• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN TOBA SAMOSIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN TOBA SAMOSIR"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

tahun anggaran 2010

BUKU PUTIH SANITASI

KABUPATEN TOBA SAMOSIR

Disusun Oleh :

Pokja Sanitasi

(2)

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatNya Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir Tahun 2010 dapat kami susun sesuai dengan jadwal dan ketentuan yang telah direncanakan dan ditetapkan untuk pelaksanaan Program Nasional Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) tahun 2010 di tingkat kabupaten/ kota di seluruh Indonesia.

Buku Putih Santasi Kabupaten Toba Samosir Tahun 2010 ini secara umum memuat gambaran, uraian data sekunder (bersumber dari laporan/ dokumen SKPD terkait Sanitasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir) dan data primer tentang sub sektor air limbah, persampahan, drainase, air bersih dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kabupaten Toba Samosir yang mana dalam proses penyempurnaannya disusun dengan mengakomodir koreksi dan sumbang saran dari Ir.Arman Siahaan (selaku Team Leader Konsultan Managemen Wilayah I Sumatera) beserta seluruh tenaga ahlinya, Ruby RC Tarigan selaku City Facilitator (CF) PPSP untuk Kabupaten Toba Samosir tahun 2010, Muhammad Yagi selaku Province Facilitator (PF) PPSP untuk Propinsi Sumatera Utara tahun 2010 dan sumbang saran dari para pemangku kepentingan (stakeholders) pembangunan yang telah berkenan hadir pada pelaksanaan Lokakarya (Konsultasi Publik) Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir pada tanggal 10 Nopember 2010 untuk penyempurnaan isi/muatan Buku Putih Sanitasi ini. Data Primer yang termuat dalam buku putih sanitasi ini dilaksanakan dengan menginventarisir dan menganalisa data lapangan melalui Survei Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan/Survey Environmental Health Risk Assessment (EHRA) menggunakan alat bantu Quetioner dengan responden Rumah Tangga yang terdapat di 13 Kelurahan tersebar di 6 Kecamatan (Kecamatan Balige, Laguboti, Sigumpar, Porsea, Ajibata dan Habinsaran) dari 16 Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Toba Samosir.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toba Samosir Tahun 2010 yang dibentuk melalui Keputusan Bupati Toba Samosir Nomor 98 Tahun 2010 dengan Saudara Ir. Jonner Hutagaol, MM selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan

(3)

aparatur Pemerintah Kabupaten Toba Samosir yang telah mendukung dan membantu penyelesaian Buku Putih Sanitasi ini.

Kami menyadari bahwa Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir ini masih belum sempurna. Namun demikian, Buku Putih Sanitasi ini diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan sektor sanitasi di Kabupaten Toba Samosir.

Atas segala kebaikan yang telah diberikan oleh semua pihak dalam penyempurnaan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir ini, kami ucapkan terima kasih dengan harapan semoga Buku Putih Sanitasi ini bermanfaat bagi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dan pengembangan sanitasi di Kabupaten Toba Samosir demi terwujudnya Kabupaten Toba Samosir yang memiliki rasa kasih, peduli dan bermartabat.

Balige, 2010 BUPATI TOBA SAMOSIR

(4)

i

Daftar Isi ... i

Daftar Tabel ... iii

Daftar Singkatan ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... I-1

I.1. Latar Belakang ... I-1

I.2. Pengertian Dasar ... I-2

I.3. Maksud dan Tujuan ... I-3

I.4. Pendekatan dan Metodologi ... I-4

I.5. Posisi Buku Putih ... I-5

I.6. Sumber Data ... I-5

I.7. Dasar Penyusunan ... I-5

I.8. Sistematika Penyusunan ... I-5

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN TOBA SAMOSIR ... II-1

II.1. Geografis, Topografis dan Geohidrologi ... II-1

II.2. Administratif ... II-4

II.3. Kependudukan ... II-5

II.4. Pendidikan ... II-13 II.5. Kesehatan ... II-17

II.6. Kondisi Kepemilikan Lahan dan Sosial Budaya Masyarakat ... II-24

II.7. Perekonomian ... II-28

II.8. Visi dan Misi Kabupaten Toba Samosir ... II-30

II.9. Institusi dan Organisasi ... II-31

II.10. Keuangan Daerah ... II-36 II.11. Tata Ruang Wilayah ... II-47

BAB III PROFIL SANITASI KABUPATEN TOBA SAMOSIR ... III-1

III.1. Kondisi Umum Sanitasi Kabupaten Toba Samosir Berskala Kota ... III-1

III.2. Pengolahan Limbah Cair ... III-19 III.3. Pengelolaan Persampahan (Limbah Padat)... III-23 III.4. Pengelolaan Drainase ... III-27 III.5. Penyediaan Air Bersih ... III-32 III.6. Komponen Sanitasi Lainnya ... III-36 III.7. Pembiayaan Sanitasi Kabupaten ... III-37

(5)

ii

BERJALAN ... IV-1

IV.1. Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten ... IV-1 IV.2. Strategi Penanganan Sanitasi Kabupaten Berskala Kota ... IV-2 IV.3. Rencana Peningkatan Pengelolaan Limbah Cair ... IV-4 IV.4. Rencana Peningkatan Pengelolaan Sampah (Limbah Padat) ... IV-5 IV.5. Rencana Peningkatan Pengelolaan Saluran Drainase Lingkungan ... IV-6 IV.6. Rencana Pembangunan Penyediaan Air Minum/Air Bersih ... IV-7 IV.7. Rencana Peningkatan Kampanye PHBS ... IV-8

BAB V INDIKASI PERMASALAHAN DAN OPSI PENGEMBANGAN ... V-1

V.1. Area Beresiko Tinggi dan Permasalahan Utama ... V-1

V.2. Kajian Dan Opsi Partisipasi Masyarakat Dan Jender Di Area

Beresiko ... V-15 V.3. Komunikasi Untuk Peningkatan Kepedulian Sanitasi ... V-30 V.4. Keterlibatan Sektor Swasta Dalam Bidang Sanitasi ... V-31

(6)

iii

2. Tabel II.2. Kepadatan Penduduk Kabupaten Toba Samosir ... II-6

3. Tabel II.3. Jumlah Rumah Tangga, Penduduk danKepadatan

Penduduk Menurut Kecamatan ... II-7

4. Tabel II.4. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin .. II-7

5. Tabel II.5. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Kabupaten

Toba Samosir ... II-8

6. Tabel II.6. Jumlah Penduduk Pencari Kerja Menurut Pendidikan Kab.

Toba Samosir ... II-9

7. Tabel II.7. Jumlah Penduduk Kabupaten Toba Samosir Menurut

Kecamatan Berdasarkan Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 ... II-9

8. Tabel II.8. Status Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen IPM

Kabupaten Toba Samosir dan Sumatera Utara Tahun 2008 ... II-11

9. Tabel II.9. Jumlah Keluarga Pra Sejahtera/KS I Dirinci Menurut

Kelompok/Jumlah Anggota Penerima Takesra dan Kecamatan Tahun

2008 ... II-13

10. Tabel II.10. Jumlah Sekolah, Guru dan Murid Menurut Tingkat

Pendidikan Periode 2007/2008 – 2008/2009 ... II-14

11. Tabel II.11. Kondisi SD, SMP, SMA dan SMK, jumlah murid

pertingkatan, jumlah guru, rata-rata rasio murid dengan guru dan

rata-rata rasio guru dengan sekolah pertingkatan ... II-15

12. Tabel II.12. Data Gedung Sekolah Menurut Tingkat Sekolah ... II-15

13. Tabel II.13. Jumlah Sekolah Menurut Tingkat Pendidikan dan

Kecamatan Periode Tahun 2008 –2009 ... II-16 14. Tabel II.14. Jumlah Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas Yang

Buta Huruf Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .... II-17

15. Tabel II.15. Angka Kematian Bayi dan Balita di Kabupaten Toba

Samosir periode Tahun 2004–2009 ... II-19

16. Tabel II.16. Angka Kesakitan Kabupaten Toba Samosir periode

2005-2009 ... II-20

17. Tabel II.17. Status Gizi Balita di Kabupaten Toba Samosir periode

(7)

iv Kabupaten Toba Samosir ... II-23

20. Tabel II.20. Jumlah Fasilitas Kesehatan Menurut Status Kepemilikan ... II-23

21. Tabel II.21. Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Toba

Samosir Menurut Kecamatan Tahun 2008 ... II-24

22. Tabel II.22. Penggunaan Lahan Di Kabupaten Toba Samosir ... II-26

23. Tabel II.23. Jumlah Rumah Ibadah Menurut Kecamatan Dan Jenis

Rumah Ibadah Tahun 2008 ... II-27

24. Tabel II.24. Struktur Perekonomian Kabupaten Toba Samosir Tahun

2005-2009 Atas Dasar Harga Berlaku (Juta/Rupiah) ... II-29

25. Tabel II.25. Kondisi Ekonomi Menurut Lapangan Usaha PDRB Atas

Dasar Harga Konstan 2000 ... II-29

26. Tabel II.26. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Toba

Samosir ... II-30

27. Tabel II.27. Alokasi Anggaran Penataan Sanitasi Dari Belanja APBD

Kabupaten Toba Samosir ... II-37

28. Tabel II.28. Perkembangan Pendapatan dan Belanja Daerah

Kabupaten Toba Samosir ... II-39

29. Tabel III.1. Kondisi Fasilitas Sarana Prasarana Air Minum di

Kabupaten Toba Samosir ... III-4

30. Tabel III.2. Pencapaian Pembangunan Sarana Air Bersih Kabupaten

Toba Samosir ... III-4

31. Tabel III.3. Kondisi Capaian Pembangunan MCK Kabupaten Toba

Samosir ... III-6

32. Tabel III.4. Fasilitas Konstruksi Buang Air Besar (BAB) di Kabupaten

Toba Samosir ... III-7

33. Tabel III.5. Fasilitas Tempat Pembuangan Akhir Tinja di Kabupaten

Toba Samosir ... III-7

34. Tabel III.6. Timbulan & Jumlah Sampah yang terangkut per hari ... III-9

35. Tabel III.7. Sarana Persampahan di Kabupaten Toba Samosir ... III-10

36. Tabel III.8. Jumlah Anggaran Pengelolaan Kebersihan/Sampah ... III-10

37. Tabel III.9. Kelengkapan Sarana dan Prasarana TPA Pintu Bosi

(8)

