• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyebab Ibnu Khaldun menimbulkan ilmu baru in

Dalam dokumen Kejeniusan Ibnu Khaldun | Abu Dzakwan's Blog (Halaman 147-164)

Penyebab utama yang menginspirasikan Ibnu Khaldun untuk membidani kelahiran ilmu baru ini adalah keinginannya untuk melepaskan semua penelitian dan pembahasan sejarah dari info-info kamuflase. Dengan menciptakan semua peralatan dalam mempelajari ilmu sejarah inilah, maka para peneliti dan juga para pemikir dapat membedakan semua kabar dan info yang diyakini kebenarannya ataupun yang mempunyai bibit- bibit kebohongan dilihat dari fenomena-fenomena sosial kemasyarakat yang berkembang pada saat peristiwa yang dimaksud terjadi, hingga semua kabar atau informasi yang diperkirakan bohongnya, dapat dijauhkan dari penelitian yang diinginkan dan mereka pun dapat lebih mengkonsentrasikan diri pada semua kabar dan informasi yang lebih akurat dan dipercaya atau yang lebih diyakini keakuratannya dan kemungkinan terjadinya dilihatdari fenomena sosial kemasyarakatan yang berlaku.

Ibnu Khaldun melihat, bahwasannya buku-buku sejarah yang ditulis dan diterbitkan banyak mengandung berita-berita yang kurang bisa diyakini kebenarannya; hingga ia merasa mempunyai kewajiban untuk membersihkan hal tersebut dari kabar-kabar dan berita tersebut dan memberikan kabar yang lebih akurat kepada semua pembaca yang menginginkan suatu kebenaran akan fenomena sosial yang terjadi dengan berusaha untuk tidak mencampur adukkan antara berita yang akurat kebenarannya dengan berita yang diragukan kebenarannya. Ia melihat bahwasannya solusi dan pemecahan untuk mengatasi masalah diatas adalah dengan mengetahui penyebab mengapa para penulis dan para pemikir menuliskan dan menyebarkan kabar dan berita yang diragukan kebenarannya dan juga terkadang mereka menukil berita yang tidak layak tersebut. Disaat ia mengetahui penyebab-penyebab tersebut, maka akan didapati solusi dan pemecahan akan permasalahan tersebut dan

juga membersihkan diri dari hal-hal tersebut. Ia pun banyak merenung dan memikirkan hal ini dengan mengamati banyak karya-karya sejararawan sebelumnya dan apa yang tertulis didalamnya dari kabar-kabar yang diragukan kebenaran dan keakuratannya dan ia akhirnya dapat menyimpulkan, bahwasanya penyebab dalam adanya kebohongan dalam menulis suatu sejarah ataupun menerima dan menukil sejarah dari orang lain, dapat dilihat dari tiga aspek:

Pertama; semua ini kembali kepada pribadi penulis sejarah itu sendiri, juga keinginan dan kecenderungannya akan orang-orang yang dapat ia nukilkan akan sejarah yan ia inginkan dan seberapa jauh kecenderungan ini menguasainya ambisinya dan kepercayaannya atas semua kabar dan berita yang ia dapatkan; termasuk didalamnya isu-isu pendapat akan suatu peristiwa dan juga para mazhabnya. Karena jiwa bila dalam keadaan normal dalam menerima suatu berita, maka ia akan menerimanya sesuai porsi yang dibutuhkannya dengan melalui pengamatan dan pemikiran yang dalam, hingga ia dapat mendeteksi kebenaran dan juga kebohongan berita yang didapatkannya. Namun apabila dalam posisi yang tidak normal, karena suatu hal dan lainnya, maka ia akan terbawa kepada isu-isu yang tidak bisa dipertanggung jawabkan keshahihannya dan ia pun akan menerima berita sesuai dengan kecenderungan akan apa yang ia butuhkan tanpa mengamatinya dan berpikir akannya lebih dalam. Kecenderungannya akan satu hal inilah yang akan menjadi penghambat baginya untuk menyaring berita yang didapatinya dan juga menutup mata hatinya untuk dapat mengamati dan memikirkannya lebih dalam hingga akhirnya tanpa disadarinya, ia telah menerima kabar yang tidak dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya. Juga termasuk didalamnya, kebanyakan dari para penulis atau sejarawan sangat menyenangi kedekatan mereka dengan para penguasa

