lssN
0854-5154
Jurnal
ternatika
&
Sains
Pengaruh
Triptofan
pada
Pertumbuhan dan Kandungan
Katarantin
dari
Kalus Catharanthus
roseus
Dings e P andian ganl ), D e nni e H
eroike
Rompas2), Henry
F ondct Aritonctn.s3 )RizkitaRachmi
Esyantia),clai
nrty
Manyani'l)
-
'-- ""-o
'.',)Jttrttsan
Biologi,
Fakultas Matemrfiika
clanllmu
PengetahttctnAlcmt,
(Jniyersitas SamRatulartgi,
Munaclo')Jurusan
Biologi,
Fakultas Matematika tlan
llmu
PengetalutanAkun,
(Jniversitas
l,,legeriManado,
Tonclano')Ju.rrlrnn
Khniu,
Fakultas Matematika
clanllruu
PengetahtrcutAlum,
(Jniversitas
Sartt Ratulcutgi, Marrucloo)Progra,n
Studi
Biotogi,
Sekolahllmtt
clcut'leknoiogi
Hayati, Institut
Teknologi
Banclung,Bandtutg
e -moil
:
ding s e p an@ yoho o. comDiterima
Juni
2006,diserujui untuk dipublikasikan
Desember 2006Abstrak
Pengaruh
triptofon
terlmdappefiumbulnn dan
kandungatT kcLtaratltittpada
kttLtur kalus Catharanthus roselis telahditeliti-
Pertuntbuhan kalus C. roseus-],arlg,tliberitriptofan 100,
125 dan225 mg/Lrendahpada hari ke-21, trLmurtyrutgdiberi
penantbahan 150,175
datt200
ng/L
pertunbuhannya lebihbaikctari
kontrol. Kcutclulgan katarantirt kontrolataLt tatTpa
triptofan adalah
123,22 pg/g bk. Kandungan katarantitt pada keencun kalus yang diberi perlakuan triptofan 100' 125, 150,175,200,225
mg/L adalah 485,00, 588,32,875,10, 905,26,781,10dan
950,i4 pg/g bk.pertakuail,ang
optimal untuk pefiumbuhan
dan
produksi katarantin dengan pencntbahan prekursor triptofanaiatah
175 mg/L a"",rgolpeningkatan kandungan katarantin sebesar I 13,90 7o .
Kata Kunci: Catharanthus roseus, KoltLs, Katarantin, Triptofan
Abstract
Research on the growtlt and catharctnthine content
of
Catharanthus roseuscallus
w,lticlt weretreatel with
tryptophan had been done. Wet and dry weight o/Catharanthus roseus collus clecreasedwlten
treatedwith
100, 125and
2-25 nry/Ltr1|ptopltan'
but callus
treatedwith
150, 175 cutd 200ntg/L
tryptophangrew better.
Catharanthine contentsofihe
kontrol
calluswas
423,22 1tg/gdw.
The treatrnettt ccLllicontaini
+'ss,oo,-5gg,32, g75,10, g05,26, 7g4,10artd
950,541tg/g
dw
of
catlmrantltine
respectively.The
optinml
tryptophan
treattilett
for
callus growth
ancl
cathara,tltirrc production was 175 mg/L tryptopltcut with aI
13,90 To. increase of catharanthine content.Keywords
:
Catharanthus roseus, Cctllus, Catlmranthine, Tryptophan1. Pendahuluan
Catharantlms roseus
(L)
G. Don
yang
sering disebut tapak dara adalah set.rak tahunan yang banyakdibudidayakan
sebagai tanaman
hias dan
obat.Tanaman
tapak
dara
ini
berguna
untuk
men-gobatihipertensi,
diabetes,
pendarahanakibat
penurunanjumlah
trornbosit,
chorionic
epithelionm,
acutelyntplrccfiic
leukenda,
aalte
nrcnocytic
leukenia.limfosarkoma
den
sarkoma
r.t
retikulum(Wijayakusuma
et al.,
1992).
Sekitar 100
macamalkaloid
telah
diidentifikasi
pada
tanaman
ini,diantaranya
adalah
alkaloid
anti
kanker
sepenivinblastin, vinkristin, katarantin clan leurosin (de padua
et
al.,
1999).
