• Tidak ada hasil yang ditemukan

SASTRA DAYA KRITIS DAN MORAL BANGSA MEND

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SASTRA DAYA KRITIS DAN MORAL BANGSA MEND"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

SASTRA, DAYA KRITIS, DAN MORAL BANGSA: MENDAYAGUNAKAN SASTRA SEBAGAI SENI DAN PELAJARAN

Manneke Budiman Universitas Indonesia [email protected]

Pengantar

Tak lama setelah terbitnya novel Saman karya Ayu Utami, sambutan gempita yang diberikan publik atas keberanian novel tersebut dalam menyuarakan kritik sosial terhadap Orde Baru berubah haluan menjadi kecurigaan terhadap orisinalitas novel tersebut. Suara-suara miring yang meragukan kemampuan penulisnya atau mempertanyakan siapa sesungguhnya penulis ‘asli’ di balik layar pun berseliweran dengan liar. Namun, yang tak kalah seriusnya adalah gugatan atas cara penulis mendeskripsikan seksualitas para tokoh novelnya. Karya yang pada awalnya dihujani puja dan puji itu dengan cepat dibanjiri kritik moral yang keras dan tajam. Apalagi ketika bermunculan beberapa perempuan penulis lain, seperti Dinar Rahayu (Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch), Herlinatiens (Garis Tepi Seorang Lesbian), dan Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang Saya Monyet!), yang juga menulis dengan keberanian yang kurang lebih sama. Kritik yang mereka terima makin menjadi-jadi.

Para laki-laki kritikus sastra tak kurang heboh. Sebuah istilah yang bermakna merendahkan dikenakan kepada para perempuan penulis “sastra selangkangan” atau “fiksi kelamin” ini (meminjam julukan yang diberikan oleh penyair Taufiq Ismail), yaitu sastrawangi. Istilah yang pertama kali digelontorkan oleh Bre Redana ini lebih merujuk pada paras, kemolekan tubuh, dandanan, serta gaya hidup dan ruang pribadi para penulis itu daripada substansi karya-karya mereka. Sebagian kritikus yang paling tajam kecamannya justru adalah sesama perempuan penulis, seperti Medy Loekito dan Helvy Tiana Rosa, yang menyebut karya-karya sejawat mereka sebagai “vulgar” dan justru merendahkan martabat perempuan. Begitu derasnya arus kritik itu sampai-sampai semenjak saat itu kita tidak lagi menjumpai karya-karya Herlinatiens ataupun Dinar Rahayu yang lainnya. Penulis yang tak gentar dengan serangan publik dan tetap konsisten menulis tentang tubuh dan seksualitas perempuan adalah Djenar Maesa Ayu, yang lalu juga menerbitkan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) dan Nayla. Ayu Utami juga tetap produktif, meski sepertinya kadar seksualitas dalam karya-karyanya yang muncul kemudian tidak se-‘vulgar’ Saman.

(2)

Penulis lain yang menjadi korban penghakiman moral oleh khalayaknya adalah novelis Inggris D.H. Lawrence. Novelnya berjudul Lady Chatterley’s Lover yang sangat seksual dan terbit pada 1928 dinyatakan sebagai bacaan terlarang di Amerika Serikat hingga 1959, sementara di Inggris sendiri larangan baru dicabut setahun kemudian, yaitu pada 1960. Novel ini bercerita tentang seorang perempuan bangsawan Inggris yang berselingkuh dengan tukang kebunnya yang berasal dari kelas pekerja. Penerbitan novel itu pada 1928 pun harus dilakukan di Italia karena penerbit-penerbit Inggris menolak untuk menerbitkannya atas dasar pertimbangan moral. Sebelumnya, novelnya yang lain, The Rainbow, yang terbit pada 1915, juga diberangus karena dinilai terlalu seksual. Kini, Lawrence termasuk dalam jajaran penulis terbesar Inggris yang karya-karyanya dikanonisasikan.

Pada 1968, dunia sastra di Indonesia juga digemparkan oleh terbitnya sebuah cerpen dalam majalah Sastra edisi 8 Agustus berjudul “Langit Makin Mendung”, karya penulis bernama samara Ki Panji Kusmin. Kantor majalah Sastra diserbu dan dirusak, sementara beratus-ratus kopi majalah disita dari toko-toko. Sejumlah penulis, seperti Umar Kayam, Taufiq Ismail, dan Trisno Sumardjo melakukan aksi solidaritas dengan majalah Sastra atas pembredelan majalah tersebut. Peristiwa ini sampai menyebabkan redaktur majalah Sastra, H.B. Jassin, dihadapkan ke pengadilan karena melindungi penulis cerpen dengan menolak mengungkapkan identitas aslinya. Apa pasal? Cerpen itu dianggap menghina Islam sebab menampilkan sosok Nabi Muhammad dan Tuhan sebagai tokoh dalam cerita dengan cara yang terlalu harfiah.

