• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVOLUSI DAN PERKEMBANGAN GENERASI KETIG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EVOLUSI DAN PERKEMBANGAN GENERASI KETIG"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

“EVOLUSI DAN PERKEMBANGAN GENERASI KETIGA

DALAM ANALSIA POLITIK LUAR NEGERI”

Retno Purwanti Hubungan Internasional Universitas Brawijaya Malang

Abstrak

Politik luar negeri merupakan salah satu bidang kajian studi hubungan internasional.

Dimana bidang kajian ini berada pada interaksi antara aspek dalam negeri suatu negara

(domestik) dan aspek internasional (eksternal) dari suatu negara. Menurut Paul R. Viotti dan

Mark V. Kauppy mendefinisikan politik luar negeri sebagai keputusan dan perilaku yang

ditempuh oleh negara-negara dalam interaksinya dengan negara lain atau dalam organisasi

internasional (Viotti dan Kauppy, 1999:478). Menurut Plano politik luar negeri merupakan

strategi atau rencana tindakan yang dibentuk oleh para pembuat keputusan suatu negara

dalam menghadapi negara lain atau unit politik internasional lainnya, dan dikendalikan untuk

mencapai tujuan nasional spesifik yang dituangkan dalam terminologi kepentingan nasional

(Plano, 1999:5).

Ada beberapa generasi dalam analisis kebijakan luar negeri. Pertama, oleh kaum

behavioralis pasca Perang Dunia II. Generasi berikutnya tahun 1974-1993 namun masih

disebut pemikir klasik, mengkritik sekaligus menghadirkan metode-metode baru, dengan

kontribusi dari ilmuwan pos positivis. Generasi terakhir muncul di tahun 1993-sekarang,

yang lebih komprehensif dalam memandang analisis kebijakan luar negeri dan melengkapi

kekurangan yang ada dari generasi sebelumnya.

(2)

I. LAHIRNYA ANALISA POLITIK LUAR NEGERI a. Karakteristik dan Fungsi Politik Luar Negeri

Paul R. Viotti dan Mark V. Kauppy mendefinisikan politik/kebijakan luar negeri

sebagai keputusan dan perilaku yang ditempuh oleh negara-negara dalam interaksinya dengan

negara lain atau dalam organisasi internasional (Viotti dan Kauppy, 1999:478). Politik luar

negeri yang spesifik dilaksanakan oleh suatu negara sebagai inisiatif atau reaksi inisiatif yang

dilakukan oleh negara lain. Kebijakan luar negeri mencakup proses dinamis dari penerapan

pemaknaan kepentingan nasional yang relatif tetap terhadap faktor situsional yang sangat

fluktuatif di lingkungan internasional dengan maksud untuk mengembangkan suatu cara

tindakan yang diikuti oleh upaya untuk mencapai pelaksanaan diplomasi sesuai dengan

panduan kebijaksanaan yang telah ditetapkan.

Tujuan kebijakan luar negeri sebenarnya merupakan fungsi dari proses dimana tujuan

negara disusun. Tujuan tersebut dipengaruhi oleh pengalaman yang dilihat dari masa lalu dan

sasaran serta aspirasi di masa depan. Untuk mencapai tujuan di atas, politik/kebijakan luar

negeri perlu dibuat dan dianalisa terlebih dulu oleh pembuat keputusan (decision maker).

Dimana formulasi dari kebijakan tersebut didahului dari adanya masukan, proses dan

keluaran yang akhirnya menimbulkan umpan balik untuk pembuatan kebijakan baru atau

sebagai suatu bahan untuk evaluasi.

Dalam pandangan Coplin, politik luar negeri terbagi dalam tiga sifat, yaitu umum,

administratif, dan krisis (Coplin, 1992). Politik luar negeri yang bersifat umum terdiri atas

serangkaian keputusan yang diekspresikan melalui pernyataan-pernyataan kebijakan dan

tindakan-tindakan langsung. Sementara, politik luar negeri yang bersifat administratif dibuat

oleh anggota-anggota birokrasi pemerintah yang bertugas melaksanakan hubungan luar

negeri negaranya. Salah satu contohnya adalah Amerika Serikat di bawah administrasi

Presiden George Walker Bush menetapkan politik luar negeri berupa Global War on

Terrorism (GWOT). Sedangkan, politik luar negeri yang bersifat krisis merupakan kombinasi

dari kedua keputusan yang bersifat umum dan administratif. Keputusan krisis merupakan

pengambilan keputusan yang diambil secara cepat dalam situasi darurat.