Vinkistin
dan vinblastin yang
relahdikomersialkan kebanyakan berasal clari tapak dara (de
Padua et
al.,
1999). Senyawa antikankerini
menekan atau menghambat pembelahan sel dengan n'rembekukar.rprotein
nrikrotubular,
terutama
pada
metafase (Alexaridrova etal.,
2000; de paclua etat.,
1999).Kultur
suspensisel, kaius, tunas, akar
danagregat sel C. roseus dapat menghasilkan alkaloid yang
lebih
banyak (Vazquez-FloIaet
al.,
1994;Kim
et aL.,1994; Verpoorte
et
al.,
1993;
Smith
er
a1., lggi,;
McCaskill
et al.,
1988).
Keunrungan
lain
dari penggunaan kultur jaringan untuk produksi alkaloidini
adalah produksinya dapat
diatur,
kualitas
dan
hasilproduksinya lebih konsisten, biaya prociuksi lebih kecil
dan
mengurangi penggunaanlahan
(Sugiarso, 1999;Bajaj et a/., 1988; Hirata et o1.,1990a dan 1990b).
Menurut Matrel and Smirh (1983), agar produksi
metabolit sekunder
tinggi
maka perlu optimasifaktor-faktor
internal dan ekster"nal. Optimasi dapat clilakukandalam
dua tahap,yaitu
tahap perlumbuhan dan padatahap produksi. Pada tahap pertumbuhan, pengaturan
kondisi
kultur
diarahkan untuk memproduksi biomassadalam waktu dekat,
sedangkan
tahap
pro<iuksi,pengaturan
kondisi kultur untuk
produksi
metabolit sekunder. Selainoptimasi
pada ke<iua tahapcli
atas, 111L
12
J t] RNAL MATEM ATIKA DAN SAI,ryS, DESEM B ER 2006,pendekatair
lain
yang
dapatdilakukafl
secaraefektif
untuk
meningkatkan
produksi
biomassa
sel
danmetallolit
sekunder
adalah
penambahan prekursor (prazat), eiisitasi dan amobilisasi.Triptofan
merupakan prekursoralkaloid
indol kompleks, sepefti katarantin. Penambahan zat tersebutdapat mengaktifkan sintesis
alkaloid
indoi
kompleks pada C. roseus (Zhao et aI.,2001).Penelitian
ini
bertujuan untuk
mempelajariresporls
pertumbuhan
kalus
C.
roseus
terhadappemberian perlakuan
variasi triptofan;
sefta pengaruhnya terhadap produksi katarantin pada kalus. 2. Metode2.l
EksplanBahan-bahan yang digunakan adalah daun ke-3
atau
ke-4 dari
tunasapical
C.
roseus yafig berbungaputih.
Eksplan tersebutdi
perolehdari
LaboratoriumBotani
Fakultas Matematika
dan
Ilmu
PengetahuanAlam Universitas Sam Ratulangi.
2.2Medium
Medium untuk
induksi kalus yang
digunakan dalam penelitianini
adalah medium induksi kalus yangterdiri
dari medium dasar Murashige dan Skoog (MS),2
mgll-
napthalene aceticacid
dan 0,2mg/L
Kinetin.Medium
perlakuan adalah medium induksi kalus yangditambahkan dengan
berbagai
konsentrasi triptofan,yaitu:
100, 125, 150,115,200dat225
mgll-.
2.3 SterilisasiMediurn dan
alat-alatyang
digunakan terlebih dahulu disterilkandi
dalam autoklaf pada suhulzL'C,
tekanan 15
psi
selama15 menit.
Sterilisasi triptofandilakukan dengan
membran
filter
selulosa
asetat (PTFE) 0,45 pm.Sumber eksplan
yang
akan ditanam
padarnedium terlebih dahulu
dicuci
di
bawahair
trengalir
selama
15 menit,
kemudian direndamdalam
etanol 707o selama enam menit dan dibiias dengan H2O steril.Eksplan selanjutnya disterilisasi dengan
natriumhipoklorit (NaClO) 27o
selama sepuluhmenit,
lalu dibilas dengan H2O steril sebanyak tigakali.