v

Toba Samosir ... III-15

40. Tabel III.12. Drainase Primer dan Sekunder Kabupaten Toba Samosir

Tahun 2007-2009 ... III-16

41. Tabel III.13. Pencapaian Pembangunan Drainase Kabupaten Toba

Samosir ... III-28

42. Tabel III.14. Kondisi Capaian Pembangunan Drainase Kabupaten

Toba Samosir ... III-28

43. Tabel III.15. Rekapitulasi Alokasi Dana PNPM Mandiri Perdesaan ... III-30

44. Tabel III.16. Alokasi Dana Menurut Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan . III-31

45. Tabel IV.1. Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Toba Samosir ... IV-1

46. Tabel V.1. Data Jumlah Rumah Tangga (RT) di Enam Kecamatan

Yang Disurvei ... V-2

47. Tabel V.2. Jumlah Sampel Rumah Tangga (RT) Di Enam Kecamatan

Yang Disurvei ... V-3

48. Tabel V.3. Jumlah Sampel RT Tiap Kelurahan & Penentuan Interval ... V-3

49. Tabel V.4. Paramater Penentuan Area Beresiko Dari Hasil Data

Survey EHRA ... V-7

50. Tabel V.5. Daerah Beresiko Berdasarkan Analisa Data EHRA ... V-9

51. Tabel V.6. Daerah Beresiko Berdasarkan Persepsi SKPD ... V-11

52. Tabel V.7. Daerah Beresiko Berdasarkan Data EHRA dan Persepsi

(9)

vi Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah BPD : Bank Pembangunan Daerah

BPN : Badan Pertanahan Nasional BPS : Badan Pusat Statistik

BLHP : Badan Lingkungan Hidup dan Pertambangan CF : City Facilitator

DPU : Dinas Pekerjaan Umum CSD : Combine Sewerage Drain CSS : City Sanitation Strategy DAU : Dana Alokasi Umum

DAK : Dana Alokasi Umum

DPA : Dokumen Pelaksanaan Anggaran

DBD : Demam Berdarah Dengue

Depkes : Departemen Kesehatan Diknas : Dinas Pendidikan Nasional Dinkes : Dinas Kesehatan

DPKP : Dinas Pasar Kebersihan Pertamanan

DPPKKD : Dinas Pendapatan,Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah Ecoli : Escherichia Coli

EHRA : Environmental Health Risk Assessment FCR : Full Cost Recovery

Infokom : Dinas Informasi dan Komunikasi IPA : Instalasi Pengolahan Air

IPAL : Istalasi Pengolahan Air Limbah

IPLTL : Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja dan Lindi ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut

ISSDP : Indonesia Sanitation Sector Development Program IMB : Izin Mendirikan Bangunan

Kel. : Kelurahan Kec. : Kecamatan

(10)

vii

KK : Kepala Keluarga

KMNLH : Kementerian Lingkungan Hidup LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MCK : Mandi Cuci Kakus

MDGs : Millenium Development Goals

MPA : Methodology for Participatory Assessment MPA : Methodology for Participatory Approach MTP : Mini Treatment Plan

Musrenbang : Musyawarah Perencanaan Pembangunan PAD : Pendapatan Asli Daerah

Pamsimas : Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Masyarakat PDAM : Perusahaan Daerah Air Minum

PD. PAL : Perusahaan Daerah Pengelola Air Limbah Pemkab : Pemerintah Kabupaten

Pemprov : Pemerintah Provinsi Perda : Peraturan Daerah Pemda : Pemerintah Daerah

PHBS : Pola Hidup Bersih dan Sehat PLN : Perusahaan Listrik Negara

RPJMD : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah SAB : Sarana Air Bersih

Tobasa : Toba Samosir

TPA : Tempat Pembuangan Akhir

TPSS : Tempat Pembuangan Sampah Sementara LISA : Lihat Sampah Ambil

(11)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

I-1

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pada bulan September tahun 2009 Kabupaten Toba Samosir sebagai salah satu kabupaten di Propinsi Sumatera Utara yang terbentuk sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara melalui Undang–undang Nomor 12 Tahun 1998 menjadi salah satu dari 41 (empat puluh satu) kabupaten/kota yang menyatakan minat untuk ikut serta dalam pemberhasilan Program Nasional Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) Tahun 2010 sebagai tindak lanjut dari Lokakarya Nasional Penjaringan Minat PPSP pada bulan September 2009 di Jakarta.

Propinsi, kabupaten/kota yang ikut serta dalam penjaringan minat tersebut merupakan propinsi, kabupaten/kota yang tanggap dan bertekad untuk secara serius menangani penataan perencanaan pembangunan sanitasi di daerah secara komprehensif dan terintegrasi antar sektor (multi sektor). Alasannya adalah karena degradasi kualitas lingkungan yang terjadi selama ini ternyata mampu membawa kerugian ekonomi, penurunan derajat kesehatan dan penurunan kualitas hidup masyarakat.

Keikutsertaan Kabupaten Toba Samosir dalam Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) tahun 2010 akan memperkuat Visi Misi Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011 s/d 2015 sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Toba Samosir Nomor 03 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011–2015, “Terwujudnya Kabupaten Toba Samosir yang memiliki rasa Kasih, Peduli dan Bermartabat“.

Bekerjasama dengan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) di Bappenas R.I., maka penataan perencanaan pembangunan sanitasi permukiman di Kabupaten Toba Samosir menjadi satu kesatuan dengan gerakan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) di tingkat nasional. Kegiatan advokasi sanitasi dilakukan untuk meningkatkan minat dan kemauan para pemangku kepentingan

(12)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

I-2

(stakeholders) untuk mendukung peningkatan dan pengembangan pembangunan sanitasi di tingkat kabupaten secara terintegrasi dan komprehensif.

Penyadaran akan perlunya penataan pembangunan sektor sanitasi permukiman pada masyarakat dilakukan dengan stimulasi, khususnya pada kelompok masyarakat miskin masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah, industri skala kecil/home industry yang mencemari daerah pemukiman. Sanitasi Kabupaten Toba Samosir akan dikembangkan melalui perkuatan kebijakan, peraturan dan pedoman, mekanisme keuangan, kelembagaan dan rencana tindak lanjut.

Berkaitan dengan usaha sistematis tersebut di atas, sebagai langkah awal perlu dilakukan pengidentifikasian kondisi terakhir yang terkait dengan kondisi sanitasi-penyehatan lingkungan yang telah dilakukan selama ini di Kabupaten Toba Samosir ke dalam bentuk suatu dokumen yang dinamakan ”Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir Berskala Kota Tahun 2010”. Buku putih inilah yang akan dijadikan dasar dalam penyusunan Strategi Sanitasi Kota/Kabupaten (City/Regency Sanitation Strategy/R/C SS).

Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir tahun 2010 berisi hasil pengkajian dan pemetaan sanitasi berskala kota (kelurahan). Buku Putih Sanitasi merupakan informasi awal yang diperlukan dalam menyusun Strategi Sanitasi Kota jangka menengah (5 tahunan). Selanjutnya data dalam buku ini akan diperbaharui setiap tahun. Artinya, Buku Putih Sanitasi ini akan mengikuti kemajuan rencana-rencana dalam hal pengembangan sanitasi kabupaten. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir Tahun 2010 ini merupakan Buku Putih Sanitasi yang disusun berdasarkan data sekunder yang tersedia di masing-masing dinas/SKPD terkait. Untuk mendukung data sekunder tersebut, juga dilakukan survei pendukung yaitu Environmental Health Risk Assessment (EHRA). Buku Putih Sanitasi ini telah dibahas bersama para pemangku kepentingan (stakeholders) dalam lokakarya daerah. Buku Putih Sanitasi menjadi dasar yang kuat bagi pembahasan mengenai tahap, kebutuhan dan prioritas peningkatan sanitasi.

