• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjalanannya ke Andalusia dan kegiatannya di sana (764 766 H)

Dalam perjalanannya menuju Andalusia, ia berhenti sejenak di Sibtah pada awal tahun 764 H dan berkunjung ke rumah Syarif Abu Abbas Ahmad, pemimpin permusyawaratan di Sibtah. Kedatangannya disambut hangat dan sangat memuliakannya. Dengan penggambarannya yang menarik, Ibnu Khaldun mengugnkapkan: Aku diturunkan di rumahnya dekat sebuah Masjid Jami. Aku mendapatkan sambutan sebagaimana layaknya seorang raja. Akupun dinaikkanke Haraqah (sejenis perahu kecil yang dipergunakan untuk berjalan-jalan) pada

malam keberangkatanku hingga memungkinkannya untuk

menyentuh. Penghormatan yang sangat mulia dan juga sangat bersahabat (Ta‟rif 82)

Setelahnya, ia punpergi ke pegunungan Jabal Fath yang lebih dikenal sekarang ini dengan nama Jabal Thariq. Darinya, ia sampai di Granada. Ibnu Khaldun memilih Granada di banding kota lainnya di Andalusia karena adanya persahabatan yang kental antara dirinya dengan pemimpin dan kementri setempat. Ia mempunyai kenangan baik dengan mereka berdua. Sultan Granada saat itu adalah Muhammad bin Yusuf bin Sulaiman bin Ahmar An Nasry (Raja ketiga dari Bani Ahmar); sedang mentrinya adalah sastrawan terkenal,

Lisanuddin bin Khatib. Antara Ibnu Khaldun dan kedua orang ini, persahabatan yang sudah lama dan erat dimana mereka selalu bersama-sama di pemerintahan Abu Salim di Vas, dimana pada saat itu Ibnu Khaldun mengemban tugas sebagai sekretaris yang mengurusi surat-surat rahasia dan juga penulis pidato dan juga gambar bagi Sultan Abu salim. Selama di Granada, mereka selalu memberikan bantuannya kepada Ibnu Khaldun.

Disaat ia masih empat Farashah dari Granada, datang tulisan dari sahabatnya Ibnu Khatib yang mengucapkan selamat datang atas kehadirannya, yang isi tulisannya dibuka dengan ucapannya:

Kuhalalkan segala bantuan di negara yang halal *

Demi burung baik dengan segala kehangatan dan kemudahan

Baik sebagaimana tampak pada wajahnya *

Syeikh dan anak yang diber20i dan juga orang

yang berumur

Aku telah mempersiapkan diri untuk menyambutmu bahagia * Lupa kebahagianku dengan diri dan juga

keluarga21

Disaat Ibnu Khaldun sampai di Granada, baik Sultan maupun mentrinya sangat menyambut akan kedatangannya dan memuliakan kedudukannya. Sultan memposisikannya untuk masuk kedalam anggota majlisnya. Ibnu Khaldun makin dekat padanya dan demikian pula persahabatan yang ada pada mereka dan juga posisi yang disandangnya, khususnya pada tahun setelahnya (tahun 765 H) dimana ia menjadi utusan antara sultan dan juga raja Qistalah –Bathrah bin Hansyah bin Azqanisy- untuk mengadakan perdamaian dan menyatukan

20

Istrinya memberikannya anak yang membuat nyenyak tidurnya

hubungan politik antara keduanya. Ia lalu pergi kr Asybiliah (yang merupakan kota pertama bagi Bani Khaldun) yang dijadikan pusat pemerintahan rajanya yang beragama Nasrani di Qistalah, dengan membawa hadiah yang megah dari Ibnu Ahmar,Sultan Granada. Ibnu Khaldun berhasil mengemban tugasnya dengan penuh keberhasilan. Ia menyebutkan kejadian ini dalam auto-biografinya Ta‟rif bahwasannya raja nya memintanya untuk tinggal di daerahnya dan menjanjikannya untuk mengembalikan harta keluarganya di Asybiliah –dimana dahulu, asybiliah merupakan daerah kekuasaan keluarganya. Dan iapun meminta maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan yang terjadi pada keluarganya. Namun Ibnu Khaldun menolak. Ia pun lalu diiazinkan untuk pergi. Sesampainya di Granada, Sultan menghadiahinya dengan sepetak tanah yang sangat luas atas kerjanya yang bagus dalam menyatukan politik antara Granada dan juga Qistalah. Maka bertambah banyaklah rezrkinya dan makin membaik keadaannya.

