Dalam buku Mukaddimahnya, tampaknya Ibnu Khaldun banyak memberikan kontribusinya dalam fenomena-fenomena sosial (phénomènes sociaux) yang disebutnya peristiwa yang terjada dalam peradaban manusia atau keadaan sosial kemasyarakatan.
Dalam pembahasannya tersebut, Ibnu Khaldun tidak memberikan definisi tertentu akan fenomena-fenomena ini ataupun menerangkan akan kriteria yang dapat membedakannya dengan yang lainnya yang umunya dijelaskan panjang lebar oleh para pakar ilmu sosiologi seperti Dwrkheim dalam bukunya ‘la méthode sociologique‟; Ibnu Khaldun hanya memberikan beberapa contoh, sebagaimana yang ia ungkapkan sebagai berikut: ‘telah menjadi sunnah sejarah adalah adanya kabar yang datang dari masyarakat untuk membentuk satu peradaban, dimana dalam peradaban itu sendiri mencakup hidup liar, keterputus asaan, fanatisme, penguasaan atas golongan
62
Terbitan baru yang ada, bertambah halaman dari terbitan yang sudah menyebar sebelumnya, dengan tambahan sepuluh pembahasan lain. Ini dapat dilihat dalam beberapa copy yang telah tercetak dalam kitab Mukaddimah
lainnya dan juga kemunculan para raja dan negara serta urutan-urutab kejadiannya. Juga banyak diterangkan akan usaha manusia dalam pekerjaan dan mata pencaharian mereka diberbagai bidang, baik itu nafkah, keilmuan, buah tangan atapun semua kejadian yang membentuk peradaban itu sendiri
pada umunya...( Mukaddimah: Bayan 261). Iapun kembali
menambahkan: sedang kami akan banyak menjelaskan dalam buku ini akan apa yang telah diusahan manusia dalam kehidupan bermasyarakatnya hingga membentuk satu peradaban, dilihat
dari kemunculan kerajaan, adanya mata pencahariab,
berkembangnya ilmu pengetahuan serta industrinya.
(Mukaddimah: Buan, 270)
Definisi Fenomena sosial pada umumnya adalah ungkapan atas adanya aturan-aturan dan tujuan umum yang diambil satu golongan masyarakat tertentu untukmengatur kehidupan bermasyarakat yang ada pada mereka dan merekatkan hubungan yang mengikat mereka satu sama lain, baik antara individu masyarakat tersebut atapun dengan yang lainnya.
Fenomena ini dapat dibagi menjadi beberapa bagin dilihat dari berbagai jenisnya. Bila dilihat dari tugasnya atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai dari semua aturan yang dibuat untuknya, maka kita pun masih dapat membaginya lagi dalam berbagai bagian: Diantaranya adalah peraturan rumah tangga yang berhubungan erat dengan perkara keluarga dan rekatnya hubungan yang mengikat individu satu dengan lainnya dari anggota keluarga itu sendiri ataupun dengan lainnya dengan menetapkan hak dan kewajiban yang ada pada mereka; seperti undang-undang pernikahan, perceraian, kekerabatan. Hak waris... dan banyak lainnya. Lalu ada pula undang-undang politik yang berhubungan dengan perkara hukum dalam suatu negara dan pemilihan pemimpin yang ada didalamnya, menetapkan kriteria setiap pemimpin yang akan dipilih, hak
dan kewajiban serta berbagai hubungannya dengan kekuasaan, baik hubungan dengan rakyat ataupun yang berkaitan dengan negara lainnya... dan lainnya. Selain itu pula, terdapat undang-undang yang menyangkut perekonomian negara yang mengarah kepada masalah kekayaan yang ada dalam masyarakat dengan menetapkan cara mendapatkannya dan distribusinya serta kepemilikannya serta semua yang berhubungan dengan hal tersebut. Lalu terdapat juga peraturan kehakiman yang mengurusi perkara tanggung jawab, ganjaran, proses pengadilan ataupun semua