I.2. Pengertian Dasar Sanitasi

Pengertian dasar penanganan sanitasi (penyehatan lingkungan) di Kabupaten Toba Samosir adalah sebagai berikut:

(13)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

I-3

1. Penanganan air limbah (air yang dihasilkan dari aktifitas manusia yang mengandung zat-zat yang dapat mempengaruhi kualitas lingkungan) yaitu pengolahan air limbah rumah tangga (domestik) terdiri dari:

a. Pengolahan on-site menggunakan sistem septik-tank dengan peresapan ke tanah dalam penanganan limbah Rumah Tangga;

b. Pengolahan off-site adalah pengolahan limbah Rumah Tangga yang dilakukan secara terpusat/communal;

2. Penanganan persampahan atau limbah padat yaitu penanganan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, baik yang berasal dari rumah tangga, pasar, restoran dan lain sebagainya yang ditampung melalui TPS atau transfer depo ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA);

3. Penanganan drainase kabupaten adalah memfungsikan saluran drainase sebagai penggelontor air permukiman dan mematuskan air permukaan; 4. Penyediaan air bersih adalah upaya Pemerintah Kabupaten Toba Samosir

untuk menyediakan air bersih kepada masyarakat baik melalui air baku yang bersumber dari permukaan maupun berasal dari sumur dalam;

5. Landfill merupakan lahan pembuangan sampah yang menggunakan teknologi pembuangan sampah. Gunanya untuk meminimalkan dampak lingkungan dan melindungi kualitas air tanah, baik air permukaan maupun air bawah permukaan tanah;

6. Pengolahan air limbah adalah suatu perlakuan terhadap air limbah sehingga setiap air yang dibuang ke badan air sesuai baku mutu yang disyaratkan;

7. Kolam retensi adalah sebidang tanah rendah, dikelilingi oleh embankment/ timbunan atau tanggul yang membentuk semacam kesatuan hidrologis buatan. Artinya, tidak ada kontrol dengan air dari daerah luar selain yang dialirkan melalui perangkat manual;

8. Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan penerima air dan atau ke bangunan resapan buatan.

I.3. Maksud Dan Tujuan

Maksud penyusunan Buku Putih Sanitasi (Pemetaan Sanitasi) Kabupaten Toba Samosir ini akan dijadikan sebagai acuan/pedoman dalam merumuskan kebijakan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir yang berkaitan

(14)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

I-4

dengan sanitasi (penyehatan lingkungan) pada umumnya, dan secara khusus tujuan penyusun Buku Putih Sanitasi ini adalah:

a. Mengidentifikasi kondisi terkini dan permasalahan yang berkaitan dengan sanitasi di Kabupaten Toba Samosir secara umum, khususnya skala kota/kelurahan yang tersebar pada 6 (enam) kecamatan dengan jumlah 13 (tiga belas) kelurahan tersebar di Kabupaten Toba Samosir meliputi Kecamatan Balige, Laguboti, Porsea, Ajibata, Sigumpar, dan Habinsaran; b. Mengetahui sejauh mana peran pemerintah dan stakeholders lainnya di

Kabupaten Toba Samosir terhadap masalah sanitasi;

c. Menyiapkan bahan untuk perumusan strategi pengembangan sanitasi dan penyehatan lingkungan yang berkelanjutan di Kabupaten Toba Samosir pada umumnya, khususnya skala kota/kelurahan yang tersebar pada 6 (enam) kecamatan dengan jumlah 13 (tiga belas) kelurahan tersebar di Kabupaten Toba Samosir meliputi Kecamatan Balige, Laguboti, Porsea, Ajibata, Sigumpar, dan Habinsaran.

I.4. Pendekatan dan Metodologi

Untuk lebih memahami proses dan kegiatan penyusunan Buku Putih Sanitasi ini secara menyeluruh, akan disajikan beberapa hal penting yang berkaitan dengan aspek metodologi yang digunakan dalam penulisan ini, secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Sumber Data

a. Arsip dan dokumen yang berkaitan dengan aktivitas program masing-masing dinas/badan/instansi terkait, baik langsung maupun tidak langsung, misalnya yang berupa data statistik, proposal, laporan, foto dan peta;

b. Narasumber, yang terdiri dari beragam posisi yang berkaitan dengan tugas dinas/badan/instansi terkait untuk klarifikasi data-data, pihak swasta, masyarakat sipil, dan rumah tangga;

2. Pengumpulan Data

Proses seleksi dan kompilasi data sekunder berada dalam tahap ini. Teknik kajian dokumen dipergunakan tim untuk mengkaji data. Banyak dokumen kegiatan program yang mampu memberikan informasi mengenai apa yang terjadi dimasa lampau yang erat kaitannya dengan kondisi yang terjadi pada

(15)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

I-5

masa kini. Dan juga data primer diperoleh melalui Survei EHRA ke kelurahan yang tersebar di Kabupaten Toba Samosir dengan rumah tangga sebagai respondennya.

I.5.Posisi Buku Putih

Buku Putih Sanitasi menyediakan data dasar yang esensial mengenai struktur, situasi, dan kebutuhan sanitasi Kabupaten Toba Samosir. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir Tahun 2010 ini, diposisikan sebagai acuan perencanaan strategis sanitasi tingkat kabupaten berskala kota (kelurahan). Rencana pembangunan sanitasi kabupaten dikembangkan atas dasar permasalahan yang dipaparkan dalam Buku Putih Sanitasi.

Setiap tahun data yang ada akan dibuat “Laporan Sanitasi Tahunan” yang merupakan gabungan antara Laporan Tahunan SKPD dan status proyek sanitasi. Laporan Sanitasi Tahunan menjadi Lampiran Buku Putih Sanitasi 2010 dan setelah 3 tahun, semua informasi tersebut dirangkum dalam Revisi Buku Putih Sanitasi Kabupaten.

I.6. Sumber Data

a. Arsip dan dokumen yang berkaitan dengan aktivitas program masing-masing dinas/badan/instansi terkait, baik langsung maupun tidak langsung, misalnya yang berupa data statistik, proposal, laporan, foto dan peta;

b. Narasumber, yang terdiri dari beragam posisi yang berkaitan dengan tugas dinas/badan/instansi terkait untuk klarifikasi data-data, pihak swasta, masyarakat sipil, dan rumah tangga;

c. Data primer berupa hasil wawancara dengan alat bantu questioner dan observasi secara langsung ke rumah tangga yang ditentukan sebagai responden melalui metode random sampling tertentu.

I.7. Dasar Penyusunan

Dasar hukum penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir ini adalah sebagai berikut:

(16)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

I-6

a. UUD 1945 pasal 33 yang menyatakan bahwa bumi, air dan segala sesuatu yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat;

b. Undang–undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Mandailing Natal;

c. Undang-undang 7 Tahun 2003 tentang Sumber Daya Alam yang mengamanatkan tentang pelestarian sumber air, pengaturan dan penggunaannya;

d. Undang-undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah;

e. Undang–undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Wilayah; f. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;

g. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2615/VI Bangda tanggal 05 November 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peningkatan Kapasitas dan Kualitas Sanitasi di Daerah;

h. Surat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor 0472/D.t.6.3/01/2010 tanggal 21 Januari 2010 perihal Pelaksanaan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) Tahun 2010; i. Peraturan Daerah Kabupaten Toba Samosir Nomor 3 Tahun 2009 tentang

Pengesahan APBD Kabupaten Toba Samosir Tahun 2010;

j. Peraturan Daerah Kabupaten Toba Samosir Nomor 03 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011–2015;

k. Keputusan Bupati Toba Samosir Nomor 98 Tahun 2010 tanggal 19 April 2010 tentang Pembentukan Tim Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kabupaten Toba Samosir Tahun 2010.

I.8. Sistematika Penyusunan

Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir ini menggunakan dua jalur yakni, jalur penelusuran data sekunder/literatur, sedangkan untuk data primer dilakukan dengan survey lapangan serta dilengkapi dengan diskusi group (FGD) secara intensif ke berbagai narasumber/informan kunci yang dapat berupa anggota Pokja Sanitasi, sumber literatur berupa laporan masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan instansi terkait di Kabupaten Toba Samosir serta sumber–sumber lain yang mendukung.

(17)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

I-7

Hal–hal yang tersebut di atas, merupakan modal dasar dalam upaya penyusunan konsep dasar pemetaan sanitasi. Kemudian dilanjutkan dengan menggali data dan informasi kondisi sanitasi terkini di masing-masing wilayah studi. Dalam kaitannya dengan keperluan konsultasi publik untuk penyempurnaan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir dilakukan dalam bentuk lokakarya tingkat kabupaten sebanyak 1 (satu) kali pertemuan. Lokakarya tersebut melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholders) meliputi unsur aparatur pemerintah kabupaten, aparatur kecamatan, aparatur kelurahan, dan aparatur puskesmas terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Dalam lokakarya dimaksud dibahas beberapa issu utama terkait 4 komponen sanitasi; air imbah, sampah, drainase dan sarana air bersih (SAB). Penyusunan Buku Putih Sanitasi juga dilaksanakan dengan memperhatikan arahan dari Tim Teknis Pembangunan Sanitasi Pemerintah Pusat, yang juga didampingi oleh Fasilitator Kabupaten PPSP, Fasilitator Province PPSP dan Konsultan Management Wilayah I Sumatera sehingga diharapkan materi dan substansi Buku Putih ini lebih lengkap.

Adapun sistematika penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir Tahun 2010 ini adalah sebagai berikut:

I. Pendahuluan

Pada Bab ini akan di bahas Latar Belakang, Pengertian Dasar Sanitasi, Maksud dan Tujuan, Pendekatan dan Metodologi, Posisi Buku Putih, Sumber Data, Dasar Penyusunan, dan Sistematika Penyusunan.

II. Gambaran Umum Kabupaten Toba Samosir

Pada Bab ini akan dibahas Kondisi Geografis, Topografis dan Geohidrologi, Wilayah Administrasi Kab.Toba Samosir, Kependudukan, Kesehatan, Sosial Ekonomi serta Visi dan Misi Kabupaten Toba Samosir.

