Daftar Isi
Istilah-istilah yang merujuk kepada karya-karya Ibnu Khaldun Pengantar
Bab pertama: Kehidupan Ibnu Khaldun
Bagian pertama : Fase perkembangan dan menuntut ilmu Bagian kedua : Fase pekerjaanya di kantor
pemerintahan dan bidang politik Bagian Ketiga : Fase Menulis
Bagian keempat : Fase tugasnya dalam bidang pengajaran dan pengadilan di Mesir
Bab Kedua: Buah Karya Ibnu Khaldun
Bagian Pertama : Ibnu Khaldun Bapak Ilmu Sosial Bagian kedua : Hal yang hadapi Ibnu Khaldun
Bagian ketiga : Ibnu Khaldun, Pakar dan pembaharu Ilmu Sejarah
Bagian keempat : Ibnu Khaldun,Pakar dan pembaharu seni Auto-Biografi
Bagian kelima :Ibnu Khaldun, Pakar dan pembaharu penulisan Bahasa Arab
Bagian keenam : Ibnu Khaldun;Pakar dan pembaharu dalam penelitian-penelitian tentang sejarah pendidikan dan
pengajaran
Bagian ketujuh : Tapak kaki Ibnu Khaldun dalam ilmu hadits
Bagian kedelapan : Tapak kaki Ibnu Khaldun dalam Ilmu Fiqh Maliki
Kejeniusan Ibnu Khaldun
Dr. Ali Abdul Wahid Wafi’
Istilah-istilah yang merujuk kepada karya-karya Ibnu Khaldun Dalam banyak buku ini akan banyak istilah-istilah yang meruujuk kepada karya-karya Ibnu Khaldun. Karenanya, penulis memandang perlu untuk menjelaskan istilah-istilah tersebut secara ringkas:
Mukaddimah (Bayan): yang penulis maksud disini adalah kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun, terbitan ‘Lajnah al Bayan Al Arabi’, yang merupakan terbitan yang telah penulis tahkik dan penulis terangkan secara gambang. Penulis pun menambahkan bab-bab dan bagian-bagian yang kurang pada terbitan sebelumnya. Sampai saat ini, buku tersebut telah dibagi menjadi tiga bagian dalam 1148 halaman dengan terbitan besar.; mencakup di dalamnya 2000 komentar di pinggiran sampignya – sedang bagian ke empat dan bagian terakhir masih dalam proses penerbitan.
Mukaddimah (Fahmy): yang penulis maksud di sini adalah Mukaddimah Ibnu Khaldun, terbitan ‘Matba’ah Taqaddum’ yang telah di takhrij oleh Musthafa Fahmy pada thaub 1329 H. Penulis akan menjelaskan –khususnya- bagian akhir yang belum tampak wujudnya dalam terbitan ‘Lajnah al Bayan’
Al „Ibr: yang penulis maksud disini adalah kitab kedua dan ketiga dari ‘Kitab Al „Ibr, Diwan Mubtada wa khabar, Fi ayyamil „arab wal „ajm wal barbar, wa man Asharahum min Dzawi Sulthon Al Akbar „ terbitan Bulak yang muncul pada tahun 1284 H (1868 M) dalam bentuk tujuh jilid. Ia mengkhususkan jilid pertamanya sebagai kata pengantar (atau lebih dikenal dengan kitab Mukaddimah); sedang enam jilid lainya dibagi menjadi buku kedua dan ketiga.
„Ta‟rif’ yang dimaksud adalah ’Ta‟rif bi Ibni khaldun wa rihlatuhu Gharban wa Syarqan‟ cetakan ‘Lajnah Ta’lif wa tarjamah Wa Nasr’ yang muncul pada tahun 1951 M. Ia adalah cetakan yang telah ditahkik dan diberi catatan oleh Muhammad Tawit Thanji.
Pengantar
Banyak Usaha yang telah dikerahkan dalam penulisan buku ini untuk dapat mengungkapkan kejeniusan Ibnu Khaldun dan kemuliaannya atas semua yang telah ia hasilkan, khusus buku Mukaddimahnya dimana telah memunculkan ilmu baru, yang lebih dikenal sekarang dengan ilmu sosiologi atau ilmu sosial kemasyarakatan. Ia banyak memberikan pembahasan dimana belum ada seorang pun sebelumnya yang mampu menandinginya dalam hal ini, bahkan belum ada pula seorang pun yang sesudahnya dari pakar ilmu sosial yang mampu menghasilkan suatu resume sebagaimana yang telah ia hasilkan, semua penelitiannya ini menjadi bukti akan intensnya pada banyak ilmu pengetahuan. Disamping itu pula, ia tetap tidak meninggalkan cabang ilmu lainnya; bahkan sampai ilmu tentang sihir, mantera, rahasia hurufpun, ia tetap pelajari.
Pembahasan buku ini dimulai dengan pengenalan akan sejarah hidup Ibnu Khaldun dan kondisi yang ada pada zamannya serta pekerjaan yang telah dijalaninya. Pengenalan ini tidak terbatas hanya pada kehidupan Ibnu Khaldun dan berbagai pekerjaan yang turut mempengaruhi dan membentuk pengetahuan akal dan sikap, namum juga akan tampak dari perjalanan hidupnya tersebut, berbagai bukti atas kejeniusan Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun dilahirkan dalam lingkungan dan kondisi yang tidak bisa dikatakan aman dan damai; bisa di bilang ia dilahirkan dalam lingkungan yang penuh dengan chaos, krisis dan keterpurukan dalam banyak hal. Hingga ia harus menjalani semua ini dengan penuh petualangan, cobaan dan ia pun harus berhadapan dengan berbagai pihak yang mencoba menghalangi gerak langkahnya dengan penuh rasa iri dan dengki; mereka telah menyiapkan banyak tipuan dan konspirasi untuknya. Tugas Ibnu Khaldun di mahkamah, politik dan kehakiman, telah menghabiskan banyak waktu dalam fase kehidupannya. Ia telah bangkit untuk maju dalam bidang keilmuan sedang ia pada saat itu belum genap berusia dua puluh tahun; hal ini terus berlangsung sampai pada usianya ke tujuh puluh, dimana tak ada seorang pun seumurannya yang mampu untuk memahami bidang keilmuan seperti yang Ibnu Khaldun lakukan. Ialah satu-atubya orang yang paling jenius diantara para manusi jenius lainnya.
Dari permasalahan definisi akan sejarah, maka ditulislah bab pertama dalam buku ini.
Kedua bab ini berusaha untuk mengungkap gambaran dirinya secara umum dan juga tidak langsung akan kejeniusannya Ibnu Khaldun dan kemuliaan tempatnya.
Kepada Allahlah kami meminta taufi atas apa yang telah kami tulis dan Ialah yang memberikan petunjuk.
Bab pertama
Kehidupan Ibnu Khaldun
Kehidupan Ibnu khaldun terbagi atas 4 fase, yang satu sama lainnya mempunyai ciri khasnya tersendiri dari aktivitas keilmuan dan juga aktivitas tugas yang ia sandang. (Fase Pertama) adalah fase dimana ia lahir, berkembang dan menuntut ilmu; dimulai dari tahun kelahirannya pada tahun 732 H hingga tahun 751H. Waktunya yang kurang lebih 20 tahun itu dihabiskannya di kota kelahirannya di Tunis. 15 tahun ia pergunakan untuk menghapal Al Qur’an beserta tajwid dan qiraahnya, juga menuntut ilmu pada banyak guru serta mendalaminya.
(Fase kedua) masa di mana ia telah bekerja di kantor pemerintahan dan bidang politik. Masa ini di mulai di akhir tahun 751 H hingga akhir tahun 775 H. Waktu yang kurang lebih dua puluh lima tahun ini dihabiskannya dengan berpindah-pindah dari negara Maroko bagian bawah, tengah dan juga atas dan juga sebagian negara Andalusia. Aktivitasnya dalam bidang politik ini telah menghabiskan banyak waktu dan tenaganya pada fase kedua ini.
dibanding tujuh bagian lainnya sebagaimana yang ada pada terbitan penerbit Bulak. Pengkajian lebih dalam akan bagian pertama ini hanya memakan waktu tidak lebih dari lima bulan dari penulisan-penulisan sebelumnya.
(Fase keempat) masa dimana ia mulai mengaktifkan dirinya dalam bidang pengajaran dan pengadilan. Fase ini dimulai pada akhir tahun 784 H hingga akhir tahun 808 H. Waktu yang kurang lebih dua puluh empat tahun ini dihabiskan di Mesir. Aktivitasnya dalam bidang pengajaran dan pengadilan ini telah menghabiskan banyak waktu dan tenaganya pada fase terakhir ini.
*****
Setiap fase ini akan dibahas secara mendalam dan terperinci. Referensi penting dalam penulisan pada bab pertama ini adalah kitab yang ditulis Ibnu Khaldun sendiri tentang kisah hidupnya yang berjudul ‘Ta‟rif bi Ibn Khaldun wa rihlatuhu gharban wa syarqan‟1
dengan dibantu dengan banyak referensi lainnya untuk dapat melengkapi kekurangan apa yang ada dalam bukunya tersebut ataupun meralat sebagian peristiwa yang terjadi. Penulis pun akan menjelaskan catatan-catatan samping yang ada dalam buku tersebut sebagaimana yang penulis nukilkan dari buku biografinya ‘ta‟rif‟ ataupun dari lainnya yang bisa melengkapi ataupun meralatnya.
1
Bagian pertama
Fase perkembangan dan menuntut ilmu 732-751 H (1332-1350 M)
1. Nama lengkap Ibnu Khaldun, Kunyah, gelar dan juga sebutan terkenalnya
Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Zaid Waliyuddin bin Khaldun.2 Maka namanya adalah Abdurrahman, Kunyahnya adalah Abu Zaid dan gelarnya adalah Waliyuddin; namun ia lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Khaldun.
