• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of ANALISIS SIFAT MEKANISKAWAT ALUMINIUM SERI 1100 – H14 HASIL PENGERJAAN DINGIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "View of ANALISIS SIFAT MEKANISKAWAT ALUMINIUM SERI 1100 – H14 HASIL PENGERJAAN DINGIN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ISU TEKNOLOGI STT MANDALA VOL.13 NO.1 JULI 2018 p-ISSN 1979-4819 e-ISSN 2599-1930 22

ANALISIS SIFAT MEKANISKAWAT ALUMINIUM SERI 1100 – H14 HASIL

PENGERJAAN DINGIN

1BRIM ERNESTO KACARIBU

2OCTÁVIO POLICARPO ALVES

Program Studi Teknik Mesin, Sekolah Tinggi Teknologi Mandala Bandung JL. Soekarno-Hatta No. 597, Bandung 40284

Telp. (022) 7301738, 70791003 Fax. (022) 7304854

ABSTRACT

Wire drawing known as the formation of the metal by means of cold working and the product will have increased strength, hardness and ductility decrease due regangan.Pengerasan strain hardening occurs because the wire is plastically deformed due to the reduction in cross-section during the towing process. To make the process beyond that required tensile force capable of conducting wires with a cross section reduction of certain withdrawal speed. Of the process will look the influence of the pulling speed or the speed of deformation of the mechanical properties of the wire. Changes in mechanical properties caused by so-called strain rate hardening strain rate The method in this study is testing directly at the Laboratory. Retrieval of data in accordance with the results of tensile test and the results are Tensile Strength132 Mpa, Yield Strengthof 117 Mpa, and elongation is 8%. In addition, the speed of deformation also has an influence on the process of withdrawal of the wire itself to force the withdrawal and limits - withdrawal limits under certain conditions. Pure aluminum has a Face Center Cubuiccrystal structure relatively easily in the form of plastic and resilient.

Keywords:Tensile Strength, Propertise Mechanic, Yield Srength, Reduction.

ABSTRAK

Penarikan kawat dikenal sebagai pembentukan logam dengan cara pengerjaan dingin dan produknya akan mengalami peningkatan kekuatan dan kekerasan serta penurunan keuletan akibat pengerasan regangan. Pengerasan regangan terjadi karena kawat mengalami deformasi plastis akibat reduksi penampang selama proses penarik. Untuk melakukan proses itu dibutuhkan gaya tarik luar yang mampu melakukan reduksi penampang kawat dengan kecepatan penarikan tertentu. Dari proses tersebut akan tampak pengaruh dari kecepatan penarikan atau kecepatan deformasi terhadap sifat mekanis dari kawat. Perubahan sifat mekanis yang disebabkan oleh laju regangan disebut pengerasan laju regangan. Metode dalam penelitian ini adalah pengujian secara langsung di Laboraturium. Pengambilan data sesuai dengan hasil uji tarik dan hasilnya kuat tarik 132 Mpa, kuat ulur 117 Mpa, dan elongasinya 8 %. Di samping itu kecepatan deformasi juga mempunyai pengaruh terhadap proses penarikan kawat itu sendiri te rhadap gaya penarikan dan batas – batas penarikan pada kondisi tertentu. Aluminium murni mempunyai struktur kristal FCC yang relative lebih plastis mudah di bentuk serta ulet.

Kata kunci:KuatTarik, SifatMekanis, KuatLuluh, Reduksi.

I.

PENDAHULUAN

Penarikan kawat dikenal sebagai pembentukan logam dengan cara pengerjaan dingin, dan produknya akan mengalami

(2)

listrik, dapat pula mengalami perubahan sifat

mekanis. Pengerasan regangan terjadi

karena kawat mengalami deformasi plastis akibat reduksi penampang selama proses penarikan. Untuk melakukan proses itu dibutuhkan gaya tarik dari luar yang mampu melakukan reduksi penampang kawat dengan kecepatan penarikan tertentu. Dari proses tersebut akan tampak pengaruh dari

kecepatan penarikan atau kecepatan

deformasi ( laju regangan ) terhadap perubahan sifat mekanis dari kawat. Perubahan sifat mekanis yang disebabkan oleh laju regangan disebut pengerasan laju regangan. Besarnya pengaruh laju regangan terhadap perubahan sifat mekanis tergantung pada sensitifitas bahan, dalam hal ini aluminium terdapat laju regangan. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengerjaan dingin dalam hal ini proses penarikan kawat terhadap :