III. Profil Sanitasi Kabupaten Toba Samosir

Pada Bab ini akan diuraikan Kondisi Umum Sanitasi Kabupaten Toba Samosir ( sub sektor Air Limbah, Air Bersih, Sampah dan Drainase ) dan gambaran peran serta dan pemberdayaan masyarakat. Keuangan Daerah; Institusi Pengelolaan Keuangan Daerah, Sistem Informasi Manajemen Pengelolaan Keuangan Daerah, Sistem Informasi Keuangan Daerah, Struktur Instansional Dalam Sistem Administrasi Keuangan, Jadual

(18)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

I-8

Penyusunan APBD, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Di Kabupaten Toba Samosir, Perkembangan Pendapatan Daerah, Perkembangan Belanja Daerah, Pinjaman Pemerintah Daerah, Perkembangan Ekonomi Lokal dan Pembiayaan Sanitasi Kota/Kabupaten.

IV. Rencana Program Pengembangan Sanitasi Yang Sedang Berjalan

Pada Bab ini berisi; Visi Misi Sanitasi Kab.Toba Samosir, Strategi Penanganan Sanitasi, Rencana Pengembangan Limbah, Rencana Pengembangan Persampahan, Rencana Pengembangan Drainase, Rencana Pengembangan Air Minum, Rencana Pengembangan Kelembagaan, Keuangan.

V. Indikasi Permasalahan Sanitasi Dan Opsi Pengembangan Sanitasi

Pada Bab ini akan dikemukakan Area Beresiko Tinggi Dan Permasalahan Utama, Kajian dan Opsi Partisipasi Masyarakat dan Jender di Area Beresiko, Komunikasi untuk peningkatan kepedulian sanitasi dan Keterlibatan Sektor Sanitasi Dalam Bidang Sanitasi.

VI. Penutup

Pada Bab ini akan disajikan rangkuman atas bab terdahulu dan harapan - harapan.

(19)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-1

BAB II

GAMBARAN UMUM KABUPATEN TOBA SAMOSIR

II.1. Geografis, Topografis dan Geohidrologi

Secara geografis Kabupaten Toba Samosir terletak di Dataran Tinggi Bukit Barisan dengan topografi dan kontur tanah datar, landai, bergelombang, miring dan terjal dengan ketinggian antara 300–2200 meter di atas permukaan laut. Struktur tanahnya labil dan berada pada wilayah gempa tektonik dan vulkanik dengan posisi geografisnya terletak antara 2o03’–2o40’’ LU dan 98o56’’–99o40’ BT dan jumlah penduduk sebanyak ±172.746 jiwa.

Sesuai dengan letak geografis Kabupaten Toba Samosir yang berada di garis Khatulistiwa, Kabupaten Toba Samosir tergolong ke dalam daerah beriklim tropis basah dengan suhu berkisar antara 17oC-29oC dan rata–rata kelembaban udara 85,04%.

Morfologi rupa bumi merupakan pengelompokan bentuk bentang alam

berdasarkan rona, kemiringan lereng secara umum dan ketinggiannya, pada satuan morfologi. Satuan morfologi dataran bentuk bentang alam yang didominasi oleh daerah yang relatif datar atau sedikit bergelombang dengan kisaran 0%-5%. Lebih rinci morfologi dataran berkisar 0%-2% dan subsatuan morfologi medan bergelombang dengan kisaran kemiringan lereng 2%-5%. Sedangkan morfologi perbukitan adalah bentang alam yang memperlihatkan relief baik halus maupun kasar, membentuk bukit-bukit dengan kemiringan lereng yang bervariasi, dimana dibagi; landai 5%-15%, perbukitan sedang 15%-40% dan perbukitan terjal dengan kemiringan lebih dari 15%-40%.

Keadaan permukaan tanah (topografi) wilayah Kabupaten Toba Samosir sebagian besar adalah berbentuk daerah wilayah yang bergunung dan dataran rendah serta disusul dengan wilayah berbukit dan yang landai (43%

(20)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-2

daerah miring, 28,75% daerah terjal, 15,26% daerah datar), struktur tanahnya labil dan berada pada wilayah gempa tektonik dan vulkanik.

Sebaran jenis tanah di Kabupaten Toba Samosir didominasi oleh

tanah litosol, podsolik, dan regosol, yaitu seluas sekitar 22,34% dari luas total

kabupaten yang tersebar di Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Borbor, Nassau dan Habinsaran (Sibosur). Tanah ini sesuai untuk dikembangkan bagi komoditi perkebunan seperti karet, kelapa sawit, dan tanaman keras lainnya. Jenis tanah lainnya yang banyak dijumpai adalah podsolik merah kuning (16,35%), hidromorfik kelabu, glei humus, dan regosol (11,54%). Jenis tanah podsolik merah kuning terdapat di Kecamatan Uluan, Lumban Julu, Porsea, Bonatua Lunasi, Parmaksian dan Balige, serta Tampahan.

Jenis tanah secara umum di Kabupaten Toba Samosir adalah

podsolik coklat kelabu, podsolik coklat, dan litosol dimana jenis tanah yang

dominan di Kabupaten Toba Samosir ini adalah jenis tanah podsolik coklat

(42,92 % dari keseluruhan). Ketiga jenis tanah tersebut umumnya memiliki sifat yang sama serta biasanya terdapat di daerah pegunungan. Adapun sifat ketiga jenis tanah tersebut yang hampir sama, yaitu:

Gambar II.1

(21)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-3

Sangat peka terhadap erosi;

Memiliki tingkat keasaman yang tinggi pada lapisan bawah; Tingkat kejenuhan yang tinggi;

Struktur tanah yang rendah;

Kandungan bahan organik yang rendah.

Rata–rata tinggi curah hujan yang terjadi di Kabupaten Toba Samosir per bulan berdasarkan data pada 3 stasiun pengamatan sebesar 155 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 14 hari. Umumnya curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April sebanyak 260 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 6 hari. Sementara pada bulan Pebruari tingkat curah hujan menurun menjadi 85 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 4 hari hujan. Berdasarkan stasiun pengamatan, Kecamatan Habinsaran merupakan daerah dengan curah hujan yang tertinggi, yakni 200 mm per tahun.

Sesuai dengan Kepmen PU Nomor 39/PRT/1989 tentang Pembagian Wilayah Sungai, sungai-sungai di Propinsi Sumatera Utara dapat dikelompokkan ke dalam 6 (enam) satuan wilayah sungai (SWS), yaitu SWS Wampu Besitang, SWS Belawan Belumai, SWS Bah Bolon, SWS Asahan (Kabupaten Toba Samosir), SWS Barumun Kualuh, dan SWS Batang Gadis Batang Toru. Di samping itu terdapat badan air berupa danau yang besar yaitu Danau Toba yang terletak di dataran tinggi di wilayah Tengah. Danau Toba berfungsi sebagai sarana pengairan sawah, pembangkit listrik pada PLTA Lau Renun, peleburan biji nikel PT. Inalum (Asahan 1-2-3), pelestarian alam, dan daerah tujuan wisata bagi Sumatera Utara.

Wilayah perkotaan diwakili Kota Balige, topografi sebagian besar adalah berbukit hingga bergunung. Oleh karena itu, kondisi topografi tersebut merupakan sumber-sumber air bagi penduduk Kota Balige. Ada beberapa sungai yang mengalir di Kota Balige dan bermuara di Danau Toba, yaitu : Aek Halian (Aek = air; sungai), Aek Pamulingan, Aek Tordong, Aek Samate Asu, dan Aek Lumban Binanga. Penduduk yang tinggal di pedesaan dan berada di daerah kaki perbukitan memanfaatkan air bersih yang bersumber dari mata air, sedangkan penduduk yang bermukim di pinggiran Danau Toba memanfaatkan air danau.

(22)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-4

II.2. Administratif

Wilayah Kabupaten Toba Samosir berada di antara lima kabupaten di Propinsi Sumatera Utara meliputi sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Simalungun, sebelah Timur berbatasan dengan Labuhan Batu dan Asahan, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara serta sebelah Barat berbatasan dengan Danau Toba dan Kabupaten Samosir.

Kabupaten Toba Samosir merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sumatera Utara hasil pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara melalui Undang–undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Mandailing Natal yang diresmikan pada tanggal 09 Maret 1999 oleh Menteri Dalam Negeri. Pada saat awal terbentuknya, Kabupaten Toba Samosir terdiri dari 13 kecamatan dan 4 perwakilan kecamatan, 281 desa serta 19 kelurahan dengan Kecamatan Balige sebagai ibu kota kabupaten.

Seiring dengan perkembangan aspirasi masyarakat dan pembangunan di Kabupaten Toba Samosir, pada tahun 2003 Kabupaten Toba Samosir dimekarkan menjadi Kabupaten Toba Samosir dengan ibu kotanya Kecamatan Balige dan Kabupaten Samosir dengan ibu kotanya Kecamatan Pangururan. Dan sampai dengan disusunnya buku putih ini (tahun 2010), wilayah administrasi Kabupaten Toba Samosir dengan total luas wilayah daratan 2.021,8 km2 terdiri dari 16 kecamatan, 13 kelurahan dan 231 desa. Keenam belas kecamatan

tersebut adalah; (1) Kecamatan Tampahan; (2) Kecamatan Balige; (3) Kecamatan Laguboti;(4) Kecamatan Sigumpar; (5) Kecamatan Silaen; (6) Kecamatan Siantar Narumonda; (7) Kecamatan Parmaksian; (8) Kecamatan

Habinsaran; (9) Kecamatan Borbor; (10) Kecamatan Nassau; (11) Kecamatan Pintu Pohan Meranti; (12) Kecamatan Porsea; (13) Kecamatan Bona Tua Lunasi; (14) Kecamatan Uluan; (15) Kecamatan Lumban Julu; (16) Kecamatan Ajibata.