(3)

Analisa Politik Luar Negeri (APLN) lahir akibat ketidakpuasan terhadap kejayaan

realisme dalam hubungan internasional pasca Perang Dunia II, dimana state sebagai aktor

utama atau “unitary state actor” yang mengejar kepentingan nasional, power, dan rasional

dalam pembuatan dan pengambilan keputusan. Menurut realisme, negara merupakan

satu-satunya aktor dalam hubungan internasional dimana peran dalam pencapaian kepentingan

nasional terletak pada negara, sedangkan pada realitanya di dalam suatu negara terdapat unit

lain yang memberikan pengaruh dan menerima dampak dari setiap pengambilan kebijakan

baik dari aktor individu, kelompok kepentingan, media, dan berbagai aktor lainnya. Dalam

hal ini APLN berupaya untuk merubah pandangan tersebut.

Dalam menganalisa kebijakan luar negeri, menurut Hudson dan Vore ( 1995: 211),

dalam praktiknya manusia memproses informasi bukan berdasarkan analisis rasional tetapi

dengan cara yang berbeda bila sedang dalam kondisi stress dan dalam kondisi rutin. Situasi

atau lingkungan operasional dari suatu keputusan dapat di interpretasikan dengan berbagai

cara, bergantung pada refrensi sejarah sebelumnya, kepribadian dan pengalaman sebelumnya

dalam menghadapi berbagai situasi serta keadaan sosial dan budaya mereka. Agenda-agenda

dan kepentingan, seperti untuk menjaga kesepakatan kelompok atau keinginan untuk melindungan dan memperluas kartu „ tawaran „ dan jumlah aktor yang terlibat, dapat juga mengurangi pemikiran rasional tentang biaya dan keuntungan. Faktor lain seperti emosi dan

motovasi ideology juga menjadi pertimbangan rasional dalam analisa cost/benefit.

c. Pembagian Generasi dalam Analisa Politik Luar Negeri

Ada beberapa generasi dalam analisis kebijakan luar negeri. Pertama, dikonstruksikan

oleh kaum behavioralis pasca Perang Dunia II, mereka mentransformasikan ilmu sosial

dengan pendekatan yang bersifat eksak atau ilmu alam. Generasi tersebut merupakan pemikir

klasik atau yang disebut dengan generasi pertama (1954-1973). Generasi ini menekankan

pada struktur dan proses dari kelompok kecil pembuat keputusan luar negeri, yang bekerja

dan memiliki pengaruh besar dalam suatu organisasi dan birokrasi besar.Tradisi penelitiannya

bersifat empiris yang menggunakan analisa tetap dari data eksperimental seperti studi kasus.

Menurut Hudson ( Hudson, 2008), generasi pertama ( 1954-1974 ) merupakan peletak dasar

APLN yang menjadi landasan perkembangan analisa selanjutnya. Beberapa konsep dan

teori-teori penting yang muncul dari generasi pertama adalah proses kognitif, orientasi, dan

personalitas pemimpin, dinamika kelompok kecil, proses organisasi, politik birokratik,

(4)

Generasi kedua APLN ( 1974-1993 ) melanjutkan generasi pertama ini dengan

penekanan yang lebih mendalam pada beberapa konsep. Masih disebut pemikir klasik,

mengkritik sekaligus menghadirkan metode-metode baru, dengan kontribusi dari ilmuwan

pos positivis. Perhatian berikut dari generasi kedua adalah pada proses organisasi dan politik

birokrasi.

Generasi terakhir mumcul di tahun 1993-sekarang, yang lebih komprehensif dalam

memandang analisis kebijakan luar negeri dan melengkapi kekurangan yang ada dari generasi

sebelumnya. Generasi ketiga ini terdiri dari kaum pos positivis dan konstruktivis yang

menawarkan solusi lebih lugas untuk analisis kebijakan luar negeri serta menghadirkan

berbagai alternative pemikiran baru yang selama ini termarjinalkan atau belum ke

permukaan. Pada saat itu adanya konflik antara blok Uni Soviet dan Amerika dalam perang

dingin. Aktor dalam generasi ini tidak lagi didominasi oleh Negara, tapi juga dengan

informasi yang spesifik serta menerima teori-teori menengah ke bawah dan bukan hanya

grand teori saja, dimana kedudukan dari proses pengambilan keputusan dipertimbangkan

sama pentingnya dengan hasil kebijakan yang didapatkan.