- Sifat mekanis dari logam

- Bentuk butir dari logam

- Reduksi maksimum dari logam

- Batas – batas penarikan pada kondisi

tertentu.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Dasar pengujian Logam

Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan suatu bahan/material dengan cara memberikan beban gaya yang sesumbu [Askeland, 1985]. Hasil yang didapatkan dari pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain produk karena mengahsilkan data kekuatan material. Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat.

Gambar 1.Mesin uji tarik dilengkapi spesimen ukuran standar.

Seperti pada (gambar 1), benda yang di uji tarik diberi pembebanan pada kedua arah sumbunya. Pemberian beban pada kedua arah sumbunya diberi beban yang sama besarnya. Pengujian tarik adalah dasar dari pengujian mekanik yang dipergunakan pada material. Dimana spesimen uji yang telah distandarisasi, dilakukan pembebanan uniaksiial ( tegangan normal, yang arah tegak lurus penampang ) sehingga spesimen uji mengalami peregangan dan bertambah panjang hingga akhirnya patah. Pengujian tarik relatif sederhana, murah dan sangat terstandarisasi dibanding pengujian lain. Hal-hal yang perlu diperhatikan agar penguijian menghasilkan nilai yang valid adalah; bentuk dan dimensi spesimen uji, pemilihan grips

dan lain-lain.

2.2 Kekuatan Tarik

Kekuatan yang biasanya ditentukan dari suatu hasil pengujian tarik adalah kuat luluh (Yield Strength) dan kuat tarik (Ultimate Tensile Strength).Kekuatan tarik atau

kekuatan tarik maksimum (Ultimate Tensile Strength / UTS), adalah beban maksimum

dibagi luas penampang lintang awal benda uji.

=

Dimana :

(3)

ISU TEKNOLOGI STT MANDALA VOL.13 NO.1 JULI 2018 p-ISSN 1979-4819 e-ISSN 2599-1930 24

Pmaks= Beban maksimum ( kgf)

A0 = Luas penampang awal (mm2)

2.3 Kekuatan luluh (yield strength)

Salah satu kekuatan yang biasanya diketahui dari suatu hasil pengujian tarik adalah kuat luluh (Yield Strength). Kekuatan

luluh ( yield strength) merupakan titik yang

menunjukan perubahan dari deformasi elastis ke deformasi plastis [Dieter, 1993]. Besar tegangan luluh dituliskan seperti pada persamaan 2.5, sebagai berikut.

=

Keterangan :

Ys : Besarnya tegangan luluh (kg/mm2)

Py : Besarnya beban di titikyield(kg)

A0: Luas penampang awal benda uji (mm2)

2.4 Pengukuran Keliatan (keuletan)

Keuleten adalah kemampuan suatu bahan sewaktu menahan beban pada saat diberikan penetrasi dan akan kembali ke baentuk semula.Secara umum pengukuran

keuletan dilakukan untuk memenuhi

kepentingan tiga buah hal [Dieter, 1993]:

1. Untuk menunjukan elongasi di mana suatu logam dapat berdeformasi tanpa terjadi patah dalam suatu proses suatu

pembentukan logam, misalnya

pengerolan dan ekstrusi.

2. Untuk memberi petunjuk secara umum

kepada perancang mengenai

kemampuan logam untuk mengalir secara pelastis sebelum patah.

