ISU TEKNOLOGI STT MANDALA VOL.13 NO.1 JULI 2018 p-ISSN 1979-4819 e-ISSN 2599-1930 22
ANALISIS SIFAT MEKANISKAWAT ALUMINIUM SERI 1100 – H14 HASIL
PENGERJAAN DINGIN
1BRIM ERNESTO KACARIBU
2OCTÁVIO POLICARPO ALVES
Program Studi Teknik Mesin, Sekolah Tinggi Teknologi Mandala Bandung JL. Soekarno-Hatta No. 597, Bandung 40284
Telp. (022) 7301738, 70791003 Fax. (022) 7304854
ABSTRACT
Wire drawing known as the formation of the metal by means of cold working and the product will have increased strength, hardness and ductility decrease due regangan.Pengerasan strain hardening occurs because the wire is plastically deformed due to the reduction in cross-section during the towing process. To make the process beyond that required tensile force capable of conducting wires with a cross section reduction of certain withdrawal speed. Of the process will look the influence of the pulling speed or the speed of deformation of the mechanical properties of the wire. Changes in mechanical properties caused by so-called strain rate hardening strain rate The method in this study is testing directly at the Laboratory. Retrieval of data in accordance with the results of tensile test and the results are Tensile Strength132 Mpa, Yield Strengthof 117 Mpa, and elongation is 8%. In addition, the speed of deformation also has an influence on the process of withdrawal of the wire itself to force the withdrawal and limits - withdrawal limits under certain conditions. Pure aluminum has a Face Center Cubuiccrystal structure relatively easily in the form of plastic and resilient.
Keywords:Tensile Strength, Propertise Mechanic, Yield Srength, Reduction.
ABSTRAK
Penarikan kawat dikenal sebagai pembentukan logam dengan cara pengerjaan dingin dan produknya akan mengalami peningkatan kekuatan dan kekerasan serta penurunan keuletan akibat pengerasan regangan. Pengerasan regangan terjadi karena kawat mengalami deformasi plastis akibat reduksi penampang selama proses penarik. Untuk melakukan proses itu dibutuhkan gaya tarik luar yang mampu melakukan reduksi penampang kawat dengan kecepatan penarikan tertentu. Dari proses tersebut akan tampak pengaruh dari kecepatan penarikan atau kecepatan deformasi terhadap sifat mekanis dari kawat. Perubahan sifat mekanis yang disebabkan oleh laju regangan disebut pengerasan laju regangan. Metode dalam penelitian ini adalah pengujian secara langsung di Laboraturium. Pengambilan data sesuai dengan hasil uji tarik dan hasilnya kuat tarik 132 Mpa, kuat ulur 117 Mpa, dan elongasinya 8 %. Di samping itu kecepatan deformasi juga mempunyai pengaruh terhadap proses penarikan kawat itu sendiri te rhadap gaya penarikan dan batas – batas penarikan pada kondisi tertentu. Aluminium murni mempunyai struktur kristal FCC yang relative lebih plastis mudah di bentuk serta ulet.
Kata kunci:KuatTarik, SifatMekanis, KuatLuluh, Reduksi.
I.
PENDAHULUANPenarikan kawat dikenal sebagai pembentukan logam dengan cara pengerjaan dingin, dan produknya akan mengalami
listrik, dapat pula mengalami perubahan sifat
mekanis. Pengerasan regangan terjadi
karena kawat mengalami deformasi plastis akibat reduksi penampang selama proses penarikan. Untuk melakukan proses itu dibutuhkan gaya tarik dari luar yang mampu melakukan reduksi penampang kawat dengan kecepatan penarikan tertentu. Dari proses tersebut akan tampak pengaruh dari
kecepatan penarikan atau kecepatan
deformasi ( laju regangan ) terhadap perubahan sifat mekanis dari kawat. Perubahan sifat mekanis yang disebabkan oleh laju regangan disebut pengerasan laju regangan. Besarnya pengaruh laju regangan terhadap perubahan sifat mekanis tergantung pada sensitifitas bahan, dalam hal ini aluminium terdapat laju regangan. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengerjaan dingin dalam hal ini proses penarikan kawat terhadap :
- Sifat mekanis dari logam
- Bentuk butir dari logam
- Reduksi maksimum dari logam
- Batas – batas penarikan pada kondisi
tertentu.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Dasar pengujian Logam
Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan suatu bahan/material dengan cara memberikan beban gaya yang sesumbu [Askeland, 1985]. Hasil yang didapatkan dari pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain produk karena mengahsilkan data kekuatan material. Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat.