Tampak ia memperoleh kunyahnya Abi Zaid, dari anak pertamanya yang terbesar; sebagaimana adat yang berlaku di daerah arab dalam penulisan Kunyah; walau penulis pun tidak mengetahui secara pasti nama anak-anaknya. Sedangkan gelar waliyuddin ia peroleh setelah ia memegang jabatannya di pengadilan Mesir. Menanggapi hal ini, Maqrizy berkata dalam bukunya yang berjudul ‘Suluk‟: ‘
pada hari senin tertanggal 12 Jumadil tsani tahun 786
H, guru kami Abu Zaid Abdurrahman Ibnu Khaldun
dipanggil untuk datang ke benteng. Ia minta oleh
sultan (maksudnya Sultan Dzahir Barquq, salah satu
sultan dari kesultanan Bani Mamalik di Mesir) untuk
menjadi hakim madzhab Maliki. Setelah selesai masa
jabatannya, ia diberikan gelar Waliyuddin’
Namanya yang lebih terkenal, Ibnu Khaldun, dinisbatkan kepada kakeknya yang kesembilan, Khalid bin Ustman; ia adalah orang pertama dari keluarganya yang memasuki kota
2 penulisan Ibnu khaldun ini dengan memfathahkan kha’ sebagaimana yang
selalu Ibnu Khaldun tekankan, dan juga yang dikatakan oleh As Sakhawy dalam bukunya ‘Ad Dhaw‟u lami‟ Bagian keempat hal 145, tentang ‘ta‟rif
Andalusia bersama para pejuang dari arab pada masa pembebasan negeri Andalusia, yang kemudian ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Khaldun, mengikuti adat yang pada saat itu berlaku pada bangsa arab dan juga Maroko –mereka biasanya menambahkan pada nama belakang mereka huruf waw dan nun, sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik nama tersebut (khaldun, hamidun, Zaiduun...). Anak dan keturunannya yang tinggal di maroko dan Andalusia pun lebih dikenal dengan sebutan Bani Khaldun. Banyaknya kemunculan orang terkenal dari keluarga –dimana setiap individu dari mereka menyertakan namanya dengan kalimat Ibnu Khaldun, maka secara istilah, nama Ibnu Khaldun ini bisa diartikan secara umum dengan bermacam orang yang masuk dalam arti ini kecuali bila di deskripsikan person yang di maksud.
Banyak pula yang menambahkan pada nama Ibnu khaldun, kalimat ‘Maliki’ yang dinisbatkan dari mazhab fiqihnya. Ia adalah mazhab Imam Malik bin Anas. Ia mendapatkan tambahan nama ini setelah memegang jabatan sebagai hakim di pengadilan yang bermazhab Maliki di Mesir. Ada pula yang menambahkan kalimat ‘Hadromy’ pada namanya, yang dinisbatkan pada nama asal daerahnyah Hadhramy; keluarganya berasal dari daerah Hadramy di Yaman, sebagaimana yang akan penulis jelaskan pada bagian selanjutnya. Ibnu Khaldun selalu berusaha untuk menuliskan kalimat Hadromy ini di setiap karya-karyanya. Sebagaimana ia menuliskan dalam kata pengantar di kitabnya ‘Ibr’:
‘Seorang hamba yang fakir akan rahmat Tuhannya yang
Maha Kaya dengan segala kelembutannya, Abdurrahman bin
Muhammad bin Khaldun Al Hadromy; semoga Allah
Banyak pula didapati -dari banyak karya-karyanya, surat-suratnya yang tercetak baik pada masanya ataupun masa sesudahnya- gelar-gelar ataupun tambahan pada namanya yang menjelaskan akan tugasnya juga kedudukannya dalam bidang keilmuan ataupun keagamaan; seperti; Wazir (mentri), Rais
(pemimpin), Hajib (seseorang yang tidak pernah megerjakan
maksiat), Shadrul Kabir (seseorang yang sangat bijaksana), Al Faqih Al Jalil (Ahli Fikih), Allamatul Ummah (Pemimpin
umat), Imamul Aimmah (Imannya para imam), Jamalul Islam dan muslimin (teladan kaum muslim)
2. Keluarganya
Imam Ibnu Hazm menyebutkan dalam kitabnya ‘Jamharatul
Ansaabul Arab’ bahwasannya keluarga Ibnu khaldun berasal
penghormatan pada pemilik nama), cucu Wail bin Hajar. Berkembanglah keturunannya sebagaimana berkembangnya sejarah Islam itu sendiri. Kebanyakan dari mereka mengambil jalur polik dan akademis. Mereka lalu dikenal dengan sebutan Bani Khaldun, yang dinisbatkan dari nama kakek yaitu Khalid bin Ustman. Termasuk dari keturunan mereka yaitu Imam Abdurrahman Abu Zaid Waliyuddin, penulis kitab yang terkenal ‘Mukaddimah‟ yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Khaldun, yang dinisbatkan dari nama kakeknya tersebut.
Sedangkan mata rantai nasab antara Ibnu Khaldun dan Wail bin Hajar, telah dijelaskan oleh Ibnu Khaldun sendiri dalam kitabnya ‘Ta‟rif’, sebagai berikut:
Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Hasan bin
Muhammad bin Jabir bin Muhammad bin ibrahim bin
Abdirrahman bin Khalid (yang lebih dikenal dengan
sebutan Khaldun. Dialah orang pertama dalam keluarga
yang memasuki daerah andalusia dan Maroko. Darinya
dinisbatkan semua keturunannya sebagaimana telah
dijelaskan sebelumny) bin Ustman bin Hani bin Khattab
bin Kuraib bin Muid Yakrub bin Harits bin Wail bin Hajar (Ta‟rif 1,3)
Ibnu Khaldun berpegangan teguh tentang silsilah keluarganya terakhir -yang dimulai dari kakeknya Khaldun hingga Wail bin Hajar- atas riwayat Ibnu Hazm dalam kitabnya ‘jamharatu Ansaabul Arab‟. dikatakan didalamnya:
Disebutkan bahwasannya Bani Khaldun Asybiliyun dari
anaknya (yang dimaksud disini adalah anaknya Wail bin
Hajar). Sedang kakeknya yang berasal dari Timur dan
Khaldun bin Ustman bin Hani bin Khattab bin Kurain bin Harits bin Wail bin Hajar (Ta‟rif 3)
Sedang Silsilah awalnya yang dimulai dari orang tuanya hingga kakeknya Khaldun, ia hanya berpegangan pada apa yang ia ketahui; baik melalui riwayat yang terdengar atapun yang tertulis (Ta‟rif 1)
Ibnu Khaldun sendiri pun sebenarnya masih menyimpan keraguan akan kebenaran silsilah awalnya, yang dimulai dari orang tuanya hingga kakeknya, Khaldun. Ia berpendapat bahwasannya ada kemungkinan dalam silsilah tersebut ada beberapa nama yang tak tercantum dan hilang. Karena ia menganggap, apabila memang kakeknya, Khaldun, adalah orang pertama dari seluruh keluarganya yang memasuki Andalusia bersama para pejuang dari Arab pada masa pembebasan Andalusia –sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hazm- maka rentang waktu yang memisahkannya dengan bapaknya berkisar sekitar 700 tahun (Pembebasan Andalusia terjadi pada tahun 92 H, sedang wafat bapaknya pada tahun 739 H). Rentang waktu ini masih lebih dari cukup bila hanya diisi oleh sepuluh kakeknya. Ibnu Khaldun sendiri berpendapat bahwasannya ada kemungkinan rentang waktu tersebut bisa diisi oleh dua puluh nama kakek-kakeknya, berlandaskan atas tiga keturunan yang bisa lahir untuk setiap satu abadnya. Menanggapi hal ini, ia berkata:
„Aku tidak bisa mengingat nasab yang aku punya hingga
pada Ibnu Khaldun, kecuali hanya sepuluh saja. Saya
berkeyakinan sesungguhnya kenyataannya lebih dari itu.
Ada beberapa nama yang hilang ataupun tidak tercantu;
karena Khaldun adalah orang pertama yang memsuki
ada hingga sampai kepada bapakku adalah 700 tahun, dan
dimungkinkan bisa muncul dua puluh keturunan, tiga
keturunan setiap seratus tahunnya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab pertamanya‟3
Dengan berlandaskan akan hal yang sama, maka silsilah terakhirnya yang dimulai dari kakeknya Ibnu Khaldun hingga Wail bin Hajar pun mengalami keraguan yang sama. Apabila Ibnu Khaldun sendiri tidak memaparkan hal itu secara sendirinya, maka bisa jadi ada penambahan beberapa nama dalam silsilah tersebut. Nama kakeknya yang ada dalam rentang silsilah terakhir tersebut ada delapan orang, sedang rentang waktu yang ada antara Ibnu Khaldun dan Wail bin Hajar tidak lebih dari satu seperempat abad saja. Ini disebabkan karena Wail bin Hajar merupakan seorang sahabat Rasulullah, hingga bisa dipastikan kelahirannya adalah sebelum Hijrah. Sedang Ibnu Khaldun –sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hazm- adalah orang pertama yang measuki Andalasia bersama para pejuang Arab pada masa pembebasan Andalusia yang terjadi pada akhir abad pertama hijriah atau pada tahun 92 H. Dengan rentang waktu ini, maka kemungkinan yang lahir hanyalah tiga generasi saja.