3. Sebagai petunjuk adanya perubahan permukaan kemurnian atau kondisi pengolahan.

2.5 Modulus Elastisitas

Modulus elastisitas adalah ukuran kekuatan suatu bahan akan keelastisitasannya. Makin besar modulus, makin kecil regangan elastik yang dihasilkan akibat pemberian tegangan. Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya ikat antar atom, karena gaya-gaya ini tidak dapat dirubah tanpa terjadi perubahan mendasar pada sifat bahannya. Maka modulus elastisitas salah satu sifat-sifat mekanik yang tidak dapat diubah. Sifat ini hanya sedikit berubah oleh adanya penambahan paduan, perlakuan panas, atau pengerjaan dingin.

Secara matematis persamaan modulus

elasticdapat ditulis sebagai berikut.

=

Dimana ;

M0= Modulus Elastisitas

= tegangan

ε = regangan

2.6 Kelentingan(resilience)

Kelentingan adalah kemampuan

suatu bahan untuk menyerap energi pada waktu berdeformasi secara elastis dan kembali kebentuk awal apabila bebannya

dihilangkan [Dieter, 1993].Kelentingan

biasanya dinyatakan sebagai modulus kelentingan, yakni energi regangan tiap

satuan volume yang dibutuhkan untuk

menekan bahan dari tegangan nol hingga tegangan luluh σo. Energi regangan tiap

satuan volume untuk beban tarik satu sumbu adalah:

= 1

2 = 1 2 =

Persamaan ini menunjukan bahwa bahan ideal untuk menahan beban energi pada pemakaian di mana bahan tidak mengalami deformasi permanen, misal pegas mekanik, adalah data bahan yang memiliki tegangan luluh tinggi dan modulus elastisitas rendah.

(4)

Ketangguhan (Toughness

kemampuan menyerap energ

plastik.Pada umumnya

menggunakan konsep yang su atau didefinisikan.Salah sat

ketangguhan adalah m

keseluruhan daerah di tegangan-regangan.Luas ini jumlah energi tiap satuan volu

dikenakan kepada ba

mengakibatkan pecah.Ketan adalah perbandingan antara kueletan.Persamaan sebagai

2

Untuk material yang getas

2

3

Keterangan ;

UT : Jumlah unit volume

Tegangan patah sejati adala waktu patah, dibagi luas lintang.Tegangan ini harus d keadaan tegangan tiga sumb pada benda uji tarik saat terjad data yang diperlukan untuk ko tidak diperoleh, maka tegang sering tidak tepat nilai.

2.8. Sejarah Aluminium

Aluminium diambil dari

alumen, alum ). Orang-oran

Romawi kuno menggunakan sebagai cairan penutup pori -penajam proses pewarnaan 1787, Lavoisier menebak ba adalah Oksida logam yang be Pada tahun 1761, de Morvea namaalumine untuk basa alu

1827, Wohler disebut sebaga berhasil mengisolasi logam 1807, Davy memberikan p

menamakan logam iniAluminu

akhirnya setuju untuk mengga

Aluminium. Nama yang tera

dengan nama banyak unsur berakhir dengan “ium”. C.M berkebangsaan Amerika dan berkebangsaan Prancis, pad mengolah Aluminium dari A

Menyiapkan bahan uji berbentuk kawat

Menghidupkan mesin uji tarik dan menempatkan bahan uji

Memberikan pembebanan secara kontinyu sampai bahan patah

Mencatat beban maksimum dan beban luluhnya s dikoreksi untuk mbu yang terjadi rjadi patah.Karena koreksi seringkali ngan patah sejati

ari bahasa Latin ( rang Yunani dan

inum, walau pada

ggantinya dengan terakhir ini sama sur lainnya yang .M. Hall seorang an Paul Heroult ada tahun 1886 Alumina dengan

cara elektrolisa dar Selain itu Karl Jose

kimia berkeba

mengembangkan p dengan nama proses Aluminium murni.

III. METODE PEN 3.1. Metode Pene

Metode pene cara yang teratur den atau teknik untuk penelitian.Metode ya penelitian ini adalah

sering disebut Ex

penelitian yang b penyebab atau alasa perbedaan dalam pe kelompok individu.