Gambar 1.Mesin uji tarik dilengkapi spesimen ukuran standar.
Seperti pada (gambar 1), benda yang di uji tarik diberi pembebanan pada kedua arah sumbunya. Pemberian beban pada kedua arah sumbunya diberi beban yang sama besarnya. Pengujian tarik adalah dasar dari pengujian mekanik yang dipergunakan pada material. Dimana spesimen uji yang telah distandarisasi, dilakukan pembebanan uniaksiial ( tegangan normal, yang arah tegak lurus penampang ) sehingga spesimen uji mengalami peregangan dan bertambah panjang hingga akhirnya patah. Pengujian tarik relatif sederhana, murah dan sangat terstandarisasi dibanding pengujian lain. Hal-hal yang perlu diperhatikan agar penguijian menghasilkan nilai yang valid adalah; bentuk dan dimensi spesimen uji, pemilihan grips
dan lain-lain.
2.2 Kekuatan Tarik
Kekuatan yang biasanya ditentukan dari suatu hasil pengujian tarik adalah kuat luluh (Yield Strength) dan kuat tarik (Ultimate Tensile Strength).Kekuatan tarik atau
kekuatan tarik maksimum (Ultimate Tensile Strength / UTS), adalah beban maksimum
dibagi luas penampang lintang awal benda uji.
=
Dimana :
ISU TEKNOLOGI STT MANDALA VOL.13 NO.1 JULI 2018 p-ISSN 1979-4819 e-ISSN 2599-1930 24
Pmaks= Beban maksimum ( kgf)
A0 = Luas penampang awal (mm2)
2.3 Kekuatan luluh (yield strength)
Salah satu kekuatan yang biasanya diketahui dari suatu hasil pengujian tarik adalah kuat luluh (Yield Strength). Kekuatan
luluh ( yield strength) merupakan titik yang
menunjukan perubahan dari deformasi elastis ke deformasi plastis [Dieter, 1993]. Besar tegangan luluh dituliskan seperti pada persamaan 2.5, sebagai berikut.
=
Keterangan :
Ys : Besarnya tegangan luluh (kg/mm2)
Py : Besarnya beban di titikyield(kg)
A0: Luas penampang awal benda uji (mm2)
2.4 Pengukuran Keliatan (keuletan)
Keuleten adalah kemampuan suatu bahan sewaktu menahan beban pada saat diberikan penetrasi dan akan kembali ke baentuk semula.Secara umum pengukuran
keuletan dilakukan untuk memenuhi
kepentingan tiga buah hal [Dieter, 1993]:
1. Untuk menunjukan elongasi di mana suatu logam dapat berdeformasi tanpa terjadi patah dalam suatu proses suatu
pembentukan logam, misalnya
pengerolan dan ekstrusi.
2. Untuk memberi petunjuk secara umum
kepada perancang mengenai
kemampuan logam untuk mengalir secara pelastis sebelum patah.
3. Sebagai petunjuk adanya perubahan permukaan kemurnian atau kondisi pengolahan.
2.5 Modulus Elastisitas
Modulus elastisitas adalah ukuran kekuatan suatu bahan akan keelastisitasannya. Makin besar modulus, makin kecil regangan elastik yang dihasilkan akibat pemberian tegangan. Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya ikat antar atom, karena gaya-gaya ini tidak dapat dirubah tanpa terjadi perubahan mendasar pada sifat bahannya. Maka modulus elastisitas salah satu sifat-sifat mekanik yang tidak dapat diubah. Sifat ini hanya sedikit berubah oleh adanya penambahan paduan, perlakuan panas, atau pengerjaan dingin.
Secara matematis persamaan modulus
elasticdapat ditulis sebagai berikut.