II. KONSTRUKTIVISME

Generasi ketiga APLN (1993-Sekarang) berkembang belakangan ini dengan

kemunculan teori-teori kritis dan konstruktivis. Penekanan generasi ini tidak lagi terbatas

pada negara tetapi bisa aktor-aktor non-state bahkan people to people dan masyarakat ke

masyarakat seperti yang dikembangkan oleh pandangan kosmopolitanisme dan PLN.

a. Kontruktivisme dalam analisa kebijakan luar negeri

Kemunculan kontruktivisme dalam analisa politik luar negeri tidak jauh berbeda

dengan ketidakpuasan dari realism yang menempatkan negara sebagai unitary state aktor.

Terdapat tiga aspek kontruktivisme dalam analisa kebijakan luar negeri (Copeland, 2006 a

:3-4 b) :

Intersubjective understanding

Politik global dikendalikan oleh ide-ide, norma-norma, konsepsi-konsepsi,

asumsi-asumsi, dan nilai-nilai yang secara luas dimiliki secara bersama-sama oleh para aktor (secara

intersubjectif). Menurut Tannenwald (Tannenwald, 2005: 15), ide-ide merupakan konstruksi

mental yang dimiliki para individu, yang memberikan orientasi luas terhadap perilaku dan

kebijakan.

(5)

Berbeda dengan neo-realis yang menganggap struktur internasional mempunyai

pengaruh langsung terhadap perilaku negara, struktur internasional, yang bagi kalangan

konstruktivis disebut struktur ideasional, memiliki pengaruh yang membentuk (constitutive)

dan mengatur (regulative), bukan pengaruh langsung yang bersifat kausalitas terhadap

aktor-aktor.

Lebih khusus lagi, seperti dikatakan oleh Nina Tannenwald, terdapat 4 tipe struktur

atau sistem ide dalam kaitannya dengan perilaku aktor-aktor, yaitu sistem-sistem ideologis

atau sistem kepercayaan yang dimiliki bersama, kepercayaan-kepercayaan normative,

kepercayaan sebab-akibat, dan preskripsi-preskripsi kebijakan ( ideologis of shared belief

systems, normative belief, cause-effect beliefs, and policy prescriptions).

Hubungan Agen dan Struktur

Struktur ideadional dan aktor-aktor atau agen-agen saling membentuk dan

menentukan satu sama lain. Struktur membentuk kepentingan dan identitas aktor tetapi

struktur juga di produksi, direproduksi dan diubah melalu praktik terus-menerus dari para

agen.

Berangkat dari kritik terhadap realis yang menganggap fenomena atau realitas

internasional tidak berubah dan selalu diwarnai dengan anartki dan konflik perebutan dan

pengaruh dan kekuasaan, kontrukstivisme melihat dunia selalu dalam proses perubahan dan

bahwa anarki, seperti dikatakan Wendt, bergantung pada negara-negara atau what states

make of it. Praktik dan perilaku negaralah yang mempengaruhi hasil, dan dunia sosial ini

merupakan sesuatu yang dikontruksikan menjadi anarkis atau tidak.

b. Perkembangan Konstruktivitas dan APLN

Dalam perkembangan awal kontrukstivis, negara masih dilihat sebagai aktor utama

dalam politik luar negeri. Menurut Alex Wendt, negara seperti black box yang memiliki

selain collective identity juga sorporate identity yang diberikan. Namun dalam

perkembangannya, kaum konstruktivisme menekankan pada pembentukan aturan dan norma

tanpa memandang batas negara. Faktor domestik lain bagi kontrukstivis adalah berupa

sumber-sumber kognitif di masyarakat tentang pilihan atau preferensi negara.

Ted Hopf mengaitkan konstruktivis dengan APLN dalam bukunya “Social

Construction of Internasional Politics”. Tulisannya dipengaruhi oleh psikologi kognitif

dimana, “ masyarakat diasumsikan terdiri atas struktur kognitif sosial tempat terjadinya proses pembentukan diskursif. Identitas-identitas membentuk formasi (diskursif) itu. Para

(6)

formations, dan praktik kehidupan social mereka membentuk (constitute) diri mereka sendiri

dan orang lain, serta identitas dan formasi diskursif yang membentuk struktur kognitif

dimana mereka hidup” (Hopf, 2002 : 3-4).