Melihat tiga kasus ini, rupanya sastra disikapi cukup serius oleh masyarakat dan sama sekali tidak dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting atau sekunder dalam hidup mereka. Selanjutnya, sastra dipandang penting sebab tampaknya ada pemahaman umum bahwa sastra adalah medium untuk menyampaikan hal-hal yang baik, dan ‘yang baik’ ini ternyata tidak selalu harus berasosiasi dengan yang nyata atau yang benar. Tak kalah pentingnya, masyarakat akan segera bereaksi jika melihat bahwa sastra tidak memenuhi harapan mereka untuk memenuhi fungsi sebagai medium kebaikan itu. Dengan demikian, sastra diberi fungsi sebagai pengusung nilai-nilai ideal, dan bagi khalayaknya, fungsi ideal ini lebih utama untuk diemban oleh sastra daripada fungsi sosialnya sebagai pengungkap realitas.

Namun demikian, menempatkan sastra di atas pedestal sebagai penjunjung nilai-nilai ideal ini bukannya tanpa risiko. Filsuf Yunani Klasik seperti Plato menuding bahwa sastra hendak merebut fungsi filsafat sebagai medium pengajaran hal-hal mulia, padahal sastra pada hakikatnya adalah tiruan atau bayangan dari kenyataan belaka, menurut Plato. Filsuf kenamaan ini bahkan menyerukan agar anak-anak muda dilarang membaca sastra, khawatir bahwa mereka akan disesatkan atau dibuat menjadi cengeng oleh sastra sehingga gagal menjadi warganegara yang patriotik. Plato sepertinya menyadari bahwa sastra memiliki potensi mengaburkan batas antara realitas dan imajinasi walaupun di matanya sastra juga tak lebih daripada sekadar imitasi inferior atas realitas.

(3)

pertunjukan sebagai penonton yang tercerahkan. Ia tidak ingin mengalami nasib buruk seperti tokoh dalam sandiwara dan, oleh karenanya, bertekad untuk tidak membuat kesalahan yang sama dengan yang dilakukan tokoh. Inilah yang oleh Aristoteles disebut dengan efek katartik.

Kerapkali, harapan khalayak agar sastra menjadi kendaraan pengusung nilai-nilai luhur ini berbenturan dengan kehendak penulisnya. Ada kalanya penulis ingin mengungkapkan realitas kehidupan, meskipun pahit dan buruk, kepada pembacanya untuk menggugah kesadaran mereka akan keburukan-keburukan itu. Ada kalanya pula, penulis ingin memperlihatkan bahwa, dalam kenyataannya, orang baik tidak selalu menang dalam kondisi sosial yang tidak adil, dan kebenaran tidak selalu unggul dalam melawan kebatilan yang didukung oleh kekuasaan yang besar. Namun, kadang kala, penulis tidak ingin menyampaikan apa-apa selain kejujuran, dan tidak semua orang sanggup berhadapan dengan kejujuran karena norma-norma dan tatakrama sosial tidak jarang dibuat untuk menyelimuti kejujuran itu demi mencegah terjadinya konflik.

Maka, benturan antara penulis atau seniman di satu pihak dengan masyarakat di pihak lain bukanlah suatu kejadian langka. Tulisan ini bertujuan untuk mendalami tegangan-tegangan yang mungkin muncul antara berbagai kelompok yang masing-masing menghendaki sastra menjadi pembawa aspirasi mereka. Sebagian penulis menginginkan sastra menjadi penjaga akal sehat masyarakat dengan menunjukkan berbagai kepincangan dan ketimpangan; sebagian lagi menggunakan karya mereka untuk tidak hanya mengungkapkan realitas sosial yang suram tetapi juga mendorong pembacanya untuk bertindak serta melakukan sesuatu demi mengubah kondisi itu; sebagian yang lain mendambakan karyanya menjadi penuntun bagi pembacanya dalam menjalani hidup mereka secara mulia dan bermartabat. Berbagai aspirasi di pihak penulis ini bisa saja tidak sejalan dengan tuntutan khalayak pembacanya agar sastra menjadi penjaga moral masyarakat sehingga wajib mengangkat nilai-nilai sosial yang luhur.

Bagaimana sastra dapat berfungsi secara sosial tanpa menjadikannya sebagai medium semata karena, bagaimanapun juga, sastra adalah produk imajinasi dan proses kreatif seorang individu dengan segala keunikannya, dan bukan kitab suci atau kitab pelajaran moral? Bagaimana penulis dapat tetap menghasilkan karya sastra yang unggul secara estetik tetapi juga menggunakan estetika tersebut untuk menjaga tatanan sosial yang baik dari ancaman pengeroposan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fundamental ini diharapkan dapat memberikan semacam pedoman bagi penulis, guru, dan pembaca dalam menyikapi sastra dengan berbagai fungsinya.