=
Dimana ;
M0= Modulus Elastisitas
= tegangan
ε = regangan
2.6 Kelentingan(resilience)
Kelentingan adalah kemampuan
suatu bahan untuk menyerap energi pada waktu berdeformasi secara elastis dan kembali kebentuk awal apabila bebannya
dihilangkan [Dieter, 1993].Kelentingan
biasanya dinyatakan sebagai modulus kelentingan, yakni energi regangan tiap
satuan volume yang dibutuhkan untuk
menekan bahan dari tegangan nol hingga tegangan luluh σo. Energi regangan tiap
satuan volume untuk beban tarik satu sumbu adalah:
= 1
2 = 1 2 =
Persamaan ini menunjukan bahwa bahan ideal untuk menahan beban energi pada pemakaian di mana bahan tidak mengalami deformasi permanen, misal pegas mekanik, adalah data bahan yang memiliki tegangan luluh tinggi dan modulus elastisitas rendah.
Ketangguhan (Toughness
kemampuan menyerap energ
plastik.Pada umumnya
menggunakan konsep yang su atau didefinisikan.Salah sat
ketangguhan adalah m
keseluruhan daerah di tegangan-regangan.Luas ini jumlah energi tiap satuan volu
dikenakan kepada ba
mengakibatkan pecah.Ketan adalah perbandingan antara kueletan.Persamaan sebagai
2
Untuk material yang getas
2
3
Keterangan ;
UT : Jumlah unit volume
Tegangan patah sejati adala waktu patah, dibagi luas lintang.Tegangan ini harus d keadaan tegangan tiga sumb pada benda uji tarik saat terjad data yang diperlukan untuk ko tidak diperoleh, maka tegang sering tidak tepat nilai.
2.8. Sejarah Aluminium
Aluminium diambil dari
alumen, alum ). Orang-oran
Romawi kuno menggunakan sebagai cairan penutup pori -penajam proses pewarnaan 1787, Lavoisier menebak ba adalah Oksida logam yang be Pada tahun 1761, de Morvea namaalumine untuk basa alu
1827, Wohler disebut sebaga berhasil mengisolasi logam 1807, Davy memberikan p
menamakan logam iniAluminu
akhirnya setuju untuk mengga
Aluminium. Nama yang tera
dengan nama banyak unsur berakhir dengan “ium”. C.M berkebangsaan Amerika dan berkebangsaan Prancis, pad mengolah Aluminium dari A
Menyiapkan bahan uji berbentuk kawat
Menghidupkan mesin uji tarik dan menempatkan bahan uji
Memberikan pembebanan secara kontinyu sampai bahan patah
Mencatat beban maksimum dan beban luluhnya s dikoreksi untuk mbu yang terjadi rjadi patah.Karena koreksi seringkali ngan patah sejati
ari bahasa Latin ( rang Yunani dan
inum, walau pada
ggantinya dengan terakhir ini sama sur lainnya yang .M. Hall seorang an Paul Heroult ada tahun 1886 Alumina dengan
cara elektrolisa dar Selain itu Karl Jose
kimia berkeba
mengembangkan p dengan nama proses Aluminium murni.
III. METODE PEN 3.1. Metode Pene
Metode pene cara yang teratur den atau teknik untuk penelitian.Metode ya penelitian ini adalah
sering disebut Ex
penelitian yang b penyebab atau alasa perbedaan dalam pe kelompok individu.
3.2. Teknik Pengu
Struktur metode pe penulis dalam pengu lain :
Menyiapkan bahan uji berbentuk kawat
Menghidupkan mesin uji tarik dan menempatkan bahan uji
Memberikan pembebanan secara kontinyu sampai bahan patah
Mencatat beban maksimum dan beban luluhnya Josep Bayer seorang ahli
ebangsaan Jerman
proses yang dikenal ses Bayer untuk mendapat
ENELITIAN nelitian
nelitian merupakan suatu dengan menggunakan alat tuk suatu kepentingan yang digunakan dalam lah metode Kausal atau
Ex Post Facto adalah
berusaha menentukan lasan, untuk keberadaan perilaku atau status dalam
gumpulan Data
penelitian yang dilakukan gumpulan data ini antara
ur
ISU TEKNOLOGI STT MANDALA VOL.13 NO.1 JULI 2018 p-ISSN 1979-4819 e-ISSN 2599-1930 26 IV. MATERI PENELITIAN
4.1. Materi Penelitian.
Dalam bab ini akan mengumpulkan data mengenai materi penelitian dan mengenal bahan – bahan yang digunakan untuk proses pengujian tarik dan mengetahui fungsi – fungsi dari bagian mesin uji tarik AMSLER yang akan digunakan, Serta akan mempelajari juga tentang Analisis Sifat Makanik Kawat Aluminium Seri 1100 - H14 Hasil Pengerjaan Dingin. Untuk mengetahui sifat – sifat suatu bahan, tentu kita harus mengadakan pengujian terhadap bahan tersebut.
