_____________________________________________
Volume 9, No. 1, Februari 2015 http://www.lpsdimataram.com
PEMETAAN TITIK RAWAN LONGSOR DAN KARAKTERISTIK BIOGEOGRAFISNYA
DI KAWASAN WISATA PUSUK
Oleh:
I Gde Dharma Atmaja
Ni Putu Ety Lismaya Dewi
Dosen dpk pada Universitas Nusa Tenggara Barat
Abstract:Pusuk tourist area located in the administrative region of North Lombok, nowadays the
conditions are a lot of environmental damage caused by illegal logging activities. This leads to the
occurrence of landslides in the rainy season. The aim of this research was to determine the landslide
prone points in the tourist area Pusuk North Lombok, knowing the geographical and ecological
characteristics of the vulnerable points of landslides in the tourist area Pusuk. In this study, digitization of
the landslide prone points will be generated the map of landslides distribution points in the Pusuk area,
vegetation analysis was also performed in this study. Data were analyzed descriptively and shown as
images, tables and graphs. The result of this study showed that the landslide-prone points in Tourism
Regions Pusuk located in coordinates (9064525, 399 632) at an altitude of 297 m above sea level with
steep slope more than 60% . the soil condition with thin surface layer of soil and vegetation cover types
such as shrubs.
Keywords:mapping, landslide, Pusuktourist area.
PENDAHULUAN
Degradasi lahan yang diakibatkan oleh
bencana alam cenderung meningkat dari tahun ke
tahun, sehingga dampak negatif yang diakibatkan
menjadi semakin besar. Salah satu bencana alam
yang sering terjadi adalah tanah longsor. Longsor
adalah suatu pergerakan massa tanah pada bidang
kelerengan, dari elevasi rendah dalam suatu waktu
(Yudianto,
2006).
Menurut
data
Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG),
curah hujan di wilayah Nusa Tenggara Barat dapat
mencapai 50 mm/hari yang berpotensi memicu
tanah longsor dan banjir bandang terutama pada
sungai yang menjadi muara aliran air hujan.
Daerah rawan bencana longsor di Pulau Lombok
adalah Sembalun dan Belanting (Lombok Timur),
Pusuk (Lombok Utara) dan Sekotong (Lombok
Barat).
Kawasan
wisata
Pusuk
merupakan
kawasan wisata yang termasuk dalam wilayah
administrasi Kabupaten Lombok Utara dan
berbatasan langsung dengan Kabupaten Lombok
Barat. Kawasan wisata ini memiliki daya tarik
wisata berupa bentang alam yang indah (tebing dan
lembah yang ditutupi tumbuhan kayu keras) dan
satwa primata berupa monyet ekor panjang
(Macaca fascicularis) dan lutung (Trachipitecus
auratus). Akan tetapi, akhir-akhir ini banyak
terjadi kerusakan habitat diakibatkan oleh aktivitas
penebangan liar hutan di sekitar kawasan wisata
Pusuk. Hal ini menyebabkan terjadinya longsor
pada musim penghujan. Akibat longsor yang
sering terjadi, akses jalan ke kota Tanjung
terhambat dan bahkan sering ditutup. Akibat yang
paling fatal adalah wisatawan yang akan
mengunjungi kawasan ini mengalihkan pilihannya
ke lokasi yang lain. Kondisi ini menyebabkan
pariwisata di daerah ini tidak berkembang dari
waktu ke waktu.
Selain mengurangi daya tarik wisata di
kawasan wisata Pusuk sendiri, kerusakan akses
jalan (longsor) di kawasan ini menghambat
aktivitas pariwisata lainnya. Salah satu pariwisata
yang terkenal dalam skala internasional di KLU
adalah Gili Matra. Penanganan longsor yang
lambat
dan
lemah
di
daerah
ini
sering
menyebabkan permasalahan menjadi semakin
berat. Berbagai upaya pemerintah daerah dalam
mengatasi masalah ini antara lain dengan membuat
tanggul-tanggul buatan di beberapa daerah yang
sering longsor. Akan tetapi, fakta yang terjadi di
lapangan adalah titik-titik longsor selalu bertambah
dan sulit diprediksi titik-titik yang memiliki tingkat
keparahan dan kerawanan longsor yang tinggi.