(23)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-5

Tabel II.1

Luas Wilayah Berdasarkan Kecamatan Tahun 2009

No. Kecamatan Jumlah Desa Kelurahan Jumlah Luas Wil. (km²)

1 Balige 29 6 91,05 2 Tampahan 6 - 24,45 3 Laguboti 22 1 73,90 4 Habinsaran 21 1 408,70 5 Borbor 15 - 176,65 6 Nassau 10 - 335,50 7 Silaen 23 - 172,58 8 Sigumpar 9 1 25,20 9 Porsea 14 3 31,45 10 PP Meranti 7 - 277,27 11 S. Narumonda 14 - 22,20 12 Lumban Julu 12 - 90,90 13 Uluan 17 - 91,50 14 Ajibata 9 1 72,80 15 Parmaksian 11 - 45,98 16 Bonatua Lunasi 12 - 81,67 Jumlah 231 13 2.021,80

Sumber Data: BPS Kab Toba Samosir Tahun 2009 II.3. Kependudukan

Berdasarkan data kependudukan Kabupaten Toba Samosir tahun 2009, jumlah penduduk Kabupaten Toba Samosir sebanyak 174.661 jiwa, dengan jumlah rumah tangga 37.581 RT dengan tingkat kepadatan penduduk pada tahun 2008 sebesar 84,8 jiwa/km2. Kondisi rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Toba Samosir adalah sebesar 97,2% dengan rasio tanggungan 713,77 per seribu dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 50.848 orang.

(24)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-6

Tabel II.2

Kepadatan Penduduk Kabupaten Toba Samosir

No Kecamatan Luas (Km2) Jumlah Penduduk (jiwa) Kepadatan (Jiwa/Km2) 1. Tampahan 24,45 5.476 224,0 2. Balige 91,05 43.737 480,4 3. Laguboti 73,90 17.349 234,8 4. Sigumpar 25,20 6.743 267,6 5. Silaen 62,90 10.832 172,2 6. Siantar Narumonda 22,20 5.764 259,6 7. Porsea 31,45 10.896 346,5 8. Parmaksian 45,98 8.043 174,9 9. Uluan 91,50 7.399 80,9 10. Bonatua Lunasi 81,67 6.176 75,6

11. Pintu Pohan Meranti 386,95 8.078 20,9

12. Habinsaran 417,84 14.248 34,1 13. Borbor 167,51 7.671 45,8 14. Nassau 335,50 6.214 18,5 15. Lumban Julu 90,90 7.233 79,6 16. Ajibata 72,80 6.887 94,6 Total 2.021,80 172.746 85,4

Sumber Data : BPS Kab.Toba Samosir Tahun 2009

Jumlah penduduk Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2008 adalah 172.746 jiwa, dengan jumlah rumah tangga (RT) 38.276 RT.

Dengan luas wilayah daratan 2.021,8 km2, tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Toba Samosir tahun 2008 sebesar 85,4 jiwa/km2. Kecamatan Balige yang merupakan ibukota kabupaten, pusat perdagangan dan pusat pemerintahan adalah kecamatan dengan tingkat kepadatan yang tertinggi, yaitu sebesar 480,4 jiwa/km2, kemudian Kecamatan Porsea dengan tingkat kepadatan sebesar 346,5 jiwa/km2. Sedangkan Nassau merupakan kecamatan dengan tingkat kepadatan yang terkecil, yaitu hanya 18,5 jiwa/km2.

(25)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-7

Tabel II.3

Jumlah Rumah Tangga, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan

No. Kecamatan Rumah Tangga Penduduk (jiwa) Kepadatan (jiwa/km2)

1 Balige 8.283 43.737 480,4 2 Tampahan 1.074 5.476 224,0 3 Laguboti 4.096 17.349 234,8 4 Habinsaran 3.254 14.248 34,1 5 Borbor 1.784 7.671 45,8 6 Nassau 1.517 6.214 18,5 7 Silaen 2.571 10.832 172,2 8 Sigumpar 1.658 6.743 267,6 9 Porsea 2.508 10.896 346,5

10 Pintu Pohan Meranti 1.703 8.078 20,9

11 Siantar Narumonda 1.426 5.764 259,6 12 Lumbanjulu 1.718 7.233 79,6 13 Uluan 1.728 7.399 80,9 14 Ajibata 1.561 6.887 94,6 15 Parmaksian 1.929 8.043 174,9 16 Bonatua Lunasi 1.466 6.176 75,6 Jumlah total 2008 2007 2006 38.276 37.581 37.234 172.746 171.375 170.015 85,4 84,8 84,1

Sumber: BPS Kabupaten Toba Samosir Tahun 2009 Tabel II.4

Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin No Kecamatan Laki-Laki (org) Perempuan (org) Total (org )

1 Balige 21.513 22.224 43.737 2 Tampahan 2.737 2.739 5.476 3 Laguboti 8.477 8.872 17.349 4 Habinsaran 7.101 7.147 14.248 5 Borbor 3.828 3.843 7.671 6 Nassau 3.116 3.098 6.214 7 Silaen 5.328 5.504 10.832 8 Sigumpar 3.304 3.439 6.743 9 Porsea 5.288 5.608 10.896 10 PP Meranti 4.007 4.071 8.078 11 S. Narumonda 2.861 2.903 5.764 12 Lumban Julu 3.594 3.639 7.233 13 Uluan 3.634 3.765 7.399 14 Ajibata 3.403 3.484 6.887 15 Parmaksian 3.966 4.077 8.043 16 Bonatua Lunasi 3.082 3.094 6.176 Jumlah/Total 85.239 87.507 172.746

(26)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-8

Tabel II.5

Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Kabupaten Toba Samosir Kelompok

Umur Laki-laki Perempuan Jumlah (L+P) %-Se Laki Perempuan %-Se (L+P) %-Se

0-4 9036 8861 17897 50.49 49.51 10.36 5-9 10321 10148 20469 50.42 49.58 11.85 10-14 11912 11737 23649 50.37 49.63 13.69 15-19 12046 11741 23787 50.64 49.36 13.77 20-24 5439 5323 10762 50.54 49.46 6.23 25-29 4668 4574 9242 50.51 49.49 5.35 30-34 4179 4595 8774 47.63 52.37 5.08 35-39 4066 4502 8568 47.46 52.54 4.96 40-44 4467 4949 9416 47.44 52.56 5.45 45-49 4338 4766 9104 47.65 52.35 5.27 50-54 4515 4969 9484 47.61 52.39 5.49 55-59 2835 3124 5959 47.58 52.42 3.45 60-64 2742 3029 5771 47.51 52.49 3.34 65+ 4675 5189 9864 47.39 52.61 5.71 2008 85.239 87.507 172.746 49,34 50,66 100,00 2007 84.492 84.492 171.375 49,30 50,70 100,00 2006 83.747 83.747 170.015 49,26 50,74 100,00

Sumber : Tobasa Dalam Angka 2009

Melihat perkembangan penduduk menurut kelompok umur diwilayah Kabupaten Toba Samosir dengan pertumbuhan laki-laki 0,89% dan perempuan 2,23% secara total 0,80%, maka diperoleh bervariasi kelompok indikator usia muda usia 0-14 tahun sebesar 35,9%, usia produktif 15-64 tahun sebesar 58,39% dan usia lanjut >64 tahun sebesar 5,71%. Kondisi diatas memperlihatkan bahwa indikator usia produktif sangat dominan bila dibanding dengan usia muda dan lanjut usia, maka diharapkan pembangunan sosial budaya Kabupaten Toba Samosir berpeluang signifikan berkembang. Perbandingan kaki-laki dengan perempuan potensi tersebut adalah hampir dekat namun perempuan lebih besar 58,93%.

(27)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-9

Tabel II.6

Jumlah Penduduk Pencari Kerja Menurut Pendidikan Kab. Toba Samosir

No Unit Kerja Laki-Laki Perempuan Jumlah %

1 Tidak Pernah Sekolah - - - -

2 Tidak Tamat SD - - - - 3 SD 2 2 4 0.66 4 SLTP 4 2 6 0.98 5 SMU 54 114 168 27.54 6 STM 82 - 82 13.44 7 SMEA - 122 122 20.00 8 SPMA - - - - 9 SLTA - - - - 10 Diploma I 2 4 6 0.98 11 Diploma II 2 3 5 0.82 12 Sarjana Muda 19 87 106 17.38 13 Sarjana Lengkap 43 72 115 18.85 Total: 2008 206 404 610 100.00 2007 889 303 1,192 100.00 2006 636 778 1,414 100.00

Sumber : BPS Kab.Toba Samosir Tahun 2009

Tabel II.7

Jumlah Penduduk Kabupaten Toba Samosir Menurut Kecamatan Berdasarkan Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010

No Kecamatan Laki-Laki (jiwa) Perempuan (jiwa) Perempuan Laki-Laki + Ratio Sex

1 Balige 18.286 18.303 36.589 100 2 Tampahan 2.157 2.134 4.291 101 3 Laguboti 8.921 9.451 18.372 94 4 Habinsaran 7.670 7.749 15.419 99 5 Borbor 3.461 3.379 6.840 102 6 Nassau 3.717 3.572 7.289 104 7 Silaen 5.986 6.125 12.111 98 8 Sigumpar 3.662 3.735 7.397 98 9 Porsea 6.320 6.368 12.688 99 10 PP Meranti 3.526 3.544 7.070 99 11 S. Narumonda 2.802 2.923 5.725 96 12 Lumbanjulu 3.952 4.119 8.071 96 13 Uluan 3.485 3.495 6.980 100 14 Ajibata 3.600 3.605 7.205 100 15 Parmaksian 5.142 5.117 10.259 100 16 Bonatua Lunasi Total 85.969 86.964 172.933 99

(28)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-10

Indikasi Kesejahteraan Sosial

1.