Sastra di antara daya kritis dan medium moralitas

(4)

Kelompok Frankfurt yakin bahwa kebudayaan yang berkembang baik adalah yang mampu bersikap kritis terhadap dirinya sendiri dan juga terhadap kelemahan-kelemahan dunia dengan cara melibatkan diri secara konkret dalam kehidupan. Ketika masyarakat menjadi bersikap tidak rasional, maka seni dan sastra harus menjadi semakin rasional. Walaupun sastra adalah sebentuk karya kreatif, sastra tidak boleh hanya menciptakan objek-objek melainkan perlu bersikap kritis terhadap segala sesuatu. Dengan cara itulah sastra bisa berperan mengoreksi kelemahan-kelemahan masyarakatnya. Lebih lanjut, para pemikir Frankfurt itu juga menyatakan bahwa sastra tidak cukup hanya difungsikan untuk menemukan dan mengukuhkan keindahan yang telah ada melainkan perlu menciptakan momen-momen dan terobosan-terobosan untuk mengatasi kemandulan dan status quo.

Herbert Marcuse, salah seorang tokoh dalam kelompok Frankfurt, mengemukakan bahwa sastra berperan membangun fantasi dan membebaskan kehendak serta hasrat yang terepresi. Bagi Marcuse, kesadaran manusia telah terepresi. Moralitas bisa dilihat sebagai salah satu bentuk kekuatan represif itu. Oleh sebab itu, sastra harus bersikap kritis terhadap baik moralitas maupun penjara-penjara kesadaran lainnya. Tentu saja yang menjadi ancaman utama kebudayaan pada saat itu, yakni pada masa menjelang Perang Dunia II dan selama masa berlangsungnya perang, adalah fasisme. Fasisme telah menyebabkan terjadinya estetisasi atas politik, dan keindahan digunakan untuk menyembunyikan serta menjustifikasi kekerasan. Moralitas kaum fasis adalah yang menganggap segala sesuatu yang buruk harus dibasmi atau dimusnahkan karena tidak dapat ditolerir oleh estetika.

Kelompok Frankfurt mendapatkan banyak pengaruh dari pemikiran Marx. Dari Marx mereka belajar bahwa dari seni dan sastralah pasang surut suatu kebudayaan dapat diikuti. Sastra tetap dapat menjadi suatu kekuatan yang produktif, walaupun kebudayaan yang memayunginya sedang mengalami erosi. Proses kebangkitan dan kehancuran kebudayaan Yunani Klasik, misalnya, dapat ditelusuri melalui keseniannya. Drama Oedipus Rex karya Sophocles, misalnya, memperlihatkan bagaimana tragedi terjadi karena Oedipus gagal melihat kesalahannya sendiri sehingga, ketika pada akhirnya ia menyadari kesalahan itu, ia membutakan matanya sendiri sebagai hukuman bagi kegagalan untuk melihat. Sesudah ia melepaskan tahtanya, anak-anaknya saling berebut kekuasaan dan saling bunuh. Kerajaannya yang mula-mula jaya mengalami keruntuhan. Inilah contoh ketika sastra memperlihatkan apa yang sedang terjadi dalam suatu kebudayaan. Drama karya Sophocles itu tetap menjadi sebuah mahakarya, walaupun kebudayaan Yunani Klasik yang melahirkannya sedang mengalami kemerosotan. Ini bisa terjadi sebab sastra memiliki daya kritis untuk mendiagnosis penyakit yang sedang diderita suatu masyarakat meski jarang sekali dapat menyembuhkannya sekaligus.

(5)

mata mereka akan berbagai kondisi dan praktik sosial yang nyata terjadi dalam masyarakat dan perlu diakhiri.

Karya-karya yang mengandung unsur seksual atau penggambaran seksualitas perlu ditempatkan di dalam konteks sosial yang melahirkannya agar kandungan seksual dalam cerita itu dapat ditafsirkan secara kontekstual pula dan tidak cepat-cepat dihakimi dari perspektif moral saja. Pendekatan moralistik atas karya tidak keliru, tetapi cara menerapkan pendekatan itu yang perlu disertai kepekaan terhadap konteks atau latar yang lebih luas yang membingkai sebuah karya. Misalnya, mengapa elemen seksual sepertinya diumbar dengan bebas dalam sebuah karya? Sebelum kita sampai pada kesimpulan bahwa penulisnya tidak bermoral atau bahwa karya itu adalah sebuah bacaan murahan yang harus ditarik dari peredaran, kita perlu memahami secara komprehensif unsur-unsur lain yang turut membentuk karya tersebut dan kompleksitas yang dihasilkan oleh perpaduan berbagai unsur itu. Tak kalah penting adalah menempatkan karya dalam konteks ruang dan waktu yang spesifik.