Peralatankultur
disterilkan
secara aseptik dengan perendamanpada etanol 907o
dan pembakaranpada setiap
kalipemakaian. 2.4 Induksi kalus
Penanaman
dan induksi kalus dilakukan
didalam
kotak
pemindahberaliran
udara.Daun
yang telah disterilisasi dipotong-potoltg dengan ukuran 0,5 x0,5 cm2 dan selanjutnya ditanarn pada medium. Setelah penanalnan, semua
botol kultur
clisimpan dalam ruangkultur pada suhu kamar.
voL.
II
NO.4
2.5
Kultur
kalus peilakuan triptofanKalus
yang terbentuk
setelahsekitar
28
haridisubkuitur
sebesar
0,2
g
ke
media
MS
yang mengandung triptofan. Setiapbotol dikultur
2-3 kaius. Setelah2l
hari dalam medium perlakuan (subkultur 1),kemudian dilakukan subkultur kembali
ke
mediaperlakuan yang sama. dengan besar
kalus
yang samadengan subkultur
1
untuk
semuaperlakuan.
Kalusdipanen pada
hari
ke-10 seteiah subkultur
ke-2.Kemudian kaius dikeringkan
dalam
freeze
dryer. Selanjutnya dilakukan ekstraksi dan analisis katarantindari kalus yang sudah kering.
2.6 Ekstraksi dan Isolasi alkaloid katarantin
Prosedur ekstraksi
yang
digunakan
adalahmenurut metode
Tikhomirof
and
Jolicoeur
(2002),Sumarsi
et
al.
(1990),
Pandiangandan
Nainggolan (2006) yang telah dimodifikasi. Sel dikeringkan denganfreeze
dryer
selama satumalam
atau sekitar L2 jam.Bahan
yang telah kering (0,1
g)
dihaluskan dalammortar dan
diekstraksidaiam
5
ml
larutan
metanolselama
2 jam
sambil dikocok.
Campuran kemudiandisentrifugasi
pada
15.000g selama
5
menit
dansupernatan
(ekstrak metanol)
diambil
kemudian diuapkan dengan evaporator pada suhu 40 oC selama 1malam. Ekstrak metanol kental diekstraksi
lagi
dengandiklorometana
dan
selanjutnyadikeringkan
sehinggadiperoleh
ekstrakkering. Ekstrak
tersebut dilarutkandalam
I
ml
metanol HPLC, dan disaring denganfilter
seluiosa asetat (PTFE) 0,45 pm.
2.7
Analisis
KandunganKatarantin
secaraKualitatif
dan
Kuantitatif
denganKromatografi Cair
KinerjaTinggi IKCKT)
Analisis kualitatif
dan
kuantitatif
untukkatarantin dilakukan dengan
KCKT
yang <lihubungkan dengan kromatopak Shimadzu CR-7A Plus. Fase gerakyang
digunakan
berupa larutan yang
terdiri
dari metanol : asetonitril : 5mM
diamonium hidrogen fosfat=3'.4:3 secara
isokratik.
Kecepatanaliran lml/menit.
Jenis
kolom
yang. digunakan adalah Shim-packVP-ODS C18 0,15
m
dengan diameter4,6 mm.
Panjanggelombang
IIV
yang
digunakan
untuk
mendeteksikatarantin adalah 22A nm. Sebelum analisis dilakukan,
terlebih
dahulu dilakukanfiltrasi
terhadap fase gerakdan larutan sampel dengan membran PTFE 0,45 pm.
Sebagai
senyawa
pembanding digunakan
standar katarantin.3.
Hasil
danDiskusi
3.1 Induksi KaiusEksplan
daun
C.
roseus
yang
ditanam
padamedium induksi kalus mengandung
NAA 2 mgll-
dankinetin
0,2
rngll-.
Respons
awal terjadi
dengan 'mengerutnya eksplan pada hari ke-6 setelah penanamanl
! l
(kuitur). Proliferasi sel secara umum mulai terjadi pada
hari ke-S setelah kultur.
Pembentukan
kalus pada
hari
ke-8
setelah penanaman umumnyadiikuti
oleh
pertumbuhan kalusyang makin
membesar. Padamedium
induksi
kalusdengan menggunakan
NAA
2
rng/L
dan
kinetin
0,2mg/L
tidak terjadi pembentukan akar sampai pada harike-14 setelah
kultur.