Sampai saat ini data dan informasi mengenai
titik-titik
longsor
tersebut
belum
pernah
diidentifikasi dan dipetakan secara lengkap. Untuk
itu, perlu dilakukan penelitian untuk memetakan
titik-titik rawan longsor di kawasan wisata Pusuk
serta mengidentifikasi faktor-faktor penting dan
utama yang mempengaruhi terjadinya longsor.
Dengan mengetahui titik-titik rawan longsor dan
karakteristik geografis dan ekologis akan dapat
dilakukan pencegahan meluasnya daerah longsor
di kawasan wisata Pusuk. Selain itu juga, dengan
mengetahui
faktor-faktor
penting
yang
berpengaruh,
pemerintah
dapat
melakukan
_____________________________________
http://www.lpsdimataram.comVolume 9, No. 1, Februari 2015
tindakan yang tepat, efektif dan efisien serta ramah
lingkungan dalam melakukan penanganan longsor.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan mulai bulan April
sampai September 2014 di Kawasan Wisata Pusuk
Kabupaten Lombok Utara.
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian
Parameter yang akan diamati dalam penelitian
ini adalah parameter-parameter fisik faktor
penyebab terjadinya tanah longsor serta titik-titik
rawan longsor yang berada di Kawasan Wisata
Pusuk.
Rancangan penelitian yang digunakan dalam
penelitian
ini
adalah
rancangan
penelitian
deskriptif.
Rancangan
penelitian
ini
akan
mendeskripsikan hal-hal yang terkait dengan
Pemetaan
Titik-Titik
Rawan
Longsor
dan
Karakteristik Biogeografisnya di Kawasan Wisata
Pusuk, Kabupaten Lombok Utara.
1. Marking dan Digitasi Kontur Titik-titik
Rawan Longsor
Untuk membuat peta sebaran daerah rawan
longsor, dilakukan marking pada titik-titik yang
akan diamati dengan menggunakan GPS. Data
yang dihasilkan oleh GPS direpresentasikan dalam
bentuk data vektor. Data ini kemudian akan di
digitasi dengan menggunakan software Arc View
sehingga akan menghasilkan peta titik-titik rawan
longsor di Kawasan Wisata Pusuk, Kabupaten
Lombok Utara.
2.
Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi dilakukan setelah kegiatan
pengamatan selesai. Analisis vegetasi dilakukan
dengan menggunakan metode kuadrat dengan
ukuran 10 m x 10 m untuk mengetahui kerapatan
jenis dan keanekaragaman jenis flora.
=
ℎ
=
/ ln
(Kusmana, 1997)
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini
berupa data primer dan data sekunder. Data primer
yaitu data yang diperoleh di lapangan melalui
dokumentasi
dalam
pengamatan
langsung.
Sedangkan data sekunder meliputi data fisiografis
daerah penelitian, kemiringan lereng, penggunaan
lahan, curah hujan dan data lainnya. Data diperoleh
melalui kajian pustaka dari berbagai sumber.
Proses pemetaan dikerjakan dengan software Arc
View 3.2 untuk menyajikan informasi visual
tentang sebaran titik-titik rawan longsor di
Kawasan Wisata Pusuk, Kabupaten Lombok Utara
serta surfer untuk pemetaan kontur di lokasi
penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a.
Hasil Penelitian
Kegiatan penelitian pemetaan titik-titik rawan
longsor dan kondisi biogeografis di Kawasan
Wisata Pusuk tahap I dan tahap II telah
dilaksanakan. Periode pengambilan data tahap I
dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2014 dan tahap
II dilaksanakan pada tanggal 19 Juni 2014.
Pengambilan data yang telah dilakukan yaitu
marking di beberapa titik rawan longsor yang ada
di Kawasan Wisata Pusuk dengan menggunakan
GPS (Gambar 2 dan Gambar 3).