Novel-novel Motinggo Busye yang dengan mudah bisa dikategorikan sebagai ‘novel erotis’ tidak pernah mengalami pemberangusan selama periode Orde Baru, padahal rezim ini dikenal sebagai tukang beredel. Penggemarnya pun bisa diasumsikan cukup banyak karena, jika tidak, tak aka nada penerbit yang bersedia menerbitkan novel-novel itu. Maka, dalam membaca novel-novel dengan kaandungan cerita dewasa ini pertanyaan pertama yang perlu diajukan bukanlah berkenaan dengan kadar moral penulisnya, melainkan mengapa jenis novel seperti ini dapat beredar bebas dalam era Orde Baru yang kerap dicap represif itu? Pada titik ini, upaya apresiasi dan pemahaman sastra dapat membawa pembaca masuk ke penggalian lebih dalam yang tidak hanya melibatkan teks tetapi juga konteks atau lingkungan sosial yang melingkupinya.

Salah satu kemungkinan pembacaan kontekstual terhadap novel-novel Motinggo adalah bahwa fenomena ini lahir justru sebagai akibat dari atmosfir represif Orde Baru. Kontrol negara yang kuat dan sistematik, serta menuntut kepatuhan total warganegaranya, tidak banyak memberikan ruang gerak bagi ekspresi pendapat yang kritis. Ketidakpuasan masyarakat terhadap negara tidak bisa diungkapkan dengan bebas. Oleh karenanya, negara membutuhkan adanya suatu saluran pelampiasan rasa frustrasi warga yang tidak membahayakan program-program politik dan ekonominya. Kehadiran novel-novel eskapis yang menawarkan pelarian dan kenikmatan banal seperti novel-novel Motinggo secara tidak langsung justru membantu negara. Pada kurun waktu yang kurang lebih sama, kita juga menyaksikan bermunculannya filem-filem bioskop yang memadukan unsur komedi atau horor dengan erotika. Filem-filem ini dari segi artistik tidak diperhitungkan secara serius tetapi mampu menyedot banyak penonton dan senantiasa laku keras.

(6)

seksual pada masa sesudah berakhirnya kekuasaan Orde Baru hampir-hampir tidak menyisakan ruang bagi imajinasi karena seksualitas digambarkan secara grafis dan rinci.

Ini adalah sebuah cuplikan dari novel Motinggo berjudul Kutemui Dia, yang terbit pada awal 1970an:

Sepasang manusia sedang dalam kenikmatan, yang lelaki sedang memangku yang gadis di atas sebuah kursi, yang membelakangi jendela. Keduanya tak tahu bahwa aku melihat mereka. Keduanya begitu asyik dalam terkaman-terkaman yang saling bertubi-tubi. Tris menyerang pada bagian leher gadis itu, kemudian mendesaknya pada sebuah lipatan kaki yang menggerumul, seakan-akan gadis itu terjepit…

Untuk ukuran moralitas 1970-an, semestinya penggambaran seperti ini sudah tergolong ekstrim dan menedekati penggambaran adegan-adegan seksual dalam terbitan-terbitan ‘stensilan’, namun Motinggo sama sekali tidak menggunakan kata-kata tersurat yang merujuk pada alat kelamin. Bandingkan dengan cuplikan dari karya Djenar Maesa Ayu berjudul Nayla, yang melukiskan homoseksualitas:

Tapi Juli mempunyai karisma. Banyak tamu perempuan tergila-gila padanya. Yang laki-laki pun tak jarang ingin menaklukkannya. Pasti enak meniduri perawan, pikir mereka. Padahal sebagai sahabatnya, saya tahu Juli sudah tidak perawan. Semenjak remaja ia suka memasukkan benda-benda ke dalam vaginanya sambil membayangkan perempuan yang ia idamkan. Sekarang pun dengan kekasihnya yang seorang model mereka sering bercinta dengan cara saling memasuki vagina satu sama lain dengan jari mereka.

Penggambaran secara tersurat sembari menyebutkan alat kelamin tanpa perantaraan metafor ataupun teknik ellipsis ini memang dengan mudah bisa dinilai vulgar, tetapi jika dibaca dalam konteks pembebasan pikiran dari kontrol negara yang terjadi setelah usainya Orde Baru, maka ada banyak hal penting tentang masa itu yang bisa diungkapkan jika kita menahan diri untuk tidak terburu-buru melakukan penghakiman moral atas Djenar.