Menurut Jutta Weldes yang mengangkat konsep kepentingan nasional. Tetapi bebeda

dengan konsep realis yang manganggap kepentingan nasional hanya sebagai sesuatu yang

ditemukan, ia menganggap bahwa kepentingan nasional adalah konstruksi yang diciptakan

sebagai obyek yang bermakna melalui makna-makna yang secara intersubyektif dan budaya

sudah mapan dalam mana dunia, khususnya sistem internasional dan tempat negara

didalamnya, bisa dipahami. Lebih khusus lagi, kepentingan nasional muncul dari representasi

atau melalui deskripsi situasi dan definisi masalah dimana pejabat-pejabat memahami dunia

di sekitar mereka.

III.GENERASI KETIGA dalam ANALISA POLITIK LUAR NEGERI a. Frameworks, Classification Schemes and Data Development Activities

Usaha pertama untuk membuat penelitian tentang kebijakan luar negeri dan untuk

menciptakan penjelasan umun tentang kebijakan luar negeri (foreign policy) terlihat dalam

bentuk kerangka bertingkat dan tipologi. Kerangka ini sebenarnya adalah daftar dari faktor

berpotensi relevan yang perlu untuk dipertimbangkan demi memahami proses pembuatan

kebijakan politik luar negeri. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi sumber-sumber yang

relevan dari kebijakan politik luar negeri. Sumber atau variabel ini memiliki berbagai variasi

level of analysis, seperti individu, birokrasi dan masyarakat. Kerangka ini berkembang

dengan pendapat bahwa analisa secara tradisional terhadap kebijakan politik luar negeri, tidak

cukup untuk menjelaskan secara penuh mengenai keputusan kebijakan politik luar negeri.

Penelitian ini juga dipengaruhi oleh tantangan dari revolusi behavioral, dengan pandangan

neopositivis dan target jangka panjangnya adalah mengembangkan pengujian empiris

terhadap teori tentang kebijakan politik luar negeri. Berikut ini adalah beberapa usaha untuk

mencapai target ini.

Usaha pertama adalah usaha untuk mengembangkan kerangka kerja yang sistematis

oleh Snyder, Bruck dan Sapin yaitu dengan model action-reaction-interaction. Bagi mereka, “kunci dari penjelasan mengapa negara bertindak dengan cara seperti itu terletak pada cara bagaimana pembuat kebijakan mendefinisikan situasi mereka” (1954,65). Definisi tentang situasi dihasilkan dari hubungan dan interaksi antara unit-unit pembuat kebijakan, baik dalam

lingkungan domestik maupun internasional, dengan membawa atribut personal, nilai-nilai

(7)

psikologi dan sosiologi, yang berangkat dari ide bahwa negara sebagai aktor monolitik yang

berusaha mendapatkan kepentingan nasionalnya. Kerangka ini kemudian digunakan oleh

Snyder dan Paige (1958) untuk menganalisa kebijakan AS untuk mengintervensi Korea pada

tahun 1950.

Kerangka kerja Snyder, Bruck dan Sapin kemudian dikritik karena kompleksitas dan

kegagalannya untuk secara spesifik menjelaskan bagaimana variabel berhubungan satu sama

lain dan disusun sesuai tingkat kepentingannya. Saat itu, kerangka ini merupakan satu

langkah kemajuan dalam penelitian kebijakan politik luar negeri karena definisi eksplisitnya,

indikasi dari asumsi dasarnya, penekanannya di keputusan sebagai unit dari analisa, usahanya untuk menguraikan arti dari tindakan atau keputusan dari “negara” dan khususnya, karena targetnya untuk menciptakan sebuah struktur dimana kebijakan politik luar negeri dari negara

manapun bisa dianalisa.

Usaha kedua untuk menciptakan penjelasan umum tentang kebijakan politik luar

negeri berasal dari James Rosenau. Rosenau memindahkan beberapa langkah-langkah dari

kerangka Snyder, Bruck dan Sapin dengan menguji proposisi “if-then”, mengelompokkan

sumber-sumber potensial dari kebijakan politik luar negeri dalam 5 kategori dan

mengusulkan cara untuk menyusun kepentingan dari kelompok variabel ini berdasarkan pada

isu spesifik dan atribut dari negara (seperti ukuran, akuntabilitas politik/level demokrasi,

tingkat pembangunan). 5 kelompok sumber kebijakan politik luar negeri yang dikembangkan

oleh Rosenau – idionsyncratic (individu), peran, pemerintah, masyarakat dan variabel

sistemik -, digunakan sebagai dasar dari analisa di banyak artikel, buku tentang politik luar

negeri, dan berbagai bacaan selama 3 dekade terakhir ini.