ataupun para jutawan dan memberikan mereka pujian dan sanjungan diluar batas keawajaran dengan seolah menganggap bahwa apa yang terjadi pada mereka adalah suatu kebaikan secara mutlak sehingga semua peristiwa yang terjadi seolah adalah sesuatu yang pantas diagungkan. Mereka pun menyanjung dan memuji para penguasa tersebut dengan pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya tidak ada dan tidak pernah dilakukan sebelumnya demi menyenangkan hati mereka hingga akhirnya menyebarlah kabar dan berita-berita bohong ini ke penjuru negeri. Jiwa pada dasarnya sangat menyenangi pujian dan manusia pun mencari dunia -baik itu berupa kekuasaan ataupun harta yang berlimpah- dengan segala cara untuk mencapainya. Tidak banyak orang yang sangat benar-benar jujur dan bijaksana dan berlomba-lomba dalam kebaikan.66 Dan inilah yang banyak ditulis oleh banyak sejarawan tentang keluarga para raja, baik kebijaksanaan dan juga kemuliannya di berbagai zaman.

Untuk mengatasi golongan ini, dengan memisahkan jiwa sejarawan ataupun penulis dari kecenderungan-kecenderungan pribadi ataupun dari mengikuti isu yang tidak bisa dipertanggung jawabkan dan juga dari faktor-faktor yang membuatnya untuk menyelewengkan sejarah itu sendiri dengan menulis sejarah tanpa harus terikat dengan pemikiran yang sedang berkembang, dan juga dengan mengkonsentrasikan diri dalam mengamati dan mempelajari semua berita yang yang

66 Mukaddimah: Bayanm 261,262. Ibnu Khaldun menyebutkan dua hal yang

menjadi permisalah kelompok pertama ini yaitu adanya isu-isu pendapat akan suatu berita dan sejarah dan juga mazhab-mazhabnya dan

menggambarkan bahwasannya dua hal ini saling terpisah asatu sama lain. Namun pada kenyataannya, kedua hal ini bermuara pada satu asal

sebagaimana yang telah penulis jelaskan. Satu asal ini bermuara atas empat hal lain yang disebutkan Ibnu Khaldun dalam penyebab ketidak akuratannya suatu berita, yaitu: kejujuran sumber berita, keraguan akan kejujurannya, bodoh/tidak mengetahui akan tujuan suatu peristiwa yang terjadi dan juga tidak mengetahui akan adanya intervensi suatu berita dan adanya kebohongan yang ada didalamnya.

didapatkan, khususnya yang diragukan keabsahannya baik karena ada kecenderungan dan kepentingan didalamnya, atau karena isu yang berkembang atau hanya karena demi kepentingan satu penguasa tertentu.

Kedua; terjadi karena ketidak tahuan akan perangkat aturan yang mempengaruhi fenomena sosial masyarakat yang sedang dipelajarinya sebagaimana yang ada dalam fenomena- fenomena bintang, kimia, biologi, binatang, tumbuhan dan banyak lainnya. banyak sejarawan atau penulis yang tidak mengetahui akan perangkat aturan ini dan mereka langsung menulis sejarah tersebut tanpa mengetahui bahwa aturan yang berlaku menghukumi berita yang mereka dapatkan tersebut dengan suatu kemustahilan. Bisa diambil contoh dengan apa yang dinukil Mas’udi dari raja Iskandar ketika diberitakan bahwa penghuni laut (syetan lautan) turut membantu pembangunan kota Iskandariah dan juga ketika diberitakan kepadanya bagaimana ketika diambil gelondongan kayu, ditemukan dibawahnya kotak kaca yang ditenggelamkan di bawah lautan hingga ia bisa membentuk rupa penghuni lautan tersebut yang kemudian terlihat dan membentuk rupa loga, dan membantunya dalam pembangunan pilar bangunan. Para penghuni laut tersebut kabur ketika aku keluar menemuinya dan memperhatikannya. Namun akhirnya selesai juga pembangunan kota Iskandariah sebagaimana dalam kisah panjang dari percakapan yang khurafat yang mustahil terjadi... itu karena sesuatu yang tenggelam di dalam air, walaupun ia berada dalam suatu kotak, maka akan menyebabkannya sulit bernafas dengan cara normal hingga tekanan tubuhnya akan panas dan akhirnya ia akan mati. Ia akan kehabisan udara dingin nomal yang diperlukannya untuk mengontrol sirkulasi paru-paru dan

jantung hingga akhirnya menyebabkan kematian.67 Inilah sebab dari kematian orang-orang di tempat pemandian uap dimana mereka diletakkan pada satu tempat dimana udara dingin bersikulasi dengan debu dan udara tempat tersebut saja, maka udara akan menjadi menjadi panas dan tidak mendapat sirkulasi udara dari luat. Maka sesungguhnya sirkulasi yang ada dapat menyebabkan kematian saat itu juga (mukaddimah: Bayan 263)