Dalam perspektif zaman, perempuan memang merupakan elemen warga yang paling mendapatkan pengawasan ketat dari negara. Perempuan yang aktif, politis, dan terlibat dalam gerakan sosial bukanlah sosok perempuan yang dikehendaki oleh negara Orde Baru. Citra perempuan seperti ini dibuat menjadi negatif melalui asosiasi dengan Gerwani, organisasi perempuan sayap PKI, yang dicitrakan kejam dan haus seks. Sementara itu, negara sendiri aktif membangun citra perempuan yang berbeda, yakni sebagai istri, ibu rumah tangga, dan ibu bangsa. Perempuan yang terdomestikasi, apolitis dan aseksual, adalah yang dikehendaki oleh Orde Baru sebagai sosok ideal. Negara mempromosikan citra ini melalui organisasi dan gerakan seperti Dharma Wanita dan PKK.

(7)

juga digemari pembaca karena, seperti halnya novel-novel Motinggo Busye, menawarkan eskapisme atau pelarian dari realitas kehidupan nyata yang sangat mengungkung perempuan.

Ledakan karya perempuan yang berkutat dengan tubuh dan seksualitas, yang dinilai vulgar oleh sebagian pengamat sastra, jelas tidak sama konteks historisnya dengan karya-karya erotica Motinggo. Keterpukauan perempuan pada tubuhnya sendiri seolah-olah merupakan ekspresi ketakjuban akan kesadaran dan pemahaman baru tentang tubuh mereka sendiri yang selama masa Orde Baru tidak memeproleh ruang untuk tumbuh. Perhatian besar pada seksulaitas itu juga bisa dibaca sebagai ungkapan kebebasan dari kungkungan ideologi gender Orde Baru, yang selama lebih dari tiga dasawarsa mengharamkan asosiasi antara perempuan dengan tubuh dan seksualitasnya sendiri dengan cara mereduksi perempuan dalam fungsi sosial gendernya sebagai sitri dan ibu rumah tangga. Kira-kira sepuluh tahun sesudah era Reformasi berlangsung, jumlah karya-karya perempuan penulis yang mengambil tema-tema seksual pun secara signifikan surut. Para penulis masa kini beralih minat pada berbagai isu sosial yang sensitif, seperti kekerasan antaragama dan etnis, serta peminggiran perempuan oleh adat dan agama.

Kelemahan kritik moral adalah kecenderunganya untuk memusatkan perhatian pada apa yang harfiah dan berada pada permukaan teks. Pendekatan moralistik yang baik penting untuk turut memperhitungkan faktor-faktor sosial, historis, dan bahkan politis dalam analisisnya. Perubahan nilai-nilai moral dalam suatu masyarakat pada suatu periode yang terjadi sebagai akibat dari perubahan sosial-politik yang terjadi dalam masyarakat tersebut bisa menjauhkan kritikus dari penghakiman moral yang sempit atas karya maupun penulisnya, dan kajian yang dihasilkannya pun akan bisa menyumbangkan pengetahuan yang berharga tentang perubahan sosiaal yang terjadi dalam suatu masyarakat. Dengan demikian, kritik moral tidak dilakukan dengan tujuan untuk menghakimi kadar moral karya atau penulis melainkan untuk mengungkapkan perubahan nilai-nilai sosial di dalam suatu masa. Untuk itu, kajian yang dilakukan perlu melibatkan aspek-aspek di luar moral, seperti sejarah, politik, ekonomi, dan lain-lain.

Dalam sejarah sastra, pergerakan sastra dari satu aliran ke aliran lain senantiasa mengikuti jiwa zaman, dan dalam pergerakan itu terungkap pula nilai-nilai serta pandangan hidup masyarakaat yang berubah. Era Romantisisme di Eropa berlangsung dari akhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19 dan menandai ditinggalkannya nilai-nilai keteraturan, keseimbangan, serta rasionalitas dari era sebelumnya, yaitu era Klasik. Yang menjadi titik berat karya-karya dari periode Romantik adalah individualitas, subjektivitas, irasionalitas, imajinasi, emosi, dan spontanitas. Maka itu, karya-karya Romantik kerap terkesan ‘liar’, sarat dengan luapan emosi, serta memperlihatkan pemujaan terhadap keindahan. Andaikata karya-karya ini dipaksakan untuk dinilai dengan berpatokan pada perangkat norma dari periode sebelumnya, sudah barang tentu karya-karya ini akan dipandang murahan atau bahkan ‘vulgar’. Namun, bila faktor-faktor di luar moralitas diperhitungkan, maka kita akan memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang perubahan zaman.