yang berhubungan dengan masalah keadilan. Lalu terdapat pula peraturan moral kemasyarakatan yang membedakan antara yang baik dengan yang buruk, yang terpuji atau yang tercela serta segala kewajiban untuk selalu bersikap dan berpikir baik hingga kedua ini mampu menjadi dasar kehidupan masyarakat. Terdapat pula peraturan beragama yang mengurusi masalah akidah yang memahami alam yang suci atau pun hal-hal mistis dan semua hal yang berhubungan dengan masalah keagamaan yang dianut oleh banyak masyarkat, baik dari kaidah dasar ataupunbentuk pengajaran dan penyebarannya. Didapati pula perundang-undangan akan bahasa yang berhubungan dengan cara komunikasi dan memunculkan adanya sikap saling pengertian dalam individu masyarakat dengan menukil pemikiran yang ada pada mereka juga dan juga menampung semua ide-ide yang menghasilkan satu pemikiran tertentu. Lalu ada pula perundang-undangan yang mengatur masalah pendidikan yang berhubungan dengan cara yang ditempuh masyarakat dalam mencetak generasi selanjutnya serta dalam usahanya dalam menyambut masa yang akan datang. Lalu didapati pula perundang-undangan yang mengatur masalah estetika (keindahan) yang mengatur kehidupan masyarakat dalam masalah keindahan seni seperti halnya puisi, syair, musik, lagu, fotografi dan semua yang
berhubungan dengan hal ini. Dan pula ada perundang-undangan yang mengatur akan pembangunan kemasyarakatan atau undang- undang kelompok, dimana sekolah Durkheim menyebutnya La morphologie Sociale, yang mengatur masalah himpunan individu yang berkembang menjadi satu kelompok tertentu atau mengatur masalah kelompok itu sendiri., sebagaimana halnya masalah kaidah dasar yang ada pada kepadatan dan kosongnya penduduk dilihat dari luasnya daerah, dan juga kaidah dasar akan adanya undang-undang yang mengantur migrasi penduduk dari kota ke desa atau pun sebaliknya; juga dari satu negara ke negara lainnya. migrasi adalah berhubungan dengan adanya golongan individu yang membentuk akan satu kelompok tertentu, lalu keadaan pun berubah dengan adanya migrasi ini. Selain itu hal ini pun menyangkut perundang-undangan yang harus dipatuhi masyarakat dalam hal membangun suatu daerah tempat berkumpulnya individu masyarakat seperti halnya desa, kota, tempat tinggal penduduk, jalan penghubung yang harus di design bentuk dan rupanya sesuai dengan medan yang harus dilaluinya seperti halnya gunung, laut, sungai dan semua hal yang berhubungan dengan perkara ini.
Namun apabila dilihat dari fenomena sosial yang berhubungan dengan pemikiran dan tugas yang dilaksanakan, maka kita dapat membaginya hanya kepada dua bagian. Pertama adalah yang mewakili akan kaidah dasar yang membimbing pemikiran yang muncul atau undang-undang dan rambu-rambu yang harus dipenuhi dan dipatuhi setiap anggota masyarakat dalam menelurkan pemikirannya, baik yang bersifat umum ataupun pribadi, sebagaimana adanya rambu-rambu moral yang harus dimiliki setiap anggota masyarakat sebagaimana ia meyakini bahwasannya jujur adalah perbuatan baik dan bohong adalah perbuatan buruk. Sedang bagian lainnya adalah yang mewakili akan kaidah dasar yang mengarahkan segala tindak
tanduk individu; seperti halnya adanya rambu-rambu yang harus dipenuhi dalam melakukan segala hal. Dengan misal, apabila ia menginginkan suatu pernikahan, maka ia harus melakukan akad dengan pihak lainnya yang akan hidup dengannya dengan memenuhi segala persyaratan yang ditetapkan.