Untuk mengatasi golongan ini yaitu dengan memberikan para sejarah dan para penulis keilmuan biologi dan segala aturan-aturan yang berlaku padanya dengan mengenyahkan semua faktor yang tidak sejalan dengan aturan-aturan ini. Seandainya Mas’udi sepakat dan mengetahui ilmu fisiologi dan teknik bernafas dalam diri manusia dan juga binatang, maka bisa jadi ia tidak akan menukil berita mustahil dari raja Iskandar ini.

Tidak ada pengecualian bagi setiap penulis ataupun sejarawan untuk mengetahui keilmuan ini. Karena ilmu biologi atau ilmu yang mempelajari akan fenomena-fenomena alam telah berkembang secara luas pada masa Ibnu Khaldun. dan para pakarnya telah berhasil mengungkapkan banyak aturan-aturan yang mempengaruhi kesatuan alam dalam banyak penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan. Karenanya tiada alasan untuk para penulis dan juga sejarawan untuk tidak mengetahui akan aturan-aturan ini, sebagaimana tidak ada alasan bagi mereka atas apa yang mereka riwayatkan atas kabar yang ternyata bersebrangan dengan kenyataan yang ada. Sudah menjadi kewajiban bagi mereka sebelum menulis penelitian dan pembahasan sejarah yang akan mereka sampaikan, untuk

67

Alat untuk menyelam belum diciptakan pada masa Ibnu Khaldun; karenanya akan mustahil ia dikenal pada zaman raja Iskandar Agung

mengetahui hasil-hasil yang telah berhasil diungkap para pakar biologi.

Ketiga; terjadi karena ketidak tahuan akan aturan- aturan yang mempengaruhi fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan yang terjadi. Ini karena fenomena sosial kemasyarakatan tidak berjalan atas suatu keinginan atau ataupun satu kebetulan, namun ia dipengaruhi oleh aturan- aturan yang stabil dan diakui oleh seluruh masyarakat. Dalam hal ini Ibnu Khaldun mengatakan: dan satu penyebab terjadinya ketidak akuratan dalam satu berita adalah ketidak tahuan penulis atau sejarawan akan adat istiadat dan juga kebiasaan yang berlaku dalam suatu peradaban yangada. Setiap kejadian yang terjadi tentunya merupakan implikasi atas suatu adat istiadat yang terjadi dan juga lingkungan yang

mempengaruhinya. Apabila seorang pendengar mengetahui

lingkungan tempat suatu peristiwa, maka ia akan dapat memilah suatu berita yang bisa dipercaya keakuratannya ataupun berita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan sama

sekali(Mukaddimah: Bayan, 262) Namun apabila berkeyakinan

pada satu berita dengan hanya sekedar menukilnya saja dari sumbernya, dimana tidak dipelajari didalamnya pengaruh atas aturan-aturan adat istiadat peradaban yang berlaku dan juga lingkungan sosial kemasyarakatannya, bisa jadi berita yang ia dapatkan tidak dapat diakui keabsahan dan keakuratannya (Mukaddimah: Bayan, 219)