(8)

Karya-karya lahir dari tangan penulis yang berasal dari berbagai afiliasi politik dan latar belakang ideologis dan, walaupun berbeda-beda visi, kesemuanya giat mencari bentuk sastra atau seni Indonesia yang mampu bersaing di kancah global sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Dalam berbagai karya itu, khalayak bisa menemukan benturan nilai-nilai, yang mencerminkan benturan ideologi. Penulis-penulis Lekra, Menifes Kebudayaan, LKN, serta Lesbumi saling bersaing mempromosikan mazhab masing-masing, menghasilkan dinamika dan kekayaan budaya yang tak tertandingi oleh periode manapun dalam sejarah sastra Indonesia. Sayangnya, periode keemasan ini berakhir secara tiba-tiba dengan terjadinya peristiwa 30 September 1965.

Apa yang dapat kita gali dari ilustrasi-ilustrasi ini dalam kaitan dengan bagaimana cara menilai sastra? Pertama, posisi kritikus, guru, dan pengamat, sebagai agen yang memiliki rasa tanggung jawab untuk membantu pembaca memahami karya dengan lebih komprehensif serta meningkatkan kemampuan mereka dalam mengapresiasi sastra, haruslah tidak berpihak. Mereka perlu senantiasa mengasah kesadaran kritis, khususnya terhadap bias-bias pribadi mereka sendiri, agar bias-bias itu jangan sampai membuat pembacaan mereka atas karya jadi terkontaminasi. Kritik moral sangat rawan terhadap intervensi bias-bias nilai pribadi ini, sehingga kritik moral perlu senantiasa diperkaya dengan pemahaman terhadap latar belakang historis, sosial dan politik. Kritikus dituntut untuk mampu menjelaskan mengapa nilai-nilai berubah dan dengan cara apa sastra merekam atau merespon perubahan itu.

Kedua, ilustrasi-ilustrasi di atas juga menunjukkan bahwa setiap zaman baru memiliki penilaian kritis terhadap zaman sebelumnya. Sastra pun tak terkecuali. Karya-karya sastra yang lahir pada suatu era mengandung evaluasi kritis terhadap persoalan-persoalan zaman sebelumnya, di samping mempromosikan nilai-nilai alternatif sebagai solusi bagi persoalan itu atau alternatif bagi nilai-nilai lama. Karya-karya perempuan yang terpusat pada tubuh dan seksualitas yang marak pada awal masa reformasi merupakan ekspresi kritis penolakan terhadap ideologi gender Orde Baru yang mendomestikasikan perempuan lewat pemujaan atas ibuisme. Apa yang oleh banyak pengamat dinilai vulgar adalah senjata yang dipakai para perempuan penulis pasca-1998 untuk menghantam pemuliaan atas perempuan yang dijadikan kedok bagi ideologi yang meminggirkan perempuan. Maka itu, label-label seperti “sastra selangkangan” atau “sastra syahwat” tidak diperlukan dan tidak membantu kita memahami dengan lebih baik fenomena sastra perempuan pada awal masa reformasi.

Para pemikir kelompok Frankfurt, sebagaimana telah disinggung di atas, memiliki visi menjadikan kebudayaan sebagai alat kritis untuk mencegah dominasi fasisme. Seni dan sastra tidak hanya merefleksikan secara pasif apa yang terjadi pada tataran realitas sosial tetapi juga wajib untuk mengkritisi realitas itu dan, bila mungkin, mengajukan visi alternatif untuk mengubahnya. Maka, ada gunanya juga mengalihkan perhatian kita dari aspek moral dalam karya ke potensi kritis yang terkandung dalam karya untuk menyikapi suatu kondisi sosial tertentu. Dengan cara ini, kita tidak hanya mempelajari sastra sebagai teks belaka yang menjadi produk material sebuah kebudayaan tetapi, lebih penting dari itu, menempatkan sastra sebagai salah satu pranata sosial dalam masyarakat yang turut membentuk pola pikir dan perilaku sosialnya.

(9)

Kandungan kritis sebuah karya inilah yang patut digali dan diperkenalkan kepada khalayak oleh kritikus, pengamat, dan guru pengajar sastra. Kita baru mulai dapat menangkap dan melihat lebih jelas elemen-elemen kritis dalam karya ini apabila kita mampu menyingkirkan bias-bias dan prasangka-prasangka pribadi yang ada dalam diri kita sendiri dalam menyikapi berbagai isu sosial. Seorang kritikus dan guru dituntut untuk mampu melihat dari atas, dan bukan tenggelam dalam arus cerita, agar mereka bisa memahami dengan lebih jernih dan menyeluruh berbagai sudut pandang, arus pemikiran, dan tegangan yang ada dalam cerita. Kemampuan seorang kritikus atau guru untuk mengenyampingkan nilai-nilai pribadinya pada saat membantu pembaca atau murid memahami isi sebuah karya sastra adalah modal utama dan prasyarat bagi keberhasilan untuk mendayagunakan teks sastra dalam mengasah daya kritis khalayak.