Sultan pun mengizinkannya untuk mendatangkan keluarganya dari Qisnitinah. Sultan pun lalu mengutus seseorang untuk mendatangkan mereka dari Thalmasan. Lalu Ibnu Khaldun pun bersiap menerima mereka dan memberikan pada mereka semua kebutuhan istirahat dan kebahagiaan. Ibnu Khaldun pun tinggal bersama keluarganya dengan senang dan bahagia selama beberapa bulan setelahnya.

Ibnu Khaldun mengambarkan dalam auto-biografinya masa- masa bahagianya ini dan pengaruhnya dalam perkembangan politik dan sastranya, dengan ungkapannya:

Lalu akupun bersiap untuk datang kekota itu. yaitu padatanggal delapan rabiul awal tahun enam puluh empat (764 H). Sultan pun telah siap dalam menyambutku. Ia

istananya, dengan tempat tidur dan segala kebutuhannya. Ia mengendarai kendaraan pribadinya untuk menemuiku dengan penuh kemuliaan dan kebaikan, balasan atas kebaikanku (atau balasan atas apa yang pernah Ibnu Khaldun berikan padanya dan juga pada mentrinya Lisanuddin bin Khatab pada pemerintahan Abu Salim). Lalu aku menemuinya dan ia pun menemuiku dengan penuh suka cita. Kemudian ia memberikan jabatan kepadaku dan lalu ia pun pergi. Menri Ibnu Khatib pun keluar dari tempatnya menuju tempatku lalu memposisikanku untuk masuk dalam aggota dewannya dan mengkhususkanku untuk

menerima semua bantuannya dengan jabatan yang

disandangnya serta berjalam dalam perahu yang sama dengannya dengan perwakilan dan juga kebaikan juga keriangannya dalam kebaikan hatinya. Lalu aku pun tinggal di tempatnya. Aku lalu pergi dari mereka (atau dia mengutusku untuk menjadi utusannya) pada tahun enam puluh lima (765 H) kepada seorang raja Qistalah yang lalim pada saat itu –Bathrah bin Hansyah bin azqunisy-

untuk menyempurnakan perjanjian perdamaian antara

dirinya dan juga musuhnya itu dengan memberikannya hadiah yang megah yang terdiri dari baju-baju sutra dan

juga kuda-kuda yang gagah (jiyad muqarrabah22). Yang

penih dengan emas yang berat. Lalu aku menemui raja yang lalim tersebut di asybiliah dan aku banyak menyinggung akan sejarah pendahuluku di Asybiliah, hingga akhirnya ia menghormatiku dengan sebaik-baiknya dan merasa senang dengan kehadiranku dan menyebutkan pendahulu-pendahulunya kami yang ada di Asybiliah. Ia

22

ia adalah kuda asli; karenanya disebut Muraqqabah karena ia adalah kuda yang taqrubu (mendekari) dan dihormati karena keasliannya. Ia tidak akan ditinggalkan jauh dari habitat unggulnua. Semua ini dilakukan untuk menjaga keaslian nasab unggulan kuda itu sendiri

pun memujiku di hadapan dokter pribadinya Ibrahim bin Zarzar, seorang Yahudi yang menguasai ilmu kedokteran dan astronomi, yang pernah menemuiku di Majlis Sultan Anan. Ia memanggilnya untuk meminta pengobatannya sedang pada saat itu ia sedang berada di rumah Ibnu Ahmar di Andalusia. Lalu ia pun pergi setelah mendapatkan persetujuan dari pejabat pemerintahan di daerahnya ke pada raja lalim itu dan tingal bersamanya dan memperoleh jabatan sebagai salah satu dokter pribadinya. Ketika aku datang kepada raja lalim itu,