Inilah yang sebenarnya telah terjadi. Banyak penulis dan sejarawan yang menuliskan berita nampu tanpa mengetahui aturan-aturan adat istiadat dan peradaban yang berlaku yang mempengaruhi kehidupan bermasyarakat hingga apa yang telah dibahasnya kurang bisa mencapai tujuan yang ingin dicapainya dari keansahan suatu berita, hingga merekapun tanpa sadar menuliskan suatu berita yang menurut aturan yang berlaku

sulit untuk terjadi karena bertentangan dengan peradaban yang ada dan juga lingkungan sosial kemasyarakatannya. Bisa diambil contoh dengan berita yang dinukil oleh Mas’udi dan banyak sejarawan dari bani Israel yang mengisahkan bahwa disaay Musa menghitung jumlah prajurit yang ada pada peristiwa Tiyyah68 -setelah pembolehan membawa senjata bagi siapapun yang mampu dan berusia diatas dua puluh tahun, ia mendapati jumlah keseluruhan prajuritnya berjumlah 600.000 prajurit atau lebih.69 Namun jumlah ini menurut kenyataan dan aturan yang ada, ternyata melebihi jumlah penduduk yang ada pada saat itu, hingga berita ini bisa diragukan keabsahannya. Sesungguhnya antara Musa dan Israel terdapat jarak empat generasi sebagaimana diungkap oleh para muhaqqiq (peneliti). Ia adalah Musa bin Umran bin Yashar bin Qahats atau Qahits bin Lawy atau Lawa bin Ya’kub; dan ia diberi gelar Israililah sebagaimana yang terdapat dalam Taurat.70

68 Tiyyah adalah suatu masa yang dihabiskan Bani Israil dalam berjuang

di bukit Sina dan daerah sekitarnya serta berpindah-pindah dari satu penjuru ke penjuru lainnya Ta‟ihin (berputar-putar kebingungan)

sebagaimana yang ada dalam ungkapan yang ada di dalam Al-Qur’an dengan baju besi dan semua perlengkapan mereka. Masa ini berkisar sekitar empat puluh tahun sebagaimana yang di ungkapkan di Al-Qur’an yang dimulai sejak keluarnya Bani Israel dari Mesir dan berakhir hingga mereka

menguasai negeri Kan’an. Allah berfirman didalam Al-Qur’an, setelah penggambaran yang indah danmenarik yang terjadi antara Musa dan kaumnya disaat ia memerintahkan mereka untuk memasuki Ardul Muqaddasah (tanah yang suci; Palestina) namun mereka menolaknya karena takut kepada penduduknya (Surat Al Maidah 20-25) Lalu dilanjutkan dengan: Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar- putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu

bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." Surat Al Maidah: 26

69 Mukaddimah: Bayan,220. Bisa jadi Mas’udi telah meyakini keabsahan

berita ini sebagaimana yang tertulis pada bagian 37 dari Ashah 12 dari Safaril Khuruj, dijelaskan bahwasannya jumlah parjurit Bani Israel

ketika mereka keluar dari Mesir sekitar 600.000 laki-laki, tidak termasuk didalmanya anak kecil.

70

Yang tersebut dalam Taurat adalah Musa bin Amram bin Kehath bin Levi

bin Ya’kub. Jadi antara dia dan ya’kub terdapat tiga generasi dan

bukannya empat. Tidak ada dalam generasinya yang bernama Yashar

sebagaimana yang Ibnu Khaldun katakan. (Lihat bagian 16, 18 dari Ashah 6 dari kitab Safaril Khuruj). Sesungguhnya Yashar (Jitsehar) adalah

Sedang masa yang ada diantara keduanya sebagaimana yang dinukil oleh Mas’udi, ia berkata: Israel masuk ke Mesir bersamaan dengan anaknya Asbath dan anak-anak mereka ketika

ia mendatangi Yusuf dengan tujuh puluh rombongannya71

merekapun tinggal di Mesir sampai akhirnya mereka keluar bersama Musa As ke Tiyyah. Hingga jarak yang ada ialah 220

tahun.72 Mereka pun berputar ke kerajaan-kerajaan Qibti pada

bangsa Fir‟aun dan tidak mungkin untuk menciptakan satu bangsa yang besar dalam jangka hanya empat generasi saja dan

melahirkan jumlah sebanyak ini 73, bila dilihat dari

ketentuan yang ada dalam pertambahan jumlah penduduk secara umum.74 Seandainya Mas’udi mengetahui ketentuan yang berlaku dalam fenomena sosial kemasyarakatan, maka kesalahan seperti ini tidak akan pernah terjadi.