Studi kasus tentang Israel yang dilakukan Michael Brecher merupakan usaha

berikutnya dalam pengembangan suatu kerangka untuk memahami keputusan kebijakan

politik luar negeri. Berangkat dari hasil pekerjaan Harold Sprout dan Margareth Sprout

(1956,1957,1965), Brecher mengembangkan suatu model input-process-output dan

mengklasifikasikan faktor-faktor yang penting dalam proses pembuatan kebijakan. Perspektif

ini memberikan perhatian pada hubungan antara lingkungan operasional atau eksternal

(kemampuan militer dan ekonomi, struktur politik, kelompok kepentingan, faktor eksternal)

dengan interpretasi atau persepsi pembuat kebijakan terhadap lingkungan tersebut, yang

kemudian disebut Brecher sebagai psychological environment. Brecher juga mengenalkan

serangkaian gambaran dari area isu kebijakan (militer-keamanan, politik-diplomasi,

ekonomi-pembangunan, budaya-status) yang menurutnya mempengaruhi keputusan kebijakan politik

(8)

Pendekatan terkini mengenai dampak dari struktur keputusan dalam kebijakan politik

luar negeri berasal dari Hermann, Hermann dan Hagan (1987). Hasil pekerjaan ini berusaha

untuk mempertimbangkan teori yang berbeda tentang proses pengambilan kebijakan dengan

mengusulkan bahwa jenis unit keputusan yang terakhir dan sifat alami proses pengambilan

kebijakan di dalam unit keputusan mempengaruhi baik pilihan yang nyata maupun

dampaknya secara domestik dan internasional. Menurut pendekatan ini ada 3 kategori dari

unit keputusan yaitu, a predominant leader (sesorang yang memiliki kekuasaan untuk

membuat pilihan untuk pemerintah), a single group (semua individu yang dibutuhkan untuk

alokasi partipasi keputusan dalam kelompok dan kelompok membuat keputusan melalui

proses interaktif antar anggota) dan multiple autonomous actors (keputusan tidak melibatkan

manapun individu atau kelompok yang tunggal yang dapat dengan bebas memecahkan

perbedaan ada di antara kelompok atau itu dapat membalikkan keputusan apapun jangkauan

kelompok secara bersama-sama). Pendekatan ini juga menyatakan bahwa faktor yang

berbeda akan relevan untuk masing-masing unit keputusan (decision unit).

Pengembangan dari kerangka bertingkat-tingkat untuk memahami pilhan politik luar

negeri, diilhami penciptaan pengumpulan data peristiwa lintas bangsa untuk mengevaluasi

kerangka ini dan untuk mencoba untuk menangkap sifat interaktif tentang politik luar

negeri:.Sebagai tambahan, pengumpulan data peristiwa lintas bangsa sering mempunyai

suatu penyimpangan yang tak disengaja ke arah dunia Barat dalam kaitan dengan tidak

adanya ketersediaan data dari negara Dunia Ketiga atau karena variabel yang dipilih berasal

dari konsepsi Barat dalam hal proses politik, ideologi dan struktur.

b. Societal Sources of Foreign Policy

Semua keputusan kebijakan politik luar negeri terjadi pada khususnya konteks

domestik. Lingkungan ini termasuk nilai-nilai, karakter nasional dan sejarah tradisi

masyarakat, atribut struktural (ukuran, tingkat industrialisasi, bentuk pemerintahan dll), dan

khususnya isu politik yang penting di setiap waktu. Pada tahun 1960 dan 1970-an, sejumlah

studi empiris menguji hubungan antara kebijakan politik luar negeri dan atribut negara.

Baru-baru ini, perhatian juga difokuskan pada beragamnya aktor non negara, seperti MNC,

kelompok etnis, kelompok kepentingan, media dan masyarakat umum, yang berusaha

mempengaruhi kebijakan politik luar negeri yang dibuat oleh para elit negara. Usaha untuk

mempengaruhi ini bisa melalui partisipasi politik konvensional, seperti voting dan kampanye,

maupun melalui partisipasi politik non konvensional yang berupa demonstrasi, protes dan

(9)

Bukti bahwa adanya hubungan antara kebijakan politik luar negeri dan opini publik

tidak begitu jelas dan seringkali berlawanan. Beberapa sarjana berpendapat bahwa opini

publik tidak relevan dengan proses pembuatan kebijakan atau opini publik lebih sering

mengikuti pimpinan pembuat kebijakan politik luar negeri dibandingkan mempengaruhi

pengambilan keputusan. Analisa terkini menyebutkan bahwa opini publik mungkin

berpengaruh pada isu-isu tertentu atau di dalam kondisi-kondisi tertentu dan tidak relevan

pada hal-hal lainnya.