Apabila dilihat dari ketetapan dan perkembangan, maka kita dapat membaginya atas dua bagian pula. Pertama adalah yang mewakili akan undang-undang dan peraturan yang tetap dan kokoh, yang lalu menjadi bagian dari hukum yang ada di masyarakat; seperti halnya undang-undang keluarga, politik, kehakiman, agama dan juga etika yang ada dalam lingkungan masyarakat. Sedang bagian lainnya mewakili atas pemikiran- pemikiran yang berkembang namun belum menjadi acuan tetap; namun ia masih dalam satu proses untuk itu. Semua ini disebabkan karena fenomena sosial kemasyarakatan sifatnya berkembang dan berubah. Ia berbeda satu samalain sebagaimana berbedanya satu masyarakat dengan lainnya dan berbedanya kebutuhan hidup satu dengan lainnya; sebagaimana berbedanya masyarakat yang satu bila dilihat dari zaman yang berbeda. Perkembangan-perkembangan ini akan muncul setelah adanya pemikiran-pemikiran yang mengarah padanya, lalu ia akan berusaha untuk merubah aturan lama dengan memasukkan unsur- unsur baru di dalamnya atau dengan mengubah haluan dan tujuannya. Pemikiran-pemikiran ini sudah tentu bersebrangan dengan aturan lama hingga akhirnya bisa dilihat yang lebih mendominasi diantara keduanya dan lalu ditetapkan menjadi acuan yang kokoh. Pemikiran pun pada dasarnya akan mengalami banyak fase sebelum ia akhirnya diakui keberadaannya atau bisa dijadikan satu acuan untuk menjadi satu fenomena sosial kemasyarakatan. Selama pemikiran itu masih bisa muncul dalam masyarakat dan diinginkan keberadaannya dan di gambarkan
tujuanya, maka ia akan mampu menjadi acuan hidup yang tetap dan mengubah acuan sebelumnya.
Kita pun masih dapat melihat fenomena sosial kemasyaratan ini dari berbagai segi lainnya dan membaginya atas beberapa bagian lainya. Namun bagian yang telah disebutkan di atas adalah bagian-bagian pentung yang penulis rasa cukup mewakili bagian-bagian lainnya.
*****
Demikianlah. Tampak dari apa yang ditulis Ibnu Khaldun dalam Mukaddimahnya, bahwa ia meiliki banyak ide-ide yang jelas dan luas akan fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan yang meliputi semua jenis fenomena sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Ia tidak meninggalkan sedikitpun dari bagian-bagian yang ada; ia telah mempelajari semuanya.
Pada bab pertama dan keempat dari kitab Mukaddimahnya, jelas digambarkan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan cara berkumpulnya individu-individu yang akhirnya membentuk suatu kelompok masyarakat. Jelas digambarkan pada bab pertama akan pengaruh letak geografis akan fenomena sosial yang terjadi. Bangsa inilah yang disebut oleh Durkheim ‘La morphologie sociale‟ atau ilmu pembentukan suatu masyarakat. Setiap murid yang belajar pada Durkheim mengira bahwa ialah orang pertama yang mempelajarinya dan juga orang pertama yang mempelopori akan ilmu kemasyaratan dan juga mempelajarinya secara mendalam. Tidak ada seorang pun yang mengira bahwa ada seseorang yang telah mendahuluinya dalam mempelajari ilmu tersebut beberapa abad sebelumnya. Ialah Ibnu Khaldun, yang telah menjelaskan masalah ini secara gamblang dalam dua bab yang ada dalam kitab mukaddimahnya.
Ibnu Khaldun menjelaskan akan sepuluh pembahasan pertamanya dari Bab keduanya akan fenomena-fenomena yang berkaitan tentang masa lalu, kini dan yang akan datang dan asal usul akan pembentukan masyarakat madani (perkotaan)
Sedang pada sembilan belas pembahasan lainnya pada bab yang sama dan demikian pula disemua pembahasan pada bab ketiga, ia banyak menjelaskan tentang undang-undang hukum dan politik.
Ia menggambarkan dalam tujuh pembahasan pada bab ketiga63 dan enam pembahasan lainnya pada bab empat64 dan semua pembahasan pada bab kelima tentang fenomena perekonomian.
Sedang pada bab keenam, ia menggambarkan akan fenomena pendidikan dan ilmu pengetahuan, tingkatannya dan juga metode pengajarannya. Ditengah pembahasannya akan masalahini, banyak didapati fenomena-fenomena lainnya seperta fenomena keadilan, moral, kesenian, agama dan juga bahasa. 65
63 pembahasan ini pun terkait dengan perkara perundang-undangan hukum
dan politik. Dua unsur penting pada bab ini adalah adanya pembahasan jibayah dan juga penyebab kematiannya serta akan volumenya yang meningkat. Juga adanya pembahasan akan perang yang dilakukan oleh Mukawwis terhadap Negara-negara terakhir yang muncul hal 155. dan
pembahasan akan jual beli yang dilakukan seorang pemimpin berbahaya bagi rakyatnya. Juga pembahasan bahwa kekayaan seorang pemimpin dan sampingan yang didapatkannya didapatkan di tengah waktu kepemimpinannya. Juga pembahasan bahwa berkurangnya pemberian dari seorang raja berdampak akan berkurangnya jibayah. Juga pembahasan bahwa kedzoliman membolehkan
adanya perusakan suatu bangunan dan pembahasan akan hancurnya bangunan adalah akhir dari suatu pemerintahan.
