan. Setelah itu alat praktikum (cawan petri, tabung reaksi baik sebelum dan sesudah di isi Nafis 225 ml, pipet serologis, erlenmeyer) disterilisasi. Metode sterilisasi yang digunakan adalh sterilisasi basah dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit dengan tekanan 1 atm. Tujuannya adalah unt uk

membebaskan alat dari kontaminasi bakteri.

Prosedur penggunaan autoklaf adalah pertama periksa volume air dalam autoklaf dan pastikan tinggi air pada batas yang telah ditentukan. Lalu masukkan alat atau bahan yang akan disterilisasi. Tutup autokllaf dengan rapat dan putar pengunci secara diagonal. Selanjutnya, nyalakn kompor dana tur tekanannya agar tetap stabil pada tekanan 1 atm di 15 menit. Setelah selesai, kecilkan kompor dan buka klep untuk menurunkan tekanan sampai o atm. Lalu buka tutp autoklaf dengan membuka pengunci secara diagonal dan ambil alat dan bahan dari autoklaf, sehingga diperoleh alat dan bahan yang steril.

Sterilisasi alat dilakukan dengan langkah awal yaitu tabung reaksi ditutup dengan kapas yang dibungkus kain kassa, semua tabung reaksi diikat menjadi satu dan bagian tutupnya dibungkus dengan aluminium foil. Autoklaf diisi dengan aquades sampai permukaan air di bawah angsang. Masukkan tabung reaksi ke dalam autoklaf ditutup dengan kencang. Suhu tekanan pada autoklaf umumnya 121°C. tanda digital menyala apabila proses sterilisasi telah selesai (Fitri et al ., 2014).

 Alat-alat yang digunakan untuk penanaman menurut Prayoga, (2015) harus dalam kondisi steril. Alat-alat logam dan gelas dapat disterilkan dalam autoklaf. Sedangkan alat tanam seperti pinset dan gunting dapat juga disterilkan dengan

(12)

pembakaran atau dengan pemanasan dalam oven. Khusus untuk skapel, tangkainya dapat disterilkan dengan menggunakan autoklaf, namun pisaunya (blade)  akan tumpul apabila dipanaskan pada temperature tingi. Oleh karena itu untuk sterilisasi sebaiknya dilakukan dengan pencelupan dalam alkohol. Temperatur yang digunakan untuk sterilisasi adalah 1210 dengan tekanan 17,5 psi

(pounds per square inch) selama 1 jam. Perhitungan waktu sterlisasi dimuali setelah tekanan yang diinginkan tercapai.

Setelah proses sterilisasi alat, selanjutnya ialah membuat Nafis 0.9% dengan menimbang NaCl sebanyak 2,025 g untuk 1 erlenmeyer, lalu dimasukkan ke dalam beaker glass dan ditambah 225 ml aquades. Selanjutnya bahan dihomogenkan agar NaCl larut secara merata dan tidak ada yang menggumpal. Setelah itu, Nafis 0,9% dimasukkan ke dalam erlenmeyer berukuran 250 ml. Kemudian membuat Nafis II dengan memasukkan NaCl seberat 0,18 g ke dalam beaker glass yang berisi 20 ml aquades dan dihomogenkan. Lalu diambil Nafis II dan dimasukkan ke 4 tabung reaksi masing  –  masing tabung reaksi berisi 9 ml Nafis. Lalu lubang erlenmeyer dan tabung reaksi ditutup dengan kapas dan plastik wrap. Kemudian dibungkus dengan koran dan diikat dengan tali kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 1210C dengan tekanan 1

atm selama 15 menit. Tujuan dibungkus dengan koran adalah agar uap air tidak masuk kedalam erlemeyer, pipet serologis dan cawan petri. Tujuan sterilisasi adalah untuk membunuh mikroorganisme yang dapat mengakibatkan kontaminasi. NaFis I= 0,9 100 x (∑ erlenmeyer x 225ml) = 0,9 100 x (1 x 225 ml) = 2,025 g Σ Aquades I= ∑ erlenmeyer x 225 ml = 1 × 225 ml = 225 ml

(13)

NaFis II=0,9

100 x(∑tabung reaksi x 10ml)

= 0,9

100 × 2 × 10 ml

= 0,18 g

Σ Aquades II= ∑tabung reaksi x 10 ml

= 2 × 10 ml

= 20 m

Setelah pembuatan Nafis 0,9% steril yang dilakukan pengenceran degan langkah awal menghaluskan sampel lalu ditimbang sebanyak 25 g. Lalu sampel dimasukkan kedalam erlenmeyer yang telah berisi 225 ml Nafis 0,9% sebagai pengenceran 10-1. Lalu diambil sebanyak 1 ml dengan menggunakan pipet

serologis dan dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah berisi NaFis steril 0,9% sebagai pengenceran 10-2. Lalu diambil sebanyak 1 ml dari hasil

pengenceran 10-2  dengan menggunakan pipet serologis yang berbeda dan

dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah berisi NaFis steril 0,9% sebagai pengenceran 10-3. Tujuan penggantian pipet serologis saat pengambilan sampel

adalah untuk menghindari kontaminan bakteri yang berlebihan.