Ada empat jenis uji coba yang biasa
dilakukan yaitu :
- Uji tarik (Tensile test) - Uji tekan (Compression test) - Uji torsi ( Torsion test) - Uji geser (Sheer test)
Dalam tulisan ini kita akan membahas
mengenai uji tarik ( Tensile test ) dan sifat – sifat mekanik material yang didapatkan dari interpretasi dari hasil uji tarik.
Uji tarik mungkin adalah cara
pengujian bahan yang paling
mendasar. Pengujian ini sangat sederhana, tidak mahal dan sudah mengalami standarisasi di seluruh dunia, misalnya di Amerika dengan ASTM E8 dan Jepang dengan JIS 2241. Dengan menarik suatu bahan
kita akan segera mengetahui
bagaimana bahan tersebut bereaksi
terhadap tenaga tarikan dan
mengetahui sejauh mana material itu bertambah panjang.
Gambar 4.1 Kurva hubungan gaya tarik – pertambahan panjang
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari hasil uji tarik. Bila kita terus menarik suatu bahan sampai putus, kita akan mendapatkan profil tarikan yang lengkap seperti pada kurva yang digambarkan pada gambar 4.1. dan kurva tersebut menunjukan hubungan antara gaya tarikan dengan perubahan panjang.
Biasanya yang menjadi fokus
perhatian adalah kemampuan maksimum bahan tersebut dalam menahan beban. Kemampuan ini sering disebut dengan istilah “ Ultimate Tensile Strength “ atau disingkat
dengan UTS, dalam bahasa Indonesia disebut tegangan tarik maksimum.
4.2. Data Penelitian
Pada pengujian yang dilaksanakan di Laboratorium Uji tarik Balai Besar Bahan Dan Barang teknik( B4T ) Bahan dan mesin yang digunakan antara lain:
a. Mesin Uji Tarik
Mesin uji tarik ( Amsler )yang digunakan dalam pengujian tarik ini, ada
bermacam - macam antara lain :
- Mesin uji tarik kapasitas 5 ton - Mesin uji tarik kapasitas 10 ton - Mesin Uji tarik kapasitas 20 ton - Mesin uji tarik kapasitas 50 ton
b. Perangkat Penjepit
Perangkat penjepit dibagi menjadi beberapa tipe seperti dibawah ini :
- Penjepit batang uji berbentuk
penampang pipih
- Penjepit batang uji berkepala.
- Penjepit batang uji berbentuk tipe
irisan (wedge grip).
c. Alat ukur
Alat ukur yang digunakan adalah :
- Micrometer
- Jangka sorong
- Stop Watchdan
- Meteran
.
d. Bahan uji.
Bahan uji yang digunakan untuk pengujian ini berbentuk kawat Aluminium seri 1100 – H14, dan berdiameter 5 mm dan panjang 2600 mm.
4.3. proses penarikan kawat.
Kawat Aluminium dipotong sebagai sampel pengujian dengan ukuran spesimen sesuai dengan standar ASTM E8.
4.4 Pengujian tarik.
Pengujian tarik dilakukan pada spesimen awal yang belum mengelami proses penarik kawat dan spesimen yang telah mengalami proses tersebut. Pengujian tarik dilakukan untuk mengetahui sifat – sifat suatu bahan dengan menarik suatu bahan kita akan segera mengetahui bahan tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahiu sejauh mana material itu bertambah panjang.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil uji tarik
Tabel 5.1 Hasil uji Tarik
5.2 Analisa Hasil Uji Tarik
Detail profil hasil uji tarik dan sifat makanik bahan dapat dilihat pada gambar 5.1 dibawah ini.
Gambar 5.1 Profil Data Hasil Uji Tarik
Analisa uji tarik dimulai dari titik 0 sampai dengan titik D sesuai dengan arah panah dalam gambar. Keterangannya adalahsebagai berikut :
• Batas Elastis
Dalam gambar 5.1. dinyatakan dengan titik A. Bila sebuah bahan diberi beban sampai pada titik A, kemudian bebannya dihilangkan, maka bahan tersebut akan kembali ke kondisi semula ( tepatnya hampir kembali ke kondisi semula ). Yaitu regangan “nol” pada titik 0 ( lihat inset gambar 5.1 ) tetapi bila beban ditarik sampai melewati titik A, hokum Hook tidak lagi berlaku dan terdapat perubahan permanen dari bahan. Terdapat konvensi batas regangan permanen (
Permanent Strain ) sehingga masih disebut
perubahan elastis yaitu kurang dari 0.02 %, tetapi sebagian referensi menyebutkan 0.005 %. Tidak ada standarisasi yang universal mengenai nilai ini.