3 kitab Ta‟rif hal 1. Ibnu Khaldun mengisyaratkan hal tersebut
sebagaimana yang ia jelaskan pada bagian empat belas dari bab ketiga dari bukunya ‘Mukaddimah‟ dengan sub judul: ‘faslun fi anna daulah laha
a‟marun thabiiyatun kama lil askhos ( bahwasannya suatu begara mempunyai batasan umur yang alami sebagaimana manusia). Namun Ibnu Khaldun pun memperhatikan bahwasannya ia telah menuliskan dalam sub judul ini bahwa standar umur bagi satu generasi adalah 40 tahun. Ia mengungkap hal ini sebagai berikut: ‘dengan pengecualian, sebuah Negara pada umumnya tidak dianggap biloa berada dalam rentang masa hidup tiga generasi. Satu generasi mewakili umur manusia pada umumnya yaitu empat puluh tahun‟ (Mukaddimah; Bayan; 485). Hingga bisa dikatakan bahwasannya tiga generasi dilintasi dengan waktu 120 tahun dan bukan 100 tahun
Yang menjadi kemungkinan kuat dalam hal ini, bisa jadi Khaldun memasuki Andalusia pada abad ketiga hijriah atau setelah pembebasan Andalusia dengan rentang waktu yang tidak pendek. Hal ini dipertegas lagi dengan pernyataan bahwasannya kedua anak dari cucunya (dalam pendapat yang dikatakan Ibnu Hazm adalah cucunya) yaitu: Kuraib bin Utsman bin Khaldun dan saudaranya Khalid, mereka adalah pemimpin gerakan revolusi yang melanda Asybiliah melawan pimpinan pemerintahan yang ada pada saat itu Abdullah bin Muhammad al Umawy di tahun-tahun terakhir dari abad ketiga hijriah, sebagaimana akan penulis lebih perjelas di bagian berikutnya. Hingga tidak masuk akal bila Khaldun memasuki Andalusia bersamaan dengan Thariq bin Ziyad di akhir abad pertama hijriah, lalu ia mempunyai cucu yang hidup hingga tahun-tahun terakhir pada abad ketiga hijriah. Dari sini bisa diyakini, bahwasannya ia masuk ke Andalusia pada abad ketiga ini pula atau tak jauh darinya.
*****
lainnya lalu mereka mengumumkannya pada masyarakat setempat sebagaimana yang dilakukan para petinggi dan pemilik kekuasaan saat itu.
Namun demikian, penulis meyakini nasabnya akan bangsa Arab Hadromy; bukan karena penulis mendapatinya secara detail pada kehati-hatian Ibnu hazm dalam memilah nasab bangsa Arab saja, namun juga karena penulis tidak mendapati seorang pun yang bersilang pendapat akan hal ini. Mereka hanya tidak meyakini dan tidak setuju akan nasabnya pada bangsa Arab sebagaimana yang Ibnu Khaldun tulis dalam banyak karyanya. Seandainya keraguan itu muncul sebagaimana yang tumbuh dalam pikiran mereka, sedang ia sendiri merupakan bagian dari mereka, dan diantara mereka banyak yang mengetahui nasab Imam Hafidz bin Hajar Asqalany. Mereka sama sekali tidak begitu gigih dalam mengkritik –sebagaimana akan dijelaskan panjang lebar pada bagian lainnya- atau mencela akan nasabnya. Tidak pernah terucap sedikitpun dari bicara mereka akan keraguan mereka baik dari segi ilmiah ataupun secara personal Mereka hanya mencantumkan dalam karya-karyanya akan kritikan mereka akan pakaian yang dikenakannya dan juga tempat tinggalnya di atas sungai Nil.
3. Sejarah keluarganya
Ibnu Khaldun tumbuh dan berkembang di kota Kormuna di Andalusia, dimana kakeknya Khalid bin Ustman tinggal lalu ia berpindahh setelahnya ke kota Asybiliah.
Khaldun adalah daerah pertama yang mengalami ketergoncangan akan hal tersebut. Terjadi revolusi diberbagai daerah yang dipimpin oleh Umayyah bin Abdul Ghafir (yang menjabat sebagai Hakim pada daerah itu sebelum kepemimpinan Pangeran Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman Al Umawy) dan juga Abdullah bin Hujjaj. Ikut serta dengan mereka adalah dua orang cucu Khaldun yaitu: Kuraib bin Ustman dan sudaranya Khalid. Revolusi itu selesai setelah melalui beberapa fase seperti adanya sikap kesewenang-wenangan Kuraib bin Khaldun dalam memimpin rakyatnya dan juga tidak memperhatikan akan pembangunan Asybiliah. Setelahnya banyak revolusi yang terjadi hingga kemudian terhenti dan selesai dengan kematiannya.
Setelah itu, daerah Asybiliah tidak mempunyai pemimpin selama kepemimpinan Bani Umawiyah berkuasa di negara tersebiy, hingga kemudian Bani Thawaif berkuasa, dan kejayaan kembali kepada keluarga Khaldun. Para pemimpin dari mereka turut serta dalam peperangan yang terkenal ‘Zalaqah’ dan dimenangkan oleh Mu’tamid bin Ibad dan anak buahnya, Yusuf bin Tasyfain Murabithy melawan Alfonso keenam, raja Qistalah (49-1086 M). Banyak dari keluarga Ibnu Khaldun turut serta dalam peperangan lalu diangkatlah sebagian dari mereka untuk menjadi pemimpin dan menteri pada masa Ibnu Ibad berkuasa.
Tampak jelas, setelah tumbangnya kekuasaan Thawaif dan lalu berkuasa bani Murabithun di Andalus, keluarga Khaldun tidak memegang peranan penting dalam pemerintahan negara. Hal ini terus terjadi selama pemerintahan Bani Murabithun ini.
mempimpin Asyniliah dan Andalusia bagian barat. Abu Hafsin menjadi pemimpin daerah ini selama hidupnya dibawah pemerintahan Muwahhidun. Lalu kepemimpinan ini diwariskan kepada anak-anaknya setelah kematiannya. Keluarga Khaldun pun akhirnya diberikan kesempatan untuk meneruskan kepemimpinan mereka dan mereka pun akhirnya mendapatkan kembali kejayaannya.
jabatannya. Pangeran Abu Yahya bin Lihyany mendekatinya dan ia pun memintanya untuk tetap memimpin daerahnya sebagai wakil dari dirinya. Lalu ia mengasingkan diri dari kehidupan umum; namun demikian ia masih memegang kekuasaannya di pemerintahan hingga ia meninggla pada tahun 737 H (1337 M)
Sedang anaknya Abu Abdillah Muhammad (bapak Ibnu Khaldun)4, menjauhkan dirinya dari masalah politik dan lebih berkonsentrasi pada masalah pengajaran dan keilmuan.
‘ia melepaskan dirinya dari jalannya pedang dan
mengabdikan dirinya pada bidang keilmuan dan ribath ‟5
....
ia membaca dan memperdalaminya;. Ia adalah hal pertama yang
dilakukan bangsa Arab. Ia pun sangat mahir akan syair dan segala ilmu tentangnya‟ (Ta‟rif 14)
Ia meninggal pada tahun 749 H (1339 M) dengan meninggalkan lima anak laki-laki yaitu: Abdurrahman (yang menulis masterpice “Mukaddimah’ pada saat ia berumur 18 tahun), Umar, Musa, Yahya dan Muhammad. Ibnu Khaldun atau
4
Di berbagai tempat, bapak Ibnu Khaldun lebih terkenal dengan
kunyahnya;Abu Abdillah. Hal inilah yang ia tulis di kitabnya “Ibr‟ dan juga yang ia isi dalam forlumir pendaftaran ketika ia ingin menuntut ilmu di Universitas Kurawiyyin di Vas, yang terletak di Kairo tahun 799 H. Ada suatu pernyataan yang berbunyi: ‘berhenti, dihentikan, berjalan, teguh pendirian, diharamkan, dan adanya pembenaran atas tuan kami hamba
yang sangat fakir dihadapan Allah Swt Syeikh Imam A‟lim Allamah Al afidz
Al Muhaqqiq,pemersatu, satu-satunya pada masanya hakim para hakim, waliyuddin Abu Zaid Abdurrahman Bin Syeikh Imam Abi Abdillah Muhammad
bin Khaldun Al Hadhromy Al Maliki. ....‟, tealah terdapat plagiat pada susunan kerangka biografinya ‘Ta‟rif‟ dengan mengatakan bahwasannya bapak dari Ibnu Khaldun memilik kunyah ‘Abu Bakar’ : ‘sedangkan bapaknya
adalah Muhammad Abu Bakar‟ (Ta‟rif 14). Sedangnya yang sesungguhnya yang paling benar dari dua buku tersebut adalah dua paragraf akhir dalam naskah ‘Ta‟rif‟: sedangkan bapaknya adalah Muhammad bin Abu
Bakar´(Ta‟rif 14, komentar atas 11)
5
Abdurrahman adalah anak tertua dalam keluarga.6. tidak ada seorangpun selain Abdurrahman yang menonjol kecuali Yahya (Abu Zakaria Yahya) yang memegang jabatan sebagai menteri di kemudian harinya.7
Bapak Ibnu Khaldun bukanlah pelopor yang berkonsentrasi dalam bidang keilmuan. Banyak dari pendahulunya di Maroko dan Andalusia yang mengkonsentrasikan diri mereka pada bidang keilmuan; diantaranya: Umar bin Khaldun (wafat sebelum kelahiran Ibnu Khaldun tiga abad sebelumya) yang menjadi pelopor ilmu dalam bidang matematika dan astronomi8
Hingga bisa dikatakan bahwa dalam keluarga Khaldun ini, umumnya mereka menapaki jalan keilmuan dan juga bidang politik secara bersamaan. Seorang sejarawan terkenal, Ibnu Hayyan (hidup pada abad sebelas masehi dan juga abad lima hijriah) ketika perjalanannya ke Andalusia, mengatakan: ‘ kediaman Ibnu Khaldun di Asybiliah sampai saat ini merupakan titik terakhir yang menjadi perhatian. Kepopulerannya menyamai kepopuleran para pemimpin kerajaan dan para pemikir’ (Ta‟rif 5)
6 tidak terdapat dalam kelima anaknya seorangpun yang bernama Abdullah.