dokternya sedang bersamanya, ia pun memujiku

dihadapannya. Pada saat itulah raja lalim memintaku untuk tinggal di daerah kekuasaannya dan ia mengatakan akan mengembalikan harta pendahuluku di Asybiliah yang berada di genggaman tangan pemimpin daerahnya. Aku pun menggunakan kesempatan ini seperti sebelumnya. Ia gembira dengan hal ini hingga pada saat aku harus

meninggalkannya. Ia lalu memberikanku bekal dan

membawakanku bekal dan kebutuhan perjalanan dan

mengkhususkan untukku bagal betina (peranakan kuda dengan keledai) yang tangkas dengan muatan yang berat dan sabuk dari emas. Keduanya aku hadiahkan kepada sultan. Lalu sultan memberikan padaku satu petak besar tanah desa Biirah yang merupakan cakupan dari tanah safy di daerah Granada, lalu aku menuliskan hal ini secara tersebar... lalu aku menghadiri Maulid Nabi untuk menyambut kedatanganku. Maulid itu diepringati dengan kegiatan yang mencakup didalamnya seruan dalam membuat syair sebagai pujian bagi raja Maroko. Pada saat itu, akupun menyenandungkan:

Dengan tetesan air mata ku isi kehidupanku

Aku bersumpah meninggalkan rumahku dan rumah mereka * Membawa hati akan memori mereka tanpaku Kuhentikan senandung sabar yang hilang setelahnya *

Kupinta gambaran namun tak dijawab

Ibnu Khaldun menuliskan keseluruhan qasidah ini yang berjumlah tiga puluh satu bait, termasuk didalamnya penolakan atas apa yang dilakukan mentri Umar bin Abdullah:

Demi persahabatanku, mereka bersumpah meninggalkan *

Tempat pertahanan mereka

bila mereka kehilanganku

Aku tinggal di tempat tertinggi hingga terlarang * Hampir Mereka berseri menyambutku Sedang aku menyendiri tak menemui mereka *

waktu ku ratapi namun tak seorangpun

meralat

Lalu ia berkata: aku menyenandungkannya pada tahun enam puluh lima (765 H) dalam acara khitanan anaknya dan juga dalam acara yang digelar untuk merayakannya. Ia lalu mengundang mereka ke jamuan makan yang merupakan satu Adat andalusia. Ia tidak mengundangku kecuali pada

saat aku mengingatkannya. Ia lalu menyebutkan

qasidahnya sebanyak tiga belas bait yang diawali dengan ungkapannya:

Kerinduan tampak bila tak terhalangi ungkapan dan ratapan *

Peringatan akan mendatangkan kesatuan dan ganjaran

Bila kutinggalkn rumah dan berpisah dengan terkasih

Diantara Qasidah ini pula, ada pujian akan kedua putranya akan khitanan mereka:

Keduanya api yang membara dalam petunjuk *

Dengan ayat membuka hati mereka dengan kekaguman

Dua bintang dilangit yang berkelip memanggil *

Mengalirkan Tempat tertinggi daripadanya Dua tangan mengulurkan kehormatan mengembang *

Kepada kemuliaan yang penuh dengan

bakat.

Lalu ia mengatakan:

Aku menyenandungkannya pada malam Maulid Nabi pada tahun yang sama:

Dia menolak untuk membiasakan karena ragu *

Siapa aku yang berkhayal untuk menjadi muslim

Aku memberinya petunjuk demi kepentinganku *

Kelopak mata menghujaninya demi hilangnya sedih

Ia menyebutkan qasidah ini secara keseluruhannya yang berjumlah sepuluh bait, lalu ia berkata: setelah aku kuat dengan keputusanku, dan ketenangan rumahku sedang sultan dalam keadaan senang, hingga banyak kasih sayang kepasa keluarga dan juga kenangan, aku lalu mengajukan

permohonan untuk mendatangkan keluargaku dari

pengasingan mereka di Qistinah. Diutuslah orang untuk menjemput mereka ke Thalmasan, dan memerintahkan

laksamana angkatan laut di Mariyyah23 untuk menerima

23

mereka di armada mereka. Mereka pun lalu pergi ke Mariyyah. Akupun meminta izin Sultan untuk menemui mereka. Aku menemui mereka dan menyembut mereka setelah sebelumnya aku menyiapkan rumah bagi mereka, taman dan juga perkebunan kurma serta semua kebutuhan hidup (Ta‟rif 84-90)