• Batas proporsional
Titik sampai dimana penerapan hokum Hooke masih bisa di tolerir.Tidak ada standarisasi tentang nilai ini. Dalam praktek, biasanya batas proporsional sama dengan batas elastis.
• Deformasi plastis
Yaitu perubahan bentuk yang tidak kembali ke keadaan semula. Pada gambar 5.1, Yaitu
PROPERTY BESARAN DAN
SATUAN
Diameter ( mm ) 5,000 Luas Penampang
( mm2) 19,16 Panjang Ukur
( mm ) 50,0
Beban Ulur
( kgf ) 235
Kuat Ulur,
kgf/mm2( Mpa ) 12,0 ( 117 ) Beban Maksimum,
kgf 265
Kuat Tarik
kgf/mm2( Mpa ) 13,5 (132 ) Panjang Setelah Patah
( mm ) 54,0
Regangan Dalam
ISU TEKNOLOGI STT MANDALA VOL.13 NO.1 JULI 2018 p-ISSN 1979-4819 e-ISSN 2599-1930 28
bila bahan ditarik sampai melewati batas proporsional dan mencapai daerahlanding.
• Tegangan luluh atas
Tegangan maksimum sebelum bahan memasuki fase daerah landing peralihan deformasi elastic ke plastis.
• Lower Yield Stress
Tegangan rata – rata daerah landing sebelum benanr – benar memasuki fase deformasi plastis. Bila hanya disebutkan tegangan luluh ( Yield Stress ), maka yang dimaksud adalah tegangan ini.
• Regangan luluh
Regangan yang diakibatkan perubahan elastis bahan. Pada saat beban dilepaskan regangan ini akan kembali ke posisi semula.
• Regangan plastis
Regangan yang diakibatkan perubahan
plastis.Pada saat beban dilepaskan
regangan ini tetap tinggal sebagai perubahan permanen bahan.
• Regangan total
Merupakan gabungan antara regangan elastis dan regangan plastis,εT=εe+ εp.
Perhatikan beban dengan arah AOBE.Pada titik B, regangan yang ada adalah regangan total. Ketika beban dilepaskan, posisi regangan ada pada titik E dan besar regangan yang tinggal ( OE ) adalah regangan plastis.
• Tegangan tarik maksimum
Pada gambar 5.1 tegangan taarik maksimum ditunjukan dengan titik C, dan beban ini merupakan besar tegangan maksimum atau beban yang diterima oleh material sebelum
mengalami Necking dan juga Fructure yang
didapatkan dalam uji tarik.
• Kekuatan patah
Pada gamabar 5.1 ditunjukan dengan titik D, merupakan besar tegangan dimana bahan yang diuji putus atau patah. Untuk hampir semua logam, pada tahap sangat awal dari uji tarik hubungan antara beban atau gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan panjang bahan tersebut. Ini desebut daerah linier atauLinear Zone.
Tegangan yang terjadi adalah beban yang terjadi dibagi luas penampang bahan dan regangan adalah pertambahan panjang dibagi panjang awal bahan.
• Tegangan luluh pada data tanpa
batas jelas antara perubahan elastic dan plastis.
Untuk hasil uji tarik yang tidak memiki daerah linier dan landing yang jelas, tegangan luluh biasanya didefinisikan sebagai tegangan yang menghasilkan regangan permanen sebesar 0.2 %, regangan ini disebutOffset – Strain.
Gambar 5.3 Kurva tanpa daerah linier
• Gambar 5.3 penentuan tegangan
luluh ( Yield Stress ) untuk kurva
tanpa daerah linier. Perlu diingat bahwa satuan SI untuk tegangan ( stress ) adalah Pa ( pascal, N/m2 )
dan regangan ( strain ) adalah
besaran tanpa satuan.
• Diagram tegangan – regangan bahan
keramik dengan menggunakan uji lentur mirip dengan hasil pengujian tarik untuk bahan logam ( Aluminium ).