3.2. Teknik Pengu

Struktur metode pe penulis dalam pengu lain :

Menyiapkan bahan uji berbentuk kawat

Menghidupkan mesin uji tarik dan menempatkan bahan uji

Memberikan pembebanan secara kontinyu sampai bahan patah

Mencatat beban maksimum dan beban luluhnya Josep Bayer seorang ahli

ebangsaan Jerman

proses yang dikenal ses Bayer untuk mendapat

ENELITIAN nelitian

nelitian merupakan suatu dengan menggunakan alat tuk suatu kepentingan yang digunakan dalam lah metode Kausal atau

Ex Post Facto adalah

berusaha menentukan lasan, untuk keberadaan perilaku atau status dalam

gumpulan Data

penelitian yang dilakukan gumpulan data ini antara

ur

(5)

ISU TEKNOLOGI STT MANDALA VOL.13 NO.1 JULI 2018 p-ISSN 1979-4819 e-ISSN 2599-1930 26 IV. MATERI PENELITIAN

4.1. Materi Penelitian.

Dalam bab ini akan mengumpulkan data mengenai materi penelitian dan mengenal bahan – bahan yang digunakan untuk proses pengujian tarik dan mengetahui fungsi – fungsi dari bagian mesin uji tarik AMSLER yang akan digunakan, Serta akan mempelajari juga tentang Analisis Sifat Makanik Kawat Aluminium Seri 1100 - H14 Hasil Pengerjaan Dingin. Untuk mengetahui sifat – sifat suatu bahan, tentu kita harus mengadakan pengujian terhadap bahan tersebut.

 Ada empat jenis uji coba yang biasa

dilakukan yaitu :

- Uji tarik (Tensile test) - Uji tekan (Compression test) - Uji torsi ( Torsion test) - Uji geser (Sheer test)

 Dalam tulisan ini kita akan membahas

mengenai uji tarik ( Tensile test ) dan sifat – sifat mekanik material yang didapatkan dari interpretasi dari hasil uji tarik.

 Uji tarik mungkin adalah cara

pengujian bahan yang paling

mendasar. Pengujian ini sangat sederhana, tidak mahal dan sudah mengalami standarisasi di seluruh dunia, misalnya di Amerika dengan ASTM E8 dan Jepang dengan JIS 2241. Dengan menarik suatu bahan

kita akan segera mengetahui

bagaimana bahan tersebut bereaksi

terhadap tenaga tarikan dan

mengetahui sejauh mana material itu bertambah panjang.

Gambar 4.1 Kurva hubungan gaya tarik – pertambahan panjang

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari hasil uji tarik. Bila kita terus menarik suatu bahan sampai putus, kita akan mendapatkan profil tarikan yang lengkap seperti pada kurva yang digambarkan pada gambar 4.1. dan kurva tersebut menunjukan hubungan antara gaya tarikan dengan perubahan panjang.

Biasanya yang menjadi fokus

perhatian adalah kemampuan maksimum bahan tersebut dalam menahan beban. Kemampuan ini sering disebut dengan istilah “ Ultimate Tensile Strength “ atau disingkat

dengan UTS, dalam bahasa Indonesia disebut tegangan tarik maksimum.

4.2. Data Penelitian

Pada pengujian yang dilaksanakan di Laboratorium Uji tarik Balai Besar Bahan Dan Barang teknik( B4T ) Bahan dan mesin yang digunakan antara lain:

a. Mesin Uji Tarik

Mesin uji tarik ( Amsler )yang digunakan dalam pengujian tarik ini, ada

bermacam - macam antara lain :

- Mesin uji tarik kapasitas 5 ton - Mesin uji tarik kapasitas 10 ton - Mesin Uji tarik kapasitas 20 ton - Mesin uji tarik kapasitas 50 ton

b. Perangkat Penjepit

Perangkat penjepit dibagi menjadi beberapa tipe seperti dibawah ini :

- Penjepit batang uji berbentuk

penampang pipih

- Penjepit batang uji berkepala.

- Penjepit batang uji berbentuk tipe

irisan (wedge grip).

c. Alat ukur

Alat ukur yang digunakan adalah :

- Micrometer

- Jangka sorong

(6)

- Stop Watchdan

- Meteran

.

d. Bahan uji.