Kenyataannya, banyak penulis dan sejarawan yang mempunyai banyak alasan untuk tidak mengetahui ketentuan- ketentuan dan aturan ini. Mereka mempunyai banyak alasan sesuai dengan kesalahan yang telah mereka buat. Ini semua karena sampai pada masa Ibnu Khaldun pun, ilmu ini belum terungkap. Juga karena fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan belum pernah dipelajari sebelumnya sebagai

salah satu saudara Amram dan bukanlah bapaknya (Lihat bagian 18 dari Ashah 12 dari Safaril Khuruj) dalam bagian inipun disebutkan

bahwasannya Lawy (Levi) hidup selama 137 tahun. Sedang Qahats (Kehath) hidup selama 133 tahun, sedang Amran (Amram) hidup selama 137 tahun.

71 Ini sesuai dengan apa yang dikisahkan Taurat (lihat bagian ke 27,

Ashah 46, dari Safaru Takwin)

72 tertulis dalam Taurat bahwa masa tinggal mereka di mesir adalah 430

tahun (lihat bagian 40, Ashah 12, Safarul Khuruj). Tidak aneh bila mereka tinggal di Mesir dalam jangka waktu yang panjang ini, karena

yang ada antara Musa dan Ya’kub hanya tiga generasi sja. Sedang di

Taurat disebutkan bahwasannya kedua bapak pertamanya hidup selama 137 tahun dan sedang yang ketiganya hidup selama 133 tahun.

73

Mukaddimah: Bayan, 220,221

74

Malthus (Pakar ekonomi yang berasal dari Inggris, 1766-1843 dan termasuk pelopor ilmu Demografi atau ilmu pertambahan penduduk) menyimpulkan dari penelitiannya tentang pertambahan jenis dan jumlah penduduk dalam kitabnya Increase

salah satu ilmu positif yang mengharuskan adanya penjelasan-penjelasan yang mempengaruhinya dari segala seginya dan juga aturan-aturan yang berlaku. Mereka mempelajari fenomena-fenomena sosial ini untuk tujuan lain, seperti halnya sekedar menggambarkan atau sekedar menggambarkan apa yang seharusnya dilakukan ataupun menggambarkan faktor-faktor yang bisa merekontruksi dan mengubah kepada pembaharuan atau hanya untuk menjadi sekedar cerita yang tertanam dalam hati saja.. juga banyak tujuan lainnya, sebagaimana Ibnu Khaldun mengungkapkannya dalam bab politik dan perkotaan ataupun pada bab khitabah. Disaat aturan dan ketentuan memepengaruhi fenomena sosial yang berlaku tidak terungkap ataupun tidak dikenal, maka tidak dapat dihindari kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh para penulis atau sejarawan yaitu dengan menerima berita-berita yang tidak sejalan dengan aturan dan ketentuan yang berlaku. Tidak mungkin melindungi mereka dari kesalahan tersebut kecuali apabila mereka telah mengungkap aturan dan ketentuan ini. Dari sana, seorang penulis atau sejarawan dapat memahami lebih banyak dan menyampaikan dan juga memkomparasikan dengan berita yang didapatkanya. Berita yang mereka tulis pun tidak akan bersebrangan dengan landasan dan ketentuan yang ada hingga berita tersebut pun tidak akan dihukumi dengan ketidak akuratan ataupun keabsahannya. Berita yang mereka tulis adalah berita yang bener-benar dan mungkin terjadi pada masa itu dan mereka pun akan lebih berhati-hati akan keakuratan berita yang akan mereka tulis sebagaimana kehati-hatian dalam menulis sejarah yang terkenal. Aturan dan ketentuan dalam suatu masa tidak akan terungkap kecuali bila dipelajari lebih dahulu akan fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan yang berlaku pada masa itu dan menganggapnya sebagai satu ilmu positif, dimana

dibahas didalamnya penjelasan-penjelasan lingkungan yang melingkupinya dan juga digambarkan hubungan-hubungan yang mengikat satu dengan lainnya dan juga hasil dari hubungan dan interaksi yang dibuat baik dari kemunculan awal dan juga perkembangan serta pertentangan yang ada didalamnya sesuai dengan perbedaan yang ada dalam setiap masyarakat dan juga setiap masa.

Disaat Ibnu Khaldun berkeinginan untuk melepaskan semua penelitian dan pembahasan tentang suatu sejarah dari kabar- kabar kamuflase dan kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, juga menghindari para penulis dan juga sejarawan dari kesalahan penulisan suatu sejarah, maka ia pun sebenarnya dengan sendirinya telah mengungkapkan aturan dan ketentuan yang mempengaruhi fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan. Dari pengamatannya inilah ia telah mempelopori ilmu baru yang Ibnu Khaldun sebut sebagai Ilmu peradaban atau ilmu sosial kemasyarakatan. Ia pun menegaskankan –sepanjang pengetahuan yang ia dapat dan ia ketahui – bahwa belum ada seorang pun yangmendahuluinya dalam mengungkapkan ilmu ini.