Pengenceran menurut Mumtianah (2014), sebanyak 1 gram sampel bekasam dihancurkan dalam mortar steril untuk mendapatkan kondisi sampel yang homogen, kemudian sampel bekasam yang telah homogen dilakukan pengenceran dengan menggunakan 45 ml NaCl 0,9%, sehingga di dapatkan pengenceran 10-1, kemudian dari pengenceran 10-1 diambil 1 ml dan dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi 9 ml NaCl, sehingga didapatkan pengenceran 10-2, begitulah seterusnya hingga didapatkan pengenceran 10-5. Selanjutnya dari pengenceran 10-4 dan 10-5 di ambil sebanyak 1 ml dan di inokulasikan pada cawan petri yang berisi medium MRSA.

(14)

Sampel air laut diencerkan menggunakan larutan fisiologis 0,9 g NaCl dengan ditambah 1000 ml aquades. Pengenceran akan dilakukan dengan ulangan 10-1 – 10-6, dimasukkan ke dalam larutan fisiologis dengan pengenceran 10-1

sebanyak 1 ml dimasukkan larutan fisiologis dengan pengenceran 10-2. Dilakukan

pengenceran bertingkat hingga pengen ceran 10-6 (Zirma et al ., 2018).

Langkah selanjutnya yaitu pembuatan media SMA (Skim Milk Agar). Cara pembuatan media yaitu yang pertama menghitung berat agar yang digunakan yaitu 0,8 gram. Lalu media yang masih berupa serbuk diencerkan dengan menambahkan aquades sebanyak 40 ml. Aquades dimasukkan terlebih dahulu sebanyak 20 ml terlebih dahulu, setelah itu dimasukkan media yang serbuk tersebut kedalam beaker glass. Lalu dihomogenkan. Setelah homogen ditambahkan lagi aquades sebanyak 20 ml dan dihomogenkan kembali. Selanjutnya setelah homogen, dipanaskan air untuk merebus. Tujuan peerebusan yaitu untuk mengaktifkan sifat gel dari media. Lalu setelah direbus, media masih perlu disterilisasi agar terhindar dari kontaminan bakteri yang berlebihan. Setelah disterilisasi dengan autoklaf, tunggu hingga agak dingin dan media siap dituangkan pada sampel kedalam cawan petri. Saat penuangan dilakukan dengan sekali tuang dan lalu segera dihomogenkan dengan membentuk angka 8. Lalu tunggu media hingga memadat. Setelah memadat balik cawan petri dan dibungkus dengan kertas wrap. Lalu dimasukkan kedalam etalase bakteri untuk masa inkubasi. dengan rumus :

SMA = 20

1000x (∑ cawan petri x 20 ml)

= 0,02 x (2 x 20 ml) = 0,8 g

Σ Aquades = ∑ cawan petri x 20 ml

= 2 × 20 ml

(15)

Medium uji yang digunakan adalah skim milk agar (SMA) yang menurut Pradana et al ., (2016). Sebanyak 30 g TSB + 15 g agar-agar bakto + 900 mL akuades disterilasi menggunakan autoklaf dengan suhu 1210C dan tekanan 15 psi

(2 atm) selama 20 menit. Media tersebut kemudian didinginkan hingga suhu 40-50 oC, dan ditambahkan dengan susu skim (10 g susu skim dalam 100 mL akuades) yang disterilisasi pada suhu 1100C selama 10 menit. Media TSA dan

susu dicampur hingga rata kemudian dituang ke dalam cawan petri.

Seleksi bakteri menurut Melliawati et al.(2015) dilakukan dengan menggunakan medium SMA (Skim Milk Agar)  dan susu pasteurisasi. Medium untuk pembiakan sel bakteri dan produksi enzim protease digunakan medium GYS yaitu 0,3 % glukosa, 1 % yeast extract, 2 % Skim Milk. Bakteri yang menghasilkan zona bening disekitar koloni bakteri, berarti positif menghasilkan enzim protease.