Bahan uji yang digunakan untuk pengujian ini berbentuk kawat Aluminium seri 1100 – H14, dan berdiameter 5 mm dan panjang 2600 mm.

4.3. proses penarikan kawat.

Kawat Aluminium dipotong sebagai sampel pengujian dengan ukuran spesimen sesuai dengan standar ASTM E8.

4.4 Pengujian tarik.

Pengujian tarik dilakukan pada spesimen awal yang belum mengelami proses penarik kawat dan spesimen yang telah mengalami proses tersebut. Pengujian tarik dilakukan untuk mengetahui sifat – sifat suatu bahan dengan menarik suatu bahan kita akan segera mengetahui bahan tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahiu sejauh mana material itu bertambah panjang.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil uji tarik

Tabel 5.1 Hasil uji Tarik

5.2 Analisa Hasil Uji Tarik

Detail profil hasil uji tarik dan sifat makanik bahan dapat dilihat pada gambar 5.1 dibawah ini.

Gambar 5.1 Profil Data Hasil Uji Tarik

Analisa uji tarik dimulai dari titik 0 sampai dengan titik D sesuai dengan arah panah dalam gambar. Keterangannya adalahsebagai berikut :

• Batas Elastis

Dalam gambar 5.1. dinyatakan dengan titik A. Bila sebuah bahan diberi beban sampai pada titik A, kemudian bebannya dihilangkan, maka bahan tersebut akan kembali ke kondisi semula ( tepatnya hampir kembali ke kondisi semula ). Yaitu regangan “nol” pada titik 0 ( lihat inset gambar 5.1 ) tetapi bila beban ditarik sampai melewati titik A, hokum Hook tidak lagi berlaku dan terdapat perubahan permanen dari bahan. Terdapat konvensi batas regangan permanen (

Permanent Strain ) sehingga masih disebut

perubahan elastis yaitu kurang dari 0.02 %, tetapi sebagian referensi menyebutkan 0.005 %. Tidak ada standarisasi yang universal mengenai nilai ini.

• Batas proporsional

Titik sampai dimana penerapan hokum Hooke masih bisa di tolerir.Tidak ada standarisasi tentang nilai ini. Dalam praktek, biasanya batas proporsional sama dengan batas elastis.

• Deformasi plastis

Yaitu perubahan bentuk yang tidak kembali ke keadaan semula. Pada gambar 5.1, Yaitu

PROPERTY BESARAN DAN

SATUAN

Diameter ( mm ) 5,000 Luas Penampang

( mm2) 19,16 Panjang Ukur

( mm ) 50,0

Beban Ulur

( kgf ) 235

Kuat Ulur,

kgf/mm2( Mpa ) 12,0 ( 117 ) Beban Maksimum,

kgf 265

Kuat Tarik

kgf/mm2( Mpa ) 13,5 (132 ) Panjang Setelah Patah

( mm ) 54,0

Regangan Dalam

(7)

ISU TEKNOLOGI STT MANDALA VOL.13 NO.1 JULI 2018 p-ISSN 1979-4819 e-ISSN 2599-1930 28

bila bahan ditarik sampai melewati batas proporsional dan mencapai daerahlanding.

• Tegangan luluh atas

Tegangan maksimum sebelum bahan memasuki fase daerah landing peralihan deformasi elastic ke plastis.

• Lower Yield Stress

Tegangan rata – rata daerah landing sebelum benanr – benar memasuki fase deformasi plastis. Bila hanya disebutkan tegangan luluh ( Yield Stress ), maka yang dimaksud adalah tegangan ini.

• Regangan luluh

Regangan yang diakibatkan perubahan elastis bahan. Pada saat beban dilepaskan regangan ini akan kembali ke posisi semula.

• Regangan plastis

Regangan yang diakibatkan perubahan

plastis.Pada saat beban dilepaskan

regangan ini tetap tinggal sebagai perubahan permanen bahan.