64 Yaitu pembahasan-pembahasan yang mengandung dua unsur; pembahasan
akan kelebihan suatu daerah dan suatu kota dilihat dari moral yangbaik dari penduduknya dan penghasilan yang dihasilkan oleh pasarnya. Juga pembahasan akan harga-harga yang ada di suatu daerah, pembahasan akan perbedaan keadaan suatu daerah dilihat dari moral akhlak dan juga kefakirannya, pembahasan akan hak pembangunan suatu bangunan dan juga hilangnya hak tersebut, pembahasan akan kebutuhan para investor akan tempat tinggal dan perlindungan dari penduduk yang ada juga pembahasan akan kekhususan sebagian daerah dilihat dari industrinya.
65
Ia pun banyak menjelaskan akan fenomena beragama dan semua yang
*****
Dalam menjelaskan semua pembahasan ini, Ibnu Khaldun sangat memperhatikan dan juga membahas akan banyak kelompok dalam dua halnya; yaitu kestabilan dan juga perkembangannya secara bersamaan. Juga membahas akan pemikiran-pemikiran yang muncul dan pengaruhnya dalam perubahan yang terjadi dan juga adanya komunikasi dan kesepahaman antara masyarakat akan undang-undang yang berhubungan pekerjaan dan juga moral masyarakat.
3.Tujuan Mukaddimah Ibnu Khaldun: Menyingkap adanya undang- undang yang berpengaruh atas fenomena sosial kemasyarakatan yang terjadi
Dibalik pembahasan Ibnu Khaldun akan banyak fenomena sosial kemasyarakatan, tampak bahwasannya Ibnu Khaldun berusaha menyingkap akan Qanun undang-undang setempat yang mempengaruhi terjadinya fenomena tersebut. Ia pun membahas undang-undang ini, dimulai dari kemunculannya hingga perkembangannya diberbagai waktu dan keadaan.
Kalimat Qanun dalam definisi ilmiahnya adalah adanya keterkaitan akan sebab dan penyebabnya, suatu mukaddimah (permulaan) dengan hasil akhirnya atau dengan bahasa lainnya yaitu: Sesuatu yang hasil yang timbul atas suatu sebab yang khusus yang menyertainya hingga hasil yang timbul tersebut merupakan hasil dari penyebabnya. Sebagaimana yang diungkapkan Montesquieu: les lois sont les rapports nécessaires que résulten de la nature des choses (suatu hal
orang-orang yang mengetahui masalah ghaib, hakikat kenabian dan banyak lainnya. Ia pun banyak menjelaskan akan fenomena bahasa pada pembahasan kedua dan kedua puluh pada bab keempat dimana ia banyak menjelaskan akan banyak bahasa masyarakat perkotaan.
yang mengisyaratkan akan adanya keterkaitan yang terjadi dan merupakan hasil dari adanya suatu penyebab yang dilakukan.
Sedang para pakar biologi dan matematika menjelaskannya bahwasannya ia merupakan kaidah dasar yang menjelaskan akan hubungan seba-akibat diantara dua hal atau lebih maka itulah yang disebut qanun atau hukum; sebagaimana adanya hukum gravitasi, hukum Archimedes, hukum Bowl dalam hal biologi, hukum-hukum leuntungan yang mencapai dua pertiganya dan juga hukum perkalian dalam hitungan matematika.
*****
Demikianlah. Dapat dilihat bahwasannya manusia sejak zaman terdahulu telah mengamati akan tunduknya bintang- bintang dan planet dalam perputarannya dan tunduk terhadap peraturan yang tetap. Semua ini hanya dapat disadari apabila ia akan terus mengamatinya hari demi hari dan meneliti lebih dalam akan prilaku dan peraturan yang ada. Pengamatan inilah yang akhirnya menjadi landasan dan pondasi dasar akan munculnya suatu ilmu pengetahuan yang semuanya itu diawali dengan pengamatan bintang, bulan dan segala benda yang ada dilangit yang kemudian dikenal dengan nama ilmu astronomi.