Yang tampak hanyalah bahwa anak pertamanya adalah anak laki-laki. Karenanya kunyahnya adalah Abu Abdullah.
7
Yahya menulis satu kitab yang terkenal tentang sejarah negara Maroko; ia merupakan kedaulatan Bani Abdul wad. Ia memberikan judul pada kitab tesebut :’Bagiyyatun Rawwad fi Akhbar Bani Abdul wad‟ sebagian orang mencampur adukkan antara karyanya dan karya Abdurrahman. Sehingga ada yang menganggap buku ini sebagian dari karya penulis kitab Mukaddimah.
8 Ibnu Hayyan berkomentar akan Umar bin Khaldun: ‘Ia adalah Abu Muslim
Umar bin Khaldun Al Hadromy yang merupakan pemuka kaum Asybiliah. Ia adalah pakar dalam bidang filsafat, terkenal dalam bidang ilmu ukur, astronomi dan kedokteran. Sedang ilmu-ilmu ini masih dianggap kesatuan dalam bidang ilmu filsafat. Wafat di negaranya pada tahun 449 H’. Sedang Asyibaah mengatakan: ‘ia merupakan murid dari Abi Qasim Majrithy, yang terkenal dengan bidang ilmu olah raga’ demikian pula orang banyak yang mencampur adukkan antara Umar dan Ibnu Khaldun, hingga mereka menganggap bawa IbnuKhaldunlah yang mengupas habis akan ilmu Matematika dan
4. Tempat kelahiran, lingkungan dan tempat belajarnya
Ibnu Khaldun dilahirkan di Tunis di awal Ramadhan pada tahun 732 H ( tepatnya 27 Mei 1332 M). Masyarakat Tunis hingga saat inipun masih mengenali tempat dimana Ibnu Khaldun dilahirkan, ia adalah suatu rumah yang terletak di salah satu jalan protokol dari sebuah kota tua. Jalan ini dikenal dengan nama jalan Turbatul Bay. Rumah itu lalu menjadi sekolah tinggi manajemen, dimana di pintu masuknya terdapat suatu sebuah marmer yang bertuliskan ‘tempat kelahiran Ibnu Khaldun’
Ketika sudah mencapai umur untuk belajar, ia mulai menghapal Al Qur’an dan tajwidnya sesuai dengan metode yang berlaku di sebagian besar negara-negara Islam. Masjid pada masa-masa itu adalah sentral pendidikan. Di sanalah Ibnu Khaldun menghafal Al Qur’an dan memperdalaminya dengan Tajwid dan berbagai Qiraatnya. Disana pula Ibnu Khaldun mempelajari banyak ilmu dari syeikh-syeiknya. Masyarakat Tunis pun sampai saat ini masih mengenali Masjid dimana ibnu Khaldun belajar dan mengemukakan pendapatnya pada awal masa belajar. Masjid itu dikenal dengan nama Masjid Qubah; namun masyarakat Tunis sering menyebutnya ‘Masid Qubah’ sesuai dengan logat yang berlaku diantara mereka yang membaca huruf Jim dengan bacaan Ya
para ulama terkenal) dan Qiraat ya’kub.9
Ia pun mempelajari hukum-hukum syariat dari tafsir, hadits dan memperdalaminya lagi dengan mazhab Maliki (yang dulu dan masih merupakan mazhab yang dipakai di Jazirah arab). ia pun mempelajari Ushul dan Tauhid. Ia pun mempelajari ilmu linguistik seperti Nahwu, Shorof, Balaghoh dan adab; lalu mempelajari ilmu Mantiq, Filsafat, bilologi dan juga Matematika. Ia mendalami semua bidang keilmuan tersebut disertai dengan kekaguman para gurunya dan iapun memperoleh pengakuan dan Ijazah dari mereka. Ibnu Khaldun sangat teliti dalam menyebut nama-nama pengajar dan gurunya dalam berbagai penelitian dan membuat biografi akan sosok mereka dan mensifatinya dengan penuh penghormatan dan meyebutkan kedudukan mereka yang tinggi dalam setiap ilmu yang ia dapat dan karya yang ia tulis. Beberapa nama gurunya yang ia sering sebut: Muhammad bin Saad bin Baraal Al Anshary, Muhammad bin araby Al Husyairy, Muhammad bin Syawwas Az Zilzaly, Ahmab bin Qashar, Muhammad bin Bahr, Muhammad bin Jabir Al Qaisy, Muhammad bin Abdillah Al Jayany10- Ahli Fiqh, Abu Qasim Muhammad Al Qashir, Muhammad bin Abdussalam, Muhammad bin Sulaiman Asy Syatthi, Ahmad Zawawy, Abdullah bin Yusuf bin Ridwan Al Maliqi, Abu Muhammad bin Abu
9 Qiraat Ya’qub termasuk salah satu dari tiga qiraat penambah dalam
Qiraat Sab’ah. Hingga Qiraat yang mashur adalah sepuluh Qiraat. Yang mempeloporinya adalah Ya’kub bin Ishaq bin Zaid bin Abdillah Al Hadromy Al Basry (118-205 H). Qiraat ini diriwayatkan melalui dua jalan:
pertama, melalui riwayat Muhammad bin Mutawakkil yang terkenal dengan sebutan Biruwais; kedua, melalui riwayat Ruh bin Abdil mu’min Al Hazly (lihat Thabaqaatul Qura 1/275). Dengan ini, Ibnu Khaldun berkata: ‘Lalu aku membaca dengan riwayat Ya’kub dengan satu kesatuan sebagai
penggabungan dari dua riwayat tersebut’ (Ta‟rif 16)
10
Muhaimin Al Hadhromy dan Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Aabily. Dari berbagai perkataan dan ucapannya, akan tampak dua guru yang mempuyai pengaruh yang besar dalam bidang keilmuan yang digelutinya baik dari segi hukum, bahasa dan hikmah; salah satunya adalah Muhammad bin Abd Abdul Muhaimin bin Abdul Muhaimin Al Hadhromy, Imam para ahli hadits dan Nahwu di Maroko. Ia banyak belajar banyak darinya tentang hadits, Mustholah hadits, Sirah dan ilmu linguistik. Sedang satu lainnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim Aabily11, pakar ilmu akal (dahulu disebut sebagai ilmu filsafat atau ilmu hikmah. Mencakup didalamnya ilmu Mantiq, biologi, matematika, astronomi dan musik). Ia banyak belajar darinya akan ‘Aslaini (dua sumber ilmu: Al Qur’an dan hadits), Mantiq dan semua seni hukum dan pengajaran’ (Ta‟rif 15-22). Karena besarnya pengaruh kedua guru tersebut dalam keilmuan Ibnu Khladun, iapun mendeskripsikan dan menuliskan biografi kedua gurunya tersebut adalam kitabnya ‘Ta‟rif” secara mendetail. (Ta‟rif 21,33 -41). Ibnu Khaldun pun sangat memperhatikan pencantuman nama-nama gurunya yang telah memberikan ilmu disaat kecilnya dan juga memperhatikan buku-buku yang dipelajari dari mereka. Dari sekian banyak yang Ibnu Khaldun sangat perhatikan akan buku-buku yang ia pelajari antara lain: Al Lamiah Fil Qiraat dan Raaiah fi
Rasmil Mushaf karangan Syatiby, Tashil Fi Nahwi karya Ibnu
Malik, Kitabul Aghany karya Abi Faraj Al Ashfahany, Muallaqat, Kitabul Hamasah lil A‟lam, Thaifah min Syi‟r Abi Tamam wal Mutabanny, sebagian besar buku Hadits khususnya