Indeks Pembangunan Manusia

Pembangunan manusia menyangkut dimensi yang sangat luas. Upaya membuat pengukuran pencapaian pembangunan manusia yang telah dilakukan di suatu wilayah harus dapat memberikan gambaran tentang dampak dari pembangunan manusia bagi penduduk, sekaligus dapat memberikan gambaran tentang persentase pencapaian terhadap sasaran ideal. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator komposit tunggal yang walaupun tidak dapat mengukur semua dimensi dari pembangunan manusia, tetapi mengukur tiga dimensi pokok pembangunan manusia yang dinilai mencerminkan status kemampuan dasar (basic capabilities) penduduk. Ketiga kemampuan dasar itu adalah :

1. umur panjang dan sehat yang mengukur peluang hidup ataupun harapan hidup;

2. berpengetahuan dan berketerampilan;

3. akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup layak.

Indeks Pembangunan Manusia dimaksudkan untuk mengukur dampak dari upaya peningkatan kemampuan dasar tersebut. Dengan demikian, Indeks Pembangunan Manusia menggunakan indikator dampak sebagai komponen dasar

penghitungannya yaitu, (1) angka harapan hidup waktu lahir, (2) pencapaian pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata

lama sekolah, (3) serta pengeluaran konsumsi.

UNDP, dengan menggunakan Indeks Pembangunan Manusia, membagi tingkatan status pembangunan manusia suatu negara atau wilayah ke dalam empat golongan yaitu:

1. Rendah, dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah kurang dari 50;

2. Menengah bawah, dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia berada diantara 50 sampai 66;

3. Menengah atas, dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia berada diantara 66 sampai 80;

(29)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-11

Pada tahun 2008 IPM Kabupaten Toba Samosir sebesar 75,75 berada pada level status menengah atas, meningkat dibandingkan tahun 2007 yang sebesar 75,34. Dengan status level menengah atas, berarti masih diperlukan usaha yang lebih keras untuk meningkatkan status pembangunan manusia di Kabupaten Toba Samosir menjadi level status tinggi. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan, kualitas kesehatan, dan juga kesempatan untuk memperoleh penghidupan yang layak.

Sebagai ukuran kemajuan pembangunan manusia, IPM digunakan untuk mengkaji kemajuan dari pencapaian setelah berbagai program diimplementasikan dalam suatu periode. Oleh karena itu, komponen-komponen IPM akan memberikan gambaran kemajuan pencapaian atau kinerja pembangunan manusia.

Tabel II.8

Status Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen IPM Kabupaten Toba Samosir dan Sumatera Utara Tahun 2008 Komponen IPM NilaiToba SamosirStatus NilaiSumatera UtaraStatus

Indeks Harapan Hidup 75, 90 73, 67

Indeks Pengetahuan 86, 99 83,83

Indeks Daya Beli 64, 36

62, 35

IPM 75, 75 Menengah Atas 73, 29 Menengah Atas

Sumber : Indikator Makro Sosial Ekonomi Kabupaten Toba Samosir tahun 2009

2.

Tingkat Konsumsi Penduduk

Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat digambarkan oleh besarnya jumlah pendapatan yang diterimanya. Namun demikian penggambaran tingkat kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pendapatan sangat sulit dilakukan karena masyarakat pada umumnya sukar untuk mencatat dan mengingat arus pendapatan serta jenisnya atau juga oleh sebab-sebab lain. Oleh karena itu pendapatan rumah tangga diperkirakan dari data pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran rumah tangga dibedakan menurut pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan. Kedua jenis pengeluaran tersebut dapat menjelaskan dengan baik bagaimana pola konsumsi masyarakat Kabupaten Toba Samosir secara umum.

(30)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-12

Pengeluaran rata-rata per kapita sebulan penduduk Kabupaten Toba Samosir selama periode 1995–2008 mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari Rp. 40.928,- pada tahun 1995, menjadi Rp. 169.877,- pada tahun 2001, meningkat menjadi Rp. 171.111,- pada tahun 2002, Rp. 200.085,- pada tahun

2003, Rp. 224.603,- pada tahun 2004, Rp. 285.633,- pada tahun 2005, Rp. 288.189,- pada tahun 2006, Rp. 312.695,- pada tahun 2007, dan mencapai

Rp. 528.289,- pada tahun 2008.

Grafik II.1

Pengeluaran Rata-rata per Kapita per Bulan Penduduk Kabupaten Toba Samosir

Tahun 1995, 2001-2008

Sumber : Indikator Makro Sosial Ekonomi Kabupaten Toba Samosir tahun 2009

3.

Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Berencana

Berdasarkan data dari BKBPKS (Badan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluaraga Sejahtera) Kabupaten Toba Samosir, jumlah keluarga prasejahtera/keluarga sejahtera I (KS I) tahun 2008 di Kabupaten Toba Samosir sebanyak 14.777 keluarga. Bila dibandingkan dengan keadaan tahun sebelumnya menunjukkan adanya peningkatan, dengan jumlah tahun sebelumnya (2007) sebanyak 13.516 keluarga.

0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 1995 2002 2004 2006 2008

(31)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-13

Tabel II.9

Jumlah Keluarga Pra Sejahtera/KS I Dirinci Menurut Kelompok/Jumlah Anggota Penerima Takesra dan Kecamatan

Tahun 2008

Kecamatan Pra Sejahtera dan KS I Kelompok Takesra Anggota Takesra

01. Balige 2.005 - - 02. Tampahan 444 - - 03. Laguboti 1.731 - - 04. Habinsaran 1.397 - - 05. Borbor 571 - - 06. Nassau 907 - - 07. Silaen 1.444 - - 08. Sigumpar 782 - - 09. Porsea*) 1.682 - -

10. Pintu Pohan Meranti 801 - -

11. Siantar Narumonda 570 - - 12. Lumban Julu**) 919 - - 13. Uluan 974 - - 14. Ajibata 550 - - 15. Parmaksian - - - 16. Bonatua Lunasi - - - Jumlah 2008 14.777 - 2007 13.516 -

-Keterangan : *) Termasuk Kecamatan Parmaksian, **) Termasuk Kecamatan Bonatua Lunasi

Sumber : Indikator Makro Sosial Ekonomi Kabupaten Toba Samosir tahun 2009

II.4. Pendidikan

Jenjang pendidikan formal di Kabupaten Toba Samosir terdiri dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas atau yang sejenis dan sekolah setingkat Akademi/Diploma. Sementara untuk jenjang pendidikan non formal, di Kabupaten Toba Samosir juga terdapat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tersebar di 16 kecamatan, Bimbingan Belajar SD, SMP dan SMA di Kecamatan Porsea dan Kecamatan Balige.

Kondisi jenjang pendidikan formal yang terdapat di Kabupaten Toba

Samosir serta persebarannya di tiap kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut:

(32)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-14

Tabel II.10

Jumlah Sekolah, Guru dan Murid Menurut Tingkat Pendidikan Periode 2007/2008 – 2008/2009

Tingkat Pendidikan/ Education Level

Tahun Ajaran/Teaching Year

2007/2008 2008/2009

1 Sekolah Dasar/Primary School a. Sekolah/Schools b. Guru/Teachers c. Murid/Students 223 1.942 26.636 223 2.067 26.297 2 SLTP/Junior High Schools

a. Sekolah/Schools b. Guru/Teachers c. Murid/Students 44 921 12.356 44 961 12.272 3 SMA/Senior High Schools

a. Sekolah/Schools b. Guru/Teachers c. Murid/Students 16 462 6.646 16 507 6.866 4 SMK/Vocational Senior High Schools

a. Sekolah/Schools b. Guru/Teachers c. Murid/Students 19 452 5.858 20 506 5.596 5 Akademi/Academy a. Akademi/Academy b. Dosen/Lecturer c. Mahasiswa/Students 5 71 611 5 65 675 Sumber : BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Toba Samosir Tahun 2009

(33)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-15

Tabel II.11

Kondisi SD, SMP, SMA dan SMK, jumlah murid pertingkatan, jumlah guru, rata-rata rasio murid dengan guru dan rata-rata-rata-rata rasio guru dengan sekolah

pertingkatan

NO Sekolah Tingkat Negeri Swasta Jlh

Sekolah Jlh Murid Guru Jlh Rata-rata rasio murid dgn Guru Rata-rata rasio guru dengan Sekolah 1 PAUD 120 18 138 3.236 276 11.72 2 2 TK N/S 3 12 15 1.185 55 21.54 3.66 3 SD, SDLB, MI N/S 214 9 223 25.998 1.994 13.03 8.94 4 SMP,MTs N/S 37 6 43 11.779 952 12.39 22.13 5 SMA N/S 10 5 15 6.687 506 13.26 33.73 6 SMK N/S 4 16 20 5.470 511 10.70 25.55 Jumlah 388 66 454 54.412 4.309

Sumber Data: Dinas Pendidikan Nasional Kab. Toba Samosir Tahun 2010

Tabel II.12

Data Gedung Sekolah Menurut Tingkat Sekolah

NO Tingkat Sekolah

Kondisi Bangunan

Jumlah Ruang Baik Rusak Ringan Rusak Berat

1 PAUD 106 32 - 138 2 TK Negeri/Swasta 36 4 - 40 3 SD, MI Negeri/ Swasta 1.207 145 2 1.354 4 SMP, MTs Negeri/ Swasta 248 116 37 401 5 SMA Negeri/ Swasta 86 76 20 182 6 SMK Negeri/ Swasta 64 76 44 184 Jumlah 1.747 449 103 2.299

Sumber Data : Dinas Pendidikan Nasional Kab.Toba Samosir Thn 2010

Kondisi fisik dan sarana prasarana pendidikan di sekolah-sekolah khususnya sekolah dasar masih sangat minim. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi kualitas pendidikan di Kabupaten Toba Samosir secara umum. Peningkatan kualitas sarana prasarana sekolah ini memakan biaya yang sangat besar oleh karena itu diperlukan perencanaan yang terarah dan matang.