Dengan berkembangnya pemikiran manusia, mereka pun akhirnya meyakini akan adanya ketertundukan fenomena undang- undang yang mulai sedikit demi sedikit stabil hingga meliputi semua aspek dan kisi-kisi kehidupan. Para peneliti itu pun lambat laun mulai membuat dan mengenal ilmu biologi, kimia, geografi, Fisiologi dan banyak ilmu lainnya yang semuanya bermula dari fenomena alami yang ada dalam kehidupan keseharain. Semua perkembangan yang ada dalam ilmu-ilmu tersebut terus diamati perkembanannya sesuai dengan hukum yang menaunginya.
Sebelumnya, manusia telah mengetahui adanya hukum hitung, berat dan ukuran dimana semua hal tersebut dapat dilihat bila ditimbang dan diukur ataupun dihitung, lalu dari sini, muncullah ilmu-ilmu matematika seperti ilmu ukur, aljabar, geometri dan lainnya
Tak berselang lama, para pemikir pun mulai melihat adanya suatu peraturan yang terpancar dalam sisi kejiwaan individu mansuia seperti halnya bagaimana ia menghafal, mengkhayal, membutuhkan suatu arti, bertelepati, merasakan, menghukumi, menjelaskan, optimis, rasa kasih sayang, keinginan dan banyak lainnya. dari sini kemudian timbul ilmu yang dikenal dengan ilmu psikologi.
Tidak ada seorang pun yangmengamati fenomena sosial kemasyarakatan untuk pertama kalinya, kecuali yangdipelopori oleh Ibnu Khaldun yang menerangkan akan rentetan peristiwa yang terjadi dan ketertundukannya atas peraturan yang ada dan stabil sebagaimana yang adalam dalam peraturan dan hukum yang ada dalam ilmu biologi ataupun matematika. Dengan demikian, bisa dilihat, belum ada seorang pun yang mengkonsentrasikan masalah ini sebelumnya kecuali Ibnu Khaldun.
4. Penelitian akan masalah sosial kemasyarakatan sebelum Ibnu Khaldun dan perbedaan yang mencolok antaranya dengan penelitian yang tergambar dalam buku Mukaddimah Ibnu Khaldun yang kemudian memunculkan satu ilmu baru yag dikenal dengan ilmu sosial.
Penelitian yang dilakukan para pemikir dan pakar sebelum Ibnu Khaldun akan fenomena sosial kemasyarakatan menempuh jalan yang berbeda dari jalan yang dilalui oleh para pakar ilmu biologi dan matematika dalam mendalami ilmu mereka. Mereka memberikan dan mengarahkan satu solusi atas
suatu permasalahan dan tidak terikat untuk tunduk kepada hukum sebab-akibat, serta tidak terlalu dipentingkan untuk mengungkap latar belakang yang ada padanya ataupun pengaruh yang merefleksikan adanya fenomena tersebut.
Cara yang mereka tempuh untuk mempelajari fenomena sosial tersebut dapat dibagi menjadi tiga jalan:
Pertama adalah dengan melihat sejarah murni yang melatar belakangi satu individu atau kelompok akan fenomena yang terjadi dengan menjelaskan definisi dan permulaan munculnya, tanpa adanya usaha untuk menyimpulkan sesuatu apapun dari penggambaran ini semua yang berkaitan dengan semua fenomena dan hukum sebab-akibatnya. Jalan ini telah ditempuh banyak sejarawan sebelum Ibnu Khaldun. Disaat mereka mencoba memberikan solusi atas permasalahan sejarah secara umum, mereka menemui banyak kesulitan dan ketimpangan dalam berbagai kisi-kisinya; begitupun dalam kaitannya dengan hal lainnya, seperti perundang-undangan politik, kehakiman, ekonomi, keluarga, pendidikan, bahasa dan semua fenomena sosial yang mereka banyak gambarkan kesemuanya itu disaat mereka mempelajari sejarah suatu bangsa, merekapun menemui kesulitan yang sama. Diantara mereka pun ada yang mempelajari sejarah fenomena sosial masyarakat yang terjadi secara independen dengan tidak mengaitkannya dengan permasalahan lainnya. mereka mengkhususkan topik-topik yang mereka akan pelajari. Apakah hanya fenomena politiknya saja, atau keadilan yang ada dalam negara tersebut, ekonomi, pendidikan atau pun hanya masalah keagamaannya saja. Mereka mengerucutkan permasalahan dan pembahasan dengan menggambarkan definisi dan sejarahnya secara keseluruhan. Inilah yang dilakukan oleh Ibnu Hazm yang tergambar dalam bukunya yang membahas akan masalah keberagamaan dan keyakinan suatu masyarakat; juga yang dilakukan para pakar
fiqh dalam mempelajari syariat yang ada, dan juga dilakukan oleh para peneliti dalam mengkaji sejarah pembentukan hukum ataupun sejarah hukum itu sendiri.. dan banyak lainnya.