Shahih Muslim dan Muwatha karya Imam Malik, Iltaqasa li
Ahaditsil Muwatha karya ibnu Barr, Ulumul Hadits karya Ibnu
Shalah, Kitabu Tahdzib karya Barady Mukhtasar Al Mudawwanah
11
Lisahnun Fil Fiqh Al Maliki, Mukhtasar Ibni Hajib Fil Fiqh
wal Ushul, Assair karya Ibnu Ishak.12
5. Tahkik akan sebagian buku yang dipelajari Ibnu Khaldun pada masanya.
Demikianlah, Dr Thaha Husein dalam suratnya yang berbahasa perancis, telah meragukan akan ‘filsafat Sosial Ibnu Khaldun’; bisa jadi Ibnu Khaldun telah mempelajari sejak kecilnya semua buku yang ia ingat. Ia berpendapat bisa jadi Ibnu Khaldun tidak mengenal dan mengetahui sebagian buku yang dipelajarinya itu,dan hanya mengetahui judulnya saja.; dimana ia menyebutkan dengan maksud kebanggan atau ingin dipuji. Keraguan Thaha Husein ini diperkuat dengan pernyataan Ibnu Khaldun bahwasannya ia mempelajari dua buku, yaitu: Mukhtasar Ibnu Hajib fi Fiqh Imam Malik dan Kitabul
aghany. Ia mengatakan tentang buku pertama: ‘Ibnu Khaldun
mengatakan bahwa Mukhtasar Ibnuhajib adalah satu buku yang ia pelajari di Tunis; dan ia telah memasukkan sebagian isi buku tersebut dalam karyanya (maksudnya kitab ‘Ta‟rif‟) dan juga di masterpicenya, Mukaddimah. Sedangkan Mukhatasar Ibnu Hajib bukanlah kitab yang membahas tentang Fiqh, namun ia
adalah buku tentang Ushul Fiqh. Penulisnya masih bertualang dalam keilmuan dan masih belajar di azhar sampai saat ini. Penulisnya bermazhab Maliki, namun ia tidak membatasi pembahasannya di Fiqh Mazhab Maliki saja; ia pun membahas akan konsep dasar hukum di semua mazhab yang ada. Ini adalah ilmu khusus. Sedang tentang buku kedua Kitabul Aghany, Thaha Husein berpendapat: ‘Kita pun masih dapat meragukan akan apa yang telah dinyatakan Ibnu Khaldun tentang Kitabul
12
Aghany yang terkenal ini. Dalam biografinya, ia mengungkapkan bahwasannya ia menukil sebagian isi buku tersebut; sedang dalam Mukaddimah, ia menyebutkan kemustahilan untuk mendapatkan buku tersebut. Dari sini dapat diyakini bahwasannya Ibnu Khaldun tidak mengetahui buku itu, namun hanya mengenal namanya saja.13
Kenyataannya, semua buku yang Ibnu Khaldun sebutkan dalam bagian ini, telah memberikan inspirasi bagi Ibnu Khaldun dalam memperdalam semua ilmunya. Hal ini dipertegasnya dalam ungkapannya di Mukaddimah bab 6 pada sub-judul yang berisi tentang semua buku-buku, metode dan tanggapan penulis, tanggal penerbitan, waktu penerbitan, sebagaimana yang akan penulis ulas lebih dalam pada bab kedua dalam buku ini. Buku-buku tersebut tidak terlalu banyak karena ia tidak mempunyai cukup waktu ia telah mengkonsentrasikan waktunya untuk belajar selama 15 tahun. Seandainya ia dianggap seorang pelajar biasa, maka siapakah orang yang mampu menandingi kejeniusan IbnuKhaldun? Ia adalah seorang yang langka bila dibanding dengan waktu yang cukup luas ini, dan ia tidak melakukan apapun selain belajar. Buku-buku tersebut sesungguhnya adalah hanya mewakili sedikit dari sekian banyak ilmu yang Ibnu Khaldun dapatkan. Telah disebutkan, bahwasannya ia mempelajari banyak buku sejak kecilnya secara mandiri. Lalu setelah bertambah umur, ia pun banyak mempelajari buku lainnya. sebagaimana yang ia katakan tentang gurunya, Abu Muhammad bin Abdul Muhaimin:
‘aku mengikutinya, mendapat ijazah dan banyak
menuntut ilmu darinya dengan mendengar langsung: kitab
13 Falsafah Ibnu Khaldun Al Ijtima‟iyyah,
utama yang enam14, kitab muwattha, kitab Sair karya
Ibnu Ishak, karya-karya Ibnu Shalah tentang hadits dan banyak buku lain yang masih kuingat dalam pikiranku‟ (Ta’rif 20)
Sedangkan, disaat ia berbicara akan guru pertamanya, Muhammad Bin Saad bin Baral: aku banyak belajar akan banayk buku darinya seperti kitab Tsahil karya Ibnu Malik, Mukhtasar Ibnu Malik dalam Fiqh‟ (Ta’rif 16-17). Penyebutan Ibnu Khaldun akan buku-bukunya tersebut hanyalah sebagian kecil dari berbagai banyak buku yang ia pelajari. Dari semua buku yang disebutkannya ini, dapat dilihat banyak darinya adalah Mukhtasar (ringkasan-ringakasan kitab) untuk kaum pemula. Tidak mungkin buku-buku ini bisa digunakan untuk menyombongkan diri dalam mempelajarinya , dimana para pakar yang mendengarnya tidak akan sedikitpun tertarik akannya. Ibnu Khaldun sendiri telah mengingatkan kita untuk lebih teliti dalam semua periwayatan tentang apa yang ia pelajari; bahkan seolah ia sendiripun memberikan batasan akan bahan yang tidak sempat ia pelajari lebih dalam dalam suatu buku, dengan mengatakan: ‘aku telah mendengar semua penjelasan akan Shahih Muslim bin Hajjaj dari Muhammad bin Jabir Al Qaisy, selain sebagian kecil dari masalah berburu‟ (Ta‟rif 18). Ia pun menegaskan sesuatu yang berhubungan dengan kitab
Ibnu Hajib sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr Thaha Husein: ‘ia belum hafal sepenuhnya akan kitab tersebut‟ (Ta‟rif 17) dengan ucapannya: ‘Aku telah membaca kitab Zawawi Al Qur‟anul Adziem bil Jam‟i Al Kabir Baina Qiraatus Sab‟a‟ dari Abi Umar Ad Dani dan Ibnu Suraikh, namun aku
14
belum menyempurnakannya (belum sempurna dalam menghafalnya). (Ta‟rif 20, 21)
Karenanya apa yang diungkapkan Dr Thaha Husein tentang kitab Mukhtasar Ibnu Hajib dan Kitabul Aghani, tidaklah benar
Kenyataanya, Sesungguhnya Ibnu Hajib telah membuat Mukhtasan (ringkasan) yang terkenal akan Fiqh Imam Malik
yang dikenal dengan Mukhtasar Al Fiqh atau Far‟ie atau Al Jami‟ bainal Ummahat. Ia telah mengkonsentrasikan dirinya dengan menggabungkan semua penjelasan yang teramat banyak dari orang-orang yang suka menjelajah dalam mencari ilmu, seperti: Qadhi Ibnu Abdussalam At Tunisy, guru Ibnu Khaldun dan juga Isa bin Mas’ud Al Munkilaty. Syarah (penjelasan) dari keduanya itu bisa didapatkan di penerbit Darul kutub Misriah. Selain itu, ia pun diberi penjelasan lebih banyak lagi dari para ahli fiqh dari Mesir seperti: Syeikh Khalil Al Maliki, yang akhirnya penjelasannya ini dibentuk dalam suatu buku yang disebut Taudhih yang diterbitkan pula oleh Darul Kutub Misriah. Kitab inilah yang dipelajari oleh Ibnu Khaldun –yang DR Thaha Husein mengira ia tiada wujudnya. Ibnu Khaldun telah menyebutkan di bukunya Mukaddimah, Bab VI penjelasan terperinci akab kitab ini dan waktu sampainya kitab itu ke Maroko, juga waktu penyebarannya dan dimulainya banyak diskusi akan kitan tersebut di negaranya, dengan mengatakan:
„Ibnu bin Zaid telah mengumpulkan semua permasalahan, khilafiah ( pertentangan) dan ungkapan yang ada di
referensi oleh masyarakat Maroko hingga kitab yang
ditulis oleh Abi Umar bin Hajib, dimana ia
mengkhususkan didalamnya jalan-jalan para ahli mazhab
dalam setiap babnya, dan mengungkapkan semua pendapat
mereka dalam setiap permasalahan; sehingga buku itu
seolah diprogram untuk setiap mazhab... ketika buku
tersebut sampai di Maroko, diakhir abad ketujuh, kitab
tersebut mampu menyedot banyak perhatian penuntut ilmu
di Maroko; khususnya ulama bijayah (yang bertugas
menarik iuran negara). Yang telah membawa kitab ini ke
maroko adalah guru besar Abu ali Nashiruddin Zawawi. Ia
telah membaca kitab tersebut di Mesir bersama para
sahabatnya dan lalu mencopy mukhtasarnya dan
membawanya. Lalu ia berpindah ke Qatar dan
mengajarkannya kepada para murid-muridnya. Lalu
sebagian murid-muridnya berpindah ke seluruh penjuru
Maroko. Para sarjana Fiqh di Maroko mempelajari dan
mengupas habis akan kitab tersebut refleks akan
kesenangan guru mereka, Nashiruddin dalam membaca sdan
memahaminya. Kitab inipun makin diperjelas dengan
keterangan-ketrangan guru mereka seperti Abdussalam,
Ibnu Rusdi, Ibnu Haru; yang kesemuanya adalah para guru
besar yang berasal dari Tunis. diantara mereka yang
paling bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya adalah
Ibnu Abdussalam. (Mukaddimah: Bayan hal 1025).
Sedang yan dimaksud dengan muktasar dari karya-karya Ibnu Hajib akan ilmu Ushul Fiqh yang diungkapkan oleh Dr Thaha Husein, maka sebenarnya yang dimaksud darinya adalah
dua mukhtasar dan bukan satu mukhtasar yang di ambil dari
kabir dan yang lebih kecil darinya lebih dikenal dengan nama
Mukhtasar atau mukhtasar Shagir. Ibnu Khaldun sendiri telah
membahas kedua buku tersebut pada bab ke enam di Mukaddimahnya, dengan ungkapannya sebagai berikut:
Sedangkan kitab Ahkam karya Amidy, maka ia mengalami
banyak tahkik dalam setiap pembahasannya. 15Lalu Abu
Umar bin Hajib mengkhususkan setiap permasalahan tersebut dalam bukunya yang terkenal „Mukhtasar kabir‟ lalu diringkas lagi di buku lainnya, yang dijadikan
banyak rujukan oleh para penuntut ilmu yaitu masyarakat
Maroko dan masyarakat timur lainnya hingga lebih
memeprmudah dalam merujuk padanya ataupun dalam
memahami penjelasan yang ada di dalamnya (Mukaddimah:
Bayan, hal 1032)
Ibnu Khaldun telah mengatakan secara terus terang dalam bagian lainnya bahwa Ibnu Hajib mempunyai dua mukhtasar: salah satunya dalam ilmu Fiqh; sedang lainnya dalam bidang ilmu ushul Fiqh. Ia telah mempelajari keduanya; dengan ungkapannya: áku telah menghafalkan dua qasidah (syair) Syatiby di kedua bukunya (Kubra dan Syugra) dan akupun telah
mempelajari dua buku Ibnu Hajib dalam bidang Fiqh maupun
ushul Fiqh. (Mukaddimah: Bayan 1126, Mukaddimah: Fahmy 661).