Setelah hari ke-1E terlihat adanyabulu-bulu
akar yang munculdi
permukaan kalus. Halini
menunjukkan
adanya
pengaruh
keseimbanganauksin
dan
sitokirrin terhadap
respons
jaringan.Krikorian
(1995)
melaporkanbahwa
akar
terbentukdari
kalus
pada medium
yang
ditambahkan auksindengan
konsentrasilebih tinggi
daripada
sitokinin.Hasil
penelitianFitriani (i998)
juga menunjukkan akarterbentuk
pada medium
dengan konsentrasi
NAA
antara 1
- l0
pM
atau setara dengan0,2
-
2,0 mgll-.
Eksplan pada awal penanaman masih inengandung zat
pengatur
tumbuh
(zpt)
endogenyaag dibentuk
pada tanaman sebelum eksplandikultur.
Setelah zpt endogenpada eksplan habis terpakai, maka
zpt
medium
yangditambahkan
yang paling banyak
berperan
untukinduksi kalus.
NAA
berperanpenting
untuk
induksiakar.
Tipe kalus yang dihasilkan berupa kalus kompak (data
tidak
ditampilkan). Kalus tipeini
menjadi kulturagregat sel pada kultur cair. Kalus yang terbentuk pada
awal
pertumbuhan
berwarna
putih.
Pada
tahap selanjutnya kalus mulai berwarna kuning kehijauan danakhirnya warna kalus menjadi kecoklatan pada bagian dasar pinggiran kalus. Setelah disubkultur, kalus yang
sebelumnya kecoklatan perlahan-lahan
kembali berwarna krem sampai kehijauandiiringi
pefiumbuhanyang semakin membesar. Perlumbuhan kalus rnenjadi
lebih
cepat
dan
pencoklatan
mulai
berkurang dibandingkan dengan kuitur sebeluinnya.3.2Peturnbuhan Kalus pada
Media
dengan PerlakuanTriptofan
Penampakan
kalus pada media yang
diberi perlakuan triptofan pada awalnyatidak
ada perbedaanantara kontrol
dengan perlakuan
triptofan.
Kalustampak tumbuh
bersama-sama
dan
mengalami perbesaran secara besama-sama,nalrun
keadaan yangdemikian hanya berlangsung sampai hari ke 20. Setelah
hari
ke-21, kaluskontrol
tantpak sebagian mengalamikematian
sel
atau nekrotis dengan warna
cokiatkemerahan.
Kalus yang dikultur
pada
perlakuantriptofan. masih tumbuh
baik
setelah21 hari
kulturpada media pellakuan (k:rlus tidak rnengalami neklotis)
dan warnanya putih keabu-abuan.
Hal ini
menunjukkanbahwa
kalus kontrol
lebih
cepat mengalami penuaandari
padakaius
perlakuantriptofan.
Hal
ini
didugakarena
pertumbuhankalus yang
lebih
cepat
padakontroi yang diakibatkan auksin dalam sel kontrol lebih
tinggi
(Dahab
and
AbdLrl-aziz,
2006).
CepatnyaPandiarryan dkk, Penganrh Triptofan Pada
Peftumbuhan
113pertumbuhan kalus menyebabkan media cepat habi dan
kalus kekurangan nutrisi. Penambahan triptofan diduga mendorong perubahan sintesis auksin menjadi sintesis terpenoid indol alkaioid sehingga pertumbuhan menjadi lambat (El Sayed and Verpoorte,2002).
Pertumbuhan
kalus yang
diamati
daripenimbangan
berat
basah
kalus
(Gambar
1)menunjukkan bahwa
berat dan ukuran kalus
kontrol (tanpatriptofan)
pada umumnyalebih
besar daripada kalus perlakuan triptofan. Berat dan ukuran kalus tidakselalu
menurun dengan peningkatan
konsentrasitriptofan. Ada penurunan pada
T1
danT2,
tetapi pada T3 dan T4 hampir sama dengan kontrol, T5 lebih tinggi dari kontrol, selanjutnya menurun lagi pada T6. Halini
menunjukkan bahwa pengaruh triptofan sangat spesifik
terhadap
pertumbuhan
sel.