Signifikansi opini public sebagai penentu kebijakan politik luar negeri mungkin lebih

banyak terlihat di negara lain dari pada di Amerika Serikat. Dalam hal ini opini publik

menjadi lebih penting sebagai faktor eksplanatori dalam beberapa tahun terakhir. Bagi

sebagian besar dunia, koneksi antara perhatian domestik dan asing lebih terlihat dan tegas.

Bruce Moon berpendapat bahwa di banyak negara, persepsi positif dari public dapat

digunakan sebagai sumber utama legitimasi bagi pemerintah, khususnya saat legitimasi sulit

dicapai akibat kebijakan domestic atau saat negara ditekan oleh kekuatan dari luar. Jadi,

peran opini publik dalam pilihan kebijakan politik luar negeri harus dipahami dalam konteks

posisi global dari masing-masing negara dan hubungan antara negara dengan masyarakat.

Riset pada pentingnya pendapat publik sering mensyaratkan bahwa rejim yang

demokratis lebih dibatasi secara politis dibanding lawan mereka di rejim otoriter. Asumsi ini

mengait sebagian dari suatu kegagalan untuk mengenali keaneka ragaman dari lawan yang

dapat dinyatakan. Investigasi Hagan (1987, 1994) pada 30 negara selama tahun 1960-an

menyimpulkan bahwa perlawanan domestik secara signifikan berpengaruh pada substansi

dan gaya kebijakan politik pada berbagai negara, tidak hanya pada negara yang menggunakan

sistem demokrasi.

c. Bureaucratic Structures and Processes

Suatu pendekatan umum kedua pada studi tentang politik luar negeri berfokus pada

dampak dari struktur birokrasi, subcultures, dan proses pembuatan keputusan pada pihan

yang akhirnya dibuat. Hilsman (1952, 1959) & Schilling, Hammond & Snyder (1962)

merupakan sarjana pertama yang mempelajari kebijakan birokrasi dan kebijakan politik luar

negeri. Pada tahun 1970-an, penelitian yang dilakukan oleh Allison (1971), Allison &

Halperin (1972) dan Gelb & Betts (1979) memberikan perkembangan yang signifikan pada

bidang ini.

Allison mengusulkan 3 pendekatan komplementer untuk menjelaskan proses

(10)

organisasi dan politik birokrasi/pemerintah, masing-masing digunakan untuk

menggambarkan pemahaman yang mendalam yang disajikan dengan berbagai lensa

konseptual.

Model I (aktor rasional) menyatakan bahwa pilihan kebijakan politik luar negeri

adalah tindakan dalam penyatuan, pemerintah rasional, berdasarkan perhitungan yang masuk

akal tentang kegunaan dan kemungkinan, untuk mencapai apa yang didefinisikan sebagai “state goals”. Model II (proses organisasional) mencerminkan teori bahwa kebijakan politik luar negeri dapat dengan baik dimengerti sebagai pilihan dan output dari sekelompok

semifeodal, organisasi dengan bebas dipadukan di dalam pemerintahan yang sedang

memelihara minat mereka sendiri dan mengikuti standard operating procedurs. Model III

(bureaucratic/governmental politics) memelihara bahwa politik luar negeri adalah hasil dari

kompetisi yang intensif antar pembuat keputusan dan tawar-menawar sepanjang saluran yang

diatur antar pemain yang diposisikan secara hirarkis di dalam birokrasi pemerintah,

masing-masing dengan perspektifnya di isu yang ada.

Pendekatan birokrasi dalam menganalisa kebijakan politik luar negeri sering

digunakan untuk menganalisa proses pengambilan kebijakan politik luar negeri pada

negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini karena pendekatan ini membutuhkan data yang

detail tentang apa yang terjadi di dalam pemerintahan saat mengambil suatu kebijakan. Data

yang seperti ini biasanya sulit diperoleh dari negara di luar Eropa. Selain itu pendekatan ini

sesuai digunakan untuk menganalisa negara dengan pemerintahan yang memiliki strukur

yang kompleks.

d. Cognitive Processes and Psychological Attributes

Dalam proses pengambilan kebijakan, juga dipengaruhi oleh aktor individu.

Pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh individu juga dipengaruhi oleh beberapa faktor

diantaranya adalah faktor kognitif dan psikologi. Congnitive factor merupakan making

decision within the constraints of “bounded rationality”. Model ini dimunculkan oleh para

penstudi politik luar negeri yang dengan proses psikologis yang dialami pembuat keputusan.

Memusatkan perhatian pada faktor psikologi yang bersifat covert (tertutup), sistem nilai

(value system), sistem keyakinan (belief system), citra (image), dan persepsi yang dimiliki

oleh para pembuat keputusan politik luar negeri. Aspek yang dimiliki oleh individu terkait

dengan faktor kognitif dimana individu tersebut juga mempertimbangkan suatu

(11)

kondisi psikologis dari aktor tersebut. Sedangkan untuk faktor psikologis, suatu individu

atau aktor dalam membuat keputusan tidak terlepas dari psikology faktor yang terdiri dari immediate concern, emotion, image, and leadership‟s personality.

e. Artifial Intellegence

Dalam pembuatan kebijakan luar negeri, terdapat metode baru yang telah

dikembangkan yaitu metode kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dimana dalam

perumusan kebijakan luar negeri, metode ini menggunakan informasi yang spesifik.

Pendekatan ini tidak hanya dibatasi oleh aktor rasional dengan karakteristik yang formal.

Pendekatan dengan metode ini juga memfokuskan perhatian pada gagasan tetang pilihan

dalam pembuatan kebijakan luar negeri. Asumsi dari pengguna model ini adalah proses

pembuatan keputusan merupakan pengolahan informasi dimana pembuat keputusan dengan

seperangkat sistem keyakinan yang ia miliki menyeleksi input yang masuk kemudian dipadu

sistem keyakinan serta merumuskan alternatif keputusan yang diambil.

Teknik Artificial Intelligence menerapkan model berbasis aturan. Pendekatan dengan

metode ini dirasakan mampu mengatasi dan memberikan solusi dari permasalahan yang dialami oleh individu, karena metode ini juga “menangkap” karakteristik manusia dan cara dalam mengatasi masalah tersebut. Model berbasis aturan kurang berhasil, namun, dalam

menangani masalah, pemecahan masalah kurang bertahap dalam pemecahan masalah yang

ditemukan dalam situasi krisis atau dengan keputusan yang melibatkan kontrovesi politik

atau perubahan. Aturan berbasis pada penelitian kebijakan luar negeri umumnya mengambil

dua bentuk. Yang paling umum menggunakan versi cukup sederhana dari struktur if-then dari

sistem pakar. Perilaku yang telah dimodelkan meliputi kebijakan luar negeri Cina,

karakteristik umum perilaku kebijakan luar negeri, aturan untuk keterlibatan perang Vietnam,

respon krisis Soviet, dan sino-soviet negosiasi.

Pemodel kecerdasan buatan juga telah berusaha untuk model proses kognitif itu

sendiri. Pendekatan utama adalah penggunaan analogi atau precedent, originaly

dikembangkan dalam serangkaian makalah oleh Alker dan lainnya. Pendekatan ini

didasarkan pada gagasan bahwa para pembuat keputusan mencari pelajaran "dari masa lalu,

dalam menangani krisis dan terus memodifikasi pelajaran tergantung pada keberhasilan atau

kegagalan kebijakan.

Sebuah precedent model berbasis komputer melibatkan setidaknya tiga unsur.

Pertama, model untuk memudahkan harus menyimpan informasi tentang satu set precedent

(12)

induksi dan pengajaran eksplisit. Kedua, harus ada sarana eksplisit membandingkan situasi

saat ini dengan informasi yang disimpan dalam databsase untuk menentukan situasi atau

situasi akan dipekerjakan sebagai precedent. Akhirnya, sistem harus memiliki beberapa cara

untuk mengoreksi analogi yang keliru melalui umpan balik dan sarana untuk memperoleh

informasi baru. Pentingnya precedent hampir secara universal diterima oleh para peneliti

artificial intellegence foreign policy, tetapi model yang sebenarnya membangun berdasarkan

prinsip yang tampaknya menjadi tantangan besar dan belum sukses sebagai antisipasi. Jika

masalah teknis dapat diatasi, precedent berbasis Al model dapat memberikan pendekatan

yang realistis tentang bagaimana para pembuat keputusan menggunakan sejarah dan cara

sistematis yang mempelajari aspek dari kebijakan luar negeri proses pembuatan.