• Regangan total

Merupakan gabungan antara regangan elastis dan regangan plastis,εT=εe+ εp.

Perhatikan beban dengan arah AOBE.Pada titik B, regangan yang ada adalah regangan total. Ketika beban dilepaskan, posisi regangan ada pada titik E dan besar regangan yang tinggal ( OE ) adalah regangan plastis.

• Tegangan tarik maksimum

Pada gambar 5.1 tegangan taarik maksimum ditunjukan dengan titik C, dan beban ini merupakan besar tegangan maksimum atau beban yang diterima oleh material sebelum

mengalami Necking dan juga Fructure yang

didapatkan dalam uji tarik.

• Kekuatan patah

Pada gamabar 5.1 ditunjukan dengan titik D, merupakan besar tegangan dimana bahan yang diuji putus atau patah. Untuk hampir semua logam, pada tahap sangat awal dari uji tarik hubungan antara beban atau gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan panjang bahan tersebut. Ini desebut daerah linier atauLinear Zone.

Tegangan yang terjadi adalah beban yang terjadi dibagi luas penampang bahan dan regangan adalah pertambahan panjang dibagi panjang awal bahan.

• Tegangan luluh pada data tanpa

batas jelas antara perubahan elastic dan plastis.

Untuk hasil uji tarik yang tidak memiki daerah linier dan landing yang jelas, tegangan luluh biasanya didefinisikan sebagai tegangan yang menghasilkan regangan permanen sebesar 0.2 %, regangan ini disebutOffset – Strain.

Gambar 5.3 Kurva tanpa daerah linier

• Gambar 5.3 penentuan tegangan

luluh ( Yield Stress ) untuk kurva

tanpa daerah linier. Perlu diingat bahwa satuan SI untuk tegangan ( stress ) adalah Pa ( pascal, N/m2 )

dan regangan ( strain ) adalah

besaran tanpa satuan.

• Diagram tegangan – regangan bahan

keramik dengan menggunakan uji lentur mirip dengan hasil pengujian tarik untuk bahan logam ( Aluminium ).

Terdapat hubungan linear antara tegangan – regangan. Modulus elastisitas bahan adalah

slope( kemiringan ) dari nilai tegangan –

(8)

Gambar 5.4 Diagram tegangan – regangan linier untuk deformasi elastis.

Dalam bentuk matematis dapat ditulis

sebagai berikut :

= ∆

Dimana :

E = Modulus elastisitas bahan

( Mpa )

σ = Tegangan ( Mpa )

= Regangan ( % )

5.3 Pembahasan interpretasi hasil uji tarik

Selanjutnya akan bahas mengenai istila – istila lain yang penting seputar interpretasi dari hasil uji tarik.

 Kelenturan( ductility)

Merupakan sifat mekanik bahan yang

menunjukkan derajat deformasi

plastis yang terjadi sebelum suatu bahan putus atau gagal pada uji tarik. Bahan disebut lentur ( ductile ) bila

regangan plastis yang terjadi sebelum putus lebeih dari 5 %, bila kurang dari itu maka bahan tersebut disebut getas (brittle).

• Daerah ketangguhan

Kapasitas suatu bahan menyerap energi dalam fase plastis sampai bahan tersebut putus. Sering disebut

modulus ketangguhan ( Modulus Of

Toughness ). Dalam gambar 5.1,

modulus ketangguhan sama dengan luas daerah dibawah kurva OABCD.

• Pengerasan regan (Strain hardness)

Sifat dari kebanyakan logam yang

ditandai dengan naiknya nilai

tegangan berbanding rengangan

setelah memasuki fase plastis.

VI. SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan

Dari hasil percobaan pengujian uji tarik yang telah dilakukan di Balai Besar Bahan Dan Teknik ( B4T ), maka dapat disimpulan bahwa :

1. Bila kekuatan maksimum dari suatu material yang diuji meningkat maka elongasinya menurun. Sedangkan kekuatan maksimumnya menurun maka elongasinya naik.