Ia pun berkata di tengah pembicaraannya tentang Abi Abdillah Muhammad Al Maqry: Ia mempelajari kitab tashil dalam ilmu tentang Arab, lalu ia menghafalkannya. Lalu ia pun
mempelajari dua mukhtasar Ibnu Hajib dalam bidang fiqh dan ushul fiqh dan menghafal keduanya. (Ta‟rif 59).
15
Ia pun memberikan penjelasan dalam alinea lainnya akan kedua mukhatasar ini dalam bagian dimana ia mengungkapkan pendapatnya tentang banyak mukhtasar yang di tulis dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sesesungguhnya ia berguna untuk mempermudah belajar, dengan ungkapannya: ‘mungkin mereka berpegangan pada banyak buku-buku penting yang sangat
banyak dan luas penjelasannya dalam bidang keilmuan,
penafsiran dan penjelasan; yang lalu diringkas untuk
memudahkan sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Hajib dalam
ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh (Mukaddimah: Fahmy, 610)
Sangat mengagumkan! Ibnu Khaldun begitu memperhatikan hal semacam ini; sedang ia sendiri adalah Imam besar dan merupakan ahli Fiqh mazhab Maliki, juga hakim di pengadilan bermazhab Maliki di negara Islam termaju pada masa itu, Mesir. Ia pun menangani pengajaran akan Fiqh Maliki di Maroko dan banyak perguruan tinggi di Mesir, salah satunya adalah Azhar, sebagaimana penulis akan jelaskan lebih banyak lagi di bagian selanjutnya dalam bab bab ini yaitu bab kedua. Betapa mengagumkan! Seseorang yang berada dalam kapabilitas yang tinggi seolah-olah ia tidak mengetahui apa yang ia pahami betul dalam mazhab ini dan seolah-olah ia mempelajari mazhab ini secara ringkas; walau kenyataannya berkata lain.
Kenyataan pun berkata, bahwasannya Ibnu Khaldun telah membaca buku Kitabul Aghany dan menghafalkan banyak syair yang terdapat didalamnya; dengan bukti adalah adanya nash yang dinukil dari kitab tersebut ke dalam bukunya Mukaddimah
dan Al Ibr. Dahulu, kitab tersebut berada di perpustakaan
Nashir umawy di Andalusia. Lalu Abu Bakar bin Zahr dan Ibnu Abidun memiliki copinya. Suhaily pun telah menukil dari kitab Al Aghany beberapa nash yang ada di dalam bukunya Ar
tangan dari satu ulama kepada ulama lainnya dan mereka pun mengahafal syair-syair yang ada didalamnya dan menukil sebagian darinya. Hal demikian sudah menjadi kebiasaan yang telah berlangsung sejak zaman dahulu kala. Demikian pula Ibnu Khaldun; ia telah menukil beberapa nash dari kitabul Aghany ke dalam buku tentang riwayat hidupnya Al Ibr (Al Ibr
Jilid 2 hal 19, 240, 241, 272, 273, 275, 276, 286, 287, 288); bahkan ibnu Khaldun telah mengkhususkan tema akan buku tersebut beserta seluruh pembahasan dan metodenya. Ia menukil semua ungkapan yang ada dalam buku tersebut sesuai dengan aslinya. Ia menuliskan dalam bagian yang harus dipenuhi dalam ilmu sastra ‘Qadhi abu Faraj Al Asbahany telah menuliskan bukunya Al Aghany dimana ia telah mengumpulkan semua informasi tentang dunia Arab, sayair-syairnya, nasab-nasabnya, hari-harinya dan juga negara-negaranya. Ia telah menuliskannya dalam konteks lagu dengan seratus nada yang dipilih oleh penyanyinya itu sendiri dengan penuh kebijaksanaan. Sepanjang yang aku ketahui, ialah pusat informasi akan Arab. telah terkumpul di dalamnya berbagai macam kebaikan dan keindahan yang telah dibuat didalam setiap seni syair, sejarah, lagu dan lainnya. tiada satu bukupun –sepanjang pengetahuanku- yang dapat menandinginya. Ialah tujuan yang diinginkan oleh para sastrawan; terminal terakhir dimana mereka berhenti akannya; sebagaimana yang aku lakukan(Mukaddimah: Fahmy, 634). Ibnu Khaldun pun berkata dalam bagian yang berbicara keinginan para pakar linguistik dari segala penjuru untuk dapat menggapai apa yang ada didalamnya:
lihatlah keteraturan dan keindahan syair yang ada dalam
Kitab Aghany. Sesungguhnya kitab tersebut adalah pusat
berbagai bahasa yang berlaku di Arab, kabar yang
beredar, kehidupan keseharian yang dijalani, agaman
yang dianut dan juga lagu-lagu yang disenandungkan.
Tidak ada kitab yang mencakup akan Arab secara keseluruhan selain kitab tersebut‟
(Mukaddimah: Fahmy 647). Ia pun berkata di bagian yang berbicara tentang proses pembuatan syair dan pembelajarannya:
‘Ketahuilah, sesungguhnya untuk pembuat syair dan hukum
memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Pertama;
menghafal jenisnya dari semua jenis syair Arab hingga
ia seolah mampu menjadi ratu yang menenun diatas
tempat tenunnya dan memilih sebaik-baiknya tenunan
dengan bebasnya dan menghasilkan sesuatu yang terbaik.
Tidak banyak tenunan yang terpilih ini mampu
dihasilkan oleh penyair-penyair Islami seperti Ibnu Abi
rubaiah, pemilik bakat, jarir, Abu Nawas, Habib
(maksudnya Abu Tamam), Buhtari, Ridho, Abu Faras, dan
yang lebih banyak lagi adalah syair yang terdapat dalam
kitabul Aghany; karena didalamnya mencakup banyak syair
dari berbagai tingkatan penyair muslim dan syair-syair terpilih dari penyair jahiliyah.‟ (Mukaddimah: Fahmy 655)
‘Dari kitabul aghany tentang aziful ghawani (kebanggaan seorang terpandang); sesungguhnya Kisra bertanya kepada
Nukman, apakah di Arab ada suatu kabilah yang lebih
dimuliakan dibanding kabilah lainnya? lalu ia menjawab,
iya. Lalu ditanya lagi: apa sebabnya?. Ia menjawab,
bagi siapa yang memiliki tiga bapak yang secara terus
menerus menjadi pemimpin kabilah lalu dilanjutkan
kepemimpinannya oleh dirinya, sehingga lengkap menjadi
empat generasi, maka rumahnya tersebut dianggap sati
kabilah tersendiri. Hal tersebut tidak terjadi pada
banyak kecuali di rumah Huzaifah bin Badr Al Fazari, keluarga Al Ash‟at bin Qois dari Kandah, keluarga Hajib bin Zararah, keluarga Qais bin „Ashim Al Minqary dari Bani Tamim, dan berbagai kelompok lainnya ataupun
keturunannya dari keluarga dan mendudukkan mereka untuk menjadi hakim yang adil...‟ hingga akhir seperti apa yang ia nukil tentang pembahasan ini dari Kitabul Aghany (Mukaddimah: Bayan, 437)
Tidak didapatkan sedikitpun dari ucapan Ibnu Khaldun yang mengatakan sulit untuk mendapatkan copi dari kitabul Aghany pada masanya sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr
Thaha Husein; bisa jadi Dr Thaha Husein mengartikan dan membaca hal tersebut dari terjemahan prancis dari Kitab Ibnu Khaldun, yang banyak isinya diselewengkan oleh para orientalis –Duice lane. Hal tersebut dapat dilihat dari kalimat sebagai berikut: ‘Kitabul Aghany ini tidak mempunyai tandingan ( dalam hal seni syair Arab, sejarah,
keseharian atau lagunya) apapun dari kitab yang telah kami
ketahui sebelumnya. Kitab tersebut (maksudnya Kitabul
Aghany) adalah tujuan tertinggi yang ingin dicapai semua
demikian pula aku‟ Duice lane tidak memahami arti ‘demikian
pula aku’ ia berpikir bahwa kalimat tersebut mengandung arti
bahwasannya para sastrawan berkeinginan untuk mendalami buku tersebut demikian pula Ibnu Khaldun. Hal ini masih merupakan keinginan saja, karenanya ia menterjemahkan kalimat tersebut dengan kata: Mais comment pourra-t-on se le procurer (bagaimana mungkin kitab tersebut bisa didapatkan?)
Demikianlah. Penulis telah membahas permasalahan ini terlalu panjang; karena tahkik semacam ini membutuhkan rujukan kepada biografi Ibnu Khaldun sendiri ‘Ta‟rif’ yang mencakup akan sejarah dan riwayat hidupnya yang terpercaya yang akan berguna sekali dalam pembahasan masalah ini.
6. keterputusan Ibnu Khaldun dari masa belajar dan penyebabnya.