Jalan kedua adalah melalui jalan yang dimulai dari permulaan sejarah itu sendiri mencakup semua aspek didalamnya baik dari berbagai fenomena sosial kemasyarakatan yang ada, baik dilihat dari keyakinan yang dianut, urf (adat kebiasaan) nya dengan menyebutkan semua kebaikan dan keinginan yang ingin dicapai masyarakat tersebut dan muncul dalam diri mereka dan kekuatan dalam pencapaiannya, juga peringatan bagi siapapun dari mereka yang melewai batasan yang telah ditetapkan, hal-hal yang harus dipenuhi dan dilaksanakan dalam hak dan kewajibannya dan banyak lainnya. jalan ini adalah jalan yang banyak ditempuh oleh para pemuka agama dan juru dakwah dan juga para pakar kepribadian, juga sebagian peneliti dalam urusan politik dan pemerintahan, sebagaimana yang dilakukan Ibnu Miskawaih dan terlihat dalam bukunya yang berjudul Tahzibul Akhlak, ataupun Gazãli dalam bukunya Ihya Ululmuddin, Juga Ibnu Qutaibah Ad Danury dengan bukunya Uyunul Akhbar, Mawardi dengan karyanya Al Ahkam As
Sulthaniah dan juga Al Wuzara wa siyasatul Malik, diikuti
pula oleh Tharbusy dengan bukunya Sirajul Muluk, dan Ibnu Thabathaba At Thaqtaqi dalam karyanya Al Fakhru fil Adab As Sulthaniah wa Daul Al Islamiah.
Jalan ketiga adalah jalan yang ditempuh sebagian peneliti sebelum Ibnu Khaldun dalam mengamati dan mempelajari fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan adalah dengan memberikan hal yang harus dilakukan suatu masyarakat dengan fenomena yang ada dalam masyarakat tersebut menurut aspek idealis yang diharapkan dari keseluruhan masyarakat yang ada. Hal ini ditempuh oleh Plato sebagaimana yang tergambar dalam bukunya Jumhuriyah dan Qawanin, atau
Aristoteles dalam karyanya Akhlak dan Siyasah, juga Ibnu Farabi dalam bukunya Araau Ahli Madinatul Fadhilah. Setiap individu dari mereka menjelaskan apa yang harus dilakukan dengan segala fenomena yang ada di masyarakatnya hingga mereka mampu menjadi masyarakat yang maju dalam pandangannya, pandangan para filsafat yang merumuskan sesuatu yang baik dan juga buruk, tatanan hukum dan berbagai permasalahan masyarakat.
Ada satu bagian lagi yang tersisa dalam metode mempelajari fenomena-fenomena soasial yang belum pernah dilakukan seorangpun sebelum Ibnu Khaldun; metode ini adalah metode terpenting dan merupakan penelitian yang berdasarkan atas suatu kebenaran; yaitu dengan tidak mempelajari fenomena tersebut berdasar penggambarannya saja, atau mengamatinya lebih dalam ataupun hanya menjelaskan apa yang harus dilakukan lebih banyak dalam mencapai masyarakat yang ideal, namun semua ini harus disertai dengan analisa yang mendalam hingga mampu mengungkap pembawaan dasarnya dan juga dasar yang melandasinya juga aturan yang berlaku didalamnya; atau dengan mempelajari apa yang dipelajari pakar astronomi dalam mempelajari ilmu perbintangan ataupun ilmuwan biologi, kimia atau kedokteran atau yang berhubungan dengan keilmuan tersebut.
Metode dalam mengamati dan mempelajari fenomena sosial ini dapat dilakukan bagi siapapun yang dapat meyakini bahwa fenomena sosial kemasyarakatan tidak berjalan berdasarkan hawa nafsu atau hanya satu kebetulan saja, atau sesuai