Ketika
subkultur diperpanjang sampai72
hai,
padakalus
T5
muncultunas daun,
sedangkan perlakuanlainnya
tidak
adatunas
daun.
Hal
ini
menguatkanpemikiran
bahwaekspresi
gen dan aktivitas enzim untuk
pertumbuhanmeningkat
dan produksi
metabolit sekundernya tentu menurun.Berat basah kalus (g)
T0 T1
T2
T3 T4
T5
T6 Kalus perlakuar triptofanGambar 1.
Berat
basahkalus
yangdiberi
perlakuantriptofan
(mg/L).
0
(T0)
ataukontrol,
100(Ti),
125(T2),
150(T3),
175 (T4), 200(T5)
dan 225(T6)
padahari ke-10 setelah subkultur.
3.3
AnalisisKualitatif
dan kuantitatif katarantin sel C.toseus
Sampel
kaius C.
roseus
dranalisis kandungankatarantinnya pada
umur sei
yang
sama,yaitu
padaumur 10 hari
setelah subkultur
pada media
MS.Analisis kualitatif
dengan
menggunakan KCKT
menunjukkan
bahwa
waktu
retensi
untuk
katarantinstandar
adalah sekitar
8.16 menit.
Hasil
analisiskualitatif
dan kuantitatif
menunjukkanbahwa
se1 C.roseil.r menghasilkan katarantin pada semua sampei,
baik
yangdiberi
perlakuanttiptofan
tnaupun kontrol.Kandungan katarantin
kontrol
(T0)
adalah
sebesiir423,22
lLSlg
bk.
Katarantin
pada
T0
tersebut 3.5 3){
2 1.5 l I I)
II4
JURNAL I,IATEMATIKA l)AA/ SA/A/I!-, DESEfr,IBER 2006,merupakan kandungan yang paling rendah. Kandungan
katarantin mengalami
peningkatan secara berurutan,dari
Ti
= 485,00ltglgbk,
T2
=
588,32pglg
bk, T3 =875,10
1tg/gbk,T4
=
905,26,rrglg bk dan T6 = 950,54pglg bk.
Namun,
T5
mengandung katarantin sebesar784,10
pglg
bk
atau
lebih
rendah
dari
T4
danmenunjukkan adanya pengecualian.
T5
merupakan selyang
paling tinggi
pertumbuhannya.Hal
ini
mungkindisebabkan
nutrisi untuk
sintesis
alka1oid,
sepertikatarantin, digunakan
untuk
pertumbuhan. PenelitianFitriani
(1998) menunjukkan bahwa kalus dengan berarkering rendah mempuyai kandungan alkaioid ajmalisin
tinggi. Kondisi
cekaman dapat menginduksi sintesisalkaloid.
Sebaliknya pada perlakuan
T6
kandungan katarantinnyatinggi
dibandingkan dengan sel yang lainyang diberi triptofan.
Hal
ini
terjadi
karena nutrisidimanfaatkan
untuk
sintesis
dan
metabolismekatarantin,
bukan untuk
pertumbuhan
sel.
Secarakeseluruhan kandungan
katarantin pada
T3
dan
T4 tinggi deinikian juga peftumbuhan selnya, bahkan lebihtinggi dari kontrol. Hal
ini
nienunjukkan bahwa pada.T4
(115mg/L triptofan)
merupakan media yang baikuntuk peningkatan kandungan katarantin. Katarmtin (ug./g bk)
voL.
li
No.1
Tatrel
1. Peningkatan kandungan perlakuan triptofankatarantin pada kalus
Kaius
Katarantin
Peningkatanrlakuan
(pglgbk)
(7o)To
423,22
0T1
485,00
t4,60T2
588,32
39,0tT3
87*s,10
106,77T4
905,26
1 13,90T5
784,10
85,27T6
950,54
124,60Triptofan
(mg,rl-):0 (T0)
ataukonrrol,
100(Ti),
125 (T2), 150 (T3), 175(T4),200
(T5) dan 225 (T6).Zhao
et
al.