Selanjutnya dilakukan penanaman sampel dari pengenceran 10-3 duplo

dengan metode pour plate pada media SMA. Cara penanaman yaitu sampel dari pengenceran 10-3 diambil dengan menggunakan pipet serologis yang sebelumnya

telah dipakai pada pengenceran sebanyak 1 ml. Lalu sampel tersebut dimasukkan kedalam cawan petri sebagai wadah untuk penanamannya. Jumlah cawan petri yang digunakan sebanyak 2 buah. Hal ini dikarenakan metode yang digunakan adalah metode pour plate secara duplo (2 kali). Jadi pada cawan petri diberi label 10-3 A dan 10-3B.

Bakteri proteolitik dilakukan pengujian dengan menggunakan media Skim Milk Agar (SMA). Sampel sebanyak 5 mg yang telah dimaserasi dan dihomogenkan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer yang telah berisi 45 ml garam fisiologis. Selanjutnya dilakukan pengenceran sampai dengan pengenceran ke 6 (10-6). Tiga tingkat pengenceran terakhir (104, 105 dan 106), dilakukan

(16)

penanaman pada cawan petri dengan metode tuang. Inkubasi pada suhu 370C

selama 2 x 24 jam (Permata, 2015).

Sampel sedimen diambil 5 gram dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml air laut steril, divortex hingga homogen sehingga diperoleh pengenceran 100. Selanjutnya dari pengenceran 10-0  diambil dan dilakukan

pengenceran bertingkat hingga 10-5. Masing-masing pengenceran dilakukan

penanaman menggunakan metode pour plate. Sebanyak 100 µl sampel pengenceran di masukkan ke dalam cawan petri steril dan selanjutnya dituang media Zobell agar sebanyak ± 15 ml, di homogenkan dan di inkubasi selama 24  jam pada suhu pada suhu ruang (Zainuddin et al., 2017)

(17)
(18)
(19)

DAFTAR PUSTAKA

 Arfarita, Novi. 2015. Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Penghasil Protease Yang Diskrining Dari Terasi. 5(3): 119-122 

Badriyah, B. I. dan Tri A. 2013. Deteksi Aktivitas Proteolitik Isolat Bakteri Asal  Ampas Tahu Pada Substrat Bekatul. Jurnal Biotropika. 1(3):

109-113

Hasan, B., Desmelati., D. Iriani., T. Nugroho., M. A. Arifin., A. Syatapahana. 2015. Aktivitas Enzim Protease dan Lipase Viscera Ikan Kembung (Restrelliger sp) pada pH dan Konsentrasi Garam Berbeda. Jurnal Berkala Perikanan Terubuk . 43(2): 68-76.

Yusriah., dan N.D. Kuswytasari. 2013. Pengaruh pH dan Suhu Terhadap  Aktivitas Protease Penicillium sp. Jurnal sains dan seni pomits. 2(1):

48-50.

Permata, D.A dan Murtius, W.S. 2015. Kandungan Zat Gizi Dan Bakteri Proteolitik Pada Produk Olahan Ikan Bilih. Jurnal Teknologi Pertanian Andalas. 19(1) : 1410-1920.

Prayoga, Lucky. 2015. Proses Sterilisasi dan Penanganan Kontaminasi. Fakultas Biologi, Universitas Soedirman.

Mumtianah, G.N., Kusdiyantini, E., Budiharjo, A. 2014. Isolasi, KarakterisasiBakteri Asam Laktat, dan Analisis Proksimat dari makanan Fermentasi Bekasam Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus Peters). Jurnal Biologi. 3(2): 20-30

Zainuddin, M., W.A, Setyati dan P.P, Renta. 2017. Zona Hidrolisis dan Pertumbuhan Bakteri Proteolitik dari Sedimen Ekosistem Mangrove (Rhizophora mucronate) Telukawur-Jepara. Jurnal Akuatik Sumber Daya Perairan. 11(2): 1978-1652.

Melliawati, R., Djohan, A.C., Yopi. 2015. Sleksi Bakteri Asam Laktat Sebagai Penghasil Enzim Protease. PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON. 1(2): 184-188

Fitriani, W., A, Agustin., A, Febria. 2015. Karakterisasi Bakteri Thermofilik Penghasil Enzim Protease Netral.  Jurnal Biologi.  Universitas  Andeles. 4(1): 9-14

Fitri, A., Agus, W., Karina, W., Hawaidah dan Jut, I. 204. Peralatan, Sterilisasi dan Media Pertumbuhan Mikroba. Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar. Universitas Mulawarman.

(20)

Zirma, A.P.. 2018. Antagonisme Bakteri Heterotrofik yang di Isolasi dari Muara Sungai Siak dan Kawasan Pemukiman Perairan Kabupaten Siak Provinsi Riau Terhadap Bakteri Patogen. Universitas Riau, Pekan Baru.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :