Setelah munculnya Mukaddimah Ibnu Khaldun, tidak didapatkan suatu karyapun yang sejalan dengannya, yang layak
untuk dipublikasikan kepada masyarakat; karena pada umumnya penelitian yang dilakukan setelahnya hanyalah mematangkan konsep yang telah ada atau hanya menyempurnakannya dan kemudian mengikuti konsep yang ada. Dari sini tampak bahwasannya penelitian yang dilakukan oleh Ibnu Khaldun dalam Mukaddimahnya tetap menjadi yang terdepan dalam hal pemikiran di bidangnya selama beberapa periode setelahnya. Itu semua karena tidak ada yang daapt menandinginya walaupun mereka datang dari beberapa periode setelahnya atau sekurangnya empat abad setelahnya mereka tetap mengikuti pola pikir Ibnu Khaldun; dan terkadang mereka pun mencoba menyempurnakannya konsep dan mematangkannya; bahkan Mukaddimah sendiri pun tetap menjadi referensi utama yang
Majhul (tak dikenal) pada banyak penelitian, baik di timur
maupun barat.
Karena itulah, kajian-kajian akan kemasyarakatan setelahnya dimulai kembali dari fase pertamanya seolah Mukaddimah tersebut belum muncul. Namun kajian-kajian ini seolah hanya berputar pada tiga macam penelitian yang dilakukan para peneliti sebelum Ibnu Khaldun, sebagaimana yang telah penulis jelaskan sebelumnya, yaitu: sekedar menggambarkan fenomena yang terjadi beradasarkan sejarahnya saja dengan tujuan menanamkan hal tersebut dalam hati, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan secara idealisnya; ini semua adalah filsafat yang ada dalam peneliti dalam menciptakan kota yang unggul dalam khayalan mereka berdasarkan atas pikiran mereka.
Keadaan terus berlangsung dalam tatanan ini hingga pada abad pertengahan delapan belas, muncullah golongan baru dari penelitian ilmu sosial yang lebih mengarah kepada pemikiran Ibnu Khaldun, namun tetap tidak dapat mencapai apa yang
telah Ibnu Khaldun hasilkan dan belum dapat merealisasikan apa yang telah Ibnu realisasikan sebelumnya.
Dua golongan ini bila dilihat dari karya dan penelitian yang ada, dapat dibagi menjadi dua:
Golongan pertama adalah yang mempelajari kajian umum yang mencakup didalamnya akan sejarah manusia dan pengelompokannya. Namun dalam kajian sejarah hanya mempelajari satu segi saja yaitu sisi perkembangannya saja. Pembahasan ini mencoba menguraikan faktor-faktor perkembangan yang terjadi dan juga fase-fase yang telah dilaluinya. Pembahasan seperti ini dikenal dengan philosophie de l‟historie (Filsafat sejarah); karena pelopornya memeberikan kesimpulan hasilnya berdasarkan sejarah yan ada . Tokoh pertama yang mempelopori penelitian dalam hal ini adalah pemikir besar Italia Vico (1668-1744) yang menuangkan penelitiannya dalam bukunya Science Nouvelle (ilmu baru). Dalam penelitian dan pembahasannya dalam bukun ya tersebut, banyak didapati kajian-kajian sosial kemasyarakatan hingga sebagian orang menganggap bahwa buku inilah pelopor pertama lahirnya ilmu sosial. Setelahnya, banyak bermunculan penelitian dalam bidang ilmu sosial in; diantaranya Lessing, Herder dan juga Kant yang berasal dari German; juga Condorcet dan Voltaire yang berasal dari Prancis.
Penelitian-penelitian yang sudah dilakukan ini pada dasarnya sudah mulai mengarah dan sejalan dengan penelitian yang telah Ibnu Khaldun lakukan sebelumnya. Namun tetap, perbedaan yang tampak antara keduanya cukup banyak, khususnya dalam dua hal utama. Pertama; karena penelitian Ibnu Khaldun mencakup semua pembahasan akan aspek kehidupan masyarakat, baik dari sisi perkembangannya ataupun kestabilannya. Sedang pada penelitian diatas, hanya terpaku
pada perkembangannya saja. Kedua; karena penelitian yang Ibnu Khaldun lakukan lebih memfokuskan pada pengamatan dan ketajaman analisisnya pada suatu kejadian ataupun peristiwa yang terjad.; sedangkan para pakar filsafat sejarah, mereka telah terpengaruh pada pemikiran sejarah ataupun terpaku pada pendapat-pendapat yang ada sebelumnya. Mereka berusaha untuk menundukkan realitas sejarah yang ada kepada pemikiran-pemikiran filsafat dan juga oendapat-pendapat yang ada yang belum diteliti keabsahannya. Merekapun berusaha mengarahkan sejarah yang ada diluar batas kewajarannya, dengan mengkotak-kotakkannya pada mazhab yang mereka buat sehingga memungkinkan mereka untuk mengeluarkan konsep teorinya akan perkembangan peradaban manusia yang sesuai dengan mazhab mereka. Sedangkan penelitian yang Ibnu Khaldun lakukan lebih menyeluruh dari mereka dan menempuh metode yang lebih benar dari metode yang mereka tempuh.