Dalam hal ini, Ibnu Khaldun mengatakan: orang-orang yang mengatakan telah membedakan yang hak dari yang batil dalam penerimaan suatu berita baik dari segi mungkin dan mustahilnya, hendaknya melihat kepada sosial masyarakat yang merupakan satu peradaban. Kita dapat membedakan apa yang terjadi dengan hanya melihat kepada lingkungan masyarakatnya dengan tanpa pertentangan ataupun terlalu berlebih-lebihan dak dapat diketahui apa yang tidak mungkin terjadi pada masa itu. Apabila hal tersebut telah dilakukan, mka itulah aturan dan ketentuan yang dapatmembuat kita dapat membedakan sesuatu yang hak dari yang batil dalam menerima suatu kabar, dapat membedakan suatu kejujuran dari semua kebohongan yang

ada, dengan keterangan yang jelas dan tidak diragukan keabsahannya. Maka pada saat itulah seolah kita telah mendengar sesuatu yang telah terjadi pada suatu peradaban yang seolah telah kita kenal dan kita dapat menerimanya dengan penuh kepercayaan sebagaimana kita mungkin pula tidak

mempercayainya. Dalam mengukur keabsahan ini, maka

dibutuhkan satu ukuran standar kehati-hatian yang harus dipegang oleh setiap penulis atau sejarawan dalam setiap kali mereka menukil suatu berita dari suatu sumber tertentu. Inilah tujuan awal dari kitab kami (yang dimaksud adalah kitabpertama dari kitab Al Ibr yang lebih dikenal sekarang dengan nama Mukaddimah Ibnu Khaldun). Ilmu ini bagaikan ilmu yang berdiri sendiri.. Ia seolah ilmu yang lahir dari suatu kesimpulan. Selama hidupku, belum kudapatkan seorang pun yang mengungkapkannya... (Mukaddimah: Bayan, 265,266)

*****

Faidah ini pula yang didapati dari ilmu hadits yaitu dengan melindungi para sejarawan dari kesalahan dalam menerima suatu berita tentang suatu peradaban yang dihukumi mustahil terjadinya. Hal ini merupakan manfaat yang terjadi secara tidak langsung dan tidak secara hakikatnya, walaupun ini dijadikan penyebab Ibnu Khaldun dalam membidani ilmu baru ini. Sedang manfaat langsungnya atau tujuan hakiki dari semua ini adalah memahami secara mendasar fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan dan aturan dan ketentuan yang mengaturnya. Ini pun berlaku di semua bidang keilmuan; tujuan utama dan hakiki juga tujuan langsung untuk semua bidang keilmuan adalah sekeadar memahami landasan dasar dari suatu fenomena dan juga mengenal aturan yang ada didalamnya. disamping tujuan secara langsung ini, semua bidang keilmuan

pun mempunyai banyak tujuan lainnya yang berdampak tidak secara langsung. Dalam hal ini, Ibnu Khaldun berpendapat :apabila semua hakikat berkaitan dengan landasan dasar, maka itu memungkinkannya untuk mencari sesuatu yang mengatur keseluruhan awaridh dzatiahnya- kebutuhan utamanya (atau

mencari aturan dan ketentuannya)75 dengan ini dapat

dipahami bahwasannya yang dimaksud adalah semua bidang keilmuan . Hasil dari suatu ilmu peradaban berdampak tidak langsung dalam pemberitaan saja (baik berita yang akurat, yang terhindar dari berita yang dibuat-buat atau yang tidak dimungkinkan terjadinya dilihat dari lingkungan yang melingkupinya).. dan bahwa setiap pembahasannya berkisar tentang hakikat dan segala kekhususannya yang mulia (apabila tujuan utamanya adalah memahami landasan dasar dari fenomena sosial dan juga aturan dan ketentuan yang melandasinya; maka inilah yang dianggap sebagai tujuan mulia)76

Dalam dokumen Kejeniusan Ibnu Khaldun | Abu Dzakwan's Blog (Halaman 147-164)