Gambar 2. Titik Rawan Longsor di Kawasan
Wisata Pusuk
Kec. Tanjung
Kec. Batu Layar Desa Mala ka
Desa Peme na ng Bar at Desa Pemenang Timur 3 9 9 6 4 2 3 9 9 6 4 2 3 9 9 7 7 1 3 9 9 7 7 1 3 9 9 9 0 0 3 9 9 9 0 0 9 0 6 4 5 7 2 9 0 6 4 5 7 2 9 0 6 4 7 0 1 9 0 6 4 7 0 1 Keterangan :
Kab. Lombok B arat Kab. Lombok U tar a
Kab. Lombok T imur Kab. Lombok T engah Matar am Pulau Lombok Kec. Pemenang
Kab. Lombok Utara : Jalan : Batas Desa : Batas Kecamatan
: Data Titik Sampling Penelitian : Pertanian : Perkebunan : Kawasan Lindung
PETA TITIK SAMPLING PENELITIAN N
_____________________________________________
Volume 9, No. 1, Februari 2015 http://www.lpsdimataram.com
Gambar 3. Marking titik-titik rawan longsor di
Kawasan Wisata Pusuk
1.
Jenis Vegetasi
Selain itu juga
dilakukan
pengamatan
kerapatan vegetasi dan keanekaragaman jenis
vegetasi yang ada di titik-titik yang diamati.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan
ditemukan beberapa jenis vegetasi yang ada pada
titik-titik yang diamati.
Hasil analisis vegetasi di titik A menunjukkan
bahwa ada 4 (empat) spesies tumbuhan yang ada
yaitu kumbi, gamal, dadap hutan dan kelicung.
Hasil perhitungan densitas relatif menunjukkan
bahwa tumbuhan senggapur mendominasi vegetasi
yang ada di titik A (40%), diikuti oleh tumbuhan
gamal (33,33%), kemudian dadap hutan dan
kelicung (13,33%).
Di titik B juga ada 4 (empat) spesies
tumbuhan yaitu kumbi, fikus, kelicung dan satu
spesies yang belum teridentifikasi. Tumbuhan
fikus berdasarkan hasil perhitungan densitas relatif
mendominasi vegetasi yang ada di titik B
(26,67%), diikuti oleh kumbi dan spesies 1
(13,33%), dan kelicung (6,67%).
Sementara di titik C ada 6 spesies yang ada
yaitu kumbi, kelicung, dadap hutan, dan 3 spesies
lain yang belum diidentifikasi. Kumbi dan spesies
2 mendominasi vegetasi yang ada di titik C (20%),
diikuti kelicung (13,33%), kemudian dadap hutan,
spesies 1 dan spesies 3 (66,67%).
2.
Keadaan Kontur Daerah Penelitian
Berdasarkan hasil marking titik dan olah data
menggunakan program surfer didapatkan hasil
sebagai berikut:
a)
Titik A
Elevasi terendah di titik A pada marking di
koordinat
(9064496,399622),
ketinggian
muka tanah berada di ketinggian 289 m di atas
permukaan laut. Elevasi tertinggi di titik A
pada marking koordinat di titik (9064525,
399632), ketinggian muka tanah berada di
ketinggian 297 m di atas permukaan laut.
Adapun hasil dari olah data kontur di titik A
ditampilkan pada Gambar 4 berikut.
Gambar 4. Peta Kontur di Titik A
b)
Di titik B
Elevasi terendah di titik B pada marking di
koordinat (9064671, 399804), ketinggian
muka tanah berada di ketinggian 274 m di atas
permukaan laut. Elevasi tertinggi di titik B
pada
marking
koordinat
di
titik
(9064690, 399724), ketinggian muka tanah
berada di ketinggian 278 m di atas
permukaan laut. Adapun hasil dari olah data
kontur di titik B ditampilkan pada Gambar 5
berikut.
Gambar 5. Peta Kontur di Titik B
c)
Di titik C
Elevasi terendah di titik C pada marking di
koordinat (9064652, 399883), ketinggian
muka tanah berada di ketinggian 246 m di atas
permukaan laut. Elevasi tertinggi di titik C
pada
marking
koordinat
di
titik
(9064673, 399884), ketinggian muka tanah
berada di ketinggian 250 m di atas
permukaan laut. Adapun hasil dari olah data
_____________________________________
http://www.lpsdimataram.comVolume 9, No. 1, Februari 2015
kontur di titik C ditampilkan pada Gambar 6
berikut.
Gambar 6. Peta Kontur di Titik C
b. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data didapatkan
bahwa di titik A kemiringan lerengnya terjal
berbatu dengan kemiringan di atas 60% dengan
kondisi lapisan permukaan tanah yang tipis.