Memahami novel-novel Pramoedya Ananta Toer dari perspektif seorang kritikus atau guru membutuhkan kemampuan untuk memisahkan fakta bahwa penulis adalah seorang simpatisan komunis yang aktif di Lekra semasa jayanya dari kajian terhadap karyanya, walaupun pengetahuan tentang latar belakang sosial penulis tetap merupakan pengetahuan penting karena dapat memperkaya atau melengkapi pemahaman kita atas karya-karyanya. Yang perlu dihindari adalah penilaian yang secara a priori dilandaskan pada fakta biografis penulis sebab hasilnya hanya akan mereduksi kekuatan novel-novel Pram menjadi alat propaganda komunis semata. Kita kehilangan peluang untuk menemukan lebih jauh berbagai kekayaan lain yang terkandung di dalam karya-karya itu, termasuk kritik-kritik penulis terhadap feudalism dan otoritarianisme, yang nyata-nyata memang menjadi faktor pengganggu dalam perkembangan kebudayaan Indonesia.

Sama halnya dengan membaca novl-novel Mangunwijaya, yang kaya dengan aspek historis dan politis dan, karena ditulis semasa Orde Baru berkuasa, karya-karya Romo Mangun bisa dengan mudah dibaca sebagai kritik terhadap kuasa Orde Baru. Dalam hal ini, novel-novel Mangunwijaya menjadi karya penting untuk diperkenalkan dan dibaca oleh pemelajar sastra. Namun, bila guru sedari awal sudah menggunakan prasangka pribadinya, maka ia tidak akan memilih novel-novel Mangunwijaya dalam bacaan wajib di kelasnya karena, misalnya, Mangunwijaya dikenal sebagai tokoh Katolik, sedangkan guru pengajar kebetulan beragama non-Katolik. Kecenderungan seperti ini tidak dapat disangkal belakangan mulai menggejala, khususnya di banyak sekolah negeri di seluruh Indonesia. Padahal, karya-karya Mangun, seperti novel Burung-Burung Manyar, misalnya, sangat tepat untuk digunakan mempromosikan toleransi, patriotisme, dan kemampuan untuk mengkritisi kekuasaan.

(10)

Kitab-kitab moral dan agama tidak perlu repot mengambil jalan memutar seperti ini untuk menyampaikan ajaran-ajaran baik, dan modal utama untuk menguasai kitab-kitab seperti ini adalah kesediaan untuk mematuhi serta menjalankan apa yang diajarkan. Sastra membiarkan pembacanya untuk menemukan sendiri dengan bekal kecerdasan dan kepekaan yang dimilikinya, meskipun selalu ada risiko pembaca gagal menemukan kebaikan yang tersembunyi itu. Namun, di sinilah peran kritikus dan guru menjadi sentral sebagai jembatan penghunung antara teks dan pembacanya. Dalam hal ini pula, kita bisa memahami mengapa sastra, moralitas, dan agama memiliki domain-domainnya masing-masing, dan kita perlu dapat menghindarkan terjadinya pencampuradukan atau perancuan: kelas pelajaran sastra bukan tempat untuk menyiarkan ajaran agama atau melakukan indoktrinasi moral, walaupun banyak karya sastra memiliki kandungan religius dan moral yang dalam.

Jika guru tidak mampu mengendalikan intervensi bias dan prasangka pribadinya sendiri dalam membantu menafsirkan sebuah karya sastra untuk murid-muridnya, ia juga tidak akan mampu mengendalikan tafsiran liar tanpa pijakan kuat pada teks serta konteks sosialnya yang berasal dari murid-muridnya di kelas. Dikhawatirkan bahwa ruang kelas yang semestinya menjadi ajang belajar dan perluasan pengetahuan akan berubah menjadi ruang pengadilan moral atas karya dan penulisnya. Bahaya bias dan prasangka tidak hanya bersumber dari moralitas dan agama, tetapi juga bisa bersumber pada ideologi, gender, etnisitas, maupun strata sosial. Guru sebagai narasumber dituntut oleh kemuliaan profesinya dan tanggung jawabnya sebagai pembentuk karakter generasi muda untuk mampu berpikir dan bertindak di atas tekanan-tekanan tersebut alih-alih malah menjadi agen penyebar kebencian dan pengukuh stereotipe atas semua yang liyan.

Dalam konteks ini, ruang kelas dan proses belajar-mengajar yang terjadi di dalamnya layak dipahami sebagai bagian dari proses kebudayaan dan tidak sekadar proses formal penyelenggaraan kurkulum. Guru mengajak murid-muridnya untuk berpartisipasi dalam proses refleksif serta kritis untuk menyumbangkan gagasan-gagasan kepada proses kebudayaan yang tengah berlangsung. Membincangkan karya sastra bersama-sama tanpa terjebak dalam indoktrinasi ideologis ataupun penghakiman moral adalah proses positif yang dikehendaki terjadi. Pemikiran-pemikiran yang diajukan penulis dalam karyanya dapat diuji secara serius, dijadikan bahan permenungan, dan menjadi sumber pengayaan pengalaman serta pengetahuan tentang kehidupan sosial.