*****

Kebahagian ini tidak berlangsung lama, karena ‘musuh’ dan juga ‘tukang fitnah’ tidak pernah menunggu untuk merusak apa yang ada antara Ibnu Khaldun dan juga menteri Ibnu Khatib yang pada saat itu orang kuat di pemerintahan dan penguasa di setiap masalah dan juga tidak ada lagi kedekatan yang ada antara Ibnu Khaldun dengan sultan Granada. Mereka meniupkan angin kecemburuan dan mengingkarinya lalu terciumlah angin busuk ini oleh Ibnu Khaldun yang memperkeruh suasana diantara keduanya (Ta’rif 91-97). Ibnu Khatib sendiri berusaha untuk memperbaiki hubungan Ibnu Khaldun dan raja, dan raja pun terpengaruh atas segala usahanya dan terjadilah kekurang harmonisan antara dirinya dan Ibnu Khaldun. pada saat itulah Ibnu Khaldun menyadari bahwasannya ia tidak mempunyai tempat lagi di Granada dan tidak ada lagi yang bisa dilakukannya kecuali pergi meninggalkan Andalusia.

Bertepatan dengan itu, Abu Abdullah Hafsy, pemimpin Bijayah yang diturunkan kekuasaannya oleh Sultan Abu Anan, lalu dijadikan tahanan di Vas dan memenjarakannya bersama dengan Ibnu Khaldun atas konspirasi mereka mereka sebagaimana telah dijelaskan- telah mengambil alih kekuasaannya kembali dan memimpin kekuasaan Bijayah sejak tahun 765 H dengan menjadikan Yahya –saudara terkecil Ibnu

Khaldun- sebagai mentrinya. Abu Abdullah Hafsy belum melupakan Ibnu Khaldun yang merupakan teman seperjuangannya dan juga ia tidak melupakan janji yang ia katakan kepadanya di saat konspirasi itu terjadi atas abu Anan, dengan mendudukkan Ibnu Khaldun posisi Hijabah apabila ia kembali mendapatkan kekuasaannya. Lalu ia menulis kepada Ibnu Khaldun dan memanggilnya untuk meninggalkan Granada dan menyertainya dalam kepimpinannya dengan memberikan jabatan hijabahnya (yang merupakan jabatan tertinggi di pemerintahan setelah jabatan sultan, ia menyerupai jabatan perdana mentri pada masa sekarang ini), sebagai amanahnya atas janji yang pernah diucapkannya untuknya. Undangannya ini berpengaruh besar pada diri Ibnu Khaldun, khususnya disaat ia berkeinginan kuat untuk meninggalkan Andalusia. Setelah selesai permasalahannya dengan Sultan Granada dan mentrinya Lisanuddin bin Khatib, Ibnu Khaldun menunjukkan undangan tersebut kepada sultan Granada dan meminta izin untuk meninggalkan Granada. Ia diberi izin dan ia diberi bekal dengan semua kebutuhannya. Ia menuliskan kejadian ini pada tanggal 19 Jumadil Awwal 766 H seperti yang tertera pada Tasyyi‟24

yang diisi oleh mentri Ibnu Khatib sekitar dua halaman dari kertau ukuran besar yang berisi pujian kepada Ibnu Khaldun, keluarga dan pendahulunya serta kesedihannya atas perpisahan yang terjadi, dan memerintahkan kepada setiap komandan tentara, kepala suku, ataupun pegawai masyarakat; baik yang ada di darat ataupun lautan di berbagai perbedaan daerah dan tingkatan dan berbagai keadaan dan nasab untuk mengetahui hak seseorang yang memegang kertas ini, disetiap waktu dan tempat, yang membutuhkan bantuan dan perlindungan dan menjaga keselamatannya hingga

24

tujuannya. Perintah ini wajib dilaksanakan.25 Ibnu Khaldun pun meninggalkan Andalusi dengan mengendarai kapal laut dari Mariyyah menuju Bijayah di pertengahan tahun 766 H.

Dengan demikian,maka ia telah mneghabiskan waktunya di Andalusia selama dua setengah tahun saja.