Elevasi terendah di titik A berada di ketinggian
289 m di atas permukaan laut dan elevasi tertinggi
berada di ketinggian 297 m di atas permukaan laut.
Tipe perakaran dominan yang ada di titik A adalah
tipe perakaran tunggang dimana spesies yang
mendominasi adalah tumbuhan senggapur dengan
densitas relatif 40%. Kemiringan lereng yang
terjal dan jenis tumbuhan yang berupa semak
menyebabkan di titik A rawan terjadi longsor. Hal
ini sejalan dengan hasil penelitian dari Mutia dan
Firdaus di tahun 2011 yang menyatakan bahwa
daerah yang sangat rawan longsor berada di daerah
perbukitan dengan kemiringan lereng agak terjal
yakni 25-40% dan kemiringan ˃40%.
Kondisi kemiringan lereng di titik B agak
curam berbukit dengan kemiringan 30%. Elevasi
tertinggi berada di ketinggian 278 m di atas
permukaan laut, sedangkan elevasi terendah 274 m
di atas permukaan laut. Spesies yang mendominasi
di titik B adalah tumbuhan Ficus dengan tipe
perakaran tunggang. Kondisi lapisan permukaan
tanahnya relatif baik dan didominasi oleh
pohon-pohon besar sehingga di titik B tidak terjadi
longsor.
Di titik C kondisi kemiringan lerengnya
adalah lereng datar dengan kemiringan lereng
kurang dari 8%. Elevasi terendah di titik C berada
di ketinggian 246 m di atas permukaan laut dan
elevasi tertinggi berada di ketinggian 250 m di atas
permukaan laut. Tumbuhan yang mendominasi
adalah kumbi dengan tipe perakaran tunggang.
Kerapatan vegetasi yang mendominasi di titik ini
adalah tergolong rendah yaitu 20%. Kondisi
kemiringan lereng yang datar dan didominasi oleh
pohon-pohon besar walaupun dengan indeks
kerapatan rendah menyebabkan jarang terjadi
longsor.
Secara keseluruhan di Kawasan Wisata Pusuk
yang memiliki intensitas curah hujan yang tinggi,
tanah longsor terjadi pada daerah dengan
kemiringan lereng terjal dengan tutupan lahan yang
minim dan didominasi oleh tumbuhan semak.
Sedangkan pada daerah dengan kemiringan yang
agak curam dan lereng datar serta didominasi oleh
pohon-pohon besar, tanah longsor jarang terjadi
karena perakaran dari pohon-pohon mampu
berfungsi sebagai pengikat tanah.
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan di atas dapat
disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1.
Titik rawan longsor di Kawasan Wisata Pusuk
berada di koordinat (9064525, 399632)
dengan ketinggian muka tanah berada di
ketinggian 297 m di atas permukaan laut.
2.
Titik rawan longsor di Kawasan Wisata Pusuk
memiliki kemiringan lereng terjal berbatu
dengan kemiringan di atas 60% dengan
kondisi lapisan permukaan tanah yang tipis
dan jenis tumbuhan yang berupa semak.
DAFTAR PUSTAKA
Asdak, Chay. 2001. Hidrologi dan Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta
Bowles, JE.,1989. Sifat-sifat Fisik & Geoteknis
Tanah, Erlangga, Jakarta, 562 hal.
Dinata, IWHI et al. 2013. Pemetaan Daerah
Rawan Bencana Longsor di Kecamatan
Sukasada,
Kabupaten
Buleleng.
http://ejournal.undiksha.ac.id.
Diakses
tanggal 30 Nopember 2013 pukul 10.00
WITA
Gaol, ANL. 2010. Pemetaan Daerah Rawan
Longsor
Kabupaten
Karo
Provinsi
Sumatera Utara. Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.
2008.
Pengenalan
Gerakan
Tanah.
http://www.esdm.go.id/publikasi/lainlain/
doc_download/489-pengenalan-gerakan-tanah.html
.
Diakses
tanggal
27
nopember 2013 pukul 11.30
Kusmana, C. 1997. Metode Survei Vegetasi. PT.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
_____________________________________________
Volume 9, No. 1, Februari 2015 http://www.lpsdimataram.com