(11)

dikritisi, sebagaimana halnya dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Mengapa? Karena saya mengajarkan marxisme sebagai pengetahuan, bukan sebagai doktrin atau propaganda.

Guru tidak perlu menciptakan sumber dayanya sendiri. Yang perlu dilakukan adalah mencari dan menghimpun sebanyak mungkin tulisan dan kajian yang telah pernah dibuat orang lain mengenai karya-karya sastra yang hendak dipakai di kelas sebagai bahan ajar. Kajian-kajian itu sendiri akan menghadirkan berbagai sudut pandang dan analisis, dan murid bisa diminta untuk membaca kajian-kajian itu sesudah mereka selesai membaca teks primernya. Dari situ, pembahasan dan diskusi di kelas bisa dimulai tetapi di dalam suatu kerangka pemahaman yang terlebih dahulu sudah dibentuk oleh pengetahuan-pengetahuan tentang karya dan penulisnya yang disediakan oleh berbagai rujukan tadi. Ini dilakukan tanpa menutup kemungkinan bahwa kelas akan bisa menghasilkan simpulan atau sintesisnya sendiri mengenai karya yang dibahas.

Penutup

Membaca dan memahami sastra memerlukan sikap yang bijak serta kematangan psikologis yang memadai. Sastra akan sangat berguna sebagai bahan pelajaran untuk memperkaya kepribadian dan wawasan jika didayagunakan dengan tepat. Membaca sastra mampu mendukung terciptanya daya kritis, kepekaan sosial, dan kejernihan berpikir apabila di kelas guru tidak memakai teks sastra sebagai sarana indoktrinasi moral dengan cara yang sempit dan normatif. Melalui sastra, kita mampu mendiagnosis apa yang salah dengan suatu masyarakat dan krisis apa yang sedang menimpa suatu kebudayaan, walaupun penulis karya tersebut tidak secara sadar ataupun langsung berkehendak untuk menunjukkan hal itu.

Kritikus sastra juga perlu melakukan reposisi atas peran dan fungsinya. Tugas utama kritikus adalah menggali berbagai potensi yang dimiliki sebua karya yang barangkali bahkan tak disadari kehadirannya oleh penulisnya sendiri. Lewat kritik yang ajeg namun sehat, penulis dapat menimba banyak pelajaran untuk penyempurnaan kemampuan kreatifnya. Sebagaimana guru bisa membantu muridnya menjadi lebih peka secara sosial, kritikus juga bisa membantu penulis untuk lebih bersedia terlibat secara lebih intens dan dalam dengan berbagai isu sosial yang dihadapi bangsa pada saat ini. Kinerja tak kasat mata antara penulis, guru dan kritikus sastra perlu lebih disadari keberlangsungannya, walapun tidak perlu juga untuk diformalkan, agar sastra betul-betul dapat bersuara di tengah hiruk-pikuk berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, dan kultural di negeri ini.

Referensi

Dokumen terkait

Diberitahukan bahwa setelah diadakan penelitian oleh Kelompok Kerja (Pokja) I menurut ketentuan- ketentuan yang berlaku, Kelompok Kerja (Pokja) I Unit Layanan Pengadaan (ULP)

BAB III : Instruksi Kepada Peserta (IKP) : Tetap BAB IV : Lembar Data Pemilihan (LDP) : Tetap BAB V : Lembar Data Kualifikasi (LDK) : Tetap BAB VI : Bentuk Dokumen Penawaran : Tetap

Sifat onsetnya yang samar serta perjalanannya yang progresif lambat maka timbulnya gejalanya pun lambat dan tidak disadari sampai akhirnya berlanjut dengan kebutaan. Keluhan

[r]

ISPRS Annals of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume II-5/W1, 2013 XXIV International CIPA Symposium, 2 – 6 September 2013, Strasbourg,

Kesulitan utama yang dihadapi para ilmuawan hukum dalam mengembangkan pengkajian hukum sebagai obyek ilmu adalah ketiadaan semacam model atau eksemplar yang dianut bersamasebagai

Kemudian untuk mengantisipasi dampak perubahan yang begitu cepat, maka diperlukan implikasi penting untuk penyesuaian-penyesuaian dari berbagai struktur, diantaranya

Rata-rata konsumsi gas sektor industri seperti diperlihatkan pada Gambar 7, memperlihatkan bahwa Kota Yogyakarta merupakan daerah yang sektor industrinya memiliki