Golongan kedua adalah yang mempelajari suatu penelitian secara khusus dengan mencoba memberikan solusi dan resume atas setiap penelitian yang dilakukan. Penelitian khusus ini terfokus pada kelompok tertentu yang ada pada suatu fenomena sosial kemasyarakatan untuk dapat mengungkap lingkungan serta aturan dan ketentuan yang mengaturnya. Dari penelitian-penelitian inilah, bermunculan banyak ilmu sosial, yang kesemuanya ini dibagi menjadi empat bagian:
1) L‟Economie politique atau ilmu ekonomi politik dengan mengambil tema yaitu kajian atas kekayaan yang mempengaruhi suatu undang-undang pengatur akan ekonomi masyarakat seperti produksi, distribusi dan kepemilikan. Ilmu ini dipelopori oleh sekelompok Physiocrates atau ahli bilogi yang dipimpim oleh Quesnay (1694 – 1774 M), salah satu dokter Louis ke XV. Kelompok ini mempunyai banyak anggota dari para pakar keilmuan yang ada di Perancis,
seperti Turgot (seorang mentri pada pemerintahan Louis ke XVI), Mercier La Rivière, Dupon de Nemour, Marquis de Mirabeau (Bapaknya adalah orator revolusi Perancis). Selain itu, ilmu ini pun banyak dipelajari oleh para pemikir dari Inggris, yang dipimpin oleh tokoh besar dari Skotlandia Adam Smith dan Ricardo. Dari penelitian akan bidang ini, muncul buku-buku dan karya –karya; seperti halnya Tableau
Economique (Agenda Quesnay, L‟Oerdre Naturel et Essentiel
des Sociètès Politiques karya Merćiere de La Rivière,
Théorie de L‟impôr karya Turgot dn juga yang menjadi referensi utama dari semua buku ini adalah An Inquiry into the nature and causes of the wealth of nations karya Adam Smiths78
2) Falsafah Qanun (Filsafat perundang-undangan),
Muqoddimah Qanun (Pengantar Perundang-undangan), Ruhul Qanun (Ruh Perundang-undangan). Tema yang melandasi kajian ini adalah mempelajari hukum dan undang-undang positif di berbagai suku bangsa dan di berbagai masa, secara mendetaill dan seimbang untuk dapat mengungkapkan sejarah kemunculan suku bangsa itu sendiri serta penyebab peletakan undang- undang tersebut juga mempelajari hubungan-hubingan yang mengikat satu dengan lainnya dan juga yang mengikat kepada fenomena sosial kemasyarakatan lainnya dan berapa besar pengaruhnya terhadap lingkungan dan keyakinan masyarakat yang ada serta perpolitikan negaranya... dan banyak lainnya. Tokoh pertama yang mempelopori kajian ini adalah Montesquieu (1689-1789 M) yang di tuangkan dalam bukunya La‟Esprit des lois.
3) Falsafatus Siyasah (Filsafat Politik) yang mengambil tema yaitu membahas tentang landasar dasar dibuatnya suatu
78
susunan hukum bagi masyarakat. Karya yang terkenal dalam bidang ini adalah Le Contrat Social yang ditulis oleh Jean Jacques-Rousseau (1712-1776 M).
4) La Statistique (Ilmu Statistik) yaitu penelitian yang berdasarkan statistika. Penelitian dalam bidang ini dapat dibagi menjadi dua macam:
Salah satunya adalah yang dikenal dengan nama Dèmographic yang mengambil tema yaitu penelitian yang menggunakan konsep statistik (ukur) akan penambahan jumlah penduduk dan perkembangannya. Serta membandingkan antara pertambahan penduduk dengan penambahan sumber-sumber produksi penduduk yang ada serta mengungkapkan akan undang- undang umum yang berkaitan dengan hal tersebut. Pelopor pertama yang membidani ilmu ini adalah pemikir Inggris, Molthus, yang telah menuliskan banyak buku tentangnya. Kajian ini berkaitan erat dengan kajian ekonomi politik sejak awal pertumbuhannya, hingga didalamnya pun banyak dibahas tentang hubungan penelitian kajian ini dengan fenomena produksi dan kepemilikan.