f. The Emphasis on Decision Making during Crises

Snyder dan diesing dan Lebow juga berfokus pada pengambilan keputusan dalam

situasi krisis. Analisis keduanya didasarkan pada serangkaian studi kasus rinci dari situasi

krisis internasional pada abad 19 an dan abad 20, dengan tujuan membangun sebuah teori

perilaku krisis internasional. Snyder dan diesing mulai dengan teori-teori tentang perilaku

bargainging agregat, tetapi mereka juga memeriksa "efek dari struktur sistem internasional

dan pengambilan keputusan kegiatan para aktor pada proses tawar-menawar. Jadi, mereka

bergeser dari faktor sistemik untuk pemeriksaan persepsi, proses kelompok, dan individu-dan

domestik tingkat variabel. Sebagian besar penyelidikan mereka ditangani dengan enam belas

studi intensif dan lima kasus kurang rinci krisis pada periode 1898-1970, ini telah dilakukan

untuk memberikan informasi yang konsisten pada satu set yang jelas dari hipotesis umum dan

pertanyaan.

g. Another Snyderian’s Model

Selain model-model yang diilhami oleh Snyderian sebagaimana diuraikan dalam bab

sebelumnya, terdapat model lain dalam analisa politik luar negeri, diantaranya actor rasional,

model rasionalitas terbatas, model keputusan incremental, sibenetika, simulasi, dan

kecerdasan buatan

1. Aktor Rasional

Model ini berasumsi bahwa pembuat keputusan merupakan aktor yang bertujuan

(purposeful), selalu diarahkan untuk mencapai suatu sasaran (goals) yang tersusun dengan

baik (well-ordered preference).

(13)

Model rasional terbatas (bounded rationality) yang dikemukakan oleh Herbert A.

Simon. Semua pembuat keputusan selalu berupaya untuk memaksimalkan keputusan

demikian, keputusan harus dididukung oleh informasi, waktu, personil dan sumber daya lain

yang cukup.

3. Keputusan Instrumental

Model keputusan inkremental (incremental decision) dipopulerkan oleh David

Baybrooke dan Charles E. Lindlom. Menurut mereka dalam bidang ilmu politik (politic

realm)tidak selalu dibuat mengikuti pertimbangan dan perbandingan yang hati-hati dan

alternatif yang tersedia.

4. Sibernetika

Diambil dari bahasa Yunani, yang berarti pengendali. Orang yang pertama kali

memperkenalkan adalah Norbert Weiner. Sibernetika memandang pembuatan keputusan

politik sebagai suatu pengendalian dan pengkordinasian, usaha-usaha manusia untuk

mencapai serangkaian tujuan. Faktor yang dianggap menjadi dasar atau kuncinya adalah

transmisi informasi. Hasil dari proses tersebut berupa keputusan yang siap diimplementasikan

dalam lingkungan yang akan menjadi sebuah informasi baru dan masuk kedalam sistem

pemerimaan uyntuk dievaluasi.

5. Simulasi

Simulasi merupakan suatu usaha untuk meniru aspek-aspek tertentu dari suatu sistem

yang mungkin nyata atau pula merupakan suatu hipotesis sebagai sebuah teknik penelitian

dan merupakan sebuah varien dari eksperimen. Ada 3 macam simulasi yang dikembangkan

yaitu simulasi mesin atau computer, simulasi campuran atau simulasi manusia-mesin, dan

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Praktik pengalaman lapangan yang disebut PPL merupakan semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan

bacaan bahasa Jepang sebelum menggunakan metode PQ4R teknik “temukan kesalahannya dulu” dan Posttest dilakukan untuk mengetahui bagaimana kemampuan siswa dalam

Kesimpulan penelitian ini adalah konflik peran tidak signifikan berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor, sedangkan komitmen organisasi dan locus of control

Konsep Sistem Informasi Manajemen (SIM) telah berkembang dari waktu ke waktu, dan para manajer semakin merasakan pentingnya pengelolaan informasi sebagai sumber daya maya

untuk mengandung beberapa jenis kesalahan. Kesalahan dapat berupa penulisan huruf, kosakata, atau pola kalimat dalam bahasa Jepang disesuaikan dengan level pembelajaran

This paper purpose is to predict Economic Relations of ASEAN (Indonesia) + China After AIIB (the Asian Infrastructure Investment Bank), answering economic crisis questioned that

Therefore, this research aims to determine the genetic and phylogenetic variation of Koi herpesvirus (KHV) in carp ( C. carpio ) in Lombok Island of West