Ketika Ibnu Khaldun telah mencapai usia delapan belas tahun, terjadi dua peristiwa yang sangat genting yang datang bertubi-tubi yangmenyebabkan putusnya keinginannya untuk dapat terus menuntut ilmu; kedua peristiwa ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupannya.
mencakup korban jiwa yang ada di negara-negara muslim lainnya ataupun negara nasrani. Dari berbagai banyak sumber yang dapat dipercaya mengatakan bahwasannya korban yang meninggal di Tunis (ia adalah negara dimana pada saat itu Ibnu Khaldun menetap), setiap harinya mencapai 1200 korban jiwa; di Thalmasan mencapai 700 korban jiwa, sedang di Pulau Mayrokoh 1000 korban jiwa....16 Ibnu Khaldun menyebut peristiwa ini sebagai Tha‟un Jaarif (wabah yang membabi buta). Ia pun menggambarkan wabah ini sebagai musibah besar yang Thut Al Bashat bima Fiihi (mewabah dipenjuru dunia). Musibah ini telah mengubah jalan hidup Ibnu Khaldun, karena wabah tersebut telah merengut nyawa kedua orang tuanya dan sebagian guru yang telah mengajarkannya banyak ilmu. Ia mengungkapkan: “sejak aku tumbuh dan berkembang, aku selalu mempunyai bnayak semangat untuk mendapatkan semua yang
terbaik; berpindah dari satu kelompok keilmuan kepada
keilmuan lainnya sampai datangnya wabah penyakit yang telah
menghilangkan banyak kesadaran dan kelapangan, juga banyak
pengajar sebagaimana ia pun telah menghilangkan kedua orang
tuaku dari kehidupanku‟ (Ta‟rif 25). Ia pun mengatakan dalam
bagian lainnya akan kehilangannya atas wafatnya guru tercintanya: Ibnu Abdul Muhaimin dalam musibah ini ‘Lalu datanglah musibah ini yang melanda dunia beserta isinya dan
menghancurkan kehidupan Abdul Muhaimin dan yang berada dalam
tanggungannya; ia dikuburkan di pekuburan kakek-kakek kami terdahulu di Tunis‟ (ta‟rif 27).
Sedang peristiwa lainnya adalah berpindahnya sebagian ulama dan sastrawan yang mencoba menghindar dari musibah
16 Pernyataan ini dinukil dari teman penulis Ustadz Muhammad Abdullah
Anan dari surat tertulis Ibnu Khatimah Al Andalusy yang telah melihat banyak tulisannya di sebuah pameran dengan judul: Tahsilul Gard Al
Qashid Fi Tafsilil Mardh Ar Rafidh‟ di perpustakaan Escorial. Surat ini tercantum dengan nomor 1785. (LIhat: Abdullah Anan, Ibnu Khaldun,
tersebut dari Tunis ke Maroko pada tahun 750 H beserta Abi Hasan, pemimpin Bani Maryan.
Kedua peristiwa tersebut membuat Ibnu Khaldun goncang dan membuatnya putus dari semangatnya untuk menuntut banyak ilmu; karena kesedihan hati disatu sisinya, juga karena meninggalnya sebagian ulama dan hijrahnya sebagian lainnya disisi lainnya. ia pun berkeinginan untuk ikut hijrah ke Maroko agar ia bisa meneruskan dan memperdalam ilmu yang telah dipelajarinya bersama dengan para ulama yang hijrah kesana; namun saudaranya Muhammad memalingkan keinginannya tersebut.
Musibah yang terjadi ini membuat segalanya di Tunis bertambah sulit. Ia tidak bisa lagi melanjutkan pelajarannya sebagaimana yang orang tuanya lakukan sebelumnya, atau sebagaimana niatnya pada walnya. Jalan hidupnya telah berubah. Iapun mengambil pekerjaan di bidang kemasyarakat, sebagaimana yang pendahulu dan banyak dari keluarganya lakukan sebelumnya.
Bagian kedua
Fase pekerjaanya di kantor pemerintahan dan bidang politik di Maroko dan Andalusia
751-776 H (1351-1374 M)
1. Aktivitas Ibnu Khaldun di Maroko bagian bawah dan tengah (751-755 H)
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, kedaulatan Muwahhidin sejak awal abad ketujuh hijriah telah tumbang. Tumbuh setelahnya bebagai kedaulatan dan negara-negara baru. Tiga yang terkenal darinya yaitu:
oleh kakek kedua Ibnu Khaldun, sedang kakek pertamanya memimpin Bijayah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kedua adalah kedaulatan bani Abdul Wad di Maroko bagian tengah yang berkedudukan di Thalmasan.
Ketiga adalah kedaulatan Bani Maryan di Maroko bagian atas yang berkedudukan di Vas.
Dari kesemua negara dan daulah yang ada, Bani Maryan adalah kedaulatan terkuat. Daerah kekuasannya makin hari makin meluas; khususnya pada masa Sultan Abu Hasan yang mempimpin Arsy Vas dan Maroko bagian atas pada tahun 731 H (1330 M). Sultan ini telah bertempur di Jabal Thariq dan merebut kekuasaan daerah tersebut dari tangan kaum nasrani pada tahun 743 H. Ia pun lalu kembali ber ekspansi ke daerah timur. Pada tahun 737, ia menguasai daerah Thalmasan dan Maroko bagian tengah yang pada saat itu ada dalam kekuasaan Bani Abdul Wad; dan pada tahun 748 ia menguasai Tunis (yang berada di Maroko bagian bawah, yang kadang orang lebih mengenalnya dengan nama negara Afrika) dan melepaskan kekuasaan yang berada di tangan Bani Hafsin dan keluarganya. Ia tinggal di Tunis selam adua tahun untuk memperbaiki keadaan, lalu meninggalkannya pada tahun 750 atau tepatnya setelah setahun meluasnya wabah penyakit di Maroko bagian atas. Ia meninggalkan Tunis bersama sebagian besar ulama dan sastrawan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Dengan demikian, kekuasaan Bani Maryan meluas atas keseluruhan bagian Maroko (atas, tengah dan juga bagian bawah Maroko). Ia selalu berhadapan dengan kekuatan yang selalu tidak dapat bertahan. Bani Abdul wad dan Bani Hafsin pun akhirnya dihapuskan keberadaannya.
Abi Yahya Hafsy dan kemudian melepaskan kekuasaan Bani Maryan dan mengembalikan kekuasaan Bani Hafsin dengan mengangkat Abu Muhammad bin Tafrakin sebagai mentri di Tunis. Namun kekuasannya tidak berlangsung lama, karena ia keluar dan mengasingkan diri. Tempatnya kemudian diambil alih oleh saudaranya Abi Ishak bin Abu Yahya yang pada saat itu masih anak-anak; dengan dibantu oleh Kafil kementrian yang masih ada dalam kekuasaannya.
Pada masa Ibnu Tafrakin inilah, Ibnu Khaldun mulai bekerja di pemerintahannya pada akhir tahun 751 H (1350 M) dengan jabatan sebagai Kitabatul Allamah (sekretaris atau penulis cap kekuasaan) yang bertugas untuk menuliskan kata hamdalah dan ungakapan syukur kepada Allah dengan pulpen tinta, baik sebelum ataupun sesudah basmalah dari setiap pidato ataupun gambar.17 Dari sini mulai tampak ia membutuhkan kepada keahlian akan penyusunan kata-kata indah hingga ia pun akhirnya dapat menguasainya dan dapat menyesuaikannya dengan pidato yang ada ataupun sekedar gambar. Ia menuliskan cap tersebut atas nama sultan yang menyewanya. Ini adalah masa pertama Ibnu Khaldun dengan pekerjaan kemasyarakatannya dan inilah pekerjaan pertamanya yang berhubungan dengan tugas pemerintahan.
Di awal tahun 753 H, Pangeran Qistnitina, Abu Zaid, cucu sultan Abi Yahya Hafsi, melarikan diri dari Tunis untuk melepaskan turats (warisan) pendahulunya dari kungkungan penjahat Ibnu Tafrakin. Akhinya Ibnu Tafrakin beserta para serdadunya bersiap untuk menghadapinya; termasuk di dalamnya Ibnu Khaldun. peperangan dasyat terjadi antara kedua
17 Ta’rif 55. tampak ada cap lainnya yaitu dengan menuliskan cap di
kelompok tersebut dan berakhir dengan kekalahan serdadu Ibnu Tafrakin. Ibnu Khaldun pun akhirnya melarikan diri dari serangan musuh dan menyelamatkan dirinya. Ia pun berpindah dari satu negara ke negaralainnya hingga akhirnya ia terdampar di Baskara (termasuk negara Jazair di Maroko bagian tengah) dan menghabiskan musim dinginnya pada tahun itu di tempat tersebut. Tampak, disaat itulah ia menikah. Pernikahannya berkisar tahun 754 H. Ibnu Khaldun tidak berbicara sedikitpun akan keluarga dan anak-anaknya di biografinya Ta‟rif , kecuali disaat ia menjelaskan akan permulaan perjalanannya ke Andalusia.
2. Pekerjaannya di kantor pemerintahan dan bidang politik di Maroko bagian atas sebelum perjalanan pertamanya ke Andalusia (755 – 764 H)
Ibnu Khaldun pada saat itu sedang berada di daerah Baskara (yang terletak di Maroko bagian tengah); ia pun berusaha untuk menemui sultan Abu Anan; yang saat itu berada di Thalmasan (Ibukota Maroko bagian tengah). Sulan pun menyambutnya dengan hnagat. Ibnu Khaldun pun mendekat padanya dan memberikan kesetiannya kepadanya dan berusaha untuk menjadi orang kepercayaannya, hingga ia pun mendapatkan keinginannya. Sultan tersebut menunjuknya untuk menjadi anggota dewan bidang keilmuan di Vas, dan menugaskannya beserta banyak ilmuwan besertanya. Ibnu Khaldun pun pergi ke Vas pada tahun 755 H. Sultan pun masih mendekatinya dan mengangkat derajatnya hingga ia mempercayakannya pada tahun sesudahnya untuk bertanggung jawab atas penulisan atasnya dan tanda tangannya.18
Ibnu Khadun pun diberi kesempatan untuk kembali memperdalami ilmu yang pernah di dapatnya bersama para ulama dan sastrawan yang datang dari Andalusia, Tunis dan negara lainnya di Maroko; dan kesemuanya itu berkumpul di Vas. ia pun bisa mengunjungi banyak perpustakaan di Vas (Vas terkenal dengan kekayaan perpustakaannya) hingga ilmu Ibnu Khaldun pun makin bertambah dan bertambah dan makin meluas cakrawalanya dan keinginannya yang terdahulu sempat terkubur kembali bangkit dan menemui semangat barunya dalam mengembangkan keilmuan dan ia pun berkenalan dengan dunia baru yaitu dunia politik hingga ia pun mengambil jabatannya di tugas-tugas kenegaraannya. Ibnu Khaldun mengungkapkan hal ini sebagai berikut :’aku pun berkonsentarsi dalam meneliti, membaca dan menemui para ilmuwan, baik dari Maroko,
18 Ta’rif 57,58. yang dimaksud tanda tangan disini adalah adalah untuk
kekuasaan untuk mengeluarkan perintah, keputusan pemerintahan dengan kalimat dan ungkapan yang ringkas dan dapat dipahami tujaunnya.