2. Proses penarikan kawat adalah salah satu proses pengerjaan dingin yang dilakukan pada kondisi temperatur kamar, saat ini proses uji tarik banyak digunakan untuk memproduksi kawat listrik dan kawat – kawat industri lainnya.

3. Dari hasil analisis diatas, penulis mencoba memahami mekanisme regangan dan tegangan dan juga sifat – sifat mekanis dari bahan tersebut.

4. Kecepatan deformasi juga

mempunyai pengaruh terhadap

proses penarikan kawat itu sendiri,

yaitu pengaruh terhadap gaya

penarikan dan batas – batas

penarikan pada kondisi tertentu.

5. Perubahan sifat mekanik akibat

pengerjaan dingin terjadi bila

(9)

ISU TEKNOLOGI STT MANDALA VOL.13 NO.1 JULI 2018 p-ISSN 1979-4819 e-ISSN 2599-1930 30

6. Proses pengerjaan dingin akan

merubah sifat mekanis logam

tersebut, bila derajat deformasi naik, kekuatan mulur, kekuatan tarik akan naik pula. Tetapi perpanjangan atau

keuletan akan turun dengan

meningkatnya derajat deformasi.

6.2 Saran

1. Saat melakukan Pengujian dengan mesin AMSLER disarankan lebih teliti agar hasilnya bisa lebih akurat lagi.

2. Disarankan agar dalam pengujian selanjutnya, menggunakan Mesin

AMSLERyang Otomatis biar hasilnya

lebih memuaskan.

3. Untuk selanjutnya dalam melakukan pengujian tarik dilakukan lebih banyak lagi.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Askeland., D. R., 1985, “

The Science

and

Engineering

of

Material

”,

Alternate Edition, PWS Engineering,

Boston, USA

2.

Ahmadi Rafael, 2011, “

Laporan

Material

Teknik

Uji

Tarik

“,Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Banten.

3.

Asyari Daryus, 2013. “

Proses

Produksi

“,Universitas

Darma

Persada

Jakarta

4. Dieter,

E.

George,

1993,

Metalurgi Mekanik

”, Jakarta: PT.

Gelora Aksara Pratama.

5.

S. Nurjannah, 2011, “Sejarah Umum

Aluminium “Universitas Sumatera

Utara.

6.

Tata Surdia, 1995, “Pengetahuan

Bahan Teknik”,Istitut Teknologi

Gambar

Gambar 1.Mesin uji tarik dilengkapi spesimenukuran standar.
gambar 4.1. dan kurva tersebut menunjukanhubungan perubahan panjang.
Gambar 5.1 Profil Data Hasil Uji Tarik
Gambar 5.3 Kurva tanpa daerah linier

Referensi

Dokumen terkait

Mengetahui dan membandingkan hasil pengujian tarik dari raw materian dan heat treatment material serta dampak variasi waktu tahan perlakuan panas.. Mengetahui dan

Kemudian untuk mengetahui sifat fisis dan mekanis material setelah dilas dilakukan beberapa pengujian meliputi : pengujian komposisi kimia menggunakan standar

Kemudian untuk mengetahui sifat fisis dan mekanis material setelah dilas dilakukan beberapa pengujian meliputi : pengujian komposisi kimia menggunakan standar

Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian kekuatan uji tarik ( tensile strengh) dan uji mikro untuk mengetahui seberapa besar kemampuan Magnesium

Adapun besarnya kekuatan tarik tertinggi pada pengujian dengan penekanan 2 detik pada ketebalan bahan 1,2 mm besarnya 256 Mpa dan terendah pada pengujian dengan

Pengujian tarik dilakukan untuk mengetahui besarnya kekuatan tarik dari bahan komposit serbuk sabut kelapa dengan poliester.. Pengujian dilakukan menggunakan mesin uji

1 BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab 1 ini akan dijelaskan mengenai latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah dan kerangka penelitian yang

KESIMPULAN Berdasarkan pembuatan dan pengujian alat fabrikasi komposit vacuum bag dengan menggunakan metode VDI 2221 dan perbandingan hasil pengujian tarik yang dilakukan terhadap