(34)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-16

Tabel II.13

Jumlah Sekolah Menurut Tingkat Pendidikan dan Kecamatan Periode Tahun 2008 –2009

Kecamatan/ Sub Regency

Tingkat Pendidikan/Education Level SD/MI/SLB SLTP/MTs SMA SMK 01 Balige 31 8 5 8 02 Tampahan 6 1 - - 03 Laguboti 19 4 2 4 04 Habinsaran 27 5 2 1 05 Borbor 11 1 1 - 06 Nassau 15 2 - - 07 Silaen 16 3 1 - 08 Sigumpar 9 2 - - 09 Porsea 15 2 - 3

10 Pintu Pohan Meranti 15 5 1 1

11 Siantar Narumonda 8 2 2 - 12 Lumban Julu 13 2 1 1 13 Uluan 14 2 - - 14 Ajibata 9 2 - - 15 Parmaksian 8 2 1 2 16 Bonatua Lunasi 7 1 - - Jumlah/Total : 2008 : 2007 : 2006 223 223 221 44 44 39 16 16 15 20 19 18

Sumber : BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Toba Samosir Tahun 2009

1.

Angka Buta Huruf

Salah satu indikator yang dapat dijadikan ukuran kesejahteraan sosial yang merata adalah dengan melihat tinggi rendahnya persentase penduduk yang melek huruf. Tingkat melek huruf atau tingkat buta huruf dapat dijadikan ukuran kemajuan suatu bangsa. Kemampuan membaca dan menulis akan mendorong meningkatnya peran aktif penduduk dalam proses pembangunan. Secara persentase, penduduk usia 10 tahun ke atas yang belum dapat membaca dan menulis di Kabupaten Toba Samosir dapat dikatakan rendah. Menurut hasil Susenas 2008, persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang melek huruf sebanyak 98,49 persen dan buta huruf 1,51 persen. Bila dibandingkan dengan tahun 2007, maka sudah tejadi penurunan buta huruf dengan angka buta huruf tahun 2007 1,54 persen.

(35)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-17

Tabel II.14

Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas Yang Buta Huruf Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin

Tahun 2008

Status Pendidikan Persentase

Laki-laki Perempuan Total

10-14 0,00 0,00 0,00 15-19 0,00 0,00 0,00 20-24 0,00 0,00 0,00 25-29 0,00 0,00 0,00 30-34 0,00 0,00 0,00 35-39 0,00 0,00 0,00 40-44 0,00 0,00 0,00 45-49 0,00 0,00 0,00 50-54 1,24 2,05 1,93 55-59 1,20 6,73 3,78 60-64 1,13 6,87 3,83 65+ 12,18 19,58 13,54

Persentase Penduduk Toba

Samosir Yang Buta Huruf 0,76 2,31 1,51

Sumber : Indikator Makro Sosial Ekonomi Kabupaten Toba Samosir tahun 2009

II.5. Kesehatan

2.5.1 Profil Kesehatan dan Pencapaian Pembangunan Kesehatan

Sebelum membahas profil kesehatan, terlebih dahulu kita tinjau konsep Visi dan Misi yang dikembangkan Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir dalam menangani kesehatan di Kabupaten Toba Samosir periode tahun 2011 - 2015. Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir adalah “Mewujudkan Masyarakat Mandiri Untuk Hidup Sehat Berlandaskan Kasih, Peduli, Bermartabat Pada Tahun 2015“.

Untuk mencapai Visi Pembangunan Kesehatan Kabupaten Toba Samosir tersebut di atas, akan diwujudkan melalui Misi Pembangunan Kesehatan Kabupaten Toba Samosir tahun 2011-2015 berikut ini:

a. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan mutu pelayanan kesehatan;

b. Menjamin ketersediaan dan sumber daya kesehatan;

c. Memberdayakan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat;

(36)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-18

e. Meningkatkan penggunaan teknologi dan sistem informasi kesehatan untuk

mendukung upaya pelayanan kesehatan;

f. Meningkatkan pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah, masyarakat dan pihak swasta;

g. Meningkatkan kemitraan pelayanan kesehatan dengan lembaga pendidikan, pemerintah dan swasta.

Strategi dan arah kebijakan umum disusun untuk mencapai visi dan misi Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir tersebut, maka berikut ini adalah strategi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir dalam bidang kesehatan:

1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerjasama Pemerintah Kabupaten Toba Samosir;

2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti dengan pengutamaan pada upaya promotif–preventif;

3. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan;

4. Meningkatkan pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu;

5. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, manfaat dan mutu sediakan farmasi, alat kesehatan dan makanan;

6. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan, berdaya guna dan berhasil guna untuk menetapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggung jawab.

Gambaran derajat kesehatan di suatu wilayah dapat dilihat dari indikator yang dinilai paling peka sebagai ukuran derajat kesehatan meliputi; (A) Angka Kematian, (B) Angka Kesakitan dan (C) Status Gizi.

A. Angka Kematian

Indikator pengukuran angka kematian ini dilihat dari angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup, angka kematian balita per 1000 kelahiran hidup, jumlah kematian ibu dan angka kecelakaan lalu lintas per 100.000 penduduk.

(37)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-19

Tabel II.15

Angka Kematian Bayi dan Balita di Kabupaten Toba Samosir periode Tahun 2004–2009

No Tahun AKB (‰) AKABA (‰)

1 2004 0,94 23,65 2 2005 2,85 13,91 3 2006 6,73 5,57 4 2007 14,6 4,7 5 2008 10,23 0,22 6 2009 6,1 1,3

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kab.Tobasa Tahun 2009 dan MDGs

Keterangan : AKB (Angka Kematian Bayi) & AKABA (Angka Kematian Anak Balita)

Angka kematian bayi di Kabupaten Toba Samosir tahun 2004–2008 secara berturut–turut sebesar 0,94‰; 2,85‰; 6,73‰; 14,6‰ dan tahun 2008 sebesar 10,23‰ (artinya dari setiap 1000 kelahiran hidup terdapat 10 kematian bayi). Untuk tahun 2009 angka kematian bayi adalah sebesar 6,1‰ masih lebih rendah dari target nasional tahun 2010 sebesar 23 jiwa per 1000 kelahiran hidup.

Berdasarkan tabel tersebut juga terlihat bahwa angka kematian balita (AKAB) kecenderungannya menurun dari tahun 2004 s/d 2009 dengan besaran 23, ‰`pada tahun 2004 menjadi 0,22‰ tahun 2008. Untuk tahun 2009 terjadi kecenderungan kenaikan dari tahun 2008, yakni dari 0,22‰ tahun 2008 menjadi 1,3‰ tahun 2009. Namun secara nasional target yang ditetapkan tahun 2010 adalah sebesar 32 per seribu kelahiran hidup, sehingga kondisi tahun 2009 tersebut masih berada di bawah target nasional.

B. Angka Kesakitan

Angka kesakitan merupakan jumlah penderita suatu penyakit tertentu dibandingkan dengan jumlah penduduk yang kemungkinan terkena penyakit tersebut dalam suatu wilayah dan waktu tertentu dikaitkan dengan konstanta (faktor penentu). Angka kejadian Acute Flaccid Paralysis (AFP) tahun 2009 pada anak usia<15 tahun ditemukan di Kecamatan Lumban Julu sebanyak 3 kasus.

(38)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-20

Adapun persebaran Angka Kesakitan yang terdapat di Kabupaten Toba Samosir dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel II.16

Angka Kesakitan Kabupaten Toba Samosir periode 2005-2009

No Jenis Penyakit Keadaan Tahun ( jiwa )

2005 2006 2007 2008 2009

1. Infeksi akut lain pada Saluran Pernapasan bagian atas

5.988 5.992 5.996 5.998 5.973

2. Penyakit lain pada saluran pernapasan bagian atas

5.642 5.452 5.231 4.946 4.831

3. Penyakit lainnya 3.853 3.842 3.641 3.279 3.168

4. Diare 3.561 3.229 3.176 3.064 2.992

5. Tekanan Darah Tinggi 2.267 2.455 2.581 2.762 2.800

6. Penyakit sistem otot & Jaringan Pengikat

2.655 2.544 2.389 2.472 2.512

7. Infeksi Penyakit Usus lainnya 2.311 2.452 2.165 2.143 2.098

8. Tukak Lambung 1.863 1.655 1.678 1.606 1.592

9. Karies Gigi 1.488 1.376 1.439 1.265 1.438

10. Kecelakaan dan Ruda Paksa 1.347 1.305 1.366 1.258 1.272

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Toba Samosir Tahun 2010 C. Status Gizi

Untuk menggambarkan status gizi di suatu daerah dapat dilihat dari angka kunjungan neonates, kunjungan gizi, berat bayi lahir rendah (BBLR) ditangani, balita dengan gizi buruk dan kecamatan bebas rawan gizi.