Andalusia ataupun utusan dari bebrapa kedutaan (yang
dimaksud adalah kedutaan diantara pemimpin-pemimpin dan
sultan negara Maroko bagian atas), hingga aku mendapatkan manfaat yang banyak dari mereka. (Ta‟rif 59). Lalu Ibnu Khaldun pun membuat tingkatan para guru-guru; siapa yang menemui mereka dan mengambil ilmu dari mereka dan membuat biografi bagi mereka dan dari siapa mereka mendapatkan ilmu tersebut. Ia pun menjelaskan kedudukan mereka dan kedudukan guru yang mengajar mereka sebelumnya; karya-karya mereka dan juga pekerjaan mereka, sebagaimana yang ia lakukan ketika ia menggambarkan tingkatan pengajar sebelumnya. Diantara yang disebutkannya adalah Muhammad bin Shafar (Imam Qiraat pada zamannya), Muhammad Muqri (Hakim di Vas yang menguasai banyak ilmu hingga tiada seorang pun yang dapat menandinginya), Muhammad Ibn Muhammad Al Hajj Al Balfiqi (Syeikh para ahli hadits, sastrawan, para ahli fiqih, para sufi dan para khatib di Andalusia dan merupakan seorang pakar keilmuan) Muhammad bin Ahmad Syarir Al Husni (Imam para ilmuwan, pemimpin pemikiran Ma’qul dan Manqul) Muhammad bin Yahya Al Barji (sekretaris sultan Abi Anan dan penulis terkenal di negaranya), Muhammad bin Abdul Razaq (pakar keilmuan dan pengajaran di negaranya). Ibnu Khaldun mengakhiri tulisannya tentang hal ini dengan mengatakan bahwa para guru dan ilmuwan yang disebutkannya lebih kecil jumlahnya dibanding yang pernah ditemuinya dan diambil dari mereka ilmu dan menganugrahinya ijazah keilmuan. Setelah ia menyebut kan nama-nama yangtelah disebutkan, ia berkataL ‘ ... dan lainnya dan lainnya dari ilmuwan Maroko dan
Andalusia. Semuanya telah aku temui dan aku ingat dan aku
Demikianlah. Pekerjaan yang Ibnu Khaldun lakukan di pemerintahan Abu Anan, bukanlah untuk memuaskan keinginan dan cita-citanya ataupun menduduki jabatan yang pernah pendahulunya lakukan; namun ia melakukannya karena suatu keterpaksaan dan keadaan. Ketika ia berbicara tentang pekerjaannya dengan Abu Anan, ia mengungkapkan: ‘aku mengajukan padanya pekerjaan pada tahun 755 H. Ia meletakkan
posisiku diantara dewan keilmuannya. Ia mengharuskan
melakukan syuhudut shalawat bersamanya; lalu ia
memperbantukan aku di tulisan-tulisannya dan tanda tangan
yang harus dilakukannya; dengan suatu keterpaksaan ku jalani
semuanya; karena ku tahu tidak ada seorangpun dari pendahuluku yang melakukannya. (Ta‟rif 59)
Pada saat itu, mulai timbul kecenderungan Ibnu
Khaldun untuk melakukan sesuatu hal yang tercela, hingga ia sendiri tidak bisa membayangkankannya dan iapun tidak bisa menyembunyikannya; namun kecenderungan itu selalu datang disetiap saat. Yaitu kecenderungan untuk mempergunakan kesempatan dengan berbagai jalannya dan merencanakan untuk mencapai tujuannya dengan semua jalan, selama itu tidak membahayakannya. Selama jalan itu untuk mencapai suatu kemaslahatan dan tujuan khususnya ataupun untuk menghindari bahaya yang akan terjadi, sebagaimana halnya ia harus berbuat jahat kepada semua yang berlaku baik padanya, menentang siapapunyang berbeda pendapat dengannya ataupun mengingkari siapapun yang pernah berbuat baik padanya. Kecenderungan-kecenderungan terus bermunculan dalam dunia politiknya dan hubungan eratnya dengan para raja dan pemimpin ataupun penguasa sejak ia memasuki dunia pemerintahan hingga ia meninggal.
Ibnu Khaldun pun akhirnya menjadi tahanan selama dua tahun lamanya; tidak sekalipun selama dalam masa tahanannya ia berhenti untuk menyesali perbuatannya dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan. Namun sultan selalu menolaknya. Semua ini terus berlangsung hingga pada tahun 759 H, saat itu Ibnu Khaldun memberikannya suatu Qasidah yang sangat indah dengan 200 bait. Hal itu mengetuk hati sultan dan membuatnya berjanji untuk membebaskannya. Namun kematian yang datang tiba-tiba di akhir tahun tersebut telah merenggutnya sebelum ia sempat melaksanakan janjinya tersebut.
Ibnu Khaldun menggambarkan fase kehidupannya ini secara mendetail dengan mengatakan:
‘hubunganku dengan sultan Abu Anan pada tahun 756 H
membaik dan membuatku bertambah dekat dengannya. Lalu
ia mempercayakanku untuk menulis untuknya hingga
keadaanku agak renggang terhadapnya. Keadaaan tersebut
tidak jua membaik, hingga di akhir tahun 767 H, telah
terjadi kesepakatan antara diriku dengan pangeran
Muhammad -penguasa bijayah terdahulu dari Muwahhidin-
suatu konspirasi (kalimat ini diungkapkannya dengan
sangat penuh kehati-hatia tetang rencananya dengan
pengeran tersebut), aku akan menguasainya sebagaimana
yang pendahuluku lakukan sebelumnya du daerah tersebut.
Aku terlupa untuk menjaga hal tersebut dari kecemburuan
sultan, walau ia sendiri sibuk dengan sakitnya hingga
aku mengabarkannya bahwa pemimpin bijayah merencanakan
untuk kabur dari tahanannya demi mengembalikan
kekuasaannya yang dulu pernah direbutnya. Seorang yang
bekerja sama dengannya adalah mentrinya Abdullah bin
memerintahkan untuk menangkapnya; dan disaat ia
mengetahui keterkaitanku dengannya, ia pun menangkapku
dan mengujiku (dengan cambukan dan siksaan) serta
menahanku. Hal itu terjadi pada tanggal 12 shafar 758
H, lalu pangeran Muhammad dibebaskan, sedang aku masih
berada dalam tahanan, hingga ia meninggal. Sebelumnya,
aku telah mencoba berbicara dengannya untuk
memaafkanku, hingga aku menyerahkan qasidah yang
isinya:
Disetiap malam aku sesali *
Namun tak ada masapun dapat berempati
Cukup kesedihaku tinggal dan pergi *
Aku menyaksikan kehilangan diriku
Dalam setiap peristiwa, aku terpencil *
Selalu datang padaku setiap pertarungan
Juga ada nada kerinduan didalamnya:
Hiburan mereka tidak lain memperkeruh lembaga *
Disetiap malamku dihinggapi perasaan
asing
Gemerisik angin menambah kerinduanku
Kepada mereka dan menakutkanku dan
menyenangkanku
Qasidah tersebut cukup panjang, sekitar 200 bait. Iapun
menjadi utusan diriku, untuk menemui sultan. Sultan
mendapatkannya di Thalmasan. Ia pun akhirnya tersentuh
dan berjanji akan mengeluarkanku ketika ia akan
mengunjungi Vas. lima hari setelahnya, penyakitnya
kembali kambuh dan lima belas hari setelahnya ia
Ini adalah Qasidah pertama yang disebutkannya dalam kitan ‘ta‟rifí‟ dan ia merupakan qasidah terlama dari semua qasidah yang disebutkannya. Bisa jadi ini adalah usahanya pertama kali dalam membuat syair. Namun di tegaskan dan diasebutkan oleh Ibnu Khladun, bahwa permulaan ia mulai mendalami syair adalah disat ia bertugas dengan Sultan Abu Salim atau setahun setelah peristiwa tersebut terjadi.
*****
Sepeninggalnya Abu Anan, pemerintahan di ambil oleh anaknya Abu Ziyan. Namun mentrinya Hasan bin Umar menurunkannya dari kekuasaannya dan menyerahkannya kekuasaan tersebut kepada anak Abu Anan lainnya yang masih kecil yaitu Said bin Abu Anan dengan menjadikan dirinya sebagai walinya dan juga dengan membunuh pesaingnya, mentri lainnya; kemudian iapun mulai memegang kendali kekuasaan.
Mentri Hasan bin Umar inilah yang akhirnya melepaskan Ibnu Khaldun dan sejumlah tahanan lainnya dari penjara dan mengembalikannya kepada jabatan sebelumnya dan memperlakukannya dengan baik. Ibnu Khaldun pernah meminta izin untuk dapat kembali ke negaranya, namun keinginan tersebut ditolak dan dirinya tetap diperlakukan dengan penuh kehormatan dan kebaikan. (Ta‟rif 68)
mendekati sultan baru dan terus berupaya mendekatinya hingga akhirnya ia mendapatkan jabatan kitabah (sekretaris)