QA}l)
melaporkanjuga
bahwakandungan katarantin meningkat dengan penambahan
triptofan 300 mg/L dan 500 mg/L yang dikombinasikan
dengan asam suksinat pada
kultur
kalus kompak dari C.roseus. Pengaruh
triptofan
terhadapkultur
itu
bisameningkatkan
atau
menurunkan kandungan alkaloidtergantung tipe kultur yang digunakan. 5.
Kesimpulan
1.
Perlakuantriptofan
terhadapkultur
kalus menekan pertumbuhan pada umumnya.2.
Kandungan katarantin meningkat pada sernua kalusperlakuan
triptofan,
dengan peningkatan tertinggi 124,60 Vo pada kalus T5 (200 mg/L).3.
Perlakuan
triptofan oprimal adalah
kandungan katarantintinggi
dengan pertumbuhan sama dengankontrol adalah kalus T4 (.I15 mgtL).
Ucapan
Terima
kasihPenelitian
ini
didanai oleh
program PenelitianHibah
PEKERTI
2005
dengan
nomor
kontrak051/SPPPIPP|DP3WIY12005, ranggat 11
April
2005.Peneliti
juga
mengucapkanterimakasih
kepada Dr.Magdi
El-Sayed
yang telah
memberikan
katarautinmurni.
Daftar
PustakaAlexandrova,
R.,
I.
Alexandrova,M.
Velcheva and T.Varadinova, 2000, Phytoproduct and Cancer, Exp. Patlrcl.
Parttsitol.,4,
15-26Bajaj,
Y.P.S.,
M.
Furmanowa
and
O.
Olszowska,Biotechnology
of
the
Micropropagation
of
Medicinal
and
A.romatic
Plants,
in
Bajaj,Y.P.S. (Ed.),
i988,
Bioteclmotogy
irtAgricullture and Forestry,
4.
Medicinal
andAromotic Plants, Springer-Verlag.
Berlin,60*1i3.
Dahab,
T.A.M.A.
and N.G.
Abdul-azis,
2006,Physiological EfTect
of
Diphenylamin
and1200
*",uJ'p"r"*I
o,o,'Jl
15
16Gambar
2. Kandungan katarantin pada kalus C. roseusyang
diberi triptofan (mg/L).
0
(T0)
ataukontrol,
100(TI),
t2s
(T2),
150(T3),
175 (T4), 200(T5)
dan 225(r6).
Peningkatan kandungan katarantin
terjadi
jugapada
semuakalus
perlakuan triptofan.
Peningkatantertinggi terjadi
padaT6
sebesar 124,607o(Tabel
l),
namun
peftumbuhankalusnya
sangatrendah
(tebihrendah
dari kontrol
(Gambar 1).
Pertumbuhan yang sarna dengankontrol
dengan peningkatan kandungankatarantin 113,907o terjadi pada kalus
T4
(1754mgfi-triptofan). Ivlaka
dari hasil
tersebut perlakuan yangterbaik
untuk
produksi katarautin dengan
prazattriptofan adalah 175 mg/L (sel T4). Produksi katarantin akan maksimal apabila pertumbuhan se1 (biomassa) dan kandungan katarantin berada pada kondisi optimal.
Tryptophan
on
the
Growth and
ChemicalCoristituents
of
Philodendron
erubescens Plants, World J.Agr. Sci.,2:1,15-El
de
Padua,L.S.,
N.
Bunyapraphatsara,and
R.H.M.J. Lemmens,(Eds.),
1999,PLati
Resout-cesof
Soutlt East Asia no.
l2(l).
Medicinal
andPoisonous
plants
1.
PROSEA
Foundation,Bogor, Indor.resia, 185-190
El-Sayed,
M.
and
R.
\rerpoorle, 2002, Effect of
Phytohormones
on
Growth
and
Alkaloid
Accumulation
by
a C. roseus Cel| SuspensionCultures
Fed
with
Alkaloid
PrekursorsTriptamnine
andLoganin.
Plant Cell
TissueOrg
Cult,
6823,265-210Fitriani,
A.,
1998,
Pengaruh Pemberian HomogenatJamur
Pythium opfumidermatnn
(Edson)Fitzp.
Terhadap KandunganAjmalisin
dalamKultur
Kalw
Catltaranthus roseus(L.)