Kedua; adalah yang lebih dikenal dengan nama La Statisque Morale (Statistik Moral) yang menyampaikan akan keinginan-keingainan dalam fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan yang bisa diukur, baik secara sejajar (bisa dihitung secara pasti); seperti femomena pernikahan dan migrasi ataupun yang tidak sejajar (hitungan acak); seperti halnya fenomena kejahatanyang terjadi ataupun fenomena bunuh diri. Kesemuanya ini dipelajari berdasarkan statistik dengan berbagai perbedaan keadaan dan juga masa di berbagai suku bangsa, yang dengannya (dengan hasil statistik yang didapat) diharapkan dapat mengungkap aturan dan ketentuan yang mempengaruhi pertambahan dan juga penurunan penduduk juga pengaruhnya diberbagai aspek kemasyarakatan dan juga
perbedaannya di berbagai temapat dan masa yang beraneka ragam... dan lain sebagainya. Ilmu ini dipelopori oleh Pemikir Belgia Quetélet (1796-1873) dan menyebut ilmu ini dengan sebutan La Physique Sociale (Dasar kemasyarakatan). Penelitian yang dilakukan Quetélet ini banyak memberikan pengaruh yang besar kepada pemikiran-pemikiran setelahnya; sebagaimana yang diakui oleh Auguste Comte, hingga ia menganggap Quetélet sebagi Pelopor ilmu Sosial.
Pada dasarnya, semua penelitian yang beraneka ragam ini mengarah kepada tujuan yang sejalan dengan penelitian Ibnu Khaldun; walau ada sedikit perbedaan besar dalam dua sisi. Pertama; karena penelitian yang dilakukan oleh Ibnu Khaldun ini adalah penelitian yang menyeluruh dan mencakup semua pokok pembahasan yang beraneka ragam ini dan memberikan solusi akan semua fenomena sosial yang ada dengan membebaskan peraturan dan ketentuan yang mempengaruhinya serta menyusun kesemuanya itu secara sistematis; dan ia pun menjelaskan hubungan-hubungan yang mengkat satu dengan lainnya; disaat penelitian-penelitian sesudahnya hanya mengamati akan fenomena khusus dengan melepaskan kaitannya dengan fenomena lainnya dan menutup pandangan akannya dan juga hubungan yang ada diantara mereka fenomena-fenomena tersebut. Kedua; penelitian yang dilakukan Ibnu Khaldun berlandaskan atas keterfokusannya akan pengamatan dan analisisnya atas suatu kejadian yang telah terjadi, yang semua ini bertujuan untuk mengungkap hal-hal yanmg ilmiah, dan bukan karena tujuan lainnya; namun bila kita melihat terhadap penelitian lainnya, maka kita akan dapati bahwa kebanyakan daripadanya telah mjencampur adukkan sesuatu yang ilmiah dengan pemikiran-pemikiran lainnya seperti halnya pemikiran suatu filsafat atau suatu kepentingan tertentu, hingga pemikiran lainnyalah yang mendominasi hasil dari
penelitian tersebut dan pemikiran filsafat lah yang akhirnya yang dianggap mewarnai penelitian ini. Banyak pula yang meneliti keilmuan ini disertai dengan realitas yang terjadi (pragmatis) atau kaerna suatu ukuran tertentu hingga yang tampak adalah suatu keinginan dan gambaran yang seharusnya terjadi dalam penelitian yang sedang dikaji.
Demikianlah, mengapa ilmu yang dibidani oleh Ibnu Khaldun mampu menjadi referensi utama selama lebih dari empat abad lamanya, namun sayangnya, tak banyak yang memahaminya secara utuh. Banyak yang mempelajarinya, namun tak banyak yang dapat menempuh jalan yang sudah ia tempuh dan mengikuti pembahasannya yang menyeluruh kesemua aspek fenomena sosial kemasyarakatan dan juga mengikuti metodenya yang benar dan tujuannya yang sangat mendetail dan juga kesatuan yang ada dari semua pembahasannya.