Persentase kunjungan neonates dan bayi tahun 2009 masing–masing sebesar 75% dan 100%. Jumlah bayi yang lahir tahun 2009 di Kabupaten Toba Samosir sebanyak 3.951 jiwa, dimana 0,05% (2 bayi) merupakan BBLR yang keseluruhannya dapat ditangani.

Dari 18.496 balita yang ada di Kabupaten Toba Samosir tahun 2009, dari 15.091 balita yang melaksanakan penimbangan dan 81,48% (12.296 balita) berat badannya naik. Untuk kasus gizi buruk tahun 2005–2008 masing–masing sebesar 0,57%, 0,60%, 1,74% dan 1,02%. Terhadap data ini ada kecenderungan peningkatan kasus gizi buruk yang walaupun tidak signifikan. Berikut ini kondisi status gizi balita di Kabupaten Toba Samosir dapat dilihat pada tabel:

(39)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-21

Tabel II.17

Status Gizi Balita di Kabupaten Toba Samosir periode 2005-2009

No Tahun Balita Gizi Buruk (%)

1 2005 0,57

2 2006 0,60

3 2007 1,74

4 2008 1,02

5 2009 1,05

Sumber data : Dinas Kesehatan Kab.Toba Samosir Tahun 2010

Kesehatan Ibu

Jumlah kematian ibu untuk tahun 2009 terdapat sebanyak 8 kasus, masing–masing terdapat di kecamatan Balige (3 kasus), Kecamatan Habinsaran (1 kasus), Kecamatan Nassau (2 kasus) dan Kecamatan Porsea (2 kasus).

Masih ditemukannya kematian ibu di Kabupaten Toba Samosir erat kaitannya dengan angka kesakitan yang berhubungan dengan kehamilan dan pertolongan persalinan.

Pengobatan

Kondisi penyakit terbanyak,bila ditinjau dari tampilan tabel di bawah ini, penyakit infeksi masih mendominasi. Sebagian besar penyakit infeksi yang terjadi itu, karena pengelolaan lingkungan yang belum optimal dan mutu lingkungan yang tergolong kurang. Berikut kondisi penyakit terbanyak yang ada di Kabupaten Toba Samosir dapat dilihat pada tabel berikut:

(40)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-22

Tabel II.18

Penyakit Terbanyak di Kabupaten Toba Samosir periode 2005–2009

No Jenis Penyakit Keadaan Tahun ( jiwa )

2005 2006 2007 2008 2009

1 Infeksi akut lain pada Saluran Pernapasan bagian atas

5.988 5.992 5.996 5.998 5.973

2 Penyakit lain pada saluran pernapasan bagian atas

5.642 5.452 5.231 4.946 4.831

3 Penyakit lainnya 3.853 3.842 3.641 3.279 3.168

4 Diare 3.561 3.229 3.176 3.064 2.992

5 Tekanan Darah Tinggi 2.267 2.455 2.581 2.762 2.800

6 Penyakit system otot & Jaringan Pengikat

2.655 2.544 2.389 2.472 2.512

7 Infeksi Penyakit Usus lainnya 2.311 2.452 2.165 2.143 2.098

8 Tukak Lambung 1.863 1.655 1.678 1.606 1.592

9 Karies Gigi 1.488 1.376 1.439 1.265 1.438

10 Kecelakaan dan Ruda Paksa 1.347 1.305 1.366 1.258 1.272

Sumber : Dinas Kesehatan Kab.Tobasa Tahun 2010

Kondisi pengobatan yang terdapat di Kabupaten Toba Samosir adalah sebagai berikut:

1. Ketersediaan obat generik di puskesmas;

2. Pasien terlayani kesehatannya bila berobat ke puskesmas; 3. Polindes terbuka 24 jam;

4. Tenaga bidan desa tersebar di 90% desa yang ada. Perilaku Sehat

Upaya membangun kesehatan tak dapat berhasil guna tanpa adanya peran serta masyarakat, yang salah satu bentuknya Posyandu yang mempunyai peran penting dalam mengidentifikasi kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Perilaku sehat erat kaitannya dengan derajad kesehatan. Derajat kesehatan di masyarakat ditunjukkan dengan makin menurunnya prevalensi gizi buruk dan malaria.

Peningkatan kinerja di bidang kesehatan ini tidak terlepas dari upaya pemerintah daerah maupun bantuan pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas dan jangkauan serta penyediaan obat-obatan esensial bagi masyarakat. Berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat dilihat pada tabel berikut:

(41)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-23

Tabel II.19

Perkembangan Sarana dan Prasarana Kesehatan Kabupaten Toba Samosir

No Sarana Prasarana Tahun (unit) 2005 s/d 2006 2006 s/d 2007 2007 s/d 2008 2008 s/d 2009 2009 s/d 2010 1. Puskesmas 12 14 17 18 19 2. Puskesmas pembantu 38 33 32 32 30 3. Posyandu 252 245 280 285 285

Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab.Toba Samosir Tahun 2010 Tabel II.20

Jumlah Fasilitas Kesehatan Menurut Status Kepemilikan

No Fasilitas Kesehatan Pemerintah Swasta Jumlah

1. Rumah Sakit Umum 1 2 3

2. Rumah Sakit Mini Daerah 1 - 1

3. Rumah Sakit Khusus Kusta 1 - 1

4. Apotek - 9 9

5. Pondok Bersalin Desa 98 - 98

6. Praktek Dokter 36 - 36

7. Praktek Bidan 280 15 295

8. SPK/AKPER - 2 2

9. Sekolah Menengah Farmasi - 1 1

Sumber Data : BPS Kab. Toba Samosir Tahun 2009

Ketersediaan sumber daya aparatur kesehatan di Kabupaten Toba Samosir dapat dilihat pada tabel berikut:

(42)

Pokja Sanitasi Kab. Toba Samosir

II-24

Tabel II.21

Jumlah Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir Menurut Kecamatan Tahun 2008

Kecamatan/

Sub Regency Dokter/State Physician Perawatan Paramedis

Paramedis Non Perawatan Non Medis Jumlah/Total 01 Balige 8 67 8 5 88 02 Tampahan 4 20 1 2 27 03 Laguboti 2 33 6 3 44 04 Habinsaran 3 45 3 4 55 05 Borbor 4 25 4 2 35 06 Nassau 3 26 1 2 32 07 Silaen 4 34 2 3 43 08 Sigumpar 2 15 1 2 20 09 Porsea 3 43 4 3 53 10 Pintu Pohan Meranti 3 25 1 4 33 11 Siantar Narumonda 2 26 1 2 31 12 Lumban Julu 5 25 5 4 39 13 Uluan 3 33 1 5 42 14 Ajibata 5 23 4 4 36 15 Parmaksian - - - - - 16 Bonatua Lunasi 1 17 1 2 21 Jumlah : 2008 : 2007 : 2006 52 44 45 457 406 354 43 65 87 47 22 55 599 537 541

Sumber : BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Toba Samosir

II.6. Kondisi Kepemilikan Lahan dan Sosial Budaya Masyarakat

Secara umum Kabupaten Toba Samosir mempunyai lahan dengan status penguasaan lahan yaitu tanah ulayat dan tanah pemerintah, yang artinya adalah:

Tanah Ulayat adalah tanah yang dimiliki oleh garis keturunan yang memiliki lahan tersebut dan dikelola oleh turunan nenek moyang tesebut dan disebut juga tanah adat, yang umumnya wilayah Toba Samosir adalah orang Batak Toba (mayoritas).

Gambar

Gambar II.1
Tabel II.4
Tabel II.7
Tabel II.8
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir akan melaksanakan pengadaan barang/jasa sumber dana BKP Propinsi

terjadi konflik runtuhnya sistem kekerabatan pada masyarakat Batak Toba yang. terletak di Ajibata Kabupaten

Toba Samosir dalam Angka.. Toba Samosir dalam

Penilaian area berisiko pada penyusunan buku putih sanitasi ini, menggunakan tiga penilaian yaitu berdasarkan data sekunder, berdasarkan persepsi SKPD dan

Buku Putih Sanitasi BPS Kabupaten Tapanuli Tengah Rencana dan kegiatan untuk peningkatan Pengelolaan Limbah Domestik yang akan dan telah dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum

Judul Tesis : DETERMINAN PEMANFAATAN BUKU KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) PADA IBU BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BALIGE KABUPATEN TOBA SAMOSIR TAHUN 2013.. Nama Mahasiswa :

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 173547 di desa tambunan Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir dengan tujuan untuk mengetahui hubungan sanitasi lingkungan sekolah dan

Jumlah partai politik yang terdaftar sebagai partai peserta pemilu 2015 di Kabupaten Toba Samosir sebanyak 8 partai. Jumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) tahun