G.Don, [Tesis], PascasarjanaITB,
Bandung.Hirata,
K., M.
Horiuchi, T. Ando, K. Miyamoto andy.
Miura,
1990a,Vindoline
and
CatharanthineProduction
in
Muitiple Shoot Cultures of
Catharanthus roseus,
J.
Fernrcnt.
Bioeng.,7023,193-195.
Hirata, K.,
A.
Yamanaka, N. Kurano,K.
Miyamoto andY.
Miura,
1990b. Production
of
indoleaikaloids
in
multiple shoor culture
of
Catharantltus roseus,
Agric. Biol.
Chem. 5125, 1311-
1317.Kim,
S.W.,K.H.
Jung, S.S.Kwak
and J. R.Lia,1994,
Relationship between
ceil
morphoiogy
andindole
alkaloid production
in
suspensioncultures
of
Catlrrruihus
roseus,plant
CellRep. 14,23-26.
Krikorian,
A.D.,
1995, Hormonesin
tissue culture andmicropropagation.
In:
Davies
PI,
ed.
plcuttho rmone s. Dordrecht: Kluwer, 1 1 4-1 96.
Mattel,
S.H. andH. Srnith,
1983, Cultural Facror thatInfluence
Secondarv MetabolitesAccumulation
in
Plant
Cell
and
TissueCultures, irz
Matel,
S.H. andH.
Smith (Eds.),Plati
Biotechnology, Cambridge University, London.l5-102,
McCaskill,
D.G., D.L.
Marrin,
andA.I.
Scou,
1988,Characterization
of
alkaloid uptake
byPandiangan dkk, Petryarulr Triptofan Pada
Pefiuttbufum
Ii5
Catharanthus
roseus
protoplast,
pLant Physiol", 87 , 402-408.Pandiangan,
D.
danN. Nairggolan,2006,
peningkatanKandungan Katarantin pada
Kultur
Kalus
C.roseus yang
Diberi NAA,
Hayati, 13:3, 90-94. Smith, J.I., N.J. Smart,M.
Misawa, W.G.W.Kurt,
S.G.Tallevi
and
F.
DiCosmo, 1987,
IncreaseAccumuiation
of
Indole
Alkaloids by
SomeCell
Lines
of
Cilharantlurs roseus
inResponse
to
Addition
of
Vanadyl
Sulfate,Plant Cell Rep.,
6,142-145.
Sumarsi.
S. Darjianto, dan
Suprapto, 1990,
IsolasiKomponen
Aktif
Daun
Tapak
Dara,
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Perranirn.Sugiarso,
D.,
1999, Kadar
Alkaloid Total
KalusCatlnranthus
roseus(L).G. Don
pada MediaMS
den-9an PenambahanTriptofan,
HasilPenelitian
Institut
Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya,XIL
Tikhomiroff, C.
andM.
Jolicoeur, 2002, Screeningof
Catlnranthus
roserzs Secondary Metabolites by High-performanceLiquid
Chromatography,J. Chromatogr
A,
955,87 -93.Vazquez-Flota,
F., O.
Moreno-Valeujuela, M.L.
Miranda-Ham,
J.
Coello-Coello,
and
V.M.
Loyola-Vargas,
1994,
Catharanthine
andAjmalisine
Synthesisin
Catharantltus roseusHairy Root
Cultures,Plant Cell
Tissne OrgCult, 38,213-219.
Verpoofte, R., R. van der Heijden, J. Schripsema, 1993, Plant Cell Biotechnology
for
the productionof
Alkaloids:
Present Statusand
prospects, ,/. Nat. Prod., 56:2, 186-207.Wijayakusuma,
H.M.H., S.
Dalihmarta,
A.S.
Winar,1992, Tanantctn Berklmsiat Obat
di
Indonesict,Jilid
I,
Pustaka Karrini, Ikapi Jaya.Zhao,J.,
Q.Hu,
Y.Q. Guo,W.H.
Zhu,200t,
Effectsof
Stress Factors, Bioregulators.
and
SyntheticPrekursors
on
Indole
Alkaloid
production
inCompact
Callus
Clusters Cultures
of
Catharanthtrs
roseus,
AppL.
Microbiol.Biotec hnol., 55:6, 693-8.