Terdapat hubungan linear antara tegangan – regangan. Modulus elastisitas bahan adalah
slope( kemiringan ) dari nilai tegangan –
Gambar 5.4 Diagram tegangan – regangan linier untuk deformasi elastis.
Dalam bentuk matematis dapat ditulis
sebagai berikut :
= ∆
∆
Dimana :
E = Modulus elastisitas bahan
( Mpa )
σ = Tegangan ( Mpa )
= Regangan ( % )
5.3 Pembahasan interpretasi hasil uji tarik
Selanjutnya akan bahas mengenai istila – istila lain yang penting seputar interpretasi dari hasil uji tarik.
Kelenturan( ductility)
Merupakan sifat mekanik bahan yang
menunjukkan derajat deformasi
plastis yang terjadi sebelum suatu bahan putus atau gagal pada uji tarik. Bahan disebut lentur ( ductile ) bila
regangan plastis yang terjadi sebelum putus lebeih dari 5 %, bila kurang dari itu maka bahan tersebut disebut getas (brittle).
• Daerah ketangguhan
Kapasitas suatu bahan menyerap energi dalam fase plastis sampai bahan tersebut putus. Sering disebut
modulus ketangguhan ( Modulus Of
Toughness ). Dalam gambar 5.1,
modulus ketangguhan sama dengan luas daerah dibawah kurva OABCD.
• Pengerasan regan (Strain hardness)
Sifat dari kebanyakan logam yang
ditandai dengan naiknya nilai
tegangan berbanding rengangan
setelah memasuki fase plastis.
VI. SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan
Dari hasil percobaan pengujian uji tarik yang telah dilakukan di Balai Besar Bahan Dan Teknik ( B4T ), maka dapat disimpulan bahwa :
1. Bila kekuatan maksimum dari suatu material yang diuji meningkat maka elongasinya menurun. Sedangkan kekuatan maksimumnya menurun maka elongasinya naik.
2. Proses penarikan kawat adalah salah satu proses pengerjaan dingin yang dilakukan pada kondisi temperatur kamar, saat ini proses uji tarik banyak digunakan untuk memproduksi kawat listrik dan kawat – kawat industri lainnya.
3. Dari hasil analisis diatas, penulis mencoba memahami mekanisme regangan dan tegangan dan juga sifat – sifat mekanis dari bahan tersebut.
4. Kecepatan deformasi juga
mempunyai pengaruh terhadap
proses penarikan kawat itu sendiri,
yaitu pengaruh terhadap gaya
penarikan dan batas – batas
penarikan pada kondisi tertentu.
5. Perubahan sifat mekanik akibat
pengerjaan dingin terjadi bila
ISU TEKNOLOGI STT MANDALA VOL.13 NO.1 JULI 2018 p-ISSN 1979-4819 e-ISSN 2599-1930 30
6. Proses pengerjaan dingin akan
merubah sifat mekanis logam
tersebut, bila derajat deformasi naik, kekuatan mulur, kekuatan tarik akan naik pula. Tetapi perpanjangan atau
keuletan akan turun dengan
meningkatnya derajat deformasi.
6.2 Saran
1. Saat melakukan Pengujian dengan mesin AMSLER disarankan lebih teliti agar hasilnya bisa lebih akurat lagi.
2. Disarankan agar dalam pengujian selanjutnya, menggunakan Mesin
AMSLERyang Otomatis biar hasilnya
lebih memuaskan.
3. Untuk selanjutnya dalam melakukan pengujian tarik dilakukan lebih banyak lagi.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Askeland., D. R., 1985, “
The Science
and
Engineering
of
Material
”,
Alternate Edition, PWS Engineering,
Boston, USA
2.
Ahmadi Rafael, 2011, “
Laporan
Material
Teknik
Uji
Tarik
“,Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
–
Banten.
3.
Asyari Daryus, 2013. “
Proses
Produksi
“,Universitas
Darma
Persada
–
Jakarta
4. Dieter,
E.
George,
1993,
“
Metalurgi Mekanik
”, Jakarta: PT.
Gelora Aksara Pratama.
5.
S. Nurjannah, 2011, “Sejarah UmumAluminium “Universitas Sumatera
Utara.
6.
Tata Surdia, 1995, “PengetahuanBahan Teknik”,Istitut Teknologi